Monday, February 10, 2020

Homili 10 Februari 2020


Hari Senin, Pekan Biasa ke-V
St. Skolastika
1Raj. 8:1-7,9-13
Mzm. 132:6-7,8-10
Mrk. 6:53-56

Semakin Mengenal Yesus

Pada hari ini kita mengenang St. Skolastika. Beliau adalah saudara kembar St. Benediktus, yang lahir di Nursia, Italia pada tahun 480. Ia menunjukkan jati dirinya sebagai sosok yang pintar, cerdas peramah, sangat religious karena sejak masih muda ia sudah berjanji untuk menyerahkan dirinya hanya kepada Tuhan. Apa yang dilakukannya? St. Benediktus saat itu memulai hidup sebagai seorang pertapa di Monte Kasino. Cara hidup Benediktus ini menarik perhatian Skolastika. Ia lalu menyusul saudaranya untuk bertapa dan tinggal di Plombariola. Di kemudian hari Skolastika mendapat inspirasi dari kakaknya sehingga ia pun mendirikan dan memimpin biara wanita.

Skolastika selalu mengunjungi Benediktus untuk meminta nasihat tentang kehidupan rohani dan masalah-masalahnya. Biasanya Benediktus ditemani oleh anggota-anggota komunitas untuk menemui Skolastika di sebuah rumah di depan gerbang biara Monte Kasino. Pada suatu hari Skolastika datang lagi untuk mengunjungi Benediktus. Mereka memuji Tuhan dalam doa dan renungan. Skolastika berkata kepada Benediktus: “Jangan tinggalkan aku malam ini; mari kita berbicara mengenai suka cita kehidupan rohani sampai pagi.” Benediktus menjawabnya, “Saudariku, apakah yang engkau katakan itu? Aku tidak boleh tinggal di luar biaraku.” Karena Benediktus menolak permintaannya, wanita suci ini menangkupkan kedua tangannya di atas meja, menundukkan kepala dan berdoa. Ketika ia mengangkat kepalanya kembali, halilintar datang sambar-menyambar, gemuruh guntur bersahut-sahutan dan hujan badai membasahi bumi sehingga Benediktus dan murid-muridnya tidak dapat pulang. Karena sedih, Benediktus mengeluh: “Semoga Tuhan mengampuni engkau, saudariku. Apa ini yang telah engkau lakukan?” Skolastika menjawabnya, “Yah, aku mohon padamu tetapi engkau tidak mau mendengarkan aku; jadi aku mohon pada Tuhan-ku dan Ia sungguh mendengarkan aku. Sekarang pergilah jika engkau bisa, tinggalkan aku dan kembalilah ke biaramu.”

Konon, tiga hari kemudian ketika Benediktus sedang berada di kamarnya di biara, ia menengadah ke langit. Ia melihat jiwa saudarinya meninggalkan tubuhnya dalam rupa seekor burung merpati, dan terbang tinggi menuju suatu tempat rahasia di surga. Benediktus amat bersukacita dan berterima kasih kepada Tuhan yang Mahakuasa dengan nyanyian serta puji-pujian. Hal ini terjadi pada tahun 543. Skolastika dikuburkan oleh Benediktus dan anggota-anggota komunitasnya.

Kisah kehidupan St. Skolastika ini turut membuka pikiran kita untuk memahami pesan Injil hari ini yakni semakin mengenal Yesus di dalam hidup kita. St. Benediktus yang terkenal karena memulai peraturan-peraturan biara membantu kembarannya Skolastika untuk semakin mengenal Yesus Kristus. Ia datang ke dunia sebagai satu-satunya Penyelamat manusia. Ia hidup sebagai pribadi yang taat, miskin dan murni. Cara hidup Yesus ini sangat dipahami oleh Benediktus dan ia membantu Skolastika untuk mengenal Yesus dan mengikuti Yesus dari dekat sebagai pribadi yang taat, miskin dan murni. Cara hidup yang sama ini tetap diikuti dalam lembaga-lembaga hidup bakti yang lebih dikenal dengan nama nasihat-nasihat Injil. Seorang yang hendak mengikuti Yesus, harus belajar untuk mengenal-Nya dan menghayati nasihat-nasihat Injil yakni menjadi pribadi yang taat, miskin dan murni.

Pada hari ini kota mendengar kisah lanjutan tentang kehidupan Yesus. Ia berkeliling dan berbuat baik bersama para murid-Nya. Setelah menunjukkan hati-Nya yang tergerak oleh belas kasih kepada banyak orang, Ia  bersama para murid-Nya menyeberang danau Galilea menuju ke daerah Genesaret dan berhenti sejenak di sana. Dikatakan bahwa orang-orang segera mengenal Yesus dan mendekati-Nya. Orang-orang ini sangat antusias menanti kehadiran Yesus yang menyelamatkan. Mereka benar-benar membutuhkan Yesus untuk menyembuhkan dan menyelamatkan mereka. Merekalah domba-domba tanpa gembala yang sedang berjumpa dengan Yesus sang Gembala yang baik.

Apa yang terjadi saat itu? Orang-orang yang segera mengenal Yesus ini pergi dan memanggil serta membawa saudari dan saudara mereka yang sakit untuk disembuhkan Yesus. Ada di antara mereka yang diletakkan di atas tilam, ada mereka bawa dan meletakkannya di pasar supaya memohonkan penyembuhan dari Yesus, dan ada juga yang diperkenankan untuk menyentuh ujung jubah Yesus supaya menjadi sembuh. Kita dapat membayangkan betapa orang-orang saat itu sangat membutuhkan Yesus untuk melepaskan mereka dari segala penyakit dan kelemahan. Mereka tidak mengandalkan diri mereka, tetapi benar-benar mengandalkan Yesus di dalam hidupnya.

Apakah kita secara pribadi juga mengandalkan Tuhan Yesus di dalam hidup kita? Kalau kita mengandalkan Yesus berarti kita membutuhkan-Nya. Konsekuensinya kita akan selalu berusaha untuk mengenal Yesus melalui Kitab Suci terutama Injil, doa-doa, sakramen-sakramen dan pelayanan-pelayanan kasih kepada Tuhan dan sesama di dalam kehidupan menggereja. Orang-orang yang mengenal Yesus segera membawa orang-orang sakit adalah bentuk pelayanan tanpa pamrih. Mereka mengandalkan Yesus untuk sebuah kesembuhan dan keselamatan. Kita pun seharusnya demikian. Selalu berusaha untuk mencari dan menemukan Yesus serta mengenalnya lebih dalam dengan rajin membaca Kitab Suci dan melakukan dengan baik pelayanan-pelayanan yang tidak lain adalah pekerjaan-pekerjaan Yesus sendiri.

Raja Salomo dalam bacaan pertama melakukan sebuah program yang bagus yakni meminta para tua-tua dan kepala suku untuk memindahkan Tabut Perjanjian dari kota Daud ke Sion (Bethlehem ke Yerusalem). Dikatakan dalam Kitab Pertama Raja-Raja: “Mereka mengangkut tabut Tuhan dan Kemah Pertemuan dan segala barang kudus yang ada dalam kemah itu; semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi.” Raja Salomo bersama orang-orang lain menyiapkan kurban persembahan kepada Tuhan. Tabut Perjanjian diletakkan di tempat kudus di Yerusalem. Raja Salomo dan orang-orang Israel memiliki mata yang tertuju kepada Tabut Perjanjian karena mereka membutuhkan Tuhan dan menyadari kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka. Tuhan adalah Penyelamat, Pelindung dan Kekuatan bagi bangsa Israel.

Pada hari ini marilah kita berusaha untuk semakin mengenal Tuhan Yesus di dalam hidup kita. Dengan perantaraan St. Skolastika, biarlah dia mendoakan dan membuka hati kita untuk terbuka kepada Yesus, semakin mengenal dan mengasihi Yesus di atas segala-galanya. Hanya dengan prinsip ini kita dapat bersatu dengan-Nya. Kita dapat mencapai kekudusan. St. Skolastika, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB

Sunday, February 9, 2020

Food For Thought: Jangan lelah berbuat baik

Jangan lelah berbuat baik

Saya tertarik dengan sebuah doa singkat di dalam Kitab Mazmur. Misalnya, dalam Mazmur 115:1 dikatakan: “Bukan kepada kami, ya Tuhan, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!” Nama Tuhan patut disembah dan dimuliakan sebab kudus adanya. Kadang-kadang masih ada orang yang mempermainkan nama Tuhan atau menyebut nama Tuhan tidak dengan hormat. Ini tentu sangat disayangkan sebab orang tidak menghormati kekudusan Tuhan sebagai pribadi.
Satu hal yang menarik perhatianku pada hari ini adalah bahwa Tuhan adalah sumber segala kebaikan. Nilai-nilai umum kebaikan seperti kejujuran, kerja cerdas, ketelitian, kesetiaan dalam melayani dan lainnya berasal dari Tuhan. Manusia hanya melakukan apa yang harus dilakukannya.  Manusia adalah hamba Tuhan yang selalu siap untuk melayani. Mengapa demikian, sebab Tuhan sendiri lebih dahulu melayani dan berbuat baik kepada kita.

Kita perlu berbuat baik sebab perbuatan baik itu akan kembali lagi kepada kita. Kalau kita berbuat baik janganlah diketahui semua orang sehingga yang ada hanya terang dan kasih serta kebaikan Tuhan. Pada zaman ini orang berbuat baik pasti sangat cepat diketahui orang lain. Tangan kirinya memberi tangan kanannya mengambil foto. Dalam waktu singkat semua sahabat di dunia maya sudah mengetahui perbuatan baik. Nah di sini terjadi pertentangan: berbuat baik dan popularitas. Lebih baik berbuat baik dan tidak diketahui orang lain daripada berbuat baik dan diketahui semua orang. Tuhan Yesus berkata: “Akan tetapi, ketika kamu memberi sedekah, jangan biarkan tangan kirimu mengetahui apa yang tangan kananmu lakukan.” (Mat 6:30).

Nabi Yesaya benar ketika mengingatkan bangsa Israel yang barusan kembali dari Babilonia. Ia berkata: “Supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu.” (Yes 58:7-8). Saling berbagi adalah tanda kebaikan yang kita lakukan bagi sesama dan sebenarnya itu kita lakukan bagi Tuhan sebagai sumber kebaikan (Mat 25:40). Perbuatan baik ini merupakan tanda bahwa kita mewujudkan harapan Tuhan untuk menjadi garam dan terang di dunia ini. Kita menunjukkan wajah Allah yang penuh kebaikan di dalam diri Yesus Kristus. Jangan lelah berbuat baik.

RP. John Laba, SDB

Homili Hari Minggu Biasake-V/A - 2020

Hari Minggu Biasa V/A
Yes. 58:7-10
Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9
1Kor. 2:1-5
Mat. 5:13-16

Selalu berbuat baik

Apakah anda sudah berbuat baik pada hari ini dan hari-hari sebelumnya? Ini adalah sebuah pertanyaan yang kiranya selalu membantu kita untuk berefleksi bersama, terutama dalam kaitannya dengan relasi sosial dengan orang lain. Kita semua adalah makhluk sosial dan pasti membutuhkan  kehadiran orang lain untuk menolong dan menopang. Kitapun hadir untuk menolong dan menopang sesama kita. Perbuatan baik menjadi seperti akar pohon yang menyebar kemana-mana dan dapat memperkuat hidup kita. Saya mengingat  Amelia Earhart (1897-1937). Penulis berkebangsaan Amerika Serikat ini pernah berkata: “Satu perbuatan baik akan menebar akar ke segala penjuru, dan akar-akar itu tumbuh menjadi pohon baru dalam hidup kita.” Apakah ketika kita berbuat baik itu semuanya mulus saja? Ternyata tidak. Banyak orang lain yang memandang kita sinis, menganggap bahwa perbuatan baik itu hanya sekedar modus demi popularitas semata, bahkan kita juga dapat dibully oleh orang lain. Berkaitan dengan ini ada sebuah nasihat mujarab dari St. Theresia dari Kalkuta: “Perbuatan baik yang dapat anda lakukan hari ini mungkin saja akan dilupakan besok. Namun demikian tetaplah berbuat baiklah apapun yang akan terjadi di dalam hidupmu.” Tuhan Yesus saja ketika berbuat baik tetap tidak dihargai oleh orang-orang yang  tidak menerima-Nya.

Kita semua mendapat kekuatan yang luar biasa melalui Sabda Tuhan pada hari Minggu Biasa ke-V/A hari ini. Tuhan Yesus meneruskan pengajaran-Nya di atas bukit Sabda Bahagia. Kali ini Tuhan Yesus hendak mengaktualisasikan Sabda Bahagia dalam hidup yang praktis dengan menegaskan bahwa kita yang percaya dan mengikuti-Nya dari dekat hendaklah menjadi garam dan terang. Mengapa Tuhan Yesus mengambil kedua kata yakni garam dan terang untuk menguatkan perilaku hidup kristiani kita di tengah dunia ini? Israel memiliki laut mati yang kadar garamnya sangat tinggi, sekitar 32 persen lebih asin dibandingkan dengan air laut yang lain seperti laut tengah atau laut mediteran yang hanya memiliki kadar garam sekitar 3 persen. Tuhan Yesus mengambil contoh garam untuk mengaktualisasikan kualitas jati diri para pengikut-Nya. Ia berkata: "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Mat 5:13). 

Garam adalah zat multi fungsi. Garam dapat dipakai untuk mengawetkan makanan, memberi rasa pada makanan dan menyembuhkan penyakit kulit tertentu, menurunkan bagian tubuh yang bengkak seperti kaki. Tanpa garam makanan cepat busuk, rasanya hambar. Apakah kita pernah menyadari bagaimana garam memberi rasa pada makanan atau menyembuhkan penyakit tertentu? Garam batu itu harus rela kehilangan bentuknya karena melebur di dalam air. Setelah melebur bersama air, ia akan merembes masuk ke dalam makanan dan dari dalam makanan ia akan memberi rasa nikmat. Air garam juga merembes masuk ke dalam tubuh dan menyembuhkan penyakit kita dari dalam. Jadi garam bekerja diam-diam, tidak kelihatan tetapi memberi dampak di dalam hidup kita. 
Tuhan Yesus menghendaki supaya hidup kristiani haruslah seperti ini. Kita menjadi garam dengan masuk ke dalam hidup sesama dan dari dalam kita mengubahnya menjadi lebih baik lagi. Ini adalah wujud nyata “Kamu adalah garam dunia”. Dalam hal apa kita menjadi garam dunia? Dalam perbuatan-perbuatan dan tutur kata kita yang terbaik. Untuk dapat berbuat baik maka kita harus rela berkurban, rela ‘kehilangan’ sesuatu di dalam hidup untuk memberi kualitas hidup yang lebih baik kepada sesama manusia.  Kalau kita berbuat baik maka jangan pernah menceritakan dan menghitung-hitung banyaknya perbuatan baik kita. Semua yang kita lakukan itu milik Tuhan dan diperuntukan bagi sesama manusia. Kalau tidak demikian kita bukanlah garam yang bermanfaat sehingga layak dibuang dan diinjak orang.

Tuhan Yesus mengatakan: “Kamu adalah terang dunia.” (Mat 5:14). Tuhan Yesus adalah Terang dunia (Yoh 8:12). Dari awal Dia menunjukkan diri-Nya sebagai Terang dengan symbol Bintang, yang membimbing orang Majus untuk datang dan menyembah Dia di Bethlehem. Dia menghendaki agar para pengikut-Nya juga menjadi terang di dunia serupa dengan-Nya. Tuhan Yesus sedang berbicara di Bukit Sabda Bahagia, dekat pantai danau Galilea yang letaknya 400 meter di bawah permukaan laut tengah. Sebab itu ketika mereka melihat ke pegunungan, mereka melihat ada terang dan itu menjadi tanda bahwa ada penghuni di daerah-daerah itu. Terang pelita itu menarik perhatian banyak orang. Andaikan orang menyembunyikan pelita mereka yang bernyala maka keberadaan orang lain juga tidak diketahui. Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan: “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:16). Perbuatan-perbuatan baik itu kita tunjukan supaya mengubah kehidupan orang lain.

Kita tidak dapat menjadi garam dan terang sendirian. Tuhan yang akan membantu kita untuk melakukannya. Ia sendiri pernah mengatakan kepada Musa untuk mengingatkan Harus: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau  dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya  kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bil 6:24-26). Semua ini Tuhan lakukan di dalam hidup kita. Maka jangan Lelah untuk menjadi garam dan terang melalui perbuatan-perbuatan baik yang dapat dilakukan setiap saat di hadapan Tuhan dan sesama. 

Perbuatan-perbuatan baik itu kita lakukan dengan saling berbagi kehidupan, yakni baka-bakat dan kemampuan kita untuk kebaikan orang lain. Dalam bacaan pertama, nabi Yesaya sangat jelas mengatakan kepada umat Israel yang barusan kembali dari Babilonia untuk pandai berbagi. Apa yang harus mereka lakukan dalam hidup bersama? Mereka diingatkan untuk berbagi makanan dengan orang-orang yang lapar, memberi tempat untuk menginap kepada yang tidak memilikinya, berbagi pakaian dengan orang-orang yang tidak memilikinya dan aneka kebutuhan yang mereka miliki. Nabi Yesaya mengatakan, dengan berbuat baik maka ‘terangmu akan merekah seperti fajar’. Ketika kita tidak berbuat baik, tidak mampu berbagi maka kita seperti ‘terang yang terbit dalam kegelapan, dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari’. Perkataan nabi Yesaya mengingatkan kita pada perkataan Tuhan Yesus sendiri: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40).

Saya mengakhiri homily ini dengan mengingatkan perkataan seorang penulis Amerika Serikat bernama Dale Carnegie (1888-1955). Inilah perkataannya: “Jika kamu berbuat baik kepada seseorang, jangan diingat. Jika seseorang berbuat baik kepada kamu, jangan pernah dilupakan.” Ini benar-benar sebuah kebijaksanaan. Saya mengingat Santu Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus bahwa ia datang untuk memberi kesaksian tentang Yesus Kristus yang disalibkan. Ia jujur bersaksi: “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” (1Kor 2:4-5). Paulus merasakan perbuatan baik dari Tuhan Yesus dan tidak pernah melupakannya di dalam hidupnya.

Pada hari ini janganlah bertegar hati, tetaplah berbuat baik seperti Tuhan sendiri selalu berbuat baik kepada kita semua. 

P. John Laba, SDB

Saturday, February 8, 2020

Berjalan bersama merajut kebersamaan

Berjalan Bersama Merajut Kebersamaan

Saya memiliki sebuah kebiasaan berjalan sore hari di tepi pantai. Bagi saya ini adalah sejenis olah raga yang murah meriah namun memberikan keuntungan yang banyak kepada saya. Misalnya, ketika berjalan di atas pasir memang membutuhkan energi yang besar sehingga kita mudah berkeringat, ada kesempatan untuk menikmati keindahan alam di pantai, mengambil gambar-gambar pemandangan, apalagi menjelang terbenamnya sang surya ke peraduannya. Kata yang selalu keluar dari mulut: “Betapa indahnya pemandangan di tepi pantai!” Sambil berjalan di atas pasir laut, saya memperhatikan sebuah relasi persahabatan antara pasir dan air laut. Dan saya berani mengatakan bahwa relasi persahabatan antar pribadi itu seumpama laut dan pasir. Keduanya senantiasa bersama-sama menghadapi pecahan ombak, bersama-sama merasakan lelehan senja, dan saling melengkapi dari masa ke masa. Persahabatan pasir dan laut tidak akan berakhir. 

Dari relasi pasir dan laut saya belajar tentang makna kebersamaan dalam sebuah persahabatan. Meskipun ombak besar membelah onggokan-onggokan pasir di tepi pantai tetapi keduanya tetap bersama-sama karena mereka bersahabat. Pasir dan laut tidak saling mempersalahkan satu sama lain sebab mereka selamanya sahabat. Pikiran saya lalu beralih dari relasi persahabatan antara pasir dan air laut menuju ke relasi antar pribadi manusia. Hanya manusia yang mengerti apa artinya berjalan bersama demi merajut kebersamaan. Hanya manusia yang dapat melakukannya karena setiap pribadi memang membutuhkan pribadi yang lain. Itulah sikap utama manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa merajut kebersamaan dalam sebuah persahabatan. Ada perbedaan-perbedaan tertentu sebagai individu itu wajar tetapi persahabatan tidak akan memisahakan sebuah kebersamaan.

Memandang Komunitas Yesus

Pada malam perjamuan terakhir, para murid Yesus merasa kaget karena Yesus menyapa mereka sahabat bukan hamba. Mereka telah berjalan bersama dan merajut kebersamaan selama tiga tahun. Sapaan yang sudah lumrah di bibir mereka kepada Yesus adalah ‘Guru’ tetapi pada malam perjamuan terakhir sapaan itu berubah menjadi sahabat. Yesus yang  mengubah relasi mereka, dalam hal ini Yesus menjadi sahabat para murid-Nya, sebaliknya para murid juga menjadi sahabat-sahabat Yesus. Ini adalah sebuah relasi baru yang begitu indah. Lebih jelas perhatikan kutipan perkataan Yesus berikut ini: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15:13-15).

Bagaimana para murid dapat menjadi sahabat Yesus? Ada nilai-nilai luhur yang Yesus ungkapkan dalam perkataan-Nya ini. Persahabatan itu menjadi kuat karena ada pengurbanan diri pribadi sebagai sahabat. Tanpa ada pengurbanan diri maka persahabatan tidak memiliki nilai dan makna. Yesus menjadi sahabat dengan mengurbankan diri-Nya bagi para murid-Nya. Persahabatan menjadi sebuah rajutan kebersamaan kalau ada kepatuhan. Yesus meminta para murid-Nya supaya melakukan perintah kasih di dalam hidup mereka. Persahabatan menjadi kuat dan dapat merajut kebersamaan karena dibangun di atas dasar cinta kasih. Maka di sini kita menemukan pijakan-pijakan kebersamaan dalam persahabatan yakni pengurbanan diri dan cinta kasih.

Komunitas Yesus tetaplah menjadi model kebersamaan bagi komunitas manusia. St. Lukas dengan tepat melukiskan kehidupan pribadi Yesus yang selalu berjalan keliling dan berbuat baik (Kis 10:38). Di tempat lain Yesus berkata: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” (Mrk 1:38). Yesus tidak pernah berjalan sendiri tetapi selalu bersama dengan para murid-Nya. Bahkan ada tiga murid inti yang selalu bersama-sama dengan Yesus dalam peristiwa-peristiwa penting, mereka adalah Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes. Kita mengingat ketika Ia menampakkan kemuliaan-Nya di gunung Tabor, dalam peristiwa Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus dan di Taman Getzemani, selalu bersama ketiga murid ini. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa Yesus selalu bersama-sama dengan para murid yang disapa sebagai sahabat-sahabat-Nya.

Pengalaman komunitas Yesus ini nantinya berkelanjutan dari zaman Gereja perdana hingga saat ini dengan semboyan ‘Cor unum et anima una’ atau sehati dan sejiwa. Santu Lukas bersaksi: “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” (Kis 4:32). Gereja saat ini tetap berpegang teguh pada semangat ini, dengan tekun membangun kebersamaan sebagai satu umat Allah. Gereja mengusahakan pemberdayaan terhadap kaum miskin sehingga mereka juga memiliki martabat sebagai manusia dan anak-anak Allah. Para gembala haruslah berbau domba dengan hadir dan memperjuangkan harkat hidup para domba gembalaannya. Inilah keindahan Gereja yang berjalan bersama demi merajut kebersamaan.

Kebersamaan dalam keluarga

Sebuah keluarga katolik dibangun di atas dasar kasih. Semua orang mengetahui dan mengakuinya. Sang pria yang menjadi suami dan wanita yang menjadi istri mulai merajut kebersamaan berawal dari perasaan kesepadanan atau kecocokan. Sebelum menikah mereka pasti memiliki antrian tersendiri. Namun kata ‘cocok’ dan ‘tidak cocok’ menjadi kata yang sifatnya menyeleksi hingga mengerucut pada dua pribadi yang sepakat untuk menjadi suami dan istri. Dari kesepadanan atau kecocokan ini maka suami dan istri yang ‘berbeda’ dalam banyak hal mulai berjalan bersama. Dalam berjalan bersama dan merajut kebersamaan ini ternyata tidaklah mudah. Ada saja perbedaan yang kalau tidak dapat diolah dengan baik dapat menjadi ancaman bagi kebersamaan sebagai suami dan istri. Sebab itu satu hal penting yang patut diingat adalah jangan pernah berhenti pada masalah sepeleh dalam merajut kebersamaan, berusahalah untuk sadar diri bahwa setiap masalah adalah kesempatan untuk bertumbuh menjadi lebih baik lagi dalam hidup berkeluarga.

Saya mengingat St. Theresia dari Kalkuta. Pada suatu kesempatan ia berkata kepada keluarga-keluarga tentang bagaimana merajuit kebersamaan sebagai keluarga: “Senyum satu sama lain, senyum pada istri anda, senyum pada suami anda, tersenyum pada anak-anak anda, tidak peduli siapa dia, ini akan membantu anda untuk tumbuh dalam kasih yang lebih besar satu sama lain.” Hanya dengan kata ‘senyum’, Santa Theresia dari Kalkuta mau meneguhkan persekutuan dan kebersamaan di dalam sebuah keluarga. Mungkin pada masa kini, ‘senyum’ semakin mahal dan mudah diabaikan. 

Keluarga juga mengalami kesulitan dalam merajut kebersamaan. Hal terpenting adalah sikap mawas diri. Saya mengingat Paulo Coelho dalam bukunya sang Alkemis menulis: “Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari, pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu. Lalu kita ingin orang itu berubah. Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang-orang lain maka orang-orang lain itu menjadi marah. Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.”

Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengatakan bahwa dalam merajut kebersamaan di dalam berumah tangga itu seperti sepatu. Ada lima hal yang dapat kita pelajari dari filosofi sepatu berikut ini: Pertama, kakimu bisa saja lecet saat menggunakan sepatu, tapi bukan berarti anda langsung membuangnya. Kedua, sepatu memang bentuknya tak sama, namun mereka diciptakan untuk bersama. Ketiga, sepasang sepatu itu selalu sederajat, tak pernah ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Keempat, saat sepatu berjalan, mereka tak kompak tapi tujuannya sama. Kelima, bila satu sepatu hilang, maka yang lainnya sudah tidak memiliki arti. Mari kita belajar dari pasir dan laut yang selalu bertahan dalam persahabatan mereka. Mari menjadi sepatu dalam merajut kebersamaan.

P. John Laba, SDB

Food For Thought: Aku mau berhati bijaksana

Aku mau berhati bijaksana

Adalah Democritus (460-380 SM). Beliau dikenal sebagai seorang ahli Filsafat berkebangsaan Yunani, dan pernah berkata: “Orang yang bijaksana adalah mereka yang tidak berduka cita akan hal-hal yang ia tidak miliki dan merasa bahagia dengan apa yang telah ia miliki.” Saya tertarik untuk mengingat dan merenung kembali perkataan ini karena memiliki nilai edukasi yang tinggi. Orang bijaksana tidak akan merasa sedih karena tidak memiliki apa-apa. Ia tidak akan membandingkan dirinya dengan diri orang lain, terutama apa yang sedang ia miliki saat ini. Orang bijaksana justru merasa bahagia dengan apa yang dia miliki. 

Perkataan Democritus sering bertolak belakang dengan kehidupan kita. Kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain selalu ada. Seorang anak yang masih kecil masih senang dipeluk dan dicium orang tuanya. Ketika memasuki usia remaja dia tidak mau dipeluk dan dicium lagi oleh orang tuanya. Mengapa? Salah satu alasannya adalah ia mulai membandingkan kedua orang tuanya dengan orang tua temannya atau orang lain. Ada orang yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah sedang ia miliki sebab itu ia menjadi avarice. Ia senang mengoleksi barang di kamar tanpa pernah dipergunakannya. Mestinya orang merasa bahagia akan apa yang sudah sedang dimilikinya.

Insipirator kita hari ini adalah Salomo. Sosok ini mendapat tawaran dari Tuhan untuk bebas meminta apa saja yang dia mau dan sukai. Salomo ternyata memilih yang paling tepat, bukan yang disukainya melainkan yang dibutuhkannya untuk melayani bangsa Israel. Ia membutuhkan hati yang bijaksana. Salomo berkata kepada Tuhan: “Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat.” (1Raj 3:9). Tuhan mendengar dan mengabulkan permohonan Salomo dengan berkata: “Sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.” (1Raj 3:12). 

Pada zaman ini sangatlah sulit menemukan sosok Salomo. Orang akan meminta kepada Tuhan apa yang disukainya yaitu harta dan kuasa juga usia panjang untuk menikmati harta dan kuasa. Orang lebih berfokus pada harta dan kuasa bukan kepada Tuhan yang memberikan harta dan kuasa kepada manusia. Pada zaman ini orang sulit untuk sign out dari handphonenya ketika makan bersama. Inia da quality time dalam keluarga tetapi orang selalu lalai. Kebiasaan ini bukan hanya di dalam keluarga tetapi sudah menembusi tembok biara dan pastoran. Selama perayaan misa ada romo yang masih sempat melihat handphone dan membaca WA serta chating atau menerima telp selama misa. Kalau penghuni altar saja begini bagaimana dengan yang duduk menghadap ke altar? Seandainya Salomo masih ada di sini pasti dia meminta kita untuk mengubah kiblat hati kita supaya focus pada Tuhan bukan menjadi pribadi yang terkontaminasi virus ‘phubbing’.

Pada hari ini kita memohon kepada Tuhan supaya memiliki hati yang bijaksana. Kebijaksanaan adalah anugerah Tuhan bagi kita. Mintalah maka Ia akan menganugerahkan kepadamu secara gratis. Dengan demikian relasi kita dengan Tuhan dan sesama akan berubah. 

Tuhan memberkati kita semua,

P. John Laba, SDB

Homili 8 Februari 2020

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-IV
1Raj. 3:4-13
Mzm. 119:9,10,11,12,13,14
Mrk. 6:30-34

Gembala berhati bijak

Ada sebuah krisis besar di dalam Gereja Katolik. Krisis itu namanya krisis melayani dengan tulus hati. Bapa Suci, Paus Fransiskus sangat peka dengan hal ini sehingga beliau memperingatkan para imam di seluruh penjuru dunia untuk menjadi gembala berhati bijak. Seorang gembala yang berhati bijak adalah gembala yang berbau domba. Bapa Suci Fransiskus merasa prihatin karena ada begitu besar ketidakpuasan umat terhadap para imam sebab para imam tidak bersemangat sebagai gembala yang baik, gembala yang berhati bijak, mereka malah banyak memperhatikan dirinya sendiri dan juga memperhatikan golongan tertentu saja di dalam Gereja. Akibatnya adalah para imam kehilangan umat terbaik mereka di dalam Gereja. Ini menjadi alasan mengapa Bapa Suci meminta para imam untuk menjadi gembala yang mengenal “bau” dari para dombanya. Para imam sebagai gembala harus berani untuk kotor dan bau karena berjumpa dengan umatnya. Gembala yang berbau domba berarti gembala yang berani mencium bau, bahkan menjadi bau karena mengalami kesusahan, kepedihan dan penderitaan umatnya.

Sebenarnya krisis melayani tulus juga menimpa umat di dalam Gereja. Umat belum sepenuhnya peka dalam hidup menggereja. Ada yang tidak pernah aktif di KBG, lingkungan dan wilayah. Mereka hanya menunggu untuk dilayani ketika ada kematian atau saat membutuhkan pelayanan sakramen tertentu. Ada umat yang mencari keuntungan di dalam gereja, menjadikan gereja sebagai dapur atau tempat berbisnis. Pokoknya tidak ada pelayanan tanpa uang dan menghasilkan uang. Coba kita perhatikan krisis terselubung di dalam kelompok-kelompok kategorial dan territorial. Ketika bertemu dengan kata ‘uang’ maka semua orang menjadi sungkan untuk berbicara karena ada korupsinya, kredit macet akibat pinjam meminjam atau pinjaman dengan bunga yang tinggi. Itulah wajah suram Gereja kita saat ini. Maka Bapa Suci memiliki semangat untuk membaharui semangat pelayanan di dalam Gereja. Kalau mau melayani harus melayani dengan tulus seperti Yesus sendiri melayani untuk mencari untung atau memperkaya diri di dalam Gereja.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini sangatlah bermakna untuk kita renungkan bersama. Penginjil Markus melaporkan bahwa para murid Yesus baru kembali dengan sukacita setelah mereka diutus pergi berdua-dua untuk mewartakan Injil. Mereka ada bersama Yesus dan membagikan pengalaman pewartaan mereka. Tuhan Yesus mengetahui kebutuhan mereka maka Ia mengajak mereka untuk refreshing sejenak. Ia berkata kepada mereka:"Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.” (Mrk 6:31-32). Ini adalah quality time Yesus bersama para murid-Nya. Ia mengapresiasi pelayanan dan kesaksian mereka sebagai pewarta Injil. Banyak setan dan roh jahat yang takluk. Banyak orang sakit disembuhkan dan Injil sebagai khabar sukacita diterima banyak orang. Bahkan mereka tidak mengingat diri sehingga ‘makan pun mereka tidak sempat’. Dengan quality time ini mereka akan lebih bersemangat lagi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus.

Mereka memang memiliki rencana untuk refreshing bersama, merasakan quality time sebagai komunitas. Namun kenyataannya berbeda. Banyak orang melihat dan mengikuti mereka karena mereka tahu kemana Yesus dan para murid-Nya pergi. Mereka malah mendahului Yesus dan para murid-Nya. Mereka adalah orang-orang sakit, mereka yang kerasukan roh jahat dan setan-setan dan sangat menbutuhkan Yesus. Maka Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai gembala yang baik: Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan dan Dia siap untuk mengajar dan menyembuhkan mereka. Yesus hadir sebagai gembala yang mengajar, meneguhkan dan menguatkan. Ia berani melupakan rencana-rencana indah-Nya bersama para murid dan menguatamakan pelayanan kepada orang banyak yang datang kepada-Nya.

Bacaan Injil hari ini memang mengatakan tentang realitas Gereja. Apa yang menjadi keprihatinan Bapa Suci Fransiskus sedang terjadi saat ini. Banyak gembala yang sulit untuk memiliki hati yang berbelas kasih. Di pastoran sudah ada tulisan: “Jadwal untuk bertamu” dari jam sekian sampai sekian. Kalau melanggar maka sang gembala akan ‘berteriak’ tanpa belas kasih. Ada gembala yang lebih mengutamakan hobi dari umatnya: memelihara kebun, taman, burung, anjing, kelinci, tikus putih dan lain sebagainya. Boleh-boleh saja memiliki hobi seperti ini tetapi ketika umat membutuhkan untuk pelayanan maka sangat perlu ‘hati yang tergerak oleh belas kasih’. Para gembala yang berhati bijak itu turut menghadirkan wajah Tuhan Yesus yang berbelas kasih kepada banyak orang. Tentu hal yang sama juga terjadi bagi orang-orang di sekitar para gembala. Kadang-kadang kordinator KBG, lingkungan, wilayah, paroki, kategorial dan sekretaris paroki lebih ‘galak’ dari gembalanya. Mereka merasa lebih dari gembala sehingga umat yang datang tidak dilayani dengan baik. Koordinator atau pengurus rasa gembala melebihi Gembala yang baik. Ini memang keliru dan fatal!

Apa yang harus kita lakukan?

Kita butuh gembala berhati bijak. Bacaan pertama menghadirkan sosok Salomo. Ia mengganti posisi Daud ayahnya untuk menjadi raja. Ia menjadi raja dan gembala maka salah satu tugasnya adalah mempersembahkan kurban kepada Tuhan Allah. Tuhan Allah meminta Salomo untuk meminta apa saja yang ia harapkan. Salomo mendengar dan mensyukuri kasih setia Tuhan yang pernah dialami keluarganya melalui Daud ayahnya. Sebab itu Salomo meminta kepada Tuhan untuk memberi: ‘Hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat.” (1Raj 3:9). Tuhan mendengar permohonan Salomo maka Ia berkata kepadanya: “Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.” (1Raj 3:12). Salomo dalam perikop ini tidak meminta yang muluk-muluk. Ia meminta supaya Tuhan membantunya memiliki hati yang bijaksana untuk memimpin. Tuhan mendengar dan memberinya sebagai anugerah istimewa. Ia menjadi raja dan gembala berhati bijak.

Pada hari ini kita belajar untuk menjadi gembala berhati bijak. Seorang gembala yang peka dalam melayani bukan untuk dirinya tetapi semuanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Seorang gembala yang selalu memiliki hati yang tergerak oleh belas kasih Tuhan. Untuk kita renungkan: “Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.” (Yoh 10:27). Jadilah pribadi berhati gembala. Jadilah gembala berhati bijak.

P. John Laba, SDB

Thursday, February 6, 2020

Food For Thought: Seorang ayah yang hebat

Seorang ayah yang hebat!

Banyak di antara kita mungkin masih mengingat seorang pegolf professional dari Amerika bernama Tiger Wood, yang terlahir dengan nama asli Eldrick Tont Woods. Ia memiliki kenangan tersendiri dengan ayahnya. Kenangan itu terungkap dalam perkataan singkatnya ini: “Ayah saya selalu mengajari saya kata-kata ini: peduli dan berbagi” Kedua kata ini selalu diulangi oleh ayahnya sehingga lama kelamaan menjadi moto dan pedoman hidupnya. Baginya, hidup kita semakin bermakna karena care (peduli) dan share (berbagi). Lihatlah bahwa kedua kata yakni care dan share sangat sederhana namun memiliki kekuatan yang dapat mengubah hidup setiap pribadi. 

Saya sendiri pernah mendengar sharing seorang ayah dalam rekoleksi keluarga. Ia selalu mendengar keluhan dari anak-anaknya, membandingkan ayah kandung dengan ayah dari teman-teman mereka. Sebenarnya perbandingan ayah kandung dengan ayah teman itu tidaklah elok. Ayah kandung tetaplah seorang ayah yang tidak akan sama dengan seorang lelaki lain yang disapa ayah. Dari ayah, darah kita mengalir, harapan kita terpenuhi. Maka ayah itu mengakhiri sharingnya dengan berkata: “Maafkan aku karena tidak bisa seperti ayah teman-temanmu, tapi aku berjanji untuk memberimu segala yang terbaik yang bisa aku berikan sebelum aku "pergi". Perkataannya ini mengundang deraian air mata para peserta rekoleksi. Sebagai anak mudah untuk membandingkan sosok ayah, karena kita lupa bahwa ayah itu tidak tergantikan.

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok seorang ayah yang penuh kuasa yaitu Raja Daud. Sebelum meninggal dunia, ia masih memanggil Salomo, anaknya untuk memberikan pesan-pesan akhir. Inilah pesan raja Daud kepada Salomo: “Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, dan supaya Tuhan menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.” (1Raj 2:2-4).

Raja Daud memiliki kuasa dan wibawa sebagai seorang pemimpin.Tetapi di dalam keluarga, dia tetaplah seorang ayah yang baik. Perhatikan nasihat-nasihatnya begitu sederhana dan mendalam supaya Salomo dapat menjadi anak yang baik, saleh di hadapan Tuhan. Meskipun pada akhirnya Salomo menjadi tidak setia karena tidak mengikuti dengan baik nasihat Daud. Tetapi yang terpenting adalah Daud tetaplah sosok ayah yang hebat.

Apakah anda seorang ayah yang hebat? Apakah anda memiliki seorang ayah yang hebat? Yah, ayah tetaplah sosok yang hebat. Tidak pernah ada ayah yang tidak hebat. Dia akan tetap menunjukkan karakternya sebagai ayah yang hebat. Maka mari kita mencintai ayah kita. Bagi yang sudah pergi ke rumah Tuhan, mari kita mendoakannya supaya tetap menjadi sosok ayah yang tak tergantikan dalam hidup ini. Bagi yang masih hidup mari kita dukung dengan doa-doa kita. 

Saya mengakhiri refleksi ini dengan sebuah puisi tentang ayah: 

Untukmu Ayahku

Di keheningan malam..
Datang secercah harapan…
Untuk menyambut jiwamu datang…
Sebercik harapan agar kau kembali pulang..
Hanya sepenggal kata bijak yang bisa kutanamkan…
Duduk sedeku, tangan meminta, mulut bergoyang, jatuh air mata…
Tapi apalah daya..
Semua harapan hilanglah sirna..
Karena kau telah tiada..
Ayahku tercinta..


Tuhan memberkati kita semua,

P. John Laba, SDB