Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXXA
Ef 5:21-33
Mzm 128:1-2.3.4-5
Luk 13:18-21
Bertumbuh menjadi Besar dalam Kristus
Pada hari ini kita mendengar dua perumpamaan yang keluar dari mulut Yesus, sang Anak Allah tentang Kerajaan Allah dan pertumbuhannya. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi dan ragi. Dari kedua perumpamaan ini, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa karya penebusan Allah itu dimulai dari hal-hal yang kecil, tampaknya tidak berarti apa-apa namun pada akhirnya menghasilkan dampak yang luar biasa. Dalam hal ini, biji sesawi yang kecil itu diambil dan ditaburkan sang penabur, lalu bertumbuh menjadi pohon besar sehingga burung-burung di udara dapat bersarang di ranting-rantingnya. Demikian juga ragi yang sedikit jumlahnya diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu tiga sukat menjadi sebuah adonan yang besar.
Santo Gregorius Agung memiliki penafsirab alegoris khususnya perumpamaan tentang biji sesawi. Ia mengaitkan perumpamaan ini dengan peziarahan hidup seorang pengikut Kristus. Inilah penafsiran alegoris santo Gregorius Agung: Pertama, Benih adalah niat baik. Benih biji sesawi yang kecil melambangkan niat baik kita yang sederhana dan kecil. Kedua, Tunas adalah Pertobatan kita. Saat biji sesawi itu berkecambah, tunasnya tersebut melambangkan tahap-tahap awal kita berpaling dari dosa dan memasuki pertobatan yang sejati. Ketiga, pohon adalah karya amal kasih yang kita lakukan sehari-hari. Ketika sesawi bertumbuh sempurna, sesawi tersebut lalu melambangkan kehidupan yang berakar pada kebajikan yang matang dan karya amal kasih, sehingga jiwa siap untuk “dipanen” menuju surga. Keempat, Kristus sebagai Tukang Kebun. Santo Gregorius menekankan bahwa kita tidak boleh berpikir bahwa niat baik atau usaha manusia saja sudah cukup. Kristuslah yang bertindak sebagai tukang kebun sejati bagi jiwa, dan hanya rahmat-Nya yang membuat kebajikan kita bertumbuh. Santo Gregorius Agung secara alegoris juga mengatakan bahwa Kristus sendiri sebagai Benih. Dalam renungan-renungan lain dari karyanya "Moralia in Job", Santo Gregorius memandang Kristus sendiri sebagai biji sesawi—yang dikuburkan di “kebun” kubur (makam) dan bangkit menjadi pohon yang besar, menyebarkan hidup-Nya ke seluruh bumi.
Menjadi pertanyaan bagi kita adalah apa hubungan kedua perumpamaan ini dengan kehidupan misioner di dalam Gereja? Tentu saja ada hubungannya karena hidup misioner juga bertujuan untuk ikut membangun Kerajaan Allah di dunia. Pertama, tentang biji sesawi. Para misionaris itu biasanya memulai karya misi di tempat yang terpencil dan sulit. Karena kuasa Tuhan Allah maka pekerjaan misioner itu menjadi besar. Kedua, tentang ragi. Ada penetrasi dan transformasi karya misioner yang dapat mengubah hidup banyak orang sehingga mereka bersatu dengan Tuhan. Ketiga, Para misionaris itu sabar dan setia untuk ikut membangun Kerajaan Allah.
P. John Laba, SDB
