Thursday, January 15, 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa I

1Sam. 4:1-11

Mzm. 44:10-11,14-15,24-25

Mrk. 1:40-45

 

Tuhan, semoga engkau menyembuhkanku

 


Selama lebih kurang dua tahun saya mengalami kesulitan untuk melihat. Saya berusaha memeriksa mata saya di klinik mata dan mendengar pendapat dokter yang sangat variatif: mata saya kabur karena kelelahan akibat memaksa mata di depan laptop dan HP, ada katarak di kedua bola mata, ada kecurigaan bahwa bisa jadi ada tumor di kepala dan yang paling ekstrim adalah ada tanda glucoma karena tekanan bola mata saya saat itu sampai 21. Tentu saja saya berterima kasih kepada para dokter yang sangat concern dengan mata saya. Pasutri muda Fiefie dan Ricco juga sangat concern dengan mata saya maka mereka mengajak saya untuk memeriksa mata saya di Island Hospital, Penang, Malaysia bersama Dokter Andrew. Hasil pemeriksaannya adalah bahwa mata saya kabur karena faktor usia (saat ini 55) maka biji mata saya mudah kering dan mulai ada katarak yang menggangu penglihatan saya. Saya pun diberi obat tetes hialid 0,1 dan siap untuk operasi katarak di sana. 

 

Operasi katarak kedua bola mata saya sudah dilakukan bersama dokter Andrew pada tanggal 4 dan 5 Desember 2025 yang lalu, sekalian memasang lensa progresif di kedua mata sehingga saya berpisah dengan kacamata setelah empat puluh tahun. Pada saat persiapan operasi katarak, saya benar-benar larut dalam doa dan permenungan tentang dialog antara orang buta dan Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas: “Apa yang kamu mau Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, tolonglah supaya saya bisa melihat kembali.” Yesus berkata kepadanya, “Kalau begitu melihatlah! Karena kamu percaya penuh kepada-Ku, sekarang kamu bisa melihat.” (Luk 18: 41-42). Saya percaya dan mengamininya. Operasi berjalan dalam waktu yang sangat singkat pada tanggal 4 dan 5 Desember dan tanggal 6 Desember sore saya diijinkan untuk kembali ke Jakarta dengan Batik Malaysia, selanjutnya pada tanga 7 Desember saya melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Hingga saat ini saya tidak merasa kesulitan apapun pasca operasi katarak. Tuhan sungguh baik bagiku.

 

Saya menceritakan pengalaman pribadi ini untuk menyadarkan kita tentang pergumulan hidup pribadi kita di hadirat Tuhan. Ketidakmampuan untuk melihat atau katakanlah orang buta pasti mengalami pengalaman yang sama dengan orang kusta tanpa nama di dalam Injil hari ini. 

Orang kusta pada zaman Yesus itu tidak dianggap setara dengan manusia yang lain. Kalau berjalan di jalan umum ia harus berpakaian compang camping, rambutnya tidak terurus dan harus berteriak dengan suara lantang bahwa dirinya adalah seorang kusta. Semua orang lari meninggalkan si kusta meskipun selalu mengulangi kata ‘sesama manusia’. Orang kusta dalam Injil hari ini memang agak lain. Ia yang berani dan tanpa merasa malu datang kepada Yesus, berlutut sebagai tanda kerendahan hati dan penyembahannya, lalu meminta untuk disembuhkan. Inilah doa dari si kusta: ‘Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. 

 

Reaksi Yesus sungguh luar biasa. Ia memandang si kusta yang dijauhi sesama manusia, hati Yesus pun tergerak oleh belas kasihan, mengulurkan tangan-Nya yang kudus, menjamah orang kusta ini dan berkata kepadanya: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir’. Orang kusta yang beriman dan berani memohon pertolongan Tuhan Yesus itu menjadi sembuh seketika. Tuhan Yesus sendiri tidak terjangkit kusta, hanya sesama manusia yang takut terjangkit kusta. Tuhan Yesus tidak sombong karena bisa menyembuhkan si kusta. Ia hanya berkata: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." (Mrk 1:44). Meskipun demikian Yesus tetap diviralkan oleh si kusta sebagai tanda syukur atas kesembuhannya di hadirat Tuhan. 

 

Kisah pengalaman pribadi saya dan kisah si kusta di dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita semua bahwa sakit penyakit akan dialami oleh semua orang bahkan pengalaman yang tragis pun dapat dialami oleh siapa saja. Orang yang dekat dengan Tuhan seperi imam Eli di Silo dalam bacaan pertama, yang siang dan malam melayani Tuhan saja mengalami peristiwa tragis: Tabut Perjanjian diangkat dari Silo, kedua anak imam Eli yakni Hofni dan Pinehas mati dibunuh dengan tragis di samping para prajurit yang berguguran melawan bangsa Filistin. Saya sebagai seorang imam, yang setiap saat membaktikan diri kepada Tuhan dan sesama juga mengalami pergumulan dalam sakit penyakit tertentu seperti yang dialami si kusta dalam Injil. Hal terbaik adalah percaya kepada Tuhan, tekun dalam doa dan Tuhan akan melakukan yang terbaik di dalam hidup pribadi masing-masing.

 

Pada akhirnya saya mau mengucapkan rasa terima kasih saya kepada Tuhan Yesus yang menyembuhkan saya melalui para dokter yang luar biasa: Dokter Riky, Dokter Martin, Dokter Yulius dan Dokter Andrew. Terima kasih para saudari dan saudara yang dengan caranya sendiri menolongku para saudari dan saudaraku nun jauh di sana, Fiefie dan Ricco, Iin-Asiong, Ida, Lia, Ricka, Ira, Marie, Greece, keluarga besar kedua kombas Leopold di Lipo dan Citra, mas Bro Hadinata seorang boss yang setia menjadi driver dan kedua saudaraku P. Anto dan P. Adi di SDB Pontianak dan semua yang namanya tidak saya sebutkan di sini. Kalian semua luar biasa karena memiliki andil besar bagiku untuk melihat kembali. Bless you all.

 

P. John Laba, SDB

Thursday, January 1, 2026

HARI RAYA SP. MARIA BUNDA ALLAH

Bil. 6:22-27

Mzm. 67:2-3,5,6,8

Gal. 4:4-7

Luk. 2:16-21

 

Membangun Relasi dengan Bunda Maria

 


Mengawali tajun 2026 ini saya mengutip sebuah doa sederhana dari Santa Faustina ini: 

“Untuk lebih layak memuji rahmat Tuhan, kami semua bersatu dengan Bunda Suci-Mu, sehinga nyanyian kami akan lebih berkenan kepada-Mu, sebab Dia telah dipilih di antara manusia dan malaikat. Melalui Dia, seperti melalui kristal yang murni, rahmat-Mu disampaikan kepada kami. Melalui Dia, manusia menjadi berkenan kepada Allah; Melalui Dia, mengalirlah segalah rahmat kepada kami.” 

Maria sebagai Bunda Allah adalah penyalur Rahmat Tuhan sehingga membuat semua orang mengaguminya. Apakah hanya sebatas mengaguminya saja? Ternyata belumlah cukup untuk mengagumi Bunda Maria. Saya teringat pada Paus Fransiskus yang pernah berkata: 

“Kita tidak hanya “mengagumi” Bunda Maria… dengan kelembutan dan kekaguman. Kita juga diminta untuk ‘meniru’ teladannya agar keindahan Allah dapat bersinar di bumi berkat banyak “ya” yang terus diucapkan oleh kaum pria dan wanita hari ini, mengikuti teladan dan perantaraan Maria, Yang Tak Bernoda”.

 

Kita mengawali tahun baru 2026 ini setelah melewati sebuah peziarahan yang panjang selama tahun 2025 dengan penuh harapan. Kita akrab dengan sebutan Tahun Yubileum. Memang ada harapan-harapan kita yang terpenuhi, ada juga harapan-harapan yang belum terpenuhi. Mungkin hal ini mengecewakan kita semua yang mengalaminya, namun ingatlah bahwa Tuhan selalu memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Pikirkanlah kembali bahwa orang-orang yang menantikan kedatangan Mesias juga merasakan kerinduang yang luar biasa. Bunda Maria dan Santu Yusuf adalah dua sosok yang memiliki kerinduan saat menantikan kedatangan Yesus sang Mesias. Kerinduan mereka digenapi sebagaimana diungkapkan dengan sangat jelas oleh St. Paulus dalam tulisannya ini: “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4). Dialah Yesus Kristus Tuhan yang menjadi utusan untuk menebus dunia sehingga melalui Roh-Nya kita pun ikut menyapa Allah sebagai Bapa (Gal 4:5-6). Tentu saja perkataan santo Paulus ini tidak bisa dipisahkan dengan relasi yang mendalam dengan Maria sebagai bunda Yesus.

 

Santu Lukas dalam perikop Injil hari ini, memberikan sebuah kesaksian yang sangat penting bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh dilahirkan oleh Bunda Maria sehingga ia disebut sebagai Bunda Allah. Para gembala adalah orang-orang sederhana  yang ikut mendengar bahwa Yesus sebagai sang Penyelamat dunia sudah lahir di Bethlehem. Para gembala ini patuh pada pesan Tuhan melalui malaikat untuk pergi ke Bethlehem. Mereka menemukan Maria dan Yusuf serta Bayi yang dibaringkan di dalam palungan. 

 

Sekarang, perhatikan baik-baik bunyi kesaksian santo Lukas ini: para gembala yang sederhana itu datang ke Bethlehem. Pribadi pertama yang mereka lihat adalah Maria, kedua adalah Yusuf dan ketiga adalah Bayi yang terbaring di dalam palungan (belum ada nama). Ia belum diberi nama karena nantinya Yusuf dan Maria akan menamai bayi itu Yesus pada saat Ia disunat pada hari kedelapan dan sesuai dengan perkataan Malaikat Gabriel. Di sini, Tuhan memiliki cara untuk menyadarkan kita: Ia menampilkan Maria, sang pilihan Tuhan yang mengandung dan melahirkan Yesus, Yusuf yang menjadi Bapak Pemelihara dan Yesus sang Anak Allah ditempatkan di urutan ketiga, belum diberi nama, namun hanya disebutkan ‘Bayi’ untuk menyatakan Allah yang merendahkan diri sehingga manusia memiliki martabat baru sebagai Anak Allah. Apakah Maria membuat heboh karena menjadi Bunda dari Anak Allah? Tidak! Lukas bersaksi: “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19).

 

Kelahirang Yesus menyebabkan kelahiran pewarta-pewarta sederhana yakni Bunda Maria, Yusuf dan para Gembala tanpa nama. Kesaksian para Gembala khususnya, sangat sesuai dengan kisah kelahiran Yesus yang diceritakan oleh para Malaikat di Padang Gurun. Kisah ini tentu tidak lepas dari sosok Maria dan Yusuf sebagai orang tua Yesus. Lebih khusus lagi Maria sebagai Bunda Allah karena dialah yang mengandung dan melahirkan Yesus sang Anak Allah.

 

Kelahiran Yesus dari Rahim santa Perawan Maria menjadi sebuah Injil kehidupan bagi kita semua. Kelahiran Yesus sebagai Immanuel, membawa pesan sukacita sebagaimana sudah disabdakan Tuhan di dalam Kitab Bilangan melalui Musa: 


“Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai Sejahtera” (Bil 6: 24-26). 


Tuhan melakukan segala sesuatu secara sempurna di dalam Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria. Dia menjadi Bunda Allah, bunda kita semua.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan? 

 

Kita perlu belajar untuk menata relasi kita dengan Bunda Maria sebagai Bunda Allah. Kita mengikuti teladan kekudusannya, kebajikan-kebajikannya dan tidak pernah lelah untuk menyapanya ‘Salam Maria” sepanjang hidup kita. 


Saya menutup homili ini dengan doa kepada Bunda Maria dari santa Theresia dari Kalkuta:


 “Maria, Bunda Yesus, berikanlah kepadaku Hati-mu yang begitu indah, begitu murni, begitu Tak Bernoda, begitu penuh cinta dan kerendahan hati, agar aku dapat menerima Yesus dalam Roti Kehidupan, mencintai-Nya sebagaimana engkau mencintai-Nya, dan melayani-Nya sebagaimana engkau melayani-Nya, dalam rupa yang menyedihkan dari orang-orang miskin yang paling miskin. Amin”.

 

P. John Laba, SDB

Wednesday, December 31, 2025

 Hari Rabu 31 Desember 2025

Oktaf Natal

1Yoh 2:18-21

Mzm 96:1-2.11-12.13

Yoh 1:1-18

 

Waktu yang terakhir

 

Saya selalu mengenang sosok seorang bapak dan sahabat yang selalu bertekun di dalam hidupnya. Saya menjumpainya pada saat misa pagi di Gereja. Dia  selalu hadir, kecuali ada alasan khusus seperti ia sedang sakit atau ia ke luar kota. Saya lalu memberanikan diri untuk menyapanya dan bertanya kepadanya mengapa ia selalu hadir mengikuti misa harian dan misa hari Minggu di Gereja. Dia dengan senyum khasnya memandangku dan berkata: “Pater John, saya adalah seorang pensiunan dari sebuah Perusahaan besar dan oernah merasa jauh dari Tuhan. Pada saat ini saya ingin mengisi sisa hidup ini dengan hadir aktif di Gereja, mengikuti perayaan Ekaristi Harian, mendengar Sabda Tuhan dan menerima Komuni Kudus. Semua ini saya lakukan dengan kesadaran bahwa ini adalah hari terakhir bagi saya, misa terakhir bagi saya dan komuni kudus terakhir bagi saya”. Saya menatapnya dan membalas senyumnya sambil merenung sejenak: “Saya bukan lagi seorang imam muda. Hampir dua puluh lima tahun berziarah sebagai imam dan memasuki tahun ke tiga puluh tujuh di dalam komunitas Salesian Don Bosco namun saya belum sempat berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir bagiku, namun bapa yang menjadi sahabat itu mengajarku untuk merasakan bahwa setiap hari adalah hari terakhir dan saya harus siap untuk menghadapinya sebagai hari terakhirku.” 

 

Pengalaman sederhana ini membuka wawasan saya untuk selalu memikirkan perjalanan hidup harianku sebagai hari terakhir. Saya berusaha dengan segala kelemahan manusiawiku yang ada dan segala kelebihan sebagai rahmat Tuhan untuk berbuat baik dan menyenangkan hati Tuhan. Di mana ada kelemahan manusiawiku, saya menyadari diri dan berusaha untuk membenahi diri dan menjadi lebih baik lagi karena saya percaya bahwa Tuhan tetap memberi kesempatan bagi saya untuk memulai lagi hidup baru. Ada kesulitan, ada tantangan tetapi selalu ada Tuhan yang membarui segala sesuatu.

 

St. Yohanes dalam suratnya sangat memberi peneguhan kepada kita semua. Ia dengan penuh kasih menyapa kita sebagai ‘anak-anakku’. Sapaan seorang bapa yang baik karena dia adalah murid kesayanagan Tuhann Yesus. Inilah perkataan yang menguatkan kita: “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir” (1 Yoh 2:18). Perkataan tentang waktu yang terakhir membuat kita membenahi hidup kita karena ada tantangan, kesulitan yang kita hadapi. Yohanes menulis: “seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir” (1Yoh 2:18). Waktu yang terakhir adalah waktu yang menyadarkan kita pada tantangan-tantangan duniawi atau dengan meminjam perkataan Yohanes ‘Anti Kristus’. Anti Kristus adalah pribadi yang menyangkal Yesus Kristus. Orang yang masuk kategori anti Kristus adalah mereka yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah, atau bahwa Dia datang dalam daging (sebagai manusia saja).

 

Di dalam Media Sosial kita berjumpa dengan koor Anti Kristus karena yang sedang dicari adalah perpecahan bukan Persekutuan. Orang mengklaim mana yang paling benar, paling kudus bahkan tanpa sadar mencaci maki Tuhan Yesus dan ibunya santa Perawan Maria. Maka benar sekali ketika Yohanes mengatakan bahwa para Anti Kristus itu berasal dari antara kita namum mereka tidak sungguh-sungguh termasuk di antara kita (1Yoh 2:19). Kita diharapkan untuk menunjukkan kesetiaan kepada Kristus. Mengap akita perlu setia? Yohanes berkata: “Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya” (1Yoh 2:20). Yohanes menyampaikan semua ini di hari terakhir karena ‘tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran’ (1Yoh 2:21). 

 

Tuhan Yesus adalah Kebenaran sejati. Ia berkata: “Akulah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku “ (Yoh 14:6). Para Anti Kristus adalah mereka yang hidupnya seolah dekat padahal sebenarnya jauh dari Kristus sendiri. Yesus sendiri adalah Firma, Sabda hidup dan Kebenaran sejati. Yesus ada bersana-sama dengan Allah. Yesus menegaskan kembali: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Yesus sebagai Sabda atau Firman bersatu dengan Bapa. Dalam prolog Injil Yohanes dikatakan: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1: 4-5). 

 

Di hari yang terakhir ini, kesadaran kita ditata kembali. Ada kegelapan yang kita alami namun masih ada terang yang menguasai kegelapan. Dialah Tuhan Yesus sendiri sebagai Terang Dunia (Yoh 8:12). Dialah yang kita imani sebagai ‘Sabda yang menjadi Dagung dan tinggal di antara kita’ (Yoh 1:14). Tuhan rela menjadi manusia dan tinggal bersama kita maka transformasi diri itu memang penting dan harus kita lakukan mulai dari diri kita sendiri, mulai saat ini juga.

 

Di hari terakhir ini mari kita menundukkan kepala di hadirat Tuhan karena betapa lemah, gelapnya hidup kita. Namun kita juga harus berani mengangkat kepala dan berseru kepada Tuhan untuk segera datang dan menolong kita semua. Selamat Tinggal 2025 dan selamat datang 2026. Maaranatha!


P. John Laba, SDB

 

Tuesday, December 30, 2025


Memikirkan yang terlalu berlebihan

 

Hanoin demais liu. Demikian sebuah ungkapan yang selalu saya dengar ketika masih bermisi di bumi Loro Sae. Perkataan ‘hanoin demais liu’ berarti ‘memikirkan sesuatu yang terlalu berlebihan’. Perkataan singkat ini berlaku umum bagi setiap orang sepanjang zaman. 

Setiap orang tentu selalu memikirkan tentang dirinya sendiri dan sesama yang ada disekelilingnya, apakah baik atau tidak baik, bahagia atau tidak bahagia. Para orang tua misalnya, selalu memikirkan masa depan anak-anaknya, bukan hanya ketika mereka masih usia dini, tetapi juga ketika anak-anak sudah memasuki usia dewasa dan lebih lagi belum mendapat pasangan hidup. Anak-anak merasa tenang dan menikmati masa mudanya, orang tuanya yang pusing dan merasa terpukul ketika menyaksikan orang tua lain menggendong cucunya. Para suami dan istri sering ‘hanoin demais liu’ dengan pasangan hidupnya dan berujung pada saling mencurigai dan berkelahi di antara mereka.

 

Dalam peziarahan panjang selama tahun 2025 ini berapa kali anda dan saya jatuh dalam demam ‘hanoin demais liu’ terhadap diri sendiri dan sesama. Berapa kali kita tertekan dan kecewa dengan diri sendiri, kecewa dengan sesama yang ada di sekitar kita? Berapa kali kita berpikiran yang berlebihan sehingga sulit untuk membuka diri dengan sesama? Komunikasi antar pribadi stop total karena ‘hanoin demais liu’. Kalau saja kita berani bereksodus dari diri kita sendiri dan membuka diri dengan sesama maka tentu cerita hidup masing-masing kita saat ini akan indah dalam perbedaan.

 

Saya menemukan gambar seekor kucing dan seorang anak yang duduk bersama sambil memandang ke depan. Perhatikan tatapan mereka, lalu ingatlah diri anda saat ini. Apakah tatapanmu seperti anak kecil atau seperti kucing? Lalu bacalah tulisan inspiratifnya: 

 

“Hidup itu tidak akan mudah ketika anda sendiri memiliki pikiran yang berlebihan di kepalamu dengan hati yang sensitif”

 

Menjelang akhir tahun 2025 ini, mari kita berbenah diri sejenak. Paling kurang ‘hanoin demais liu’ menghilang sejenak dalam diri kita. Akhirilah tahun 2025 ini meskipun dengan keluhan umum ‘batuk pilek” yang sedang menguasaimu dengan hati yang tenang. Kalau tidak tenang sekarang lalu kapan lagi anda mau tenang? Mau tetap ‘hanoin demais liu?’ 

 

Salam dan berkat Tuhan.

 

P. John Laba, SDB

Sunday, November 30, 2025

 Hari Minggu Adven I/A

Yes. 2:1-5

Mzm. 122:1-2,4-5,6-7,8-9

Rm. 13:11-14a

Mat. 24:37-44

 

Harapan untuk bermawas diri

 

Kita semua mengenal istilah mawas diri. Mawas diri merupakan sebuah sikap di mana kita melihat, memeriksa, dan mengoreksi diri sendiri secara jujur untuk memperbaiki kesalahan dan mengembangkan diri menjadi lebih baik dan bahagia. Istilah mawas diri juga disebut sebagai introspeksi atau refleksi diri, di mana seseorang merenungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman pribadinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Mawas diri dan instrospeksi diri adalah sebuah harapan di dalam hidup kita. Tentu  saja hal ini sejalan dengan tema tahun Yubileum yang dimulai pada tanggal 24 Desember 2024 dan akan berakhir pada tanggal 6 Januari 2026 mendatang yakni “Peziarah Pengharapan”. Di sampin g itu kita sedang memasuki pekann pertama Adventus yang dikenal dengan pekan harapang dengan lilin ungu pertama yang dinyalakan bernama lilin nubuat para nabi karena para nabi dalam bernubuat telah memberi harapan akan kedatangan sang Mesias. Dialah Yesus Kristus, Jurus Selamat kita.

 

Pekan Adventus pertama sebagai sebuah pekan pengharapan sebab pengharapan tidak pernah mengecewakan (Rm 5:5). Banyak yang ber-porta sancta ria baik di dalam maun pun di luar negeri. Pertanyaannya adalah masih adakah harapan di dalam dirimu? Pertanyaan ini muncul karena situasi hidup kita yang nyata. Kita se ua tahun bahwa beberapa hari terakhir ini muncul di media sosial ‘Pray for Sumatera’ dan berbagai aksi penggalangan dana. Mata dan pikiran kita tertuju ke Sumatera. Di sana sedang terjadi bencana hidrometeorologi yang menghantam wilayah Sumatera karena diakibatkan oleh cuaca ekstrem yang dipicu oleh adanya Siklon Tropis Senyar yang terbentuk dari bibit Siklon Tropis 95B. Terdapat hujan deras ekstrem yang dipicu siklon ini menyebabkan banjir bandang di sejumlah wilayah tersebut. Banyak saudara yang kehilangan segalanya, nyawa sesama saudara di dalam keluarga dan juga hara benda yang mereka miliki. Banyak saudari dan saudara kita yang sedang mengalami kehilangan harapan karena pengalaman yang keras ini.

 

Kehilangan harapan memang sangat manusiawi, namun tidak dapat kita hindari. Banyak saudari dan saudara yang tidak pernah memikirkan bahwa dirinya akan mengidap penyakit tertentu yang menelan nyawanya sendiri. Berbagai kasus kekerasan, penipuan dan kehancuran dalam keluarga. Semua fenomena kehidupan yang membuat kita mudah kehilangan harapan. Maka sampai kapan kita tetap bertahan dalam pengalaman kehilangan harapan?

 

Masa Adven yang kita mulai hari ini mengajak kita untuk memiliki harapan, optimisme akan keselamatan dalam Yesus Kristus. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengisahkan tentang visinya akan masa depan yang penuh damai universal dan tatanan tatanan baru, di mana bangsa-bangsa akan berbondong-bondong ke Yerusalem untuk belajar mengenal Allah. Tatanan dunia baru yang penuh harapan itu ditunjukkan dengan hal praktis seperti senjata perang akan diubah menjadi alat-alat pertanian. Ini adalah pesan harapan dan panggilan untuk hidup sesuai dengan ajaran Allah, menjanjikan bahwa konflik akan berhenti, dan manusia akan belajar dari Allah untuk berjalan di jalan Tuhan. 

 

Santu Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan jemaat di Roma dengan pesan yang aktual hingga saat ini. Bagi santu Paulus, kita perlu sadar diri akan hidup dengan urgensi rohani dan integritas karena kedatangan Kristus sudah dekat. Ia mendorong kaum beriman di Roma saat itu untuk “bangun” dari tidur rohani, meninggalkan perilaku dosa (“perbuatan kegelapan”), dan “mengenakan Tuhan Yesus Kristus” dengan hidup dalam kekudusan dan terang. Ini berarti kita berusaha untuk meninggalkan kemaksiatan, keserakahan, dan sebaliknya kita hidup dengan integritas dan kasih.

 

Penginjil Matius dalam bacaan Injil hari Minggu ini bersaksi bahwa ajaran Tuhan Yesus tentang kedatangan-Nya yang kedua akan tiba-tiba seperti pada zaman Nuh dengan air bah yang menakutkan. Atau tuan rumah yang menjaga rumahnya dari ancaman pencuri. Tentu saja semua ini menekankan tentang perlunya berjaga-jaga dan siap sedia karena kedatangan-Nya akan terjadi pada waktu yang tidak terduga. Bagi Tuhan Yesus, dengan membandingkan saat itu dengan zaman Nuh, ketika orang-orang tidak menyadari datangnya air bah dan mereka akan dibawa untuk dihakimi dan yang lain ditinggalkan maka kita selalu siap sedia dan berjaga-jaga. Harapan baru adalah setiap pribadi harus mawas diri, mampu mengintrospeksi diri supaya layak menanti dan berjumpa dengan Yesus.

 

Mawas diri juga mengandaikan pertobatan radikal dalam hidup kita. Kita berani untuk meninggalkan hidup lama menjadi hidup baru yang penuh harapan. Tatanan dunia baru yang dikehendaki Tuhan perlu dan haruslah kita bangun bersama. Pesan Tuhan Yesus: “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari man Tuhanmu datang… Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24:42. 44). Mari kita mengisi pekan pertama dengan bermawas diri. Jangan memberi kesempatan untuk menghancurkan tatanan dunia yang baru yang penuh harapan akan kebaikan. Selamat memasuki masa Adventus. Santu Andreas, doakanlah kami. Amen.

 

P. John Laba, SDB

Saturday, November 8, 2025

Food For Thought:


Sepatu tua...


Akhir pekan telah tiba. Ada kesempatan untuk beristirahat sejenak sambil mensyukuri perjalanan selama sepekan  yang sudah berlalu. Tentu saja ini bukanlah perjalanan sendirian tetapi sebuah perjalanan bersama Tuhan dan sesama di sekitar kita. Ada pengalaman menyenangkan: syukur kepada Tuhan. Ada pengalaman mengecewakan: syukur kepada Tuhan. Hadapilah selalu dengan senyum. Pengalaman mengecewakan adalah guru kehidupan yang senantiasa mengajarkan transformasi radikal dalam hidup ini. Pengalaman mengecewakan seperti bekas luka, namun mengajar kita untuk berhati-hati.

Perjalanan anda dan saya swlalu penuh harapan. Sepatu atau sandal sebagai alas kaki kita juga berubah setelah menjaga kaki kita seiring dengan perjalanan waktu. Alas kaki bisa miring posisinya, terkikis karena bentuk telapak kaki yang tidak sempurna. Mungkin saja orang kurang menyadari bahwa alas kaki itu lama kelamaan menjadi tidak sempurna dan tidak indah lagi. Itulah perjalanan hidup kita masing-masing. Satu hal yang penting bagi kita adalah tetaplah berusaha untuk bertahan dan siap untuk maju dan maju lagi.


Sekarang perhatikanlah gambar ini. Sepatu ini mulanya begitu bagus dan indah kalau di pakai namun akhirnya menjadi seperti ini. Namun masih ada kebahagiaan. 


Inilah kutipan perkataan pada gambar ini:  


“Jalan yang telah kutempuh memang tidaklah mudah, namu aku masih berada di sini. Satu-satunya alasan mengapa aku masih berada di sini hari ini adalah karena Tuhan selalu berjalan bersamaku dalam setiap langkah bersama-Nya. Amin!”


Salam dan berkat Tuhan dan teruslah berjalan!


P. John Laba, SDB

Friday, November 7, 2025

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXXI/C

Rm. 15:14-21

Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4

Luk. 16:1-8

 

Pelayan bukan sekedar Pelayanan

 


Adalah St. Theresia dari Kalkuta. Orang kudus modern ini pernah berkata: “Buah keheningan adalah doa. Buah doa adalah iman. Buah iman adalah cinta. Buah cinta adalah pelayanan. Buah pelayanan adalah damai." Mari kita coba untuk fokus saja pada perkataan ‘pelayanan’. Dikatakan bahwa buah doa adalah pelayanan dan buah pelayanan adalah damai. Pertanyaannya adalah apakah kita tahu berdoa? Atau mengikuti perkataan santu Yakobus dalam yang menulis di dalam suratnya: “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu" (Yak 4:3). Ketika kita berdoa dan seakan memaksa Tuhan maka tidak akan ada cinta yang membuahkan pelayanan. Dengan demikian tidak akan menghasilkan kedamaian dalam hati. Mungkin juga sambil berdoa kita mengumpat sesama yang lain dan kita menjadi sombong secara rohani. Akibatnya kita tidak memiliki kedamaian di dalam hati.

 

Pada hari Jumat pertama ini, santu Paulus mengingatkan kita untuk sadar diri, bahwa bukan hanya kita dapat menepuk dada dan bersembunyi di belakang kata ‘pelayanan’ saja tetapi kita sendiri tidak menjadi pelayan sejati. Santu Paulus berkata: “Aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah”. (Rm 15:16-17).

 

Santu Paulus dalam perikop kita di bacaan pertama ini menegaskan bahwa ia mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi dan dorongannya bagi orang Kristen untuk saling mendukung dalam pelayanan ini. Ia mengungkapkan keyakinannya akan kemampuan orang-orang beriman di Roma untuk saling mengajar dan menjelaskan panggilannya untuk memberitakan Injil kepada mereka yang belum pernah mendengarnya sebelumnya, dengan tujuan menyebarkan berita sukacita ke seluruh dunia. Ia ingin menjadi pelayan bagi bangsa non-Yahudi, memperkenalkan mereka kepada Allah. Santu Paulus menjadi pelayan bukan hanya sekedar melakukan pelayanan. 

 

Di dalam Gereja ada begitu banyak kelompok kategorial. Ini menandakan bahwa Gereja sungguh hidup. Ada orang yang mengatasnamakan ‘pelayanan’ dan selalu hadir di Gereja sampai lupa memperhatikan keluarganya sendiri. Ada anak-anak yang terlibat narkoba karena kurang perhatian dari orang tua yang aktif dalam pelayanan. Ada juga yang pernah aktif dalam pelayanan namun kini memilih untuk menjadi pasig seribu persen karena luka bathin atau tidak sempat mendapat jempol dari gembala atau koordinatornya. Hal ini menunjukkan bahwa orang hanya berbicara tentang pelayanan tetapi pribadinya bukan sosok seorang pelayan. Tuhan Yesus tidak pernah berkata tentang pelayanan tetapi Dia menunjukkan diri-Nya sebagai seorang pelayan. Ia sendiri dengann tegas berkata: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat 20:28). 

 

Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita semua untuk menjadi bijak dan cerdik menuju keselamatan abadi. Kita diharapkan menggunakan berbagai sumber daya duniawi dengan hikmat dan cerdik untuk tujuan rohani yang kekal. Ia menggunakan perumpamaan tentang seorang bendahara yang tidak jujur ​​yang dengan cerdik mengurangi utang demi mendapatkan perkenanan untuk masa depannya. Perumpamaan ini diajarkan Tuhan Yesus kepada kita bahwa kita harus sama-sama berhati-hati dalam menggunakan sumber daya yang diberikan Allah kepada kita berupa uang, waktu dan talenta untuk membangun hubungan di dalam kerajaan Allah, yang akan menghasilkan kebahagiaan kekal. 

 

Dalam menjalani hidup sebagai pelayan, kita sadar diri untuk menggunakan kekayaan dengan tujuan kekekalan. Artinya bahwa “kekayaan yang tidak diperoleh dengan benar" di dunia ini seharusnya digunakan untuk "memperoleh teman" di surga dengan bersikap murah hati dan melayani orang lain, sehingga ketika kita meninggal, kita akan disambut di tempat tinggal yang kekal. Ini adalah sebuah kebijaksanaan yang sederhana sebagai pelayan.

 

Saya menutuup homily hari ini dengan mnegutip perkataan dari Marti Luther King, sang pejuang hak asasi manusia di Amerika tempo doeloe: “Tidak semua orang bisa menjadi terkenal namun semua orang bisa menjadi hebat, karena kehebatan ditentukan oleh pelayanan”. Orang hebat karena menjadi pelayan bukan sekedar pelayanan.

 

P. John Laba, SDB