Saturday, December 31, 2011

Renungan Akhir Tahun 2011


Renungan Akhir Tahun 2011
Apakah hidup ini sulit?


Ada seorang petani yang  hebat. Ia bekerja  keras di ladangnya dan selalu mendapat hasil ladang yang memuaskan sepanjang tahun. Ladangnya cukup luas dan ketika musim panen tiba, semua orang pasti memberi jempol kepada petani tersebut. Mereka pasti mengatakan bahwa pak tani yang sudah manula ini hebat. Pujian-pujian boleh berdatangan tetapi pak tani ini sebetulnya memiliki satu kesulitan yang besar. Di tengah-tengah ladangnya ada sebongkah batu yang besar. Ia coba menghancurkan batu itu tetapi selalu  mengalami kesulitan. lebih mengecewakan lagi ketika mata bajaknya berkali-kali pecah dan tanaman di sekitarnya pun tidak subur.

Pak tani itu termenung, mencari solusi untuk menghancurkan batu itu. satu-satunya jalan adalah mengabil linggis dan perlahan namun pasti menggali pinggiran batu itu dan  dia menemukan bahwa ternyata akar batu itu hanya 5 cm di atas permukaan tanah. Dia mengambil batangan kayu dan membakar batu itu. Hari berikutnya ia menyiram batu itu dengan air dingin dan mulai memecahkan batu sebesar rumah itu. Dalam waktu sehari batu itu hancur dan ia mengumpulkan batu-batu di pinggir ladang sebagai pagar. Ia membajak tempat itu, memberi pupuk, menanaminya dan hasil ladangnya juga berlimpah ruah.

Sering kali kita bergumul dengan pikiran  kita  sendiri dan takut untuk menghadapi aneka persoalan dalam kehidupan kita. Pikirkanlah semua pengalaman yang sudah terjadi di tahun 2011. Banyak pekerjaan yang  sebenanya dapat kita lakukan tetapi peluang-peluang pekerjaan itu berlalu begitu saja karena kita takut menghadapinya. Padahal mungkin saja persoalan itu mudah di atasi. Kiranya di tahun 2012 kita mampu mengatasi ketakutan hidup karena belum tentu persoalan itu sulit seperti yang kita bayangkan. Hidup ini tidaklah sulit, kitalah yang menyulitkan diri untuk menerima hidup kita. Selamat tinggal 2011, selamat datang tahun 2012. Te Dominum confiternum. 

PJSDB

Renungan 31 Desember 2011

1Yoh 2:18-21; Mzm 96: 1-2.11-13; Yoh 1:1-18

 Waktu ini adalah waktu yang terakhir

Yohanes mengingatkan komunitasnya untuk bersiap sedia dan memiliki keputusan yang jelas dalam menghadapi waktu-waktu kehidupan mereka.  Ia berbicara tentang waktu yang terakhir! Waktu yang terakhir bukan dalam artian kronologis tetapi teologis. Artinya tidak menunjukkan lamanya waktu tetapi kualitas waktu: saat kedatangan Tuhan Yesus adalah saat yang urgent dan tak dapat ditawar-tawar. Waktu terakhir adalah waktu penggenapan rencana keselamatan dimana Allah rela menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus dan tinggal bersama manusia (Yoh 1:14). Waktu terakhir juga merupakan waktu dimana Gereja berjuang melawan antikristus untuk mempertahankan iman dan identitasnya di dunia.

Bagaimana dengan waktu kehidupan manusia saat ini? Ada seorang bijak pernah berkata bahwa ada dua hari dalam hidup ini yang tidak perlu dikhawatirkan: Pertama, hari kemarin: kita tidak dapat mengubah apapun yang telah terjadi. Semua perkataan baik atau tidak baik sudah berlalu. Kesalahan, kekeliruan tidak dapat dihapus dalam ingatan kita. Karena hari kemarin telah berlalu maka lepaskanlah. Kedua, hari esok. Hingga mentari esok hari terbit, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Kita tak bisa melakukan sesuatu untuk esok hari. Kita mungkin saja sedih atau ceria. Pokoknya kita belum tahu, jadi bolehlah kita bersiap menghadapinya atau membiarkan saja. Kini yang tersisa adalah hari ini. Pintu masa lalu tertutup, pintu masa depan belum tiba. Maka pusatkanlah diri anda untuk hari ini. Andaikan ini adalah waktu terakhirmu maka maafkanlah hari kemarin dan lepaskanlah ketakutan akan hari esok.

Hiduplah hari ini karena masa lalu adalah sejarah dan pengalaman sedangkan masa depan masih merupakan permainan pikiran yang rumit. Hiduplah apa adanya karena hari ini adalahwaktu yang paling menentukan buat kita. Hiduplah sebagai orang-orang yang telah diurapi oleh Yang Kudus karena tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran. Selamat tinggal tahun 2011, selamat datang tahun 2012.Te Deum laudamus, te Dominum confitemur. Terima kasih Tuhan!
PJSDB

Friday, December 30, 2011

Renungan Keluarga Kudus/B

Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosep
Kej 15:1-6;21:1-3; Mzm105: 1b-2.3-4.5-6.8-9; Ul 7a.8a;  Ibr 11: 8.11-12.17-19; Luk 2:22-40

Yesus mempersatukan keluarga

Yesus lahir sebagai manusia dalam satu keluarga dan dibesarkan oleh ibu dan bapaNya yaitu Maria dan Yoseph. Mereka membentuk keluarga kudus dari Nazaret. Keluarga kudus adalah sebuah keluarga tukang kayu yang sederhana. Keluarga kudus Nazaret menjadi keluarga yang bersatu karena Yesus sebagai pemersatu. Yoseph dengan segala kebajikan kesederhanaan, kesetiaan, dan kejujurannya mendampingi Yesus. Bunda Maria mendampingi Yesus dengan hati seorang ibu yang sederhana, sabar dan penuh cinta. Pada saat ini kehadiran Yesus dalam sebuah keluarga kristiani menandakan diriNya sebagai Imanuel (Allah beserta kita). KehadiranNya juga memberi insipirasi  cinta kasih, perhatian, tanggung jawab, kedamaian, kerukunan dan kebahagiaan sebuah keluarga.

Dalam bacaan-bacaan suci hari ini ditampilkan sosok dua keluarga yang sangat inspiratif. Abraham dan Sara adalah figur orang beriman dalam Perjanjian Lama. Keduanya bergumul karena di usia senja mereka belum mempunyai anak. Dengan iman yang kuat mereka diberkati Tuhan. Abraham menjadi bapa orang-orang yang percaya. Yoseph dan Maria juga figur orang beriman dalam Perjanjian Baru. Kedua-duanya memiliki kebajikan-kebajikan sebagai orang tua yang beriman. Dalam tangan Tuhan Maria dan Yoseph menjadi figure keluarga kudus meskipun mereka tidak bersatu secara manusiawi sebagai suami isteri yang biasa. Mereka berdua memiliki tugas dan tanggung jawab membesarkan Yesus di hadapan Tuhan Allah dan sesama.

Keluarga kudus Nazaret menjadi teladan semua keluarga kristiani karena seluruh hidup keluarga ini berpusat pada Yesus. Itu sebabnya sebagai keluarga Yahudi yang taat, mereka membawa Yesus untuk dipersembahkan di kenisah. Keluarga-keluarga kristiani dipanggil untuk membawa anak-anak kepada Tuhan seperti Maria dan Yoseph. Orang tualah yang harus mewartakan Tuhan kepada anak-anak sehingga anak-anak boleh tercengang, kagum dengan sang penciptanya. Bersatulah keluarga-keluarga. Anak-anak, katakanlah kepada papi dan mamimu FAMILY: Father and Mother I Love you. PJSDB

Thursday, December 29, 2011

Renungan 29 Desember 2011

1Yoh 2:3-11; Mzm 96:1-3.5b-6; Luk 2:22-35

Tanggung Jawab Orang Tua Kristiani

Dalam bahasa Yahudi kata keluarga disebut “bet-ab” yang berarti “rumah ayah”. Hubungan kekeluargaan bersifat patriarchal. Keluarga merupakan persekutuan pribadi-pribadi yang dipimpin oleh seorang ayah. Keluarga-keluarga membentuk sebuah suku yang disebut “mispahah”. Ibu (am) bertugas untuk mengurus rumah dan anak-anak. Jadi anak-anak bertumbuh dibawah asuhan seorang ibu. Bapa bekerja untuk mendukung keluarga secara ekonomis. Anak laki-laki adalah penerus mispahah. Anak perempuan akan ikut terlibat dalam keluarga suaminya. Anak-anak memiliki tugas menghormati dan mentaati orangtuanya. Anak laki-laki adalah merawat orang tuanya hingga usia tua. Seorang anak laki-laki Yahudi juga diajarkan untuk memiliki iman dan sikap takut akan Allah. Untuk itu orang tua tidak hanya mengajarkan tetapi menunjukkan dengan cara mempersembahkan anak laki-laki di Bait Allah.

Yosep dan Maria mempersembahkan Yesus di dalam Bait Allah. Mereka amat heran ketika Simeon berkata: “Sekarang, Tuhan biarkan hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu. Sebab mataku telah melihat keselamatan yang daripadaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel” (Luk 2:29-42). Simeon juga mengatakan tentang masa depan Yesus dan Maria ibunya: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:34-35).

Yosep dan Maria menunjukkan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai orang tua. Mereka mengasuh Yesus sehingga Ia bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin di kasihi oleh Allah dan manusia (Luk 2:51-52). Yoseph dan Maria hendaknya menjadi model bagi setiap orang tua kristiani untuk menjadi pendidik utama. Pendidik iman misalnya dengan membawa anak-anak kepada Tuhan dan mengajar mereka berdoa. Pendidik nilai membuat anak-anak bertumbuh menjadi manusia yang utuh, menjadi terang bagi sesama dengan jalan mengasihi tanpa batas. Belajarlah dari Yoseph dan Maria!
 PJSDB

Wednesday, December 28, 2011

Renungan 28 Desember 2011

Pesta Kemartiran Kanak-Kanak Betlehem (Santi Innocenti)
1 Yoh 1:5-2.2; Mzm 124; Mat 2:13-18
Penginjil Matius membuat narasi  Natal menjadi indah dengan narasi tentang pembunuhan anak laki-laki di Bethlehem. Peristiwa ini terjadi setelah para Majus menceritakan tujuan perjalanan mereka kepada Herodes bahwa mereka datang untuk menyembah seorang Raja yang baru lahir di Berhlehem. Mendengar dirinya memiliki raja tandingan maka Herodes memerintahkan untuk membunuh anak laki-laki usia dua tahun ke bawah di Bethlehem dan sekitarnya. Peristiwa ini kiranya berhubungan dengan apa yang dikatakan oleh Yeremia: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.” (Yer 31:15).
Rahel adalah putri bungsu Laban yang menjadi isteri Yakub. Dari Rahel lahirlah Yosep dan Benyamin. Segera setelah itu dia meninggal dunia dikubur di sisi jalan menuju Efrata ( Kej 35:19). Kubur Rahel dihormati oleh suku bangsanya di dekat Betel. Nabi Yeremia menulis tentang tangisan Rahel dalam hubungannya dengan peristiwa penyerbuan bangsa-bangsa Asyiria terhadap Kerajaan Israel di Samaria dan penduduknya dijadikan tawanan (722-721 SM). Jeremia juga menghubungkan tangisan Rahel dengan peristiwa penyerbuan terhadap Kerajaan Yudea sekitar tahun 580 SM dan semua penduduk Yerusalem dan dijadikan tawanan dan budak di Babel. Semua tawanan sebelum ke Babel, mereka singgah di Rama dekat kubur Rahel dan dari sana semua diangkut ke Babel.
Ramah dihubungkan dengan Bethlehem karena beberapa suku Efrata bertempat tinggal di Bethlehem. Matius mengambil tradisi ini dan coba mengaitkan peristiwa dalam sejarah Yudea dan kekejaman Herodes terhadap anak-anak laki-laki di Bethlehem. Narasi ini mengarahkan pikiran kita pada peristiwa ini:  pengalaman perbudakan di Mesir di mana Firaun membunuh semua anak laki-laki di Yahudi dan yang selamat adalah Musa. Pengalaman di Mesir identik dengan pengalaman perbudakan di Asiria dan Babilonia. Pembunuhan anak-anak laki-laki ini merupakan memorial bagi orang-orang Yahudi.Tangisan Rahel dikaitkan dengan deportasi ke Asiria dan Babel. Pada saat Yesus di lahirkan anak-anak Israel sekali lagi menderita dengan pembunuhan anak-anak laki-laki. Yesus seperti Musa selamat tetapi harus hijrah ke Mesir dan nantinya kembali lagi ke Israel.
Pesta kanak-kanak Yesus dibunuh mengingatkan kita pada banyak anak yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang tua dan masyarakat luas. Anak-anak dilecehkan dan masa depan mereka dihancurkan. Marilah kita peka dan mengubah dunia ini menjadi baru sehingga semua anak manusia merasakan bahwa mereka memiliki martabat sebagai anak-anak Allah!
PJSDB

Tuesday, December 27, 2011

Renungan 27 Desember 2011


St. Yohanes Rasul dan Penginjil
1Yoh 1:1-4; Mzm 97: 1-2.5-6.11-12; Yoh 20:2-8

Allah adalah Kasih

Yohanes dikenal sebagai Murid yang dikasihi Yesus. Ayahnya bernama Zebedeus, nelayan yang sukses dari Betsaida (Mrk 1:20; Mat 4:18-22; Yoh 1:44) dan ibunya bernama Salome, seorang wanita yang mempersembahkan dirinya untuk melayani Yesus dan para RasulNya. Yohanes kemungkinan besar memiliki pendidikan yang memadai seperti Yakobus saudaranya dalam lingkungan orang-orang Zelot. Hal ini nampak dalam jawaban-jawaban yang tegas dan keras (Mat 3:17; Luk 9:53-56). Mulanya dia murid Yohanes Pembaptis tetapi ia mentaati Yohanes Pembaptis dengan meninggalkan gurunya dan mengikuti Yesus. Dia juga termasuk rasul yang penting karena setiap aktivitas Yesus yang istimewa, dia selalu hadir (Mat 17:1-18; Mrk 13:3; Luk 22:8; Yoh 13:23; Mat 26:37; Yoh 19:26; 20:3). Dia juga berpartisipasi dalam Konsili Pertama Gereja di Yerusalem (Gal 2:9) dan setelah cukup lama menjalani tugas keasulannya, dia akhirnya dikucilkan oleh Kaisar Domiziano ke pulau Patmos (Wahyu 1).
Kalau membaca Injil keempat kita menemukan bahwa pusat pewartaannya adalah Yesus Kristus sebagai wujud kehadiran Allah di dunia. Yesus adalah Anak Allah dan dia mempertegas dirinya dengan mengatakan “Aku adalah”. Yohanes juga menunjukkan dirinya sebagai “dia yang bersaksi” atau “diutus”. Tulisannya juga menggunakan tanda-tanda dan kemuliaan Tuhan (saat untuk memuliakan Allah lewat tanda-tanda). Tanda-tanda inilah yang turut menghidupkan perjalanan Gereja hingga saat ini. Di dalam surat-suratnya Ia mewartakan bahwa Allah adalah kasih dan terang. Komitmen setiap pengikut Kristus berasal dari cinta kasih dan pergumulan melawan para guru palsu. Sedangkan dalam Wahyu merupakan sebuah permenungan sejarah yang diredaksikan sesuai alam pikir orang-orang Yahudi dan berfungsi untuk memperkuat iman setiap pengikut Kristus supaya bertahan dalam penderitaan, karena Kristus sendiri telah mengalnahkan dunia dan setan. Maka setiap orang berpartisipasi dalam penderitaan Kristus akan mengalami kemuliaan Tuhan.
Yohanes Penginjil memberi inspirasi kepada kita untuk mengimani bahwa Allah adalah kasih. (1Yoh 4:8.16). “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah menganugerahkan Anaknya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16). Ia selalu mengajak kita: “Tinggalah di dalam kasihKu!” (Yoh 15:9). Mari kita bersyukur atas kasih Allah dan kita saling mengasihi.
PJSDB

Monday, December 26, 2011

Renungan 26 Desember 2011


St. Stefanus (Martir Pertama)
Kis 6:8-10;7:54-60; Mzm 30: 3.6-8a.17.21ab; Mat 10:17-22

Ya Tuhan Yesus terimalah rohku

Barangkali banyak orang berpikir bahwa sehari setelah Yesus lahir, Stefanus langsung dibunuh. Pemikiran seperti ini tidaklah tepat karena Stefanus dibunuh setelah Yesus wafat, bangkit dan naik ke surga. Secara liturgis, Gereja mau membantu kita semua untuk merenungkan bahwa peristiwa natal bukan hanya sekedar peristiwa Bethlehem yang penuh dengan sukacita tetapi sekaligus peristiwa Kalvari di mana Yesus mencurahkan darahNya yang mulia untuk keselamatan umat manusia.

Stefanus adalah salah satu diakon atau pelayan yang dipilih di antara tujuh diakon pertama untuk melayani komunitas Gereja Perdana. Stefanus dikenal sebagai pribadi yang penuh iman dan Roh Kudus (Kis 6:5). Karena penuh dengan karunia dan kuasa maka ia juga mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Karena kaum Libertini tidak memahami hikmat Allah dalam diri Stefanus maka dia dituduh menghujat Musa dan Allah. Stefanus akhirnya dibunuh dengan cara dilempari batu. Hal-hal yang menunjukkan kemiripannya dengan Kristus adalah: Pertama, Stefanus melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Kedua, Stefanus menyerahkan rohnya kepada Allah. Ketiga, kemampuan Stefanus untuk mengampuni: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!”

Kemartiran Stefanus mengundang kita untuk berefleksi tentang nilai hidup sebagai pengikut Kristus. Stefanus menyerahkan nyawanya sebagai bukti nyata cintanya kepada Kristus. Pada saat ini kemartiran tidak lagi dipandang semata-mata dengan menumpahkan darah demi Kristus tetapi bahwa hidup sebagai orang yang menghayati kebajikan-kebajikan kristiani dan nilai-nilai injili (misalnya sabda bahagia, hukum kasih, buah-buah Roh Kudus) juga merupakan bentuk-bentuk kemartiran (kesaksian) kristiani. Singkatnya, hidup sebagai orang kristiani yang baik di hadapan umum merupakan bentuk kemartiran saat ini. St. Stefanus, doakanlah kami. Amen. 
PJSDB 

Sunday, December 25, 2011

Homili Misa Natal Siang 25 Desember 2011/B

Yes 52:7-10; Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4.5-6; Ul:3c; Ibr 1:1-6; Yoh 1:1-18

Firman telah menjadi manusia

Selamat Natal. Setiap kali merayakan Hari Raya Natal, selalu ada  satu perasaan  bahwa semua orang dikumpulkan menjadi satu keluarga besar. Mengapa? Karena Tuhan Yesus lahir dan mempersatukan semua orang. Dia adalah Sabda Allah (logos) yang ada sejak awal mula dan menjadi perantara penciptaan alam semesta. Dia adalah cahaya bagi setiap pribadi dalam kegelapan dan kerelaan untuk tinggal bersama manusia yang penuh dengan kerapuhan, kelemahan hidup.

Nabi Yesaya menyadari peran Mesias maka ia berusah menghibur Bangsa Israel yang masih berada di Babel bahwa Tuhan akan menjadi raja mereka. Ini merupakan reaksi ketidakpercayaan akan raja manusia yang menjerumuskan mereka ke dalam kesengsaraan. Oleh karena itu andalan mereka yang sebenarnya adalah Tuhan Allah. Tuhan sebagai Raja akan membebaskan mereka dari Babel. Tepatlah seruan ini: segala ujung bumi akan melihat keselamatan dari Allah kita. St. Paulus mengatakan bahwa pada zaman dahulu Allah berbicara melalui para nabi kepada nenek moyang mereka tetapi pada zaman akhir ini Allah berbicara dengan perantaraan AnakNya. Dialah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Dengan demikian setiap orang menjadi Anak Allah dan memiliki hak sebagai ahli waris. Keselamatan bagi setiap orang.

Yohanes menghubungkan kisah kelahiran yesus dengan kisah penciptaan (Kej 1:1-2:4). Pada awal mula adalah Firman dan Firman itu adalah Allah. Allah berfirman maka jadilah terang pada hari pertama penciptaan dan menjadi sempurna ketika Firman Allah itu memiliki kuasa menciptakan manusia pria dan wanita sewajah dengan Allah sendiri. Maka Firman telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Dia adalah terang yang menerangi dunia yang gelap.

Natal memiliki makna istimewa bagi kita. Karena Kristus kita menjadi Anak Allah dan ahli waris. Dia adalah Raja bagi setiap manusia. Dia adalah Terang sejati yang menerangi manusia. Dia sungguh Allah, Imanuel, Allah beserta kita. Bersukacitalah atas cinta kasih Tuhan yang agung ini. 
PJSDB

Homili Misa Fajar Natal 25 Desember 2011/B

Yes 62: 11-12; Mzm 97:1.6.11-12; Ul:3c; Tit 3:4-7; Luk 2:15-20

Marilah kita pergi ke Betlehem

Tuhan, melalui Nabi Yesaya berusaha meyakinkan Bangsa Israel dengan sapaan bernada optimis: “Lihat Penyelamatmu datang!” Kedatangan sang penyelamat harus disambut dengan gembira. Mereka harus membuka pintu-pintu gerbang Yerusalem untuk menyambut raja yang menyelamatkan. Tangan mereka harus terbuka untuk menyambut karena dialah yang akan membebaskan mereka dari ketakutan dan kegelisahan. Bagi mereka yang terbuka untuk menerima sang penyelamat akan disebut bangsa yang kudus, orang-orang tebusan Tuhan.

Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari ketakutan dan kegelisahan semata-mata karena belaskasihanNya. Tuhan berjanji untuk menyelamatkan mereka dan janjinya sungguh-sungguh terpenuhi. St. Paulus dalam suratnya kepada Titus juga mengulangi keagungan Tuhan ini. Keselamatan manusia adalah sebuah anugerah yang istimewa dari Tuhan. Semua ini bukan karena jasa manusia tetap semata-mata karena belas kasih Tuhan yang begitu besar kepada manusia. Titus sebagai pemimpin jemaat diharapkan untuk menyadarkan komunitasnya supaya terbuka pada keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan. Sakramen Pembaptisan yang diterima menjadi kekuatan tersendiri bagi manusia untuk menyadari keselamatan. Karya Roh Kudus dan jasa Yesus Kristus yang diimani berkat pembaptisan ini mendorong manusia untuk semakin setia kepada Tuhan.

Keterbukaan pada karya Tuhan di dalam hidup ini mendorong setiap orang percaya untuk selalu siap mewartakan Kristus dengan cara apa saja. Lukas memilih pribadi-pribadi yang siap menjadi pewarta kabar sukacita kelahiran Yesus:

Pertama, Para gembala adalah orang-orang sederhana yang dipilih Tuhan untuk mendengar warta sukacita kelahiran Yesus. Mereka begitu terbuka dan siap menjadi pewarta: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”. Sikap yang mereka miliki sebagai misionaris adalah: “Mereka cepat-cepat berangkat ke Bethlehem dan mendapati Maria dan Yosef serta bayi yang terbaring di dalam palungan.” Para gembala juga bersukacita dan memuji Allah karena pengalaman iman itu sungguh terwujud seperti warta para malaikat.

Kedua, Bunda Maria adalah misionaris sejati. Pengalaman Bethlehem adalah pengalaman yang luar biasa! Ada sukacita karena kelahairan Yesus sebagaimana ia terima dari kabar malaikat Gabriel. Dukacita karena Puteranya Yesus lahir dalam suasana penuh dengan kesederhanaan. Ia menyimpan semua perkara itu di dalam hati dan merenungkannya.

Ketiga, Yosep adalah pribadi yang diam tetapi menunjukkan tanggungjawabnya sebagai bapa. Dia mencari jalan bagaimana Maria dan Yesus dapat berbahagia dalam situasi yang sulit.

Natal bukanlah peristiwa iman yang dihiasi dengan kemegahan duniawi. Perayaan iman ini perlahan-lahan menjadi sangat duniawi, komersil! Padahal sabda Tuhan pagi ini justru membuat semua orang patut merenungkannya: siap menjadi misinonaris yang mewartakan Injil, siap untuk membawa cinta kasih Bapa dalam diri PuteraNya kepada sesama yang miskin dan membutuhkan uluran tangan kasih setiap pribadi. Bunda Maria menginspirasikan kita untuk menyadari semua perkara kehidupan kita. Kita patut merenungkan dan menyimpan semuanya di dalam hati kita masing-masing. Jadilah orang yang bertanggung jawab seperti St. Yosep.

Seiring dengan terbitnya matahari baru, jadilah saksi Kristus.

PJSDB

Saturday, December 24, 2011

Homili Misa Malam Natal 24 Desember 2011/B

Yes 9:1-6; Mzm 96:1-3.11-13; Ul 3c; Tit 2:11-14; Luk 2:1-14

Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat

Perayaan Misa Natal dalam Liturgi Gereja Katolik dimulai pada Misa Malam Natal, Misa Fajar dan  Misa Siang. Ketiga Misa Natal ini memiliki pesan Natal yang berbeda-beda. Misa Malam Natal lebih menekankan Yesus sebagai pembawa damai sejahtera bagi setiap pribadi yang diliputi kegelapan. Dia juga membawa Terang dalam kegelapan dunia, pembebas yang  mematahkan tongkat penindas. Dialah penasihat ulung, raja perkasa, pangeran perdamaian dan Allah beserta kita. Misa Fajar seiring dengan terbitnya matahari baru maka Yesus adalah Terang dunia. Sebagai Terang, Yesus mengangkat kita menjadi Anak-Anak Allah, Rendah hati, Rela menjadi manusia! Misa Siang melambangkan Yesus yang memiliki Kuasa bagi manusia. Dia menjelma menjadi manusia dan tinggal bersama manusia.

Ketiga misa ini juga menyadarkan kita pada realitas Yesus: Ia dinantikan dengan penuh kerinduan sebagaimana diwartakan dalam Kitab Perjanjian Lama. Ia dilahirkan oleh Bunda Maria dalam kandang yang hina di Bethlehem. Ia juga lahir dalam kehidupan kita secara rohani dan liturgis setiap tanggal 25 Desember. Ia sungguh memiliki tempat istimewa di dalam hidup manusia.

Kelahiran Kristus membuat dunia memiliki wajah baru. Semua orang dipersatukan dan diselamatkan. Santo Lukas menggambarkan situasi kelahiran Yesus dengan Sensus Penduduk. Ini berarti Yesus juga tercatat sebagai warga berbangsa Yahudi dan Romawi. Yesus menjadi Tuhan bukan hanya untuk orang Yahudi tetapi juga Romawi dan seluruh dunia. Dia menjadi Anak Sulung,pewaris Takhta Daud. Dengan demikian Yesus punya kuasa mempersatukan semua orang. Yesaya mengajak orang Israel di pembuangan Babilonia, yang hidup dalam kegelapan dosa, yang  menderita sengsara bahwa mereka juga akan merasakan keselamatan dari Tuhan. Santu Paulus mengatakan: Kasih karunia Allah sudah nyata bagi semua orang.

Malam Natal adalah malam sukacita. Tuhan rela menjadi manusia lemah supaya mengangkat kita semua yang lemah menjadi kuat. Tuhan datang untuk mempersatukan  kita semua sebagai saudara. Apakah kita semua bisa menjadi satu karena mengimani Yesus yang satu dan sama? Adakah damai dalam hatimu? Adakah sukacita dalam hatimu? Yesus adalah segalanya bagi  kita. Gloria in excelsis Deo. 

PJSDB 

Renungan 24 Desember 2011


2Sam 7:1-5. 8-12.14a-16; Mzm 89:2-5.27-29; Luk 1:67-79

Tuhan itu setia selamanya

Yohanes Pembaptis lahir. Ayahnya Zakaria masih bisu karena ketidakpercayaannya pada Tuhan (Luk 1:20- 22). Sekarang ia dipenuhi Roh Kudus dan bernubuat. Nubuatnya dikenal dengan nama "Benedictus" karena nyanyian ini dimulai dengan kalimat: "Benedictus Deus Ishrael" atau "Terpujilah Tuhan, Allah Israel".

Kata Benedictus merupakan kata yang populer dalam dunia Perjanjian Lama karena bermakna keselamatan Tuhan dari Tuhan itu sungguh terpenuhi. Orang-orang Yahudi memulai doa-doanya dengan mengatakan "Terpujilah". Dalam dunia Kristiani, Benedictus merupakan kidung pujian kepada Tuhan karena Ia menyelamatkan umatNya melalui Yesus Kristus Anak Daud. Ini merupakan suatu perayaan akan kebaikan Tuhan: Bekas kasihan (hesed) ketika memilih mitraNya (Abraham, Daud, Umat Israel) dan kesetiaanNya ('emet) untuk memenuhi janji-janjiNya yang kudus.

Benedictus juga merupakan nubuat tentang masa depan Yohanes Pembaptis puteranya. Yohanes akan disebut nabi Allah yang Mahatinggi karena ia berjalan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan bagiNya, dengan seruan tobat dan warta pengampunan dosa. Yesus lahir sebagai tanda Tuhan melawat umatNya. Yesus akan menyinari umatNya yang tinggal dalam kegelapan dan membawa umatNya kepada jalan damai sejahtera.

Kidung Zakarias atau Bendedictus selalu didoakan setiap pagi untuk mengingatkan kita bahwa Tuhan Yesus adaah terang dunia. Dia menyinari  kita dalam kegelapan supaya layak menjadi Anak Allah. Dia membawa damai sejahteraNya supaya setiap pribadi bersatu, sebagai sahabat-sahabatNya. "Kamu adalah sahabatKu!" 

PJSDB

Friday, December 23, 2011

Renungan 23 Desember 2011


Mal 3:1-4.23-24; Mzm 24:4-3.8-10.14; Luk 1;57-66

Menjadi apakah anak ini nanti?

Kelahiran baru di dalam sebuah keluarga selalu membawa sukacita tersendiri. Keluarga dikunjungi kerabat, sahabat dan kenalan. Biasanya bayi itu diperhatikan, disayangi bahkan ada di antara semua yang berkunjung mulai melihat kemiripan dan perbedaan antara bayi dan orangtuanya. Ada yang mencoba meramal masa depan bayi itu dengan memperhatikan kondisi fisiknya. Semua ini menjadi bagian dari keluuarga yang hidup dalam budaya tertentu.

Elisabeth dan Zakarias adalah orang-orang benar di hadapan Tuhan. Mereka merindukan kehadiran seorang bayi dalam keluarga. Dengan demikian aib yang dirasakan Eisabeth dapat hilang. Elisabeth pun mengandung dan melahirkan puteranya Yohanes yang  nantinya dikenal dengan nama Yohanes Pembaptis. Kelahiran Yohanes menjadi sukacita dalam keluarga dan semua orang  yang mengenal keluarga ini karena Allah berbelas kasih kepada keluarga Zakarias. Yohanes berarti Allah berbelas kasih atau Allah pemberi rahmat.  Rahmat Tuhan menguasai Yohanes untuk membuka jalan bagi Tuhan dengan seruan tobat dan hidup sederhana (matiraga).

Kedatangan Mesias dan hari Tuhan dalam tradisi Yahudi diawali dengan kedatangan Elia.Orang Yahudi percaya bahwa menurut Kitab Maleakhi sebelum kedatangan sang Mesias, Elia akan datang duluan: "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dashyat itu" (Mal 4:5). Tugas utama Elia adalah "membuat bapa-bapa berbalik kepada anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan aku datang untuk memukul bumi." (Mal 4:6).

Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang diutus oleh Tuhan mendahului Yesus sebagai sang Mesias. Ia juga memiliki misi yang sama untuk menyiapkan umat menyambut kedatangan Tuhan. Seruan tobat dan hidup sederhana (matiraga) merupakan cara yang dipakai Yohanes untuk mendekatkan manusia dengan Tuhan.

Hidup kita akan bernilai ketika kita tanpa ragu mengakui adanya Tuhan. Tuhan memiliki rencana yang indah kepada orang yang berharap kepadanya. Rencana Tuhan sudah terungkap dalam peristiwa Yohanes dan Yesus Kristus Putera Allah. Rencana Tuhan juga akan terwujud dalam hidup kita ketika tanpa henti kita berdoa dan terbuka padaNya. Yohanes Pembaptis adalah inspirator kita!

PJSDB  

Thursday, December 22, 2011

Renungan 22 Desember 2011

1Sam 1, 24-28; Mzm 1 Sam 2:1.4-8; Luk 1:46-55



Meninggikan orang-orang yang rendah


Bagian awal Kitab Pertama Samuel (1 Sam 1: 1-28) mengisahkan bahwa Elkana mempunyai dua isteri yakni Penina dan Hana. Penina memiliki anak sedangkan Hana tidak mempunyai anak. Maka Penina selalu berlaku curang terhadap Hana. Elkana akrab dengan Tuhan. Ia selalu mempersembahkan korban kepada Tuhan semesta alam di Silo. Tentang Hana, ia tidak mempunyai anak karena Tuhan menutup kandungannya. Namun demikian ia tidak berhenti berharap pada Tuhan. Dia setia memanjatkan doa-doa kepada Tuhan Allah Israel. Dalam doanya ia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan. Tuhan mendengar doanya sehingga ia mengandung dan melahirkan anaknya laki-laki yang diberinya nama Samuel, artinya: “Aku telah memintahnya dari Tuhan”. Sebagai ungkapan rasa syukurnya, Hana menyerahkan anaknya kepada Tuhan: “Seumur hidup terseralah ia kiranya kepada Tuhan.”

Bunda Maria memuliakan Tuhan dengan magnificatnya. Magnificat merupakan nyanyian penuh sukacita Bunda Maria karena ia mengalami Allah yang begitu setia bagi umat manusia. Ada dua motivasi penting dalam Magnificat ini. Pertama, Pujian kepada Allah karena segala karyaNya yang dashyat, penuh dengan kerahiman serta belas kasih kepada manusia. Kedua, orang-orang yang miskin dan direndahkan akan ditinggikan. Bunda Maria memuliakan Allah karena Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar dalam hidupnya, kerendahan hatinya sebagai seorang abdi, dan karena ia membiarkan Tuhan berkarya melalui karya-karya besar di dalam dirinya. Sikap Tuhan adalah memisahkan orang-orang yang congkak hatinya, yang berkuasa, dan yang kaya. Sedangkan belas kasihNya tercurah pada orang-orang yang rendah, yang lapar, dan yang percaya kepadaNya. Belas kasih juga tercurah bagi Israel hambanya yang percaya pada janji-janjiNya melalui nenek moyang dan para Bapa Bangsa.
Magnificat atau Kidung Maria mengajar kita untuk bersukacita dalam segala hal yang telah dikerjakan Allah dalam diri kita masing-masing dan juga dalam komunitas. Magnificat juga mewartakan bahwa Allah mewujudkan belaskasih dan cintaNya bagi orang yang rendah hati dan yang membutuhkan Tuhan di dalam hidupnya. Hana dan Maria adalah figur orang yang selalu berharap pada karya-karya agung Tuhan. Mari kita mengikuti kekudusan mereka. Amen.
PJSDB

Wednesday, December 21, 2011

Renungan 21 Desember 2011

Kidung Agung 2:8-14; Mzm 33: 2-3.11-12.20-21; Luk 1: 39-45



Berbahagialah Dia Yang Telah Percaya




Sangat romantis kalau kita menyimak perikop Kidung Agung ini: “Bangunlah, Manisku! Jelitaku, marilah! Lihatlah musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah berlalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga... Perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab suaramu sungguh merdu dan jelita nian parasmu.” Bahasa-bahasa romantis mengisyaratkan dua insan yang sedang mabuk asmara atau sedang jatuh cinta. Mungkin pikiran banyak orang tertuju pada dua pribadi manusia yang saling mencintai tetapi sebenarnya perikop ini menggambarkan hubungan mesra antara Yahve dengan Israel sebagai umat kesayanganNya. Dalam terang Perjanjian Baru, perikop ini menggambarkan relasi intim antara Yesus dengan Gereja yang didiriakanNya. Relasi antara Yesus yang berinkarnasi atau sebagai “Sabda yang menjadi Daging” dan masing-masing manusia yang dicariNya untuk diselamatkan.

Relasi intim antara Allah dan manusia dirasakan oleh Bunda Maria setelah menerima Kabar Sukacita dari Malaikat Gabriel. Maria tidak tinggal diam tetapi membawa “Sabda yang menjadi Daging” ke rumah Elisabeth saudaranya. Perjumpaan penuh akrab antara Maria dan Elisabeth membawa sukacita besar bagi bayi dalam kandungan Elisabeth yaitu Yohanes Pembaptis dan Yesus dalam kandungan BundaMaria. Sukacita besar Yohanes karena Ia digerakan oleh Roh Kudus untuk menyambut Yesus sang Putera. Elisabeth ibunya pun penuh dengan Roh Kudus sehingga menyapa Maria sebagai “Ibu Tuhanku” dan mengakui Maria: “Sungguh berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana”.

Sabda Tuhan menyapa kita untuk memahami misteri kasih Allah bagi umat manusia. Maria adalah wanita pertama yang memahami misteri kasih Allah dalam hidupnya. Hebatnya Maria adalah ia tidak tinggal diam atau merasa memiliki Yesus seorang diri tetapi membawanya dengan sukacita kepada saudaranya Elisabeth. Elisabeth dan Yohanes adalah dua pribadi yang merasakan sukacita dari Misteri kasih Allah ini. Misteri kasih terungkap dalam pelayanan tanpa pamrih seperti yang dilakukan Maria di rumah Elisabeth selama tiga bulan.

Pengikut Kristus yang hebat adalah dia yang mampu membawa Kristus kepada sesama dalam wujud perbuatan kasih dan semangat melayani seperti Bunda Maria. Maria rela melupakan kehormatannya sebagai ibu Tuhan untuk melayani karena dia seorang abdi yang siap melakukan kehendak Tuhan. Bagaimana dengan saya dan anda? Bunda Maria doakanlah kami untuk melayani lebih sungguh. Amen.

PJSDB