Thursday, January 1, 2026

HARI RAYA SP. MARIA BUNDA ALLAH

Bil. 6:22-27

Mzm. 67:2-3,5,6,8

Gal. 4:4-7

Luk. 2:16-21

 

Membangun Relasi dengan Bunda Maria

 


Mengawali tajun 2026 ini saya mengutip sebuah doa sederhana dari Santa Faustina ini: 

“Untuk lebih layak memuji rahmat Tuhan, kami semua bersatu dengan Bunda Suci-Mu, sehinga nyanyian kami akan lebih berkenan kepada-Mu, sebab Dia telah dipilih di antara manusia dan malaikat. Melalui Dia, seperti melalui kristal yang murni, rahmat-Mu disampaikan kepada kami. Melalui Dia, manusia menjadi berkenan kepada Allah; Melalui Dia, mengalirlah segalah rahmat kepada kami.” 

Maria sebagai Bunda Allah adalah penyalur Rahmat Tuhan sehingga membuat semua orang mengaguminya. Apakah hanya sebatas mengaguminya saja? Ternyata belumlah cukup untuk mengagumi Bunda Maria. Saya teringat pada Paus Fransiskus yang pernah berkata: 

“Kita tidak hanya “mengagumi” Bunda Maria… dengan kelembutan dan kekaguman. Kita juga diminta untuk ‘meniru’ teladannya agar keindahan Allah dapat bersinar di bumi berkat banyak “ya” yang terus diucapkan oleh kaum pria dan wanita hari ini, mengikuti teladan dan perantaraan Maria, Yang Tak Bernoda”.

 

Kita mengawali tahun baru 2026 ini setelah melewati sebuah peziarahan yang panjang selama tahun 2025 dengan penuh harapan. Kita akrab dengan sebutan Tahun Yubileum. Memang ada harapan-harapan kita yang terpenuhi, ada juga harapan-harapan yang belum terpenuhi. Mungkin hal ini mengecewakan kita semua yang mengalaminya, namun ingatlah bahwa Tuhan selalu memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Pikirkanlah kembali bahwa orang-orang yang menantikan kedatangan Mesias juga merasakan kerinduang yang luar biasa. Bunda Maria dan Santu Yusuf adalah dua sosok yang memiliki kerinduan saat menantikan kedatangan Yesus sang Mesias. Kerinduan mereka digenapi sebagaimana diungkapkan dengan sangat jelas oleh St. Paulus dalam tulisannya ini: “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Dialah Yesus Kristus Tuhan yang menjadi utusan untuk menebus dunia sehingga melalui Roh-Nya kita pun ikut menyapa Allah sebagai Bapa (Gal 4:5-6). Tentu saja perkataan santo Paulus ini tidak bisa dipisahkan dengan relasi yang mendalam dengan Maria sebagai bunda Yesus.

 

Santu Lukas dalam perikop Injil hari ini, memberikan sebuah kesaksian yang sangat penting bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh dilahirkan oleh Bunda Maria sehingga ia disebut sebagai Bunda Allah. Para gembala adalah orang-orang sederhana  yang ikut mendengar bahwa Yesus sebagai sang Penyelamat dunia sudah lahir di Bethlehem. Para gembala ini patuh pada pesan Tuhan melalui malaikat untuk pergi ke Bethlehem. Mereka menemukan Maria dan Yusuf serta Bayi yang dibaringkan di dalam palungan. 

 

Sekarang, perhatikan baik-baik bunyi kesaksian santo Lukas ini: para gembala yang sederhana itu datang ke Bethlehem. Pribadi pertama yang mereka lihat adalah Maria, kedua adalah Yusuf dan ketiga adalah Bayi yang terbaring di dalam palungan (belum ada nama). Ia belum diberi nama karena nantinya Yusuf dan Maria akan menamai bayi itu Yesus pada saat Ia disunat pada hari kedelapan dan sesuai dengan perkataan Malaikat Gabriel. Di sini, Tuhan memiliki cara untuk menyadarkan kita: Ia menampilkan Maria, sang pilihan Tuhan yang mengandung dan melahirkan Yesus, Yusuf yang menjadi Bapak Pemelihara dan Yesus sang Anak Allah ditempatkan di urutan ketiga, belum diberi nama, namun hanya disebutkan ‘Bayi’ untuk menyatakan Allah yang merendahkan diri sehingga manusia memiliki martabat baru sebagai Anak Allah. Apakah Maria membuat heboh karena menjadi Bunda dari Anak Allah? Tidak! Lukas bersaksi: “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).

 

Kelahirang Yesus menyebabkan kelahiran pewarta-pewarta sederhana yakni Bunda Maria, Yusuf dan para Gembala tanpa nama. Kesaksian para Gembala khususnya, sangat sesuai dengan kisah kelahiran Yesus yang diceritakan oleh para Malaikat di Padang Gurun. Kisah ini tentu tidak lepas dari sosok Maria dan Yusuf sebagai orang tua Yesus. Lebih khusus lagi Maria sebagai Bunda Allah karena dialah yang mengandung dan melahirkan Yesus sang Anak Allah.

 

Kelahiran Yesus dari Rahim santa Perawan Maria menjadi sebuah Injil kehidupan bagi kita semua. Kelahiran Yesus sebagai Immanuel, membawa pesan sukacita sebagaimana sudah disabdakan Tuhan di dalam Kitab Bilangan melalui Musa: 


“Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai Sejahtera” (Bil 6: 24-26). 


Tuhan melakukan segala sesuatu secara sempurna di dalam Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria. Dia menjadi Bunda Allah, bunda kita semua.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan? 

 

Kita perlu belajar untuk menata relasi kita dengan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Kita mengikuti teladan kekudusannya, kebajikan-kebajikannya dan tidak pernah lelah untuk menyapanya ‘Salam Maria” sepanjang hidup kita. 


Saya menutup homili ini dengan doa kepada Bunda Maria dari santa Theresia dari Kalkuta:


 “Maria, Bunda Yesus, berikanlah kepadaku Hati-mu yang begitu indah, begitu murni, begitu Tak Bernoda, begitu penuh cinta dan kerendahan hati, agar aku dapat menerima Yesus dalam Roti Kehidupan, mencintai-Nya sebagaimana engkau mencintai-Nya, dan melayani-Nya sebagaimana engkau melayani-Nya, dalam rupa yang menyedihkan dari orang-orang miskin yang paling miskin. Amin”.

 

P. John Laba, SDB