Sunday, April 7, 2013

Homili Hari Minggu Paskah II


Hari Minggu Paskah II
Kerahiman Ilahi
Kis 5:12-16
Mzm 118: 2-4.22.25-27a
Why 1:9-11a.12-13.17-19
Yoh 20:19-31

KerahimanMu Kurasakan!

Hari Minggu sesudah hari Raya Paskah juga dikenal sebagai Hari Minggu Kerahiman ilahi. Dalam buku catatan harian St. Faustina, memuat empatbelas bagian di mana Tuhan meminta suatu pesta atau perayaan “Kerahimann ilahi” yang ditetapkan secara resmi oleh Gereja: “Pesta ini muncul dari lubuk kerahimanKu yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasihKu yang paling lemah lembut. Adalah kehendakKu agar pesta ini dirayakan dengan khidmat pada hari Minggu pertama sesudah paskah. Aku menghendaki pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu lubuk belas kasihKu yang paling lemah lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahi imanKu”

Adalah Paus Yohanes Paulus II. Ia dikenal dengan sebutan Paus kerahiman ilahi menetapkan setiap hari Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi di dalam Gereja Katolik. Hal ini diumumkan secara resmi pada tanggal 30 April 2000 bertepatan dengan kanonisasi St. Faustina Kowalska. Paus Yohanes Paulus II juga memberi tugas kepada para imam dalam Dekrit Penitensiary Apostolik tanggal 28 Juni 2002 untuk menjelaskan kepada semua umat katolik makna Minggu Kerahiman Ilahi.

Dalam hari-hari novena baru-baru ini, ada seorang umat yang bertanya kepadaku, apa makna kerahiman ilahi di dalam hidupnya sebagai orang katolik. Pertama kita perlu memahami  makna kata kerahiman ilahi. Dalam bahasa Yahudi selalu dipakai dua kata kunci yang dikenakan pada sifat Allah yaitu rahamim dan khesed. Allah digambarkan memiliki kebaikan seperti seorang ibu yang memiliki rahim, untuk melindungi, menjaga dan memelihara anak di dalam kandungannya. Demikian manusia merasakan yang sama di dalam “rahim Allah”. Dalam bahasa Yunani di sebut heleos, bahasa Latin Misericordia dan bahasa Inggris mercy. Dengan memahami kata-kata ini maka Pesta kerahiman ilahi hendak menyadarkan semua manusia akan kerahiman, belas kasih dari Tuhan Allah yang tiada habis-habisnya bagi manusia. Manusia memiliki kebiasaan jatuh dalam dosa dan mengandalkan keselamatan, pengampunan dan pembaharuan di dalam hidupnya. Maka kerahiman ilahi dapat dirasakan dengan memandang Kristus tersalib. Dia menyerahkan diriNya untuk menunjukkan kerahiman Bapa yang kekal.

Lalu apa hubungan bacaan-bacaan suci hari Minggu ini dengan Pesta Kerahiman Ilahi? Penginjil Yohanes hari ini mengisahkan bahwa para murid Yesus masih ketakutan berkumpul di dalam suatu ruangan yang tertutup rapat. Pada saat itu Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka dan menyapa: “Shalom!” Ia menunjukkan tangan dan lambungNya kepada mereka. Mereka sangat bersukacita melihatNya sehingga Ia berkata sekali lagi “Shalom! Sama seperti Bapa mengutus Aku demikian juga Aku mengutus kamu” Setelah itu Ia menghembusi mereka dengan Roh Kudus. Ia berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau  kamu mengampuni dosa orang,dosanya diampuni. Dan jikalau kamu mengatakan dosa orang tetap ada maka dosanya tetap ada.”

Hal-hal yang kiranya mengajak kita untuk merasakan kerahiman Tuhan adalah: Kehadiran Yesus di tengah para murid yang sedang ketakutan dan memberikan Salam damaiNya kepada mereka. Sapaan seperti ini memiliki makna yang luhur. Kerahiman Allah dirasakan di dalam hati yang damai. Yesus juga mengutus para muridNya untuk mewartakan kerahiman Allah Bapa melalui pengampunan dosa. Kuasa mengampuni dosa berasal dari Roh Kudus yang dicurahkan atau dihembuskan oleh Yesus sendiri. Nah dalam sakramen Tobat atau pengampunan dosa, kasih Allah itu dirasakan tiada batasnya. Dialah yang mengampuni tanpa memperhitungkan dosa-dosa kaum pendosa. Roh Kudus juga dihembus supaya hidup lama bisa diubah menjadi baru. Tentu saja butuh iman yang kuat kepada Tuhan Yesus yang bangkit mulia.

Lukas dalam Bacaan Pertama dari Kisah Para Rasul menggambarkan bagaimana pesan Tuhan Yesus bagi para rasulNya sebagai pembawa kerahiman ilahi sungguh-sungguh terlaksana. Sikap hidup mereka yang baik membuat banyak orang di Yerusalem menyenangi dan menghormati mereka. Banyak orang juga menjadi percaya kepada Tuhan. Kerahiman Tuhan dirasakan terutama oleh orang-orang sakit yang yang dibaringkan merasakan penyembuhan, meskipun hanya bayangan Petrus saja. Di samping orang-orang sakit, mereka yang kerasukan roh jahat pun mengharapkan kerahiman Tuhan melalui Petrus dan teman-temannya.

Dalam Kitab Wahyu, gambaran kerahiman ilahi adalah pada figur Anak Manusia yang berpakaian jubah putih. Dialah yang mengatakan: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Aku adalah yang hidup. Aku telah mati namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya”. Yesus telah menumpahkan darahNya yang mulia dan air dari lambungNya
yang kudus untuk menyucikan umat manusia. Ini adalah wujud kasih Yesus yang mendorong kita semua untuk bertumbuh dalam kasih persaudaraan.

Sabda Tuhan dan Pesta Kerahiman ilahi pada hari ini mengajak kita untuk memfokuskan perhatian kita pada dunia yang kita huni. Begitu banyak dosa dan salah yang dilakukan umat manusia. Dimana-mana terjadi peperangan, perlakuan-perlakuan yang tidak adil terhadap sesama, martabat manusia diinjak-injak, sakit penyakit yang merajalela. Semua situasi ini diakibatkan oleh dosa. Dunia membutuhkan kerahiman ilahi untuk membaharuinya. Manusia membutuhkan kerahiman ilahi, hembusan Roh Kudus yang menyadarkannya  akan dosa dan salahnya sehingga ia bisa bertobat. Suasana yang tidak menentu di dunia diganti dengan kasih Allah yang tiada batasnya. Tugas manusia adalah membawa kasih Allah, hidup baru kepada semua orang. Tentu saja butuh iman kepada Tuhan sumber kerahiman. Apakah anda sungguh-sungguh percaya pada Tuhan? Kalau anda sungguh percaya maka rasakanlah kerahimanNya.

Doa: Allah yang maharahim, kasihanilah kami orang berdosa ini. Amen

PJSDB

Saturday, April 6, 2013

Renungan 6 April 2013

Hari Sabtu Oktaf Paskah
Kis 4:13-21
Mzm 118:1.14-15a.16a.18.19-21
Mrk 16:9-15

Jadilah Saksi Kristus!

Kita memulai hari baru ini dengan sebuah antifon yang bagus: “Tuhan mengantar umatNya dalam kegembiraan, dan para pilihan dengan sukacita.” (Mzm 105:43). Hari ini juga merupakan hari terakhir oktaf Paskah. Selama seminggu ini kita merasa secara rohani Tuhan mengantar kita dalam suasana kegembiraan dan sukacita paskah. Dasar dari kegembiraan Kristiani adalah Kristus telah wafat, Kristus telah bangkit dan Kristus akan kembali. Inilah misteri iman yang selalu kita doakan dalam perayaan Ekaristi. Tetapi yang menjadi mahkota sukacita adalah kebangkitan Kristus dari kematianNya.

Penginjil Markus hari ini membuat ringkasan umum sukacita kristiani terutama penampakanNya. Ia berkisah: setelah Yesus bangkit dari antara orang mati, Ia menampakkan diri kepada para muridNya Maria Magdalena adalah orang pertama yang mengalami penampakkan Tuhan. Yesus juga menampakkan diriNya kepada dua orang murid yang dalam perjalanan ke luar kota.  Yesus menampakkan diriNya kepada kesebelas muridNya pada saat mereka sedang makan. Meskipun Yesus menampakkan diriNya dengan jelas, menyapa mereka dari hati ke hati tetapi satu hal yang sangat umum di antara mereka adalah “Mereka tidak percaya bahwa Yesus bangkit”.

Kita melihat bagaimana bersukacitanya Maria Magdalena ketika melihat Tuhan dan segera
mewartakannya kepada para murid yang sedang bersedih tetapi mereka tidak percaya. Kedua murid yang pergi ke luar kota dan kembali menceritakan pengalaman akan Kristus yang bangkit itu pun mereka tidak percaya. Itu sebabnya kali ini Yesus menampakkan diri secara langsung kepada mereka untuk mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, karena mereka tidak percaya pada saksi mata yang mewartakan kebangkitan Kristus.

Bagaimana reaksi Yesus? Yesus selalu tampil hebat. Ia tahu bahwa para muridNya tidak percaya, hati mereka degil tetapi Ia tetap menaruh kasih kepada mereka. Ia tetap menetapkan mereka sebagai utusanNya yang akan pergi dan berbicara atas namaNya. Yesus dengan suara lantang mengatakan: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk!”. Bagi kita sebagai manusia, pasti merasa bahwa Yesus senantiasa lain. Dia tahu bahwa para muridNya tidak percaya, degil hati tentang kebangkitanNya tetapi masih mau mempercayakan misiNya kepada mereka. Para Rasul atau utusan diharapkan pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil bukan hanya kepada sesama manusia tetapi kepada segala makhluk, seluruh alam semesta.

Pesan Yesus ini sudah dibuktikan oleh Petrus dan Yohanes. Lukas dalam bacaan pertama mengisahkan bagaimana Petrus dan Yohanes berada di hadapan Mahkamah Agama Yahudi. Petrus dan Yohanes dianggap orang yang tidak terpelajar tetapi memiliki keberanian di hadapan Mahkamah Agama. Mereka heran dengan luasnya pengetahuan Petrus dan Yohanes yang membuat banyak orang menjadi percaya kepada mereka. Ini tentu mengkhawatirkan penduduk Yerusalem terutama para pemimpinnya. Itu sebabnya mereka melarang Petrus dan Yohanes untuk tidak boleh mengajar atas nama Yesus dari Nazareth. Tetapi Petrus dan Yohanes mengatakan: “Silakan kamu putuskan  sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar”

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk bertumbuh sebagai murid Kristus yang baik. Kita mengikuti semua kegiatan rohani, praktek-praktek kesalehan, novena, ziarah dan semuanya ini seharusnya membuat kita semakin berani untuk memberi kesaksian tentang kebangkitan Kristus. Semua pengalaman rohani ini seharusnya membuat kita semakin dekat dan akrab dengan Tuhan karena pertobatan radikal yang kita bangun. Petrus dan Yohanes menginspirasikan kita untuk menjadi murid Kristus yang berani mewartakan Injil kepada segala makhluk.

Doa: Tuhan Yesus, berikakanlah keberanian kepada kami untuk berani mewartakan InjilMu kepada segala makhluk. Amen

PJSDB 

Friday, April 5, 2013

Renungan 5 April 2013

Hari Jumat, Oktaf Paskah
Kis 4:1-12
Mzm 118:1-2.4.22-27a
Yoh 21:1-14

Hanya dalam Yesus ada keselamatan 
(Kis 4:12)


Dalam oktaf Paskah ini, kita semua dibantu oleh kisah-kisah kebangkitan Yesus terutama penampakan-penampakanNya. Kemarin hari Kamis Oktaf Paskah, Penginjil Lukas memberi kesaksian bahwa Yesus menampakkan diriNya kepada semua muridNya dengan mengucapkan kata shalom atau damai sejahtera kepada mereka. Selanjutnya Ia menunjukkan tubuhNya yang mulia bahkan Ia juga makan sepotong ikan goreng di hadapan  mereka. Yesus memang mau mengatakan kepada mereka bahwa diriNya sungguh-sungguh bangkit  dan bahwa diriNya adalah Tuhan yang menaklukkan segalanya. Pada hari ini, Penginjil Yohanes kembali memberikan kesaksiannya bahwa Yesus menampakkan diriNya untuk ketiga kalinya di hadapan para muridNya.

Menurut Penginjil Lukas, Kleopas dan temannya yang pulang ke Emaus karena kecewa meskipun kemudian mereka kembali ke Yerusalem setelah mengenal Yesus dalam Ekaristi. Hari ini Penginjil Yohanes bersaksi bahwa para murid Yesus juga kembali ke Galilea dan mau
bekerja sebagai nelayan. Memang itulah pekerjaan mereka sebelum mengikuti Yesus. Ada tujuh murid Yesus dalam kelompok ini yakni Petrus, Thomas, Natanael, Anak-anak Zebedeus dan dua orang murid lainnya tanpa nama sedang berada bersama-sama di Kapernaum. Petrus sebagai pemimpin berkata kepada mereka: “Aku hendak pergi menangkap ikan”. “Kami akan pergi bersama engkau” sahut keenam teman yang lain. Mereka pergi bersama untuk menangkap ikan pada malam itu tetapi mereka tidak dapat menangkap apa-apa. Mungkin saja mereka juga makin kecewa. Mengapa demikian? Karena para murid ini sedang dalam kekecewaan besar sehubungan dengan pengalaman bersama Yesus sebelumnya. Itu sebabnya mereka memilih untuk meninggalkan pengalaman kebersamaan dengan Yesus sebelumnya, meninggalkan Yerusalem sebagai pusat iman dan kembali kepada kehidupan semula yakni sebagai nelayan di Galilea. Mereka sebenarnya lupa akan apa yang dikatakan Yesus sebelumnya “Terlepas dari Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Mereka mau bekerja sendirian tanpa mengandalkan Yesus. Ini disimbolkan dengan suasana malam hari, kegelapan yang mereka alami saat itu. Memang hidup dalam kegelapan, jauh dari Yesus sebagai cahaya sejati maka semua karya kita tidak akan menghasilkan apa-apa.

Sebelum matahari terbit, mereka melihat Yesus berdiri di pinggir pantai danau, hanya mereka tidak mengenal Yesus. Ia memanggil mereka dan bertanya apakah ada sesuatu untuk di makan. Sapaan Yesus bagi mereka adalah “Anak-anakKu” karena Yesus sekarang bukan hanya sebagai sahabat tetapi sebagai Tuhan yang mulia. Mereka menjawab Yesus bahwa tidak ada makanan maka Ia menyuruh mereka menebarkan jala di samping kanan perahu dan berhasil menangkap 153 ekor ikan, jala tidak koyak. Dari semua yang ada di dalam perahu, hanya Yohanes yang mengenal Yesus dan mengatakan “Itu Tuhan”. Perkataan Yohanes ini menyadarkan Petrus akan kegelapan hidupnya, rasa tidak percayanya kepada Yesus maka ia terjun ke dalam air. Memang hidup sendirian, tanpa mengandalkan Yesus itu seperti suasana malam hari. Mereka tidak mendapat apa-apa karena mereka lebih mengandalkan diri, mengandalkan pengalaman masa lalu sebagai nelayan. Mereka lupa bahwa Yesus lebih berkuasa dari semua pengalaman pribadi mereka. Pengalaman-pengalaman ini menyadarkan diri mereka untuk mengenal Tuhan. Ketika ada kesadaran dan pengenalan diri maka orang dapat merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dan menyesali dosa dan salahnya seperti dilakukan Petrus.

Yesus berhasil mengubah kehidupan para muridNya. Ia menyapa mereka anak-anakKu karena Dia adalah Tuhan. Ia berekaristi bersama mereka dengan mengucap berkat atas roti dan ikan dan mereka pun bersantap bersama pada pagi itu. Proses pengenalan diri yang terus menerus, pertobatan yang dibangun oleh setiap pribadi menghasilkan suka cita dalam kebersamaan.

Bacaan Injil hari ini sangat menarik perhatian kita. Pertama, reaksi dari para murid
untuk kembali kepada kehidupan mereka sebagai nelayan tanpa Yesus. Tetapi Yesus tetap memiliki komitmen untuk mendampingi mereka perlahan-lahan sampai mereka dapat mengenal diri dan mengenal Yesus. Ini adalah sebuah pertemuan rohani yang selalu dikenang dalam Ekaristi. Kedua, Pengalaman manusiawi para rasul adalah bahwa mereka mengandalkan pengalaman masa lalu sebagai nelayan dan tidak mengandalkan Tuhan, tetapi ternyata Tuhan lebih berkuasa. Mereka sadar akan kuasa Tuhan ketika menangkap 153 ekor ikan dan jala tidak koyak. Ini adalah angka biblis yang menunjukkan kesempurnaan dan universalitas. Sebenarnya kisah ini mau mengatakan tentang Gereja yaitu umat Allah. Gereja tidak dapat berdiri sendiri. Gereja butuh Yesus untuk berkembang karena terlepas dari Yesus, gereja hanya akan mengalami kegelapan, tidak berdaya apa-apa.

Kita seharusnya belajar dari Petrus dan Yohanes yang penuh dengan Roh Kudus sangat berani mewartakan bahwa Yesus dari Nazareth yang dibunuh di salib telah bangkit dari antara orang mati. Dialah yang menyembuhkan si lumpuh miskin yang sedang berada di tengah-tengah mereka. Orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka menangkap Petrus dan Yohanes lalu menahan mereka semalam karena pewartaan mereka tentang kebangkitan Yesus dari nazareth. Pada keesokan harinya, ketika di hadapkan pada para pemimpin agama, Petrus dan Yohanes kembali bersaksi bahwa Yesus dari Nazareth sungguh-sungguh bangkit. Oleh karena itu tidak ada keselamatan di luar Yesus. Tidak ada nama yang paling indah selain dari nama Yesus, Allah yang menyelamatkan.

Sabda Tuhan hari ini sangat indah dan membantu kita untuk bersatu dengan Yesus, sumber keselamatan abadi. Perkataan Petrus sangat tepat: "Di luar Yesus tidak ada keselamatan". Dialah satu-satunya penyelamat kita bukan salah satu penyelamat kita. Marilah kita mengandalkan Tuhan Yesus dalam hidup, jangan terlalu mengandalkan diri dan mengesampingkanNya. Memberi kesaksian tentang Yesus juga berdampak pada keberanian diri kita untuk bertahan dalam penderitaan sebagaimana dialami Petrus dan Yohanes. Mereka tidak takut untuk menderita. Yesus sendiri berkata: "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga" (Mat 5:11-12).

Sabda Tuhan juga menyadarkan kita sebagai gereja untuk selalu mengandalkan Tuhan di dalam karya pelayanan setiap hari. Sama seperti Petrus dan teman-temannya  dalam Injil, nantinya mereka juga akan menyadari bahwa semua pekerjaan yang mereka lakukan, terutama dalam mewartakan Injil, selalu mengalami penyertaan Tuhan Yesus. Pada saat ini, Gereja juga mengalami penyertaan yang sama. Memang selalu ada kesulitan, tetapi Gereja tidak akan bubar karena penyertaan Tuhan Yesus. Apakah Gereja mengenal Tuhan dan selalu menunjukan kepada banyak orang: "Itu Tuhan?" Ya, hanya di dalam Yesus ada keselamatan! (Kis 4:12).


Doa: Tuhan, terima kasih atas semua pengorbananMu bagi kami. Ajarilah kami untuk lebih mengandalkan diriMu di dalam hidup kami setiap hari. Amen

PJSDB

Thursday, April 4, 2013

Renungan 4 April 2013

Hari Kamis, Oktaf Paskah
Kis 3:11-26
Mzm 8:2ab.5.6-7.8-9
Luk 24:35-48

Kami adalah saksi

Baron de Rothschild adalah seorang pakar finansial yang kaya raya. Ia memiliki sebuah keunikan yaitu hidup sederhana. Pada suatu ketika ia meminta seorang pelukis untuk melukis dirinya. Ia berpakaian compang-camping dan memegang sebuah kaleng sambil meminta uang. Pelukis itu melukisnya seharian dan pada saat itu masuk juga seorang sahabat sang pelukis. Ia berpikir bahwa Baron de Rothschild adalah seorang pengemis sungguhan sehingga beberapa koin pun diletakkan di dalam kaleng yang ia pegang. 

Sepuluh tahun kemudian, orang yang memberi koin itu di dalam kaleng itu menerima sepucuk surat dari Baron de Rothschild dengan sebuah cek senilai 10.000 franc. Dalam surat tersebut tertera pesan ini: “Suatu hari anda pernah memberi uang receh kepada Baron de Rothschild di studio Lukis Ary Scheffer. Ia menginvestasikannya dan sekarang mengirimi anda  modal yang anda percayakan kepadanya serta bungannya”. Tindakan yang baik selalu membawa nasib keberuntungan. 

Petrus dan para Rasul diberi modal yang kuat oleh Yesus selama Ia masih bersama mereka.
Yesus misalnya pernah memberi perintah baru kepada para murid: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yoh 13:34). Ucapan Yesus ini kiranya seperti modal yang diinvestasikanNya kepada umat manusia. Tuhan lebih dahulu mengasihi kita maka marilah kita pun saling mengasihi. Pengalaman lain yang muncul adalah Petrus dan Yohanes menanam modal kasih kepada si lumpuh miskin. Ia disembuhkan oleh Yesus dalam kata-kata Petrus: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Dalam nama Yesus Kristus orang Nazaret itu berjalanlah” (Kis 3:6). Sebagai ucapan syukur atas kesembuhan dalam nama Yesus itu maka ia rela mengikuti Petrus dan Yohanes.

Sambil memandang kepada orang yang disembuhkan dalam nama Yesus maka Petrus berkotbah di serambi Salomo tentang identitas Yesus dan bagaimana menerimaNya di dalam hidup. Petrus berkata: “Hai orang-orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan HambaNya, yaitu  Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat bahwa Ia harus dilepaskan.  tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu. Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan tentang hal itu kami adalah saksi”. 

Petrus dengan penuh kebanggaan menghadirkan figur Yesus kepada orang-orang Israel. Kuasa Yesus itu dirasakan nyata oleh orang lumpuh itu menandakan bahwa Yesus mengasihi dan menerimanya apa adanya. Yesus tidak menuntut hal lain selain keterbukaan iman kepadaNya. Mengapa? Karena di dalam diri Yesus Allah telah memuliakan diriNya. Yesus adalah Hamba, Yang Kudus dan Benar, Pemimpin kepada hidup. Dia telah bangkit dan para Rasul adalah saksiNya.

Dengan pengalaman Yesus ini, Petrus meminta kepada orang-orang Israel untuk sadar dan bertobat. Mereka tidak boleh mengulangi dosa lama karena mereka tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan. Lagi pula dosa lama itu telah dihapus oleh Yesus sendiri dengan menumpahkan darahNya yang mulia. Di samping menjelaskan kesaksiannya tentang kebangkitan Kristus, Petrus juga mengambil contoh-contoh dari Kitab Perjanjian Lama yang menggambarkan Yesus sebagai masa depan sang Mesias. Jadi kesaksian yang sekarang mereka berikan bukanlah hal yang baru karena semuanya itu sudah dinubuatkan oleh Tuhan dalam Kitab Perjanjian Lama.  

Penginjil Lukas menggambarkan Yesus yang bangkit mulia menampakkan diriNya kepada semua murid. Ketika para murid sedang bercakap-cakap tentang pengalaman bersama Yesus, tiba-tiba Ia hadir di tengah-tengah mereka dan menyapa: “Shalom. Damai sejahtera bagi kamu!” Kata-kata ini memang mengherankan para muridNya. Yesus menampakkan diriNya dengan Tubuh yang lengkap: “Lihatlah tangan dan kakiKu: Aku sendirilah ini. Rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulang seperti apa yang kamu lihat.” Setelah mengatakan seperti itu, Yesus dengan tubuhNya yang mulia ini meminta kepada mereka ikan untuk dimakanNya.

Yesus menampakkan diriNya supaya para RasulNya dapat memberi kesaksian yang baik dan benar: Suaranya didengar dengan jelas ketika mengatakan “Shalom”. TubuhNya yang mulia kelihatan kaki dan tangan yang nyata Ia makan ikan di depan mata mereka. Ia membuka pikiran mereka untuk mengenal Dia sebagaimana sudah ditulis di dalam Kitab Suci: Taurat, nabi-nabi dan Mazmur”. 

Sabda Tuhan hari ini menguatkan iman kita kepada Kristus. Dia telah bangkit maka marilah
kita bertobat dan percaya kepadaNya. Hal yang menarik perhatian kita terutama dari Injil hari ini adalah betapa pentingnya Tubuh Kristus bagi keselamatan kita semua. Untuk dapat menyelamatkan kita, perlu Inkarnasi atau Sabda Allah menjelma menjadi manusia, sama seperti kita. Untuk menunjukkan bahwa Ia sungguh-sungguh sudah bangkit, Ia muncul di hadapan para muridNya dengan menunjukkan TubuhNya: kaki dan tangan yang membedakanNya dengan hantu seperti dipikirkan para muridNya. Pada saat ini kita menerima keselamatan melalui Ekaristi kudus, Tubuh Kristus yang bangkit. Yesus menghendaki kita untuk mewartakan Injil dengan menghadirkan secara nyata Tubuh dan DarahNya. Apakah kita dapat menjadi pembawa warta suka cita, damai dan chanel keselamatan bagi sesama?

Doa: Tuhan Allah dan Bapa kami, berilah kami anugerah pertobatan kepada Yesus PuteraMu. Amen

PJSDB  

Wednesday, April 3, 2013

Renungan 3 April 2013

Rabu  Oktaf Paskah
Kis 3:1-10
Mzm 105:1-2.3-4.4. 6-7.8-9
Luk 24:13-35

Mane Nobiscum Domine!

Ada dua orang yang sama-sama menjadi penumpang busway dari Harmoni ke ITC Cempaka Mas. Mereka duduk berdampingan dan ada kesempatan saling berkenalan. Si Teddy mengenakan kalung dengan salib dan corpus Jesus. Si Tino tidak menggunakan salib atau lambang apa pun. Sambil duduk bersama mereka saling memandang dan tersenyum. Mereka bercerita banyak hal dan pada akhirnya menjadi serius ketika bercerita tentang Yesus. Ternyata ceritanya tidak berhenti pada Yesus tetapi pada orang-orang yang mengikuti Yesus. Menurut Teddy, orang kristiani yang baik harus menggunakan lambang-lambang bernuansa kristiani sehingga tetap menjadi kenangan. Tino mengatakan, lambang hanya lambang tidak memiliki makna. Lambang harus memberi arti pada kehidupan pribadi. Misalnya menggunakan salib berarti harus berani memikul salib. Jadi ada sinkronisasi antara hidup dan perbuatan nyata. Mereka turun di ITC Cempaka Mas dengan banyak sharing dan pencerahan tentang hidup kristiani.

Hari ini kita berjumpa lagi dengan figur Petrus dan Yohanes. Pada  hari minggu paskah kita
sama-sama merefleksikan kedua figur ini: Petrus adalah figur hirarkis yang berjalan perlahan namun pasti. Yohanes adalah figur karismatis Gereja yang berjalan cepat tetapi taat pada hirarki. Kali ini mereka berdua masuk ke dalam Bait Allah pada sore hari. Di sana ada seorang laki-laki yang lumpuh dan miskin. Ketika melihatnya, Petrus berkata kepadanya: “Saudara, lihatlah kepada kami.” Ia melihat dengan harapan akan mendapat sesuatu dari Petrus dan Yohanes tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku! Tetapi apa yang kupunya kuberikan padamu: Demi nama Yesus Kristus orang Nazareth itu berjalanlah”. Orang itu menjadi sembuh, melompat dan memuji Allah. Semua orang takjub karena melihat tanda besar: si lumpuh miskin sudah berjalan normal karena nama Yesus.

Petrus dan Yohanes menunjukkan suatu hal yang istimewa yaitu mereka tidak hanya berbicara tetapi melakukan. Mereka memperkenalkan Kristus bukan dengan kata-kata kosong tetapi dengan perbuatan kasih. Teladan kedua rasul ini tetap menjadi inspirasi hidup bagi gereja. Sikap bela rasa terhadap kaum miskin papa dan orang yang sakit adalah opsi Gereja dalam pelayanan dan persaudaraan. Nah tinggal bagaimana orang mau menghayati hidupnya sebagai pengikut Kristus. Apakah gereja hanya bisa berteriak dan mengadili umat atau melayani kaum papa miskin seperti yang dilakukan Yesus dan para muridNya.

Yesus dalam bacaan Injil menunjukkan sukap bela rasaNya terhadap kedua muridNya yang sedang melakukan perjalanan ke Emaus. Kleofas dan temannya sedang sedih, kecewa dan
bingung maka mereka memilih untuk meninggalkan Yerusalem sebagai pusat iman mereka. Di sanalah rasa terpesona mereka pada Yesus berawal. Hanya sayang sekali Yesus yang mereka kagumi wafat di kayu salib. Itu sebabnya mereka mau kembali dan hidup biasa-biasa sambil mengenang Yesus. Di saat sedih dan serasa ada pergumulan hidup seperti ini maka, Yesus hadir dan menemani perjalanan hidup mereka. Ia berekaristi bersama mereka dengan menjelaskan Kitab Suci dan memecahkan roti serta membagi-baginya kepada mereka. Pada saat itulah mereka mengenal Dia. Hati mereka berkobar-kobar ketika bersama Yesus. Ekaristi bersama Yesus membuat mereka kuat dan kembali ke Yerusalem sebagai rasul Kristus yang bangkit. Satu kalimat yang menarik perhatian kita dari Kleopas dan temannya adalah: Mane Nobiscum Domine. Mereka memohon supaya Tuhan tetap tinggal bersama mereka.

Yesus menunjukkan bela rasaNya dalam hal apa?

Pertama, Yesus berekaristi. Dia mulai dengan Sabda yang menjelaskan diriNya sendiri kemudian memecahkan roti, mengucap berkat dan membagikan kepada kedua muridNya. Yesus menggunakan waktu yang cukup untuk menjelaskan seluruh isi Kitab Suci, mulai dari Kitab Taurat sampai Kitab para nabi. Penjelasan ini membuat hati mereka berkobar-kobar. Yesus memecahkan roti di hadapan kedua murid, dan saat itu mereka mengenalNya. Apa artinya ini bagi kita? Perayaan Ekaristi kita terdiri atas dua bagian penting yaitu liturgi sabda dan liturgi Ekaristi. Kadang-kadang orang tidak berpartisipasi dalam kedua bagian ini. Selalu ada keberatan karena homili romo tidak menarik dan tidak kontekstual, lebih suka terima komuni saja. Ini sungguh keliru! Dengan sabda kita dperbaharui karena hati berkobar-kobar. Dengan Ekaristi atau komuni kudus kita mengenal Yesus lebih dalam.

Kedua, Yesus membantu para orang tua dan pembina anak-anak serta orang muda untuk selalu hadir. Kehadiran para orang tua dan kemampuan untuk selalu mendengar anak-anak adalah hal yang esensial dalam pendidikan anak-anak. Anak-anak kadang-kadang hidup dalam kekecewaan, ketakutan, stress, frustrasi. Ini adalah kesempatan yang baik orang tua dan para pendidik menjadi alter Christus. Hadirlah, dampingilah dalam perjalanan hidup mereka, dengarlah keluh kesah mereka dan berikan solusinya melalui nasihat-nasihat yang baik. Yesus sendiri melakukan semua ini bagi kedua murid Emaus. Hai para orang tua, jangan pernah merasa rugi meluangkan waktumu bagi anak-anak. Ini adalah bela rasa yang paling baik dalam panggilanmu sebagai orang tua.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk berbela rasa dengan sesama dalam berbagai aspek kehidupan. Kepada kaum papa miskin, yang sakit dan menderita kita menunjukkan bela rasa kita dengan selalu hadir dan meneguhkan, membawa Kristus kepada mereka. Kepada anak-anak di rumah dan siapa saja yang Tuhan berikan kepada kita, kita hadir, mendengar, memberi nasihat dan makan bersama mereka. Pada saat makan bersama, cinta kasih yang tersembunyi menjadi nyata. Orang tua akan mengenal keaslian perilaku anaknya di meja makan!

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk berempati dengan sesama yang menderita. Amen

PJSDB

Tuesday, April 2, 2013

Renungan 2 April 2013

Selasa Oktaf Paskah
Kis 2:36-41
Mzm 33:4-5.18-19.20.22
Yoh 20:11-18

Aku telah melihat Tuhan!

Perayaan Ekaristi pada hari Selasa Oktaf paskah ini dimulai dengan sebuah antifon pembukaan yang bagus: “Kebijaksanaan dianugerahkan  kepada kita laksana air untuk diminum. Kebijaksanaan Tuhan berakar di dalam hati kita, dan membahagiakan kita selama-lamanya” (Sir 15:3-4).  Mengimani Kristus yang bangkit mulia tidak semata-mata kerja intelek kita tetapi harus seimbang dengan hati kita. Hati yang bijaksana, yang terbuka pada semua rencana dan kehendak Tuhan.

Pada hari ini kita berjumpa dengan dua figur yang kuat yang kiranya dapat membantu
pertumbuhan iman kita. Figur pertama dari Injil yakni Maria Magdalena. Penginjil Yohanes bercerita bahwa pada pagi-pagi buta Maria Magdalena pergi ke makam Yesus. Ia melihat makam itu sudah kosong maka ia menangis sambil melihat ke dalam makam. Ia melihat dua malaikat berpakaian putih, satu duduk di dekat kepala dan lainnya dekat kaki. Kedua malaikat itu bertanya kepada Maria: “Ibu mengapa engkau menangis?” Dengan polos Maria menjawab: “Tuhanku, telah diambil orang, dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”. Maria Magdalena di sini digambarkan sebagai seorang pribadi yang mencari Tuhan Yesus. Ia mau membalas jasa Tuhan karena darinya Tuhan Yesus mengusir tujuh roh jahat (Luk 8:2). Hanya saja kita melihat Maria begitu manusiawi, sangat posesif. Itu sebabnya ia polos mengatakan “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”.


Maria menoleh ke belakangnya dan melihat Yesus mulia tetapi ia belum mengenalnya. Ia mengira seorang penunggu taman. Yesus bertanya: “Ibu mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menunjukkan lagi sikap posesifnya dan kali ini lebih manusiawi: “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambilNya”. Perhatikanlah perubahan yang terjadi: tadi dengan para malaikat, Maria masih mengatakan “Tuhanku”. Sekarang dengan Yesus yang bertubuh mulia dan dikira penunggu taman, Maria turunkan lagi level pengenalannya akan Yesus: Tuan, aku dapat mengambilNya”. Bayangkan seorang wanita bertubuh kecil mau “mengambil” jenazah Yesus yang bertubuh tinggi dan berat.

Pengenalan akan Yesus yang sangat manusiawi, posesif, berubah ketika Yesus membuka pikirannya dengan sapaan dengan nama: “Maria”. Nama itu menunjukkan totalitas kehidupan manusia. Maria merasa menjadi baru dengan sapaan Yesus itu karena tadinya ia sangat manusiawi, masih diliputi suasana duka dan kecewa. Tetapi apa reaksi Maria? Ia menyapa Yesus: “Rabuni” artinya “Guruku”. Dengan penuh keakraban Ia ingin menyentuh Yesus tetapi Yesus berkata: “Janganlah engkau memegang Aku sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Pergilah dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu bahwa sekarang Aku pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu”. Pasti ada yang bertanya mengapa Yesus tidak mengijinkan Maria untuk menyentuhNya? Yesus tidak takut dengan perempuan, Ia justru mau supaya Maria menyadari hidup barunya sebagai utusan atau rasul. Perasaan manusiawi yang dimiliki Maria Magdalena harus berubah menjadi perasaan ilahi untuk bersaksi. Itu sebabnya Maria dengan sukacita kembali ke komunitas dan berkata: “Aku telah melihat Tuhan dan Tuhan berbicara kepadaku”

Kisah Maria Magdalena ini sangat menarik. Pengalamannya menjadi pengalaman Gereja untuk mengalami Yesus yang bangkit mulia. Maria memulai pengalaman bersama Yesus pada level iman yang sangat manusiawi, terlampau posesif. Perlahan-lahan Yesus menyadarkan bahwa perasaan manusiawi, cinta kasih manusiawi itu harus berubah menjadi ilahi sehingga layak menjadi utusan Tuhan. Maria menyadarinya, ia menjadi baru dan menjadi utusan Tuhan
Yesus. Gereja juga mengalami pengalaman yang mirip. Kadang setiap pribadi mengalami sikap yang posesif seperti Maria Magdalena, dan berpikir orang lain tidak punya hak untuk memiliki Yesus. Ketika kita lebih terbuka lagi pada Yesus maka kita akan menjadi utusanNya yang handal.

Maria Magdalena itu hebat. Dialah murid pertama yang menerima anugerah istimewa, menjadi saksi kebangkitan. Para bapa gereja menyebutnya rasul dari para rasul karena dialah yang membawa berita kebangkitan Yesus: “Aku telah melihat Yesus”. Ini adalah pengalaman yang unik. Mengapa? Pertama, dia seorang wanita dan kesaksian seorang wanita dalam agama Yahudi tidak sah di depan hukum. Kedua, menurut Injil Lukas, Tuhan mengusir bukan satu tapi tujuh roh jahat. Tetapi Tuhan Yesus memang hebat, Ia memilihnya menjadi rasul dari para rasulNya.

Figur kedua dalam bacaan liturgi kita adalah Petrus. Petrus tadinya penakut, tetapi setelah pentekosta, ia begitu berani berbicara tentang Yesus dari Nazareth kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem. Ia berkata: “Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.” Kata Tuhan dan Kristus ini penting bagi orang-orang Yahudi. Yesus menjadi “Adonai” dan Kristus artinya Mesias, terurapi. Oleh karena itu mereka bertanya kepada Petrus, apa yang akan mereka lakukan untuk menerima Yesus, Tuhan dan Mesias. Petrus menjawab mereka: "Bertobatlah, hendaklah kamu memberi diri dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa. Dengan demikian kamu akan menerima karunia Roh Kudus." Inilah keberanian seorang Petrus yang penuh dengan Roh Kudus, sehingga ia dapat membaptis 3000 orang saat itu.

Sabda Tuhan pada hari ini sangat istimewa. Kita semua diarahkan untuk menyadari kembali proses pengenalan kita akan Yesus Kristus. Pengalaman akan Allah itu ditandai dengan pertobatan yang terus menerus di dalam hidup kita. Maria Magdalena dan Petrus mengalaminya dan luar biasa, mereka menjadi utusan Tuhan. Mari kita menyadari panggilan dan perutusan kita masing-masing sebagai orang yang sudah dibaptis. Sempurnakanlah dirimu dengan pertobatan dan anda akan menjadi utusan atau rasul Tuhan yang istimewa. Katakanlah kepada sesamamu: "Aku telah melihat Tuhan!"

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk menyadari kehadiranMu di dalam pengalaman hidup setiap hari. Amen

PJSDB

Monday, April 1, 2013

Renungan 1 April 2013


Hari Senin Oktaf Paskah
Kis 2:14.22-32
Mzm 16: 1-2a.5.7-8.9-10.11
Mat 28: 8-15

Kebenaran versus Kebohongan Publik


“Selamat Pesta Paskah”. Ketika pembaca RenHar membaca kalimat ini, ada yang pasti mengatakan bahwa pesta paskahnya sudah lewat romo. Kalau saya sendiri yang mendengarnya, saya akan mengatakan kepadanya bahwa setiap kali merayakan ekaristi, kita merayakan pesta Paskah. St. Paulus mengatakan bahwa Ekaristi adalah saat kita mengenang Paskah Kristus. Itu sebabnya setiap hari Minggu selalu dikatakan Paskah Mingguan. Kepada seorang guru agama, saya pernah bertanya: “Apa yang  menjadi kekhasan kisah naratif Paskah?” Dia dengan tepat mengatakan: “Kisah makam kosong” dan “kesaksian para saksi mata bahwa Yesus menampakkan diri”. Saya memberi jempol kepadanya karena ia menjawab dengan benar. Dari malam paskah kita mendengar kisah makam kosong yang menandakan bahwa Yesus sudah bangkit, bukan dicuri jenasahNya oleh para muridNya, dan kisah berupa kesaksian-kesaksian para saksi mata bahwa Yesus menampakkan diri kepada mereka.

Penginjil Matius hari ini melaporkan bagaimana komunitas para Rasul mengalami kebangkitan Kristus. Kisah makam kosong dialami oleh para perempuan yang pergi ke kubur Yesus. Mereka digambarkan memiliki suasana bathin takut dan sukacita yang besar. Para wanita ini melihat kubur kosong dan segera pulang untuk menyampaikan kepada komunitas para murid bahwa Yesus sudah bangkit. Tetapi tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata: “Shalom”. Reaksi para murid adalah mendekatiNya, memeluk kakiNya dan menyembahNya. Reaksi Yesus adalah menitip pesan kepada mereka untuk menyampaikan para saudara supaya pergi ke Galilea. Di sana mereka akan melihatNya.


Terlepas dari sukacita yang besar, muncul juga kebohongan publik yang dilakukan oleh para pemimpin Yahudi. Kebohongan publik dalam seperti apa? Para pemipimpin Yahudi yakni para imam dan tua-tua kepala menyogok para serdadu yang menjaga kubur Yesus untuk mengakui bahwa para murid Yesus mencuri jenazahNya. Ini contoh sebuah kebohongan publik di dalam Injil.

St. Lukas di dalam Kisah Para Rasul,  melaporkan kegiatan misioner para Rasul. Sebelumnya mereka merasa takut tetapi setelah menerima Roh Kudus pada Hari Pentakosta, semuanya menjadi berani untuk bersaksi tentang kebangkitan Kristus. Petrus bersama komunitas berkumpul bersama sebagai satu kekuatan untuk menerima Roh Kudus. Ia berkata, “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, camkanlah bahwa Yesus dari Nazareth telah kamu salibkan dan bunuh dengan tangan bangsa durhaka. Allah telah membangkitkanNya dan melepaskanNya dari sengsara maut. Kami adalah saksi-saksiNya.”

Sabda Tuhan dalam bacaan pertama dan Injil hari ini mengajak kita untuk mereungkan hal-hal berikut ini:

Pertama, Yesus sudah bangkit. Warta kebangkitan ini sangat luhur dan patut untuk dipercaya. Karena Dia telah bangkit maka makamNya kosong. JenasahNya tidak dicuri atau dipindahkan karena kain kafan dan kain peluh juga masih ada di dalam makam, posisinya teratur. Para rasul membuktikan bahwa Yesus sungguh bangkit karena mereka mendengar suaraNya dan sempat memeluk kakiNya. Tentu saja mereka memeluk kaki orang yang hidup bukan kaki jenazah.

Kedua, Menjadi saksi untuk memberi kesaksian yang benar. Para Rasul, diwakili Petrus dalam bacaan pertama berani bersaksi tentang kebangkitan Yesus Kristus.Ini adalah sebuah warta sukacita. Ketakutan telah berubah menjadi kekuatan untuk menjadi pewarta. Keberanian untuk mewartakan Yesus yang bangkit mulia bisa ada kalau Roh Kudus hadir, memberi kekuatan kepada para Rasul. Mereka tidak sendirian tetapi mengalami penyertaan Tuhan melalui RohNya.

Ketiga, kebohongan publik. Ini adalah krisis kepercayaan diri para pemimpin. Para imam kepala dan pemimpin Yahudi berusaha menutup mata dan membuat kebohongan publik di hadapan wali negeri. Rekayasa cerita pun dibuat-buat untuk menutub aib ketidakpercayaan masyarakat kepada mereka.

Pada saat ini kita sendiri tidak dapat memeluk kaki Yesus lagi sebagaimana dilakukan para perempuan saat itu, atau duduk dan makan bersama Yesus seperti dialami para rasulNya. Tetapi kita memiliki para rasul yang sama sebagai saksi mata bahwa Yesus sungguh bangkit. Mari kita bersyukur kepada Kristus karena Iman yang dianugerahkan, kita mewartakan kabar suka cita tentang Yesus, Penebus kita. Pertanyaan sederhana bagi kita adalah: “Bagaimana anda memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus Kristus?”

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau menyapa kami “shalom”. Semoga hari ini kami saling menyapa dan meneguhkan sebagai saudara. Amen

PJSDB