Tuesday, October 27, 2026

Bertumbuh dalam Kerajaan Allah

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXXA

Ef 5:21-33

Mzm 128:1-2.3.4-5

Luk 13:18-21


Bertumbuh menjadi Besar dalam Kristus


Pada hari ini kita mendengar dua perumpamaan yang keluar dari mulut Yesus, sang Anak Allah tentang Kerajaan Allah dan pertumbuhannya. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi dan ragi. Dari kedua perumpamaan ini, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa karya penebusan Allah itu dimulai dari hal-hal yang kecil, tampaknya tidak berarti apa-apa namun pada akhirnya menghasilkan dampak yang luar biasa. Dalam hal ini, biji sesawi yang kecil itu diambil dan ditaburkan sang penabur, lalu bertumbuh menjadi pohon besar sehingga burung-burung di udara dapat bersarang di ranting-rantingnya. Demikian juga ragi yang sedikit jumlahnya diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu  tiga sukat menjadi sebuah adonan yang besar. 


Santo Gregorius Agung memiliki penafsirab alegoris khususnya perumpamaan tentang biji sesawi. Ia mengaitkan perumpamaan ini dengan peziarahan hidup seorang pengikut Kristus. Inilah penafsiran alegoris santo Gregorius Agung: Pertama, Benih adalah niat baik. Benih biji sesawi yang kecil melambangkan niat baik kita yang sederhana dan kecil. Kedua, Tunas adalah Pertobatan kita. Saat biji sesawi itu berkecambah, tunasnya tersebut melambangkan tahap-tahap awal kita berpaling dari dosa dan memasuki pertobatan yang sejati. Ketiga, pohon adalah karya amal kasih yang kita lakukan sehari-hari. Ketika sesawi bertumbuh sempurna, sesawi tersebut lalu melambangkan kehidupan yang berakar pada kebajikan yang matang dan karya amal kasih, sehingga jiwa siap untuk “dipanen” menuju surga. Keempat, Kristus sebagai Tukang Kebun. Santo Gregorius menekankan bahwa kita tidak boleh berpikir bahwa niat baik atau usaha manusia saja sudah cukup. Kristuslah yang bertindak sebagai tukang kebun sejati bagi jiwa, dan hanya rahmat-Nya yang membuat kebajikan kita bertumbuh. Santo Gregorius Agung secara alegoris juga mengatakan bahwa Kristus sendiri sebagai Benih. Dalam renungan-renungan lain dari karyanya "Moralia in Job", Santo Gregorius memandang Kristus sendiri sebagai biji sesawi—yang dikuburkan di “kebun” kubur (makam) dan bangkit menjadi pohon yang besar, menyebarkan hidup-Nya ke seluruh bumi.


Menjadi pertanyaan bagi kita adalah apa hubungan kedua perumpamaan ini dengan kehidupan misioner di dalam Gereja? Tentu saja ada hubungannya karena hidup misioner juga bertujuan untuk ikut membangun Kerajaan Allah di dunia. Pertama, tentang biji sesawi. Para misionaris itu biasanya memulai karya misi di tempat yang terpencil dan sulit. Karena kuasa Tuhan Allah maka pekerjaan misioner itu menjadi besar. Kedua, tentang ragi. Ada penetrasi dan transformasi karya misioner yang dapat mengubah hidup banyak orang sehingga mereka bersatu dengan Tuhan. Ketiga, Para misionaris itu sabar dan setia untuk ikut membangun Kerajaan Allah. 


P. John Laba, SDB  

Monday, October 26, 2026

Hidup dalam Cinta Kasih Seperti Kristus

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXXA

Ef. 4:32  5:8

Mzm. 1:1-2.3.4.6

Luk. 13:10-17.


Seorang Misionaris Hidup dalam Kasih Seperti Kristus


Ada dua sosok inspiratif bagi para Misionaris. Pertama, Bunda Teresa (Santa Teresa dari Kalkuta). Beliau dikenal sebagai pendiri Missionaries of Charity atau Misionaris Cinta Kasih. Ia sering kali menekankan tentang pentingnya hidup dalam kasih dan kebaikan melalui Kristus, serta mengajarkan bahwa para pengikutnya juga dipanggil untuk mengenali dan melayani Yesus Kristus dalam diri orang-orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Sosok yang kedua adalah St. Francisca Cabrini. Beliau adalah seorang misionaris modern yang menulis tentang menyesuaikan diri dengan “kasih Yesus Kristus yang sejati, manis, dan lembut” sambil mewartakan kebenaran dengan penuh semangat. Kedua sosok Misionaris ini melakukan revolusi mental dalam hidup menggereja, khususnya dalam bermisi di tengah orang-orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. 


Pada hari ini, kita mendapat semangat baru melalui santo Paulus, sang Misionaris Agung dalam kelanjutan suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef 4: 32-5:8). Ia menasihati jemaat yang dilayaninya sebagai misionaris supaya mereka selalu bersikap ramah dengan sesama, penuh kasih sayang, saling mengampuni. Hal-hal ini memang selayaknya mereka lakukan karena Tuhan Allah sendiri sudah terlebih dahulu melakukannya bagi mereka dan kita yang membaca dan mendengarnya sat ini, melalui Kristus Putera-Nya. Santo Paulus juga menghimbau jemaat di Efesus untuk patuh kepada Allah sebagai anak-anak kesayangan Allah dan hidup dalam kasih seperti Kristus sendiri yang telah mengasihi bahkan mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan kita semua. Di samping hal-hal positif ini, Paulus juga menghimbau jemaat di Efesus untuk menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan ‘kedagingan’ yang dapat menjerumuskan diri mereka ke dalam dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan mereka. Singkatnya, para pengikut Kristus menjauhi kegelapan dan hidup sebagai anak-anak terang.


Nasihat santo Paulus kepada jemaat di Efesus sangatlah bermakna dalam hidup sebagai misionaris saat ini, entah sebagai kaum berjubah ataupun sebagai misionaris awam. Kita semua dipanggil untuk membawa sekaligus mewartakan kasih Kristus yang sedang kita hayati secara pribadi dan bersama-sama dalam komunitas. Namun demikian, tantangan dalam bermisi adalah ‘kedagingan’ dalam pikiran, perkataan dan perbuatan dalam bermisi. Ini adalah warning dari santo Paulus bagi kita semua. Tetaplah semangat dalam bermisi.


P. John Laba, SDB 

Monday, September 14, 2026

Perkataan Orang Kudus tentang Salib

Salib Suci

Kita semua pasti sudah membaca tulisan santo Petrus tentang Salib Kristus yakni: “Dia sendiri menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya di atas salib, agar, setelah terbebas dari dosa, kita dapat hidup untuk kebenaran. Melalui luka-luka-Nya, kamu telah disembuhkan” (1Ptr 2:241). 

Berikut ini saya akan mengutip perkataan para kudus tentang Salib Kristus:

1. St. Teodorus sang Studit, uskup (759-826 M.): “Salib adalah kemuliaan semua rasul, mahkota para martir, dan pengudusan para orang kudus.” 

2. St. Yohanes Krisostomus, uskup (347-407 M.): “Salib adalah kehendak Bapa, kemuliaan Anak Tunggal, sukacita Roh Kudus, kebanggaan para malaikat, jaminan Gereja, kebanggaan Paulus, benteng para orang kudus, dan terang seluruh dunia.” 

3. St. Andreas dari Kreta, uskup (650-712 M): “Seandainya tidak ada salib, maut tidak akan diinjak-injak, dan neraka tidak akan dijarah. Oleh karena itu, salib adalah sesuatu yang luar biasa agung dan mulia.” 

4. Santo Cirilius dari Yerusalem, uskup (315-387 M.): “Gereja Katolik membanggakan setiap perbuatan Kristus. Namun, kemuliaan tertingginya adalah salib.” 

5. Santo Leo Agung, paus (400-461 M.): “Tidak ada bentuk kekejaman apa pun yang dapat meruntuhkan agama yang didirikan oleh misteri salib Kristus.” 

6. St. Thomas Becket, uskup (1118–1170 M): “Demi kita, Kristus mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa di atas mezbah salib.” 

7. Santo Teodorus sang Studit, uskup (759-826 M): “Di dalam salib tidak ada percampuran antara kebaikan dan kejahatan, seperti pada pohon surga: salib sepenuhnya indah dipandang dan baik dirasakan.”

8. Santo Andreas dari Kreta, uskup (650-712 M): “Kemuliaan Kristus adalah salib-Nya dan pengagungan-Nya di atasnya, sebagaimana Ia dengan jelas berkata: ‘Apabila Aku ditinggikan, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku.’” 

9. Santo Agustinus, uskup (354–430 M): “Di atas salib, Kristus melakukan pertukaran yang agung. Di sana, kantong yang berisi harga yang harus dibayarkan untuk kita dibuka.”

10. Santo Andreas dari Kreta, uskup (650-712 M): “Salib melambangkan penderitaan Kristus karena di atasnya Ia dengan sukarela menderita hingga mati. Namun, salib juga merupakan trofi-Nya karena melalui salib itulah iblis dilukai dan maut dikalahkan.”

11. Santo Andreas dari Kreta, uskup (650-712 M): “Salib itu mulia karena merupakan tanda penderitaan Allah sekaligus lambang kemenangan-Nya.”

12. Santo Teodorus dari Studion, uskup (759-826 M.): “Salib adalah pohon di mana Kristus, layaknya seorang raja di atas kereta perang, menghancurkan iblis, Penguasa maut, dan membebaskan umat manusia dari tirani-nya.” 

13. St. Yohanes Krisostomus, uskup (347-407 M):  “Salib adalah trofi kita yang dikibarkan melawan setan-setan, pedang kita melawan dosa, dan pedang Kristus yang digunakan untuk menusuk ular.” 

14. St. Leo Agung, paus (400-461 M): “Tidak ada seorang pun, betapapun lemahnya, yang ditolak untuk ikut serta dalam kemenangan salib.”

15. St. Yohanes Krisostomus, uskup (347-407 M.): “Jelas terlihat melalui orang-orang yang tidak terpelajar bahwa salib itu meyakinkan; bahkan, salib itu telah meyakinkan seluruh dunia.” 

16. St. Leo Agung, paus (400-461 M.): “Tidak seorang pun boleh malu akan salib Kristus, yang melaluinya dunia telah ditebus.” 

17. St. Polikarpus, uskup dan martir (69-155 M.): “Siapa pun yang menolak mengakui kesaksian salib adalah dari iblis.” + 

18. St. Ambrosius, uskup (340-397 M.): “Apa arti air tanpa salib Kristus? Hanya unsur biasa tanpa efek sakramental.” 

19. St. Ignatius dari Antiokhia, uskup dan martir (35-98 M.): “Rohku diserahkan pada pelayanan yang rendah hati bagi salib, yang merupakan batu sandungan bagi orang-orang yang tidak percaya, tetapi bagi kita adalah keselamatan dan hidup kekal.” 

20. Santo Teodorus dari Studite, uskup (759-826 M: “Melalui salib, kita, domba-domba Kristus, telah dikumpulkan menjadi satu kawanan, yang ditakdirkan untuk kandang domba di surga.” 

21. Santo Leo Agung, paus (400-461 M): “Betapa luar biasanya kuasa salib; betapa agungnya kemuliaan sengsara-Nya yang tak terlukiskan: inilah takhta penghakiman Tuhan, penghukuman atas dunia, keagungan Kristus yang disalibkan.”

22. Santo Yohanes Krisostomus, uskup (347-407 M.): “Kamu telah menyaksikan kemenangan luar biasa Kristus, pencapaian gemilang salib.” 

23. Santo Ignatius dari Antiokhia, uskup dan martir (35-98 M.): “Salib sengsara Kristus adalah undangan-Nya bagi kamu yang merupakan anggota tubuh-Nya.” 

24. Santo Thomas Aquinas, imam (1225-1274 M.): “Barangsiapa yang ingin hidup secara sempurna, hendaknya tidak melakukan apa pun selain mengabaikan apa yang diabaikan Kristus di salib dan menginginkan apa yang Ia inginkan, sebab salib merupakan teladan dari segala kebajikan.”

25. St. Yohanes dari Avila, imam (1499-1569 M.): “Semoga Tuhan mengaruniakan agar hati kita tidak menemukan ketenangan dan tidak mencari makanan lain di dunia ini, kecuali dalam kesusahan dan penderitaan di samping salib Tuhan.”

Demikian dua puluh lima kutipan para kudus tentang Salib Suci Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga perkataan para kudus dapat  mengubah hidup kita dalam jalan menuju kekudusan.

 

P. John Laba, SDB

Homili Pesta Salib Suci - 14 September 2026

Pesta Pemuliaan Salib Suci

Bil. 21:4-9 atau Flp. 2:6-11

Mzm. 78:1-2.34-35,36-37,38

Yoh. 3:13-17


Engkau Menguduskan dunia dengan Salib Suci-Mu


Pada pagi hari ini saya mengingat kembali di Novisiat Salesian Don Bosco, Tigaraksa. Di sana, dekat tangga untuk naik ke kamar tidur terdapat sebuah tulisan di dinding berbunyi: “In Cruce Salus” yang berarti pada salib ada keselamatan. Maka setiap kali memandang dinding dan tulisan ini, selalu membantu untuk memandang Salib. Tentu bukan Salib yang terbuat dari kayu itu saja, tetapi pada Dia yang rela disalibkan karena Dia mengasihi kita tiada batasnya. Santo Andreas dari Kreta (650-712 M) pernah berkata begini: “Kemuliaan Kristus adalah salib-Nya dan pengagungan-Nya di atasnya, sebagaimana Ia dengan jelas berkata: ‘Apabila Aku ditinggikan, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku.’” Dan setiap kali kita mengikuti jalan salib selalu ada kalimat doa ini: “Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia”. 


Salib Kristus menyelamatkan kita, salib Kristus menguduskan dunia. Saya mengingat ada sebuah kutipan perkataan yang inspiratif: “Simbol dari Cinta yang paling agung bukanlah “Hati”, melainkan SALIB. Mengapa? Karena hati bisa saja berhenti berdetak, tetapi sang pria di atas kayu salib itu tidak akan pernah berhenti MENCINTAI”. Dialah Yesus Tuhan kita yang tidak pernah berhenti mencintai kita. 


Santo Fransiskus dari Asisi, pernah berdoa di depan Salib, Kapel San Damiano begini: “Allah Yang Mahatinggi dan Mulia, terangilah kegelapan hatiku. Berikanlah kepadaku iman yang lurus, harapan yang teguh, dan kasih yang sempurna. Penuhilah aku dengan pengertian dan pengetahuan agar aku dapat menaati perintah-Mu. Amin”. Doa lain dari santo Fransiskus dari Asisi: “Kami memuja Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di sini, dan di semua gereja-Mu di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, karena melalui Salib-Mu yang kudus, Engkau telah menebus dunia”.


Pada hari ini kita merayakan pesta Salib suci. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa setiap tanggal 14 September kita merayakan pesta Salib Suci. Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 13 September 335, Gereja Makam Suci Yerusalem diresmikan. Keesokan harinya, salib yang ditemukan oleh Ratu Helena pada tanggal 14 September 320, dihormati dalam sebuah upacara yang sangat khusuk. Selanjutnya pada tahun 614, Raja Persia, Chosroes II, mengobarkan perang melawan bangsa Romawi. Setelah menaklukkan Yerusalem, ia lalu menyita banyak harta karun, di antaranya adalah Salib Yesus. Kaisar Bizantium, Heraclius, lalu memulai negosiasi perdamaian, tetapi usaha ini ditolak. Ia kemudian mengobarkan perang dan menang di dekat Niniwe, serta meminta pengembalian Salib tersebut, yang kemudian dikembalikan ke Yerusalem. Pada saat ini, yang dimuliakan bukanlah kekejaman Salib, melainkan Kasih yang Allah nyatakan kepada umat manusia dengan menerima kematian di atas Salib. Paus Fransiskus dengan terinspirasi oleh Santo Paulus, pernah berkata: “Dia, yang walaupun dalam rupa Allah, Ia mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba. Inilah kemuliaan Salib Yesus!”


Dalam bacaan Injil hari ini, kita mendengar Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus: ‘Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga kecuali Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa mengangkat ular di padang gurun, demikian pula Anak Manusia harus diangkat, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal.’ Sebab Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Sebab Allah tidak mengutus Anak-Nya ke dunia untuk menghakimi dunia, melainkan agar dunia diselamatkan melalui-Nya (Yoh 3:13-17; Bil. 21:4-9).


Paus Benediktus XVI pernah menulis: “Menjadi seorang Kristen, bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan yang luhur, melainkan pertemuan dengan suatu peristiwa.” Perikop Injil yang kita baca bersama dalam liturgi kita pada Pesta Salib Suci hari ini, menunjukkan bahwa Allah ingin menjalin hubungan kasih dengan setiap orang. Hal ini ditawarkan melalui Putra-Nya, Yesus, yang ditinggikan di atas Salib. Sebab itu dengan mengarahkan pandangan kita kepada Allah mengungkapkan kebenaran yang sangat penting yakni kita diundang untuk kembali menjalin hubungan dengan-Nya. Kita perlu berhenti merenung pada diri sendiri, memelihara rasa bersalah yang sia-sia, dan melupakan bahwa “apa pun yang dihukum oleh hati kita, Allah lebih besar daripada hati kita” (1 Yoh 3:20). Marilah kita boleh mengangkat mata kita ke arah bintang-bintang (ingatlah Abraham dan janji keturunan yang banyak), sambil tahu bagaimana menyerahkan setiap kekhawatiran kepada Allah.


Mengangkat pandangan kita seharusnya tidak memicu rasa takut, melainkan rasa syukur, karena pengangkatan itu adalah ukuran kasih yang dengannya Allah mengasihi anak-anak-Nya, dalam Putra-Nya. Oleh karena itu, Rahmat Allah-lah yang, sebagaimana terjadi pada Nikodemus, menerangi kegelapan hidup kita dan memungkinkan kita untuk melanjutkan perjalanan kita. Kita tidak dapat bersikap netral terhadap Salib Yesus. Kita berada di pihak-Nya atau melawan-Nya. Pilihan harus dibuat sebelum setiap tindakan, sebab tindakan seorang Kristen tidak lain adalah kesaksian bahwa “Allah begitu mengasihi kita sehingga Ia mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, Yesus”.


Mari kita memandan Salib kehidupan kita. Salib adalah pengorbanan kasih Allah yang paling agung, yang menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian. Kita juga memiliki salib yang agung ketika kita mengurbankan diri untuk kebaikan sesama yang lain. Dalam kehidupan sebagai orang Katolik, salib pribadi kita itu berarti cobaan, penderitaan, dan pengorbanan sehari-hari yang spesifik yang harus kita terima dan pikul untuk mengikuti Yesus Kristus. Ini bukan sekadar soal menjalani hidup yang sulit atau menghadapi nasib buruk. Ini adalah jalan rohani untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan membantu menyelamatkan jiwa-jiwa. Salib menyelamatkan diri kita dan menyelamatkan sesama.


P. John Laba, SDB

Sunday, September 13, 2026

Homili Hari Minggu Biasa XXIVA - 13 September 2026

Hari Minggu Biasa XXIVA

Sir. 27:33-28:9

Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12

Rm. 14:7-9

Mat. 18:21-35


Mengampuni itu indah


Ada sebuah kisah inspiratif tentang pengampunan. Dahulu kala, di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung, hiduplah seorang penenun tua bernama Leo. Leo terkenal ke mana-mana karena dapat menciptakan permadani yang paling indah dan rumit di seluruh kerajaan. Karyanya begitu hidup sehingga orang-orang berkata bahwa ia bisa mendengar desiran angin yang menerpa pepohonan yang teranyam dalam kainnya. Leo memiliki seorang murid muda bernama Tomas. Tomas memang berbakat, tetapi ia juga tidak sabar dan sangat iri pada keahlian Leo. Ia menginginkan ketenaran dan pengakuan yang dimiliki Leo, dan ia menginginkannya seketika. 


Pada suatu malam, diliputi rasa iri, Tomas melakukan hal yang tak terbayangkan. Ia menyelinap ke bengkel Leo dengan membawa sepasang gunting besar. Ia mendekati mahakarya terbaik sang master—sebuah permadani megah yang membutuhkan waktu lima tahun bagi Leo untuk menenunnya, yang rencananya akan diserahkan kepada raja keesokan harinya. Dengan tangan gemetar, Tomas mengoyak kain itu hingga hancur berkeping-keping. Ia kemudian melemparkan gunting itu ke lantai dan melarikan diri ke dalam kegelapan malam, meninggalkan desa karena rasa bersalah dan malu. 


Ketika Leo memasuki bengkelnya keesokan paginya, hatinya hancur. Penduduk desa berkumpul, terkejut melihat kehancuran itu. Mereka mendesak Leo untuk memanggil pengawal kerajaan, mencari Tomas, dan memenjarakannya. Leo hanya menatap benang-benang yang hancur. Ia berlutut, mengambil gunting itu, dan berkata, “Kemarahan tidak akan dapat menenun kembali apa yang telah rusak.” Alih-alih memulai karya baru atau membalas dendam, Leo melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia duduk di depan alat tenunnya, mengambil benang-benang yang putus dan kusut dari mahakaryanya yang hancur, lalu mulai mengikatnya kembali. Ia menghabiskan berbulan-bulan memperbaiki kerusakan itu. Ia tidak berusaha menyembunyikan potongan-potongan yang putus; sebaliknya, ia menggunakan benang emas yang berkilau untuk mengikat bagian-bagian yang putus, menyatukan bekas luka permadani tersebut ke dalam desain yang sepenuhnya baru. 


Sepuluh tahun berlalu. Tomas menjalani hidup yang menyedihkan, terbebani oleh rasa bersalah yang menghancurkan. Ia telah berkelana dari kota ke kota, tak pernah menemukan kedamaian, selalu dihantui oleh kenangan wajah lelaki tua itu. Tak sanggup lagi menahan penyesalan, Tomas memutuskan untuk kembali ke desa, siap menghadapi para penjaga, menerima rantai, dan masuk penjara. Ia masuk ke bengkel Leo, berlutut, dan menangis. “Guru, akulah yang menghancurkan karya seumur hidup Anda,” isak Tomas. “Aku tidak memohon belas kasihan. Panggil para penjaga.” Leo, yang kini jauh lebih tua dan lemah, menatap mantan muridnya itu. Ia tidak berteriak. Ia tidak meminta bantuan. Sebaliknya, ia dengan lembut meletakkan tangannya di bahu Tomas yang gemetar dan membantunya berdiri. “Lihatlah ke belakangmu, Tomas,” kata Leo dengan lembut. Di dinding utama bengkel itu tergantung permadani paling megah yang pernah dilihat siapa pun. Itu adalah karya yang hancur, tapi kini telah berubah. 


Di tempat bekas luka dalam itu, sungai-sungai emas yang indah dan berkilauan kini mengalir melintasi lanskapnya. Bekas luka-luka itu telah membuat karya seni itu jauh lebih mendalam dan indah daripada yang pernah bisa dicapai semula. “Aku telah memaafkanmu pada pagi hari setelah kejadian itu,” kata Leo. “Menunggumu untuk menghadapi para penjaga akan membuatku tetap terkurung di bengkelku sendiri. Sebaliknya, aku memilih untuk menenun. Pengampunan itu untuk diriku sendiri, agar aku bisa terus berkarya. Namun emas ini… emas ini ditenun untukmu, agar ketika akhirnya kau kembali, kau akan melihat bahwa kesalahan terburukmu tidak menentukan akhir dari kisah ini.” Pengampunan sejati tidak menghapus masa lalu atau berpura-pura bahwa luka itu tidak pernah terjadi. Sebaliknya, seperti benang emas, ia mengambil potongan-potongan hidup kita yang hancur dan menenunnya menjadi sesuatu yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan tak terduga indahnya.


Mengampuni itu indah meskipun kita pernah tersayat dan meninggalkan luka-luka kehidupan. Kata-kata Leo kepada Thomas menandakan keindahan sebuah pengampunan: “Aku telah memaafkanmu pada pagi hari setelah kejadian itu, menunggumu untuk menghadapi para penjaga akan membuatku tetap terkurung di bengkelku sendiri. Sebaliknya, aku memilih untuk menenun. Pengampunan itu untuk diriku sendiri, agar aku bisa terus berkarya. Namun emas ini… emas ini ditenun untukmu, agar ketika akhirnya kau kembali, kau akan melihat bahwa kesalahan terburukmu tidak menentukan akhir dari kisah ini.” Perkataan ini membantu kita untuk merenungkan perkataan Tuhan yang sangat inspiratif tentang mengampuni itu indah. 


Penulis kitab Putra Sirak dengan sangat indah melukiskan jalan pengampunan yang mesti kita lakukan dalam hidup kita sehari-hari. Ia menulis: “Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga jika engkau berdoa” (Sir 28:2). Memang menganpuni sesama adalah syarat mutlak untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Menyimpan amarah atau membalas dendam hanya akan mendatangkan hukuman Ilahi atas diri sendiri. Hal yang lain adalah kemunafikan dari ketidakmampuan untuk mengampuni. Ini merupakan sebuah kontradiksi untuk menaham belaskasihan  dari sesama manusia, yang memiliki seribu satu kelemahan fana yang sama, lalu meminta Tuhan untuk penyembuhan dan pengampunan atas kesalahan sendiri (Sir 28: 3-5). Hal indah yang mendukung semangat mengampuni adalah menghindari perselisihan (Sir 28:8-9).


Tuhan Yesus mengingatan Simon Petrus yang dengan polosnya bertanya tentang pengampunan secara matematis. Baginya hanya tujuh kali. Tetapi Tuhan Yesus mengubah mindsetnya dengan mengatakan: “Bukan hanya tujuh kali, namun tujuh puluh kali tujuh kali”. Tuhan Yesus mengharapkan agar kita semua saling mengampuni satu sama lain dan pengampunan itu tiada batasnya karena Tuhan sendiri telah mengampuni kita atas hutang yang mustahil untuk kita bayar. Tuhan mengampuni kita secara total maka kita pun mengampuni sesama secara total. 


Mengapa kita perlu mengampuni tanpa batas? Kita mengampuni tanpa batas karena Tuhan sendiri mengampuni kita secara sempurna dan total. Tuhan mengampuni kita karena kita adalah milik-Nya. Santo Paulus menulis: “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” (Rom 14:8). Mengampuni itu indah karane kita sendiri mengalami pengampunan dari Tuhan. Mari kita mulai mengampuni diri sendiri sehingga kita juga mengampuni sesama yang melukai hidup kita.


P. John Laba, SDB 

Saturday, September 12, 2026

Pesta Nama Tersuci Maria

Sejarah dan Makna Pesta Nama Maria yang tersuci


Setiap tahun, pada tanggal 12 September, Gereja Katolik merayakan Pesta Nama Maria yang Tersuci, sebuah momen devosi dan refleksi untuk menghormati Bunda Yesus, merayakan perannya sebagai perantara yang penuh belas kasihan bagi setiap manusia di hadapan Allah, serta mengajak umat beriman untuk merenungkan makna mendalam dari nama tersucinya. Pesta Nama tersuci Maria adalah saat di mana umat beriman berkumpul untuk merayakan sosok Bunda Maria, merenungkan pentingnya nama-Nya yang memainkan peran krusial dalam sejarah keselamatan, serta mengenang cintanya yang tak terbatas kepada Yesus, Putranya.


Pesta Nama teruci Maria bukan hanya tentang Bunda Maria, tetapi juga memiliki implikasi mendalam dalam hubungan antara umat beriman dan konsep keilahian itu sendiri. Pesta ini melambangkan hubungan antara yang manusiawi dan yang ilahi, iman dan harapan. Pesta ini mengajak umat beriman untuk mencari inspirasi dalam kehidupan Maria, yang, meskipun mengetahui nasib tragis yang menanti Putranya, sepenuhnya menerima kehendak ilahi. Penerimaan yang mendalam, rendah hati, dan penuh penderitaan ini menjadikan-Nya teladan yang unik bagi semua umat Kristiani.


Bahkan hingga kini, nama Maria adalah salah satu nama yang paling umum di dunia, baik dalam variasi maupun bentuk aslinya. Hal ini menunjukkan ikatan yang kuat antara manusia dengan sosok Maria serta makna spiritualnya. Pada tanggal 12 September, kita merayakan hari nama Maria dan semua wanita yang menyandang namanya.


Arti Nama Maria


Nama tersuci Maria memiliki nilai simbolis yang signifikan dalam agama Kristen. Nama ini berasal dari bahasa Ibrani Myriam atau Miriam. Maria telah dipanggil dengan berbagai cara sepanjang sejarah agama, namun esensi rahmat, kerendahan hati, dan pengabdiannya kepada kehendak ilahi tetap tak berubah. Nama Maria bukan sekadar gelar, melainkan simbol kelembutan dan kemurnian. Nama ini membangkitkan perasaan kasih sayang dan penghiburan, yang melambangkan cahaya penuntun di tengah kegelapan kehidupan manusia.


Salah satu penafsiran paling awal mengenai nama Maria berasal dari Anna, ibunya, yang, dalam ucapan syukurnya kepada Tuhan atas karunia seorang putri, memberinya nama ini yang, seiring waktu, memiliki makna “karunia yang diterima dari Tuhan”.


Pesta Nama Maria yang tersuci tidak hanya terbatas pada perayaan nama itu sendiri, tetapi juga mengenang berbagai gelar Maria.


Laut


Asal usul nama dari bahasa Ibrani Maryam memiliki hubungan dengan laut. Maria dipandang sebagai “laut” kebaikan dan kelembutan, samudra tempat rahmat dan kasih ilahi mengalir bagaikan sungai-sungai.


Kepahitan


Penafsiran lain yang menggugah dari nama Maria mengaitkannya dengan kata mrr, yang berarti “merasa pahit”, yang mengingatkan pada citra Maria sebagai Bunda Berduka. Tak ada seorang pun yang sesuci dirinya; tak ada seorang pun yang menderita seperti yang dialaminya.


Bintang


Asal usul lain dari nama Maria menghubungkannya dengan or, yang berarti “cahaya”, dan yam, yang berarti “laut”. Penafsiran ini menyiratkan makna “penerang” atau “bintang laut”. Gambaran bintang, simbol harapan dan ketenangan setelah badai, mungkin mengingatkan pada peran Maria dalam mengusir dosa dan membawa Allah ke dalam hati umat manusia.


Doa Ave Maris Stella mengingatkan pada gambaran Maria sebagai bintang yang bersinar, menuntun umat beriman melalui kegelapan hidup menuju Kristus dan Allah, layaknya Bintang Utara yang menunjukkan jalan. Gambaran ini mencerminkan keyakinan para orang beriman bahwa Maria dapat memimpin mereka menuju cahaya rohani dan keselamatan, sebagaimana Bintang Utara selalu menjadi penuntun dan harapan bagi mereka yang berlayar ke laut dan, dalam arti yang lebih luas, melintasi perairan berbahaya kehidupan. Santo Bernardus dari Clairvaux menggambarkan berpaling kepada dan mempercayakan diri kepada Maria, Stella Maris, pada saat-saat tergelap dalam hidup—ketika dilanda godaan dan kesengsaraan—sebagai suatu tindakan iman dan kepercayaan.


12 September – Nama Maria yang tersuci


Pesta Nama Maria yang tersuci memiliki akar sejarah kuno, setidaknya sejak abad ke-13, namun baru secara resmi dimasukkan ke dalam kalender liturgi gereja universal pada tahun 1684 oleh Paus Innosensius XI. Pesta ini, yang selama berabad-abad memperoleh makna mendalam tidak hanya bagi sejarah keagamaan tetapi juga sejarah politik di Eropa, ditetapkan sebagai tanggapan atas kebutuhan mendesak untuk menghormati Bunda Maria dan nama-Nya, yang dianggap sebagai simbol rahmat ilahi, harapan, dan perlindungan. Awalnya bermula di Keuskupan Cuenca, Spanyol, di mana perayaan ini dirayakan pada tanggal 15 September, perayaan ini kemudian menyebar ke keuskupan-keuskupan Spanyol lainnya atas kehendak berbagai paus, hingga akhirnya menjadi perayaan universal Gereja Katolik selama masa kepausan Paus Innosensius XI.


Pada tahun 1685, beliau mengeluarkan dekrit yang mengakui Hari Raya Nama Maria yang tersuci sebagai hari raya universal seluruh Gereja Katolik, dengan memindahkan tanggal perayaannya ke hari Minggu dalam Oktaf Kelahiran Maria, untuk memperingati perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 12 September 1683 di Wina, oleh Kaisar Leopold I dari Austria dan Raja Yohanes III Sobieski dari Polandia, yang bersatu melawan pasukan Turki yang saat itu mengepung Wina. Melalui Nama Maria yang tersuci Wina dibebaskan dari ancaman mengerikan ini.


Tidak mungkin tidak mengingat di sini asal-usul penghormatan kepada Bunda Maria Ratu Rosario, yang diperingati oleh Gereja pada 7 Oktober, hari di mana, pada tahun 1571, Pertempuran Lepanto berlangsung, di mana armada Liga Suci mengalahkan armada Kekaisaran Ottoman.


Pada tahun-tahun berikutnya, terjadi perubahan lebih lanjut pada tanggal perayaan tersebut, yang bahkan dihapus dari kalender Roma atas kehendak Paus Paulus VI. Paus Yohanes Paulus II-lah, dalam edisi ketiga Misal Roma pascakonsili pada tahun 2002, yang mengembalikan perayaan tersebut sebagai peringatan opsional pada tanggal 12 September. 

Homili 12 September 2026

Homili Sabtu, Pekan Biasa ke-XXIIIA

Pesta nama Santa Perawan Maria

1Kor 10: 14-22a

Mzm 116: 12-13. 17-18

Luk 6:43-49

 

Membangun Tubuh Kristus Masa Kini

 

De Mariam Nunquam Satis artinya tentang Bunda Maria tidai pernah ada kata yang cukup. Perkataan ini diucapkan oleh Santo Bernardus dari Clairvaux, sosok pencinta Santa Perawan Maria. Pada hari ini kita mengenang kembali perayaan nama tersuci Maria. Nama Maria selalu dikaitkan dengan laut, samudra, bintang dan tentu saja Tabut Perjanjian dan Hawa Baru. Perayaan nama tersuci santa Maria ini dirayakan empat hari setelah kelahiran santa perawan Maria. Kita ingat kembali bahwa kelahiran santa Maria dirayakan pada tanggal 8 september yang lalu. Maka empat hari kemudian, yakni pada tanggal 12 September kita mengenang nama Maria yang tersuci.

Sambil mengenang Bunda Maria, Saya teringat pada sosok seorang pemuda yang pernah berkata kepadaku: “Saya bangga sebagai pengikut Kristus. Demikian pengakuan sang pemuda dalam sharingnya ketika kami berekoleksi bersama. Ia adalah anggota Gereja yang baru, ia dibaptis sebagai orang Katolik dewasa beberapa tahun yang lalu. Dalam peziarahannya sebagai umat katolik selama lima tahun terakhir, ia merasa bangga sebagai orang Katolik yang mengikuti Yesus Kristus. Dia merasa bangga karena semangat persatuan yang menjadi sifat khas Gereja Katolik yakni Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Semangat persekutuan dirasakannya ketika mengikuti perayaan Ekaristi di tempat yang lain, liturginya sama dan semuanya tertuju kepada Kristus.

 

Sharing ini turut membantu renungan akan Sabda Tuhan kita pada hari Sabtu ini. Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus yang kita baca hari ini mengingatkan jemaat di Korintus dan kita yang membaca Kitab Suci pada saat ini untuk menjauhkan diri dari penyembahan berhala. Orang-orang Korintus terbiasa menyembah berhala sehingga perlu koreksi supaya mereka sungguh-sungguh menjadi anak Tuhan. Paulus sendiri mengakui bahwa perkataan yang dituliskan ini ditujukan kepada orang-orang yang bijaksana. Jemaat di Korintus perlu membuat pertimbangan yang matang tentang apa yang disampaikan oleh santo Paulus. Ia juga menekankan bahwa Ekaristi memiliki daya untuk mempersatukan semua orang sebagai satu jemaat. Piala syukur mempersatukan jemaat dengan Darah Kristus, sedangkan roti mempersatukan seluruh jemaat sebagai bagian dari Tubuh Kristus sendiri. Sebab itu, menurut santo Paulus:

 

“Karena roti itu hanya satu, maka kita ini sekalipun banayak merupakan satu tubuh, karena kita semua mendapatkan bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:17).

Perkataan santo Paulus kalau kita renungkan dalam konteks perayaan Nama tersuci santa Perawan Maria maka terdapat relasi seperti ini: Nama Maria berarti seorang yang memiliki cinta yang besar seluas samudra raya. Dialah pembawa terang (Stella Maris) dan kita tahu bahwa terang sejati adalah Yesus sendiri. Nama Maria juga berhubungan dengan kepahitan hidup atau dukacitanya sebagai ibu Yesus. Kita mengenal tujuh duka cita Maria dalam Injil yang memiliki hubungan yang erat dengan peristiwa Kristus sendiri. Semua ini membawa kita kepada persatuan sebagai satu Tubuh yaitu Tubuh Kristus sendiri. Maria adalah orang pertama yang bersatu dengan Tubuh Kristus. Kita mengikuti jejak Bunda Maria untuk bersatu dengan Kristus.

 

Untuk dapat bersatu dengan Tuhan atau sebagai bagian dari Tubuh Mistik Kristus maka kita perlu berubah. Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil hari ini membicarakan hal-hal yang erat terkait dengan persekutuan antara para pengikut sebagai Tubuh Mistik dan diri Kristus sendiri. Pertama-tama, Yesus berbicara tentang sebuah relasi antara pohon dan buah yang dihasilkan dari pohon itu. Bagi Yesus, “Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Demikian juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik/ Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya”. (Luk 6: 43-44). Belajar dari filosofi pohon, Tuhan Yesus lalu mengarahkan para murid-Nya untuk mengerti bahwa orang baik memilki hati yang baik yang dapat memberi hal yang baik kepada sesama. Berbeda dengann orang yang jahat karena memang hatinya jahat maka hal-hal yang jahat juga keluar dari perbendaharaannya yang jahat.

 

Pada filosofi pohon yang dikaitkan dengan hidup pribadi manusia maka kita juga dibantu untuk memandang Bunda Maria dan Tuhan Yesus. Relasi mereka adalah relasi Tuhan dan Umatnya dan reasi manusiawi yaitu relasi ibu dan anak. Dari Maria kita mengenal Yesus dan segala kebaikan-Nya. Secara manusiawi, Tuhan Yesus juga mendapatkan pengalaman manusiawi ini dari Maria, ibu Yesus. Kita mengagumi Yesus maka tentu saja kita mengagumi Maria. Ad Iesum per Mariam.

 

Hal kedua adalah tentang berseru kepada Tuhan tetapi lalai menjadi pelau Firman. Orang yang datang kepada Yesus karena mereka mendengar Sabda Tuhan. Oramg yang datang kepada Yesus, mendengar dan melakukan Sabda itu sama dengan orang yang mendirikan rumah di atas batu. Ini tentu kuat sekali karena batu adalah dasarnya. Berbeda dengan orang yang tidak mendengar dan juga tidak melakukan Sabda. Mereka itu seperti orang yang hanya membangun rumah di atas tanah yang lembek. Rumah itu tentu akan mudah hancur ketika dilanda banjir. Hal mendengar dan melakukan Sabda itu adalah hal yang penting dan harus kita laksanakan Kalau tidak, nemarlah perkataan Yesus kepada orang yanghanya berseri Tuhan dan Tuhan saja tetapi tidak menjadi pelaku sabda.

 

Bunda Maria adalah sosok yang mendengar, merenungkan dan meakukan Sabda secara sempurna. Tidak ada seoramg manusia yang enyerupa Maria dalam melakukan kehendak dan Sabda Tuhan sendiri. Di perayaan namanya yang tersuci ini, marilah kita memandang, menyapa dan mengikuti jejak Maria menuju kepada Yesus. Santa Maria, doakanlah kami. Amen.

 

P. John Laba, SDB