FILSAFAT ILMU
I. Lakukan analisis
atas jenis-jenis pengetahuan di bawah ini dan cantumkan sumber dan
contoh-contoh kalimat, pernyataan, perbincangan atau teorinya:
1. Pengetahuan sehari-hari
a. Pengertian
Apa itu
pengetahuan masih menjadi perdebatan serius di kalangan para filsuf dalam
cabang filsafat epistemologi. Definisi klasik apa itu pengetahuan dikemukakan
Plato yang mengatakan bahwa sebuah pernyataan hanya dapat dipandang sebagai
pengetahuan jika memenuhi 3 kriteria utama, yakni harus bisa dibuktikan (justified), harus benar, dan layak
menjadi keyakinan. Pendapat ini oleh kebanyakan filsuf sekarang tidak dipandang
sebagai kriteria yang memadai mengenai apa itu pengetahuan. Robert Nozick,
seorang filsuf ilmu abad ini, misalnya, mengatakan bahwa sebuah proposisi hanya
bisa diterima sebagai pengetahuan jika mengandung 4 kriteria utama: (1) sebuah
pernyataan adalah pengetahuan jika pernyataan itu benar; (2) jika seseorang
atau sebuah komunitas percaya bahwa pernyataan itu memang benar; (3) kalau jika
pernyataan itu salah (jadi bukan sebuah pengetahuan), maka subjek atau
komunitas juga harus menerimanya sebagai salah; dan (4) sebuah proposisi adalah
benar (bukan kondisional lagi seperti syarat pertama tetapi faktual), maka
subjek atau komunitas harus menerima kebenaran itu sebagai kebenaran yang bisa
diandalkan.
Kondisi
pengetahuan semacam ini pasti berbeda dengan keyakinan kaum positivis mengenai
pengetahuan. Filsuf seperti Ludwig Wittgenstein berpegang teguh pada
keyakinannya bahwa “what can be said at all can
be said clearly, and what we cannot talk about we must pass over in silence.” Artinya, di luar dari apa yang bisa
dikatakan mengenainya maka pikiran tidak bisa mendefinisikan atau mengatakan
mengenai sesuatu itu. Klaim kebenaran semacam ini sekaligus mengeluarkan
hal-hal yang sifatnya mistik—apa yang dalam filsafat tradisional dianggap
sebagai salah satu kajian filsafat—sebagai sumber pengetahuan. Sebuah
pernyataan hanya bisa diterima sebagai pengetahuan jika bisa diverifikasi
secara empiris.
Perdebatan
mengenai penegtahuan tentu tidak akan pernah selesai. Para filsuf idealis atau
konseptualis seperti Plato atau Rene Descartes akan mengidolakan pengetahuan
yang justifikasi kebenarannya tidak didasarkan pada referensinya pada kenyataan
real atau faktual tertentu. Sementara kaum positivis seperti Wittgenstein atau
Rudolf Carnap akan sangat menekankan justifikasi empiris sebagai basis dan
sumber pengetahuan.
Pengetahuan
sebagaimana diperdebatkan di atas sangat berbeda mengenai pengetahuan
sehari-hari (everyday knowledge).
Pengetahuan sehari-hari dibangun bukan berdasarkan refleksi kritis dan
pengambilan jarak terhadap realitas. Pengetahuan sehari-hari lebih mendasarkan
diri pada kerja akal sehat (common sense).
Sifatnya sangat praktis dan mengarahkan hidup manusia. Pengetahuan sehari-hari
yang praktis tersebut pertama-tama dimaksudkan untuk memecahkan
persoalan-persoalan keseharian yang dihadapi masyarakat, dan sama sekali tidak
dimaksud untuk dikembangkan lebih lanjut atau direfleksikan secara mendalam
demi tujuan pada dirinya sendiri. Meskipun demikian, pengetahuan sehari-hari
justru menjadi dasar dan titik tolak pengetahuan reflektif manusia. Tanpa
pengetahuan sehari-hari kita tidak mungkin berefleksi secara filosofis. Pengetahuan
ilmiah (scientific knowledge) pun
dibangun di atas basis pengetahuan sehari-hari ini.
b. Contoh
Masyarakat
desa tertentu melarang penebangan hutan di desa mereka. Bagi mereka, menebang
hutan berarti menelanjangi para penjaga hutan atau melecehkan roh nenek moyang.
Larangan semacam ini sebenarnya bisa dijelaskan secara saintifik, bahwa menebang
hutan berlebihan itu tidak baik karena merugikan kehidupan manusia dan makhluk
hidup lainnya. Inilah local wisdom yang bisa dikembangkan ke arah refleksi
filosofis dan ilmiah.
c. Rujukan
2. Pengetahuan filsafat
a. Pengertian
Filsafat
bertujuan merefleksikan realitas secara mendalam untuk menemukan
jawaban-jawaban final mengenainya. Filsafat mempertanyakan dan merefleksikan
realitas, termasuk kesadaran manusia sendiri yang merefleksikan realitas
tersebut. Pengetahuan yang dihasilkan dari refleksi yang radikal, kritis, dan
mendalam terhadap realitas, termasuk kesadaran subjek berpikir itu sendiri
disebut pengetahuan filosofis.
Pengetahuan
filosofis memiliki beberapa karakteristik penting. (1) Pengetahuan filosofis
mengakomodasi berbagai pendapat atau perbedaan mengenai kebenaran. Pengetahuan
tentang kebenaran (truth) tidak
pernah dirumuskan sekali untuk selamanya. (2) Pengetahuan filosofis berusaha
mensintesa berbagai klaim pengetahuan dan kebenaran. Daripada menjadi dogmatis
dan mempertahankan jenis pengetahuan atau kebenaran tertentu (pengetahuan
empiris, naturalis, idealis, konstruktivis, dan sebagainya), pengetahuan
filosofis membuka ruang seluas-luasnya bagi perdebatan aneka klaim pengetahuan
dan kebenaran. Itulah sebabnya mengapa pengetahuan dalam filsafat tidak pernah
bisa disepakati. (3) Pengetahuan filosofis bersifat rasional karena mendasarkan
diri pada prinsip-prinsip logika tertentu. Pengetahuan logis dibangun
berdasarkan refleksi logis atas kenyataan. (4) Pengetahuan filosofis bersifat
universal dalam arti bisa diterima, diperdebatkan, atau diteguhkan oleh
siapapun juga persis ketika sifatnya yang rasional tersebut.
b. Contoh-contohnya
“Hidup
yang tidak direfleksikan tidak layak dihidupi” (Aristoteles)
“Pengetahuan adalah hasil dari justifikasi terhadap
keyakinan yang benar” (Plato)
“Kota tidak akan pernah mencapai keadaan damai sebelum para filsuf-raja
menduduki kursi kekuasaan atau ketika mereka yang berkuasa sekarang melakukan
perenungan-perenungan filosofis, atau ketika kekuasaan politik dan filsafat
bersua” (Plato dalam Republic
473c-d)
c. Rujukan
3. Pengetahuan teologis
a. Pengertian
Dalam
konteks kekristenan, pengetahuan teologis dipahami sebagai jenis pengetahuan
yang dihasilkan pikiran manusia karena kerja atau kuasa Roh Kudus. Jenis
pengetahuan ini bersumber pada Tuhan sang maha tahu yang mewahyukan dirinya
kepada manusia, ”menunjukkan” diri melalui pikiran (nous) dan mengundang manusia berpartisipasi dalam pikiran Tuhan.
Dalam
islam, pengetahuan (Bahasa Arabic: علم : ilm) menunjukkan bahwa Allah
Sang Maha Mengetahui adalah salah satu sifat Allah dari 99 nama Allah yang
disembah. Pengetahuan dalam Islam selalu dipandang sebagai yang bersumber dan
datang dari Allah SWT (2:239). Dalam Haditz Nabi pun dikisahkan bahwa
Nabi Muhammad mengatakan kepada umatnya untuk selalu mencari dan mengusahakan
pengetahuan. ”Carilah pengetahuan sejak dari dalam kandungan hinggah ke liang
kubur”. Orang pintar dalam Islam disebut sebagai “alim”, sebutan yang
menunjukkan penghargaan agama ini pada pengetahuan.
Pengetahuan
teologis tentu tidak bisa diverifikasi secara saintifik seperti ilmu alam.
Jenis pengetahuan ini mengandaikan penerimaan mutlak manusia atasnya persis
ketika dia bersumber dari Tuhan sendiri sebagai sang maha mengetahui.
b. Contoh-contohnya
Surga disediakan
bagi mereka yang percaya dan setia menjalankan perintah Tuhan.
Allah akan membalas
segala kebaikanmu dan menghukum engkau karena kelalaianmu.
c. Rujukan
4. Pengetahuan mistik
a. Pengertian
Mistisisme dalam artinya yang luas dapat dikatakan
sebagai hasil akhir dan final dari hasrat manusia mencari pengetahuan.
Sebenarnya ini merupakan fenomena biasa dan umum dalam makhluk hidup, terutama
manusia. Pengetahuan mistik bisa ditelusuri dalam fenomena pengetahuan manusia
bahkan menyertai seluruh hasrat manusia dalam mengetahui. Misalnya,
keinginantahu atau kekaguman akan sesuatu mendorong pikiran manusia menanyakan
dan menemukan jawaban mengenai sesuatu itu. Filsafat pengetahuan menegaskan
bahwa meskipun pengetahuan akan sesuatu harus bisa dijustifikasi sebagai benar
atau salah (pembuktian sangat tergantung pada aliran epistemologi: empirisme
versus idealisme, objektivisme versus subjektivisme, dan sebagainya), pengetahuan
tersebut tidak pernah bersifat mutlak dan absolut. Karena itu, pengetahuan akan
sesuatu yang menampakkan diri kepada kesadaran selalu tidak pernah bisa
menjelaskan hakikat atau esensi dari sesuatu.
Padahal nalar (nous)
manusia diarahkan atau terbuka kepada realitas ultim (the ultimate reality) persis ketika manusia merasa tidak puas
dengan jawaban-jawaban yang bersifat sementara atas pertanyaan-pertanyaan
filosofisnya. Nalar manusia terarah kepada esensi atau realitas ultim tertentu
yang menjadi dasar atau penjelasan akhir bagi berbagai ihwal yang dihadapinya.
Di sinilah nalar memiliki kemampuan menangkap dan memahami realitas ultim
tertentu yang keberadaannya tidak dipasung atau dibatasi oleh ruang dan waktu.
Itulah realitas mutlak, realitas abadi, realitas yang tidak berubah di hadapan
realitas yang senantiasa berubah, realitas yang menjadi alasan keberadaan
realitas lain. Kemampuan nalar manusia dalam menangkap esensi atau realitas
ultim yang menjadi alasan keberadaan data atau fakta akan menghasilkan gagasan
atau idea mengenai esensi itu sendiri. Pengetahuan mengenai esensi inilah yang
disebut pengetahuan mistik.
Bagi orang beragama, pengetahuan tentang esensi atau
pengetahuan mistik ini dihayati sebagai momen ”perjumpaan” Tuhan sang Pencipta
dengan manusia selaku ciptaan. Pengetahuan mistik adalah pengalaman kesadaran
di mana pengetahuan yang sifatnya terbatas dalam kungkungan ruang dan waktu
mampu membawa kesadaran manusia kepada keabadiaan, kepada realitas ultim nan
agung. Inilah pengetahuan di mana Tuhan menyatakan diri dalam pikiran manusia
dan mengundang penyerahan diri total dari pihak manusia yang mengalami
pengetahuan mistik tersebut.
b. Contoh-contohnya
·
Kesadaran
akan makna hidup di hadapan berbagai penderitaan yang tidak bisa dijelaskan
hanya dengan mengandalkan empirisme atau naturalisme.
·
Kesadaran
akan kebesaran yang maha kuasa melalui renungan atas keteraturan alam semesta.
c. Rujukan
·
B. Sharpe, Mysticism: Its True Nature and Value,
London, Sands & Company, 2003.
5. Pengetahuan jurnalistik
a. Pengertian
Pengetahuan jurnalistik dimaksudkan sebagai pengetahuan
yang bersumber dari media massa. Media massa sendiri sebenarnya adalah seni
mengemas berita, seni mendeskripsikan materi dan opini dalam bahasa yang
populer sehingga mudah dipahami masyarakat. Media massa sebagai sumber
pengetahuan meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, bahkan handphone.
Dalam pengertiannya yang ketat, pengetahuan jurnalistik
tidak bisa dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah. Pengetahuan jurnalistik
hanya berurusan dengan bagaimana suatu peristiwa atau kejadian dideskripsikan
oleh jurnalis. Wartawan atau jurnalis berusaha menyajikan peristiwa apa adanya
seraya memperhatikan kaidah-kaidah penulisan jurnalistik atau etika
jurnalistik. Meskipun sangat deskriptif, sulit memastikan apakah pengetahuan
jurnalistik benar-benar objektif persis ketika kita kesulitan membedakan
karakteristik deskriptif sebuah pemberitaan dengan sudut pandang (angle) sang wartawan, kebijakan redaksi,
atau bahkan kepentingan pemilik modal.
Pengetahuan jurnalistik, dengan demikian, bersifat
deskriptif, sesaat, dan sementara. Pengetahuan tersebut dapat memicu
penyelidikan lebih lanjut, menggugah keinginan tahu, dan membuka perspektif
diskusi dan penjelasan lebih mendalam. Itu artinya mengandalkan hanya
pengetahuan jurnalistik dalam memecahkan suatu persoalan tentu tidaklah
memadai.
b. Contoh-contohya
Tanggal 3 Maret 2010, ribuan mahasiswa
berdemonstrasi di gedung DPR-RI. Mereka meminta DPR memutuskan secara objektif hasil
temuan Pansus Bank Century, apakah kebijakan dan implementasi bailed-out Bank
Century melanggar hukum atau tidak. Karena demonstrasi itu, ada lima mahasiswa
yang ditangkap polisi.
Karena penangkapan ini Sekretaris Jenderal Dewan
Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ton Abdillah Has, Kamis
(4/3) di Jakarta meminta Kapolri agar membebaskan rekan mereka. Para mahasiswa
itu yakin bahwa teman mereka tidak melakukan kesalahan.
Komentar:
Karena sifatnya yang deskriptif dan sesaat, objektivitas
pengetahuan jurnalistik semacam ini bernilai rendah. Belum bisa dipastikan
apakah mahasiswa yang ditangkap polisi itu memang tidak bersalah. Sama halnya
dengan persoalan apakah tindakan polisi menangkap mahasiswa dapat dikategorikan
sebagai tindakan profesional atau kesembronoan.
c. Rujukan
6. Pengetahuan ilmiah
a. Pengertian
Pengetahuan dihasilkan dari refleksi rasional, kritis, dan sistematis
pikiran manusia atas realitas. Refleksi itu pada gilirannya menghasilkan
penjelasan-penjelasan tertentu terhadap realitas tersebut. Pada level yang
paling rendah, pengetahuan mengenai realitas bersifat umum (general knowledge). Pengetahuan ini
menghasilkan prinsip-prinsip penjelas tertentu yang umumnya bersifat pragmatis,
karena mampu menjawab atau memecahkan masalah konkret tertentu yang dihadapi
manusia. Pengetahuan umum memiliki karakteristik tertentu yang dibutuhkan bagi
perkembangannya ke arah pengetahuan ilmiah. Misalnya, pengetahuan umum
dihasilkan dari kerja akal budi berdasarkan metodologi tertentu. Pengetahuan
umum juga memiliki karakteristik abstrak ketika prinsip penjelas realitas
(gagasan, asumsi, hipotesa) bersifat abstrak (kemampuan untuk dapat dibuktikan
tanpa harus mengacu kepada data faktual tertentu). Pengetahuan umum juga mulai
memperhatikan aspek objektivitas pengetahuan ketika pengetahuan dihasilkan
bukan semata-mata sebagai konstruksi pikiran si penahu, tetapi sebagai semacam
perjumpaan fenomenologis antara objek yang diketahui dan subjek yang
mengetahui.
Pengetahuan ilmiah lahir ketika pengetahuan umum mulai disistematisasi dan
dibakukan secara sistematis. Itulah sebabnya mengapa pengetahuan ilmiah tidak
hanya memiliki metodologi keilmuan yang ketat, tetapi juga teknik pembuktian
yang sangat bisa dipertanggungjawabkan. Pengetahuan ilmiah bekerja berdasarkan
metode-metode tertentu untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat.
Penjelasan-penjelasan pengetahuan ilmiah bersifat ilmiah karena teruji
berdasarkan kadar empirisnya dan prinsip universalitas penjelasannya. Meskipun
bersifat sementara, pengetahuan ilmiah dapat diandalkan sebagai penjelasan terhadap
berbagai fenomena yang kurang lebih sama dalam kehidupan sehari-hari.
b. Contoh-contohnya
”Aspirin merupakan obat yang telah lama dikenal memiliki efek
antitrombotik. Penelitian Women’s Health
Study (WHS) menunjukkan bahwa pemberian aspirin 100 mg pada wanita sehat
berusia 45 tahun ke atas selama 10 tahun menyebabkan penurunan risiko stroke
pada pada kelompok aspirin, namun tidak menyebabkan risiko miokard infark.
Berdasarkan hasil studi ini, maka penggunaan aspirin sebagai prevensi terhadap
tromboembolisme vena pada wanita pasca menopause yang menggunakan HRT merupakan
hal yang menjanjikan namun masih harus diuji efikasinya” (dikutip dari Majalah Kedokteran Damianus, Vol 8. No.
3 September 2009, hlm. 132).
c. Rujukan
Verhaak, C & R. Haryono Imam, Filsafat
Ilmu Pengetahuan. Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, Jakarta, PT. Gramedia
Pustaka Utama, 1991.
Keraf, A. Sony & Mikhael Dua, Ilmu
Pengetahuan. Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta, Kanisius, 2001.
II. Perbandingan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan
lainnya
Pada dasarnya semua jenis
pengetahuan yang telah diuraikan di atas memiliki dasar atau sumber tertentu yang
sama yakni berasal dari pengalaman, ingatan, kesaksian, minat dan rasa ingin
tahu, pikiran dan penalaran, logika, bahasa dan kebutuhan hidup manusia. Tentu
saja tidak semua jenis pengetahuan di atas memerlukan metode-metode ilmiah
tertentu. Pengetahuan sehari-hari misalnya, lebih mengandaikan pengalaman
konkret dari subjek atau bisa saja tergantung pada ingatan dan kesaksian yang
dia alami.Namun demikian bukan berarti pengetahuan non ilmiah meniadakan metode
ilmiah karena sumber-sumber yang disebutkan pun perlu dibuktikan sehingga
memiliki validitas tertentu.
Pengetahuan ilmiah merupakan jenis
pengetahuan yang diperoleh dan dipertanggungjawabkan kebenarannya secara
ilmiah dengan menerapkan metode ilmiah. Sebagaimana
di sebutkan di atas bahwa pengetahuan umum yang dialami manusia yang dihasilkan oleh
kerja akal budi
berdasarkan metodologi tertentu, sifatnya pun
masih abstrak ketika prinsip penjelas
realitas (gagasan, asumsi, hipotesa) bersifat abstrak (kemampuan untuk dapat
dibuktikan tanpa harus mengacu kepada data faktual tertentu). Pengetahuan umum ini dapat menjadi pengetahuan ilmiah
ketika disistemasi dengan metode imiah dan dapat di buktikan atau
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dengan demikian kita melihat bahwa antara
pengetahuan umum dan pengetahuan ilmiah memiliki keterkaitan satu sama lain.
Bedanya terletak pada metodologi dan sistemasi pembuktiannya.
III.Apakah bisa dikatakan bahwa Ilmu pengetahuan
lebih unggul dari jenis-jenis pengetahuan lainya atau tidak dapat dikatakan
demikian karena masing-masing memiliki keunggulan sendiri?
Pada
prinsipnya semua pengetahuan mengarahkan kita kepada apa yang diungkapkan oleh
Plato yakni harus bisa dibuktikan (justified),
harus benar, dan layak menjadi keyakinan. Dikatakan juga di atas bahwa semua
pengetahuan baik pengetahuan umum atau pengetahuan non ilmiah dan pengetahuan
ilmiah bersumber pada unsur-unsur atau sumber yang mirip seperti pengalaman,
ingatan, kesaksian, minat dan rasa ingin tahu, pikiran dan penalaran, logika,
bahasa dan kebutuhan hidup manusia. Hal yang membedakan justru pada sistematiasi
dan metodologi untuk menjadikan pengetahuan itu menjadi ilmiah. Oleh karena itu
pada hemat saya, Ilmu pengetahuan memiliki keunggulan pada bagian metodologi
penelitiannya yang hasilnya disistematisasi secara logis, kritis sebagai
dibukti dan meyakinkan orang. Pengetahuan-pengetahuan lain pun memiliki
keunggulan tertentu yang dapat berkembang dan mendukung pengetahuan ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
B.
Sharpe, Mysticism: Its True Nature and
Value, London, Sands & Company, 2003.
Chisholm,
Roderick. 1989. Theory of Knowledge, 3rd. ed., Englewood Cliffs:
Prentice Hall.
Greco,
J. & Sosa, E. 1999. Blackwell Guide to Epistemology, Blackwell
Publishing.
Keraf, A.S & Mikhael D. 2001. Ilmu
Pengetahuan. Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta,
Kanisius.
Sudarminta, J. 2002. Epistemologi
Dasar. Pengantar Filsafat Pengetahuan. Yogjakarta: Kanisius
Verhaak, C & R. Haryono Imam.
1991. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Atas Cara Kerja
Ilmu-ilmu, Jakarta, PT.
Gramedia Pustaka Utama.