Wednesday, February 22, 2012

Homili Hari Rabu Abu (2)


Yoel 2:12-18; Mzm 51: 3-6a.12-14.17; 2Kor 5:20-6:2; Mat 6:1-6.16-18

Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu!


Hari ini kita memulai masa prapaskah.  Masa di mana kita berhenti memikirkan kepentingan diri sendiri dan memikirkan kepentingan bersama. Masa di mana kita mengingat-ingat dosa dan salah yang telah diperbuat dan menyatakan tobat di hadapan Tuhan dengan segenap hati. Satu kekhasan pada hari ini adalah menerima abu. Abu adalah tanda pertobatan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Ingatlah bahwa “Engkau debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej 3:19).

Melalui Yoel, Tuhan menyapa kita dengan seruan tobat untuk berbalik kepadaNya dengan segenap hati dan juga untuk mengadakan hari pertobatan masal. Firman Tuhan: “Sekarang berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh. Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.”  Pertobatan yang benar adalah pertobatan hati bukan hal-hal lahiria saja. Hati yang remuk redam sebagai tanda orang sungguh-sungguh menyesali dosanya di hadapan Tuhan.

Tuhan memiliki kuasa mengampuni dosa-dosa manusia. Ia membuka tanganNya untuk menyambut setiap orang yang bertobat. Paulus mengingatkan orang-orang Korintus untuk bertobat  dengan seruan: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Di dalam kurban Kristus, kita para pendosa dibenarkan Allah. Oleh karena itu Paulus menasihati supaya jangan menyia-nyiakan karunia Allah yang telah diterima. Pengampunan Allah tercermin dalam SabdaNya: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada waktu hari Aku menyelamatkan, Aku menolong engkau. Saat inilah saat perkenanan itu, hari ini hari penyelamatan itu”.

Bagaimana mengungkapkan pertobatan hati di hadapan Tuhan? Yesus memberikan tiga kewajiban pokok yang kiranya perlu dijalani oleh setiap orang. Tiga kewajiban pokok yang dimaksud adalah sedekah, berdoa dan berpuasa. Ketiga kewajiban ini perlu dijalankan dengan tersembunyi, tanpa perlu memamerkan diri, atau menarik perhatian orang bahwa kita sedang melakukannya. Ini adalah tanda orang beriman mengungkapkannya karena mereka tahu bahwa Bapa surgawi mengetahuinya.

Sedekah berarti membangun perhatian kita akan penderitaan orang lain. Misteri penderitaan dalam permenungan kita berfokus pada salib. Dengan memandang Salib kita mengingat Yesus yang menderita untuk keselamatan kita. Jadi dengan mengingat penderitaan Yesus di salib, kita juga solider dengan sesama yang menderita. Maka kita boleh bertanya dalam diri kita: “Apa dampak praktek kesalehan “jalan salib” setiap hari jumat dan “Tablo” dalam hidup kita? Mampu mengubah hidup kita menjadi lebih terbuka dan mirip dengan Kristus? Kita semakin solider dan empati dengan sesama yang menderita?

Dalam masa prapaskah ini juga kita diajak untuk belajar berdoa dan banyak berdoa. Yakobus mengingatkan kita bahwa banyak kali kita berdoa tetapi kita salah berdoa kerena doa-doa itu bertujuan untuk memenuhi hawa nafsu kita.  Kita harus belajar dan banyak berdoa supaya Tuhan dapa mengampuni dosa-dosa kita. Sama seperti pemungut cukai di dalam Injil (Luk 18:13) demikian kita juga berdoa dalam terang pertobatan hati. Apakah doa merupakan sebuah kebutuhan kita?

Kewajiban yang terakhir adalah berpuasa. Kita perlu belajar berpuasa kembali. Dalam hubungan dengan makan dan minum kita makan kenyang satu kali terutama pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Di samping berpuasa, kita juga berpantang. Pantang garam, rokok, kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dalam pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian. Bagaimana kesadaran kita untuk berpuasa dan berpantang?

Kewajiban-kewajiban yang dinasihati oleh Yesus ini dilakukan di hadapan Allah sebagai Bapa yang maharahim bukan mahapenuntut. Dia mengerti kehidupan kita.

Sambil merenungkan penderitaan Kristus untuk keselamatan kita selama masa prapaskah ini, kita diajak untuk menghayati Ekaristi sebagai saat dimana Tuhan berbagi dengan manusia yang berdosa. Di hadapan manusia Tuhan membagi diriNya, membiarkan diriNya remuk sebagai santapan rohani bagi setiap orang. Kita pun dipanggil untuk berbagi dalam semangat ekaristis. Siap diambil, dipecah-pecah dan dibagi-bagi kepada sesama yang lain. Sikap berbagi inilah yang menjiwai pertobatan hati kita.

Betapa indahnya dunia ini ketika setiap orang membagi waktu-waktu kehidupannya, bakat-bakat serta kemampuannya  untuk kebaikan sesama. Tugas kita sekarang adalah membuat semua orang bahagia dalam hidupnya. Kita belajar dari Kristus yang memberi dirinya untuk kita semua. Ingatlah engkau berasal dari debu dan engkau akan kembali menjadi debu! Janganlah bertegar hati!

PJSDB  

Homili Hari rabu Abu (1)


Yoel 2:12-18; Mzm 51: 3-6a.12-14.17; 
2Kor 5:20-6:2; Mat 6:1-6.16-18

“BERBALIKLAH KEPADA TUHAN, ALLAHMU”
(Yoel 2,13)


Banyak di antara kita pasti sudah mendengar kisah kehidupan Santo Agustinus dari Hippo, Uskup dan Pujangga Gereja (354-430). Ia adalah seorang tokoh luar biasa. Daya ciptanya sungguh mengaggumkan, ketajaman dan kelincahan daya berpikirnya diimbangi daya spekulasinya, perhatiannya kepada penggembalaan umat beriringan dengan kesungguhannya dalam membina hidup rohaninya. Namun sebelum mencapai tingkat kematangan rohani seperti ini, Agustinus harus menempuh perjalanan hidup yang sangat berat, suatu perjalanan penuh tantangan, petualangan dan pergulatan hidup. Hatinya terbelenggu oleh berbagai macam kelemahan manusiawi (jatuh dalam dosa). Meskipun demikian, ia mengarahkan hatinya kepada Tuhan dengan berjuang untuk mencari kebenaran sejati dengan sejujur-jujurnya. Dalam ziarah hidupnya itu, ia menemukan hujan rahmat Tuhan yang gilang-gemilang.

Pada saat-saat terakhir menuju pertobatannya, Agustinus menulis: “Sesungguhnya jauhlah dari pikiranku bahwa di dalam kemahMu, orang berharta dianggap lebih penting dari pada yang miskin, yang bangsawan dari rakyat biasa, mengingat apa yang lemah bagi dunia Kaupilih untuk memalukan apa yang kuat dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia Kaupilih, bahkan apa yang tidak berarti seakan-akan berarti, untuk meniadakan apa yang berarti” (Pengakuan Agustinus VIII,9).

Agustinus bertobat. Ia mengarahkan seluruh hidupnya yang sebelumnya dikuasai oleh dosa kepada Tuhan. Hatinya rindu untuk mencari dan bertemu dengan Tuhan serta mencintaiNya kembali. Ia menulis: “Hendaklah orang bertanya kepadaMu, Hendaklah orang mencari dalam diriMu, Hendaklah orang mengetuk di pintuMu. Maka dengan demikian ia bakal menerima, dengan demikian ia bakal menemukan, dengan demikian pintu bakal dibukakan” (Pengakuan Agustinus  XIII, 53).

Kita semua adalah Agustinus yang lain. Kisah pertobatan Agustinus ini boleh membantu kita sepanjang masa prapaskah yang hari ini kita mulai dengan perayaan Rabu Abu. Sebentar lagi kita akan menerima abu. Kita perlu sadar bahwa abu yang di tandai di kepala kita masing-masing bukan hanya sebuah ritus belaka dalam hidup kristiani tetapi merupakan tanda kerendahan hati di hadapan Tuhan bahwa kita adalah ciptaanNya yang rapuh yang akan kembali menjadi debu. Menerima abu di kepala juga menyadarkan kita pada rahmat pertobatan, metanoia atau berubah kiblat dari hidup penuh kegelapan dan dosa untuk kembali kepada Tuhan. Sebagai anak-anakNya, prinsip dan doa yang bagus selama masa prapaskah adalah seperti prinsip anak yang hilang: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa” (Luk 15,18-19.21).

Bertobat atau berubah kiblat kepada Tuhan sebagai Bapa yang baik, hendaklah disertai oleh niat hati yang tulus dan ikhlas. Ada kepercayaan yang teguh seperti santo Agustinus, bahwa Allah itu baik dan Maharahim. Ia tetap mencintai sekalipun kita lemah karena cintaNya setia dan kekal. Ini semua akan membantu menyucikan diri kita dan menguatkan kita untuk mengalami paskah Kristus. Kita menjadi ciptaan baru di dalamNya.

Kisah Agustinus ini juga boleh membuka pikiran kita untuk memahami nubuat Tuhan melalui nabi Yoel tentang pertobatan. Yoel, dalam bacaan pertama bernubuat dengan penuh keyakinan bahwa Allah yang kita imani itu maharahim dan berbelas kasih terhadap orang berdosa, terutama ketika kita memiliki hati yang tulus dan ikhlas, terarah hanya kepadaNya, dan itu bisa diwujud-nyatakan dalam berpuasa. Tuhan bernubuat melalui nabi Yoel bergini: “Sekarang juga berbaliklah kepadaKu dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh. Koyakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia”.

Yoel menampilkan sosok Allah yang mengasihi manusia, dan yang menyeruhkan pertobatan: “Berbaliklah kepada Tuhan dengan segenap hati”. Seruan tobat dari Allah ini hendaklah kita jawab dengan gerakan hati untuk berubah menjadi ciptaan baru, hati yang murni seperti doa pemazmur ini: “Kasihanilah aku ya Allah, menurut kasih setiaMu, menurut besarnya rahmatMu, hapuskanlah kesalahanku. Bersihkanlah aku dari kesalahanku dan cucilah aku dari dosaku. Ciptakanlah hati murni bagiku, ya Allah.” (Mazmur 51,3-4.12). Pertobatan yang benar itu ditandai dengan perubahan kiblat hati, hati murni, bukan perubahan eksterior seperti mengoyakan pakaian, karena itu terkadang bisa menjadi tanda kemunafikan manusia saja.

Seruan tobat Allah bagi manusia melalui nubuat Yoel dalam bacaan pertama tadi, dipertegas oleh Santo Paulus dalam bacaan kedua dengan mengingatkan kita semua bahwa bertobat berarti berdamai atau berrekonsiliasi dengan Allah. Berdamai dengan Allah tidak bisa ditunda-tunda lagi tetapi berdamai saat ini juga dan dengan segenap hidup: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Waktu ini, sesungguhnya adalah waktu perkenanan itu. Sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan Tuhan”.

Marilah kita berdamai dengan Allah (katallassein). Ini adalah suatu ajakan yang bagus! Berdamai dengan Allah berarti kita mentransformasikan hubungan pribadi kita dengan Allah dan sesama. Atas inisiatif Allah juga, Ia menganugerahan kebebasan pada masing-masing pribadi untuk menjadi ciptaan baru dalam Kristus (1Kor 5,18), sebuah kondisi yang menguntungkan kita untuk memenangkan cinta kasihNya. Dari situ kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi bagi Dia yang sudah wafat dan bangkit bagi kita yaitu Kristus (1Kor 5,14).

Berubah kiblat dengan mengoyakan hati (Bacaan I) dan ini memampuhkan kita untuk berdamai dengan Tuhan saat ini (Bacaan II), tidak bisa hanya menjadi selogan saja. Sikap bathin ini harus menjadi nyata dalam hidup kita. Tuhan Yesus dalam Injil Matius  menganjurkan kepada kita praktek-praktek kesalehan yang tidak lain adalah wujud konkret tobat dan damai. Ada tiga praktek kesalehan yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita:

Pertama, Melakukan karya amal kasih. Melakukan karya amal kasih ditandai dengan sikap untuk memberi dengan ketulusan hati tanpa perlu meminta balasan: “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi”. Nah, kalau memberi dengan tangan kanan, tangan kiri jangan mengetahuinya. Karya amal kasih sangat bermanfaat untuk membangun keadilan dalam hidup bersama. Di samping itu dapat menyadarkan kita untuk membangun rasa solidaritas dan saling berbagi kepemilikan terutama dengan sesama yang berkekurangan, miskin dan tak diperhatikan di dalam masyarakat. Kita boleh melihat hidup kita selama ini. Mungkin banyak kali kita lebih merampas kepemilikan orang lain dengan cara-cara yang bagi kita halal untuk kebaikan diri kita. Janganlah merampas! Bangunlah solidaritas satu sama lain.

Kedua, Doa. Tuhan Yesus hari ini berpesan: “Jikalau engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat yang tersembunyi”. Selama masa prapaskah ini, doa-doa pribadi perlu dan harus ditingkatkan selain doa bersama. Berdoa dengan tekun bisa membantu kita untuk membangun relasi yang lebih mendalam dengan Tuhan yang disapa sebagai Bapa, yang mengampuni dan mengasihi kita. Pesan Yesus: “Berjaga-jagalah dan berdoalah!” Kita boleh melihat dan bertanya dalam hati, sejauh mana perkembangan hidup doa saya? Apakah hidup doa saya bisa membuat saya bersahabat lebih intim dengan Tuhan? Saya aktif dalam kegiatan doa bersama di keluarga, lingkungan dan parokiku?

Ketiga, Berpuasa dan berpantang. Tuhan Yesus berpesan demikian: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu”. Berpuasa dan berpantang berhubungan dengan kenikmatan tubuh kita seperti terhadap makanan dan minuman, rokok dan hiburan-hiburan duniawi. Namun puasa semacam ini hanyalah menyangkut hal lahiria saja. Berpuasa hendaklah menjadi bagian interior kita. Artinya, berpuasa itu menjadi sebuah ritus yang bisa menyelamatkan dan menampakan realitas penebusan. Berpuasa menjadi “sakramen” atau tanda kekudusan kita. 

Ada beberapa hal konkret dalam kaitannya dengan berpuasa selama masa prapaskah ini:

·     Pertama, Menghayati Sabda Tuhan setiap hari. Ingat: Bukanlah sebuah puasa yang benar bagi siapa yang tidak tahu bagaimana mengenyangkan dirinya dengan Sabda Tuhan. Santo Ambrosius, Uskup Milano berdoa begini: “Tuhan, Engkau tidak hanya mengenyangkan kami dengan makanan dan minuman tetapi juga dengan setiap perkataanMu”. Berpuasa membuat kita makin mencintai Sabda Tuhan yakni Yesus sendiri yang mengorbankan nyawaNya bagi keselamatan kita.

·   Kedua, Berpuasa sebagai tanda pertobatan. Santo Yohanes Krisostomus berkata: “Jangan hanya berpuasa untuk bisa merayakan paskah atau berpuasa untuk salib, tetapi berpuasalah untuk dosa-dosamu”.

·      Ketiga, Berpuasa sebagai tanda kita berpantang terhadap dosa atau puasa berbuat dosa. Untuk hal ini santo Agustinus berkata: “Puasa adalah hal yang mengagungkan, yang mengikat semua umat beriman. Kita harus berpantang dan berpuasa dari kesalahan dan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Ini baru namanya puasa yang benar”. Puasa berbuat dosa berarti puasa berjudi, memfitnah, menikmati kepuasan dunia seperti kebiasaan menonton film porno dan menghormati harkat dan martabat manusia terutama kaum lemah!

Semua hal praktis ini kalau dijalankan dengan ketulusan hati dan iman yang kuat maka “Bapamu yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”.

Hari ini kita menerima abu, tanda pertobatan kita. “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1,15). “Ingatlah manusia, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu” (Kej 3,19). Seruan-seruan ini tidak lain merupakan ungkapan kasih Allah kepada manusia karena Ia senantiasa menyiapkan saat-saat yang baik bagi kita untuk bertobat: “Setiap tahun Engkau memberi kami umatMu, masa tobat, yaitu kesempatan untuk menyiapkan diri supaya dapat merayakan paskah dengan hati yang lapang dan murni. Dalam masa tobat ini Engkau mengajak kami untuk meningkatkan ibadat dan amal kasih dan menerima sakramen-sakramen yang menyegarkan dan mempertebal iman” (Prefasi prapaskah I).

Santo Agustinus menjadi tokoh yang hebat karena ia mau bertobat. Ia mengarahkan hatinya kepada Tuhan dengan tulus, berdamai denganNya sebagai Bapa yang baik dan menghayati kebajikan-kebajikan kristiani yang tidak lain adalah praktek kehidupan Kristus sendiri. Marilah kita memulai lembaran hidup yang baru dalam masa prapaskah ini! Ingatlah saudara, “kita ini abu dan akan kembali menjadi abu” (Kej 3,19). Mari kita berbalik kepada Tuhan, Allah kita, saat ini juga. Amen.

PJSDB

Understanding Ash Wednesday


Ash Wednesday
Our Shifting Understanding of Lent

Those who work with liturgy in parishes know that some of the largest crowds in the year will show up to receive ashes on Ash Wednesday. Though this is not a holy day of obligation in our tradition, many people would not think of letting Ash Wednesday go by without a trip to church to be marked with an ashen cross on their foreheads. Even people who seldom come to Church for the rest of the year may make a concerted effort to come for ashes.

How did this practice become such an important part of the lives of so many believers? Who came up with the idea for this rather odd ritual? How do we explain the popularity of smudging our foreheads with ashes and then walking around all day with dirty faces? Those who do not share our customs often make a point of telling us that we have something on our foreheads, assuming we would want to wash it off, but many Catholics wear that smudge faithfully all day.


Ashes in the Bible

The origin of the custom of using ashes in religious ritual is lost in the mists of pre-history, but we find references to the practice in our own religious tradition in the Old Testament. The prophet Jeremiah, for example, calls for repentance this way: "O daughter of my people, gird on sackcloth, roll in the ashes" (Jer 6:26).

The prophet Isaiah, on the other hand, critiques the use of sackcloth and ashes as inadequate to please God, but in the process he indicates that this practice was well-known in Israel: "Is this the manner of fasting I wish, of keeping a day of penance: that a man bow his head like a reed, and lie in sackcloth and ashes? Do you call this a fast, a day acceptable to the Lord?" (Is 58:5).

The prophet Daniel pleaded for God to rescue Israel with sackcloth and ashes as a sign of Israel's repentance: "I turned to the Lord God, pleading in earnest prayer, with fasting, sackcloth and ashes" (Dn 9:3).

Perhaps the best known example of repentance in the Old Testament also involves sackcloth and ashes. When the prophet Jonah finally obeyed God's command and preached in the great city of Nineveh, his preaching was amazingly effective. Word of his message was carried to the king of Nineveh. "When the news reached the king of Nineveh, he rose from his throne, laid aside his robe, covered himself with sackcloth, and sat in the ashes" (Jon 3:6).

In the book of Judith, we find acts of repentance that specify that the ashes were put on people's heads: "And all the Israelite men, women and children who lived in Jerusalem prostrated themselves in front of the temple building, with ashes strewn on their heads, displaying their sackcloth covering before the Lord" (Jdt 4:11; see also 4:15 and 9:1).

Just prior to the New Testament period, the rebels fighting for Jewish independence, the Maccabees, prepared for battle using ashes: "That day they fasted and wore sackcloth; they sprinkled ashes on their heads and tore their clothes" (1 Mc 3:47; see also 4:39).

In the New Testament, Jesus refers to the use of sackcloth and ashes as signs of repentance: "Woe to you, Chorazin! Woe to you, Bethsaida! For if the mighty deeds done in your midst had been done in Tyre and Sidon, they would long ago have repented in sackcloth and ashes" (Mt 11:21, Lk 10:13).

Ashes in the History of the Church

Despite all these references in Scripture, the use of ashes in the Church left only a few records in the first millennium of Church history. Thomas Talley, an expert on the history of the liturgical year, says that the first clearly datable liturgy for Ash Wednesday that provides for sprinkling ashes is in the Romano-Germanic pontifical of 960. Before that time, ashes had been used as a sign of admission to the Order of Penitents. As early as the sixth century, the Spanish Mozarabic rite calls for signing the forehead with ashes when admitting a gravely ill person to the Order of Penitents. At the beginning of the 11th century, Abbot Aelfric notes that it was customary for all the faithful to take part in a ceremony on the Wednesday before Lent that included the imposition of ashes. Near the end of that century, Pope Urban II called for the general use of ashes on that day. Only later did this day come to be called Ash Wednesday.

At first, clerics and men had ashes sprinkled on their heads, while women had the sign of the cross made with ashes on their foreheads. Eventually, of course, the ritual used with women came to be used for men as well.

In the 12th century the rule developed that the ashes were to be created by burning palm branches from the previous Palm Sunday. Many parishes today invite parishioners to bring such palms to church before Lent begins and have a ritual burning of the palms after Mass.

The Order of Penitents

It seems, then, that our use of ashes at the beginning of Lent is an extension of the use of ashes with those entering the Order of Penitents. This discipline was the way the Sacrament of Penance was celebrated through most of the first millennium of Church history. Those who had committed serious sins confessed their sins to the bishop or his representative and were assigned a penance that was to be carried out over a period of time. After completing their penance, they were reconciled by the bishop with a prayer of absolution offered in the midst of the community.

During the time they worked out their penances, the penitents often had special places in church and wore special garments to indicate their status. Like the catechumens who were preparing for Baptism, they were often dismissed from the Sunday assembly after the Liturgy of the Word.

This whole process was modeled on the conversion journey of the catechumens, because the Church saw falling into serious sin after Baptism as an indication that a person had not really been converted. Penance was a second attempt to foster that conversion. Early Church fathers even called Penance a "second Baptism."

Lent developed in the Church as the whole community prayed and fasted for the catechumens who were preparing for Baptism. At the same time, those members of the community who were already baptized prepared to renew their baptismal promises at Easter, thus joining the catechumens in seeking to deepen their own conversion. It was natural, then, that the Order of Penitents also focused on Lent, with reconciliation often being celebrated on Holy Thursday so that the newly reconciled could share in the liturgies of the Triduum. With Lent clearly a season focused on Baptism, Penance found a home there as well.

Shifting Understanding of Lent

With the disappearance of the catechumenate from the Church's life, people's understanding of the season of Lent changed. By the Middle Ages, the emphasis was no longer clearly baptismal. Instead, the main emphasis shifted to the passion and death of Christ. Medieval art reflected this increased focus on the suffering Savior; so did popular piety. Lent came to be seen as a time to acknowledge our guilt for the sins that led to Christ's passion and death. Repentance was then seen as a way to avoid punishment for sin more than as a way to renew our baptismal commitment.

With the gradual disappearance of the Order of Penitents, the use of ashes became detached from its original context. The focus on personal penance and the Sacrament of Penance continued in Lent, but the connection to Baptism was no longer obvious to most people. This is reflected in the formula that came to be associated with the distribution of ashes: "Remember that you are dust and to dust you will return." This text focuses on our mortality, as an incentive to take seriously the call to repentance, but there is little hint here of any baptismal meaning. This emphasis on mortality fit well with the medieval experience of life, when the threat of death was always at hand. Many people died very young, and the societal devastation of the plague made death even more prevalent.

Ash Wednesday After Vatican II

The Second Vatican Council (1962-65) called for the renewal of Lent, recovering its ancient baptismal character. This recovery was significantly advanced by the restoration of the catechumenate mandated by the Rite of Christian Initiation of Adults (1972). As Catholics have increasingly interacted with catechumens in the final stage of their preparation for Baptism, they have begun to understand Lent as a season of baptismal preparation and baptismal renewal.

Since Ash Wednesday marks the beginning of Lent, it naturally is also beginning to recover a baptismal focus. One hint of this is the second formula that is offered for the imposition of ashes: "Turn away from sin and be faithful to the gospel." Though it doesn't explicitly mention Baptism, it recalls our baptismal promises to reject sin and profess our faith. It is a clear call to conversion, to that movement away from sin and toward Christ that we have to embrace over and over again through our lives.

As the beginning of Lent, Ash Wednesday calls us to the conversion journey that marks the season. As the catechumens enter the final stage of their preparation for the Easter sacraments, we are all called to walk with them so that we will be prepared to renew our baptismal promises when Easter arrives.

The Readings for Ash Wednesday

The readings assigned to Ash Wednesday highlight this call to conversion. The first reading from the prophet Joel is a clarion call to return to the Lord "with fasting, and weeping and mourning." Joel reminds us that our God is "gracious and merciful...slow to anger, rich in kindness and relenting in punishment," thus inviting us to trust in God's love as we seek to renew our life with God. It is important to note that Joel does not call only for individual conversion. His appeal is to the whole people, so he commands: "Blow the trumpet in Zion, proclaim a fast, call an assembly; gather the people, notify the congregation; assemble the elders, gather the children and the infants at the breast." As we enter this season of renewal, we are united with all of God's people, for we all share the need for continued conversion and we are called to support one another on the journey. Imitating those who joined the Order of Penitents in ages past, we all become a community of penitents seeking to grow closer to God through repentance and renewal.

With a different tone but no less urgency, St. Paul implores us in the second reading to "be reconciled to God." "Now," he insists, "is a very acceptable time; behold, now is the day of salvation." The time to return to the Lord is now, this holy season, this very day.

The Gospel for Ash Wednesday gives us good advice on how we are to act during Lent. Jesus speaks of the three main disciplines of the season: giving alms, praying and fasting. All of these spiritual activities, Jesus teaches us, are to be done without any desire for recognition by others. The point is not that we should only pray alone and not in community, for example, but that we should not pray in order to be seen as holy. The same is true of fasting and works of charity; they do not need to be hidden but they are to be done out of love of God and neighbor, not in order to be seen by others.

There is a certain irony that we use this Gospel, which tells us to wash our faces so that we do not appear to be doing penance on the day that we go around with "dirt" on our foreheads. This is just another way Jesus is telling us not to perform religious acts for public recognition. We don't wear the ashes to proclaim our holiness but to acknowledge that we are a community of sinners in need of repentance and renewal.

From Ashes to the Font

The call to continuing conversion reflected in these readings is also the message of the ashes. We move through Lent from ashes to the baptismal font. We dirty our faces on Ash Wednesday and are cleansed in the waters of the font. More profoundly, we embrace the need to die to sin and selfishness at the beginning of Lent so that we can come to fuller life in the Risen One at Easter.

When we receive ashes on our foreheads, we remember who we are. We remember that we are creatures of the earth ("Remember that you are dust"). We remember that we are mortal beings ("and to dust you will return"). We remember that we are baptized. We remember that we are people on a journey of conversion ("Turn away from sin and be faithful to the gospel"). We remember that we are members of the body of Christ (and that smudge on our foreheads will proclaim that identity to others, too).

Renewing our sense of who we really are before God is the core of the Lenten experience. It is so easy to forget, and thus we fall into habits of sin, ways of thinking and living that are contrary to God's will. In this we are like the Ninevites in the story of Jonah. It was "their wickedness" that caused God to send Jonah to preach to them. Jonah resisted that mission and found himself in deep water. Rescued by a large fish, Jonah finally did God's bidding and began to preach in Nineveh. His preaching obviously fell on open ears and hearts, for in one day he prompted the conversion of the whole city.

From the very beginning of Lent, God's word calls us to conversion. If we open our ears and hearts to that word, we will be like the Ninevites not only in their sinfulness but also in their conversion to the Lord. That, simply put, is the point of Ash Wednesday!

A Prayer for Ash Wednesday

Blessed are you, O Lord our God, the all-holy one, who gives us life and all things. As we go about our lives, the press of our duties and activities often leads us to forget your presence and your love. We fall into sin and fail to live out the responsibilities that you have entrusted to those who were baptized into your Son.

In this holy season, help us to turn our minds and hearts back to you. Lead us into sincere repentance and renew our lives with your grace. Help us to remember that we are sinners, but even more, help us to remember your loving mercy.

As we live through this Ash Wednesday, may the crosses of ashes that mark our foreheads be a reminder to us and to those we meet that we belong to your Son. May our worship and prayer and penitence this day be sustained throughout these 40 days of Lent. Bring us refreshed and renewed to the celebration of Christ’s resurrection at Easter.

We ask this through your Son, Jesus Christ, who lives and reigns with you and the Holy Spirit for ever and ever. Amen.

Tuesday, February 21, 2012

Renungan 21 Pebruari 2012


Yak 4:1-10; Mzm 55: 7-11a.23; Mrk 9:30-37

Apakah anda mau berubah?

Kebersamaan, keharmonisan, kenyamanan merupakan kata-kata yang turut menghiasi kekhasan hidup bersama di dalam satu komunitas atau keluarga. Saya teringat akan sebuah nyanyian ziarah Daud dalam Mazmur: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Mzm 133:1). Ini adalah kebersamaan ideal yang diharapkan.

Yakobus meneruskan pemikirannya dalam Suratnya tentang nilai-nilai etis yang diperlukan dalam hidup bersama. Yakobus melihat bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dihindari dalam kebersamaan yakni sengketa dan pertengkaran yang berasal dari hawa nafsu di dalam diri setiap pribadi. Orang boleh berdoa tetapi bisa terjadi orang itu salah berdoa karena yang mereka minta kepada Tuhan adalah hal-hal yang akan dipakai untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Orang seperti ini tidak setia kepada Tuhan. Yakobus lalu mengajak setiap orang untuk bermetanoia. Perubahan kiblat hidup yang radikal kepada Tuhan ini ditandai dengan sikap taat kepada Allah, mendekat kepadaNya, menyesali perbuatan-perbuatan salah dan rendah hati.

Perubahan radikal melalui metanoia kristiani ini bukanlah hal yang mudah. Perlu pengurbanan diri yang tidak seperti membalik telapak tangan kita. Untuk membuat manusia bertobat dan percaya kepada Injil sehingga memperoleh keselamatan maka Yesus harus mengurbankan diriNya. Ia harus menderita, sengsara, wafat dan bangkit tiga hari sesudahnya. Untuk mewujudkannya di dalam hidup setiap pribadi maka Tuhan menghendaki sikap saling melayani dan rendah hati seperti seorang anak kecil. Dengan saling melayani dan menerima antar sesama manusia identik dengan menerima Tuhan sendiri.

Indahnya kebersamaan dalam semangat kerendahan hati dan saling melayani. Inilah komunitas atau keluarga yang selalu dicari dan mau dihuni oleh setiap orang karena menjadi model komunitas atau keluarga abadi di Surga. Masalahnya adalah apakah orang mau berubah untuk mewujudkan komunitas atau keluarga yang rendah hati dan saling melayani sehingga semua orang merasa sebagai saudara? Bagaimana dengan anda? Serahkanlah bebanmu kepada Tuhan, Ia akan menopangmu!

PJSDB

Monday, February 20, 2012

Renungan 20 Pebruari 2012


Yak 3:13-18; Mzm 18:8-10.15; Mrk 9:14-29

Jangan cemburu…Jangan egois!

Kemarin saya menulis Food for thought berbunyi: “Never hate people who are jealous of you, but respect their jealousy. They are people who think that you are better than them!”  Food for thought ini ditanggapi oleh banyak orang dengan penuh sukacita. Hal ini menujukkan bahwa rasa cemburu dan iri hati ada dalam hidup manusia. Setiap orang pasti memilikinya.

Yakobus dalam suratnya menegaskan bahwa hikmat yang benar dalam diri seseorang bertumbuh bersama dengan kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan yang baik dengan sesama. Cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. Untuk itu orang perlu menghindari perasaan iri hati dan ingat diri atau egois. Kedua hal ini merupakan sumber kejahatan. Sebaliknya hikmat yang benar adalah hidup dalam Roh. Roh Kudus menganugerahkan kemurnian hidup, damai sejahtera, peramah, penurut, penuh belas kasih, tidak memihak dan tidak munafik. Semuanya ini akan menghasilkan ketentraman hati atau kedamaian.

Kebijaksanaan kristiani memiliki dasar yaitu iman dan kepercayaan pada Tuhan Ungkapannya adalah dalam doa. Ketika para Rasul berhadapan dengan seorang yang kerasukan roh jahat sehingga menjadi bisu dan mengalami epilepsy, mereka diminta untuk menyembuhkannya tetapi ternyata mereka tidak mampu. Hanya Yesus yang mampu menyembuhkan. Mengapa? Karena para rasul masih kurang percaya dan belum tahu berdoa.  Seandainya para murid memiliki iman dan kepercayaan dan mampu berdoa maka mereka dapat melakukan segala sesuatu termasuk mengusir roh jahat.

Hidup kristiani menjadi sempurna kalau setiap peribadi memiliki kepenuhan hidup dalam Roh. Buah-buah Roh dapat dinikmati dan dibagikan kepada sesama. Buah-buah Roh yang dimaksud adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan dan kesetiaan (Gal 5:22).  Buah Roh ini akan menghancurkan rasa cemburu dan egois sehingga yang tertinggal hanya kasih dan damai. Bangunlah imanmu, percayalah dan berdoalah senantiasa! Dia pasti membantumu!

PJSDB