Saturday, September 5, 2026

Kutipan Perkataan St. Theresia dari Kalkuta

 

Kutipan dari Bunda Teresa dari Kalkuta

 

1.     

 “Jika anda menghakimi orang lain, anda tidak akan memiliki waktu untuk mencintai mereka.”

2.      “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Namun, kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

3.   “Kedamaian dimulai dengan sebuah senyuman..”

4.      “Saya tidak tahu persis seperti apa surga itu, namun saya tahu bahwa ketika kita meninggal dunia dan tiba saatnya Tuhan menghakimi kita, Dia tidak akan bertanya, ‘Berapa banyak perbuatan baik yang telah anda lakukan dalam hidupmu?’ melainkan Dia akan bertanya, ‘Seberapa besar cinta yang anda curahkan dalam apa yang anda lakukan?’”

5.      “Kemarin telah berlalu. Besok belum tiba. Kita hanya memiliki hari ini. Mari kita mulai.”

6.      “Setiap kali anda tersenyum kepada seseorang, itu adalah tindakan kasih, sebuah hadiah bagi orang tersebut, sesuatu yang indah.”

7.      “Jangan berpikir bahwa cinta, agar tulus, haruslah luar biasa. Yang kita butuhkan adalah mencintai tanpa lelah. Setialah dalam hal-hal kecil karena di situlah letak kekuatanmu.”

8.      “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah diucapkan, tetapi gaungnya sungguh tak berujung.”

9.      “Kemiskinan yang paling mengerikan adalah kesepian, dan perasaan tidak dicintai.”

10. “Jangan biarkan siapa pun datang kepadamu tanpa pergi dengan menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah perwujudan kasih Tuhan yang hidup: kebaikan di wajahmu, kebaikan di matamu, kebaikan dalam senyummu.”

11. “Jika kita tidak memiliki kedamaian, itu karena kita telah lupa bahwa kita saling memiliki.”

12. “Apa yang bisa anda lakukan untuk mempromosikan perdamaian dunia? Pulanglah dan cintailah keluargamu.”

13. “Bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa banyak cinta yang kita tuangkan dalam pemberian itu.”

14. “Di akhir hidup, kita tidak akan dihakimi berdasarkan berapa banyak ijazah yang kita peroleh, berapa banyak uang yang kita hasilkan, atau berapa banyak hal hebat yang telah kita lakukan.

15. Kita akan dihakimi berdasarkan: ‘Aku lapar, dan kamu memberi aku makan; aku telanjang, dan kamu memberi aku pakaian; aku tak punya tempat tinggal, dan kamu menampungku.’”

16. “Aku sendiri tidak bisa mengubah dunia, tetapi aku bisa melemparkan batu ke atas air untuk menciptakan banyak riak.”

17. “Tuhan tidak menuntut kita untuk berhasil, Dia hanya menuntut agar kita berusaha.”

18. “Penyakit terbesar di Barat saat ini bukanlah TBC atau kusta; melainkan merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, dan tidak diperhatikan. Kita bisa menyembuhkan penyakit fisik dengan obat-obatan, tetapi satu-satunya obat untuk kesepian, keputusasaan, dan ketidakberdayaan adalah cinta. Ada banyak orang di dunia ini yang sekarat karena sepotong roti, tetapi ada lebih banyak lagi yang sekarat karena sedikit cinta. Kemiskinan di Barat adalah jenis kemiskinan yang berbeda — bukan hanya kemiskinan akibat kesepian, tetapi juga kemiskinan spiritual. Ada rasa lapar akan cinta, sebagaimana ada rasa lapar akan Tuhan.”

19. “Inilah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mempraktikkan kerendahan hati:

·       Sebisa mungkin tidak banyak berbicara tentang diri sendiri.

·       Mengurus urusan sendiri.

·       Tidak ingin mengatur urusan orang lain.

·       Menghindari rasa ingin tahu.

·       Menerima kritik dan koreksi dengan lapang dada.

·       Mengabaikan kesalahan orang lain.

·       Menerima hinaan dan perlakuan yang menyakitkan.

·       Menerima jika diremehkan, dilupakan, dan tidak disukai.

·       Menjadi baik dan lembut bahkan saat dipancing.

·       Jangan pernah mengutamakan harga diri sendiri.

·       Selalu memilih yang paling sulit.”

 

20. “Rasa lapar akan cinta jauh lebih sulit dihilangkan daripada rasa lapar akan roti.”

21. “Jangan pernah bepergian lebih cepat daripada kecepatan terbang malaikat pelindungmu.”

22. “Hidup sederhana agar orang lain pun dapat hidup dengan sederhana.”

23. “Doa bukanlah meminta. Doa adalah menyerahkan diri kepada Tuhan, berada di bawah kehendak-Nya, dan mendengarkan suara-Nya di kedalaman hati kita.”

24. “Aku adalah sebatang pensil kecil di tangan Tuhan yang sedang menulis, yang sedang mengirimkan surat cinta kepada dunia.”

25. “Jika anda rendah hati, tak ada yang akan menggoyahkanmu, baik pujian maupun celaan, karena anda tahu siapa dirimu.”

26. “Kita tahu betul bahwa apa yang kita lakukan hanyalah setetes air di lautan. Namun, jika tetesan itu tidak ada, lautan akan kehilangan sesuatu.”

27. “Jalan yang Sederhana

·       Keheningan adalah Doa

·       Doa adalah Iman

·       Iman adalah Cinta

·       Cinta adalah Pengabdian

·       Hasil dari Pengabdian adalah Kedamaian”

 

28. “Aku bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa anda lakukan, anda bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa aku lakukan; bersama-sama kita bisa melakukan hal-hal besar.”

29. “Tuhan menciptakan dunia untuk kesenangan manusia—seandainya kita bisa melihat kebaikan-Nya di mana-mana, kepedulian-Nya terhadap kita, kepedulian-Nya terhadap kebutuhan kita: panggilan telepon yang kita tunggu-tunggu, tumpangan yang ditawarkan kepada kita, surat di kotak surat, hal-hal kecil yang Dia lakukan untuk kita sepanjang hari. Saat kita mengingat dan menyadari kasih-Nya kepada kita, kita mulai jatuh cinta kepada-Nya karena Dia begitu sibuk dengan kita—kamu tidak bisa menolak-Nya. Aku percaya tidak ada yang namanya keberuntungan dalam hidup, itu adalah kasih Tuhan, itu milik-Nya.”

30. “Jangan menunggu para pemimpin; lakukanlah sendiri, dari orang ke orang.”

31. “Sebuah pengorbanan yang sejati harus mengorbankan sesuatu, harus menyakitkan, dan harus mengosongkan diri kita. Serahkan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan. Dia akan menggunakanmu untuk mencapai hal-hal besar dengan syarat bahwa kamu lebih percaya pada kasih-Nya daripada pada kelemahanmu.”

Homili Sabtu, 5 September 2026 - Santa Theresia dari Kalkuta

St. Teresa dr Kalkuta

Hari Sabtu Imam

1Kor 4:6b-15

Mzm 145:17-18.19-20.21

Luk 6:1-5.


Tuhan itu dekat



Pada Hari Sabtu pertama dalam bulan September 2026 ini kita mendoakan para Imam. Saya mengucapkan limpah terima kasih atas doa-doanya untuk kami di hari istimewa ini. Sambil mendoakan para imam, kita juga mengenang orang kudus modern yang kita kenal. Dialah santa Theresia dari Kalkuta, rasul kaum papa dan miskin. Saya mengingat tiga perkataannya tentang bagaimana kita mendekatkan diri kita kepada Tuhan dan merasakan bahwa Tuhan itu selalu dekat dengan kita. Inilah tiga perkataan santa Theresia dari Kalkuta. Pertama, "Tuhan berbicara dalam keheningan hati, dan kita mendengarkan. Kemudian kita berbicara kepada Tuhan dari lubuk hati kita yang terdalam, dan Tuhan mendengarkan.” Kedua, "Kita tidak dapat menemukan Tuhan dalam kebisingan atau kegaduhan.” Ketiga, "Doa bukanlah meminta. Doa adalah menyerahkan diri ke tangan Tuhan, mengikuti kehendak-Nya, dan mendengarkan suara-Nya di lubuk hati kita.” Ketiga kutipan perkataan santa Theresia dari Kalkuta ini mencerminkan kedekatan antara Tuhan dan manusia dan antara manusia dengan Tuhan. Tuhan sangat dekat dengan manusia. Dia berinkarnasi, sabda menjadi Daging dan tinggal bersama kita.

Sabda Tuhan pada hari ini juga membuka wawasan kita untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan yang sudah lebih dahulu dekat dengan kita. Dia yang menciptakan kita sesuai dengan wajah-Nya sendiri. Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (1 Kor 4:6-15) menyerukan supaya jemaat perlu memiliki kebajikan kerendahan hati, memahami realitas hidup rohani, dan mengingatkan tentang peran Bapa rohani. Semua ini tentu dimaksudkan oleh Santo Paulus untuk mengoreksi kesombongan dan perpecahan di dalam gereja Korintus. Santo Paulus menggunakan ironi yang tajam untuk membandingkan sikap berpuas diri dan kesombongan orang-orang Korintus dengan penderitaan nyata dan penuh pengorbanan para rasul yang membawa Injil kepada mereka.


Ada beberapa hal menarik yang ditekankan oleh santo Paulus dalam perikop kita ini: 


Pertama, supaya jemaat jangan melampaui yang ada tertulis (1Kor 4:6). Di sini santo Paulus memperingatkan orang-orang beriman terhadap kesombongan dan sikap pilih kasih. Ia mendesak mereka untuk tidak menyombongkan diri karena mengikuti seorang pemimpin manusia (seperti Apolos atau diri Paulus sendiri) daripada yang lain, tetapi untuk tetap berpegang teguh pada Kitab Suci. 


Kedua, Perlu kerendahan hati dan anugerah (1Kor 4: 7). Santo Paulus mengajukan pertanyaan mendasar: "Apa yang kamu miliki yang tidak kamu terima?" Ia mengingatkan mereka bahwa semua karunia dan berkat rohani mereka adalah karunia dari Allah, sama sekali tidak memberi ruang untuk kesombongan manusia.


Ketiga, Ada semacam sarkasme dan realitas rohani (1Kor 4: 8–13). Santo Paulus menggunakan ironi yang kuat, mencatat bahwa orang-orang Korintus sudah menganggap diri mereka sebagai "raja" dan kaya secara rohani. Sebaliknya, ia menunjukkan harga sebenarnya dari menjadi murid. Ia menggambarkan para rasul sebagai "orang bodoh demi Kristus," sampah masyarakat, kelaparan, dipukuli, dan tunawisma, namun menanggapi penganiayaan dengan berkat dan kebaikan. 


Keempat, Bapa Rohani (1Kor 4:14-15). Santo Paulus beralih dari teguran keras kepada kasih sayang yang lembut. Ia menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud mempermalukan mereka, tetapi memperingatkan mereka sebagai anak-anaknya yang terkasih. Ia mencatat bahwa meskipun mereka mungkin memiliki banyak guru atau pembimbing dalam Kristus, mereka hanya memiliki satu bapa rohani yang melahirkan iman mereka melalui Injil.


Bacaan Injil pada hari ini merupakan kelanjutan dari Kisah Yesus di dalam Injil Lukas (Luk 6:1-5). Penginjil Lukas menekankan bahwa Tuhan Yesus memiliki otoritas atau kuasa ilahi tertinggi sebagai Tuhan atas hari Sabat, dan bahwa memenuhi kebutuhan manusia yang sejati dan menunjukkan belas kasihan lebih penting daripada mengikuti aturan manusia yang ketat dan kaku.


Hal-hal yang menarik perhatian untuk direnungkan bersama. Pertama, Bahwa kebutuhan manusia lebih penting daripada legalisme. Di sini Tuhan Yesus mengingatkan kembali bahwa ketika Raja Daud dan para pengikutnya lapar, mereka memakan roti suci bait suci. Kelangsungan hidup dan kepedulian manusia itu lebih penting daripada aturan teknis yang ketat atau sikap legalis. Nilai hidup manusia harus menjadi nomor satu. Kedua, Hari Tuhan. Hari Sabat dimaksudkan sebagai berkat dan anugerah istirahat, tetapi para pemimpin agama (orang Farisi) mengubahnya menjadi beban berat dengan batasan-batasan buatan manusia. Ketiga, otoritas atau kuasa Ilahi. Dengan menyatakan bahwa "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat", Yesus menyatakan identitas ilahi-Nya dan hak-Nya untuk mendefinisikan makna sejati hukum Allah.


Sabda Tuhan pada hari ini memperteguh kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Kita semua diarahkan untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu terbuka kepada kehendak Tuhan. Kita semua juga berusaha untuk mengikuti jejak Tuhan yang lebih melihat nilai hidup manusia bukan sekedar menjadi legalis semata. Santa Theresia dari Kalkuta menjadi teladan dan inspirasi bagi kita untuk melihat nilai-nilai hidup manusia. Tuhan menjadi dekat dengan manusia karena cinta. Kita pun menjadi dekat dengan sesama manusia karena cinta.  Santa Theresia dari Kalkuta, doakanlah kami. Amen.


P. John Laba, SDB


Thursday, September 3, 2026

Homili 4 September 2026

 Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIIA

1Kor 4:1-5
Mzm 37:3-4.5-6.27-28. 39-40
Luk 5:33-39

Selamat Datang Era Baru

Saya pernah diundang untuk menghadiri sebuah perayaan syukur di sebuah komunitas. Tema perayaan yang dicetak di spanduk adalah: “Selamat datang era baru”. Komunitas itu memang barusan melewati sebuah pengalaman yang keras dan sangat mengganggu kebersamaan di dalam komunitas itu. Kini disebut era baru karena terjadi pergantian pimpinan dan anggota komunitas. Diharapkan supaya era baru sungguh membaharui setiap pribadi menuju kepada kekudusan atau kesempurnaan. Era baru selalu membawa harapan dan tentu harapan yang tidak pernah mengecewakan. 

Era baru tentu membawa kebaruan dalam berbagai aspek kehidupan. Pengalaman keras bisa berubah ketika semua orang bertransformasi dan menjadi baru. Era baru pernah dialami oleh para murid yang mengikuti Yesus dari dekat. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa Yesus datang dengan membawa kebaruan dalam hidup. Penginjil Lukas mengisahkan bahwa sekali peristiwa  orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat membandingkan para murid Yohanes  Pembaptis dan murid-murid Yesus terutama tentang hal berpuasa sesuai kebiasaan mereka sebagai orang Yahudi. Murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa sedangkan para murid Yesus tidak berpuasa. 

Tuhan Yesus lalu membuka wawasan mereka tentang relasi antar pribadi di antara mereka dan relasi mereka bersama Yesus. Relasi para murid bersama Yesus adalah sebuah relasi persahabatan yang intim. Para murid adalah sahabat Yesus sang mempelai sejati. Yesus sendiri mengatakan kepada para murid-Nya: ‘Kamu adalah sahabatku’ (Yoh 15:14). Relasi persahabatan dengan Yesus harus selalu menjadi prioritas pertama di atas persahabatan manusiawi. Yesus dengan terus terang berkata: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Luk 5:34-35). Di sini sangat jelas relasi persahabatan para murid dan Yesus sendiri. Para murid adalah sahabat-sahabat Yesus sebagai mempelai. Yesus sendiri adalah mempelai yang membawa suka cita agung. Maka selagi Yesus sang mempelai masih ada 

Perikop Injil kita pada hari ini diambil dari Injil Lukas: 5:33-39. Pesan yang  dapat kita ambil adalah bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk menambal atau menggabungkan pesan kasih karunia-Nya yang baru dan radikal dengan tradisi keagamaan lama dan kaku dari orang-orang Farisi. Sebaliknya, kedatangan-Nya memulai era keselamatan yang sama sekali baru yang membutuhkan cara berhubungan dengan Tuhan yang benar-benar baru. 

Ada beberapa hal penting yang dapat membantu pertumbuhan kita. Pertama, analogi sang Mempelai Pria.  Tuhan Yesus menjelaskan bahwa puasa tidak tepat dilakukan sementara Ia sebagai sang mempelai pria ada di bersama dengan para murid sebagai sahabat mempelai, karena kehadiran-Nya adalah waktu untuk perayaan yang penuh sukacita, bukan untuk berkabung. Kedua, menambal pakaian lama dengan kain baru. Dengan mencoba menjahit kain baru pada baju yang lama hanya akan merusak kain baru tersebut dan memperburuk robekan aslinya ketika menyusut, menunjukkan bahwa ajaran Kristus tidak dapat begitu saja dijahitkan pada sistem legalistik yang usang. Ketiga, anggur baru dalam kantung Anggur lama. Anggur baru yang aktif dan berfermentasi akan merusak wadah kulit tua yang kaku dan telah kehilangan elastisitasnya, membuktikan bahwa kehidupan dinamis kerajaan Allah membutuhkan hati dan kerangka kerja yang segar dan fleksibel. Keempat, kenyamanan akan tradisi lama. Tuhan Yesus mengakui adanya penolakan manusia, dengan mencatat bahwa orang-orang yang terbiasa dengan tradisi lama secara alami lebih menyukai apa yang familiar, dan sering kali menolak karya baru Allah.

Santu Paulus dalam bacaan pertama (1Kor 4:1-5) menegaskan bahwa para pemimpin jemaat hanyalah hamba dan pengelola yang hanya bertanggung jawab kepada Allah. Orang beriman hendaknya berhenti membuat penilaian yang terburu-buru dan keras terhadap para pemimpin jemaat atau diri mereka sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui motif manusia dan akan menghakimi dengan benar ketika Kristus kembali.

Kedatangan Kristus membawa era baru bagi kita semua. Di sini sangat dibutuhkan transformasi yang radikal supaya semakin hari kita sungguh-sungguh menjadi sahabat Yesus sang mempelai sejati.

P. John Laba, SDB

Homili 3 September 2026 - Peringatan St. Gregorius Agung

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIIA

Peringatan Wajib St. Gregorius Agung

1Kor 3:18-23

Mzm 24: 1-2. 3-4ab.5-6

Luk 5: 1-11

 

Belajar menjadi hamba dari para hamba Allah

Pada hari ini kita mengenang kembali santo Gregorius Agung. Santo Gregorius Agung adalah Paus dan orang Kudus yang istimewa karena beliau adalah seorang biarawan sederhana yang terpilih menjadi Paus yang transformatif, seorang Pujangga Gereja dan pendiri Kepausan pada abad pertengahan. Ada beberapa kontribusi dari santo Gregorius Agung bagi Gereja yang diingat sampai sat ini yakni, pertama, Konsep Paus sebagai Hamba dari Hamba-hamba Allah (Servus Servorum Dei). Beliau mempopulerkan gelar terkenal ini untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada kerendahan hati dan melayani sesama. Kedua, nyanyian atau lagu Gregorian. Beliau membantu mengatur dan mengembangkan musik liturgi suci, yang dinamakan nyanyian atau lagu Gregorian untuk menghormatinya. Ketiga, Penginjilan di Inggris. Beliau mengutus Santo Agustinus dari Canterbury dan sekelompok biarawan untuk me mpertobatkan rakyat Inggris menjadi Pengikut Kristus. Keempat, Kepedulian terhadap Kaum Miskin. Beliau menggunakan dana gereja dan kas kepausan untuk memberi makan orang-orang yang lapar, merawat orang-orang yang membutuhkan, dan mengelola krisis publik selama wabah penyakit dan kelaparan. Kelima, Karya Tulis dan Doktrin. Sebagai salah satu dari empat Bapa Gereja Latin yang agung, ia menulis teks-teks berpengaruh tentang pastoral dan moral yang membentuk spiritualitas abad pertengahan. Nama Grergorius selalu dikenang sepanjang masa.

Pada hari ini kita mendengar kisah lanjutan tentang Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas. Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Tuhan Yesus berdiri di pantai danau  Genazaret atau Danau Galilea. Seperti biasa, orang-orang mengerumuni Yesus untuk mendengarkan Sabda Allah. Tuhan Yesus melihat dua perahu di tepi pantai, salah satu perahu itu adalah milik Simon Petrus. Mereka adalah nelayan-nelayan sederhana yang sedang membasuh jala mereka. Tuhan Yesus naik ke atas perahu Simon dan menyuruhnya untuk menolak perahu itu sedikit jauh dari pantai.  Ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar mereka.Pantai sehingga Dia lebih leluasa mengajar orang banyak yang mengerumuni-Nya. Setelah selesai mengajar, Ia menyuruh Simon untuk duc in altum, artinya bertolak lebih dalam untuk menebarkan jala dan menangkap ikan.

Simon dan teman-temannya pasti merasa heran dengan Yesus. Sudah semalam suntuk mereka tidak mampu menangkap ikan, lalu sekarang Yesus yang bukan seorang nelayan tulen seperti mereka, menyuruh mereka untuk menebarkan jala supaya menangkap ikan. Simon dan teman-temannya memang mengandalkan pengalaman manusiawinya sedangkan Tuhan Yesus menunjukkan kuasa Ilahi-Nya. Pengalaman manusiawi sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa kalau Tuhan tidak ikut terlibat dalam pengalaman mereka itu. Hal yang menarik perhatian mereka adalah kerendahan hati dan ketaatab kepada kehendak Tuhan. Simon Petrus berkata: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:5). Buaha dari ketaatan kepada kehendak atau perintah Tuhan Yesus adalah mereka menangkap ikan dalam kelimpahan. Bahkan mereka salng tolong menolong untuk mengangkut ikan yang jumlahnya banyak itu. Suara transformative diberikan oleh Simon kepada Yesus, namun Yesus  dengan tegas mengatakan: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." (Luk 5:10).

Perikop Injil hari ini sangatlah menarik perhatian kita. Perikop Injil ini men unjukkan seruan Yesus kepada Simon dan anak-anak Zebedeus untuk menjadi murid yang radikal. Di sini, Yesus membuktikan kuasa ilahi-Nya melalui berlimpahnya ikan yang ditangkap, ada ungkapaan keberdosaan manusiawi Simon, dan bagaimana Yesus mengubah status mereka sebagai nelayan biasa menjadi "penjala manusia," menginspirasi mereka untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti-Nya.

Hal-hal penting yang patut kita renung bersama berdasarkan perikop Injil hari ini adalah Pertama, Iman akan Kuasa Ilahi dari Tuhan Yesus. Ia menunjukkan kendali penuh atas alam semesta dengan menyediakan sejumlah besar ikan yang sangat banyak hingga mengoyakan jala setelah mereka tidak menangkap apa-apa. Kedua, ada kesadaran akan Dosa di hadirat Tuhan sehingga ada transformasi radikal. Simon dan teman-temannya melihat mukjizat ini sehiungga membuatnya Simon Petrus menyadari ketidaklayakannya sendiri, yang menyebabkannya berlutut di hadapan Yesus dengan penuh kekaguman. Ketiga, Ketaatan mengalahkan logika dan pengalaman manusiawi. Simon Petrus menaati Yesus dan menebar jala ke tempat yang lebih dalam meskipun pengalamannya sebagai nelayan profesional mengatakan kepadanya bahwa itu tidak masuk akal. Keempat, Panggilan untuk mengikuti Yesus. Yesus memberi tahu Petrus agar tidak takut, memberinya tujuan baru untuk membantu membawa orang kepada Tuhan, bukan hanya sekadar menangkap ikan.

Santo Paulus dalam Bacaan Pertama (1Kor 3:18-23) menegaskan bahwa orang beriman harus meninggalkan kesombongan duniawi dan perpecahan manusia, menyadari bahwa hikmat sejati berasal dari Allah. Para pemimpin manusia adalah pelayan dan bukan tuan, dan segala sesuatu adalah milik mereka yang milik Kristus. Pengalaman Paulus tentu sejalan dengan pengalaman Simon Petrus dan teman-temannya. Demikian juga Santo Gregorius Agung yang dengan jelas mengatakan bahwa dirinya adalah hamba dari para hamba Allah (Servus Servorum Dei). Kita belajar dari orang kudus yang setia kepada Kristus.

P. John Laba, SDB


Wednesday, September 2, 2026

Renungan 2 September 2026 - Injil Untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXII

1Kor 3:1-9

Mzm 33:12-13.14-15.20-21

Luk 4:38-44


Lectio:


“Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum, Yesus pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea”. Demikianlah Sabda Tuhan. Terpujilah Kristus.


Renungan:


Saya Siap Memberitakan Injil


Kita sedang berada di hari kedua Bulan September. Bulan September dikenal di dalam Gereja sebagai bulan untuk menghormati Bunda Maria yang berdukacita. Fokusnya adalah pada kesedihan mendalam dan iman yang teguh dari Santa Perawan Maria. Di samping itu, bagi kita sebagai Gereja, kita juga memulai Bulan Kitab Suci n nasional. Tema Bulan Kitab Suci nasional adalah "Yesus Guru yang Penuh Kuasa” dengan subtema khusus "Wajah Yesus dalam Injil Matius”. Tentu Saja kita semua terpanggil untuk mendengar, membaca, merenungkan dan menjadi pelaku Sabda Tuhan untuk mewujudkan Yesus sebagai  Guru yang penuh kuasa. Sabda Tuhan haruslah terus diwartakan dalam setiap saat kehidupan kita. Santo Paulus pernah menulis kepada Timotius begini: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim 4:2). 


Saya masih mengingat sharing pengalaman dari seorang misionaris sejati. Ia sudah berkarya di tanah misi yang sulit di Afrika selama lebih kurang empat puluh tahun. Pada saat mensyukuri panca windu hidupnya sebagai misionaris, ia memilih tema perayaan syukurnya: "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16). Ia memaknai pengalaman dan pesan Paulus ini dengan sepenuh hati. Itu sebabnya, ketika mengalami kesulitan dalam bermisi, ia selalu berkata: “Saya siap untuk memberitakan Injil” sebab “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Perkataan ini sekaligus menjadi motivasi bagi kita untuk mencintai sabda Tuhan. Santo Hironimus berkata: “Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est”, artinya "Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.”


Pada hari ini Tuhan Yesus menyapa kita melalui santo Lukas dalam Injil tulisannya. Tuhan Yesus sangat viral ketika mengajar di dalam Sinagoga di Kapernaum yang membuat begitu banyak orang menjadi takjub kepadanya. Ketakjuban tidak hanya berhenti pada pengajaran Yesus, tetapi juga pada penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus. Misalnya, ibu mertua Simon Petrus yang sedang sakit demam keras. Tuhan Yesus dipanggil untuk menolongnya. Tuhan Yesus berdiri di sisi wanita itu dan menghardik demamnya. Demam hilang dan ibu mertua itu melayani Yesus seabagi tanda syukurnya.


Karena hari Sabat maka Tuhan Yesus tidak melakukan pekerjaan yang berat. Baru setelah matahari terbenam, orang membawa begitu banyak orang sakit kepada Yesus dan Tuhan Yesus pun meletakkan tangan atas mereka dan menyembuhkan mereka. Orang-orang yang kerasukan setan juga berteriak-teriak dan mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Yesus tidak berbangga dengan statusnya sebagai Merias, Anak Allah. Ia melarang mereka  supaya tidak membuat-Nya semakin viral. Tuhan Yesus terus bersemangat untuk mewartakan Injil karena untuk itulah Ia datang ke dunia sebagai Utusan Bapa.


Saya siap mewartakan Injil adalah sebuah perkataan sekaligus motivasi yang mentransformasi hidup kita. Tuhan Yesus sendiri mengamanatkan para murid-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mat 16:15). Perintah atau amanat Yesus juga berlaku bagi anda dan saya untuk mewujudkan hidup Kristiani kita. Kita saat ini mewartakan Injil dengan hidup kita yang nyata, yang memperhatikan orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Mereka ini sedang mengalami musibah gempa bumi, kebakaran hutan sehingga menyebabkan polusi udara dan krisis air bersih. Injil menjadi hidup dalam pewartaan kita melalui hidup nyata dan melayani kemanusiaan.


P. John Laba, SDB