Friday, March 9, 2012

Lectio Divina 1


LECTIO DIVINA DALAM HIDUP KRISTIANI[1]

P. L. Johannes, SDB



Pengantar

Kepadamu aku mengusulkan sebuah jalan praktis dan sederhana dalam hidup rohani, yang dibangun di atas Sabda Allah, supaya Kitab Suci yang engkau miliki, sungguh-sungguh mengajarmu untuk beriman dan hidup doamu setiap hari: Lectio Divina. Lectio Divina bukanlah sebuah cara bersahabat dengan Sabda bagi sekelompok elit saja, melainkan diminati oleh kebanyakan orang kristiani bahkan seluruh Gereja, karena Sabda Allah diperuntukan bagi semua orang. Lectio Divina menjadi sarana pertemuan pribadi antara manusia dan Allah. Pertemuan yang membangun perasaan pribadi bahwa dirinya berada di hadirat Allah. Hal ini dirasakan lewat mendengar, membaca dan menghayati Sabda.

Kebiasaan bersahabat dengan Kitab Suci sangat ditekankan di dalam tradisi Gereja Katolik. Dari dokumen Konsili Vatikan II, misalnya, dikatakan: “Begitu pula Konsili Suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan seringkali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (Flp 3:8).  “Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus”. Maka hendaklah mereka dengan suka hati menghadapi nas yang suci sendiri, entah melalui liturgi suci yang sarat dengan sabda-sabda ilahi, entah melalui bacaan yang saleh, entah melalui lembaga-lembaga yang cocok untuk itu serta bantuan-bantuan lain, yang berkat persetujuan  dan usaha para gembala Gereja dewasa ini tersebar di mana-mana dengan amat baik. Namun hendaklah mereka ingat, bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah wawancara antara Allah dan manusia. Sebab “kita berbicara denganNya bila berdoa; kita mendengarkan-Nya bila membaca amanat-amanat ilahi”[2]

Dari kutipan di atas, kita diingatkan bahwa terdapat hubungan yang sangat intim antara Sabda dan doa. Konsili Vatikan II berbicara bukan hanya menyangkut bacaan berkelanjutan dalam Kitab Suci, tetapi juga hubungan dengan doa, karena melalui doa bisa terjadi dialog yang terus menerus dengan Allah, dan dengan sendirinya  membimbing pribadi (umat beriman itu) kepada pengalaman akan Allah. Secara konkret, Lectio Divina membantu umat beriman untuk bersahabat dengan Sabda Allah dalam Kitab Suci, dalam  terang Roh Kudus. Dengan demikian, Sabda Allah yang didengar, dibaca, direnungkan dan yang terkumpul di dalam bathin kita menjadi doa dan mengubah hidup kita.


1. KITAB SUCI SEBAGAI “KITAB KEHIDUPAN”


Santo Gregorius Agung, pada suatu hari menulis kepada sahabatnya Teodorus, seorang mantri di lingkungan Kerajaan Romawi: “Saya mendengar berita bahwa anda sedang melakukan banyak hal yang sangat indah dan penting; tetapi sayang sekali, saya juga mendengar bahwa anda tidak memiliki kesempatan untuk membaca Kitab Suci. Dengar baik-baik sahabatku: sekiranya kaisar menulis sebuah surat untukmu, apakah anda akan cepat-cepat membuang surat itu ke tempat sampah? Tentu saja tidak. Baiklah, sekiranya Tuhan sendiri menulis kepada kita surat cinta untuk keselamatan kita…. Belajarlah untuk mengenal hati Allah dari SabdaNya, untuk bernafas dengan legah menuju keabadian”.

Tulisan Santo Gregorius  ini masih berlaku juga bagi kita saat ini. Kita perlu belajar untuk mengenal hati Allah melalui sabdaNya. Sabda Tuhan membantu setiap pribadi untuk bertemu dan mengalami Allah.

Kitab Suci, Kitab yang dikarang oleh Allah yang benar yang kita imani. Kitab suci mengikat kita untuk memiliki pengalaman iman dan pengalaman doa. Di dalamnya juga kita menemukan peristiwa penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Bagi komunitas basis gerejani, Kitab suci bukan hanya menjadi sebuah istilah saja yang muncul, tempat untuk mengenal Yesus, bertumbuh dalam iman, tetapi lebih dari itu Kitab Suci merupakan sarana untuk bersatu dengan Allah, sebagai teks doa dan meditasi: “Sumber yang murni dan kekal bagi hidup rohani”[3].

Kitab Suci bukanlah sebuah teks yang memuat sebuah ideologi tetapi memuat pesan dari Allah bagi manusia untuk dapat bersatu denganNya. Tujuannya adalah mengenyangkan umat beriman untuk berdialog dengan Allah secara terus menerus. Bacaan Kitab Suci akan semakin subur kalau sekiranya ada keterbukaan dari umat beriman untuk hidup bersama Allah. Sabda Allah dikaitkan secara erat dengan Kristus. Tentang hal ini Santo Ambrosius menulis: “Ketika membaca teks-teks suci, kita mendengar Tuhan yang sedang berbicara dengan kita”, karena isi dari Kitab Suci adalah Allah sendiri atau manusia tetapi selalu dalam hubungan dengan Allah.

Sabda Tuhan itu sama dengan benih yang jatuh ke tanah yang subur. Dari dirinya sendiri, benih itu memiliki kehidupan yang nantinya berkembang sebagai pohon. Demikian Kitab Suci juga menjadi pohon Allah. Ia dapat dibaca dengan iman dalam terang Roh Kudus. Terkadang ada kedangkalan dalam bersahabat dengan Kitab Suci. Mungkin kita lebih mendekatkan diri secara intelektual semata dan melepaskan nilai rohani dari Kitab Suci.

Pengalaman membuktikan bahwa tidak cukup mendengar bacaan Kitab Suci dan langsung mencari dan menemukan buah rohaninya. Perlu persahabatan mendalam, merasa familiar dengan Kitab Suci sehingga buah-buah rohaninya bisa muncul. Allah bebicara kepada umatNya secara pribadi maupun secara bersama-sama dalam komunitas. SabdaNya memberi kehidupan bagi kita.


2. MEMBACA KITAB SUCI


Konsili Vatikan II berpegang teguh pada tradisi dengan mengatakan: “Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan  dalam Roh itu juga. Maka untuk menggali dengan tepat arti nas-nas suci, perhatian yang sama besarnya harus diberikan kepada isi dan kesatuan seluruh Alkitab, dengan mengindahkan tradisi hidup seluruh Gereja serta analogi iman”[4].

Membaca Kitab Suci dalam Roh adalah salah satu sikap yang mentradisi dalam Gereja katolik. Gereja sejak dahulu kala selalu berkeinginan untuk membaca Kitab Suci dalam terang Roh yang mengilhaminya. Dengan demikian bangkitnya “Lectio Divina” di dalam Gereja memberi arti baru karya dan peran Roh bagi setiap pribadi untuk bersahabat lebih dalam dengan Sabda. Mengapa dikatakan membaca Kitab Suci dalam terang Roh?

2.1. Bacaan Kitab Suci sebagai dialog dengan Allah

Para Bapak Gereja selalu menekankan bahwa: “Ketika kita membaca Kitab Suci, Allah berbicara secara pribadi dengan kita. Ketika kita berdoa, kita menjawabi sabda Allah”. Kitab Suci adalah bacaan yang dibuat secara bersama-sama oleh dua pribadi: Allah yang berbicara dan manusia mendengar, manusia menanggapi pembicaraan (doa) dan Allah mendengarnya. Kita mendengar Sabda Tuhan dengan sikap bathin yang penuh dengan ketaatan. Kitab Suci menjadi tempat untuk bertemu dengan Tuhan: “Berbicaralah, ya Tuhan, hambaMu mendengarkan” (1Sam 3,10).

2.2. Bacaan Kitab Suci sebagai sumber hidup

Bapa memberi kepada kita kebijaksanaanNya satu kali untuk selama-lamanya yakni Kristus sendiri dalam Roh Kudus. Kebijaksanaan ini diberikan kepada setiap pribadi yang terbuka kepada Allah. Kebijaksanaan yang dimaksud adalah: memahami segala sesuatu dari Tuhan, kesetiaan dalam menerima Sabda, penghayatan dalam Roh dan persatuan yang utuh dengan Allah. Dalam membaca Kitab Suci, hendaknya kita menghindari sikap pengenalan intelektual semata.

2.3. Bacaan Kitab Suci sebagai teman  dalam perjalanan hidup

Membaca Kitab Suci hendaknya menjadi bagian dari kebiasaan baik di dalam hidup kita. Bacaan Kitab Suci yang terus menerus akan mendidik kita. Setiap hari Kitab Suci hendaknya menemani perjalanan hidup kita menuju kepada Allah.

2.4. Bacaan Kitab Suci sebagai sebuah tindakan Gereja

Komunitas Basis Gerejani yang becermin pada komunitas perdana di Yerusalem hendaknya meniru teladan baik: cor unum et anima una dalam mendengar Sabda, dalam doa, ekaristi bersama, berbagi kepemilikan dan cinta kasih terhadap orang-orang yang sangat membutuhkan (Kis 2,42-47). Kitab Suci lahir dari komunitas dan dipahami di dalam komunitas.

Allah mewahyukan pribadiNya lewat Sabda di dalam Komunitas Gereja. Gereja sebagai Umat Allah merupakan bagian yang hidup dalam komunitas. Umat beriman membangun hidup rohaninya dari Kitab Suci dan bersekutu dengan Gereja. Dengan demikian bacaan Kitab Suci selalu bersifat komunitas. Santo Gregorius Agung berkata: “Sabda Allah itu seumpama roti yang disantap secara bersama-sama di dalam rumah, demikian di dalam Gereja kita merasa dikenyangkan oleh Sabda Ilahi”.

2.5. Bacaan Kitab Suci sebagai doa

Sebuah bacaan Kitab Suci akan menghasilkan banyak buah kalau ditemani oleh doa. Ketika membaca Kitab Suci secara pribadi atau bersama dalam komunitas, kita hendaknya merasa bahwa Allah sedang berbicara dengan saya. Dari situ saya perlu patuh dan setia untuk mengikuti kehendak Allah yang muncul dari sabdaNya. Peran Roh Kudus sangatlah penting dalam membantu untuk memahami Sabda Allah. Dengan Roh yang sama kita ber “duc in altum” untuk memahami rahasia Allah, seorang Allah yang mengasihi, yang mau membebaskan kita lewat Yesus sang Putera.



3. MENDENGAR SABDA ALLAH


Dari Kisah Para Rasul, kita mendapat informasi bahwa sejak masa Gereja perdana, sudah muncul kesulitan-kesulitan dalam hal evangelisasi (Kis 6, 2-4). Sebelumnya Gereja perdana di Yerusalem berbangga karena kesuksesannya dalam karya evengelisasi (Kis 2,14-41; 3,11-26; 5, 12-25). Namun demikian kesuksesan besar itu juga mempercepat permusuhan dengan para penguasa (Kis 4, 1-22; 5, 7-33).

Pengalaman Gereja perdana juga membuktikan bahwa ternyata krisis di dalam komunitas lebih berbahaya dibandingkan dengan penganiayaan. Kita ingat pertentangan antara kaum Helenis yang berbahasa Yunani dan kaum Yahudi (Kis 6,1). Pengalaman ini mendidik para rasul untuk menjadi sadar kembali bahwa mereka telah melalaikan Sabda, padahal “Umat Allah” itu dihimpun oleh Sabda Allah yang hidup”[5]. Karena itu mereka lalu membentuk kelompok para pelayan meja yang tentu menjadi juga pelayan Sabda. Inilah saat awal terbentuknya “diakonat” sebagai sebuah institusi yang melayani santap bersama, yang dapat mempererat persaudaraan dan memperkuat persatuan, yang juga bertahan hingga saat ini dalam Gereja.

Mengapa membaca, merenungkan, dan mendengar Sabda itu perlu? Berikut ini  akan ditunjukkan beberapa alasan penting:

3.1. Mendengar Sabda untuk dapat mengalami Allah dalam hidup pribadi

Bagi kaum beriman, mendengar Sabda Allah merupakan keharusan yang tidak dapat dihindarkan. Allah yang kita imani adalah Allah yang memiliki kehendak untuk menunjukkan diriNya, komitmenNya untuk bertemu dengan masing-masing pribadi, melalui SabdaNya, baik yang dahulu melalui para nabi maupun secara lebih sempurna dalam diri Yesus PuteraNya (Ibr 1,2). Melalui Sabda kita berjumpa dengan Allah yang tidak kelihatan: “Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kol. 1,15); Hormat dan kemuliaan  sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tidak nampak, yang esa! Amen” (1Tim 1:17).

Di dalam Kitab Suci kita sering berjumpa dengan Allah yang senantiasa berbicara dengan manusia dalam suasana yang sangat akrab. Manusia menjadi sahabatNya: “Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (Kel 33,11). Atau Yesus sendiri dalam Perjanjian Baru memanggil para MuridNya, sahabat: “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah ku dengar dari BapaKu” (Yoh, 15:14-15). Allah menjadi sahabat yang bergaul dengan manusia (Bar 3,38).

Bagaimana kita bisa mengalami Allah dengan mendengar sabdaNya? Sekurang-kurangnya ada dua sikap yang dituntut dari kita:

3.1.1. Diam atau hening dalam penyembahan.

Dalam Perjanjian Lama, keheningan merupakan saat untuk mengalami Allah: Musa dan para imam Lewi berkata kepada orang-orang Israel, “Diamlah dan dengarlah, hai orang Israel. Pada hari ini engkau telah menjadi umat Tuhan Allahmu. Sebab itu engkau harus mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan perintah dan ketetapanNya, yang kusampaikan pada hari ini” (Ul 27,9-10). Kata-kata ini hendak mengatakan kepada kita bahwa barang siapa ingin mendengar Allah ia harus diam atau hening dalam penyembahan. Santo Yohanes dari Salib pernah berkata: “Bapa mengungkapkan satu kata kepada puteraNya, dan mengulanginya selamanya dalam keheningan (diam) dan supaya dalam keheningan, kata-kata itu dapat didengar oleh jiwa-jiwa”.

Di pihak Allah, pada mulanya adalah Sabda dan dalam Sabda itu kita telah diberikan rahmat dan kebenaran (Yoh 1,1.14). Sedangkan dipihak kita, titik awalnya adalah diam, hening dalam penyembahan.  Sebuah keheningan yang aktif karena terikat pada Sabda. Hasrat yang kuat untuk tinggal di hadirat Allah yang disembah dan diriku sebagai hamba. Hening, diam itu indah. Kita bertemu dengan Tuhan, mengalami Tuhan.

3.1.2. Janganlah membayangkan wajah Allah macam apa yang diimani.

Nabi Yesaya dalam salah satu nubuatnya berkata, “Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah dan apa yang kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes 40,18). Oleh karena Ia adalah Sabda maka mendengarkan Sabda adalah satu-satunya jalan untuk bertemu denganNya.  Perlu juga disadari bahwa Allah yang benar tidak pernah membiarkan diriNya dilihat, bahkan dihadapan sahabat-sahabatNya (Kel 33,18-20). Hanya orang seperti Musa yang dapat berbicara berhadapan muka dengan Allah (Kel 33,11; Ul 34,10).Tuhan sendiri melarang umat beriman untuk tidak membuat patung tuangan atau tiruan yang menyerupai Allah untuk disembah (Ul 4, 16-8; 1Raj 14,9; Hos 13,2). Karena itu “Dengarkanlah segala perkataan Tuhan Allahmu” (Ul 4,10). Ingat, “Allah disembah dalam Roh dan Kebenaran!” (Yoh 4,24)

3.2. Mendengarkan Sabda Allah untuk menjadi komunitas Basis Gerejani

Ketika Allah berbicara, Ia mengumpulkan semua orang yang mendengarNya; UmatNya yang lahir dan dipanggil oleh Sabda dan dalam mendengar Sabda itu mereka juga dipersatukan. Dalam dunia perjanjian Lama dikisahkan bahwa sebelum memasuki tanah terjanji, Musa sudah memperingatkan umat Israel bahwa mereka adalah Umat Allah: “Hari ini kalian telah menjadi umat Tuhan AllahMu. Kalian selanjutnya akan menuruti suara Tuhan Allahmu” (Ul 27, 9-10). Dan Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa yang menjadi sanak saudaraNya adalah mereka yang melakukan kehendak Allah (Mrk 3:31-35).

Mendengar Sabda merupakan dasar dan alasan untuk hidup bersama dalam Komunitas Basis Gerejani. Setiap anggota komunitas adalah umat Allah yang percaya karena menerima Sabda Allah. Dengan demikian, anggota komunitas meskipun berbeda sebagai individu namun tetaplah menghayati iman akan Allah yang sama pula.

Mengapa mendengar Sabda Allah untuk menjadi komunitas? Ada dua alasan penting:

3.2.1. Kita semua diselamatkan

Hidup bersama dalam komunitas basis adalah sebuah cara menghayati keselamatan yang sama di dalam Yesus.

Bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, senantiasa mengkontemplasikan pengalaman pahit mereka di Padang Gurun (Kel, 17:1-7). Meskipun ada kepahitan hidup, namun mereka tetap merasa bersatu dan diselamatkan (Ul 8, 14; 11, 2-28). Allah juga mengenyangkan mereka dengan Sabda sehingga selamatlah mereka (Ul 8:3).[6] Para nabi sendiri bernubuat tentang keselamatan baru bagi mereka yang tersesat[7]. Semua ini mendapat kepenuhan dalam diri sang Penyelamat kita Yesus Kristus (Yoh 11, 52).

Mendengar Sabda Allah membuat orang dilahirkan kembali. Pengalaman iman “dilahirkan kembali untuk menjadi baru dalam Kristus” bisa diwujudnyatakan dalam mendengarkan Sabda yang sama. Dengan kekuatan Sabda orang bisa berbagi tanggung jawab dalam perutusan bersama sebagai orang yang dibaptis.

Persaudaraan sejati dalam komunitas basis tergantung pada kehendak baik, dan kerja sama dari semua anggota komunitas dan lebih dari itu, semua anggota komunitas mendengar bersama Sabda Allah: “Persaudaraan sejati bukan hanya usaha semata-mata manusia tetapi sesungguhnya merupakan anugerah Allah. Anugerah yang berasal dari ketaatan pada Sabda Allah”.[8]

3.2.2. Tanggung Jawab terhadap saudara (i)ku.

Para saudara atau saudari dalam komunitas basis adalah anugerah Allah bagiku. Allah telah memberikan mereka kepadaku untuk dikasihi. Kita semua tentu mengingat kisah Kain dan Abel dalam Kitab Kejadian. Kain menolak rasa tanggung jawabnya terhadap Abel saudaranya (Kej 4,9) dan pada saat yang sama ia juga menolak penyertaan Allah (Kej 4, 10-11), meskipun Allah tetap menyertai perjalanan hidupnya.

Allah memberi kita para saudara atau saudari untuk dikasihi seperti Allah sendiri mengasihi kita, maka dengan sendirinya kita saling bertanggungjawab satu sama lain.

3. 3. Mendengar Sabda Allah untuk setia dalam panggilan hidup kristiani

Santo Paulus menulis, “Iman berasal dari apa yang didengar” (Rom 10,17). Sebuah pendekatan yang penuh doa terhadap Sabda Allah menjadi dasar yang kokoh bagi spiritualitas kristiani. Sia-sia sajalah kalau spiritualitas hidup kristiani tidak didasarkan pada Sabda Allah: mendengar, merenungkan dan tekun melaksanakan dalam hidup setiap hari. Sabda Allah hendaknya menjadi titik pangkal kehidupan dan sumber perutusan orang yang dibaptis.

Mengapa kesetiaan berasal dari Sabda yang didengar? Sebenarnya Sabda Allah yang didengar dengan iman dapat membantu kita untuk empat hal berikut ini:

2. 3.1. Sabda Allah adalah sumber kehidupan rohani.

“Sabda Allah itu sumber utama spiritualitas kristiani. Sabda itu menumbuhkan hubungan pribadi dengan Allah yang hidup dan kehendakNya untuk menyelamatkan dan menguduskan umat manusia”[9]. Berawal dari mendengar Sabda  maka mengalir juga hidup dalam Roh. Berkaitan dengan Sabda Allah maka Lectio Divina dihidupkan kembali dalam hidup menggereja di dalam basis-basis kita.

3. 3.2. Sabda Allah adalah makanan untuk doa.
“Manusia tidak dapat hidup dari roti saja, tetapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah” (Ul 8,3; Mat, 4,4; Luk 4,4). Dalam kehidupan kristiani, Sabda Allah merupakan makanan yang mengenyangkan “untuk hidup, untuk doa dan untuk perjalanan hidup sepanjang hari”; “Doa dan kontemplasi merupakan situasi yang memungkinkan untuk menerima Sabda Allah dan pada saat yang sama Sabda itu bisa didengarkan bersama”[10].

Sabda Allah bisa dicernakan bersama pada saat-saat istimewa misalnya doa bersama dan terutama dalam perayaan Ekaristi di mana kita tidak hanya disegarkan oleh Sabda yang didengar tetapi juga oleh santapan Tubuh dan DarahNya. Memang mendengar Sabda mendapat tempat istimewa di dalam Ekaristi karena Ekaristi adalah pesta liturgi yang hidup. Komunitas basis merayakan Misteri penebusan (Paskah) dan mempersatukan diri dengan Tubuh Kristus yang sudah dikurbankan, yang mencurahkan Darah Mulianya, dan diterima setiap pribadi di dalam komunitas supaya dapat membangun dirinya sendiri sebuah keinginan akan komunitas persaudaraan.

3.3.3. Sabda Allah merupakan terang untuk melihat kehendak Allah dalam setiap peristiwa hidup.

Paulus menulis kepada umat di Roma, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia, tetapi berubalah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang bekenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rom 12,2).

Sabda Allah adalah terang yang membantu manusia untuk melihat dirinya di hadapan Allah. Bagaimana seseorang dapat melihat dirinya di hadapan Allah? Ada empat hal penting yang bisa dilakukan manusia:
a)   Kesadaran bahwa si aku berada di hadirat Allah setiap saat. Allah melihat aku dan menghendaki agar aku berubah menjadi baru.
b)   Confessio laudis atau ucapan syukur. Ucapan syukur atas segala sesuatu yang dikehendaki Allah bagiku. Ini lebih terungkap dalam Ekaristi.
c)    Confessio Vitae atau pengenalan akan salah dan dosa di hadapan Allah. Hal terpenting bagiku adalah pemeriksaan bathin yang jujur dan polos di hadirat Allah.
d)    Confessio fidei atau komitmen untuk bertobat. Kehendak Allah yang didengar lewat SabdaNya bersifat mengubah hidup pribadi dan hidup sesama yang dijumpai.

3.3.4. Sabda Allah merupakan kekuatan untuk menghayati panggilan dengan setia.

“SabdaMu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119,105).

Sebuah pertanyaan mendasar yang senantiasa dihadapi setiap pribadi adalah: “Setiakah aku dalam panggilan hidupku?” Untuk menjawab pertanyaan ini dengan jujur maka kita kembali kepada Kristus, sang Sabda yang telah memanggil kita. Mendengar Sabda Allah membuat kita merasa dikasihi Allah sehingga kita juga menjadi setia. Mendengar Sabda Allah juga membuat kita mengalami kesetiaan Allah dalam kerapuhan hidup kita dan pada saat yang sama membuat kita berani dan kuat untuk menjadi setia kepadaNya.

3.4. Mendengar Sabda Allah untuk menjadi rasul-rasul

St. Yohanes menulis dalam suratnya; “Apa yang kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu juga beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus” (1Yoh 1,3). 

Menjadi rasul Sabda berarti Sabda yang kita dengar hendaknya diteruskan. Berkaitan dengan hal ini, Paus Yohanes Paulus II menulis: “Kita dikenyangkan oleh Sabda Tuhan supaya menjadi “pelayan Sabda” dalam tugas penginjilan: ini merupakan prioritas Gereja pada awal millennium baru ini. […] Selama tahun-tahun terakhir ini saya selalu mengulangi pentingnya evangelisasi baru. Sekarang saya mengulangi kembali tugas ini dengan kembali mengambil semangat Gereja purba yang dengan gigih menyebarkan Sabda sebagai kekuatan dari Pentekoste. Seharusnya kita memiliki perasaan senasib dengan Paulus yang mengatakan: “Celakalah aku kalau tidak menyebarkan injil” (1Cor 9,16). […] Siapa yang betul-betul bertemu dengan Kristus, janganlah memilikinya sendiri, tetapi membaginya kepada orang lain.”[11]


4. LECTIO DIVINA DALAM HIDUP KRISTIANI

Kitab Suci sebagai Sabda Allah yang dibaca, didengar, direnungkan dan disertai dengan doa akan sangat membantu perkembangan hidup rohani setiap pribadi di dalam komunitas basis. Karena itulah Lectio Divina selalu menjadi agenda penting kebersamaan di komunitas-komunitas basis sejak zaman dahulu kala.

Apa sih Lectio Divina itu? Lectio divina adalah membaca Kitab Suci secara pribadi atau bersama-sama dalam komunitas basis sebagai Sabda Allah dan dikembangkan di bawah bimbingan Roh, dalam renungan, doa dan kontemplasi.

Untuk lebih bersahabat dengan Lectio Divina berikut akan diuraikan tahap-tahapan pentingnya:

4.1. Mengundang kehadiran Roh Kudus

Sebelum membaca teks suci atau Sabda Tuhan, berdoalah memohon bantuan Roh Kudus supaya Ia menerangimu, turun atasmu, membuatmu mengerti sabdaNya dalam iman. Undangan akan kehadiran Roh ini akan sangat membantumu untuk menghindari “bahaya” konsumisme pribadi akan Sabda, ataupun subyektivisme. Pendekatan Sabda secara pribadi seharusnya menjadi sakramen persatuan Gereja. Sekiranya tidak memiliki anugerah Roh Kudus yang diundang dalam doa, maka dengan sendirinya kita tidak masuk dalam jiwa Kitab Suci. Namun sekiranya kita memohon kehadiran Roh Kudus maka kita akan sangat dibantu untuk masuk lebih dalam untuk menyelami rahasia ilahi dalam Kitab Suci. Karena itu setiap kali kalau mulai membaca Kitab Suci entah secara pribadi atau secara komunitas maka undanglah selalu kehadiran Roh. Lectio Divina bukanlah murni sebuah tafsir Kitab Suci (memang perlu juga tafsir Kitab Suci), tetapi yang paling utama adalah sebuah anugerah Roh Kudus.

Roh Kudus adalah guru yang benar, ekseget atau ahli tafsir Kitab Suci yang paling benar. Undanglah sekarang Roh Kudus, dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Perhatikan contoh doa mengundang Roh Kudus berikut ini:

“Bapa yang Kudus, Engkaulah Terang dan Hidup, bukalah mataku dan juga jiwaku supaya aku dapat menyelami lebih dalam lagi dan memahami SabdaMu. Utuslah Roh KudusMu, Roh PuteraMu ke atasku, supaya aku dapat menerima dengan setia KebenaranMu. Berilah bagiku jiwa yang terbuka serta anugerah kemurahan hati, supaya dalam dialog denganMu, aku dapat semakin mengenal dan mengasihi PuteraMu Yesus Kristus demi keselamatan hidupku dan dapat menjadi saksi InjilMu bagi saudara-saudari yang ku jumpai. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam Roh Kudus sepanjang segala abad. Amen”.

4. 2. Membaca Kitab Suci (=Lectio)
Setiap kali membuka halaman-halaman kudus dalam Kitab Suci, bacalah dengan tenang dan penuh perhatian dan cobalah membiarkan dirimu terbuka terhadap Roh yang sudah diundang itu dalam teks suci yang sedang dibaca. Bacaan dari Sabda dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa anda sedang mendengar seseorang pribadi yang hidup bersamamu yaitu Yesus Kristus, sang Sabda Kehidupan.

Apa artinya membaca sebuah teks dalam Kitab Suci? Artinya: membaca dan membacanya berulang kali, bahkan dengan suara yang lebih keras jika mungkin, boleh juga dengan pensil anda memberi tanda tertentu pada kata atau kalimat yang menarik perhatianmu. Sambil membaca, anda juga diarahkan untuk masuk lebih mendalam pada teks dengan melihat hal-hal yang penting seperti: situasi, konteks sejarah, pribadi-pribadi yang muncul dalam teks yang dibaca, perasaan-perasaan, imaginasi, dinamisme dalam aksi, kata-kata kerja, dan ayat-ayat yang parallel dengan bagian lain dari Kitab Suci. Dari situ akan terasa bahwa Kitab suci adalah sebuah Buku di mana  anda “tinggal” dan “bekerja” tanpa perlu tergesa-gesa. Kesetiaan pada teks yang dibaca berulang kali itu, dan dilakukan dengan penuh perhatian akan membawamu kepada pengenalan yang yang lebih dalam akan teks Kitab Suci yang sedang dibaca, dan hal-hal baru yang muncul dengan sendirinya dalam teks itu. Komentar-komentar yang sifatnya eksegetis-spiritual dari teks Kitab Suci akan membantumu untuk mengasimilasikannya.

Tahap membaca (lectio) merupakan tahap pencarianmu dalam arti literal-storis dan selalu menghormati teks yang sedang dibaca itu. Dalam pencarianmu lewat bacaan teks Suci itu, sadarlah bahwa Tuhan sedang berbicara denganmu. Keheningan awal yang dialami sebelum membaca Kitab Suci bukan hanya menjadi keheningan fisik atau psikologis tetapi keheningan hidupmu di hadapan Tuhan yang sedang berbicara denganmu. Keheningan adalah saat untuk mulai mendengar Sabda. Santo Ambrosius pernah berkata: “Tuhan kembali dan berjalan dalam firdaus dunia denganmu”.


4. 3. Memeditasikan Sabda Allah (=Meditatio)

Tahap berikutnya adalah meditasi. Meditasi adalah merefleksikan nilai-nilai permanen dalam teks Kitab Suci; mencari aroma Sabda, bukan ilmunya; “mengunya dan melumatkan” sabda itu dan mencoba menempatkannya dalam dirimu, menjadikan Sabda itu sebuah tugas kehidupan yang mendalam, penuh konsentrasi; menutup mata di hadapan Tuhan dan menghadapkan dirimu dengan Sabda; membuat klasifikasi sikap-sikap hidup dan perasaan-perasaan yang dipengaruhi oleh Sabda yang sudah sedang dibaca.

Pada kenyataannya bisa muncul pertanyaan-pertanyaan seputar teks yang sedang dibaca: Apa  ide dan nilai mendasar dari teks itu? Mengapa teks itu penting bagiku? Apa yang membuatku tertarik dengan teks itu? Apa sikap dan perasaan yang mempengaruhi hidupku dari teks itu? Dan masih banyak pertanyaan reflektif lainnya. Pertanyaan-pertanyaan ini membantu mempenetarasikan secara mendalam sabda dalam keintiman dengan jiwamu dan memobiliasi seluruh energi untuk menghadapinya, “duc in altum”, berjalan mengikuti Sabda dan bermetanoia dengan sabda.

Meditasi adalah refleksi atas sabda yang didengar, atau yang dibaca sehingga  memunculkan nilai-nilai tertentu. Sabda itu tidak hanya dilumatkan selama meditasi tetapi juga sepanjang hari, membuatnya menggema di dalam bathin, perlahan menjadi konkret dalam kegiatan harianmu. Meditasi membantu kita untuk menggali nilai rohani yang tersembunyi di dalam teks suci, dalam hal ini arti teks yang dianugerahi lewat kuasa Roh Allah bagi kita. Tuhan hendak berkomunikasi dengan kita lewat SabdaNya yang dibaca, didengar dan direnungkan.

Tentang hal ini, santo Yohanes Kasianus berkata: “Kita telah diajari oleh apa yang didengar sendiri, sekarang kita perlu merasa bahwa teks itu bukan hanya sebagai sesuatu yang kita dengar, tetapi sebagai sesuatu yang dialami sendiri, yang dapat disentuh dengan tangan; bukan sebagai sebuah kisah yang aneh dan tidak didengar, melainkan sebagai sesuatu yang masuk lebih dalam dalam hati, seperti halnya kita coba merasakan sendiri perasaan-perasaan yang membentuk kepribadian kita”.

Sekali lagi: Yang terpenting adalah pengalaman akan Allah yang ditemukan dalam Sabda dan dihayati dalam hidup setiap hari.


4.4. Mendoakan Sabda yang sudah dibaca dan direnungkan (=oratio)

Setelah Sabda Tuhan itu direnungkan secara mendalam maka kini giliran sabda itu didoakan atau lebih tepat Sabda itu menjadi doa. Berdoa adalah menjawabi Allah setelah mendengarkanNya. Mengatakan Ya pada kehendak dan rencanaNya bagimu. Santo Agustinus berkata: “Doamu adalah suatu bentuk pembicaraan dengan Allah. Ketika anda membaca Kitab Suci, Tuhan berbicara bagimu, ketika anda berdoa, anda berbicara kepada Tuhan”. Dengan meditasi anda menemukan apa yang Tuhan katakan dalam suara hatimu. Sekarang giliranmu  menjawabi sabdaNya dalam doa. Doa adalah saat di mana anda menyatukan perasaan religius yang muncul dalam dirimu sebagai akibat dari pengalaman akan Allah yang hadir dari teks suci yang sudah dibaca dan direnungkan itu.

Sabda Tuhan lalu menjadi alasan dasar untuk memuji dan bersyukur, saat untuk bermetanoia, saat untuk mengalami berkat. Santo Agustinus berkata, “Sekiranya teks yang dibaca adalah doa, doakanlah, kalau menyusahkan, bersusahlah, kalau membuatmu mengenal diri, bersukacitalah, kalau teks itu sebuah harapan, berharaplah, kalau menunjukkan ketakutan, takutlah. Karena segala sesuatu yang didengar dalam teks Kitab Suci merupakan cermin dirimu sendiri”

Doa mengembalikan kepada Allah, Sabda yang telah Ia berikan kepada kita. Mentransformasikan Sabda dalam doa berarti bercermin melalui Sabda dalam realitas kehidupanmu, pada saat-saat suka dan duka sesuai dengan kehendak Allah. Sikap bathin yang perlu dalam doa adalah membiarkan diri dibimbing oleh Tuhan dengan ketaatan filial atau ketaatan sebagai anak Allah.

4. 5. Mengkontemplasikan Sabda Allah (= contemplatio)

Tahap ini memang lebih tinggi dari tahap-tahap sebelumnya. Jangan kecil hati kalau anda tidak bisa mencapai kontemplasi. Biarkanlah Tuhan membimbingmu hingga mencapai kontemplasi. Kontemplasi adalah anugerah Roh yang muncul dari Lectio yang sudah dilakukan dengan baik: merupakan saat pasif dalam intimitas, dengan mana kita mengenal Allah dengan pengalaman bathin.

Tuhan membimbingmu ketika anda memiliki iman kepadaNya, mengkontemplasikan Rahasia Ilahi Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Mengkontemplasikan sabda adalah melupakan diri sehingga bisa tiba pada Allah. Anda bisa menemukan hidupmu dihadirat Allah dengan hati bukan hanya dengan pikiranmu melalui sebuah dialog yang sederhana, penyembahan, mengalami dan mengenal kebapaan Allah yang mengasihimu sebagai anakNya. Kontemplasi membuat kita memandang Yesus seorang diri saja, beristirahat bersama Dia, terbuka akan kasihNya, menerima Kerajaan Allah di dalam hidup dan berusaha untuk bersatu dengan Allah.

Kontemplasi adalah memandang dengan mata penuh ketakjuban, dalam keheningan, Misteri Allah Bapa, Yesus-sahabat, Roh-cinta kasih. Menemukan kembali partisipasi yang transparan  pada Allah. Menjadi anawim bagi Allah. Kontemplasi sebagai bagian dari Lectio Divina merupakan sikap dari seseorang yang dengan aktif mentransforamasikan sabda dalam kehidupan yang konkret.

4. 6. Melaksanakan Sabda dalam hidup yang konkret (= actio)

Lectio divina hendaknya membimbing setiap pribadi dan komunitas basisnya hingga membentuk sebuah sekolah kehidupan. Tindakan yang konkret misalnya rasa nyaman dan damai dalam hidup, kemampuan untuk melakukan discernment dalam hidup tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik. Kemampuan untuk memilih dan memutuskan sesuai dengan nilai-nilai injili.

Tentang actio, Madeleine Delbrel berkata: “Injil adalah Kitab tentang kehidupan Tuhan dan dibuat untuk menjadi Kitab kehidupan kita. Kitab Suci tidak sekedar dibuat untuk dipahami, membacanya sebagai jalan menuju kepada Misteri. Bukan hanya dibuat untuk dibaca, tetapi juga diterima dalam diri kita. Setiap kata dalam Kitab Suci adalah Roh dan Kebenaran. Kata-kata dalam Injil: bukan kita yang mengasimilasikannya melainkan merekalah yang mengasimilasikan kita. Merekalah yang memodifikasi kehidupan kita”.

Singkatnya: Sabda hendaknya menjadi bentuk (form) eksistensi diri kita sebagaimana eksistensi kita di hadapan Yesus.

4. 7. Proposito konkret (niat baik setelah lectio)

Sebelum menutup Kitab Suci yang sudah dibaca, didengar, direnungkan secara pribadi atau bersama, buatlah niat-niat baik yang nyata sehingga dapat membantu perkembangan hidup kristiani. Doa ini biasa menutup seluruh rangkaian lectio divina baik secara pribadi maupun komunitas: “Bapa  yang Kudus, Engkau adalah kehidupan, buatlah aku menjadi pewarta sabda PuteraMu yang sudah kubaca dan kuterima. Semoga SabdaMu mengubah hidupku sehingga boleh menemukan kebahagiaanku dalam hidup yang konkret di antara para saudara dan saudari yang ku jumpai dan layani, sebagai bukti cinta kasihMu juga kesaksian autentis akan Injil keselamatan. Demi Kristus Tuhan dan pengatara kami”. Amen


5. LECTIO DIVINA DALAM KOMUNITAS BASIS GEREJANI



1. Mengapa perlu Membaca Kitab Suci dan membuat Lectio Divina dalam komunitas basis?

Dokumen-dokumen Gereja berikut bisa menjawab pertanyaan ini dengan jelas:

1. “Gereja selalu menghormati Kitab Suci seperti dibuatnya terhadap Tubuh Kristus sendiri” (Dei Verbum, 21)

2. “Sabda Allah itu sumber utama segala spiritualitas kristiani. Sabda itu menumbuhkan hubungan pribadi dengan Allah yang hidup dan kehendakNya untuk menyelamatkan dan menguduskan umat manusia. Oleh karena itu “lectio divina” sangat dijunjung tinggi oleh tarekat-tarekat hidup bakti dan monastisisme sejak awal mula. Melalui upayanya Sabda Allah mempunyai dampak pesona atas hidup, karena menyinarinya dengan cahaya kebijaksanaan yang merupakan kurnia Roh […] Menurut tradisi rohani Gereja, meditasi tentang Sabda Allah dan tentang misteri-misteri Kristus khususnya membangkitkan semangat dalam kontemplasi dan entusiasme dalam kegiatan kerasulan. Dalam hidup religius maupun aktif selalu ada pria dan wanita pendoa, merekalah yang sungguh-sungguh menafsirkan dan mempraktekkan kehendak Allah, yang melaksanakankarya-karya agung. Dari keakraban dengan Sabda Allah mereka beroleh terang yang diperlukan bagi penegasan rohani pribadi maupun bersama dalam komunitas, yang menolong mereka mencari jalan-jalan Tuhan dalam tanda-tanda zaman. Begitulah mereka beroleh semacam intuisi adikodrati yang memungkinkan mereka menghindari penyesuaian dengan mentalitas dunia ini, melainkan justru diperbarui dalam budi mereka sendiri, untuk mengenali kehendak Allah mengenai apa yang baik, sempurna dan berkenan kepadaNya (Rom 12,2) [Vita Consacrata no. 94]

3. “Kita dikenyangkan oleh Sabda Tuhan supaya menjadi “pelayan Sabda” dalam tugas penginjilan: ini merupakan prioritas Gereja pada awal millennium baru ini. […] Selama tahun-tahun terakhir ini saya selalu mengulangi pentingnya evangelisasi baru. Sekarang saya mengulangi kembali tugas ini dengan kembali mengambil semangat Gereja purba yang dengan gigih menyebarkan Sabda sebagai kekuatan dari Pentekoste. Seharusnya kita memiliki perasaan senasib dengan Paulus yang mengatakan: “Celakalah aku kalau tidak menyebarkan injil” (1Cor 9,16). […] Siapa yang betul-betul bertemu dengan Kristus, janganlah memilikinya sendiri, tetapi membaginya kepada orang lain.” (Giovanni Paolo II, Lettera Apostolica “Nuovo Millenio Ineuente”, no.40)

2. Memahami Lectio Divina

1. Lectio divina adalah membaca Kitab Suci secara pribadi atau bersama-sama dalam komunitas sebagai Sabda Tuhan dan dikembangkan di bawah bimbingan Roh, dalam renungan, doa dan kontemplasi.
2. Ekspresi lectio divina tidak hanya menunjukkan objek dari bacaan melainkan suatu intesitas pengalaman iman dan doa. Jadi membaca Kitab Suci sebagai Sabda Tuhan yang berpaling kepada saya sama seperti sebuah surat cinta dari Allah Bapa kepada kita anak-anakNya.
3. Lectio adalah membaca yang tentu saja bukan semacam studi ilmiah melainkan kita mengumpulkan pesan yang Tuhan berikan dalam Kitab Suci sehingga dapat menjadi suatu pengalaman hidup.
4. Divina karena objek pendengaran meditatif dan doa adalah Sabda Tuhan sendiri yang meskipun ditulis dalam bahasa manusia namun merupakan inspirasi Ilahi.
5. Lectio divina adalah suatu pengalaman mendasar dalam doa kristiani dan perjalanan rohani sejak zaman gereja perdana.
6. Yesus sendiri membuat lectio divina ketika berada di dalam Sinagoga Nazaret, di bawah bimbingan Roh, membaca sebuah teks dari Nabi Yesaya yang ditafsirkan dan diterapkan dalam diriNya sendiri (Cf. Luk 4,16-20; Yes 61,1-2)

3. Tahap-tahap penting dalam Lectio Divina[12]:

Persiapan (epiclesis): sikap terbuka terhadap Roh sama seperti anda membangun hubungan intim dengan seorang Pribadi, mengetahui inisiatif pertama dari Tuhan: “Tuhan bukalah bibirku…” Jadi buatlah sebuah doa permohonan kepada Roh Kudus sebelum membaca teks Sabda Tuhan. Selanjutnya ikutilah tahapan-tahapan berikut ini:
1. Lectio: membaca teks yang disiapkan, membaca lagi teksnya dan beristirahatlah pada teks tersebut
2. Meditatio: Apakah artinya teks itu bagiku? Apakah saya dipengaruhi oleh teks tersebut?
3. Oratio: Mengatakan “ya” kepada Tuhan, mendoakan Sabda Tuhan.
4. Contemplatio: mengenal Tuhan melalui pengalaman bathin.

Dari Lectio ke dalam kehidupan konkret (operatio)

5. Consolatio: Menyenangi segala sesuatu tentang Tuhan, berani bersaksi tentangNya.
6. Discretio: Mengenal kenyataan dengan mata iman dan bimbingan Roh.
7. Deliberatio: suatu pilihan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai Injili.
8. Actio: Suatu tindakan konkret dalam Roh, mengikuti Yesus Kristus.

4. Contoh Lectio

1. Lectio: Hosea 11,1.3-4; 8c-9

“Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anakKu itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada baal, dan membakar korban kepada patung-patung. Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka dari tanganKu, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa aku menyembuhkan mereka. Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka, Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberikan mereka makan. Hatiku berbalik dalam diriKu, belas kasihanKu bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murkaKu yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali, Sebab Aku ini Allah bukan manusia, yang kudus di tengah-tengahmu, dan aku tidak akan datang untuk menghanguskan”.


2. Penjelasan singkat teks ini

Nabi Hosea adalah utusan Tuhan yang bernubuat di Kerajaan Utara Israel. Pada saat itu Israel dibagi atas dua bagian yaitu Kerajaan Israel Utara dengan ibu kota Samaria dan kerajaan Selatan/Yudeia dengan ibukota Yerusalem. Ia bernubuat pada abad ke-VIII sebelum Kristus, tepat pada masa pemerintahan Raja Yeroboam ke III.
Situasi konkret masyarakat saat itu adalah sikap mereka yang gampang sekali jatuh dalam dosa. Mereka menyembah berhala kepada para dewa (baal) dengan membuat rupa-rupa dewa. Istri nabi Hosea sendiri menjadi seorang penyembah berhala.
Situasi yang demikian tidak berarti menutup pintu hati Tuhan. Melalui mulut nabi ini, Tuhan mau menunjukkan kasihNya kepada manusia yang berdosa. Dalam bab kedua misalnya, Tuhan mewahyukan DiriNya dalam hubunganNya dengan Israel sebagaimana relasi suami dan istri. Ia berbicara dengan Israel dari hati ke hati.
Pada bab ke XI ini, Tuhan mengubah konsep kasihNya kepada Manusia. Dia seperti seorang Bapa yang sangat menyayangi anakNya. Ia mengingat kenangan masa silam terutama pada masa perbudakan di Mesir. Ia menuntun mereka dengan TanganNya yang kuat. Meskipun Israel selalu terjerumus ke baal, namun Ia tetap mengangkat mereka dengan lenganNya yang kokoh.
Betul, kasih Tuhan selalu mendahului kasih manusia. Kita juga termasuk dalam kelompok Israel yang terkadang menyembah berhala. Kita memiliki altar-altar pribadi dan dewa-dewi pribadi di hati kita. Hidup kristiani bermakna bila kita berusaha melepaskan semua altar dan dewa-dewi pribadi. Ingat kata-kata Tuhan ini: “Aku ini Allah bukan manusia, yang kudus di tengah-tengahmu, dan aku tidak akan datang untuk menghanguskan”.


3. Meditatio

Allah sebagai Bapa. Yah, Dia adalah seorang Bapa yang baik bagi anak-anakNya yang terlena dalam baal dan altar-altar pribadi.
Adalah sebuah drama bagi orang-orang kristiani modern yang hanya berpikir pada level intelektual saja bahwa Tuhan akan memperhatikan kita. Dengan demikian, ketika terjadi salib-salib kecil atau tersandung beban berat dan menyebabkan keluarnya air mata, langsung saja ia mengadili Tuhan. Padahal Tuhan sendiri yang kita imani bukan manusia. DariNya kita mengetahui KTPnya bahwa Ia adalah kasih (1Yoh 4,16). Kita dikasihiNya, diperhatikan sebagai anak kesayanganNya.
Kita memanggil Allah sebagai Abba atau Bapa maka sepatutnya kita berusaha untuk menjadi anak yang baik. Meskipun kita terkadang jauh dari Tuhan namun Ia tetap memanggil kita untuk berbalik kepadaNya. Dia membungkuk dan memberi makan kepada kita. Dia menarik kita dengan tali kesetiaan dan ikatan kasih. Dia tidak akan menghanguskan kita.

4. Oratio

Tuhan Yesus, aku memohon kepadaMu, ambil dan milikilah jiwaku. Di kejauhan hidup ini dariMu karena kedosaanku, berilah kesadaran akan kehadiranMu di dalam hidupku. Terimalah aku dalam kasihMu ya Tuhan. Ubahlah hatiku yang keras menjadi hati yang lembut, hati yang mampu mencintai seperti Engkau sendiri adalah cinta.

5. Contemplatio

Hanya Engkau sendiri saja yang mencari jiwaku ya Tuhan. Tatapan mataMu yang lembut penuh kasih tak akan pernah terlupakan. Dengan tangisan seorang anak yang tersesak, aku memohon, murnikanlah hidupku dari segala dosaku. Engkau memandangku dari atas dengan seluruh kemuliaanMu. Jangan membiarkan aku sendiri ya Tuhan. Kasihanilah aku ya Tuhan menuru kasih setiamu.

6. Actio

Ulangilah dan hidupilah kata-kata Tuhan ini: “Engkau mencintai aku dengan cuma-cuma ya Tuhan”.


***

Lectio 2.

“DOSAMU TELAH DIAMPUNI,
IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU”
(Luk 7, 48.50)
Sebuah komentar rohani atas Injil Lukas 7, 36-50


0. Pendahuluan
            Siapakah Yesus menurut orang Farisi, ahli-ahli Taurat serta para pemuka agama Yahudi? Jawabannya sederhana saja: “Yesus adalah seorang pelahap, peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa (Luk 7, 34).
Lukas mengetengahkan perikop tentang seorang perempuan berdosa (Luk 7, 36-50) untuk menunjukkan bahwa anggapan tentang Yesus semacam itu keliru. Lukas yang terkenal dengan sebutan “Sang pelukis hidup Yesus” hendak menunjukkan Yesus yang mewartakan pertobatan bagi kaum berdosa dan mengampuni mereka. Dengan sikap Yesus yang mengampuni orang berdosa, Ia sebenarnya menunjukkan kegembiraan mesianis dalam karyaNya. Ia juga menunjukkan wajah seorang Allah yang hadir di tengah umatNya, umat yang memerlukan penyucian dan penebusan.
Episode perempuan berdosa dalam injil Lukas ini juga menunjukkan sikap toleran dari Yesus terhadap orang-orang berdosa. Belas kasihan Tuhan yang besar terhadap orang berdosa merupakan inspirasi yang besar bagi Gereja dalam praksis pastoralnya terutama dalam pelayanan sakramen ke empat atau sakramen Tobat[13]. Yesus sendiri ketika memanggil dan mengutus para muridNya memberi kuasa untuk mengampuni dosa-dosa. Kuasa ini tetap ada hingga saat ini dalam diri pengganti para rasul.
“Aku” saat ini juga membutuhkan Yesus sebagai pengampun dosa dan penebusku.

1. Lectio: Lukas 7, 36-50

“Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya dan mengurapinya dengan minyak wangi itu.

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah orang berdosa”. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.” “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapus hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini?” Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi ia membasuh kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. Engkau tidak mengurapi kepalaKu dengan minyak, tetapi dia mengurapi kakiKu dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” Dan mereka yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”

2. Komentar rohani
            Dengan membaca secara saksama teks ini, kita mendapat 3 artikulasi penting yaitu:
Ø Pertama, Undangan perjamuan makan dan kedatangan perempuan yang berdosa (ayat 36-38)
Ø Kedua, Ketidaksukaan Simon terhadap sikap Yesus terhadap perempuan berdosa dan jawaban Yesus dalam bentuk perumpamaan (ayat 39-47)
Ø Ketiga, Pengampunan dosa (ayat 48-50)

Ayat 36-37: ““Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi”.
Episode ini dimulai tanpa menunjukkan kronologi yang jelas. Tampaknya perempuan berdosa[14] itu sudah pernah bertemu dengan Yesus di tempat lain dan mendengarkan sabdaNya. Dengan demikian ia mengambil keputusan untuk mengubah hidupnya (menjadi manusia baru) setelah memperoleh pengampunan dosa. Ia mendengar bahwa Yesus ada di rumah orang Farisi maka ia datang untuk menunjukkan dirinya tanpa merasa malu kepada Yesus. Ia mengucapkan terima kasih kepada Yesus karena Yesus sendiri yang telah mewartakan kegembiraan dan rekonsiliasi dengan Tuhan.
Sikap positif perempuan itu: ia tahu diri bahwa ia berdosa dan datang mencari Yesus yang adalah Allah yang hadir, Allah maha pengampun. Mengapa ia datang kepada Yesus? Karena imannya bahwa Yesus akan memperhatikan dan mengampuninya. Yesus membiarkan orang berdosa menyadari hidupnya dan ketika ia sadar, ia akan berbalik kepadaNya. Suatu metanoia yang berasal dari hati. Sungguh suatu pelajaran berharga bagi setiap insan.
Ayat 38: “Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya dan mengurapinya dengan minyak wangi itu”.
            Sikap positif perempuan tersebut ditunjukkan dengan rasa takjub kepada Yesus. Rasa takjub ditunjukannya dengan menangis dan membasahi kaki Yesus dengan air mata, tersungkur di kaki Yesus, dan menyeka dengan rambut, mencium dan mengurapinya dengan minyak wangi. Air mata merupakan ungkapan penyesalan atas pengalaman kegelapan hidupnya. Dan ia harus merendahkan dirinya di hadapan Tuhan untuk memperoleh pengampunan total. Ini sebenarnya merupakan ungkapan metanoia perempuan itu.
Yesus adalah Rabbi yang baik dan berbelas kasih. Yesus sendiri tidak menjauhkan DiriNya dari perempuan itu. Ia tidak takut tercemar atau terkontaminasi dengan perempuan yang berdosa  itu. Ia memilih untuk tinggal dan mendengarkan. Inilah sikap toleran Yesus terhadap orang berdosa.
            Kemampuan mendengar itu merupakan hal yang sangat berharga. Siapa dan apapun sesama, kita perlu dan harus mendengarkannya. Kemampuan mendengarkan sesama manusia membuat ia bertumbuh menjadi manusia yang matang, membangkitkan rasa percaya diri yang tinggi, dan bisa membuat orang bermetanoia dan menjadi ciptaan baru.
            Ayat 39-40: Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah orang berdosa”. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.”
            Orang Farisi yang bernama Simon itu merasa terheran-heran mengamati Yesus karena sikapNya yang masa bodoh terhadap perempuan berdosa itu. Ia sendiri tidak berani menegur Yesus yang toleran terhadap perempuan berdosa karena Yesus adalah tamu, undangannya. Namun demikian Simon menegur Yesus dalam hatinya dengan berpikir tentang identitas kenabian Yesus. Sebaliknya Yesus yang merupakan nabi,[15] toleran terhadap perempuan itu dan mengetahui seluruh isi hati Simon.
            Orang Farisi ini adalah potret manusia masa kini yang harus berjuang untuk memiliki pikiran yang positif terhadap sesama. Adalah lebih mudah melihat sisi hidup negatif dari sesama daripada melihat kebaikannya. Padahal ini adalah kekeliruan besar. Seharusnya kebaikan sesama adalah hal mutlak yang menghapus segala kekurangannya. Disini langsung adalah sikap kontras antara Yesus yang berpikiran positif terhadap perempuan berdosa dan orang Farisi yang berpikiran negatif terhadap Yesus. Apakah aku adalah Yesus atau si Farisi? Di manakah posisi saya?
            Ayat 41-43: “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapus hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.”
            Bagian ini merupakan sebuah perumpamaan. Pesan kerygmanya adalah Tuhan mendekati manusia sebagai Allah yang mengampuni. Semua manusia adalah orang berdosa di hadapanNya. Ia mengampuni manusia tanpa batas. Kita juga hendaknya belajar untuk mengampuni sesama tanpa batas.
            Ayat 44-46: “Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini?” Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi ia membasuh kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. Engkau tidak mengurapi kepalaKu dengan minyak, tetapi dia mengurapi kakiKu dengan minyak wangi”.
            Sikap Yesus pada bagian ini adalah Ia tidak membandingkan sikap Simon dengan Perempuan berdosa. Ia menghormati Simon. Tetapi Yesus mau membuka wawasan berpikir Simon untuk mengimani Yesus sebagai Rabbi yang benar. Bukan hanya Rabbi tetapi Messias, Anak Allah yang hidup. Yesus mengasihi perempuan berdosa maka Ia mendamaikannya kembali dengan Tuhan. Mengapa? Karena perempuan itu mempunyai iman kepada Yesus.
            Ayat 47[16]: “Sebab itu Aku berkata kepadamu: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”
            Perempuan itu mengetahui bahwa dirinya diampuni dan berdamai dengan Tuhan melalui Sabda penyelamatan Yesus. Perempuan itu juga bersyukur atas pengampunan yang ia terima. Pengampunan adalah inisiatif dari Allah yang berbelaskasih yang senantiasa menolong para berdosa dengan rahamaNya.
            Ayat 48-50: “Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” Dan mereka yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”
            Lukas menyimpulkan perikop ini dengan mengetengahkan iman sebagai sarana untuk membantu orang menerima pengampunan atas dosa-dosanya. Pengampunan dosa dilakukan oleh Yesus karena iman perempuan itu kepadaNya. Ia yang memperoleh pengampunan akan beroleh juga shalom atau damai.

3. Meditatio
            Pada Bab ke-7 Injil Lukas ini, kita temukan bahwa setelah Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum (7, 1-10), dan membangkitkan anak muda di Nain (7, 11-17), kini Ia melengkapi penyembuhan eksistensial dengan mengampuni seorang perempuan berdosa yang anonim (tanpa nama). Si Farisi merasa terganggu dengan sikap Yesus yang membiarkan perempuan berdosa itu menyentuh kakiNya. Ini sungguh skandal orang Farisi itu dan merupakan suatu kenajisan. Sementara Yesus memilih sikap diam, membiarkan perempuan itu bertingkah, dan menunjukkan DiriNya sebagai nabi besar (Luk 7,16).
            Pertanyaan Yesus terhadap Simon membuka wawasan rohani kita. Simon tentu merasa dirinya bahwa ia adalah orang yang berhutang sedikit dan ini berakibat ia memperoleh pengampunan yang terbatas. Sementara ia sendiri mungkin menyadari bahwa perempuan berdosa itu berhutang banyak dan memperoleh pengampunan tanpa batas. Ia mengalami cinta kasih tanpa batas dari Tuhan yang berbelas kasih. Bagi penginjil Lukas, ada hubungan intim antara pengampunan dosa dan cinta kasih penuh kebaikan.
            Iman dan pengampunan dosa saling mendukung satu sama lain. Perempuan itu memperoleh pendamaian dengan Tuhan karena imannya kepada Tuhan. Hatinya terbuka terhadap rencana keselamatan Allah. Hatinya yang gelap diterangi pada perjumpaan dengan Kristus dan ia berubah hidup. Ia ditangkap menjadi milik kepunyaan Kristus. Ia juga membawa damai dalam hidupnya.

4. Aktualisasi perikop dalam Hidup setiap hari
            Perikop injil Lukas tentang perempuan berdosa ini penuh dengan pesan rohani bagi kita. Kita bisa menempatkan diri kita pada ketiga tokoh dalam Injil ini.
Pertama, Kita sebagai perempuan berdosa. Ia tidak dinominasi oleh Lukas. Sebenarnya Lukas mau menunjukkan kepada komunitasnya bahwa semua mereka adalah kumpulan orang-orang berdosa yang menantikan rahmat Tuhan melalui pengampunan dosa. Santo Paulus menulis: “Dimana dosa bertambah banyak, di situlah rahmat Tuhan turun berlimpah-limpah” (Rom 5,20).
Sikap positif yang hendaknya kita ambil dari perempuan berdosa ini adalah keterbukaannya terhadap terang Kristus.Ketika ia berjumpa dengan Yesus, hatinya yang keras diubah menjadi hati manusia yang lembut, hidupnya yang gelap, penuh dosa berubah menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Ia sadar diri dan tersungkur di kaki Yesus sambil menangis. Mungkin ia berseru: “Tuhan kasihanilah aku orang berdosa”. Kesadaran diri karena perjumpaan dengan Kristus membuat ia bersyukur karena Yesus mendamaikan dirinya dengan Bapa di surga.
Pada saat ini kita juga bersyukur karena kita memiliki sakramen tobat atau sakramen rekonsiliasi. Sakramen ini hendaknya tidak dipandang sebagai bagian dari suatu ritus gereja katolik saja. Setiap kali kita mendekatkan diri kepada Tuhan melalui sakramen ini, kita mengalami belas kasihan Tuhan, kita menjadi ciptaan baru seperti perempuan berdosa ini. Pengakuan dosa-dosa kita hendaknya juga mencakup Sabda Bahagia yang disingkat dalam hukum cinta kasih, dan keutamaan-keutamaan kristiani. Sikap bathin untuk berubah atau bermetanoia juga hendak ditunjukkan dalam hidup konkret. Apakah kita setia melaksanakan janji-janji kita setelah pengakuan dosa?
Kedua, Kita sebagai orang Farisi. Kita telah menerima Yesus dalam sakramen permandian. Setiap kali berdoa, sebenarnya kita juga mengundang Yesus untuk masuk dalam perjamuan hidup kita. Tapi terkadang undangan kita itu hanya bersifat dangkal saja. Iman kita kepada Yesus terlalu kecil bahkan tidak ada! Sama dengan si Farisi ini: “Apakah Yesus seorang nabi?” Kita masih mengembara bersama dalam alam keragu-raguan akan pribadi Yesus.
            Dalam hidup bersama, kita sering terjerumus dalam sikap: muda mengadili sesama, melihat hal-hal yang negatif dalam diri sesama. Mengapa kita sulit melihat kebaikan orang? Padahal kebaikan adalah mahkota kehidupan manusia di depan Tuhan. Ketika kita terlampau melihat kejelekan orang, kita sebenarnya semakin tidak sempurna karena sikap seperti itu adalah ekspresi kelemahan atau kejelekan kita sendiri. Ini merupakan tantangan dalam hidup berkomunitas. Komunitas kadang-kadang hancur karena semua orang tidak mensyukuri kebaikan sesama tapi mensyukuri kejelekannya. Sikap terbuka dalam memberi koreksi persaudaraan adalah sangat berharga daripada menutup diri dan melihat kejelekan orang. Positive thinking hendaknya menjadi miliki bersama.
            Ketiga, kita sebagai Kristus. Kristus ditampilkan oleh Lukas sebagai orang yang toleran, diam dan mendengar keluh kesah orang berdosa yang diwakili oleh perempuan itu. Kristus menjadi tanda kehadiran Allah sendiri yang mengunjungi umatnya (Lukas 7,16), untuk membebaskannya dari dosa. Ia yang telah mendamaikan kita dengan Allah.
            Sikap Yesus ini perlu dan harus dimiliki oleh setiap orang. Semakin kita banyak mendengar dan prihatin terhadap sesama, kita akan mencintai dia dan menerima dirinya seadanya. Bahwa dia adalah sesama, tanda kehadiran Tuhan sendiri. Dengan sikap terbuka dan menerima sesama apa adanya, sesama itu akan bertumbuh menjadi matang. Toh semua orang adalah rekan seperjalanan yang perlu saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada seorang manusia yang tinggal di pulaunya sendiri.

5. Tindakan-tindakan konkret
            Silahkan mengulangi doa-doa berikut ini dan temukanlah maknanya yang bisa menjadi makanan rohani dalam hidup setiap hari:

1.   Saya mengaku, kepada Allah yang Mahakuasa dan kepada saudara sekalian bahwa saya telah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian supaya mendoakan saya pada Allah Tuhan kita.
2.   Ya Bapa ampunilah kami dan saudara yang bersalah kepada kami. Kasihanilah dan bantulah kami supaya selalu saling mengampuni, sehingga terciptalah di tengah kami persaudaraan dan keakraban yang sejati, sementara kami menantikan dengan rindu kedatangan penyelamat kami Yesus Kristus.


6. Kata-kata yang mengesankan hidup
            Kita menemukan dalam perikop ini beberapa kata yang lebih mengesankan hidup kita:

DOSA
AMPUN
IMAN
KASIH
DAMAI

Bagaimana kata-kata ini bergaung dalam hidupku di hadapan Tuhan Yesus?

7. Oratio
Berikanlah kepadaku ya Abba yang berbelas kasih kebijaksanaan hati untuk mengenal pengampunanMu dalam diriku dan sesama se komunitas, entah dalam saat-saat yang membahagiakan maupun dalam saat-saat susah. Berilah aku kemampuan untuk melakukan eksodus dalam hidupku yang penuh kegelapan untuk bertemu dengan Dikau, Terang sejati. Terangmulah yang akan membuat aku mengubah hatiku yang keras laksana batu menjadi hati manusia penuh kasih. Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti hatimu. Amen.


***




Lectio 3:

PEREMPUAN-PEREMPUAN MELAYANI
DENGAN KEKAYAAN MEREKA[17]
(Lukas 8, 3)


1. Lectio: Lukas 8,1-3

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota-ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Keduabelas MuridNya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza, bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

2. Komentar Rohani
            Perikop ini merupakan perikop transisi atau peralihan. Sepertinya Lukas mau menyimpulkan kehadiran perempuan dalam karya Yesus (Lukas 7,11-17.36-50) yang mendeskripsikan kebangkitan anak muda seorang janda di Nain dan pertemuan dengan perempuan berdosa di rumah Simon. Perikop ini juga merupakan introduksi kepada itinerary ministry Tuhan Yesus yang nantinya akan menjadi paradigma kegiatan misionaris gereja perdana.
            Sikap Yesus terhadap kaum perempuan yang disinyalir oleh Lukas pada bagian ini khususnya keterlibatan mereka dalam karya Yesus merupakan sebuah upaya untuk mengoreksi kebiasaan-kebiasaan yang menomorduakan kaum perempuan dalam masyarakat Yahudi saat itu. Pada saat itu kaum perempuan adalah warga kelas dua atau kaum pinggiran dalam masyarakat Yahudi. Mereka lebih disamakan dengan anak-anak, kaum hamba sahaja yang tidak memiliki hak-hak istimewa dalam masyarakat. Yesus menolak diskriminasi ini dan berusaha untuk menunjukkan kepada masyarakat zamanNya bahwa kaum perempuan itu sederajat dengan kaum pria.
            Lukas sendiri mengetahui peranan penting kaum perempuan dalam kehidupan Gereja, dengan menggarisbawahi kehadiran mereka dalam hidup Yesus: “mereka melayani Yesus dan murid-muridNya dengan kekayaan mereka”. Lukas juga menekankan bahwa para wanita yang berada di kalvari adalah mereka yang telah menemani Yesus dalam karya perutusanNya (Lukas 23,49.55). Mereka juga memiliki privilese sebagai saksi-saksi pertama kebangkitan Yesus (Lukas 23, 55-24,11).
Ayat 1: Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota-ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah.
Lukas sebetulnya sudah membicarakan perutusan Yesus (Lukas 4, 14; 5,1 dst) , namun pada saat ini perjalanan keliling Yesus menjadi sistematis yaitu perjalanan antar kota dan desa. Ini juga menunjukkan bahwa Yesus senantiasa bergerak untuk mewartakan Kerajaan Allah. Allah Bapa hendak memanifestasikan KerajaanNya dalam karya aktif Yesus Kristus. Hasilnya adalah keselamatan umat manusia. Allah juga berkarya melalui karya-karya Tuhan Yesus dalam memenuhi KerajaanNya di masa mendatang.
Ayat 2-3: Keduabelas MuridNya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza, bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.
            Perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus hendak mengucapkan terima kasih kepadaNya karena telah dibebaskan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit seperti telah diungkapkan pada Lukas 6, 18 dan 7,21. Di sini Lukas hanya menominasi tiga orang tetapi juga menekankan bahwa “banyak perempuan lain[18]” turut melayani Yesus dan para muridNya.  Maria Magdalena berasal dari Magdala, sebuah kampung di sebelah Timur danau Tiberias. Ia dibebaskan oleh Yesus dari tujuh roh jahat. Nomor tujuh menunjukkan kepemilikan total. Ia tidak diidentifikasi dengan perempuan berdosa pada Lukas 7, 36-50 karena Lukas tidak membangun hubungan antara kedua perempuan itu. Yohana, isteri Khuza akan dinominasi kembali oleh Lukas pada bab 24,10 dalam misteri Makam Kosong. Susana tidak dikenal identitasnya.

3. Meditatio
            Lukas mempresentasikan komunitas kecil para murid dan perempuan-perempuan yang menemani perjalanan apostolis Tuhan Yesus. Ini merupakan model bagi kehidupan Gereja dengan kiblat kepada Injil Yesus Kristus. Sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan umum masyarakat Yahudi saat itu, sangat tidak baik kalau kaum perempuan itu mengikuti Yesus dan para MuridNya. Di sini kita melihat bahwa para murid (keduabelasan)-Nya itu dipilih dengan panggilan khusus dari Tuhan Yesus, sedangkan kaum perempuan ini dipilih dengan sikap menerima mereka untuk masuk dalam komunitas dan belaskasihan.
            Situasi dikotomis antara kaum pria dan wanita yang terkadang menyingkirkan kaum wanita pada zaman Yesus, dikoreksi dengan gaya hidup Yesus yang mewartakan Injil tentang Kerajaan Allah di kota-kota dan kampung-kampung. Sekarang kelihatan jelas sebuah komunitas kecil yang mengelilingi DiriNya.

4. Aktualisasi
            Kalau kita mencermati perikop transisi ini, kita melihat suatu sikap toleran yang dimiliki oleh Yesus terhadap kaum wanita. Dalam Bab 7, Ia membangkitkan anak muda seorang janda tanpa nama di Nain dan mengampuni dosa seorang perempuan berdosa di rumah Simon. Kedua perempuan ini anonim, tetapi dalam perikop ini kelihatan Lukas menunjukkan suatu kemajuan dalam memperjuangkan peranan kaum perempuan dengan menominasi nama Maria Magdalena, Yohana dan Susana dan menambahkan “banyak perempuan lain”.
            Aspek-aspek positif yang bisa dikembangkan adalah:
Pertama, Penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan kaum perempuan. Dengan kata lain, upaya pemberdayaan kaum perempuan untuk menjadi manusia yang sungguh-sungguh manusia.
Kedua, Pelayanan tanpa pamrih merupakan suatu panggilan dan rahmat yang perlu terus menerus dihidupkan. Kalau perempuan-perempuan itu melayani dengan kekayaan mereka, kita saat ini melayani dengan hidup kita. Persembahan diri kita secara total dalam hidup bakti merupakan bentuk pelayanan tanpa pamrih kepada Tuhan dan sesama.

5. Oratio
Berilah kami ya Abba rahmat dan kehendakMu untuk membuka hidup kami pada kehadiran kerajaanMu, yang dimulai di atas bumi melalui penjelmaan PuteraMu, sebab dengan membebaskan kami dari ketakutan, kami dapat membentuk suatu komunitas kristiani yang penuh persaudaraan dengan hubungan-hubungan baru, yang ditandai dengan kebebasan dan solidaritas dalam pelayanan tanpa pamrih.


Lectio 4:

YESUS SANG GEMBALA BAIK:
(Komentar Spiritual atas Injil Yohanes 10,1-42)

            Sejak dahulu hingga saat ini, tema Yesus sebagai gembala yang baik (buon pastore) selalu akrab dan menyatu dengan umat kristiani. Mengapa demikian? Karena umat kristiani percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan penyelamat manusia. Ia sendiri yang mengantar orang-orang kesayanganNya kepada Bapa di Surga. Dia adalah Jalan menuju kepada Bapa (Yoh 14,6). Yesus laksana gembala yang baik bagi kawanan domba yang senantiasa mengantar domba-dombanya kemana saja mereka ingin pergi dan melindungi mereka dari para pencuri dan perampok[19].
            Dalam tulisan ini saya coba membuat komentar spiritual atas Injil Yohanes Bab ke-10 yang sangat sederhana untuk dapat mengenal lebih dalam pribadi Yesus sebagai Gembala yang baik. Injil Yohanes Bab ke-10 terdiri atas dua bagian penting:

Bagian pertama yaitu Yoh 10,1-21:
·    Presentasi enigmatis tentang gembala dan pintu (1-6)
·    Interpretasi simbolik dari diskursus ini: Yesus adalah pintu bagi domba-domba (7-10) dan Yesus adalah gembala baik (11-18)
·    Reaksi-reaksi para pendengar (19-21)

Bagian kedua yaitu Yoh 10,22-42:
·    Yesus sebagai Mesias dan domba-dombaNya dalam hubungan dengan Bapa (22-31)
·    Kontroversi tentang Yesus sebagai Putera Allah (32-39)
·    Sintesis konklusif tentang misteri Pribadi Yesus (40-42)

Kita akan mendalami bagian-bagian ini selayang pandang.

1. Presentasi enigmatis tentang “pintu” dan “gembala” (1-6)
            Isi diskursus misterius Yesus yang ditunjukkan oleh penginjil kepada kita adalah tentang jawaban konkret dari komunitas kristiani kepada orang-orang Yahudi yang telah mengusir orang yang buta sejak lahir di dalam sinagoga karena ia mati-matian membela Yesus yang telah menyembuhkannya di hadapan mereka (lihat Yoh 9, 1-41). Di sini kelihatan jelas bahwa betapa kerasnya hati para pemimpin Yahudi untuk tidak menerima Yesus. Dengan mengetahui sikap para pemimpin Yahudi ini maka Yesus mengucapkan kata-kata enigmatis seperti ini: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk di dalam kandang domba tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba” (ayat 1-2).
            Di sini Ia mempertentangkan pencuri dan perampok dengan gembala dan domba-dombanya. Pintu adalah tempat masuknya domba-domba. Pintu sebetulnya merupakan bahasa metaforis yang menunjuk pada Bait Allah sebagai tempat kudus di Israel. Bait Allah merupakan simbol persatuan nasional yudaisme baik kultus maupun agama. Ia juga menjadi simbol teokrasi bagi mereka.  Namun demikian dari sudut pandang iman kristiani, pintu adalah Yesus sendiri. Yesus adalah gembala bagi domba-domba yang akan masuk melalui pintu. Dialah yang sebetulnya merupakan gembala baru bagi umat Israel.
            Kesalahan fatal yang dibuat oleh para pemimpin Yahudi adalah menolak pribadi Yesus dan tidak melewati pintu yang adalah Yesus sendiri, padahal Yesus sendiri adalah jalan menuju kepada Bapa (Yoh 14,6).Barang siapa tidak masuk dan bersatu dengan Yesus, Ia adalah seorang pencuri dan perampok dan seorang gembala palsu yang tidak akan membawa domba-domba (baca: umat Allah) kepada keselamatan.
            Pada kenyataannya orang-orang Yahudi boleh mendengar suara Yesus yang memanggil mereka satu persatu dengan namanya masing-masing dan memperkenalkan DiriNya kepada mereka secara akrab. Namun demikian hanya sedikit yang mendengar suaraNya dan menjawabnya dengan nada penuh ketaatan sehingga mereka menjadi domba-dombaNya. Dengan pekerjaanNya, Ia berhasil membawa mereka keluar dari sinagoga kehidupan mereka yang sempit.
            Kita lihat kembali kisah orang yang buta sejak lahir pada Injil Yohanes bab ke-9. Setelah disembuhkan oleh Yesus, ia lalu menjadi manusia baru. Sebagai konsekuensinya, ia diusir keluar dari sinagoga karena kesaksian imannya tentang Yesus. Yesus pun menerimanya dan membimbingnya kepada Bapa. Memang, ia keluar dari sinagoga manusiawinya, menjadi ciptaan baru yang bernilai di mata Yesus. Ia ditangkap oleh Yesus menjadi milik kepunyaanNya dan di antar kepada Bapa.
            Yesus sungguh merupakan gembala yang baik dan benar. Ia membentuk ikatan persekutuan yang kuat dengan domba-dombaNya. Ia sendiri mengatakan: “Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang asing itu tidak mereka kenal.” (ayat 4-5).

2. Interpretasi simbolik dari diskursus ini
            Yesus mengetahui bahwa banyak orang tidak memahami kata-kataNya. Karena itu Ia berusaha untuk menjelaskan secara simbolis kata-kataNya yang sebetulnya menunjuk pada PribadiNya sendiri.

2.1. Yesus adalah Pintu bagi domba-domba (7-10)
            Yesus mewahyukan DiriNya sebagai pintu bagi domba-dombaNya. Perhatikan autorivelasi atau pewahyuan pribadiNya dalam kata-kata berikut ini: “Akulah pintu ke domba-domba itu” (ayat 7 dan 9)[20]. Yesus sebagai pintu masuk kepada Bapa di Surga. Dapatlah dikatakan bahwa Ia menjadi pintu keluar bagi orang-orang Yahudi dari kandang yudaisme mereka dan masuk ke dalam Diri Yesus untuk memperoleh keselamatan[21].
            Santo Yohanes menegaskan kepada komunitasnya dan kepada kita juga bahwa Yesus, dengan Misteri InkarnasiNya menjadi tempat untuk bertemu dan menerima Bapa dan segala RahmatNya. Ia tetaplah jalan yang dilewati, pintu yang utama menuju kepada Bapa.

2.2. Yesus adalah gembala yang baik (11-18)
            Pada bagian ini kita bertemu dengan autorivelasi yang kedua: “Akulah gembala yang baik” (ayat 11 dan 14).[22] Yesus bukan hanya sekedar mewahyukan DiriNya sebagai gembala yang baik melainkan lebih dari itu Ia menyerahkan DiriNya bagi domba-dombaNya (ayat 11), mengenal domba-dombaNya (ayat 14) dan supaya mereka tidak binasa (ayat 28-29).
            Kita juga melihat cinta kasih timbal balik antara Bapa kepada Yesus dan antara Yesus kepada Bapa sebagai cinta filial, penuh ketaatan: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan Nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Ku terima dari Bapa-Ku” (ayat 17-18).

2.3. Reaksi-reaksi yang berbeda-beda dari para pendengar (19-21)
            Dengan autorivelasiNya sebagai Gembala yang baik membangkitkan pertentangan di antara orang-orang Yahudi. Reaksi negatif: menganggap Yesus sebagai orang yang kerasukan setan dan gila. Sebelumnya mereka juga telah mengaggap Yesus sebagai orang yang kerasukan setan[23]. Namun demikian ada juga reaksi positif, “Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?” (ayat 21)
            Pesan penginjil bagi kita adalah telah tiba saatnya untuk memilih dan mengikuti Yesus karena Ia bukan hanya bersaksi melalui tanda-tanda seperti mukjizat-mukjizat saja tetapi juga melalui SabdaNya sehingga memberi arti tersendiri bagi kehidupan manusia.

3. Yesus sebagai gembala dan domba-dombaNya berhubungan dengan Bapa (22-31)
            Yesus mewahyukan DiriNya sebagai Mesias. Banyak orang tidak percaya kepadaNya karena mereka tidak termasuk di dalam kawanan dombaNya. Domba-dombaNya yang hidup memiliki relasi intim dengan Yesus dan Bapa dengan mengikutiNya dalam iman.
            Pesta pentahbisan Bait Allah dirayakan di Yerusalem biasanya pada musim dingin. Yesus berjalan-jalan di Bait Allah tepatnya di serambi Salomo. Serambi ini terletak di bagian Timur dekat dengan Bukit Kidron dan mengarah ke Getzemani[24].
Ada yang bertanya kepada Yesus: “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus-terang kepada kami”. (ayat 24). Pertanyaan ini memang kelihatan tulus namun sebetulnya merupakan pertanyaan provokatif. Yesus menjawab pertanyaan ini dengan penekanan yang berbeda. Pertama, tentang Mesias (25-31) dan kedua, tentang keilahianNya (32-39).
Sebagai Mesias, segala sesuatu yang dilakukan bukan atas namaNya sendiri melainkan atas nama Bapa.[25] Dan ini juga merupakan bukti kebenaran pewahyuan dan identitasNya: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama BapaKu, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya karena kamu bukan domba-dombaKu” (25-26). Barang siapa mendengarnya akan memberikan bukti bahwa Ia adalah bagian dari Umat Allah yang baru: “Domba-dombaKu mendengar suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak merebut mereka dari tanganKu” (27-28). Pada kedua ayat ini ditegaskan 3 hal penting yang berhubungan erat dengan identitas domba-domba dan hubungan mereka dengan Yesus: mendengar suara, mengikuti, dan tidak binasa. Yesus juga memberikan teladan yang baik persekutuanNya dengan Bapa: “Aku dan Bapa adalah satu” (30).

4. Kontroversi tentang Yesus sebagai Putera Allah (32-39)
            Yesus mewahyukan DiriNya sebagai Putera Allah. Ia mendasarkan diri pada dua argumen penting yaitu: kesaksian dari Kitab Suci dan segala karya yang dilakukan atas nama BapaNya. Yesus terlebih dahulu menantang lawan-lawanNya: Ia telah melakukan segala pekerjaan yang baik atas nama BapaNya di surga namun mengapa orang-orang Yahudi ingin melempariNya dengan batu? (ayat 32). Namun jawaban orang-orang Yahudi adalah: “Bukan karena suatu pekerjaan yang baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah” (ayat 33).
            Untuk pertama kalinya Yesus dianggap menghujat Allah karena Ia menyatakan diriNya sebagai Putera Allah[26]. Itu sebabnya mengapa orang-orang Yahudi meminta Pilatus untuk memberikan hukuman mati karena “Ia telah menganggap diriNya sebagai Putera Allah”[27]. Di Israel, orang-orang lain mengaggap dirinya sebagai mesias dan nabi namun tidak membangkitkan kemarahan para pemimpin Yahudi. Hanya dalam diri Yesuslah muncul kebencian yang mendalam. Padahal Ia bukanlah manusia yang menjadi Tuhan melainkan Tuhan menjadi manusia.
            Sekarang Yesus mulai membuktikan diriNya sebagai Putera Allah dengan berdasar pada Kitab Suci: “Tidakah ada tertulis di dalam Kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah?” (ayat 34)[28]. Para ekseget rabinis juga menyebutnya allah (dalam arti yang metaforis) bagi orang-orang sederhana, sebagai penghargaan atas otoritas yang diterimanya dari Tuhan untuk suatu perutusan penting demi kebaikan umatnya. Itu sebabnya dinominasi para hakim-hakim, Musa dan Yeremia. Yesus lalu menggunakan metode a minori ad maius yang biasa dipakai para rabbi. Kalau ada orang yang dipanggil allah, apalagi sang Putera Allah: “Dia yang telah dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia” (ayat 36). Pada kenyataannya Yesus telah dikuduskan (hegiasen) yakni dikuduskan oleh Bapa untuk suatu missi khusus yakni tanda pewahyuan yang definitif tentang keselamatan universal.
            Selain argumentasi berdasarkan Kitab Suci, Yesus juga mendasarkan diri pada segala pekerjaan yang telah dilakukan atas nama BapaNya (ayat 32) dan bertujuan untuk menumbuhkan iman mereka kepadaNya[29]. Semua pekerjaan ini menjadi saksi atas keilahian Yesus karena segala sesuatu itu dikerjakan karena Bapa bekerja di dalam Dia[30].  Lebih tegas lagi Yesus mengatakan: “Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa”. (ayat 38). Sekali lagi di sini terjadi afermasi tentang imanensi Allah dalam diri Yesus yaitu persekutuan hidup dan kesatuan tindakan antara Bapa dan Putera. Kontroversi ini membangkitkan amarah dari orang-orang Yahudi dan mencoba menangkapNya namun saatnya belum tiba.

5. Sintesis konklusif tentang Pribadi Yesus (40-42)
            Pada bagian terakhir ini penginjil mengetengahkan Yesus yang pergi lagi ke seberang sungai Yordan. Ini merupakan kesimpulan dari debat antara Yesus dan para pemimpin Yahudi di sekitar Bait Allah. Yesus kembali lagi ke titik awal perutusanNya “di seberang sungai Yordan” setelah kesaksian Yohanes Pembabtis[31]. Mengapa? Karena kelihatan bahwa karya perutusan Yesus di hadapan orang-orangNya, autorivelasiNya kepada dunia dirasakanNya sebagai gagal total. Ia disingkirkan oleh orang-orangNya sendiri karena kebencian mereka kepadaNya dan harus menjauhi diri dari Yerusalem, namun kemudian kembali untuk memasuki Misteri PaskahNya. Namun demikian Yesus tetaplah hebat! Banyak orang percaya kepadaNya (ayat 42).

6. Refleksi sederhana
            Bercermin pada teks yang sangat kaya dengan nilai-nilai rohani ini di manakah posisi aku yang sebenarnya?
Ø Aku adalah salah satu dari domba-domba yang masuk melalui Pintu yakni melalui Yesus untuk bersatu dengan Bapa.
Ø Aku adalah pencuri dan perampok yang selalu mengganggu domba-domba yang lain.
Ø Aku adalah salah satu dari para pemimpin Yahudi yang tertutup hatinya dan tidak keluar dari sinagoga pribadinya, tidak mau bertemu dengan Yesus, tidak mengenalNya sebagai Mesias bahkan berniat untuk membunuhNya.
Ø Aku adalah orang yang buta sejak lahir yang dijadikan ciptaan baru oleh Yesus dan bersedia menjadi saksi iman kepadaNya.
Ø Aku adalah gembala yang baik seperti Yesus bagi saudara-saudaraku yang miskin, dan tersingkir dalam masyarakat.
Ø Aku adalah Yesus. Aku adalah pintu, aku adalah gembala yang baik yang menyerahkan nyawa bagi sesamaku.

***




Catatan Akhir

[1] Bahan bacaan untuk memasyarakatkan Lectio Divina di Sumba.
[2] Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, No 25.
[3] Ibid. no, 21
[4] Ibid. no,12
[5] Bdk. Konsili Vatikan II, Dekrit Presbyterorum Ordinis,4
[6] Kata-kata dalam Kitab Ulangan ini akan diucapkan sendiri oleh Yesus misalnya dalam Injil Matius 4,4 dan Lukas 4,4.
[7] Bdk. Yesaya 43,5; Yer 23,3; 29, 14; 32,27; Yehezkiel 11,17; 34,14; 36,24.
[8] Bdk. CIVCSVA, “La Vita Fraterna in Comunita’”, 48.
[9] Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik Vita Consecrata (VC), 94
[10] CIVCSVA, Starting…, 24 dan 25.
[11] Giovanni Paolo II, Lettera Apostolica “Nuovo Millenio Ineuente”, 40; CIVCSVA, Starting…, 24
[12] Menurut Guigo, seorang biarawan Kartusian, Lectio itu seumpama  memasukkan makanan ke dalam mulut; Meditatio: mengunya makanan tersebut, Oratio: menikmati enaknya makanan tersebut, Contemplatio: mengasimilasikannya dalam hidup yang konkret untuk kebahagiaan diri.
[13] Sakramen ke empat biasa di sebut juga sakramen Tobat atau sakramen Pengakuan dosa. Dewasa ini sakramen keempat lebih dikenal dengan nama sakramen Penitensi atau sakramen Rekonsiliasi.
[14] Seorang perempuan pada ayat 37 ini bukan Maria Magdalena (Luk 8,2) bukan juga Maria saudari Marta (Luk 10,39; Yoh 11:1, 2,5; 12: 2-3). Perempuan ini anonim yang kiranya mewakili semua orang berdosa termasuk kita.
[15] Dalam Lukas 7,16 kita melihat pengakuan orang: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita”. Ini berarti bagi mereka, Yesus adalah seorang nabi.
[16]Dalam bagian pertama ayat ini nampaknya kasih itu menyebabkan pengampunan dosa padahal dalam bagian kedua ayat ini pengampunan dosa menyebabkan kasih. Pertentangan ini disebabkan kenyataan bahwa dalam bagian injil ini dua unsur yang berbeda dicampurkan. Dalam ayat 37-38, ayat 44-46 perbuatan perempuan itu menyatakan kasih besar yang layak ditanggap dengan pengampunan dosa. Ini disimpulkan dalam bagian pertama ayat 47 ini. Sedangkan dalam ayat 40-43 disisipkan sebuah perumpamaan yang kesimpulannya terbalik: pengampunan yang lebih besar menghasilkan kasih yang lebih besar pula. Kesimpulan ini terdapat dalam bagian terakhir ayat 47 ini.
[17] Sebuah komentar rohani atas injil Lukas 8,1-3 oleh P. John Laba, SDB, Komunitas Salesian Don Bosco Weetebula, Sumba.
[18] Menurut Injil Markus: “Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses serta Salome. Mereka semuanya telah mengikut Yesus dan melayaniNya waktu di Galilea. Dan ada juga di situ banyak perempuan lain yang telah datang ke Yerusalem bersama-sama dengan Yesus.
[19] Sumber inspiratif dari Injil Yohanes Bab ke-10 ini adalah teologi pastoral Perjanjian Lama dalam Kitab Mazmur 23; Yehezkiel,34; Yeremia 23,1-6 dan Zakharia 11,4-17.
[20] Menurut saya, ada kemungkinan Yesus menunjuk DiriNya sebagai pintu masuk ke kandang domba seumpama sebuah pintu untuk masuk ke dalam kota Yerusalem. Kota Yerusalem dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi dan memiliki banyak pintu gerbang. Ingat bahwa konteks injil ini adalah kota Yerusalem yang ramai karena pesta Hari Raya Pondok Daun.
[21] Bandingkan dengan beberapa perikop berikut ini: Mt 7,13-14; 25, 10-12; Luk 13,24-26. Di dalam Mazmur 118 ayat 20 misalnya dikatakan: “Bukalah bagiku pintu-pintu keadilan dan aku akan masuk untuk bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah pintu Tuhan yang dengannya akan masuk orang-orang benar”.
[22] Bayangan tentang gembala kita temukan di dalam Perjanjian Lama yang menjelaskan nilai-nilai luhur sang Mesias, misalnya Mikha 5,3; Yehezkiel 34,23-31; Yeremia 3,15; 23,35; Mazmur 23; Zakharia 3,7-9. Di dalam Perjanjian Baru kita menemukan sosok Yesus sebagai gembala yang berbelaskasih dan pengampun: Mt 18,12-14; Luk 15, 3-7. Yesus dalam karya mesianik: Mt 9, 36-38; Markus 6,34; 14,7. Yesus sebagai gembala keselamatan semua orang : Mt 10,16; 25, 31-33; Luk 12,32.
[23] Yoh 7,20; 8, 48.52.
[24] Kis 3,11-12; 5,12
[25] Yoh 2,1-12; 5,1-9; 6,1-15; 9,1-7.
[26] Lihat juga Yoh 5,17; 8,58-59
[27] Yoh 19,7
[28] Kutipan ini diambil dari Mazmur 82,6
[29] Yoh 9, 3-4
[30] Yoh 5, 19-20.36
[31] Yoh 1, 28 dst

Renungan 9 Maret 2012


Kej 37:3-4.12.13a.17b-28; Mzm 105:16-17.18-19.20-21; Mat 21:33-43.45-46

Berapa harga seorang saudara?

Berita yang cukup menggemparkan dari Warta Kota 10 Pebruari 2012. Media ini memberitakan bahwa seorang perempuan muda berinizial VN (20) tega membunuh adiknya berinizial R (14) karena adiknya ini sering mencaci maki VN. Perbuatan yang dilakukan VN adalah membekap R hingga kehabisan napas dan tewas. Setiap orang yang medengar atau membaca berita seperti ini pasti akan berpikir dan bertanya berapa harga seorang saudara? Begitu murahkah seorang saudara sehingga mudah untuk dibunuh, dijual, atau dilecehkan? Alasan-alasan mengapa terjadi perlakuan yang kejam terhadap saudara kandung adalah iri hati, cemburu, marah dan lain sebagainya.

Pengalaman keluarga Israel (Yakob) juga mirip. Israel lebih mengasihi Yusuf dari saudara-saudaranya karena Yusuf lahir pada masa tua Isarel. Wujud kasih Israel adalah memberikan pakaian yang indah kepada Yusuf. Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan dan iri hati dari saudara-saudaranya. Siasat yang dilakukan saudara-saudaranya: “Mari kita membunuh dia, melemparinya ke dalam sumur”.Tetapi pikiran mereka berubah: “Marilah kita jual dia kepada orang Ismael, jangan kita apa-apakan karena dia saudara kita”. Persekongkolan dan kejahatan saudara-saudara Yusuf berhasil. Mereka menjual Yusuf ke Mesir dan mengelabui Israel ayah mereka.

Kisah Yusuf ini mirip dengan kisah Yesus. Dalam perumpamaan tentang tuan tanah yang membuka kebun anggur, para pekerja juga mengadakan persekongkolan untuk membunuh para utusan bahkan anak kandungnya sendiri ditangkap dan dilempari keluar dari kebun anggur itu. Tuan kebun anggur adalah Bapa Surgawi, para utusan adalah nabi-nabi yang menyadarkan umat Allah tetapi mereka tidak bertobat. Yesus sebagai “Anak yang dikasihi dan yang harus didengar” juga nantinya dibunuh. Oleh karena itu Yesus berkata kepada orang-orang Farisi dan para imam kepala bahwa Kerajaan Allah akan diambil dan diberikan kepada orang lain yang akan menyerahkan hasilnya pada saat yang tepat.

Dunia ini masih penuh dengan kebencian, iri hati, dengki dan napsu-napsu yang jahat. Iblis seperti singa yang ganas masih merajalela. Padahal berkali-kali Tuhan menyapa kita semua dengan SabdaNya dalam Alkitab atau renungan-renungan rohani. Tujuannya adalah supaya kita setiap hari membangun semangat pertobatan (metanoia) dan berjalan dalam jalan kekudusan sesuai dengan kehendakNya. Apalagi Tuhan sendiri berjanji akan memberikan kebun anggurNya kepada kita dan mengusahakannya dengan baik sehingga menghasilkan banyak buah dan menyerahkannya kepada Tuhan. Namun kita belum sadar. Kita butuh Yesus untuk membangunkan kembali kesadaran kita ini.

Mari kita membuang rasa benci dan amarah, iri hati dan dendam yang dapat menghancurkan relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Berapa harga seorang saudara? Bertobatlah!

PJSDB

Thursday, March 8, 2012

Gembalakanlah Domba-DombaKu


“GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBAKU”
(Yoh 21:15.16.17)


Bacaan: Yoh 21:15-19

21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
21:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
21:19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."

1.      Pengantar: Pemahaman Umum

Ketika membaca Injil Matius, Markus dan Lukas kita menemukan banyak kesamaan dalam bahasa. Itu sebabnya disebut Injil Sinoptik.  Kata  sinoptik berarti  "dapat   dilihat   dalam   satu  pandangan."  Yang dimaksudkan ialah bahwa Injil Matius, Markus, Lukas sangat mirip. Dengan demikian, mudah disejajarkan dan dapat dibandingkan. Dari situ kita melihat misalnya bagaimana rumusan Markus agak  berbeda  dengan  Matius  dan Lukas. Tetapi   pada dasarnya  mereka  sama.  Injil-Injil sinoptik sangat tergantung satu dengan  yang  lain.  Namun masing-masing mempunyai  corak  dan  caranya sendiri sesuai dengan bakat dan watak masing-masing  pengarangnya.

Ciri-ciri  Injil  sinoptik  ialah bahwa  secara  cukup  lengkap menggambarkan perjalanan Yesus sejak dari hidup-Nya di  Nazaret  sampai  dengan  wafat  dan kebangkitan-Nya  di  Yerusalem. Dalam Injil-injil itu dengan cara yang berbeda-beda diberi lukisan mengenai diri Yesus, dengan  menggambarkan  tindakan  dan  perbuatan-Nya dan dari lain pihak juga, khususnya dalam  Injil  Matius  dan  Lukas, menyajikan  ajaran-Nya.  Pokok dari Injil-injil ini seperti juga dari Injil Yohanes, ialah mau memberikan suatu gambaran tentang  siapa  Yesus  itu. Dan ternyata dalam Injil Matius, Yesus lebih dikemukakan sebagai Guru dan Pemimpin.  Markus lebih melukiskan-Nya sebagai  Penebus, Dia  yang  harus menderita untuk rakyat-Nya.  Sebaliknya dalam  Injil  Lukas, Yesus adalah Tuhan yang mulia, yang penuh kuasa bertindak di antara  murid-muridnya.  Dan Injil  Yohanes,  yang   memang berbeda dengan sinoptisi, lebih menonjolkan keallahan Yesus.

Walaupun Injil-injil sinoptik semua mempunyai kerangka yang sama,  yang  oleh Matius dan Lukas diambil alih dari Markus, namun masing-masing  mempunyai  cirinya  yang  khas.  Matius sangat  menekankan Gereja sebagai jemaat yang didirikan oleh Yesus. Matius juga sangat bersifat yahudi dalam arti  bahwa, entah  karena  diri  Matius  sendiri, entah karena umat yang untuknya ia  menulis  Injil,  sangat  banyak  memperlihatkan perhatian  untuk  masalah-masalah  yahudi.  Sebaliknya Injil Lukas adalah Injil untuk orang kafir, dengan tekanan  pada sasaran  universal  dari  karya dan pewartaan Yesus dan para Rasul. Lukas  juga  memperlihatkan  perhatian  yang  sangat besar  untuk  orang  yang  tidak  berdaya  dalam masyarakat, khususnya  orang  miskin,  anak-anak,  kaum  wanita,  orang berdosa, pendek kata semua orang yang tidak terpandang dalam masyarakat Yahudi.

Oleh Lukas, Yesus digambarkan sebagai Tuhan  yang  mulia tetapi sekaligus juga sebagai pelayan dan penghibur umat manusia. Sebaliknya Injil Markus, yang paling pendek, menekankan  bahwa  Yesus, yang adalah Anak Allah, merendahkan diri dan menjadi  tidak  berdaya  dan  menderita untuk  umat  manusia.  Maka  Injil  Markus  dari  satu pihak menonjolkan kekuasaan Yesus, tetapi  dari  lain  pihak  juga amat  menekankan  oposisi  dengan orang Yahudi yang akhirnya membawa Dia kepada kematian-Nya.

Sudah  dikatakan  di  atas  bahwa Injil-injil  tidak  hanya  berbeda  menurut  gaya bahasanya, tetapi juga sedikit menurut  isinya.  Gambaran Yesus dalam Matius, Markus, Lukas dan Yohanes berbeda-beda. Seringkali kekhasan masing-masing pengarang Injil digambarkan  secara simbolis.

Matius digambarkan  sebagai  seorang manusia. Yesus sebagai Utusan Allah, yang menyampaikan Sabda Allah,  kabar  gembira dari  Allah.  Sebab  juga  mengenai  Yesus sendiri dikatakan bahwa Ia "memberitakan Injil Kerajaan Allah" (Mat 4,23)

Sebaliknya Markus sering digambarkan sebagai singa, sebab Markus  menggambarkan  daya kekuatan Allah yang ada di dalam Yesus. Yang tersimbol ialah Yesus yang  adalah  Anak  Allah, tetapi  Anak  Allah  yang menderita; daya kekuatan-Nya tidak tampak, sebab, karena kesatuan-Nya dengan umat manusia, Ia harus memikul beban dosa umat manusia.

Lukas  lain.  Dia seringkali digambarkan sebagai sapi, ialah binatang yang boleh dikatakan sangat lunak dan halus. Begitu juga  Lukas  yang  penuh  perhatian untuk orang kecil, untuk segala peristiwa  dan  perkara  yang  kecil.  Tampaknya dia adalah  pengarang  Injil  yang  paling sederhana, yang hanya memberi dongeng, kisah hidup Yesus.  Bahwa  di  dalamnya  ia justru  mau  menggambarkan  Yesus  sebagai  yang mulia, yang penuh kuasa, yang diberi Roh Kudus  untuk  dibagikan  kepada kita, itu sering kurang kita sadari. Yang diingat dari Injil Lukas adalah terutama kisah Natalnya  dan  juga  kisah-kisah pergaulan   Yesus   dengan  anak-anak  kecil,  dengan  orang sederhana, dimana juga ada perumpamaan  mengenai  anak  yang hilang.  Pokoknya  Lukas memperlihatkan kebaikan hati Yesus. Tetapi Yesus yang  baik  hati  justru  memperlihatkan  kasih Allah kepada manusia.

Dan Yohanes  yang  digambarkan sebagai rajawali, menekankan keallahan Yesus itu.  Dia  terbang  sampai  ke  langit  yang tertinggi untuk memperlihatkan siapa Yesus sebetulnya. Yesus dalam Injil Yohanes sungguh tampil sebagai Anak Allah, penuh kekuasaan, penuh kebijaksanaan, penuh  dengan  kemuliaan ilahi.

Dengan memahami aneka perbedaan dari Injil Sinoptik dan Injil Yohanes di atas maka fokus belajar dalam pertemuan ini adalah tentang tugas pastoral dari Petrus menurut Penginjil Yohanes. Mengapa tugas pastoral Simon Petrus ini perlu kita perdalam? Karena tugas ini diberikan kepada Petrus atas nama Gereja. Dia diberi mandat untuk memperhatikan dan melayani Gereja dalam hal ini Jemaat sebagai wujud kasihnya kepada Tuhan.

2.      Memahami Perikop

Sebelum melantik Petrus menjadi gembala atas domba-domba, Yesus memberi kesempatan kepada Petrus untuk membenahi dirinya setelah tiga kali menyangkal Yesus dengan menyatakan cintanya kepada Yesus. Ini adalah sebuah rekonsiliasi pribadi Petrus dengan Tuhan. Mandat yang diberikan oleh Yesus kepada Petrus sebanyak tiga kali yakni “Gembalakanlah domba-dombaKu”  menunjukkan dimensi misionaris Gereja dan kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya.

Figur gembala dalam dunia kuno sebanding dengan kuasa rajawi. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Tuhan sendiri menjadi gembala bagi umat Israel (Kej 49:24; Hos 4:16; Yer 23:1-6; 31:10; Yeh 34; Yes 40:11; Mzm 23; 80:1). Kuasa ini juga ada dalam diri Yesus yang mengatakan diriNya sebagai Gembala yang baik bagi domba-domba yang dipercayakan Bapa kepadaNya (Yoh 10:11-18). Sekarang giliran Yesus mempercayakan tongkat kegembalaan dan domba-dombaNya kepada Petrus. Komando Yesus kepada Petrus sebanyak tiga kali dan disaksikan oleh para MuridNya.

Tipe otoritas kepemimpinan mana yang diberikan oleh Yesus kapada Petrus? Santo Ambrosius menjelaskan bahwa Yesus memberikan Petrus kepada kita sebagai wakil kasihNya. Semua pelayanan Petrus merupakan implikasi dari persekutuannya yang mendalam dengan Kristus dan nantinya diungkapkan dalam pemberian diri secara total. Jadi komitmen kasih yang total dan pemberian diri yang tanpa batas dari Yesus berdampak pada upaya dan semangat untuk memelihara dan membimbing komunitas para rasul dan umat yang percaya kepada Yesus.

Ayat 15-17: Kata “mengasihi” dibedakan dari kata kerja phileîn dan agapân. Phileîn adalah kasih yang sifatnya lebih emosional, manusiawi, soal perasaan afektif. Kata ini melukiskan persaan kasih dengan member diri kepada pribadi yang disayangi (antar manusia). Sedangkan agapân lebih mengungkapkan kasih yang bersifat rohani, oblatif. Maka ekspresi “mengasihi Aku lebih dari mereka ini” menjadi factor pembeda antara Petrus dan para rasul yang lain. ‘Gembalakanlah domba-dombaKu” mengimplikasikan suatu kuasa juridis istimewa dari Yesus kepada Petrus.

Ayat 18-19: Dengan formulasi meriah: Amen, Amen atau “sesungguhnya” Yesus mengintroduksi nubuat tentang kemartiran Petrus. Pada masa itu pemahaman orang tentang akhir hidup manusia belumlah jelas. Maka Yesus mengggunakan bahasa yang bias dipahami: “ketika masih mudah mengikat pinggang,berjalan sesuai kehendak pribadi. Pada masa tua akan mengulurkan tangan, mengikat engkau, membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Konsep tentang penyaliban Petrus belum jelas terungkap dalam nubuat Yesus ini. Yang jelas ajakan untuk mengikuti Yesus berarti pintu penderitaan terbuka bagi Petrus.

3.    Mendalami perikop: Dialog Yesus dan Petrus

Setelah memahami perikop ini, sekarang mari kita mendalaminya. Perikop kita merupakan bagian kedua dari Bab ke-21 epilog Injil Yohanes. Tokoh Petrus sebagai leader komunitas para rasul memiliki posisi penting dalam epilog Injil Yohanes. Petrus hadir aktif dalam kisah mujizat tentang penangkapan ikan yang berjumlah 153 ekor banyaknya, dan pengenalan para rasul akan Yesus yang bangkit dengan mulia. Petrus memiliki peran dalam komunitas dengan tugas sebagai pemimpin bagi para domba (ayat 15-17) dan member kesaksian dengan kemartiran (18-19).

Tuhan Yesus hebat. Sebelum mempercayakan tugas kegembalaan Gereja kepada Petrus, Ia memintanya untuk mengakui atau mengkirarkan kasihnya. Ini adalah syarat mutlak bagi siapa saja yang mau bertugas sebagai pembimbing rohani. Setelah tiga kali mengikrakan kasihnya kepada Kristus maka dia juga diundang untuk mengikuti Kristus dalam jalan salib dan pemberian diri. Misi Gereja dan setiap umat secara pribadi hendaknya selaras dengan Kristus sendiri. Dia adalah satu-satunya penyelamat kita.

Dialog ini menekankan tiga elemen penting yakni misi, kemartiran dan mengikuti Kristus (sequela).

3.1.           Misi

Yesus bertanya kepada Petrus: “Apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini”. Pertanyaan ini merupakan sebuah pertanyaan tentang kasih kepada Pribadi Kristus. Jawaban Petrus merupakan sebuah penegasan terhadap tugas pastoralnya di dalam Gereja (ayat 15,16,17). Perikop ini juga merupakan perikop yang mau menguatkan Petrus karena sebelumnya Ia telah menyangkal Yesus (Yoh 18: 17.25.27). Penguatan Petrus menjadi gembala agung di dalam Gereja, terlepas dar pribadi Petrus yang penuh dengan kelemahan, bukan semata-mata berdasarkan jasanya melainkan pada pilihan Yesus dan kasihNya yang tak terbatas. Dengan alasan ini maka rasul Petrus harus mengasihi lebih.

Inisiatif pertama datang dari Yesus dengan bertanya: “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” (ayat 15a). Yesus menuntut dari Rasul Petrus kasih yang lebih besar dari para rasul lainnya. Injil-injil Sinoptik tidak mengisahkan tentang pertanyaan seputar kasih kepada Yesus tetapi hanya pada iman kepada Yesus sebagai Mesias (Mrk 8:27-29). Sebaliknya dalam Injil Yohanes pertanyaan tentang kasih ini suatu keharusan. Petrus berusaha menjawab pertanyaan Yesus namun dia juga berusaha supaya tidak menyinggung perasaan para rasul lainnya. Petrus dengan rendah hati dan penuh kesederhanaan mau membuktikan dirinya bahwa dia berubah dan mau membaharui kasihnya terhadap Yesus. Dia menjawab: “Ya, benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!” (ayat 15b) Lalu Yesus berkata kepadanya: “Gembalakanlah domba-dombaku!” (ayat 15c). Penguatan kepada Petrus  untuk menggembalakan domba-domba yakni yang paling kecil membuat Petrus menyadari bahwa tugas pastoralnya adalah diperuntukan bagi orang-orang kecil, kaum miskin, orang berdosa, mereka yang jauh dari Tuhan. Karya dan pelayanan Petrus adalah bukti kasihnya yang mendalam kepada Kristus dan juga kepada semua mereka yang dilayani oleh Petrus dalam misinya.

Selanjutnya Tuhan bertanya lagi kepada Petrus untuk kedua kalinya. Jawaban Petrus seperti sebelumnya: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (16b). Di sini Petrus menerima tugas bukan lagi bagi orang-orang kecil saja tetapi bagi seluruh gereja universal. Petrus menjadi pembimbing dan gembala bagi seluruh umat beriman. Yesus bertanya lagi untuk ketiga kalinya: “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”(ayat 17a). Petrus merasa hatinya sedih atas pertanyaan Yesus. Biar bagaimana pun juga Petrus harus tetap teguh dengan melupakan masa lalunya yang gelap karena menyangkal Yesus sampai tiga kali. Pada saat ini dia tiga kali mengikrakan cintanya kepada Yesus. Yang penting di sini adalah adanya sinkronisasi akan apa yang dikatakan dan yang dilakukan. Jawaban Petrus membuatnya semakin kuat: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau” (ayat 17b). Tuntutan dan dorongan Yesus tentang kasih memapukan Petrus untuk menjalin hubungan kasih sebagai seorang anak dengan Tuhan sendiri. Kepemimpinan Petrus bias berhasil kalau dia memulainya dengan kasih kepada Tuhan.

Yesus mengenal Petrus maka Ia berani memberikan kepercayaannya untuk menjadi gembala bagi domba-dombaNya. Dialah yang menyelidiki bathin setiap orang. Itu sebabnya Yesus berkata: “Gembalakanlah domba-dombaku” (17c). Yesus memberi kepada Petrus sifat kegembalaanNya sendiri (Yoh 10: 1-31). Seperti Yesus, Petrus pun harus mengenal domba-domba dengan namanya sendiri sehingga domba-domba juga mengenal suaranya. Sebagai gembala ia akan berjalan mendahului atau mendampingi domba-dombanya ke padang rumut yang hijau. Bahkan ia sendiri mengurbankan dirinya untuk domba-dombanya. Petrus menjadi wakil Kristus, pembimbing rohani bagi seluruh umat Allah.

3.2.           Kemartiran

Setelah Yesus menguatkan Petrus untuk melakukan tugas sebagai gembala, Ia juga membuka pikiran Petrus untuk memahami tujuan akhir dari pelayanan kegembalaan yaitu kemartiran. Bagaimana Petrus juga bersaksi dengan menumpahkan darahnya karena iman dan kasihnya pada Yesus. Cinta kasih menjadi sempurna ketika seorang rela “menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Petrus juga harus memiliki kasih yang dimiliki Yesus Kristus  sendiri yakni menyerahkan diri. Tuhan Yesus sendiri mengatakan masa depan Petrus dengan mengatakan: “Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." (ayat 18).

Beberapa hal yang dilukiskan oleh Yesus yakni: “mengulurkan tangan”, “mengikat pinggang”, “membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki” membuat kita mengerti tentang masa depan Petrus yakni kemartirannya. Ia juga mengikuti sang Maestronya yakni salib menjadi jalannya dan menyerahkan dirinya kepada sesama. Seorang gembala yang benar adalah dia yang siap untuk menyerahkan nyawanya bagi sesama. Menyerahkan hidup bagi sahabat-sahabat merupakan bagian dari misi seorang gembala di dalam Gereja.

Tentang tugas sebagai seorang gembala, kita ingat apa yang dikatakan Yesus dalam Sabda Bahagia: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (Mat 5:10-12).

3.3.           Sequela: “Ikutlah Aku”

Sequela berarti mengikuti jejak Kristus. Setelah mengatakan tentang kemartiran Petrus: “Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.” (ayat 19) lalu Yesus melanjutkan dengan berkata: “Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." (ayat 19). Undangan Yesus kepada Petrus untuk mengikutiNya mirip dengan apa yang Ia sampaikan kepada Philipus (Yoh 1:43). Petrus akhirnya meninggal sebagai martir di salib seperti Kristus sendiri.

Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku." (Yoh 13:36). Yesus juga mengundang menjadi murid: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa”. (Yoh 12:26). Petrus lalu mengikuti Yesus sang Maestro tanpa bersungut-sungut dan dengan kemurahan hati. Selanjutnya Petrus memang menjadi martir. Ia juga disalibkan seperti Yesus.

4.      Dampak Sabda bagi kita

Sabda yang kita pelajari ini memfokuskan perhatian pada leadership di dalam Gereja. Petrus adalah pribadi yang sederhana dengan latar belakang sebagai nelayan yang dipanggil untuk “menjala manusia” (Mat 4:19; Mrk 1:17). Menjadi penjala manusia bukan hanya berarti menjadikan mereka percaya kepada Kristus tetapi seluruh hidup mereka pun diperhatikan. Artinya mereka sejahtera secara rohani dan jasmani. Kadang pikiran hanya terarah pada kemampuan untuk menambah jumlah umat secara kuantitatif dan lupa bahwa kualitas hidup umat juga perlu diperhatikan. Untuk itulah leadership di dalam gereja sangat diperlukan. Leadership macam apa? Semangat kegembalaan seperti Yesus sendiri sebagai gembala sejati.

Dari pengalaman Petrus, kita lalu membayangkan rencana Yesus bagi GerejaNya. “Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih dan menentukkan sebelum dunia dijadikan” (Ef 1:4-5). Ia yang mengenal masing-masing pribadi, memilih dan menentukan mereka menjadi pemimpin GerejaNya. Dari sebelas rasul, Ia memilih Petrus dengan segala kelebihan dan kekurangan untuk menjadi gembala bagi domba-dombaNya. Orang yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali telah dibantu oleh Yesus sendiri untuk mengenal dirinya dan berubah total dengan menyatakan kasihnya kepada Yesus. Ia bahkan mengikuti Yesus dan mengasihiNya sampai tuntas. Mengikuti berarti menyerupai!

Dasar keterpilihan sebagai gembala adalah mengasihi “lebih dari pada”. Jadi bukan hanya sekedar mengasihi tetapi mengasihi lebih dari pada! Perikop yang kita pelajari malam hari ini memiliki dampak tersendiri bagi kita terutama dengan para pemimpin di dalam Gereja: Paus, Uskup dan Imam. Para pilihan Allah ini adalah Petrus yang lain! Mereka juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Mereka juga berkali-kali menyangkal Yesus, bukan hanya tiga kali seperti Petrus tetapi Tuhan menguduskan mereka menjadi gembala di dalam Gereja. Pilihan hidup dan panggilan seperti ini tidaklah muda. Ibarat harta terpendam dalam bejana tanah liat. Mereka telah memilih untuk mengasihi Yesus lebih dari yang lain dengan menghayati nasihat-nasihat injil dan juga tahbisan suci. Dan itulah kemartiran mereka. Oleh karena  itu kita diajak untuk mendukung dalam doa, memberikan koreksi persaudaran, memperhatikan kesejahteran hidup mereka karena hidup mereka dibaktikan untuk kita sebagai Gereja (Umat Allah).

Perikop ini juga mengundang kita untuk berefleksi sebagai orang pilihan Allah karena imamat umum yang kita terima lewat pembaptisan. Kita juga dipanggil sebagai gembala bagi saudara-saudari di dalam keluarga atau komunitas. Pertanyaan ini selalu kita hadapi: Apakah anda juga seorang gembala bagi domba yakni saudara-saudarimu? Apakah anda juga mengasihi Yesus lebih dari sesama umat yang lain? Mengasihi lebih dalam hal apa? Mari kita membenahi diri kalau belum menemukan kasih yang lebih itu di dalam diri kita.  


KEPUSTAKAAN

Poppi, A. 1997., I Quattro Vangeli. Commento Sinottico. Padova: Edizioni Messaggero
Jacob, T. 1996., Permasalahan Sekitar Kitab Suci. Jogyakarta: Kanisius
Zevini, G. 1998., Vangelo Secondo Giovanni. Commenti Spirituali del Nuovo Testamento. Roma: Citta’ Nuova

PJSDB

Renungan 8 Maret 2012


Yer 17:5-10; Mzm 1:1-2.3.4.6; Luk 16:19-31

Dives dan Eleazar

Seorang teman bercerita. Ia memiliki pengalaman yang indah ketika live in di rumah seorang pemulung. Pada mulanya ia hanya berniat untuk memenuhi persyaratan mata kuliah teologi kontekstual. Maka hari-hari pertama dilewati dengan keras tetapi perlahan-lahan dia menemukan bahwa di dalam keluarga pemulung itu ada sejuta kebahagiaan. Setiap hari mereka berdoa bersama. Bapak sang pemiliki rumah itu selalu mengatakan hal yang sama kepada isteri dan anak-anaknya: “Bersyukurlah karena kita masih hidup. Berharaplah karena Dia tidak akan berhenti memberi!” Dan memang yang ada dalam rumah itu adalah sejuta kebahagiaan. Teman saya mengatakan: “Saya melihat Lazarus yang bahagia”.

Dalam kotbah di bukit Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 5:3). Orang-orang miskin adalah mereka yang tidak memiliki harta kekayaan atau memilikinya tetapi sangat terbatas. Dengan demikian mereka hanya punya satu harapan yakni Allah yang akan menolong (Eleazar). Inilah yang disebut penyelenggaraan ilahi (providentia divina). Allah pasti akan menolong mereka sebagai orang yang setia dan berharap padaNya. Merekalah kaum anawim yang selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Nabi Yeremia mengingatkan orang-orang pada zamannya untuk tetap berharap pada Tuhan. Ia berkata: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan”.  Sebaliknya mereka yang tidak mengandalkan Tuhan mendapat teguran: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mendandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari Tuhan.” Mereka yang mengandalkan Tuhan mendapat berkat sehingga berkelimpahan sedangkan yang mendandalkan dirinya akan mengalami kegersangan hidup.


Dalam Injil kita menjumpai orang kaya (dives)  dan si miskin Lazarus (Eleazar). Di samping nama Lazarus digunakan dalam perikop ini, nama ini juga muncul dalam Injil Yohanes dan dikenal sebagai saudara dari Martha dan Maria juga sahabat akrab Yesus (Yoh 11:1-44). Lukas juga menyebut nama Martha dan Maria yang menyambut Yesus di rumah mereka (Luk 10:39). 


Lukas secara konsisten mengarahkan kita untuk memiliki perhatian kepada kaum miskin. Baginya, pemuridan itu identik dengan pelayanan terhadap kaum miskin. Mengapa? Persoalan yang ditampilkan hari ini bukan pada masalah harta sebagai penghalang untuk masuk surga tetapi bagaimana orang memiliki kemampuan untuk memperhatikan si miskin seperti Lazarus. Bagaimana orang mengambil kebaikan hati Allah untuk memperhatikan sesamanya yang miskin. Yesus berkata: "Apa yang kamu lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini, kalian lakukan untuk Aku" (Mat 25:45). 


Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana orang bersikap terhadap harta kekayaan yang dimilikinya sebagai anugerah dari Tuhan. Orang mudah sekali lupa diri dan terikat pada harta yang mereka miliki. Yesus sendiri berkata: “Dimana ada harta, hatimu juga ada di sana” (Mat 6:21). Pengalaman orang kaya dalam Injil mengingatkan kita untuk mawas diri. Semua yang kita miliki sekarang tidak akan bertahan selamanya. Maka tugas kita bukan berbangga dengan harta kekayaan yang ada tetapi bagaimana memamfaatkannya untuk kebahagiaan kita dan sesama. Perhatian kepada orang miskin hendaknya menjadi pilihan mendasar setiap pengikut Kristus.Sebaliknya, semangat Lazarus (dari kata Eleazar artinya Allah menolong) hendaknya menjadi semangat kita untuk mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Dialah yang menyelenggarakan segala sesuatu untuk kita. Dialah penolong abadi bagi kita. 


Pertanyaan untuk kita refleksikan hari ini: Apakah ada waktu dihidupmu untuk orang yang kecil dan tidak diperhatikan? Apakah anda sadar bahwa Tuhan selalu menolongmu?

PJSDB

Wednesday, March 7, 2012

Food for thought for today


Let us do small things with great love


Pada suatu ketika saya diundang untuk memimpin ibadat Oikumene di sebuah perusahan. Saya melihat sebuah pemandangan yang menarik bagiku yakni ketika melihat seorang bapak yang berpakaian rapi berdiri di depan pintu masuk dan menyapa dengan ramah semua jemaat yang akan mengikuti ibadat siang itu. Sepertinya tidak ada perbedaan antara semua orang yang datang untuk beribadat. Setelah selesai ibadat, beliau menyalamiku dan mengajakku ke kantornya untuk minum. Betapa kagetnya saya, ternyata beliau adalah orang nomor satu di dalam perusahan itu. Di atas mejanya terdapat foto Bunda Teressa dari Kalkuta. Rupanya dia seorang pengagum orang kudus ini. Lalu ada juga sebuah kutipan perkataan Bunda Teressa yang ditulis begitu rapih dalam bingkai yang bunyinya adalah:
  

"In this life we cannot do great things. We can only do small things with great love."
(Sebenarnya kita tidak mampu melakukan perbuatan-perbuatan besar di dalam hidup ini. Kita hanya mampu melakukan perbuatan-perbuatan kecil dengan kasih yang besar)

Pada saat itu saya mengalami keharmonisan relasi antar pribadi di dalam perusahan tersebut meskipun hanya beberapa jam saja. Saya berpikir, seorang leader hendaknya bertindak sebagai pelayan dan mampu menciptakan kondisi di mana semua orang merasa diterima apa adanya bukan ada apanya. Ibadat siang itu sungguh menjadi berkat bagi kami semua. Saya membayangkan andaikan setiap orang memiliki kesadaran untuk melakukan karya-karyanya dengan penuh kasih maka akan tumbuh keharmonisan yang begitu indah. Bukan kebesaran nama yang dicari tetapi bahwa semua perbuatan sekecil apa pun akan menjadi besar karena kasih. Apa pendapatmu? 

PJSDB

Renungan 7 Maret 2012

St. Perpetua dan Felisitas
Yer 18: 18-20; Mzm 31:5-6.14.15-16; Mat 20:17-28

Nilai sebuah penderitaan

Pernakah anda memperhatikan pohon buah di pinggir jalan? Setiap orang yang melewati pohon itu akan melakukan hal-hal tertentu padanya. Kalau ada yang membawa benda tajam seperti parang maka sengaja atau tidak sengaja mereka dapat melukai batang pohon tersebut. Apabila pohon itu berbuah maka orang akan mengambil batu dan melempari pohon atau memanjat dan memetik buahnya. Kalau memerlukan batang atau dahan maka pohon itu ditebang. Pohon itu menderita tetapi tidak pernah berhenti memberi buahnya untuk dimakan dan daun-daun yang rindang untuk melindungi mereka yang berteduh di bawahnya.


Dua figur tampil hari ini dari Sabda Tuhan untuk membantu kita memahami nilai sebuah penderitaan. Yeremia adalah nabi yang dianiaya oleh saudara-saudaranya. Ia tidak melakukan satu kesalahan apapun tetapi dianiaya dan mengalami penderitaan. Dalam keadaan menderita ia berdoa kepada Tuhan: “Perhatikanlah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah suara pengaduanku! Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Mereka telah menggali lubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapanMu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarahMu disurutkan dari mereka.”


Pengalaman Yeremia ini dialami juga oleh Yesus sendiri. Ia mengajak para muridNya untuk pergi ke Yerusalem dan di sana Ia akan diserahkan kepada para imam kepala, para ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhinya hukuman mati. Ia akan diolok-olok, disesah dan salibkan tetapi pada hari ketiga Dia akan dibangkitkan. Penderitaan Yesus ini akan dialami oleh para muridNya. Mereka akan meminum dari piala yang satu dan sama yaitu piala penderitaan Yesus Kristus. Artinya semua pengalaman Yesus menjadi pengalaman mereka, dan juga menjadi pengalaman Gereja di dunia saat ini.


Dengan memperhatikan kedua figur ini, kita melihat kesamaan di antara mereka yaitu sama-sama sebagai utusan Allah yang menderita meskipun mereka sendiri tidak bersalah. Mereka berpasrah kepada kehendak Allah. Penderitaan mereka membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Mereka juga tidak pernah berhenti berbuat baik.


Apa yang harus di
lakukan? Jangan berhenti berbuat baik kepada sesama meskipun banyak penderitaan dan kemalangan yang dilami. Santo Paulus berkata: "Kalau Tuhan ada di pihak kita, siapa yang akan melawan kita? (Rom 8:31). "Nabi Yeremia dan Yesus memberi teladan bertahan dalam derita, dan tidak berhenti berkurban untuk kebaikan sesama. Atau ibarat pohon yang tidak pernah berhenti memberikan buah meski dilempari atau dilukai. Demikian pula kehidupan kita, semakin disakiti, hendaknya kita semakin berani memberi kesaksian iman akan Yesus yang menderita untuk kebaikan banyak orang. Apakah kita berani dan mampu memikul salib serta memberi kebahagiaan kepada sesama? Santa Perpetua dan Felisitas adalah para martir yang dapat menjadi teladan bagi kita!

PJSDB