Showing posts with label Saint a Day. Show all posts
Showing posts with label Saint a Day. Show all posts

Tuesday, October 27, 2026

Bertumbuh dalam Kerajaan Allah

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXXA

Ef 5:21-33

Mzm 128:1-2.3.4-5

Luk 13:18-21


Bertumbuh menjadi Besar dalam Kristus


Pada hari ini kita mendengar dua perumpamaan yang keluar dari mulut Yesus, sang Anak Allah tentang Kerajaan Allah dan pertumbuhannya. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi dan ragi. Dari kedua perumpamaan ini, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa karya penebusan Allah itu dimulai dari hal-hal yang kecil, tampaknya tidak berarti apa-apa namun pada akhirnya menghasilkan dampak yang luar biasa. Dalam hal ini, biji sesawi yang kecil itu diambil dan ditaburkan sang penabur, lalu bertumbuh menjadi pohon besar sehingga burung-burung di udara dapat bersarang di ranting-rantingnya. Demikian juga ragi yang sedikit jumlahnya diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu  tiga sukat menjadi sebuah adonan yang besar. 


Santo Gregorius Agung memiliki penafsirab alegoris khususnya perumpamaan tentang biji sesawi. Ia mengaitkan perumpamaan ini dengan peziarahan hidup seorang pengikut Kristus. Inilah penafsiran alegoris santo Gregorius Agung: Pertama, Benih adalah niat baik. Benih biji sesawi yang kecil melambangkan niat baik kita yang sederhana dan kecil. Kedua, Tunas adalah Pertobatan kita. Saat biji sesawi itu berkecambah, tunasnya tersebut melambangkan tahap-tahap awal kita berpaling dari dosa dan memasuki pertobatan yang sejati. Ketiga, pohon adalah karya amal kasih yang kita lakukan sehari-hari. Ketika sesawi bertumbuh sempurna, sesawi tersebut lalu melambangkan kehidupan yang berakar pada kebajikan yang matang dan karya amal kasih, sehingga jiwa siap untuk “dipanen” menuju surga. Keempat, Kristus sebagai Tukang Kebun. Santo Gregorius menekankan bahwa kita tidak boleh berpikir bahwa niat baik atau usaha manusia saja sudah cukup. Kristuslah yang bertindak sebagai tukang kebun sejati bagi jiwa, dan hanya rahmat-Nya yang membuat kebajikan kita bertumbuh. Santo Gregorius Agung secara alegoris juga mengatakan bahwa Kristus sendiri sebagai Benih. Dalam renungan-renungan lain dari karyanya "Moralia in Job", Santo Gregorius memandang Kristus sendiri sebagai biji sesawi—yang dikuburkan di “kebun” kubur (makam) dan bangkit menjadi pohon yang besar, menyebarkan hidup-Nya ke seluruh bumi.


Menjadi pertanyaan bagi kita adalah apa hubungan kedua perumpamaan ini dengan kehidupan misioner di dalam Gereja? Tentu saja ada hubungannya karena hidup misioner juga bertujuan untuk ikut membangun Kerajaan Allah di dunia. Pertama, tentang biji sesawi. Para misionaris itu biasanya memulai karya misi di tempat yang terpencil dan sulit. Karena kuasa Tuhan Allah maka pekerjaan misioner itu menjadi besar. Kedua, tentang ragi. Ada penetrasi dan transformasi karya misioner yang dapat mengubah hidup banyak orang sehingga mereka bersatu dengan Tuhan. Ketiga, Para misionaris itu sabar dan setia untuk ikut membangun Kerajaan Allah. 


P. John Laba, SDB  

Saturday, September 12, 2026

Pesta Nama Tersuci Maria

Sejarah dan Makna Pesta Nama Maria yang tersuci


Setiap tahun, pada tanggal 12 September, Gereja Katolik merayakan Pesta Nama Maria yang Tersuci, sebuah momen devosi dan refleksi untuk menghormati Bunda Yesus, merayakan perannya sebagai perantara yang penuh belas kasihan bagi setiap manusia di hadapan Allah, serta mengajak umat beriman untuk merenungkan makna mendalam dari nama tersucinya. Pesta Nama tersuci Maria adalah saat di mana umat beriman berkumpul untuk merayakan sosok Bunda Maria, merenungkan pentingnya nama-Nya yang memainkan peran krusial dalam sejarah keselamatan, serta mengenang cintanya yang tak terbatas kepada Yesus, Putranya.


Pesta Nama teruci Maria bukan hanya tentang Bunda Maria, tetapi juga memiliki implikasi mendalam dalam hubungan antara umat beriman dan konsep keilahian itu sendiri. Pesta ini melambangkan hubungan antara yang manusiawi dan yang ilahi, iman dan harapan. Pesta ini mengajak umat beriman untuk mencari inspirasi dalam kehidupan Maria, yang, meskipun mengetahui nasib tragis yang menanti Putranya, sepenuhnya menerima kehendak ilahi. Penerimaan yang mendalam, rendah hati, dan penuh penderitaan ini menjadikan-Nya teladan yang unik bagi semua umat Kristiani.


Bahkan hingga kini, nama Maria adalah salah satu nama yang paling umum di dunia, baik dalam variasi maupun bentuk aslinya. Hal ini menunjukkan ikatan yang kuat antara manusia dengan sosok Maria serta makna spiritualnya. Pada tanggal 12 September, kita merayakan hari nama Maria dan semua wanita yang menyandang namanya.


Arti Nama Maria


Nama tersuci Maria memiliki nilai simbolis yang signifikan dalam agama Kristen. Nama ini berasal dari bahasa Ibrani Myriam atau Miriam. Maria telah dipanggil dengan berbagai cara sepanjang sejarah agama, namun esensi rahmat, kerendahan hati, dan pengabdiannya kepada kehendak ilahi tetap tak berubah. Nama Maria bukan sekadar gelar, melainkan simbol kelembutan dan kemurnian. Nama ini membangkitkan perasaan kasih sayang dan penghiburan, yang melambangkan cahaya penuntun di tengah kegelapan kehidupan manusia.


Salah satu penafsiran paling awal mengenai nama Maria berasal dari Anna, ibunya, yang, dalam ucapan syukurnya kepada Tuhan atas karunia seorang putri, memberinya nama ini yang, seiring waktu, memiliki makna “karunia yang diterima dari Tuhan”.


Pesta Nama Maria yang tersuci tidak hanya terbatas pada perayaan nama itu sendiri, tetapi juga mengenang berbagai gelar Maria.


Laut


Asal usul nama dari bahasa Ibrani Maryam memiliki hubungan dengan laut. Maria dipandang sebagai “laut” kebaikan dan kelembutan, samudra tempat rahmat dan kasih ilahi mengalir bagaikan sungai-sungai.


Kepahitan


Penafsiran lain yang menggugah dari nama Maria mengaitkannya dengan kata mrr, yang berarti “merasa pahit”, yang mengingatkan pada citra Maria sebagai Bunda Berduka. Tak ada seorang pun yang sesuci dirinya; tak ada seorang pun yang menderita seperti yang dialaminya.


Bintang


Asal usul lain dari nama Maria menghubungkannya dengan or, yang berarti “cahaya”, dan yam, yang berarti “laut”. Penafsiran ini menyiratkan makna “penerang” atau “bintang laut”. Gambaran bintang, simbol harapan dan ketenangan setelah badai, mungkin mengingatkan pada peran Maria dalam mengusir dosa dan membawa Allah ke dalam hati umat manusia.


Doa Ave Maris Stella mengingatkan pada gambaran Maria sebagai bintang yang bersinar, menuntun umat beriman melalui kegelapan hidup menuju Kristus dan Allah, layaknya Bintang Utara yang menunjukkan jalan. Gambaran ini mencerminkan keyakinan para orang beriman bahwa Maria dapat memimpin mereka menuju cahaya rohani dan keselamatan, sebagaimana Bintang Utara selalu menjadi penuntun dan harapan bagi mereka yang berlayar ke laut dan, dalam arti yang lebih luas, melintasi perairan berbahaya kehidupan. Santo Bernardus dari Clairvaux menggambarkan berpaling kepada dan mempercayakan diri kepada Maria, Stella Maris, pada saat-saat tergelap dalam hidup—ketika dilanda godaan dan kesengsaraan—sebagai suatu tindakan iman dan kepercayaan.


12 September – Nama Maria yang tersuci


Pesta Nama Maria yang tersuci memiliki akar sejarah kuno, setidaknya sejak abad ke-13, namun baru secara resmi dimasukkan ke dalam kalender liturgi gereja universal pada tahun 1684 oleh Paus Innosensius XI. Pesta ini, yang selama berabad-abad memperoleh makna mendalam tidak hanya bagi sejarah keagamaan tetapi juga sejarah politik di Eropa, ditetapkan sebagai tanggapan atas kebutuhan mendesak untuk menghormati Bunda Maria dan nama-Nya, yang dianggap sebagai simbol rahmat ilahi, harapan, dan perlindungan. Awalnya bermula di Keuskupan Cuenca, Spanyol, di mana perayaan ini dirayakan pada tanggal 15 September, perayaan ini kemudian menyebar ke keuskupan-keuskupan Spanyol lainnya atas kehendak berbagai paus, hingga akhirnya menjadi perayaan universal Gereja Katolik selama masa kepausan Paus Innosensius XI.


Pada tahun 1685, beliau mengeluarkan dekrit yang mengakui Hari Raya Nama Maria yang tersuci sebagai hari raya universal seluruh Gereja Katolik, dengan memindahkan tanggal perayaannya ke hari Minggu dalam Oktaf Kelahiran Maria, untuk memperingati perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 12 September 1683 di Wina, oleh Kaisar Leopold I dari Austria dan Raja Yohanes III Sobieski dari Polandia, yang bersatu melawan pasukan Turki yang saat itu mengepung Wina. Melalui Nama Maria yang tersuci Wina dibebaskan dari ancaman mengerikan ini.


Tidak mungkin tidak mengingat di sini asal-usul penghormatan kepada Bunda Maria Ratu Rosario, yang diperingati oleh Gereja pada 7 Oktober, hari di mana, pada tahun 1571, Pertempuran Lepanto berlangsung, di mana armada Liga Suci mengalahkan armada Kekaisaran Ottoman.


Pada tahun-tahun berikutnya, terjadi perubahan lebih lanjut pada tanggal perayaan tersebut, yang bahkan dihapus dari kalender Roma atas kehendak Paus Paulus VI. Paus Yohanes Paulus II-lah, dalam edisi ketiga Misal Roma pascakonsili pada tahun 2002, yang mengembalikan perayaan tersebut sebagai peringatan opsional pada tanggal 12 September. 

Tuesday, September 8, 2026

Homili 8 September 2026 - Kelahiran Santa Perawan Maria

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XXIIIA

Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria

Mi 5:1-4a

Mzm 13: 6ab. 6cd

Mat 1: 1-16.18-23


Merayakan Kelahiran Sang Bunda Allah


Di dalam liturgi Gereja Katolik, kita merayakan ulang tahun untuk tiga sosok  penting. Sosok pertama adalag santo Yohanes Pembaptis yang kita rayakan setiap tanggal 24 Juni. Ketika Bunda Maria menerima khabar dari Malaikat Gabriel, ia mendapat berita bahwa sanaknya Elizabeth sedang hamil enam bulan, meski disebut mandul (Luk 1:36). Bunda Maria menolongnya selama tiga bulan, artinya hingga kelahiran Yohanes Pembaptis baru Maria kembali ke Nazaret. Sosok kedua adalah Bunda Maria yang kelahirannya dirayakan pada hari ini, 8 September. Perhitungannya adalah bahwa pada tanggal 8 Desember kita merayakan Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa. Sembilan bulan kemudian yakni pada tanggal 8 September, kita merayakan kelahirannya. Sosok ketiga adalah Tuhan Yesus sendiri. Kita merayakan Bunda Maria menerima Khabar Sukacita bahwa ia mengandung dan melahirkan Yesus pada tanggal 25 Maret, sembilan bulan kemudian yakni tanggal 25 Desember kita merayakan kelahiran Tuhan Yesus pada hari Natal. Ini adalah perayaan ulang tahun yang lanka di dalam Gereja.

Perayaan kelahiran Santa perawan Maria atau Nativitas Maria dirayakan pada hari ini, 8 September. Gereja Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks Timur merayakannya dengan meriah. Ini berbeda dengan gereja-gereja yang masih mengikuti kalender Julian yang merayakan pesta ini pada setiap tanggal 21 September. Di kalangan Gereja Ortodoks Timur, mereka  menyebutnya perayaan kelahiran Bunda Suci, Theotokos. Pernyataan Maria sebagai Bunda Allah atau Theotokos sejak Konsili Efesus pada tahun 431. Konsili ini memang diadakan untuk membahas isu-isu hangat di dalam Gereja termasuk kontroversi besar tentang Bunda Maria pada zaman Uskup Nestorius dari Suriah.


Apa pesan Tuhan pada hari kelahiran santa perawan Maria ini? Nabi Mikha dalam bacaan pertama bernubuat tentang janji Tuhan bahwa Bethlehem di wilayah Efrata memang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, namun darinya akan bangkit seorang yang akan memerintah Israel. Dialah Mesias yang memerinta dengan jiwa sebagai gembala Agung. Dialah yang akan membawa kedamaian, keamanan, dan pemulihan bagi umat Allah. 


Selanjutnya, ada pokok-pokok pikiran penting dari perikol kita ini yakni, pertama, Berawal dari yang kecil. Tuhan memilih Bethlehem (Efrata), sebuah kota kecil dan dipandang sebelah mata di Yehuda namun akan melahirkan penguasa Israel. Di sini Tuhan selalu memandang yang kecil di mata manisia namun agung di mata-Nya sebagai Tuhan. Ini adalah tujuan ilahi dari Tuhan. Bunda Maria berasal dari keluarga kecil dan menjadi luhur di mata Tuhan. Kedua, Perikop ini mencatat bahwa asal usul penguasa ini bermula dari zaman kuno, dari kekekalan. Sang Mesias yang lahir ke dunia itu berasal dari kekekalan dan digenapi oleh Yesus Kristus yang lahir dari Maria. Ketiga, Mesias sebagai pemimpin adalah sosok seorang gembala ilahi. Ia sebagai leader yang datang dan berdiri serta menggembalakan kawanan domba dalam kekuatan Tuhan. Keempat, sang Mesias juga akan membawa keamanan dan kedamaian sejati. Ini akan dirasakan oleh umat yang percaya kepada Tuhan. Nubuat Mikha sungguh terlaksana di dalam di Santa Perawan Maria dan Yesus Kristus Puteranya. 


Dala, bacaan Injil, Penginjil Matius mengisahkan tentang silsilah Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Dia adalah Mesias yang sudah diwartakan para nabi termasuk Mikha. Dia adalah raja sejati dalam garis keturunan Daud dan Abraham. Dia adalah Imanuel, Allah beserta kita, yang lahir dari seorang perawan. Dialah Maria, Bunda Yesus sebagaimana disampaikan Malaikat Gabriel kepadanya. Maria sebagai Ibu Yesus mengandung dari Roh Kudus. Yusuf sebagai Bapa Pengasuh hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah Bapa. 


Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa pada pesta kelahiran Santa Perawan Maria, namun yang menjadi permenungan kita adalah kisah Yesus? Ya karena Yesus selalu menjadi nomor satu. Maria adalah Ibu Yesus (Mat 1:18), dia yang mengandung dari Roh Kudus. Kelahiran Maria di dalam keluarga Santa Ana dan Yoakim juga merupakan kehendak Tuhan. Keluarganya yang sederhana dan saleh menjadi alasan Tuhan memilihnya menjadi Bunda Yesus, Putera Allah. 


Kelahiran santa Perawan Maria memiliki makna tertentu. Pertama, Maria menjadi fajar keselamatan, Di sini Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur merayakan hari ini sebagai "fajar sebelum matahari terbit", menandakan bahwa Yesus Kristus, Sang Juru Selamat, akan segera lahir bagi keselamatan manusia. Kedua, penghromatan kepada orang tua. Tradisi menyebutkan bahwa Maria dilahirkan dari Santo Yoakim dan Santa Anna, pasangan lanjut usia yang berdoa memohon anak, sehingga perayaan ini secara tidak langsung juga merupakan perayaan bagi keluarganya. Kelahiran Maria menjadi kelahiran baru bagi kita. Kita beruba dan bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama sebagaimana di teladani oleh Bunda Maria. Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami. Amen.


P. John Laba, SDB

Saturday, September 5, 2026

Kutipan Perkataan St. Theresia dari Kalkuta

 

Kutipan dari Bunda Teresa dari Kalkuta

 

1.     

 “Jika anda menghakimi orang lain, anda tidak akan memiliki waktu untuk mencintai mereka.”

2.      “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Namun, kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

3.   “Kedamaian dimulai dengan sebuah senyuman..”

4.      “Saya tidak tahu persis seperti apa surga itu, namun saya tahu bahwa ketika kita meninggal dunia dan tiba saatnya Tuhan menghakimi kita, Dia tidak akan bertanya, ‘Berapa banyak perbuatan baik yang telah anda lakukan dalam hidupmu?’ melainkan Dia akan bertanya, ‘Seberapa besar cinta yang anda curahkan dalam apa yang anda lakukan?’”

5.      “Kemarin telah berlalu. Besok belum tiba. Kita hanya memiliki hari ini. Mari kita mulai.”

6.      “Setiap kali anda tersenyum kepada seseorang, itu adalah tindakan kasih, sebuah hadiah bagi orang tersebut, sesuatu yang indah.”

7.      “Jangan berpikir bahwa cinta, agar tulus, haruslah luar biasa. Yang kita butuhkan adalah mencintai tanpa lelah. Setialah dalam hal-hal kecil karena di situlah letak kekuatanmu.”

8.      “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah diucapkan, tetapi gaungnya sungguh tak berujung.”

9.      “Kemiskinan yang paling mengerikan adalah kesepian, dan perasaan tidak dicintai.”

10. “Jangan biarkan siapa pun datang kepadamu tanpa pergi dengan menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Jadilah perwujudan kasih Tuhan yang hidup: kebaikan di wajahmu, kebaikan di matamu, kebaikan dalam senyummu.”

11. “Jika kita tidak memiliki kedamaian, itu karena kita telah lupa bahwa kita saling memiliki.”

12. “Apa yang bisa anda lakukan untuk mempromosikan perdamaian dunia? Pulanglah dan cintailah keluargamu.”

13. “Bukan seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa banyak cinta yang kita tuangkan dalam pemberian itu.”

14. “Di akhir hidup, kita tidak akan dihakimi berdasarkan berapa banyak ijazah yang kita peroleh, berapa banyak uang yang kita hasilkan, atau berapa banyak hal hebat yang telah kita lakukan.

15. Kita akan dihakimi berdasarkan: ‘Aku lapar, dan kamu memberi aku makan; aku telanjang, dan kamu memberi aku pakaian; aku tak punya tempat tinggal, dan kamu menampungku.’”

16. “Aku sendiri tidak bisa mengubah dunia, tetapi aku bisa melemparkan batu ke atas air untuk menciptakan banyak riak.”

17. “Tuhan tidak menuntut kita untuk berhasil, Dia hanya menuntut agar kita berusaha.”

18. “Penyakit terbesar di Barat saat ini bukanlah TBC atau kusta; melainkan merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, dan tidak diperhatikan. Kita bisa menyembuhkan penyakit fisik dengan obat-obatan, tetapi satu-satunya obat untuk kesepian, keputusasaan, dan ketidakberdayaan adalah cinta. Ada banyak orang di dunia ini yang sekarat karena sepotong roti, tetapi ada lebih banyak lagi yang sekarat karena sedikit cinta. Kemiskinan di Barat adalah jenis kemiskinan yang berbeda — bukan hanya kemiskinan akibat kesepian, tetapi juga kemiskinan spiritual. Ada rasa lapar akan cinta, sebagaimana ada rasa lapar akan Tuhan.”

19. “Inilah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mempraktikkan kerendahan hati:

·       Sebisa mungkin tidak banyak berbicara tentang diri sendiri.

·       Mengurus urusan sendiri.

·       Tidak ingin mengatur urusan orang lain.

·       Menghindari rasa ingin tahu.

·       Menerima kritik dan koreksi dengan lapang dada.

·       Mengabaikan kesalahan orang lain.

·       Menerima hinaan dan perlakuan yang menyakitkan.

·       Menerima jika diremehkan, dilupakan, dan tidak disukai.

·       Menjadi baik dan lembut bahkan saat dipancing.

·       Jangan pernah mengutamakan harga diri sendiri.

·       Selalu memilih yang paling sulit.”

 

20. “Rasa lapar akan cinta jauh lebih sulit dihilangkan daripada rasa lapar akan roti.”

21. “Jangan pernah bepergian lebih cepat daripada kecepatan terbang malaikat pelindungmu.”

22. “Hidup sederhana agar orang lain pun dapat hidup dengan sederhana.”

23. “Doa bukanlah meminta. Doa adalah menyerahkan diri kepada Tuhan, berada di bawah kehendak-Nya, dan mendengarkan suara-Nya di kedalaman hati kita.”

24. “Aku adalah sebatang pensil kecil di tangan Tuhan yang sedang menulis, yang sedang mengirimkan surat cinta kepada dunia.”

25. “Jika anda rendah hati, tak ada yang akan menggoyahkanmu, baik pujian maupun celaan, karena anda tahu siapa dirimu.”

26. “Kita tahu betul bahwa apa yang kita lakukan hanyalah setetes air di lautan. Namun, jika tetesan itu tidak ada, lautan akan kehilangan sesuatu.”

27. “Jalan yang Sederhana

·       Keheningan adalah Doa

·       Doa adalah Iman

·       Iman adalah Cinta

·       Cinta adalah Pengabdian

·       Hasil dari Pengabdian adalah Kedamaian”

 

28. “Aku bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa anda lakukan, anda bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa aku lakukan; bersama-sama kita bisa melakukan hal-hal besar.”

29. “Tuhan menciptakan dunia untuk kesenangan manusia—seandainya kita bisa melihat kebaikan-Nya di mana-mana, kepedulian-Nya terhadap kita, kepedulian-Nya terhadap kebutuhan kita: panggilan telepon yang kita tunggu-tunggu, tumpangan yang ditawarkan kepada kita, surat di kotak surat, hal-hal kecil yang Dia lakukan untuk kita sepanjang hari. Saat kita mengingat dan menyadari kasih-Nya kepada kita, kita mulai jatuh cinta kepada-Nya karena Dia begitu sibuk dengan kita—kamu tidak bisa menolak-Nya. Aku percaya tidak ada yang namanya keberuntungan dalam hidup, itu adalah kasih Tuhan, itu milik-Nya.”

30. “Jangan menunggu para pemimpin; lakukanlah sendiri, dari orang ke orang.”

31. “Sebuah pengorbanan yang sejati harus mengorbankan sesuatu, harus menyakitkan, dan harus mengosongkan diri kita. Serahkan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan. Dia akan menggunakanmu untuk mencapai hal-hal besar dengan syarat bahwa kamu lebih percaya pada kasih-Nya daripada pada kelemahanmu.”