Saturday, September 21, 2013

Renungan 21 September 2013

St. Matius, Rasul
Hari Sabtu, Pekan Biasa XXIV
Ef 4:1-7.11-13
Mzm 19:2-3.4-5
Mat 9:9-13

Hiduplah sepadan dengan panggilanmu!

Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta St. Matius, Rasul. Matius lahir pada abad pertama. Ia dikenal sebagai salah seorang pemungut cukai (Mat 10:3) dan merupakan salah satu dari keduabelas orang yang dipanggil Yesus untuk menjadi rasul. Ia juga dikenal dengan nama Lewi, anak Alfeus (Mrk 2:14; Luk 5:27). Matius menunjukkan semangat mengikuti Yesus dengan kerelaan menyambut Yesus di rumahnya sendiri. Pada saat itu banyak orang berdosa juga datang dan ikut makan bersama mereka (Mrk 2:13-17). Hadiah besar yang dianugerahkan Yesus kepadanya adalah menulis Injil yang saat ini kita kenal sebagai Injil Matius.

Bacaan-bacaan Liturgi pada hari ini membantu kita untuk memfokusan perhatian kita kepada semangat untuk menjadi murid Kristus. St. Paulus di dalam bacaan pertama membagi pengalamannya sebagai rasul yang merelakan dirinya dipenjara demi Kristus. Dengan berdasar pada pengalaman menderita demi Kristus maka ia menasihati jemaat di Efesus sebagai orang-orang terpanggil untuk hidup sepadan atau cocok dengan panggilannya. Bagaimana mewujudkan hidup sepadan atau cocok dengan panggilan? Bahwa semua kebajikan-kebajikan Kristus haruslah dimiliki oleh setiap orang yang percaya kepadaNya.  Untuk itu Paulus menasihati mereka: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu”. Kebajikan-kebajikan yang dinasihatkan Paulus ini adalah kebajikan Kristus sendiri. Bagaimana orang dapat menjadi rendah hati satu sama lain? Banyak orang lebih menyukai kesombongan manusiawi dari pada kerendahan hati. Kelemah lembutan membuat orang mampu mengasihi dan menerima semua orang apa adanya. Kesabaran membuat orang sungguh-sungguh bertumbuh secara rohani. Semua ini dilakukan dengan penuh kasih kepada sesama. Kasih adalah segalanya di dalam Tuhan.

Paulus juga menasihati agar setiap orang yang hidup sesuai kebajikan-kebajikan Tuhan dapat berusaha untuk memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera: satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, yang di atas semua, menyertai semua dan menjiwai semua.  Kebajikan-kebajikan Kristus kalau di hayati dengan baik maka orang akan mewujudkan persekutuan dan persaudaraan sejati di dalam Kristus. Setiap orang yang dibaptis akan mewujudkan sakramen pembaptisannya di tengah dunia. Ia akan menjadi saksi Kristus yang mempersatukan semua orang dan bersama-sama berjalan menuju kepada Allah. Menurut Pulus, Tuhan Yesus juga memberi kasih karunia kepada setiap orang sesuai ukuranNya sendiri kepada setiap pribadi. Demikian juga akan terjadi pemberianNya kepada para rasul, nabi, pemberita Injil, gembala umat pengajar. Semua bentuk pengajaran yang diberikan dan yang diterima akan berguna bagi setiap pribadi menuju kepada kekudusan atau kepenuhan di dalam Kristus. 

Paulus dalam perikop kita ini mau menegaskan bahwa semua orang yang dibaptis memiliki panggilan luhur untuk menjadi kudus. Bagaimana mewujudkan kekudusannya? Dengan menghayati kebajikan-kebajikan Kristus sendiri di dalam tindakan, perbuatan dan juga segala perkataan. Banyak orang mengakui dirinya sebagai pengikut Kristus tetapi hidupnya jauh dari Tuhan. Mereka belum menunjukkan kebajikan iman, harapan dan kasih yang sempurna di dalam hidup. Sebagai contoh, banyak kali pelayanan-pelayanan yang diberikan belumlah maksimal. Orang masih mewujudkan panggilan dengan melayani penuh perhitungan untung dan ruginya, padahal katanya mau melayani Tuhan. Demi pelayanan, orang bisa saja membuat sesamanya bahagia, bisa juga membuat mereka menderita, tertekan dan tidak berkembang secara rohani dan jasmani.

Di dalam bacaan Injil kita mendengar contoh konkret pribadi yang dipanggil Tuhan untuk mewujudkan iman, harapan dan kasihNya kepada Tuhan. Tuhan Yesus memanggil Matius ketika ia masih duduk di rumah cukai. Ia sedang menikmati pekerjaannya meskipun pekerjaan semacam itu gelap di mata orang-orang Yahudi. Para pemungut cukai disamakan dengan kaum pendosa karena mereka adalah orang Yahudi yang bekerja untuk bangsa Romawi yang saat itu masih menjajah Israel. Mereka boleh digolongkan pengkhianat bagi bangsa dan negara. Para pemungut cukai juga dinilai negatif karena kadang-kadang mereka menagih pajak melebihi jumlah yang harus ditagih. Kelebihannya itu kadang-kadang dipakai untuk dirinya sendiri.

Kaum Farisi dan para ahli Taurat boleh menolak para pemungut cukai, tetapi Yesus leluasa bergaul dengan mereka. Ia menerima mereka apa adanya, mengampuni dosa-dosa mereka, duduk dan makan bersama penuh persaudaraan dengan mereka. Yesus memiliki prinsip yang bagus yakni mencari orang berdosa untuk diselamatkan. Memang, “Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, melainkan orang sakit.” Sebagai Tuhan, Ia menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan! Ia tidak memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. Apakah anda dan saya merasakan belas kasihan Tuhan dalam sakramen Tobat? Apakah anda menikmati perubahan menjadi lebih baik lagi dalam hidupmu di hadirat Tuhan? Hiduplah sepadan dengan panggilanmu!

Doa: Tuhan Yesus Kristus, SabdaMu memiliki daya pengampunan. Ampunilah dosa dan salah yang sudah kami perbuat kami di hadiratMu ya Tuhan. Amen

PJSDB

Friday, September 20, 2013

Renungan 20 September 2013

St. Andreas Kim Taegon dkk, Martir
Hari Jumat, Pekan Biasa XXIV
1Tim 6:2-12
Mzm 49:6-10.17-20
Luk 8:1-3

Ajarkanlah dan Nasihatkanlah!

Saya pernah mendampingi rekoleksi para orang tua. Pada kesempatan sharing bersama, ada seorang bapa membuat sharing yang sangat menyegarkan bagi para peserta rekoleksi. Ia memulai sharing-nya dengan mengatakan bahwa para orang tua itu adalah makhluk yang istimewa di hadapan Tuhan karena mereka ditentukan untuk beranak cucu dan memenuhi seluruh bumi. Salah satu tugas yang dipercayakan Allah kepada para orang tua adalah menjadi pendidik bagi anak-anak. Tugas ini memang tidak pernah dipelajari secara khusus di sekolah. Tuhanlah yang mengajarkannya di dalam hati para orang tua. Maka dari itu janganlah kita lalai dalam mengajar dan memberi nasihat kepada anak-anak. Setelah mengatakan hal-hal pokok ini lalu ia mengambil contoh pengalamannya sendiri, suka dan duka mendampingi anaknya. Setiap orang tua memang memiliki pengalaman tertentu dalam mendidik anak-anaknya. Mendidik anak itu menyukakan hati karena merupakan jawaban atas panggilan Tuhan sebagai orang tua. Tentu saja pengorbanan diri juga merupakan salah satu hal penting dalam mendidik dan membesarkan anak-anak. Pengorbanan diri itu juga mencakup waktu dan tenaga yang semuanya dikhususkan bagi anak-anak.

Dalam konteks hidup menggereja, para gembala juga merasakan panggilan istimewa dari Tuhan untuk melayaniNya. Tugas para gembala itu kiranya diilhami oleh tugas Kristus sendiri sebagai imam, nabi dan raja (gembala). Tugas sebagai imam berarti menjadi pemimpin ibadat. Tugas sebagai nabi dengan mewartakan Sabda Tuhan (homili). Tugas sebagai raja berarti menjadi pemimpin umat yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Ketiga tugas mulia ini sangatlah membutuhkan pengorbanan diri. Imam sebagai gembala umat tidak dapat melakukan tugas ini sendirian. Tuhan Yesus menyertainya, didukung oleh para umat sebagai domba-domba yang baik. Maka bentuk panggilan tertentu itu entah sebagai orang tua atau sebagai imam memiliki kekhasan tertentu yang dapat menjadikan orang yang menghayatinya menjadi kudus.

Pada hari ini kita mendengar wejangan St. Paulus yang indah bagi Timotius, anaknya. Paulus memulai wejangannya dengan berkata: “Ajarkanlah dan nasihatkanlah”. Timotius adalah seorang gembala yang bertugas mengajar dan menasihati umat untuk hidup layak di hadirat Tuhan. Mengapa Paulus menasihati Timotius untuk tekun mengajar dan memberi nasihat kepada jemaat? Karena jemaat atau umat Allah yang mendengar Injil saat itu juga banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran baru yang dapat mengaburkan iman mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Untuk itu Paulus mengharapkan Timotius untuk tekun dalam memberi pengajaran dan nasihat supaya dapat mengantar umat kepada kekudusan. 

Menurut Paulus, di kalangan jemaat saat itu ada yang berlagak sok tahu banyak tentang iman. Maka kepada Timotius ia berkata: “Jika ada orang yang mengajarkan ajaran yang berlawanan dengan ajaran Kristus, ajaran iman kita maka dia itu orang yang berlagak sok tahu padahal tidak tahu apa-apa”. Saya kira tipe orang seperti ini masih ada di dalam gereja kita saat ini. Banyak orang yang berlaku seperti orang yang tahu segalanya padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa. Bagi Paulus, penyakit mereka yang sok tahu adalah mencari-cari soal dan bersilat kata, menyebabkan dengki, iri hati, fitnah, dan curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berfikiran sehat, yang kehilangan kebenaran, yang mengira agama itu suatu sumber keuntungan. 

Di samping sikap sok tahu yang dapat mencelakakan kebersamaan sebagai satu jemaat, Paulus juga menasihati Timotius supaya memberikan nasihat kepada jemaat untuk bijaksana di dalam menggunakan harta kekayaan. Secara sederhana Paulus mengatakan bahwa kita datang ke dunia tidak membawa apa-apa dan kita pun tidak akan membawa apa-apa ke luar. Sudah cukuplah memiliki makanan dan pakaian yang ada. Hanya saja masih ada juga jemaat yang gila harta sehingga dijerat oleh nafsu yang dapat membinasakan. Hal ini tentu berhubungan dengan uang maka  Paulus berkata: “Akar segala kejahatan adalah cinta uang. Karena memburu uanglah, maka beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai penderitaan.”  (1Tim 6:10). 

Bagaimana mencapai kesempurnaan hidup? Paulus mengatakan tentang manusia Allah yang berarti mereka yang setia kepada Allah. Manusia Allah adalah mereka yang mampu menjauhi semua dosa dan salah, mengejar keadilan, takwa, kesetiaan, cinta kasih, kesabaran, dan kelembutan hati. Kebajikan-kebajikan ini patut dimiliki oleh setiap anak Allah. Orang yang hidup di hadirat Tuhan Allah dengan memiliki semua kebajikan yang ada, akan berjalan dalam jalan kekudusan. Ia dapat bersatu dengan Allah selama-lamanya. Sungguh, “Berbahagialah yang hidup miskin terdorong oleh Roh Kudus, sebab bagi merekalah Kerajaan Allah”. (Mat 5:3).  

Yesus di dalam bacaan Injil berkeliling dan berbuat baik. Para muridNya menyertai Dia. Demikian juga ada beberapa orang wanita yang setia mengikuti dan melayaniNya dengan kekayaan mereka. Para wanita yang melayani Tuhan Yesus, semuanya sudah mengalami kasihNya: Maria Magdalena, dibebaskan dari tujuh setan, Yohana  dan Susana. Tentu saja wanita nomor satunya adalah Bunda Maria. Para wanita ini menjadi model bagi para pelayan Tuhan. Mereka sudah mengalami kasihNya maka mereka pun melayani tanpa membuat perhitungan tertentu. Kadang kita sekarang masih melayani Tuhan dengan perhitungan tertentu. Pada hari ini kita juga belajar dari para martir dari Korea yang memberi diri sampai tuntas untuk Tuhan Uesus.  St. Andreas Kim Taegon dengan bangga menulis: “Kita telah menerima sakramen baptis, masuk dalam pelukan gereja, serta menerima kehormatan di sebut sebagai umat Kristiani” Para martir Korea mengasihi Tuhan Yesus sampai tuntas. 

Sabda Tuhan pada hari ini mengoreksi kita untuk melepaskan
diri dari sikap sok tahu. Orang yang sok tahu tentang iman hanya menimbulkan perpecahan di dalam komunitas Gereja. Mata kita sebaiknya diarahkan kepada Kristus yang mengasihi sampai tuntas. Dari Dialah kita belajar keadilan, takwa, kesetiaan, cinta kasih, kesabaran, dan kelembutan hati. Apakah kita dapat menyerupai Kristus? Ya, bersama Dia kita pasti bisa. Mari kita saling mengajar dan menasihati satu sama lain sebagai saudara di dalam Kristus. Jalan kekudusan adalah jalan kita bersama.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu karena cintaMu kepada kami kekal selamanya. Semoga kami juga menyerupai Engkau. Amen

PJSDB

Thursday, September 19, 2013

Renungan 19 September 2013

Hari Kamis, Pekan XXIV
1Tim 4:12-16
Mzm 111:7-8.9.10
Luk 7:36-50

Mencapai kematangan hidup rohani

Santo Dominikus Savio. Ia lahir pada tanggal 2 April 1842 dan meninggal dunia pada tanggal 9 Maret 1857.Orang kudus ini adalah hasil didikan St. Yohanes Bosco di oratorium. Dominikus laksana kain yang disiapkan untuk menjadi gaun yang indah bagi Tuhan di mana Don Bosco adalah penjahitnya. Dikisahkan bahwa ketika berjumpa dengan Don Bosco, ia bertanya kepadanya: “Bagaimana pendapatmu tentang aku, Don Bosco?” Don Bosco memandangnya dengan penuh kasih lalu menjawab: “Dominikus, anda itu laksana selembar kain yang indah”. Dominikus berkata, “Terima kasih Romo. Saya adalah lembaran kain yang indah dan akan berguna kalau berada di tangan seorang penjahit yang tepat. Kiranya engkau adalah penjahitnya yang tepat”. Dialog sederhana ini tetap diingat Don Bosco dan diceritakan terus menerus hingga saat ini di oratorium Salesian. 

Dari banyak hal yang menarik dalam kehidupan Dominikus Savio, sesuai dengan perkembangan Katekismus Gereja Katolik pada masa itu, ia juga membuat janji-janji yang bagus pada saat menerima komuni pertama. Inilah janji-janjinya kepada Tuhan: Pertama, Saya akan menerima Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi sesering mungkin. Kedua, Saya akan berusaha memberikan hari Minggu serta hari-hari libur sepenuhnya untuk Tuhan. Ketiga, Sahabat terbaikku adalah Yesus dan Maria. Keempat, lebih baik mati dari pada berbuat dosa. Dominikus memang meninggal dunia pada usia yang masih muda (14 thn) tetapi menunjukkan kematangan rohani yang bagus. Ia dibentuk di rumahnya dan di oratorium Don Bosco. Maka usianya masih muda tetapi hidup rohaninya matang karena rahmat Tuhan. Bagaimana dengan orang-orang muda kita? Apakah ada yang mau mengikuti jejak St. Dominikus Savio?

Kisah Dominikus ini sangat inspiratif untuk membantu kita memahami tulisan Paulus jepada Timotius yang kita baca pada hari ini. Timotius adalah anak kepercayaan St. Paulus. Timotius merasa dirinya masih muda untuk memegang tugas kerasulan tertentu. Namun Paulus mengatakan kepadanya supaya percaya diri bahwa dia bisa menjadi pewarta Sabda Allah. Paulus berharap bahwa Timotius memiliki kematangan rohani yang bagus sehingga dapat menjadi teladan bagi umat beriman. Keteladanan dalam hal apa? Paulus menulis: "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,  dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dalam kesucianmu" (1Tim 4:12). Apa yang harus dilakukan Timotius? Paulus meminta supaya Timotius bertekun dalam membaca Kitab Suci, membangun dan mengajar sambil menanti kehadiran Paulus. Timotius diharapkan tidak lalai atau menyia-nyiakan urapan suci yang diterimanya. Timotius juga harus mawas diri terhadap setiap ajarannya, serta selalu tekun di dalam hidupnya. Segala sesuatu yang dilakukannya akan membawanya kepada keselamatan abadi.

Kadang-kadang kita juga seperti Timotius yang kurang percaya diri karena merasa diri masih muda dan tidak punya pengalaman. Mengapa demikian? Karena kita masih mengandalkan diri sendiri dan lupa bahwa Tuhan beserta kita. Dengan kata lain, kita tidak dapat berjalan sendiri,kita butuh Tuhan dan sesama untuk menemani perjalanan menuju kematangan hidup rohani. Banyak orang tidak bersedia untuk melayani sebagai pengurus Gereja karena katanya belum berpengalaman. Ada juga orang yang tidak bersedia memimpin doa sebelum makan karena katanya tidak biasa berdoa sebelum makan. Ada yang tidak berani membaca di Gereja sebagai lektor karena katanya belum terbiasa membaca dan grogi kalau tampil di depan umum. Nah, hal yang kiranya penting bagi kita adalah ada kemauan, keberanian dan kesadaran bahwa kita memiliki potensi atau kemampuan untuk melakukan suatu tugas pelayanan tertentu. Kita mampu melayani Tuhan dan sesama.


Tujuan kita untuk melayani Tuhan di dalam Gereja adalah menjadi orang kudus. Yesus bersabda: "Hendaklah kamu sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya" (Mt 5:48). Ini adalah cita-cita Yesus supaya setiap orang yang mengikutiNya dari dekat dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Bagaimana mencapai kesempurnaan ini? Di dalam bacaan Injil pada hari Tuhan Yesus diundang untuk makan di Rumah Simon, seorang Farisi. Ketika itu ada seorang wanita pendosa yang datang dan menangis di dekat Yesus. Ia membasuh kaki Yesus dengan air mata, mengeringkannya dengan rambutnya, mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Semua orang yang melihat adegan ini memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang Yesus. Untuk memberi pemahaman yang mendalam tentang pengampunan yang berlimpah dari Tuhan maka Ia memberi perumpamaan tentang dua orang yang memiliki utang piutang. 

Yesus menceritakan sebuah perumpamaan. Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang 500 dinar dan yang lain 50 dinar. Oleh karena mereka tidak mampu membayar hutangnya maka sang pelepas uang menghapus utang kedua orang tersebut. Pertanyaannya adalah siapakah yang lebih mengasihi tuan pelepas uang? Jawabannya adalah orang yang lebih banyak utangnya. Di dalam kisah ini, wanita tanpa nama ini merasa diri sebagai orang berdosa maka ia menangisi dosa dan salahnya di hadapan Yesus. Karena imannya kepada Yesus maka dosanya pun diampuni. Yesus melayani orang berdosa dan menghendaki pertobatan mereka.

Banyak kali kita merasa diri sudah menjadi orang kudus dan menganggap orang lain sebagai orang berdosa. Kita memiliki persepsi tentang orang lain dan lebih banyak negatifnya dari pada positif. Simon dan orang-orang farisi lainnya menilai negatif Yesus di dalam hati mereka karena membiarkan kakinya disentuh wanita yang berdosa. Padahal Yesus sendiri tidak memiliki prasangka buruk terhadap wanita itu. Kita menilai orang lain berdasarkan kelemahan-kelemahan yang ada di dalam diri kita sendiri. Hari ini Yesus mengajar kita untuk memandang sesama yang dianggap hina dengan mata Tuhan sendiri. Mata Tuhan yang tertuju kepada semua orang yang Ia ciptakan. Kita juga mengingat perkataan Paulus kepada Timotius: "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,  dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dalam kesucianmu" (1Tim 4:12).

Doa: Tuhan Yesus, kami berterima kasih kepadaMu karena Engkau suka mengampuni kesalahan kami.Semoga kami jyga melakukannya terhadap sesama kami. Amen

PJSDB

Wednesday, September 18, 2013

Renungan 18 September 2013

Hari Rabu, Pekan Biasa XXIV
1Tim 3: 14-16
Mzm 111:1-2.3-4.5-6
Luk 7:31-35

Hidup untuk orang lain

Ada seorang imam Misionaris. Ia sudah melayani umat di sebuah pedalaman selama lebih kurang 40 tahun. Semakin usianya bertambah, ia juga merasa semakin menyatu dengan umat setempat. Banyak hal yang ia alami sebagai tanda menyatunya diri dengan tanah misi, misalnya dalam hal makan, minum, bahasa, pakaian bahkan kulitnya pun perlahan beradaptasi dari putih menjadi hitam. Ketika merayakan hari ulang tahun kehadirannya di tanah misi, ia memberi sambutan seperti ini: “Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya mempersembahkan diri saya untuk Tuhan di tanah ini. Karena Tuhan maka saya dapat merayakan 40 tahun hidup untuk semua umat di tanah ini. Mereka memiliki banyak kelebihan dan lebih banyak kekurangan juga. Saya pernah merasa ada penolakan terhadap pelayanan pastoral tetapi saya tetap mau tinggal di sini selamanya karena saya mengasihi mereka”. Ketika mendengar sambutannya ini saya terharu. Ia mengatakan: “Saya hidup untuk orang-orang di tanah ini”. Hidup untuk orang lain itu tidaklah mudah. Kita harus memberi segala-galanya untuk orang yang kita layani! Kita harus menerima mereka apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Mereka memiliki banyak kekurangan tetapi kekurangan dibalas dengan kasih.

Sharing pengalaman misionaris di atas membuka wawasan kita untuk memahami perikop Injil pada hari ini. Ada dua figur yang diutus Allah untuk hidup bagi orang lain tetapi mereka mengalami penolakan. Pertama, Yohanes Pembaptis datang dan mempraktekkan hidup askesis dengan tidak makan roti dan minum anggur. Terhadap sikap Yohanes ini, banyak orang menganggap Yohanes sebagai orang yang kerasukan setan sehingga tidak diterima. Kedua, Yesus Kristus juga diutus oleh Bapa untuk menebus dosa manusia. Ia mewujudkannya dengan makan dan minum bersama semua orang baik dan jahat. Yesus dianggap sebagai seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Yesus dalam perikop Injil ini kelihatan kecewa dengan orang-orang Yahudi pada masa itu yang melihat semua karyaNya, mendengar perkataanNya tetapi mata hati mereka buta dan keras sehingga tidak menerima kehadiranNya. Karena sikap mereka demikian maka Yesus mengatakan bahwa mereka itu seumpama: anak-anak yang duduk di pasar dan saling menyeruhkan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Anak-anak yang duduk di pasar adalah simbol orang-orang Yahudi yang tidak mengerti dan memahami kehadiran Yohanes dan Yesus. Belum ada kematangan rohani yang memadai di dalam diri mereka. Padahal Yohanes Pembaptis dan Yesus berada di tengah-tengah mereka sebagai tanda keselamatan bagi umat Israel. 

Yohanes dengan hidup askesisnya dihubungkan dengan kidung duka, hidup Yesus dengan saat kebersamaan untuk makan dan minum menandakan sukacita mesianis laksana tarian selama pernikahan. Orang-orang Yahudi sendiri sama dengan anak-anak yang duduk di pasar yang saling menyeruhkan bahwa Yohanes seperti orang gila sedangkan Yesus itu pelahap. Yesus mengakhiri perkataanNya dengan berkata: “Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya. Hikmat menunjukkan tanda penebusan berlimpah dari Tuhan dan dikenal oleh semua anakNya khususnya mereka yang menerima warta pertobatan Yohanes dan khabar sukacita dari Yesus. Mereka yang terbuka hatinya kepada Tuhan dan ingin memperoleh hidup kekal.

Bacaan Injil pada hari ini menyadarkan kita bahwa hidup dan
bekerja untuk orang lain itu memang tidak mudah. Selalu ada suka dan dukanya. Ada saat di mana pelayanan kita itu diapresiasi, tetapi ada saat di mana kita sendiri mengalami penolakan-penolakan tertentu. Semua akan menjadi indah pada waktunya ketika kita bersandar dan berpasrah kepada Tuhan. Yohanes Pembaptis setia selamanya sampai menjadi martir. Yesus juga menunjukkan hal yang sama sebagai martir di atas kayu Salib. Mari kita berani memberi diri kita seutuhnya kepada Tuhan. Janganlah kita diumpamakan seperti ini atau itu karena kita adalah bagian dari Yesus sendiri. Kita juga perlu membangun sikap tobat yang benar. Hak yang mau kita tujui adalah persatuan yang utuh dengan Yesus. Mari kita renungkan kata-kata ini: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok, jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia dan ia bersama-sama dengan Aku"  (Why 3:20). Bukalah pintu hatimu, Yesus berada di depan pintumu. Bukalah dan biarkan Ia masuk dan tinggal bersamamu.

St. Paulus, di dalam bacaan pertama memberikan sebuah himne kecil tentang Paskah Kristus. Himne ini kiranya dapat dipertimbangkan sebagai sebuah doa Credo atau aku percaya. Kata kunci yang berhubungan dengan Paskah adalah pengangkatan (esaltazione). Paulus menulis bahwa jika ia terlambat maka Timotius dapat  mengatur jemaat untuk hidup layak di hadirat Tuhan sebagai satu keluarga. Pada akhirnya Paulus mengatakan keagungan dan rahasia ibadat kita: "Dia yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia, dibenarkan di dalam Roh; yang menampakkan diriNya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang dipercayai di dalam dunia, diangkat di dalam kemuliaan." Misteri keselamatan merupakan rencana keselamatan dari Tuhan selama berabad-abad dan menjadi nyata dalam peristiwa Inkarnasi. Artinya Sabda Tuhan menjadi manusia di dalam Yesus Kristus. Hal ini dibenarkan oleh Roh Kudus sendiri. Ia menderita, sengsara, wafat dan bangkit dari alam maut. Hal ini menandakan bahwa Ia sungguh-sungguh Allah yang benar. Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa dan mengutus Roh Kudus untuk membaharui muka bumi.  

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami berterima kasih kepadaMu karena menyadarkan kami akan makna mempersembahkan diri kepada sesama. Bantulah kami untuk setia di dalam panggilan kami masing-masing. Jauhkanlah kami dari rasa putus asa dan tidak setia dalam melayani. Amen

PJSDB

Tuesday, September 17, 2013

Renungan 17 September 2013

Hari Selasa, Pekan Biasa XXIV
1Tim 3:1-13
Mzm 101:1-2ab.2cd-3ab.5.6
Luk 7:11-17

Menjadi Pelayan Gereja

Pada suatu kesempatan saya ditanya oleh seorang anak muda tentang panggilan dan pelayanan di dalam Gereja. Ia khusus bertanya tentang syarat-syarat untuk menjadi seorang imam. Saya mengatakan kepadanya bahwa syarat utama adalah ia harus beriman kepada Kristus. Artinya sudah dibaptis di dalam Gereja Katolik, percaya dan mencintai Yesus Kristus. Setelah banyak berbicara dengannya, saya ingat sebelum masuk biara, ada seorang imam yang baik juga pernah mengatakan hal lain yang kiranya masih cocok hingga saat ini. Untuk menjadi seorang imam perlu memenuhi syarat 3S. Apa yang dimaksud dengan 3S: Santitas (kesucian/religiositas), Sapientia (kebijaksanaan) dan Sanitas (kesehatan/kebersihan). Ketiga S ini laksana mata rantai yang terikat satu sama lain dan nantinya dapat dijabarkan di dalam aspek-aspek pembinaan para calon imam dan biarawan termasuk nilai-nilai rohani nasihat injil. Semua ini tentu memiliki satu tujuan yakni pembinaan yang integral terhadap calon pemimpin jemaat atau Gereja.

Mari kita menengok apa yang St.Paulus pikirkan tentang pemimpin serta pelayan jemaat. Ia mengelompokkan jemaat atas tiga kelompok  sesuai tugas pelayanannya. Ia juga memberi syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin atau penilik jemaat atau Gereja. Pertama, persyaratan bagi seorang penilik jemaat (episkopos). Ada sepuluh butir sifat positif yang harus dimilikinya: menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, peramah, pendamai, kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati anak-anak, mempunyai nama baik di luar jemaat. Ada juga enam butir sifat negatif yang harus dihindari: tidak bercacat,  bukan pemarah, bukan hamba uang, Janganlah ia seorang yang baru bertobat, janganlah orang yang sombong, jangan digugat orang. Maka syarat bagi seorang episkopos mencakup sepuluh butir positif dan enam butir negatif.

Kedua, di samping episkopos, Paulus juga memberikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang diaknos atau sang pelayan: Ia haruslah seorang yang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, mampu memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. Para diakon harus melewati ujian tertentu untuk menunjukkan bahwa mereka memang tidak bercacat dalam pelayanannya. Dalam keluarganya ia memiliki satu istri dan mengurus keluarganya dengan baik.

Ketiga, kaum wanita, dalam hal ini para isteri. Para isteri menurut Paulus, hendaklah merupakan orang terhormat, bukan pemfitnah, dapat menahan diri, dapat dipercaya dalam segala hal. Ketiga kelompok ini memiliki peran yang vital dalam kehidupan Gereja saat itu. Mereka diharapkan menunjukkan kebajikan-kebajikan di dalam hidup dan pelayanan mereka sesuai panggilan yang ditentukan Tuhan.

Mengapa Paulus perlu memberitahukan Timotius semua persyaratan ini? Karena Paulus mau supaya dalam menata jemaat, dibutuhkan orang-orang  yang sungguh-sungguh  memiliki bakat dan kemampuan yang baik untuk memajukan kehidupan bersama dalam jemaat. Para episkopos, diakonos dan kaum wanita haruslah memiliki iman kepada Kristus, hidup dalam keluarga yang baik dan kerelaan untuk melayani sesama. Hal-hal ini menjadi tuntutan tertentu bagi para pelayan Gereja. Pada zaman ini, semua persyaratan ini masih berlaku bagi para pengurus gereja baik sifatnya territorial maupun kategorial. Para pengurus Gereja adalah panutan banyak orang maka mereka hendaknya menjadi rasul atau utusan Tuhan bagi banyak orang.

Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil hari ini mewujudkan pelayanan yang membuktikan bahwa Dia adalah Allah orang-orang hidup. Dalam perjalanan ke kota Nain bersama para muridNya, mereka menemukan seorang pemuda yang baru saja meninggal dunia. Dia adalah anak tunggal dari seorang janda. Yesus tergerak hati oleh belaskasihan maka ia mendekat usungan jenasah, ia menyentuh jenasah itu dan berkata, “Hai pemuda, Aku berkata kepadamu, bagkitlah!” Anak muda itu pun bangkit dan Yesus memberikannya kepada ibunya. Semua orang takjub sekaligus memuji Allah. Mereka berkata bahwa seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah mereka. Tuhan juga mengunjungi umatNya.

Kisah pelayanan Yesus ini menarik perhatian kita. Pertama, Yesus menunjukkan belaskasih yang besar kepada janda itu. Janda itu sudah kehilangan suami dan satu-satunya harapan hidup adalah pada putranya. Sekarang putranya meninggal, kepada siapa lagi ia akan berharap. Tuhan datang pada saat yang tepat dan pertolongannya pun tepat waktu.Ia membangkitkan pemuda itu dan memberinya kepada ibunya. Dialah yang akan bekerja untuk melayani ibunya. Hal kedua yang kiranya menarik perhatian kita adalah pribadi Yesus sendiri. Ia berani menyentu jensah dan memberi komando untuk bangkit. Orang Yahudi tidak diperkenalkan menyentuh jenasah atau orang atau hewan yang berdarah-darah. Itu najis! Yesus membaharui pikiran banyak orang dengan menyentuh dan memberi hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia. Dialah Allah orang hidup bukan Allah orang mati.

Sabda Tuhan pada hari ini sangat kaya maknanya bagi kita semua. Tuhan menghendaki agar kita semua menjadi pelayan-pelayanNya yang handal. Tentu saja syarat utamanya adalah kualitas diri kita sebagai orang beriman, yang siap untuk melayani semua orang, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Orang yang masih hidup kita layani supaya sungguh-sungguh menjadi manusia. Orang yang sudah meninggal dunia kita doakan supaya mereka masuk ke Surga. Inilah wujud kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

Doa: Tuhan, anugerahkanlah semangat pelayanan di dalam diri kami. Amen

PJSDB

Monday, September 16, 2013

Renungan 16 September 2013

St. Kornelius dan Siprianus
Hari Senin, Pekan Biasa XXIV
1Tim 2:1-8
Mzm 28: 2.7.8-9
Luk 7:1-10

Berdoalah tanpa henti

Seorang anak remaja menulis status Facebooknya: “Doa adalah nafas hidupku”. Saya bertanya kepadanya mengapa ia menulis status Facebooknya demikian. Ia menulis kepada saya bahwa hidup doanya lagi bermasalah dan ia diingatkan kembali akan kata-kata ibundanya sebelum meninggal dunia bahwa ia harus rajin berdoa supaya dapat menjadi orang yang sukses. Saya senang dengan jawaban polos seorang anak remaja usia kelas I SMP. Saya juga lebih senang lagi karena ia memiliki ibu yang baik, yang mengajarnya berdoa dan nasihat untuk tekun berdoa. Saya membayangkan kalau para orang tua dapat berdoa dan mendorong anak-anaknya untuk berdoa maka tentu dunia kita ini akan berubah menjadi lebih indah lagi.

St. Paulus dalam bacaan pertama mengingatkan Timotius anaknya untuk tekun berdoa. Paulus menulis: “Anakku, panjatkanlah doa-doa dan permohonan dan ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, bagi pemerintah, dan penguasa, agar kita dapat hidup aman dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan”. Tentu saja nasihat Paulus ini bukan hanya untuk Timotius, tetapi untuk semua jemaat yang digembalakan Timotius. Paulus mengetahui situasi saat itu maka ia menasihati Timotius dan jemaat supaya tekun berdoa, memohon dan bersyukur kepada Allah untuk intensi semua orang. Orang baik dan jahat didoakan Timotius sebagai gembala. Pemerintah dan penguasa juga didoakan untuk ketentraman banyak orang. Nasihat Paulus ini sangat actual dengan kehidupan kita saat ini. Di mana-mana orang mengeluh tentang pemerintah mulai dari ketua RT sampai presiden.Banyak yang berlaku tidak adil dan jujur. Mereka jahat  karena korupsim kolusi dan nepotisme. Paulus menasihati kita juga untuk mendoakan mereka supaya berubah menjadi baik. Kecenderungan kita adalah suka mengeritik pemerintah, berdemo atau bersikap frontal terhadap mereka dan lupa mendoakan mereka. Kuasa dan pelayanan mereka itu berasal dari Tuhan sesuai dengan janji yang mereka ucapkan. Bahwa mereka tidak beres, kita mohon supaya Tuhan membereskan mereka supaya menjadi orang yang baik.

Paulus mengatakan bahwa kalau kita berdoa bagi semua orang dan pemerintah, itu adalah perbuatan baik dan berkenan kepada Tuhan. Tuhan memperhatikan orang baik dan jahat. Orang baik disayangi, orang jahat diselamatkanNya serta memperoleh pengetahuan dan kebenaran. Permenungan Paulus semakin mendalam ketika menyadarkan Timotius bahwa doa-doa permohonan dan syukur itu ditujukkan kepada Allah kita yang Esa. Yesus Kristus PuteraNya yang tunggal juga Esa adanya. Dialah satu-satunya Pengantara kita kepada Bapa yang Esa di Surga.Paulus mengharapkan agar Timotius juga percaya kepada Allah yang Esa, dan Yesus Putra Tunggal Allah. Dengan mengimani Allah yang Esa, Timotius dapat membantu sesama yang lain untuk mengimaniNya juga. Paulus juga mengingatkan Timotius untuk tidak goyah imannya sebagai gembala karena apa yang dikatakannya itu benar. Semua ini karena doa tanpa henti yang selalu terarah kepada Allah yang Esa di dalam Yesus PuteraNya.

Kuasa doa menjadi sempurna dan dialami oleh orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus.Dalam bacaan Injil, Yesus membuat sebuah mukjizat penyembuhan jarak jauh karena iman orang lain.  Yesus diceritakan sedang menuju ke Kapernaun. Ada seorang perwira Romawi, kafir memikiki seorang hamba yang sangat dihargainya sedang sakit keras dan hamper mati. Perwira Romawi itu mengutus beberapa orang tua-tua Yahudi untuk bertemu dengan Yesus supaya menyembuhkann hambanya yang sedang sakit. Mereka memohon sambil menceritakan kebaikan dan jasa-jasa perwira Romawi itu. Yesus pun pergi ke rumah perwira itu, tetapi perwira juga menyuruh sahabat-sahabatnya untuk menyampaikan kepada Yesus supaya tidak bersusah-susah datang ke rumahnya karena ia merasa diri tidak layak menerima Yesus di dalam rumahnya. Oleh karena itu ia meminta supaya Yesus mengucapkan sepata kata saja supaya hambanya itu dapat sembuh. Yesus menyembuhkan hamba sang perwira sekaligus memuji iman perwira Romawi itu karena imannya besar melebih semua orang Israel.

Yesus membawa keselamatan universal. Ia tidak mengkhususkan diriNya untuk bangsa Israel, tetapi semua orang dari segala bangsa di kasihiNya. Perwira Romawi adalah orang kafir yang hanya mendengar tentang Yesus, tetapi dari pendengarannya itu membantu dia untuk mengimani Yesus secara pribadi. Imannya kepada Yesus menyelamatkan hambanya. Di samping iman kepada Yesus, doa juga menjadi kekuatan bagi para utusan perwira yakni para tua-tua Yahudi. Mereka mohon kepada Yesus untuk menyembuhkan. Mereka percaya bahwa Yesus dapat berbuat sesuatu yang terbaik bagi hamba sang perwira itu. Satu hal lain yang kita pelajari dari sang perwira adalah rasa cinta kasihnya kepada hambanya. Sikapnya ini menjadi challenge bagi kita semua terutama bagaimana kita memperlakukan para pembantu di rumah, atau para mitra kerja kita.

Saya pernah melihat seorang general manager yang begitu ramah dengan office boy di kantornya. Ia tidak membeda-bedakan kedudukan para karyawan di kantornya. Mereka semua adalah team work yang berjalan bersama. Sapaan-sapaan baik dari general manager kepada satpam di pintu, office boy di halaman sampai sekretaris di dalam ruangan membawa suasana yang nyaman dan hangat. Itulah cita-cita semua orang untuk merasakan kebahagiaan di tempat kerja. Mari kita belajar berdoa dengan tekun supaya Tuhan  yang Esa melalui Yesus PutraNya membantu kita melayani dengan sungguh-sungguh. Iman kita juga semakin bertumbuh dan cinta kasih kita meluas dan menjangkau semua orang.

Doa: Tuhan Bapa di dalam surga, kami bersyukur atas segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Doronglah kami agar selalu bersyukur kepadaMu dan menaruh semua harapan kepadaMu. Amen

PJSDB

Sunday, September 15, 2013

Homili Hari Minggu Biasa XXIV/C

Hari Minggu Biasa XXIV
Kel 32:7-11.13-14
Mzm 51: 3-4.12-13.17.19
1Tim 1:12-17
Luk 15:1-32

Allah Bapa Maharahim!

Seorang sahabat pernah membagi pengalamannya seperti ini. Ia memiliki satu kebisaan yang baik yakni akrab dengan semua orang. Pada suatu kesempatan ia didatangi seorang sahabat pertama dan mengatakan kepadanya untuk menjaga jarak dengan sahabatnya yang satu karena dia itu memiliki selingkuhan. Oleh karena itu ia harus menjaga diri jangan sampai menjadi korban selingkuhan juga. Tentu saja ia merasa kaget karena selama mereka menjadi sahabat tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Pada kesempatan yang lain sahabat yang lain datang dan mengatakan kepadanya untuk menjaga jarak dengan sahabat yang pertama tadi. Menurutnya, sahabat itu mata duitan dan suka meminjam uang. Oleh karena itu ia harus berhati-hati karena bisa jadi semua uang habis dipinjamnya. Tentu saja orang ini bingung, kira-kira yang menjadi sahabat itu yang mana karena tenyata mereka saling menjual kelemahan satu sama lain. Ketika mendengar sharing ini saya merasa bahwa hal ini sudah menjadi pengalaman umum. Memang sangat sulit untuk memiliki sahabat sejati. Rasa cemburu, curiga dan bersaing selalu mewarnai sebuah persahabatan. Kalau orang tidak mampu mengolahnya maka mereka akan saling menjauh bahkan bermusuhan.

Tuhan Yesus pada hari ini tampil beda. Ia sangat terbuka dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Ia menyapa mereka dengan penuh persaudaraan, duduk dan makan bersama dengan mereka. Sikap terbuka dari Tuhan Yesus ini membuat para ahli Taurat dan kaum Farisi bersungut-sungut. Mereka mengatakan bahwa Yesus terbuka, menerima orang-orang berdosa dan  makan bersama mereka. Mereka beranggapan bahwa Yesus adalah Guru kebijaksanaan maka akan terkontaminasi dengan dosa dan salah kaum pendosa. Saya membayangkan banyak orang menutup dirinya terhadap orang berdosa karena takut ikut jatuh dalam dosa. Banyak orang tua melarang anaknya untuk bergaul dengan anak-anak yang orang tuanya memiliki dosa-dosa tertentu. Relasi persahabat anak-anak bisa hilang karena perkataan orang tua tentang dosa orang lain. Yesus menunjukkan hal yang sangat berbeda. Ia bergaul dengan kaum pendosa dan Ia berhasil membawa mereka ke jalan yang benar.

Terhadap sikap kaum Farisi dan para ahli Taurat, Yesus berusaha untuk mengubah hidup mereka dengan memberi tiga perumpamaan yang intinya mau mengatakan tentang kemurahan hati Allah Bapa. Perumpamaan pertama tentang seorang kaya yang memiliki 100 ekor domba. Ketika membawanya ke padang rumput, ada satu ekor yang tersesat. Ia meninggalkan Sembilan puluh Sembilan ekor dan pergi mencari satu ekor yang tersesat. Setelah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya, kembali ke rumah dengan suka cita. Perumpamaan kedua, ada seorang Bapa yang murah hati. Ia memiliki dua orang anak. Anak bungsu meras bebas maka ia menutut warisannya. Bapanya dengan murah hati memberikan yang menjadi haknya. Anak bungsu itu segera pergi dan menghabiskan semua kekayaan itu dengan hidup dalam dosa. Ia akhirnya kembali ke rumah, dan disambut dengan meriah oleh bapanya. Anak yang sulung tetap tinggal di dalam rumah, hidup dari semua harta kekayaan bapanya, tanpa menggunakan hartanya sendiri. Anak sulung lupa diri di hadapan bapanya. Ia bahkan menolak kehadiran adiknya. Tokoh utamanya adalah Bapa yang murah hati kepada anaknya yang berdosa (bungsu) dan anak sulungnya yang tidak tahu diri. Perumpamaan ketiga, seorang wanita miskin hanya memiliki uang sepuluh dirham. Satu dirham nilainya sama dengan satu dinar yang sebanding dengan upah kerja sehari. Rumahnya juga sederhana. Ketika ia mengalami kehilangan satu dirham, ia berusaha mencarinya dengan berbagai cara dan ketika menemukannya ia juga bersukacita. Ketiga perumpamaan Yesus ini menunjukkan seorang Allah yang murah hati yang sedang hadir di tengah-tengah kita.

Pengalaman akan Allah yang murah hati dan maharahim juga dirasakan umat Israel di dalam bacaan pertama. Umat Israel yang sedang berjalan menuju ke tanah terjanji sedang berada di kaki gunung Sinai. Pada saat itu Musa sedang berada di puncak gunung untuk berjumpa dengan Tuhan  dan menerima sepuluh perintah Allah. Karena terlalu lama menunggu maka mereka membuat patung lembu jantan dari emas, setelah itu mereka menari sambil menyembah patung itu. Tuhan murka dengan perilaku mereka. Mereka tegar tengkuk di hadirat Tuhan. Tuhan mau membinasakan mereka, tetapi Musa memohon pengampunan sehingga hati Tuhan juga menjadi lunak. Tuhan menyesal karena sempat murka terhadap bangsa Israel. Tuhan kita maharahim dan murah hati. Ia tidak lagi memperhitungkan dosa-dosa kita tetapi memperhatikan iman kita kepadaNya.

Paulus dalam bacaan kedua mengisahkan kemurahan dan kerahiman Tuhan kepadanya. Ia merasa dirinya sebagai orang berdosa tetapi Tuhan mengasihinya. Oleh karena itu ia bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena telah menguatkannya karena menganggapnya setia dan mempercayakan pelayanan Injil kepadanya. Tentu saja bagi pribadi Paulus, sulit sekali menangkap dan memahami rahasia kasih Allah yang tiada batasnya. Mengapa demikian? Karena Paulus juga merasa dirinya orang yang rapuh: “Sebelumnya aku seorang penghujat dan seorang penganiaya yang ganas”, singkat kata, Paulus berkata bahwa dialah yang paling berdosa. Paulus  memang lambat mengasihi Allah tetapi Allah tidak lambat mengasihinya. Ia rendah hati dan mengakui kemurahan dan kerahiman Tuhan.

Sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa ke XXIV/C ini membantu kita untuk memandang Allah sebagai Bapa yang maharahim. Allah Bapa kita itu kekal dan kasih setianya tidak mengenal batas ruang dan waktu. Ia murah hati terhadap kaum pendosa dan menuntun mereka untuk bertobat dan kembali ke jalanNya. Perumpamaan-perumpamaan yang diberikan Yesus dari Injil hari ini juga membuka wawasan kita untuk memahami kemurahan hati serta kerahimanNya. Bagaimana menjawabi kasih, kemurahan hati dan kerahiman Tuhan? Tuhan menghendaki agar kita rendah hati dan berani mengakui semua dosa dan salah kita di hadiratNya. Paulus menginspirasikan pertobatan pribadi kita. Masalahnya adalah apakah kita mau bertobat atau tetap bertegar tengkuk?

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami berterima kasih kepadaMu karena hari ini Engkau mengajar kami untuk menjadi rendah hati di hadiratMu, mengenal diri kami sebagai orang berdosa untuk disembuhkan dan diampuni. Semoga kami dapat hidup bahagia dan menikmati kasihMu. Amen

PJSDB