Tuesday, December 24, 2013

Homili Sore Menjelang Hari Raya Natal

HARI RAYA NATAL
MISA SORE MENJELANG HARI RAYA
Yes 62:1-5
Mzm 89:4-5.16-17.27.29
Kis 13:16-17.22-25
Mat 1:1-25

Tuhan berkenan kepadamu



Kita mengawali perayaan Natal menjelang Hari Raya Natal dengan sebuah antiphon yang bagus: “Hari ini kamu akan tahu bahwa Tuhan akan datang menyelamatkan kita, dan besok pagi kamu saksikan kemuliaanNya” (Kel 16:6-7). Ini adalah kata-kata yang keluar dari mulut Musa dan Harun kepada jemaat Israel di Mara dan Elim sekitar padang gurun. Mereka sedang berada dalam pergumulan karena kelaparan dan kehausan yang sedang mereka alami. Maka Tuhan membesarkan hati mereka untuk menaru harapannya kepada Tuhan. Dialah satu-satunya yang akan datang dan menyelamatkan mereka dari pergumulan hidup mereka.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada perayaan ini mengarahkan kita untuk melihat Yesus sebagai tanda kasih Allah yang menjadi manusia karena manusia berkenan kepadaNya. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama meyakinkan umat Israel bahwa Tuhan pasti akan memihak Sion. Dia tidak akan tinggal diam sampai kebenaranNya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyalah seperti suluh. Dengan demikian semua bangsa dan raja akan melihat kebenaran dan kemuliaanmu. Orang juga akan menyebut nama baru yang akan ditentukan oleh Tuhan sendiri. Lihatlah bahwa Yesaya menghadirkan sosok seorang Allah yang baik, yang begitu solider dengan manusia sehingga tidak membiarkan anak-anakNya berada di dalam penderitaan. Dia justru membebaskan dan menyelamatkan umatNya.

Paulus dalam bacaan kedua mencoba mengingatkan kembali jemaat di Perga sejarah keselamatan yang umumnya dikenal oleh orang-orang Yahudi. Ia berkata: “Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah! Allah umat Israel telah memilih nenek  moyang kita dan membuat umat menjadi besar ketika mereka tinggal sebagai orang asing di Mesir. Dengan tanganNya yang perkasa, Ia mengeluarkan mereka”. Paulus sedang menekankan bahwa kuasa Tuhan bagi umat Israel sebagai bangsa terpilih sangatlah besar. Paulus juga mengisahkan tentang terpilihnya Daud menjadi raja Israel. Dari keturunan Daud muncullah Yesus sang juru selamat yang kedatangannya diwartakan oleh Yohanes Pembaptis.

Figur Daud ini amat penting. Matius ketika menuliskan silsilah Yesus menyebutkan bahwa Yesus Kristus adalah anak Daud, anak Abraham. Dalam silsilah Yesus ini kita menemukan nama orang-orang yang baik dan orang-orang yang tidak sempurna. Misalnya dalam silsilah ini juga disebutkan nama 4 wanita: Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba. Siapakah keempat wanita ini?

Nama Tamar berarti pohon palem (Kej 38; 1Taw 2:4). Dia merupakan puteri menantu Yuda, isteri Er. Setelah kematian Er, Onan menolak untuk melakukan perkawinan ipar dengannya. Dari ayah menantunya Tamar yang muncul sebagai wanita pelacur memperoleh dua putera kembar Zerah dan Peres.
Nama Rahab berarti luas. Dia adalah seorang pelacur di Yerikho (Yos 2:1-24) yang menolong dua orang Israel yang diutus sebagai pengintai sebelum Israel masuk ke kota Yerikho. Dengan demikian Rahab dan keluarganya dilindungi. Di dalam Perjanjian Baru, Rahab di puji karena imannya (Ibr 11:3; Yak 2:25). Oleh para Rabi, Rahab dianggap sebagai ibu dari para imam dan nabi.

Nama Rut  berarti sahabat. Dia adalah puteri Naomi, istri Boaz dan merupakan nenek dari raja Daud. Rut berasal dari Moab, seorang janda yang pergi ke Betlehem bersama Naomi ibu mertuanya (Rut 1:1-22). Di sana Rut memungut jelai di kebunnya Boaz, lalu Boaz menikah dengannya (Rut 3:1-18) dan dari perkawinan ini lahirlah Obed nenek moyang Daud.

Batsyeba adalah istri Uria, orang Hitit. Daud melihatnya sebagai wanita cantik ketika ia sedang mandi dan Daud mengingini dan juga merayunya. Selanjutnya Daud menyusun rencana supaya dalam pertempuran Uria suaminya dapat mati terbunuh, dengan demikian Daud dapat menikahi Batsyeba. Atas perbuatan Daud ini maka Nathan menghardiknya (2Sam 12). Dari perkawinan Daud dan Batsyeba ini maka lahirlah Salomo. Salomo juga menjadi raja karena campur tangan ibunya (1Raj 1:16).

Tuhan memang memiliki rencana untuk menyelamatkan semua orang. Maka figur keempat wanita ini memang tidak sempurna tetapi dengan terpilihnya Bunda Maria yang dikandung tanpa noda  menjadi Bunda Yesus sang Penebus dapat menyempurnakan semua manusia. Bunda Maria menunjukkan kesetiaannya yang besar kepada Tuhan untuk menyelamatkan manusia. Ia dengan penuh iman mengatakan: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Kesediaan Bunda Maria yang dikandung tanpa noda, sang Hawa Baru menjadi Bunda Yesus sang Adam Baru menjadikan kita sebagai anak-anak Tuhan Allah.

Tuhan Yesus lahir dalam sebuah keluarga manusia, bertumbuh dan berkembang sungguh-sungguh sebagai manusia. Maria dan Yusuf adalah pilihan Tuhan yang layak untuk menerima Yesus dan mengasuhNya. Hidupnya di Nazareth sebagai manusia menunjukkan solidaritas Allah yang menjelma menjadi manusia. St. Yohanes Krisostomus mengatakan bahwa Yesus sang Anak Allah rela menjadi manusia sehingga kita juga dapat menjadi anak-anak Allah. Kelahiran Yesus hendaknya kita rasakan juga di dalam hidup setiap hari. Ia datang ke dunia, lahir dan bertumbuh juga dalam kehidupan iman kita. Selamat merayakan Natal.

Doa: Tuhan, kami bersyukur kepadaMu karena SabdaMu menjadi manusia dan tinggal di antara kami. Semoga kami boleh menjadi abdi-abdiMu yang setia. Amen.


PJSDB

Homili 24 Desember 2013 (Pagi)

Hari Selasa, 24 Desember 2013
2Sam 7: 1-5.8b-12.16
Mzm 89: 2-3.4-5.27.29
Luk 1:67-79

Tuhan Menyertai Engkau!


Sebagai seorang imam, setiap hari saya selalu mengucapkan kalimat ini: “Dominus Vobiscum” atau “Tuhan sertamu”. Ketika mendengar ucapan ini, para umat juga menjawabnya dengan suara lantang: “Dan sertamu juga”. Artinya Tuhan tidak hanya menyertai umat, tetapi gembalanya juga ikut disertai oleh Tuhan. Setiap kali mendapat pesan singkat lewat SMS atau BBM, para sahabat selalu menulis “God bless You” atau disingkat “GBU”. Tuhan memberkatimu berarti Tuhan menyertaimu. Nah, banyak kali baik imam maupun umat sama-sama mengucapkan kalimat-kalimat ini tetapi belum menyadari sepenuhnya. Tuhan Yesus sendiri berjanji kepada para muridNya: “Aku akan menyertai kamu senantiasa hingga akhir zaman” (Mat 28:20). Yesus selamanya, senantiasa menyertai kita. Dia Tuhan yang akan membangkitkan kita pada akhir zaman (Yoh 6:39-40.54). Apakah kita juga menyadari dan mengimani bahwa Tuhan Allah menyertai anda dan saya secara pribadi maupun komunitas? Pada malam ini kita semua akan merayakan vigili natal, atau malam berjaga-jaga untuk merayakan natal. Untuk pertama kali kita merasakan kehadiran Tuhan yang mahabaik dan penyertaanNya yang tidak berkesudahan.

Penulis Kitab kedua Samuel mengisahkan hal-hal yang indah mengenai rencana Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Dikisahkan bahwa raja telah menetap dirumahnya dan Tuhan mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuh di sekelilingnya. Tentu saja kenyamanan yang ada bukan karena kehebatannya sendiri tetapi Tuhanlah yang menganugerahkan kepada sang raja. Raja pun sadar diri maka ia berkata kepada nabi Natan bahwa ia tinggal di rumah yang nyaman, sedangkan Tabut Allah hanya ditempatkan di dalam tenda. Natan mengatakan kepada raja supaya ia juga merasakan penyertaan Tuhan.

Selanjutnya Tuhan justru bernubuat secara istimewa kepada Daud dan segala keturunannya. Tuhan berfirman kepada Daud: “Akulah yang mengambil engkau dari padang gurun, ketika mengiring kambing dan domba, untuk menjadi raja atas umatKu Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segalah musuhmu dari depanmu.” (2Sam 7: 8-9).  Di samping itu Tuhan juga menentukan tempat bagi umatNya. Mereka akan menjadi manusia yang merdeka yang menempati Yerusalem. Dia akan mengaruniakan keamanan dan Tuhan juga akan mengaruniakan keturunan. Keluarga dan kerajaan Daud akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lama (2Sam 7:16).

Janji Tuhan ini tidak pernah Ia ingkari. Dia selalu menepati  janji kepada umatnya melalui para nabi di dalam Kitab Suci. Inilah satu hal yang berbeda yakni manusia selalu ingkar janji, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Ia bernubuat melalui para nabi tentang kedatangan PuteraNya dari keturunan Daud. Dalam bacaan Injil kita mendengar Kidung Zakaria yang isinya menyangkut pujian dan syukur kepada Allah Israel karena Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan bagi umat kesayanganNya. Lawatan Tuhan menjadi nyata dari garis keturunan Daud. Dialah Yesus Kristus. Zakharia juga memuji Yohanes Pembaptis anaknya: “Dan Engkau, anakku akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi karena engkau akan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagiNya, memberikan kepada umat pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa mereka” (Luk 1: 76-79).

Sabda Tuhan pada hari ini mengingatkan kita pada campur tangan Tuhan yang rela menolong umatNya. Ia akan mengutus sang Mesias yakni Yesus Kristus PuteraNya menjadi satu-satunya Penyelamat kita. Ia berinkarnasi artinya “Sabda menjadi daging dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Tetapi sebelum semua itu, Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang mempersiapkan kedatangan Yesus dengan seruan yang kuat di padang gurun supaya orang bertobat. Dialah nabi Allah yang mahatinggi yang mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan. Bangunlah hari semangat pertobatanmu supaya lebih layak merayakan natal. Sabda Tuhan juga mengarahkan kita pada pribadi ilahi yakni Roh Kudus. Zakharia penuh dengan Roh Kudus sehingga ia mengatakan kidung pujiannya kepada Allah yang mahatinggi. Roh Kudus menyadarkan Zakharia akan kehadiran Yesus Kristus sebagai Juru Selamat yang kedatangannya dipersiapkan oleh Yohanes Puteranya. Yohanes pun bertambah besar dan makin kuat rohnya.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami utusan-utusanMu yang setia sehingga berani mewartakan InjilMu kepada segala makhluk. Utuslah Roh KudusMu untuk menguatkan kami. Amen. Amen.


PJSDB

Monday, December 23, 2013

Homili 23 Desember 2013

Hari Senin 23 Desember 2013
Mal 3:1-4.4:5-6
Mzm 25:4b-5b.8-9.10.14
Luk 1:57-66

Pekerjaan Sang Utusan


Dalam budaya tertentu, untuk melakukan kegiatan bersama antar keluarga atau suku bahkan daerah yang lebih luas maka diperlukan juru bicara tertentu. Biasanya juru bicara itu mengerti dengan baik adat istiadatnya sendiri dan suku atau daerah lain. Juru bicara juga bisa berbahasa adat, berupa pantun tertentu. Dari cara balas membalas pantun akan membantu memperlancar pembicaraan bersama. Misalnya ketika melamar seorang wanita untuk menikah maka perlu juru bicara dari pihak pria yang mengerti adat istiadat setempat. Di pihak wanita, mereka juga memiliki juru bicara tertentu. Oleh karena itu semua urusan menyangkut adat istiadat tentang perkawinan dibicarakan oleh para juru bicara. Juru biacara juga mengetahui keadaan ekonomi keluarga pria atau wanita sehingga mereka juga bisa menganjurkan hal-hal tertentu yang  berguna bagi kebaikan bersama.

Tuhan juga menggunakan juru biacara tertentu untuk mempersiapkan manusia sehingga layak menerima kedatangan Tuhan. Para nabi adalah pribadi-pribadi pilihan Tuhan yang siap untuk berbicara atau bernubuat dalam nama Tuhan. Di dalam Kitab Suci kita mengenal nabi-nabi besar dan nabi-nabi kecil. Tentu saja klasifikasi seperti ini berdasarkan peran mereka dalam mewartakan kasih Allah kepada umatNya. Pada hari ini kita mendengar kisa dua juru bicara penting yang menyiapkan kedatangan Mesias. Maleakhi dalam bukunya menulis nubuat dai Tuhan: “Lihatlah, Aku menyuruh utusanKu supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu!” Mengapa Tuhan harus mengirim utusanNya terlebih dahulu? Karena Tuhan menghendaki supaya orang dapat siap menerima dan memandangNya. Maleakhi mengatakan bahwa dengan mendadak Tuhan akan masuk ke baitNya. Ia sungguh datang dan kedatangannya pun menakutkan. Laksana api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti tukang pemurni perak, ia akan mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dari perak sehingga mereka dapat menjadi orang yang layak di hadapan Allah.

Siapakah yang dimakduskan oleh Maleakhi sebegai utusan Tuhan? Dialah nabi Elia. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dashyat. Dia akan membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapaknya supaya jangan Aku datang untuk memukul bumi sehingga musnah”. Nabi Elia memang pribadi yang istimewa bagi Tuhan. Dia diangkat ke Surga oleh Tuhan dan akan menjadi utusan Tuhan untuk mempersiapkan umatNya menanti kedatangan hari Tuhan. Hingga zaman Yesus, orang-orang masih menunggu kedatangan Elia yang mendahului sang Mesias.

Sebenarnya kehadiran Elia ada di dalam diri Yohanes Pembaptis. Yesus sendiri menganggap Yohanes menyerupai Elia yang menyiapkan kedatanganNya sebagai Mesias (Mat 11: 13-14). Hanya saja orang-orang pada zaman itu menutup hatinya untuk menerima kehadiran Yohanes. Yohanes sendiri akhirnya wafat sebagai martir karena memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Hal yang sama akan terjadi juga di dalam diri Yesus Kristus sendiri. Ia akan menderita sengsara dan wafat di kayu salib.

Kita semua dipanggil untuk menjadi utusan atau juru bicara dari Tuhan. Kita butuh semangat dari Elia dan Yohanes Pembaptis untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan. Kiranya hidup dan karya kita juga membuat Tuhan semakin dikenal dan dimuliakan di atas bumi ini.

Doa: Tuhan, bantulah kami supaya pada hari ini bisa menjadi pembawa kasihMu bagi sesama. Amen.


PJSDB

Sunday, December 22, 2013

Homili Hari Minggu Adventus IV/A

Hari Minggu Adventus IV/A
Yes 7:10-14
Mzm 24:1-2.3-4b.5-6
Rom 1:1-7
Mat 1:18-24

Yesus mempersatukan keluarga

Pada suatu ketika saya didatangi oleh seorang Bapa. Ia merasa kecewa dengan istrinya dan menilai istrinya sudah tidak setia lagi dalam perkawinan mereka dan ia berniat untuk menceraikannya di catatan sipil dan gereja. Alasannya karena ia sering melihat istrinya SMS, BBM, FB dan telephonan dengan lelaki tertentu. Sekarang istrinya sedang hamil dan ia mengakui hanya sekali saja berhubungan intim selama tiga bulan terakhir. Ia kelihatan sangat emosi dan tidak mau menerima istrinya lagi. Saya bertanya kepadanya perihal pekerjaan istrinya. Ia menjawab ia adalah kepala cabang sebuah Bank Swasta. Saya bertanya lagi apakah istrinya sudah menunjukkan tanda-tanda ketidaksetiaan dengan terang-terangan berselingkuh di depannya. Ia menjawab belum melihat hanya mencurigainya. Saya menyuruhnya untuk sabar dan tidak harus mencurigai istri sendiri. Ia mengatakan kepada saya supaya tidak mengatakan apa pun kepada istrinya. beberapa bulan kemudian lahirlah anak mereka, seorang putera yang wajahnya persis seperti ayahnya. Mereka meminta saya untuk membaptisnya dan di hadapan saya mereka membaharui janji pernikahan. Suaminya juga meminta maaf atas semua sikapnya yang tidak baik terhadap istrinya.

Ini sebuah pengalaman yang sederhana dalam sebuah keluarga.Banyak kali orang merasa curiga dengan pasangan dan berniat jahat seperti menceraikan bahkan mau membunuh pasangannya. Ada yang sampai mencari dukun untuk mengalihkan perhatian pasangan supaya tetap setia. Sangatlah lucu! Orang beriman tetapi bertindah seperti orang yang tidak beriman karena masih percaya sia-sia. Bukankah Yesus sendiri berkata: “Sebab itu seorang pria meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging” (Mat  19:5; Mrk 10:8). 

Dalam masa novena natal ini, permenungan kita perlahan-lahan mengerucut pada peristiwa Yesus yang lahir di dalam satu keluarga manusia. Bunda Maria menerima khabar sukacita bahwa ia mengandung dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan diberinya nama Yesus artinya Allah yang menyelamatkan. Khabar sukacita itu terjadi sebelum Maria yang bertunangan dengan Yusuf itu hidup bersama sebagai suami dan istri. Pengalaman Maria ini tentu menjadi pukulan bagi Yusuf. Ia diam-diam merencanakan sebuah perceraian yang damai dengan Maria. Meskipun baru merencanakan tetapi Tuhan menantisipasinya dengan mengingatkan Yusuf dalam mimpi supaya tetap mengambil Maria sebagai istrinya karena satu alasan yakni Yesus. Yesus mempersatukan Maria dan Yusuf, mempersatukan semua keluarga manusia.

Yusuf menerima Maria apa adanya sesuai dengan pesan malaikat. Yusuf adalah model abdi Tuhan yang setia kepada kehendak Tuhan. Demikian juga Maria Bunda Yesus adalah abdi Tuhan yang patuh dan taat kepada kehendak Tuhan. Baik Yusuf maupun Maria sama-sama menjadi figur orang-orang yang setia di hadirat Tuhan. Sekali mereka mengatakan kesetiaan kepada Tuhan, selama-lamanya mereka juga menghayatinya. Tidak ada bukti-bukti Biblis yang mengatakan kekecewaan Yusuf atau bentrok Yusuf dan Maria. Mereka tetap hidup layak di hadirat Tuhan dan bertanggung jawab dalam membesarkan Yesus sang Putera.

Saya pernah diminta untuk merayakan natal di sebuah taman kanak-kanak. Saya kesulitan untuk memberikan homili kepada anak-anak taman kanak-kanak. Maka saya memilih untuk bercerita tentang situasi di Betlehem, para gembala dan tiga majus dari Timur. Sambil bercerita saya merasa bahwa anak-anak menikmati suguhan cerita dari saya. Setelah selesai bercerita tentang para gembala dan majus, saya bertanya kepada anak-anak tentang siapakah yang pertama-tama melihat Yesus lahir. Ada seorang anak mengangkat tangan dan menjawab: “Bunda Maria, Romo”. Saya kaget dan merasa bahagia dengan jawaban anak itu. Saya menceritakan para gembala dan majus tetapi tidak banyak menekankan figur terpenting yang merasakan kelahiran Yesus. Tetapi anak TK itu sudah menyadarkan saya untuk memberi tempat istimewa bagi Bunda Maria.

Maria adalah proto tipe seorang gadis yang sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya kepada raja Ahaz dalam bacaan pertama. Ketika itu, Israel sedang dikepung oleh para prajurit dari Damaskus maka secara politis ia sedang terjepit. Maka nabi meminta Ahas untuk memohn bantuan dari Tuhan. Namun Ahas keras hati dan tidak mau mengandalkan Tuhan. nabi lalu mengatakan nubuat bahwa seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan harus di namai Imanuel artinya Allah beserta kita. Nubuat nabi Yesaya ini tetap dipegang teguh dalam sejarah keselamatan. Nubuat yang sama diucapkan oleh Malaikat kepada Yusuf yang kita dengan dalam bacaan Injil Matius hari ini. St. Paulus mengakui imannya bahwa Yesus yang diwartakan dalam Injil adalah Keturunan Daud secara manusiawi dan menurut Roh Kudus dinyatakan sebagai anak Allah. Maka kita juga mengakui dalam ajaran iman  kita bahwa Yesus itu sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

Pada hari ini kita semua bergembira karena Tuhan juga memilih manusia seperti Maria dan Yusuf untuk menjadi pribadi-pribadi yang bersatu dengan Tuhan. Mereka berpartisipasi dalam karya keselamatan manusia. Anda dan saya juga diundang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Roh Kudus di dalam hidup kita. Yusuf sudah melakukannya dan ia berbahagia melakukan pekerjaan Roh Kudus yakni sebagai bapak pengasuh Yesus Kristus. Ia setia kepada Tuhan dan kepada Maria sampai wafat. Apakah kita juga bisa menyerupai Bunda Maria dan st. Yusuf? Tuhan Yesus mempersatukan suami dan istri, mempersatukan setiap keluarga.

Doa: Tuhan Yesus, berkatilah kami semua dalam persiapan natal ini. Semoga kami menjadi pembawa kasihMu kepada sesama. Amen


PJSDB

Saturday, December 21, 2013

Homili 21 Desember 2013

Hari Sabtu, 21 Desember 2013
Zef 3:14-18a
Mzm 33:2-3.11-12.20-21
Luk 1:39-45

Apakah ada sukacita?



Beberapa bulan yang lalu saya membaptis seorang pemuda bernama baptis Rafael. Ia menyiapkan diri sebagai katekumen selama satu tahun. Ia mengatakan kepadaku sebelum dibaptis bahwa ia memiliki kerinduan yang besar untuk menerima Yesus di dalam hidupnya dan pada hari itu adalah saat yang tepat baginya. Upacara pembaptisan berjalan dengan lancar. Ketika dibaptis ia terharu dan menangis. Ketika menerima komuni pertama ia berlutut dan mengatakan rasa syukurnya: “Terima kasih Tuhan Yesus”. Ketika keluar dari kapel, ia meloncat kegirangan dan dengan suara lantang ia berkata: “I belong to Jesus”. Rafael hanyalah salah satu contoh orang muda yang menunjukkan sukacitanya kepada Tuhan Yesus karena impiannya menjadi kenyataan. Kerinduannya bertahun-tahun untuk dibaptis dan menerima Yesus menjadi kenyataan. Di banyak tempat, orang selalu bersukacita ketika menerima sakramen tertentu di dalam Gereja Katolik. Sakramen sebagai tanda keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada manusia memang patut disyukuri. Misalnya, ketika seorang anak dibaptis atau menerima komuni pertama selalu dipestakan dengan meriah, hampir sama dengan sakramen perkawinan.

Dalam masa novena menjelang Natal ini kita semua diarahkan oleh Tuhan melalui SabdaNya untuk bergembira atau bersukacita karena Tuhan sudah dekat. Di dalam Kitab Perjanjian Lama, para nabi selalu bernubuat untuk menghibur umat Perjanjian Lama supaya selalu bergembira dan bersukacita. Zefanya dalam bacaan pertama hari ini bernubuat: “Bersorak sorailah, hai puteri Sion, bertempik soraklah hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem. Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel yakni Tuhan, ada di antaramu; engkau tidak takut kepada malapetaka lagi” (Zef 3:14-15). Zefanya meyakinkan Israel untuk bersukacita karena kasih Tuhan melimpah bagi mereka. Dosa dan salah mereka sudah dihapuskan oleh Tuhan. Para musuh pun di lenyapkan olehNya.

Tuhan juga membuat Israel bertambah sukacitanya ketika Ia mengingatkan mereka supaya jangan takut dan tangan mereka tidak menjadi lemah dan lesu. Mereka juga patut bersukacita karena Tuhan adalah pahlawan, Ia tinggal di tengah-tengah mereka dan membaharui mereka dengan kasihNya. Tuhan selalu memegang janjiNya. Ia tidak pernah lupa akan janji untuk menyelamatkan umatNya. Janji Tuhan menjadi sempurna dalam diri Yesus Kristus PuteraNya. Ia datang ke dunia sebagai Imanuel dan mewartakan kabar sukacita kepada kaum miskin. Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan dan Ia sudah dekat. Untuk itulah setiap pribadi diajak untuk bersukacita.

Dalam bacaan Injil kita mendengar kisah perjalanan Bunda Maria dari Nazareth ke Ayin Karim untuk mengunjungi Elizabeth saudarinya. Perjumpaan ini mengandung makna tersendiri. Di pihak Bunda Maria: Ia sangat bersukacita karena barusan menerima khabar sukacita dari Malaikat Gabriel bahwa ia mengandung dari Roh Kudus. Ini berarti Bunda Maria penuh dengan Roh Kudus dan salah satu buah dari Roh Kudus adalah sukacitanya (Gal 5:22). Pada saat yang sama Bunda Maria juga mendengar khabar sukacita bahwa Elisabeth saudaranya yang dikatakan orang mandul sedang mengandung. Oleh karena itu Bunda Maria membawa sumber sukacita yakni Yesus kepada Elizabeth dalam wujud mengunjungi dan melayaninya selama tiga bulan. Bunda Maria disapa Elizabeth “berbahagia” karena imannya kepada Tuhan amatlah besar. Di pihak Elizabeth, ia memang pernah merasa tertekan karena banyak orang mengatakan bahwa ia mandul. Perjumpaannya dengan Maria yang disapanya “Ibu Tuhanku” membuatnya penuh dengan Roh Kudus dan bersukacita dalam Roh. Yohanes Pembaptis di dalam rahimnya pun bersukacita dalam Roh sehingga melonjak kegirangan. Mengapa Yohanes kegirangan? Karena ia berjumpa dengan Yesus. Di masa depan Yohaneslah yang akan menyiapkan jalan bagi kedatangan Yesus Kristus di tengah umatNya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini membantu kita untuk mengerti dan menghayati sukacita di dalam hidup setiap hari. Sukacita dalam bahasa Yunani disebut chara dari kata charis yang berarti rahmat. Sukacita atau chara dihasilkan oleh charis Allah. Sukacita sebagai buah Roh Kudus itu sifatnya kekal bukan sementara karena berasal dari Tuhan sendiri. St. Paulus mengajak kita untuk bersukacita di dalam Roh Kudus. Nehemia berkata: “Bersukacitalah karena Tuhan adalah perlindungan kita” (Neh 8:10). Sukacita dari Tuhan ini bukan semata-mata menjadi milik kita tetapi kita punya misi untuk membawanya, membaginya kepada sesama yang paling membutuhkan. Apakah ada sukacita di dalam hatimu?

Doa: Tuhan, tambahkanlah sukacita di dalam hati kami. Amen


PJSDB

Thursday, December 19, 2013

Homili 19 Desember 2013

Hari Kamis, 19 Desember 2013
Hak 13: 2-7.24-25a
Mzm 71:3-4a.5-6ab.16-17
Luk 1:5-25

Tibidabo

Bagi orang yang sudah mengunjungi Barcelona pasti mengingat gunung yang tingginya sekitar 512m di atas permukaan laut. Nama gunung itu adalah Tibidabo. Di atas puncaknya terdapat bangunan Gereja besar namanya Sagrat Cor (Hati Amat Kudus Yesus). Gereja ini di desain oleh Enric Sagnier dan dibangun selama 60 tahun. Nama Tibidabo berasal dari terjemahan Vulgata Kitab Suci: “...et dixit illi haec tibi omnia dabo si cadens adoraveris me” (Mat 4:9; Luk 4:6). Jadi Tibidabo berarti aku akan memberikan kepadamu (I will give to you). Ini adalah perkataan dari iblis ketika mencobai Yesus di padang gurun. Di basilika St. Petrus, Vatican juga terdapat tulisan Tibidabo yang diambil dari dialog antara Yesus dan Petrus (Mat 16:9). Perkataan Tibidabo ini sangat inspiratif terutama dalam hal pemberian diri. Tuhan memberikan diriNya sampai tuntas demi keselamatan manusia (Yoh 13:1). Para suami dan istri saling memberi diri sampai tuntas dan hanyalah maut yang mampu memisahkan mereka. Para imam dan biarawan-biarawati juga memberi dirinya sampai tuntas hanya untuk Tuhan dengan hati yang tidak terbagi.

Pada hari ini kita mendengar kisah-kisah pemberian diri yang direncanakan Tuhan bagi para pilihanNya. Dari Kitab Hakim-Hakim kita mendengar kisah kelahiran Simson. Simson berarti matahari kecil, istimewa dan kuat. Ayahnya bernama Manoakh (Hak 13:2). Semula sudah diketahui bahwa istrinya mandul. Namun pada suatu ketika ada abdi Allah yang menyerupai Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan mengatakan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Namun demikian ada syarat-syarat tertentu yakni perempuan itu harus menjaga dirinya, tidak boleh minum anggur atau minuman lain yang memabukkan dan tidak boleh makan makanan haram. Selanjutnya malaikat juga berbicara tentang masa depan anak yang akan dilahirkan perempuan itu: anak laki-laki itu kepalanya tidak akan kena pisau cukur sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi nazir Allah, dan melalui dia akan dimulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin. 

Setelah mendengar suara malaikat, perempuan itu pergi kepada suaminya Manoakh untuk menyampaikan penglihatannya itu. Perempuan itu menceritakan pengalaman rohani perjumpaan dengan abdi Allah laksana Malaikat itu. Semua janji Tuhan lewat Malaikat diceritakannya penuh iman dan sungguh terpenuhi. Ketika tiba waktunya, perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan diberinya nama Simson artinya matahari kecil, istimewa dan kuat. Anak itu menjadi besar dan Tuhan selalu memberkati Dia. Hatinya digerakan oleh Roh Tuhan. Simson adalah seorang nazir Allah. Ia akan dipersembahkan secara khusus kepada Allah untuk tugas-tugas tertentu dari Tuhan. Simson merasakannya dengan tanda lahiria yakni rambutnya tidak dipotong. Nantinya Simson memang agak sembrono terhadap janjinya (Hak 14:8-10). 

Hal terpenting dari kisah Simson ini adalah campur tangan Tuhan dalam hidup manusia dan bagaimana manusia menaggapinya. Seorang wanita yang rahimnya dinilai sudah mati namun ia masih tetap mendapat berkat dari Tuhan. Bahkan putera yang dilahirkannya juga seorang nazir untuk Tuhan. Pengalaman keluarga Manoakh dalam Kitab Hakim-Hakim ini mirip dengan pengalaman orang tua Yohanes Pembaptis. Pasutri Zakarias dan Elisabeth sudah lama menikah. Sayang sekali karena rahimnya Elisabeth dikatakan sudah mati sehingga dianggap mandul. Tetapi Tuhan memiliki rencana istimewa bagi keluarga Zakharias ini. 

Apa yang terjadi dengan keluarga Zakharias dan Elisabeth? Zakharia adalah seorang imam yang siang dan malam melayani Tuhan. Tentu saja ketika melayani Tuhan, ia juga memohon supaya ia dan Elisabeth istrinya dapat dikarunia seorang anak, meskipun usiamereka bukan lagi muda. Ketika giliran Zakharia untuk melayani di dalam Bait Allah untuk membakar ukupan, tampaklah Malaikat Tuhan kepadanya dan berjanji bahwa Eisabeth istrinya akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia akan dinamai Yohanes. Zakharia dijanjikan akan bersukacita dan semua orang juga akan menyambut kelahirannya dengan sukacita. Sebagai tanda, Zakharia menjadi bisu hingga hari kelahiran Yohanes. 

Yohanes akan menunjukkan dirinya sebagai orang istimewa. Apa keistimewaan Yohanes yang dinilai Yesus sebagai orang terbesar yang lahir dari rahim seorang wanita? Ia akan menjadi besar di hadapan Tuhan, ia tidak akan minum anggur atau minuman keras, ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya. Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan. Ia akan berjalan mendahului Tuhan. Orang durhaka yang mendengarnya akan berbalik kepada pikiran orang-orang benar. Janji Tuhan sungguh terpenuhi ketika Yohanes lahir sesuai dengan semua hal yang disampaikan Malaikat Gabriel.

Sabda Tuhan pada hari ini mewartakan tentang kelahiran dan pemberian diri atau persembahan diri kepada Tuhan. Banyak orang tua tentu memiliki pergumulan tersendiri terutama saat menanti kelahiran seorang anak. Namun pekerjaan lebih berat adalah orang tua sebagai pendidik bagi anak-anak. Mereka itu didik orang tuanya untuk hidup bagi Tuhan dan sesama. Orang tua memang memiliki suka dan duka tersendiri: mereka harus membuat rencana untuk memiliki anak, menantikan kelahiran dengan penuh kerinduan, pengorbanan ibu ketika melahirkan, memelihara dan membesarkan. Ini tanda kasih yang tak dapat dinilai dengan materi apa pun. Oleh karena itu betapa berdosanya anak-anak kalau tidak menghormati orang tuanya. Menjelang natal kita patut berefleksi sebagai anak terhadap orang tua. Apakah kita mengasihi dan menghormati orang tua kita di rumah?

Doa: Tuhan, puji syukur kami panjatkan kepadaMu karena Engkau telah memberi kepada kami bapa dan mama. Berkati dan lindungilah mereka dalam hidup setiap hari. Mereka yang sudah meninggal, Engkau gabungkan dengan persekutuan para kudusMu. Amen


PJSDB

Uomo di Dio

Beranilah dalam hidupmu!


Ada seorang romo yang menceritakan pengalamannya seperti ini: Dia adalah seorang penakut. Ketika masih kecil ia tidak berani keluar malam untuk buang air, harus ada orang yang lebih dewasa menemaninya. Pengalaman paling menakutkan adalah ketika ada kematian. Ia tidak berani dekat dengan jenazah. Ia dapat mengingat jenazah itu sampai berhari-hari dan membuatnya merasa takut berkepanjangan. Ketika ia mengatakan niatnya untuk menjadi seorang imam, muncul banyak keberatan termasuk salah satunya adalah ketakutannya terhadap jenazah. Orang tuanya mengingatkannya bahwa nantinya ia akan memberkati jenazah maka ia akan melihat secara langsung jenazah yang menakutkannya di masa kecil. Tetapi ia berusaha untuk menjadi berani, dan lama kelamaan ia menjadi akrab dengan jenazah. Ketika mendengarnya bercerita, saya ingat seorang kudus dari Serikat Salesian Don Bosco (SDB) yaitu Beato Artemide Zatti. Dia adalah seorang mantri maka berani meminta supaya jenazah tertentu boleh dibaringkan di kamar tidurnya, ketika tidak ada lagi tempat tidur di rumah sakityang ia layani.

Di dalam masyarakat kita pada umumnya kaum pria dianggap sebagai pribadi-pribadi yang berani di dalam hidupnya. Apabila para pria tidak berani maka dianggap menyerupai wanita, meskipun banyak wanita juga kaum pemberani. Karena anggapan bahwa kaum pria adalah kaum pemberani maka kadang-kadang bisa muncul kekerasan tertentu yang dilakukan kaum pria terhadap kaum lemah seperti para wanita dan anak-anak dan juga terhadap kaum pria lain sehingga dapat menimbulkan pergolakan tertentu. 

Ketakutan sebenarnya sudah melekat di dalam diri manusia sejak adanya manusia pertama. Tuhan sudah memberikan keberanian kepada mereka untuk tinggal di taman Eden yang nyaman tetapi akibat mereka jatuh dalam dosa maka berdampak juga pada ketakutannya. Kita ingat episode Adam dan Hawa bersembunyi di balik pohon saat Tuhan berjalan-jalan dan memanggil mereka: “Dimanakah engkau?” (Kej 3:9). Adam dan Hawa mendengar Tuhan dan mereka takut (Kej 3:10). Ketakutan ini berlangsung turun temurun hingga kita saat ini. Namun Kitab Suci juga mengajarkan kita supaya tidak menjadi penakut tetapi hidup dalam keberanian. Kita ingat ketika Petrus dan Yohanes dilepaskan, bersama jemaat mereka berdoa supaya diberikan keberanian untuk memberitakan Firman (Kis 4:29). Di dalam Yesus, Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa mereka akan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan dan iman kita kepadaNya (Ef 3:12). Dalam sejarah Gereja, kau pria dan wanita berani mempertaruhkan nyawanya bagi Yesus. Banyak yang meninggal dunia sebagai martir. 

Apakah para Pria Katolik masih bermentalitas penakut? Saya teringat pada C. S Lewis yang berkata: “Keberanian bukan sekadar salah satu wujud kebajikan melainkan wujud setiap kebajikan yang tengah diuji”. Perkataan Lewis ini kiranya sangat logis dengan hidup kita. Ada saja belenggu yang menghalangi kemerdekaan pribadi sehingga yang ada di dalam diri kita adalah roh ketakutan bukan roh keberanian. Keberanian dapat kita miliki ketika kita merasa bahwa di dunia ini kita tidak sendirian. Artinya kita memang membutuhkan orang lain supaya hidup kita lebih bermakna. Kita dapat membungkus ketakutan dengan lapisan keberanian. Helen  Keller pernah berkata: “Kapankah kita akan sadar bahwa kita semua terikat satu sama lain, sehingga kita semua adalah bagian dari satu tubuh?” Maka kita dapat menjadi pribadi yang berani ketika kita merasa membutuhkan orang lain yang dapat meringankan hidup kita dari segala beban yang kita pikul. 

Mari kita memandang Yesus sang inspirator kita. Selama hidupNya, Yesus tidak pernah merasa takut. Dia adalah seorang pemberani. Ia selalu frontal dengan kaum Farisi dan para ahli Taurat yang lebih mementingkan adat istiadat dan lupa memperjuangkan kasih dan keadilan. Puncak keberanianNya adalah ketika Ia siap memikul salib dan wafat di atas kayu salib. Ia tidak takut kepada kematian, Ia justru mengalahkan kematian dengan kebangkitanNya yang mulia pada hari ketiga.

Mark Twain pernah berkata: “Keberanian adalah perlawanan terhadap rasa takut, penguasaan rasa takut, tidak adanya rasa takut”. Alan Cohen juga berkata: “Sangatlah dibutuhkan  keberanian untuk melepaskan diri dari rasa nyaman untuk merangkul hal baru. Tetapi tidak ada keamanan yang nyata dalam apa yang tidak lagi bermakna. Ada keamanan lebih dalam petualangan menarik, karena dalam gerakan ada kehidupan, dan dalam perubahan ada kekuatan”. 

Anda sebagai seorang pria, mengapa masih merasa takut? Mengapa anda tidak berani di dalam hidup? Anda sebagai pria katolik, mengapa anda tidak berani mewartakan Injil? Anda sebagai pria katolik, mengapa anda tidak mampu mempertahankan bahtera pernikahanmu? Mengapa anda tidak berani mempertahankan panggilan dan pengabdianmu di dalam gereja dan masyarakat? Ingatlah, hanya orang beriman dapat menjadi berani di dalam hidupnya karena ia merasa bahwa Tuhan menyertainya.


PJSDB

Monday, December 16, 2013

Uomo di Dio

Hati yang mulia

Dunia baru kehilangan seorang tokoh dunia bernama Nelson Mandela. Banyak di antara kita yang menyaksikan saat penguburannya yang berlangsung sangat meriah. Seorang sahabat saya spontan mengatakan: “Kita sungguh-sungguh dikatakan manusia yang manusiawi bukan saat kita masih hidup dan gemilang dalam karier tetapi pada saat kita mati, mata semua orang tertuju kepada kita dan dengan sedih mereka mangatakan rasa kehilangan diri kita dari hidup mereka”. Saya merenungkan kata-kata sahabat ini dan coba mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang pernah lewat dalam hidup saya. Sebagai seorang imam saya sering merayakan misa arwah di rumah duka. Pada suatu hari saya menyaksikan sebuah pemandangan yang menarik di rumah duka. Ada dua kamar yang bersebelahan. Jenazah di kamar A adalah seorang bapa yang bekerja selama puluhan tahun sebagai sopir di sebuah perusahan. Jenazah di kamar B adalah seorang pengusaha yang mendadak meninggal dunia karena serangan jantung.

Saya mengatakan sebelumnya bahwa ada sebuah pemandangan yang menarik di rumah duka itu karena ketika merayakan misa di kamar A jumlah umatnya membeludak. Koornya meriah dan kelihatan semua orang merasa sangat kehilangan pak Sopir yang sederhana dan sudah berumur itu. Ketika saya meminta kesaksian dari mantan pimpinannya ia mengatakan bahwa sekarang dia merasa kesulitan untuk mendapat seorang sopir yang jujur, setia dan siap kapan saja dipanggil untuk melayani seperti almarhum. Ada juga orang lain yang memberi kesaksian bahwa almarhum itu ramah dan menyapa siapa saja yang bersama dengannya di dalam mobil. Jenazah di kamar B adalah seorang pengusaha katolik tetapi kelihatan sepi, hanya sedikit orang yang melayat. Ada juga seorang romo yang memimpin misa tetapi misa itu boleh dikatakan misa hening. Pengalaman ini mengingat kembali kata-kata sahabat di atas, “Kita sungguh-sungguh menjadi manusia pada saat orang beramai-ramai datang dan melayat kita di hari kematian dan penguburan”.

Nelson Mandela adalah salah satu contoh pria sejati yang sangat mempengaruhi dunia. Orang-orang di kampung halamannnya yakni Qunu dengan wajah yang sedih mengucapkan selamat jalan kepada pahlawan mereka. Di New York terdapat restoran baru bernama Nelson Mandela. Ada juga orang yang sedang membuat monumen Nelson Mandela dengan wajah yang menunjukkan sifatnya sebagai pendamai. Tentu saja satu hal yang selalu dikenang adalah kebaikan-kebaikan Mandela. Ia dipenjarakan selama 27 tahun karena memperjuangkan persamaan hak para warga kulit hitam dan putih di negerinya. Ia tetap menunjukkan kebaikannya dengan mengampuni dan menerima para lawan politik apa adanya. Mandela adalah tokoh yang dapat mengubah cara hidup banyak orang terutama para pemimpin dunia, khususnya di negeri kita. Di tengah-tengah krisis leadership Negara kita, Mandela boleh dibilang inspiratif bagi banyak orang untuk menjadi pemimpin yang mencintai dan dicintaim jujur dan setia.

Mungkin saja para pemimpin kita yang korup saat ini seharusnya merasa malu. Untuk sekedar diketahui bahwa Indonesia Corruption Watch berhasil menghadirkan angka-angka yang signifikan dan memalukan tentang keadaan korupsi di Indonesia. Selama 6 bulan terakhir terdapat 81 anggota DPR yang terjerat kasus korupsi. Para anggota legislative ketika berkampanye mengatakan soal kejujuran tetapi mereja sendirilah yang menjadi tidak jujur! Kementrian dalam negeri Indonesia mencatat 83,7 persen kasus korupsi yang dilakukan DPRD tingkat provinsi. Semakin jauh dari Jakarta, semakin nyaman berkorupsi. Banyak jajaran eksekutif yang terjerat kasus korupsi dan sangat terstruktur mulai dari lurah dan kepala desa, camat, bupati, gubernur bahkan para mentri yang korup. Saya pernah melihat di sebuah kelurahan ada mentalitas preman dari lurah dan anak buahnya. Saya baru tahu bahwa untuk menjadi seorang lurah, mereka juga berkampanye dan butuh dana yang besar. Dari lembaga yudikatif, kita mengenal Akil Mochtar mantan ketua MA dan Subri seorang kepala kejaksaan negeri Lombok Tengah NTB yang batrusan ditangkap tangan.

Kalau membaca nama-nama para koruptor ternyata lebih banyak koruptonya adalah kaum pria. Memang kita harus merasa malu karena Tuhan menciptkan kita bukan untuk mencuri, merampok atau melakukan korupsi. Tuhan menciptakan kita sewajah denganNya untuk menjadi orang kudus, tak bercela di hadiratNya. Tuhan bahkan melengkapi kita semua dengan hati supaya mampu mengasihi dan bersikap jujur. Ketika hati nurani sudah lumpuh maka orang akan sulit membedakan mana dosa dan bukan dosa. Orang akan melakukan perbuatan-perbuatan dosa tanpa ada perasaan malu lagi.

Saya ingat Kardinal Xavier Nguyen Van Thuan pernah berkata: “Hatimu itu tidak terbuat dari batu. Hatimu itu mulia karena terbuat dari daging supaya memampukan anda untuk mencintai. Dengan gagah berani berpeganglah pada Salib Suci dengan kedua tanganmu dan letakkanlah di dalam hatimu salib itu”. Mari kita memandang Yesus sang Inspirator Spiritualitas Pria Katolik. Dia rela memikul Salib karena Ia sangat mencintai kita semua. Hingga saat ini Yesus Kristus tetaplah figur paling populer dari semua tokoh yang mengubah dunia ini. Kita berjalan bersama Kristus untuk membangun dunia ini menjadi baru.

Mari kita merenungkan hidup kita sepanjang hari ini dan boleh memeriksa bathin: “Perbuatan baik apa saja yang sudah anda lakukan sepanjang hari? Apakah hidupmu sebagai Pria katolik sepanjang hari ini mampu mengubah hidup banyak orang menjadi lebih baik, dan layak di hadirat Tuhan? Selidikilah hidupmu. Anda pria katolik pasti bisa! Anda juga berhati mulia!


PJSDB 

Saturday, December 14, 2013

Homili Hari Mingu Adventus III/A

Hari Mingu Adventus III/A
Yes 35:1-6a.10
Mzm 146:7.8-9a.9b-10
Yak 5:7-10
Mat 11:2-11

Bersukacita dalam Tuhan!

Pada hari ini kita memasuki Hari Minggu Adventus III. Pekan ketiga Adventus biasa disebut juga pekan sukacita karena makin dekatlah kita merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Sebuah antiphon yang kiranya tepat untuk diucapkan pada hari ini adalah: “Gaudete in Domino semper: iterum dico, gaudete. Dominus enim prope est” (Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah. Tuhan sudah dekat. Flp 4:4-5). Tokoh inspiratif bagi kita pada hari ini adalah nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis.

Mengapa nabi Yesaya menjadi salah satu inspirator kita? Pada hari ini nabi Yesaya dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan sendiri datang untuk menyelamatkan kita semua. Tuhan sedang bernubuat melalui Yesaya untuk menyampaikan kepada kaum Israel di Babel bahwa Tuhan adalah satu-satunya Penyelamat yang akan melepaskan mereka untuk kembali ke Sion.Tuhan sang Penyelamat itu adil dan kemuliaanNya akan memancar di antara bangsa-bangsa. Supaya lebih meyakinkan umat Israel, nabi Yesaya menggambarkan situasi alam semesta yang mereka kenal saat itu. Ia berkata: “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak sorai dan berbunga. Bunganya akan seperti bunga mawar dan bersorak sorai”. Padang gurun adalah sebuah simbol pergumulan hidup manusia. Di padang gurun itu orang dicobai untuk setia dan memilih untuk mengandalkan Tuhan atau mengandalkan dirinya sendiri. Mengandalkan Tuhan berarti keselamatan, mengandalkan diri berarti kematian.

Umat Allah yang letih lesu dan berbeban berat merasa dipulihkan oleh Sabda ini: “Kuatkanlah hatimu dan janganlah takut. Lihatlah, Allahmu akan datang dengan membawa pembalasan dan ganjaran. Ia sendiri datang dan menyelamatkan kamu.” Wujud keselamatan yang Tuhan berikan kepada manusia adalah memulihkan orang yang sakit dan membebaskan semua orang yang berbeban berat. Dalam hal ini orang-orang buta akan melihat, telinga orang tuli dibuka, orang lumpuh akan melompat seperti rusa, mulut orang bisu akan bersorak sorai. Yesaya memberikan figur seorang Allah yang mahapengasih dan penyayang kepada umatNya, terutama yang sedang menderita supaya dapat bersukacita dan bersorak sorai. Dalam sejarah Israel, janji Tuhan sungguh-sungguh dipenuhi ketika banyak orang Israel kembali ke Sion setelah Koresh mengeluarkan dekritnya. Mereka akan menjadi satu di Sion dan membangun Bait Allah untuk memuliakan Allah dengan sorak sorai selamanya.

Janji Tuhan ini dipenuhi ketika Yesus PuteraNya datang ke dunia. Ia melakukan kehendak Bapa di surga dengan menyelamatkan semua orang. Apa yang Yesus lakukan? Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa dengan menyembuhkan orang buta sehingga dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli dapat mendengar, orang mati dibangkitkan dan Injil diwartakan kepada kaum papa miskin. Semua pekerjaan ini dilakukan dengan sempurna oleh Yesus sehingga membangkitkan pertanyaan kepada banyak orang termasuk Yohanes Pembaptis tentang siapakah Yesus itu sebenarnya.

Dari dalam Penjara, Yohanes mengutus para muridNya untuk bertanya secara langsung kepada Yesus, apakah Dia sungguh-sungguh Mesias atau masih ada orang lain. Yesus tidak menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis tetapi menunjukkan perbuatan-perbuatan nyata sebagai wujud hadirnya Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Semua tanda-tanda heran di lakukan Yesus untuk melengkapi semua seruan Yohanes di padang gurun bahwa dirinya akan semakin kecil dan Yesus semakin besar. Yesus sendiri menghormati Yohanes dan mengatakan bahwa dari semua orang yang lahir dari kandungan seorang ibu, Yohaneslah yang terbesar. Yohanes dikatakan terbesar karena ditentukan oleh Tuhan untuk mewartakan pertobatan melalui pembaptisan di Sungai Yordan, hidupnya sederhana teristimewa dalam hak berpakaian dan makanan. Ia juga tidak merasa tersaingi dengan kehadiran Yesus, bahkan ia memperkenalkan Yesus kepada para muridNya sebagai Anak Domba Allah.

Yohanes sudah menyiapkan kedatangan Yesus dengan seruan tobat dan pembaptisan dengan air. Banyak orang berdatangan termasuk Yesus untuk dibaptis sebagai tanda solidaritasNya dengan manusia. Yohanes kemudian menegur Herodes Antipas karena hidup perkawinannya yang tidak beres sehingga ia dipenjarakan. Selama dipenjara, Yesus tidak memiliki kesempatan untuk mengunjungi Yohanes, atau menitip pesan untuk menguatkannya. Namun Yohanes tetap mendengar pekerjaan-pekerjaan Yesus yang mengagumkan banyak orang. Mengherankan karena Yesus tidak menggunakan kuasaNya untuk membebaskannya dari penjara. Padahal dalam pemahaman Yohanes, Mesias juga membebaskan para tahanan di penjara. Inilah yang membuat Yohanes mengalami krisis iman di hadapan Yesus. Oleh karena itu Yohanes berani mengirim utusan untuk menanyakan identitas Yesus. Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak sangsi dan tidak menolak aku” (Mat 11:6).

Orang-orang benar mengalami krisis iman di hadapan Tuhan tetapi tidak menolak Tuhan. Yohanes Pembaptis mengalami krisis iman tetapi dipulihkan oleh hidup Yesus yang nyata dalam tanda-tanda atau dalam pekerjaan-pekerjaanNya. Ia tidak hanya bersabda tetapi juga melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa secara nyata bagi manusia dan sesuai dengan pengajarannya di padang gurun. Pada hari Minggu Adventus ke-IV kita juga akan berjumpa dengan st. Yosef yang mengalami krisis iman sehingga berencana untuk menceraikan Bunda Maria. Tuhan melalui malaikatNya memulihkan iman Yosef. Orang-orang benar selalu bertahan dalam penderitaan hingga mencapai kesempurnaan. Pada hari ini Tuhan mengajak kita untuk menantikan kedatanganNya dengan prioritas Tuhan bukan prioritas kita. Kita tidak harus berpikir tentang berapa pengorbanan yang sudah kita lakukan dalam pelayanan untuk Gereja tetapi pikirkanlah betapa besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia mengutus PuteraNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita (Yoh 3:16).
Apa yang harus kita lakukan?

St. Yakobus menyadarkan kita dalam bacaan kedua hari ini untuk meneguhkan hati karena Tuhan sudah dekat. Ada tiga ajakan penting dari Yakobus. Pertama, kita diajak untuk memiliki kesabaran yang tinggi. Ibarat para petani yang sabar menantikan hasil tanahnya yang berharga maka ia perlu sabar untuk menantikan hujan. Apakah anda orag yang sabar? Kedua, kita diajak untuk tidak bersungut-sungut. Orang yang suka bersungut-sungut akan menghancurkan dirinya sendiri karena tidak akan diterima dengan baik di dalam komunitas. Mengapa anda suka bersungut-sungut? Ketiga, kita tidak harus saling mempersalahkan. Biasanya orang cenderung membenarkan dirinya. Mengapa anda mudah mempersalahkan orang lain? St, Yakobus justru mengajak kita untuk bertahan dalam derita seperti para nabi ketika mewartakan kasih dan kebaikan Tuhan. Mari kita memadang Yohanes Pembaptis dan Yesus yang sama-sama menderita hingga wafat sebagai martir. Merea bertahan dalam derita supaya kebahagiaan dapat dialami umat manusia.

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini mengajak kita untuk tidak memperhitungkan jasa-jasa baik dalam karya pelayanan kita. Kita justru menikmati kebaikan Tuhan hari demi hari dalam hidup kita. Rahmat Tuhan selalu baru dan tidak pernah berhenti. Mari kita bersukacita senantiasa dalam Tuhan.

Doa: Tuhan, bantulah kami supaya hari ini kami dapat bersukacita dalam namaMu. Amen


PJSDB

Reungan 14 Desember 2013

Hari Sabtu, Pekan Advent II
Sir 48:1-4.9-11
Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19
Mat 17:10-13

Semoga Api itu Menyalah!

Pada hari ini kita berjumpa dengan seorang nabi besar dalam Kitab Perjanjian Lama yang diyakini oleh orang-orang Yahudi bahwa ia akan datang kembali mendahului sang Mesias. Dialah nabi Elia. Nama Elia dalam bahasa Yahudi disebut Eliyahu, Yunani disebut Elias dalam bahasa Arab disebut Ilyas. Nama ini berarti Allahku adalah Elohim (My God is Yahweh). Nabi Elia berasal dari Tisbe-Gilead hidup pada abad ke IX sebelum Masehi. Dia terkenal sebagai pembela iman akan Tuhan yang mahaesa, yang telah menyelamatkan Israel dari perbudakan Mesir. Dalam tradisi dikatakan ia tidak mati melainkan langsung diangkat ke Surga dengan keretanya, sehingga di harapkan akan datang kembali pada akhir zaman (Mal 3:23). Satu hal lagi yang perlu kita ingat dari Elia adalah pada zaman Ratu Yizabel, ia mendatangkan api dari langit.

Kitab Putra Sirak dalam bacaan pertama hari ini mengisahkan kembali kenangan akan nabi Elia. Nabi Elia dikatakan penampilannya bagaikan api, perkataannya laksana obor yang membakar. Ia mendatangkan kelaparan bagi Israel yang keras hatinya dan semangatnya mengurangi jumlah mereka. Ia juga yang memohon supaya langit dikunci oleh Tuhan dan api diturunkan sampai tiga kali. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa dalam olak angin berapi ia diangkat dalam kereta dan kuda-kuda berapi. Dialah yang akan mengembalikan hati bapa dan memulihkan segala suku Yakub. Dengan tanda-tanda heran ini maka Elia patut dihormati sebagai nabi yang penuh dengan Roh Kudus. Tuhan selalu menyertainya.

Figur Elia ini dalam kacamata Kristiani hadir sempurna dalam diri Yohanes Pembaptis (Mat 17:10-13; Luk 1:17). Penginjil Matius bersaksi bahwa ketika Yesus dan para murid terpilih turun dari gunung setelah menyaksikan kemuliaanNya, Yesus melarang mereka untuk menceritakan pengalaman rohani mereka di gunung sebelum melihat kebangkitan Anak Manusia dari kematian. Dengan nada keheranan mereka bertanya: “Mengapa para ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang lebih dahulu?” Menurut Yesus, Elia memang akan datang dan memulihkan segala sesuatu. Lebih jelas lagi Yesus mengatakan bahwa Elia memang sudah datang tetapi orang-orang tidak mengenal dia dan memperlakukannya sesuai dengan kehendak mereka. Anak manusia pun akan diperlakukan demikian sehingga Ia sangat menderita. Para murid menangkap maksud Yesus bahwa Yohanes Pembaptislah yang sedang menderita di penjara karena memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Nabi Elia dan Yohanes Pembaptis merupakan proto tipe dari Yesus Kristus sendiri. Elia meneriakkan Israel untuk menyembah Allah yang benar di Kerajaan Utara (Samaria). Mereka yang menyembah para baal diajak untuk bertobat dan kembali kepada Yahwe. Orang-orang Yahudi yakin sebagaimana dinubuatkan Maleakhi bahwa Elia akan datang untuk mempersiapkan kedatangan Mesias. Yohanes Pembaptis mengambil peran Elia untuk menyiapkan kedatangan Tuhan Yesus sang Mesias. Ia adalah suara yang berseru di padang gurun untuk pertobatan dan bagi mereka yang percaya siap untuk dibaptis. Banyak orang berubah karena mendengar pewartaan Elia dan Yohanes. Satu hal yang sama dari Elia dan Yohanes adalah mereka juga menderita. Hanya saja Elia diangkat ke Surga sementara Yohanes menjadi martir.

Yesus adalah Sabda Bapa yang menjadi manusia dan berkemah di tengah umat manusia (Yoh 1:14).  Ia juga melawan arus ketika berhadapan dengan orang-orang sezamanNya terutama para ahli taurat dan Farisi. Setiap pengajaranNya pasti mendapat perlawanan dari kedua kelompok ini. Yesus akhirnya wafat sebagai martir agung demi menyelamatkan umat manusia. Apa yang menjadi kemiripan antara Elia, Yohanes dan Yesus? Inilah salah satu ungkapan Yesus yang menyatukan ketiga figur ini: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyalah” (Luk 12:49). Api merupakan simbol yang penting, pertama kehadiran Roh Kudus yang menguatkan semua orang. Kedua sebagai simbol kemartiran dan kekudusan umat Allah yang hidup dalam kepenuhan Kristus. Api juga menjadi tanda kesaksian yang menyala-nyala, memberanikan semua orang kristiani untuk menunjukkan kasih Allah bagi manusia.

Sabda Tuhan pada hari ini sangat menguatkan kita. Kita butuh Roh Kudus sebagai Api kehidupan yang membakar semangat kita untuk berani mewartakan kebenaran dan keadilan. Ini juga menjadi salah satu cita-cita kita semua sebagai Gereja dalam masa adventus ini.

Doa: Tuhan Yesus, bantulah kami untuk selalu setia kepadaMu dan berani mewartakan keagunganMu. Amen


PJSDB

Friday, December 13, 2013

Renungan 13 Desember 2013

Hari Jumat, Pekan Adventus II
Yes 48:17-19
Mzm 1:1-2.3.4.6
Mat 11:16-19

Tuhan adalah Penuntun Hidupmu

Pada suatu hari saya didatangi seorang ibu untuk meminta pendapat saya tentang anaknya yang beranjak remaja. Ia memiliki kesulitan untuk berelasi dengan anaknya. Ia bingung karena anaknya sudah untuk mengikuti perintah-perintahnya. Saya mengatakan kepadanya bahwa pada zaman ini banyak keluarga memiliki pengalaman yang mirip. Relasi dengan anak dan pembinaan mereka merupakan hal yang dirasa makin sulit. Anak-anak sudah memiliki dunia tersendiri. Menurut saya, satu hal yang harus dilakukan oleh para orang tua adalah keteladanan. Orang tua tidak cukup hanya berbicara tetapi lebih baik menunjukkan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Keteladanan berbicara lebih lantang dari pada suara. Saya juga menganjurkannya untuk selalu mendoakan anaknya supaya bertumbuh menjadi anak yang baik. Pada suatu hari Minggu ibu itu membawa anaknya ke kantor dan memperkenalkannya kepada saya. Ia mengatakan bahwa setelah pertemuan kami, ia berusaha untuk menyediakan lebih banyak waktu bersama anaknya, mendengar dan mendoakannya.

Relasi antar pribadi bisa berubah ditandai dengan kehadiran yang aktif bersama orang-orang di sekitar kita. Seorang anak yang nakal sekali pun kalau selalu mengalami kehadiran aktif dari orang tuanya maka ia juga dapat berubah menjadi baik. Selama masa adventus ini kita semua belajar untuk merasakan kehadiran aktif dari Tuhan. Kita percaya bahwa Dia yang kita nantikan adalah Emanuel, Allah menyertai kita. Dia selalu hadir dan membimbing kita untuk mengikuti jalanNya. Bagaimana kita dapat menyadari bahwa kita mengikuti jalan-jalan Tuhan? Melalui nabi Yesaya Tuhan memperkenalkan diriNya sebagai Penebus, mahakudus dan Allah Israel. Ia berkata: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh” (Yes 48:17). Tuhan sedang berfirman bagi umat Israel yang menderita di Babel dan memberi peneguhan kepada mereka bahwa Dialah Allah yang benar, Allah yang mengajari mereka, Allah yang menuntun mereka. Allah hadir secara aktif di antara umatNya dan menuntun mereka mengikuti jalan-jalanNya.

Tuhan tidak hanya menuntun umatNya untuk mengikuti jalan-jalanNya. Ia juga memberikan perintah-perintah supaya mereka mentaatinya. Selama masa adeventus ini kita diarahkan Tuhan melalui sabdaNya untuk mengikuti perintah-perintahNya dan dengan demikian akan menikmati kemurahan hatiNya. Tuhan bersabda: “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan teus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapanKu” (Yes 48:18-19).

Apa yang kiranya mau kita nikmati dari kemurahan hati Tuhan karena mengikuti perintah-perintahNya? Pertama, Damai sejahtera.  Damai sejahtera adalah anugerah dari Tuhan, buah Roh Kudus sehingga dikatakan mengalir seperti sungai yang tidak kering. Tuhan memberikan damai sejahteraNya kepada kita dan damaiNya itu tidak sama dengan yang dunia tawarkan kepada manusia (Yoh 14:27). Dengan membawa damai kepada sesama maka kita akan disebut anak-anak Allah (Mat 5:9). Kedua, Kebahagiaan. Tuhan Yesus menyapa kaum papa miskin, berduka, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, membawa damai, dianiaya dan dicela karena Yesus sebagai pribadi-pribadi yang bahagia (Mat 5: 3-11). Di dalam perikop ini, Tuhan Yesus tidak memberi kepada mereka kiat untuk menjadi bahagia, tetapi bahwa hidup mereka apa adanya di hadapan Yesus itulah yang merupakan kebahagiaan. Melalui Yesaya, Tuhan menjanjikan kebahagiaan yang berlimpah laksana gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Ketiga, keturunan. Tuhan tidak hanya memberi damai dan kebahagiaan, tetapi keturunan merupakan puncak dari kebahagiaan manusia khususnya yang menikah. Anak-anak adalah anugerah Tuhan maka para orang tua menerima apa adanya. Keturunan manusia tidak akan dilenyapkan dari hadapan Tuhan.

Siapakah yang kiranya menjadi figur inspirator kita? Penginjil Matius menghadirkan dua figur yang saling melengkapi yakni Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus. Yesus sudah memuji Yohanes sebagai laki-laki yang terbesar yang lahir dari perempuan (Mat 11:11).  Yohanes tetaplah figur yang inspiratif karena kesederhanannya meskipun dianggap kerasukan setan. Yesus datang ke dunia dan memiliki sikap terbuka dengan kaum pendosa. Pola pendekatan Yesus adalah duduk bersama serta makan dan minum dengan mereka. Ia pun dilabel, pelahap, peminum dan sahabat pemungut cukai. Yohanes dan Yesus adalah model penuntun yang tepat. Yohanes menuntun orang-orang yang datang kepadanya untuk bertobat dan dibaptis sehingga layak menerima Yesus sang Mesias. Yesus menuntun para muridNya, GerejaNya untuk menuju kepada Bapa dan tinggal bersamaNya. Dia juga sekaligus jalan yang dilalui menuju kepada Bapa.

Sabda Tuhan pada hari ini membuat kita kagum dengan Tuhan. Dialah Penuntun yang benar sehingga kita memiliki damai, kebahagiaan dan keturunan yang membahagiakan. Mari kita bersukaria atas kebaikan Tuhan ini.

Doa: Tuhan, puji dan syukur kami panjatkan kepadaMu karena Engkau selalu baik dan menunutun kami. Amen.

PJSDB

Sunday, November 10, 2013

Pengumuman

Para pencinta haniesto.blogspot.com

Saya harus meminta maaf karena terhitung sejak 9 November,  saya tidak lagi postkan tulisan di blog ini. Kalian boleh masuk ke www.pejesdb.com dan mengakses semua tulisan di sana. Jangan lupa tetap menjadi follower dan buatlah comment seperlunya. 

Salam dan berkat selalu

P.John Laba Tolok, SDB
081339445038
28d50251
www.pejesdb.com

Thursday, November 7, 2013

Renungan 7 November 2013

Hari Kamis, Pekan Biasa XXXI
Rm 14:7-12
Mzm 27:1.4.13-14
Luk 15:1-10

Hidup dan Mati untuk Tuhan


Setiap orang pasti mengalami kelahiran dan kematian. Kelahiran mengawali hidup di dunia dan kematian tubuh mengakhiri hidup kita. Oleh karena itu baik hidup maupun mati merupakan dua bagian yang menyatu di dalam tubuh kita. Kita tidak akan menjauhi kematian dan akrab dengan kehidupan saja tetapi kedua-duanya menyatu dan akrab dengan kita. Penyair Khalil Gibran menulis: "Apabila engkau dengan sunguh hati menangkap hakikat kematian, bukalah hatimu selebar-lebarnya untuk wujud kehidupan, sebab kehidupan dan kematian adalah satu, sebagaimana sungai dan lautan adalah satu". Sebagai umat beriman kita selalu mengakui iman dengan berkata: “Aku percaya akan persekutuan para kudus dan kehidupan kekal”. Pengakuan iman ini menyadarkan kita bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepadaNya. Dia adalah asal muasal kehidupan kita sehingga tubuh kita yang fana ini akan menjadi sempurna atau kudus bersamaNya.

St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma melanjutkan pengajarannya bahwa kita semua mengalami hidup dan mati di dalam tangan Tuhan. Paulus berkata: “Tidak ada seorang pun di antara kita yang  hidup untuk dirinya sendiri dan tidak seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” (Rm 14:7-8). Pernyataan Paulus ini berdasar pada pengalaman akan Yesus Kristus sendiri. Yesus Kristus tidak pernah datang ke dunia untuk hidup bagi diriNya sendiri. Dia juga tidak pernah mati untuk diriNya sendiri. Seluruh kehidupan dan kematian Yesus hanya untuk keselamatan manusia. Ini adalah kehendak Bapa yang harus Ia taati. Dengan kehidupan dan kematianNya, Ia menjadi Tuhan bagi orang yang hidup dan mati.

Belajar dari Yesus yang hidup dan mati bagi manusia, Paulus lalu menyadarkan kita untuk bertumbuh menjadi sesama bagi manusia yang lain. Menjadi sesama bagi manusia yang lain berarti kita berusaha untuk tidak menghakimi atau menghina sesama. Kita semua percaya bahwa Tuhan Yesus sendiri akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Kita semua akan mengalami nasib yang sama dalam pengadilan terakhir. Maka kita pun akan mempertanggungjawabkan hidup kita di hadirat Tuhan yang Mahakudus. Oleh karena itu kita semua perlu menyadari bahwa baik hidup maupun mati, kita tetaplah milik Tuhan.

Tuhan Yesus sendiri menunjukkan sebuah komitmen untuk selalu mencari dan menyelamatkan orang-orang berdosa. Penginjil Lukas memberi kesaksian bahwa Yesus dalam pengajaranNya memberi perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang. Ketika Yesus kelihatan akrab dengan para pemungut cukai, orang-orang Farisi selalu bersungut-sungut. Mereka menghendaki supaya para pendosa itu di jauhi oleh Tuhan. Memang orang-orang Farisi memahami dosa dan akibatnya yakni hubungan dengan Tuhan menjadi retak. Maka semua orang yang dianggap orang benar seperti Yesus, tidak harus bersahabat dengan mereka. Terhadap pikiran mereka ini, Yesus menggunakan kesempatan untuk mengajar sekaligus meluruskan pikiran mereka. 

Ia mengajar perumpamaan yang pertama: Kalau ada seorang yang mempunya seratus ekor domba dan salah satunya tersesat maka ia akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor yang tidak tersesat dan mencari serta menyelamatkan satu ekor yang tersesat. Ketika menemukannya, ia akan bersukacita dengan mengangkat dan meletakkannya di atas pundaknya, memanggil para sahabat untuk bergembira bersama karena ia menemukan kembali domba yang tersesat. Perumpamaan kedua, Kalau ada seorang perempuan yang kehilangan satu dirham dari sepuluh dirham yang ia miliki maka ia akan menyalakan pelita, menyapu rumahnya, mencari dengan cermat sampai menemukannya. Ketika menemukannya, ia akan mengundang para sahabat kenalan dan tetangga untuk bergembira bersamanya karena berhasil menemukan satu dirhamnya yang hilang. Dengan kedua perumpamaan ini, Yesus mau mengatakan bahwa akan ada sukacita di surga kalau satu orang berdosa bertobat, lebih dari sembilan puluh sembilan orang yang mengaku diri orang benar dan tidak membutuhkan pertobatan. Para malaikat pun akan bergembira karena satu orang berdosa yang bertobat.

Adalah sukacita besar ketika kita juga menyadari diri kita sebagai orang berdosa sehingga membutuhkan Tuhan untuk menyelamatkan kita. Ada sukacita karena baik hidup dan mati, semuanya dipersembahkan untuk Tuhan. Maka Tuhan memang memiliki rencana indah untuk keselamatan kita. Ia senantiasa mencari dan menyelamatkan kita karena kita adalah milikNya. Masalahnya adalah kita suka lupa bahwa Tuhan mengasihi kita. Kita berpikir bahwa kita bisa menjalani hidup ini dengan kekuatan diri kita sendiri. Tuhan tidak lagi menjadi andalan hidup kita. Namun Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk kembali kepadaNya. Tuhan Allah dan para malaikatNya bersukacita ketika kita bertobat dan tinggal bersamaNya selama-lamanya, sebagai persekutuan para kudusNya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau memanggil kami untuk bertobat. Semoga hari ini kami boleh bertobat dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang membawa kami untuk menikmati dosa. Ampunilah kami ya Tuhan. Amen

PJSDB