Wednesday, March 27, 2013

Renungan 27 Maret 2013

Hari Rabu Pekan Suci
Yes 50:4-9a
Mzm 69: 8-10.21bcd-22.31.33-34
Mat 26:14-25

Yudas Iskariot: "Bukan aku, ya Rabi?"


Saudara dan saudari yang dikasihi Tuhan. Ada seorang pemuda ditangkap oleh polisi karena kedapatan merampok sebuah toko perhiasan. Banyak orang melihatnya ketika digiring di jalan raya menuju kantor polisi. Ada di antara mereka yang melihatnya mirip salah seorang petugas kebersihan di dalam gereja paroki. Ada yang melihatnya mirip seorang yang sering membantu para lansia menyeberang jalan raya menuju ke gereja. Ada yang melihatnya mirip dengan seorang pelukis rohani. Ada yang mengenalnya mirip seorang donatur bagi anak-anak miskin di salah satu sekolah katolik. Orang-orang itu berusaha mendekati dia dan mengenalnya dari dekat. Mereka mengatakan kepada polisi untuk menginterogasinya jangan-jangan benar orang yang mereka kenal. 

Polisi bertanya kepadanya: “Apakah anda salah seorang petugas kebersihan di dalam Gereja?” Dia menjawab, “Ya betul”. Polisi bertanya, “Apakah anda yang suka membantu para lansia menyebarngi jalan raya ke Gereja?” Dia menjawab, “Ya betul”. Polisi bertanya lagi, “Apakah anda yang sering menggambar Tuhan Yesus dan para kudus dan di pajang di gereja?” Dia menjawab, “Ya betul”. Polisi bertanya, “Apakah anda yang selalu menyisihkan uang untuk anak-anak miskin di sekolah?” Dia menjawab, “Ya betul”. Polisi akhirnya bertanya, “Apakah anda  sadar bahwa merampok tokoh perhiasan itu dosa?” Dia menjawab, “Ya betul”. Polisi merasa bahwa orang ini tidak waras karena berkepribadian ganda. Tetapi kisah ini juga menggambarkan diri kita di hadapan Tuhan dan sesama bahwa ada saat-saat tertentu kita menjadi malaikat, tetapi ada saat lain di mana kita menjadi Yudas Iskariot yang jahat.
Sejak kemarin dan hari ini kita mendengar dari bacaan Injil figur Yudas Iskariot. Yudas Iskariot adalah satu-satunya murid Yesus dari daerah Yudea. Mungkin karena dia sendirian di dalam kelompok orang-orang Galilea maka ia dipilih untuk menjadi bendahara komunitas. Sayang sekali dia digambarkan sebagai orang yang tidak jujur karena selalu menggunakan uang untuk keperluan pribadinya dan kadang beralasan “demi orang miskin”. Karena terlalu terikat pada uang dan materi maka Yesus, sang gurunya saja dijual dengan harga tiga puluh perak. Ia bertanya kepada para imam kepala: “Apa yang hendak kalian berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Sejak saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Yesus mengetahui gelagat Yudas Iskariot maka dalam perjamuan malam terakhir, Ia menyatakan kesedihanNya di hadapan para murid: “Sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku”. Para muridNya merasa bahwa mereka adalah bagian dari “menyerahkan Dia” maka mereka bertanya: “Bukan aku, ya Tuhan?” Hanya Yudaslah yang bertanya, sekaligus mengkonfirmasi dirinya: “Bukan aku, ya Rabi?”



Para murid lain bertanya dengan wajah yang polos kepada Yesus sebagai murid: “Bukan aku, ya Tuhan?”  Yudas bertanya dengan wajah munafik: “Bukan aku, ya Rabi” karena uang tiga puluh perak suda ada di tangannya. Ciuman kemunafikannya pun akan diberikan kepada Yesus. Kata guru atau rabi lebih banyak dipakai oleh para ahli taurat, imam kepala dan kaum Farisi. Bagaimana reaksi Yesus? Yesus mengerti bahwa kehendak Bapa adalah hal yang tertinggi maka Dia tidak menaruh dendam terhadap mereka. Ia justru berlutut di depan mereka sambil membasuh kaki sebagai tanda kasih hingga tuntas.

Yesus senantiasa berbeda dengan kita. Ia dikhianati tetapi tidak pernah membalas pengkhianatan dengan hukuman. Ia hanya menyatakan kekesalanNya: “Celakalah orang yang olehnya Anak Manusia akan diserahkan! Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan!” Berbeda dengan kita sebagai manusia yang selalu menyimpan dendam dalam waktu yang lama. Kita sulit untuk mengampuni dan memaafkan orang yang bersalah kepada kita.

Yesaya dalam bacaan pertama menampilkan himne ketiga Hamba Tuhan yang menderita. Hamba Tuhan itu mengakui dirinya sebagai murid di mana Tuhan Allah memberika kepadanya perkataan-perkataan yang diletakkan di atas lidanya. Perkataan-perkataan itu bermanfaat untuk memberi semangat kepada orang yang letih lesu. Ia juga mempertajam telinga untuk mendengar semua perkataanNya. Jadi sebagai murid hamba Tuhan itu memiliki kemampuan untuk berbicara dan mendengar dengan baik. Di samping itu konsekuensi pemuridan adalah siap untuk menderita dengan aneka pukulan. Tetapi murid selalu sadar bahwa Tuhanlah yang akan menjadi satu-satunya penolong, meneguhkan hati.

Figur hamba Tuhan yang menderita juga menggambarkan Yesus sebagai hamba yang menderita. Ia membiarkan diriNya dipukuli, dipaku di kayu salib hingga wafat. Semua ini adalah kehendak Bapa di Surga dan Ia mentaatiNya. Sikap Yesus ini kiranya cocok dengan hamba Tuhan yang menderita yakni bahwa Ia telah berbicara dalam nama Bapa, dan selalu mendengar Bapa. Dia juga berserah kepada Bapa: “Ke dalam tanganMu ya Bapa, Aku menyerahkan nyawaKu”. 

Sabda Tuhan hari ini memanggil kita untuk berubah. Kita mengakui diri sebagai orang yang dibaptis tetapi hidup keseharian kita penuh dengan pengkhianatan kepada Tuhan dan sesama. Kita juga mengkhianati Tuhan dengan meninggalkanNya, menjadi murtad demi harta, kedudukan dan popularitas. Kita juga mengkhianati sesama dengan memeras, menginjak dan tertawa di atas penderitaan mereka. Sungguh suatu sikap yang tidak manusiawi. Mari kita berubah menjadi murid yang baik, yang selalu mendengar Tuhan dan melakukan FirmanNya di dalam hidup setiap hari.

Doa: Tuhan bantulah kami untuk setia mendengar dan melakukan SabdaMu. Amen

PJSDB

Tuesday, March 26, 2013

Renungan 26 Maret 2013

Hari Selasa, Pekan Suci
Yes 49:1-6
Mzm 71: 1-2.3-4a.5-6ab.15.17
Yoh 13:21-33.36-38

Ketika Yudas dan Petrus beraksi


Saudari dan saudara yang dikasihi Tuhan. Ada sebuah keluarga memiliki 3 orang anak. Mereka hidup bahagia sebagai satu keluarga. Ketiga anak itu memiliki karakter yang berbeda-beda yang membuat keluarga itu indah kelihatannya. Orang tuanya menciptakan situasi yang menyenangkan anak-anak mereka. Memang sebagai anak kadang-kadang mereka saling bersaing merebut hati orang tua. Anak sulung diberi banyak tugas untuk memperhatikan adik-adiknya. Anak kedua diberi kebebasan untuk belajar karena memiliki kemampuan intelektual yang bagus. Anak bungsu sering dimanja namun diberi kepercayaan untuk memperhatikan barang-barang di rumah karena kelihatan dia teliti dan rapi. Pada suatu malam, sambil makan malam ibunya mengatakan kepada mereka semua: "Mami merasa kecewa dengan kalian bertiga". Ketiganya serentak bertanya, “Mengapa mom?” “Karena di antara kalian ada yang tidak jujur. Uang di dompet mami selalu hilang dan jumlahnya selalu sama”, jawab ibunya. Ketiga kakak beradik itu saling memandang dan menuduh satu sama lain. Anak bungsu selalu dimanja dan terbiasa mengambil uang tanpa izin maminya. Ini kekeliruan orang tua dalam mendidik anaknya.

Hari ini kita mendengar kisah Injil yang sangat menarik. Sudah hampir tiga tahun Yesus berjalan bersama para muridNya. Mereka menyaksikan perbuatan-perbuatan ajaib yang dikerjakan Tuhan di mata mereka: orang sakit disembuhkan bahkan orang mati dibagkitkanNya. Mereka mendengar sabdaNya yang penuh kuasa dan wibawa. Tetapi semua pengalaman kebersamaan ini belum menunjukkan bahwa murid-murid setia kepadaNya. Selama itu hanya ada gambaran orang-orang Farisi dan pemimpin Yahudi yang melawan Yesus. Tetapi yang menyedihkan sekarang adalah murid-muridNya sendiri mengkhianati dan menyangkalNya. Itu sebabnya Penginjil Yohanes menggambarkan Yesus yang terharu di hadapan para muridNya ketika berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku”. Para murid terusik dengan perkataan Yesus karena semua merasa memiliki kemungkinan untuk menyerahkanNya. Petrus menyuruh murid yang duduk dekat Yesus, yakni murid yang dikasihiNya untuk bertanya siapa gerangan yang akan menyerahkanNya. Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa dia yang akan menerima roti yang dicelup Yesus. Dia adalah Yudas Iskariot.

Sejak menerima roti yang dicelup Yesus, Yudas disuruh untuk melakukan keinginannya. Ia digambarkan kerasukan setan dan pergi “malam itu” menjauh dari komunitasnya. Pada saat itulah Yesus berdoa supaya diriNya dipermuliakan dan Ia juga mengatakan kepergiaanNya. Petrus yang diberi kepercayaan sebagai Kefas atau Wadas mengatakan niatnya untuk mengikuti Yesus dan menyerahkan nyawanya bagi Yesus tetapi Yesus mengatakan bahwa pada saatnya nanti ia juga akan menyangkal Yesus tiga kali.

Bacaan Injil ini menarik perhatian kita karena kita berhadapan dengan dua figur yaitu Yudas Iskariot dan Petrus. Kedua figur ini menyatu dalam kisah Injil yang inspiratif ini. Yudas Iskariot adalah satu-satunya murid Yesus dari Yudea maka dipercayakan sebagai bendahara. Selama itu dia berada di zona nyaman maka ia menggunakan uang komunitas sesuai seleranya. Ia berdalil memperhatikan orang miskin ternyata tidak. Di dalam pikirannya hanya harta maka Yesus pun dijual dengan harga tiga puluh perak. Seorang manusia menjual Tuhannya. Apakah Yesus kesal dengan Yudas? Yesus sempat mengungkapkannya: “Celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya tidak dilahirkan” (Mat 26:24). Namun demikian Yesus tidak mencoret namanya dari daftar para rasulNya. Yesus masih mengijinkan dirinya untuk ikut dalam perjamuan malam terakhir, membasuh kakinya, memberikan tubuh dan darahNya sebagai santapan. Ketika Yudas datang dangan para algojo, ia masih memeluk dan mencium Yesus dan Yesus menerimanya dengan senang hati. Yesus mengasihi Yudas meskipun pengkhianat. Yudas berkhianat, stress dan bunuh diri.

Petrus memang dipilih oleh Yesus menjadi Kefas (Mat 16:18). Ia tidak setuju kalau Yesus menjadi Mesias yang menderita maka dihardik oleh Yesus sebagai iblis (Mat 16:23). Ia juga menyangkal Yesus tiga kali tetapi kemudian berjanji kepada Yesus bahwa ia mengasihiNya. Petrus bertobat dan tetap menjadi pemimpin dan wakil Kristus.


Dalam hidup setiap hari kita pun menyerupai Yudas Iskariot dalam perilaku hidup pribadi. Yudas hanya sekali berkhianat, kita berkali-kali mengkhianati Yesus demi uang, gengsi, popularitas. Banyak orang keluar dari Gereja supaya posisi dan status sosialnya lebih baik, kalau tetap menjadi pengikut Yesus maka tidak akan naik pangkat. Kita juga bisa menjadi Petrus yang menyangkal Yesus. Kalau Petrus menyangkal Yesus tiga kali dan ayam jantan juga berkokok tiga kali, kita menyangkal Yesus berkali-kali sampai ayam jantan aksi mogok berkokok. Kita menyukai malam, membelakangi Yesus sebagai Terang sejati.

Apakah Yesus melupakan kita? Ternyata Yesus tidak melupakan kita. Sebagaimana Ia juga tetap mengasihi Yudas dan Petrus, demikian ia juga mengasihi kita sampai tuntas (Yoh 13:1). Pengalaman jatuh dalam dosa menandakan pengkhianatan dan penyangkalan terhadap Yesus. Tetapi Yesus sabar dan peduli dengan kita. Ia tidak memperihitungkan dosa-dosa kita tetapi melihat iman kita. Kita coba lihat himne hamba Tuhan yang menderita dalam bacaan pertama. Allah memiliki rencana yang indah untuk menyelamatkan kita. Hamba Tuhan itu menjadi pilihan untuk menjadi nabi yang memberi semangat atau terang kehidupan. Ia akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa. 

Sabda Tuhan hari ini inspiratif untuk hidup kita yang penuh pengkhianatan dan penyangkalan terhadap Yesus. Apakah kita berhenti di sini? Jawaban pastinya adalah Tidak! Kita percaya bahwa Yesus adalah Terang dan Dia tetap menunjukkan ketaatanNya kepada Bapa untuk menyelamatkan kita. Maka meskipun kita hidup dalam kegelapan tetapi Ia tetap mau menyelamatkan kita, Ia tetap mau supaya kita hidup dalam TerangNya. Yesus dikhianati, disangkal tetapi Ia tidak membalasnya, Ia juga tidak dendam. Kita malu dengan Yesus karena suka membalas dendam.

Doa: Tuhan, kami lebih suka kegelapan dari pada terang, bantulah kami untuk menikmati terangMu. Amen

PJSDB

Monday, March 25, 2013

Renungan 25 Maret 2013

Hari Senin, Pekan Suci
Yes 42:1-7
Mzm 27:1.2.3.13-14
Yoh 12:1-11

Terpujilah Kristus Tuhan


Saudari dan saudara yang di kasihi Tuhan. Hari ini kita memulai perayaan Ekaristi di Pekan suci ini dengan sebuah antifon pembukaan yang bagus dan inspiratif: “Ya Tuhan, adililah mereka yang merugikan daku, perangilah mereka yang memerangi aku. Angkatlah senjata dan perisai dan bangkitlah membantu aku, ya Tuhan, sumber selamatku” (Mzm 35:1-2;140:8). Mengapa saya katakan bagus dan inspiratif karena selama hari-hari pekan suci ini kita diajak untuk memandang Yesus, Hamba Yahwe yang menderita. 

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama membantu kita mengenal figur Hamba Yahwe yang menderita yang nantinya menjadi sempurna dalam diri Yesus.Tuhan berfirman: “Lihat itu hambaKu yang Kupegang, orang pilihanKu yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh RohKu ke atasnya, supaya Ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” Pikiran kita langsung terarah pada figur Tuhan Yesus sendiri. Dia  pernah mengakui diriNya sebagai Hamba Tuhan (Mat 12:15-21). Ketika dibaptis di Sungai Yordan dan menampakan kemuliaanNya di gunung Tabor, ada suara Bapa Surgawi mengatakan: “Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNya Aku berkenan” (Mat 3:17; 17:15; Mrk 1:11; 9:17;Luk 3:22). Yesus juga mengakui bahwa diriNya dipenuhi Roh Kudus (Luk 4:18; 10:21).

Tuhan berfirman: “Hamba itu tidak akan berteriak atau menyaringkan suaranya atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai sampai Ia menegakkan hukum di bumi”. Hamba Tuhan yang digambarkan di sini adalah figur seorang pribadi yang taat dan tangguh. Ia memiliki kemiripan dengan Yesus. Tugas utamanya adalah menegakkan hukum yang tidak lain adalah hukum kasih. Bagi Yesus, hukum adalah pekerjaan Bapa yang harus dilaksanakanNya, dalam hal ini hukum baru yakni hukum kasih. Tuhan sendirilah yang akan mendampingi HambaNya untuk menyelesaikan segala rencanaNya bagi manusia di atas dunia. Dosa-dosa manusia dilepaskan dan diharapkan supaya hidupnya selaras dengan kehendak Tuhan. 




Yohanes dalam bacaan Injil mengisahkan keluarga Lazarus dan Yesus. Setelah Yesus membangkitkan Lazarus, Marta dan Maria memohon kepada Yesus untuk mampir di rumah mereka di Betania. Mereka mungkin mau mengucapkan rasa terima kasih atas hidup baru bagi Lazarus. Banyak orang ikut bersyukur karena Lazarus hidup kembali. Tetapi orang-orang Farisi dan para pemimpin Yahudi tetap tidak mau menerima relaitas kebangkitan Lazarus. Mengapa? Karena kredibilitas para pemimpin saat itu menurun. Maka mereka tidak hanya mau membunuh Yesus, tetapi mereka juga mau membunuh Lazarus. Betapa sempitnya pikiran manusia sehingga tidak melihat perbuatan baik Yesus yang membangkitkan Lazarus tetapi membenci Yesus karena egoisme dan kesombongan manusiawi mereka.

Kisah lain yang kiranya menarik perhatian kita dari Injil adalah rasa hormat Maria terhadap Yesus. Ia mengambil setengah kati minyak narwastu murni lalu meminyaki kaki Yesus, mengeringkannya dengan rambutnya. Bau semerbak minyak itu melingkupi seluruh rumah. Yudas Iskariot, tidak melihat sikap Maria sebagai hal yang positif tetapi sebaliknya Ia mengatakan: “Mengapa minyak narwastu itu tidak dijual dengan harga 300 dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin”. Reaksi Yesus terungkap dalam kata-kata ini: “Orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak selalu ada pada kamu”.

Perbuatan yang dilakukan oleh Maria adalah ungkapan kasih kepada Kristus yang tiada batasnya karena Ia telah membangkitkan saudaranya Lazarus. Minyak narwastu murni dengan semerbaknya melambangkan kasih yang sempurna akan Kristus yang nantinya menderita, sengsara, wafat dan bangkit dari alam maut. Maria juga menunjukkan dirinya sebagai murid Kristus yang setia. Ia tidak melakukan perhitungan apa-apa dengan Yesus, tidak melihat berapa harga minyak itu, atau apa kata orang tentang perbuatanya bagi Yesus. Dia hanya mau berfokus pada pelayanan sebagai wujud kasih yang sempurna bagi Yesus. Maria menggunakan lokika hati dalam hal ini kemampuan untuk mengasihi. Sikap Maria berbeda dengan Yudas Iskariot. Mulutnya mengatakan belas kasih kepada orang-orang miskin tetapi dia sendiri adalah pribadi yang tidak jujur. Perkataannya tidak sinkron dengan perbuatannya. Judas menggunakan logika pikirannya sehingga membuat perhitungan tertentu: harganya dan kepada siapa akan disumbangkan meskipun dia juga tidak akan memberikan kepada orang miskin.

Dua tipe manusia ini selalu ada di dalam diri kita. Hari ini kita memilih: apakah mau mencintai Yesus dengan sepenuh hati seperti Maria atau bersikap munafik, seolah-olah mengasihi seperti Yudas Iskariot. Banyak kali kita cenderung menjadi Yudas Iskariot yang berdalil seolah-olah melayani kaum miskin tetapi semua yang kita lakukan hanya demi nama baik, gengsi, pupularitas bahkan mengambilnya menjadi milik pribadi (korupsi). Kita bisa saja membantu sesama tetapi penuh perhitungan. Betapa lemahnya hidup kita di hadirat Tuhan. Mari kita berlaku seperti Maria. Ia memandang Yesus sebagai Tuhan dan memuji Dia dengan ungkapan kasih kepadaNya. Mari kita melayani Tuhan tanpa perlu membuat perhitungan apa-apa. 

Doa: Tuhan, terpujilah namaMu, kini dan selamanya. Amen

PJSDB

Sunday, March 24, 2013

Story about donkey


Humility & Stubbornness

The lowly donkey has been used to represent Christ who, like the symbolic donkey, was both meek and mild. The donkey carried the material burdens of the poor, while Christ humbled Himself, and took on a life of poverty, in order to carry the heavy burden of man's sins. The donkey represents many of the characteristics of the self-abasing Christ: patience, courage, gentleness, peace, and humility.
Because Christ rode upon a donkey during His infancy and during His triumphal entry into Jerusalem, the donkey has been honored with the nickname "Christophore" or "Christ-Bearer." During the early days of Christianity, the teachers of the Gospel sometimes received the same nickname as the donkey to show that they carried the teaching of Christ and assumed His attitude of humility, poverty, and patience. The desert fathers were represented by the wild donkey whose hoof is invulnerable to the poison of the various biting and stinging animals found there. However, if the religious lost their fervor, their incompetence, foolishness, and moral lassitude were represented by an ass.
The donkey is frequently seen in pictures of the holy family during their travels to Bethlehem and Egypt. The ass and the ox are painted in scenes of the stable at Bethlehem to show that although humans did not recognize their king, these, the least of God's creatures worshiped Him at His birth. Isaiah foretells this scene when he writes, "Hear, O heavens, and give ear, O earth! For the LORD has spoken: 'I have nourished and brought up children, and they have rebelled against Me; the ox knows its owner and the donkey its master's crib; but Israel does not know, My people do not consider'" (Is 1:2-3). Some people believe the donkey in the manger represents the Gentiles, while the ox stands for the Jews.
The donkey Jesus rode into Jerusalem on Palm Sunday is symbolic of the spiritual kingdom of God. Zechariah prophesies, "Rejoice greatly, O daughter of Zion! Shout, O daughter of Jerusalem! Behold, your King is coming to you; He is just and having salvation, lowly and riding on a donkey" (Zec 9:9). The Messiah riding upon a donkey offers forgiveness and peace with God, whereas Christ mounted upon a horse implies judgment and war.
In French, Italian, and Spanish legends, the donkey Christ rode into Jerusalem was given the image of the cross to wear on its back and shoulders as a reward for its service. Hungarians add that this image was made by Christ's blood during His crucifixion as it spurted upon the donkey's back. The Irish, familiar with the striped donkey, believed Jesus's donkey was unruly and its stripes came from the lashes He was obliged to give it.
The donkey is well known for its stubbornness. Israel was compared to the wild donkey because of their obstinance (Hosea 8:9). The character of Abraham's son, Ishmael, was like that of a wild donkey: "He will be a wild donkey of a man; his hand will be against everyone and everyone's hand against him, and he will live in hostility toward all his brothers" (Gen 16:12 NIV) The Babylonian King Nebuchadnezzar was "driven from the sons of men" to live among the wild donkeys until he acknowledged that "the Most High God rules in the kingdom of men, and appoints over it whomever He chooses" (Dan 5:21).
In time, the donkey became a symbol of those reluctant to believe the Gospel story including St. Thomas, the Doubter, who said, "Unless I see in His hands the print of the nails, and put my finger into the print of the nails, and put my hand into His side, I will not believe" (John 20:24-25). St. Anthony of Padua, losing his patience with an unbeliever, declared that it would be easier to get a wild ass to worship the Sacrament than to convince him of the truth. To the surprise of the people, a wild ass did approach the Sacrament and kneel worshipfully before it. Many who saw this miracle converted and the kneeling donkey became an attribute of this saint.
In the Bible, Samson killed a thousand men with the jawbone of an ass (Judg 15:15). And Balaam, unable to see the Angel of the LORD standing in his path, beat his donkey for turning aside to avoid it. "Then the LORD opened the mouth of the donkey, and she said to Balaam, 'What have I done to you, that you have struck me these three times?'" (Num 22:23-28; 2 Pet 2:16).
The law of Moses contained many rules regulating the treatment of asses. One law forbid Israelites to covet their neighbors' donkeys (Exo 20:17; Deu 5:21). Among other rules, if a donkey was seen straying from his master, or lying in the road under heavy burden, even its master's enemy was obliged to assist it (Exo 21:33; 22:4, 9-10; 23:4-5; Deu 22:3-4, 10). In addition, the donkey was to enjoy a Sabbath rest (Exo 23:12; Deu 5:14).
In spite of his usefulness, the donkey often shared the same fate of its master in war - that of being slaughtered along with the rest of the livestock (Exo 9:3; Deu 28:31; Josh 6:21; 7:24; Judg 6:4; 1 Sam 8:16; 15:3; 22:19; Zec 14:15). Aside from firstborn human sons, the firstborn of the donkey was the only creature which was allowed to be ransomed rather than sacrificed upon the altar of the Lord. This was because the donkey was an unclean creature. It could not be placed on the altar. If it was not ransomed, its neck had to be broken (Ex 13:13; 34:19-20). Although the Israelites never sacrificed asses, a few other nations did. Therefore, the donkey, especially when pictured with a solar symbol, can signify a sacrificial victim. To be "buried with the burial of a donkey" was no burial at all (Jer 22:18-19). It meant to be dragged outside the gates and left for the scavengers to do their work.
In Israel and other early kingdoms,the donkey provided transportation for the poor and the nobility. White donkeys were especially prized. In the Song of Deborah, the wealthy are referred to as those who "ride on white donkeys" (Judg 5:10). To have many donkeys was a sign of wealth (Gen 12:16; 24:35; 30:43; 32:5, 15; Job 1:3; 42:12). In India and China, the donkey was an acceptable vehicle for deities, princes, and heroes.
In many countries, the red donkey is thought to be the incarnation of evil spirits and of Satan. According to early Egyptian beliefs, the red ass was a dangerous entity, feared not only in this life but in the underworld also. To call someone a "red donkey" implies that they are demonic and dangerous. Some people believe the scarlet beast which carries the mother of harlots in the Apocalypse is a red ass (Rev 17:1-8).
In many regions, musician donkeys were drawn or carved playing harps, lyres, and other instruments. They may have represented absurdity, especially that spiritual absurdity known as human pride and willfulness.
In most cases symbolism was not kind to the donkey. The ass was made the image of stupidity, laziness, stubbornness, and lasciviousness. Ancient Greeks and Romans associated it with drunkenness and Dionysus or Bacchus, the god of wine. It was linked to fornication and the sex organs. The lust of Ephraim for idols was compared to that of a wild donkey in heat (Jer 2:24). In spite of its baser connotations, the donkey became the emblem of the United States' Democratic Party in 1828 because their candidate, Andrew Jackson bore the nickname "Jackass" with good humor. Generally, female or young donkeys are symbols of the donkey's fairer qualities, while males represent the baser characteristics just mentioned.
Base or not, the Lord provides springs in the desert to water all His creatures, including the wild ass (Psa 104:11). Job points out that the raiding bands of Bedouins, Sabeans, and Chaldeans who had plundered him were fed by God's wilderness just as surely as the innocent wild donkeys were (Job 24:5). He also informs his friends that he has as much right to complain as a donkey which has no grass to eat; after all, humans are feeling creatures like the donkey and not stones (Job 6:5, 12).
The patriarch, Jacob, mentioned donkeys when he blessed his children. He prophesied that Judah's vineyards would be so flourishing that his descendants could hitch their donkeys to the healthy vines rather than trees (Gen 49:11). Issachar was said to be "a strong donkey, lying down between two burdens" (Gen 49:14). An overloaded donkey will simply lie down in the road. The two burdens of Issachar are said to be those of farming and of the tribute they preferred to pay the inhabitants of Canaan instead of driving them out.

Homili Hari Minggu Palma/C

Hari Minggu Palma
Yes 50:4-7
Mzm 22:8-9.17-18a.19-20.23-24
Flp 2:6-11
Luk 22:14-23:56

Bapa Ampunilah Mereka!

Kita perlahan-lahan melewati retret agung dan pengalaman berbela rasa selama lima pekan terakhir. Bolehlah dikatakan bahwa semua kegiatan APP sejak hari pertama prapaskah yakni Hari Rabu Abu ikut mengantar kita hingga memasuki pekan suci ini. Banyak pengalaman iman yang mengantar kita untuk mengenal lebih dalam sosok Yesus yang kita imani dan cintai. Satu kata yang menghiasi diri Yesus adalah cinta. Yesus mencintai kita semua sampai tuntas (Yoh 13:1). 

Hari ini kita memasuki pekan suci yang dimulai dengan hari Minggu Palma. Banyak orang menyebutnya Minggu daun-daun karena ciri khas hari Minggu Palma adalah daun-daun palma berwarna hijau diberkati pastor sebagai simbol untuk mengenang Yesus masuk ke dalam kota Yerusalem dan diterima dengan mulia. Semua orang menyanyi dengan gembira, pastor yang memimpin ekarisiti secara simbolis dapat mengendarai kuda atau keledai. Kisah sengsara Yesus juga dibaca atau dinyanyikan dengan suasana yang istimewa. Pokoknya hari Minggu Palma selalu istimewa.

Pertanyaan kita adalah apakah hari Minggu Palma memang hanya memiliki kekhasan seperti ini saja? Kalau hanya sebatas ini maka liturgi kita masih dangkal. Minggu Palma seharusnya memiliki nilai yang lebih dari itu. Hari Minggu Palma mengigatkan kita bahwa Yesus masuk ke dalam kota Yerusalem dan disambut orang-orang Yerusalem dengan gembira sambil memuji Allah. Mereka berpekik: "Hosana Putera Daud, terpujilah Engkau yang datang atas nama Tuhan". Itu kiranya pekikan gembira orang pada zaman itu. Hal ini juga menjadi pengalaman puncak dari orang-orang saat itu terhadap Yesus. Padahal ini masih merupakan sebuah pengalaman yang dangkal dan sifatnya sementara. Mereka menginginkan seorang raja yang masyhur dengan menggunakan segala kuasa melalui Sabda dan karya untuk melenyapkan masalah-masalah kehidupan mereka. Ini adalah sebuah contoh pengalaman iman yang dangkal. Mereka membutuhkan Yesus hanya sebatas Ia melepaskan mereka dari permasalahan hidup, apalagi dari tangan sang penjajah yaitu orang Romawi.

Pada hari Kamis Putih nanti kita akan mengenang Perjamuan terakhir yang Tuhan Yesus lakukan bersama para muridNya. Pada malam itulah Yesus mengatakan diriNya sebagai makanan rohani melalui Roti yang dapat dipecah dan dibagi-bagi kepada semua orang. Perutusan Yesus juga ditandai dengan upacara pembasuhan kaki yang dilakukanNya terhadap para murid. Perutusan Yesus semakin membingungkan banyak orang ketika Ia menerima Salib dan rela disalibkan (Jumat Agung). Dia adalah Tuhan dan guru mereka disalibkan! Banyak di antara mereka yang tadinya mengharapkan Yesus sebagai raja justru berteriak dengan suara nyaring: “Salibkanlah Dia”. Ada perubahan perilaku manusia yang sebelumnya berteriak "Hosana" dan kini "Salibkan, bunuhlah Dia!"

Di sini ada pergeseran makna Hari Minggu Palma. Sebelumnya orang-orang berpikiran bahwa Yesus akan menjadi raja dan patut diterima dengan mulai dan pekikan hosana. Ternyata Yesus yang sama mengatakan dirinya sebagai roti yang dapat dipecah-pecah dan dibagi-bagi, membasuh kaki, memikul salib dan wafat dengan tragis di atas kayu salib. Ini adalah pengalaman yang sangat menggocangkan iman mereka dan banyak di antara mereka yang tadinya setia mengikuti Yesus, sekarang memilih untuk meninggalkan Yerusalem dan kembali ke kampung halaman mereka (Pengalaman Emaus). Harapan pupus untuk menerima seorang Mesias yang menderita. Mereka kecewa dengan Yesus. Ini sangat manusiawi.

Daun-daun palma yang diberkati pastor pada hari ini nantinya akan dibakar, abunya diberkati lagi dan diolesi di dahi kita dalam bentuk tanda salib pada hari Rabu Abu. Imam akan berkata kepada kita: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” atau “Ingatlah bahwa engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu”. Daun-daun palma memang dipakai untuk mengeluh-eluhkan Yesus sebagai raja, tetapi daun yang sama rela dibakar menjadi debu untuk mengingatkan kefanaan hidup kita, kerapuhan hidup dan bahwa kita akhirnya dikuatkan dalam pertobatan kepada Kristus. Maka nilai rohani yang tersembunyi dalam perayaan ini adalah pengosongan diri (kenosis) dan pertobatan sehingga menjadi serupa dengan Yesus.


Yesus adalah gambaran hamba Tuhan yang menderita. Semua hal yang digambarkan oleh nabi Yesaya dalam bacaan pertama akan dialami oleh Yesus. Nabi Yesaya menulis tentang hamba Tuhan: “Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan Aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipi kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku juga tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan Allah menolong aku. Aku tidak mendapat malu” (Yes 50:5-7). Hamba Tuhan memahami semua penderitaannya. Ia mengalami penganiayaan fisik yang luar biasa. Namun demikian ia tetap berani dan rela menderita karena ia percaya bahwa Tuhan akan membebaskan dia. Ini ada teladan bagi kita. Pada saat menderita, apakah kita juga masih mengandalkan Tuhan?

Figur Hamba Tuhan yang menderita menjadi sempurna di dalam diri Yesus Kristus. St. Paulus dalam bacaan kedua menggambarkan Yesus, meskipun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai miliki yang dipertahankan. Sebalikya Ia rela mengosongkan diriNya (kenosis), mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Ia juga merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu Salib. Itu sebabnya Allah meninggikan Dia. Tuhan saja berbela rasa dengan manusia dengan mengosongkan diriNya. Ia rela menerima penderitaan dan kehinaan. Luar biasa Tuhan Yesus yang kita imani dan cintai!

Dalam kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus menurut Injil Lukas, Yesus digambarkan masuk ke dalam kota Yerusalem sebagai Raja Mesianis, rendah hati, pendamai dengan sikap sebagai seorang hamba. Dia berbeda dengan raja manusiawi yang mengandalkan kekuatan dan kuasa. Salib adalah takhtaNya yang mulia di mana Ia memerintah dalam kasih dan damai. Boleh dikatakan bahwa kasih Yesus bagi manusia terbukti dalam belaskasih dan pengampunan. Di atas kayu salib terpancar kasih dan pengampunan Yesus. Ada tiga kalimat yang Yesus ucapkan dalam kisah sengsaraNya hari ini: Pertama, Ia mengasihi dan mengampuni para algojoNya: “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Kedua, Kepada pencuri yang turut di salibkan Ia berkata: “Hari ini juga engkau bersama Aku di dalam Firdaus” (luk 23:43). Ketiga, Cinta dan pengampunanNya sempurna dalam penyerahan diriNya yang total: “Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Luk 23:46).

Saya mengakhiri homili ini dengan sebuah kutipan dari C.S. Lewis (1893-1963). Ia menulis: "Orang ini, dahulu maupun sekarang adalah Putera Allah: atau jika orang ini bukan Putera Allah, mungkin Dia seorang gila atau sesuatu yang lebih buruk. Kamu bisa meneriakiNya dengan sebutan orang bodoh, meludahiNya dan membunuhNya seolah Dia setan; atau kamu akan tersungkur di kakiNya dan menyapaNya Tuhan dan Allah. Tetapi jangan sampai jatuh pada pandangan yang tidak masuk akal mengenai keberadaanNya sebagai guru yang hebat. Dia tidak membiarkan itu". Mari kita memulai pekan suci ini dengan memandang Yesus yang tersalib. Dia mengasihi kita sampai tuntas. Dia mengampuni dosa dan salah kita karena kita mengimaniNya.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas pengorbananMu bagi kami. Amen

PJSDB 

Saturday, March 23, 2013

Renungan 23 Maret 2013

Hari Sabtu, Prapaskah V
Yeh 37:21-28
Mzm 31:10.11-12ab.13
Yoh 11:45-46

Belas kasih Allah tiada batasnya

Salah satu kegiatan marathon para imam menjelang hari raya paskah adalah melayani sakramen tobat. Umat katolik mendekati sakramen keempat ini dengan satu harapan bahwa mereka dapat merayakan hari raya paskah dengan hati yang baru, dengan hidup yang baru. Ada umat katolik yang mengaku dosa dengan sungguh-sungguh, mereka mengungkapkan rasa malu di hadapan Tuhan karena perbuatan dosa dan salah sekaligus berjanji untuk tidak berbuat dosa lagi. Hal yang kiranya menjadi pemikiran kita bersama adalah, apakah orang menyadari makna sakramen tobat? Atau mungkin saja orang mengaku dosa karena memang hanya menyebut dosa di hadapan imam dan selesai? Sebenarnya ketika mengakui dosa-dosa kita melalui sakramen keempat, kita bukan hanya mengalami pengampunan yang berlimpah dari Tuhan, tetapi kita juga mengalami belas kasih Tuhan yang tiada batasnya. Kasih dan kerahiman Tuhan selalu baru, hari demi hari.

Nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama hari ini mengajak kita untuk merasakan belas kasih Allah yang tiada batasnya. Kepada umat Israel yang masih berada di Babel, Tuhan melalui Yehezkiel berkata: "Sungguh, Aku akan menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, kemana mereka pergi, Aku akan mengumpulkan mereka ke segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka. Aku akan menjadikan mereka satu bangsa di tanah mereka, satu raja akan memerintah mereka. Mereka tidak lagi menajiskan dirinya dengan berhala-berhala atau dewa-dewa mereka yang menjijikan atau segala penyelewengan dengan mana mereka telah berbuat dosa. Aku akan mentahirkan mereka sehingga mereka akan menjadi umatKu dan Aku menjadi Allah mereka". 

Di sini kita melihat bagaimana Yehezkiel menggambarkan dimensi-dimensi pokok umat terpilih: Tuhan sendiri yang akan mengumpulkan umatNya menjadi satu dari berbagai penjuru (dimensi geografis) dan mereka akan menjadi satu bangsa yang dipimpin oleh seorang raja (dimensi sosiologis). Mereka juga tidak akan menajiskan diri dengan menyembah berhala (dimensi teologis). Pertobatan yang mereka bangun membuat mereka setia kepada Allah (dimensi etis) dengan demikian mereka menjadi tanda kehadiran Allah di antara bangsa-bangsa (dimensi misionaris). Apa artinya semua dimensi ini? Umat Israel bernilai di mata Tuhan meskipun mereka lemah dan jatuh dalam dosa. bagi Yehezkiel, Tuhan adalah pusat kehidupan umat terpilih. Ia tetap memperhatikan dan mau menyelamatkan mereka sebagai kekasihNya. Belas kasihNya pun dicurahkan bagi mereka. Satu hal yang dituntut Tuhan adalah ketaatan mereka kepada kehendakNya.

Sikap Allah  ini sangat positif. Ia tidak memperhitungkan dosa dan salah yang sudah dibuat oleh umatNya dari Samaria sehingga di buang ke Asiria atau Yudea yang dibuang ke Babel. Ia berusaha melupakan dosa dan salah mereka dan mau menjadikan kedua kerajaan ini menjadi satu saja dan Tuhan menjadi satu-satunya raja mereka. Tepat sekali Refrain Mazmur hari ini: "Tuhan Allah menjaga kita seperti gembala menjaga kawanan dombanya". Tuhan selalu menjadi gembala yang baik yang memimpin dan menggembalakan umat kesayanganNya.

Penginjil Yohanes dalam bacaan Injil menggambarkan belas kasih Tuhan Yesus yang tiada batasnya bagi Lazarus sahabatNya. Lazarus sudah meninggal dunia tetapi Tuhan Yesus membangkitkannya. Kebangkitan Lazarus ini menjadi prototipe kebangkitan Yesus dari alam maut. Banyak orang percaya pada kuasa Yesus dengan menyaksikan kebangkitan Lazarus. Namun tantangan yang dihadapi adalah para lawan Yesus yakni kaum Farisi tidak melihat perbuatan baik yang dilakukan Yesus tetapi berusaha untuk menyingkirkan Yesus dari kehidupanNya. Ketakutan orang-orang Farisi adalah ketika semakin banyak orang percaya pada Yesus maka hidup dan posis mereka juga terancam. Orang-orang Romawi akan datang dan merampas tempat-tempat suci mereka. Kayafas sang imam besar berpendapat bahwa lebih baik bagi bangsanya jika ada satu orang mati dari pada seluruh bangsa menjadi binasa. Perkataan Kayafas ini mendorong kaum farisi dan para pemimpin untuk mencari kesempatan membunuh Yesus.

Melalui perkataan Kayafas, kita dapat mengerti maksud dan rencana Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Tuhan Allah Bapa mau mempersatukan semua orang dalam Kristus PuteraNya. Bagaimana mempersatukannya? Dengan mengorbankan Putera TunggalNya Yesus Kristus di salib. Yesus sendiri bersabda: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia berani mengorbankan PuteraNya yang tunggal, sehingga setiap orang yang percaya kepadaNya akan beroleh hidup kekal" (Yoh 3:16). 

Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk melihat Tuhan sebagai Bapa yang mahabaik, Bapa yang penuh kasih. Dia tidak memperhitungkan dosa-dosa kita tetapi melihat iman dan kepatuhan kita kepadaNya. Itu sebabnya Ia mau berlaku sebagai gembala yang baik yang membimbing kita menjadi satu umat terpilih, umat yang kudus karena memiliki Tuhan sebagai raja. 

Di samping itu, kita dingatkan lagi oleh Tuhan melalui SabdaNya untuk mengubah cara pandang kita dari cara pandang negatif menjadi selalu positif terhadap sesama. Orang-orang Farisi melihat Yesus berbuat baik tetapi cara pandang mereka terhadapNya negatif. Mereka justru merasa posisi terancam dalam masyarakat sosial saat itu. Dengan demikian mereka mau mengorbankan Yesus yang tidak bersalah. Banyak kali kita juga bersikap Farisi, terutama saat kita membenarkan diri dengan mengorbankan sesama supaya mereka menderita. Ketika kita sadar dan tertawa di atas pederitaan orang lain. Ingat: "Buanglah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku, dan  perbaharuilah hati serta rohmu"

Doa: Tuhan, semoga kami menyadari dan bersyukur atas belas kasihMu kepada kami. Amen

PJSDB

Friday, March 22, 2013

Renungan 22 Maret 2013

Hari Jumat, Pekan Prapaskah V
Yer 20: 10-13
Mzm 18:2-3a.3bc-7
Yoh 10:31-42

Apakah Yesus menghujat Allah?

Hari ini kita berjumpa dengan dua toko penting dalam Kitab Suci yaitu nabi Yeremia dan Tuhan Yesus Kristus. Kedua-duanya sama-sama mengalami ancaman untuk dianiaya oleh orang-orang yang ada di dekat mereka.

Yeremia memberi kesaksian dalam bacaan pertama. Ada orang yang berbisik: “Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukan dia! Mari kita mengadukan dia!” Para sahabat juga mengintai apakah ia tersandung dan jatuh. Mereka malahan berkata: “Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan terhadap dia”.Yeremia dianiaya bukan oleh orang-orang yang jauh darinya tetapi dari setiap orang yang selalu bersama dan mendengar dia. Orang-orang yang relasinya jauh mau mengadukannya. Orang-orang yang selama itu bersahabat justru mengintai apakah ia bisa tersandung dan jatuh. Pengalaman Yeremia juga menjadi pengalaman banyak orang dari antara kita. Banyak kali kita mengandalkan orang-orang tertentu di sekitar kita dan berpikir bahwa merekalah yang dapat menolong kita dengan tulus padahal bukan demikian. Ada juga yang justru memanfaatkan kebaikan kita untuk tujuan yang tidak baik.Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ada juga yang membantu dengan tulus hati.

Perhatikan sebuah contoh ini: Ada seorang ibu yang suka menolong sesama. Dia seorang  janda yang sudah berumur. Banyak waktu dari hidupnya ia pakai untuk melayani sesama tanpa pamrih. Hal ini sudah dia lakukan bertahun-tahun dan ia lebih banyak berkorban untuk kebaikan orang dalam lingkungannya. Tetapi apa yang terjadi? Apakah ada orang yang melihat perbuatan baiknya? Ternyata hanya sebagian kecil orang yang mengingat kebaikan dan pengorbanannya sehingga mereka berterima kasih. Lebih banyak yang mencemooh dan menggosipinya dengan para bapa di dalam lingkungan. Orang sulit melihat perbuatan baik, lebih mudah menganiaya sesama secara verbal.

Dalam suasana yang sulit bagi Yeremia, apa yang dapat ia lakukan? Ternyata Yeremia tidak putus harapan. Ia selalu mengandalkan Tuhan. Prinsip Yeremia mirip dengan prinsip sang pemazmur: “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengar suaraku”. Tuhan benar-benar menolong pada saat yang tepat. Para musuh Yeremia tersandung jatuh dan tidak punya kuasa apa-apa. Tuhan memang hebat. Ia menguji orang benar dengan melihat batinnya. Hal yang terpenting adalah kepasrahan kepada Tuhan. Orang berserah diri ke dalam tangan Tuhan dan membiarkan Tuhan berkarya di dalam dirinya. Pengalaman Yeremia ini sangat menakjubkan. Ia bertahan dalam cobaan karena ia percaya kepada Tuhan.  

Yesus dalam bacaan injil hari ini membantu kita untuk memahami pengalaman keras dalam hidup. Ia berusaha menjelaskan identitasNya kepada orang-orang Yahudi melalui pekerjaan-pekerjaan Bapa yakni mukjizat melalui perkataan atau firmanNya, namun mereka juga belum percaya. Mereka justru mau melempariNya dengan batu. Mengapa orang-orang Yahudi mau melempariNya dengan batu? Karena mereka beranggapan bahwa Ia telah menghujat Allah. Bagi mereka, Yesus menghujat Allah dengan cara menyamakan diriNya dengan Allah padahal Dia hanya seorang manusia biasa.

Selanjutnya, Yesus meminta mereka untuk percaya kepadaNya karena Ia juga melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa. Namun apabila mereka juga tidak percaya kepada Yesus, maka sekurang-kurangnya mereka percaya kepada pekerjaan-pekerjaan yang sudah Ia lakukan. Dengan percaya pada pekerjaan-pekerjaan itu, dengan sendirinya mereka akan percaya kepadaNya karena Bapa ada di dalam Dia dan Dia juga ada di dalam Bapa. Pada waktu itu orang mau menangkap Dia tetap Ia menghilang ke seberang sungai Yordan. Di sana Ia mengajar dan banyak orang juga percaya kepadaNya.

Tuduhan bagi Yesus adalah Ia menghujat Allah. Apakah benar demikian tuduhan mereka?Yesus sendiri adalah Putera Allah tetapi orang-orang sezamanNya tidak mengenal Dia. Dia berada di pihak yang benar sebagai Putera Allah tetapi orang-orang yang tidak mengenalNya mengatakan bahwa Ia menghujat Allah. Konsekuensi menghujat Allah adalah dimatikan dengan cara melempariNya dengan batu hingga tewas. Apakah benar Yesus menghujat Allah? Tidak benar! Yesus adalah Putera Allah dan Dia berkomunikasi dengan Bapa sebagai Putera. Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah satu kesatuan. Ini yang belum dipahami oleh banyak orang, bahkan hingga saat ini.

Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk selalu mengandalkan Tuhan manakala kita mengalami penderitaan dan kemalangan. Yeremia percaya bahwa Tuhan menyertainya dan Ia akan luput dari para musuh. Harapan Yeremia dapatlah menjadi harapan Gereja saat ini  untuk berkembang. Apa pun tantangannya, jangan pernah mundur. Tidak ada sesuatu apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Yeremia dan Yesus sama-sama menginspirasikan kita untuk maju dengan berani karena Tuhan menyertai kita.

Doa: Tuhan, semoga pada hari ini kami dapat bertahan di dalam penderitaan dan kemalangan, dan dijauhkan dari mara bahaya.

PJSDB