Wednesday, August 7, 2013

Renungan 7 Agustus 2013

Hari Rabu, Pekan Biasa XVIII
Bil 13:1-2.25; 14: 1.26-29.34-35
Mzm 106: 6-7a.13-14.21-22.23
Mat 15:21-28


Kasih Tuhan itu sempurna adanya


Pada suatu kesempatan, saya berjumpa dengan seorang pemuda yang  belum dibaptis. Ia mengaku memperoleh pendidikan katolik sejak Taman Kanak-Kanak hingga universitas Katolik. Hanya saja ia belum percaya diri untuk dibaptis di dalam gereja Katolik. Pada suatu hari ia merasa sakit dan pergi berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis. Ia divonis mengalami penyakit kanker darah. Ia terkejut karena selama itu ia tidak pernah mengeluh sakit apapun. Ia terpukul dan merasa langsung down tetapi dalam perjalanan pulang ker umahnya ia melihat gambar Tuhan Yesus yang pernah saya bagikan pada saat retret bersama. Pikirannya langsung terfokus pada Yesus dan ia berbisik, “Tuhan Yesus sembuhkanlah saya”. Ia pun berusaha datang dan mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja. Ketika bertemu dengan saya ia bercerita tentang gambar Tuhan Yesus yang saya bagikan dan ia mau mendapat mukjizat dari Tuhan. Saya mendoakannya dan mengatakan kepadaNya bahwa kalau ia sungguh percaya pada Yesus maka ia dapat sembuh. 

Pada kesempatan yang lain, ia datang dan membawa berita baik dengan berkata: “Romo, Tuhan Yesus sudah menyembuhkan saya setelah dua tahun bergumul dengan penyakitku. Ternyata penyakitku itu kecil, Tuhan Yesus jauh lebih besar dan menyembuhkanku. Sekarang saya mau menjadi katekumen dan memohon supaya Romo membaptis saya”Ini adalah sebuah kisah nyata sekaligus pengalaman rohani seorang yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Ia hanya memiliki kerinduan akan Yesus meskipun belum dibaptis. Tetapi ia juga percaya bahwa Tuhan Yesus mengasihinya dan pasti menyembuhkannya. Sungguh mukjizat itu nyata. Tuhan Yesus mengasihi semua orang. 
Penginjil Matius pada hari ini mengisahkan perjalanan Yesus ke luar komunitas orang Yahudi. Ia sedang berada di Tirus dan Sidon. Di sana ia berjumpa dengan seorang wanita yang putrinya kerasukan setan. Ia pun meminta Yesus untuk menyembuhkannya. Ia berkata, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud. Anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Yesus seolah-olah tidak mau mendengar wanita non Yahudi ini dan para muridNya pun ikut terpancing untuk memintaNya mengusir wanita itu. Reaksi Yesus adalah kembali kepada tugas perutusanNya: “Aku diutus hanya kepada domba-domba umat Israel yang hilang”. Wanita itu tetap percaya bahwa Yesus akan mendengarnya maka ia mendekat, menyembah dan berkata, “Tuhan tolonglah aku!” Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Reaksi sang wanita adalah menjawab Yesus dengan iman: “Benar, Tuhan, tetapi anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”. Yesus melihat iman wanita itu dan mengatakan bahwa keinginannya yaitu kesembuhan anaknya akan terlaksana.

Wanita dalam Injil adalah tipe orang yang beriman radikal pada Yesus Kristus. Ia percaya bahwa Tuhan akan melakukan apa saja, dan pasti yang terbaik untuk putrinya yang kerasukan setan. Ia percaya bahwa setan tidak punya kuasa di hadirat Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus pasti akan menyembuhkannya. Iman wanita itu diuji dengan sikap Yesus yang seolah-olah tidak mau mendengarnya, mengatakan bahwa perutusanNyapun hanya untuk domba-domba umat Israel yang hilang, dan tidaklah patut mengambil roti bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. Ternyata wanita itu tetap percaya kepada Yesus sehingga Yesus memuji imannya: “Hai ibu, sungguh besar imanmu” Putrinya pun menjadi sembuh.

Tuhan mengasihi semua orang. Lihatlah wanita di dalam Injil hari ini adalah bukan orang Yahudi. Memang bagi kalangan orang Yahudi saat itu, daerah Tirus dan Sidon adalah daerah orang-orang kafir. Tidak ada keselamatan bagi mereka. Namun, Tuhan menunjukkan cinta kasihNya yang universal dengan menyembuhkan anak perempuan yang kerasukan setan. Kisah ini mengingatkan kita akan sikap orang Nazaret yang mengecewakan Yesus ketika mengajar di dalam Sinagoga sehingga Ia berkata, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di negeri asalahnya, di dalam keluarganya” (Mat 13:57). Ia pun tidak melakukan banyak mukjizat di Nazareth. Tuhan Yesus membuka mata hati kita untuk mengasihi semua orang tanpa memilah-milah apakah orang seiman dengan kita atau tidak, apakah orang segolongan dengan kita atau tidak. Semua orang diberikan Tuhan kepada kita untuk dikasihi. Memang kasih Tuhan itu senantiasa baru dan sempurna adanya. Mari kita menjadi serupa dengan Tuhan.



Wanita asing ini juga menjadi model bagi kita ketika berdoa kepada Tuhan. Apa yang dia tunjukkan? Satu hal penting yakni berdoa tanpa henti. Memang ketika berbicara dengan Yesus, kelihatan Yesus tidak menanggapi dengan baik. Tetapi ia terus mengikuti Yesus dan tidak berhenti meminta dari Tuhan Yesus. Dengan meminta tanpa henti ini maka Tuhan mengabulkan permintaannya. Tuhan melihat iman yang terungkap dalam doanya. Pertanyaan bagi kita adalah, apakah kita juga tekun berdoa? Apakah kita juga bersyukur ketika doa kita dikabulkan? Banyak kali kita lupa bersyukur ketika memperoleh apa yang kita perlukan dari Tuhan.

Sikap sebagai pelupa ada juga di dalam diri umat Israel. Dalam perjalanan di padang gurun,Tuhan menunjukkan kasih setiaNya dengan menyertai dan membimbing mereka. Ketika hampir tiba di tanah Kanaan, Tuhan melalui Musa mengutus 12 utusan yang mewakili suku-suku Israel untuk mengintai tanah terjanji. Setelah empat puluh hari, mereka kembali dan mengatakan kepada Musa bahwa benar tanah Kanaan itu kaya dengan susu dan madu. Namun para pengintai juga mengatakan hal yang menakutkan bahwa orang-orang yang menghuni tanah Kanaan itu berperawakan raksasa dan dapat menjadi kanibal. Hal ini mengundang ketakutan orang Israel sehingga mereka menangis semalaman. Ini juga menunjukkan kerasnya hati mereka di hadirat Tuhan. Maka Tuhan mengatakan bahwa generasi itu tidak akan masuk ke tanah terjanji. Mereka akan mati di padang gurun dan yang masuk ke tanah terjanji hanyalah generasi baru di bawah pimpinan Yosua.

Hidup kita juga ditandai dengan pergumulan hidup. Banyak kali kita merasa begitu akrab dengan Tuhan, tetapi banyak kali kita juga jauh dari Tuhan. Kita lupa akan kasih setia Tuhan sehingga memilih untuk menjauhinya. Namun demikian, Tuhan tetap menyertai kita semua. Ia tidak memperhitungkan dosa dan salah kita. Satu hal yang perlu adalah berdoa dan mendekatkan diri kita kepadaNya. Bagaimana dengan anda? Apakah anda akrab juga dengan Tuhan? Dia mengasihi kita dengan kasihNya yang sempurna adanya.

Doa: Tuhan Yesus, bantulah kami supaya mampu mengasihi semua orang sebagaimana Engkau sendiri telah mengasihi kami. Amen

PJSDB

Tuesday, August 6, 2013

Renungan 6 Agustus 2013

Pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya
2Pt 1:16-19
Mzm 97:1-2.5-6.9
Luk 9:28b-36

Dengarkanlah Dia!

Seorang romo pernah bercerita bahwa ia merasa heran karena ditengah kerumunan orang banyak, ia masih dikenal sebagai seorang romo. Pada suatu kesempatan ia berani bertanya kepada orang yang menyapanya Romo tentang bagaimana ia mengenalnya. Orang itu mengatakan bahwa ia adalah seorang aktivis Gereja maka ia mengenal sosok para Romo. Ada yang istimewa dari diri mereka sebagai orang yang diurapi. Penampilannya, cara membawa dirinya, cara berbicara dan dari wajahnya terpancar sinar kekudusan. Ini sebuah sharing sederhana dari salah seorang Romo. Mungkin saja para Romo belum menyadari diri mereka sebagai orang yang diurapi sehingga merasa biasa-biasa saja tetapi kaum awam melihat sesuatu yang berbeda dalam hidup para Romo.

Pada hari ini kita merayakan Pesta Tuhan Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas sebuah gunung yang tinggi. Dalam tradisi disebut gunung Tabor. Ia membawa tiga murid terpilih yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes mendaki sebuah gunung, sedangkan para murid lain menunggu di kaki gunung. Ketika tiba di atas puncak gunung, Yesus berdoa dan amat mengaggumkan karena Ia berubah rupa dan pakaianNya juga menjadi putih berkilau-kilauan. Pada saat yang bersamaan tampaklah Musa dan Elia sedang berbicara denganNya tentang rencana kepergiaaNya ke Yerusalem untuk mewujudkan karya keselamatan. 

Tentu saja kita yang membaca Injil ini bingung dan bertanya apakah para murid terpilih mengenal Musa dan Elia? Sebenarnya kisah ini mau mengatakan bahwa rencana keselamatan yang akan digenapi oleh Yesus di Yerusalem sudah ada di dalam Kitab Taurat Musa dan Kitab para nabi. Musa sendiri pernah mengalami perubahan rupa setelah berbicara dengan Tuhan sehingga menakutkan bagi Harun dan kaum Israel (Kel 34:30). Musa mengantar kaum Israel ke tanah Kanaan, sedangkan Yesus adalah Musa baru yang mengantar kita ke Surga. Elia adalah nabi yang menurut tradisi diangkat ke Surga (2Raj 2:1) dan dialah yang akan datang mendahului Mesias (Mal 4:5). Yesus sekarang menggenapi Kita Taurat dan Kitab Para nabi.

Pada saat itu dikisahkan para rasul terpilih ketiduran sehingga ketika bangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaanNya bersama Musa dan Elia. Petrus begitu terpesona sehingga ia berkata kepada Yesus: “Guru, betapa bahagiannya kami berada di tempat ini. Baiklah kami mendirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu lagi untuk Engkau”. Petrus dan teman-temannya merasakan kemuliaan Tuhan yang luar biasa. Selama itu mereka memang selalu ada bersama Yesus, tetapi pengalaman kali ini memang pengalaman istimewa. Mereka bahagia dan ingin merasakannya selamanya. Kemah-kemah adalah tanda kehadiran Tuhan dan para utusanNya di tengah jemaat. Meskipun demikian, Petrus sendiri tidak menyadari apa yang ia bicarakan dengan Yesus.

Di samping pengalaman terpesona di atas gunung karena mereka merasakan kehadiran Tuhan, ada juga awan yang menaungi mereka sehingga ada suara yang mengatakan: “Inilah AnakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia”. Ketika mendengar suara itu, di mata mereka hanya ada Yesus seorang diri. Pengalaman terpesona dengan kemuliaan Tuhan tidak hanya bersifat sementara. Para murid memiliki tugas dan tanggung jawab yang luhur yakni pertama-tama mereka harus percaya kepada Yesus bahwa Dialah Putra pilihan Bapa. Kedua, Mereka harus mendengar Yesus di dalam hidup mereka setiap hari. Ketiga, mereka siap menyimpan rahasia kehidupan Yesus bahwa kemuliaanNya akan diperoleh melalui penderitaanNya di Salib dan terlaksana di Yerusalem.

Apa yang harus kita lakukan sebagai pengikut Kristus? Sambil merayakan pesta agung ini, kita semua diajak untuk memandang Yesus yang menampakkan kemuliaanNya sebagai Putra pilihan dan yang dikasihi Bapa. Dialah satu-satunya penebus kita. Dialah yang akan memuliakan kita dengan tubuhNya yang mulia. St. Petrus menulis: “Oleh karena Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakanNya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah” (1Pt 1:21). Petrus dalam bacaan pertama mengajak kita untuk melihat Yesus sebagai pelita yang bernyala di tempat yang gelap. Dialah yang menerangi kegelapan hidup kita sehingga kita pun berubah menjadi anak-anak terang. Maka untuk mengalami kemuliaan Tuhan, kita perlu bertobat hari demi hari sehingga menjadi semakin serupa dengan Dia. Pengalaman akan Allah ditandai dengan pertobatan terus menerus di dalam diri kita, dan dengan demikian kita juga dapat memancarkan kemuliaanNya kepada sesama kita.


Pengalaman nyata Transfigurasi atau Yesus menampakkan kemuliaanNya adalah dalam perayaan Ekaristi. Tuhan menampakkan kemuliaanNya di hadapan kita dalam peristiwa transubstansi, di mana melalui tangan imam yang sudah dikuduskan oleh daya Roh Kudus, imam in persona Christi bertugas menguduskan, memberkati hosti menjadi Tubuh Kristus dan anggur menjadi Darah Kristus. Jadi perubahan rupa hosti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus merupakan peringatan Transfigurasi Yesus di dalam kehidupan kita setiap kali berekaristi bersama. Maka pertanyaan bagi kita adalah apakah kita sungguh-sungguh menghayati Ekaristi yang kita rayakan bersama? Apakah Ekaristi memiliki kuasa mengubah kita untuk dapat mengalami kemuliaan Kristus di dalam diri kita masing-masing?

Doa: Tuhan Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu memancarkan kemuliaanMu kepada sesama kami yang lain. amen

PJSDB

Monday, August 5, 2013

Renungan 5 Agustus 2013

Hari Senin, Pekan Biasa XVIII
Bil 11:4b-15
Mzm 81:12-13.14-15.16-17
Mat 14:13-17

Selalu bersungut-sungut

Ketika masih mengajar di sekolah saya selalu menemukan para guru dan siswa yang punya kebiasaan bersungut-sungut. Para guru bersungut-sungut karena siswa di dalam kelas malas, upahnya rendah sementara tuntutan sekolah dan Yayasan tinggi, orang tua siswa yang mengandalkan otot bukan otak dan masih banyak hal lain yang membuat mereka bersungut-sungut. Para siswa juga bersungut-sungut karena ada guru yang mengajar tanpa persiapan mengajar dengan baik, guru sangat rerpresif terhadap siswa, bukan hanya secara fisik tetapi juga verbal dan masih banyak yang lain. Dengan bersungut-sungut saja sudah membuat situasi di sekolah itu berubah auranya. Dari luar memang temboknya megah tetapi di dalamnya penuh kerapuhan. Mengapa orang bersungut-sungut? Karena setiap orang baik guru maupun murid merasa bahwa alasan-alasan yang mereka berikan itu benar dan logis. Hanya satu masalah yang sulit dibangun bersama adalah kebiasaan baik untuk berkomunikasi satu sama lain. Mereka hidup bersama sebagai satu komunitas sekolah, tetapi komunikasinya tidak bisa jalan. Di lembaga-lembaga lain, bersungut-sungut juga menjadi suatu kebiasaan. Ada yang merasa bekerja lebih banyak dari pada yang lain, ada yang merasa pimpinannya pilih kasih terhadap para karyawan. Anak-anak di dalam keluarga juga merasakan yang sama. Orang tua lebih menyayangi anak yang satu dari pada anak yang lain. Bersungut-sungut merajalela di mana-mana di atas dunia ini.

Pada hari ini kita mendengar kisah orang-orang Israel bersungut-sungut kepada Tuhan melalui Musa hambaNya. Mereka bersungut-sungut karena masalah sembako terutama makanan dan minuman. Dikisahkan bahwa pada suatu kesempatan sambil melintasi padang gurun pasir, orang-orang Israel berkata: “Siapa yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat akan ikan yang kita makan di Mesir tanpa bayar, akan mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tiada sesuatu pun yang kita lihat kecuali manna” (Bil 11:4-6). Untuk pertama kali orang Israel makan manna ketika mereka meninggalkan Elim menuju ke Sinai dan beristirahat di padang gurun Sin (kel 16:31). Sejak saat itu orang Israel makan manna selama empat puluh tahun lamanya (Kel 16:35). Tetapi sekarang mereka mengeluh karena sudah kurus kering (Bil 11:6) sehingga mereka mengingat kembali pengalaman mereka di Mesir. Meskipun menjadi budak tetapi tidak merasa lapar. Mereka tetap makan dan minum sampai kenyang (Kel 16:3). Itu sebabnya mereka memiliki kebiasaan buruk yakni selalu bersungut-sungut kepada Tuhan melalui Musa.

Situasi menjadi lebih parah lagi ketika orang-orang Israel bersungut-sungut sambil menangis di pintu kemah Musa karena sudah bosan dengan manna. Mereka mau makan daging! Tuhan pun murka dengan sangat, sehingga dinilai jahat oleh Musa. Musa lalu berkata kepada Tuhan, “Mengapa Kau perlakukan hambaMu ini dengan buruk, dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia dalam pandanganMu? Mengapa Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung atau melahirkan bangsa ini?” (Bil 11: 11-12dst). Musa mengungkapkan perasaan bathinnya cukup panjang kepada Tuhan yang sangat murka dengan Israel karena bersungut-sungut. Namun satu hal yang selalu diminta oleh Musa adalah kasih karunia dari Tuhan. Semoga Tuhan tetap memberi kasih karunia kepada umat kesayanganNya. Musa memang merasa sebagai sebuah beban mendengar tangisan Isarel maka ia berusaha sekuat tenaga supaya Tuhan dapat memberi berkat terbaik kepada Umat Israel. Semua permohonan Musa, selalu didengar dan dikabulkan Tuhan. Masalahnya tetap pada umat Israel yang tidak tahu diri untuk berterima kasih.

Mungkin saja kita merasa lucu dengan sikap orang-orang Israel ini. Mereka mengeluh soal isi perut, dan lupa akan semua kasih dan penyertaan Tuhan. Tuhan berkarya melalui Musa untuk membebaskan mereka tetapi mereka sendiri tidak pernah menyadari kasih dan kemurahan Tuhan. Bagi mereka makan dan minum adalah segalanya. Padahal Tuhan sendiri berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari semua perkataan yang keluar dari mulut Allah” (Ul 8:3; Mat 4:4; Luk 4:4). Kita ingat St. Paulus ketika berkata kepada orang-orang Korintus: “Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah” (1Kor 6:13). Di bagian lain Paulus berkata, “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka adalah perut mereka” (Flp 3:19). Tuhan Yesus sendiri pernah berkata, "Janganlah kamu kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan minum dan janganlah kamu kuatir akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian" (Mat 6:25).

Di dalam bacaan Injil Tuhan Yesus memiliki rasa belas kasih yang besar terhadap orang-orang yang mencari Dia. Ia melihat mereka sendirian seperti domba tanpa gembala. Oleh karena itu Ia menyembuhkan orang-orang yang sakit, memuaskan mereka yang dahaga dan lapar dengan roti dan ikan. Yesus hendak mengajar para muridNya supaya dari sedikit yang mereka miliki, mereka boleh berbagi dengan menyerahkannya kepada kuasa Tuhan. Hasilnya adalah, lima ribu laki-laki, belum terhitung perempuan dan anak-anak dipuaskan oleh roti dan ikan, bahkan masih ada sisanya juga. Tuhan Yesus mengajar para murid untuk bersifat sosial dan jangan takut untuk berbagi dengan mereka yang sangat membutuhkan. Kadang kita juga takut berbagi karena berpikir kita akan hidup berkekurangan. Kita harus berani memberi dan Tuhan akan mencukupkan segalanya bagi kita.

Doa: Tuhan, kami boleh bersyukur kepadaMu karena semua makanan dan minuman yang Engkau berikan setiap hari. Berkatilah saudara-saudari kami yang masih berkekurangan untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan di dalam hidup mereka. Amen

PJSDB

Sunday, August 4, 2013

Homili Hari Minggu Biasa XVIII/C

Hari Minggu Biasa XVIII/C
Pkh 1:2; 2:21-23
Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17
Kol 3:1-5.9-11
Luk 12: 13-21

Ketika Harta Milik Ikut Berkuasa

Ada seorang Ibu merasa heran karena anaknya mengalami perubahan perilaku. Ia selalu meminta untuk membeli baju, celana, sepatu, gadget baru. Pada mulanya orang tua berpikir bahwa setiap permintaan anak mesti dikabulkan sebagai ungkapan rasa cinta kasih kepadanya. Tetap semakin lama mereka menyadari kekeliruan mereka dalam mendidik anaknya. Di dalam kamar terdapat lebih dari sepuluh pasang sepatu yang mahal harganya, kalau diuangkan bisa lebih dari sepuluh juta. Komputer dan gadget yang dimiliki adalah produk paling akhir dari brand ternama. Hal yang semakin mengkhawatirkan ibu itu adalah semakin hari anaknya memiliki dunia tersendiri di dalam kamarnya. Relasi sosial menipis dan nyaris hilang, sikap hormat kepada orang tua juga makin luntur. Dunianya adalah segala yang ada di dalam kamar tidurnya. Ibu ini kemudian menyadari bahwa ia bersama suaminya sudah keliru dalam mendidik anaknya. Pengalaman ini memang menjadi pengalaman nyata banyak keluarga. Zaman ini sedang berubah maka apabila terjadi sedikit kekeliruan dalam mendidik anak, akan ada dampak yang besar dalam perkembangan kepribadian anak.

Harta milik memiliki kekuasaan tersendiri. Tuhan Yesus mengetahui mentalitas para muridNya sehingga Ia mengatakan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tetapi kumpulkanlah harta di sorga, di sorga, ngengat dan karat tidak merusakannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:19-21). Kisah seorang anak yang akhirnya memiliki dunia tersendiri di dalam kamar menggambarkan bagaimana dari usia dini anak ini sudah dibentuk menjadi pribadi yang avarice. Kecenderungan avarice merupakan pintu masuk bagi segala ketamakan dan dapat membelenggu diri pribadi orang tersebut. Betapa banyak orang yang berperilaku demikian, suka mengumpulkan harta kekayaan supaya dapat dipuji orang, di hargai sebagai orang kaya meskipun dia sendiri tidak membutuhkannya.

Penginjil Lukas hari ini melaporkan bagaimana seorang pendengar meminta Yesus untuk menjadi hakim bagi mereka dua orang bersaudara. Ia berkata, “Guru, katakanlah kepada saudaraku, supaya ia dapat berbagi warisan dengan aku.” Yesus berkata kepadanya bahwa diriNya bukanlah hakim atas warisan. Orang-orang Israel sebenarnya memiliki kebiasaan untuk tinggal tetap di tanah warisan tanpa perlu membaginya (Mzm 133:1). Namun sejalan dengan perkembangan zaman, masing-masing saudara boleh meminta haknya atas warisan itu. Maka untuk membagi harta milik, prinsip dan normanya ditentukan berdasarkan hukum Taurat (Ul 21:15dst; Bil 27:1-11).Tentu saja hal ini bukanlah sebagai hal yang urgent bagi Yesus untuk menjawabnya. Ia malah memberi wejangan ini: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaan itu.“ (Luk12:15). Yesus mau mengatakan kepada orang itu bahwa orang tidak hidup dari kelimpahan hartanya. Harta miliki bukanlah satu-satunya jaminan kebahagiaan manusia.


Yesus lalu memberi sebuah perumpamaan tentang orang yang berkelimpahan harta sehingga terpenjara di dalam ketamakannya. Ia berpikir bahwa dengan banyak harta yang dimiliki dari kebun akan menjamin seluruh hidupnya ternyata pikirannya ini meleset. Pada akhirnya dia menjadi korban dari harta miliknya sendiri. Perumpamaan ini mau mengingatkan para murid Yesus untuk setia selamanya kepadaNya. Mereka jangan khawatir akan apa yang akan mereka makan atau minum karena manusia hidup bukan hanya dari makanan dan minuman saja. Mereka juga hidup dari Sabda Tuhan. Tugas mereka adalah tetap mencari Kerajaan Allah karena Tuhan akan tetap menambahkan semuanya kepada mereka. Di samping mencari Kerajaan Allah para murid juga diingatkan untuk memperhatikan kaum papa miskin dalam semangat saling berbagi. Dengan cara ini mereka juga akan memperoleh harta di Sorga.


Harta milik mudah menjadi sumber konflik bagi manusia. Anak yang dicontohkan di atas memiliki konflik bathin yang terselubung dan berdampak dalam relasi sosialnya yang beku. Saudara dan saudari juga mengalami sengketa warisan yang berkepanjangan. Hal ini berdampak pada sikap  sulit untuk berbagi dengan kaum papa miskin. Yesus melihat bahwa di dalam diri manusia terdapat akar sengketa yakni ketamakan. Orang tamak akan memiliki kecenderungan avarice. Ia mengumpulkan kekayaan supaya dapat dipuji orang. Mengapa orang menjadi tamak? Karena pikirannya adalah bahwa hidup ini hanya berarti kalau memiliki banyak harta kekayaan. Padahal harta kekayaan bukanlah satu-satunya jaminan kebahagiaan. Orang mudah dikuasai kekayaan dan lupa pada Tuhan sang pencipta.

Penulis Kitab Pengkotbah dalam bacaan pertama mengingatkan kita semua untuk terus menerus berorientasi kepada Allah. Orang yang tidak bijaksana atau tidak beriman, hidupnya akan terancam atau tidak nyaman karena orientasi hidupnya hanya kepada harta milik. Orang-orang seperti ini mencari hal yang sia-sia dan lupa mencari yang sungguh-sungguh yaitu Tuhan sang Pencipta. Apa faedah yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tentram. Semuanya adalah kesia-siaan maka orientasikan diri kepada Tuhan adalah kebijaksanaan.

Orientasi diri kepada Tuhan menjadi semakin jelas dalam pikiran Paulus. Di dalam bacaan kedua, Paulus menulis kepada jemaat di Kolose bahwa mereka harus mencari perkara yang di atas di mana Kristus berada. Mengapa? Karena mereka semua telah dibangkitkan bersama Kristus. Apa yang harus dilakukan untuk menjadi pengikut Kristus yang setia? Mereka harus merasa dan percaya bahawa Kristus hidup bagi mereka. Ia mempersembahkan diri bagi mereka bukan bagi orang lain. Kristus juga hidup bagi kita. Oleh karena itu kita harus mematikan segala hal duniawi di dalam diri kita yakni percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, penyembahan berhala dan saling berdusta. Hidup lama harus diubah dengan hidup baru sehingga menjadi selaras dengan sang Pencipta. Konsekuensi lainnya adalah tidak ada lagi perbedaan-perbedaan di dalam Tubuh Kristus, artinya tidak ada lagi orang Yahudi, Yunani, bersunat, tidak bersunat, budak dan merdeka. Semua orang berada di dalam Kristus yang satu dan sama!


Sabda Tuhan pada hari ini sangat meneguhkan hati kita semua. Banyak kali kita selalu berorientasi pada harta milik, karena hati kita ada di sana. Tetapi pada hari ini Tuhan Yesus mengorientasikan kita hanya kepada diriNya, untuk tinggal di dalamNya karena Dialah hidup kita. Dia juga mau mengatakan kepada kita tentang kesia-siaan duniawi dari harta milik yang dapat hancur karena ngengat atau dicuri oleh para pencuri. Sungguh, Kristus adalah harta milik kita yang paling sempurna. Ia sendiri berkata: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Apakah anda merasa berkelimpahan di dalam Kristus? Hadirlah di hadiratNya dalam doa dan pujian maka anda juga pasti merasakanNya.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, betapa agung Engkau mengasihi sehingga memberi hidup dan kelimpahan kepada kami semua. Bantulah kami supaya semakin matang dalam iman dan cinta kepadaMu dan kepada sesama kami. Amen

PJSDB

Saturday, August 3, 2013

Renungan 3 Agustus 2013

Hari Sabtu, Pekan Biasa XVII
Im 25:1.8-17
Mzm 67:2-3.5.7-8
Mat 14:1-12


Jangan kalian saling merugikan satu sama lain

Selama hari-hari menjelang Idulfitri, istilah mudik menjadi populer di mana-mana. Orang memiliki kebiasaan yang baik untuk kembali ke kampung halaman demi merayakan hari kemenangan bersama seluruh keluarga. Momen kekudusan, persahabatan mau dimantapkan ketika berada dalam suasana kebersamaan sebagai keluarga. Itu sebabnya orang memang sudah tahu bahwa akan ada kemacetan di mana-mana, bahaya kejahatan yang tinggi dan kecelakaan lalu lintas tetapi orang masih mau mudik. Mereka juga tahu bahwa untuk mudik butuh biaya yang besar tetapi orang tetap mau memilih mudik. Itulah suasana khusus di Indonesia pada hari-hari ini.  Banyak orang yang tinggal di kota-kota besar menjadi Oshin untuk melayani keluarga.

Kemarin dalam bacaan Injil, kita mendengar bahwa Tuhan Yesus Kristus mudik ke kampung halamannya yaitu di Nazaret. Pada hari Sabat, Ia pergi ke Sinagoga untuk berdoa dan mengajar. Banyak orang terpesona dan bangga berjumpa dengan Yesus, tetapi banyak juga yang mempertanyakan identitasNya. Mereka hanya mengenal Yesus dalam level manusiawi bukan sebagai Tuhan. Mereka pun akhirnya kecewa dan menolak Dia sehingga Ia mengatakan bahwa seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di kampung halamannya dan juga dalam keluarganya. Di dalam bacaan pertama pada hari ini Tuhan juga mengarahkan Bangsa Israel untuk mengadakan tahun Jubileum. Mereka semua hendaknya pulang ke tanah miliknya masing-masing. 

Jubileum berasal dari kata Jobel, tanduk yang dijadikan trompet, digunakan untuk mewartakan tahun Jubileum. Perhitungan tahun Jubileum adalah selama tujuh tahun Sabat yakni tujuh kali tujuh tahun. Maka tujuh tahun Sabat sama dengan empat puluh sambilan tahun. pada tanggal sepuluh bulan ketujuh, sangkakala harus dibunyikan. Pada tahun ke lima puluh haruslah menjadi tahun Yobel. Apa yang harus dilakukan dalam tahun Yobel? Setiap orang harus pulang ke tanah miliknya dan kaum keluarganya. Umat Israel diingatkan supaya pada tahun Yobel atau Yubelium itu, mereka tidak bercocok tanam. Kalau ada buah dari tanaman yang bertumbuh sendiri juga tidak perlu dipetik. Setiap orang diharapkan tidak saling merugikan. Tahun Yubileum haruslah menjadi tahun yang kudus bagi Israel. Prinsip-prinsip penting yang muncul di dalam persiapan tahun Yuibelum adalah: supaya semua orang berlaku adil, jujur dan penuh kasih. Semua aturan hanya akan menjadi aturan kalau tidak memuat prinsip-prinsip ini.
Prinsip-prinsip keadilan, kejujuran dan cinta kasih ditunjukkan dalam tindakan atau aksi-aksi nyata. Misalnya membebaskan para tawanan, mereka kembali ke kampung halamannya dan mengembalikan kepemilikan mereka. Selama masa mengembara di padang gurun setiap orang memiliki ternak. Setelah mengusai tanah Palestina, dibuat kebijakan baru yakni tanah hunian adalah milik pusaka keluarga-keluarga. Untuk itu harus dimanfaatkan demi keluarga dengan membeli dan menjual tanah yang ada. Tanah milik Tuhan akan diberikan kepada orang yang berkenan kepadaNya. Manusia akan menjadi administrator dan wajib melaporkannya kepada Tuhan. Pertanyaan bagi kita semua adalah apakah kita berlaku adil terhadap Tuhan dan sesama?

Penginjil Matius melaporkan tentang kemartiran Yohanes Pembaptis. Yohanes adalah suara yang berseru-serudi Padang Gurun supaya orang dapat bertobat. Herodes juga salah seorang yang mendapat pewartaan Yohanes. Ia memang segan dengan Yohanes karena ia yakin bahwa Yohanes nabi. Pada waktu itu Yesus juga sudah tampil di depan umum. Ia dikenal karena mengajar dan menyembuhkan orang-orang sakit. Herodes berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit. Tentu saja kita bersyukur karena orang kafir seoperti Herodes pun terpesona dengan pribadi Yesus. Pada saat Herodes merayakan pesta ulang tahunnya, Putri Herodias menari dengan bagus sehingga menyukakan hati raja dan para tamu. Herodes lalu bertanya kepadanya apa yang ia minta sebagai hadiah karena telah menari dengan baik. Putrinya itu bertanya kepada mamanya dan mamanya menjawab kepala Yohanes pembaptis di dalam sebuah talam. Yohanes pun dipenggal kepalanya oleh para algojo kiriman Herodes. Ia gugur sebagai martir karena mengajarkan kebenaran kepada Herodes.

Dunia zaman ini membutuhkan banyak orang kudus untuk mengajarkan kebenaran dan keadilan bukan hanya dalam perkataan tetapi dalam hidup konkret. Tentu saja hal ini adalah pekerjaan yang sulit karena harus melawan arus dunia yang nyata. Kita tahu bahwa sikap Herodes ini memang sangat berlawanan dengan kebenaran dan keadilan. Ia merebut Herodias yang saat itu berstatus sebagai istri dari saudaranya bernama Filipus. Pada masa ini banyak orang juga yang masih tetap berperilaku demikian. Ada yang merebut suami atau istri orang lain. Keluarga bukan lagi menjadi gereja domestik tetapi neraka domestik. Mengapa? Karena orang sudah mati rasa sehingga menghancurkan keluarga sendiri dan keluarga orang lain. Masih ada Herodes-Herodes lain dalam masyarakat kita. Yesus sendiri berkata: “Setiap orang yang memandang perempuan dan menginginkannya, ia sudah berbuat zinah” (Mat 5:28). Perhatikanlah, baru melihat dan menginginkan saja sudah dosa, bagaimana kalau melakukan dengan merebut pasangan orang lain? Mari kita menghormati kekudusan keluarga-keluarga, karena di dalam keluarga Tuhan hadir. Ada cinta kasih yang menaungi seluruh keluarga. Prinsip yang baik adalah "Love one another not love another one".

Doa: Tuhan, kami bersyukur atas keluarga-keluarga yang didirikan di atas dasar kasih sayang. Semoga Engkau menganugerahkan kasih sayang dan kesetiaan kepada mereka semua. Amen

PJSDB

Friday, August 2, 2013

Renungan 2 Agustus 2013

Hari Jumat, Pekan Biasa XVII
Im 23:1.4-11.15-16.27.34b-37
Mzm 81:3-4.5-6ab.10-11ab
Mat 13:54-58

Inilah Hari-Hari Raya

Kisah tentang Musa dan Bangsa Israel berlanjut. Musa selalu berbicara dengan Tuhan maka wajahnya pun bersinar di hadapan Harun dan seluruh bangsa Israel. Musa juga mendirikan Kemah Suci di mana di dalam Kemah itu diletakkan dua loh batu yang berisi sepuluh perintah Allah. Kemah Suci menjadi tempat Tuhan bersemayam di dalamnya. Tanda kehadiran dan penyertaan Tuhan bagi Israel pada siang hari adalah tiang awan dan api pada malam hari. Orang Israel sungguh-sungguh merasakan kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka. Tanda kehadiran Tuhan tidak hanya dalam wujud tiang awan dan api pada malam hari, tetapi Tuhan juga menetapkan hari-hari istimewa bagi bangsa Israel untuk tetap bersatu denganNya. Hari-hari raya itu berguna untuk menyembah Tuhan dan menguduskan namaNya.

Dari Kitab Imamat dalam bacaan pertama, kita dibantu untuk mengenal nama-nama hari raya orang Yahudi atau hari-hari pertemuan kudus. Hari pertama adalah Hari Sabat. Hari Sabat berarti Hari kebebasan dari Pekerjaan sebagaimana Allah sendiri berhenti pada hari ketujuh. Tahun baru orang Yahudi. Orang Yahudi mengenal empat tahun barunya yakni Nisan, Elul, Tisyri, dan Syebat. Hari Raya Paskah bagi Tuhan (Pesakh) biasanya dirayakan pada senja hari, tanggal empat belas bulan pertama. Hari Raya Roti Tidak Beragi (Hag Hammasot) dirayakan hari kelimabelas bulan pertama selama tujuh hari. Festival menuai atau menyabet gandum. Pesta ini dirayakan kemungkinan bersamaan dengan Hari Raya Roti Tidak Beragi dan dihubungkan dengan masa menuai tanaman. Buah sulung dari hasil panenan ini
dipersembahkan untuk Tuhan. Panen berlangsung selama tujuh minggu. Hari Raya Pentekosta (Shavuot). Hari Raya Shavuot merupakan pesta panen gandum pada hari kelima puluh sejak hari Sabat pertama setelah paskah. Pentekosta juga dirayakan untuk mengenang turunnya sepuluh perintah Allah dan dirayakan selama dua hari. Untuk melaksanakan semua Hari Raya ini dengan baik maka umat Israel diharapkan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Mereka menyatakan rasa syukur mereka dengan mempersembahkan kurban bakaran bagi Tuhan.

Hari-hari raya orang Yahudi ini sekarang menjadi mirip
dengan perayaan-perayaan hari kudus di dalam Gereja. Setiap kali merayakan Ekaristi, kita semua merayakan paskah Kristus. Yesus Kristus, sungguh Allah dan sungguh manusia mengorbankan diriNya demi keselamatan umat manusia. Di dalam perayaan Ekaristi diadakan upacara pendamaian dalam tobat dan salam damai. Ada dua bagian terpenting dalam Ekaristi Kudus adalah Yesus Kristus sungguh-sungguh hadir nyata dalam Sabda dan juga dalam Tubuh dan Darah yang kita sambut. Melalui SabdaNya kita merasa disapa dan dikasihi Tuhan. Melalui Tubuh dan DarahNya kita dikuatkan dan disucikan. Inilah tanda penyertaan Tuhan bagi kita pada hari-hari yang istimewa. Hari-hari raya ini juga menjadi perwujudan iman kita. Roh Kudus Allah senantiasa menguasai seluruh hidup kita untuk mentaati peraturan-peraturan dari Tuhan.

Merayakan hari-hari suci di dalam Gereja dengan baik dapat membantu kita untuk menjadi akrab dan dekat dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menjadi andalan dan pusat hidup kita. Dengan mengandalkan Dia, kita pun dapat mengakui diri sebagai saudara Yesus. Penginjil Matius pada hari ini mengisahkan pengalaman mudikNya Yesus ke kampung halaman. Di Nazaret, Ia mengajar di rumah ibadat dengan kuasa dan wibawa. Semua orang menjadi takjub denganNya. Namun banyak juga yang mempertanyakan identitas Yesus. Inilah pertanyaan-pertanyaan untuk Yesus: “Dari mana diperolehNya hikmat itu?Bukankah Dia itu anak tukang kayu? Bukankah ibunya Maria dan saudara-saudaraNya Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Darimana diperoleh semuanya itu?” Yesus pun ditolak di kampung halamanNya. Ia dengan tegas berkata: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di negeri asalnya sendiri dan dirumahnya”

Pengalaman Yesus menjadi pengalaman hidup banyak orang di sekitar kita. Kadang kita tidak sadari bahwa kelemahan kita yang besar adalah selalu memandang orang dari penampilan luar saja. Dengan memandang suku, agama, ras, latar belakang kehidupan tertentu kita langsung menarik kesimpulan bahwa orang itu begini dan begitu. Kita lebih mudah berbicara tentang orang lain tetapi sangat sulit berbicara dengan orang lain. Bacaan-bacaan suci pada hari ini membangkitkan pikiran kita untuk berubah dengan melihat hal-hal yang positif di dalam hidup sesama.

Doa: Tuhan Bapa di dalam Surga, kami bersyukur atas segala anugerah yang Engkau limpahkan kepada kami. Bantulah kami untuk selalu bersyukur kepadaMu dan menguduskan waktu-waktu kehidupan yang Engkau limpahkan kepada kami. Amen

PJSDB

Thursday, August 1, 2013

Renungan 1 Agustus 2013

St. Alfonsus Liguori
Hari Kamis, Pekan Biasa XVII
Kel 40:16-21.34-38
Mzm 84: 3.4.5.6a.8a.11
Mat 13:47-53

Kemah Suci yang mempersatukan

Kisah Musa dan bangsa Israel dalam relasinya dengan Tuhan berlanjut. Dari Kitab Keluaran kita mendapat informasi bahwa sebelumnya Musa kecewa dengan Bangsa Israel karena mereka menyembah patung anak lembu jantan dari emas. Tanda kecewa diungkapkan dengan memecahkan dua loh batu itu di kaki gunung Sinai. Di kemudian hari Musa naik lagi ke atas gunung untuk berbicara dengan Tuhan terutama memohon pengampunan bagi Israel. Tuhan sekali lagi memberi dua loh batu yang baru. Musa membawanya dan ketika tiba di kaki gunung Sinai, Harun dan orang-orang Israel heran melihat wajah Musa yang berubah. Wajahnya bercahaya karena ia berbicara dengan Tuhan. Ia harus membuka tutup selubung wajahnya di hadapan Tuhan dan manusia. Pikiran Musa selanjutnya adalah bagaimana menyimpan perintah-perintah Allah ini di dalam satu tempat yang aman dan layak. Musa mendirikan sebuah Kemah Suci untuk Tuhan. Cara membuatnya juga disesuaikan dengan petunjuk-petunjuk dari Tuhan.
Pada tanggal satu, bulan pertama, tahun kedua Kemah Suci untuk Tuhan didirikan Musa. Ia memasang alas-alasnya, menyusun papan-papannya, memasang kayu-kayu lintang dan mendirikan tiang-tiangnya. Setelah rangka rumah berdiri maka atapnya dipasang dan di atas atap dipasang juga tudung kemah. Pembangunannya disesuaikan dengan semua pesan Tuhan kepada Musa. Karena Tuhan menyukai tempat itu maka Ia bersemayam di dalam kemah (shekina), dalam rupa awan. Kemuliaan Tuhan juga memenuhi seluruh kemah sehingga Musa tidak dapat memasukinya. Pada siang hari awan itu naik dari atas kemah sehingga menuntun bangsa Israel dalam perjalanannya. Pada malam hari ada api di dalam kemah. Apabila awan tidak naik dari atas kemah maka orang Israel pun tetap berada di perkemahan masing-masing.
Kisah ini menarik perhatian kita semua terutama ingatan kita dibangkitkan kembali karena Tuhan selalu hadir di tengah umatNya. Awan dan api adalah symbol kehadiran Tuhan di tengah umatNya. Tuhan selalu mendampingi mereka dalam perjalanan di padang gurun menuju tanah terjanji. Oleh karena itu dikatakan bahwa mereka tidak akan berpindah tempat kalau awan tidak naik di atas Kemah Suci. Tuhan juga menjadi gembala yang baik bangsa Israel. Ia menuntun mereka dengan kasih dan kesabaran yang tinggi. Banyak kali mereka menggerutu, menyembah berhala tetapi Tuhan masih tetap mengampuni. Ia tidak membiarkan mereka berjuang sendiri.

 Tuhan Yesus mewujudkan rencana Allah Bapa dengan menyertai Gereja hingga akhir zaman. Yesus berkata: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Di dalam Injil Yohanes, Yesus meminta para muridNya untuk tidak cemas karena Yesus akan pergi kepada Bapa untuk menyiapkan tempat, supaya nantinya di mana Yesus berada, para muridNya juga ada bersama dia (Yoh 14: 1-3). Boleh dikatakan bahwa Yesus melengkapi semua yang sudah dilakukan Bapa ketika mengantar umat terpilih dalam perjalanan di padang Gurun. Dia sungguh Emanuel, Allah menyertai kita semua.
Perjalanan umat Israel di padang gurun ibarat para nelayan yang menangkap ikan di danau Galilea sebagaimana diumpamakan Yesus dalam bacaan Injil tentang Kerajaan Surga. Di antara para umat Israel juga ada yang berdosa karena menggerutu dan menyembah berhala. Hidup mereka penuh kejahatan tetapi ada juga orang yang baik seperti Musa yang dapat membawa mereka ke tanah terjanji. Demikian kiranya sama dengan para nelayan yang menangkap ikan dengan pukat. Di dalam pukat itu ada ikan yang baik dan buruk. Ikan yang baik tetap akan disimpan, ada juga ikan yang buruk akan dibuang ke dalam danau. Apa artinya ini? Tuhan sebenarnya tetap menunjukkan kesabaranNya kepada manusia. Orang baik dan jahat dibiarkan hidup berdampingan dan tentu satu harapan Tuhan bagi manusia adalah bahwa segala kebaikan Tuhan hendaknya dimiliki oleh setiap orang sehingga dapat mengubah orang yang jahat menjadi baik.

Perumpamaan tentang ikan di dalam pukat juga mengarahkan kita semua kepada pengadilan terakhir di mana akan ada pemisahan antara orang baik dan orang jahat. Orang baik akan bersinar memancarkan terang kasih Allah di surga, orang jahat akan menghuni dapur api untuk selama-lamanya. Tentu saja, Tuhan tidak akan menghendaki kita untuk menghuni dapur api untuk selamanya. Tuhan justru menghendaki agar kita memancarkan api cinta kasihNya untuk selama-lamanya. Bahwa akan ada pemilahan terhadap orang yang baik dan jahat, tetapi di dalam Yesus Kristus ada keselamatan. Mari kita membuka diri kepadaNya. Mari kita masuk di dalam kemah suci, di dalam sakramen mahakudus untuk menyembah dan memuliakan Dia sebagai Tuhan dan Allah kita.
 
Doa: Tuhan Bapa di dalam Surga, kami memohon berkatMu untuk seluruh kehidupan kami. Amen

PJSDB