Monday, October 26, 2026

Hidup dalam Cinta Kasih Seperti Kristus

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XXXA

Ef. 4:32  5:8

Mzm. 1:1-2.3.4.6

Luk. 13:10-17.


Seorang Misionaris Hidup dalam Kasih Seperti Kristus


Ada dua sosok inspiratif bagi para Misionaris. Pertama, Bunda Teresa (Santa Teresa dari Kalkuta). Beliau dikenal sebagai pendiri Missionaries of Charity atau Misionaris Cinta Kasih. Ia sering kali menekankan tentang pentingnya hidup dalam kasih dan kebaikan melalui Kristus, serta mengajarkan bahwa para pengikutnya juga dipanggil untuk mengenali dan melayani Yesus Kristus dalam diri orang-orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Sosok yang kedua adalah St. Francisca Cabrini. Beliau adalah seorang misionaris modern yang menulis tentang menyesuaikan diri dengan “kasih Yesus Kristus yang sejati, manis, dan lembut” sambil mewartakan kebenaran dengan penuh semangat. Kedua sosok Misionaris ini melakukan revolusi mental dalam hidup menggereja, khususnya dalam bermisi di tengah orang-orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. 


Pada hari ini, kita mendapat semangat baru melalui santo Paulus, sang Misionaris Agung dalam kelanjutan suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef 4: 32-5:8). Ia menasihati jemaat yang dilayaninya sebagai misionaris supaya mereka selalu bersikap ramah dengan sesama, penuh kasih sayang, saling mengampuni. Hal-hal ini memang selayaknya mereka lakukan karena Tuhan Allah sendiri sudah terlebih dahulu melakukannya bagi mereka dan kita yang membaca dan mendengarnya sat ini, melalui Kristus Putera-Nya. Santo Paulus juga menghimbau jemaat di Efesus untuk patuh kepada Allah sebagai anak-anak kesayangan Allah dan hidup dalam kasih seperti Kristus sendiri yang telah mengasihi bahkan mengorbankan diri-Nya untuk keselamatan kita semua. Di samping hal-hal positif ini, Paulus juga menghimbau jemaat di Efesus untuk menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan ‘kedagingan’ yang dapat menjerumuskan diri mereka ke dalam dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan mereka. Singkatnya, para pengikut Kristus menjauhi kegelapan dan hidup sebagai anak-anak terang.


Nasihat santo Paulus kepada jemaat di Efesus sangatlah bermakna dalam hidup sebagai misionaris saat ini, entah sebagai kaum berjubah ataupun sebagai misionaris awam. Kita semua dipanggil untuk membawa sekaligus mewartakan kasih Kristus yang sedang kita hayati secara pribadi dan bersama-sama dalam komunitas. Namun demikian, tantangan dalam bermisi adalah ‘kedagingan’ dalam pikiran, perkataan dan perbuatan dalam bermisi. Ini adalah warning dari santo Paulus bagi kita semua. Tetaplah semangat dalam bermisi.


P. John Laba, SDB