Thursday, January 15, 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa I

1Sam. 4:1-11

Mzm. 44:10-11,14-15,24-25

Mrk. 1:40-45

 

Tuhan, semoga engkau menyembuhkanku

 


Selama lebih kurang dua tahun saya mengalami kesulitan untuk melihat. Saya berusaha memeriksa mata saya di klinik mata dan mendengar pendapat dokter yang sangat variatif: mata saya kabur karena kelelahan akibat memaksa mata di depan laptop dan HP, ada katarak di kedua bola mata, ada kecurigaan bahwa bisa jadi ada tumor di kepala dan yang paling ekstrim adalah ada tanda glucoma karena tekanan bola mata saya saat itu sampai 21. Tentu saja saya berterima kasih kepada para dokter yang sangat concern dengan mata saya. Pasutri muda Fiefie dan Ricco juga sangat concern dengan mata saya maka mereka mengajak saya untuk memeriksa mata saya di Island Hospital, Penang, Malaysia bersama Dokter Andrew. Hasil pemeriksaannya adalah bahwa mata saya kabur karena faktor usia (saat ini 55) maka biji mata saya mudah kering dan mulai ada katarak yang menggangu penglihatan saya. Saya pun diberi obat tetes hialid 0,1 dan siap untuk operasi katarak di sana. 

 

Operasi katarak kedua bola mata saya sudah dilakukan bersama dokter Andrew pada tanggal 4 dan 5 Desember 2025 yang lalu, sekalian memasang lensa progresif di kedua mata sehingga saya berpisah dengan kacamata setelah empat puluh tahun. Pada saat persiapan operasi katarak, saya benar-benar larut dalam doa dan permenungan tentang dialog antara orang buta dan Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas: “Apa yang kamu mau Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, tolonglah supaya saya bisa melihat kembali.” Yesus berkata kepadanya, “Kalau begitu melihatlah! Karena kamu percaya penuh kepada-Ku, sekarang kamu bisa melihat.” (Luk 18: 41-42). Saya percaya dan mengamininya. Operasi berjalan dalam waktu yang sangat singkat pada tanggal 4 dan 5 Desember dan tanggal 6 Desember sore saya diijinkan untuk kembali ke Jakarta dengan Batik Malaysia, selanjutnya pada tanga 7 Desember saya melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Hingga saat ini saya tidak merasa kesulitan apapun pasca operasi katarak. Tuhan sungguh baik bagiku.

 

Saya menceritakan pengalaman pribadi ini untuk menyadarkan kita tentang pergumulan hidup pribadi kita di hadirat Tuhan. Ketidakmampuan untuk melihat atau katakanlah orang buta pasti mengalami pengalaman yang sama dengan orang kusta tanpa nama di dalam Injil hari ini. 

Orang kusta pada zaman Yesus itu tidak dianggap setara dengan manusia yang lain. Kalau berjalan di jalan umum ia harus berpakaian compang camping, rambutnya tidak terurus dan harus berteriak dengan suara lantang bahwa dirinya adalah seorang kusta. Semua orang lari meninggalkan si kusta meskipun selalu mengulangi kata ‘sesama manusia’. Orang kusta dalam Injil hari ini memang agak lain. Ia yang berani dan tanpa merasa malu datang kepada Yesus, berlutut sebagai tanda kerendahan hati dan penyembahannya, lalu meminta untuk disembuhkan. Inilah doa dari si kusta: ‘Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. 

 

Reaksi Yesus sungguh luar biasa. Ia memandang si kusta yang dijauhi sesama manusia, hati Yesus pun tergerak oleh belas kasihan, mengulurkan tangan-Nya yang kudus, menjamah orang kusta ini dan berkata kepadanya: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir’. Orang kusta yang beriman dan berani memohon pertolongan Tuhan Yesus itu menjadi sembuh seketika. Tuhan Yesus sendiri tidak terjangkit kusta, hanya sesama manusia yang takut terjangkit kusta. Tuhan Yesus tidak sombong karena bisa menyembuhkan si kusta. Ia hanya berkata: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." (Mrk 1:44). Meskipun demikian Yesus tetap diviralkan oleh si kusta sebagai tanda syukur atas kesembuhannya di hadirat Tuhan. 

 

Kisah pengalaman pribadi saya dan kisah si kusta di dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita semua bahwa sakit penyakit akan dialami oleh semua orang bahkan pengalaman yang tragis pun dapat dialami oleh siapa saja. Orang yang dekat dengan Tuhan seperi imam Eli di Silo dalam bacaan pertama, yang siang dan malam melayani Tuhan saja mengalami peristiwa tragis: Tabut Perjanjian diangkat dari Silo, kedua anak imam Eli yakni Hofni dan Pinehas mati dibunuh dengan tragis di samping para prajurit yang berguguran melawan bangsa Filistin. Saya sebagai seorang imam, yang setiap saat membaktikan diri kepada Tuhan dan sesama juga mengalami pergumulan dalam sakit penyakit tertentu seperti yang dialami si kusta dalam Injil. Hal terbaik adalah percaya kepada Tuhan, tekun dalam doa dan Tuhan akan melakukan yang terbaik di dalam hidup pribadi masing-masing.

 

Pada akhirnya saya mau mengucapkan rasa terima kasih saya kepada Tuhan Yesus yang menyembuhkan saya melalui para dokter yang luar biasa: Dokter Riky, Dokter Martin, Dokter Yulius dan Dokter Andrew. Terima kasih para saudari dan saudara yang dengan caranya sendiri menolongku para saudari dan saudaraku nun jauh di sana, Fiefie dan Ricco, Iin-Asiong, Ida, Lia, Ricka, Ira, Marie, Greece, keluarga besar kedua kombas Leopold di Lipo dan Citra, mas Bro Hadinata seorang boss yang setia menjadi driver dan kedua saudaraku P. Anto dan P. Adi di SDB Pontianak dan semua yang namanya tidak saya sebutkan di sini. Kalian semua luar biasa karena memiliki andil besar bagiku untuk melihat kembali. Bless you all.

 

P. John Laba, SDB

Thursday, January 1, 2026

HARI RAYA SP. MARIA BUNDA ALLAH

Bil. 6:22-27

Mzm. 67:2-3,5,6,8

Gal. 4:4-7

Luk. 2:16-21

 

Membangun Relasi dengan Bunda Maria

 


Mengawali tajun 2026 ini saya mengutip sebuah doa sederhana dari Santa Faustina ini: 

“Untuk lebih layak memuji rahmat Tuhan, kami semua bersatu dengan Bunda Suci-Mu, sehinga nyanyian kami akan lebih berkenan kepada-Mu, sebab Dia telah dipilih di antara manusia dan malaikat. Melalui Dia, seperti melalui kristal yang murni, rahmat-Mu disampaikan kepada kami. Melalui Dia, manusia menjadi berkenan kepada Allah; Melalui Dia, mengalirlah segalah rahmat kepada kami.” 

Maria sebagai Bunda Allah adalah penyalur Rahmat Tuhan sehingga membuat semua orang mengaguminya. Apakah hanya sebatas mengaguminya saja? Ternyata belumlah cukup untuk mengagumi Bunda Maria. Saya teringat pada Paus Fransiskus yang pernah berkata: 

“Kita tidak hanya “mengagumi” Bunda Maria… dengan kelembutan dan kekaguman. Kita juga diminta untuk ‘meniru’ teladannya agar keindahan Allah dapat bersinar di bumi berkat banyak “ya” yang terus diucapkan oleh kaum pria dan wanita hari ini, mengikuti teladan dan perantaraan Maria, Yang Tak Bernoda”.

 

Kita mengawali tahun baru 2026 ini setelah melewati sebuah peziarahan yang panjang selama tahun 2025 dengan penuh harapan. Kita akrab dengan sebutan Tahun Yubileum. Memang ada harapan-harapan kita yang terpenuhi, ada juga harapan-harapan yang belum terpenuhi. Mungkin hal ini mengecewakan kita semua yang mengalaminya, namun ingatlah bahwa Tuhan selalu memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Pikirkanlah kembali bahwa orang-orang yang menantikan kedatangan Mesias juga merasakan kerinduang yang luar biasa. Bunda Maria dan Santu Yusuf adalah dua sosok yang memiliki kerinduan saat menantikan kedatangan Yesus sang Mesias. Kerinduan mereka digenapi sebagaimana diungkapkan dengan sangat jelas oleh St. Paulus dalam tulisannya ini: “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Dialah Yesus Kristus Tuhan yang menjadi utusan untuk menebus dunia sehingga melalui Roh-Nya kita pun ikut menyapa Allah sebagai Bapa (Gal 4:5-6). Tentu saja perkataan santo Paulus ini tidak bisa dipisahkan dengan relasi yang mendalam dengan Maria sebagai bunda Yesus.

 

Santu Lukas dalam perikop Injil hari ini, memberikan sebuah kesaksian yang sangat penting bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh dilahirkan oleh Bunda Maria sehingga ia disebut sebagai Bunda Allah. Para gembala adalah orang-orang sederhana  yang ikut mendengar bahwa Yesus sebagai sang Penyelamat dunia sudah lahir di Bethlehem. Para gembala ini patuh pada pesan Tuhan melalui malaikat untuk pergi ke Bethlehem. Mereka menemukan Maria dan Yusuf serta Bayi yang dibaringkan di dalam palungan. 

 

Sekarang, perhatikan baik-baik bunyi kesaksian santo Lukas ini: para gembala yang sederhana itu datang ke Bethlehem. Pribadi pertama yang mereka lihat adalah Maria, kedua adalah Yusuf dan ketiga adalah Bayi yang terbaring di dalam palungan (belum ada nama). Ia belum diberi nama karena nantinya Yusuf dan Maria akan menamai bayi itu Yesus pada saat Ia disunat pada hari kedelapan dan sesuai dengan perkataan Malaikat Gabriel. Di sini, Tuhan memiliki cara untuk menyadarkan kita: Ia menampilkan Maria, sang pilihan Tuhan yang mengandung dan melahirkan Yesus, Yusuf yang menjadi Bapak Pemelihara dan Yesus sang Anak Allah ditempatkan di urutan ketiga, belum diberi nama, namun hanya disebutkan ‘Bayi’ untuk menyatakan Allah yang merendahkan diri sehingga manusia memiliki martabat baru sebagai Anak Allah. Apakah Maria membuat heboh karena menjadi Bunda dari Anak Allah? Tidak! Lukas bersaksi: “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).

 

Kelahirang Yesus menyebabkan kelahiran pewarta-pewarta sederhana yakni Bunda Maria, Yusuf dan para Gembala tanpa nama. Kesaksian para Gembala khususnya, sangat sesuai dengan kisah kelahiran Yesus yang diceritakan oleh para Malaikat di Padang Gurun. Kisah ini tentu tidak lepas dari sosok Maria dan Yusuf sebagai orang tua Yesus. Lebih khusus lagi Maria sebagai Bunda Allah karena dialah yang mengandung dan melahirkan Yesus sang Anak Allah.

 

Kelahiran Yesus dari Rahim santa Perawan Maria menjadi sebuah Injil kehidupan bagi kita semua. Kelahiran Yesus sebagai Immanuel, membawa pesan sukacita sebagaimana sudah disabdakan Tuhan di dalam Kitab Bilangan melalui Musa: 


“Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai Sejahtera” (Bil 6: 24-26). 


Tuhan melakukan segala sesuatu secara sempurna di dalam Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria. Dia menjadi Bunda Allah, bunda kita semua.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan? 

 

Kita perlu belajar untuk menata relasi kita dengan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Kita mengikuti teladan kekudusannya, kebajikan-kebajikannya dan tidak pernah lelah untuk menyapanya ‘Salam Maria” sepanjang hidup kita. 


Saya menutup homili ini dengan doa kepada Bunda Maria dari santa Theresia dari Kalkuta:


 “Maria, Bunda Yesus, berikanlah kepadaku Hati-mu yang begitu indah, begitu murni, begitu Tak Bernoda, begitu penuh cinta dan kerendahan hati, agar aku dapat menerima Yesus dalam Roti Kehidupan, mencintai-Nya sebagaimana engkau mencintai-Nya, dan melayani-Nya sebagaimana engkau melayani-Nya, dalam rupa yang menyedihkan dari orang-orang miskin yang paling miskin. Amin”.

 

P. John Laba, SDB