St. Teresa dr Kalkuta
Hari Sabtu Imam
1Kor 4:6b-15
Mzm 145:17-18.19-20.21
Luk 6:1-5.
Tuhan itu dekat
Sabda Tuhan pada hari ini juga membuka wawasan kita untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan yang sudah lebih dahulu dekat dengan kita. Dia yang menciptakan kita sesuai dengan wajah-Nya sendiri. Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (1 Kor 4:6-15) menyerukan supaya jemaat perlu memiliki kebajikan kerendahan hati, memahami realitas hidup rohani, dan mengingatkan tentang peran Bapa rohani. Semua ini tentu dimaksudkan oleh Santo Paulus untuk mengoreksi kesombongan dan perpecahan di dalam gereja Korintus. Santo Paulus menggunakan ironi yang tajam untuk membandingkan sikap berpuas diri dan kesombongan orang-orang Korintus dengan penderitaan nyata dan penuh pengorbanan para rasul yang membawa Injil kepada mereka.
Ada beberapa hal menarik yang ditekankan oleh santo Paulus dalam perikop kita ini:
Pertama, supaya jemaat jangan melampaui yang ada tertulis (1Kor 4:6). Di sini santo Paulus memperingatkan orang-orang beriman terhadap kesombongan dan sikap pilih kasih. Ia mendesak mereka untuk tidak menyombongkan diri karena mengikuti seorang pemimpin manusia (seperti Apolos atau diri Paulus sendiri) daripada yang lain, tetapi untuk tetap berpegang teguh pada Kitab Suci.
Kedua, Perlu kerendahan hati dan anugerah (1Kor 4: 7). Santo Paulus mengajukan pertanyaan mendasar: "Apa yang kamu miliki yang tidak kamu terima?" Ia mengingatkan mereka bahwa semua karunia dan berkat rohani mereka adalah karunia dari Allah, sama sekali tidak memberi ruang untuk kesombongan manusia.
Ketiga, Ada semacam sarkasme dan realitas rohani (1Kor 4: 8–13). Santo Paulus menggunakan ironi yang kuat, mencatat bahwa orang-orang Korintus sudah menganggap diri mereka sebagai "raja" dan kaya secara rohani. Sebaliknya, ia menunjukkan harga sebenarnya dari menjadi murid. Ia menggambarkan para rasul sebagai "orang bodoh demi Kristus," sampah masyarakat, kelaparan, dipukuli, dan tunawisma, namun menanggapi penganiayaan dengan berkat dan kebaikan.
Keempat, Bapa Rohani (1Kor 4:14-15). Santo Paulus beralih dari teguran keras kepada kasih sayang yang lembut. Ia menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud mempermalukan mereka, tetapi memperingatkan mereka sebagai anak-anaknya yang terkasih. Ia mencatat bahwa meskipun mereka mungkin memiliki banyak guru atau pembimbing dalam Kristus, mereka hanya memiliki satu bapa rohani yang melahirkan iman mereka melalui Injil.
Bacaan Injil pada hari ini merupakan kelanjutan dari Kisah Yesus di dalam Injil Lukas (Luk 6:1-5). Penginjil Lukas menekankan bahwa Tuhan Yesus memiliki otoritas atau kuasa ilahi tertinggi sebagai Tuhan atas hari Sabat, dan bahwa memenuhi kebutuhan manusia yang sejati dan menunjukkan belas kasihan lebih penting daripada mengikuti aturan manusia yang ketat dan kaku.
Hal-hal yang menarik perhatian untuk direnungkan bersama. Pertama, Bahwa kebutuhan manusia lebih penting daripada legalisme. Di sini Tuhan Yesus mengingatkan kembali bahwa ketika Raja Daud dan para pengikutnya lapar, mereka memakan roti suci bait suci. Kelangsungan hidup dan kepedulian manusia itu lebih penting daripada aturan teknis yang ketat atau sikap legalis. Nilai hidup manusia harus menjadi nomor satu. Kedua, Hari Tuhan. Hari Sabat dimaksudkan sebagai berkat dan anugerah istirahat, tetapi para pemimpin agama (orang Farisi) mengubahnya menjadi beban berat dengan batasan-batasan buatan manusia. Ketiga, otoritas atau kuasa Ilahi. Dengan menyatakan bahwa "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat", Yesus menyatakan identitas ilahi-Nya dan hak-Nya untuk mendefinisikan makna sejati hukum Allah.
Sabda Tuhan pada hari ini memperteguh kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Kita semua diarahkan untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu terbuka kepada kehendak Tuhan. Kita semua juga berusaha untuk mengikuti jejak Tuhan yang lebih melihat nilai hidup manusia bukan sekedar menjadi legalis semata. Santa Theresia dari Kalkuta menjadi teladan dan inspirasi bagi kita untuk melihat nilai-nilai hidup manusia. Tuhan menjadi dekat dengan manusia karena cinta. Kita pun menjadi dekat dengan sesama manusia karena cinta. Santa Theresia dari Kalkuta, doakanlah kami. Amen.
P. John Laba, SDB
No comments:
Post a Comment