Saturday, September 1, 2012

Renungan 1 September 2012

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXI
1Kor 1:26-31
Mzm 33: 12-13.18-19.20-21
Mat 25:24-30

Setialah mengembangkan talenta dari Tuhan

Apakah anda setia di dalam hidup dan karya-karyamu sebagai anugerah dari Tuhan? Ini selalu menjadi sebuah pertanyaan yang patut direfleksikan secara mendalam oleh setiap pribadi. Misalnya, Apakah setiap pribadi setia dalam pekerjaan, mengembangkan bakat, waktu, kesempatan demi kebaikan banyak orang? Secara khusus, kepada para pasutri mereka dapat bertanya dalam diri masing-masing apakah sudah sedang setia di dalam hidup perkawinan mereka atau belum setia. Selama beberapa hari terakhir, permenungan kita adalah tentang urgensi Kerajaan Allah dan bagaimana kesiapan diri setiap pribadi untuk menyambut kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Nasihat-nasihat Tuhan Yesus di dalam Injil adalah supaya kita selalu siap siaga, berjaga-jaga dalam penantian. Berjaga-jaga bukan berarti santai dan bebas dari pekerjaan. Para pengikut Kristus tetap bekerja sebagai abdi yang setia. Para pengikut Kristus juga bijaksana dalam menanti kedatangan Tuhan.

Pada hari ini, Yesus memberi persyaratan lain untuk masuk Kerajaan Surga dalam perumpamaan tentang talenta. Apa itu talenta? Talenta dalam paham orang Ibrani adalah berat dan jumlah mata uang yang sama nilainya dengan 3000 sykal atau 42,525kg. Kalau diuangkan kira-kira bernilai $1600-$1900 US (Kel 38:25; Mat 18:24). Kadang-kadang 3000 sykal disamakan dengan 34 kg dan sebanding dengan 6000 dinar (Mat 18:24; 25:15-28). Belakangan ini talenta sering dipahami sebagai anugerah atau bakat alamiah misalnya dalam bidang seni dan olahraga. Orang bertalenta berarti orang yang punya bakat istimewa dalam bidang tertentu dan memilikinya secara alamiah. 

Sebagaimana dikisahkan oleh Matius, ada seorang yang mau bepergian ke luar negeri. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Hamba pertama diberikan lima talenta, hamba kedua diberikan dua talenta dan hamba ketiga satu talenta. Tuan ini memberikan talenta-talenta karena dia percaya bahwa mereka semua akan mengembangkannya dan menghasilkan bunga atau keuntungan tertentu. Tuan itu menganggap para hamba itu sebanding dengan mitra bisnis atau rekan sekerja di dalam perusahan. Tuan itu juga mengenal kemampuan para hambanya maka dia berharap agar kedelapan talenta yang diberikan ini menghasilkan talenta-talenta yang baru. Dalam hal ini aset keuangannya bertambah.

Hamba pertama yang memiliki lima talenta mengembangkannya dan mendapatkan lima talenta, jadi jumlahnya menjadi sepuluh talenta. Hamba kedua menerima dua talenta, mengembangkannya dan menghasilkan dua talenta, maka jumlahnya menjadi empat talenta. Hamba yang ketiga menerima satu talenta, mungkin karena malas atau merasa diremehkan karena hanya mendapat satu talenta maka dia tidak mengembangkannya. Dia juga mengenal tuannya sebagai orang yang kejam maka ia memilih tanah sebagai tempat yang aman untuk menyimpan talenta ini. 

Pada hari perhitungan, masing-masing hamba melaporkan kegiatan mereka. Hamba pertama membawa sepuluh talenta, hamba kedua membawa empat talenta dan hamba ketiga membawa satu talenta. Hamba yang pertama patut diberi kepercayaan karena dia tekun, lagi pula dia tidak meminta tuan untuk memperhatikan dirinya sendiri tetapi dia hanya meminta supaya tuannya memperhatikan lima talenta baru yang dihasilkannya. Tuan itu menunjukkan kemurahan hatinya dan memuji hamba pertama ini sebagai “hamba yang baik dan setia” dan layak duduk semeja dengan tuannya. Hamba kedua membawa keempat talentanya. Seperti hamba pertama, dia tidak meminta perhatian pada dirinya tetapi pada dua talenta baru yang ia hasilkan. Tuan itu menujukkan kemurahan hatinya dan menganggap hamba kedua sebagai mitra yang baik dan setia. Hamba yang ketiga hanya mengembalikan satu talenta yang diberikan tuannya karena ia mengenal tuannya sebagai orang yang kejam, yang menuai di mana dia tidak menabur dan memungut di tempat di mana dia tidak menabur. Maka jalan terbaik baginya adalah menguburkannya di dalam tanah. Talenta tetap milik tuannya, tetapi hamba ini telah menghalangi tuannya untuk mendapat keuntungan. Talenta itu pun diambil dan diberikan kepada orang yang memiliki sepuluh talenta. 

Perumpamaan tentang talenta ini membuka wawasan kita dalam menanti kedatangan Tuhan. Para gadis yang bijaksana dan bodoh menanti kedatangan pengantin dan karena lama maka mereka menjadi malas dan tidur. Para hamba yang dipercayakan untuk mengembangkan talenta ini juga menunggu tuannya dalam waktu yang lama untuk membuat perhitungan. Dua hamba yang pertama bijaksana dan dapat mengembangkan talenta tuannya dan menghasilkan keuntungan sedangkan hamba yang ketiga patut mendapat hukuman karena tidak mengembangkan talenta yang dipercayakan kepadanya. Dalam perumpamaan ini Yesus mau mengingatkan para muridNya bahwa Ia akan menderita, sengsara, wafat bangkit dan naik ke surga tetapi para murid diharapkan untuk rajin dan tekun mengembangkan segala anugerah yang Dia berikan kepada mereka. Pada akhirnya mereka akan mempertanggungjawabkan kepadaNya ketika Ia datang kembali dalam kemuliaanNya. Tentu saja bukan hanya bagi para murid saat itu, tetapi bagi kita semua para pengikutnya juga berlaku hal yang sama, tekun dan setia mengembangkan anugerah-anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.

Apa yang harus kita lakukan? Paulus dalam bacaan pertama mengajak kita untuk bermegah di dalam Kristus. Meskipun setiap pribadi mengalami pengalaman yang sulit, sampai ke titik kemiskinan yang ekstrim namun Tuhan tetaplah menjadi andalan. Tuhan Yesuslah yang karena karya Bapa di Surga menjadi hikmat, keadilan, kekudusan dan penebusan bagi manusia. Oleh karena itu semua anugerah yang diberikanNya kepada kita patut dikembangkan untuk menghasilkan buah yang berlimpah. Gunakanlah semua anugerah Tuhan untuk kebaikan dan kebahagiaan banyak orang.

Doa: Tuhan, terima kasih atas semua anugerahMu kepada kami. Amen

PJSDB

Friday, August 31, 2012

Parenting ala Yesus

Merenungkan: Mat 25:1-13

Anak bijaksana dan anak bodoh

Hari ini Yesus memberi perumpamaan tentang Kerajaan Surga dan urgensinya. Hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis yang mengambil pelita dan pergi menyongsong pengantin. Lima gadis dikatakan bodoh karena membawa pelita tanpa minyak dalam bulih-buih. Lima gadis yang lainnya membawa pelita dan minyak di dalam bulih-bulih. Karena lama menunggu maka mereka mulai malas dan tidur. Pada tengah malam pengantin datang. Para gadis bijak menyiapkan pelita dan minyak maka pelitanya tetap terang. Para gadis bodoh menyalahkan pelita dan tidak tahan lama, cepat padam dan mati. Para gadis bodoh berusaha: coba meminta bantuan pada kelima teman yang lain tapi tak direstui. Mereka pergi membelinya tetapi ketika kembali sudah terlambat dan pintu pun sudah ditutup. Tuan rumah tidak mengenal para gadis yang bodoh karena kelambanan mereka.

Kisah ini kelihatan sederhana tetapi menarik perhatian kita. Kerajaan Allah itu ibarat sebuah keluarga di mana ada anak-anak yang bijaksana dan ada juga yang bodoh. Anak-anak di dalam keluarga kebanyakan dikelompokkan atas dua bagian besar. Ada anak-anak yang rajin, tekun dan berhasil secara akademis. Mereka ini disebut anak-anak pintar. Ada juga anak-anak yang kalau belajar mandiri, perlu membaca sampai sepuluh kali baru mengerti. Anak-anak ini kadang-kadang disebut anak-anak bodoh atau anak-anak yang terbatas daya ingatnya. Situasi anak-anak secara akademis ini kadang-kadang membuat orang tua kurang menyadarinya. Orang tua menuntut supaya anak harus punya nilai yang tinggi, dan itu berarti anaknya hebat. Tuntutan-tuntutan yang berlebihan kadang membuat anak seakan-akan pincang dalam pertumbuhan secara intelektual. Anak-anak yang masih usia dini sudah dipaksa masuk kumon dan kalau sudah menghafal matematika maka dikatakan anak itu sudah hebat. Padahal anak-anak memiliki tahapan perkembangan yang jelas secara psikologis.

Sikap Yesus yang ditonjolkan di sini adalah Ia melihat jati diri anak-anak. Bahwa ada yang bijaksana atau tidak bijaksana alias bodoh itu adalah anugerah bagi setiap pribadi. Namun kemampuan setiap pribadi kalau dilatih maka akan berkembang dan mencapai ketajaman pada level tertentu. Tuhan tentu tidak akan membiarkan anak-anaknya tidak berkembang, Ia pasti membuka jalan supaya anak-anak juga bertumbuh menjadi bijaksana. Mari kita syukuri anugerah Tuhan bagi setiap pribadi. 

Lalu apa yang harus kita lakukan? 

Hai para orang tua, hargailah anak-anakmu. Jangan pernah berkata kepada anak-anakmu: “Kamu bodoh, bego, bloon”. Katakanlah sekarang ini, “Kamu pintar, hebat dan pasti bisa melakukannya!” Ketika mengeluarkan kata-kata seperti ini dapat membuat anak-anak menjadi kurang percaya diri. Hilangkan kebiasaan membandingkan anak-anak sebagai kakak beradik atau dengan orang lain. Anak-anak tetaplah anak-anak yang sedang berkembang. Bangunlah keterbukaan satu sama lain. Sebenarnya teman curhat pertama seorang anak adalah orang tuanya. Apabila orang tua bisa punya waktu untuk duduk bersama maka betapa anak-anak merasakan kehadiran orang tua dan tidak akan kehilangan figur ayah dan ibu. Anda tetaplah orang tua yang hebat!

PJSDB

Renungan 31 Agustus 2012

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXI
1Kor 1:17-25
Mzm 33:1-2.4-5.10ab.11
Mat 25:1-13

Salib adalah kekuatan dari Allah!

Menunggu itu suatu pekerjaan yang berat. Orang harus memiliki sikap rela berkorban. Orang mengorbankan waktu, pekerjaan untuk menunggu kedatangan pribadi atau orang yang ditunggu atau menunggu kendaraan untuk bepergian. Coba pikirkan saat menunggu kedatangan seorang sahabat. Dia terlambat karena kemacetan lalu lintas tetapi tidak menelpon atau mengirim pesan singkat. Tentu ada perasaan resah, kesal dan perasaan lainnya dan kadang orang tidak sabar menunggu. Ini memang sangat manusiawi tetapi sungguh terjadi. Atau coba pikirkan saat-saat melelahkan ketika menunggu penerbangan yang delay di airport. Apabila pesawat tersebut menginformasikan terlebih dahulu delay-nya maka orang kelihatan lebih siap untuk menerima kenyataan, tetapi kalau lambat apalagi pada menit terakhir pramugari baru meminta maaf karena “alasan operasional” maka biasanya menimbulkan sungut-sungut dan marah. Orang dapat saja menjadi bijakasana dan boleh mengerti keadaan atau orang dapat juga menjadi bodoh dan tidak mau kompromi dengan keadaan.

Semangat sebagai orang yang menanti kedatangan seseorang atau kendaraan tertentu hendaklah selalu dan harus dimiliki oleh setiap orang. Penginjil Matius memberi kesaksian: Yesus sungguh-sungguh menyiapkan para muridNya untuk mengerti dan memiliki semangat menanti setiap saat. Yesus mengingatkan para muridNya untuk berjaga-jaga atau bersiap siaga menanti kedatangan Anak Manusia. Ia memberi perumpamaan supaya orang selalu bijaksana dalam menanti kedatangan Tuhan.

Yesus menceritakan sebuah perumpamaan ini. Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong pengantin. Ada lima gadis yang bijaksana dan lima yang lainnya bodoh. Gadis-gadis yang bijaksana membawa pelita dan minyak sedangkan gadis-gadis bodoh hanya membawa pelita tanpa minyak di dalam buli-bulinya. Pengantin terlalu lama di tempat pesta dan tidak diketahui kapan tepatnya ia kembali ke rumah sehingga kesepuluh gadis itu tertidur. Sambil menikmati istirahat malam, terdengarlah suara berseru, “Pengantin datang dan sambutlah dia”. Kesepuluh gadis itu terbangun. Lima gadis bijaksana menyalakan pelita sedangkan kelima gadis bodoh dan sudah ketiduran menyalakan pelita tetapi sia-sia karena tanpa minyak. Mereka meminta kepada kelima rekan yang bijaksana tetapi tidak diberikan, mereka keluar dan membelinya tetapi terlambat dan pintu rumah ditutup. Tuan rumah berkata kepada gadis-gadis yang bodoh, “Sungguh, aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kalian”. 

Hal kedatangan Anak Manusia untuk mengadili orang yang hidup dan mati pada akhir zaman tidak diketahui dengan pasti. Oleh karena itu orang harus berjaga-jaga, bersiap siaga dan bijaksana di dalam hidupnya. Setiap orang hendaknya bijaksana dan pelitanya hendaknya tetap menyala. Setiap orang mesti setia dalam hidupnya artinya ia hidup bijaksana. Orang yang tidak setia dalam hidupnya, ia juga tentu tidak bijaksana atau bodoh. Dua kriteria ini sebelumnya juga digunakan Yesus ketika menutup diskursusnya di atas bukit Sabda Bahagia (Mat 7:24-27). Orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar Sabda dan melakukannya di dalam hidup. Orang bodoh atau tidak bijaksana adalah orang yang mendengar Sabda tetapi tidak melakukannya di dalam hidup. Orang yang bijaksana akan selalu siap dengan pelita yang menyala dan Tuhan akan berkata kepadanya, “Aku mengenal engkau”. Sedangkan orang yang bodoh akan tetap dalam kegelapan dan Tuhan akan berkata kepadanya, “Aku tidak mengenal engkau”. 

Apa yang harus dilakukan supaya dalam masa penantian ini orang tetap hidup bijaksana atau hidup dalam terang? Ada satu syarat yang diberikan oleh Paulus dalam bacaan pertama yaitu supaya setiap orang terbuka hatinya untuk menerima Yesus di dalam hidupnya. Paulus mengakui bahwa dirinya diutus bukan untuk membaptis melainkan untuk mewartakan Injil. Yesus yang diwartakan dalam Injil adalah Dia yang tersalib. Salib adalah kebodohan bagi mereka yang merasa bijaksana secara manusiawi dan akan binasa tetapi bagi orang yang dianggap bodoh oleh manusia, salib adalah kekuatan Allah. Maka hal yang terpenting di sini adalah orang perlu memiliki kebijaksanaan dari Tuhan bukan dari manusia.  Orang yang bijaksana dari Tuhan akan merendahkan dirinya dan siap memikul salib seperti Yesus sendiri. Orang yang bijaksana dari dirinya sebagai manusia, dia akan menyombongkan dirinya dan tidak akan menerima salib.   

Pertanyaan selanjutnya adalah apa makna salib bagi para pengikut Kristus? Salib bukan hanya sebuah simbol berupa palang kayu yang kasar. Salib adalah segala duka dan kecemasan, segala penderitaan yang dialami setiap pribadi supaya pribadi lain menjadi bahagia. Orang yang bijaksana adalah orang yang siap memikul salib, menderita dan berkorban supaya sesamana menjadi baik dan bahagia. Misalnya, salib seorang isteri adalah segala pengorbanan dirinya, doa-doa, rasa malunya supaya suaminya dapat bertobat. Dan kalau suaminya bertobat maka salib itu sungguh-sungguh agung. Salib bagi seorang suami adalah segala pengorbanannya bekerja dan mencari uang sehingga anaknya yang malas dan nilainya merah berubah menjadi rajin dan memiliki nilai yang bagus. Salib bagi anak-anak adalah semua pengurbanan diri supaya orang tua mereka tetap setia di dalam menghayati sakramen perkawinan mereka. Yesus berkata, “Barangsiapa mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal diri dan memikul salibnya hari demi hari.” (Mat 16:24). Apakah anda dan saya siap memikul salib sebagai kekuatan dari Allah?

Doa: Tuhan, semoga aku mampu memikul salibku. Amen

PJSDB

Thursday, August 30, 2012

Renungan 30 Agustus 2012

Hari Kamis, Pekan Biasa ke –XXI
1Kor 1:1-9
Mzm 145: 2-3.4-5.7-7
Mat 24:42-51

Tuhan tetap setia selamanya!

Berita mengejutkan. Seorang sahabat saya mendadak meninggal dunia. Sehari sebelumnya kami masih berdiskusi tentang iman katolik. Dia sempat bertanya kepadaku tentang apa makna rohani doa salam Maria, “Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati”. Saya berusaha menjelaskannya dengan mengutip ayat-ayat Kitab Suci dan penjelasan-penjelasan teologis lainnya. Dia kelihatan sangat serius mendengar penjelasan saya. Pada akhirnya ia berkata kepadaku, “Bunda Maria itu baik, dia selalu mendoakan hidup dan kematian kita. Saya yakin dia melakukannya untuk aku juga”. Saya hanya sekedar mendengar dan tidak berpikir tentang apa yang akan terjadi bagi dirinya. Hari berikutnya, saya diminta untuk merayakan misa requiem karena beliau kemungkinan meninggal pada pagi hari tetapi tidak diketahui oleh semua anggota keluarga.”

Yesus dari Injil hari ini mengajak para muridNya untuk berjaga-jaga karena mereka tidak tahu pada hari mana Tuhan datang. Tuhan yang punya kuasa memberi kehidupan, Dia juga yang punya kuasa mengambil kehidupan. Itu sebabnya sikap bathin yang harus dibentuk adalah selalu berjaga-jaga atau selalu siap siaga karena “Anak Manusia datang pada saat yang tidak diduga”. Apakah dengan berjaga-jaga berarti orang harus berhenti bekerja? Jawabannya adalah orang harus tetap bekerja. Lakukanlah pekerjaan-pekerjaan setiap hari dan berlakulah sebagai hamba yang setia. Hamba yang setia melakukan pekerjaannya dengan setia meskipun tanpa diawasi oleh tuannya. Hamba yang jahat akan berlaku malas dan bertindak tidak manusiawi terhadap sesama yang lain. Singkatnya, para pengikut Kristus sambil bekerja setiap hari sebagai hamba-hamba yang setia, mereka juga siap siaga menanti datangnya Tuhan di masa depannya.

Untuk lebih jelas, Yesus memberi perumpamaan tentang para hamba yang ditentukan untuk menjaga dan mengawasi segala milik tuannya. Yesus meskipun Allah, rela menjadi manusia dalam peristiwa inkarnasi, mengambil rupa sebagai hamba supaya setiap pribadi manusia dapat memiliki martabat sebagai anak-anak Allah. Setiap orang dipanggil untuk bersatu dengan Tuhan karena penebusan yang berlimpah dariNya. Yesus sendiri datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, artinya Ia menjadi seorang hamba yang setia. Yesus juga memiliki harapan yang sama kepada setiap pribadi untuk menjadi hamba atau abdi Tuhan yang setia.

Apa yang harus kita lakukan sambil berjaga-jaga atau bersiap siaga? 

Paulus dalam bacaan pertama merumuskan kita-kiat untuk menanti datangnya Tuhan. Pertama, Seperti Paulus, orang perlu merasa bahwa karena kehendak Allah maka mereka dapat menjadi rasul atau utusan Tuhan. Tugas para utusan atau Rasul adalah mewartakan kasih dan pengampunan Tuhan yang berlimpah-limpah kepada semua orang. Kedua, semangat mengabdi. Hamba yang setia adalah seumpama seorang rasuk yang ikut mewartakan kasih dan pengampunan Tuhan. Ketiga, Kekudusan. Bagi Paulus, orang-orang Korintus juga dipanggil juga kepada kekudusan. Kekudusan yang diperoleh karena jasa Yesus Kristus. Tuhan Bapa di Surga sendiri memiliki kasih yang besar bagi manusia dan kasihNya itu selalu menyertai setiap pribadi. Oleh karena kita merasakan kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup ini maka setiap pribadi juga diharapkan untuk selalu bersyukur di dalam hidupnya. Keempat, Syukur. Rasa syukur kepada Tuhan Yesus karena di dalam diriNya kita menjadi kaya dalam segala hal, baik perkataan maupun pengetahuan. Tuhan Yesus juga akan meneguhkan kita sampai kepada kesudahan karena Dia setia.

Sabda Tuhan hari ini membuat kita semakin sadar akan kasih Tuhan dan mensyukurinya. Oleh karena itu kita perlu membangun semangat selalu siap sedia menanti kedatangan Tuhan, dengan semua tindakan yang baik dan penuh semangat mengabdi. Dengan mencintai semua pekerjaan setiap hari maka turut mendukung jalan kekudusan kita. Tuhan itu setia selamanya, meskipun kita sendiri tidak setia kepadaNya. Apakah anda dan saya dapat menjadi hamba atau abdi yang setia di dalam hidup di hadirat Tuhan? 

Doa: Tuhan, jadikanlah kami abdi-abdiMu yang setia. Amen

PJSDB

Wednesday, August 29, 2012

Renungan 29 Agustus 2012

Kemartiran Yohanes Pembaptis
Yer 1:17-19
Mzm 71: 1-4a.5-6b.15ab.17
Mrk 6:17-29

Apakah perbuatan dosa dan salah sudah berlabel halal?

Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang unik. Dia dikenal sebagai pembuka jalan bagi kedatangan Mesias dengan pembaptisan dan seruan tobat. Banyak orang mendengarnya dan minta diri untuk dibaptis. Cara hidupnya yang sederhana juga membuat banyak orang berubah dan hidup layak di hadirat Tuhan. Dia membawa murid-muridNya dan memperkenalkan mereka kepada Yesus dengan seruan, “Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh 1:29.36) dan para muridnya pun meninggalkannya dan mengikuti Yesus. Pokoknya sesuai misinya, segala sesuatu yang dia lakukan selalu berpusat pada Yesus. Itu sebabnya Yesus mengatakan bahwa Yohanes adalah “pribadi terbesar yang lahir dari rahim seorang wanita” (Mat 11:11).

Kisah tentang kemartiran Yohanes yang akan kita dengar dalam injil hari ini (Mrk 6: 17-19) terjadi di benteng Makherontes, sebuah tempat peristirahatan milik Herodes di dekat laut mati. Yesus mendengar bahwa Yohanes dipenggal kepalanya melalui para murid Yohanes termasuk Yohanes dan Andreas muridNya. Yohanes Pembaptis adalah pribadi yang hebat, Ia memiliki keinginan yang besar, “Sukacitaku menjadi penuh saat ini, dia harus semakin besar dan aku semakin kecil” (Yoh 3:29-30). Secara liturgis, pesta hari ini disesuaikan dengan pembangunan gereja St. Yohanes Pembaptis di Sebaste, Samaria. Yohanes menjadi martir karena memperjuangkan nilai-nilai Mesianis dalam pewartaannya. 

Sebuah pertanyaan yang muncul, mengapa Yohanes berani mewartakan nilai-nilai Mesianis kepada banyak orang saat itu? Yohanes berani karena ia melaksanakan panggilan dan perutusannya sebagai pembuka jalan bagi sang Mesias. Nilai-nilai moral dan religius tidak hanya menjadi slogan tetapi memiliki nilai luhur sehingga perlu ditegakkan. Masalah yang membuat Herodes dan Herodias luka bathin terhadap Yohanes adalah teguran Yohanes kepada Herodes yang merebut isteri saudaranya Filipus dan menjadikannya sebagai isteri. Tentu hal ini sangat memalukan. Sebagai leader atau public figure, seharusnya nilai-nilai etika dan moral ini ditegakkan. Apabila tidak ditegakkan maka akan ada krisis kepercayaan kepada mereka sebagai pemimpin. Setelah Yohanes menegur Herodes, tentu ia sangat marah dan hendak membunuh Yohanes. Hanya saja, Herodes segan dengan Yohanes karena ia adalah figur yang disegani banyak orang.

Upaya membunuh Yohanes pun berhasil ketika merayakan ulang tahun Herodes. Dalam pesta itu putri Herodias menari dan menyukakan hati Herodes, para tamu dan undangan. Di hadapan para tamu dan undangan Herodes berjanji akan memberi apa saja, termasuk setengah dari kerajaan kepada anak perempuan itu. Anak perempuan itu langsung menanyakan permintaan kepada ibunya Herodias dan ia menjawab, “Mintalah kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam”. Herodes meskipun segan tetapi karena janji dan gengsi maka ia mematuhi janjinya. Yohanes dipenggal kepalanya di benteng Makherontes. Jenasanya dikuburkan secara manusiwi oleh para muridnya.

Apa kiranya nilai-nilai luhur Yohanes Pembaptis bagi kita? Dia adalah pribadi yang jujur dan berani menegakkan kebenaran sejati. Perjuangan Yohanes Pembaptis adalah supaya semua orang boleh layak menerima kehadiran Yesus, sang Mesias sebagai manusia baru karena pertobatan. Namun demikian perjuangan Yohanes kandas di penjara karena kejujuran dan  usahanya untuk menegakkan kebenaran. Yohanes menjadi inspirator bagi banyak pribadi yang bekerja keras memperjuangkan kebenaran dan keadilan. “Kalau ya, katakan ya, kalau tidak katakan tidak” (Mat 5:37). Ini adalah tantangan bagi kita semua. Siapakah pengikut Kristus yang berani seperti Yohanes? Ketika berhadapan dengan pemerintah yang mengalami degradasi moral, digerogoti korupsi, kolusi dan nepotisme maka terkadang para pengikut Kristus sadar atau tidak sadar mengikuti arus ini demi kenyamanan. Suara hati boleh mengatakan perbuatan dosa dan salah tetapi demi kenyamanan maka dosa juga menjadi tidak dosa.

Kiranya merayakan pesta kemartirannya, banyak orang menjadi sadar untuk kembali ke jalan kejujuran. Yesus berkata dalam Injil, “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.” (Mat 22:21)Apakah ada pengikut Kristus yang bisa berubah karena gaya hidup Yohanes terutama dalam hubungan dengan pelayanan publik? Atau karena menemukan zona (comfort zone) nyaman dan tidak mau beranjak ke zona keberanian (courage zone). Semoga suara hati kembali jernih dan spirit Yohanes bertumbuh kembali di dalam hati setiap pengikut Kristus.

Doa: Tuhan, semoga darah Yohanes Pembaptis membuat kami menjadi pribadi yang jujur dan tulus. Amen

PJSDB

Tuesday, August 28, 2012

Renungan 28 Agustus 2012

St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
2Tes 2:1-3a.13b-17
Mzm 96:10-13
Matius 23:23-26

Terlambat aku mencintai Engkau

Santo Agustinus lahir di Tagaste, Afrika tahun 354. Ia mencari kebenaran sejati setelah hidup dalam kegelapan dan akhirnya ia mengambil keputusan yang tepat untuk menerima Yesus di dalam hidupnya. Ia dibaptis oleh St. Ambrosius yang saat itu menjadi uskup di Milano. Setelah dibaptis, Agustinus kembali ke Afrika dan memulai hidup askesis. Ia diangkat menjadi Uskup di Hippo dan menjabat selama 34 tahun sebagai gembala, ia mengajar mereka dengan tulisan dan homili-homilinya. Ia juga menentang ajaran-ajaran sesat yang mengancam Gereja. Pada tahun 430, ia meninggal dunia.

Agustinus dikenal di dalam Gereja sebagai orang kudus yang penuh perjuangan. Ia mengawali hidupnya dengan pengalaman duniawi yang menyesatkan. Ibunya, St. Monika membantunya dengan kasih sebagai seorang ibu namun butuh proses yang lama. Ia mengakui di dalam bukunya yang terkenal “Pengakuan” bahwa ia terlambat mencintai Tuhan. Pertobatan Agustinus merupakan model pertobatan radikal mirip dengan pertobatan St.Paulus di dalam Kisah Para Rasul. Artinya, sekali ia memilih dan mengikuti Kristus maka itu berlaku selama-lamanya. 

Kita kembali ke bacaan-bacaan liturgi kita pada hari ini. Penginjil Matius melanjutkan kisah tentang kecaman-kecaman yang dibuat oleh Yesus terhadap para ahli Taurat dan kaum Farisi di bab ke-23 ini. Untuk memahami perikop kita hari ini, saya coba mengingatkan kita semua agar sebaiknya kita memahaminya secara global. Hal pertama yang kiranya perlu dikoreksi Yesus adalah kemunafikan kedua kelompok  Yahudi  yang menduduki “Kursi Musa”. Mereka mengklaim diri sebagai rabi, bapa dan pemimpin. Ya, harus diakui bahwa pengajaran mereka sangat bagus karena berdasarkan Taurat Musa tetapi perbuatan-perbuatan mereka jauh dari Wajah Tuhan. Oleh karena itu Yesus membuka pikiran para muridNya untuk tidak berlaku demikian. Mereka dianjurkan Yesus untuk mengikuti pengajaran mereka dan bukan perbuatan mereka. Para murid juga diharapkan untuk menjadi pelayan yang baik dan rendah hati (23:1-12). 

Setelah menghimbau para muridNya, Yesus melanjutkan dengan kecaman-kecaman terhadap para ahli Taurat dan kaum Farisi. Kecaman-kecaman ini dapat kita baca pada 23:13-36. Ada tujuh kecaman yang diucapkan Yesus yaitu:

  1. Ayat 13 
  2. Ayat 15
  3. Ayat 16-22
  4. Ayat 23-24
  5. Ayat 25-26
  6. Ayat 27-28
  7. Ayat 29-30

Nah, perikop kita hari ini termasuk pada kecaman nomor 4 dan 5.

Untuk kecaman ke-4 pada ayat 23 dan 24, Yesus mengatakan bahwa celaka bagi para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena persepuluhan dibayar tetapi hal utama yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan diabaikan. Penghayatan mereka akan hukum Taurat hanya pada level eksternal sedangkan inti terpentingnya tidak dihayati yaitu tiga nilai atau triade moral yakni keadilan (relasi dengan sesama), Belas kasihan (mengikuti kehendak ilahi atau hesed), kesetiaan (berpegang teguh pada janji seperti yang dibuat Tuhan dengan kebenaran (emet) sejati. Kesetiaan (fidelity) juga berhubungan dengan iman kepada Allah. Tentang keadilan, di dalam Kitab Perjanjian Lama, kita dapat menemukannya dalam Amos 5:24; Hosea 4:1-2. Nah, ini boleh juga disebut triade yang meringkasi seluruh hukum Taurat. Ketiga hal ini sangat peting dalam membangun relasi yang baik dengan sesama.

Kecaman ke-5 yaitu pada ayat 25-26. Yesus mengatakan bahwa celaka bagi para ahli Taurat dan kaum Farisi karena mereka membersihkan bagian luar cawan dan pinggan saja. Ini adalah kecaman terhadap kemunafikan mereka yang lebih memprioritaskan urusan lahiria belaka dengan ketakutan bahwa kalau mereka tidak berhati-hati maka mereka akan terkontaminasi dengan hal-hal yang kotor, padahal di dalam hati mereka juga kotor. Jadi di luar diri mereka kelihatan bagus, bersih dan rapi tetapi bagian dalamnya kotor! Mengapa? Karena semua yang mereka makan dan minum juga berupa rampasan dan kerakusan. Jadi bagi Yesus, hal yang terpenting adalah kemurnian hati.

Apa yang harus kita lakukan? Yesus di alam bacaan Injil meminta kita untuk bermetanoia. Ada semangat untuk mengubah kiblat hidup sebagai pengikut Kristus dengan menjaga kemurnian hati kita. Hidup kita akan lebih berarti bukan karena penampilan cashing diri kita tapi yang terpenting adalah jati diri kita. Maka hendaknya hidup kita disokong oleh triade ini: keadilan, belas kasih dan kesetiaan!

St. Paulus dalam bacaan pertama, mengingatkan kita untuk tidak disesatkan oleh orang karena Tuhan Allah telah memilih untuk menyelamatkan kita dalam Roh dan kebenaran. Dengan menerima Injil berarti menerima kemuliaan Yesus Kristus. Dengan menerima Kristus maka diharapkan kita berdiri teguh dan berpegang pada ajaran-ajaran Tuhan serta tradisi tertulis dan lisan dari para rasul. Dengan sikap bathin seperti ini kita boleh layak menanti kedatangan Tuhan dan kemuliaanNya. 

Doa: Tuhan, bantulah kami untuk bersikap adil terhadap sesama. Amen

PJSDB

Monday, August 27, 2012

Parenting ala Yesus

Meditasi  Luk 7: 11-17

Berbelas kasih seperti Yesus

Penginjil Lukas mengisahkan bahwa Yesus bersama para muridNya melakukan suatu perjalanan ke kota Nain. Ketika itu ada seorang janda barusan kehilangan putera tunggalnya dan sedang dibawa ke kuburan. Melihat janda itu, Yesus tergerak hati oleh belas kasihan dan mengatakan kepada ibu itu, “Jangan menangis”. Yesus mendekati usungan dan membangkitkan anak itu. Anak itu bangkit dan Ia menyerahkannya kepada ibunya. Tanda heran ini cepat tersiar dan mereka berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah kita. Allah telah melawat umatNya”.

Ada beberapa unsur penting dalam kisah ini:

Pertama, Yesus berjalan bersama para muridNya. Dalam hal parenting, kebersamaan merupakan hal yang amat mahal harganya. Para orangtua zaman ini selalu sibuk dengan pekerjaan, cari duit dan hampir tidak ada waktu untuk bersama dengan anak-anak. Pada pagi hari mereka meninggalkan rumah, malam ketika kembali anak-anak sudah tidur. Demikianlah ritme kehidupan setiap hari. Anak-anak kadang hanya bertumbuh bersama pembantunya. Itu sebabnya kadang dia lebih segan dengan pembantu dari pada dengan orang tua sendiri. Perilakunya juga sangat dipengaruhi oleh pembantu. Misalnya cara berbicara dengan orang tuanya seolah seorang pembantu dengan majikannya.

Kedua, Yesus tergerak hati oleh belas kasih. Yesus memiliki rasa empati dengan umat manusia. Ia tidak hanya merasakan tetapi melakukan dalam perbuatan nyata. Sebagai orang tua rasa tergerak hati dan belas kasih itu sangatlah penting. Ketika seorang anak mengalami kesulitan orang tualah yang seharusnya menjadi orang pertama untuk hadir dalam hidupnya. Masuklah lewat pintu hati anak itu, dan biarlah dia sendiri merasa bahwa dirinya diperhatikan dan dikasihi.

Ketiga, Yesus mendekati ibunya dan mengatakan, “Jangan menangis”. Tugas orangtua adalah selalu menghibur anak ketika mengalami kesulitan atau penderitaan. Janganlah anak dibiarkan menangis sendirian sedangkan orang tua tertawa di atas penderitaan anak sendiri.

Keempat, Yesus menyerahkan anak itu kepada ibunya. Orang tua perlu memiliki sikap membaktikan diri kepada anak. Anak merasakan kehadiran orang tua di dalam hidupnya. Apakah orang tua menyadari penyerahan diri secara total bukan hanya kepada pasangan tetapi juga kepada anak-anaknya?

Seandainya semua orang tua seperti Yesus, maka keluarga-keluarga akan selalu indah dan bahagia. Hai orang tua, kamu pasti bisa!

PJSDB