Showing posts with label Spiritualitas Pria Katolik. Show all posts
Showing posts with label Spiritualitas Pria Katolik. Show all posts

Tuesday, January 28, 2014

Uomo di Dio

Kasih itu murah hati

Beberapa hari yang lalu saya merayakan misa Hari Ulang Tahun pernikahan sepasang suami istri yang ke-51. Pasutri ini memiliki dua anak putra dan putri dan dan enam cucu serta  dua cicit. Perayaan ekaristi berlangsung sangat meriah. Semua keluarga dan kerabat juga kelihatan bahagia dan bersyukur sehingga menambah sukacita pasutri yang rata-rata berusia 80 tahun itu. Pada saat homily, saya meminta kesaksian dari pasangan ini. Mereka berdua sepakat sehingga hanya suami yang memberi kesaksian.

Sang suami bercerita: “Kami merayakan hari ulang tahun pernikahan hari ini dengan meriah persis seperti yang terjadi 51 tahun yang lalu. Pengalaman yang sangat mengesankan saya adalah pada lima tahun pertama pernikahan kami. Istri saya waktu itu sakit-sakitan, kadang tidak bisa bangun. Kami hanya berdua dan jauh dari keluarga maka saya sendiri bertugas sebagai pelayan setianya. Saya bangun pagi menyiapkan sarapan, membereskan rumah, sering kali menyuapnya lalu pergi ke kantor. Kembali dari kantor saya berlaku lagi sebagai pembantu bagi nyonya. Kalau melihat status, saya bukan hanya suami tetapi di kantor saya adalah kepala bagi yang lain. Namun semakin lama saya melayaninya, saya merasa bahwa ini adalah cinta yang murni, sebuah cinta kasih rohani, sebuah agape. Saya berdoa meminta dua hal setiap malam setelah melayaninya danmelihatnya tidur yakni semoga istri saya cepat sembuh dan dikarunia anak. Tuhan mengabulkannya, istri saya sembuh. Dia melahirkan dua anak kami, sehat dan baik hingga saat ini”.

Pengalaman hidup seorang suami ini luar biasa. Saya kembali ke komunitas dengan sukacita karena belajar lagi sesuatu dari pengalaman iman umat yakni cinta kasih agape itu berakar pada pengorbanan diri, pada pelayanan tanpa pamrih. Cinta kasih agape tidak mengenal pangkat dan kedudukan. Di kantor anda boleh menjadi kepala yang memerintah dan memberi komando, di rumah anda adalah seorang bapa yang baik, bapa yang penuh kasih, bapa yang selalu siap untuk melayani. Saya lalu membayangkan, andaikan semua orang, para pasutri dapat menghayati cinta kasih agape ini maka keluarga dan masyarakat kita akan lebih manusiawi. Tidak ada kekerasan, penganiayaan dan aneka kejahatan kemanusiaan terhadap kaum wanita dan pria karena mereka berasal dari keluarga yang baik.

Santo Paulus dengan tepat mengungkapkan himne cinta kasih: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih itu tidak berkesudahan”. (1Kor 13:4-8). Semua yang diungkapkan Paulus ini mau menggambarkan Allah  dan Bapa kita dalam diri Yesus Kristus adalah kasih.

Kardinal Francis Xavier Van Thuan dari Vietnam pernah berkata: “Cinta kasih kepada sesama adalah ujian yang terpercaya mengenai cintamu kepada Allah. Nah mencintai sesama tidak berarti anda harus anda mencurahkan tanda-tanda afeksi kepada mereka atau merusakkan mereka; bahkan sebaliknya, engkau bisa sesekali terpaksa menyebabkan mereka merasa sedih demi kebenaran dan kebaikan mereka sendiri. Tuhan Yesus juga tidak mengajarkan anda untuk mencintai dengan menggunakan emosimu, karena Ia mengajarkan engkau untuk mencintai bahkan musuh-musuhmu. Mencintai sesama berarti dengan ikhlas mengharapkan yang baik bagi mereka dan bahwa engkau akan melakukan segala sesuatu untuk mengamankan kebahagiaan mereka”. Ungkapan Kardinal Van Thuan ini berdasarkan pada pengalaman pribadinya, di mana bertahun-tahun ia juga menderita di penjara. Di saat yang sulit itu, ia merasa sebagai ujian bagi iman dan cintanya kepada Allah dan kepada sesama khususnya yang sama-sama dipenjarakan maupun para sipir yang kadang-kadang berlaku kasar.

Cinta kasih itu murah hati. Tuhan Yesus memuji orang yang murah hati. “Berbahagialah orang yang murah hati karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat 5:7). Tuhan sendiri murah hati terhadap kita umatNya (Mat 20:15). Maka Tuhan Yesus berharap: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6:36). Kasih dan kemurahan hati adalah satu. Seorang pria katolik sungguh-sungguh kristiani kalau mampu mengasihi dan bermurah hati seperti Yesus sendiri. Anda pasti bisa!


PJSDB

Tuesday, January 21, 2014

Uomo di Dio

Persahabatan sejati itu mahal!

Kita selalu menemukan orang-orang yang memperoleh kesuksesan tertentu. Beberapa hari yang lalu, pesepak bola Christiano Ronaldo mendapat penghargaan untuk kedua kalinya sebuah bola emas. Ronaldo atau CR7 dinilai sukses secara pribadi dalam bidang sepak bola oleh para kapten dan pelatih kesebelasan sepak bola di seluruh dunia. Terlepas dari pro dan kontra bola emas ini, striker Real Madrid ini memang sangat populer. Siapa yang tidak mengenal CR7? Dari anak-anak kecil sudah mengenakan baju dengan nama Ronaldo dan menjadikannya sebagai idola. Tentu saja dengan memandang figurnya orang bercita-cita mau menyerupainya. Mereka diam-diam membangun persahabatan yang semu dengan sang idola, sebuah persahabatan jarak jauh. Ronaldo sendiri tidak mengenal para pengemarnya satu per satu.

Dalam dunia business ada orang tertentu yang cerdas dan bijaksana memiliki cara tertentu untuk memperoleh kekayaan. Ada orang yang berusaha untuk membuat sesuatu yang lebih supaya dapat memperoleh kekayaan yang berlimpah. Ada juga orang lain yang tidak menggunakan prinsip berbuat lebih tetapi melakukannya dengan jalan membangun persahabatan yang langgeng, dalam bentuk hubungan yang harmonis, dalam bentuk amal tanpa pamrih, dalam kapasitas untuk memahami sesama, dalam kesediaan untuk berbagi karunia dengan sesama yang lain.

Saya pernah terpesona dengan kehidupan Mr. Edward Choate. Dia berasal dari Los Angeles dan memiliki master key untuk sukses dalam pekerjaannya. Ia bekerja sebagai penjual asuransi jiwa. Ia pernah mengalami hidup yang keras karena usahanya ini gagal. Banyak kali ia menyendiri, memperhatikan, mendengar dan berpikir serta merenungkan nasibnya. Ia pernah mencapai grafik yang tinggi, kini dia berada di anak tangga terakhir, sebuah anak tangga kegagalan.

Pengalamannya yang keras ini mendorongnya untuk bermeditasi. Ia pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Ia juga menyadari bahwa kehilangan kekayaan materil bisa mengantarkan orang ke sumber kekayaan yang lebih besar yakni kekuatan rohani yang ada di dalam dirinya. Dia lalu memutuskan untuk membangun persahabatan sejati dengan membantu sesama manusia. Ia pernah secara kebetulan berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang mencari kerja. Ia membawanya ke rumah, memberinya makan, menghibur dan mengijinkankan untuk menginap di rumahnya sampai mendapat pekerjaan. Mr. Edward mengambil inisiatif dengan menunjukkan rasa belas kasihnya kepada pemuda itu. Ini ada kunci keberhasilannya. Pekerjaannya di asuransi mulai berjalan kembali hingga mencapai rekor tertinggi. Siapakah polis terbesarnya? Dialah atasan pemuda yang mencari kerja dan pernah ditolong oleh Mr. Edward. Ini adalah nilai persahabatan sejati. Cinta kasih menghasilkan buah yang berlimpah.

Banyak orang yang merasa sukses di dalam hidupnya memberi kesaksian bahwa kekayaan yang mereka miliki adalah hasil kecerdasan dan kebijaksanaannya sendiri. Sangatlah jarang orang  dengan jujur memberi pujian kepada orang lain yang menjadi sumber inspirasinya. Sesama, bahkan mereka yang berada di luar jangkauan hidup memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebahagiaan diri kita dan sesama yang lain. Ya, persahabatan sejati mengubah hidup kita.

Mari kita memandang Yesus sang Inspirator kita. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus membangun persahabatan sejati dengan manusia. Para murid yang siang dan malam bersamaNya adalah mereka yang merasakan persahabatan yang berakar dan mendalam. Ia sendiri berkata: “Kamu adalah sahabatKu,  Aku menyebutmu sahabat” (Yoh 15:14-15). Pria Katolik adalah sahabat-sahabat sejati  Yesus. Persahabatan sejati dapat membawa orang kepada kesuksesan dalam hidup. Pelajaran berharga dari tuan Edward mengatakan kepada kita semua bahwa kesuksesan di dalam hidup bukan semata-mata usaha pribadi atau menambah pekerjaan ekstra, melainkan pada belas kasih dan persahabatan sejati  dengan Tuhan dan sesama.

Sekarang mari kita memadang diri kita masing-masing. Apakah anda merasa bahwa dirimu juga penting bagi sesama. Apakah persahabatan-persahabatan yang dibangun selama ini memiliki nilai positif dan dapat meningkatkan taraf kehidupan sesama? Apakah anda juga seorang sahabat yang baik? Persahabatan sejati itu mahal!


PJSDB

Sunday, January 12, 2014

Uomo di Dio

Masa lalu itu sangat mendidik

Selama menjadi seorang biarawan dan imam dalam Serikat Salesian Don Bosco, banyak waktu saya habiskan sebagai formator atau Pembina di tempat pembinaan para calon imam dan bruder. Sebenarnya tempat pembinaan para calon imam dan bruder bukanlah tempat yang enak. Mungkin orang lebih suka menjadi imam di Paroki, Sekolah atau lembaga-lembaga social dalam Gereja tetapi bukan tempat pembinaan calon imam dan bruder. Betapa tidak, setiap formator harus memberi yang terbaik bagi para formandi atau mereka yang dibina. Perlu diketahui bahwa setiap jenjang pembinan selalu disesuaikan dengan Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis dari Takhta Suci dan dari kongregasi sendiri. Penjabaran Ratio selalu disesuaikan dengan spiritualitas kongregasi masing-masing.

Bagi para calon imam dan bruder yang baru masuk sebagai Aspiran dan Postulan kami memberi pembinaan yang memadai sebelum mereka naik ke tingkat yang lebih lanjut yakni masa novisiat. Di masa aspiran dan postulant, hal yang banyak kali menjadi fokus pembinaan kami adalah bagaimana membantu para pria calon iman dan bruder untuk mengenal dirinya dengan baik dan mematangkan motivasi panggilan mereka supaya dapat menjadi imam dan bruder yang baik. Ini bukanlah pekerjaan mudah selama satu dan dua tahun menyiapkan mereka. Apalagi latar belakang mereka berbeda-beda, misalnya banyak di antara mereka yang bukan berasal dari seminari menengah tetapi dari sekolah umum dan kejuruan. Faktor keluarga dan budaya yang turut memanusiakan para calon juga ikut berpengaruh dalam karakter pribadi mereka.

Setiap bulan saya selalu melakukan wawancara dengan para calon. Istilah teknis dalam kongregasi kami disebut Rendiconto. Setiap calon datang kepada saya dan mengatakan dirinya apa adanya dari factor kesehatan, hidup rohani, panggilan, relasi dengan sesama dalam komunitas dan di luar komunitas, afektifitas dan lain sebagainya. Si calon diharapkan jujur mengatakan apa adanya tentang dirinya sehingga sebagai formator saya bisa membantunya. Apabila ia tidak jujur maka ia juga tidak akan berkembang dalam kaitannya dengan dirinya sebagai calon imam dan bruder dalam kongregasi kami.

Satu kesulitan yang selalu dialami oleh para calon imam dan bruder adalah bagaimana mereka mampu membereskan masa lalu mereka. Banyak dari penderitaan dan nyeri fisik, masalah hubungan antar pribadi itu berakar pada masa lalu. Ketika saya memberi konferensi tentang kemurnian hidup, seorang calon imam dengan jujur datang kepada saya saat rendiconto dan mengatakan tentang penderitaan dan kekerasan masa lalunya karena menjadi korban pelecehan seksual dari orang yang lebih dewasa. Selama beberapa hari, pikirannya tentang penderitaan masa lalu itu selalu mengejar-ngejar dirinya, dan dia mengakui lelah segalanya, sehingga meminta dirinya untuk mundur dari statusnya sebagai calon imam. Nah, masalahnya bukan pada dirinya mundur dari biara tetapi pada bagaimana menyembuhkan luka masa lalu itu sehingga dia bisa menjadi pemuda yang sehat dan normal kembali. Bagaimana dirinya yang dihantui kekerasan dan pelecehan seksual itu dan membebaskan dia supaya dia jangan mencari korban baru.

Membereskan masa lalu bisa berarti memaafkan seseorang atas ketidakadilan atau kesalahannya yang telah dilakukannya bagi diri kita. Tindakan mereka telah melukai hidup dan masa depan kita. Nah masa lalu ini menjadi titik acuan untuk maju atau mundur. Memaafkan disini merupakan cara baru yang lazim untuk mengendalikan  rasa marah, mengurangi stress dan memulihkan kesehatan. Saya teringat pada Mohandas Gandhi yang pernah berkata: “Orang yang lemah tidak pernah bisa memaafkan, kemampuan untuk memaafkan adalah sifat orang kuat”. Ketika kita merasa bahwa masa lalu itu menyakitkan maka kita harus berjuang untuk menjadi kuat sehingga mampu menaklukan diri kita yang terluka, bisa menyembuhkan diri kita. Ini berarti kita harus menjadi orang kuat untuk melawan diri kita sebagai musuh nomor satu.

Catherine Ponder adalah seorang penulis yang juga prihatin terhadap masa lalu. Di dalam bukunya The Dynamic Laws of Prosperity, ia mengatakan bahwa memaafkan masa lalu adalah salah satu teknik yang dapat membuat kita menjadi kaya raya. Memaafkan diri dan masa lalu itu memiliki power yang luar biasa. Cobalah sebagai seorang pria katolik anda duduk sebentar dan tanyalah dirimu sendiri apa dan siapa yang perlu anda maafkan pada masa lalu. Apakah dia adalah Tuhan, orang tua, mantan pacar, istri, pimpinanmu yang harus anda maafkan. Pikirkan wajah mereka dan katakan dengan jujur, apakah anda yakin dapat memaafkan mereka dengan sepenuh hati.

Tentu memikirkan kembali itu sama dengan mengorek luka lama dan pedih rasanya. Nah, memaafkan berarti menghentikan perasaan sebagai korban dan berhenti menjadikan orang lain bertanggung jawab terhadap kehidupan kita. Dengan mempersalahkan orang lain kita secara pribadi mengesampingkan tanggung jawab pribadi kita. Misalnya saya adalah korban yang telah menderita karena dilecehkan, kini saya memberi mereka kekuasaan untuk menentukan kebahagiaan saya. Pikiran semacam ini dapat menyerang bagian-bagian tubuh yang lemah seperti perut, kepala, punggung sehingga terasa nyeri dan sakit. Sebenarnya kemampuan untuk memaafkan dapat mengobati luka-luka fisik kita: nyeri punggung, mengurangi stress dan memulihkan suasana hati.

Masa lalu itu sangat mendidik. Oleh karena itu kalau anda terluka silakan membereskan masa lalumu. Memaafkan adalah membebaskan orang yang dipenjarakan dan menyadari bahwa yang terpenjara itu adalah diri kita sendiri. Anda bisa keluar dari penjara itu kalau dirimu menyadari kehadiran Tuhan yang selalu menyapamu: “Aku ini, Jangan Takut”. (Yoh 6:20).


PJSDB

Thursday, December 19, 2013

Uomo di Dio

Beranilah dalam hidupmu!


Ada seorang romo yang menceritakan pengalamannya seperti ini: Dia adalah seorang penakut. Ketika masih kecil ia tidak berani keluar malam untuk buang air, harus ada orang yang lebih dewasa menemaninya. Pengalaman paling menakutkan adalah ketika ada kematian. Ia tidak berani dekat dengan jenazah. Ia dapat mengingat jenazah itu sampai berhari-hari dan membuatnya merasa takut berkepanjangan. Ketika ia mengatakan niatnya untuk menjadi seorang imam, muncul banyak keberatan termasuk salah satunya adalah ketakutannya terhadap jenazah. Orang tuanya mengingatkannya bahwa nantinya ia akan memberkati jenazah maka ia akan melihat secara langsung jenazah yang menakutkannya di masa kecil. Tetapi ia berusaha untuk menjadi berani, dan lama kelamaan ia menjadi akrab dengan jenazah. Ketika mendengarnya bercerita, saya ingat seorang kudus dari Serikat Salesian Don Bosco (SDB) yaitu Beato Artemide Zatti. Dia adalah seorang mantri maka berani meminta supaya jenazah tertentu boleh dibaringkan di kamar tidurnya, ketika tidak ada lagi tempat tidur di rumah sakityang ia layani.

Di dalam masyarakat kita pada umumnya kaum pria dianggap sebagai pribadi-pribadi yang berani di dalam hidupnya. Apabila para pria tidak berani maka dianggap menyerupai wanita, meskipun banyak wanita juga kaum pemberani. Karena anggapan bahwa kaum pria adalah kaum pemberani maka kadang-kadang bisa muncul kekerasan tertentu yang dilakukan kaum pria terhadap kaum lemah seperti para wanita dan anak-anak dan juga terhadap kaum pria lain sehingga dapat menimbulkan pergolakan tertentu. 

Ketakutan sebenarnya sudah melekat di dalam diri manusia sejak adanya manusia pertama. Tuhan sudah memberikan keberanian kepada mereka untuk tinggal di taman Eden yang nyaman tetapi akibat mereka jatuh dalam dosa maka berdampak juga pada ketakutannya. Kita ingat episode Adam dan Hawa bersembunyi di balik pohon saat Tuhan berjalan-jalan dan memanggil mereka: “Dimanakah engkau?” (Kej 3:9). Adam dan Hawa mendengar Tuhan dan mereka takut (Kej 3:10). Ketakutan ini berlangsung turun temurun hingga kita saat ini. Namun Kitab Suci juga mengajarkan kita supaya tidak menjadi penakut tetapi hidup dalam keberanian. Kita ingat ketika Petrus dan Yohanes dilepaskan, bersama jemaat mereka berdoa supaya diberikan keberanian untuk memberitakan Firman (Kis 4:29). Di dalam Yesus, Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa mereka akan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan dan iman kita kepadaNya (Ef 3:12). Dalam sejarah Gereja, kau pria dan wanita berani mempertaruhkan nyawanya bagi Yesus. Banyak yang meninggal dunia sebagai martir. 

Apakah para Pria Katolik masih bermentalitas penakut? Saya teringat pada C. S Lewis yang berkata: “Keberanian bukan sekadar salah satu wujud kebajikan melainkan wujud setiap kebajikan yang tengah diuji”. Perkataan Lewis ini kiranya sangat logis dengan hidup kita. Ada saja belenggu yang menghalangi kemerdekaan pribadi sehingga yang ada di dalam diri kita adalah roh ketakutan bukan roh keberanian. Keberanian dapat kita miliki ketika kita merasa bahwa di dunia ini kita tidak sendirian. Artinya kita memang membutuhkan orang lain supaya hidup kita lebih bermakna. Kita dapat membungkus ketakutan dengan lapisan keberanian. Helen  Keller pernah berkata: “Kapankah kita akan sadar bahwa kita semua terikat satu sama lain, sehingga kita semua adalah bagian dari satu tubuh?” Maka kita dapat menjadi pribadi yang berani ketika kita merasa membutuhkan orang lain yang dapat meringankan hidup kita dari segala beban yang kita pikul. 

Mari kita memandang Yesus sang inspirator kita. Selama hidupNya, Yesus tidak pernah merasa takut. Dia adalah seorang pemberani. Ia selalu frontal dengan kaum Farisi dan para ahli Taurat yang lebih mementingkan adat istiadat dan lupa memperjuangkan kasih dan keadilan. Puncak keberanianNya adalah ketika Ia siap memikul salib dan wafat di atas kayu salib. Ia tidak takut kepada kematian, Ia justru mengalahkan kematian dengan kebangkitanNya yang mulia pada hari ketiga.

Mark Twain pernah berkata: “Keberanian adalah perlawanan terhadap rasa takut, penguasaan rasa takut, tidak adanya rasa takut”. Alan Cohen juga berkata: “Sangatlah dibutuhkan  keberanian untuk melepaskan diri dari rasa nyaman untuk merangkul hal baru. Tetapi tidak ada keamanan yang nyata dalam apa yang tidak lagi bermakna. Ada keamanan lebih dalam petualangan menarik, karena dalam gerakan ada kehidupan, dan dalam perubahan ada kekuatan”. 

Anda sebagai seorang pria, mengapa masih merasa takut? Mengapa anda tidak berani di dalam hidup? Anda sebagai pria katolik, mengapa anda tidak berani mewartakan Injil? Anda sebagai pria katolik, mengapa anda tidak mampu mempertahankan bahtera pernikahanmu? Mengapa anda tidak berani mempertahankan panggilan dan pengabdianmu di dalam gereja dan masyarakat? Ingatlah, hanya orang beriman dapat menjadi berani di dalam hidupnya karena ia merasa bahwa Tuhan menyertainya.


PJSDB

Monday, December 16, 2013

Uomo di Dio

Hati yang mulia

Dunia baru kehilangan seorang tokoh dunia bernama Nelson Mandela. Banyak di antara kita yang menyaksikan saat penguburannya yang berlangsung sangat meriah. Seorang sahabat saya spontan mengatakan: “Kita sungguh-sungguh dikatakan manusia yang manusiawi bukan saat kita masih hidup dan gemilang dalam karier tetapi pada saat kita mati, mata semua orang tertuju kepada kita dan dengan sedih mereka mangatakan rasa kehilangan diri kita dari hidup mereka”. Saya merenungkan kata-kata sahabat ini dan coba mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang pernah lewat dalam hidup saya. Sebagai seorang imam saya sering merayakan misa arwah di rumah duka. Pada suatu hari saya menyaksikan sebuah pemandangan yang menarik di rumah duka. Ada dua kamar yang bersebelahan. Jenazah di kamar A adalah seorang bapa yang bekerja selama puluhan tahun sebagai sopir di sebuah perusahan. Jenazah di kamar B adalah seorang pengusaha yang mendadak meninggal dunia karena serangan jantung.

Saya mengatakan sebelumnya bahwa ada sebuah pemandangan yang menarik di rumah duka itu karena ketika merayakan misa di kamar A jumlah umatnya membeludak. Koornya meriah dan kelihatan semua orang merasa sangat kehilangan pak Sopir yang sederhana dan sudah berumur itu. Ketika saya meminta kesaksian dari mantan pimpinannya ia mengatakan bahwa sekarang dia merasa kesulitan untuk mendapat seorang sopir yang jujur, setia dan siap kapan saja dipanggil untuk melayani seperti almarhum. Ada juga orang lain yang memberi kesaksian bahwa almarhum itu ramah dan menyapa siapa saja yang bersama dengannya di dalam mobil. Jenazah di kamar B adalah seorang pengusaha katolik tetapi kelihatan sepi, hanya sedikit orang yang melayat. Ada juga seorang romo yang memimpin misa tetapi misa itu boleh dikatakan misa hening. Pengalaman ini mengingat kembali kata-kata sahabat di atas, “Kita sungguh-sungguh menjadi manusia pada saat orang beramai-ramai datang dan melayat kita di hari kematian dan penguburan”.

Nelson Mandela adalah salah satu contoh pria sejati yang sangat mempengaruhi dunia. Orang-orang di kampung halamannnya yakni Qunu dengan wajah yang sedih mengucapkan selamat jalan kepada pahlawan mereka. Di New York terdapat restoran baru bernama Nelson Mandela. Ada juga orang yang sedang membuat monumen Nelson Mandela dengan wajah yang menunjukkan sifatnya sebagai pendamai. Tentu saja satu hal yang selalu dikenang adalah kebaikan-kebaikan Mandela. Ia dipenjarakan selama 27 tahun karena memperjuangkan persamaan hak para warga kulit hitam dan putih di negerinya. Ia tetap menunjukkan kebaikannya dengan mengampuni dan menerima para lawan politik apa adanya. Mandela adalah tokoh yang dapat mengubah cara hidup banyak orang terutama para pemimpin dunia, khususnya di negeri kita. Di tengah-tengah krisis leadership Negara kita, Mandela boleh dibilang inspiratif bagi banyak orang untuk menjadi pemimpin yang mencintai dan dicintaim jujur dan setia.

Mungkin saja para pemimpin kita yang korup saat ini seharusnya merasa malu. Untuk sekedar diketahui bahwa Indonesia Corruption Watch berhasil menghadirkan angka-angka yang signifikan dan memalukan tentang keadaan korupsi di Indonesia. Selama 6 bulan terakhir terdapat 81 anggota DPR yang terjerat kasus korupsi. Para anggota legislative ketika berkampanye mengatakan soal kejujuran tetapi mereja sendirilah yang menjadi tidak jujur! Kementrian dalam negeri Indonesia mencatat 83,7 persen kasus korupsi yang dilakukan DPRD tingkat provinsi. Semakin jauh dari Jakarta, semakin nyaman berkorupsi. Banyak jajaran eksekutif yang terjerat kasus korupsi dan sangat terstruktur mulai dari lurah dan kepala desa, camat, bupati, gubernur bahkan para mentri yang korup. Saya pernah melihat di sebuah kelurahan ada mentalitas preman dari lurah dan anak buahnya. Saya baru tahu bahwa untuk menjadi seorang lurah, mereka juga berkampanye dan butuh dana yang besar. Dari lembaga yudikatif, kita mengenal Akil Mochtar mantan ketua MA dan Subri seorang kepala kejaksaan negeri Lombok Tengah NTB yang batrusan ditangkap tangan.

Kalau membaca nama-nama para koruptor ternyata lebih banyak koruptonya adalah kaum pria. Memang kita harus merasa malu karena Tuhan menciptkan kita bukan untuk mencuri, merampok atau melakukan korupsi. Tuhan menciptakan kita sewajah denganNya untuk menjadi orang kudus, tak bercela di hadiratNya. Tuhan bahkan melengkapi kita semua dengan hati supaya mampu mengasihi dan bersikap jujur. Ketika hati nurani sudah lumpuh maka orang akan sulit membedakan mana dosa dan bukan dosa. Orang akan melakukan perbuatan-perbuatan dosa tanpa ada perasaan malu lagi.

Saya ingat Kardinal Xavier Nguyen Van Thuan pernah berkata: “Hatimu itu tidak terbuat dari batu. Hatimu itu mulia karena terbuat dari daging supaya memampukan anda untuk mencintai. Dengan gagah berani berpeganglah pada Salib Suci dengan kedua tanganmu dan letakkanlah di dalam hatimu salib itu”. Mari kita memandang Yesus sang Inspirator Spiritualitas Pria Katolik. Dia rela memikul Salib karena Ia sangat mencintai kita semua. Hingga saat ini Yesus Kristus tetaplah figur paling populer dari semua tokoh yang mengubah dunia ini. Kita berjalan bersama Kristus untuk membangun dunia ini menjadi baru.

Mari kita merenungkan hidup kita sepanjang hari ini dan boleh memeriksa bathin: “Perbuatan baik apa saja yang sudah anda lakukan sepanjang hari? Apakah hidupmu sebagai Pria katolik sepanjang hari ini mampu mengubah hidup banyak orang menjadi lebih baik, dan layak di hadirat Tuhan? Selidikilah hidupmu. Anda pria katolik pasti bisa! Anda juga berhati mulia!


PJSDB 

Wednesday, November 6, 2013

Uomo di Dio

Harga sebuah harapan

Frank Borehan, penulis buku Life Verses, pernah mengisahkan hidup seorang pastor bernama Bernard Gilpin. Bernard Gilpin dihukum mati oleh Ratu Maria karena imannya kepada Kristus. Konon selama masa tahanan, Bernard menaruh segala harapannya kepada Tuhan sebagai sumber kebenaran. Ayat kesayangannya adalah tulisan St. Paulus kepada jemaat di Roma: “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28).

Dikisahkan bahwa dalam perjalan ke tempat eksekusi, secara mengejutkan Bernard jatuh dan kakinya patah. Ia pun di pulangkan ke penjara untuk proses pemulihan, dengan harapan setelah sembuh baru akan dieksekusi. Sambil mengerang kesakitan, seorang sipir mengatakan kepadanya bahwa ayat kesayangannya dari Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 8:28 itu terbukti tidak punya dampak. Justru sekarang kakinya patah dan menunggu untuk dieksekusi. Tetapi Pastor Bernard tetap percaya pada sapaan Tuhan melalui St. Paulus ini. Ia mengakui bahwa Allah pasti turut bekerja dalam segala hal dan akan mendatangkan kebaikan baginya karena siang dan malam ia berharap. Setelah ia sembuh dan siap dieksekusi, ratu Maria ternyata sudah lebih dahulu meninggal dunia. Pastor Bernard bersama para tahanan lainnya dibebaskan dari penjara.

Setiap orang menaruh segala harapan kepada Tuhan maka Tuhan akan mengindahkan harapannya. Penulis surat kepada jemaat Ibrani menulis: “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya setia” (Ibr 10:23). Orang yang berpegang teguh pada pengharapannya kepada Tuhan akan merasakan betapa Tuhan itu setia pada setiap janji-janjiNya. Manusia boleh ingkar janji tetapi Tuhan tidak pernah ingkar janji. Manusia boleh tidak setia tetapi Tuhan tetap setia. Manusia boleh kehilangan harapan tetapi Tuhan setia kepada janjiNya.

Apakah makna harapan? Harapan adalah kekuatan yang membuat kita konsisten merindukan tujuan kita diciptakan, yakni untuk memuji Allah dan melayani Dia. Bukan demi Allah kita melakukannya namun demi kebahagiaan kita yang pemenuhannya ada di dalam Allah. Harapan berarti mempercayai apa yang dijanjikan Allah bagi kita dalam kisah penciptaan, pada pewartaan para nabi, namun terutama dalam diri Yesus Kristus meskipun kita sendiri belum melihatNya. Tentu saja kita butuh Roh Kudus supaya memiliki harapan akan kebenaran.

Banyak kali sebagai pria katolik, sama seperti banyak pria yang lain kita kehilangan harapan, mudah putus asa, dan kadang lebih suka mengambil jalan pintas. Ada seorang pemuda yang memiliki masalah yang besar dengan tunangannya. Tunangannya ternyata memiliki hubungan dengan pria lain. Ia mengirim pesan singkat kepadaku bahwa ia mau membunuh dirinya karena ia kehilangan harapan dan kepercayaan kepada tunangannya. Saya heran karena ia nekat untuk mengambil jalan pintas dengan membunuh diri. Setelah saya meyakinkannya maka ia pun membatalkan rencana membunuh dirinya. Banyak pria katolik yang berpikir bahwa dengan membunuh diri itu semua perkara akan habis. Ini adalah tanda-tanda orang yang tidak memiliki harapan di dalam hidupnya. Di hadapan Tuhan kita juga akan mempertanggungjawabkan hidup kita di hadiratNya.

Setiap pria katolik pasti memiliki salib tertentu yang kadang membuat harapan itu lenyap. Tuhan Yesus sendiri mengajak kita sebagai pengikutNya untuk memikul salib hari demi hari dan mengikutiNya. Tuhan menjanjikan harapan akan hidup kekal, dan itulah yang sedang kita cari di dunia ini. Memang, setiap orang memiliki masalah tetapi masalah-masalah itu masih kecil. Kita masih memiliki Tuhan yang jauh lebih besar, yang dapat memberi harapan kepada kita bahwa Dialah yang akan menyelamatkan dan membebaskan kita dari belenggu-belenggu dosa.

Salib adalah pengalaman-pengalaman nyata yang kita alami, yang membutuhkan pengorbanan diri yang besar supaya sesama dapat menikmati kebahagiaan. Salib bagi seorang suami adalah semua pengorbanan, penderitaan yang membuat istrinya berubah menjadi ibu yang baik bagi anak-anak dan istri yang setia baginya. Salib bagi seorang pria katolik adalah semua pengurbanan diri dalam pelayanannya sehingga sesama lain dapat bertobat dan setia kepada Kristus.

Tuhan selalu memiliki rencana dan kehendak baik bagi setiap orang. Bagi seorang pria katolik, butuh iman yang kuat supaya segala harapan benar-benar menjadi nyata di dalam hidup. Jangan pernah menjadi kuatir dalam hidup. Tempatkanlah harapanmu kepada Tuhan, percayalah padaNya dan anda akan merasakan betapa Ia mengasihimu. Apakah anda masih memiliki harapan? Harapan itu indah dan menghidupkan setiap pribadi!

PJSDB 

Tuesday, November 5, 2013

Uomo di Dio

Berubah dari Kebiasaan Buruk itu Sulit Tetapi...

Ada seorang pria yang pergi kepada sang guru untuk meminta nasihat. Ia berniat untuk menjadi orang yang baik sehingga kelak bisa masuk surga. Sebelumnya ia selalu jatuh dalam dosa ringan dan dosa berat. Ia merasa bahwa sekarang ini adalah kesempatan yang baik untuk bertobat. Apa reaksi sang guru setelah menengarnya? Sang guru mengajaknya berjalan-jalan di hutan dekat pertapaannya. Ketika tiba di suatu tempat sang guru menyuruhnya untuk mencabut sebatang pohon kecil yang menempel di atas batu. Ia dengan mudah melakukannya, bahkan dengan cara sederhana yakni menjepit pohon kecil itu di antara dua jarinya dan mencabutnya. Baginya, ini adalah pekerjaan yang mudah. Mereka melanjutkan perjalanan lagi dan tiba di satu tempat lain. Sang guru menyuruhnya untuk mencabut lagi pohon yang kelihatan mengganggu pertumbuhan pohon buah-buahan di sampingnya. Dengan mudah ia melakukannya, kali ini dengan satu tangannya saja ia berhasil mencabut pohon itu.  Mereka melanjutkan perjalanan lagi dan tiba di satu tempat lain. Kali ini ada pohon yang lebih besar lagi. Ia disuruh sang guru untuk mencabutnya. Ia berusaha untuk mencabut pohon itu dengan kedua tangannya tetapi ia tidak mampu. Pohon itu akarnya semakin dalam dan sulit untuk bisa dicabut. Ia pun menyerah. Ia jujur kepada sang guru bahwa ia tidak mampu mencabut pohon itu, meskipun menggunakan dua tangannya.

Pria itu memang memiliki niat baik untuk berubah di hadapan sang gurunya yang bijaksana. Ia tidak diajarkan sebuah teori perubahan diri yang radikal tetapi gurunya menunjukkan jalan bagaimana sulitnya berubah dari kebiasaan buruk di dalam hidupnya. Ada kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita lakukan tetapi mudah kita sadari mudah juga bagi kita untuk berubah. Kebiasaan buruk itu seperti pohon kecil yang dicabut, cukup dengan menjepitnya pada jari-jari tangan kita karena akarnya hanya menempel di atas batu yang tanahnya tipis. Ada kebiasaan buruk yang bisa kita ubah namun butuh waktu tertentu. Hal ini mirip dengan pohon yang akarnya belum dalam di dalam tanah maka kalau dicabut juga hanya dengan satu tangan saja. Ada kebiasaan buruk yang selalu kita lakukan dan kita sudah lupa bahwa itu adalah kebiasaan buruk. Ini mirip dengan pohon yang akarnya masuk jauh ke dalam tanah. Maka untuk mencabutnya juga sangat sulit, dengan dua tangan pun kita masih mengalami kesulitan untuk mencabutnya.

Pria katolik kadang-kadang memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk tertentu seperti umumnya di lakukan oleh para pria lainnya. Misalnya seorang yang selalu merokok, ketika disarankan untuk berubah, ia akan merasa seperti pohon yang akarnya sudah ada di dalam tanah dan sulit sekali untuk dicabut. Ia boleh berusaha tetap selalu gagal di dalam hidupnya karena kebiasaan itu sudah mendarah daging. Mungkin yang ada dalam pikirannya adalah rumusan pembenaran diri terhadap kebisaan-kebiasaan buruknya. Contoh lain, ada seorang ibu yang pernah mengeluh karena suaminya kelihatan terlalu egois. Apa saja dilakukannya sendiri tanpa pernah meminta bantuan. Istrinya merasa seperti hiasan di rumah saja. Setelah diteliti ternyata sejak kecil suaminya didik untuk menjadi orang yang super mandiri. Kebiasaan itu ia bawah sampai hidup berkeluarga dan menyulitkan relasi antar pribadi di dalam keluarga. Sebenarnya ketika masuk ke dalam hidup yang praktis seperti ini, perlu bersikap fleksibel dan membangun kebiasaan membutuhkan orang lain dan Tuhan di dalam hidup.

Tuhan Yesus dalam pengajaranNya tentang dosa dan penderitaan, Ia menekankan betapa pentingnya perubahan yang radikal di dalam hidup. Penginjil Lukas mengisahkan bahwa pada suatu kesempatan datanglah orang-orang membawa khabar  tentang orang-orang Galilea yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Reaksi Yesus terhadap berita tersebut adalah: “Sangkahmu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! KataKu kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk 13: 2-3). 

Bertobat secara radikal itu mengandaikan penguasaan diri yang besar terhadap kebiasaan-kebiasaan buruk di dalam hidup kita. Banyak kali kita pandai menilai sesama dengan dosa dan salah mereka. Kita lupa bahwa Tuhanlah yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa kita. St. Paulus mengatakan: “Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Rm 11:36). Seandainya kita boleh mengikuti ajakan Paulus ini maka tidak ada lagi kebiasaan buruk yang menyerupai pohon yang sulit dicabut. Hari ini coba ambil waktu sejenak dan temukanlah di dalam dirimu kebiasaan-kebiasaan buruk yang anda miliki. Tanyalah di dalam bathinmu, kebiasaan buruk apa saja yang masih mendarah daging dan susah untuk dihilangkan. Ingatlah pesan Yesus: “Aku mengasihi Engkau!” Namun kita juga tidak harus buta terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi yang ada di dalam diri kita. Kebiasaan-kebiaaan buruk memang sulit sekali diubah atau dicabut di dalam hidup kita hendak disingkirkan sehingga Tuhan benar-benar mendapat tempat yang layak di dalam hati kita.

Saya mengakhir renungan ini dengan mengutip perkataan St. Fransiskus dari Sales: "Allah sangat menghargai pertobatan sehingga sekecil apa pun pertobatan di dunia, asalkan itu murni, menyebabkan Dia melupakan segala jenis dosa, bahkan setan pun akan diampuni semua dosanya, jika saja mereka memiliki penyesalan". Mari kita membangun semangat pertobatan  di dalam hidup kita. Jadilah baru di dalam Kristus.

PJSDB

Friday, November 1, 2013

Uomo di Dio

Jadilah Orang Kudus!

Santo Yohanes Bosco dikenal sebagai orang kudus yang bersahabat dengan kaum muda. Ia memiliki komitmen untuk mencari dan menyelamatkan jiwa-jiwa orang muda. Prinsipnya adalah "Da mihi animas, coettera tolle" yang berarti berikanlah daku jiwa-jiwa, sedangkan yang lain ambilah. Ketika tinggal bersama dengan orang-orang muda di oratorium, ia membina dan mengarahkan mereka untuk bertumbuh sebagai orang-orang kudus. Salah seorang muridnya yang juga menjadi kudus adalah Dominikus Savio. Pada suatu kesempatan Dominikus bertemu dengan Pastor Yohanes Bosco. Sambil berbicara, Yohanes Bosco memandangnya dan mengatakan kepada Dominikus bahwa dirinya laksana selembar kain yang indah. Dominikus mengatakan kepada Yohanes Bosco bahwa kalau dirinya adalah kain yang indah maka ia meminta kepada Yohanes Bosco untuk menjadi penjahit yang handal supaya menjadikan gaun itu indah hanya bagi Tuhan. Sebuah percakapan antara seorang anak yang baru berusia sepuluh tahun dengan pastornya, dan sudah ada tanda-tanda kekudusan. Dominikus mempercayakan dirinya dalam tangan Yohanes Bosco dan dibentuk  sesuai kehendak Allah. Ia menjadi St. Dominikus Savio yang meninggal pada usia 14 tahun. Salah satu semboyannya adalah: “Lebih baik mati dari pada berbuat dosa”

Penulis buku Amy Welborn dan Ann Engelhart memberi kesaksian dalam buku Be Saints. Buku ini berisi undangan dari Paus Benediktus XVI kepada anak-anak ketika berkunjung ke Inggris untuk bertumbuh dalam jalan kekudusan. Di dalam buku tersebut diceritakan bahwa Sri Paus berkata kepada anak-anak: "Sekiranya kita bertumbuh dalam persahabatan yang mendalam dengan Tuhan maka kita akan mengalami kebahagiaan yang benar dan menjadi kudus”. Sebuah ungkapan yang sederhana, dengan bahasa anak-anak dan dapat menggerakan hati mereka untuk menjadi kudus.

St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengatakan bahwa kita semua dipanggil untuk menjadi kudus: “Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang di kasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus” (Rm 1:7). Bagi Paulus kekudusan adalah sebuah panggilan luhur dari Tuhan. Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus Paulus menulis: "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya" (Ef 1:4). Orang-orang kudus adalah manusia-manusia biasa yang dikuduskan oleh Allah menjadi milik kepunyaanNya. Jadi para kudus itu milik esklusif dari Allah sendiri. Orang kudus adalah pribadi-pribadi yang menjadi bagian dari Tubuh Kristus. Mereka dikonsekraksikan atau dikuduskan oleh Tuhan menjadi milik kepunyaanNya. 

St. Paulus memberi ciri-ciri khas orang kudus terutama dalam tulisannya kepada jemaat di Efesus yakni: Selalu berjalan dalam persekutuan jemaat (Ef 4:1-16); Berjalan dalam kebenaran (Ef 4:17-32); Berjalan dalam kasih (Ef 5: 1-7), Berjalan dalam terang (Ef 5:8-14) dan berjalan dalam kebijaksanaan (Ef 5:15-17). Orang-orang kudus akan menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang mencemarkan seperti percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan dan perkataan yang kotor (Ef 4:3-4).

Dengan sakramen pembaptisan seorang Pria Katolik juga dipanggil untuk menjadi kudus. Dengan kata lain saat pembaptisan adalah saat diri kita dikuduskan, diri kita menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Maka kita menyadari panggilan umum dalam pembaptisan ini dan bertumbuh menjadi pria katolik yang kudus. Kita ingat kembali apa yang dikatakan oleh Sri Paus Benediktus XVI: Be saints! Jadilah Pria Katolik yang kudus. Jadilah suami yang kudus dengan mengasihi isteri dan anak-anak. Pria Katolik yang kudus adalah dia yang hari demi hari membangun pertobatan yang mendalam dan mengalami Allah di dalam hidupnya. Dia yang selalu berusaha membangun persahabatan yang mendalam dengan Tuhan dalam doa.

Mari kita memandang Yesus Kristus. Dialah Spiritualitas yang hidup. Yesus adalah Putera Allah tetapi Ia juga berdoa kepada Bapa. Para penulis suci memberi kesaksian bahwa Yesus selalu memiliki waktu untuk berdoa. Ia berdoa semalam-malaman kepada Bapa di Surga. Kita pun mengikuti teladanNya dengan tekun berdoa, merasa membutuhkan Tuhan di dalam hidup kita. Silakan melakukan tugas-tugasmu setiap hari dengan baik. Tugas-tugas pelayanan yang biasa menjadi luar biasa, yang kecil menjadi istimewa. 

PJSDB

Tuesday, October 29, 2013

Uomo di Dio

Hampir genap waktunya


Ada seorang kepala suku. Ia mempunyai tiga orang anak yang sangat dikasihinya. Pada suatu kesempatan sang kepala suku jatuh sakit. Ia menyadari bahwa saatnya meninggal dunia sudah di ambang pintu. Maka dengan legowo ia memanggil ketiga anaknya. Ia berpesan kepada mereka bahwa saat meninggalnya sudah di ambang pintu. Oleh karena itu ia harus mewariskan takhta sebagai kepala suku kepada salah seorang anaknya. Syaratnya adalah ketiga anak disuruh untuk mendaki gunung yang ada di dekat kampung di mana suku mereka menetap. Mereka harus menemukan hadia yang istimewa yang dapat dipersembahkan kepada ayah mereka. Maka terjadilah bahwa mereka bertiga mendaki gunung tersebut. Ini adalah pendakian yang menegangkan karena mereka harus melirik apa yang kiranya menjadi hadia bagi sang ayah. 

Anak sulung melihat sebuah batu yang indah. Ia mendekati dan mengamati batu tersebut. Ia berpikir bahwa batu yang indah itu adalah hadia yang tepat buat sang ayah, lagi pula batu itu unik di daerah tersebut. Anak yang kedua menemukan sebuah bunga. Ia memetiknya dan mengatakan dalam hatinya bahwa bunga itu indah. Ayahnya pasti senang menerima bunga itu, lagi pula, ayahnya menyenangi tanaman bunga. Anak yang ketiga tidak menemukan material tertentu untuk dijadikan hadiah. Ia hanya terpesona dengan indah dan suburnya daerah yang berada di belakang gunung tersebut. Sambil berada di bawah pohon ia membayangkan bahwa sekiranya Tuhan menghendaki maka pada suatu saat yang tepat, suku mereka akan berpindah ke sana. Mereka bertiga pun turun gunung dengan membawa hadia masing-masing untuk ayah. Anak pertama membawa batu dan menjelaskannya kepada sang ayah tetapi ayah tidak mau karena batu bukan barang unik baginya. Demikian terjadi juga dengan anak kedua. Sang ayah mengatakan bahwa bunga bukanlah yang unik dan penting baginya. Anak ketiga tanpa membawa apa-apa masuk dan menjelaskan isi otaknya. Ia terpesona dengan indah dan suburnya daerah di belakang gunung tersebut. Ia membayangkan kalau sekiranya Tuhan menghendaki maka suku mereka dapat berpindah ke sana. Ayahnya memuji si bungsu karena memiliki visi dan misi yang jelas untuk masa depan sukunya.

Hari ini adalah hari ketiga puluh Renungan Harian untuk Pria Katolik. Sejak hari pertama Djohan dan saya berusaha menawarkan kepada para pria katolik tema-tema yang dapat menjadi spiritualitas khas bagi para pria katolik. Permenungan-permenungan yang didengar dalam format audio berisi pendalaman iman, motivasi untuk bertumbuh dalam iman dan harta terpendam yang belum di jamah oleh pria katolik di dalam dirinya dan diri sesama. Lihatlah bahwa di dalam diri masing-masing ada potensi besar yang Tuhan titip dan harus dikembangkan untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa-jiwa. Ad Maiorem Dei Gloriam!

Kini kita bersama melihat ke depan dengan visi yang jelas bahwa segala potensi kehidupan kita haruslah menjadi seperti talenta yang dipakai untuk kebahagiaan diri sendiri dan banyak orang di dalam gereja dan negara. Harta terpendam di dalam diri kita masing-masing haruslah kita olah untuk kebahagiaan banyak orang. Jangan pernah menjadi seperti tikus yang mati di dalam karung beras. Ada potensi tetapi mematikannya, takut untuk melayani.

Tuhan Yesus memberi contoh kepada kita bagaimana Ia menghayati visi dan misiNya. Ketika hampir genap waktunya Ia diangkat ke Surga, Ia mengarahkan pandanganNya untuk pergi ke Yerusalem dan Ia mengirim beberapa utusan untuk mendahului Dia. (Luk 9:51-52). Ketika saatNya hampir tiba Yesus mengarahkan pandanganNya ke Yerusalem. Kalimat ini meringkas semua hal yang ada di dalam diri Yesus dalam hubunganNya dengan BapaNya. Yesus selalu optimis sehingga Ia mengarahkan pandanganNya ke Yerusalem. Di sanalah Ia akan menggenapi semua janji keselamatan bagi umat manusia. Yesus akhirnya pergi ke Yerusalem dan menggenapi semuanya. Keselamatan pun kita rasakan hingga saat ini.

Renungan Pria Katolik yang kami rintis selama tiga puluh hari terakhir sedang mencari identitasnya. Kami memiliki visi ke depan dengan harapan bahwa para rekan-rekan pria katolik dapat menggali semua potensi yang ada di dalam diri masing-masing untuk memuliakan Tuhan. Dengan demikian tema-tema yang kami hidangkan mendukung dan mengoreksi serta membimbing untuk semakin bertumbuh sebagai pria katolik sejati di dalam Gereja dan negara. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada para pemirsa yang setia mendengar dan membaca Renungan Harian Pria Katolik selama tiga puluh hari terakhir ini. Dukunglah kami dalam doa-doamu untuk merasul di media ini. Semoga semakin banyak orang menjadi akrab dengan Allah Tritunggal, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

PJSDB

Monday, October 28, 2013

Uomo di Dio

Berlomba Mencapai Garis Finish

Pada hari Minggu, 27 Oktober 2013 yang lalu, Indonesia menjadi tuan rumah "The Jakarta Marathon 2013". Lomba lari marathon ini diikuti oleh para atlet muda dan tua dari bebagai negara. Mereka memulai lomba ini dari satu garis start yang sama tetapi mencapai garis finish masing-masing peserta sesuai dengan kecepatan dan waktu larinya. Setiap peserta memiliki motivasi yang tinggi untuk memenangkan lomba ini. Bukan hanya uang yang diperebutkan tetapi demi kesehatan fisik, kebersamaan dengan sesama atlet maka para peserta mau melakukannya. Ini menjadi pengalaman menyenangkan bagi banyak orang yang sempat mengikutinya. Para pelari asal Kenya membuktikan kebolehan mereka untuk meraih hadiah-hadiah yang sudah disiapkan. William Teboure merupakan juara pertama marathon kelompok pria dalam waktu tempu 2 jam dan 2 menit. Mulu Seifu menjadi juara pertama kelompok Putri dalam waktu 2 jam dan 40 menit. Tentu saja sambil mereka berlomba ada motivasi dan pengurbanan diri berupa kelelahan, rasa bosan dan aneka perasaan lain sebelum mencapai garis finish. Banyak di antara mereka mencapai garis finish dan merasa bahagia.

Bersamaan dengan lomba lari marathon ini, Gereja katolik Indonesia kehilangan seorang hamba Tuhan yakni Rm. Igantius Sumarya, SJ. Beliau juga merupakan salah seorang peserta lari marathon. Meskipun ia tidak mencapai garis finish dalam lomba lari marathon tetapi mencapai garis finish hidupnya. Beliau adalah Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, sebuah lembaga pendidikan calon-calon imam dan biarawan di Jawa Tengah. Meskipun beliau tidak mencapai garis finisih dan mendapat hadiah, tetapi namanya tetap harum dan dikenang oleh para imam, seminaris yang pernah merasakan jasa baiknya. Tulisan-tulisan beliau sangat inspiratif dan mendekatkan banyak orang untuk bersahabat dengan Kristus. Ia pasti mendapat pahala yang besar dari Yesus Kristus.

Di dalam Kitab Suci, kita memiliki banyak model yang berjuang untuk mencapai garis finish dalam kebersamaannya dengan Tuhan dan sesama. St. Polikarpus, seorang murid rasul Yohanes sebelum dibakar dan meninggal sebagai martir misalnya berkata kepada prokonsul, “Selama delapan puluh enam tahun saya mengabdi Kristus dan tidak pernah saya alami bahwa Kristus berbuat salah kepadaku, bagaimana mungkin saya dapat menghojat Raja dan Penyelamatku?” Dia tidak gentar menghadapi kematian yang ada di hadapannya.

St. Paulus juga memiliki pengalaman mencapai garis finish. Di dalam suratnya kepada Timotius, ia menulis, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2Tim 4:7). Paulus membagi pengalaman kerasulannya yang diringkas dalam kalimat ini. “Aku telah mengakhiri pertandingan”. Paulus mau membagi pengalaman penderitaannya: keluar masuk penjara, dilempati dengan batu, ditolak dan dicaci maki. Ia merasakan ini sebagai sebuah pertandingan yang menakjubkan dan sudah berakhir dan melegahkan. “Aku telah mencapai garis akhir”. Setelah melewati penderitaan dan kemalangan dalam mewartakan Injil ia merasa bahwa sudah saatnya ia akan menghadap Tuhan. Paulus memasrahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. “Aku memelihara iman”. Semua penderitaan dan kemalangan bukanlah menjadi penghalang bagi Paulus dalam beriman. Ia memelihara iman sampai tuntas. Luar biasa pria pengikut Kristus ini. 

Kita menemukan model yang paling luhur dari semuanya yakni Yesus dari Injil sebagai sumber spiritualitas kita sebagai pria katolik. Yesus juga mencapai garis akhir dalam perjalanan salibNya hingga tiba di bukit Kalvari dan wafat di sana. Sebelum wafat, ia masih sempat mengampuni para algojoNya, dan Ia juga menyerahkan GerejaNya kepada IbuNya yang berada di bawah kaki SalibNya. Garis finish bagi Yesus adalah penyerahan diriNya yang total kepada Allah Bapa untuk keselamatan manusia.

Apa spiritualitas yang dapat kita ambil untuk kehidupan kita? Masing-masing kita sedang berjalan menuju ke arah garis finish. Banyak pengalaman suka dan duka menuju ke garis finish. Ada salib yang harus kita pikul. Tetapi satu motivasi kita bersama adalah mau tinggal selama-lamanya bersama Yesus Kristus.Maka spiritualitas yang kita bisa ambil adalah ketaatan kepada kehendak Tuhan. Tuhan yang memiliki rencana untuk kehidupan kita. Hidup kita adalah miliki Tuhan bukan milik kita. Ketaatan itu ada karena iman kepada Tuhan. Oleh karena itu ketika anda berada dalam situasi yang sulit, itu adalah pertandingan di dalam hidupmu, janganlah putus asa. Tuhan Yesus dan banyak orang kudus sebelum mencapai garis finish pernah mengalami penderitaan namun mereka juga mengalahkan penderitaan dengan kemenangan.Tuhan Yesus Kristus wafat dan bangkit, kita pun akan ikut mencapai kemuliaan kekal bersamaNya. Jangan lupa untuk tetap memelihara iman kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.

PJSDB

Friday, October 25, 2013

Uomo di Dio

Mengucapkan Terimakasih

Ketika melakukan suatu perjalanan saya coba mengamati perilaku beberapa pria yang sudah berkeluarga. Mereka duduk bersama di sebuah meja dan mendiskusikan banyak hal. Saya mendengar seorang bapa yang mengatakan rasa herannya karena anaknya belakangan ini mulai lupa mengucapkan kata terima kasih setiap kali menerima pemberian tertentu darinya. Seorang bapa yang lain kedengaran lebih kritis mengatakan kepadanya bahwa mungkin sejak kecil anaknya tidak dilatih untuk mengucapkan terima kasih. Bapa itu menjawabnya bahwa kata terima kasih itu diajarkan dan dilatih sejak masih kecil. Hanya beberapa tahun terakhir ini mengucapkan kata terima kasih nyaris hilang sama sekali.

Saya merenungkan diskusi para bapa yang prihatin terhadap pendidikan nilai yang mesti ditanamkan kepada anak-anak sejak masih usia dini ini. Banyak orang orang tua yang sudah mulai lupa untuk mengajarkannya, mungkin karena kesibukan dalam bekerja atau lupa dan berharap agar di lembaga-lembaga pendidikan formal bisa mengajarkannya. Mungkin juga orang tua merasa bahwa mengucapkan terima kasih itu nantinya bisa mengalir dengan sendirinya di dalam hidup anak-anak.

Saya juga membayangkan bahwa sebenarnya di dalam dunia kerja, mereka memiliki disiplin khusus untuk memberi ucapan terima kasih. Ketika seorang karyawan melakukan pekerjaan tertentu dan berhasil maka ia patut mendapat apresiasi tertentu dari sesama yang lain sekurang-kurangnya dengan mengucapkan terima kasih dan selamat kepadanya. Pribadi tersebut tentu merasa dihargai, diakui dan dihormati. Ia akan memiliki motivasi baru yang lebih besar lagi untuk bekerja. Memang mengucapkan terima kasih itu kata yang sederhana tetapi memiliki power yang luar biasa dan dapat membuat pribadi tertentu sukses di dalam hidupnya. 

Seorang sahabat saya mengatakan rasa bahagia di tempat kerjanya bukan karena gajinya besar atau karirnya menanjak. Ia ternyata merasa dihargai dan diakui keberadaannya dan semua yang sedang ia lakukan. Pengalamannya sangat sederhana. Misalnya setelah mengerjakan sesuatu ia selalu mendapat tulisan kecil dari bossnya: “Pekerjaanmu rapi, thank you bro”. Kata-kata sederhana ini memiliki power yang mengubah motivasi kerjanya. Ia senang dan mencintai pekerjaannya.

Nah, marilah kita memandang Yesus, sang Maestro. Yesus adalah pria sejati yang melakukan karya-karya yang agung. Banyak orang terpesona kepadaNya tetapi juga kepada ibuNya. Seorang wanita pernah berkata di tengah orang bayak rasa syukur dan terima kasihNya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27). Ia juga selalu mencari kesempatan untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Bapa di Surga melalui saat-saat istimewa untuk berdoa. Ada kalanya semalam-malaman ia berdoa dan bersyukur. Ketika para murid yang diutusNya kembali, mereka menceritakan banyak hal dengan kuasa nama Yesus. Setelah mendengar sharing dari para rasulNya, Yesus berkata: “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang-orang bijak dan orang pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Ia memandang para murid yang selalu bersamaNya selama tiga tahun. Ia berterima kasih kepada mereka dan berkata: “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15:14).

Yesus adalah Tuhan kita, sumber spiritualitas kita menunjukkan contoh bersyukur dan berterima kasih kepada Bapa di Surga. Seorang pria katolik dapat mengikuti Yesus dengan berani mengucapkan terima kasih kepada Tuhan dan sesama. Seorang pria katolik dapat memberi contoh mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang dekat dengannya baik di rumah maupun di tempat kerja. Bayangkan seorang anak yang lagi stress bisa berubah menjadi baik ketika ia mendapat ucapan terima kasih dari ayahnya. Seorang pekerja menemukan jati dirinya ketika pemimpinnya mengucapkan terima kasih atas pelayanannya.

Hidup kita hendaklah dirasakan sebagai syukur dan terima kasih tiada hentinya. Ajarkanlah turun temurun ucapan syukur dan terima kasih.

PJSDB 

Wednesday, October 23, 2013

Uomo di Dio

Kasih Tidak Berkesudahan

Pada suatu ketika ada gempa bumi yang menimpa sebuah daerah. Banyak gedung yang roboh termasuk sebuah gedung sekolah dengan jumlah siswa lebih dari seribu orang. Para orang tua dan sanak keluarga berlarian ke sekolah setelah gempa untuk menyelamatkan anak, adik mereka. Tetapi dengan melihat bangunan yang runtuh itu banyak orang tua langsung pesimis. Ada seorang bapa setiap hari bekerja sebagai tukang batu. Anaknya bernama Chiko, berusia 10 tahun. Ia kembali ke rumahnya, mengambil peralatan kerjanya dan mulai mencari posisi kelas di mana anaknya berada. Ia mulai membersihkan, memecahkan batu-batu, memotong besi-besi beton dan memisahkan kayu-kayu.

Setelah seharian bekerja kelihatan belum menunjukkan dampak apa-apa. Hari kedua ia datang dan bekerja sendirian dari pagi sampai soreh. Banyak orang mencelanya bahwa usahanya itu sia-sia saja. Pada hari ketiga ia berhasil membuat sebuah lubang  dan mendengar suara anak-anak dari dalam reruntuhan ruangan kelas. Ia semakin berusaha akhirnya berhasil memanggil nama anaknya. Ternyata anaknya bersama teman-teman sekelas masih hidup dan mereka menyahut. Ia berkata kepada anaknya: “Chiko, jangan takut, ayah ada di sini!” Anaknya berseru dari dalam kelas: “Ayah aku juga yakin bahwa engkau pasti datang untuk menjemput kami. Ayah seorang pemberani!” Pada sore harinya anak-anak berhasil dievakuasi. Semua orang merasa bahagia dan bersyukur atas pahlawan yang mau menyelamatkan banyak anak di sekolah.

Kisah sederhana ini menggambarkan figur seorang ayah yang sangat mencintai anaknya. Dalam situasi yang sulit ia tidak merasa panik tetapi menenangkan dirinya dan berusaha untuk mencari solusi untuk menyelamatkan anak-anak yang terjebak di dalam reruntuhan bangunan sekolah. Kadang-kadang kita melihat banyak orang tua memilih untuk pasrah dan menangis. Mungkin kita bisa membayangkan ada orang tua anak-anak sudah ke pastoran untuk meminta misa requiem. Ada juga yang diam sambil menunggu kedatangan pihak berwewenang untuk membersihkan puing reruntuhan bangunan sekolah. Ayah Chiko memiliki inisiatif untuk menyelamatkan bahkan bekerja sendiri untuk menyelamatkan anak-anak yang terjebak termasuk anaknya sendiri. Dia menjadi seorang pahlawan.

Di dalam masyarakat kita, ketika terjadi malapetaka tertentu seperti bencana alam, orang lebih cepat memilih pasrah dan pasif. Mungkin saja karena situasi yang mencekam sehingga membuat orang tidak berpikir lebih jauh dan mengambil tidakan penyelamatan yang konkret. Saya teringat akan dua orang anak yang bermain-main di atas pohon bambu. Tiba-tiba ada ular hijau menggigit salah seorang anak di perutnya. Orang tuanya panik dan menangis histeris karena anak mereka yang tunggal digigit ular. Saya sendiri saat itu nyaris panik. Saya mencari batu hitam yang dapat mengisap racun ular, mengambil pisau cukur dan melukai perut anak itu sehingga ada tetesan darah lalu menempel batunya. Keesokan harinya anak itu pergi ke sekolah seperti biasa. Orang tuanya datanga dan mengatakan kepadaku, “Romo, kami minta maaf karena kemarin kami sangat panik”.

Pada hari ini kita berjumpa dengan figur seorang pria dan ayah yang hebat. Ketika ada kesulitan yang dialami anak-anak, sang ayah biasanya tampil sebagai pahlawan yang bekerja tanpa kenal lelah. Ia akan berusaha, dengan cara apa saja untuk menyelamatkan anaknya dari bahaya. Seorang ayah yang berjiwa besar, ia memiliki iman dan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan masih memelihara anaknya. Oleh karena itu meskipun dicela, dia tidak takut, tetap berani bekerja sampai tuntas. Seorang ayah yang memiliki keperihatinan tertentu terhadap anaknya.

Apa spiritualitas yang patut dimiliki oleh seorang pria katolik? Seorang pria katolik adalah dia yang mampu mengambil Tuhan Yesus sebagai model hidupnya. Tuhan Yesus rela berkorban untuk menebus dosa manusia meskipun Ia dicaci maki. Ia sangat menderita dan rela wafat di salib untuk keselamatan orang-orang berdosa. Kasih Yesus itu tidak berkesudahan dan inilah yang kiranya menjadi sumber spiritualitas kita hari ini. Di dalam Injil Yohanes, Yesus berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16).

Marilah kita kembali kepada panggilan kita masing-masing. Tuhan telah memanggil dan menentukkan kita untuk hidup seperti sekarang ini: sebagai ayah, guru, dosen, pengusaha dan aneka profesi lainnya. Lakukanlah semua pekerjaanmu dengan kasih dan pengorbanan diri. Biarkanlah orang mencelamu, tetapi ingat bahwa hasil pekerjaanmu akan membuat orang memiliki hidup. Kasih itu tidak berkesudahan.

PJSDB

Monday, October 21, 2013

Uomo di Dio


Saling Menopang

Saya pernah melihat sebuah gambar yang unik. Ada sebuah batu besar di atas sebuah bukit yang terjal. Batu itu kelihatan sepintas dapat jatuh kapan saja tetapi ditopang oleh batu lain yang lebih kecil. Mungkin titik bebannya tepat sehingga angin dan goncangan apa pun tidak pernah membuat batu itu jatuh dari atas bukit. Saya juga pernah melihat sebuah bangunan yang besar dan sudah cukup lama dibangun. Sebenarnya bangunan itu sudah roboh tetapi masih bertahan karena ada sebuah tiang penyanggah yang kokoh. Semua beban bangunan ada di atasnya. Orang-orang yang berkunjung merasa heran tetapi juga takut karena bangunan itu bisa roboh kalau penyanggahnya sudah tidak kuat lagi.

Menyaksikan dua hal ini saya membayangkan hidup manusia sendiri. Kita pun dapat tetap kokoh dan kuat kalau kita butuh orang lain yang menopang kehidupan kita. Pertama-taman Tuhan sendiri yang menopang kita sejak menjadi bayi yang lemah di dalam kandungan hingga lahir dan bertumbuh. Kedua orang tua memiliki peran yang vital, saling tolong menolong untuk menopang kehidupan kita. Saudara-saudari, sahabat kenalan juga memiliki andil yang besar dalam kehidupan sosial, bisa beinteraksi dengan sesama karena kehadiran dan partisipasi mereka di dalam kehidupan pribadi kita.

Di dalam Kitab Keluaran (17:8-13) terdapat sebuah kisah yang menarik tentang saling menopang. Pada suatu saat bangsa Israel tiba di daerah Rafidim. Di tempat itu terjadi perang antara orang-orang Amalek dan orang Israel. Tuhan menyuruh Musa untuk menyiapkan orang-orang yang dapat bertempur melawan orang-orang Amalek. Yosua dipilih untuk memimpin pasukan Israel. Musa, Harun dan Hur naik ke atas sebuah bukit untuk menyaksikan pertempuran. Setiap kali Musa mengangkat tangannya pasukan Israel menjadi kuat tetapi ketika Musa menurunkan tangannya pasukan Israel menjadi lemah sedangkan pasukan Amalek menjadi kuat. Untuk itu Harun dan Hur mengambil sebuah batu dan menjadikannya tempat duduk yang nyaman bagi Musa, lalu Harun dan Hur duduk dan menopang tangan kanan dan kiri Musa hingga matahari terbenam. Pasukan Israel menang terhadap orang-orang Amalek karena doa Musa dan dukungan dari Harun dan Hur. Boleh dikatakan bahwa Tuhan sendiri yang berperang dan memberi kemenangan kepada Israel.

Para pria yang menjadi figur utama di sini melakukan tugas mereka masing-masing. Yosua mengatur strategi perang dan mendapat dukungan dari Tuhan melalui Musa. Musa sebagai pempimpin tidak bisa bekerja sendiri. Ia membutuhkan orang lain untuk menopangnya. Kehadiran Tuhan dalam diri Harun dan Hur membuat Musa menjadi kuat. Bisa dibayangkan dukungan luar biasa Harun dan Hur, mereka rela duduk dan menopang lengan Musa sehingga tidak lemah. 

Spiritualitas Pria Katolik macam apa yang dapat kita ambil dari kisah ini? Seorang Pria Katolik dapat menjadi penopang yang baik dalam hidup bersama. Misalnya di dalam keluarga, pria katolik dapat menjadi seperti tiang yang kokoh untuk menopang seluruh keluarga. Seorang Pria katolik dapat menopang sebuah karya pelayanan di tempat di mana ia bekerja. Untuk menjadi penopang perlu sikap rela berkorban karena semua beban ada dipundaknya.

Marilah kita memandang Yesus, sumber spiritualitas kita. Ia menopang kehidupan kita ketika ia diangkat di atas kayu salib. Dengan memandang Dia yang tersalib kita merasakan keselamatan yang  datang dari Allah kita. Ia tidak hanya diangkat di atas kayu salib, tetapi Ia juga wafat dan bangkit bagi kita semua. Peristiwa Paskah Kristus ini menjadi dasar yang kokoh spiritualitas Pria Katolik.

Semoga pada hari ini kita semua menyadari panggilan kita masing-masing dan berusaha untuk selalu siap kapan dan di mana saja menjadi penopang kehidupan bagi sesama yang lain. Kita saling menopang satu sama lain. Tuhan memberkati kita semua.

PJSDB