Thursday, September 3, 2026

Homili 3 September 2026 - Peringatan St. Gregorius Agung

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXIIA

Peringatan Wajib St. Gregorius Agung

1Kor 3:18-23

Mzm 24: 1-2. 3-4ab.5-6

Luk 5: 1-11

 

Belajar menjadi hamba dari para hamba Allah

Pada hari ini kita mengenang kembali santo Gregorius Agung. Santo Gregorius Agung adalah Paus dan orang Kudus yang istimewa karena beliau adalah seorang biarawan sederhana yang terpilih menjadi Paus yang transformatif, seorang Pujangga Gereja dan pendiri Kepausan pada abad pertengahan. Ada beberapa kontribusi dari santo Gregorius Agung bagi Gereja yang diingat sampai sat ini yakni, pertama, Konsep Paus sebagai Hamba dari Hamba-hamba Allah (Servus Servorum Dei). Beliau mempopulerkan gelar terkenal ini untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada kerendahan hati dan melayani sesama. Kedua, nyanyian atau lagu Gregorian. Beliau membantu mengatur dan mengembangkan musik liturgi suci, yang dinamakan nyanyian atau lagu Gregorian untuk menghormatinya. Ketiga, Penginjilan di Inggris. Beliau mengutus Santo Agustinus dari Canterbury dan sekelompok biarawan untuk me mpertobatkan rakyat Inggris menjadi Pengikut Kristus. Keempat, Kepedulian terhadap Kaum Miskin. Beliau menggunakan dana gereja dan kas kepausan untuk memberi makan orang-orang yang lapar, merawat orang-orang yang membutuhkan, dan mengelola krisis publik selama wabah penyakit dan kelaparan. Kelima, Karya Tulis dan Doktrin. Sebagai salah satu dari empat Bapa Gereja Latin yang agung, ia menulis teks-teks berpengaruh tentang pastoral dan moral yang membentuk spiritualitas abad pertengahan. Nama Grergorius selalu dikenang sepanjang masa.

Pada hari ini kita mendengar kisah lanjutan tentang Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas. Dikisahkan bahwa pada suatu saat, Tuhan Yesus berdiri di pantai danau  Genazaret atau Danau Galilea. Seperti biasa, orang-orang mengerumuni Yesus untuk mendengarkan Sabda Allah. Tuhan Yesus melihat dua perahu di tepi pantai, salah satu perahu itu adalah milik Simon Petrus. Mereka adalah nelayan-nelayan sederhana yang sedang membasuh jala mereka. Tuhan Yesus naik ke atas perahu Simon dan menyuruhnya untuk menolak perahu itu sedikit jauh dari pantai.  Ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar mereka.Pantai sehingga Dia lebih leluasa mengajar orang banyak yang mengerumuni-Nya. Setelah selesai mengajar, Ia menyuruh Simon untuk duc in altum, artinya bertolak lebih dalam untuk menebarkan jala dan menangkap ikan.

Simon dan teman-temannya pasti merasa heran dengan Yesus. Sudah semalam suntuk mereka tidak mampu menangkap ikan, lalu sekarang Yesus yang bukan seorang nelayan tulen seperti mereka, menyuruh mereka untuk menebarkan jala supaya menangkap ikan. Simon dan teman-temannya memang mengandalkan pengalaman manusiawinya sedangkan Tuhan Yesus menunjukkan kuasa Ilahi-Nya. Pengalaman manusiawi sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa kalau Tuhan tidak ikut terlibat dalam pengalaman mereka itu. Hal yang menarik perhatian mereka adalah kerendahan hati dan ketaatab kepada kehendak Tuhan. Simon Petrus berkata: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:5). Buaha dari ketaatan kepada kehendak atau perintah Tuhan Yesus adalah mereka menangkap ikan dalam kelimpahan. Bahkan mereka salng tolong menolong untuk mengangkut ikan yang jumlahnya banyak itu. Suara transformative diberikan oleh Simon kepada Yesus, namun Yesus  dengan tegas mengatakan: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." (Luk 5:10).

Perikop Injil hari ini sangatlah menarik perhatian kita. Perikop Injil ini men unjukkan seruan Yesus kepada Simon dan anak-anak Zebedeus untuk menjadi murid yang radikal. Di sini, Yesus membuktikan kuasa ilahi-Nya melalui berlimpahnya ikan yang ditangkap, ada ungkapaan keberdosaan manusiawi Simon, dan bagaimana Yesus mengubah status mereka sebagai nelayan biasa menjadi "penjala manusia," menginspirasi mereka untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti-Nya.

Hal-hal penting yang patut kita renung bersama berdasarkan perikop Injil hari ini adalah Pertama, Iman akan Kuasa Ilahi dari Tuhan Yesus. Ia menunjukkan kendali penuh atas alam semesta dengan menyediakan sejumlah besar ikan yang sangat banyak hingga mengoyakan jala setelah mereka tidak menangkap apa-apa. Kedua, ada kesadaran akan Dosa di hadirat Tuhan sehingga ada transformasi radikal. Simon dan teman-temannya melihat mukjizat ini sehiungga membuatnya Simon Petrus menyadari ketidaklayakannya sendiri, yang menyebabkannya berlutut di hadapan Yesus dengan penuh kekaguman. Ketiga, Ketaatan mengalahkan logika dan pengalaman manusiawi. Simon Petrus menaati Yesus dan menebar jala ke tempat yang lebih dalam meskipun pengalamannya sebagai nelayan profesional mengatakan kepadanya bahwa itu tidak masuk akal. Keempat, Panggilan untuk mengikuti Yesus. Yesus memberi tahu Petrus agar tidak takut, memberinya tujuan baru untuk membantu membawa orang kepada Tuhan, bukan hanya sekadar menangkap ikan.

Santo Paulus dalam Bacaan Pertama (1Kor 3:18-23) menegaskan bahwa orang beriman harus meninggalkan kesombongan duniawi dan perpecahan manusia, menyadari bahwa hikmat sejati berasal dari Allah. Para pemimpin manusia adalah pelayan dan bukan tuan, dan segala sesuatu adalah milik mereka yang milik Kristus. Pengalaman Paulus tentu sejalan dengan pengalaman Simon Petrus dan teman-temannya. Demikian juga Santo Gregorius Agung yang dengan jelas mengatakan bahwa dirinya adalah hamba dari para hamba Allah (Servus Servorum Dei). Kita belajar dari orang kudus yang setia kepada Kristus.

P. John Laba, SDB


No comments:

Post a Comment