Tuesday, September 4, 2012

Parenting ala Yesus

Meditasi Luk 4: 31-37

Orang tua mengajar atau mendidik anak?


Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire hidup dalam zaman dan tempat yang berbeda tetapi sama-sama mendefinisikan pendidikan sebagai proses humanisasi. Pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia, usaha mengangkat manusia ke taraf insani. John Dewey memahami pendidikan sebagai proses yang dilakukan di dalam masyarakat untuk menghasilkan suatu perubahan tertentu. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi yang otentik kepada manusia untuk dimiliki, dilanjutkan dan dikembangkan. Sedangkan mengajar adalah kegiatan teknis seorang guru. Persiapan untuk mengajar termasuk kegiatan teknisnya dan hasilnya juga dapat diukur dengan instrumen perubahan perilaku yang sifatnya verbal.Tidak semua pendidikan adalah pembelajaran dan tidak semua pembelajaran adalah pendidikan. Tidak semua guru mampu mendidik walaupun ia pandai mengajar.

Penginjil Lukas (Luk 4:31-37) mengisahkan bahwa Yesus pergi ke Kapernaun dan mengajar di sana. Di Kapernaun, Yesus mengusir roh jahat yang menguasai seorang dengan berkata: “Diam, keluarlah daripadanya”. Yesus dengan kekudusanNya mampu mengalahkan roh jahat. Di sini, Yesus melakukan dua kegiatan yang kiranya patut dilakukan oleh setiap orang tua. Pertama, Yesus pergi. Dia melakukan perjalanan yang jauh dari Nazareth ke Kapernaun. Ini adalah usahaNya untuk keluar dari diri sendiri untuk melayani umatNya. Kedua, Yesus mengajar. Ia mengajar tetapi sebenarnya lebih dari sekedar mengajar. Ia justru mendidik atau memanusiakan setiap pribadi untuk bebas dari kuasa jahat. Singkatnya, Yesus selalu mencari yang terbaik dalam diri umatNya.

Belajar dari Yesus, para orang tua diharapkan keluar dari dirinya sendiri atau keluar dari egonya untuk melayani anak-anak. Contoh sederhana, selama sehari berapa orang tua yang berani mematikan HP, BB, Ipad, Facebook, Twitter untuk fokus pada pendidikan anaknya? Berapa orang tua yang berani mematikan gadget saat sedang makan bersama anak-anaknya? Orang tua telah keliru menunjukkan kelemahannya dengan sambil makan, ibu dan bapa fokus pada gadget. Belajar dari Yesus, para orang tua menyadari bahwa mereka bukan hanya mengajar tetapi lebih dari itu menjadi pendidik utama bagi anak-anak dalam semangat sebagai pengikut Kristus. 

Para orang tua juga terpanggil untuk membebaskan anak-anak dari kuasa yang jahat. Dengan memberi fasilitas seperti HP, BB, Netbook sampai Ipad itu hal yang baik tetap akan lebih baik kalau anak-anak didampingi, diajarkan disiplin yang baik dalam menggunakan fasilitas yang ada. Kejahatan bisa menguasai anak-anak ketika orang tua tidak punya waktu untuk bersama, melatih disiplin dalam hidup. Akibatnya fasilitas-fasilitas itu menjadi asal muasal kejahatan. Berapa orang tua yang menggunakan waktunya memeriksa hp anak-anaknya? Anak-anak usia dini masih perlu dikontrol HPnya! Mereka yang sudah dewasa, diingatkan untuk bijaksana karena mereka sudah punya zona privacy. 

Apa yang harus dilakukan para orang tua? 

Secara sederhana, mulailah bergeser dari konsep mengajar menjadi mendidik. Para orang tua berubah dari diri sebagai pengajar menjadi seorang pendidik. Proses pergeseran atau perubahan ini akan berdampak positif dalam interaksi sebagai orang tua dan dengan anak-anak. Jadi orang tua bukan hanya sekedar pengajar tetapi lebih dari itu dia seorang pendidik sejati.

Hai para orang tua, anda pasti bisa!

PJSDB

Renungan 4 September 2012

Hari Selasa, Pekan Biasa XXII
1Kor 2:10b-16
Mzm 145: 8-9.10-11.12-13ab.13cd-14
Luk 4:31-37

Yesus memang menakjubkan!

Yesus tampil memukau di Nazareth, kampung halamanNya. Semua mata tertuju padaNya, penuh keheranan karena melihat Dia sebagai figur yang tampil, penuh kuasa dan wibawa dalam kata dan karya. Namun demikian orang-orang di Nazareth sendiri mempertanyakan Yesus dan kuasa yang dimilikiNya. Orang tua dan saudara-saudara Yesus dikenal di kalangan mereka. Makanya ketika Ia tampil di Nazareth ada yang menerimaNya dengan baik, ada yang menolak karena mereka heran dari mana kuasa itu diterima Yesus. 

Hari ini Penginjil Lukas coba membawa kita kapada Allah yang benar, kudus dan penguasa segalanya di dalam diri Yesus. Lukas mengisahkan bahwa Yesus meninggalkan Nazareth dan pergi ke Galilea, tepatnya di Kapernaun, kampung halamannya Petrus. Di sana ia masuk di dalam sinagoga pada hari Sabat untuk mengajar. Sekali lagi di tempat ini Yesus menunjukkan kuasa dan wibawaNya dalam setiap perkataan yang keluar dari mulutNya. Semua orang di dalam sinagoga itu takjub. Di dalam sinagoga juga terdapat seorang yang kerasukan roh jahat. Roh jahat itu merasa tak berdaya di hadapan Yesus. Roh itu berkata, “Apa urusanmu dengan kami hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu, Engkau adalah Yang Kudus dari Allah!” Yesus membentaknya dan mengusirnya dari dalam diri orang tersebut. Ia pun keluar dan orang kerasukan itu menjadi sembuh. Yesus dengan kekudusanNya mengalahkan roh jahat dengan ketidakkudusannya.

Kuasa Yesus ini mulai terlihat di depan umum setelah dibaptis di Sungai Yordan. Ia sempat digoda iblis di padang gurun tetapi Ia berhasil mengalahkannya (Luk 4:1-13). Dengan pengalaman kemenangan di padang gurun ini maka perlahan-lahan Yesus menunjukkan kuasaNya sebagai Putera Allah yang dapat melenyapkan kuasa-kuasa jahat di dunia. Di dalam sinagoga di Kapernaun, Yesus mengusir roh jahat yang merasuki seseorang dan roh jahat itu taat kepada Yesus ketika diusir keluar. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus memang berbeda dengan para ahli taurat yang menganggap diri bijaksana dalam mengajar Kitab Suci. Yesus punya kuasa lebih dari itu. Ia mengajar dengan kuasaNya sebagai Putera Allah, Dia juga punya kuasa untuk membebaskan manusia dari kuasa roh jahat.

Paulus dalam bacaan pertama juga membuat pemilahan jenis roh yang diaplikasikan pada Allah dengan RohNya yang Kudus, pada manusia dan dunia yang berdosa. Roh itu menunjukkan relasi yang intim menghasilkan pilihan-pilihan  hidup, kasih, dan pemikiran-pemikiran. Roh dunia dan si pendosa tidak boleh menutup dirinya di hadirat Tuhan, justru dengan Sabda Yesus akan mampu membukanya. Roh orang-orang yang beriman seharusnya terbuka, siap untuk mempelajari pikiran-pikiran Tuhan. Roh Tuhan akan merembes masuk dan menguasai hidup manusia. Disini terjadi dialog penuh kasih antara Allah dan manusia. Roh Kudus menguduskan roh manusia yang tidak sempurna menjadi sempurna. Roh Kudus menjadi kuasa kasih yang mempersatukan manusia dengan Tuhan. 

Sabda Tuhan pada hari ini mengantar kita untuk semakin percaya pada Yesus dan kuasaNya. Dia seharusnya menjadi satu-satunya pribadi yang membuat kita terpesona dan takjub kepadaNya. Mengapa? Karena di dalam Yesus, semuanya kekal. Orang-orang yang mendengarnya saat itu terpesona dan mengalami hidup yang sebenarnya. Kita juga hendaknya memikirkan bahwa roh-roh jahat juga masih menguasai kehidupan kita. Banyak kali kita memang mengakui diri sebagai pengikut Kristus tetapi hidup kita masih diliputi oleh kuasa-kuasa kejahatan. Saudara-saudari, kita butuh Yesus untuk melepaskan kita dari kuasa-kuasa roh jahat manapun. Yesus tegas dan menghendaki para pengikutNya hidup sebagai orang-orang merdeka.

Doa: Tuhan, Engkaulah Putera Allah yang berkuasa dalam diri kami. Amen

PJSDB

Monday, September 3, 2012

Parenting ala Yesus

Meditasi Luk 4:24

Menerima anak apa adanya atau menolaknya?

Penginjil Lukas hari ini memberi kesaksian bahwa ketika Yesus memasuki rumah ibadat di Nazareth, Ia memilki kesempatan pertama kali untuk membaca Kitab Suci. Biasanya bagi orang dewasa, mereka memiliki kesempatan untuk membaca nas-nas tertentu. Ketika itu, dari gulungan  Kita Nabi Yesaya ditemukan nas yang bagus dan sepertinya menjadi visi dan misiNya di dunia ini (Yes 61:1-2.58:6). Yesus membaca nas ini dan membuat mata semua orang tertuju padaNya: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab itu Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan khabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada orang-orang  buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Setelah melihat reaksi orang-orang yang mendengarNya, Ia berkata: "Seorang nabi di hormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya" (Luk 4:24). 

Perikop ini mau menunjukkan bahwa Yesus adalah utusan Bapa yang dikuduskan untuk mewartakan Injil kepada kaum papa dan miskin, memberi warta kemerdekaan kepada warga terpenjara, buta dan tertindas. Namun warta Yesus ini bukanlah berita yang menggembirakan. Dia justru ditolak orang-orang Nazaret karena mereka mengenal secara lahiria siapakah Yesus itu.

Di dalam pendidikan anak, terkadang orang tua lupa untuk mengajar anak-anak menentukan skala prioritas di dalam hidupnya. Orang tua hanya menghimbau secara umum tetapi lupa follow up himbauannya. Seorang anak muda pernah berkata kepada saya rasa sedihnya karena orang tuanya terlalu dominan dalam hidupnya. Dia kasih contoh, dalam memilih jurusan untuk kuliah saja, orang tuanya yang menentukan. Mereka tidak memikirkan bahwa yang kuliah adalah anak, sukar dan gampang adalah anak yang tahu. Sebaiknya anak-anak dibantu untuk bertumbuh dalam kebiasaan baik: mereka adalah anak yang merdeka, memiliki skala prioritas dan perencanaan hidup yang baik (mental planning). Apakah orang tua punya waktu untuk membantu anak-anak dalam hal-hal ini?

Satu hal lain yang sering dilupakan orang tua adalah menerima atau menolak anak. Kalau anak itu suka turut perintah diterima dengan baik, jadi anak papi dan mami. Kalau anak itu kritis dan kadang tidak patuh, apalagi membuat skandal tertentu, mudah ditolak. Nah, Anak yang sangat penurut pun belum tentu yang terbaik. Anak yang suka melawan belum tentu dia anak yang tidak baik dan patut ditolak. Seharusnya, kenalilah anak-anakmu dengan baik dan ketahuilah motivasi hidup mereka. Anak-anak yang suka menurut mungkin hanya takut, pura-pura membuat orang tua senang tetapi mereka sendiri sebetulnya tidak tulus melakukannya. Anak-anak yang tidak taat mungkin dia masih mencari identitas atau jati dirinya. Bantulah dia untuk mengenal dirinya dan berubah menjadi orang merdeka yang menghormati orang tuanya. 

Hai para orang tua, kamu pasti bisa!

PJSDB

Renungan 3 September 2012

St. Gregorius Agung (540-606)
1Kor 2:1-5
Mzm  119:97.98.99.100.101.102
Luk 4:16-30

Jadilah Utusan Tuhan yang Terbaik!

Hari ini kita merayakan Pesta St. Gregorius Agung. Pertama-tama kita ucapkan selamat pesta nama untuk mereka yang memiliki nama baptis Gregorius. Gregorius lahir sekitar tahun 540 dari keluarga Patrisi. Ia pernah mengalami pergumulan hidup seperti ini: pribadinya tertarik pada hidup kontemplasi, tetapi gereja memerlukan pembaharuan dan penataan kembali. Pada saat itu ia menjadi walikota Roma (572/573) dan keunikannya adalah ia tahu mengatur masyarakat. Setelah ayahnya meninggal dunia maka ia mendirikan biara Andreas di Roma dan pernah menjadi Rahib. Ia menyukai keheningan untuk dapat berkontemplasi. Paus mengutusnya ke Konstantinopel (579-585). Pada tahun 590 ia terpilih menjadi Paus. Sebagai Paus ia menata hidup rohani gereja. Liturgi disehatkan kembali, lagu-lagu  Gregorian dihidupkan kembali. Dia meninggal dunia pada tanggal 12 Maret 604.

Sambil merenungkan kehidupan St. Gregorius Agung, kita boleh menyadari bahwa Dia adalah utusan Allah untuk membaharui gereja dalam kehidupan doa dan kehidupan devosional. Hingga saat ini banyak orang terbantu secara rohani dengan membaca tulisan-tulisannya. Bacaan-bacaan liturgi kita hari ini juga menghadirkan dua figur penting sebagai utusan yakni Yesus dari Injil dan Paulus. 

Dari bacaan Injil, Penginjil Lukas mengisahkan Yesus yang tampil di dalam rumah ibadat di Nazareth, tempat Ia dibesarkan. Ia membaca gulungan Kitab Nabi Yesaya khususnya Yes 61:1-2 dan 58:6 yang berbunyi: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab itu Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan khabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada orang-orang  buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Kutipan perikop Yesaya oleh Yesus ini merupakan gambaran Visi dan Misi Yesus sebagai utusan Bapa. Semua mata tertujuh pada Yesus yang mereka kenal setiap hari karena ia menayatakan diri sebagai figur kharismatis (dipenuhi oleh Roh Kudus) dan memiliki tugas penting: Mewartakan Injil atau khabar baik kepada kaum miskin dan membawa kemerdekaan kepada umat manusia. Ini juga menjadi warta keselamatan dalam sehingga diberitakan sebagai tahun rahmat Tuhan telah datang. 

Orang miskin menjadi opsi pelayanan Yesus karena Dia sendiri mesikpun Allah, tetapi rela menjadi manusia yang miskin, dan rendah hati sampai wafat di salib supaya manusia dapat memiliki martabat baru sebagai anak-anak Allah (Flp 2:8). Pengalaman Yesus dalam peristiwa Bethlehem sampai Kalvari merupakan gambaran Allah yang rela menjadi manusia yang miskin. Itu sebabnya, Ia berkata dalam Sabda bahagia, “Berbahagialah mereka yang miskin di hadirat Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” (Mat 5:3). Selama hidupnya di atas dunia, orang-orang miskin dan sederhana, atau kaum Lazarus merupakan pilihan pelayanan Yesus. Tentu saja kemiskinan bukan hanya soal harta tetapi juga secara rohani. Opsi pelayanan Yesus ini yang juga menjadi opsi Gereja untuk berpihak pada kaum miskin dan terlantar. Apakah gereja sungguh-sungguh menjalankann tugas kenabian ini untuk melayani kaum papa dan miskin?

Yesus juga menjadi Mesias yang membebaskan para tawanan, orang buta dan orang-orang di dalam penjara. Dia memilih untuk menyelamatkan, membebaskan mereka dari semua hal yang membelenggu. Tujuan Yesus adalah memerdekakan umat manusia dalam kebenaran (Yoh 8:32). Pilihan pelayanan Yesus ini juga nantinya menjadi ukuran untuk mengadili kita pada akhir zaman. Dalam hal ini, “Apa saja yang kamu perbuat untuk saudaraKu yang paling hina ini, kalian lakukan untuk Aku.” (Mat 25:40).

Yesus menyadari diriNya sebagai pribadi yang dikuduskan oleh Roh bagi kaum papa, tawanan, orang buta dan yang tertindas. Ini adalah komunitas mesianis yang mau menerima keselamatan universal dalam diri Yesus. Tentu saja kehadiran Yesus dan pengucapan visi dan misi sebagai utusan tidaklah muda diterima. Yesus mengalami penolakan dari orang-orang sekampung halaman. Dia berkata, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di kampung halamannya sendiri.” (Luk 4:24). Meskipun mengalami penolakan bangsaNya sendiri namun Ia tetap berpegang pada visi dan misiNya bagi kriteria orang yang disebutkan di atas sehingga orang-orang asing pun diselamatkan.

Utusan yang kedua dari Bacaan Liturgi kita adalah Paulus. Belajar dari pengalamannya di Athena (Kis 17:22-24), Ia mengatakan kepada umat di Korintus bahwa kehadirannya adalah untuk mewartakan Kristus tersalib. Dia tidak bermaksud mewartakan kebijaksanaan yang berdasar hanya pada pengetahuan manusiawi semata tetapi pada Kristus sendiri yang disalibkan. Untuk itu dia berharap agar iman orang-orang di Korintus betul-betul memiliki dasar yang kuat pada Kristus sendiri. Prinsip Paulus ini jelas yakni kita perlu menetukan pilihan dan prioritas di dalam karya pelayanan. Ada beberapa hal yang dapat membantu pertumbuhan iman kita: kesaksian akan kehadiran Allah, percaya pada Yesus tersalib, penyataan Roh Allah dan kuasa Allah. Ini semua adalah elemen-elemen terpenting untuk mewujudkann iman yang radikal.

Sabda Tuhan membangkitkan semangat iman kita untuk mengenal Kristus lebih mendalam. Dia adalah Utusan Tuhan Bapa di Surga yang menyelamatkan kita. Dialah yang memerdekakan kita dari dosa dan salah sehingga dapat menjadi manusia yang merdeka sejati  yang tidak ada bandingnya dengan kemerdekaan yang ditawarkan manusia. Kadang-kadang kita menolak Yesus untuk hadir di dalam diri kita. Kita juga mengalami penolakan tertentu dari sesama di dalam rumah atau di tempat kita berkarya. Apakah kita harus berputus asa? Apakah anda harus berlari dari kenyataan hidup ini? Tidak! Mari kita syukuri panggilan dan perutusan serta mengimaniNya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau rela menebus kami. Amen

PJSDB

Sunday, September 2, 2012

Parenting ala Yesus

Meditasi Mrk 7: 19-23

Mana yang "najis" dan "tidak najis" bagi anak-anak?

Perikop Injil hari Minggu ini tentang perintah Allah dan adat istiadat Yahudi.Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat terlalu mementingkan adat istiadat Yahudi dan lupa prinsip-prinsip dasar tentang martabat manusia, cinta kasih dan keadilan. Lebih lagi ada pola pikir mereka yang mengatakan bahwa perilaku manusia itu sungguh-sungguh berubah karena pengaruh lingkungan semata-mata. Semua hal yang terjadi di sekitar zona kehidupan seorang pribadi akan membuatnya jatuh dalam dosa. Makanan yang dimakan saja akan menajiskan orang kalau alat makan tidak di cuci, tangan untuk mengambil makanan juga tidak dicuci. Terhadap pengalaman ini, Yesus berusaha meluruskan pikiran mereka dengan berkata, “Segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalamm seseorang tidak dapat menajiskannya. Semua makanan halal.  Apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran yang jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Ini semua muncuk dari dalam dan menajiskan” (Mrk 7:19-23).

Ya, tentu di sini Yesus berbicara tentang halal tidaknya makanan di satu pihak dan dosa-dosa yang keluar dari dalam hati manusia di lain pihak. Nah, sadar atau tidak sadar para orang tua kadang-kadang merencanakan kejahatan-kejahatan tertentu di depan anak-anaknya. Misalnya seorang ibu karena saking kesal dengan suami berencana untuk membunuh suaminya. Dia mengutarakan di depan anaknya sendiri bahwa pada sangat benci sama suaminya dan suatu saat akan menusuknya dengan pisau sampai tewas. Atau seorang bapa yang menunjukkan iri hati dan cemburunya kepada isterinya di depan anak-anak sampai memukulnya berkali-kali. Anak-anak, apalagi mereka yang masih usia dini akan save semua pengalaman ini dan di masa depan akan mengulangi pengalaman masa kecil ini. Jangan heran kalau anak-anak usia dini pun sudah bisa melakukan kejahatan orang dewasa seperti pembunuhan, pemerkosaan karena pengalaman yang mereka rasakan di rumah atau dengan peer groupnya.

Anda mau punya generasi yang baik? Mau punya manusia muda yang memiliki jiwa manusia? Rumah haruslah menjadi taman eden bagi pertumbuhan mereka, bukan taman edan bagi kehancuran mereka. Mari kita menjaga dan melindungi generasi manusia baru dengan pendidikan nilai yang baik. Hai para orang tua, kamu pasti bisa memberi yang terbaik bagi anak bukan yang terburuk bagi anak. Dari situ tidak akan ada lagi najis-najis dalam ensiklopedi manusia muda.

PJSDB

Homili Hari Minggu Biasa ke-XXII

Hari Minggu Biasa ke-XXII
Ul 4: 1-2.6-8
Mzm 25:2-3a.3cd-4ab.5
Yak 1:17-18.21b-22.27
Mrk 7:1-8.14-15.21-23

Jadilah Pelaku Firman Yang Baik!

Hari ini kita memasuki Hari Minggu Biasa pekan ke-XXII, bertepatan dengan pembukaan bulan Kitab Suci Nasional. Setelah Konsili Vatikan II, Gereja mencoba membumikan Konstitusi Dogmatis “Dei Verbum” maka di mana-mana dibuat gerakan untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci. Dari situ muncullah metode-metode sharing Kitab Suci. Belakangan ini gereja berusaha menghidupkan kembali Lectio Divina. Semua ini bertujuan agar gereja sebagai Umat beriman dapat akrab dan mencintai Sabda Tuhan. Dalam prolog komentar Kitab nabi Yesaya, St. Hironimus menulis, “Penyangkalan terhadap Kitab Suci adalah penyangkalan terhadap Kristus”. Maka membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan dalam hidup yang nyata adalah sebuah panggilan di dalam Gereja. 

Di Indonesia, terjadi sebuah gerakan bernuansa ekumenis untuk membumikan Kitab Suci. Nuansa ekumenis yang dimaksud adalah adanya kerjasama Lembaga Alkitab Indonesia (Gereja Kristen) dan Lembaga Biblika Indonesia (Katolik) untuk menerjemahkan Kitab Suci ke dalam Bahasa Indonesia. Pada tahun 1976 diterbitkan Kitab Suci Edisi lengkap dalam Bahasa Indonesia. Pada tahun 1977, dimulailah gerakan dari para Bapa Uskup untuk membumikan Kitab Suci di Indonesia. Maka ditetapkanlah Bulan September sebagai bulan Kitab Suci Nasional hingga saat ini. Apa yang di lakukan selama Bulan Kitab Suci Nasional? Biasanya ada pendalaman Kitab Suci di lingkungan dan wilayah-wilayah dengan menggunakan metode sharing Kitab Suci atau Lectio Divina.

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini membantu kita untuk memiliki rasa cinta kepada Sabda Tuhan. Dalam Bacaan Pertama, Musa menegaskan kepada umat Isarel, “Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan. Jangan kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, yang kusampaikan kepadamu. Lakukanlah dengan setia sebab itu yang menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.” (Ul 4:1.6). Di sini Musa kiranya mengharapkan agar semua peraturan dan ketetapan dari Tuhan dilaksanakan secara murni dan berkualitas.   

Selanjutnya Tuhan Yesus di dalam Bacaan Injil memberi kritik tajam kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat bahwa mereka hanya berpegang teguh pada adat istiadat manusia saja. Hal yang memicu kritikan Yesus ini adalah karena adat kebiasaan ditonjolkan sehingga rasa cinta kasih, keadilan dan kebenaran memudar bahkan nyaris ditiadakan. martabat manusia tidak dijunjung. Kasus yang sedang dihadapi adalah para murid Yesus makan tanpa mencuci tangannya. Tentu saja bagi orang Farisi, hal ini sebuah skandal. Kebiasaan yang mereka miliki adalah membersihkan tubuh, alat makan dan minum. Sebagai orang yang teguh dalam hidup beragama maka mereka coba membandingkan diri dengan para murid Yesus, khusus dalam hal mencuci tangan sebelum makan.

Mereka bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid-muridMu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis”. Yesus menjawab mereka, "Benarlah nubuat nabi Yesaya tentang kamu hai orang-orang munafik! Ada tertulis: Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu.Percuma mereka beribadah kepadaKu sedangkan ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia. Perintah Allah diabaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”. Kata-kata Yesus ini membuat kita bertumbuhan sebagai orang-orang benar. Artinya setiap kali kita berdoa dan memuji Tuhan maka akal budi kita hendaknya sinkron dengan hati kita. Pada akhir perikop  ini, Yesus mengatakan bahwa bukan hal yang masuk dari luar itu menajiskan melainkan hal yang  keluar dari dalam diri orang tersebut. Mengapa? Yesus berkata, “Sebab dari dalam diri seseorang muncul segala pikiran yang jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat,  kesombongan dan kebebalan”. Ya, semua yang jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.

Lalu apa yang harus kita lakukan? 

Hal pokok yang dapat ditemukan dari ketiga bacaan di atas adalah Pertama, Pertobatan bathin atau metanoia. Orang perlu sekali lagi bermetanoia, mengubah kiblat hidupnya hanya kepada Tuhan. Kedua, menjadi pelaku Firman. Santu Yakobus dalam bacaan kedua mengharapkan agar kita semua dapat menjadi pelaku Firman. Jadi Firman Tuhan tidak hanya menjadi kata atau Sabda (logos) yang didengar. Kita tidak berhenti melainkan melaksanakannya di dalam hidup. Ketiga, Perbuatan-perbuatan kasih seperti mengunjungi anak-anak yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan merupakan wujud konkret seorang pelaku Firman. 

Firman Tuhan harus sungguh menjadi daging dan tinggal di antara kita (Yoh 1:14). Firman Tuhan menjadi nyata dalam perbuatan kasih. Maka seorang pelaku Firman yang baik akan bertindak dalam kasih. Dia juga bijaksana: "Jadi, jika setiap orang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu" (Mat 7:24). Meskipun badai datang menggoncangnya rumah itu tetap akan berdiri kokoh. Terimalah dengan lemah-lembut Firman yang tertanam dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Jadilah pelaku-pelaku Firman yang baik.

Doa: Tuhan, Terima kasih karena FirmanMu telah menguatkan kami. Amen

PJSDB

Saturday, September 1, 2012

Renungan 1 September 2012

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXI
1Kor 1:26-31
Mzm 33: 12-13.18-19.20-21
Mat 25:24-30

Setialah mengembangkan talenta dari Tuhan

Apakah anda setia di dalam hidup dan karya-karyamu sebagai anugerah dari Tuhan? Ini selalu menjadi sebuah pertanyaan yang patut direfleksikan secara mendalam oleh setiap pribadi. Misalnya, Apakah setiap pribadi setia dalam pekerjaan, mengembangkan bakat, waktu, kesempatan demi kebaikan banyak orang? Secara khusus, kepada para pasutri mereka dapat bertanya dalam diri masing-masing apakah sudah sedang setia di dalam hidup perkawinan mereka atau belum setia. Selama beberapa hari terakhir, permenungan kita adalah tentang urgensi Kerajaan Allah dan bagaimana kesiapan diri setiap pribadi untuk menyambut kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Nasihat-nasihat Tuhan Yesus di dalam Injil adalah supaya kita selalu siap siaga, berjaga-jaga dalam penantian. Berjaga-jaga bukan berarti santai dan bebas dari pekerjaan. Para pengikut Kristus tetap bekerja sebagai abdi yang setia. Para pengikut Kristus juga bijaksana dalam menanti kedatangan Tuhan.

Pada hari ini, Yesus memberi persyaratan lain untuk masuk Kerajaan Surga dalam perumpamaan tentang talenta. Apa itu talenta? Talenta dalam paham orang Ibrani adalah berat dan jumlah mata uang yang sama nilainya dengan 3000 sykal atau 42,525kg. Kalau diuangkan kira-kira bernilai $1600-$1900 US (Kel 38:25; Mat 18:24). Kadang-kadang 3000 sykal disamakan dengan 34 kg dan sebanding dengan 6000 dinar (Mat 18:24; 25:15-28). Belakangan ini talenta sering dipahami sebagai anugerah atau bakat alamiah misalnya dalam bidang seni dan olahraga. Orang bertalenta berarti orang yang punya bakat istimewa dalam bidang tertentu dan memilikinya secara alamiah. 

Sebagaimana dikisahkan oleh Matius, ada seorang yang mau bepergian ke luar negeri. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Hamba pertama diberikan lima talenta, hamba kedua diberikan dua talenta dan hamba ketiga satu talenta. Tuan ini memberikan talenta-talenta karena dia percaya bahwa mereka semua akan mengembangkannya dan menghasilkan bunga atau keuntungan tertentu. Tuan itu menganggap para hamba itu sebanding dengan mitra bisnis atau rekan sekerja di dalam perusahan. Tuan itu juga mengenal kemampuan para hambanya maka dia berharap agar kedelapan talenta yang diberikan ini menghasilkan talenta-talenta yang baru. Dalam hal ini aset keuangannya bertambah.

Hamba pertama yang memiliki lima talenta mengembangkannya dan mendapatkan lima talenta, jadi jumlahnya menjadi sepuluh talenta. Hamba kedua menerima dua talenta, mengembangkannya dan menghasilkan dua talenta, maka jumlahnya menjadi empat talenta. Hamba yang ketiga menerima satu talenta, mungkin karena malas atau merasa diremehkan karena hanya mendapat satu talenta maka dia tidak mengembangkannya. Dia juga mengenal tuannya sebagai orang yang kejam maka ia memilih tanah sebagai tempat yang aman untuk menyimpan talenta ini. 

Pada hari perhitungan, masing-masing hamba melaporkan kegiatan mereka. Hamba pertama membawa sepuluh talenta, hamba kedua membawa empat talenta dan hamba ketiga membawa satu talenta. Hamba yang pertama patut diberi kepercayaan karena dia tekun, lagi pula dia tidak meminta tuan untuk memperhatikan dirinya sendiri tetapi dia hanya meminta supaya tuannya memperhatikan lima talenta baru yang dihasilkannya. Tuan itu menunjukkan kemurahan hatinya dan memuji hamba pertama ini sebagai “hamba yang baik dan setia” dan layak duduk semeja dengan tuannya. Hamba kedua membawa keempat talentanya. Seperti hamba pertama, dia tidak meminta perhatian pada dirinya tetapi pada dua talenta baru yang ia hasilkan. Tuan itu menujukkan kemurahan hatinya dan menganggap hamba kedua sebagai mitra yang baik dan setia. Hamba yang ketiga hanya mengembalikan satu talenta yang diberikan tuannya karena ia mengenal tuannya sebagai orang yang kejam, yang menuai di mana dia tidak menabur dan memungut di tempat di mana dia tidak menabur. Maka jalan terbaik baginya adalah menguburkannya di dalam tanah. Talenta tetap milik tuannya, tetapi hamba ini telah menghalangi tuannya untuk mendapat keuntungan. Talenta itu pun diambil dan diberikan kepada orang yang memiliki sepuluh talenta. 

Perumpamaan tentang talenta ini membuka wawasan kita dalam menanti kedatangan Tuhan. Para gadis yang bijaksana dan bodoh menanti kedatangan pengantin dan karena lama maka mereka menjadi malas dan tidur. Para hamba yang dipercayakan untuk mengembangkan talenta ini juga menunggu tuannya dalam waktu yang lama untuk membuat perhitungan. Dua hamba yang pertama bijaksana dan dapat mengembangkan talenta tuannya dan menghasilkan keuntungan sedangkan hamba yang ketiga patut mendapat hukuman karena tidak mengembangkan talenta yang dipercayakan kepadanya. Dalam perumpamaan ini Yesus mau mengingatkan para muridNya bahwa Ia akan menderita, sengsara, wafat bangkit dan naik ke surga tetapi para murid diharapkan untuk rajin dan tekun mengembangkan segala anugerah yang Dia berikan kepada mereka. Pada akhirnya mereka akan mempertanggungjawabkan kepadaNya ketika Ia datang kembali dalam kemuliaanNya. Tentu saja bukan hanya bagi para murid saat itu, tetapi bagi kita semua para pengikutnya juga berlaku hal yang sama, tekun dan setia mengembangkan anugerah-anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.

Apa yang harus kita lakukan? Paulus dalam bacaan pertama mengajak kita untuk bermegah di dalam Kristus. Meskipun setiap pribadi mengalami pengalaman yang sulit, sampai ke titik kemiskinan yang ekstrim namun Tuhan tetaplah menjadi andalan. Tuhan Yesuslah yang karena karya Bapa di Surga menjadi hikmat, keadilan, kekudusan dan penebusan bagi manusia. Oleh karena itu semua anugerah yang diberikanNya kepada kita patut dikembangkan untuk menghasilkan buah yang berlimpah. Gunakanlah semua anugerah Tuhan untuk kebaikan dan kebahagiaan banyak orang.

Doa: Tuhan, terima kasih atas semua anugerahMu kepada kami. Amen

PJSDB