Thursday, September 10, 2026

Homili 10 September 2026 - Belas Kasih Allah

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIIIA

1Kor 8:1b-7.11-13

Mzm 139:1-3. 13-14ab.23-24

Luk  6: 27-38


Merenungkan Belas Kasih Allah


Kita semua sudah mendengar kata 'belas kasih Allah'. Belas kasih Allah adalah sifat ilahi dari Tuhan Allah di mana Ia melihat penderitaan manusia, tergerak dari lubuk hati yang paling dalam, dan memberikan pengampunan serta tindakan nyata untuk menyelamatkan atau meringankan beban manusia. Setiap umat beriman pasti pernah mengalami secara pribadi belas kasih Allah. Saya teringat pada seorang pemuda yang melonjak kegirangan setelah memgaku dosanya. Wajahnya berseri-seri, murag senyum kepada siapa saja. Ketika ditanya mengapa dia berlaku demikian, ia menjawab dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan berbelas kasih kepadanya. Perkataan ini merupakan cerminan dari pengalaman rohani yang dalam. Tuhan berbelas kasih kepada orang yang berharap pada kasih-Nya.

Belas kasih atau kerahiman Allah sungguh nyata. Belas kasih Allah itu bukan hanya sekadar rasa iba saja. Belas kasih Allah itu jauh melampaui rasa simpati atau empati biasa, melainkan dorongan murni yang memotivasi tindakan nyata kita. Belas kasih Allah itu mengandaikan adanya pengampunan dan anugerah atau kasih karunia. Tuhan yang penuh belas kasihan berarti Dia tidak memberikan hukuman yang sebenarnya selayaknya kita terima, melainkan melimpahkan berkat dan pengampunan. Belas kasih itu adalah kasih tanpa syarat. Sifat ini digambarkan bagaikan kasih seorang ibu yang merawat dan melindungi anaknya, tulus, tidak memandang bulu, dan tidak menuntut imbalan. Belas kasih yang paling sempurna hanya ada di dalam Tuhan.


Pada hari ini, kita mendapat sapaan Tuhan untuk merasakan dan memiliki belas kasih. Dalam bacaan pertama, Santo Paulus mengingatkan jemaat di Korintus (1 Kor 8:1b-7, 11-13) bahwa kasih Kristen dan kebaikan rohani sesama manusia harus selalu diutamakan daripada hanya sekedar pengetahuan pribadi dan kebebasan individu semata. Bagi Paulus, sebenarnya sudah ada dilema khusus di dalam Gereja perdana terutama apakah orang beriman boleh memakan daging yang telah dikorbankan kepada berhala-berhala kafir. Melalui contoh ini, ia menetapkan prinsip-prinsip abadi untuk kehidupan komunitas Kristen di Korintus, yang diuraikan menjadi tema-tema utama berikut:


Pertma, Kasih itu lebih unggul daripada pengetahuan (ayat 1b-3). Pengetahuan membuat seseorang menjadi sombong, tetapi kasih membangun jemaat. Paulus menunjukkan bahwa "pengetahuan" rohani atau intelektual saja dapat dengan mudah menyebabkan kesombongan, keangkuhan, dan rasa superioritas. Perlu skala prioritas dalam mengasihi. Kedewasaan rohani sejati tidak diukur dari seberapa banyak informasi teologis yang dimiliki seseorang, tetapi dari seberapa besar mereka mengasihi Tuhan dan sesama.


Kedua, kebebasan teoretis nerhadapan dengan realitas pastoral (ayat 4-7. Secara fisik, berhala bukanlah apa-apa karena hanya ada satu Allah yang benar dan satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus. Oleh karena itu, daging yang dipersembahkan kepada berhala tidak memiliki kuasa rohani untuk mencemari orang percaya yang dewasa. Di sini, tidak setiap orang beriman telah mencapai tingkat pemahaman ini. Orang beriman yang baru atau "lebih lemah", yang sebelumnya menyembah berhala, mungkin merasa bahwa mereka secara aktif berpartisipasi dalam penyembahan berhala pagan jika mereka memakan daging itu, sehingga melanggar dan menodai hati nurani mereka sendiri. 


Ketiga, menyakiti sesama umat beriman adalah berdosa terhadap Kristus (ayat 11-12). Di sini ada bahaya kesombongan. Dengan menggunakan kebebasan pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain dapat secara tidak sengaja mendorong seorang pengikut Kristus yang baru atau yang lemah untuk bertindak melawan hati nuraninya, menghancurkan secara rohani saudara atau saudari yang untuknya Kristus telah mati. Di samping itu ada dosa terhadap Kristus. Paulus secara eksplisit memperingatkan bahwa melukai hati nurani orang percaya yang lemah bukanlah sekadar pelanggaran sosial; itu adalah dosa langsung terhadap Yesus Kristus sendiri. 


Keempay, penyangkalan diri sukarela (ayat 13). Paulus menyimpulkan dengan komitmen pribadi yang radikal: "Oleh karena itu, jika makanan adalah penyebab kejatuhan saudara-saudaraku, aku tidak akan pernah makan daging, supaya aku tidak menyebabkan seorang pun dari mereka jatuh.". Ia mengajarkan bahwa seorang Kristen harus dengan senang hati dan sukarela menyerahkan hak dan kebebasan sah mereka jika hal itu melindungi iman dan hati nurani orang lain.


Pengajaran Paulus kepada jemaat di Korintus membuka wawasan kita tentang belas kasih Allah yang tiada batasnya. Sikap manusiai memang sangat mendominasi hidup kita tetapo kasih Allah mengobati dan menyemprnakan segalanya. Kasih adalah segalanya!


Dalam bacaan Injil, penginjil Lukas (Luk 6:27-38) mengisahkan tentang Kotbah Tuhan Yesus tentang Sabda Bahagia. Tuhan Yesus menyerukan para murid-Nya  untuk mempraktikkan belas kasihan dan cinta kasih yang radikal, dan tanpa pamrih kepada semua orang, termasuk musuh dan orang-orang yang memperlakukan kita dengan buruk. 


Ada beberapa pesan yang diberikan Yesus kepada para murid-Nya:


Pesan pertama dari Tuhan Yesus bagi kita untuk berbelas kasih dan menghayati cinta kasih adalah dengan mengasihi Musuh. Tuhan Yesus meminta para Murid-Nya untuk berbuat baik kepada orang-orang yang membenci mereka, memberkati orang-orang yang mengutuk mereka, dan mendoakan orang-orang yang menganiaya mereka, sehingga memutus siklus pembalasan. 


Pesan kedua, Perlu kemurahan hati radikal dari para murif Kristus. Para murid diperintahkan untuk berbagi dengan cuma-cuma, membalas kebaikan dengan kebaikan, dan memberi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. 


Pesan ketiga, meniru belas kasih Allah. Motivasi utamanya adalah untuk mencerminkan karakter Allah, yang berbelas kasih bahkan kepada orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang jahat. Yesus secara eksplisit memerintahkan, "Berbelas kasihlah, seperti Bapa-mu berbelas kasih." 


Pesan keempat, menolak Penghakiman: Yesus menasihati agar tidak menghakimi atau mengutuk orang lain, melainkan mendesak untuk memaafkan. 


Pesan kelima, tentang ukuran yang kita berikan kepada sesama. Tuhan Yesus menggunakan gambaran tentang ukuran panen yang melimpah untuk menjelaskan bahwa kasih karunia, pengampunan, dan kemurahan hati yang kamu berikan kepada orang lain pada akhirnya akan tercermin kembali ke dalam hidupmu sendiri melalui balasan Allah yang berlimpah.


Sabda Tuhan pada hari ini mengungatkan kita untuk berbelas kasih seperti Tuhan sendiri berbelas kasih kepada kita. Tidaklah mudah untuk menunjukkan belas kasih itu, namun Tuhan sendirilah yang memampukan kita karena Dia juga yang melakukannya secara sempurna kepada kita.


P. John Laba, SDB

Wednesday, September 9, 2026

Homili 9 September 2026

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXIIIA

St. Petrus Klaver

1Kor 7:25-31

Mzm 45:11-12.14-15.16-17

Luk 6:20-26

 

Bagilah berkat bukan kutukan

Pada hari ini kita mengenang santo Petrus Claver. Dari Santo Petrus Claver, kita belajar bagaimana menunjukkan belas kasih yang mendalam dan martabat manusia melalui tindakan nyata, bukan hanya kata-kata. Saya mengingat dua perkataannya yang sangat inspiratif. Pertama, Tentang lebih baik tindakan daripada hanya kata-kata: "Kita harus berbicara kepada mereka melalui perbuatan dengan memberi, sebelum kita mencoba berbicara kepada mereka dengan kata-kata." Kutipan kedua tentang  mencintai Tuhan. Santo Perus Claver berkata: "Untuk mencintai Tuhan sebagaimana seharusnya, kita harus melepaskan diri dari segala bentuk cinta duniawi. Kita tidak boleh mencintai apa pun selain Dia; atau jika kita mencintai sesuatu yang lain, kita harus mencintainya semata-mata demi-Nya." Santo Petrus Claver menghendaki agar kita membawa berkat dan kasih kepada orang-orang kecil. Ini tentu bukan melalui kata-kata saja tetapi juga melalui perbuatan yang nyata.

Apa yang Tuhan mau sampaikan kepada kita pada hari yang baru ini?

Penginjil Lukas di dalam bacaan Injil pada hari ini (Luk 6:20–26) menekankan bahwa Kerajaan Allah membawa perubahan radikal dalam keadaan hidup seseorang, memberikan penghiburan sejati, berkat, dan upah kekal kepada para pengikut-Nya yang bergantung pada-Nya, sekaligus memperingatkan mereka yang mengandalkan diri sendiri dan hidup nyaman akan kekosongan yang pada akhirnya akan mereka alami sendiri.

Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas membicarakan berkat dan kutuk. Dua kata yang selalu kita jumpai dalam hidup dan karya kita. Kata pertama adalah berkat (Sabda Bahagia). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikatakan bahwa berkat adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Berkat juga merupakan doa restu dan pengaruh baik (yang mendatangkan selamat dan bahagia) dari orang yang dihormati atau dianggap suci (keramat), seperti orang tua, guru, pemuka agama. TuhanYesus berbicara langsung kepada para murid-Nya, mengucapkan berkat bagi orang miskin, orang yang lapar, orang yang berduka, dan mereka yang dibenci atau dianiaya demi nama-Nya. Kesulitan yang mereka alami saat ini diimbangi dengan janji kerajaan Allah yang kekal, pemenuhan di masa depan, dan pahala surgawi yang besar.

Kata yang kedua adalah kutukan. Kutukan adalah doa atau kata-kata yg dapat mengakibatkan kesusahan atau bencana kepada seseorang. Kutukan adalah kesusahan atau bencana yang menimpa seseorang disebabkan doa atau kata-kata yang diucapkan orang lain. Berkaitan dengan kutukan, Tuhan Yesus memberikan peringatan keras kepada orang-orang kaya, mereka yang berkecukupan, mereka yang tertawa, dan mereka yang dipuji oleh semua orang. Kutukan-kutukan ini tidak mengutuk kekayaan atau kegembiraan itu sendiri, melainkan menunjukkan bahwa mereka yang menemukan kenyamanan, keamanan, dan pengakuan yang sempurna di dunia ini telah menerima upah mereka sepenuhnya dan berisiko mengalami kebutaan rohani. Di sini muncul juga perbandingan kesuksesan duniawi yang sementara dengan realitas kekal. Perikop kita ini mengajarkan bahwa kemakmuran dan kedamaian sejati manusia berasal dari kepercayaan kepada Allah melalui penderitaan, bukan dari mengandalkan status atau harta duniawi.

Santo Paulus dalam bacaan pertama (1Kor 7:25–31),  mengatakan bahwa orang beriman harus mempertahankan fokus yang tak terbagi kepada Allah dan tidak membiarkan keadaan duniawi yang sifatnya sementara, hubungan, atau harta benda menjadi prioritas utama, karena “bentuk dunia ini sedang berlalu.” Santo Paulus juga mengatakan tentang pentingnya kebijaksanaan di masa sulit. Ia menyarankan bahwa tetap menjadi lajang mungkin merupakan pilihan bijak mengingat “kesusahan saat ini” atau kesulitan lokal di Korintus, meskipun ia menjelaskan bahwa ini adalah nasihat bijak, bukan perintah yang ketat, dan bahwa pernikahan bukanlah dosa.

Santo Paulus juga mengingatkan tentang bebas dari kecemasan. Ia menjelaskan bahwa pernikahan membawa gangguan duniawi dan kecemasan untuk menyenangkan pasangan, sedangkan kesendirian memungkinkan pengabdian yang lebih tak terganggu kepada Tuhan. Kita juga diingatkan untuk memiliki sikap lepas bebas, tidak terikat pada hal-hal duniawi. Ia menggunakan perumpamaan yang mencolok, ia menasihati mereka yang menangis, bersukacita, membeli barang, atau sudah menikah untuk hidup seolah-olah mereka tidak dikendalikan oleh hal-hal tersebut. 

Sabda Tuhan pada hari ini membuka wawasan kita untuk menaru perahtian kepada sesama dengan mengucapkan berkat bukan kutukan. Mudah sekali kita mengatakan kata-kata kutukan dan lupa mengucapkan berkat kepada sesama. Kita mesti membawa kata-kata yang menghibur dan memanusiakan manusia yang lain. Kita mesti tetap fokus kepada Tuhan, apapun situasi hidup kita. Kesulitan hidup bukanlah halangan bagi kita untuk merasakan kasih Tuhan dan membagikannnya kepada sesama secara nyata. Santo Petrus Claver menginspirasi kita untuk melakukan tindakan kasih yang nyata kepada sesama kita.

P. John Laba, SDB

Tuesday, September 8, 2026

Homili 8 September 2026 - Kelahiran Santa Perawan Maria

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXIIIA

Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Mi 5:1-4a

Mzm 13: 6ab. 6cd

Mat 1: 1-16.18-23


Merayakan Kelahiran Sang Bunda Allah


Di dalam liturgi Gereja Katolik, kita merayakan ulang tahun untuk tiga sosok  penting. Sosok pertama adalag santo Yohanes Pembaptis yang kita rayakan setiap tanggal 24 Juni. Ketika Bunda Maria menerima khabar dari Malaikat Gabriel, ia mendapat berita bahwa sanaknya Elizabeth sedang hamil enam bulan, meski disebut mandul (Luk 1:36). Bunda Maria menolongnya selama tiga bulan, artinya hingga kelahiran Yohanes Pembaptis baru Maria kembali ke Nazaret. Sosok kedua adalah Bunda Maria yang kelahirannya dirayakan pada hari ini, 8 September. Perhitungannya adalah bahwa pada tanggal 8 Desember kita merayakan Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa. Sembilan bulan kemudian yakni pada tanggal 8 September, kita merayakan kelahirannya. Sosok ketiga adalah Tuhan Yesus sendiri. Kita merayakan Bunda Maria menerima Khabar Sukacita bahwa ia mengandung dan melahirkan Yesus pada tanggal 25 Maret, sembilan bulan kemudian yakni tanggal 25 Desember kita merayakan kelahiran Tuhan Yesus pada hari Natal. Ini adalah perayaan ulang tahun yang lanka di dalam Gereja.

Perayaan kelahiran Santa perawan Maria atau Nativitas Maria dirayakan pada hari ini, 8 September. Gereja Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks Timur merayakannya dengan meriah. Ini berbeda dengan gereja-gereja yang masih mengikuti kalender Julian yang merayakan pesta ini pada setiap tanggal 21 September. Di kalangan Gereja Ortodoks Timur, mereka  menyebutnya perayaan kelahiran Bunda Suci, Theotokos. Pernyataan Maria sebagai Bunda Allah atau Theotokos sejak Konsili Efesus pada tahun 431. Konsili ini memang diadakan untuk membahas isu-isu hangat di dalam Gereja termasuk kontroversi besar tentang Bunda Maria pada zaman Uskup Nestorius dari Suriah.


Apa pesan Tuhan pada hari kelahiran santa perawan Maria ini? Nabi Mikha dalam bacaan pertama bernubuat tentang janji Tuhan bahwa Bethlehem di wilayah Efrata memang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, namun darinya akan bangkit seorang yang akan memerintah Israel. Dialah Mesias yang memerinta dengan jiwa sebagai gembala Agung. Dialah yang akan membawa kedamaian, keamanan, dan pemulihan bagi umat Allah. 


Selanjutnya, ada pokok-pokok pikiran penting dari perikol kita ini yakni, pertama, Berawal dari yang kecil. Tuhan memilih Bethlehem (Efrata), sebuah kota kecil dan dipandang sebelah mata di Yehuda namun akan melahirkan penguasa Israel. Di sini Tuhan selalu memandang yang kecil di mata manisia namun agung di mata-Nya sebagai Tuhan. Ini adalah tujuan ilahi dari Tuhan. Bunda Maria berasal dari keluarga kecil dan menjadi luhur di mata Tuhan. Kedua, Perikop ini mencatat bahwa asal usul penguasa ini bermula dari zaman kuno, dari kekekalan. Sang Mesias yang lahir ke dunia itu berasal dari kekekalan dan digenapi oleh Yesus Kristus yang lahir dari Maria. Ketiga, Mesias sebagai pemimpin adalah sosok seorang gembala ilahi. Ia sebagai leader yang datang dan berdiri serta menggembalakan kawanan domba dalam kekuatan Tuhan. Keempat, sang Mesias juga akan membawa keamanan dan kedamaian sejati. Ini akan dirasakan oleh umat yang percaya kepada Tuhan. Nubuat Mikha sungguh terlaksana di dalam di Santa Perawan Maria dan Yesus Kristus Puteranya. 


Dala, bacaan Injil, Penginjil Matius mengisahkan tentang silsilah Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Dia adalah Mesias yang sudah diwartakan para nabi termasuk Mikha. Dia adalah raja sejati dalam garis keturunan Daud dan Abraham. Dia adalah Imanuel, Allah beserta kita, yang lahir dari seorang perawan. Dialah Maria, Bunda Yesus sebagaimana disampaikan Malaikat Gabriel kepadanya. Maria sebagai Ibu Yesus mengandung dari Roh Kudus. Yusuf sebagai Bapa Pengasuh hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah Bapa. 


Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa pada pesta kelahiran Santa Perawan Maria, namun yang menjadi permenungan kita adalah kisah Yesus? Ya karena Yesus selalu menjadi nomor satu. Maria adalah Ibu Yesus (Mat 1:18), dia yang mengandung dari Roh Kudus. Kelahiran Maria di dalam keluarga Santa Ana dan Yoakim juga merupakan kehendak Tuhan. Keluarganya yang sederhana dan saleh menjadi alasan Tuhan memilihnya menjadi Bunda Yesus, Putera Allah. 


Kelahiran santa Perawan Maria memiliki makna tertentu. Pertama, Maria menjadi fajar keselamatan, Di sini Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur merayakan hari ini sebagai "fajar sebelum matahari terbit", menandakan bahwa Yesus Kristus, Sang Juru Selamat, akan segera lahir bagi keselamatan manusia. Kedua, penghromatan kepada orang tua. Tradisi menyebutkan bahwa Maria dilahirkan dari Santo Yoakim dan Santa Anna, pasangan lanjut usia yang berdoa memohon anak, sehingga perayaan ini secara tidak langsung juga merupakan perayaan bagi keluarganya. Kelahiran Maria menjadi kelahiran baru bagi kita. Kita beruba dan bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama sebagaimana di teladani oleh Bunda Maria. Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami. Amen.


P. John Laba, SDB

Monday, September 7, 2026

Homili 7 September 2026

Hari Senin,Pekan Biasa ke-XXIIIA

1Kor 5:1-8

Mzm 5:5-6.7.12

Luk 6:6-11

 

Transformasi hidup rohani

Kebiasaan yang selalu kita miliki dan jarang kita menyadarinya sebagai sebuah kelemahan kita adalah suka atau terbiasa ‛mengamat-amati dengan saksama kalau-kalau...’ Kebanyakan pengamatan dengan 'kalau-kalaunya' berhubungan dengan kebiasaan jelek yang dikira bukan kebiasaan jelek, dosa bukan dianggap dosa. Tuhan mau mengingatkan kita untuk bertransformasi secara radikal di dalam hidup kita. Tuhan menghendaki supaya kita bertumbuh sungguh-sungguh menjadi putera dan puteri-Nya yang setia dan tulus hati.

Lalu apa yang Tuhan kehendaki bagi kita pada hari ini?

Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus menghendaki agar kita bertransformasi menjadi lebih baik lagi di dalam hidup ini. Hidup ini sementara saja. Kalau kita tidak berubah atau lambat berubah lalu kapan lagi? Bagi Paulus (1 Kor 5:1-8), Gereja atau Jemaat di Korintus harus secara aktif menghadapi dan menyingkirkan dosa yang terang-terangan dan keengganan untuk bertobat dari komunitasnya untuk menjaga kemurnian moral dan mencegah kehancuran komunitas.

Apa yang Paulus harapkan dari kita semua pada masa kini?

Pertama, Paulus menentang perbuatan-perbuatan amoral. Di sini rasul Paulus dengan tegas menegur jemaat Korintus karena mentolerir kasus perbuatan amoral seksual yang parah (seorang pria menjalin hubungan dengan ibu tirinya) dan karena bersikap arogan alih-alih berduka atas hal itu.

Kedua, ada bahaya 'ragi' atau perbuatan jahat. Paulus menggunakan ragi sebagai metafora untuk dosa. Ia menjelaskan bahwa hanya sedikit ragi dapat mengembang seluruh adonan. Demikianlah dosa yang tidak ditangani akan menyebar, merusak kesehatan rohani dan mental seluruh tubuh gereja, dan melemahkan kesaksiannya.

Ketiga, disiplin dari Gereja. Di sini Paulus memerintahkan jemaat untuk menerapkan "kasih yang tegas" dengan mengusir pelaku pelanggaran yang tidak bertobat dari persekutuan mereka. Tujuan utamanya adalah untuk melindungi integritas gereja dan mendorong individu tersebut menuju pertobatan dan pada akhirnya terjadi pemulihan hidup rohani.

Keempat, Identitas di dalam Kristus. Paulus mengingatkan orang beriman bahwa Kristus adalah Anak Domba Paskah. Ia telah dikorbankan. Karena orang beriman secara rohani "tidak beragi" melalui Kristus, perilaku sehari-hari dan kehidupan komunitas mereka harus mencerminkan kemurnian, ketulusan, dan kebenaran itu, bukan "ragi" lama berupa kedengkian dan kejahatan.

Keempat hal ini membawa kita kepada pemahaman bahwa dosa selalu ada bersama kita. Tidak seorang pun akan luput dari jatuh ke dalam dosa atau mengulangi dosa yang sama. Hanya saja orang yang hidup dalam dosa selalu lupa bahwa ia sedang hidup dalam dosa. Misalnya dosa kecendrungan dalam hal seks. Nafsu manusiawi selalu ada, hanya orang lupa atau lalai menyadarinya. Mereka menikmatinya dan lupa bahwa itu adalah dosa. Ketika orang berada di dalam lumpur maka mereka lupa bahwa lumpur itu kotor dan amis. Demikian kita semua mengalami hal-hal duniawi dan kita perlu bertransformasi atau bertobat secara radikal.

Proses transformasi juga ditekankan oleh Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil hari ini. Penginjil Lukas  (Luk 6:9-11) menekankan bahwa berbuat baik, menunjukkan belas kasihan, dan menyelamatkan nyawa selalu lebih diutamakan daripada aturan-aturan keagamaan yang kaku dan tradisi-tradisi legalistik. Bagi Santo Lukas, belas kasih Allah harus sungguh nyata di dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus.

Berkaitan dengan ini, ada beberapa pemikiran yang membantu refleksi kita dalam kebersamaan, yakni, Pertama, belas kasih lebih penting daripada hal-hal ritual semata. Tuhan Yesus menantang para pemimpin agama dengan bertanya apakah sah berbuat baik atau jahat pada hari Sabat. Ia menunjukkan bahwa menolak untuk membantu seseorang ketika Anda memiliki kuasa untuk melakukannya bertentangan dengan kehendak Allah. Kedua, tentang tujuan sejati Hari Sabat. Hari Sabat diciptakan sebagai hari pemulihan, kebebasan, dan penyembuhan, bukan sebagai jebakan yang mencekik berupa peraturan-peraturan manusia. Ketiga, kemunafikan legalisme. Sementara Yesus menyembuhkan seorang pria dengan tangan yang lumpuh untuk membawa pemulihan, para pemimpin agama menanggapi dengan kemarahan buta dan bersekongkol untuk menghancurkan sebuah kehidupan, yang mengungkap kegagalan moral dari legalisme mereka yang kaku.

Pada hari ini, Tuhan sungguh mau membaharui kehidupan anda dan saya untuk semakin menyrupai Tuhan. Transformasi diri dan kehidupan rohani sungguh menjadi program hidup kita sejak saat ini. Kita berusaha untuk keluar dari kebiasaan dosa dan juga mengamat-amati orang yang ada di sekitar kita. Kita semua tidak sempurna, orang berdosa. Namun mengapa kita masih mau ’mengamat-amati sesama, kalau-kalau...’ Kalau kita boleh rendah hati maka kita akan menyingkirkan kebiasaan mengamat-amati dan menganggap diri lebih baik dan sempurna. Kita semua sama-sama orang berdosa yang membutuhkan Tuhan. Bertransformasilah, bertobatlah dan baharui hidupmu.

P. John Laba, SDB

Sunday, September 6, 2026

Homili Hari Minggu Biasa ke - XXIIIA - 2026

Hari Minggu Biasa XXIII/A 

Hari Minggu Kitab Suci Nasional

Yeh. 33:7-9

Mzm. 95:1-2,6-7,8-9

Rm. 13:8-10

Mat. 18:15-20.


Keselamatan untuk semua orang


Pada Hari Minggu Biasa ke-XXIIIA ini kita sekalian menjadikannya sebagai Hari Minggu Kitab Sucu Nasional 2026. Adapun tema besar Bulan Kitab Suci Nasional sesuai usulan LBI kali ini adalah: “Yesus Guru yang Penuh Kuasa” dengan sub temanya “Wajah Yesus dalam Injil Matius”. Fokus Pendalaman BKSN tahun 2026 ini berdasar pada Injil Matius, dengan empat sub-tema utama pertemuan yakni Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati (Matius 5:1-12), Pengajaran Yesus tentang Tugas Perutusan Para Murid (Matius 10:1-15), Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman (Matius 18:15-20). Dan Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal (Matius 25:31-46). Kita semua diarahkan untuk semakin mengenal dan akrab dengan Tuhan Yesus di dalam Kitab Suci. Santo Hironimus pernah berkata: "Ignoratio Scripturarum ignoratio Christi est.” Yang berarti "Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.” Tuhan Yesus Kristus adalah Logos, Sabda yang menjadi Daging dan tinggal di tengah-tengah kita.

Sambil kita merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional, bacaan-bacaan Liturgi pada hari Minggu ini mengarahkan kita untuk membuat kita semkin takjub kepada Yesus sebab keselamatan datang dari Tuhan untuk semua orang yang terbuka dan berharap pada-Nya. Mari kita melihat kembali bacaan pertama dari kitab nabi Yehezkiel. Perikop kita dalam Kitab Nabi Yehezkiel (Yeh 33:7-9) mengatakan bahwa Allah menunjuk seorang nabi sebagai penjaga untuk memperingatkan orang-orang jahat atau orang-orang fasik agar mengubah jalan hidup mereka. Jika nabi sebagai penjaga itu gagal memperingatkan mereka, Allah sendiri akan meminta pertanggungjawaban sang penjaga itu atas kematian mereka. Jika penjaga memberikan peringatan dan orang-orang fasik mengabaikannya, mereka akan mati karena dosa mereka, tetapi penjaga itu aman.


Di sini kita melihat bahwa Allah menjadikan Yehezkiel sebagai penjaga bagi kaum Israel.                                    Ia harus memilikin integritas untuk menyampaikan peringatan Tuhan secara langsung kepada umat Tuhan sendiri. Yehezkiel harus menjadi nabi dan sekaligus penjaga yang setia bagi umat Tuhan. Sebagai Penjaga yang menunjukkan wajah Tuhan, Ia harus berani untuk mengoreksi umat Tuhan yang fasik atau yang jatuh ke dalam dosa. Maka ketika mereka yang jatuh ke dalam dosa mengalami transformasi dan kembali ke jalan Tuhan maka selamatlah mereka. Ketika orang fasik tidak mau berubah maka ada hukuman dari Tuhan bagi mereka berupa kematian. Apabila Yehezkiel sendiri lalai memperingatkan orang-orang fasik maka dia sendirilah yang akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan kematian orang fasik itu. Ini merupakan misi yang tetap berlangsung sepanjang zaman. Gereja terpanggil untuk menampakkan wajah Allah yang berbelas kasih di dalam diri Yesus Kristus. 


Santo Paulus dalam bacaan kedua (Roma 13:8-10) menegaskan bahwa kasih yang aktif kepada sesama adalah tujuan sejati dan penggenapan hukum moral dari Allah sendiri. Para pengikut Kristus memiliki kewajiban abadi untuk mengasihi sesama mereka, yang berarti tidak pernah dengan sengaja menyakiti siapa pun. Kita menerima semua orang apa adanya karena kasih. 


Ada beberapa pemikiran penting dari santo Paulus dalam perikop kita hari ini yakni, pertama, hutang Kasih yang tak berujung pangkal. Orang beriman harus membayar apa yang mereka hutangkan kepada orang lain, tetapi mereka tidak akan pernah selesai membayar hutang kasih dari Tuhan. Itu adalah kewajiban berkelanjutan yang terus berlanjut setiap hari. Kedua,  kasih merangkum sepuluh perintah Allah. Aturan-aturan seperti jangan mencuri, jangan berbohong, dan jangan membunuh semuanya terangkum dalam satu perintah sederhana: kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Ketiga, Cinta mencegah perbuatan jahat. Cinta sejati secara alami menghentikan orang dari menyakiti orang lain. Jika Anda benar-benar mencintai seseorang, Anda tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya. Keempat, memenuhi hukum. Menaati Tuhan bukan hanya tentang mencentang aturan. Menunjukkan kasih yang aktif berarti Anda benar-benar menghidupi apa yang dikehendaki hukum.


Dalam bacaan Injil (Matius 18:15-20) kita semua diingatkan bagaimana sebagai Gereja atau kumpulan umat beriman harus menangani konflik pribadi dan dosa. Tuhan Yesus memberikan jalan yang jelas untuk memulihkan hubungan yang rusak, menekankan rekonsiliasi pribadi, pertanggungjawaban kolektif, dan otoritas serta kehadiran rohani Allah di dalam gereja.


Hal-hal penting yang Tuhan Yesus tekankan dalam Injil yakni, pertama, Perlu konfrontasi pribadi nukan mendengar apa kata orang. Nah, ketika ada sesuatu yang terjadi bahkan dosa sekali pun, mulailah dengan berbicara empat mata dengan orang tersebut. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan hubungan, bukan untuk bergosip atau mempermalukan mereka di depan umum. Kedua, akuntabilitas bertahap. Artinya, jika pembicaraan pribadi atau pembicaraan empat mata gagal, hadirkan satu atau dua saksi. Jika itu masih gagal, libatkan komunitas gereja yang lebih luas. Ketiga, tujuan pemulihan atau rekonsiliasi. Setiap langkah bertujuan untuk pertobatan dan penyembuhan, bukan hukuman atau pengucilan. Keempat, Otoritas Ilahi dan doa. Yesus memberikan otoritas spiritual kepada para pengikut-Nya ("mengikat dan melepaskan") dan berjanji bahwa Allah mendengar ketika orang-orang percaya bersatu dalam kesepakatan. Kelima,  Kehadiran Kristus: Yesus berjanji bahwa ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya—khususnya untuk mengatasi masalah-masalah sulit seperti persatuan dan penghakiman—Ia hadir bersama mereka.


Ketiga Bacaan Liturgi kita pada hari Minggu ini sangat kaya maknanya bagi kita. Selama bulan kitab suci nasional ini, kita semua terpanggil untuk menjadi nabi yang siap untuk mengoreksi diri dan sesama kita supaya kita benar-benar menunjukkan wajah Kristus yang mengagumkan banyak orang. Tentu saja sebuah koreksi yang bagus harus dilandasi oleh kasih yang tidak berkesudahan. Mengapa?  Karena Allah adalah kasih yang memanggil semua orang kepada keselamatan.


P. John Laba, SDB


Saturday, September 5, 2026

Kutipan Perkataan St. Theresia dari Kalkuta

 

Kutipan dari Bunda Teresa dari Kalkuta

 

1.     

 “Jika anda menghakimi orang lain, anda tidak akan memiliki waktu untuk mencintai mereka.”

2.      “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Namun, kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

3.   “Kedamaian dimulai dengan sebuah senyuman..”

4.      “Saya tidak tahu persis seperti apa surga itu, namun saya tahu bahwa ketika kita meninggal dunia dan tiba saatnya Tuhan menghakimi kita, Dia tidak akan bertanya, ‘Berapa banyak perbuatan baik yang telah anda lakukan dalam hidupmu?’ melainkan Dia akan bertanya, ‘Seberapa besar cinta yang anda curahkan dalam apa yang anda lakukan?’”

5.      “Kemarin telah berlalu. Besok belum tiba. Kita hanya memiliki hari ini. Mari kita mulai.”

6.      “Setiap kali anda tersenyum kepada seseorang, itu adalah tindakan kasih, sebuah hadiah bagi orang tersebut, sesuatu yang indah.”

7.      “Jangan berpikir bahwa cinta, agar tulus, haruslah luar biasa. Yang kita butuhkan adalah mencintai tanpa lelah. Setialah dalam hal-hal kecil karena di situlah letak kekuatanmu.”

8.      “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah diucapkan, tetapi gaungnya sungguh tak berujung.”

9.      “Kemiskinan yang paling mengerikan adalah kesepian, dan perasaan tidak dicintai.”

10. “Jangan biarkan siapa pun datang kepadamu tanpa pergi dengan menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah perwujudan kasih Tuhan yang hidup: kebaikan di wajahmu, kebaikan di matamu, kebaikan dalam senyummu.”

11. “Jika kita tidak memiliki kedamaian, itu karena kita telah lupa bahwa kita saling memiliki.”

12. “Apa yang bisa anda lakukan untuk mempromosikan perdamaian dunia? Pulanglah dan cintailah keluargamu.”

13. “Bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa banyak cinta yang kita tuangkan dalam pemberian itu.”

14. “Di akhir hidup, kita tidak akan dihakimi berdasarkan berapa banyak ijazah yang kita peroleh, berapa banyak uang yang kita hasilkan, atau berapa banyak hal hebat yang telah kita lakukan.

15. Kita akan dihakimi berdasarkan: ‘Aku lapar, dan kamu memberi aku makan; aku telanjang, dan kamu memberi aku pakaian; aku tak punya tempat tinggal, dan kamu menampungku.’”

16. “Aku sendiri tidak bisa mengubah dunia, tetapi aku bisa melemparkan batu ke atas air untuk menciptakan banyak riak.”

17. “Tuhan tidak menuntut kita untuk berhasil, Dia hanya menuntut agar kita berusaha.”

18. “Penyakit terbesar di Barat saat ini bukanlah TBC atau kusta; melainkan merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, dan tidak diperhatikan. Kita bisa menyembuhkan penyakit fisik dengan obat-obatan, tetapi satu-satunya obat untuk kesepian, keputusasaan, dan ketidakberdayaan adalah cinta. Ada banyak orang di dunia ini yang sekarat karena sepotong roti, tetapi ada lebih banyak lagi yang sekarat karena sedikit cinta. Kemiskinan di Barat adalah jenis kemiskinan yang berbeda — bukan hanya kemiskinan akibat kesepian, tetapi juga kemiskinan spiritual. Ada rasa lapar akan cinta, sebagaimana ada rasa lapar akan Tuhan.”

19. “Inilah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mempraktikkan kerendahan hati:

·       Sebisa mungkin tidak banyak berbicara tentang diri sendiri.

·       Mengurus urusan sendiri.

·       Tidak ingin mengatur urusan orang lain.

·       Menghindari rasa ingin tahu.

·       Menerima kritik dan koreksi dengan lapang dada.

·       Mengabaikan kesalahan orang lain.

·       Menerima hinaan dan perlakuan yang menyakitkan.

·       Menerima jika diremehkan, dilupakan, dan tidak disukai.

·       Menjadi baik dan lembut bahkan saat dipancing.

·       Jangan pernah mengutamakan harga diri sendiri.

·       Selalu memilih yang paling sulit.”

 

20. “Rasa lapar akan cinta jauh lebih sulit dihilangkan daripada rasa lapar akan roti.”

21. “Jangan pernah bepergian lebih cepat daripada kecepatan terbang malaikat pelindungmu.”

22. “Hidup sederhana agar orang lain pun dapat hidup dengan sederhana.”

23. “Doa bukanlah meminta. Doa adalah menyerahkan diri kepada Tuhan, berada di bawah kehendak-Nya, dan mendengarkan suara-Nya di kedalaman hati kita.”

24. “Aku adalah sebatang pensil kecil di tangan Tuhan yang sedang menulis, yang sedang mengirimkan surat cinta kepada dunia.”

25. “Jika anda rendah hati, tak ada yang akan menggoyahkanmu, baik pujian maupun celaan, karena anda tahu siapa dirimu.”

26. “Kita tahu betul bahwa apa yang kita lakukan hanyalah setetes air di lautan. Namun, jika tetesan itu tidak ada, lautan akan kehilangan sesuatu.”

27. “Jalan yang Sederhana

·       Keheningan adalah Doa

·       Doa adalah Iman

·       Iman adalah Cinta

·       Cinta adalah Pengabdian

·       Hasil dari Pengabdian adalah Kedamaian”

 

28. “Aku bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa anda lakukan, anda bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa aku lakukan; bersama-sama kita bisa melakukan hal-hal besar.”

29. “Tuhan menciptakan dunia untuk kesenangan manusia—seandainya kita bisa melihat kebaikan-Nya di mana-mana, kepedulian-Nya terhadap kita, kepedulian-Nya terhadap kebutuhan kita: panggilan telepon yang kita tunggu-tunggu, tumpangan yang ditawarkan kepada kita, surat di kotak surat, hal-hal kecil yang Dia lakukan untuk kita sepanjang hari. Saat kita mengingat dan menyadari kasih-Nya kepada kita, kita mulai jatuh cinta kepada-Nya karena Dia begitu sibuk dengan kita—kamu tidak bisa menolak-Nya. Aku percaya tidak ada yang namanya keberuntungan dalam hidup, itu adalah kasih Tuhan, itu milik-Nya.”

30. “Jangan menunggu para pemimpin; lakukanlah sendiri, dari orang ke orang.”

31. “Sebuah pengorbanan yang sejati harus mengorbankan sesuatu, harus menyakitkan, dan harus mengosongkan diri kita. Serahkan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan. Dia akan menggunakanmu untuk mencapai hal-hal besar dengan syarat bahwa kamu lebih percaya pada kasih-Nya daripada pada kelemahanmu.”