Thursday, June 6, 2013

Renungan 6 Juni 2013

Hari Kamis, Pekan Biasa IX
Tob 6:10-11; 7:1,9-17;8:4-9a;
Mzm 128:1-2,3,4-5;
Mrk 12:28b-34

Mengasihi Tuhan, Mengasihi Sesama!

Pada suatu hari saya merasa terganggu dengan persiapan pribadi untuk merayakan Ekaristi kudus. Saya ingat bahwa pada saat itu saya baru dua tahun menjadi imam. Saya pergi menghadap Bapa Uskup Kherubim Parera, SVD, Uskup Weetebula untuk konsultasi rohani. Dalam perbincangan kami Bapa Uskup coba membantu saya untuk melakukan resolusi yang bagus: “Pastor harus memiliki skala prioritas dalam menghayati hukum cinta kasih”. Beliau menjelaskan kepada saya: “Kalau pastor betul-betul mengasihi Tuhan lebih dari yang lain maka prioritaskanlah Tuhan di atas segalanya. Jadi sesibuk apa pun siapkanlah perayaan ekaristi dengan baik karena untuk itulah kita ditahbiskan”. Sejak saat itu saya benar-benar memprioritaskan Tuhan dalam segalanya. Saya mulai tekun menyiapkan perayaan Ekaristi dan merayakannya dengan devosi dan penuh iman. Pesan-pesan Bapa Uskup ini tetap saya ingat sampai sekarang. Terima kasih Bapa Uskup Kherubim, SVD.

Kadang-kadang di dalam hidup dan karya, kita mengandalkan diri sendiri. Mungkin kita berpikir sudah memiliki kemampuan super bahkan sudah melebihi Dia yang menciptakan kita. Padahal Tuhan Yesus sendiri berkata: “Terlepas dari Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. (Yoh 15:5). Kita seba
gai manusia hanya “seperti bunga yang berkembang lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan” (Ayub 14:2). Itulah kefanaan manusia. Maka di hadapan Tuhan hendaknya kita mengakui dan percaya bahwa Dia adalah segalanya. Semua yang kita lakukan dalam karya dan pelayanan adalah bukti kasih kita kepada Tuhan melebihi segalanya.

Penginjil Markus hari ini melaporkan bahwa ada seorang ahli Taurat yang mendengar Yesus, datang kepadaNya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Yesus tahu bahwa di hadapanNya adalah seorang ahli Taurat maka Ia pun langsung menjawabnya: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12: 29-30). Hukum yang pertama ini sudah ada di dalam Kitab Ulangan 6:4-5. Setiap orang Israel harus mengulanginya setiap hari baru. Mengasihi Allah lebih dari segalanya dan seluruh totalitas kehidupan kita: hati, jiwa, akal budi dan kekuatan semuanya untuk Tuhan.

Dengarlah Israel merupakan kalimat-kalimat pertama dari shema yang harus diucapkan oleh seorang Israel. Mula-mula ada pengakuan iman "Tuhan Allah kita adalah esa" Setelah itu dilanjutkan dengan hukum kasih kepada Allah. Mengasihi Allah dengan  segenap hati berarti mengasihi Tuhan dengan seluruh totalitas kehidupan kita. Hati bagi seorang Yahudi adalah pusat personalitas manusia, energi baik yang rasional maupun emosi. Jiwa menunjukan seluruh eksistensi manusia yang dihidupi oleh Roh (nephesh) (Kej 2:7). Dengan segenap akal budi menunjuk pada aspek rasional dari personalitas, dalam hal ini kekuatan intelektual dari setiap manusia. 

Yesus melanjutkan perkataanNya, “Hukum yang kedua ialah: “Kasihilah sesamamu
manusia  seperti dirimu sendiri” (Im 19:18). Haruslah selalu diingat bahwa tidak cukup kita mengatakan mengasihi Allah, sesama juga patut dikasihi. St. Yohanes mengatakan: “Barangsiapa mengatakan mengasihi Tuhan tetapi membenci saudaranya, ia seorang pembohong” (1 Yoh 4:20). Kualitas mengasihi Tuhan menjadi nyata dalam usaha kita mengasihi sesama seperti kita juga mengasihi diri kita sendiri.

Jawaban Yesus ini membuat Ahli Taurat bertumbuh dalam imannya. Dia pun sebagai seorang ahli Taurat dan orang Yahudi tulen pasti mengetahui hukum yang pertama dan terutama maka ia mengakuinya dengan jujur di hadapan Yesus bahkan menambahkan bahwa kedua hukum ini melebihi korban bakaran dan korban sembelihan. Mendengar itu Yesus mengatakan kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Kisah tentang Tobit berlanjut. Tobit menderita kebutaan dan membuat dia mengeluh karena menderita di hadapan Tuhan. Tetapi karena imannya, Tuhan memberikan anugerah kesembuhan melalui malaikat Rafael. Demikian juga Sara yang mengalami kekerasan verbal dan perlakukan tidak adil. Ia mengalami kemurahan Tuhan. Ia pun menjadi pilihan Tuhan untuk mendampingi Tobia sebagai teman hidup. Mereka berdua menikah dan hidup bahagia. 


Sebagai tanda syukur Sara dan Tobia berdoa: Terpujilah Engkau, ya Allah nenek moyang kami, dan terpujilah namaMu sepanjang sekalian abad. Hendaknya sekalian langit memuji Engkau dan juga segenap ciptaanMu untuk selama-lamanya. Engkaulah yang telah menjadikan Adam dan baginya telah Kaubuat Hawa isterinya sebagai pembantu serta penopang; dari mereka berdua lahirlah umat manusia seluruhnya. Engkaulah bersabda pula: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja, mari Kita menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. Bukan karena nafsu birahi sekarang kuambil saudariku ini, melainkan dengan hati yang benar. Sudilah kiranya mengasihani aku ini dan dia dan membuat kamu menjadi tua bersama." Serentak berkatalah mereka: "Amin! Amin!"

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk menyadari prioritas kehidupan kita di hadapan Tuhan. Dia adalah segalanya maka kita pun harus mengasihiNya lebih dari segalanya dan dengan seluruh totalitas kehidupan kita. Mari kita juga bertumbuh dalam kasih dan menghayati kasih kepada Tuhan dengan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Iman menjadi dasar yang kuat untuk mencintai Tuhan  dan sesama. Kisah Tobit dengan penderitaannya, Sara dengan pengalaman menyakitkan karena pencelaan ternyata tidak membuat mereka patah semangat dalam hidup. Mereka tetap percaya pada perlindungan Tuhan. Mereka berhasil di dalam hidup karena dikasihi Tuhan. Sara akhirnya bahagia menikah dengan Tobia. Kalau mengalami penderitaan, jangan mudah putus asa. Tuhan adalah penolong kita.

Doa: Tuhan, semoga kami mengasihi Engkau lebih dari segalanya dan kami juga mengasihi sesama seperti diri kami sendiri. Amen


PJSDB

Wednesday, June 5, 2013

Renungan 5 Juni 2013

Hari Rabu Pekan Biasa IX
Tob 3:1-11a.13.16-17
Mzm 25:2-4a.4b-5ab.6-7bc.8-9
Mrk 12:18-27

Berpasrah kepada Allah yang hidup

Banyak di antara kita membaca dan mendengar tentang orang Saduki yang berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan bagi orang mati. Pertanyaan pertama bagi kita adalah siapakah orang-orang Saduki itu? Orang Saduki (Sadok) adalah sebuah golongan atau partai yang memiliki sedikit pengaruhnya di kalangan kaum Yahudi pada zaman Yesus. Pada umumnya orang-orang Saduki adalah para pemilik tanah di Palestina yang kaya raya, yang pada umumnya memperoleh kedudukan yang menonjol karena manipulasi licik dengan memanfaat keadaan politik yang ada di negeri itu. St. Lukas melaporkan bahwa di dalam Sanhedrin atau Mahkamah Agama Yahudi, kaum Saduki ini menduduki posisi yang signifikan yakni  setara dengan kaum Farisi (Kis 23:6-10). Banyak dari antara para imam kepala adalah kaum Saduki. Dalam urusan agama, mereka termasuk orang konservatif sehingga hanya menerima Kitab Taurat saja. Itu sebabnya ajaran-ajaran baru seperti hidup
kekal, kebangkitan, malaikat, setan, roh jahat tidak mereka akui. Ada juga teori yang mengatakan bahwa kaum Saduki juga menguasai Bait Allah selama berabad-abad.

Pada hari ini kita mendengar kaum Saduki ini datang dan mencobai Yesus dangan Hukum Taurat sebagai dasar pertanyaan mereka tentang perkawinan Levirat. Perkawinan Levirat adalah perkawinan antara seorang janda dengan saudara kandung mantan suaminya yang sudah meninggal dunia berdasarkan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan. Kaum Saduki menggunakan kebiasaan Levirat atau tukar tikar ini dengan sebuah contoh konkret tentang seorang wanita yang dinikahi tujuh bersaudara kandung. Pertanyaan mereka adalah pada hari kebangkitan, siapa yang menjadi suami wanita itu.  Yesus melihat kesesatan hati mereka maka Ia berkata: “Kalian sesat, justru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin atau di kawinkan, mereka hidup seperti malaikat di surga.  Allah yang kita imani adalah Allah orang hidup bukan Allah orang mati" (Mrk 12:24-25.27).

Yesus menempatkan diri dengan tepat karena menjelaskan dan membuka wawasan kaum Saduki yang selama itu tertutup. Sebagaimana kaum Farisi yang percaya pada kebangkitan pada zaman Yesus, demikian Yesus  juga dengan tegas mengingatkan para muridNya untuk percaya pada kebangkitan badan. Yesus sendiri menunjukkan kesaksian dari diriNya yang bangkit dengan mulia. Gereja saat ini selalu mengulangi di dalam Credo: “Aku percaya kepada kebangkitan badan”. Jawaban Yesus dengan mengambil contoh para Bapa Bangsa yakni Abraham, Ishak dan Yakub mau menujukkan bahwa mereka pun masih menunggu kebangkitan badan. Yesus ada sebelum Abraham (Yoh 8:58).

Allah kita adalah Allah orang hidup. Yesus sang Putra bangkit pada hari ketiga dari
kematianNya. Kebangkitan Yesus adalah dasar kebangkitan setiap pengikutNya. Itu sebabnya pada hari kebangkitan, semua orang akan seperti malaikat karena memiliki tubuh yang kekal. Tubuh spiritual seperti malaikat juga membuat kita mengerti bahwa saudara-saudara seiman sudah seperti malaikat dan pekerjaan mereka adalah melayani Tuhan siang dan malam. Jangan heran mengapa doa-doa kita dapat dikabulkan Tuhan setelah curhat di kuburan atau intensi misa di gereja. Karena mereka sudah seperti malaikat dan pasti mengatakan
kepada Tuhan semua kebutuhan yang kita sampaikan kepadaNya dengan perantaraan mereka. Hari ini mari kita perteguh iman kita kepada Tuhan sebagai Allah yang hidup dan bahwa kita pun akan bangkit dan seperti malaikat yang siang dan malam melayani Tuhan.

Tobit dalam bacaan pertama membuat sharing hidup dan pengalamannya bergumul di hadapan Tuhan. Selama beberapa hari terakhir ini, Tobit menunjukkan dirinya sebagai orang yang sabar, setia dan jujur di hadapan Tuhan. Kini dengan penderitaan yang dialaminya membuat dia bersedih hati, mengeluh dan menangis sehingga ia berani membuka mulutnya di hadirat Tuhan dalam doa. Di dalam doanya ini Tobit menunjukkan kembali rasa percayannya yang mendalam kepada Yahwe yang setia dan berbelaskasih. Tobit juga mengenal keadilan Tuhan yakni kesetiaan dan belaskasihNya yang berlimpah. Orang karena itu ia memohon untuk meninggalkan dunia dan pergi menghadap Yahwe. 


Tobit menginspirasikan kita untuk menerima semua pengalaman hidup dengan rasa percaya yang besar kepada Tuhan. Hanya dengan doa membuat Tobit menyadari keagungan Tuhan. Teladan yang diberikannya kepada kita adalah bertahan di dalam derita dan berpasrah dalam doa kepada Tuhan. Tuhan tentu tidak akan membiarkan ciptaanNya menderita berkepanjangan. Apakah ketika mengalami penderitaan, anda masih mau berdoa atau hanya mengeluh sepanjang hari?

Doa: Tuhan, hari ini Engkau meyadarkan kami untuk merindukan kehidupan kekal. Semoga harapan kami ini akan terwujud ketika tiba saat yang tepat kami berjumpa denganMu. Amen

PJSDB

Tuesday, June 4, 2013

Renungan 4 Juni 2013

Hari Selasa Pekan Biasa IX
Tob 2:9-14
Mzm 112:1-2.7bc-8.9
Mrk 12:13-17

Kamu adalah Gambar dan Rupa Allah!

Membayar pajak itu adalah salah satu kewajiban setiap warga Negara. Pada zaman Yesus, seluruh daerah Israel masih merupakan daerah jajahan Kerajaan Romawi. Oleh karena itu banyak orang Israel dijadikan pegawai Kerajaan Romawi untuk menagih pajak atau bea cukai. Para pemungut cukai ini sangat dibenci oleh sesama orang Israel bahkan mereka disamakan dengan kaum pendosa.Tuhan Yesus selalu menjadi sasaran kritikan ketika akrab dengan mereka. Yesus tentu tidak bermaksud untuk ikutan menjadi pemungut cukai tetapi Yesus bersahabat dengan mereka supaya dengan kekudusanNya dapat mengubah hidup mereka. Hal terpenting yang dicari Yesus adalah keselamatan semua orang.

Dalam permenungan kita hari ini saya mau memfokuskan  secara istimewa panggilan hakiki kita sebagai anak-anak Tuhan. Alkitab kita memulainya dengan melaporkan kisah penciptaan dimana manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Dengan demikian focus kehidupan setiap pribadi selalu terarah kepada Allah Tritunggal yang telah menciptakannya. Setiap orang dengan imannya berusaha untuk menunjukkan wajah Allah di dalam hidupnya kepada sesama.

Penginjil Markus melaporkan bahwa pada suatu kesempatan, Yesus didatangi oleh orang-orang Farisi dan Herodian untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Mereka mula-mula mengatakan bahwa mereka sudah tahu Yesus itu orangnya jujur, tidak takut kepada siapa pun, tidak mencari muka dan jujur mengajarkan jalan kebenaran. Pujian-pujian ini memang bukan berasal dari hati mereka tetapi ungkapan kemunafikan diri mereka di hadapan Yesus. Oleh Karena itu semua pujian palsu ini tidak menyentuh hati Yesus.

Selanjutnya mereka bertanya kepada Yesus, Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak boleh. Yesus bertanya kepada mereka alasan mengapa mencobai Dia. Ia meminta mereka sebuah coin dan sambil menunjuk coin itu kepada mereka Yesus bertanya: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka menjawab: “Gambar dan tulisan kaisar”. Yesus mengakhiri perbincangan mereka ini dengan tidak menjawab pertanyaan mereka tetapi dengan bahasa yang diplomatis berkata: “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.” Orang-orang itu hanya heran dan tidak dapat berbicara lagi dengan Yesus.

Bacaan injil hari ini membimbing kita untuk dua hal ini. Pertama, dalam relasi sosial, kita patut menghayati nilai-nilai positif di dalam hidup seperti kejujuran, keberanian, tidak mencari muka (dalam arti tidak menyogok atau menyuap) dan jujur mengajarkan jalan kebenaran. Nilai-nilai ini patut kita hayati dengan baik. Banyak orang tidak jujur, suka mencari muka, takut menerima tugas dan tanggung jawab tetapi rajin memberi kritikan pedas kepada orang lain. Orang-orang Farisi dan Herodian memang memuji Yesus karena Ia memiliki semuanya hanya saja pujian itu sebatas ungkapan kemunafikan mereka. Banyak kali kita pun demikian. Kita hanya  berhenti pada sikap basa-basi dalam berkomunikasi tetapi tidak sampai pada ikatan bathin sebagai sahabat dan saudara.

Kedua, Tuhan Yesus memang tidak menjawab pertanyaan mereka apakah ya atau tidak membayar pajak kepada kaisar. Yesus hanya bertanya “gambar” dan “tulisan” siapa. Lalu Ia mengatakan silakan berikan kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah. Tuhan Yesus mau mengatakan kepada mereka bahwa diri mereka diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah. Oleh karena itu mereka harus memiliki kesadaran bahwa diri mereka adalah milik Allah. Mereka harus berusaha hari demi hari menyerupai Allah (kekudusan). Mereka juga hidup dalam masyarakat sosial, menjadi sesama manusia yang punya hak dan kewajiban maka haruslah mereka juga membayar pajak. Selagi mereka masih ada di dunia, mereka warga dunia yang patuh kepada pemerintahan dunia, namun harus selalu ada orientasi kepada Tuhan yang segambar dengan manusia.

Contoh orang jujur dan saleh kita temukan di dalam bacaan pertama. Tuhan memperkenalkan kepada kita Tobit. Tobit memiliki pengalaman akan Allah yang sangat menarik perhatian kita semua. Ia melakukan sebuah karya amal kasih dengan menguburkan jenazah seorang dari suku bangsa mereka. Selanjutnya, karena udara panas, ia tidur di luar. Matanya terbuka dan seekor burung melepaskan kotorannya, jatuh persis di dalam mata Tobit. Ia pun menjadi buta. Semua tabib tdai mampu menyembuhkannya. Akibatnya semua pekerjaan sebagai suami diambil alih oleh istrinya bernama Hana. Aneka pekerjaan bahkan sebagai pembantu rumah tangga pun dijalaninya. Ia digaji dan dihadiai seekor kambing. Tobit adalah orang jujur maka ia mengehendaki demikian juga bagi istrinya. Ia minta untuk mengembalikan kambing kepada majikan istrinya tetapi istrinya mengatakan dengan tegas bahwa kambing adalah pemberian bukan barang curian. Istrinya tetap pada pendirian bahwa kambing adalah pemberian majikannya.

Tobit menunjukkan sikap jujurnya kepada kita semua. Ia ngotot dan mengatakan kepada
istrinya untuk mengembalikan kambing dan mencukupkan dirinya dengan gaji yang dia terima. Ia juga menunjukkan sikap tabah hati di saat menderita. Sambil menderita ia masih mau hidup jujur dan berkenan di mata Tuhan. Jarang orang yang sudah sedang menderita mau mengingat dan menghayati kejujuran dan kesabaran dalam hidup.

Sabda Tuhan pada hari ini, baik dari bacaan pertama dan bacaan injil saling melengkapi satu sama lain. Kebajikan-kebajikan terutama kejujuran dan ketabahan dalam penderitaan haruslah kita bangun di dalam diri kita masing-masing. Hidup kristiani akan semakin bermakna kalau kita mau hidup jujur dan bersahaya dalam menghadirkan Kristus di tengah masyarakat kita. Ingatlah bahwa kita semua diciptakan sewajah dengan Tuhan. Janganlah menyakiti Tuhan dengan dosa-dosamu. Berikanlah kepada Tuhan dirimu, kepada kaisar pajakmu.

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk menyadari diri kami sebagai ciptaan yang segambar denganMu dan buatlah kami menyerupaiMu. Amen


PJSDB

Monday, June 3, 2013

Renungan 3 Juni 2013

St. Karolus Lwanga dkk
Hari Senin Pekan Biasa IX
Tobit 1:1a-2a.3.2:1b-8
Mzm 112:1-2.3-4.5-6
Mrk 12:1-12

Cinta kasih menuntut pengorbanan diri

Hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan peringatan St. Karolus Lwanga dan teman-teman sebagai martir di Uganda. Karolus adalah seorang pelayan istana Muanga di Uganda, Afrika. Ia menjalani tugas peribadi sebagai orang yang dibaptis dengan menginjil teman-temannya dan membawa mereka kepada Yesus. Ia bahkan berani membaptis 4 pelayan istana di sebuah ruang tersembunyi di dalam kerajaan itu. Ketika ketahuan bahwa dia melakukan pembaptisan tersembunyi ini maka ia bersama 21 teman lainnya
dilemparkan ke dalam kobaran api, pada tanggal 3 Juni 1886. Pada tanggal 18 Oktober 1964 Paus Paulus VI mengkanonisasi Karolus Lwanga dan teman-temannya menjadi santo di dalam gereja katolik. Mari kita mendoakan Gereja di Afrika semoga benih para martir boleh menyuburkan benua hitam dengan umat katolik yang berkualitas.

Bacaan-bacaan liturgi kita pada hari ini lebih memfokuskan perhatian kita pada aspek cinta kasih dan pengorbanan diri juga kesabaran di dalam hidup setiap hari. Tidak ada cinta kasih yang tulus kalau tidak melalui pengorbanan diri bahkan menyerahkan nyawa. Di dalam bacaan pertama kita mendengar kisah Tobit. Ia sangat yakin dengan penyelenggaraan ilahi dari Tuhan. Tuhan diyakini sebagai pribadi yang senantiasa hadir dan berkarya di dalam dirinya. Inilah yang membuat dia berani untuk melakukan kehendakNya.

Tobit memulai pengalaman keras ketika dibuang ke Asyur bersama saudara-saudaranya. Di hadapannya dihidangkan makanan. Tobit berkata kepada Tobia: “Anakku, pergilah dan jika kaujumpai seorang miskin dari saudara-saudari kita yang diangkut tertawan di Ninive dan yang segenap hati ingat akan Tuhan, bawalah kemari dan ikut makan. Aku akan menunggu hingga engkau kembali. Ketika Tobia kembali, ia tidak membawa orang hidup untuk makan bersama Tobit tetapi berita kematian seorang Israel. Tobit meninggalkan makanannya, pergi dan mengangkat jenazah dan mengurus penguburannya. Tobit takut akan Tuhan, tidak ada ketakutan apa pun pada raja yang lalim. Sikap Tobit ini heroik. Andaikan saja diketahui raja pasti kisahnya berbeda seperti yang kita dengan hari ini. Dasarnya adalah iman Tobit kuat kepada Allah. Sungguh, berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan, yang suka akan segala perintahNya.

Penginjil Markus melaporkan bahwa Yesus mengajar dalam perumpamaan
kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan kaum tua-tua. Inilah perumpamaan tersebut: ada seorang yang membuka kebun anggur, membuat pagar di sekelilingnya, menggali lubang untuk memeras anggur, mendirikan menara jaga. Kelihatan kebun anggur ini sangat lengkap dan aman. Ia pun menyewakan kebun anggur itu kepada para penggarap. Ketika tiba musim panen, ia menyuruh utusannya untuk meminta kepada penggarap-penggarap hasil yang merupakan bagiannya. Beberapa kali ia menyuruh para utusannya bahkan anak tunggalnya sekali pun, ia bahkan dibunuh dan dilempar ke luar kota karena dialah ahliwarisnya. Melihat situasi ini maka pemilik kebun anggur berencana untuk menyewakannya kepada orang-orang asing.

Yesus memberi perumpamaan ini dan memiliki makna yang mendalam. Kita dapat melihat dan belajar dari figur-figur di dalam kisah Injil ini untuk membantu kita bertumbuh dalam iman. 

Pertama, Figur pemilik kebun anggur. Dia hebat, memiliki visi ke depan yang bagus. Ia menyiapkan kebun anggut, membuat pagar yang bagus, mengali lubang pemerasan dan menara jaga. Dia mempercayakan semuanya itu kepada para penggarap. Pemilik kebun anggur menunjukkan dua sikap penting: memiliki rasa percaya kepada para penggarap dan kesabarannya. Sikap  figur pemilik kebun anggur hendaknya kita ikuti dalam hidup setiap hari dengan memberi kepercayaan, share responsibility dengan sesama. Demikian juga kesabarannya. Banyak utusan yang diutusnya tetapi mereka dianiaya bahkan dibunuh oleh para penggarap. Apakah kita juga sabar terhadap orang-orang yang menyakiti kita? Figur pemilik kebun anggur adalah Tuhan sendiri.

Kedua, Figur kedua adalah para utusan. Para utusan melakukan apa yang ditugaskan oleh majikannya. Mereka tidak merasa ragu atau takut karena mereka menghambakan diri dalam melayani. Mereka adalah para nabi yang banyak mengalami penganiayaan. Putra tunggal sebagai utusan terakhir adalah Yesus sendiri. Ia juga mengalami kematian tragis, di bunuh di luar kota Yerusalem. Pada zaman ini anda dan saya adalah utusan Tuhan. Ekaristi yang selalu dirayakan selalu diakhiri dengan perutusan. Kita diutus untuk mabwa kasih, kesabaran dan damai Tuhan.

Ketiga, para penggarap. Yesus maksudkan Yesus adalah para imam kepala, tua-tua dan para ahli Taurat. Mereka semua bukan orang bodoh, mereka mengerti Kitab Suci. Masalahnya adalah pada kerakusan dan kerasnya hati mereka. Mereka menolak Tuhan dan para utusanNya. Yesus berkata kepada mereka: “Batu yang dibuang oleh para tukang bangunan telah menjadi batu penjuru”. Yesus mengalami penolakan tetapi Dia tetap menjadi batu penjuru.  Kita juga dapat menolak kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Kita juga dapat melupakan Tuhan sehinga tidak berdoa kepadaNya.

Sabda Tuhan hari ini membantu kita untuk bertumbuh dengan semangat mempercayakan diri hanya kepada Tuhan. Kita belajar dari Tobit yang mempercayakan dirinya juga semua rencananya kepada Tuhan. Tuhan yang memulai dan Tuhan akan menggenapi semuanya. Kita juga belajar dari Tuhan yang begitu baik dan sabar dengan manusia. Banyak kali kita kurang bahkan tidak sabar dengan diri kita dan dengan sesama. Tuhan saja sabar, mengapa kita tidak sabar? Tuhan menunjukkan kesabaranNya dengan menyiapkan segala yang baik untuk kita semua. Yesus Putra tunggalNya saja diberikan kepada kita. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik, kekal abadi kasih setiaNya.

Doa: Tuhan, bantulah kami supaya memiliki kesabaran di dalam hidup ini. Amen


PJSDB

Sunday, June 2, 2013

Kehadiran Yesus dalam Ekaristi Kudus

Ekaristi sebagai saat bersahabat dengan Yesus

Dalam kisah hidup para kudus, saya sangat tertarik dengan kehidupan St. Gerardus Majella. Orang kudus ini terkenal karena mengalami rahmat istimewa dari Tuhan yaitu dapat melayang di udara dan berada di dua lokasi sekaligus. Dia terkenal murah hati, taat, bakti yang tidak mementingkan diri sendiri dan matiraga. Pengalaman rohaninya dimulai ketika masih berusia 5 tahun. Ia masuk ke dalam Gereja dan terjadilah bahwa Patung Kanak-Kanak Yesus yang digendong Bunda Maria itu turun dan bermain-main dengan Gerardus. Ketika lapar, kanak-kanak Yesus itu memberinya sepotong roti. Setiap kali kembali ke rumah ia selalu membawa roti dan tentu mengherankan orang tuanya. Ketika ditanya dari mana roti itu, Gerardus hanya menjawab, ada sahabat yaitu seorang bocah laki-laki yang memberinya.

Pada suatu hari, kakak perempuannya mengikuti Gerardus ke Gereja. Di sana ia melihat
Gerardus bermain-main dengan kanak-kanak Yesus. Usai bermain bersama, Kanak-Kanak Yesus memberinya sepotong roti lagi. Setiap kali mengikuti misa kudus, Gerardus juga melihat kehadiran nyata Yesus dalam Ekaristi Kudus.  Pada saat berusia tujuh tahun, ia ingin menerima komuni, tetapi belum diperbolehkan karena usianya masih kecil. Ia pun menangis sedih seharian maka pada malam hari, ia didatangi Malaikat Agung Mikhael dan memberinya komuni kudus. Ini adalah sebuah pengalaman rohani yang berharga bagi kita dari St. Gerardus.

Setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi kita seharusnya merasakan kehadiran Kristus dalam Sabda dan Ekaristi. Di dalam bagian Sabda, kita merasa sungguh-sungguh dicintai karena disapa dengan penuh kebaikan oleh Tuhan. Dengan mendengar Sabda Tuhan, setiap pribadi yang mendengarnya merasa mengalami kehadiran Tuhan Allah, bersekutu dengan semua saudara karena mendengar satu firman yang sama, dan menjadi rasul atau utusan untuk mewartakan Sabda setelah mendengarnya (menjadi pelaku Firman). Betapa indah dan bahagianya ketika kita disapa dan dikoreksi Tuhan melalui SabdaNya. Bagian Ekaristi membantu kita untuk merasakan persekutuan yang intim dengan Tuhan. Tuhan tidak hanya berbicara tetapi tindakan konkretnya adalah memberi diriNya sebagai santapan bagi semua orang yang percaya kepadaNya. St. Fransiskus dari Sales pernah berkata: “Dalam Ekaristi kudus, kita menjadi satu dengan Allah seperti makanan dengan tubuh.” Makanan yang dikunya, ditelan dan dicerna sempurna lalu menyatu dan beredar dalam seluruh tubuh kita.

Beata Theresia dari Kalkuta pernah berkata: “Hidupmu harus ditenun di sekeliling Ekaristi. Arahkanlah matamu padaNya. Dialah Cahaya. Bawalah hatimu sedekat-dekatnya pada hati ilahiNya, minta dariNya rahmat untuk mengenalNya, kasih untuk mencintaiNya, keberanian untuk melayaniNya. Carilah Tuhan dengan kerinduan”. Jauh sebelumnya St.Agustinus juga berkata: “Seolah-olah aku mendengar suara dari tempat tinggi: “Akulah santapan dari Yang Kuasa. Makanlah dan bertumbuhlah. Tetapi engkau tidak akan mengubah Aku menjadi dirimu sendiri seperti makanan bagi tubuh, namun engkaulah yang akan diubah ke dalam diriKu.”

Ekaristi sebagai sebuah perjamuan merupakan jantung persekutuan bagi umat kristiani. Dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus kita semua sebagai umat Allah mesti merasa semakin dipersatukan dengan Kristus Putra Allah. Tidak ada perbedaan di antara kita karena kita menerima Yesus yang satu dan sama dalam rupa roti dan anggur. Mengapa demikian? Karena Yesus sendiri mengakui diriNya: “Akulah roti hidup; barang siapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi dan barang siapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Dua kata kunci yang dipakai Yesus untuk memberi pemahaman kepada para muridNya dan kita semua yaitu “datang kepada Yesus” sifatnya mengenyangkan; “percaya kepada Yesus” sifatnya melegahkan dahaga.

Pernakah anda memiliki perhatian yang besar dalam perayaan Ekaristi? Pada saat konsekrasi, imam mengulangi kata-kata Yesus pada malam perjamuan terakhir. Inilah kata-kata Yesus ketika mengambil roti: “Terimalah dan makanlah: inilah tubuhKu yang diserahkan bagimu” (1Kor 11: 24). Ketika mengambil piala dan Ia berkata: “Terimalah dan minumlah: inilah Piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan daku”(1Kor 11: 25). Kata-kata dalam konsekrasi ini disempurnakan dengan kalimat: “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”. Ekaristi menjadi saat mengenang keselamatan dan kasih Tuhan yang tiada batasnya.

Hal yang menarik perhatian kita adalah bahwa Yesus mencintai kita tiada batasnya itu bersifat pribadi. Ia memberikan roti yang tidak lain adalah tubuhNya sendiri bagi kita secara pribadi: “Inilah tubuhKu yang diserahkan bagimu”. Inilah piala darahKu…yang ditumpahkan bagimu”. Dengan kata lain cinta kasih dan pengorbanan besar dilakukan oleh Yesus untuk kita masing-masing secara pribadi bukan kolektif. Itu sebabnya ketika imam mengangkat roti dan anggur yang dikuduskan dengan daya Roh Kudus berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, kita semua harus melihat kepada roti dan anggur yang sedang dikonsekrir dan diangkat oleh imam tertahbis bukan menundukkan kepala. Ketika imamnya berlutut atau menundukkan kepala, pada saat kita kita juga menundukkan kepala sebagai tanda sembah bakti kita. Kita harus melihat Tubuh dan Darah Kristus yang menyelamatkan kita. Yesus hadir nyata dalam Ekaristi.

Selanjutnya, apa yang mendorong kita untuk menerima komuni kudus? Apakah SabdaNya saja belum cukup? Jawabannya adalah dalam perayaan ekaristi ada Sabda dan Ekaristi. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Tidak cukup mendengar SabdaNya, harus dilengkapi dengan kehadiran nyata dalam Ekaristi. Saya ingat Paus Leo Agung pernah berkata: “Pada saat kita menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita juga diubah menjadi seperti yang kita terima”. St. Thomas Aquino berkata: “Pengaruh yang sesungguhnya dari Ekaristi adalah perubahan dari manusia menjadi Allah”. Ekaristi memiliki daya mengubah kita menjadi serupa dengan Kristus.

Saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip salah satu buah pikiran Paus Emeritus Benediktus XVI: “Bagaimana Yesus dapat membagikan tubuh dan darahNya? Dengan mengubah roti menjadi TubuhNya dan anggur menjadi DarahNya. Dia mengantisipasi wafatNya, menyambut dalam hatiNya, dan mengubahnya menjadi tindakan cinta kasih.
Apa yang di luar merupakan kekerasan yang brutal berupa penyaliban, dari dalam menjadi tindakan cinta kasih dan pemberian diri secara total.” Memang, kadang-kadang kita hanya berhenti memandang salib sebagai salib dan kita lupa bahwa di dalam salib itu ada cinta kasih yang tiada batasnya bagi setiap pribadi.

Dengan merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, kita memandang Yesus sebagai Imam Agung kekal yang berekaristi dengan kita semua. Ia menyerahkan diriNya sebagi kurban sepanjang masa demi keselamatan kita semua. Kita berterima kasih kepada Tuhan dan senantiasa memohon agar Tubuh dan Darah Kristus yang kita terima setiap kali dalam Ekaristi mengubah hidup kita. Perubahan yang radikal di dalam diri kita masing-masing adalah semakin akrabnya diri kita dengan Tuhan Yesus sendiri.

PJSDB

Homily Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus/C

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Kej 14:18-20
Mzm 110:1.2.3.4
1Kor 11:23-26
Luk 9:11b-17

Inilah Tubuh dan DarahKu Untukmu

Santo Yohanes Bosco adalah orang kudus yang memiliki devosi besar kepada Yesus  di dalam Sakramen Mahakudus. Dia banyak menulis tentang devosi kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus dan meminta supaya para Salesian Don Bosco (SDB) melanjutkan devosi ini turun temurun. Sebagai imam, ia pernah merayakan Ekaristi dimana hanya ada 8 hosti di dalam ciborium tetapi dapat memberi makan kepada 360 siswa yang hadir dalam perayaan Ekaristi tersebut. Don Bosco juga terkenal sebagai tukang mimpi. Pada suatu saat ia bermimpi berada bersama para siswanya di pinggir pantai yang terjal. Mereka melihat kapal-kapal dalam formasi perang dengan haluan yang tajam mirip tombak yang tajam. Semua kapal perlengkapan senjata seperti meriam, bahan peledak dan lain-lain sedang menuju ke sebuah kapal yang lebih megah.  Ketika mendekati kapal yang megah itu, mereka mencoba untuk menghancurkannya.

Kapal yang megah itu dilindungi oleh armada kapal yang kecil. Angin dan
gelombang berada di pihak lawan. Di tengah samudra yang sangat luas ini ada dua tiang kokoh yang besar, sedikit terpisah satu sama lain, menjulang tinggi ke langit. Di puncak salah satu tiang ada patung Bunda Maria tak bernoda yang pada kakinya tertulis: Auxilium Christianorum sedangkan tiang yang satunya lebih kekar dan megah menopang sebuah Hosti yang berukuran sepadan dan dibawanya tertulis Salus Credentibus. Orang yang menjadi komandan kapal yang megah itu adalah Sri Paus. Selanjutnya kapal megah itu diserang habis-habisan sehingga kapten kapal yakni sri Paus tewas. Tetapi dalam waktu singkat terjadi pemilihan Paus baru.  Paus baru membawa kapal megah itu ke arah dua tiang dan menambatkannya di sana. Kapal-kapal lain akhirnya merapat juga kepada kedua tiang dan samudra kembali menjadi tenang.

Kisah mukjizat Ekaristi dalam mimpi St. Yohanes Bosco membantu kita untuk mengerti bahwa Ekaristi adalah salah satu pilar penting di dalam Gereja katolik. Gereja bagai bahtera megah yang diserang habis-habisan oleh musuh-musuh Gereja baik dari dalam Gereja maupun di luar Gereja. Dari dalam Gereja muncul kaum atheis bertopeng orang percaya. Mereka mengikuti Ekaristi tetapi tidak ada devosi, tidak ada keyakinan bahwa Ekaristi memiliki kuasa yang dahsyat bagi umat manusia. Kemajuan ilmu dan teknologi membuat iman semakin tipis bahkan hilang rasa percaya kepada Tuhan. Dari luar banyak tuduhan, pelecehan dan penganiayaan terhadap Gereja. Ada juga tuduhan pelecehan seksual, degradasi moral yang dialami Gereja khususnya hirarki Gereja. Semua ini menghantam Gereja dari berbagai jurusan. Oleh karena itu Ekaristi dan devosi kepada Bunda Maria Penolong Umat Kristiani merupakan pilar yang akan tetap mempertahankan kokohnya Gereja katolik.

Berkaitan dengan Ekaristi, saya teringat pada St. Ignasius dari Antiokhia yang pernah mengatakan: “Kami memecahkan roti yang memberi obat keabadian, penangkal kematian dan makanan yang membuat kita hidup selamanya di dalam Yesus Kristus.” Ekaristi adalah penangkal segalanya karena di dalam Ekaristi, Tuhan sungguh-sungguh hadir. Ia memberi diriNya sampai tuntas untuk kebaikan seluruh Gereja. Maka Gereja sebagai bahtera seharusnya tetap menemukan di dalam Kristus sumber air kehidupan. Kekuatan yang dahsyat dalam diri Yesus, sang Roti kehidupan.

Bacaan-bacaan liturgi pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini membawa kita kepada pemahaman mendalam tentang Yesus sebagai makanan rohani yang menghidupkan dan kita sebagai umatNya wajib memberi makan kepada sesama yang lain.

Penulis Kitab Kejadian menggambarkan model perjamuan yang dipersembahkan oleh Melkhizedek raja Salem, imam agung di Yerusalem. Melkhizedek mambawa roti dan anggur untuk mempersembahkannya kepada Tuhan dan memberkati Abram. Ia berkata, "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi yang telah menyerahkan musuh-musuhmu ke dalam tanganmu." Abram yang penuh berkat itu memberikan sepersepuluh dari hasil jarahannya kepada Melkhizedek. Perikop kita ini lebih menekankan peran sang imam dalam mempersembahkan Ekaristi. Imam ditahbiskan untuk merayakan Ekaristi in persona Christi.

Sementara Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kembali kita semua
tentang institusi Ekaristi oleh Yesus pada malam perjamuan terakhir.  Paulus menerima panggilan dari Tuhan untuk menjelaskan kepada kita semua tentang Yesus Kristus yang mempersembahkan diri untuk keselamatan kita. Hal yang menarik dari kisah Paulus adalah malam perjamuan terakhir di mana pada saat itu Yesus mengambil roti dan memohon berkat kemudian membagi-bagi roti kepada para muridNya. Yesus berkata: “Inilah TubuhKu yang diserahkan bagimu, perbuatlah ini sambil mengenangkan daku”. Cawan juga diambil sambil di doakan: “Cawan ini adalah Perjanjian Baru yang dimeteraikan di dalam darahKu. Setiap kali kamu makan roti dan minum dari piala yang satu dan sama maka kamu mewartakan  wafat Tuhan kita Yesus Kristus sampai Ia datang.” Perikop Paulus ini mau menekankan tentang Ekaristi yang dihayati secara nyata. Ekaristi adalah mengenang kembali Paskah Kristus.

Di dalam bacaan Injil kita melihat pertumbuhan iman para Rasul Yesus. Mereka masih memiliki pemikiran yang sangat manusiawi dengan sesama. Dikisahkan bahwa sambil melihat banyak orang yang membutuhkan Yesus, dan pada hari menjelang malam, mereka meminta Yesus untuk menyuruh orang-orang pulang ke rumah masing-masing demi mencari makan sendiri-sendiri. Tetapi Yesus punya rencana lain bagi banyak orang ini. Ia berkata: “Kamu harus memberi mereka makan”. Persedian bekal yang ada adalah lima roti dan dua ekor ikan. Yesus berekaristi bersama mereka. Para murid diminta untuk membantu mengatur orang-orang untuk duduk berkelompok. Roti dan ikan yang sudah didoakan dan diberkati Yesus itu dibagi-bagi kepada semua orang. Jumlah mereka adalah laki-laki sebanyak 5000 orang belum termasuk anak-anak dan kaum wanita.  Setelah mereka makan, roti dan ikan masih ada 12 bakul sisanya.

Kisah Injil ini menarik perhatian kita karena merupakan penggenapan apa
yang sudah digariskan di dalam Kitab Perjanjian Lama, terutama tentang perjamuan mesianik (Yes 25:6-12). Peristiwa penggandaan roti ini terjadi di Padang gurun maka mengingatkan kita juga akan manna yang turun di Padang Gurun. Semua orang yang makan manna menjadi puas. Tuhan Yesus adalah Roti Hidup yang turun dari surga dan memberikan rasa puas kepada orang-orang yang mengikutiNya dari dekat.

Sambil kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini kita memandang  Yesus Kristus, merenungkanNya sebagai Anak Domba tidak bernoda yang mempersembahkan diriNya sebagai kurban pujian yang sempurna dan berkenan di hati Tuhan. Nilai pengurbanan diri Yesus Kristus ini hendaknya dihayati di dalam Gereja masa kini. Gereja bertugas untuk memperhatikan orang-orang kecil, memuaskan lapar dan dahaga mereka. Gereja mempersembahkan persembahan yang terus menerus sebagai persembahan
Kristus sendiri yang menguduskan dunia. Gereja melakukan kenangan akan pengurbanan Kristus.  Gereja sendiri mengalami kesulitan, badai yang datang silih berganti tetapi Ekaristi tetap menjadi tiang kekuatan untuk menenangkan badai di dalam Gereja.

Saya mengakhiri homili ini dengan meminjam kata-kata dari Beata Theresia dari Kalkuta: “Mestinya kita jangan memisahkan hidup kita dari Ekaristi. Saat kita memisahkan hidup dari Ekaristi, sesuatu di dalam hidup kita akan hancur. Ekaristi berisi sesuatu yang lebih dari sekedar sikap menerima. Ekaristi juga berisi kepuasan untuk kelaparan Kristus. Ia sendiri senantiasa mengajak: “Datanglah padaKu”. Dia juga lapar akan jiwa-jiwa.” Tubuh dan Darah Kristus menyucikan hidup kita. Amen.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah membaktikan diriMu untuk keselamatan kami. Bantulah kami untuk bertumbuh dalam cinta kasih karena kami sendiri merasakan cintaMu. Berkatilah Gereja yang Engkau dirikan di atas para Rasul dan dikuatkan oleh sakramen-sakramen suci terutama Ekaristi Kudus. Amen


PJSDB

Saturday, June 1, 2013

Renungan 1 Juni 2013

St. Yustinus, Martir
Hari Sabtu, Pekan Biasa VIII
Sir 51: 12-20
Mzm 19:8,9,10,11
Mrk 11:27-33

Menggugat Kuasa Yesus


Hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta st. Yustinus. Orang kudus ini adalah orang asli Palestina, kelahiran Nablus, Samaria pada permulaan abad kedua. Ketika masih kecil ia mendapat pendidikan yang baik. Ia tertarik belajar Filsafat untuk mendapat kepastian tentang diri sebagai manusia dan Tuhan. Ia juga belajar Kitab Suci. Setelah melewati semua ini ia dibaptis sebagai pengikut Kristus. Ia kemudian menjadi pembela atau apologet kristiani terkenal. Ia mengajar di tempat-tempat umum dan menjelaskan tentang kebenaran agama kristiani yang percaya pada Yesus Kristus.

Dengan bangga sebagai pengikut Kristus, ia menulis buku “Dialog dengan Tryphon Yahudi”.
Yustinus menulis: “Meski kami orang Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan atau dibuang ke moncong-moncong binatang buas, atau pun disiksa dengan belenggu dan api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya semakin hebat penyiksaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi orang saleh”. Ia meninggal sebagai martir di Roma tahun 165. Yustinus memilih menjadi martir karena panggilan untuk mewujudkan cintanya kepada Kristus. Ia membuktikan bahwa kuasa yang besar itu hanya ada pada Tuhan yang ia layani. Segala kuasa dunia, kepintaran disingkirkan dan yang ada hanya untuk kemuliaan Tuhan. 

Salah satu godaan yang sering di hadapi oleh manusia adalah kekuasaan. Dikatakan sebagai satu godaan karena setiap pribadi memiliki gerakan-gerakan tertentu dari dalam hatinya untuk memimpin dan dipimpin, menguasai dan dikuasai. Biasanya ada kecederungan tertentu untuk menguasai pribadi-pribadi tertentu, umumnya mereka yang lebih lemah itu mudah dikuasai. Di samping itu orang-orang asing, kaum minoritas juga dianggap sebagai kelompok yang mudah dikuasai bahkan diintimidasi oleh kelompok mayoritas atau pribadi tertentu yang memiliki power. Kelompok yang berkuasa atau si penguasa sering mengalami kesulitan pribadi karena ada ketakutan tertentu di dalam hidupnya misalnya takut kehilangan kekuasaan, takut persaingan tertentu dengan pihak lain. Begitulah situasi dunia kita. Dalam konteks Indonesia, kita menyaksikan berbagai pergolakan dalam tubuh partai tertentu. Ada korupsi di mana-mana, suap menyuap dengan uang rakyat. Rasa malu dan bersalah sudah mulai hilang. Inilah krisis kekuasaan di dalam masyarakat kita.

Situasi chaos dalam hubungan dengan kekuasaan sebenarnya ada sejak zaman dahulu.
Ketika Yesus mulai tampil di depan umum dengan menghadirkan Kerajaan Allah lewat Sabda dan KaryaNya, banyak orang yang saat itu merasa menjadi pempimpin atau penguasa merasa ada ancaman yang serius. Sebut saja berita menghebokan tentang kelahiran bayi Yesus, sang raja Yahudi baru dari para majus membuat Herodes bereaksi begitu keras sehingga membunuh anak laki-laki yang usianya di bawah dua tahun. Selama tampil di depan umum sampai wafatNya, Yesus tetap dimusuhi oleh para pemimpin agama Yahudi yakni para imam kepala, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus biasanya mengajar dengan kuasa dan wibawa melebihi nabi-nabi di dalam Kitab Perjanjian Lama.

Pada suatu kesempatan Yesus dan para muridNya tiba di Yerualem. Yesus mengambil kesempatan tersebut dengan berjalan di halaman Bait Allah. Sebelumnya Ia mengusir para pedagang dari Bait Allah (Mrk 11:15-17). Para imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendekati Yesus dan bertanya kepadaNya perihal kuasaNya untuk mengusir orang dari Bait Allah, mengajar dan membuat mukjizat-mukjizat. Yesus tidak menjawab dengan kuasa mana dan dari siapa tetapi sebaliknya Ia berkata kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabannya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal itu. Baptisan Yohanes itu dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabannya!”. Perkataan Yesus ini ternyata menimbulkan kesulitan bagi mereka. Mereka pun mengatakan bahwa mereka tidak tahu perihal asal muasal baptisan Yohanes. Yesus pun tidak memberikan jawaban dengan kuasa mana Ia mengajar dan membuat mukjizat.

Kalau kita membaca Injil dengan baik, Yesus menunjukkan satu sikap penting di dalam Injil yakni suka mengajukan pertanyaan dan pernyataan penting kepada orang-orang disekitarNya. Misalnya, “Selidikilah Kitab Suci” (Yoh 5:39). Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji apakah orang itu mengimaniNya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (Luk 18:41). Ketika mengajar dalam bentuk perumpamaan, pada bagian terakhir Ia selalu bertanya kepada mereka dan butuh jawaban penting (Mat 21: 31.41). 

Bacaan Injil hari ini mengarahkan kita untuk mengerti nita-niat kita untuk bertemu dengan Yesus. Ada yang mirip dengan para imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang datang tanpa ada iman kepadaNya. Mereka tidak mengimaniNya dan tidak mengenal kuasa Yesus sehingga mempertanyakannya. Butuh iman yang kuat kepada Tuhan Yesus.

Penulis Kitab Putra Sirakh menutup tulisannya dalam bacaan kedua dengan mengingatkan kembali tentang kebijaksanaan. Bahwasannya kebijaksanaan itu berasal dari Tuhan. Dialah yang menganugerahkannya kepada setiap pribadi. Setiap orang diarahkan untuk mencari dan menemukan Tuhan sumber Kebijaksanaan. Bila menemukan kebijaksanaan  maka orang itu akan menunjukkan rasa bahagianya. Sang penulis sendiri mengalaminya sejak masa mudanya dan ia sangat bersyukur. Memang orang yang memperoleh kebijaksanaan akan berjalan dalam jalan Tuhan. Hati dan pikirannya senantiasa terarah kepada Tuhan. Sangat menarik pada bagian terakhir dikatakan: “hatiku telah kuarahkan  kepada kebijaksanaan dan dalam kemurniaan hati aku menemukannya.


Sabda Tuhan pada hari ini mengarahkan kita untuk memiliki iman yang kuat kepada Tuhan. Iman adalah anugerah cuma-cuma dari Tuhan yang membuat kita bertumbuh sebagai anak-anak Tuhan sesuai dengan kehendakNya sendiri. Dia yang membuka pikiran kita untuk mengenalNya lebih dalam dan mengimaniNya. Sebagai pengikut Kristus, kita memulai perjalanan iman sejak dibaptis. Dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus kita berjalan dan mengarahkan hidup kita kepadaNya.

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk memiliki iman yang kuat dan tahan uji. Amen

PJSDB