Tuesday, August 21, 2012

Renungan 21 Agustus 2012

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XX
Yeh 28:1-10
Mzm (Ul 32:26-27ab.27cd-28.30.35cd-36ab)
Mat 19:23-30

Apakah Tuhan tidak menyukai orang kaya?

Yesus melanjutkan pengajaranNya tentang urgensi Kerajaan Allah. Melalui contoh orang muda yang kaya (Mat 19: 16-26), Yesus mau menjelaskan tentang sikap lepas bebas yang harus dimiliki setiap murid terhadap semua harta kekayaan yang dimilikinya. Semua harta adalah sarana yang diberikan Tuhan  dan dengan sarana itu nama Tuhan dimuliakan, bukan untuk kesombongan manusia semata. Terkadang orang hanya berpikir, dengan melakukan sepuluh perintah Tuhan dan lima perintah gereja, dengan rajin ke Gereja dan melakukan praktek-praktek kesalehan itu sudah cukup. Ternyata semua ini belum cukup. Sebagai murid Kristus harus berusaha menghadirkan Kerajaan Allah dengan sikap berbagi dengan orang-orang miskin. Sikap berbagi ini juga membantu pribadi tersebut untuk bertumbuh dengan menggantungkan seluruh harapannya kepada Tuhan.

Berangkat dari pengalaman orang muda yang kaya, yang memutuskan untuk mundur dari keinginannya untuk memiliki hidup kekal karena banyak kekayaannya maka Yesus dengan tegas mengingatkan para muridNya, “Sungguh sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum dari pada orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga”. Anak muda yang kaya tidak memiliki sikap lepas bebas. Ketika diminta oleh Yesus untuk menjual segala harta, hasilnya diberikan kepada orang miskin supaya dapat memperoleh harta di surga lau mengikuti Yesus, ternyata ia tidak mau. Ia memiliki banyak harta dan melekat pada semua harta yang ia miliki. Itu sebabnya Yesus berkata, “Sungguh sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk Kerajaan Surga”. Mengapa sukar sekali? Karena “di mana harta berada, tentu hatinya juga berada.” (Mat 6:21)

Ketika orang teralu mendewakan harta maka mereka tidak akan memiliki urgensi Kerajaan Surga. Kekuasaan juga merupakan harta. Yehezkiel dalam bacaan pertama mengisahkan tentang raja yang lalim karena ia berpikir bahwa dialah yang paling hebat. Dia menyamakan diri begitu saja dengan Tuhan. Raja adalah wakil Tuhan namun apabila raja menyamakan dirinya dengan Tuhan maka dia jatuh dalam dosa. Hikmat dan kekayaan adalah anugerah Tuhan dan manusia tidak perlu sombong dengan apa yang dia miliki.

Menjadi pertanyaan kita adalah apakah dengan kata-kata Yesus ini lalu orang kristiani tidak boleh menjadi kaya? Tentu saja Yesus menghendaki pengikutNya juga menjadi kaya. Penginjil Yohanes memberi kesaksian bahwa Yesus bersabda bahwa Ia datang agar kita memiliki hidup  dan memilikinya dalam kelimpahan (Yoh 10:10). Menurut St. Paulus, Yesus adalah Allah yang kaya raya rela menjadi miskin supaya manusia yang miskin dapat menjadi kaya (2Kor 8:9). Nah, ini berarti Tuhan Yesus bukan anti orang kaya, tetapi anti dengan orang yang tidak memiliki sikap lepas bebas karena dari situ mereka melekat pada harta duniawi.

Yesus berkata, “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum”. Apa maksud lubang jarum? Unta dalam bahasa Yunani disebut “kamelos”. Kata ini secara harafiah berarti tali tambang atau diperkirakan bahwa di Yerusalem pernah ada gerbang kecil bernama lubang jarum yang rendah dimana semua unta harus membungkuk ketika melewatinya. Gerbang kecil yang disebut sebagai lubang jarum dikemukakan oleh Lord George Nugent pada tahun 1845. Baginya di Yerusalem pernah ada gerbang yang besar untuk hewan yang memikul beban dan gerbang kedua itu lebih kecil untuk para pejalan kaki. Namun pandangan ini tidak diterima karena tidak adanya bukti yang otentik. Dengan demikian Yesus memang menggunakan gaya bahasa hiperbola untuk mengungkapkan satu hal yang tidak mungkin terjadi. Orang kaya itu pasti mengalami kesulitan untuk masuk surga ketika mereka terlalu terikat kuat dengan harta kekayaannya.

Dampak dari pernyataan Yesus adalah para murid saling bertanya  tentang siapakah yang kiranya dapat diselamatkan? Para murid sudah meninggalkan orang tua dan saudara-saudaranya, juga segala harta yang mereka miliki, lalu apa yang dapat mereka terima? Yesus mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Orang yang meninggalkan segala-galanya demi Kerajaan Surga akan menerima  kembali seratus kali lipat dan hidup kekal. Luar biasa janji Tuhan ini bagi kita yang berani meninggalkan segalanya demi Kerajaan Surga.

Pada akhir pengajaranNya, Yesus berkata, “Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu”. Wejangan ini terbukti dalam sejarah gereja. Tentu pertama-tama yang Yesus maksudkan adalah orang-orang Yahudi yang dianggap umat kesayangan Allah, lalu yang kedua adalah bangsa-bangsa asing. Di dalam Kerajaan Surga ternyata Tuhan tidak membedakannya. Orang-orang asing inilah yang akan mengusai tempat depan sedangkan  orang-orang Yahudi akan menduduki tempat terakhir.

Sabda Tuhan membuka pikiran kita untuk waspada terhadap tanda-tanda zaman. Kita harus menjadi lebih peka terhadap situasi politik dan sosial serta ekonomi yang mau tidak mau akan mempengaruhi kehidupan beriman. Mari kita mengubah cara pandang kita terhadap harta kekayaan sehingga orientasi kita berubah kiblat hanya kepada Tuhan. Dia adalah pencipta kita dan hanya kepadaNya sembah dan bakti kita.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk terbuka pada rencana keselamatanMu bagi kami. Amen

PJSDB

Monday, August 20, 2012

Renungan 20 Agustus 2012

St.Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja
Hari Senin, Pekan Biasa XX
Yeh 24:15-24
Mzm (Ul 32:18-21)
Mat 19:16-22

Milikilah Sikap Lepas Bebas!

Siapakah St. Bernardus? Santo Bernardus dilahirkan pada tahun 1090. Empat tahun sesudah ibundanya meninggal dunia (1112) bersama 30 orang teman mereka masuk biara Citeaux. Tiga tahun kemudian bersama dua belas rahib mereka memulai biara Clairvaus. Ia mewujudkan hidup dalam semangat kontemplasi dan doa. Ia menjadi penasihat raja dan paus. Semangat hidup membiara berkembang dengan pesat. Bernardus telah berhasil melepaskan diri dari harta dunia dan mempersembahkan dirinya hanya untuk Tuhan. Ia meninggal dunia pada tahun 1153.

Ada sebuah keluarga sederhana. Wajah pasutri itu selalu ceriah. Mereka suka berbagi dengan sesama di sekitar rumah. Pada suatu kesempatan mereka ditanya alasan mengapa mereka suka berbagi dengan sesama padahal mereka juga seharusnya membutuhkan bantuan sesama. Pasutri itu menjawab, “Ya, kami tidak punya apa-apa, sedikit yang ada pada kami, kami bagikan kepada sesama karena ketika kami mati, kami tidak akan membawanya ke liang kubur”. Sharing yang sederhana tetapi menunjukkan betapa keluarga ini layak di hadapan Tuhan. Mereka tidak melekat pada segala sesuatu yang mereka miliki tetapi mempercayakan segalanya kepada Tuhan dan membaginya kepada sesama.

Yesus meneruskan pengajarannya tentang urgensi Kerajaan Allah. Sebelumnya Ia mengundang kita untuk mengambil spirit anak kecil yang polos dan tulus di hadirat Tuhan. Hari ini datanglah seorang muda kepada Yesus dan bertanya, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal?” Yesus coba mengarahkan anak muda itu untuk memahami apa dan siapakah kebaikan itu. Bagi Yesus, yang baik hanya ada Satu, tentu Tuhan Bapa yang mahabaik. Kemudian Yesus mengingatkannya tentang sepuluh perintah Allah, mulai dari menghargai hidup sesama dan kepemilikannya, menghormati orang tua dan mengasihi sesama. Orang muda itu mangakui bahwa perintah-perintah itu sudah ia lakukan dan bertanya lagi kepada Yesus apakah masih ada yang kurang. Yesus tahu satu titik kelemahan orang muda itu yaitu kelekatannya pada harta yang ia miliki. Oleh karena itu Yesus berkata, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutilah Aku”. Orang itu mundur karena hartanya banyak dan ia tidak mau melepaskan dirinya dari harta itu. 

Mengikuti Yesus dengan radikal dan keinginan untuk memperoleh hidup kekal tidak hanya sebatas mengikuti sepuluh perintah Allah. Perintah-perintah gereja dan kebiasaan-kebiasaan yang baik, praktek-praktek kesalehan juga sangat penting untuk mendekatkan kita dengan Tuhan. Hal yang dituntut Tuhan adalah sikap lepas bebas. Kalau mau masuk surga ada syaratnya: Juallah segala milikmu. Hasil penjualan itu berikan pada orang miskin bukan untuk ditabung bagi dirimu. Dengan demikian kita tidak punya apa-apa maka harapan kita hanya pada Tuhan (harta di surga). Setelah kita merasa tak punya apa-apa maka kita dapat mempersembahkan diri secara utuh dengan mengikuti Yesus. Luar biasa cara Yesus mengajar dan mengajak kita untuk mengikutinya.

Mengapa Yesus menyuruh orang muda itu untuk memiliki sikap lepas bebas? Yesus tahu bahwa harta kekayaan dapat menjadi hambatan untuk bersatu dengan Tuhan. Orang perlu memiliki kerelaan untuk menghindari harta kekayaan supaya lebih berfokus dalam melayani Yesus. Apakah dengan demikian Yesus membenci harta kekayaan? Tidak! Yesus tidak membencinya tetapi Yesus menghendaki agar setiap pribadi jangan mendewakan harta kekayaan yang fana itu karena di mana ada harta, di sana hati manusia juga berada. Sikap ini yang ditantang Yesus karena orang dapat melupakan Tuhan sebagai penciptanya. Jadi “Kalau mau menjadi sempurna” orang harus menunjukkan sikap lepas bebas dan menaruh seluruh harapannya pada Tuhan.

Banyak kali orang mudah terlena dalam dosa. Yehezkiel dalam bacaan pertama mengajak kita untuk membangun sikap tobat. Kematian isterinya merupakan lukisan kehancuran Yerusalem. Umat kesayangannya telah menodai bait suci, anak-anak tidak berdosa juga dilecehkan dan dibunuh. Oleh karena itu Yehezkiel mengajak Yerusalem untuk bertobat. Yehezkiel sendiri tidak meratapi kematian isterinya sebagai tanda bagi umat kesayanganNya. Tanda yang dimaksud adalah apabila mereka tidak bertobat, mereka akan mati.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena Ia senantiasa mengingatkan kita untuk membangun sikap tobat dengan tidak melekat pada segala sesuatu yang kita miliki. Kadang-kadang orang mengalami krisis iman karena harta yang mereka miliki padahal semua haruslah menjadi sarana untuk berelasi dengan Tuhan sang pencipta. Krisis iman dalam arti melupakan Tuhan dan mendewakan harta kekayaan. Kadang-kadang orang mengorbankan sesamanya dengan cara-cara yang tidak wajar untuk mendapatkan harta kekayaan berupa barang dan uang. Korupsi merajalela dan orang sepertinya sudah tidak memiliki hati nurani lagi. Kiranya Sabda Tuhan hari ini menguatkan perjalanan kita kepada Bapa: “Jikalau engkau mau menjadi sempurna, juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang miskin, beroleh harta di surga, datanglah dan ikutlah Aku”.

Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk memiliki pertobatan bathin, amen.

PJSDB

Sunday, August 19, 2012

Homili Hari Minggu Biasa XX

Hari Minggu Biasa XX
Am 9:1-6
Mzm 34:2-3.10-11.12-13,14-15
Ef 5:15-20
Yoh 6:51-58

"Menyantap Roti Kehidupan"

Pada suatu hari seorang romo dan saya melakukan kunjungan ke sebuah stasi untuk mendengar pengakuan dosa. Perjalanan memakan banyak waktu karena jalannya penuh dengan batu-batu besar. Ratusan umat menunggu dengan setia kehadiran dan pelayanan kami berdua. Ibadat tobat dan pelayanan sakramen tobat berjalan dengan baik. Setelah semua tuntas, kami bersiap-siap untuk langsung kembali ke pastoran tetapi salah seorang tokoh umat mengajak kami ke rumahnya di pinggir gereja. Saya berpikir akan mendapat hidangan yang lezat tetapi setelah setengah jam keluarlah ibu rumah itu membawa dua butir telur ayam. Satu telur ayam kampung dan satu telur ayam ras. Dia berkata, “Pater berdua, di pastoran kalian punya roti dan ikan yang enak, di sini kami hanya punya dua telur ayam kampung dan ayam ras. Selebihnya tidak ada lagi. Semoga kedua telur ini mengganjal perut kalian sampai tiba di pastoran dan kalian boleh menyantap di sana.” Kami pun menerima kedua telur ayam dan melakukan perjalanan kembali ke pastoran yang berjarak sekitar 30km. 

Ini adalah sebuah kisah sederhana yang tetap saya ingat dalam hidup saya. Umat sederhana meskipun tidak memiliki makanan yang dinilai “berharga” namun dengan murah hati mau memberi segala yang mereka miliki untuk pastornya. Saya sangat bangga dengan kesederhanaan dan kepolosan hati mereka. Sekecil apapun yang mereka miliki ketika mereka membaginya dengan orang lain, mereka merasa telah memberi yang terbaik, memberi seluruhnya kepada sesama. Ini yang sempat terlihat dari wajah dan ungkapan mereka di kampung itu.

Bacaan-bacaan liturgi pada hari Minggu Biasa pekan XX/B ini mengantar kita untuk mengenal dan memahami serta mengimani Tuhan Yesus sebagai Roti Hidup. Apakah Roti Hidup itu?

Dalam bacaan pertama penulis Kitab Amsal menulis bahwa sang Hikmat telah mendirikan rumah dan sebagai tanda syukur atas rumah itu maka diadakan sebuah perjamuan. Ternak peliharaan dipotong dan darahnya dicampur dengan anggur untuk disantap. Para pelayan perempuan berseru kepada orang yang belum memiliki kebijaksanaan untuk singgah di rumah kebijaksanaan. Kepada orang yang tidak bijaksana para pelayan berkata, “Marilah makan rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur! Buanglah kebodohan maka kamu akan hidup dan ikutilah jalan pengertian”. 

Seruan Amsal ini kiranya tepat bagi seluruh jemaat yang percaya kepada Tuhan. Setiap pribadi diajak untuk membaharui diri dan komitmennya terus menerus supaya layak menjadi orang yang bijaksana. Kalau orang tetap tinggal diam, ia dapat menjadi orang bodoh yang tidak memiliki arah hidup yang jelas. Hendaklah orang menyadari dan mencari Tuhan dalam hidupnya dengan melepaskan seluruh daya kebodohan. Tuhan menganugerahkan hikmat bukan kebodohan kepada manusia. Orang yang berhikmat akan mengenal Allah secara mendalam, mengimani dan mencintai dengan tulus. Hal yang menarik perhatian kita adalah darah hewan dicampur dengan anggur lalu diminum, roti disantap. Dalam terang Perjanjian Baru, orang yang bijaksana menerima anggur dan roti sebagai tubuh dan darah Kristus.

Senada dengan Amsal, Paulus dalam bacaan kedua juga menasihati umat di Efesus: “Saudara-saudara, perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup: janganlah seperti orang bebal tetapi seperti orang arif. Jangan kamu bodoh tetapi berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan.” Mengapa Paulus menasihati orang-orang Efesus untuk menjadi orang arif dan bukan orang bodoh? Paulus menginginkan agar jemaat Efesus benar-benar mengimani Yesus sang kebenaran sejati. Orang-orang yang bodoh tentu akan menolak Tuhan sedangkan orang arif akan menerima Tuhan di dalam hidupnya. Orang-orang bodoh adalah simbol orang-orang yang masih hidup dalam dosa dengan gaya hidup berfoya-foya dan melupakan kehendak Tuhan di dalam hidup mereka. Tentang hal ini Paulus menulis, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur karena anggur dapat menimbulkan hawa nafsu.” Apa yang harus dilakukan oleh jemaat Efesus? Mereka harus bertobat. Tanda pertobatan yang harus mereka lakukan adalah hidup dalam Roh dengan mengucap syukur dalam mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani. Semua syukur hanya kepada Bapa di Surga dalam Yesus Kristus. Secara singkat, boleh dikatakan Paulus memahami hidup sebagai orang bijaksana adalah hidup di dalam Roh Tuhan.

Kebijaksanaan bagi orang-orang percaya adalah menerima Yesus seutuhnya. Dialah Tuhan yang memberi diriNya sampai tuntas untuk keselamatan kita. Penginjil Yohanes meneruskan kesaksiannya atas permenungan Yesus tentang Roti Hidup. Kali ini Yesus dengan terang-terangan berbicara di dalam rumah ibadat di Kapernaum, “Akulah Roti Hidup yang telah turun dari Surga. Roti yang akan Kuberikan adalah dagingKu”. Yesus mau mengoreksi pemikiran mereka bahwa roti yang dimakan nenek moyang mereka di Padang gurun itu diberikan Bapa tetapi nenek moyang mereka telah makan dan mereka juga telah mati. bagi Yesus, Roti adalah daging TubuhNya dan anggur adalah darahNya diberikan untuk hidup kekal manusia dan hidup dunia. Yesus juga mengatakan bahwa siapa yang makan TubuhNya dan minum darahNya akan tinggal di dalamNya dan Dia di dalam pribadi tersebut. 

Kata-kata Yesus ini menimbulkan krisis Galilea. Banyak orang akan mundur karena mendengar kata-kata Yesus yang dinilai keras: “Makan tubuhNya dan minum darahNya sebagai santapan hidup kekal”. Bagi kita para pengikutNya, kata-kata Yesus ini tetap dikenang di dalam perayaan Ekaristi. Dengan menyantap Tubuh dan DarahNya, kita juga memperoleh kehidupan kekal. Ekaristi yang membuat kita mengenang Yesus membagi diriNya: diangkat, dipecah-pecah, dibagi-bagi, disantap dan diutus sebagai pribadi ekaristis. Di dalam Ekaristi Kristus hadir secara nyata: bisa disentuh, diraba, disantap dan menyatu dengan hidup kita.

Kita bersyukur kepada Tuhan atas kebijaksanaan yang membuat kita sadar dan mengimaniNya sebagai Tuhan dan Allah Bapa kita di dalam Yesus PuteraNya dan Roh KudusNya. Kita dipanggil untuk bersatu denganNya dalam kehidupan kekal. Ekaristi menjadi bekal perjalanan untuk berjumpa dengan Tuhan sendir. 

Saya akhiri homili ini dengan mengingatkan kita semua akan sebuah Himne Ekaristi terkenal dari St. Thomas Aquinas: 


O Salutaris Hostia 
Quae caeli pandis ostium: 
Bella premunt hostilia, 
Da robur, fer auxilium. 

Uni trinoque Domino 
Sit sempiterna gloria, 
Qui vitam sine termino 
Nobis donet in patria. 
Amen. 

Doa: Tuhan, terima kasih atas Ekaristi yang menghidupkan kami selama-lamanya. Amen

PJSDB

Saturday, August 18, 2012

Renungan 18 Agustus 2012


Hari Sabtu, Minggu Biasa ke XIX
Yeh 18:1-10.13b.30-32
Mzm 51: 12-13.14-15.18-19
Mat 19:13-15

Biarkanlah anak-anak datang padaKu!

Ada sebuah pengalamanku yang menunjukkan bagaimana anak-anak sadar atau tidak sadar merindukan berkat Tuhan. Dalam suatu perayaan ekaristi bersama seorang romo di Pulau Sumba, ia mengingatkan saya sebelum misa bahwa setelah komuni kudus akan ada pemberkatan anak-anak khususnya mereka yang belum menerima komuni pertama. Maka terjadilah demikian, sang katekis menyanyikan lagu dari Mazmur 150 yang dipopulerkan dalam Kidung Jemaat dan Madah Bakti:

“Biar kanak-kanak datang kepadaKu” 
Itu sabda Yesus; Dia memanggilku. 
Kini aku datang siap menghadapNya, 
Kini aku datang; Yesus memanggilku. 

“Biar kanak-kanak datang kepadaKu” 
Itu sabda Yesus, Dia memanggilKu. 
Dalam kesukaran susah tak terhibur, 
padaNya ‘ku datang; Yesus memanggilku.

Begitu lagu ini dinyanyikan anak-anak yang belum komuni pertama menyerbu Romo dan memohon berkat. Romo itu berdiri di depan altar mendoakan semua anak dengan melatakkan tangannya kemudian membuat tanda salib di dahi  setiap anak. Hal yang menarik lagi adalah orang tua dan orang dewasa lainnya mengantar anak-anak untuk diberkati. Sungguh sebuah pengalaman yang menakjubkan dan bertumbuh menjadi kebiasaan baik bagiku untuk memberkati anak-anak setiap kali merayakan ekaristi.

Penginjil Matius melanjutkan kesaksiannya tentang kerasulan Yesus. Hari ini fokus penagajaran Yesus adalah tentang mendesaknya Kerajaan Allah bagi setiap pribadi. Setelah Ia mengecam orang-orang yang menghendaki perceraian, kepadaNya dihadapkan anak-anak yang mau datang untuk bertemu denganNya tetapi para muridNya menghalangi mereka. Para murid tentu memiliki alasan tertentu. Mungkin sang Guru sudah kelelahan dalam kerasulan atau mereka mau membiarkan Dia beristirahat sejenak. Namun Yesus justru berkata kepada para muridNya, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan surga.” (Mat 19:14). Anak-anak yang sebelumnya dihalangi oleh Yesus, datang kepadaNya dan Dia meletakkan tanganNya atas mereka.

Sebuah pertanyaan yang tentunya muncul adalah mengapa Yesus memprioritaskan anak-anak bukan orang-orang yang perkasa? Kalau dihubungkan dengan argumen sebelumnya tentang perceraian, anak-anak jelas-jelas menjadi korban dari orang-orang dewasa yakni orang tuanya. Mereka hidup dalam kebingungan akan figur orang tua yang tepat. Suami isteri boleh bahagia karena mendapat pasangan baru tetapi anak-anak memiliki derita yang tersembunyi. Anak-anak juga menjadi simbol orang yang lemah, kurang diperhatikan, sering mengalami ketidakadilan sosial dalam masyarakat, sering dieksploitasi dan dilecehkan. Padahal bagi Yesus, anak-anak ini memiliki malaikat di surga (Mat 18:10). Anak-anak juga menjadi simbol orang-orang yang polos dan rendah hati sehingga bagi merekalah Kerajaan Surga. Orang yang rendah hati akan terbuka pada semua pengajaran Yesus.

Dalam hidup setiap hari terkadang kita berlaku seperti para murid yang menghalangi anak-anak untuk datang kepada Yesus. Sikap yang sering tanpa sadar dilakukan adalah membawa banyak orang kepada diri sendiri dan bukan membawa mereka kepada Yesus. Di dalam karya pewartaan, pelayanan kasih terkadang orang membanggakan diri dan lupa bahwa semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Kita hendaknya bertobat dan menjadi seperti Yesus yang mencintai anak-anak, memberkati mereka dan menganugerahkan sukacita kepada mereka. Opsi kita adalah orang-orang kecil, lemah, yang sering dilecehkan dan membuat mereka menyadari bahwa mereka memiliki martabat sebagai anak-anak Allah. Janganlah anda menjadi batu sandungan bagi sesama untuk berjumpa dengan Yesus!

Sikap para murid ini juga banyak diikuti oleh orang tua tertentu yang tidak mengijinkan anaknya untuk dibaptis. Alasannya adalah memberi kebebasan kepada anak untuk menentukan pilihannya sendiri dalam hal beragama dan beriman. Ini sebuah kekeliruan yang fatal. Orang tua memiliki tugas istimewa yaitu mendidik anak-anak untuk bertumbuh dalam iman bukan menghalangi mereka untuk bertumbuh dalam iman. 

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus kita lakukan? 

Yehezkiel dalam bacaan pertama memberi beberapa rumusan bagaimana kita tidak menjadi sandungan bagi orang lain terutama mereka yang lemah. Orang harus membangun dalam dirinya sikap sebagai orang benar dan melakukan keadilan dan kebenaran di dalam hidupnya. Ia tidak berbuat dosa tertentu seperti menyembah berhala atau berzina. Ia tidak menindas dan merampas. Ia seharusnya memberi makan kepada orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang. Singkatnya, orang benar adalah orang yang hidup menurut hukum-hukum Tuhan. Andaikan orang dapat menyadari hidupnya di hadirat Tuhan maka dunia kita ini akan memiliki warna yang baru. Semua orang akan berjalan dalam jalan Tuhan dengan menyadari panggilan masing-masing untuk mengabdiNya.

Doa: Tuhan sadarkanlah kami untuk membawa banyak orang kepadaMu bukan kepada diri kami sendiri. Amen

PJSDB

Friday, August 17, 2012

Homili HUT Kemerdekaan Indonesia

HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Sir 10:1-8
Mzm 101:1a.2ac-3a.6-7
1Ptr 2:13-17
Mat 22:15-21

Gambar dan tulisan siapakah anda?

Merdeka ataoe mati! Sekali merdeka tetap merdeka! 

Setiap tahun kita merayakan Hari Ulang Tahun kemerdekaan Indonesia. Pada zaman dahulu refleksi setiap tanggal 17 Agustus adalah seputar perjuangan para pahlawan untuk memerdekakan bangsa dan tanah air kita Indonesia. Hal yang ditanam dalam benak setiap kita adalah semangat perjuangan untuk merdeka sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Semangat nasionalisme berkobar-kobar. Namun demikian rasa benci terhadap penjajah juga sadar atau tidak sadar ditanam di dalam hati anak bangsa ini. Menyebut nama negeri Belanda, orang langsung berpikir tentang 350 tahun negara kita dijajah. Menyebut Jepang, orang berpikir tentag negara yang kejam di bandingkan dengan Belanda. Semakin terus menerus merayakan HUT kemerdekaan, pemikiran kita mulai berkembang bukan soal heroisme para pahlawan atau kejam tidaknya penjajah tetapi bagaimana mengisi kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia. Bagaimana menata negara yang tadinya hancur karena penjajah menjadi satu negara yang berdaulat dalam pemerintahan dan sejahtera seluruh masyarakatnya.

Kitab Putra Sirak dalam bacaan pertama menghimbau para pemerintah untuk memerintah dengan bijaksana: “Seorang penguasa yang bijaksana menjamin ketertiban dalam masyarakat dan raja yang budiman memerintah dengan aman sentosa. Jangan membenci sesama, jangan terpengaruh oleh nafsu kuasa.” Penulis Putra Sirak melihat sebab kehancuran suatu negara adalah pada ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan nafsu uang. Kepada seluruh masyarakat dihimbau untuk menyerupai pemerintahnya yang bijaksana. Kiranya Putra Sirak memiliki visi yang begitu jauh dan hingga saat ini masih aktual.  Hal yang diharapkan adalah kesejahteraan atau kebahagiaan warga. Ternyata pemerintah yang diharapkan untuk memerintah dengan bijaksana tidak berhasil. Hal yang sedang dialami bangsa kita adalah cocok dengan nubuat di atas: "ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan nafsu uang".

Harapan penulis Kitab Putra Sirak dilengkapi oleh St. Petrus dalam Bacaan Kedua. Demi Yesus, Anak Allah yang menjadi manusia, Petrus mengharapkan agar semua orang percaya hendaknya taat kepada semua yang memegang kekuasaan. Petrus juga meminta supaya setiap orang menyadari dirinya sebagai orang merdeka, “Berlakulah sebagai orang yang merdeka. Jangan menggunakan kemerdekaan sebagai kedok kejahatan tetapi berlakulah sebagai abdi Allah. Hormatilah semua orang dan kasihilah saudara-saudaramu.” Secara singkat bolehlah dikatakan bahwa para pengikut Kristus diharapkan taqwa kepada Allah dan taat kepada atasan. Senada dengan Petrus, Paulus juga menegaskan, “Saudara-saudara memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa melainkan layanilah seorang akan yang lain” (Gal 5:13). Kristus adalah “Kebenaran yang memerdekakan kita” (Yoh 8:32; Gal 5:1).

Perkataan Petrus bahwa setiap warga hendaknya taqwa kepada Allah dan taat kepada atasan dipahami Matius sebagai usaha setiap pribadi untuk menjadi warga negara yang baik dan manusia yang diciptakan segambar dengan Allah. Matius mengisahkan perjumpaan antara kaum Farisi dan Herodian yang datang untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang membayar pajak kepada kaisar atau tidak.

Kaum Farisi dan Herodian! Farisi dari kata Ibrani “Perusyim” artinya “yang terasing”. Mereka adalah penganut murni agama Yahudi. Asal muasal mereka adalah kaum Hasidim (umat Allah yang setia) sejak abad 2 sM tepatnya pada masa pemerintahan Yohanes Hyrkanus. Golongan Farisi memusatkan perhatian mereka pada masalah-masalah agama dengan menjalankan secara murni hukum Taurat. Mereka menjadi gambaran yang khas orang-orang Yahudi (Flp 3:5-6). Kaum Herodian adalah suatu golongan bangsa Yahudi pada zaman Yesus yang menjadi Pengikut Herodes dalam urusan politik dan agama.

Kedua kelompok ini sebetulnya bertolak belakang. Kaum Farisi dengan usaha untuk setia sebagai orang Yahudi, kaum Herodian sebagai pengikut Herodes, pro penjajah Romawi. Tetapi demi menjebak Yesus mereka seolah-olah bersatu untuk bertanya kepada Yesus: “Bolekah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka. Dia justru mengetahui kejahatan hati mereka sehingga meminta mereka untuk menunjukkan coin dinar  dimana ada gambar dan tulisan kaisar. Yesus berkata kepada mereka. “Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah.”

Apa makna yang terkandung dalam pernyataan Yesus ini?

Pertama, “Berilah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar”. Bagi kaum Farisi dan Herodian adalah masyarakat yang dipimpin oleh pemerintahan dunia.Maka meskipun orang Farisi memperjuangkan kemurnian ajaran agama Yahudi dan Herodian mengikuti Herodes tetapi sama-sama sebagai warga, mereka patut untuk taat dan setia kepada pemerintah dunia. Maka relasi sebagai warga masyarakat dengan pemerintah harus harmonis. Pemerintah tidak mampu mengurus dirinya sendiri, rakyatlah yang harus mendukung mereka.

Kedua, “Berilah kepada Allah yang menjadi hak Allah”. Di dalam Kitab kejadian kita membaca, “Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah” (Kej 1:27). Ini berarti Yesus menuntut mereka untuk memberi diri secara total kepada Allah karena mereka adalah citra Allah sendiri, bukan citra Kaisar. Memberi diri secara total berarti patuh dan tunduk pada kehendak Allah dan menjadi kudus menyerupai Allah. Sebagai pengikuti Kristus, kita saat ini segambar dengan Kristus (kristiani) karena sakramen pembaptisan. Memberi diri secara total kepada Kristus berarti menjadi serupa dengan Kristus. Ini adalah nilai yang tertinggi.

Sabda Tuhan hari ini membuat kita banyak merenung. Banyak tuntutan yang kita kehendaki supaya pemerintah menjadi lebih bersih, dan bijaksana tetapi “masih dalam taraf perjuangan”. Namun kita tidak boleh menutup mata dengan kasus-kasus besar dan kecil di negara ini menunjukkan betapa sabda Tuhan ini masih jauh dari penghayatannya secara benar. Para koruptor masih diberi pengampunan, pemerintah sering mengalihkan situasi supaya masalah yang besar bisa dilupakan. Partai-partai politik mendukung calon-calon  pemerintah dengan catatan akan ada prinsip jual beli kekuasaan, kebohongan publik yang merajalela. Ya, hanya Tuhan yang punya kuasa untuk mengubah kehidupan manusia, bangsa dan negara di dunia ini. Bagi anda dan saya: Kita diciptakan segambar dengan Allah maka cinta kasih, keadilan, kesejahteraan adalah cita-cita kita dan harus dicapai dengan cara kita masing-masing.

Doa: Tuhan, terima kasih atas bangsa dan negara Indonesia ini. Amen

PJSDB

Thursday, August 16, 2012

Meditasi

Meditasi Mat 18:21-19:1

Sabarlah dahulu...

Seorang anak menangis histeris di ruang makan karena ibunya lambat menyiapkan bubur kesayangannya. Buntutnya adalah selesai bubur disiapkan dan mau disuap, anaknya tidak mau makan. Ibunya berusaha mengontrol rasa marahnya. Dia meletakkan kembali bubur ke dalam tempat masaknya. Dua tokoh dengan sifat yang berbeda. Anak ini tidak sabar, bermental instan. Ketika menginginkan bubur maunya “bersabda maka jadilah” kalau tidak dia akan menolak untuk makan bubur. Jadi ujung dari tidak sabar adalah menolak. Ibu itu berusaha untuk menjadi orang yang sabar. Ia memilih diam, tenang menyiapkan bubur, menawarkan bubur lalu menyimpan kembali. Kesabaran itu selalu berjalan bersama dengan kontrol diri dan ketenangan bathin.

Sekarang perhatikan kisah Injil ini. Setelah Yesus mengajar Petrus untuk mengampuni tanpa batas, Ia merasa masih kurang jelas sehingga perlu menjelaskannya dengan perumpamaan. Ada dua orang hamba yang sama-sama memiliki hutang. Hamba pertama memiliki utang 10.000 talenta (10.000 talenta sebanding dengan Rp. 750 Miliar). Ketika Raja menagih hutangnya,  hamba ini berlutut sambil berkata, “Sabarlah dahulu, hutang akan kubayar.” Raja menunjukkan kesabarannya. Hamba pertama bertemu hamba kedua yang berhutang 100 dinar (upah sehari kerja sekitar Rp.75.000) kepadanya. Hamba kedua meminta, “Sabarlah dahulu, aku akan membayarnya”. Hamba pertama tidak sabar, malah menganiaya hamba kedua. Akibatnya Raja hilang kesabaran dan menghukum hamba pertama yang utangnya lebih besar.

Perhatikanlah betapa raja yang tidak lain adalah Allah Bapa sendiri begitu sabar dengan manusia. Ketika hamba yang utangnya (sama dengan dosa) banyak meminta belaskasih dan pengampunan maka Allah mengampuninya. Tetapi ketika hamba itu berhadapan dengan sesamanya, dia tidak sabar, tidak berbelaskasih dan tidak mampu mengampuni. Hamba pertama adalah cerminan anda dan saya yang tidak sabar. Suka meminta belaskasih dan pengampunan tetapi tidak mampu berbelaskasih dan mengampuni sesama. St. Paulus menasihati kita untuk sabar dengan sesama (Kol 3:12-13). St. Petrus mengingatkan kita bahwa kesabaran Tuhan itu adalah saat keselamatan bagi kita (2Ptr 3:15). 

Apa untungnya anda menjadi orang yang tidak sabar?

PJSDB

Renungan 16 Agustus 2012

Hari Kamis, Minggu Biasa XIX
Yeh 12: 1-2
Mzm 78: 56-57.58-59.61-62
Mat 18:21-19:1

Betapa mahalnya harga sebuah pengampunan!

Setiap orang pasti merasakan kesulitan untuk mengampuni. Ketika seseorang disakiti, dilecehkan secara fisik atau verbal, tidak diterima dengan baik di dalam keluarga atau di tempat kerja biasanya orang menjadi marah, kecewa dan dendam. Perasaan-perasaan ini nantinya menjadi pengalaman pahit dan lahirlah kebenciaan yang mengakibatkan keinginan untuk mengampuni menjadi sulit. Seorang istri merasa sulit untuk mengampuni suami yang tidak setia di dalam perkawinan mereka. Seorang anak sulit untuk mengampuni orang tuanya yang memperlakukannya tidak adil. Seorang muda tidak dapat mengampuni pacarnya yang mengingkari janjinya. Setiap orang menghendaki sesuatu yang ideal dalam membangun relasi antar pribadi tetapi selalu terhalang pada kemampuan untuk mewujudkan cinta kasih yang benar sesuai kehendak Tuhan. Orang tidak sabar dalam menerima dirinya di hadapan Tuhan dan sesama.

Penginjil Matius mengisahkan bahwa pada suatu kesempatan Petrus datang kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kalikah?” Dalam pengalaman praktis, seorang Yahudi boleh mengampuni tiga kali untuk sebuah dosa yang sama. Petrus menanyakan kepada Yesus apakah cukup kalau mengampuni tujuh kali. Barangkali ia beranggapan bahwa angka tujuh itu angka sempurna. Dari sikapnya, ia juga menunjukkan sikap murah hati dalam mengampuni supaya sesuai dengann ajaran Yesus tentang rekonsiliasi (Mat 5:23-25; 6:12.14-15). 

Yesus tidak menjawab ya atau tidak atas perkataan Petrus. Ia menjawab, “Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Ekspresi Yesus ini untuk menujukkan jumlah angka yang tidak terbatas bukan angka secara matematis. Artinya, pengampunan kepada saudara-saudara yang berdosa kepada kita itu tanpa batas seperti yang Tuhan berikan kepada kita. Angka-angka dari jawaban Yesus ini kiranya mirip dengan ungkapan jahat Lamekh yang memprediksi hukuman atas kejahatannya dan kejahatan Kain. Dalam Kitab Kejadian kita membaca,”Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: ‘Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia telah melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat” (Kej 4:23-24). 

Untuk memperjelas perkataanNya, Yesus memberi sebuah perumpamaan tentang belas kasih yang dterima dari Tuhan dan diteruskan kepada semua orang. Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Ada seorang hamba, katakanlah hamba pertama memiliki hutang 10.000 talenta. Karena ia tidak mampu melunasinya maka raja menyuruh untuk menjual ia beserta anak dan isterinya untuk membayar utang. Ia bersujud dan memohon kesabaran raja maka raja pun berbelaskasih dan membebaskannya. Namun ketika ia berjumpa dengan seorang lain yang berhutang 100 dinar kepadanya, ia mencekik dan menuntut agar orang tersebut segera membayar utangnya. Hamba pertama diminta untuk bersabar oleh hamba kedua tetapi hamba pertama ini hanya punya satu kata “segera bayar utangmu seratus dinar”. Akibatnya adalah ia yang tadinya sudah mendapat belaskasih sang raja, harus kembali mendapat hukuman sampai ia membayar hutangnya.

Kisah Injil ini membicarakan kehidupan kita setiap hari. Pengalaman menunjukkan bahwa kita selalu mengalami kesulitan dalam membangun relasi dengan sesama. Terkadang kesabaran pribadi itu sungguh-sungguh diuji dan ternyata kita gagal karena tidak sabar dengan diri sendiri apalagi berhadapan dengan musuh atau orang yang menyakiti kita. Yesus memang menunjukkan contoh yang tepat dalam perumpamaan tetapi orang-orang tidak menangkap maksud perumpamaan tersebut.

Ketika seorang yang berdosa, dosanya berat sekali sebanding dengan 10.000 talenta, dan dia memohon kesabaran dan keringanan dari sang raja yang tidak lain adalah Bapa Surgawi sendiri dan ia memperoleh keringanan maka sikap Bapa Surgawi ini haruslah dimiliki oleh setiap pribadi dan diterapkan kepada pribadi yang lain. Artinya hendaklah belas kasih dan pengampunan yang diterima dari Tuhan, bobot belas kasih dan pengampunan yang sama juga diberikan kepada sesama. Tuhan mengampuni tanpa batas maka kita pun hendaknya memiliki sikap bathin yang sama yakni mengampuni tanpa batas. 

Umat Israel adalah contoh konkret orang-orang yang mengalami belaskasih Tuhan dalam perjalanan panjang di padang gurun. Berkali-kali mereka jatuh dalam dosa tetapi Tuhan tetap menunjukkan kesetiaanNya kepada mereka. Ketika mereka jatuh lagi dalam dosa dan dideportasi ke Babel, Tuhan menunjukkan belas kasihNya melalui para nabi. Di antara mereka adalah Yehezkiel yang hari ini melukiskan tentang kesetiaan Tuhan. Umat Israel mengalami penderitaan di Babel karena mereka tidak setia, Tuhan tetap setia dan mau melepaskan mereka dari perbudakan.

Sabda Tuhan hari ini mengundang kita semua untuk memiliki kemampuan mengampuni sesama yang berdosa kepada kita tanpa batas. Kita harus mengingat pengampunan dari Tuhan: Tuhan mengampuni kita tanpa batas, kita masih mengampuni dengan angka-angka yang terbatas. Kita dituntut untuk sabar dengan diri kita dan sesama. Kesabaran diri memampukan kita untuk mengontrol kecenderungan diri terhadap perbuatan salah dan dosa. Kita juga harus menyadari bahwa kita telah menerima belaskasih dan pengampunan dari Tuhan, maka panggilan kita adalah meneruskan secara nyata belas kasih dan pengampunan Tuhan kepada sesama.

Doa: Tuhan, ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Amen

PJSDB