Monday, March 26, 2012

Homili HR Maria Menerima Kabar Sukacita

Yes 7:10-14;8:10
Mzm 40:7-8a.8b-9.10.11
Ibrani 10:4-10
Luk 1:26-38

Kabar Sukacita buat Maria

Hari ini kita merayakan Hari Raya Maria menerima Kabar Sukacita. Biasanya Hari Raya Bunda Maria menerima Kabar Sukacita dari Malaikat Gabriel dirayakan setiap tanggal 25 Maret. Tetapi pada tahun ini perayaannya bersamaan dengan Minggu Sengsara atau Hari Minggu pekan Prapaskah ke- V sehingga diundur pada hari ini.

Perayaan Hari Raya Bunda Maria menerima Kabar Sukacita dari Tuhan melalui Malaikat Gabriel membawa kita kepada permenungan yang mendalam tentang Misteri Inkarnasi Putera Allah. Logos (Sabda) yang dari kekal adalah Allah Bapa sendiri menjadi dekat dengan manusia, sama seperti manusia dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam banyak agama, pemahaman tentang Allah itu sangat berbeda dengan pemahaman Kristiani. Bagi mereka, Allah itu sempurna dan kudus maka Dia sangat jauh. Dia berbeda dengan manusia yang berdosa. Manusia justru memerlukan keselamatan dariNya.

Di dalam pandangan kristiani,  Allah itu dekat dengan manusia. Dia adalah imanuel, artinya Allah beserta kita. Dalam diri Yesus, sang Logos yang menjelma menjadi manusia. Dalam Yesus, Allah juga  menunjukkan diriNya: “Meskipun Allah, Dia rela menjadi manusia dengan merendahkan diriNya bahkan Ia wafat di kayu salib” (Flp 2:8). Perayaan Kabar Sukacita menjadi perayaan penebusan manusia. Allah mencari seorang manusia yakni seorang wanita sesuai kehendakNya untuk dijadikanNya Bunda Yesus sang Putera. Maria menjadi bagian dari rencana keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan dan Dia juga menjadi model bagaimana kita dapat menerima Tuhan di dalam hidup kita.

Nabi Yesaya berusaha untuk mempersembahkan kepada raja Ahaz suatu tanda yang dapat memberi kesaksian tentang pendampingan atau penyertaan Tuhan yang terus menerus kepada manusia. Tetapi raja menolak karena dia lebih memahami perjanjian politik yang semata-mata berasal dari logika manusia dari pada ilahi. Ahaz berkata kepada Yesaya: “Aku tidak mau minta! Aku tidak mau mencobai Tuhan!” Maka Yesaya dengan tegas mengatakan kepadanya tentang sebuah tanda dari Tuhan: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia imanuel, artinya Allah berserta kita”

Nubuat nabi Yesaya menjadi sempurna dalam Injil. Sikap raja Ahaz adalah dia tidak percaya karena dia masih sibuk dengan pemikiran bahwa tanda dari Tuhan itu dapat mengubah semua rencananya sebagai raja.  Berbeda dengan Maria, ia mulanya ragu karena belum bersuami tetapi sikapnya berubah ketika ia berusaha mentaati kehendak Allah: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu”. Sikap Maria inilah yang harus kita ikuti yakni kemampuan untuk menerima Tuhan di dalam hidupnya. Menerima Tuhan berarti membiarkan Tuhan berkarya dalam diri kita. Dia tidak menghapus kebebasan kita tetapi Dia justru menyempurnakan hidup kita.

Sikap Maria yang menerima tawaran kasih Allah ini membuatnya penuh rahmat. Hidupnya dipenuhi oleh kasih Tuhan. Pengalaman Bunda Maria dapatlah menjadi pengalaman kita ketika dengan terbuka kita membiarkan Tuhan berkarya dalam diri kita. Biarkan Dia membuat pikiran dan perasaan kita menyerupai pikiran dan perasaanNya dan sikap hidup kita selalu mengikuti logika Injil.

Tuhan memiliki rencana untuk menyelamatkan manusia. Dalam Perjanjian Lama kita diingatkan pada rencana Tuhan yang membimbing para Bapa bangsa seperti Abraham, Ishak dan Yakob. Ia juga membimbing Bangsa Israel ke tanah yang Ia janjikan. Dia mengikat mereka dengan Perjanjian yang dapat diperbaharuiNya secara terus menerus. Sejalan dengan rencana keselamatan ini maka tepatlah apa yang dikatakan penulis kepada umat Ibrani bahwa Yesus Kristus telah datang untuk menghapus kurban Perjanjian Lama yakni darah lembu jantan atau darah anak domba jantan dan menggantinya dengan Tubuh dan DarahNya sendiri. Ini adalah kehendak Bapa yang harus Dia taati.

Pada hari ini mata kita semua memandang Maria, seorang wanita sederhana dari Nazaret. Apakah ada sesuatu yang indah dari Nazaret? Yah, ada yang indah dari sana yakni Maria Bunda Yesus. Dia yang mengatakan “Terjadilah padaku menurut kehendakMu”. Dia yang dihormati, diberikan berbagai gelar sehingga membuat namanya tetap disalami setiap hari: “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati”, Amin.

PJSDB

No comments:

Post a Comment