Tuesday, March 6, 2012

Karakter versus Reputasi


Karakter versus Reputasi

Setiap pribadi memiliki karakter yang berbeda-beda. Maka yang diharapkan adalah bagaimana setiap pribadi mengolah dirinya dengan baik sehingga mampu menguasai karakternya. Kadang orang lebih berfokus pada bagaimana mengejar reputasi dan mengabaikan karakter pribadinya.

Saya teringat pesan John Wooden seorang pemain dan pelatih anyar bola basket pernah berkata kepada para pemain basketnya:

"Be more concerned with your character than with your reputation, because your character is what you really are, while your reputation is merely what others think about you."

Nah, apa yang sedang anda pikirkan sekarang? Kenalilah dirimu, syukurilah apa yang lebih dan kurang. Dia yang memulai, Dia juga yang menggenapi.

PJ

Renungan 6 Maret 2012

Yes 1:10.16-20; Mzm 50: 8-9.16bc-17.21.23; Mat 23:1-12

Kasih dan pengampunan Tuhan tiada batasnya

Seorang ibu memangku anaknya yang berusia dua tahun. Ia mengajaranya banyak hal. Cara berbicara, cara makan dan minum, cara menyapa dan menyalami orang, cara membuat tanda salib. Sambil menunjukkan cara-cara yang baik, ia menitipkan pesan-pesan yang perlu dihindari yang berlawanan dengan segala sesuatu yang diajarkan. Memang kesempatan-kesempatan khusus dalam pendidikan anak sangatlah penting. Boleh dikatakan bahwa itu adalah waktu emas bagi anak untuk belajar berbuat baik dan menghindari perbuatan jahat.

Tuhan selalu menunjukkan kebaikanNya kepada manusia. Itu sebabnya Dia disebut Mahabaik. Yesaya memahami kebaikan Tuhan dan menyeruhkan pertobatan manusia di hadapanNya. Ia berseru: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mataKu. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik.”  Perbuatan-perbuatan baik yang perlu dilakukan adalah: “Usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam, belalah hak-hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda.”  Jadi melalui Nabi Yesaya Tuhan menghendaki pertobatan orang-orang berdosa dan wujud nyata pertobatan adalah pelayanan kasih kepada orang-orang kecil. Dengan demikian janji Tuhan akan pengampunan dosa adalah: “Sekali pun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kesumba akan menjadi putih seperti bulu domba”. Luar biasa kasih dan pengampunan Tuhan bagi manusia.

Pertobatan yang benar perlu menghindari sikap-sikap munafik sebagaimana dicontohkan Yesus tentang kemunafikan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka justru menggunakan posisi dan status social untuk melakukan perbuatan dosa melawan kasih terhadap sesama. Yesus mengatakan bahwa mereka menggunakan “kursi Musa” sebagai simbol pemangku Taurat yakni Musa untuk mengajar. Sayang sekali mereka hanya dapat mengajar tetapi tidak melakukannya. Pertobatan tidak hanya diungkapkan “Saya bertobat” tetapi dilakukan dalam perbuatan nyata. Orang perlu rendah hati di hadirat Tuhan sebagai Bapa yang baik dan kekal.


Pertobatan juga membuat orang memandang hanya kepada Tuhan. Bapa di surga adalah satu-satunya Bapa yang benar. Dialah yang menjadikan segala sesuatu untuk kita. Tuhan Yesus adalah Rabbi dan pemimpin kita kepada Bapa di Surga. Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup kita. Dialah Musa baru yang mengajar kita Jalan kepada Bapa. Yesus adalah segalanya bagi kita! Dialah satu-satunya penyelamat kita.


Betapa bahagianya hati kita ketika mengalami pengampunan. Ketika orang dengan ramah mengatakan kepada kita: “Aku mengampuni kesalahanmu. Aku memaafkan engkau saudaraku”. Dan lebih berbahagia lagi ketika Tuhan sendiri menunjukkan kerahimanNya dengan mengampuni dosa dan salah kita. Sakramen tobat dalam Gereja katolik menjadi tanda kita mengalami kemurahan hati dan kerahiman Tuhan. Apakah anda sudah menyadarinya? Apakah sakramen ini menjadi kebutuhan rohani kita? Apa pengalamanmu yang mengesankan tentang Sakramen Tobat? 


PJSDB 

Monday, March 5, 2012

Renungan 5 Maret 2012

Dan 9:4b-10;
Mzm 79: 8.9.11.13;
Luk 6: 36-38

Berani memohon ampun




Saya pernah terpesona mendengar seorang anak di atas pohon kelapa menyanyikan lagu: “Mohon ampun kami orang berdosa…” Saya lalu berpikir apakah dia memetik buah dari pohon kelapa milik mereka tanpa ijin orang tuanya atau sedang memetik buah kelapa milik tetangga kebun dan langsung memohon ampun dari Tuhan. Banyak hal yang saya pikirkan saat itu tetapi saya tetap terpesona karena anak ini berani mengatakan yang sebenarnya yaitu memohon ampun sebagai orang berdosa.

Pengalaman akan Allah selalu ditandai dengan kemampuan kita untuk memohon ampun hari demi hari akan perbuatan-perbuatan salah di hadiratNya. Untuk itu setiap pribadi perlu mengenal dirinya. Dia perlu menyelidiki bathinnya untuk mengetahui kelemahan dan dosa dan juga kelebihan yang dimilikinya sebagai anugerah dari Tuhan. Kalau memiliki kelemahan dan dosa maka perlu terbuka kepada Tuhan dengan datang ke hadiratNya dan memohon ampun. Nabi Daniel dalam nubuatnya menyatakan kerendahan hati dan memohon belas kasih Tuhan atas dosa dan salah yang sudah diperbuat. Dia percaya bahwa hanya pada Tuhan ada belas kasih dan pengampunan yang berlimpah. Manusia boleh memberontak dan tidak mau mendengarNya tetapi Dia tetap mengampuni dan berbelas kasih.

Pengalaman dikasihi dan diampuni oleh Tuhan hendaknya dilakukan juga terhadap sesama manusia. Yesus dalam Injil hari ini meminta kita untuk bermurah hati, tidak menghakimi dan tidak menghukum. Kita bermurah hati karena Bapa di surga juga murah hati. Kalau kita menghakimi atau menghukum maka hal yang sama juga akan kembali kepada kita untuk dialami secara pribadi. Maka yang hendak dimiliki oleh setiap pribadi justru kemampuannya untuk mengampuni dan melakukan perbuatan kasih.

Kemurahan hati (bhs Yunani: oiktirmon) merupkan sifat hakiki dari Bapa Surgawi. Yesus berkata: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6:36). Penginjil Matius mengungkapnya dengan cara lain. Yesus berkata, “Hendaklah kalian sempurna sebagaimana Bapamu di Surga sempurna adanya” (Mat 5:48). Penginjil Lukas menekankan  bahwa kesempurnaan Allah terletak pada kemurahan hatiNya. Bagi orang-orang Israel Yahve adalah dives misericordia atau Allah itu penuh dengan belas kasih dan besar setiaNya.

Masa prapaskah menjadi retret agung bagi kita untuk menghayati dengan saksama kemurahan hati Bapa surgawi. Menghayati kemurahan hati Bapa berarti membiasakan diri untuk memohon ampun dari Tuhan atas dosa dan salah yang sudah kita perbuat dan membiasakan diri untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Bagaimana kita memohon ampun dari Tuhan kalau kita sendiri tidak mau membagi pengampunan Tuhan dalam diri kita kepada sesama yang bersalah kepada kita? Orang yang rendah hati dapat memohon ampun dan mengampuni. Mampukah kita mengampuni?

PJSDB

Sunday, March 4, 2012

Homili Hari Minggu Prapaskah II/B


Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18
Mzm 116: (5-6)10. (12-14) 15.16-17.18-19 
Rm 8:31-34 
Mrk 9:2-10

Mendengar Yesus


Pada pekan pertama Prapaskah yang lalu, fokus perhatian kita adalah pada Sakramen pembaptisan yang telah kita terima dan bagaimana kuasa pembaptisan itu membuat kita mampu menolak kuasa iblis yang selalu menggoda kita. Pada pekan kedua Prapaskah ini, Sabda Tuhan akan memberi kekuatan kepada kita untuk mendengar Yesus. Mengapa mendengar Yesus? Karena Dia adalah Putra Tunggal Allah, Dialah yang dikasihi Allah. Dia juga yang nantinya menjadi kurban demi keselamatan semua orang. Allah berbagi dengan manusia.

Di dalam Kitab Perjanjian Lama kita menemukan Abraham sebagai tokoh yang tidak merasa takut dalam berbagi dengan Tuhan dan sesama. Misalnya, setelah Ishak lahir dan mulai bertumbuh sebagai seorang anak, Tuhan meminta kepadanya untuk mengurbankan anaknya yang tunggal itu sebagai kurban bakaran di tanah Moria. Abraham pasti merasa aneh dengan permintaan Tuhan tetapi Ia rendah hati dan mentaati kehendak Tuhan. Dia pun membawa Ishak untuk dipersembahkan. Melihat iman Abraham maka Tuhan melepaskan Ishak dan menggantinya dengan seekor domba jantan. Domba ini yang menjadi pengganti anaknya. Iman Abraham ini memembuat dirinya menerima berkat melimpah dari Tuhan. Ia menjadi Bapa segala bangsa.

Sikap Abraham ini disempurnakan oleh Tuhan sendiri. Abraham mempersembahkan domba jantan pengganti Ishak anaknya sedangkan Tuhan langsung mengurbankan AnakNya yang tunggal sebagai kurban penghapus dosa manusia. Rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan Allah tidak menyayangkan AnakNya sendiri. Ia bahkan menyerahkan AnakNya Yesus Kristus untuk keselamatan semua orang dengan sengsara dan wafatNya di kayu Salib. Sikap Allah ini hendaknya memiliki dampak yakni bahwa setiap pengikut Kristus harus bertumbuh dalam iman, memiliki harapan yang kokoh, dan keberanian untuk memberi kesaksian tentang cinta kasih Allah kepada semua orang. Kalau bersama dengan Kristus maka kita tidak perlu takut terhadap segala bahaya yang mengancam jiwa.

Penginjil Markus melengkapi kesaksian iman Rasul Paulus. Dikisahkan bahwa Yesus membawa ketiga murid terpilih yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas sebuah gunung yang tinggi. Gunung adalah simbol kehadiran Tuhan atau tempat Tuhan bersemayam. Di sana Yesus berubah rupa (transfigurasi). Dia tidak tampak sebagai manusia biasa tetapi wajahNya berkilau-kilauan dan pakaianNya sangat putih. Dia didampingi oleh Musa sebagai penerima Taurat dan Elia nabi besar yang naik ke langit dengan kereta berapi dan akan datang kembali. Mereka sedang bercakap-cakap satu sama lain. Dengan memandang Yesus yang berubah rupa dan penuh dengan kemuliaan ini maka Petrus bersukacita dan mau mendirikan kemah-kemah untuk Yesus, Musa dan Elia. Namun sebelum mengungkapkan keinginannya, terdengarlah dari langit  suara: “Inilah AnakKu yang kekasih, Dengarkanlah Dia!” Suara ini mempertegas identitas Yesus sebagai Anak Tunggal Bapa. Dialah yang akan menderita untuk keselamatan semua orang.

Masa prapaskah menjadi saat di mana setiap pribadi diajak untuk berani berkurban demi kebaikan dan kebahagiaan sesama. Aksi puasa pembangunan bertemakan sikap saling berbagi membuat kita menyadari bahwa ini adalah sebuah perutusan yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang dibaptis. Mengapa demikian? Karena Tuhan Allah sendiri berbagi dengan manusia. Ia sendiri mengurbankan AnakNya yang tunggal.Ia tidak menggunakan hewan sebagai kurban tetapi nyawa PuteraNya. Setiap kali kita merayakan Ekaristi bersama, hendaklah kita menyadarinya sebagai saat Tuhan berbagi dengan kita. Dalam rupa Hosti Suci, Tuhan membiarkan diriNya diambil, dipecah-pecah dan dibagikan untuk kepuasan bagi semua orang. Bagaimana dengan kemampuan berbagi dalam dirimu?

Kita juga diajak untuk mendengar Yesus karena Dialah Putera Tunggal Allah. Dialah yang dikasihi oleh Bapa dan menjadi tanda kasih di tengah-tengah kita. Maka dalam masa prapaskah kita semua diharapkan untuk menjadi akrab dengan Sabda Tuhan. Sabda yang didengar juga dibagi-bagi di dalam hidup kita. Ini adalah tanda bahwa kita menjadi pelaku Firman. Apakah kita akrab dengan Sabda Tuhan? Apakah membaca Sabda merupakan kebutuhan kita?

Mari kita berubah! Yesus menampakan kemuliaanNya dengan berubah rupa. Ini juga menjadi tanda perubahan hidup yang radikal bagi kita. Yesus mengenakan pakaian putih berkilauan dan wajahNya juga berubah mendorong kita untuk berubah. Perubahan yang dimaksud adalah semangat tobat atau metanoia dalam diri kita. Sudahkah anda mendekati sakramen tobat? Dengarlah Yesus dan seruanNya: "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Mrk 1:15).

PJSDB

Saturday, March 3, 2012

Renungan 3 Maret 2012


Ul 26:16-19; Mzm 119:1-2.4-5.7-8; Mat 5:43-48

Mengasihi musuh?

Konon dalam sejarah Amerika, pernah terjadi perang saudara. Pada saat itu Amerika di pimpin oleh presiden Abraham Lincoln. Dalam suatu perjamuan kenegaraan ia sempat berbicara tentang pihak musuh di bagian selatan negara itu. Ia berkata, "Mereka-mereka di bagian selatan adalah orang yang sedang melakukan suatu kekeliruan. Oleh karena itu mereka bukanlah musuh yang harus dibasmi". Tentu saja pernyataan tuan presiden ini mengandung pertentangan di dalam ruang perjamuan. Seorang ibu dengan keras menegurnya: "Tuan presiden seharusnya malu. Mereka itu telah bermusuhan dengan kita. Seharusnya tuan memikirkan strategi bagaimana menghancurkan mereka!". Dengan tenang Lincoln berkata, "Ibu, bukankah kita sudah menghancurkan mereka dengan menjadikannya sebagai sahabat kita?"

Betapa gampangnya kita memiliki atau menjadikan sesama menjadi musuh. Apabila sudah ada pribadi-pribadi yang masuk kategori musuh maka mereka-mereka inilah yang setiap hari masuk dalam pikiran jahat. Ada saja strategi bagaimana menghancurkan mereka atau membalas dendam terhadap mereka. Tetapi Yesus membaharui kebiasaan “membenci musuh” dengan “mengasihi musuh”. Ini betul-betul suatu Injil atau kabar sukacita yang baru. Yesus berkata: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu!” Mengapa demikian? Karena Tuhan  Allah Bapa sendiri mengasihi semua orang. Orang baik dan orang jahat dikasihiNya dengan menciptakan matahari dan hujan. Cinta kasih kepada sesama itu sifatnya universal dan orang berdosa juga membuatnya tetapi cinta kasih menjadi istimewa ketika musuh juga dikasihi. Orang yang mampu melakukannya akan menjadi orang kudus menyerupai Tuhan yang Mahasempurna yang mengasihi semua manusia.

Mengasihi adalah perintah Tuhan atau ketetapan Tuhan yang perlu dihayati oleh setiap orang. Kepada umat Perjanjian Lama Tuhan bersabda: “Dengarlah hai orang Israel: Tuhan Allah kita itu, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul 6:4-5), dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Im 19:18). Yesus mengulanginya dengan mengatakan bahwa kasih adalah hukum utama. Mengapa? Karena Allah sendiri adalah kasih! (1Yoh 4:8.16).

Marilah kita saling mengasihi karena kasih itu berasal dari Tuhan. Masa prapaskah mengundang kita untuk membenahi diri kita karena Yesus Kristus sebagai pusat permenungan kita menunjukkan kasih tanpa batas dengan menebus semua orang. Ia mengampuni para algoju dari Salib: “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Mampukah kita mengasih semua orang, bahkan musuh sekali pun? Ingatlah para musuhmu dan belajarlah untuk mengasihi mereka!

PJSDB

Friday, March 2, 2012

Renungan 2 Maret 2012


Yeh 18:21-28; Mzm 130:1-8; Mat 5:20-26

Indahnya sebuah pertobatan

Salah satu tema yang kita renungkan dalam masa prapaskah adalah pertobatan. Ada dua kata Yunani dalam Kitab Perjanjian Baru yang sering diterjemahkan dengan kata bertobat. Kedua kata yang dimaksud adalah metanoia (dan pasangan verbalnya metanoeo) dan metamelomai. Kata metanoia diterjemahkan lima puluh delapan kali dalam Perjanjian Baru sedangkan metamelomai hanya enam kali. Metanoia memiliki makna dasar yakni perubahan pikiran. Perubahan pikiran ini mencakup: pemikiran tentang keselamatan kekal, perilaku berdosa (tobat), diri pribadi dengan Kristus dan perubahan pikiran tentang segala berhala dan Tuhan. Metamelomai berarti: rasa menyesal yang mendalam. Kedua kata ini lalu menjiwai semangat hidup rohani manusia yakni pertobatan pribadi.

Yehezkiel hari ini mengingatkan kita semua tentang semangat pertobatan. Orang fasik yang bertobat dari segala kefasikan dan berpegang pada ketetapan-ketetapan Tuhan serta melakukan keadilan dan kebenaran akan memiliki hidup, ia akan menyelamatkan nyawanya. Namun apabila orang benar melakukan kecurangan dalam hidupnya maka ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Bagi Yehezkiel, keadilan dan kebenaran menunjukkan kualitas hidup manusia di hadirat Tuhan. Keadilan manusia didasarkan pada tanggung jawabnya atas pilihan-pilihan hidupnya. Misalnya, manusia selalu melihat penampilan fisik sedangkan Tuhan membaca hati manusia (1Sam 16:7). Pertobatan membuat orang hidup di hadirat Tuhan dengan memiliki hati yang baru (Mzm 51:12). Pertobatan membutuhkan tanggung jawab dan komitmen pribadi supaya pikiran dan hati dapat terbuka pada Tuhan.

Dalam Injil, Yesus kembali menekankan tentang superioritas keadilan. Keadilan tanpa cinta kasih ibarat makhluk yang kelihatan sempurna namun tidak dapat bernapas. Cinta kasih adalah tanda hadirnya Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus sendiri. Dia sendirilah yang menganugerahkan kebebasan dan kebenaran kepada manusia.

Hidup menjadi bermakna ketika kita memiliki kesempatan untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan sehingga setiap orang boleh menikmatinya. Tentu saja kebenaran dan keadilan ini harus dimulai dalam diri setiap pribadi. Orang perlu merasakannya secara pribadi. Apabila secara pribadi mengalami kebenaran dan keadilan maka dengan sendirinya dapat melakukannya juga dalam hidup bersama. Ini satu bentuk pertobatan pribadi.

Pertobatan yang benar berarti orang memiliki kemampuan mengubah pikirannya dan menyatakan penyesalannya sehingga dapat mengikuti jalan Tuhan. Orang yang bertobat memiliki hati yang baru. Hati yang bisa memberi rasa cinta kasih. Hati yang dapat memberi rasa adil kepada sesama. Bagaimana dengan pertobatan pribadimu? Apakah anda sudah mengubah pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian hidupmu? Berusahalah sekali lagi, anda pasti bisa.

PJSDB

Thursday, March 1, 2012

Renungan 1 Maret 2012


T.Est 4:10a.10c-12.17-19; Mzm 137:1-3.7-8; Mat 7:7-12

Kuasa Doa

Curhat atau curahan hati selalu dilakukan oleh orang-orang yang saling percaya satu sama lain. Saya dapat curhat dengan pribadi tertentu kalau saya percaya dia dapat mendengar dan membantu saya mengatasi pergumulan tertentu di dalam hidupku. Lalu terjalinlah relasi antar pribadi yang dibangun di atas dasar saling percaya, saling mengerti dan meneguhkan. Demikian relasi antar pribadi sebagai sesama manusia dan relasi dengan Tuhan.

Esther dalam bacaan hari ini, datang kepada Tuhan dalam doa-doanya, ibarat dia sedang curhat dengan Tuhan. Doa Esther dibangun di atas iman dan kepercayaanNya pada Yahve: “Tuhanku, Raja kami, Engkaulah yang tunggal, tolonglah aku yang seorang diri ini.” Iman ini merupakan warisan turun-temurun dari orang tuanya: “Sejak masa kecilku telah kudengar dalam keluarga bapaku, bahwa Engkau ya Tuhan telah memilih Israel…” Doa kepada Tuhan bukan hanya semata-mata untuk memohon pengampunan atas dosa-dosa atau meminta bantuan Tuhan pada saat-saat yang sulit saja tetapi dalam segala situasi hidup orang perlu mengungkapkan dirinya di hadirat Tuhan. Dalam arti setiap pribadi maupun komunitas sama-sama menyatakan iman mereka kepada Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya harapan Esther: “Tetapi selamatkanlah kami ini dengan tanganMu dan tolonglah aku yang seorang diri ini yang tidak mempunyai seorang pun selain dari Engkau ya Tuhan”.

Dimensi lain dari doa ditunjukkan oleh Yesus dalam Injil hari ini. Doa itu ibarat kita meminta, mencari, dan mengetok pintu dan Tuhan pasti akan mengabulkannya. Semua ini menunjukkan Tuhan sebagai Bapa yang baik yang senantiasa memperhatikan kebutuhan anak-anakNya melebihi para bapa di bumi ini. Dia adalah segala-galanya bagi manusia. Pengalaman kebaikan Allah sebagai Bapa yang baik atau pengalaman dikasihi oleh Allah hendaknya dilakukan dalam perbuatan-perbuatan nyata kepada sesama manusia: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”.

Doa adalah pengalaman persekutuan setiap pribadi dengan Tuhan Allah. Terkadang kita merasa Tuhan begitu jauh dan kita selalu merasa berdoa ”kepada” Tuhan. Hendaknya kita merasa seperti Esther bahwa Tuhan itu akrab, Dia Bapa yang baik. Atau para rasul yang berdoa “bersama” Tuhan Yesus. Doa bersama Tuhan Yesus karena Dialah Emanuel. Dengan perasaan bathin seperti ini, kita lalu merasa doa adalah “kasih” karena kita bersatu dengan Tuhan yang adalah kasih abadi. Bagaimana dengan kehidupan doamu sekarang? Apakah anda masih berdoa “kepada” Tuhan? Atau “bersama” Tuhan atau sudah masuk tingkat doa adalah “kasih”?

PJSDB