Wednesday, March 14, 2012

Renungan 14 Maret 2012

Hari Rabu Prapaskah III/B
Ul 4:1.5-9
Mzm 147:12-13.15-16.19-20 
Mat 5:17-19

Iman diwartakan turun-temurun

Ketika mengikuti sebuah upacara pengikraran kaul kekal beberapa frater dari sebuah kongregasi saya mendengar sebuah sambutan dari wakil para orang tua yang sangat menarik. Ibunda salah seorang jubilaris berkata: “Anak-anakku yang terkasih kaul-kaul yang kalian ikrarkan tadi adalah tanda pemberian diri secara total kepada Tuhan. Ingatlah baik-baik bahwa kaul-kaul yang kalian ikrarkan itu ibarat sebuah rantai yang saling mengikat satu sama lain. Maksudku adalah kalau seorang hidup taat maka dia akan hidup miskin dan hidup murni. Kalau seorang hidup miskin maka dia akan hidup taat dan hidup murni. Kalau seorang hidup murni maka dengan sendirinya dia hidup taat dan hidup miskin. Sekian dan terima kasih.” Semua orang kagum dengan sambutan yang singkat, jelas, padat dan memiliki makna yang mendalam ini.

Orang-orang Israel adalah umat terpilih dan mereka dikasihi Tuhan. Tuhan mengikat janji kasihNya dengan mereka mulai dari nenek moyang mereka yaitu Abraham, Ishak dan Yakub serta keturunan-keturunan mereka. Ikatan kasih itu berlanjut turun temurun. Setiap kali Tuhan berfirman entah melalui Musa atau para Nabi, Ia selalu memulai dengan berkata: “Dengarlah Israel”. Memang mendengar adalah awal pengakuan iman bagi orang Israel. Mendengar berarti keluar dari diri sendiri, keluar dari dunia yang sempit untuk masuk dalam dunia Tuhan yang lebih besar yakni Wahyu ilahiNya. Orang yang mendengar dengan baik dapat mentaati dengan baik juga. Itu sebabnya Kitab Ulangan mengingatkan orang Israel untuk mendengar dengan baik dan melakukan segala peraturan dan ketetapan Tuhan secara turun temurun. Mereka diharapkan untuk setia karena itu adalah kebijaksanaan bagi mereka di hadapan bangsa-bangsa lain.

Mendengar dengan baik menjadi tradisi istimewa bagi orang Israel. Setiap pagi ketika memulai hari baru mereka diingatkan untuk mendengar. Tuhan bersabda melalui Musa: “Shema Yisrael Adonai Elohenu Adonai echad.” (Ul 6:4). Bapa di surga bersaksi: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Mrk 9:7). Mengapa mendengar Yesus? Karena Ia datang untuk menggenapi hukum Taurat. Oleh karena itu setiap pribadi diajak untuk melakukan dan mengajarkannya secara turun temurun. Banyak kali peraturan-peraturan baru ditambahkan sehingga meniadakan hukum kasih. Yesus justru menggenapi Hukum Taurat dengan kasih dan pengurbanan diriNya.

Kita perlu berbangga karena iman yang kita akui sekarang di dalam Gereja Katolik adalah iman para Rasul. Tuhan Yesus telah memilih mereka dan mereka mendengarNya. Iman itu muncul dari pendengaran mereka (Rm 10:17) dan diwariskan turun-temurun hingga kepada kita. Setiap kali mengucapkan Credo atau doa Aku Percaya, kita semua mengulangi pengakuan iman para rasul. Mari kita menunjukkan kesetiaan iman kita yang merupakan warisan turun-temurun. Kita juga bersyukur karena Wahyu Tuhan Yesus pun kita dapat menerima dan mengenalya. Pernakah anda bersyukur karena iman para rasul ini? Apakah anda sungguh menyadari  dan menghayati doa Aku Percaya?

Doa: 

Tuhan terima kasih atas iman yang Engkau berikan kepada kami. Bantulah kami untuk hidup sesuai kehendakMu. Semoga kami mampu mendengarMu. Kuatkanlah panggilan kami-masing-masing sehingga dengan mendengarMu kami juga mampu mewariskan iman kami ini kepada anak-anak dan cucu-cucu. Amen

PJSDB

Tuesday, March 13, 2012

Renungan 13 Maret 2012

Selasa Pekan Prapaskah III/B
T.Dan 3:25;34-43; Mzm 25:4b-5b.6.7c.8-9; Mat 18:21-35

Berapa harga sebuah pengampunan?

Seorang anak muda berjalan-jalan dan melihat dari kejauhan sebuah kios. Di depan kios terdapat papan bertuliskan: “Kios Pengampunan”. Terdorong oleh rasa ingin tahu Ia masuk ke dalam kios itu dan menanyakan barang bermerk “pengampunan” dan harganya. Pemilik kios itu membuka sebuah lemari dan di dalamnya bertuliskan: “PengampunanKu berlimpah untukmu, kuberikan kepadamu saat ini juga gratis. Anda mau?”. Pemilik kios “Pengampunan” juga bertanya kepada orang muda itu, “Apakah ada padamu tempat untuk menyimpannya?” Orang muda itu berani mengatakan ya! Ia kembali ke rumah dengan sukacita. Dia mendapat pencerahan bahwa pengampunan adalah hadia gratis dari Tuhan.

Kemurahan hati Bapa di Surga adalah thema bacaan-bacaan Kitab Suci selama pekan III Prapaskah ini. Kita mendapat gambaran bahwa Allah kita adalah mahapengampun dan maharahim. Bagaimana merasakan pengampunan dan kerahiman Tuhan?

Pada hari ini Daniel menghadirkan figur Azarya yang memohon pengampunan dari Tuhan. Semua kesalahan dan dosa yang sudah dilakukan ternyata memiliki dampak bagi seluruh bangsa maka dengan terbuka Azarya berdoa memohon pengampunan.  Pengampunan ilahi diterima  dan disyukuri lewat kurban pujian dalam doa. Doa yang berakar pada kebajikan kerendahan hati membantu orang untuk jujur mengakui dosa dan salahnya di hadapan Tuhan  dan menerima pengampunanNya. Dengan demikian orang dapat bersatu kembali dengan Tuhan. Pengampunan ilahi diterima dengan hati yang remuk redam. Artinya untuk menerima pengampunan dari Tuhan, orang perlu mengosongkan diri dan membiarkan tempat untuk Tuhan sebagai sumber pengampunan bagi dirinya. Ada rasa sesal dan berniat untuk berubah dalam hidup. Pengampunan ilahi juga mengandaikan kesaksian hidup yang nyata dalam arti sukacita pengampunan itu harus dirasakan dalam kebersamaan.

Sampai berapa kali harus mengampuni? Demikian pertanyaan Petrus tentang jumlah pengampunan bagi saudara yang berdosa terhadapnya. Tuhan Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa pengampunan itu tidak berdasarkan kuantitasnya perilaku kita dalam mengampuni sesama tetapi kualitas pengampunan yakni pengampunan dari hati dan tanpa batas. Kita menyadari bahwa pengampunan yang sungguh-sungguh berasal dari Tuhan dan kita share bersama saudara-saudara kita.

Keinginan untuk mengampuni lahir dari dua ingatan ini yakni ingatan pada dosa-dosa kita dan ingatan pada kesetiaan Allah untuk mengampuni kita. Mengingat-ingat dosa kita membuat ketegangan tersendiri antara mau berubah atau mencari jalan lain untuk membenarkan diri. Tetapi mengingat dosa dalam pemeriksaan bathin akan menguatkan kita untuk terbuka pada pengampunan Tuhan. Mengingat kesetiaan Tuhan akan membebaskan kita dari dosa, dan kita diberi kekuatan dan terangNya. Kita mengalami pengampunan dan mengkontemplasikan  kasihNya yang mutlak dalam diri Yesus PuteraNya.


Seorang sahabat saya menulis: "Kita belajar untuk mengampuni karena pengampunan itu berasal dari Tuhan. Doa Bapa kami mengajarkan kita: ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Permohonan kita dalam doa ini merupakan takaran yang kita mohonkan pada Tuhan. Kalau tidak mengampuni orang lain, bagaimana Tuhan mengampuni kita? Pengampunan itu berasal dari hati!"

Maka berapa harga sebuah pengampunan? 


Tuhan mengatakan bahwa pengampunanNya tanpa batas bagi setiap orang. Masa prapaskah kita menjadi indah kalau kita berani mengampuni. Sekarang duduk dengan tenang, tutuplah matamu dan ingatlah orang yang berdosa kepadamu dan katakanlah sekarang juga: “Aku mengampunimu saudara” karena “Tuhan sendiri sudah mengampuniku juga tanpa batas”.


Doa: Tuhan, terimalah kami  dengan hati yang remuk redam dan roh kerendahan hati. Amen

PJSDB

Monday, March 12, 2012

Introspeksi diri

Food for thought:

Introspeksi diri

Seorang pemuda pernah datang kepada saya dan meminta resep bagaimana mengenal dirinya. Saya juga bingung dan sulit untuk menjawab pertanyaannya. Dia mengatakan kepadaku, rasa kesalnya terhadap ibunya yang selalu mengatakan kepadanya, “Tau diri, dong sayang!”. Dia banyak kali merenungkan kalimat ini.  

Setelah berbincang-bincang, saya juga bertanya dalam hati, “Apakah saya sudah  mengenal diri dan bersahabat dengannya? Atau apakah ada resep-resep tertentu? Lalu saya sampai pada kalimat ini: “Setiap orang perlu mengintrospeksi diri!”

Introspeksi diri adalah kemampuan seseorang untuk melihat  jauh ke dalam dirinya, menyelami dirinya sendiri. Introspeksi diri dapat dilakukan melalui tahap-tahap tertentu. Misalnya, Pertama, orang perlu rendah hati supaya mengetahui kelebihan dan kekurangan diri pribadi. Kedua, kemampuan untuk mengevaluasi semua kegiatan dalam hidupnya: pada awal merencanakan suatu kegiatan, pada saat melaksanakan dan setelah melaksanakannya. Ketiga, proses perubahan bertahap hingga menjadi suatu perubahan yang radikal dalam dirinya di hadapan Tuhan dan sesama.  

Apakah ini cukup? 

Saya masih mengingat kata-kata Novelis Jerman, Johann Wolfgang von Goethe tentang mengenal diri:

“How can you come to know yourself? Never by thinking, always by doing. Try to do your duty, you will know right away what you amount to”

Bagaimana caranya anda mengenal dirimu? Mengenal diri tidak pernah dengan cara duduk dan memikirkannya tetapi dengan melakukannya dalam semua pekerjaan. Maka cobalah melakukan tugas-tugasmu dengan baik dan dari situ anda dapat mengenal diri anda dengan sempurna.

Santo Agustinus dalam bukunya "Pengakuan" menulis “Noverim te, noverim me” atau  "I would know you [God], I would know myself.” (Aku hendak mengenal Dikau ya Allah, Aku juga hendak mengenal diriku sendiri)

Mari kita mengintrospeksi diri kita masing-masing. Semakin kita mengenal diri, semakin kita menyayangi dan akrab dengannya.

PJSDB

Renungan 12 Maret 2012

2Raj 5:1-15a; Mzm 42:2.3.43:3.4; Luk 4:24-30

Jiwaku haus akan Allah

Seorang Bapa selalu rajin mengikuti misa pagi di gereja parokiku. Pada suatu pagi saya bertanya kepadanya, "Mengapa selalu mengikuti misa harian?" Dia menjawabku, "Setiap hari saya merasa bahwa ini adalah hari terakhir bertemu dengan Tuhan maka ada dorongan senantiasa untuk bertemu dan menyambutNya dalam Ekaristi." Saya terpesona dengan umat yang sederhana ini. Saya langsung berpikir, kadang sebagai imam saya merayakan ekaristi dengan kejenuhan atau kurang fokus dalam  merayakannya. Tetapi ketika mendengar sharing orang itu saya merasa dikuatkan, hatiku berubah menjadi terbuka senantiasa untuk Tuhan.

Sabda Tuhan hari ini mengungkapkan suasana bathin manusia. Ketika Yesus datang ke Nazaret, Ia mengatakan kepada umat di dalam rumah ibadat bahwa seorang nabi di hargai di mana-mana kecuali di negeri asalnya. Hati orang-orang Nazaret tertutup bagi Yesus. Mereka mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu dan mengenal Maria sebagai ibuNya. Pengenalan akan Yesus hanya sebatas pengenalan manusiawi. Dengan penolakan ini maka Yesus melakukan karya-karya besar di luar negeri asalNya.

Pengalaman Yesus sebenarnya telah terjadi juga dalam dunia Perjanjian Lama. Karena ketegaran hati mereka maka Tuhan tak segan-segan mengirim utusanNya yaitu para nabi untuk menyadarkan Isarel sebagai bangsa terpilih bahwa Tuhan sungguh ada dan tetap berkarya. Tetapi karena ketegaran hati mereka juga maka Tuhan mengutus utusanNya kepada orang-orang asing dan melakukan karya agungNya. Misalnya, ketika terjadi bahaya kelaparan yang hebat Tuhan mengutus nabi Elia kepada seorang janda di Sarfaat di tanah Sidon. Pada saat merajalelanya penyakit kusta di zaman nabi Elisa tak seorang Israel pun yang disembuhkan selain Naaman orang Siria. Orang-orang asing adalah orang-orang di luar komunitas Yahudi. Kepada merekalah Tuhan melakukan karyaNya yang agung. 

Hati adalah simbol totalitas kehidupan manusia. Dalam Sabda bahagia Tuhan berkata: "Berbahagialah mereka yang suci hatinya karena mereka akan melihat Tuhan!" (Mat 5:8). Memang, segala kebaikan yang nampak menunjukkan kadaan hati orang. Segala kejahatan juga menunjukkan keadaan hati orang tesebut. Yesus sendiri berkata, "Apa yang keluar dari dalam itulah yang  menajiskan" (Mat 15:11.18-19; Mrk 7:15). Oleh karena itu janganlah bertegar hati (Yeh 3:7;  Mzm 95:8) melainkan mintalah hati yang baru dari Tuhan. Hati yang mengasihi seperti Tuhan sendiri. 

Doa kita: jiwaku haus akan Allah, Allah yang hidup. Amen

PJSDB

Sunday, March 11, 2012

Homili Hari Minggu Prapaskah Ke III/B

Kel 20:1-17; Mzm 19:8.9.10.11; 1Kor 1:22-25; Yoh 2:13-25 

Bait Suci 

Seorang Romo dari daerah Timur Indonesia datang ke Paroki SYB untuk mencari tambahan dana demi melengkapi pembangunan Gereja di Parokinya. Dalam perbincangan bersama ia bercerita bahwa umat di parokinya memiliki hasrat yang tinggi untuk memiliki sebuah bangunan Gereja baru yang lebih layak. Mereka masing-masing menyumbang dana dan tenaga sesuai dengan kemampuannya. Meskipun rumah mereka sederhana tetapi mereka mau supaya rumah untuk Tuhan harus lebih baik bahkan mewah. Saya membayangkan kesederhanaan umat daerah Timur Indonesia ini dan merasa betapa mereka memilki kerinduan untuk Tuhan dan rumahNya yang indah. Di saat yang sama saya membayangkan umat yang memiliki Gereja yang indah tetapi belum menguduskannya. Mereka datang dengan pakaian yang kurang sopan, mereka yang hanya menggunakan Gereja untuk jumpa fans, keluarga atau kerabat, atau mengisi kesempatan di dalam gereja untuk bergadget meriah: SMS, BBM bahkan tak segan-segan saling menelpon di dalam Gereja. 

Apabila kita bertanya kepada semua panitia pembangunan Gereja di mana saja, mereka akan menjawab kami bekerja untuk Tuhan. Kami mau supaya Tuhan memiliki rumah yang layak. Kami mau supaya tempat itu menjadi tempat yang kudus. Betul, semua ini adalah harapan yang bagus dan indah. Semua orang menginginkannya supaya dapat berelasi baik dengan Tuhan. Tetapi kesadaran setiap orang berbeda-beda sehingga biar bagaimana pun selalu ada orang yang tidak menguduskan Gereja sebagai rumah Tuhan. 

Yesus di dalam Injil hari ini menunjukkan rasa marahnya karena orang-orang saat itu tidak menyucikan Bait Allah. Padahal Bait Allah adalah tempat tinggal Tuhan (shekina) yang dibangun untuk mempersatukan semua orang di Yerusalem. Dengan melihat Bait Allah orang merasa merupakan bagian di dalamnya dan merupakan bagian dari Tuhan. Namun sayang sekali, Yesus menemukan orang menjadikannya seperti pasar. Mereka menjual beli lembu-lembu, kambing, domba, merpati. Ada juga para penukar uang yang sedang bertransaksi. Yesus mengusir mereka dari dalam Bait Allah: "Ambillah semuanya ini dari sini, jangan membuat rumah BapakKu menjadi tempat berjualan. Ketika ditantang oleh orang-orang di sekitarnya, Yesus menjelaskannya dengan mengumpamakan diriNya yang akan wafat dan bangkit pada hari ketiga: "Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari, Aku akan mendirikannya kembali." 

Yesus melakukannya dengan tegas karena Dia menginginkan agar semua orang yang datang ke Bait Allah hatinya selalu terarah hanya kepada Tuhan dan bersatu denganNya. Mengapa? Karena Tuhan adalah Bapa yang baik. Dia yang mengeluarkan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Dia yang mengikat Perjanjian dengan nenek moyang mereka melalui Musa di Gunung Sinai. Dia adalah Allah yang menunjukkan "kasih setia kepada beribu-ribu orang yaitu mereka yang mengasihi Aku, dan yang berpegang pada perintah-perintahKu." (Kel 20:6). Lalu apa yang harus kita lakukan? 

Sabda Tuhan pada pekan III masa Prapaskah ini mengajak kita untuk menyadari diri kita yang oleh Santu Paulus adalah Bait Roh Allah yang kudus (1Kor 6:19). Dengan pembaptisan kita menjadi Bait Roh Kudus. Kita perlu bersyukur karena Tuhan menjadikan kita sebagai tempat tinggalNya. Dengan demikian kita perlu menyucikan diri kita sehingga layak menjadi rumah Tuhan. Semangat tobat dan perbuatan amal kasih merupakan kesempatan bagi kita untuk menguduskan kita. 

Kita juga diajak untuk menguduskan rumah Tuhan yaitu Gereja kita. Orang-orang di daerah yang miskin rindu untuk membangun gereja yang indah dan megah meskipun rumah tinggal mereka sederhana bahkan tidak layak sesuai kesehatan dan kesejahteraan. Betapa lemahnya hidup kristiani ketika tidak menguduskan Gereja. Datang mengunjungi Tuhan dengan pakaian yang kurang sopan, ngobrol di dalam Gereja, menggunaan gadget tidak pada tempatnya bahkan membenci orang yang dianggap musuh ketika melihatnya di dalam gereja. 

Mari kita berbenah diri. Mari kita merasakan kehadiran Kristus sebagai kekuatan dan hikmat Allah di dalam hidup kita. Dia menderita, sengsara dan wafat untuk kita. SabdaNya hari ini sungguh menjadi kebenaran yang menyegarkan jiwa kita. 

PJSDB

Saturday, March 10, 2012

Renungan 10 Maret 2012

Mikha 7:14-15.18-20; Mzm 103: 1-2.3-4.9-10.11-12; Luk 15:1-3.11-32 

Bapa yang murah hati... 

Seorang teman saya berantem sama bapanya sehingga dia putus sekolah di SMP kelas satu. Setelah putus sekolah dia berangkat ke Malaysia menjadi tenaga kerja. Dia mengatakan kepada bapanya: "Anggaplah saya sudah mati dan jangan memikirkan aku lagi!" Sebagai anak di bawah umur, dan tanpa keahlian apa-apa ia bekerja sebagai buruh kasar. Sampai suatu saat ia mendengar mamanya sakit keras. Ia berniat untuk kembali. Masalahnya dia akan bertemu dengan bapanya. Tetapi dia tetap mau kembali dan apa yang dia rasakan? Bapanya menerimanya dengan mengalungkan selendang tenun sambil menangis dan meminta maaf. Anak itu diterima kembali oleh ayahnya di hadapan ibunya yang sekarat. Mujizat pun terjadi. Ibunya sembuh. Mereka semua bahagia. 

Allah adalah Bapa yang baik. Dia maharahim, penyayang, pengasih dan setia. Ia mengampuni dosa-dosa dan memaafkan kesalahan umatNya. Ia tidak murka terhadap umat kesayanganNya yang berdosa tetapi justru melemparkan segala dosa ke tubir-tubir laut. Itulah gambaran Allah kita menurut Nabi Mikha. Penginjil Lukas menggambarkan Allah sebagai Bapa yang baik dan murah hati lewat perumpamaan tentang Anak yang hilang. Ada tiga tokoh penting dalam perumpamaan: 

Pertama, Anak bungsu. Ia merasa bebas di hadapan Bapanya dan dia tahu bahwa Bapanya menghargai kebebasannya. Dia menuntut haknya dan pergi jauh tapi setelah menyadari dirinya yang jauh dari Bapanya, ia mau berubah. Ia percaya bahwa Bapanya akan menerimanya kembali sebagai anak. Anak bungsu adalah mereka yang bukan komunitas Yahudi, yang menerima wahyu Allah belakangan tetapi terbuka pada keselamatan. Mereka adalah sesama umat yang merasa diri berdosa dan mau bertobat. 

Kedua, Anak sulung. Ia memiliki zona nyaman tersendiri. Ia menikmati kekayaan Bapanya dan kekayaan yang merupakan warisannya. Dia lupa diri dan tak tahu berterima kasih. Tidak ada semangat untuk berubah di hadapan Bapanya. Hanya bisa menutut tetapi tidak besyukur kepada Bapa. Anak sulung adalah orang Yahudi yang merasa status quo karena umat terpilih tetapi juga mereka yang merasa sangat aktif di Gereja dan lupa diri bahwa semua pelayanan itu untuk kemuiaan Tuhan. 

 Ketiga, Bapa. Bapa digambarkan sebagai Bapa yang murah hati. Ia suka memberi dan mengampuni anak-anaknya. Ia tidak menyimpan dendam terhadap anak-anaknya. Ia menyiapkan jubah yang bagus supaya pakaian lama anaknya ditinggalkan. Ia menyiapkan cincin supaya anak tetap menjadi bagian dari dirinya sebagai Bapa. Ia menyiapkan sepatu supaya anaknya bermartabat sebagai anak.a menyiapkan lembu untuk mensyukuri pertobatan anaknya. Bapa adalah figur Allah Bapa sendiri yang murah hati adanya. 

Betapa bahagianya kita ketika mengalami pengampunan dan belas kasih Tuhan. Ada sukacita tersendiri karena Tuhan melempar dosa-dosa kita ke tubir-tubir laut. Dia selalu membuka tangannya untuk menerima anak-anakNya yang rendah hati dan kembali kepadaNya. Ada jubah yang terbaik, cincin, sepatu, dan anak lembu yang siap untuk diberikan kepada mereka yang bertobat. Apakah kita menyadari diri kita sebagai anak bungsu yang memerlukan Bapa atau anak sulung yang sedang berada di zona nyaman? 

Doa kita: Tuhan terima kasih atas rahmat pengampunanMu. Amen. 

 PJSDB

Friday, March 9, 2012

Lectio Divina 2


LECTIO DIVINA


* LECTIO DIVINA adalah mendengarkan Sabda Yesus supaya dapat menjadi Sabda itu sendiri.

Misalnya:
  • “Aku mengasihi engkau” (Yes 43: 4) dan saya percaya pada kasih
  • “Jangan takut” (Yes 43:1) dan saya tidak takut lagi
  • “Berbahagialah mereka yang murni hatinya” (Mat 5: 8) dan saya hidup dalam kemurnian
  • “Ampunilah” (Mat 6:14) dan saya tidak memiliki musuh lagi

* Lectio Divina itu laksana kisah tentang benih. Mulanya benih itu hanya satu biji yang ditaburkan dan perlahan-lahan berakar, memiliki pohon, beranting dan berbuah (Mrk 4:26-29).

* Pengalaman Bunda Maria: Ia mendengarkan Sabda, mengujinya, menerima Sabda: “Terjadilah padaku menurut PerkataanMu” (Luk 1:38). Sabda kekal menjadi daging di dalam diri Maria.

* Guigo, seorang biarawan Kartusian menggunakan ide tentang tangga dengan lima anak tangga untuk menerangkan tahap-tahap penting di dalam Lectio Divina yakni:

  1. Lectio
  2. Meditatio
  3. Oratio
  4. Contemplatio
  5. Communicatio

LECTIO: Apa yang Sabda katakan pada dirinya sendiri?
  • Membaca dan mendengar Sabda dari Kitab Suci
  • Cobalah untuk memahami Sabda; bersama Gereja dan memahaminya sebagai sejarah Keselamatan.
  • “Adapun karena Allah  dalam Kitab Suci bersabda melalui manusia secara manusia, maka untuk menangkap apa yang oleh Allah mau disampaikan kepada kita penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan cermat, apa yang sebenarnya mau disampaikan  oleh para penulis suci, dan apa yang mau ditampakkan oleh Allah dengan kata-kata mereka” (Konstitusi Dogmatik tentang Wahyu Ilahi/Dei Verbum, 12)

MEDITATIO: Apa yang sedang Sabda katakan kepadaku saat ini?
  • Meditatio menerapkan Sabda Ilahi bagi pribadi yang mendengarnya
  • Menguji kehidupan pribadi sebelum mendengarnya
  • Mengorganisir pribadi seseorang berdasarkan Sabda
  • “Sejarah kebersamaan Allah bersama umat yahudi adalah model sejarah kebersamaan Allah dengan setiap pribadi
  • Karena itu baik secara pribadi maupun sebagai sebuah paguyuban umat Allah, kita semua dipanggil kepada kekudusan dan memperoleh pengampunan dari Allah. Dipihak kita, Allah meminta pertobatan yang terus menerus” (Michael Sabbah, Batrik Yerusalem)

ORATIO: Apa yang dilakukan Sabda sehingga membuat saya bisa berbicara?
  • Reparasi: Doa memohon pengampunan atas dosa dan salah sehingga bisa menghayati Sabda
  • Ucapan Syukur: Doa mengungkapkan rasa syukur; Sabda sebagai anugerah dan Sabda itu membuatku bermartabat (magnificat)
  • Memohon anugerah Roh: Roh Kudus yang membimbing pribadi-pribadi untuk mengetahui, dan mengingat, yang memberi kekuatan. Bapa dalam nama Yesus memberi kita Roh Kudus

CONTEMPLATIO: “Allah berfirman, maka semuanya jadi; Allah memberi perintah, maka semuanya ada” (Mzm 33:9)
  • Sabda datang dan tinggal di dalam aku.
  • Lectio Divina adalah mendengar Sabda sehinga dapat menjadi Sabda. Seseorang menjadi Sabda dengan mengetahui dan mengasihinya.
  • “Dalam kebaikan dan kebijaksanaanNya, Allah berkenan mewahyukan diriNya dan memaklumkan rahasia kehendakNya; berkat rahasia itu manusia dapat menghadap Bapa melalui Kristus Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut serta dalam kodrat ilahi” (Kontitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi/Dei Verbum, 2)

COMMUNICATIO: Tujuan pertama dan terutama dari Sabda adalah umat Allah.
  • sharing dan persaudaraan
  • kekudusan
  • perutusan


1. UMAT ALLAH BER-LECTIO DIVINA

Nehemia 8: 1-12

Maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel. Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu. Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam. Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri. Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: "Amin, amin!", sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah. Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya. Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti. Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: "Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!", karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu. Lalu berkatalah ia kepada mereka: "Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!". Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: "Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!". Maka pergilah semua orang itu untuk makan dan minum, untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala firman yang diberitahukan kepada mereka.


LECTIO: Apa yang Sabda katakan tentang dirinya sendiri?
Pada tahun 538, Koresh raja negeri Persia digerakan hatinya oleh Tuhan untuk membebaskan umat Yahudi dalam pembuangan di Babilonia. Koresh juga memiliki tugas untuk membangun Rumah bagi Tuhan di Yerusalem. Imam Ezra dan kepala daerah Nehemia mengorganisir liturgi Sabda yang meriah. Sabda membuat umat yahudi yakin akan keterpilihan mereka dan membuat mereka menyadari kembali ide dan semangat persekutuan untuk membangun kembali Yerusalem.
            Bacaan ini sungguh menjadi Lectio Divina:
  • Ada sebuah mimbar (Ezra berdiri di atasnya: ayat 5)
  • Sabda dibacakan dengan jelas (ayat 9) dan diberi komentar.
  • Umat mendengar dengan penuh perhatian

MEDITATIO: Apa yang Sabda katakan kepada saya saat ini?
  • Taurat diberikan oleh Tuhan kepada Israel menjadi milik kepunyaan mereka (ayat 2)
  • Umat Israel merasa bahwa Kitab Taurat ditujukan kepada mereka, mereka Umat terpilih dan bahwa melalui Kitab ini Allah berbicara kepada mereka.
  • Umat Israel mengenal kembali kesalahan hidup mereka dan berniat untuk membaharui hidup mereka sesuai dengan Sabda yang barusan didengar itu.

ORATIO: Apa yang Sabda lakukan sehingga membuat saya berbicara?
  • Reparasi: “Semua orang berlutut dan sujud menyembah kepada Tuhan, dengan muka sampai ke tanah”.
  • Ucapan Syukur: Umat Allah berseru: mereka bergerak dan mencari Allah dan Allah sendiri membiarkan ndirinya ditemukan, dan terus menerus berbicara.
  • Memohon anugerah Roh: ratap tangis umat Israel juga merupakan ekspresi keinginan untuk mengerti Sabda dan untuk menghayatinya.

CONTEMPLATIO: “Allah berfirman, maka semuanya jadi; Allah memberi perintah, maka semuanya ada” (Mzm 33:9)
  • Perjamauan menunjukkan bahwa persekutuan telah dicapai dan diperbaharui: “Inilah hari Tuhan!” “Sukacita Tuhan adalah kekuatanmu” “Hari ini adalah hari yang kudus: kalian harus merayakannya”

COMMUNICATIO: Tujuan atau sasaran pertama dan terutama dari Sabda adalah umat Allah.
  • Semua mereka pergi makan dan saling berbagi milik kepunyaan mereka.
  • Mereka memiliki pesta yang besar karena mereka memahami Sabda.

2. YESUS GURU DAN PEMBIMBING LECTIO DIVINA

Luk 4:14-21

Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

LECTIO
  • Ini adalah kesempatan pertama Yesus kembali ke Nazaret “dalam kuasa Roh” (ayat 14.18).
  • Yesus mengajar (ayat 15); Ia berdiri hendak membaca (ayat 16); Ia berbicara (ayat 21)... Sabda identik dengan Yesus dan Yesus membacanya. Ia membaca diriNya sendiri.
  • Ia telah mengutus Aku untuk mewartakan Kabar baik kepada orang miskin. Ini sebetulnya ringkasan sejarah keselamatan dalam Yesaya 61.
  • Para hadirin bergembira mendengar dan mata mereka tertuju padaNya.
  • Yesus berkata: “Pada hari inigenaplah nas ini sewaktu kami mendengarnya”

MEDITATIO
  • Komunitas Nazaret adalah tokoh utama kisah ini. Yesus berbicara kepada mereka. Mata mereka tertuju padaNya, mengandaikan asimilasi Sabda.

ORATIO
  • Reparasi: Mata mereka tertuju padaNya. Hal ini menunjukkan pengertian dan kebaruan: Sabda mengantar mereka dari Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru. Hanya umat Israel yang melawati air dari Mesir kepada Perjanjian.
  • Ucapan Syukur: Mata mereka tertuju pada Yesus menunjukkan pengenalan, keterpesonaan, kekaguman.
  • Memohon anugerah Roh: Mata mereka tertuju berarti keinginan supaya Yesus Sang Guru bersabda. Roh Tuhan ada bersamaNya.

CONTEMPLATIO
  • “Hari ini”: sebuah realitas baru. Keselamatan terwujud.
  • Pembebasan telah tiba

COMMUNICATIO
  • Sinagoga: tempat untuk bersekutu kembali, sharing
  • Yesus mengajar hadirin, umat.



3. MARIA: LECTIO DIVINA YANG HIDUP


Zef 3:14-18a

Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya."

Luk 1:39-56

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

LECTIO
  • Maria membuat Lectio Divina tentang apa yang kita baca dari Zefanya 3:14-18a.
  • Maria adalah Guru mendengarkan Sabda Allah yang sempurna
  • Undangan kepada sukacita
  • Obyek: Putri Sion, Israel, Puteri Yerusalem (Umat terpilih), kemanusiaan, Maria, Gereja, setiap pribadi
  • Alasan sukacita: keselamatan telah tiba
  • Konsekuensi-konsekuensi logisnya: Jangan takut; Allah hadir di tengah umatNya; Suka cita Allah di dalam kamu.

MEDITATIO
  • Maria mengumpulkan perikop Kitab Suci dan menerapkannya pada dirinya sendiri: keselamatan semua orang ada padanya.
  • Maria menerima undangan sukacita. Bayi di dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan dan Elizabeth mengenalnya sebagai “Yang Berbahagia”; magnificat; Segala keturunan akan bergembira di dalamku.
  • Maria membaca Kitab Suci sebagai orang pertama tunggal. Namun  seluruh umat manusia bersama dengannya: Elizabeth dan Yohanes. Segala keturunan; semua yang takut akan Allah, yang rendah hati; lapar, Israel, Abraham dan keturunannya.
  • Motivasi mendasar adalah pemenuhan Sabda Tuhan yang diungkapkan dalam banyak cara; ia memperhatikan mereka yang kecil, yang hina dina diangkatnya.

ORATIO
  • Reparatio: “Mulai saat ini...” Ia telah memperhatikan mereka yang hina dina.”
  • Ucapan Syukur: “Jiwaku memuliakan..”
  • Memohon anugerah Roh: Ia yang “mewahyukan diriNya kepada orang kecil” “Allah penyelamatku”

CONTEMPLATIO
  • “Terjadilah padaku menurut perkataanmu”
  • “Sabda telah menjadi daging”
  • Yang Maria miliki sekarang: optimisme, kehadiran Allah; sukacita
  • Kontemplasi Maria mengatasi segalanya: “Deus in Media me” Maria menjadi Sabda.
  • Sekarang Ia setia dalam peziarahan iman sampai di kaki salib.

COMMUNICATIO
  • Maria segera menjadi misionaris: sabda yang tinggal bersamanya diperuntukan bagi seluruh dunia.
  • “Maria bergegas ke pegunungan” “ Ia menyalami... Ia berkata... ia tinggal di sana selama 3 bulan” (Luk 1: 39-56)



LECTIO KITA

LECTIO
  • Bacalah kutipan Zefanya dan Lukas di atas: kedua perikop menggambarkan kemanusian baru
  • Kesaksian Maria menggambarkan kepada kita bagaimana membaca Kitab Suci

MEDITATIO
  • Sekelumit sejarah diriku merupakan bagian dari sejarah keselamatanku
  • Zefanya berkata kepadaku. Maria mengajarku bagaimana membaca Kitab Suci sebagai orang pertama (Aku).
  • Sejauh mana saya merasa sebagai bagian dari sejarah keselamatan?
  • Seberapa besar sukacita di dalam hidupku? Apakah aku merasa takut?

ORATIO
  • Reparation: humor atau perkataanku yang jorok… menceritakan kelemahan orang lain
  • Ucapan Syukur: bagi Sabda yang tiada bandingnya yang diwahyukan kepadaku
  • Mohon anugerah Roh: Supaya saya dapat mengerti, ingat, memiliki kekuatan: Bapa di dalam Yesus, memberi kepada kita Roh Kudus.

CONTEMPLATIO
  • Zefanya dan Lukas di dalam diriku
  • Maria di dalamku: serupa dan bersamanya
  • Saya telah menjadi Sabda.

COMMUNICATIO
  • Aku juga misionaris
  • Sukacita di dalam bathin seperti Maria
  • Bergegas untuk menjadi kudus: Maria begegas ke pegunungan
  • Mengasihi, melayani seperti Maria: Ia masuk, menyalami, tinggal di sana selama 3 bulan.

Contoh lain:
“JADIKANLAH SEMUA BANGSA MURIDKU”
(Mat 28:19)



Lectio: Mat 28:16-20

16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."


Perikop ini sangat penting karena merupakan titik kulminasi dari seluruh pewartaan Matius dalam Injil ini, yang berpusat pada figur Yesus Yang bangkit dengan mulia, Raja yang akan menghakimi alam semesta dan juga tentang misi universal dari Gereja. Namun demikian perlu diingat bahwa pusat pewartaan Matius di sini adalah perutusan misioner para rasul yaitu perintah untuk mewartakan Injil.

Perikop ini memiliki struktur yang sederhana:
  • Introduksi naratif (ayat 16-17): Kesebelas murid berangkat ke Galilea; mereka melihat dan menyembah Dia; beberapa orang di antara mereka ragu-ragu.
  • Pesan Yesus yang bangkit (ayat 18-20). Ada 3 hal penting yang muncul di sini: Penegasan kuasa Yesus yang bangkit atas sorga dan bumi; Perutusan missioner; Janji penyertaan Kistus di dalam Gereja

16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.

Matius menyebut 11 Murid, agaknya yang dimaksudkan adalah 11 Rasul Yesus, di mana kepada merekalah akan diberi kuasa missioner untuk mewartakan Injil. Mereka berangat ke Galilea atas permintaan Yesus sebelumnya (Mat 28:7).

Bukit di Galilea dalam perikop ini tidak memiliki hubungan dengan Bukit Sabda Bahagia (Mat 5-7). Kemungkinan ini adalah sebuah konotasi teologis di mana yang Matius maksudkan adalah tempat istimewa Kristus mewahyukan diriNya sebagai Allah Putera. Galilea juga boleh dipahami sebagai situasi hidup kita yang konkret saat ini. Tetapi yang menarik perhatian kita pada Injil Matius adalah: di atas bukit Yesus mewartakan program Kerajaan Allah (Sabda Bahagia 5-7) dan di atas bukit juga Yesus memerintahkan para Rasulnya untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah.

17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.

Kesebelasan Yesus berjumpa denganNya. Mereka menyembahNya tetapi ada beberapa orang yang ragu-ragu. Memang peristiwa Kebangkitan Yesus dan penampakanNya sebagai Dia Yang Bangkit dari alam maut pada mulanya membawa keraguan para rasulNya karena mereka “belum menerima oleh Roh Kudus”.

18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

Meskipun dikatakan bahwa ada di antara mereka yang ragu-ragu, namun Yesus memiliki inisiatif untuk mendekati mereka dan membuat diriNya dikenal oleh mereka. Dengan membuat diriNya dikenal maka Ia menunjukkan kuasanNya kepada mereka atas alam semesta (sorga dan bumi).

19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Penekanan dari perintah Yesus adalah: “Jadikanlah semua bangsa muridKu” (mathētéusate). Memang masih ada kata kerja yang lain dalam perikop ini misalnya: “pergilah”; “baptislah”; “ajarlah” namun semua ini menunjuk pada modalitas misi apostolis dari Gereja dalam diri para Rasul.

Bangsa pada perikop ini menunjuk pada pewartaan Gereja kepada bangsa-bangsa kafir yang belum mengenal Kristus.

Formulasi Tritunggal Mahakudus: Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang bagi Matius di ucapkan secara eksplisit dari mulut Yesus mengingatkan kita pada formulasi sakramen pembaptisan. Agak sulit untuk mengatakan bahwa formulasi ini diucapkan Yesus, kemungkinan Matius diinspirasikan oleh praksis sakramen di dalam Gereja. Tiga pribadi ilahi juga muncul pada saat pembaptisan Yesus (Mat 3:13-17). Di dalam surat-surat Paulus kita temukan pada 1Kor 12:4-6; 2Kor 13:13). Dalam Perjanjian baru, pembaptisan lebih dipahami sebagai persekutuan dengan Kristus sendiri. Pewartaan Kristus melalui para rasul juga diharapkan untuk dapat dihayati oleh semua pengikut Kristus.

Pada akhirnya Yesus berjanji: “egō meth’ hymôn eimi”: “Aku menyertai kamu”. Ia yang pada awal Injil Matius ini digambarkan sebagai “Immanuel” atau Allah beserta kita mengulangi kembali janji penyertaanNya kepada Gereja hingga akhir zaman.

Meditatio

Kesebelasan murid Yesus adalah contoh sebuah komunitas basis yang hidup bercomunio. Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, di situ Ia hadir. Yesus senantiasa hadir dalam komunitas. Kehadiran Yesus mendorong mereka untuk pergi bersama-sama ke Galilea, melihat dan bertemu dengan Dia yang bangkit. Tentu saja perjumpaan di bukit memiliki konsekuensi bagi perutusan misioner mereka, terlepas dari keraguan-raguan yang dimiliki para rasul.  

Ada keraguan! Tapi Yesuslah yang memiliki inisiatif  pertama untuk mendekati dan menyapa mereka. Inilah cara Yesus mendirik para pengikutNya: selalu melakukan pendekatan pertama dengan sapaan yang baik kemudian memberi tugas perutusan. Memang Yesus memiliki autoritas atas alam semesta tetapi bahwa Ia juga mengerti dan memahami pribadi manusia yang rapuh, penuh keraguan. Keberhasilan karya pastoral kita juga ditentukan oleh model-model pendekatan kita kepada Umat Allah. Kita yakin bahwa Yesuslah yang menyelamatkan dan bukan kita. Kita hanyalah tangan Tuhan Yesus.

Pergilah…Jadikanlah,… baptislah,… ajarilah… dan ketahuilah…. Panggilan missioner menjadi juga panggilan Gereja. Panggilan yang dijiwai oleh Allah Tritunggal Mahakudus. Beranikah kita untuk menjadi misionaris Kristus?

Kenangan akan pembaptisan dalam Tritunggal Mahakudus mengingatkan kita sekali lagi akan comunio dalam diri Tuhan. Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah satu. Dan bahwa masing-masing kita juga dipanggil untuk menjadi satu sesuai dengan kehendak Yesus sendiri. Demikian juga karya pastoral kita akan berhasil kalau yang menjadi andalan kita adalah Tuhan Trutunggal Mahakudus.

Oratio

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Seperti ada pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amen

PJSDB

***