Friday, October 4, 2013

Renungan 4 Oktober 2013

St. Fransiskus dari Asisi
Hari Jumat, Pekan Biasa XXVI
Bar 1:15-22
Mzm 79:1-5.8-9
Luk 10:13-16

Ingatlah Kebaikan Tuhan


Hidup di hadirat Tuhan menjadi bermakna ketika setiap pribadi dapat memeriksa bathinnya hari demi hari dan mengakui dirinya dengan jujur sebagai orang berdosa. Semakin orang menyadari dirinya sebagai orang berdosa, semakin ia memiliki kerinduan untuk dibersihkan dan dikuduskan oleh Tuhan. Para kudus memiliki pengalaman-pengalaman tertentu dalam berelasi dengan Tuhan. Ada yang memulai pengalaman akan Allah dengan pengalaman gelap. Mereka ini belum melihat Tuhan Yesus sebagai terang yang sesungguhnya yang sedang datang ke dunia. St. Fransiskus dari Asisi yang hari ini kita peringati pestanya, memulai masa muda dalam kelimpahan kekayaan. Ia mungkin merasa bahwa harta adalah segalanya. Orang tuanya mendorongnya untuk melanjutkan karya ayahnya sebagai pengusaha kain sutra. Namun situasi hidupnya berubah ketika ia menjadi tawanan perang, mengalami sakit, bergabung dengan para pengemis di Roma dan mendapat penampakkan di Kapel St. Damiano di mana ada suara yang mengatakan: “Fransiskus, pergi dan perbaikilah rumahKu yang akan menjadi puing-puing”. Fransiskus menjawabi panggilan Tuhan dan mengikuti jejak Tuhan Yesus yang meskipun kaya tetapi rela menjadi miskin supaya kita semua memperoleh keselamatan kekal. Ada pergeseran dari pengalaman kegelapan duniawi ke pengalaman akan Allah di mana Fransiskus merasakan terang Kristus yang abadi.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengarahkan kita untuk mengingat segala kebaikan Tuhan di dalam hidup kita. Umat Israel di hadirat Tuhan mengakui keadilanNya. Mereka juga melihat masa lalu di mana mereka melakukan dosa dan salah di hadirat Tuhan. Apa yang sudah mereka lakukan untuk melawan Tuhan? Mereka tidak taat kepada perintah-perintah dan ketetapan-ketetapan Tuhan. Mereka tidak mendengar suara Tuhan. Tuhan mengutus para nabiNya untuk berbicara dan menyadarkan mereka tetapi mereka tetap jatuh dalam dosa yang sama dengan tidak mendengar para nabi. Dosa lain yang di lakukan oleh Israel adalah mereka menyembah berhala. Mereka menyembah dan berbakti kepada allah lain dengan angan-angan mereka yang jahat. Akibat dari semua dosa yang mereka lakukan adalah bencana dan laknat.

Bangsa Israel diingatkan Tuhan melalui Barukh untuk memeriksa bathin mereka. Hasil pemeriksaan bathin mereka adalah mereka sadar akan keadilan yang Tuhan berikan kepada mereka. Mereka merasa bahwa ada penderitaan dan kemalangan, tetapi mereka juga merasakan banyak berkat  dan kebaikan Tuhan yang tiada batasnya. Kita pun disadarkan untuk memeriksa bathin. Setiap kali memeriksa bathin, kita meletakkan Allah sebagai pusat perhatian dan kita menemukan betapa banyak dosa dan salah yang kita lakukan di hadirat Allah yang kudus. Kita menemukan banyak noda yang melekat di dalam hidup pribadi kita. Mengapa demikian? Karena kita manusia yang egois, tidak mau mendengar suara Tuhan dan mentaatiNya. Dengan demikian kita juga tidak akan mencintai Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, dan akal budi kita.

Dengan melakukan pemeriksaan bathin, kita dapat menemukan bukan hanya dosa dan salah kita tetapi Allah yang jauh lebih agung, jauh lebih kuat dari dosa-dosa yang kita lakukan. Dialah yang berkuasa untuk mengampuni dosa-dosa kita. Maka di dalam pemeriksaan bathin, kita juga melihat Tuhan Allah dengan segala kebaikan yang Dia kerjakan bagi kita. Ingatlah akan kebaikan-kebaikan Tuhan, bukan hanya mengingat dosa karena Tuhan tidak mengingat dosa-dosa kita. Tuhan hanya melihat iman dan cinta kasih kita kepadaNya. Segala karya agung dari Tuhan dirasakan Israel turun temurun misalnya ketika Ia membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir, peziarahan ke tanah terjanji merupakan tanda kebesaran Tuhan. Tanda bahwa Tuhan melampaui segala dosa dan salah dan Ia yang berkuasa untuk melepaskan semua dosa dan salah manusia. Pengampunan Tuhan memang tiada batasnya.

Tuhan Yesus sudah mengutus 72 muridNya untuk memasuki kota-kota yang akan dikunjungiNya. Mereka pergi berdua-dua, masuk dan keluar kota menghadirkan Kerajaan Allah dalam nama Yesus. Para murid ini tidak melakukan tugasNya sendiri tetapi tugas dan amanat Yesus Kristus. Namun Yesus sendiri mengatakan kepada mereka bahwa Ia mengutus para muridNya seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Banyak kesulitan yang mereka hadapi, misalnya penolakan-penolakan dari orang-orang yang dikunjungi para murid. Itu sebabnya pada hari ini Tuhan mengecam kota-kota seperti: Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Khorazim adalah sebuah kota di atas bukit sekitar tiga kilo meter dari danau Galilea. Kemungkinan Tuhan Yesus selalu pergi ke tempat itu untuk berdoa. Betzaida adalah kampung halaman para nelayan yang segera mengikuti Yesus sebagai murid. Kapernaum adalah kampung halaman Petrus, markas besar Yesus dan para muridNya.

Apa yang terjadi dengan ketiga tempat ini? Orang-orang yang menghuninya menolak kehadiran Yesus dan para muridNya. Memang mereka juga merasakan kasih Tuhan Yesus melalui pengajaranNya dan tanda-tanda heran yang Ia lakukan. Masalahnya adalah mereka tidak percaya kepadaNya. Mereka tidak membuka hati untuk menerima kehadiran Yesus. Sekali lagi apa yang diungkapkan dalam Kitab Baruk dalam bacaan pertama diulangi di sini. Orang-orang tidak mendengar Yesus. Mereka juga tidak mengikuti perintah dan pengajaranNya. Mari kita camkan perkataan Yesus ini: “Barangsiapa mendengarkan kalian, ia mendegarkan Daku, barangsiapa menolak kalian, ia menolak Aku. Dan barangsiapa yang menolak Aku, ia menolak Dia yang telah mengutus Aku” Tuhan Yesus justru memuji kota-kota orang kafir yang jauh lebih terbuka atas kehadiranNya seperti Tirus, Sidon. Di daerah orang kafir ini Yesus diterima dengan baik. Orang lebih terbuka dan percaya kepadaNya.

Sekali lagi Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk berani memeriksa bathin, mengetahui dan menyesali dosa-dosa kita. Semakin kita menyesali dosa-dosa, kita juga akan semakin akrab dengan Tuhan sendiri. Kita akan terbuka untuk menerimaNya, mengikuti segala perintah dan mendengarNya di dalam hidup kita.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, janganlah memperhitungkan dosa kami tetapi perhatikanlah iman gerejaMu, iman kami yang percaya kepadaMu. Amen

PJSDB

Thursday, October 3, 2013

Renungan 3 Oktober 2013

Hari Kamis, Pekan XXVI
Neh 8:1-5a.6-7.8b-13
Mzm 19:8-11
Luk 10:1-12

Kuasa Sabda Tuhan

Ketika saya sedang menyiapkan homili untuk hari ini, ada seorang sabahat saya mengirim sebuah pesan singkat, “Romo, kami juga menyiapkan lagu ‘FirmanMu, pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku” untuk perayaan Ekaristi di rumah.  Saya berkata di dalam hati, “Kog nyambung dengan persiapan homili saya”. Apakah hati anda pernah tergerak ketika menyanyikan lagu “FirmanMu pelita bagi kakiku terang bagi jalanku” yang berasal dari Mazmur 119:105. Sabda Tuhan yang kita baca dan dengar memiliki kuasa yang besar bagi hidup kita. Selama tahun-tahun terakhir ini saya mengajar Kitab Suci kepada para calon imam dan bruder dari kongregasi kami. Kesan saya adalah mereka lebih menyukai Kitab Perjanjian Baru dari pada Kitab Perjanjian Lama. Saya pernah bertanya kepada mereka, mengapa lebih menyukai Kitab Suci Perjanjian Baru? Banyak di antara mereka yang mengatakan Kitab Perjanjian Baru lebih enak dibaca dari pada Kitab Perjanjian Lama. Saya mengatakan kepada mereka bahwa kalau memang mereka berpikir seperti itu maka panggilan mereka saya ragukan. Di kalangan umat kristiani banyak yang kurang meminati Kitab Suci Perjanjian Lama. Banyak yang merasa bahwa kisah-kisahnya sudah kadaluarsa, padahal Kitab Suci Perjanjian Lama menyiapkan umat manusia untuk menyambut kedatangan Kristus sang Mesias, sedangkan Kitab Perjanjian Baru menggenapi semua nubuat di dalam Kitab Perjanjian Lama. Kedua-duanya merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Pada hari ini kita mendengar kisah yang luar biasa dari Kitab Nehemia. Ezra sang ahli Kitab Suci sedang ber-Lectio Divina dengan semua umat Israel yang hadir di Yerusalem. Apa yang di lakukan Ezra bersama umat Israel? Pada waktu itu umat sedang berkumpul di lapangan dekat Gerbang Air di Yerusalem. Umat pria, wanita dan anak-anak meminta Ezra untuk membacakan Sabda dari Kitab Taurat supaya mereka mendengarnya dan mengerti. Ezra pun membaca dari Kitab Suci selama setengah hari dan semua orang yang mendengarnya mengerti dengan baik. Sabda yang dibacakan juga dijelaskan kepada jemaat yang hadir. Sambil mendengar Sabda, mereka menyadari diri sebagai orang berdosa sehingga mereka berlutut dan sujud menyembah Tuhan dengan muka sampai ke tanah. Sabda Tuhan memang bersifat menguduskan manusia.

Pengalaman mendengar Sabda dan melakukannya di dalam hidup amat berharga bagi jemaat Israel. Oleh karena itu, Bupati Nehemia dan imam Ezra juga kaum Lewi mengajar umat dengan berkata: “Hari ini adalah kudus bagi Tuhan Allahmu. Kalian janganlah berduka cita dan menangis”. Nehemia berkata: “Pergilah, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis, dan berikanlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa! Sebab hari ini kudus bagi Tuhan. Jangan bersusah hati tetapi bersukacitalah karena Tuhan adalah perlindunganmu”. Orang-orang Lewi pun memberi semangat kepada kaum Israel untuk bersukacita.

Kisah ini sangat menakjubkan. Semua orang dari berbagai lapisan dan golongan berkumpul bersama sebagai satu persaudaraan untuk mendengar Sabda Tuhan. Ada Bupati Nehemia, imam Ezra, kaum Lewi dan seluruh jemaat. Mereka berkumpul untuk mendengar bacaan Kitab Suci dan penjelasannya. Untuk membaca dan menjelaskan Kitab Suci merupakan tugas para imam. Para imam menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami jemaat ketika membaca dan menjelaskan Kitab Suci. Bupati sebagai wakil pemerintahan sipil juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan umat. Ia juga mendengar Sabda, memberi semangat dan penghiburan kepada jemaat yang adalah rakyatnya juga. Kaum Lewi yang siang dan malam melayani Tuhan di Bait Suci juga menguatkan seluruh jemaat untuk selalu bersukacita. Dengan demikian semua orang yang mendengar Sabda merasakan sukacita yang besar dan sukacita itu juga yang dibagikan kepada semua orang. 

Tugas mewartakan Sabda juga diperintahkan oleh Yesus kepada para muridNya. Ia berkata: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Aku menyertai kamu hingga akhir zaman” (Mat 28:19-20). Yesus tidak hanya memberi komando atau memerintahkan para murid untuk mewartakan Sabda, tetapi Ia juga menyertai mereka hingga akhir zaman. Tuhan Yesus tetap menyertai GerejaNya, menguatkan dengan Sabda dan melindungi dari mara bahaya.

Penginjil Lukas pada hari ini mengisahkan perutusan 72 murid Yesus. Mereka diuutusnya pergi berdua-dua mendahuluiNya ke setiap kota dan desa yang akan dikunjungi Yesus. Pesan-pesan Yesus kepada mereka sangat berarti dan masih dirasakan saat ini di dalam Gereja. Pertama, Yesus berpesan: “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Oleh karena itu mintalah kepada yang empunya tuaian supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu”. Ingatan kita adalah para pekerja. Para pekerja adalah milik tuan maka kita meminta kepada tuan untuk mengirimkannya. Setiap kali kita berdoa memohon panggilan di dalam Gereja untuk menjadi suster, frater, bruder dan pastor, kita harus sadar bahwa Tuhan mempunyai orang-orang khusus. Maka kita berdoa, memohon supaya Tuhan mengirim orang-orangNya untuk bekerja, melayaniNya. 

Kedua, Yesus berkata: “Pergilah! Camkanlah, Aku mengutus kalian seperti anak-anak domba ke tengah-tengah serigala”. Menjadi utusan Tuhan memang bukanlah hal yang mudah. Ada banyak penderitaan yang dialami. Tetapi Yesus sendiri menghibur dengan perkataanNya: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadaMu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga” (Mat 5:11-12). Ketiga, para utusan Tuhan perlu hidup sederhana. Mereka tidak perlu kuatir dengan apa yang mereka makan atau minum atau pakai. Kalau mereka membawa apa-apa maka mereka bisa terganggu dalam pelayanan karena Yesus sendiri berkata: “Dimana hartamu berada, disitu hatimu juga berada” (Mat 6:21). Tugas para murid adalah mengatakan kepada semua orang bahwa Kerajaan Allah sudah dekat maka damai sejahtera haruslah dibangun kembali. Dunia baru, penuh kedamaian haruslah dirasakan oleh umat Mesianis.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini menggambarkan bagaimana Sabda Tuhan memiliki kuasa yang luar biasa bagi manusia. Artinya, Sabda Tuhan yang dibaca, didengar, direnungkan dapat mengubah hidup manusia. Orang bisa tersentuh dan merasa sedih, menangis, gembira, bertobat dan bersemangat karena Sabda. Oleh karena Sabda itu sendiri memiliki kekuatan yang luar bisa maka dibutuhkan para pewarta Sabda yang ulet. Para pewarta Sabda adalah milik Tuhan dan Gereja perlu dan harus berdoa supaya Tuhan yang empunya pekerja-pekerja dapat mengirimnya. Maka mari kita memohon kepada Tuhan yang memiliki para pekerja untuk mengirim pekerja yang tekun, jujur, dan setia dalam melayaniNya, melayani seluruh GerejaNya.

Doa: Tuhan, kami bersyukur kepadaMu karena Engkau tak pernah berhenti berbicara kepada kami. Bantulah kamu supaya selalu mendengar dan menjadi pelaku-pelaku sabdaMu. Amen

PJSDB 

Uomo di Dio

Spiritualitas Kerja

Pada suatu kesempatan saya berjumpa dan berbincang-bincang dengan sekelompok anak muda. Mereka barusan pulang berkerja dari tempat kerja masing-masing dan masih lelah. Rasanya mereka butuh teman untuk curhat maka saya berusaha untuk duduk dan mendengar kisah mereka salama seharian bekerja. Ada di antara mereka yang merasa sangat senang dan menikmati pekerjaan mereka, ada juga yang merasa kecewa karena pekerjaan mereka belum mencapai hasil maksimal. Setelah mendengar semuanya, saya menyadari bahwa setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda di dunia kerja. Tetapi ada sesuatu yang tersembunyi di dalam pengalaman mereka dan sifatnya umum yakni semangat untuk bekerja. Sekarang coba anda pikirkan: banyak kali kita hanya terpaku pada hasil yang ingin diperoleh dari pekerjaan pada hari itu dan lupa bahwa hal terpenting adalah bahwa kita masih memiliki potensi dan semangat untuk bekerja. Ketika kita gagal hari ini, kita masih punya kesempatan untuk berhasil, keluar dari belenggu kegagalan.

Mengapa kita perlu bekerja? Ada banyak orang yang bekerja tetapi tidak memahami makna dari bekerja itu sendiri. Saya menyorotinya dari segi rohaninya saja. Ada dua nilai rohani dari bekerja. Pertama, ketika bekerja kita mau terlibat di dalam diri Allah Tritunggal yang mencipta tanpa henti. Para rekan pria katolik pasti mengetahui kisah penciptaan di dalam awal Kitab Kejadian. Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu, sempurna dan baik adanya. Maka ketika kita bekerja, kita juga ikut serta atau bekerja sama dengan Tuhan Allah yang menciptakan segala sesuatu, sempurna dan baik adanya. Kedua, Kita bekerja untuk mewujudkan diri kita sebagai manusia yang sempurna.  Pernahkah anda menyadari bahwa hanya manusia saja yang dapat bekerja? Dengan bekerja manusia mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia. Mengapa? Karena manusia memilik akal budi dan kehendak bebas yang membuatnya sadar untuk bekerja. Dia juga ingin menikmati hasil kerjanya.

Dengan memahami nilai rohani bekerja maka mari kita memeriksa bathin kita sebagai pekerja. Tuhan sudah memberi semua talenta, waktu dana kesempatan. Tuhan sudah mempercayakan segala sesuatu di dalam diri kita. Maka tugas kita adalah mengaktualisasikan diri dalam bekerja. Jangan pernah meragukan kemampuanmu sendiri. Bukankah Tuhan yang memulai dan menggenapi semuanya di dalam dirimu? Mengapa anda kurang percaya diri dalam bekerja?

Ada seorang pemuda, fresh graduated dalam bidang finance. Ia diterima untuk bekerja di sebuah perusahan finance. Pada hari-hari pertama ia bekerja di tempat itu, ia merasa sangat sulit. Ia merasa berada di bawah tekanan para seniornya. Para senior memiliki banyak pengalaman, sedangkan ia masih harus mentransfer pengetahuannnya dari aneka diktat kuliah yang pernah ia miliki. Banyak kali ia membuat kesalahan sehingga kata kunci “bego banget lu” keluar dari seniornya. Tetapi ia masih memiliki modal yaitu rendah hati dan mau belajar dari pengalaman para seniornya. Ia semakin kaya dan matang dalam pengetahuan sehingga dia akhirnya lebih trampil dan maju dari para seniornya. Para seniornya puas dengan pengalaman dan lupa untuk belajar hal-hal yang sifatnya inovatif. Ia pun mendapat kepercayaan dari pimpinan untuk tugas baru yang beranggotakan para seniornya. Dia bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan baik baginya. Ia yang tadinya dibimbing, sekarang menjadi pembimbing.

Para rekan pria katolik. Hari ini kita coba memandang Yesus Tuhan kita dan belajar spiritualitasNya.Yesus dikenal sebagai pribadi yang selalu berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai iblis dan Allah menyertai Dia (Kis 10:38). Ia dan para murid bekerja tak kenal lelah sampai makan pun mereka tidak sempat (Mrk 6:31). Mengapa Yesus bekerja tanpa henti? Karena Bapa juga bekerja tanpa henti: “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga” (Yoh 5:17). Pengalaman-pengalaman Yesus, sang Guru dan sahabat kita sangat inspiratif dan patut kita ikuti.

Belajar dari Yesus sebagai figur seorang pekerja sejati mari kita membenahi diri kita di tempat kerja masing-masing. Tentu saja “seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Mat 10:10), namun kadang-kadang kita lupa diri. Banyak kali kita sebagai pekerja menuntut upah tinggi sesuai UMR yang menjadi hak kita. Ini hal yang bagus. Namun demikian kita juga lupa dengan segala kekurangan yang kita lakukan dengan sadar di tempat kita bekerja. Banyak di antara kita yang menyalahgunakan kebaikan pimpinan perusahan sehingga berlaku tidak jujur. Banyak juga yang menggunakan waktu kerja untuk bermain hp, mengaktifkan jejaring social, sengaja terlambat atau pulang sebelum waktunya. Masih banyak kekurangan yang berlawanan dengan spiritualitas kerja pria katolik. Pandanglah Yesus dan temukanlah motiavasi kerjamu sebagai seorang pria katolik.

Saya akhiri permenungan kita tentang spiritualitas kerja ini dengan mengutip Bunda Thresia dari Kalkuta: “Hanya sedikit di antara kita yang melakukan hal-hal besar, tetapi semua orang di antara kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.” Tuhan memberkati dan selamat berkarya.


PJSDB

Wednesday, October 2, 2013

Renungan 2 Oktober 2013

Malaikat Pelindung
Hari Rabu Pekan Biasa XXVI
Kel 23:20-23
Mzm 90:1-6.10-11
Mat 18:1-5.10

Anda juga punya malaikat Pelindung!

Pada hari ini seluruh Gereja katolik merayakan pesta para Malaikat Pelindung. Ibadat untuk menghormati para Malaikat Pelindung dahulu dirayakan bersamaan dengan perayaan Malaikat Agung St. Mikhael setiap tanggal 29 September. Dalam perkembangan selanjutnya, perayaan ini dipisahkan untuk membedakan para Malaikat Agung dan para Malaikat Pelindung. Pada tahun 1411 diadakan pesta khusus bagi para Malaikat Pelindung di Valencia, Spanyol. Pesta ini lebih berhubungan dengan peran Malaikat sebagai pelindung kota Valencia. Paus Paulus V, pada tahun 1614 menetapkan beberapa indulgensi kepada para anggota persaudaraan Malaikat Pelindung. Paus Klemens X menetapkannya sebagai perayaan wajib dalam liturgi Gereja Katolik pada tahun 1670. Dalam sejarah Gereja, banyak orang kudus yang memiliki hubungan nyang akrab dengan malaikat pelindungnya: St. Petrus, Thomas Aquino, Fransiskus dari Sales, Fransiskus Asisi, Gemma Galgani, Fransesca Romana dan Pio dari Pietrelcina.

Siapakah malaikat itu? Kata Malaikat dalam bahasa Latin disebut Angelus. Kata ini berasal dari kata Yunani Anghelos yang berarti seorang utusan yang membawa pesan tertentu. Dalam Bahasa Indonesia kita sebut malaikat yang berasal dari kata berbahasa Arab  "malak" yang berarti kekuatan. Dalam bahasa Ibrani disebut mal'ak yang berarti pembawa pesan. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa Malaikat adalah makhluk murni, spiritual, bukan makhluk bertubuh, tak kelihatan, tak dapat mati, dan berpribadi, dianugerahi akal dan kehendak. Mereka mengkontemplasikan dan bertatap muka dengan Allah terus menerus dan mereka memuliakanNya. Mereka mengabdiNya dan menjadi pembawa pesan dalam melaksanakan misi penyelamatanNya bagi semua (KGK 328-333.350-351). Bagaimana Gereja merasakan kehadiran para malaikat? Sekali lagi Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa Gereja bergabung dengan para malaikat dalam menyembah Allah, meminta pertolongan mereka dan memperingati mereka di dalam liturgi (KGK, 334-336.352). St. Basilius Agung mengajarkan bahwa disamping setiap orang beriman, selalu berdiri seorang malaikat sebagai pelindung dan gembala yang akan menuntunnya kepada kehidupan.

Menurut Kitab Suci Perjanjian Lama, Tuhan Allah memberikan kepada setiap orang beriman Malaikat Pelindung. Di dalam Kitab Keluaran misalnya, Tuhan memberikan malaikatNya sebagai pelindung dan penasihat bagi bangsa Yahudi. Tuhan bersabda: “Sesungguhnya Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya sebab namaKu ada di dalam dia” (Kel 23:20-21).

Tuhan Yesus sudah memilih dua belas orang sebagai rasul-rasulNya. Keduabelas orang ini bukanlah orang-orang yang sudah sempurna tetapi orang-orang yang belum sempurna supaya disempurnakan atau dikuduskan. Dalam sebuah perjalanan ke Kapernaum mereka mempersoalkan siapa kiranya yang terbesar di antara mereka. Pikiran mereka adalah Yesus nantinya menjadi raja dalam pandangan manusiawi, Ia akan memiliki kekuatan untuk mengusir orang-orang Romawi. Maka harapan mereka adalah menjadi pejabat di sekitar Yesus. Ternyata Yesus menanggapi dengan sangat berbeda. Ia tidak mengatakan tentang Kerajaan duniawi, tetapi Kerajaan Surga. Ia justru mengarahkan mereka supaya mencapai kekudusan dengan semangat kerendahan hati dan melayani. Orang besar adalah pribadi yang rendah hati dan pelayan.

Untuk meredam ambisi para muridNya, Yesus mengambil contoh seorang anak kecil. Yesus tentu tidak bermaksud menghadirkan anak kecil sebagai model innocent, contoh orang rendah hati atau kebajikan moral lainnya. Yesus justru menghadirkan anak kecil sebagai makhluk yang lemah, tidak berdaya, sangat bergantung pada orang lain, dia membutuhkan uluran tangan orang lain. Seorang murid Yesus harus bersikap seperti ini di hadapan Tuhan. Ia lemah dan tak berdaya dan menggantungkan seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Ini spirit anak kecil di dalam perikop Injil kita hari ini. Pada akhir bacaan Injil Yesus berkata: “Jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di Sorga.” (Mat 18:10).

Pada hari ini pikiran kita dibuka dan mengalirlah rasa syukur yang sangat mendalam karena Tuhan baik. Ia menyayangi kita dengan mengutus malaikat-malaikatNya untuk mengelilingi dan melindungi kita sejak lahir hingga kematian kita. Apakah kita menyadari kehadiran Tuhan melalui para malaikatNya?

Doa: Ya Malaikat Allah, pelindungku tersayang, melalui engkau kasih Allah dinyatakan kepadaku secara sempurna. Mulai saat ini dampingilah aku untuk menerangi, melindungi, memimpin dan membimbingku. Amen

PJSDB

Tuesday, October 1, 2013

Uomo di Dio

Aku ini, Jangan Takut! 
(Yoh 6:20)

Penginjil Yohanes mengisahkan bahwa pada suatu malam para murid Yesus menyeberang danau Galilea. Pada saat itu angin di danau Galilea terasa kencang sehingga menimbulkan danau itu bergelora. Tentu saja para murid saat itu ketakutan. Mengapa mereka merasa takut? Karena pada saat itu hari mulai gelap, angin kencang dan air danau bergelora. Mungkin mereka juga berpikir bahwa di danau itu ada kekuatan gaib, ada setan dan tentu situasi ini menakutkan. Pada saat itu Yesus juga tidak ada bersama mereka. Semakin mereka menjauh dari daratan, semakin mereka juga merasa takut. Pada saat yang tepat, datanglah Yesus mendekati mereka. Ia meneguhkan mereka dengan berkata: “Aku ini, Jangan takut!” Nilai tambah dari kehadiran Yesus adalah, air laut menjadi tenang, mereka tidak takut lagi dan seketika itu juga mereka sampai ke tepi pantai yang mereka tujui.

Kisah Injil ini menarik perhatian kita. Para pria pilihan Yesus yang berjumlah 12 orang, mayoritas di antara mereka adalah orang-orang Galilea, para nelayan yang sudah mengetahui keadaan danau Galilea. Mereka pasti tahu kapan ada angin sakal dan  kapan tidak terjadi. Kapan saat yang tepat untuk menyeberang danau dan kapan tidak boleh menyeberang apalagi malam hari. Kapan saat yang tepat untuk menangkap ikan dan kapan tidak perlu ke danau karena akan sia-sia saja. Tetapi sangat mengherankan karena para pria yang barusan mengikuti Yesus ini tetap berani menyeberang danau sendirian tanpa penyertaan Yesus. Padahal kalau bersama Yesus mereka pasti merasa nyaman, tak ada ketakutan apa pun.

Para murid Yesus adalah para pria pilihanNya. Mereka ini adalah gambaran para pria katolik saat ini. Banyak di antara para pria katolik yang masuk dalam dunia kerja dan menjadi orang-orang profesional di dalam pekerjaan mereka. Danau Galilea adalah tempat untuk mencari lauk pauk, dan menjadi lambang tempat bekerjanya kaum pria katolik. Dan di tempat dimana kita bekerja selalau saja ada saat malam gulita, ada angin kencang, danau bergelora. Semua ini adalah tanda-tanda nyata kehidupan saat ini. Malam gelap gulita di tempat kerja bisa saja menjadi saat di mana orang jatuh dalam dosa karena pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian. Angin kencang bisa menjadi situasi nyata di tempat kerja di mana banyak persaingan yang tidak sehat yang dapat menyebabkan orang tersingkir atau tidak berkembang dalam karir. Danau bergelora bisa menjadi tanda-tanda kehancuran tempat di mana kita bekerja karena semua komponen tidak bersama-sama menyatu. Tidak ada hubungan kerja dan garis komando yang jelas sehingga setiap orang berbuat semaunya dia. Motivasi kerja tidak ada lagi. Mengapa terjadi demikian? Karena orang tidak lagi bersatu dengan Tuhan. Karena orang terlalu percaya diri dan merasa dapat menyelesaikan semua masalah dengan kekuatannya sendiri! Orang menjadikan uang sebagai segala-galanya. Uang, kedudukan dan popularitas adalah dewa-dewi modern yang mengalahkan Tuhan. Banyak pria katolik yang murtad karena uang, kedudukan dan popularitas. Ada prinsip: "Kalau mau tetap kenyang gantilah Tuhanmu".

Ketakutan tetaplah hantu bagi manusia. Beato Yohanes Paulus II, ketika dipilih menjadi Paus, dalam pidatonya ia mengatakan “Non abbiate Paura!” Kalian, jangan takut! Seruan yang selalu diucapkan beliau ketika berjumpa dengan kaum muda di seluruh dunia. Sekarang pikirkanlah segala bentuk ketakutan yang pernah anda rasakan sebagai seorang pria katolik? Sekurang-kurangnya ada tujuh ketakutan yang selalu dialami: Takut miskin, takut dikritik, takut sakit, takut tak dicintai, takut kehilangan kebebasan, takut tua dan takut mati. Tujuh jenis ketakutan yang kelihatan manusiawi tetapi membuat orang merasa tak berdaya di hadapan ketujuh bentuk ketakutan ini. Banyak pria katolik yang belum merdeka karena masih merasa takut.

Bagaimana mengatasi ketakutan? Ketakutan itu menandakan bahwa di dalam diri seseorang masih ada kekosongan yang diisi oleh hal yang pribadi bukan ilahi. Bisa juga karena kekuatan gaib atau kuasa jahat ada di dalam diri orang tersebut. Namun kalau sekiranya di dalam diri orang tersebut ada Tuhan maka tidak akan ada lagi ketakutan. Ketakutan itu ada karena masing-masing pribadi mau berjuang sendiri tanpa mengandalkan Tuhan. Seandainya setiap orang mengandalkan kehadiran Tuhan pasti tidak ada ketakutan dan mereka akan sampai ke tujuan dengan tepat.  Ingatlah seruan Yesus ini: “Aku ini, Jangan takut!” Nah, kalau begitu mengapa anda masih merasa takut?

Tuhan memberkatimu hari ini saudaraku!

PJSDB

Renungan 1 Oktober 2013

St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus
Hari Selasa, Pekan Biasa XXVI
Yes 66:10-14c
Mzm 131:1-3
Mat 18:1-4

Menimba semangat anak kecil

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Theresia lahir dengan nama asli Maria Francoise Therese Martin. Ia lahir di Alencon, Prancis pada tanggal 2 Januari 1837. Ayahnya bernama Louis Martin dan ibunya Azelie Guerin. Ayahnya bekerja sebagai tukang arloji. Setelah istrinya meninggal, Louis membawa semua anak nya ke Lisieux. Kematian ibundanya membuat Theresia shock karena dia anak bungsu. Namun kakaknya Pauline mengambil alih tugasnya sebagai ibu untuk memperhatikannya. Sebagai anak bungsu, ia sangat di kasihi ayahnya. Ia mendapat banyak julukan: Theresia kecil, bungsu kecil, ratu kecil. Kakaknya Pauline yang membesarkannya mengambil keputusan untuk masuk biara Karmel di Lisieux pada bulan Oktober 1882. Theresia jatuh sakit lagi karena merasa kehilangan kakaknya. Namun ia disembuhkan secara ajaib. Di kamarnya terdapat patung Bunda Maria dan sambil memandangnya, patung itu tersenyum kepadanya. Ia kemudian masuk dalam biara Karmel pada usia 14 tahun. Di usianya yang masih muda ia mengalami sakit paru-paru. Ia meninggal dunia pada usia 24 tahun.

Theresia dikenal dengan doa-doanya yang sederhana. Salah satu doanya yang terkenal adalah: "Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu! Anggap saja saya ini maminanMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silakan! Dan kalau hendak Kau tinggalkan di pojok kamar lantaran bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bolaMu...O.. Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu”. Orang kudus memiliki doa sederhana, penuh persahabatan. Ia juga pandai membagi pengalaman rohaninya. Ia pernah menulis: "Di suatu hari Minggu kupandang Yesus di salib. Hatiku tersentuh oleh darah yang menetes dari tangan-Nya yang kudus. Kurasa sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke tanah tanpa ada yang menampungnya. Aku pun memutuskan untuk dalam Roh tinggal di kaki salib supaya dapat menampung darah Ilahi yang tercurah dari salib itu dan aku mengerti bahwa setelah itu aku harus menuangkannya atas jiwa-jiwa." (Otobiografi).

Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini menggambarkan hidup dan karya st. Theresia. Pesan sukacita dari nabi Yesaya menggambarkan sukacita besar yang dimiliki oleh St. Theresia di hadirat Tuhan. Ia mengalami banyak kesulitan sejak ditinggal ibunya bahkan ketika menderita sakit paru-paru tetapi ia tetap setia kepada Yesus. Nabi Yesaya menulis: “Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-sorailah karenanya, hai semua orang yang mencintainya!” (Yes 66:10). Yesaya juga menulis: “Sesungguhnya Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai  dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir, kamu akan menyusu, akan digendong dan akan dibelai-belai di pangkuan.” (Yes 66: 12). Tuhan sungguh memperhatikan umat kesayanganNya.

Penginjil Matius menghadirkan kisah yang menunjukkan sikap ambisius para murid Yesus. Mereka datang kepadaNya dan bertanya kepadaNya tentang siapakah yang terbesar di dalam Kerajaan Surga. Yesus tidak menjawab siapa tetapi mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Kemudian Yesus berkata: “Jikalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk di dalam Kerajaan Surga” (Mat 18: 3). Lihatlah bahwa Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka tentang siapa yang terbesar tetapi menunjukkan kepada mereka semangat untuk menjadi murid yang benar seperti seorang anak kecil.

Yesus mengangkat contoh anak kecil di hadapan para muridNya bukan untuk menunjukkan bahwa para murid harus memiliki sikap innocent, rendah hati dan kebajikan moral lainnya. Yesus mengangkat contoh anak kecil untuk menunjukkan sikap murid yang benar. Seorang murid Kristus haruslah seorang anawim. Dia itu lemah, tidak berdaya, berpasrah tetapi memiliki harapan besar kepada Tuhan. Murid Yesus yang benar adalah dia yang selalu mengandalkan Tuhan di dalam hidup. Dia yang bersahabat dengan Tuhan. Apakah  kita memiliki semangat seperti anak kecil? Atau kita justru lupa dengan Tuhan dan mengandalkan diri sendiri.

Pada hari ini kita juga memulai bulan Rosario.  Bulan istimewa untuk membangun persaudaraan sejati dengan berkumpul bersama sebagai saudara untuk berdoa Rosario. Rosario adalah sebuah doa sederhana untuk memajukan persahabat dengan Yesus. Setiap peristiwa yang direnungkan berhubungan dengan peristiwa Yesus. Ad Jesum per Mariam!

Doa:
O Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus,
tolong petikan bagiku sekuntum mawar dari taman surgawi
dan kirimkan padaku dengan suatu amanat cinta.
O Bunga kecil dari Yesus, mintalah kepada Allah hari ini
untuk menganugerahkan rahmat yang kami butuhkan
(sebut intensimu)
Ya Santa Theresia, bantulah aku untuk senantiasa
percaya kepada belas kasihan Allah yang begitu besar
sama seperti yang engkau sendiri alami dalam hidupmu
sehingga aku juga boleh menelusuri lorong kecilmu setiap hari.
Amen.

PJSDB

Monday, September 30, 2013

Renungan 30 September 2013

St. Hieronimus
Hari Senin, Pekan Biasa XXVI
Za: 1-8
Mzm 102:16-18.19-21.22-23.29
Luk 9:46-50

Tuhan mengasihimu!

Kita mengawali pekan ini dengan sebuah antiphon yang bagus dari Kitab Zakharia: “Aku akan menyelamatkan umatKu dan membawa mereka pulang. Mereka akan menjadi umatKu dan Aku menjadi Allah mereka” (Za 8:8). Firman Tuhan melalui nabi Zakharia ini sangat menghibur karena Tuhan mau mewujudkan perhatian dan kasihNya kepada kita semua. Pengalaman umat Israel di Babel merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi mereka dalam konteks relasi pribadi mereka dengan Tuhan. Banyak di antara mereka yang sudah kehilangan harapan pada belas kasih Tuhan. Mereka berpikir Tuhan selamanya akan melupakan mereka sehingga membiarkan penderitaan itu harus mereka alami. Ternyata pikiran mereka berbeda dengan rencana Tuhan. Tuhan justru menggerakkan hati raja-raja kafir di Persia seperti Koresh, Darius dan Arthasastra untuk memulangkan kaum Israel ke Yerusalem dan membangunnya kembali. Ini berarti Tuhan tidak melupakan umat kesayanganNya tetapi tetap mengasihi mereka selamanya. Manusia boleh lupa dengan Tuhan tetapi Tuhan tidak pernah lupa dengan manusia.

Nabi Zakharia dalam bacaan pertama hari ini mengatakan bahwa Tuhan tetap melindungi umatNya. Untuk meyakinkan mereka, Nabi Zakharia mengingatkan mereka akan kejayaan kota Yerusalem di masa lalu. Yerusalem adalah kota yang megah dan indah. Namun demikian sejarah juga mencatat bahwa kota ini pernah dihancurkan oleh Raja Nebukhadnezar II. Selanjutnya, kaum Israel juga sudah kembali ke Yerusalem dan mereka harus berusaha untuk membangun kembali kota ini. Tuhan Allah sendiri berjanji: “Aku akan kembali ke Sion dan akan diam di tengah-tengah Yerusalem. Dengan demikian Yerusalem akan disebut Kota Setia dan Gunung Tuhan semesta alam akan disebut Gunung Kudus” (Za 8: 3). Tuhan begitu baik dan penuh perhatian sehingga Ia sendiri mau datang dan tinggal di tengah umatNya. Dia sungguh-sungguh mau menjadi Immanuel. Di sini kita belajar dari seorang Allah yang tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia tetapi memperhatikan iman, harapan dan kasih kepadaNya. Kita seharusnya malu ketika menyadari kerahiman Allah bagi kita, meskipun kita selalu menyakitiNya dengan dosa-dosa kita. Apakah kita sendiri menyadari kasih dan kebaikan Tuhan meskipun kita ini orang berdosa?

Selanjutnya Tuhan juga mengatakan bahwa Yerusalem yang tadinya kosong akan dihuni oleh manusia, mulai dari yang muda hingga yang tua. Tuhan juga akan menyelamatkan mereka semua mulai dari tempat terbitnya matahari hingga tempat terbenamnya. Artinya Tuhan mempunya rencana untuk menyelamatkan semua orang. Ia akan melindungi dan menjaga masing-masing orang sebagai milik kepunyaanNya. Itu sebabnya Tuhan berkata: “Mereka akan menjadi umatKu dan Aku menjadi Allah mereka”. Ungkapan ini merupakan Injil, sebuah berita sukacita bagi kita semua. Tuhan mau menjadi pelayan bagi manusia. Perhatian, kasih sayang dan perlindunganNya merupakan tanda bahwa Ia juga melayani manusia. Ia setia dan adil bagi umat manusia. 

Penginjil Lukas dalam bacaan Injil hari ini
mengisahkan bagaimana situasi komunitas para rasul. Mereka mempertentangkan siapa kiranya di antara mereka yang terbesar. Yesus mengenal murid-muridNya maka Ia memanggil salah seorang anak kecil, menempatkan anak itu di sampingNya dan berkata: "Barang siapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku. Dan barang siapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Hendaknya yang terkecil di antara kamu dialah yang terbesar" (Luk 9:48). Para murid memang memiliki ambisi-ambisi tertentu. Mereka memiliki harapan bahwa sekiranya Yesus menjadi raja manusiawi maka mereka akan mendapat tempat istimewa. Yesus mengoreksi mereka supaya jangan hidup dalam ambisi-ambisi negatif. Kalau mau menjadi besar, maka hendaklah menjadi kecil, supaya lebih bebas mengabdi. Hidup sebagai pribadi yang suka iri hati dana cemburu tidaklah berguna.

Yesus juga mengoreksi para muridNya yang berpikir bahwa mereka adalah status quo keselamatan. Yohanes melaporkan kepada Yesus bahwa ia melihat orang lain mengusir setan dalam nama Yesus dan berhasil maka mereka melarang supaya orang itu jangan melakukannya. Tetapi Yesus melarang mereka untuk tidak boleh mencegahnya karena dia ada di pihak Tuhan. Ia tidak melawan Yesus dan para muridNya. Banyak kali kita juga berlaku demikian dengan klaim tertentu seperti Yesus adalah milik kita. Tuhan Yesus justru menghendaki agar diriNya dikenal hingga ujung dunia. Kita hendaknya lebih terbuka lagi kepada Tuhan dan sesama. 

Doa: Tuhan, syukur dan puji kami panjatkan kepadaMu di pekan yang baru ini. Engkau senantiasa setia kepada kami. Semoga kami pun setia di dalam hidup dan panggilan kami masing-masing.

PJSDB