Thursday, September 3, 2026

Homili 4 September 2026

 Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIIA

1Kor 4:1-5
Mzm 37:3-4.5-6.27-28. 39-40
Luk 5:33-39

Selamat Datang Era Baru

Saya pernah diundang untuk menghadiri sebuah perayaan syukur di sebuah komunitas. Tema perayaan yang dicetak di spanduk adalah: “Selamat datang era baru”. Komunitas itu memang barusan melewati sebuah pengalaman yang keras dan sangat mengganggu kebersamaan di dalam komunitas itu. Kini disebut era baru karena terjadi pergantian pimpinan dan anggota komunitas. Diharapkan supaya era baru sungguh membaharui setiap pribadi menuju kepada kekudusan atau kesempurnaan. Era baru selalu membawa harapan dan tentu harapan yang tidak pernah mengecewakan. 

Era baru tentu membawa kebaruan dalam berbagai aspek kehidupan. Pengalaman keras bisa berubah ketika semua orang bertransformasi dan menjadi baru. Era baru pernah dialami oleh para murid yang mengikuti Yesus dari dekat. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa Yesus datang dengan membawa kebaruan dalam hidup. Penginjil Lukas mengisahkan bahwa sekali peristiwa  orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat membandingkan para murid Yohanes  Pembaptis dan murid-murid Yesus terutama tentang hal berpuasa sesuai kebiasaan mereka sebagai orang Yahudi. Murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa sedangkan para murid Yesus tidak berpuasa. 

Tuhan Yesus lalu membuka wawasan mereka tentang relasi antar pribadi di antara mereka dan relasi mereka bersama Yesus. Relasi para murid bersama Yesus adalah sebuah relasi persahabatan yang intim. Para murid adalah sahabat Yesus sang mempelai sejati. Yesus sendiri mengatakan kepada para murid-Nya: ‘Kamu adalah sahabatku’ (Yoh 15:14). Relasi persahabatan dengan Yesus harus selalu menjadi prioritas pertama di atas persahabatan manusiawi. Yesus dengan terus terang berkata: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Luk 5:34-35). Di sini sangat jelas relasi persahabatan para murid dan Yesus sendiri. Para murid adalah sahabat-sahabat Yesus sebagai mempelai. Yesus sendiri adalah mempelai yang membawa suka cita agung. Maka selagi Yesus sang mempelai masih ada 

Perikop Injil kita pada hari ini diambil dari Injil Lukas: 5:33-39. Pesan yang  dapat kita ambil adalah bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk menambal atau menggabungkan pesan kasih karunia-Nya yang baru dan radikal dengan tradisi keagamaan lama dan kaku dari orang-orang Farisi. Sebaliknya, kedatangan-Nya memulai era keselamatan yang sama sekali baru yang membutuhkan cara berhubungan dengan Tuhan yang benar-benar baru. 

Ada beberapa hal penting yang dapat membantu pertumbuhan kita. Pertama, analogi sang Mempelai Pria.  Tuhan Yesus menjelaskan bahwa puasa tidak tepat dilakukan sementara Ia sebagai sang mempelai pria ada di bersama dengan para murid sebagai sahabat mempelai, karena kehadiran-Nya adalah waktu untuk perayaan yang penuh sukacita, bukan untuk berkabung. Kedua, menambal pakaian lama dengan kain baru. Dengan mencoba menjahit kain baru pada baju yang lama hanya akan merusak kain baru tersebut dan memperburuk robekan aslinya ketika menyusut, menunjukkan bahwa ajaran Kristus tidak dapat begitu saja dijahitkan pada sistem legalistik yang usang. Ketiga, anggur baru dalam kantung Anggur lama. Anggur baru yang aktif dan berfermentasi akan merusak wadah kulit tua yang kaku dan telah kehilangan elastisitasnya, membuktikan bahwa kehidupan dinamis kerajaan Allah membutuhkan hati dan kerangka kerja yang segar dan fleksibel. Keempat, kenyamanan akan tradisi lama. Tuhan Yesus mengakui adanya penolakan manusia, dengan mencatat bahwa orang-orang yang terbiasa dengan tradisi lama secara alami lebih menyukai apa yang familiar, dan sering kali menolak karya baru Allah.

Santu Paulus dalam bacaan pertama (1Kor 4:1-5) menegaskan bahwa para pemimpin jemaat hanyalah hamba dan pengelola yang hanya bertanggung jawab kepada Allah. Orang beriman hendaknya berhenti membuat penilaian yang terburu-buru dan keras terhadap para pemimpin jemaat atau diri mereka sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui motif manusia dan akan menghakimi dengan benar ketika Kristus kembali.

Kedatangan Kristus membawa era baru bagi kita semua. Di sini sangat dibutuhkan transformasi yang radikal supaya semakin hari kita sungguh-sungguh menjadi sahabat Yesus sang mempelai sejati.

P. John Laba, SDB

Homili 3 September 2026 - Peringatan St. Gregorius Agung

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIIA

Peringatan Wajib St. Gregorius Agung

1Kor 3:18-23

Mzm 24: 1-2. 3-4ab.5-6

Luk 5: 1-11

 

Belajar menjadi hamba dari para hamba Allah

Pada hari ini kita mengenang kembali santo Gregorius Agung. Santo Gregorius Agung adalah Paus dan orang Kudus yang istimewa karena beliau adalah seorang biarawan sederhana yang terpilih menjadi Paus yang transformatif, seorang Pujangga Gereja dan pendiri Kepausan pada abad pertengahan. Ada beberapa kontribusi dari santo Gregorius Agung bagi Gereja yang diingat sampai sat ini yakni, pertama, Konsep Paus sebagai Hamba dari Hamba-hamba Allah (Servus Servorum Dei). Beliau mempopulerkan gelar terkenal ini untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada kerendahan hati dan melayani sesama. Kedua, nyanyian atau lagu Gregorian. Beliau membantu mengatur dan mengembangkan musik liturgi suci, yang dinamakan nyanyian atau lagu Gregorian untuk menghormatinya. Ketiga, Penginjilan di Inggris. Beliau mengutus Santo Agustinus dari Canterbury dan sekelompok biarawan untuk me mpertobatkan rakyat Inggris menjadi Pengikut Kristus. Keempat, Kepedulian terhadap Kaum Miskin. Beliau menggunakan dana gereja dan kas kepausan untuk memberi makan orang-orang yang lapar, merawat orang-orang yang membutuhkan, dan mengelola krisis publik selama wabah penyakit dan kelaparan. Kelima, Karya Tulis dan Doktrin. Sebagai salah satu dari empat Bapa Gereja Latin yang agung, ia menulis teks-teks berpengaruh tentang pastoral dan moral yang membentuk spiritualitas abad pertengahan. Nama Grergorius selalu dikenang sepanjang masa.

Pada hari ini kita mendengar kisah lanjutan tentang Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas. Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Tuhan Yesus berdiri di pantai danau  Genazaret atau Danau Galilea. Seperti biasa, orang-orang mengerumuni Yesus untuk mendengarkan Sabda Allah. Tuhan Yesus melihat dua perahu di tepi pantai, salah satu perahu itu adalah milik Simon Petrus. Mereka adalah nelayan-nelayan sederhana yang sedang membasuh jala mereka. Tuhan Yesus naik ke atas perahu Simon dan menyuruhnya untuk menolak perahu itu sedikit jauh dari pantai.  Ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar mereka.Pantai sehingga Dia lebih leluasa mengajar orang banyak yang mengerumuni-Nya. Setelah selesai mengajar, Ia menyuruh Simon untuk duc in altum, artinya bertolak lebih dalam untuk menebarkan jala dan menangkap ikan.

Simon dan teman-temannya pasti merasa heran dengan Yesus. Sudah semalam suntuk mereka tidak mampu menangkap ikan, lalu sekarang Yesus yang bukan seorang nelayan tulen seperti mereka, menyuruh mereka untuk menebarkan jala supaya menangkap ikan. Simon dan teman-temannya memang mengandalkan pengalaman manusiawinya sedangkan Tuhan Yesus menunjukkan kuasa Ilahi-Nya. Pengalaman manusiawi sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa kalau Tuhan tidak ikut terlibat dalam pengalaman mereka itu. Hal yang menarik perhatian mereka adalah kerendahan hati dan ketaatab kepada kehendak Tuhan. Simon Petrus berkata: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:5). Buaha dari ketaatan kepada kehendak atau perintah Tuhan Yesus adalah mereka menangkap ikan dalam kelimpahan. Bahkan mereka salng tolong menolong untuk mengangkut ikan yang jumlahnya banyak itu. Suara transformative diberikan oleh Simon kepada Yesus, namun Yesus  dengan tegas mengatakan: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." (Luk 5:10).

Perikop Injil hari ini sangatlah menarik perhatian kita. Perikop Injil ini men unjukkan seruan Yesus kepada Simon dan anak-anak Zebedeus untuk menjadi murid yang radikal. Di sini, Yesus membuktikan kuasa ilahi-Nya melalui berlimpahnya ikan yang ditangkap, ada ungkapaan keberdosaan manusiawi Simon, dan bagaimana Yesus mengubah status mereka sebagai nelayan biasa menjadi "penjala manusia," menginspirasi mereka untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti-Nya.

Hal-hal penting yang patut kita renung bersama berdasarkan perikop Injil hari ini adalah Pertama, Iman akan Kuasa Ilahi dari Tuhan Yesus. Ia menunjukkan kendali penuh atas alam semesta dengan menyediakan sejumlah besar ikan yang sangat banyak hingga mengoyakan jala setelah mereka tidak menangkap apa-apa. Kedua, ada kesadaran akan Dosa di hadirat Tuhan sehingga ada transformasi radikal. Simon dan teman-temannya melihat mukjizat ini sehiungga membuatnya Simon Petrus menyadari ketidaklayakannya sendiri, yang menyebabkannya berlutut di hadapan Yesus dengan penuh kekaguman. Ketiga, Ketaatan mengalahkan logika dan pengalaman manusiawi. Simon Petrus menaati Yesus dan menebar jala ke tempat yang lebih dalam meskipun pengalamannya sebagai nelayan profesional mengatakan kepadanya bahwa itu tidak masuk akal. Keempat, Panggilan untuk mengikuti Yesus. Yesus memberi tahu Petrus agar tidak takut, memberinya tujuan baru untuk membantu membawa orang kepada Tuhan, bukan hanya sekadar menangkap ikan.

Santo Paulus dalam Bacaan Pertama (1Kor 3:18-23) menegaskan bahwa orang beriman harus meninggalkan kesombongan duniawi dan perpecahan manusia, menyadari bahwa hikmat sejati berasal dari Allah. Para pemimpin manusia adalah pelayan dan bukan tuan, dan segala sesuatu adalah milik mereka yang milik Kristus. Pengalaman Paulus tentu sejalan dengan pengalaman Simon Petrus dan teman-temannya. Demikian juga Santo Gregorius Agung yang dengan jelas mengatakan bahwa dirinya adalah hamba dari para hamba Allah (Servus Servorum Dei). Kita belajar dari orang kudus yang setia kepada Kristus.

P. John Laba, SDB


Wednesday, September 2, 2026

Renungan 2 September 2026 - Injil Untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXII

1Kor 3:1-9

Mzm 33:12-13.14-15.20-21

Luk 4:38-44


Lectio:


“Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum, Yesus pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea”. Demikianlah Sabda Tuhan. Terpujilah Kristus.


Renungan:


Saya Siap Memberitakan Injil


Kita sedang berada di hari kedua Bulan September. Bulan September dikenal di dalam Gereja sebagai bulan untuk menghormati Bunda Maria yang berdukacita. Fokusnya adalah pada kesedihan mendalam dan iman yang teguh dari Santa Perawan Maria. Di samping itu, bagi kita sebagai Gereja, kita juga memulai Bulan Kitab Suci n nasional. Tema Bulan Kitab Suci nasional adalah "Yesus Guru yang Penuh Kuasa” dengan subtema khusus "Wajah Yesus dalam Injil Matius”. Tentu Saja kita semua terpanggil untuk mendengar, membaca, merenungkan dan menjadi pelaku Sabda Tuhan untuk mewujudkan Yesus sebagai  Guru yang penuh kuasa. Sabda Tuhan haruslah terus diwartakan dalam setiap saat kehidupan kita. Santo Paulus pernah menulis kepada Timotius begini: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim 4:2). 


Saya masih mengingat sharing pengalaman dari seorang misionaris sejati. Ia sudah berkarya di tanah misi yang sulit di Afrika selama lebih kurang empat puluh tahun. Pada saat mensyukuri panca windu hidupnya sebagai misionaris, ia memilih tema perayaan syukurnya: "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16). Ia memaknai pengalaman dan pesan Paulus ini dengan sepenuh hati. Itu sebabnya, ketika mengalami kesulitan dalam bermisi, ia selalu berkata: “Saya siap untuk memberitakan Injil” sebab “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Perkataan ini sekaligus menjadi motivasi bagi kita untuk mencintai sabda Tuhan. Santo Hironimus berkata: “Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est”, artinya "Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.”


Pada hari ini Tuhan Yesus menyapa kita melalui santo Lukas dalam Injil tulisannya. Tuhan Yesus sangat viral ketika mengajar di dalam Sinagoga di Kapernaum yang membuat begitu banyak orang menjadi takjub kepadanya. Ketakjuban tidak hanya berhenti pada pengajaran Yesus, tetapi juga pada penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus. Misalnya, ibu mertua Simon Petrus yang sedang sakit demam keras. Tuhan Yesus dipanggil untuk menolongnya. Tuhan Yesus berdiri di sisi wanita itu dan menghardik demamnya. Demam hilang dan ibu mertua itu melayani Yesus seabagi tanda syukurnya.


Karena hari Sabat maka Tuhan Yesus tidak melakukan pekerjaan yang berat. Baru setelah matahari terbenam, orang membawa begitu banyak orang sakit kepada Yesus dan Tuhan Yesus pun meletakkan tangan atas mereka dan menyembuhkan mereka. Orang-orang yang kerasukan setan juga berteriak-teriak dan mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Yesus tidak berbangga dengan statusnya sebagai Merias, Anak Allah. Ia melarang mereka  supaya tidak membuat-Nya semakin viral. Tuhan Yesus terus bersemangat untuk mewartakan Injil karena untuk itulah Ia datang ke dunia sebagai Utusan Bapa.


Saya siap mewartakan Injil adalah sebuah perkataan sekaligus motivasi yang mentransformasi hidup kita. Tuhan Yesus sendiri mengamanatkan para murid-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mat 16:15). Perintah atau amanat Yesus juga berlaku bagi anda dan saya untuk mewujudkan hidup Kristiani kita. Kita saat ini mewartakan Injil dengan hidup kita yang nyata, yang memperhatikan orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Mereka ini sedang mengalami musibah gempa bumi, kebakaran hutan sehingga menyebabkan polusi udara dan krisis air bersih. Injil menjadi hidup dalam pewartaan kita melalui hidup nyata dan melayani kemanusiaan.


P. John Laba, SDB 



Thursday, January 15, 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa I

1Sam. 4:1-11

Mzm. 44:10-11,14-15,24-25

Mrk. 1:40-45

 

Tuhan, semoga engkau menyembuhkanku

 


Selama lebih kurang dua tahun saya mengalami kesulitan untuk melihat. Saya berusaha memeriksa mata saya di klinik mata dan mendengar pendapat dokter yang sangat variatif: mata saya kabur karena kelelahan akibat memaksa mata di depan laptop dan HP, ada katarak di kedua bola mata, ada kecurigaan bahwa bisa jadi ada tumor di kepala dan yang paling ekstrim adalah ada tanda glucoma karena tekanan bola mata saya saat itu sampai 21. Tentu saja saya berterima kasih kepada para dokter yang sangat concern dengan mata saya. Pasutri muda Fiefie dan Ricco juga sangat concern dengan mata saya maka mereka mengajak saya untuk memeriksa mata saya di Island Hospital, Penang, Malaysia bersama Dokter Andrew. Hasil pemeriksaannya adalah bahwa mata saya kabur karena faktor usia (saat ini 55) maka biji mata saya mudah kering dan mulai ada katarak yang menggangu penglihatan saya. Saya pun diberi obat tetes hialid 0,1 dan siap untuk operasi katarak di sana. 

 

Operasi katarak kedua bola mata saya sudah dilakukan bersama dokter Andrew pada tanggal 4 dan 5 Desember 2025 yang lalu, sekalian memasang lensa progresif di kedua mata sehingga saya berpisah dengan kacamata setelah empat puluh tahun. Pada saat persiapan operasi katarak, saya benar-benar larut dalam doa dan permenungan tentang dialog antara orang buta dan Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas: “Apa yang kamu mau Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, tolonglah supaya saya bisa melihat kembali.” Yesus berkata kepadanya, “Kalau begitu melihatlah! Karena kamu percaya penuh kepada-Ku, sekarang kamu bisa melihat.” (Luk 18: 41-42). Saya percaya dan mengamininya. Operasi berjalan dalam waktu yang sangat singkat pada tanggal 4 dan 5 Desember dan tanggal 6 Desember sore saya diijinkan untuk kembali ke Jakarta dengan Batik Malaysia, selanjutnya pada tanga 7 Desember saya melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Hingga saat ini saya tidak merasa kesulitan apapun pasca operasi katarak. Tuhan sungguh baik bagiku.

 

Saya menceritakan pengalaman pribadi ini untuk menyadarkan kita tentang pergumulan hidup pribadi kita di hadirat Tuhan. Ketidakmampuan untuk melihat atau katakanlah orang buta pasti mengalami pengalaman yang sama dengan orang kusta tanpa nama di dalam Injil hari ini. 

Orang kusta pada zaman Yesus itu tidak dianggap setara dengan manusia yang lain. Kalau berjalan di jalan umum ia harus berpakaian compang camping, rambutnya tidak terurus dan harus berteriak dengan suara lantang bahwa dirinya adalah seorang kusta. Semua orang lari meninggalkan si kusta meskipun selalu mengulangi kata ‘sesama manusia’. Orang kusta dalam Injil hari ini memang agak lain. Ia yang berani dan tanpa merasa malu datang kepada Yesus, berlutut sebagai tanda kerendahan hati dan penyembahannya, lalu meminta untuk disembuhkan. Inilah doa dari si kusta: ‘Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. 

 

Reaksi Yesus sungguh luar biasa. Ia memandang si kusta yang dijauhi sesama manusia, hati Yesus pun tergerak oleh belas kasihan, mengulurkan tangan-Nya yang kudus, menjamah orang kusta ini dan berkata kepadanya: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir’. Orang kusta yang beriman dan berani memohon pertolongan Tuhan Yesus itu menjadi sembuh seketika. Tuhan Yesus sendiri tidak terjangkit kusta, hanya sesama manusia yang takut terjangkit kusta. Tuhan Yesus tidak sombong karena bisa menyembuhkan si kusta. Ia hanya berkata: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." (Mrk 1:44). Meskipun demikian Yesus tetap diviralkan oleh si kusta sebagai tanda syukur atas kesembuhannya di hadirat Tuhan. 

 

Kisah pengalaman pribadi saya dan kisah si kusta di dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita semua bahwa sakit penyakit akan dialami oleh semua orang bahkan pengalaman yang tragis pun dapat dialami oleh siapa saja. Orang yang dekat dengan Tuhan seperi imam Eli di Silo dalam bacaan pertama, yang siang dan malam melayani Tuhan saja mengalami peristiwa tragis: Tabut Perjanjian diangkat dari Silo, kedua anak imam Eli yakni Hofni dan Pinehas mati dibunuh dengan tragis di samping para prajurit yang berguguran melawan bangsa Filistin. Saya sebagai seorang imam, yang setiap saat membaktikan diri kepada Tuhan dan sesama juga mengalami pergumulan dalam sakit penyakit tertentu seperti yang dialami si kusta dalam Injil. Hal terbaik adalah percaya kepada Tuhan, tekun dalam doa dan Tuhan akan melakukan yang terbaik di dalam hidup pribadi masing-masing.

 

Pada akhirnya saya mau mengucapkan rasa terima kasih saya kepada Tuhan Yesus yang menyembuhkan saya melalui para dokter yang luar biasa: Dokter Riky, Dokter Martin, Dokter Yulius dan Dokter Andrew. Terima kasih para saudari dan saudara yang dengan caranya sendiri menolongku para saudari dan saudaraku nun jauh di sana, Fiefie dan Ricco, Iin-Asiong, Ida, Lia, Ricka, Ira, Marie, Greece, keluarga besar kedua kombas Leopold di Lipo dan Citra, mas Bro Hadinata seorang boss yang setia menjadi driver dan kedua saudaraku P. Anto dan P. Adi di SDB Pontianak dan semua yang namanya tidak saya sebutkan di sini. Kalian semua luar biasa karena memiliki andil besar bagiku untuk melihat kembali. Bless you all.

 

P. John Laba, SDB

Thursday, January 1, 2026

HARI RAYA SP. MARIA BUNDA ALLAH

Bil. 6:22-27

Mzm. 67:2-3,5,6,8

Gal. 4:4-7

Luk. 2:16-21

 

Membangun Relasi dengan Bunda Maria

 


Mengawali tajun 2026 ini saya mengutip sebuah doa sederhana dari Santa Faustina ini: 

“Untuk lebih layak memuji rahmat Tuhan, kami semua bersatu dengan Bunda Suci-Mu, sehinga nyanyian kami akan lebih berkenan kepada-Mu, sebab Dia telah dipilih di antara manusia dan malaikat. Melalui Dia, seperti melalui kristal yang murni, rahmat-Mu disampaikan kepada kami. Melalui Dia, manusia menjadi berkenan kepada Allah; Melalui Dia, mengalirlah segalah rahmat kepada kami.” 

Maria sebagai Bunda Allah adalah penyalur Rahmat Tuhan sehingga membuat semua orang mengaguminya. Apakah hanya sebatas mengaguminya saja? Ternyata belumlah cukup untuk mengagumi Bunda Maria. Saya teringat pada Paus Fransiskus yang pernah berkata: 

“Kita tidak hanya “mengagumi” Bunda Maria… dengan kelembutan dan kekaguman. Kita juga diminta untuk ‘meniru’ teladannya agar keindahan Allah dapat bersinar di bumi berkat banyak “ya” yang terus diucapkan oleh kaum pria dan wanita hari ini, mengikuti teladan dan perantaraan Maria, Yang Tak Bernoda”.

 

Kita mengawali tahun baru 2026 ini setelah melewati sebuah peziarahan yang panjang selama tahun 2025 dengan penuh harapan. Kita akrab dengan sebutan Tahun Yubileum. Memang ada harapan-harapan kita yang terpenuhi, ada juga harapan-harapan yang belum terpenuhi. Mungkin hal ini mengecewakan kita semua yang mengalaminya, namun ingatlah bahwa Tuhan selalu memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Pikirkanlah kembali bahwa orang-orang yang menantikan kedatangan Mesias juga merasakan kerinduang yang luar biasa. Bunda Maria dan Santu Yusuf adalah dua sosok yang memiliki kerinduan saat menantikan kedatangan Yesus sang Mesias. Kerinduan mereka digenapi sebagaimana diungkapkan dengan sangat jelas oleh St. Paulus dalam tulisannya ini: “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Dialah Yesus Kristus Tuhan yang menjadi utusan untuk menebus dunia sehingga melalui Roh-Nya kita pun ikut menyapa Allah sebagai Bapa (Gal 4:5-6). Tentu saja perkataan santo Paulus ini tidak bisa dipisahkan dengan relasi yang mendalam dengan Maria sebagai bunda Yesus.

 

Santu Lukas dalam perikop Injil hari ini, memberikan sebuah kesaksian yang sangat penting bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh dilahirkan oleh Bunda Maria sehingga ia disebut sebagai Bunda Allah. Para gembala adalah orang-orang sederhana  yang ikut mendengar bahwa Yesus sebagai sang Penyelamat dunia sudah lahir di Bethlehem. Para gembala ini patuh pada pesan Tuhan melalui malaikat untuk pergi ke Bethlehem. Mereka menemukan Maria dan Yusuf serta Bayi yang dibaringkan di dalam palungan. 

 

Sekarang, perhatikan baik-baik bunyi kesaksian santo Lukas ini: para gembala yang sederhana itu datang ke Bethlehem. Pribadi pertama yang mereka lihat adalah Maria, kedua adalah Yusuf dan ketiga adalah Bayi yang terbaring di dalam palungan (belum ada nama). Ia belum diberi nama karena nantinya Yusuf dan Maria akan menamai bayi itu Yesus pada saat Ia disunat pada hari kedelapan dan sesuai dengan perkataan Malaikat Gabriel. Di sini, Tuhan memiliki cara untuk menyadarkan kita: Ia menampilkan Maria, sang pilihan Tuhan yang mengandung dan melahirkan Yesus, Yusuf yang menjadi Bapak Pemelihara dan Yesus sang Anak Allah ditempatkan di urutan ketiga, belum diberi nama, namun hanya disebutkan ‘Bayi’ untuk menyatakan Allah yang merendahkan diri sehingga manusia memiliki martabat baru sebagai Anak Allah. Apakah Maria membuat heboh karena menjadi Bunda dari Anak Allah? Tidak! Lukas bersaksi: “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).

 

Kelahirang Yesus menyebabkan kelahiran pewarta-pewarta sederhana yakni Bunda Maria, Yusuf dan para Gembala tanpa nama. Kesaksian para Gembala khususnya, sangat sesuai dengan kisah kelahiran Yesus yang diceritakan oleh para Malaikat di Padang Gurun. Kisah ini tentu tidak lepas dari sosok Maria dan Yusuf sebagai orang tua Yesus. Lebih khusus lagi Maria sebagai Bunda Allah karena dialah yang mengandung dan melahirkan Yesus sang Anak Allah.

 

Kelahiran Yesus dari Rahim santa Perawan Maria menjadi sebuah Injil kehidupan bagi kita semua. Kelahiran Yesus sebagai Immanuel, membawa pesan sukacita sebagaimana sudah disabdakan Tuhan di dalam Kitab Bilangan melalui Musa: 


“Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai Sejahtera” (Bil 6: 24-26). 


Tuhan melakukan segala sesuatu secara sempurna di dalam Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria. Dia menjadi Bunda Allah, bunda kita semua.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan? 

 

Kita perlu belajar untuk menata relasi kita dengan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Kita mengikuti teladan kekudusannya, kebajikan-kebajikannya dan tidak pernah lelah untuk menyapanya ‘Salam Maria” sepanjang hidup kita. 


Saya menutup homili ini dengan doa kepada Bunda Maria dari santa Theresia dari Kalkuta:


 “Maria, Bunda Yesus, berikanlah kepadaku Hati-mu yang begitu indah, begitu murni, begitu Tak Bernoda, begitu penuh cinta dan kerendahan hati, agar aku dapat menerima Yesus dalam Roti Kehidupan, mencintai-Nya sebagaimana engkau mencintai-Nya, dan melayani-Nya sebagaimana engkau melayani-Nya, dalam rupa yang menyedihkan dari orang-orang miskin yang paling miskin. Amin”.

 

P. John Laba, SDB

Wednesday, December 31, 2025

 Hari Rabu 31 Desember 2025

Oktaf Natal

1Yoh 2:18-21

Mzm 96:1-2.11-12.13

Yoh 1:1-18

 

Waktu yang terakhir

 

Saya selalu mengenang sosok seorang bapak dan sahabat yang selalu bertekun di dalam hidupnya. Saya menjumpainya pada saat misa pagi di Gereja. Dia  selalu hadir, kecuali ada alasan khusus seperti ia sedang sakit atau ia ke luar kota. Saya lalu memberanikan diri untuk menyapanya dan bertanya kepadanya mengapa ia selalu hadir mengikuti misa harian dan misa hari Minggu di Gereja. Dia dengan senyum khasnya memandangku dan berkata: “Pater John, saya adalah seorang pensiunan dari sebuah Perusahaan besar dan oernah merasa jauh dari Tuhan. Pada saat ini saya ingin mengisi sisa hidup ini dengan hadir aktif di Gereja, mengikuti perayaan Ekaristi Harian, mendengar Sabda Tuhan dan menerima Komuni Kudus. Semua ini saya lakukan dengan kesadaran bahwa ini adalah hari terakhir bagi saya, misa terakhir bagi saya dan komuni kudus terakhir bagi saya”. Saya menatapnya dan membalas senyumnya sambil merenung sejenak: “Saya bukan lagi seorang imam muda. Hampir dua puluh lima tahun berziarah sebagai imam dan memasuki tahun ke tiga puluh tujuh di dalam komunitas Salesian Don Bosco namun saya belum sempat berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir bagiku, namun bapa yang menjadi sahabat itu mengajarku untuk merasakan bahwa setiap hari adalah hari terakhir dan saya harus siap untuk menghadapinya sebagai hari terakhirku.” 

 

Pengalaman sederhana ini membuka wawasan saya untuk selalu memikirkan perjalanan hidup harianku sebagai hari terakhir. Saya berusaha dengan segala kelemahan manusiawiku yang ada dan segala kelebihan sebagai rahmat Tuhan untuk berbuat baik dan menyenangkan hati Tuhan. Di mana ada kelemahan manusiawiku, saya menyadari diri dan berusaha untuk membenahi diri dan menjadi lebih baik lagi karena saya percaya bahwa Tuhan tetap memberi kesempatan bagi saya untuk memulai lagi hidup baru. Ada kesulitan, ada tantangan tetapi selalu ada Tuhan yang membarui segala sesuatu.

 

St. Yohanes dalam suratnya sangat memberi peneguhan kepada kita semua. Ia dengan penuh kasih menyapa kita sebagai ‘anak-anakku’. Sapaan seorang bapa yang baik karena dia adalah murid kesayanagan Tuhann Yesus. Inilah perkataan yang menguatkan kita: “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir” (1 Yoh 2:18). Perkataan tentang waktu yang terakhir membuat kita membenahi hidup kita karena ada tantangan, kesulitan yang kita hadapi. Yohanes menulis: “seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir” (1Yoh 2:18). Waktu yang terakhir adalah waktu yang menyadarkan kita pada tantangan-tantangan duniawi atau dengan meminjam perkataan Yohanes ‘Anti Kristus’. Anti Kristus adalah pribadi yang menyangkal Yesus Kristus. Orang yang masuk kategori anti Kristus adalah mereka yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah, atau bahwa Dia datang dalam daging (sebagai manusia saja).

 

Di dalam Media Sosial kita berjumpa dengan koor Anti Kristus karena yang sedang dicari adalah perpecahan bukan Persekutuan. Orang mengklaim mana yang paling benar, paling kudus bahkan tanpa sadar mencaci maki Tuhan Yesus dan ibunya santa Perawan Maria. Maka benar sekali ketika Yohanes mengatakan bahwa para Anti Kristus itu berasal dari antara kita namum mereka tidak sungguh-sungguh termasuk di antara kita (1Yoh 2:19). Kita diharapkan untuk menunjukkan kesetiaan kepada Kristus. Mengap akita perlu setia? Yohanes berkata: “Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya” (1Yoh 2:20). Yohanes menyampaikan semua ini di hari terakhir karena ‘tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran’ (1Yoh 2:21). 

 

Tuhan Yesus adalah Kebenaran sejati. Ia berkata: “Akulah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku “ (Yoh 14:6). Para Anti Kristus adalah mereka yang hidupnya seolah dekat padahal sebenarnya jauh dari Kristus sendiri. Yesus sendiri adalah Firma, Sabda hidup dan Kebenaran sejati. Yesus ada bersana-sama dengan Allah. Yesus menegaskan kembali: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Yesus sebagai Sabda atau Firman bersatu dengan Bapa. Dalam prolog Injil Yohanes dikatakan: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1: 4-5). 

 

Di hari yang terakhir ini, kesadaran kita ditata kembali. Ada kegelapan yang kita alami namun masih ada terang yang menguasai kegelapan. Dialah Tuhan Yesus sendiri sebagai Terang Dunia (Yoh 8:12). Dialah yang kita imani sebagai ‘Sabda yang menjadi Dagung dan tinggal di antara kita’ (Yoh 1:14). Tuhan rela menjadi manusia dan tinggal bersama kita maka transformasi diri itu memang penting dan harus kita lakukan mulai dari diri kita sendiri, mulai saat ini juga.

 

Di hari terakhir ini mari kita menundukkan kepala di hadirat Tuhan karena betapa lemah, gelapnya hidup kita. Namun kita juga harus berani mengangkat kepala dan berseru kepada Tuhan untuk segera datang dan menolong kita semua. Selamat Tinggal 2025 dan selamat datang 2026. Maaranatha!


P. John Laba, SDB

 

Tuesday, December 30, 2025


Memikirkan yang terlalu berlebihan

 

Hanoin demais liu. Demikian sebuah ungkapan yang selalu saya dengar ketika masih bermisi di bumi Loro Sae. Perkataan ‘hanoin demais liu’ berarti ‘memikirkan sesuatu yang terlalu berlebihan’. Perkataan singkat ini berlaku umum bagi setiap orang sepanjang zaman. 

Setiap orang tentu selalu memikirkan tentang dirinya sendiri dan sesama yang ada disekelilingnya, apakah baik atau tidak baik, bahagia atau tidak bahagia. Para orang tua misalnya, selalu memikirkan masa depan anak-anaknya, bukan hanya ketika mereka masih usia dini, tetapi juga ketika anak-anak sudah memasuki usia dewasa dan lebih lagi belum mendapat pasangan hidup. Anak-anak merasa tenang dan menikmati masa mudanya, orang tuanya yang pusing dan merasa terpukul ketika menyaksikan orang tua lain menggendong cucunya. Para suami dan istri sering ‘hanoin demais liu’ dengan pasangan hidupnya dan berujung pada saling mencurigai dan berkelahi di antara mereka.

 

Dalam peziarahan panjang selama tahun 2025 ini berapa kali anda dan saya jatuh dalam demam ‘hanoin demais liu’ terhadap diri sendiri dan sesama. Berapa kali kita tertekan dan kecewa dengan diri sendiri, kecewa dengan sesama yang ada di sekitar kita? Berapa kali kita berpikiran yang berlebihan sehingga sulit untuk membuka diri dengan sesama? Komunikasi antar pribadi stop total karena ‘hanoin demais liu’. Kalau saja kita berani bereksodus dari diri kita sendiri dan membuka diri dengan sesama maka tentu cerita hidup masing-masing kita saat ini akan indah dalam perbedaan.

 

Saya menemukan gambar seekor kucing dan seorang anak yang duduk bersama sambil memandang ke depan. Perhatikan tatapan mereka, lalu ingatlah diri anda saat ini. Apakah tatapanmu seperti anak kecil atau seperti kucing? Lalu bacalah tulisan inspiratifnya: 

 

“Hidup itu tidak akan mudah ketika anda sendiri memiliki pikiran yang berlebihan di kepalamu dengan hati yang sensitif”

 

Menjelang akhir tahun 2025 ini, mari kita berbenah diri sejenak. Paling kurang ‘hanoin demais liu’ menghilang sejenak dalam diri kita. Akhirilah tahun 2025 ini meskipun dengan keluhan umum ‘batuk pilek” yang sedang menguasaimu dengan hati yang tenang. Kalau tidak tenang sekarang lalu kapan lagi anda mau tenang? Mau tetap ‘hanoin demais liu?’ 

 

Salam dan berkat Tuhan.

 

P. John Laba, SDB