Thursday, July 25, 2013

Renungan 25 Juli 2013

St. Yakobus, Rasul
2Kor 4:7-15
Mzm 126:1-2b.2c-3.4-5.6
Mat 20:20-28

Sanggup Meminum Piala Penderitaan

Pada hari ini seluruh Gereja merayakan pesta St. Yakobus, Rasul. Yakobus adalah anak Zebedeus dan kakak Yohanes Rasul. Pekerjaan merek Mereka adalah sebagai nelayan. Setiap hari mereka membantu Zebedeus ayah mereka. Yesus memanggil mereka ketika mereka sedang memperbaiki jala di tepi danau Genezareth. Yakobus termasuk rasul inti bersama Petrus dan Yohanes. Mereka menjadi saksi ketika Yesus menampakan kemuliaanNya di Gunung Tabor dan peristiwa sakratul maut di taman Getzemani. Yakobus adalah seorang Rasul yang kokoh iman dan kepercayaannya dan sangat setia kepada Yesus. Dialah yang mengusulkan kepada Yesus untuk menjatuhkan api dari langit untuk membasmi orang-orang Samaria yang tidak mau menerima Yesus dan para muridNya. Yesus memberi gelar kepada kedua bersaudara ini: Putera-putera Halilintar.

Ibu Yakobus dan Yohanes memiliki ambisi tertentu untuk kedua anaknya. Pada suatu kesempatan ia meminta kepada Yesus agar memberi kedudukan terhormat dalam kerajaan Kristus bagi kedua puteranya. Yesus tidak menjawab ya atau tidak dari permintaan sang ibu, tetapi Ia meminta kedua bersaudara untuk memikirkan apakah mereka mampu meminum piala penderitaanNya atau tidak mampu. Mereka dengan jujur dan tegas mengatakan bahwa mereka sanggup meminumnya. Namun menurut Yesus, hal duduk di dalam Kerajaan Allah hanyalah diberikan oleh Allah kepada orang yang berkenan di hadiratNya. Perkataan Yesus sungguh digenapi oleh Yakobus. Ia segera meminum piala penderitaan dengan menjadi Uskup di Yerusalem dan menjadi Rasul pertama yang meminum piala kemartiran. Pada tahun 42, Herodes Agripa I memberi hukuman pancung kepadanya. Ia wafat sebagai martir.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa orang tua memang memiliki cita-cita dan harapan bagi anak-anak. Ibu anak-anak Zebedeus mungkin menyadari kedekatan Tuhan Yesus dan kedua putranya sehingga berani berlutut dan memohon tempat yang layak dan terhormat bagi mereka. Pikiran ibu Yakobus dan Yohanes memang baik tetapi sangat manusiawi. Itu memang harapan dia sebagai orang tua. Yesus menegur mereka dengan mengatakan: “Kalian tidak tahu apa yang kalian minta. Dapatkah kalian minum piala yang Kuminum?” Teguran ini bersifat menyadarkan mereka akan tujuan akhir atau masa depan kedua bersaudara ini. Yakobus dan Yohanes akan meminum piala penderitaan dengan cara yang berbeda. Yakobus akan wafat lebih dahulu sebagai martir dengan menumpahkan darahnya yang mulia, sedangkan Yohanes menjadi martir cinta kasih hingga usianya yang panjang.

Menjadi rasul sejati berarti menjadi martir bagi Kristus. St. Paulus dalam bacaan pertama menegaskan ciri khas pengikut Kristus yang setia yakni menjadi martir. Paulus mula-mula mengatakan bahwa harta pelayanan sebagai rasul mereka miliki di dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang berlimpah itu berasal dari Allah bukan dari manusia. Sebagai rasul mereka berlaku sebagai utusan yang bekerja bukan atas nama mereka sendiri melainkan atas nama Tuhan. Tuhanlah yang memberi kekuatan kepada mereka untuk melakukan karya pelayanan. Dengan kekuatan dari Allah, para rasul menjadi utusan yang memprioritaskan Tuhan di dalam hidup mereka.

Sebagai utusan Allah mereka harus selalu siap untuk meminum piala yang diminum oleh Kristus yaitu segala bentuk penderitaan. Paulus berkata: Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini (2Kor 4: 8-11)Pengalaman penderitaan dan kemalangan tidak dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (Rom 8:39). Kristuslah yang senantiasa hadir dan memberi kekuatan kepada para utusanNya. Para utusan Tuhan memiliki roh iman yang sama yang memampukan mereka untuk dapat berkata-kata. Roh iman memampukkan para rasul untuk percaya pada Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dan itu juga yang di wariskan turun-temurun di dalam Gereja hingga saat ini.

Pengalaman kemartiran sebagai utusan Tuhan, meminum piala penderitaan Tuhan Yesus Kristus merupakan wujud pelayanan tanpa pamrih. Yesus berkata: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kalian, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kalian, hedaklah ia menjadi hambamu, sebagaimana Putra Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, tetapi melayani dan menyerahkan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:27-28). Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menjadi hamba yang siap mengabdi Tuhan dan sesama. Be a servant-leader!

Doa: Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami untuk menjadi hambaMu yang setia dalam melayani. Amen

PJSDB

Wednesday, July 24, 2013

Renungan 24 Juli 2013

Hari Rabu, Pekan Biasa XVI
Kel 16:1-5. 9-15
Mzm 78: 18-19.23-28
Mat 13:1-9

Benih itu ditaburkan dan bertumbuh

Saya memiliki kenangan manis ketika masih menjadi mahasiswa teologi di Yerusalem. Pada waktu itu kami memiliki banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan demi melihat dan mengenal lebih dalam mengenai tempat-tempat yang lazim disebutkan di dalam Kitab Suci, terutama Kitab Suci Perjanjian Baru. Kadang-kadang kami melihat pemandangan yang menarik tentang cara bercocok tanam yang dilakukan oleh orang-orang Israel saat ini dan coba membandingkannya dengan para petani pada zaman Yesus. Israel adalah salah satu negara yang paling maju dalam bidang industri pertanian. Tanah yang tandus, padang gurun dapat diubah menjadi sebuah daerah yang hijau untuk dihuni. Tetapi lebih menarik adalah daerah Galilea yang sangat subur dengan pohon buah-buahan, sayur mayur dan gandum. Tentu sistem pertanian saat ini sangat modern dan berbeda dengan zaman dahulu sehingga daerah Galilea dapat memberi makan kepada para penghuninya sepanjang tahun.

Penginjil Matius berhasil merekam sebuah peristiwa penting di mana Yesus keluar dari rumah di Kapernaum dan duduk di pantai danau Galilea.  Banyak orang datang kepadaNya untuk mendengar perkataanNya. Ia pun naik ke atas perahu dan sambil duduk Ia berbicara dengan orang-orang tersebut dalam bentuk perumpamaan. Dari atas perahu, Yesus tentu melihat daerah-daerah di pinggir danau yang sangat subur dan penuh dengan tanaman gandum. Maka Ia betbicara dengan mereka dalam bentuk perumpamaan tentang pentingnya mendengar Sabda. Ia memberi perumpamaan tentang seorang penabur yang menabur benih sesuai seleranya. Benih yang ditabur itu jatuh di tempat-tempat istimewa yaitu Pertama, di pinggir jalan sehingga burung-burung memakannya. Kedua, di tanah yang berbatu, tidak banyak tanahnya, benih segera tumbuh karena tanahnya tipis. Namun tumbuhan baru itu segera layu dan mati karena tidak berakar. Ketiga, semak berduri yang masih kecil, lama kelamaan menjadi besar, menghimpitnya dan tanaman itu mati. Keempat, tanah yang baik sehingga menghasilkan buah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat dan tiga puluh kali lipat.

Yesus tidak mengajar orang-orang di pinggir danau tetapi berbicara (lalein) atau menyampaikan banyak hal dalam bentuk perumpamaan. Inti pembicaraan Yesus adalah tentang mendesaknya Kerajaan Allah. Artinya Kerajaan Allah sudah berada di tengah-tengah mereka. Maka mereka yang mendengar Yesus berbicara juga dengan sendirinya menerima Kerajaan Allah yang sedang Ia wartakan dan bertugas untuk mewartakannya. Namun demikian Yesus sendiri menyadari bahwa sebagai seorang penabur ulung, benih yang tidak lain adalah semua perkataanNya sebagai wujud nyata Kerajaan Allah tidak akan menghasilkan buah yang berlimpah. Ada banyak kesulitan yang akan dialami bahkan Ia sendiri akan wafat di kayu salib. Namun dengan pengalaman paskah itu, Kerajaan Allah benar-benar menunjukkan kuasa dan keagungannya serta menghasilkan buah yang berlimpah. Melalui perumpamaan ini, Yesus juga mengajak para murid untuk tidak pernah lelah atau takut mewartakan Kerajaan Allah. Mereka harus tetap berharap pada kuasa Tuhan. Tuhanlah yang akan membantu mereka untuk berkarya dan melayani KerajaanNya sehingga dapat menghasilkan buah yang berlimpah. Itu sebabnya pada akhir perikop injil, Yesus berkata: “Siapa yang bertelinga hendaklah ia mendengar”.

Satu hal yang dapat kita ambil sebagai bagian dari pengalaman rohani kita pada hari ini adalah kemampuan untuk mendengar. Tuhan sangat baik karena menciptakan dua telinga untuk mendengar dengan baik segala sesuatu di dalam hidup kita. Kita memang memiliki telinga sebagai anggota tubuh kita. Pikiran kita sendiri sebenarnya memiliki telinga bahkan hati kita sendiri memiliki telinga. Dalam bahasa Inggris, hati disebut heart dan kalau kita perhatikan kata heart maka di tengahnya ada kata ear yang berarti telinga. Apa artinya bagi kita? Ketika kita mendengar Sabda Tuhan, tidaklah cukup kita mendengarnya sebagai bunyi atau arus ujaran yang menggetarkan telinga kita sehingga dapat mendengar. Kadang kita mendengar dan memahami tetapi kadang tidak memahaminya. Tidaklah cukup kita mendengar dengan pikiran (mind) dan memahami makna kata-kata yang kita dengar. Kita harus mendengar dengan hati. Maka sabda Yesus harus didengar dengan hati karena Yesus sendiri bukan berbicara hanya dengan mulut atau dengan pikiran tetapi juga dengan hatiNya. Di dalam hati kitalah Tuhan mau berbicara dan kita siap mendengarNya (Hos 2:16). Kita dapat mendengar dengan hati kalau Roh Kudus menolong kita dan membuat kita mendengar dalam bathin apa yang kita terima dari luar. Maka kalau membaca Kitab Suci, pertama berdoalah kepada Allah Roh Kudus. Biarkan Ia membuka pikiranmu untuk memahami Sabda dan kehendakNya.

Di dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengatakan diriNya sebagai sang Penabur yang menaburkan benih sesuai seleraNya. Benih adalah SabdaNya dan merupakan tanda nyata hadirNya Kerajaan Allah. Tempat jatuhnya benih adalah hati setiap pribadi yang mendengar Sabda dan melihat pribadi Yesus. Dari Kitab Keluaran kita mendengar bahwa orang Israel juga mendapat tanda yaitu Manna dan daging burung puyu. Mereka sudah satu setengah bulan keluar dari Mesir dan sedang berada di padang gurun antara Elim dan Sinai. Pada saat itu mereka bergumul dengan diri, dengan Musa, Harun dan Tuhan. Pergumulan itu terungkap dalam sikap bersungut-sungut tentang apa yang mereka akan minum (Kel 15:24). Maka mereka berkata: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami menghadap kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun untuk membunuh kami seluruh jemaah dengan kelaparan" (Kel 16:3). Di bagian lain Kitab Suci mereka berkata: "Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak membayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus dan kering, tidak ada sesuatu apa pun kecuali manna yang kita lihat" (Bil 11:5-6). Mereka memang bersungut-sungut untuk mencoba Tuhan (Kel 17:2).


Orang-orang Israel suka bersungut-sungut karena mereka lupa segala kebaikan Tuhan. Tuhan Yesus tidak menghendaki orang yang suka bersungut-sungut (Yoh 6:13). St. Paulus juga tidak menyukai sikap bersungut-sungut apalagi ketika sedang melayani sesama. Ia pernah mengatakan, "Lakukanlah segala sesuatu dengat tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah" (Flp 2:14). St. Yakobus mengingatkan kita supaya jangan bersungut-sungut dan saling mempersalahkan satu sama lain (Yak 5:9). Apabila orang sudah bersungut-sungut biasanya mereka pasti mau membenarkan diri dan mempersalahkan sesama dan Tuhan.


Bagaimana cara mengatasi rasa bersungut-sungut?

Ada banyak cara tetapi yang lazim misalnya pertama, kita harus mempunyai waktu untuk merenung dan memeriksa bathin dengan jujur setiap hari. Semakin kita memeriksa bathin, kita akan mengenal segala kelebihan dan kekurangan. Dengan demikian kita juga dapat mencintai dan menerima diri kita dengan segala kebaikan dan kekurangan. Kedua, kita membutuhkan saat teduh, hening dan berdoa tanpa henti. Dengan sikap kontemplasi maka Tuhan akan membaharui diri kita dan kita akan terlepas dari cengkraman rasa bersungut-sungut. Ketiga, kita belajar dan mengikuti teladan Tuhan Yesus Kristus dan para kudus di surga. Tuhan Yesus tidak pernah bersungut-sungut. Ia menerima kehendak Bapa untuk menyelamatkan kita semua. Para kudus pernah bersungut-sungut tetapi Tuhan mengubah mereka dengan kasihNya dan mereka pun menjadi sempurna. Mari kita menjauhkan diri dari rasa bersungut-sungut! Orang yang bersungut-sungut adalah gambaran tempat benih yang ditaburkan itu jatuh: pinggir jalan, tanah berbatu dan semak duri. Mereka ini tidak akan menghasilkan buah yang berlimpah

Doa: Ya Allah Roh Kudus, bukalah hati kami untuk mendengar semua perkataan Yesus Kristus Putera Allah. Semoga SabdaNya dapat menjadi pelita bagi langkah kaki kami sehingga kami boleh mengenalMu dan melepaskan diri dari sikap bersungut-sungut di dalam hidup kami. Amen


PJSDB

Tuesday, July 23, 2013

Renungan 23 Juli 2013

Hari Selasa, Pekan Biasa XVI
Kel 14:21-31
Mzm (Kel) 15:8-12.17
Mat 12:46-50

Belajar menjadi Saudara Yesus

Dalam suatu perayaan ekaristi bersama anak-anak Sekolah Dasar, pada saat homili saya bertanya kepada seorang anak: “Apakah hobimu?” “Menyanyi,” Jawabnya. Saya bertanya: “Apa lagu favoritmu?” “Dalam Yesus kita bersaudara” Jawabnya. Saya bertanya, “Mengapa menyukai lagu tersebut?” “Karena saya mau menjadi saudara bagi Yesus dan teman-teman di sini” Jawabnya dengan yakin. Saya melanjutkan misa di sekolah itu dengan hati yang penuh sukacita karena menemukan seorang anak yang di usia dini sudah mau menjadi saudara Yesus dan teman-temannya di sekolah. Ini adalah prinsip dasar untuk menjadi orang kudus. Banyak orang mungkin mau menjadi saudara Yesus, hanya belum tahu kiat bagaimana menjadi saudara Yesus yang sebenarnya. Menjadi saudara itu seumpama jari-jari di tangan dimana kita tidak dapat memilih mana yang paling kita suka dan tidak suka. Semuanya jari sama-sama berguna bagi kita. Andaikan satu tangan kekurangan satu jari tentu mengganggu pekerjaan kita setiap hari. Hidup kita akan menjadi indah kalau kita mampu menjadi saudara yang baik bagi semua orang.

Penginjil Matius hari ini mengisahkan tentang Yesus yang sedang mengajar banyak orang di dalam sebuah rumah. Pada kesempatan itu Bunda Maria dan para saudara sepupuhnya berada di luar rumah dan mau bertemu denganNya. Maka ada seorang pendengar yang berkata kepadaNya: “Lihatlah, ibuMu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan berusaha menemui Engkau”. Mendengar perkataan orang itu, Yesus bertanya: “Siapakah ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu?” Ia menunjuk kepada para muridNya dan berkata: “Ini ibuKu dan  saudara-saudaraKu. Sebab siapa pun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu”.

Dalam pandangan manusiawi kita pasti merasa heran, mengapa Yesus dapat mengatakan hal demikian kepada ibu dan saudara-saudaraNya. Seolah-olah Yesus tidak menghormati Bunda Maria yang sudah melahirkan dan membesarkanNya di Nazareth. Ya, Yesus memandang Bunda Maria sebagai ibuNya tetapi Ia tetaplah Putra Allah yang mahatinggi. Bunda Maria tetaplah seorang manusia biasa, sedangkan Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Dengan demikian relasi pribadi dengan Tuhan Yesu tidak hanya didasarkan pada hubungan darah, tetapi makin luas, terutama keakraban dengan Tuhan. Bunda Maria sendiri tidak pernah membiarkan Yesus seorang diri. Sebagai seorang ibu, Maria juga memiliki waktu untuk mendengar Yesus PuteraNya karena pada kesempatan yang sama Maria juga melakukan sebuah perjalanan iman. Ia selalu berbicara dengan Yesus dan Sabda Yesus sendiri akan membantunya untuk menjadi muridNya yang tulen. Memang Bunda Maria tidak hanya sebagai ibu tetapi juga sebagai murid Yesus yang pertama.

Pada hari ini pikiran kita dibuka untuk melihat hubungan antar pribadi kita bukan sempit dalam arti  hanya sebatas hubungan darah: dari satu ayah dan ibu. Sebagai pengikut Kristus, hubungan persaudaraan kita semakin luas dan menjangkau semua orang. Sebagai saudara berarti semua orang dipanggil untuk menjadi manusia baru di dalam Kristus. Tuhan Yesus sendiri telah datang untuk menyelamatkan semua orang dari pelbagai suku dan bahasa. Santo Paulus pernah berkata: "Tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau tidak bersunat, orang barbar atau orang skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan dalam segala sesuatu" (Kol 3:11). Sikap kristiani yang harus dibangun bukanlah memandang perbedaan di antara kita. Sebagai saudara dalam Kristus kita harus mewujudkan persaudaraan sejati di dalam hal-hal ini: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (Kol 3:12). Kebajikan lain yang kiranya dimiliki setiap pribadi adalah kesabaran, kerelaan untuk mengampuni dan saling mengasihi sebagai saudara.

Salah satu mujizat yang dilakukan Tuhan ketika membebaskan bani Israel dari Mesir adalah mempersatukan semua bani Israel menjadi saudara. Selama 430 tahun mengalami perbudakan di Mesir, persaudaraan sejati tidak pernah dipikirkan oleh mereka. Masing-masing pribadi mengurus dirinya sendiri. Tuhan memilih Musa hambaNya untuk mempersatukan semua bani Israel. Hubungan persaudaraan ini mereka rasakan dalam perjalanan di padang gurun dan masuk ke laut merah karena di kejar Firaun dan pasukannya. Dalam kejaran Firaun dan pasukannya, Tuhan menunjukkan kuasaNya bagi bani Israel. Tuhan memerintahkan Musa untuk mengulurkan tangannya ke atas air laut, dan semalam-malaman itu Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering, maka terbelalah air itu dan orang Israel dapat berjalan di tanah yang kering sedang di pinggirnya berdindingkan air. Orang Mesir tetap mengejar bani Israel, maka Tuhan memerintahkan Musa untuk mengulurkan tangannya ke atas air dan terjadilah, tanah kering menjadi lautan sehingga menghanyutkan Firaun dan pasukannya. Bani Israel mengalami keselamatan dari tangan Tuhan yang perkasa. Mereka menjadi percaya pada Tuhan dan hambaNya Musa. Mereka sama-sama bersyukur kepada Tuhan atas keajaiban yang dilakukan Tuhan bagi mereka.

Tuhan menunjukkan kuasaNya dalam wujud angin timur yang keras sehingga laut saja dapat terbelah dan muncul tanah kering. Memang menakutkan apabila kita merenungkan kata-kata ini. Angin sangat kencang, seperti angin puting beliung. Hanya di dalam Tuhan sendiri ada kedamaian. St. Paulus mengatakan: "Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranMu di dalam Kristus" (Flp 4:7). Bani Israel sungguh-sungguh merasakan mukjizat Tuhan pada saat mereka sedang mengalami situasi baru yang belum jelas yakni keluar dari kuasa Mesir. Mereka barusan keluar dari tanah Mesir, berjalan di padang gurun, sedang dikejar Firaun dan pasukannya, masuk ke dalam laut merah. Di saat-saat yang seperti ini Tuhan datang menolong tepat pada waktunya. Keselamatan pun dirasakan dan disyukuri bersama.

Kisah ini memang menarik perhatian kita semua sebagai pengikut Kristus dalam konteks menghayati sakramen pembaptisan. Hidup lama ditandai dengan kegelapan berupa dosa yang menguasai diri kita. Firaun dan pasukannya itu ibarat iblis yang mencari manusia dan menghancurkan. St. Petrus menyebut iblis laksana singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1Pt 5:8). Dengan sakramen pembaptisan kita semua dapat berjalan di tanah yang kering, tanah keselamatan karena Tuhan berpihak pada kita. Artinya Tuhan selalu mau menyelamatkan kita semua. Apa yang harus kita lakukan? Hiduplah di dalam rahmat Tuhan. Bertobatlah. Mintalah angin timur yang kuat, yakni Roh Kudus untuk membebaskanmu dan masuklah dalam rencana dan kehendak Tuhan (Kis 2:2). Biarlah Roh Allah itu bergerak seperti angin bergerak sesuai kehendaknya (Yoh 3:8) dan taatilah! Kita sebagai Gereja memerlukan pentekosta baru. Mari kita berusaha menjadi saudara yang taat pada Roh Kudus, yang mendengar Sabda dan yang melakukan kehendak Allah Bapa di dalam hidup setiap hari.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur karena Engkau juga mau menjadikan kami ibu dan saudara-saudaraMu karena melakukan kehendak Allah Bapa di Surga. Bantulah kami dengan RohMu yang kudus untuk tetap merasakan penyertaanMu. Amen


PJSDB

Monday, July 22, 2013

Renungan 22 Juli 2013

St. Maria Magdalena
Hari Senin, Pekan Biasa XVI
2Kor 5:14-17
Mzm: 63: 2.4-5.7b-9
Yoh 20:1.11-18

Aku telah melihat Tuhan!


Hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan peringatan St. Maria Magdalena. Maria Magdalena adalah salah seorang Murid perempuan yang mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Namanya disebut 12 kali di dalam keempat Injil, terutama berhubungan dengan kisah-kisah PaskahNya Yesus Kristus. Nama Maria Magdalena selalu dihubungkan dengan tempat asalnya yaitu Magdala (Mat 28:1; Mrk 16:1; Luk 8:2). Magdala merupakan salah satu pusat perniagaan di dekat kota Genesaret di sekitar danau Galilea. Perjumpaan pertamanya dengan Yesus tidak dikisahkan di dalam Injil tetapi yang jelas Yesus pernah mengunjungi kota Genesaret yang letaknya berdekatan dengan Magdala. Di sana Yesus menyembuhkan banyak orang sakit (Mat 14:34-36; Mrk 6:53-56). Ada kemungkinan bahwa pada saat Tuhan Yesus berada di daerah itu dan menyembukna banyak orang, saat itu Maria Magdalena juga turut disembuhkan. Penginjil Markus dan Lukas menjelaskan bahwa Tuhan Yesus Kristus mengusir tujuh roh jahat dari dalam dirinya (Mrk 16:9; Luk 8:2). Ada juga anggapan bahwa Maria adalah wanita pendosa sebagaimana dikisahkan di dalam Luk 7:36-50, namun anggapan ini tidak memiliki dasar yang kuat di dalam Kitab Suci. 

Maria Magdalena digambarkan di dalam Injil sebagai pribadi yang akrab dengan Yesus. Keakraban mereka lebih berhubungan dengan karya pelayanan Yesus ketika mewartakan Injil Kerajaan Allah. Dalam usaha Yesus untuk mewartakan InjilNya ke luar daerah Galilea, Ia berkeliling dan berbuat baik. Maria magdalena merupakan salah seorang yang memiliki andil untuk membantu Yesus dengan menyumbang kekayaannya (Mrk 15:40-41.Luk 8:1-3). Ia bersama para wanita lain mengikuti rombongan Yesus ke Yerusalem (Mat 27:55; Mrk 15:41; Luk 23:49). Ia juga hadir dalam peristiwa penyaliban Yesus di Golgota (Mat 27:56; Mrk 15:40; Yoh 19:25).  Ia mengantar jenazah Yesus sampai ke kubur (Mat 27:61; Mrk 15:47; Luk 23:55). Ia juga ikut mempersiapkan rempah-rempah dan minyak mur (Luk 23:56) sehingga ia boleh ikut ke kubur untuk meminyaki jenazah Yesus (Mat 28:1; Mrk 16:1; Luk 24:1; Yoh 20:1). Ia juga menjadi saksi makan kosong (Mrk 16:4; Luk 23:2-3; Yoh 20:1-2). Ia berjumpa dengan malaikat yang menjelaskan tentang kebangkitan Yesus dan tugasnya sebagai misionaris pertama bagi para rasul (Mat 28:5-7; Mrk 16:5-7; Luk 24:4-7; Yoh 20:11-13). Ia ikut berjumpa dengan Yesus yang bangkit mulia dan menerima perutusanNya (Mat 28:9-10; Yoh 20:14-17). Dialah saksi pertama kebangkitan Yesus (Mrk 16:9-11; Yoh 20:14-18). Dari kutipan-kutipan Kitab Suci ini memang sangat membantu kita untuk melihat betapa akrabnya Yesus dengan Maria Magdalena. Keakraban ini bukanlah membuka jalan untuk mengatakan yang tidak benar tentang relasi Maria Magdalena dan Yesus.

Pada hari ini Penginjil Yohanes mengisahkan pencarian Maria akan Yesus. Ketika itu hari masih gelap dan ia pergi ke kubur Yesus dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur Yesus. Ia berdiri di dekat kubur dan menangis. Ia melihat ke dalam kubur Yesus dan melihat dua orang malaikat berpakaian putih. Malaikat bertanya alasan mengapa ia menangis. Ia menjawab malaikat itu: “Tuhanku diambil orang dan aku tidak tahu dimana ia diletakkan”. Ia juga melihat Yesus yang sudah bangkit dengan mulia tetapi tidak mengenalNya. Ia ditanya: “Ibu mengapa menangis? Siapakah yang engkau cari?” Ia berkata kepada Yesus: “Tuan, jikalau Tuan mengambil Dia, katakanlah kepadaku dimana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambilNya”.  
Maria memang sangat akrab dan mencintai Yesus. Namun cintanya kepada Yesus sangat posesif. Ia menangis dan mengatakan Tuhanku diambil orang dan aku tidak tahu dimana diletakkan. Ia bahkan mencari tahu di mana jenazah Yesus diletakkan supaya ia dapat mengambilnya. Maria lupa bahwa Tuhan Yesus adalah milik semua orang. Cintanya kepada Yesus memang sangat manusiawi. Dia belum beranjak ke cinta kasih yang sifatnya ilahi. Maria mewakili Gereja yang kadang masih berjalan dalam kegelapan dan mengalami makam kosong. Dalam perjalanan sejarah gereja, sikap Maria Magdalena ini cukup nampak. Ada perasaan status quo sebagai pengikut Kristus dan lupa diri untuk hidup menyerupai Yesus Kristus.

Selanjutnya Yesus menyapa Maria Magdalena dengan namanya: Maria! Pada saat itulah ia mengenal Yesus dan menyapaNya: Rabbuni artinya Guruku. Dialog kecil Yesus dan Maria Magdalena ini menunjukkan cara Tuhan Yesus mencintai dan membuka pikiran Maria untuk mengenalNya. Sayang sekali Maria masih mengenal Yesus sebatas Guruku, belum menjadi Tuhanku. Ia juga terpesona dan nyaris mau menyentuh Yesus. Tetapi Yesus menyadarkan dia untuk tidak menyentuh TubuhNya yang mulia. Sebagai hadia istimewa, Maria Magdalena menjadi utusan Tuhan Yesus untuk mewartakan kepada para muridNya bahwa Yesus sang Guru sudah bangkit. Ia telah melihatnya sendiri dan bahwa Yesus lah yang mengatakan segalanya kepadanya.

Relasi akrab antara Maria Magdalena dan Yesus memang sangat inspiratif bagi kita semua. Kira pun dipanggil untuk menjadi akrab dengan Yesus. Maria Magdalena mewakili Gereja dan ia memiliki pencarian yang luhur untuk berjumpa dengan Yesus. Ia berusaha untuk menyenangkan Yesus meskipun sudah menjadi jenazah. Caranya adalah datang ke kubur Yesus. Meskipun makam kosong, ia memiliki keinginan untuk terus mencari Yesus. Dia akhirnya menemukan Yesus yang sudah bangkit dengan mulia. Namun demikian, pengenalannya akan Yesus hanya sebagai seorang sosok Pria, Guru dan Tuan sebelum berubah menjadi Tuhan yang bangkit dengan mulia. Yesus membuka pikiranNya untuk mengenal diriNya lebih dalam. Maria pun menjadi utusan untuk membantu sesama bertumbuh dalam iman.

Yesus sendiri mendidik Maria untuk bertumbuh di dalam iman. Ketika bertatapan dengan Maria, Ia mulai bertanya dengan sederhana sambil menguji iman Maria. Ternyata Maria posesif, cintanya amat manusiawi. Yesus memanggil Maria dengan namanya sehingga Maria pun mengenalNya, namun meminta dia untuk tidak boleh menyentuh Tubuh yang bukan lagi Tubuh manusia tetapi Tubuh Yesus yang ilahi, TubuhNya yang mulia. Dengan demikian Ia menjadikan Maria misionaris Kebangkitan. Yesus mendidik Maria untuk mengenal Yesus Kristus sebagai sungguh manusia dan sungguh Allah. Apakah anda juga memiliki pencarian tertentu tentang Tuhan? Apakah anda masih memiliki kerinduan dengan Tuhan Yesus? Apakah anda berani mengakui iman seperti Maria Magdalena: "Aku telah melihat Tuhan". 

Doa: Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengutus Maria Magdalena menjadi rasul bagi para muridMu. Bantulah kami agar memiliki hati yang terbuka untuk menenerima diriMu dan menjadi rasul bagi sesama kami. Amen

PJSDB

Sunday, July 21, 2013

Homili Hari Minggu Biasa XVI/C

Hari Minggu Biasa XVI/C
Kej 18:1-10a
Mzm 15:2-3a.3cd-4ab.5
Kol 1:24-28
Luk 10:38-42

Memilih Bagian yang Terbaik

Ada seorang pemuda yang datang ke pastoran untuk berbicara dengan saya. Ia merasa sedih dan iri hati kalau melihat teman-temannya begitu akrab dengann orang tua mereka. Padahal secara ekonomis, mereka lebih sederhana daripada keluarganya. Ayah dan ibunya masing-masing merupakan orang nomor satu dari perusahaan masing-masing. Mereka berdua tanpa sadar sedang bersaing, terutama kiranya perusahaan siapa yang lebih berkembang dan meraup keuntungan yang banyak. Pasutri ini akhirnya tenggelam dalam kerja dan duit sehingga lupa mengurus putra tunggal mereka. Pasutri ini jarang memiliki waktu untuk tinggal bersama putra mereka. Boleh dikatakan bahwa putra mereka seperti proyek yang harus diurus bukan manusia yang membutuhkan kasih sayang. Ia diberi uang, gadget terbaru, mobil. Orang tua berpikir bahwa itu adalah tanda kasih dan pelayanan mereka. Masalahnya adalah anak ini tidak merasakan kehadiran orang tuanya. Anak ini merasa di dunia yang sempit, tidak memiliki kebebasan sejati sehingga dampaknya adalah mencari perhatian dan kasih sayang kepada orang lain. Ia tidak akrab dengan orang tua sendiri tetapi dengan orang lain. Ia juga beberapa kali harus berurusan di sekolah karena suka membangkang. Kesibukan mencari harta duniawi, memberi uang, gadget, mobil bukanlah jaminan untuk membahagiakan sesama. Hal yang terpenting adalah kehadiran yang terus menerus di dalam diri  sesama.

Penginjil Lukas hari ini melaporkan bahwa Yesus sedang mengunjungi para sahabatNya yakni Marta dan Maria. Kedua wanita ini memiliki saudara bernama Lazarus. Mereka tinggal di Bethania. Setiap kali berkunjung ke Yerusalem, Yesus dan para muridNya pasti mengunjungi mereka. Marta dan Maria adalah dua pribadi yang berbeda satu sama lain. Marta dalam bahasa Aram berarti “Nyonya rumah” menerima Yesus dan para muridNya di rumahnya dan sibuk melayani mereka. Maria saudaranya tetap duduk di dekat kaki Tuhan dan terus mendengar perkataanNya. Sikap Maria ini membuat Marta mencari perhatian Yesus untuk menegur Maria. Marta tentu berpikir bahwa Sikap Maria itu tidak tepat sebagai wanita Yahudi yang duduk dekat kaki Yesus seolah-olah seorang murid. Maria harus melayani seperti dirinya. Maka terjadilah tegur menegur di antara mereka. Marta mendekati Yesus dan menegurNya karena tidak memperhatikan kepincangan dalam pelayanan sehingga Yesus diminta untuk menegur Maria. Yesus tidak menegur Maria tetapi justru memujinya karena memilih untuk melakukan hal yang paling penting yakni mendengar semua perkataan Yesus. Yesus juga menegur kembali Marta yang sibuk dan khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal yang tidak perlu.

Kisah Injil ini memang menarik perhatian kita. Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem (Luk 9:51-19:27). Pada mulanya Yesus tidak diterima dalam desa-desa orang Samaria. Kini Yesus dan para muridNya diterima di rumah Marta. Kisah ini juga kiranya tepat penempatannya setelah kisah orang Samaria yang baik hati yang menunjukkan kasih kepada sesama dan sekarang sikap Maria ditonjolkan untuk menerangkan kasih kepada Tuhan dengan mendengar setiap perkataanNya. Cinta kasih kepada Tuhan yang dikenal dari Kitab Ulangan dihubungkan dengan kemampuan untuk melakukan perintah-perintah Tuhan (Ul 6:6-9) dan mentaatinya. Tentu saja kasih kepada Tuhan bukanlah perasaan kasih melainkan menjadi nyata dalam mendengarkan dan melakukan kehendak Tuhan (Luk 6:47; 8:21; 11:28). 

Para nabi di dalam Kitab Perjanjian Lama juga memiliki pandangan yang sama dengan Yesus dalam hal mengasihi Allah. Mengasihi Allah tidaklah diukur dari banyaknya kurban bakaran dan indahnya altar kurban tetapi ketaatan pada kehendakNya sebagai satu-satunya Tuhan dan Allah. Maka bukanlah jumlah materi atau kegiatan kultis yang menjadi prioritas melainkan  perhatian yang mendalam untuk penyataan diri Tuhan. Bagian terbaik bagi seorang pengikuti Kristus adalah mendengar Sabda sebelum Sabda itu dapat di simpan di dalam hati, dipelihara dan dilakukan (Luk 2:19; 8:15; 11:28).


Kisah Injil pada hari ini menarik perhatian kita karena ditulis bersambungan dengan kisah orang Samaria yang baik hati. Kisah orang Samaria yang baik hati menegaskan kepada kita bagaimana menjadi sesama yang baik bukan siapakah sesamaku manusia. Kisah ini juga sudah menekankan kepada kita sebuah pesan kemanusiaan yang jelas yakni kita dapatlah dikatakan orang yang baik kalau kita dapat melakukan sebuah perbuatan baik kepada sesama manusia. Supaya tindakan kita itu tetap baik dan menjadi sebuah tindakan yang bijaksana maka kita butuh waktu untuk hening, saat doa, saat untuk berhubungan dengan dunia bathin kita serta terbuka pada keintiman dengan mendengarkan dunia bathin orang lain.

Persekutuan dengan Allah merupakan sebuah cita-cita orang beriman. Di dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah Abraham, seorang gembala dan pengembara. Pada suatu kesempatan ia menerima kehadiran tiga tamunya di dekat kemahnya. Abraham menujukkan keterbukaan hatinya untuk menyiapkan hidangan bagi para tamunya. Para tamu yang singgah dikemahnya dilayani dengan baik. Sikap “suka menerima tamu” dari Abraham membuahkan sukacita besar. Sara, istrinya yang dikatakan mandul dapat memberi Abraham seorang putra di hari tuannya. Luar biasa Tuhan kita. Ia mengajar kita hari ini untuk bermurah hati, berbelas kasih seperti diriNya sendiri.

Belaskasih Tuhan menjadi sempurna dalam diri Yesus Kristus. Dialah harapan manusia. Paulus dalam bacaan kedua kepada jemaat di Kolose mengungkapkan sukacitanya karena ia boleh menderita bagi Gereja, dalam hal ini jemaat dan menggenapkan di dalam dagingnya semua penderitaan  Kristus bagi jemaat. Belaskasih Tuhan ini mengandaikan pengorbanan diri dalam melayani. Paulus lalu mengajak kita semua untuk memfokuskan perhatian kepada Kristus yang ia layani dan berada di tengah-tengah kita. Dialah harapan akan kemuliaan. Semua orang diarahkan untuk menjadi sempurna di dalam Kristus.

Tuhan luar biasa. Hari ini Ia mengatakan kepada kita untuk memilih, satu hal yang perlu saja yang memang merupakan bagian terbaik yakni mendengar setiap perkataan Tuhan. Seperti Maria dalam Injil, kita juga mengambil sikap sebagai seorang murid untuk duduk di dekat kaki Yesus dan mendengar semua perkataanNya. Dengan mendengar semua perkataanNya kita mampu mengalami Allah di dalam hidup, kita menjadi satu komunitas persekutuan, kita juga menjadi rasul-rasul Sabda. 

Di samping itu kita juga diajak untuk tekun berdoa. Berbincang dengan Tuhan berarti berdoa. Kadang-kadang kehidupan doa dipengaruhi oleh pengalaman keseharian manusia. Misalnya, banyak orang masih merasa bahwa doa adalah saat membuang waktu karena tidak dapat menghasilkan apa-apa. Tetapi ada juga orang yang mengatakan bahwa doa adalah kesempatan memaksa Allah untuk berada di pihak kita. DukunganNya, dengan segala kuasaNya disebut dalam doa untuk memastkan bahwa semua usaha mereka berjalan dengan baik dan berhasil. 

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk mendengar sabdaMu dan menghayatinya dalam hidup setiap hari. Amen

PJSDB 

Saturday, July 20, 2013

Renungan 20 Juli 2013

Hari Sabtu Pekan Biasa XV
Kel 12:37-42
Mzm 136: 1.23-24.10-15
Mat 12:14-21

Mari Ber-eksodus

Peristiwa Passover atau malam Paskah Yahudi menjadi awal perjalanan hidup bani Israel. Tuhan sudah berjanji untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Mereka akan pergi untuk mendiami negeri yang baru, berkelimpahan dengan susu dan madu (Kel 3:8.17). Pada malam Passover ini Tuhan memberikan tulah yang kesepuluh yaitu membunuh semua anak sulung Mesir dan anak sulung hewan-hewan. Orang Israel sendiri diharapkan selalu siap siaga makan daging anak domba yang disembeli, roti tak berragi dan sayuran pahit. Malam itu merupakan kesempatan Tuhan mengungkapkan belaskasihNya kepada umat Israel. Selanjutnya Tuhan mengeluarkan mereka dari perbudakan Mesir. Route perjalanan mereka adalah dari Raamses ke Sukot. Kira-kira enam ratus ribu orang berjalan kaki tidak termasuk anak-anak. Banyak orang dari bangsa-bangsa lain ikut bersama mereka, termasuk ternak berupa kambing, domba, lembu dan sapi.

Pengalaman malam itu merupakan unik di dalam hidup bani Israel. Selama 430 tahun menjadi pekerja kasar, kini mereka harus keluar dengan semua ternak yang bisa dibawa, bekal perjalanan juga pas-pasan saja berupa adonan. Mereka ini disebut pasukan Tuhan yang keluar dari tanah Mesir. Mengapa? Karena Tuhan yang mengeluarkan mereka. Orang-orang Israel diingatkan untuk selalu berjaga-jaga sejak malam Passover. Sikap berjaga-jaga juga menjadi tanda pertobatan bagi Gereja untuk menanti kedatangan Tuhan. Sikap berjaga-jaga bukan hanya dialami oleh orang-orang Israel pada malam itu tetapi juga menjadi sebuah warisan penting di dalam Gereja. Tuhan Yesus pada malam sengsaraNya berkata kepada para murid: “HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Mat 26:38). Setiap murid Kristus harus berjaga-jaga dan berdoa!

Pengalaman Bani Israel ini juga menjadi pengalaman rohani yang sangat berharga. Orang-orang Israel mengalami perbudakan selama tiga setengah abad di Mesir dan Tuhan mengeluarkan dan membimbing mereka ke tanah terjanji melewati padang gurun. Ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk membagun persaudaraan mereka selama perjalanan di padang gurun, saling mengenal dan bersekutu satu sama lain. Pengalaman yang keras di Mesir membuat mereka mendengar panggilan dari Tuhan dan Tuhan juga akan mengikat perjanjian dengan mereka. Selama empat puluh tahun berjalan di padang gurun kesadaran akan cinta kasih Allah bagi mereka memang sangat lambat dipahami. Itu sebabnya mereka juga akan bersungut-sungut melawan Tuhan melalui Musa HambaNya. Gereja juga sedang berziarah menuju kehidupan abadi yang dijanjikan Yesus bagi semua yang percaya kepadaNya. Sejak hari pembaptisan, kita semua juga meninggalkan hidup lama di Mesir kehidupan kita, dan mencoba berjalan dalam padang gurun kehidupan menuju kepada tanah terjanji yang abadi yaitu Rumah Bapa di Surga. Hal yang kiranya penting untuk dirasakan adalah Kehendak dan penyertaan Tuhan bagi setiap manusia.

Pengalaman Eksodus tidak hanya dialami oleh bani Israel. Yesus juga bekali-kali mengalami eksodus karena ulah manusia yang belum memahamiNya. Orang-orang Farisi setelah merasa bahwa Yesus tidak sepaham dengan mereka mengenai Hari Sabat dan Bait Allah maka mereka bersekongkol dengan orang lain untuk membunuh Yesus. Namun persekongkolan mereka gagal karena Tuhan Yesus lebih dahulu menyingkir dari sana. Menyingkirnya Yesus bukan berarti semua rencana dan karyaNya tidak akan dijalani. Ternyata Yesus tetap pada komitmenNya untuk menyelamatkan manusia. Ia menyembuhkan banyak orang yang mengikutiNya. Hal yang menarik perhatian kita dari kisah ini adalah Yesus tidak frontal melawan mereka. Ia memilih untuk menyingkir jauh dari mereka bukan berarti Dia takut dengan mereka tetapi Dia tahu bahwa manusia memang masih dikuasai oleh kejahatan. Dia menyingkir ke tempat lain dan melanjutkan perbuatan-perbuatan baik dengan menyembuhkan sakit penyakit manusia.

Sekarang coba kita memeriksa bathin masing-masing. Temukanlah dalam hidup ini sikap frontal terhadap saudara-saudari yang berlawanan dengan kita. Berapa kali anda dan saya mengontrol diri, keluar dari lingkaran kehidupan ini, dan beralih ke tempat lain untuk berbuat baik? Mungkin yang terjadi adalah hanya sekedar beralih dan menyiapkan strategi untuk membalas dendam. Atau ketika anda mengalami kritikan yang pedas mungkin anda putus harapan lalu memilih untuk menyendiri di kamar atau di tempat tersembunyi sambil berhenti berbuat baik. Ternyata Yesus bukanlah demikian. Ia menyingkir ke tempat lain dan tetap berbuat baik kepada semua orang. Mari kita berubah dalam perilaku membalas dendam. Apa untungnya anda membalas dendam?

Doa: Tuhan Bapa di dalam Surga, kami mohon berkatMu supaya kami tidak mudah tersinggung dan membalas dendam. Bantulah kami untuk keluar dari kebiasan-kebiasaan lama kami yang selalu menaruh benci dan dendam di dalam hati kami masing-masing. Amen


PJSDB

Friday, July 19, 2013

Renungan 19 Juli 2013

Hari Jumat, Pekan Biasa XV
Kel 11:10-12.14
Mzm 116: 12-13.15-16bc.17-18
Mat 12:1-8

Tuhan Selalu Menyertai Kita

Seorang pemuda dengan bangganya membagi pengalaman kebersamaan dengan orang tuanya. Ia mengatakan bahwa Tuhan memang luar biasa karena memberi orang tua terbaik untuknya. Setiap hari ia selalu merasakan kehadiran orang tuanya. Dirinya merasa disapa dengan sapaan sederhana tetapi penuh kasih. Setiap kali menelpon mamanya misalnya, pertanyaan pertama dari mamanya adalah: “Apakah kamu sehat? Sudah makan atau belum? Jaga kesehatan ya?” Dari pihak ayahnya, ia pasti selalu ditanya kapan ia bisa kembali ke rumahnya untuk bermain guitar bersama? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat sederhana namun tetap dikenang di dalam hati setiap anak. Banyak orang muda tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Tetapi pemuda dalam kisah ini merasa disapa oleh orang tua. Ia merasa ada penyertaan dan kasih sayang yang tiada putus-putusnya diterima dari orang tua. Pengalaman manusiawi tentang penyertaan orang tua memang wajar. Anak-anak harus merasa di kasihi oleh orang tua. Tidaklah cukup memberikan barang ini dan itu, kehadiran orang tua dengan perkataan yang sederhana jauh lebih berkenan bagi mereka.

Ada seorang pemuda lain yang mengaku bersyukur atas penyertaan orang tuanya. Ia pernah mengalami kelumpuhan selama beberapa tahun. Orang yang selalu hadir dan memberi semangat dalam hidupnya adalah ibu dan bapanya. Mereka tidak pernah lalai berbicara dengannya setiap hari. Mereka mengunjungi dia di kamar dan ngobrol bersama, menelponnya ketika mereka berjauhan. Penyakit kelumpuhannya menjadi sembuh total karena doa tanpa henti dari orang tuanya. Ia selalu mengingat kata-kata peneguhan dari orang tuanya: “Kamu pasti sembuh. Jangan takut!” Kata-kata ini selalu didengarnya dan semakin sering mendengar, ia semakin merasakan kuasa Tuhan yang menyembuhkannya.

Pada hari ini kita mendengar kisah lanjutan bani Israel di dalam Kitab Keluaran. Tuhan melakukan banyak mukjizat melalui Musa dan Harun di depan Firaun tetapi Tuhan juga mengeraskan hati Firaun sehingga ia tidak mengijinkan bani Israel untuk pergi ke padang gurun demi menyembah Yahwe. Tindakan Tuhan ini seharusnya menarik perhatian kita. Di satu pihak ia menghendaki kemerdekaan bani Israel dari kejahatan Firaun, di lain pihak ia mengeraskan hati Firaun dan menguji kesabaran anak-anak Israel. Perayaan paskah dilakukan oleh bani Israel sebagai momen penting dalam mewujudkan relasi yang harmonis antara mereka dengan Yahwe. Apa yang harus mereka lakukan? Tuhan mengajar mereka untuk menyembeli anak domba atau kambing jantan, tanpa cacat. Mereka harus memanggang dagingnya, memakannya bersama roti tak beragi sampai habis pada hari itu juga. Darah anak domba akan dioles di depan pintu rumah sebagai tanda. Pada saat itu Tuhan akan lewat dan membasmi semua anak sulung Mesir termasuk hewan-hewannya. Tuhan melakukan semua rencanaNya dan membiarkan bani Israel selamat.

Sikap siap siaga ditetapkan oleh Tuhan bagi umat Isarel ketika mereka menyantap daging anak domba dan roti tak beragi. Sikap ini tetap menjadi sebuah warisan di dalam gereja ketika diingatkan untuk selalu berjaga-jaga dan berdoa. Sikap berjaga-jaga membuat setiap pribadi lebih siap atau lebih fokus lagi di dalam hidupnya. Sikap Tuhan ini juga membuka mata Firaun di Mesir untuk dapat melepaskan bani Israel dari tangannya. Memang dari kacamata manusiwainya, kita merasa bahwa Tuhan terlalu kejam terhadap Firaun dan Mesir. Tetapi itulah rencana dan kuasa Tuhan. Ia memiliki kuasa atas segala makhluk di atas bumi ini. 


Yesus di dalam Injil juga menunjukkan kuasa yang diterima dari Bapa. Dalam suatu perjalanan bersama para muridNya di sebuah ladang pada hari Sabat, para muridNya merasa lapar maka mereka memetik bulir gandum dan memakannya. Ini menjadi kesempatan bagi kaum Farisi untuk mencari kesalahan Yesus dan para muridNya. Mereka mengatakan kepada Yesus bahwa para muridNya melakukan apa yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat. Yesus mengambil contoh-contoh tindakan yang melanggar hari Sabat dalam Kitab Perjanjian Lama. Daud pernah makan roti sajian yang seharusnya hanya dimakan oleh para imam (1Sam 21:1-10), para imam juga melanggar hukum Taurat di dalam Bait Allah (Bil 28:9-10). Selanjutnya Yesus mengatakan bahwa Tuhan menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan (Hos 6:6). Semua yang diungkapkan Yesus ini seharusnya sudah diketahui kaum Farisi tetapi mereka tetap tertutup hatinya kepada Yesus yang adalah Tuhan atas hari Sabat.

Sikap legalistis masih ada di mana-mana. Banyak orang selalu bersifat Farisi yang legalistis dan melupakan hal terpenting yakni belas kasih dan keadilan. Bekerja pada hari Sabat bagi Yesus itu bukanlah hal yang absolut. Hal yang harus dipertimbangkan adalah apakah hal itu membahagiakan manusia. Di dalam Injil Markus, Yesus mengatakan: “Hari Sabat dibuat untuk manusia bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27). Situasi kita saat ini juga nyata terutama bagi para dokter, perawat atau pekerja lain yang harus bekerja pada hari Minggu untuk melayani banyak orang. Bagi saudara-saudari ini, mereka perlu membagi waktunya untuk Tuhan, misalnya mengikuti perayaan misa pada hari Sabtu sehingga pada hari Minggu mereka dapat bekerja seperti biasa.

Sabda Tuhan pada hari ini sangat menyejukkan hati kita. Mari bersyukur kepada Tuhan karena Ia selalu menyertai kita umatNya. Ia juga melindungi umat kesayanganNya. Hal ini sudah dialami bani Israel di Mesir, di mana menunjukkan betapa Tuhan mengasihi dan melindungi umatNya dari Firaun. Yesus di dalam Injil menunjukkan bahwa diriNya datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya (Mat 5:17). Ia adalah Tuhan atas hari Sabat. Oleh karena itu hukum yang benar itu senantiasa mencari kebaikan manusia bukan untuk membebaninya. Mari kita meninggalkan hidup Farisi yang legalistis dan berusaha untuk semakin serupa dengan Tuhan Yesus Kristus. 

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau senantiasa melindungi dan memberkati kami semua.

PJSDB