Wednesday, March 6, 2013

Renungan 6 Maret 2013

Hari Rabu, Prapaskah III
Ul 4:1.5-9
Mzm: 147: 12-13.15-16.19-20
Mat 5:17-19

Aku datang untuk menggenapinya

Saudari-saudara terkasih. Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa kita sudah dipertengahan masa prapaskah. Mungkin sejenak kita perlu melihat kembali retret agung kita ini. Apakah kita sudah sadar dan menjalani masa prapaskah dengan berdoa lebih baik lagi secara pribadi atau doa bersama dalam komunitas? Apakah kita semakin rajin membaca, mendengar dan melakukan Sabda Tuhan? Apakah kita sudah melakukan karya amal kasih tanpa membuat perhitungan tertentu terhadap saudara dan saudari kita yang miskin dan berkekurangan? Apakah puasa dan pantang kita lakukan dengan sadar dan tulus? Ini beberapa pertanyaan yang bisa membantu kita untuk lebih siap lagi dalam merayakan paskah tahun ini. 

Saya punya satu pengalaman yang menarik. Setelah ditahbiskan sebagai imam, tugas pertama saya adalah pergi ke Fuiloro, di Timor Leste untuk menata sebuah sekolah lanjutan pertama. Ketika mendengar kedatangan saya, komunitas sekolah ini mulai mencari tahu kekurangan dan kelebihan saya. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa saya orang Indonesia dan mungkin akan mengubah segala sesuatu yang sudah sedang berlangsung. Ketika untuk pertama kali mengadakan pertemuan dengan para guru mereka memberi banyak keterangan yang saya sadari bahwa mereka tetap pada posisi status quo. Setelah mendengar semua sharing, saya mengatakan terima kasih untuk segala sesuatu yang mereka sudah lakukan, dan saya meminta mereka untuk bekerja bersama sebagai satu team dalam menata sekolah tersebut. Semua anggapan dan ketakutan mereka berubah menjadi kesadaran baru untuk bekerja sebagai team.

Tuhan Yesus dalam injil hari ini mau membantu kita untuk memahami tugas perutusanNya di dunia ini. Ia telah datang untuk melakukan pekerjaan dan kehendak Allah Bapa. Seluruh kehendak Tuhan sudah tertulis di dalam Kitab Suci. Itu sebabnya Ia berkata: “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat dan Kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya”. 

Kitab Suci dalam pikiran orang Yahudi adalah Kitab Perjanjian Lama yang disebut TaNaK: Torah (Hukum), Nebiim (Kitab para nabi), Kethubim (tulisan-tulisan). Kadang-kadang kita mendengar ekspresi Kitab Hukum dan para nabi yang merujuk pada seluruh Kitab Perjanjian Lama. Dalam pengajar tentang etika dan norma, Yesus misalnya berkata: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga kepada mereka” (Mat 7:12). Yesus mengatakan bahwa ini adalah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Rujukan Yesus adalah seluruh Kitab Suci Perjanjian Lama. Di bagian lain Yesus berkata: “Sebab semua nabi dan Kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes (Mat 11:13). Lukas memberi kesaksian yang lain. Yesus menemani dua murid dalam perjalanan ke Emaus dan Ia menjelaskan kepada kedua murid itu identitasNya yang sudah ada mulai dari Musa dan para nabi (Luk 24:27). 

Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan melainkan menggenapi hukum Taurat. Perkataan Yesus ini memang sudah ada di dalam Kitab Taurat Musa, Kitab para nabi dan tulisan-tulisan. Semua nubuat di dalam Kitab Perjanjian Lama menuju ke satu-satunya Penyelamat yaitu Yesus Kristus. Yesus menggenapi, membuatnya menjadi semakin sempurna. Kalau sebelumnya orang  berpikir tentang hukum lama, sekarang Yesus menggenapi atau menyempurnakannya dengan menghadirkan Kerajaan Allah. Inti dari Kerajaan Allah adalah cinta kasih. Maka Yesus menggenapi dan menyempurnakan hukum Taurat dengan hukum atau perintah baru yakni mengasihi Tuhan dan saling mengasihi sebagai saudara. Yesus menyempurnakan hukum Taurat maka konsekuensinya adalah semua pengikutNya harus ikut menyempurnakan hukum Taurat dengan melakukan perintah kasih. Kalau orang tidak melakukannya maka ia akan mendapat tempat yang paling rendah. Hal ini berbeda dengan orang yang melakukan dan mengajarkan perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Perikop Injil kita juga menekankan bahwa Yesus adalah legislator baru yang mempersembahkan sebuah hukum yang lebih tinggi dari hukum Musa. Injil Yesus yang menjadi tanda hadirnya Kerajaan Allah haruslah diterima  secara utuh oleh manusia. Jadi tidak ada kompromi untuk menerima hanya sebagian saja dari Kerajaan surga. Kita harus menerima semuanya. 

St. Agustinus pernah berkata, “Kasihilah dan lakukanlah apa yang anda inginkan”.  Ini bukanlah sebuah undangan untuk mengabaikan hukum Tuhan. Kalau sekiranya anda mengasihi Allah maka anda akan memenuhi kehendak Allah sendiri. Anda akan berusaha untuk menyenangkan hati Tuhan. Konsekuensi adalah harus siap melakukan perintah Tuhan. Kita dapat mengikuti perintah-perintah Tuhan kalau kita mentaatiNya dalam kasih.

Doa: Tuhan kami bersyukur atas segala anugerah bagi kami. Bantulah kami untuk semakin mengenal dan mengasihi Engkau sebagai satu-satunya Juru Selamat kami. Amen

P.John SDB

Tuesday, March 5, 2013

Renungan 5 Maret 2013

Hari Selasa Prapaskah III
Dan 3:25.34-43
Mzm 25:4bc-5ab.6-7bc.8-9
Mat 18:21-35

Seni mengampuni


Apakah memaafkan atau mengampuni orang yang berdosa kepada kita itu mudah? Mayoritas di antara kita pasti akan mengatakan sulit untuk memaafkan atau mengampuni saudara yang berdosa terhadap kita. Lebih mudah memiliki dan menyimpan rasa benci dari pada hati tergerak untuk memaafkan atau mengampuni. Orang juga bisa mengampuni tetapi hingga batas-batas tertentu, kalau sudah sampai di ambang batas maka kemarahan akan meledak dengan sendirinya. Itulah manusia!

Ada dua orang bersaudara. Sejak kecil mereka selalu bersama-sama tinggal serumah. Tetapi ketika orang tuanya dalam keadaan sakit, kedua bersaudara itu mulai berkelahi untuk merebut harta warisan orang tua. Selama bertahun-tahun mereka tidak saling berbicara. Pada akhirnya mereka secara formalitas berdamai dengan berjabat tangan di atas peti jenasah ayah mereka. Sayang sekali karena ayah mereka tidak menyaksikan perdamaian kedua anaknya. Tuhan Yesus berkata: “Dimana hartamu berada, disitu hatimu juga berada” (Mat 6:21). Hanya gara-gara harta warisan maka relasi persaudaraan nyaris putus. Harta membuat orang sulit memaafkan dan mengampuni satu sama lain.

Petrus dalam bacaan Injil hari ini, tampil percaya diri dengan bertanya kepada Yesus: “Sampai berapa kalikah aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Bagi orang-orang Yahudi ada kebiasaan tiga kali mengampuni saudara untuk satu dosa yang sama. Petrus bertanya kepada Yesus apakah cukup tujuh kali mengampuni saudara yang berdosa. Memang angka tujuh adalah angka yang sempurna. 

Pengampunan mengandaikan pendamaian. Di sini butuh sebuah pengampunan yang murah hati sesuai ajaran Yesus sendiri tentang pendamaian atau rekonsiliasi (Mat 5:23-25; 6:12.14-15). Namun demikian Tuhan Yesus mengoreksi Petrus: mengampuni bukan hanya tujuh kali tetapi tujuh puluh kali tujuh kali. Ekspresi ini bukan ekspresi matematis tetapi menujukkan bahwa mengampuni itu tanpa batas. Kiranya jawaban Yesus ini menghapus pandangan lama sebagaimana diungkapkan oleh Lamekh setelah membunuh seorang laki-laki yang melukainya dan laki-laki lain yang memukulnya sampai bengkak. Kalau Kain dibalaskan tujuh kali lipat maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat (Kej 4:23-24). Kalkulasi yang ditawarkan Yesus kepada Petrus memiliki makna yang mendalam yakni sebuah perubahan radikal dari dalam hati, perubahan mentalitas, pertobatan total untuk bisa serupa dengan Allah Bapa yang murah hati dan suka mengampuni manusia.

Untuk menjelaskan tentang kemurahan hati Allah yang berani melupakan kesalahan manusia, Yesus memberi satu contoh orang yang memiliki hutang 10.000 Talenta. Satu talenta nilainya 60 Mina atau 6000 Dirham. 1 Dinar sama dengan 2 Dirham. Menurut Penginjil Matius, 1 Dinar setara dengan upah kerja sehari (Mat 20:2.13). Misalnya upah harian bagi seorang pekerja adalah Rp. 50.000 per hari. Maka uang Rp. 50.000 sama dengan 1 Dinar. 1 Dirham adalah setengan Dinar atau Rp. 25.000. 1 Mina sama nilainya dengan 100 Dirham atau Rp. 2.500.000. Maka 1 Talenta sama dengan 60 Mina atau Rp. 150.000.000. Maka hutang 10.000 Talenta setara dengan Rp. 1.500.000.000.000. Ini jumlah uang yang sangat besar. Hanya koruptor yang tidak punya nurani yang dapat memiliki uang sebesar ini. Tetapi sang raja begitu baik menghapus seluruh hutang. Raja sangat baik! Masalahnya adalah ketika hamba itu bertemu hamba lain yang berhutang seratus dinar atau sekitar Rp. 5000.000 kepadanya, ia tidak memiliki rasa belaskasih. Ia mencekik dan memasukkan orang itu ke penjara. Pada akhirnya ia sendiri juga dimasukkan ke dalam penjara.

Pesan Injil ini sangat aktual bagi kita. Apabila kita merasakan kemurahan hati, belas kasih dan pengampunan dari Tuhan maka hal yang sama juga harus kita lakukan bagi sesama yang lain. Kadang-kadang orang menjadi serakah. Ia berani memohon ampun dari Tuhan tetapi dirinya sendiri tidak mampu mengampuni sesama lain. Tentu saja nasibnya tidak jauh berbeda dengan orang yang berhutang 10.000 Talenta.

Apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh kemurahan hati Tuhan? Kita perlu berdoa. Doa dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan. Ada keyakinan bahwa Tuhan hadir dan membaharui serta menyelamatkan hidup kita. Pengalaman Azarnya dalam bacaan pertama sangat inspiratif. Dalam keadaan yang sulit, ia masih menaruh harapan kepada Tuhan.

Masa prapaskah bagi kita bermakna ketika kita bertumbuh dalam doa. Berdoa senantiasa dalam setiap waktu. Kita juga saling mengampuni satu sama lain. Mengampuni berarti melupakan. Tuhan hanya satu tetapi ia mampu mengampuni semua orang. Bagaimana dengan anda dan saya? Apakah tetap mau menyimpan amarah dan dengki kepada sesama? Mari kita saling mengampuni tanpa batas seperti yang Tuhan lakukan bagi kita.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk mampu mengampuni saudara yang berdosa terhadap kami. Amen

PJSDB

Monday, March 4, 2013

Novena for the election of new Pope

Novena for the election of new Pope


The Veni Creator:

Come, Holy Ghost, Creator come. From Thy bright heavenly throne! Come take possession of our souls, and make them all Thine own!
Thou who art called the Paraclete, best gift of God above, The Living Spring,The Living Fire, Sweet Unction, and true Love!
Thou who are sevenfold in Thy grace, Finger of God’s right hand, His Promise, teaching little ones To speak and understand!
O guide our minds with thy blest light, With love our hearts inflame, And with thy strength, which ne’er decays, Confirm our mortal frame.
Far from us drive our hellish foe, True peace unto us bring, And through all perils guide us safe Beneath thy sacred wing.
Through Thee may we the Eternal Father know, Through Thee the Eternal Son, And Thee the Spirit of them both – Thrice blessed Three in One.
Now to the Father, and the Son Who rose from death, be glory given, With Thee, O holy Comforter, Henceforth by all in earth and heaven.

The collect (prayer) for the election of a Pope

O Lord, with suppliant humility, we entreat Thee, that in Thy boundless mercy Thou wouldst grant the most Holy Roman Church a pontiff, who by his zeal for us, may be pleasing to Thee, and by his good government may be ever honored by Thy people for the glory of Thy name. Through Our Lord Jesus Christ, Thy Son who with Thee livest and regnest world without end. Amen.


An invocation to the Immaculate Heart of Mary, such as:

Most Sorrowful and Immaculate Heart of Mary, pray for us who have recourse to Thee!

Litany of the Holy Spirit for the election of a holy pope.

Litany of the Holy Spirit


Lord, have mercy on us.

Christ, have mercy on us.

Lord, have mercy on us.
Father all powerful, have mercy on us
Jesus, Eternal Son of the Father, Redeemer of the world, save us.
Spirit of the Father and the Son, boundless life of both, sanctify us.
Holy Trinity, hear us.
Holy Spirit, Who proceedest from the Father and the Son, enter our hearts.
Holy Spirit, Who art equal to the Father and the Son, enter our hearts.
Promise of God the Father, have mercy on us.
Ray of heavenly light, have mercy on us
Author of all good, have mercy on us
Source of heavenly water, have mercy on us
Consuming fire, have mercy on us
Ardent charity, have mercy on us
Spiritual unction, have mercy on us
Spirit of love and truth, have mercy on us
Spirit of wisdom and understanding, have mercy on us
Spirit of counsel and fortitude, have mercy on us
Spirit of knowledge and piety, have mercy on us
Spirit of the fear of the Lord, have mercy on us
Spirit of grace and prayer, have mercy on us
Spirit of peace and meekness, have mercy on us
Spirit of modesty and innocence, have mercy on us
Holy Spirit, the Comforter, have mercy on us
Holy Spirit, the Sanctifier, have mercy on us
Holy Spirit, Who governest the Church, have mercy on us
Gift of God, the Most High, have mercy on us
Spirit Who fillest the universe, have mercy on us
Spirit of the adoption of the children of God, have mercy on us
Holy Spirit, inspire us with horror of sin.
Holy Spirit, come and renew the face of the earth.
Holy Spirit, shed Thy light in our souls.
Holy Spirit, engrave Thy law in our hearts
Holy Spirit, inflame us with the flame of Thy love.
Holy Spirit, open to us the treasures of Thy graces
Holy Spirit, teach us to pray well.
Holy Spirit, enlighten us with Thy heavenly inspirations.
Holy Spirit, lead us in the way of salvation
Holy Spirit, grant us the only necessary knowledge.
Holy Spirit, inspire in us the practice of good.
Holy Spirit, grant us the merits of all virtues.
Holy Spirit, make us persevere in justice.
Holy Spirit, be Thou our everlasting reward.
Lamb of God, Who takest away the sins of the world, Send us Thy Holy Spirit.
Lamb of God, Who takest away the sins of the world, pour down into our souls the gifts of the Holy Spirit..
Lamb of God, Who takest away the sins of the world, grant us the Spirit of wisdom and piety.

V: Come, Holy Spirit.! Fill the hearts of Thy faithful,

R: And enkindle in them the fire of Thy love.

V: Let Us Pray

Grant, 0 merciful Father, that Thy Divine Spirit may enlighten, inflame and purify us, that He may penetrate us with His heavenly dew and make us fruitful in good works, through Our Lord Jesus Christ, Thy Son, Who with Thee, in the unity of the same Spirit, liveth and reigneth forever and ever. 

R. Amen.

Renungan 4 Maret 2013

Hari Senin, Prapaskah III
2Raj 5:1-15
Mzm 42: 2-3; Mzm 43: 3-4
Luk 4:24-30

Cinta kasih merobohkan tembok pemisah manusia


Saya punya satu pengalaman menarik. Ketika masih berkarya sebagai pastor paroki di St. Yohanes Bosco Sunter, kami memiliki team yang bagus. Kehadiran “RomPet” dan “RomOn” membawa angin segar dan perubahan yang berarti di Paroki ini. Salah satunya adalah doa bersama sebelum bekerja disertai renungan singkat yang dibawakan kami para romo. Dari semua karyawan di Gereja lebih banyak beragama Islam. Setiap hari mereka-mereka ini selalu nomor satu yang hadir di depan Plaza Bunda Maria untuk berdoa bersama secara umum. Kebiasaan ini berkembang terus hingga saat ini dan menjadi suatu kebiasaan yang baik. Cinta kasih itu universal dan sifatnya mempersatukan semua orang dari segenap suku dan bahasa serta agama dan kebudayaan. Cinta kasih yang lahir dari doa bersama. Satu hal positif yang saya lihat dalam persekutuan majemuk ini adalah mereka yang bukan katolik kadang hadir lebih tepat waktu. Mengapa? Karena mereka juga mencintai Tuhan yang mereka imani.

Kadang-kadang orang merasa status quo sebagai orang yang dibaptis. Bahkan yang sudah lama dibaptis juga masih berpikir status quo sehingga mereka lupa dan menjadi sombong secara rohani. Di dalam keanggotaan sebagai jemaat Tuhan saja masih saling membandingkan diri orang lain dengan dirinya, membandingkan gereja lain dengan gerejanya. Bahkan lebih parah  ada yang tidak begitu tahu tentang sejarah Gereja dalam hal ini orang katolik yang merasa bahwa gereja tetangga lebih hidup dari pada gereja katolik. Gereja katolik kuno dan kaku! Para gembala pun dengan sendirinya tidak dihargai oleh umatnya sendiri ketika memunculkan gosip, menganggap pastornya kurang gaul dalam memberi homili karena terlalu kaku, pokoknya ada litani serba salah dari pastor. Maka kadang pastor lebih dihargai di luar parokinya, dari pada di antara keluarga dan sahabat kenalan di dalam parokinya sendiri. Kadang pastor lebih dihargai saudara-saudara dari jemaat Gereja lain di bandingkan umat katolik sendiri.

Tuhan Yesus dalam bacaan hari ini sedang berada di Nazaret, kampung halamanNya. Di sana Ia masuk ke dalam Sinagoga dan membaca Firman Tuhan dari Kitab nabi Yesaya. Setelah selesai membacanya semua orang takjub, merasa heran akan hikmat dan kebijaksanaanNya. Tetapi ada juga orang yang merasa terganggu dan mempertanyakan eksistensi Yesus. Orang-orang itu hanya melihat hal-hal yang sifatnya manusiawi seperti latar belakang keluarga. Oleh karena itu Yesus dengan tegas berkata: “Sungguh tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”. Yesus menjadi orang asing di negeri sendiri.

Selanjutnya Yesus mengambil contoh-contoh dalam dunia perjanjian lama untuk membuka pikiran mereka. Contoh pertama adalah janda di Sarfaat yang mendapat kunjungan nabi Elia. Sarfaat adalah daerah Sidon, daerah orang kafir bagi komunitas Yahudi. Contoh kedua Naaman orang Siria disembuhkan atas perintah nabi Elisa di sungai Yordan. Dua orang asing memperoleh keselamatan karena menerima utusan Tuhan sedang di Israel sendiri mereka tidak diterima secara penuh. Para nabi sendiri disadarkan Tuhan bahwa cinta kasih itu universal jadi di luar komunitas yahudi pun Tuhan berkarya dan menyelamatkan. Sementara di dalam komunitas sendiri ada penolakan. Tentang hal ini Yesus berkata, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah karena upahmu besar di Surga, sebab demikianlah juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu”. (Mat 5:11-12).

Kedua contoh di atas juga membuktikan bahwa Yesus melakukan pekerjaan Bapa seperti pekerjaan yang dilakukan para nabi dalam Perjanjian Lama. Elia dan Elisa adalah dua nabi yang menghadirkan belas kasih Allah yang melimpah kepada orang-orang yang dianggap kafir oleh orang yahudi. Kemiskinan sang janda dan sakit kustanya Naaman menjadi perhatian istimewa dari Allah bagi manusia yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat sosialnya. Yesus juga melakukan hal yang sama dengan mengorbankan diriNya sebagai tebusan bagi semua orang. Dia yang meskipun kaya, rela menjadi manusia yang miskin dan menderita supaya manusia miskin menjadi kaya atau layak sebagai anak Allah (2Kor 8:9).Dia adalah tabib yang menyembuhkan sakit penyakit (Luk 5:31). Sungguh, cinta kasih itu merubuhkan tembok-tembok pemisah. Cinta kasih itu mempersatukan semua orang.

Doa: Tuhan, ajarilah kami cinta kasihMu dan biarkanlah kami terus menerus mengasihiMu dan sesama kami. Amen

PJohnSDB

Sunday, March 3, 2013

Homili Hari Minggu Prapaskah III/C

Hari Minggu, Prapaskah III
Kel 3:1-8a.13-15
Mzm 103:1-2.3-4.6-7.8.11
1Kor 10:1-6.10-12
Luk 13:1-9


Bertobatlah!

Hari ini kita memasuki pekan Prapaskah III. Boleh dikatakan bahwa dari hari Rabu abu hingga hari Minggu ini kita sedang berada di pertengahan jalan penitensi dan pertobatan. Untuk sekedar mengingatkan bahwa pada pekan pertama prapaskah kita merenungkan Yesus yang menang terhadap tiga godaan yakni godaan terhadap kenikmatan hidup, kekuasaan dan popularitas. Godaan-godaan ini senantiasa mengganggu kehidupan manusia dan banyak kali semua atau salah satu godaan ini menguasai manusia. Hari Minggu yang lalu kita diajak untuk melihat Yesus sendiri saja yang memancarkan kemuliaanNya. Ia dapat menyelamatkan kita melalui segala penderitaan sampai wafat di kayu salib. KebangkitanNya merupakan kemenangan dan kemuliaanNya. Oleh karena itu kita patut mendengarNya sebagai Putera Allah dan satu-satunya penyelamat kita. Pada hari ini kita diingatkan untuk menyadari retret agung ini sebagai saat yang tepat untuk bertobat dan menerima Yesus di dalam hidup kita. Tuhan Yesus juga akan menunjukkan bahwa Bapa di surga itu sabar terhadap manusia yang berdosa. Manusia harus bertobat di hadiratNya yang mahakudus.

Aku adalah Allah ayahmu! Ini adalah ucapan Yahwe dalam bacaan pertama dari Kitab keluaran. dalam perikop kita digambarkan bagaimana Allah menampakkan diriNya kepada Musa dalam wujud belukar yang menyala di gunung Horeb. Pada waktu itu Musa sedang menggembalakan ternak Yitro, mertua dan imam di Midian. Musa melihat semak berduri menyala tetapi api tidak memakannya. Tentu saja hal ini membuat Musa terpancing untuk mendekati tempat tersebut. Ketika sedang menuju ke sana, ia mendengar suara yang mengingatkannya untuk melepaskan sepatu karena ia sedang berada di tempat yang kudus. Suara itu selanjutnya mengatakan kepada Musa, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub”. Perkataan Yahwe ini mau mempertegas relasi yang mendalam dan tiada putusnya di antara Yahwe dan manusia atau antara Tuhan dan umat pilihanNya. Mereka semua akan terikat dalam perjanjian dengan Allah sendiri.Relasi yang akrab dan mendalam ini mau menyadarkan Musa untuk menerima panggilan dan perutusan Tuhan untuk membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir. Allah sungguh-sungguh mewahyukan dirinya sebagai Allah yang benar bagi mereka. Dialah Yahwe, Elohim, “Aku adalah sang Aku” namanya.

Pengalaman Musa ini turut memperkuat Paulus dan jemaat di Korintus. Menurut Paulus, Allah yang diimani Musa dan umat Israel telah mengantar dan melindungi mereka hingga masuk tanah terjanji. Mereka melintasi laut dan padang gurun dengan selalu memandang tiang awan yang membimbing mereka. Tiang awan adalah shekina, tempat Tuhan bersemayam. Mereka makan manna di padang gurun dan minum air yang keluar dari dalam batu wadas. Paulus melihat pengalaman umat perjanjian lama dalam relasinya dengan sakramen Pembaptisan. Umat Israel telah dibaptis dalam awan dan laut. Jemaat Korintus diingatkan untuk memandang pada Yesus sebagai Batu karang rohani. Belajar dari orang Israel yang meninggal di padang gurun karena tidak taat, jemaat di Korintus perlu melakukan pertobatan. Apa yang harus dilakukan? Mereka diajak untuk tidak berbuat jahat, tidak bersungut-sungut. Mereka hendaknya berdiri dengan teguh dan tidak terjatuh.

Yesus dalam Bacaan Injil mengajak semua orang yang mengikutiNya untuk bertobat. Ada orang yang datang kepadaNya dengan membawa khabar tentang orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus dan darah mereka dicampur dengan darah kurban persembahan. Yesus dengan tegas berkata: “Sangkamu orang-orang Galilea itu lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain karena mereka mengalami nasib demikian? Tidak! Jikalau kamu tidak bertobat kamu semua akan binasa dengan cara demikian”. Yesus juga mengingatkan mereka tentang musibah dimana ada menara dekat Siloam yang rubuh dan menimpa delapan belas orang.  Sekali lagi Ia mengajak para pendengarnya untuk bertobat.

Tuhan juga menunjukkan kesabaranNya kepada umat manusia. Manusia yang tidak bertobat laksana pohon arah yang tidak berbuah. Yesus adalah pengurus kebun anggur yang memohon kesabaran dari Bapa untuk mengampuni kita. Dia akan berkata, "Tuan biarkanlah ia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah, kalau tidak tebanglah" (Luk 13:8-9). Tuhan selalu memberi kesempatan untuk bertobat, tetapi apakah kita sebagai pohon ara ini setia dan bersyukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan? Apakah kita hanya sebatas berbangga sebagai orang yang dibaptis tetapi tidak ada usaha untuk bertobat sehingga menjadi serupa dengan Tuhan sendiri? 

Sabda Tuhan hari ini membantu kita untuk sadar diri sebagai manusia yang lemah tetapi di kasihi Tuhan. Sebagaimana Musa di dalam Perjanjian Lama mencari dan bertemu dengan Tuhan di tempat di mana ia bekerja, demikian hendaknya kita juga merasakan semangat yang sama. Tempat di mana kita berdiri adalah tempat yang kudus. Tempat dan segala pekerjaan yang kita lakukan membantu kita bertumbuh menjadi kudus. Perjumpaan dengan Allah terjadi dalam hidup yang nyata. Kita juga diingatkan bahwa Tuhan sangat sabar dengan kita. Ia memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat. Tentu bukan hanya sekedar bertobat tetapi pertobatan yang benar adalah pertobatan yang menghasilkan buah berlimpah. Tuhan Yesus mencangkul dan memberi pupuk melalui sakramen- sakramen, kehidupan devosional dan praktek-praktek kesalehan lainnya. Hal-hal yang kita lakukan itu diharapkan menghasilkan buah, dalam hal ini hidup kita semakin baik dan layak di hadirat Tuhan. Mari kita bertobat!

Doa: Tuhan, anugerahkanlah pertobatan kepada kami sehingga layak merayakan kebangkitan PuteraMu. Amen.

PJSDB

Saturday, March 2, 2013

Renungan 2 Maret 2013

Hari Sabtu, Prapaskah II
Mi 7:14-15.18-20
Mzm 103:1-4.9-12
Luk 15:1-3.11-32

Seorang Bapa Yang Murah Hati

Ada dua pengalaman rohani yang membuatku terpesona. Pertama, pada suatu kesempatan saya merayakan misa arwah memperingati setahun meninggalnya seorang Bapa. Pada saat homili, saya bertanya kepada puteranya yang masih remaja tentang pengalaman yang mengesankannya bersama ayahnya. Ia berkata, “Hingga sekarang saya merasa daddy selalu bersamaku. Ada masa-masa yang indah ketika ia melatihku bermain guitar dan bernyanyi bersama. Ketika nilaiku merah ia mendukung aku, ketika aku belajar nakal ia membalikan arah jalanku. Daddy selalu yang terbaik buatku”. Wah, aku terharu mendengar kesaksian seorang anak remaja yang polos dan jujur tentang ayahnya. Kedua, masih seputar misa arwah. Ada seorang anak muda berusia 20 tahun meninggal dunia. Dalam perayaan misa requiem saya meminta kesaksian dari orang tua. Ibu anak tersebut berkata: “Anak ini adalah anak Tuhan. Dialah yang membuat suami saya bertobat dan menyatu dengan Tuhan. Dialah yang membuat kami sekeluarga tahu bersyukur kepada Tuhan. Doa keluarga menjadi sebuah kebiasaan karena dia. Karena dia anak Tuhan maka dia kembali kepadaNya. Kami pasrahkan seluruhnya kepada Tuhan sang Pencipta!”.

Figur dan kehadiran seorang ayah selalu penting dalam satu keluarga. Ayah yang selalu hadir dalam kehidupan anaknya dan memberi sukacita tersendiri. Bacaan Injil hari ini membuka pandangan kita tentang figur ayah yang selalu hadir dalam kehidupan anak, yang begitu murah hati dengan anak-anaknya. Ada tiga tokoh penting: anak bungsu, anak sulung dan ayah mereka. Diceritakan ada seorang ayah yang memiliki dua orang anak. Anak kedua meminta hak warisannya dan pergi ke tempat yang jauh. Di negeri baru itu ia menghabiskan semua hartanya dengan hidup gampang dan berfoya-foya. Setelah hartanya habis muncul kelaparan dan dia pun melarat sehingga menjadi ia berebutan makanan dengan babi. Sambil mengalami kemelaratan itu, ia mengingat ayahnya yang baik hati. Ia berniat untuk kembali kepada ayahnya meskipun diperlakukan sebagai pekerja upahan. Ia juga akan jujur mengatakan kepada ayahnya bahwa ia sudah berdosa melawan surga dan ayahnya sendiri. Ia pun kembali kepada ayahnya.

Anak sulung tetap tinggal bersama ayahnya. Ia bekerja setiap hari di kebun ayahnya. Ia makan dan minum dari kebun ayahnya sedangkan warisannya belum ia sentuh. Oleh karena berada di zona nyaman maka ia tidak pernah merasa bahwa sedang mengalami kasih ayahnya. Ia lupa kasih ayahnya dan cemburu ketika ayahnya memperlakukan adiknya yang kembali. Ini tipe anak yang tidak tahu berterima kasih, tidak mau bertobat.

Ayah di gambarkan sebagai pribadi yang murah hati dan berbela rasa. Ketika melihat anaknya datang, dialah yang orang pertama yang melihatnya dari jauh. Hati seorang ayah yang berbelas kasih langsung ia tunjukkan dengan pergi menjemput anaknya, merangkul dan menciumnya. Ia menyuruh para hambanya untuk menyiapkan dan memakaikan jubah terbaik untuk menandakan hidup lama dilepaskan dan mulailah hidup baru, cincin untuk mengikat kasih mereka sebagai ayah dan anak, sepatu baru untuk menandakan pertobatan yang radikal didasari sikap rendah hati. Lembu jantan menandakan perjamuan sukacita karena metanoia yang dialami anak bungsu ini.

Tiga figur dari bacaan Injil hari ini menggambarkan seluruh hidup kaum beriman. Figur anak bungsu: banyak kali kita butuh pertobatan yang radikal dengan kembali kepada Bapa. Ada perasaan bahwa dosa itu tidak berguna, Tuhan Bapa yang berbelas kasih yang paling berguna bagi hidup kita. Kita perlu berlaku sebagai orang yang membutuhkan Tuhan. Figur anak sulung adalah figur orang tidak tahu bersyukur. Saking nyamannya menikmati kasih Bapa, merasa diri status quo maka tidak berterima kasih atas kebaikan ayahnya. Banyak di antara kita yang berperilaku seperti itu. Tidak tahu bersyukur dan hanya butuh Tuhan kalau ada kesulitan dalam hidup. Figur ayah yang baik hati adalah figur Tuhan yang patut diikuti semua orang. Ayah yang baik adalah dia yang selalu bersedia untuk mengampuni dan menerima kembali anak yang sudah jatuh dalam dosa.

Mikha dalam bacaan pertama menggambarkan hebatnya Allah kita sebagai bapa yang maharahim. Allah bagi Mikha adalah seorang gembala yang baik. Gembala yang mengampuni dosa-dosa dan memaafkan pelanggaran yang dilakukan umatNya. Ia tidak murka tetapi penuh kasih setia. Allah yang kita imani menurut Mikha adalah Allah yang penyayang. Ia menghapus dosa-dosa kita, melempar semua dosa ke dalam tubir-tubir laut. Hanya Dialah yang mampu melupakan kesalahan-kesalahan kita.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk bermurah hati seperti Allah Bapa yang selalu bermurah hati kepada kita. Dia tidak memperhitungkan dosa-dosa tetapi memperhatikan iman kepadaNya. Dia berusaha melupakan dosa-dosa besar dan kecil yang kita lakukan, membuangnya ke tubir-tubir laut. Sikap bathin kita adalah bertobat secara radikal. Berniat untuk kembali kepada Tuhan seperti anak bungsu dalam kisah Injil. Mari membangun sikap tobat yang radikal, bermetanoia, berbalik sepenuhnya kepada Tuhan.

Doa: Tuhan, anugerahkanlah semangat tobat yang benar dalam hati kami. Amen

PJSDB

Friday, March 1, 2013

Renungan 1 Maret 2013

Hari Jumat I, Prapaskah II
Kej 37:3-4.12-13a.17b-28
Mzm 105:16-21
Mat 21:33-43.45-46

Menjual saudara sendiri


Ada dua orang bersaudara. Siang dan malam mereka tinggal di satu rumah yang sama, rumah warisan orang tua mereka. Namun demikian mereka berbeda dalam hal keanggotaan partai politik. Ketika mulai kampanye untuk menjadi calon legislatif, selalu terjadi pertemuan partai bergantian di rumah itu. Namun demikian hanya gara-gara partai yang berbeda kakak membenci adiknya yang popularitasnya lebih tinggi, bahkan memfitnah adiknya sehingga menjadi tahanan polisi berhari-hari. Adiknya bingung dan dia tidak tahu bahwa aktor dibelakang fitnahan itu adalah kakak kandung yang partainya berbeda. Dalam pikiran adik, kakaknya tetaplah kakak yang baik. Ini hanya salah satu contoh kecil bagaimana rasa benci dan dendam itu tidak memandang saudara, kawan dan lawan. Bila rasa benci itu datang maka semuanya akan rusak. Iblis bekerja untuk memecah belah dan menghancurkan relasi persaudaraan. 

Kisah singkat di atas membantu kita untuk memahami bacaan-bacaan liturgi hari ini. Kita mengetahui bahwa Yakob atau Israel memiliki 12 anak. Salah seorang anak yang sangat disayanginya adalah Yusuf. Dia sayangi karena Yusuf lahir saat Israel sudah memasuki usia senja. Ia mendapat perlakuan istimewa dalam hal kebutuhan setiap hari seperti pakaian yang indah. Yusuf sendiri pasti orang yang baik hati, rela membantu mengantar makanan  dan minuman kepada saudara-saudaranya yang bekerja sebagai gembala. Yusuf juga tukang mimpi dan mimpinya selalu menjadi kenyataan. Perlakuan khusus Israel terhadap Yusuf menimbulkan amarah dan dendam kesumat saudara-saudaranya.

Pada suatu saat anak-anak Israel menggembalakan domba-domba di dekat Sikhem. Israel menyuruh Yusuf anak kesayangannya mengantara makanan dan minuman untuk kakak-kakaknya di Dotan. Ketika melihatnya, rasa benci langsung membara dalam hati kakak-kakaknya. Mereka bermufakat untuk membunuhnya. Berbagai cara mereka rencanakan: membunuhnya, memasukkan ke dalam sumur kering, menjualnya ke Mesir, menipu Israel bahwa Yusuf dimangsa hewan liar. Israel percaya anak-anaknya, meskipun mereka jahat terhadap Yusuf.

Dalam hidup setiap hari kita juga menyaksikan atau mengalami pengalaman Yusuf ini. Di satu pihak orang tua kadang tidak menyadari secara penuh dalam pendidikan anak-anak. Ada yang diperlakukan istimewa, anak mami, anak papi dan yang lain anak setan karena sering tidak patuh pada orang tua. Ada juga pengalaman sebagai anak, saling menjual satu sama lain demi mendapat penghargaan sebagai anak baik di hadapan orang tua. Di tempat kerja, betapa saling cemburu dan saling menjual satu sama lain di hadapan pimpinan demi uang, kuasa dan kedudukan. Ada yang merasa enak dan tertawa di atas penderitaan sesama. Apakah kita mau tetap bertahan seperti itu? Apakah enak rasanya ketika menjual saudara dan membiarkannya menderita? Yusuf dijual, tetapi nantinya dia akan menjadi berkat bagi saudara-saudaranya.

Tuhan Yesus dalam Bacaan Injil hari ini memberi sebuah perumpamaan yang mirip dengan kisah Yusuf dalam bacaan pertama. Ada seorang tuan tanah yang memiliki kebun anggur. Ia melindungi kebun anggurnya dengan pagar, menggali lubang untuk memeras anggur, mendirikan menara jaga lalu menyewakan kepada para penggarap. Ketika musim petik tiba, sang tuan tanah mengirim hamba-hambanya tetapi para hamba itu dipukul, dibunuh, dan dilempar dengan batu. Ia akhirnya mengirim puteraNya sendiri tetapi para penggarap sepakat untuk membunuhnya sebab dia adalah ahli waris. Sikap jahat para penggarap akan dibalas dengan hukuman yang besar yaitu kebun anggur itu akan disewakan kepada penggarap-penggarap lain yang akan menyerahkan hasilnya pada saat yang tepat. Demikian akan terjadi juga dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah akan diambil dari tangan umat terpilih dan diberikan kepada sebuah bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan.

Yesus dalam perumpamaan ini berlaku sebagai ahli waris. Tuan tanah adalah Bapa Surgawi dan para penggarap adalah umat terpilih. Para hamba adalah utusan-utusan Tuhan atau para nabi. Namun nasib para nabi tidak jauh berbeda dengan Yesus sang ahli waris. Itulah sebabnya Yesus mengatakan: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Dialah batu keselamatan bagi banyak orang.

Dalam Kitab Suci, Kerajaan Allah selalu diumpamakan dengan sebuah kebun anggur. Dalam Kitab Perjanjian Lama, kebun anggur adalah simbol Israel sebagai bangsa terpilih. Di dalam Kitab Perjanjian Baru, kebun anggur adalah Gereja sebagai Israel baru maka para penggarap adalah orang-orang yang dibaptis. Orang-orang yang dibaptis bisa menjadi penggarap yang jahat yang akan mengalami kebinasaan, dan ada penggarap yang baik yang akan memperoleh rahmat dari Tuhan.

Sabda Tuhan menghadirkan dua figur yang penting pada hari ini. Yusuf dikasihi oleh Israel dan dibenci oleh saudara-saudaranya. Ia dimasukkan ke dalam sumur kering, lalu dijual kepada bangsa asing. Pada akhirnya Yusuf mengampuni saudara-saudaranya dan menjadi berkat bagi mereka. Yesus juga mengalami nasib yang mirip. Ia adalah Anak yang dikasihi Bapa. Ia juga dijual oleh Yudas Iskariot dan masuk dalam perut bumi. Pada akhirnya Yesus menjadi satu-satunya penyelamat kita.

Tentu masing-masing kita mengalami luka dari saudara-saudara di sekitar kita. Apakah kita tetap bertahan sebagai pribadi terluka atau kita justru seperti Yusuf dan Yesus yang menjadi berkat bagi saudara-saudara yang sudah menyakiti dan melukai kita. Kita dipanggil untuk bertobat secara radikal. Kita juga dipanggil untuk menyelamatkan saudara-saudara kita. Bertahanlah dalam derita dan biarkanlah Tuhan berkarya dalam dirimu untuk menyelamatkan saudara yang lain. Jangan menjual saudaramu!

Doa: Tuhan semoga hari ini saya bisa menjadi saudara bagi sesama yang lain. Amen

PJSDB