Sunday, September 6, 2026

Homili Hari Minggu Biasa ke - XXIIIA - 2026

Hari Minggu Biasa XXIII/A 

Hari Minggu Kitab Suci Nasional

Yeh. 33:7-9

Mzm. 95:1-2,6-7,8-9

Rm. 13:8-10

Mat. 18:15-20.


Keselamatan untuk semua orang


Pada Hari Minggu Biasa ke-XXIIIA ini kita sekalian menjadikannya sebagai Hari Minggu Kitab Sucu Nasional 2026. Adapun tema besar Bulan Kitab Suci Nasional sesuai usulan LBI kali ini adalah: “Yesus Guru yang Penuh Kuasa” dengan sub temanya “Wajah Yesus dalam Injil Matius”. Fokus Pendalaman BKSN tahun 2026 ini berdasar pada Injil Matius, dengan empat sub-tema utama pertemuan yakni Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati (Matius 5:1-12), Pengajaran Yesus tentang Tugas Perutusan Para Murid (Matius 10:1-15), Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman (Matius 18:15-20). Dan Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal (Matius 25:31-46). Kita semua diarahkan untuk semakin mengenal dan akrab dengan Tuhan Yesus di dalam Kitab Suci. Santo Hironimus pernah berkata: "Ignoratio Scripturarum ignoratio Christi est.” Yang berarti "Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.” Tuhan Yesus Kristus adalah Logos, Sabda yang menjadi Daging dan tinggal di tengah-tengah kita.

Sambil kita merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional, bacaan-bacaan Liturgi pada hari Minggu ini mengarahkan kita untuk membuat kita semkin takjub kepada Yesus sebab keselamatan datang dari Tuhan untuk semua orang yang terbuka dan berharap pada-Nya. Mari kita melihat kembali bacaan pertama dari kitab nabi Yehezkiel. Perikop kita dalam Kitab Nabi Yehezkiel (Yeh 33:7-9) mengatakan bahwa Allah menunjuk seorang nabi sebagai penjaga untuk memperingatkan orang-orang jahat atau orang-orang fasik agar mengubah jalan hidup mereka. Jika nabi sebagai penjaga itu gagal memperingatkan mereka, Allah sendiri akan meminta pertanggungjawaban sang penjaga itu atas kematian mereka. Jika penjaga memberikan peringatan dan orang-orang fasik mengabaikannya, mereka akan mati karena dosa mereka, tetapi penjaga itu aman.


Di sini kita melihat bahwa Allah menjadikan Yehezkiel sebagai penjaga bagi kaum Israel.                                    Ia harus memilikin integritas untuk menyampaikan peringatan Tuhan secara langsung kepada umat Tuhan sendiri. Yehezkiel harus menjadi nabi dan sekaligus penjaga yang setia bagi umat Tuhan. Sebagai Penjaga yang menunjukkan wajah Tuhan, Ia harus berani untuk mengoreksi umat Tuhan yang fasik atau yang jatuh ke dalam dosa. Maka ketika mereka yang jatuh ke dalam dosa mengalami transformasi dan kembali ke jalan Tuhan maka selamatlah mereka. Ketika orang fasik tidak mau berubah maka ada hukuman dari Tuhan bagi mereka berupa kematian. Apabila Yehezkiel sendiri lalai memperingatkan orang-orang fasik maka dia sendirilah yang akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan kematian orang fasik itu. Ini merupakan misi yang tetap berlangsung sepanjang zaman. Gereja terpanggil untuk menampakkan wajah Allah yang berbelas kasih di dalam diri Yesus Kristus. 


Santo Paulus dalam bacaan kedua (Roma 13:8-10) menegaskan bahwa kasih yang aktif kepada sesama adalah tujuan sejati dan penggenapan hukum moral dari Allah sendiri. Para pengikut Kristus memiliki kewajiban abadi untuk mengasihi sesama mereka, yang berarti tidak pernah dengan sengaja menyakiti siapa pun. Kita menerima semua orang apa adanya karena kasih. 


Ada beberapa pemikiran penting dari santo Paulus dalam perikop kita hari ini yakni, pertama, hutang Kasih yang tak berujung pangkal. Orang beriman harus membayar apa yang mereka hutangkan kepada orang lain, tetapi mereka tidak akan pernah selesai membayar hutang kasih dari Tuhan. Itu adalah kewajiban berkelanjutan yang terus berlanjut setiap hari. Kedua,  kasih merangkum sepuluh perintah Allah. Aturan-aturan seperti jangan mencuri, jangan berbohong, dan jangan membunuh semuanya terangkum dalam satu perintah sederhana: kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Ketiga, Cinta mencegah perbuatan jahat. Cinta sejati secara alami menghentikan orang dari menyakiti orang lain. Jika Anda benar-benar mencintai seseorang, Anda tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya. Keempat, memenuhi hukum. Menaati Tuhan bukan hanya tentang mencentang aturan. Menunjukkan kasih yang aktif berarti Anda benar-benar menghidupi apa yang dikehendaki hukum.


Dalam bacaan Injil (Matius 18:15-20) kita semua diingatkan bagaimana sebagai Gereja atau kumpulan umat beriman harus menangani konflik pribadi dan dosa. Tuhan Yesus memberikan jalan yang jelas untuk memulihkan hubungan yang rusak, menekankan rekonsiliasi pribadi, pertanggungjawaban kolektif, dan otoritas serta kehadiran rohani Allah di dalam gereja.


Hal-hal penting yang Tuhan Yesus tekankan dalam Injil yakni, pertama, Perlu konfrontasi pribadi nukan mendengar apa kata orang. Nah, ketika ada sesuatu yang terjadi bahkan dosa sekali pun, mulailah dengan berbicara empat mata dengan orang tersebut. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan hubungan, bukan untuk bergosip atau mempermalukan mereka di depan umum. Kedua, akuntabilitas bertahap. Artinya, jika pembicaraan pribadi atau pembicaraan empat mata gagal, hadirkan satu atau dua saksi. Jika itu masih gagal, libatkan komunitas gereja yang lebih luas. Ketiga, tujuan pemulihan atau rekonsiliasi. Setiap langkah bertujuan untuk pertobatan dan penyembuhan, bukan hukuman atau pengucilan. Keempat, Otoritas Ilahi dan doa. Yesus memberikan otoritas spiritual kepada para pengikut-Nya ("mengikat dan melepaskan") dan berjanji bahwa Allah mendengar ketika orang-orang percaya bersatu dalam kesepakatan. Kelima,  Kehadiran Kristus: Yesus berjanji bahwa ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya—khususnya untuk mengatasi masalah-masalah sulit seperti persatuan dan penghakiman—Ia hadir bersama mereka.


Ketiga Bacaan Liturgi kita pada hari Minggu ini sangat kaya maknanya bagi kita. Selama bulan kitab suci nasional ini, kita semua terpanggil untuk menjadi nabi yang siap untuk mengoreksi diri dan sesama kita supaya kita benar-benar menunjukkan wajah Kristus yang mengagumkan banyak orang. Tentu saja sebuah koreksi yang bagus harus dilandasi oleh kasih yang tidak berkesudahan. Mengapa?  Karena Allah adalah kasih yang memanggil semua orang kepada keselamatan.


P. John Laba, SDB


Saturday, September 5, 2026

Kutipan Perkataan St. Theresia dari Kalkuta

 

Kutipan dari Bunda Teresa dari Kalkuta

 

1.     

 “Jika anda menghakimi orang lain, anda tidak akan memiliki waktu untuk mencintai mereka.”

2.      “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Namun, kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

3.   “Kedamaian dimulai dengan sebuah senyuman..”

4.      “Saya tidak tahu persis seperti apa surga itu, namun saya tahu bahwa ketika kita meninggal dunia dan tiba saatnya Tuhan menghakimi kita, Dia tidak akan bertanya, ‘Berapa banyak perbuatan baik yang telah anda lakukan dalam hidupmu?’ melainkan Dia akan bertanya, ‘Seberapa besar cinta yang anda curahkan dalam apa yang anda lakukan?’”

5.      “Kemarin telah berlalu. Besok belum tiba. Kita hanya memiliki hari ini. Mari kita mulai.”

6.      “Setiap kali anda tersenyum kepada seseorang, itu adalah tindakan kasih, sebuah hadiah bagi orang tersebut, sesuatu yang indah.”

7.      “Jangan berpikir bahwa cinta, agar tulus, haruslah luar biasa. Yang kita butuhkan adalah mencintai tanpa lelah. Setialah dalam hal-hal kecil karena di situlah letak kekuatanmu.”

8.      “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah diucapkan, tetapi gaungnya sungguh tak berujung.”

9.      “Kemiskinan yang paling mengerikan adalah kesepian, dan perasaan tidak dicintai.”

10. “Jangan biarkan siapa pun datang kepadamu tanpa pergi dengan menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah perwujudan kasih Tuhan yang hidup: kebaikan di wajahmu, kebaikan di matamu, kebaikan dalam senyummu.”

11. “Jika kita tidak memiliki kedamaian, itu karena kita telah lupa bahwa kita saling memiliki.”

12. “Apa yang bisa anda lakukan untuk mempromosikan perdamaian dunia? Pulanglah dan cintailah keluargamu.”

13. “Bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa banyak cinta yang kita tuangkan dalam pemberian itu.”

14. “Di akhir hidup, kita tidak akan dihakimi berdasarkan berapa banyak ijazah yang kita peroleh, berapa banyak uang yang kita hasilkan, atau berapa banyak hal hebat yang telah kita lakukan.

15. Kita akan dihakimi berdasarkan: ‘Aku lapar, dan kamu memberi aku makan; aku telanjang, dan kamu memberi aku pakaian; aku tak punya tempat tinggal, dan kamu menampungku.’”

16. “Aku sendiri tidak bisa mengubah dunia, tetapi aku bisa melemparkan batu ke atas air untuk menciptakan banyak riak.”

17. “Tuhan tidak menuntut kita untuk berhasil, Dia hanya menuntut agar kita berusaha.”

18. “Penyakit terbesar di Barat saat ini bukanlah TBC atau kusta; melainkan merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, dan tidak diperhatikan. Kita bisa menyembuhkan penyakit fisik dengan obat-obatan, tetapi satu-satunya obat untuk kesepian, keputusasaan, dan ketidakberdayaan adalah cinta. Ada banyak orang di dunia ini yang sekarat karena sepotong roti, tetapi ada lebih banyak lagi yang sekarat karena sedikit cinta. Kemiskinan di Barat adalah jenis kemiskinan yang berbeda — bukan hanya kemiskinan akibat kesepian, tetapi juga kemiskinan spiritual. Ada rasa lapar akan cinta, sebagaimana ada rasa lapar akan Tuhan.”

19. “Inilah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mempraktikkan kerendahan hati:

·       Sebisa mungkin tidak banyak berbicara tentang diri sendiri.

·       Mengurus urusan sendiri.

·       Tidak ingin mengatur urusan orang lain.

·       Menghindari rasa ingin tahu.

·       Menerima kritik dan koreksi dengan lapang dada.

·       Mengabaikan kesalahan orang lain.

·       Menerima hinaan dan perlakuan yang menyakitkan.

·       Menerima jika diremehkan, dilupakan, dan tidak disukai.

·       Menjadi baik dan lembut bahkan saat dipancing.

·       Jangan pernah mengutamakan harga diri sendiri.

·       Selalu memilih yang paling sulit.”

 

20. “Rasa lapar akan cinta jauh lebih sulit dihilangkan daripada rasa lapar akan roti.”

21. “Jangan pernah bepergian lebih cepat daripada kecepatan terbang malaikat pelindungmu.”

22. “Hidup sederhana agar orang lain pun dapat hidup dengan sederhana.”

23. “Doa bukanlah meminta. Doa adalah menyerahkan diri kepada Tuhan, berada di bawah kehendak-Nya, dan mendengarkan suara-Nya di kedalaman hati kita.”

24. “Aku adalah sebatang pensil kecil di tangan Tuhan yang sedang menulis, yang sedang mengirimkan surat cinta kepada dunia.”

25. “Jika anda rendah hati, tak ada yang akan menggoyahkanmu, baik pujian maupun celaan, karena anda tahu siapa dirimu.”

26. “Kita tahu betul bahwa apa yang kita lakukan hanyalah setetes air di lautan. Namun, jika tetesan itu tidak ada, lautan akan kehilangan sesuatu.”

27. “Jalan yang Sederhana

·       Keheningan adalah Doa

·       Doa adalah Iman

·       Iman adalah Cinta

·       Cinta adalah Pengabdian

·       Hasil dari Pengabdian adalah Kedamaian”

 

28. “Aku bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa anda lakukan, anda bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa aku lakukan; bersama-sama kita bisa melakukan hal-hal besar.”

29. “Tuhan menciptakan dunia untuk kesenangan manusia—seandainya kita bisa melihat kebaikan-Nya di mana-mana, kepedulian-Nya terhadap kita, kepedulian-Nya terhadap kebutuhan kita: panggilan telepon yang kita tunggu-tunggu, tumpangan yang ditawarkan kepada kita, surat di kotak surat, hal-hal kecil yang Dia lakukan untuk kita sepanjang hari. Saat kita mengingat dan menyadari kasih-Nya kepada kita, kita mulai jatuh cinta kepada-Nya karena Dia begitu sibuk dengan kita—kamu tidak bisa menolak-Nya. Aku percaya tidak ada yang namanya keberuntungan dalam hidup, itu adalah kasih Tuhan, itu milik-Nya.”

30. “Jangan menunggu para pemimpin; lakukanlah sendiri, dari orang ke orang.”

31. “Sebuah pengorbanan yang sejati harus mengorbankan sesuatu, harus menyakitkan, dan harus mengosongkan diri kita. Serahkan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan. Dia akan menggunakanmu untuk mencapai hal-hal besar dengan syarat bahwa kamu lebih percaya pada kasih-Nya daripada pada kelemahanmu.”

Homili Sabtu, 5 September 2026 - Santa Theresia dari Kalkuta

St. Teresa dr Kalkuta

Hari Sabtu Imam

1Kor 4:6b-15

Mzm 145:17-18.19-20.21

Luk 6:1-5.


Tuhan itu dekat



Pada Hari Sabtu pertama dalam bulan September 2026 ini kita mendoakan para Imam. Saya mengucapkan limpah terima kasih atas doa-doanya untuk kami di hari istimewa ini. Sambil mendoakan para imam, kita juga mengenang orang kudus modern yang kita kenal. Dialah santa Theresia dari Kalkuta, rasul kaum papa dan miskin. Saya mengingat tiga perkataannya tentang bagaimana kita mendekatkan diri kita kepada Tuhan dan merasakan bahwa Tuhan itu selalu dekat dengan kita. Inilah tiga perkataan santa Theresia dari Kalkuta. Pertama, "Tuhan berbicara dalam keheningan hati, dan kita mendengarkan. Kemudian kita berbicara kepada Tuhan dari lubuk hati kita yang terdalam, dan Tuhan mendengarkan.” Kedua, "Kita tidak dapat menemukan Tuhan dalam kebisingan atau kegaduhan.” Ketiga, "Doa bukanlah meminta. Doa adalah menyerahkan diri ke tangan Tuhan, mengikuti kehendak-Nya, dan mendengarkan suara-Nya di lubuk hati kita.” Ketiga kutipan perkataan santa Theresia dari Kalkuta ini mencerminkan kedekatan antara Tuhan dan manusia dan antara manusia dengan Tuhan. Tuhan sangat dekat dengan manusia. Dia berinkarnasi, sabda menjadi Daging dan tinggal bersama kita.

Sabda Tuhan pada hari ini juga membuka wawasan kita untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan yang sudah lebih dahulu dekat dengan kita. Dia yang menciptakan kita sesuai dengan wajah-Nya sendiri. Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (1 Kor 4:6-15) menyerukan supaya jemaat perlu memiliki kebajikan kerendahan hati, memahami realitas hidup rohani, dan mengingatkan tentang peran Bapa rohani. Semua ini tentu dimaksudkan oleh Santo Paulus untuk mengoreksi kesombongan dan perpecahan di dalam gereja Korintus. Santo Paulus menggunakan ironi yang tajam untuk membandingkan sikap berpuas diri dan kesombongan orang-orang Korintus dengan penderitaan nyata dan penuh pengorbanan para rasul yang membawa Injil kepada mereka.


Ada beberapa hal menarik yang ditekankan oleh santo Paulus dalam perikop kita ini: 


Pertama, supaya jemaat jangan melampaui yang ada tertulis (1Kor 4:6). Di sini santo Paulus memperingatkan orang-orang beriman terhadap kesombongan dan sikap pilih kasih. Ia mendesak mereka untuk tidak menyombongkan diri karena mengikuti seorang pemimpin manusia (seperti Apolos atau diri Paulus sendiri) daripada yang lain, tetapi untuk tetap berpegang teguh pada Kitab Suci. 


Kedua, Perlu kerendahan hati dan anugerah (1Kor 4: 7). Santo Paulus mengajukan pertanyaan mendasar: "Apa yang kamu miliki yang tidak kamu terima?" Ia mengingatkan mereka bahwa semua karunia dan berkat rohani mereka adalah karunia dari Allah, sama sekali tidak memberi ruang untuk kesombongan manusia.


Ketiga, Ada semacam sarkasme dan realitas rohani (1Kor 4: 8–13). Santo Paulus menggunakan ironi yang kuat, mencatat bahwa orang-orang Korintus sudah menganggap diri mereka sebagai "raja" dan kaya secara rohani. Sebaliknya, ia menunjukkan harga sebenarnya dari menjadi murid. Ia menggambarkan para rasul sebagai "orang bodoh demi Kristus," sampah masyarakat, kelaparan, dipukuli, dan tunawisma, namun menanggapi penganiayaan dengan berkat dan kebaikan. 


Keempat, Bapa Rohani (1Kor 4:14-15). Santo Paulus beralih dari teguran keras kepada kasih sayang yang lembut. Ia menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud mempermalukan mereka, tetapi memperingatkan mereka sebagai anak-anaknya yang terkasih. Ia mencatat bahwa meskipun mereka mungkin memiliki banyak guru atau pembimbing dalam Kristus, mereka hanya memiliki satu bapa rohani yang melahirkan iman mereka melalui Injil.


Bacaan Injil pada hari ini merupakan kelanjutan dari Kisah Yesus di dalam Injil Lukas (Luk 6:1-5). Penginjil Lukas menekankan bahwa Tuhan Yesus memiliki otoritas atau kuasa ilahi tertinggi sebagai Tuhan atas hari Sabat, dan bahwa memenuhi kebutuhan manusia yang sejati dan menunjukkan belas kasihan lebih penting daripada mengikuti aturan manusia yang ketat dan kaku.


Hal-hal yang menarik perhatian untuk direnungkan bersama. Pertama, Bahwa kebutuhan manusia lebih penting daripada legalisme. Di sini Tuhan Yesus mengingatkan kembali bahwa ketika Raja Daud dan para pengikutnya lapar, mereka memakan roti suci bait suci. Kelangsungan hidup dan kepedulian manusia itu lebih penting daripada aturan teknis yang ketat atau sikap legalis. Nilai hidup manusia harus menjadi nomor satu. Kedua, Hari Tuhan. Hari Sabat dimaksudkan sebagai berkat dan anugerah istirahat, tetapi para pemimpin agama (orang Farisi) mengubahnya menjadi beban berat dengan batasan-batasan buatan manusia. Ketiga, otoritas atau kuasa Ilahi. Dengan menyatakan bahwa "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat", Yesus menyatakan identitas ilahi-Nya dan hak-Nya untuk mendefinisikan makna sejati hukum Allah.


Sabda Tuhan pada hari ini memperteguh kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Kita semua diarahkan untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu terbuka kepada kehendak Tuhan. Kita semua juga berusaha untuk mengikuti jejak Tuhan yang lebih melihat nilai hidup manusia bukan sekedar menjadi legalis semata. Santa Theresia dari Kalkuta menjadi teladan dan inspirasi bagi kita untuk melihat nilai-nilai hidup manusia. Tuhan menjadi dekat dengan manusia karena cinta. Kita pun menjadi dekat dengan sesama manusia karena cinta.  Santa Theresia dari Kalkuta, doakanlah kami. Amen.


P. John Laba, SDB


Thursday, September 3, 2026

Homili 4 September 2026

 Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIIA

1Kor 4:1-5
Mzm 37:3-4.5-6.27-28. 39-40
Luk 5:33-39

Selamat Datang Era Baru

Saya pernah diundang untuk menghadiri sebuah perayaan syukur di sebuah komunitas. Tema perayaan yang dicetak di spanduk adalah: “Selamat datang era baru”. Komunitas itu memang barusan melewati sebuah pengalaman yang keras dan sangat mengganggu kebersamaan di dalam komunitas itu. Kini disebut era baru karena terjadi pergantian pimpinan dan anggota komunitas. Diharapkan supaya era baru sungguh membaharui setiap pribadi menuju kepada kekudusan atau kesempurnaan. Era baru selalu membawa harapan dan tentu harapan yang tidak pernah mengecewakan. 

Era baru tentu membawa kebaruan dalam berbagai aspek kehidupan. Pengalaman keras bisa berubah ketika semua orang bertransformasi dan menjadi baru. Era baru pernah dialami oleh para murid yang mengikuti Yesus dari dekat. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa Yesus datang dengan membawa kebaruan dalam hidup. Penginjil Lukas mengisahkan bahwa sekali peristiwa  orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat membandingkan para murid Yohanes  Pembaptis dan murid-murid Yesus terutama tentang hal berpuasa sesuai kebiasaan mereka sebagai orang Yahudi. Murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa sedangkan para murid Yesus tidak berpuasa. 

Tuhan Yesus lalu membuka wawasan mereka tentang relasi antar pribadi di antara mereka dan relasi mereka bersama Yesus. Relasi para murid bersama Yesus adalah sebuah relasi persahabatan yang intim. Para murid adalah sahabat Yesus sang mempelai sejati. Yesus sendiri mengatakan kepada para murid-Nya: ‘Kamu adalah sahabatku’ (Yoh 15:14). Relasi persahabatan dengan Yesus harus selalu menjadi prioritas pertama di atas persahabatan manusiawi. Yesus dengan terus terang berkata: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Luk 5:34-35). Di sini sangat jelas relasi persahabatan para murid dan Yesus sendiri. Para murid adalah sahabat-sahabat Yesus sebagai mempelai. Yesus sendiri adalah mempelai yang membawa suka cita agung. Maka selagi Yesus sang mempelai masih ada 

Perikop Injil kita pada hari ini diambil dari Injil Lukas: 5:33-39. Pesan yang  dapat kita ambil adalah bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk menambal atau menggabungkan pesan kasih karunia-Nya yang baru dan radikal dengan tradisi keagamaan lama dan kaku dari orang-orang Farisi. Sebaliknya, kedatangan-Nya memulai era keselamatan yang sama sekali baru yang membutuhkan cara berhubungan dengan Tuhan yang benar-benar baru. 

Ada beberapa hal penting yang dapat membantu pertumbuhan kita. Pertama, analogi sang Mempelai Pria.  Tuhan Yesus menjelaskan bahwa puasa tidak tepat dilakukan sementara Ia sebagai sang mempelai pria ada di bersama dengan para murid sebagai sahabat mempelai, karena kehadiran-Nya adalah waktu untuk perayaan yang penuh sukacita, bukan untuk berkabung. Kedua, menambal pakaian lama dengan kain baru. Dengan mencoba menjahit kain baru pada baju yang lama hanya akan merusak kain baru tersebut dan memperburuk robekan aslinya ketika menyusut, menunjukkan bahwa ajaran Kristus tidak dapat begitu saja dijahitkan pada sistem legalistik yang usang. Ketiga, anggur baru dalam kantung Anggur lama. Anggur baru yang aktif dan berfermentasi akan merusak wadah kulit tua yang kaku dan telah kehilangan elastisitasnya, membuktikan bahwa kehidupan dinamis kerajaan Allah membutuhkan hati dan kerangka kerja yang segar dan fleksibel. Keempat, kenyamanan akan tradisi lama. Tuhan Yesus mengakui adanya penolakan manusia, dengan mencatat bahwa orang-orang yang terbiasa dengan tradisi lama secara alami lebih menyukai apa yang familiar, dan sering kali menolak karya baru Allah.

Santu Paulus dalam bacaan pertama (1Kor 4:1-5) menegaskan bahwa para pemimpin jemaat hanyalah hamba dan pengelola yang hanya bertanggung jawab kepada Allah. Orang beriman hendaknya berhenti membuat penilaian yang terburu-buru dan keras terhadap para pemimpin jemaat atau diri mereka sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui motif manusia dan akan menghakimi dengan benar ketika Kristus kembali.

Kedatangan Kristus membawa era baru bagi kita semua. Di sini sangat dibutuhkan transformasi yang radikal supaya semakin hari kita sungguh-sungguh menjadi sahabat Yesus sang mempelai sejati.

P. John Laba, SDB

Homili 3 September 2026 - Peringatan St. Gregorius Agung

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIIA

Peringatan Wajib St. Gregorius Agung

1Kor 3:18-23

Mzm 24: 1-2. 3-4ab.5-6

Luk 5: 1-11

 

Belajar menjadi hamba dari para hamba Allah

Pada hari ini kita mengenang kembali santo Gregorius Agung. Santo Gregorius Agung adalah Paus dan orang Kudus yang istimewa karena beliau adalah seorang biarawan sederhana yang terpilih menjadi Paus yang transformatif, seorang Pujangga Gereja dan pendiri Kepausan pada abad pertengahan. Ada beberapa kontribusi dari santo Gregorius Agung bagi Gereja yang diingat sampai sat ini yakni, pertama, Konsep Paus sebagai Hamba dari Hamba-hamba Allah (Servus Servorum Dei). Beliau mempopulerkan gelar terkenal ini untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada kerendahan hati dan melayani sesama. Kedua, nyanyian atau lagu Gregorian. Beliau membantu mengatur dan mengembangkan musik liturgi suci, yang dinamakan nyanyian atau lagu Gregorian untuk menghormatinya. Ketiga, Penginjilan di Inggris. Beliau mengutus Santo Agustinus dari Canterbury dan sekelompok biarawan untuk me mpertobatkan rakyat Inggris menjadi Pengikut Kristus. Keempat, Kepedulian terhadap Kaum Miskin. Beliau menggunakan dana gereja dan kas kepausan untuk memberi makan orang-orang yang lapar, merawat orang-orang yang membutuhkan, dan mengelola krisis publik selama wabah penyakit dan kelaparan. Kelima, Karya Tulis dan Doktrin. Sebagai salah satu dari empat Bapa Gereja Latin yang agung, ia menulis teks-teks berpengaruh tentang pastoral dan moral yang membentuk spiritualitas abad pertengahan. Nama Grergorius selalu dikenang sepanjang masa.

Pada hari ini kita mendengar kisah lanjutan tentang Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas. Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Tuhan Yesus berdiri di pantai danau  Genazaret atau Danau Galilea. Seperti biasa, orang-orang mengerumuni Yesus untuk mendengarkan Sabda Allah. Tuhan Yesus melihat dua perahu di tepi pantai, salah satu perahu itu adalah milik Simon Petrus. Mereka adalah nelayan-nelayan sederhana yang sedang membasuh jala mereka. Tuhan Yesus naik ke atas perahu Simon dan menyuruhnya untuk menolak perahu itu sedikit jauh dari pantai.  Ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar mereka.Pantai sehingga Dia lebih leluasa mengajar orang banyak yang mengerumuni-Nya. Setelah selesai mengajar, Ia menyuruh Simon untuk duc in altum, artinya bertolak lebih dalam untuk menebarkan jala dan menangkap ikan.

Simon dan teman-temannya pasti merasa heran dengan Yesus. Sudah semalam suntuk mereka tidak mampu menangkap ikan, lalu sekarang Yesus yang bukan seorang nelayan tulen seperti mereka, menyuruh mereka untuk menebarkan jala supaya menangkap ikan. Simon dan teman-temannya memang mengandalkan pengalaman manusiawinya sedangkan Tuhan Yesus menunjukkan kuasa Ilahi-Nya. Pengalaman manusiawi sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa kalau Tuhan tidak ikut terlibat dalam pengalaman mereka itu. Hal yang menarik perhatian mereka adalah kerendahan hati dan ketaatab kepada kehendak Tuhan. Simon Petrus berkata: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:5). Buaha dari ketaatan kepada kehendak atau perintah Tuhan Yesus adalah mereka menangkap ikan dalam kelimpahan. Bahkan mereka salng tolong menolong untuk mengangkut ikan yang jumlahnya banyak itu. Suara transformative diberikan oleh Simon kepada Yesus, namun Yesus  dengan tegas mengatakan: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." (Luk 5:10).

Perikop Injil hari ini sangatlah menarik perhatian kita. Perikop Injil ini men unjukkan seruan Yesus kepada Simon dan anak-anak Zebedeus untuk menjadi murid yang radikal. Di sini, Yesus membuktikan kuasa ilahi-Nya melalui berlimpahnya ikan yang ditangkap, ada ungkapaan keberdosaan manusiawi Simon, dan bagaimana Yesus mengubah status mereka sebagai nelayan biasa menjadi "penjala manusia," menginspirasi mereka untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti-Nya.

Hal-hal penting yang patut kita renung bersama berdasarkan perikop Injil hari ini adalah Pertama, Iman akan Kuasa Ilahi dari Tuhan Yesus. Ia menunjukkan kendali penuh atas alam semesta dengan menyediakan sejumlah besar ikan yang sangat banyak hingga mengoyakan jala setelah mereka tidak menangkap apa-apa. Kedua, ada kesadaran akan Dosa di hadirat Tuhan sehingga ada transformasi radikal. Simon dan teman-temannya melihat mukjizat ini sehiungga membuatnya Simon Petrus menyadari ketidaklayakannya sendiri, yang menyebabkannya berlutut di hadapan Yesus dengan penuh kekaguman. Ketiga, Ketaatan mengalahkan logika dan pengalaman manusiawi. Simon Petrus menaati Yesus dan menebar jala ke tempat yang lebih dalam meskipun pengalamannya sebagai nelayan profesional mengatakan kepadanya bahwa itu tidak masuk akal. Keempat, Panggilan untuk mengikuti Yesus. Yesus memberi tahu Petrus agar tidak takut, memberinya tujuan baru untuk membantu membawa orang kepada Tuhan, bukan hanya sekadar menangkap ikan.

Santo Paulus dalam Bacaan Pertama (1Kor 3:18-23) menegaskan bahwa orang beriman harus meninggalkan kesombongan duniawi dan perpecahan manusia, menyadari bahwa hikmat sejati berasal dari Allah. Para pemimpin manusia adalah pelayan dan bukan tuan, dan segala sesuatu adalah milik mereka yang milik Kristus. Pengalaman Paulus tentu sejalan dengan pengalaman Simon Petrus dan teman-temannya. Demikian juga Santo Gregorius Agung yang dengan jelas mengatakan bahwa dirinya adalah hamba dari para hamba Allah (Servus Servorum Dei). Kita belajar dari orang kudus yang setia kepada Kristus.

P. John Laba, SDB