Sunday, September 6, 2026

Homili Hari Minggu Biasa ke - XXIIIA - 2026

Hari Minggu Biasa XXIII/A 

Hari Minggu Kitab Suci Nasional

Yeh. 33:7-9

Mzm. 95:1-2,6-7,8-9

Rm. 13:8-10

Mat. 18:15-20.


Keselamatan untuk semua orang


Pada Hari Minggu Biasa ke-XXIIIA ini kita sekalian menjadikannya sebagai Hari Minggu Kitab Sucu Nasional 2026. Adapun tema besar Bulan Kitab Suci Nasional sesuai usulan LBI kali ini adalah: “Yesus Guru yang Penuh Kuasa” dengan sub temanya “Wajah Yesus dalam Injil Matius”. Fokus Pendalaman BKSN tahun 2026 ini berdasar pada Injil Matius, dengan empat sub-tema utama pertemuan yakni Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati (Matius 5:1-12), Pengajaran Yesus tentang Tugas Perutusan Para Murid (Matius 10:1-15), Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman (Matius 18:15-20). Dan Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal (Matius 25:31-46). Kita semua diarahkan untuk semakin mengenal dan akrab dengan Tuhan Yesus di dalam Kitab Suci. Santo Hironimus pernah berkata: "Ignoratio Scripturarum ignoratio Christi est.” Yang berarti "Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.” Tuhan Yesus Kristus adalah Logos, Sabda yang menjadi Daging dan tinggal di tengah-tengah kita.

Sambil kita merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional, bacaan-bacaan Liturgi pada hari Minggu ini mengarahkan kita untuk membuat kita semkin takjub kepada Yesus sebab keselamatan datang dari Tuhan untuk semua orang yang terbuka dan berharap pada-Nya. Mari kita melihat kembali bacaan pertama dari kitab nabi Yehezkiel. Perikop kita dalam Kitab Nabi Yehezkiel (Yeh 33:7-9) mengatakan bahwa Allah menunjuk seorang nabi sebagai penjaga untuk memperingatkan orang-orang jahat atau orang-orang fasik agar mengubah jalan hidup mereka. Jika nabi sebagai penjaga itu gagal memperingatkan mereka, Allah sendiri akan meminta pertanggungjawaban sang penjaga itu atas kematian mereka. Jika penjaga memberikan peringatan dan orang-orang fasik mengabaikannya, mereka akan mati karena dosa mereka, tetapi penjaga itu aman.


Di sini kita melihat bahwa Allah menjadikan Yehezkiel sebagai penjaga bagi kaum Israel.                                    Ia harus memilikin integritas untuk menyampaikan peringatan Tuhan secara langsung kepada umat Tuhan sendiri. Yehezkiel harus menjadi nabi dan sekaligus penjaga yang setia bagi umat Tuhan. Sebagai Penjaga yang menunjukkan wajah Tuhan, Ia harus berani untuk mengoreksi umat Tuhan yang fasik atau yang jatuh ke dalam dosa. Maka ketika mereka yang jatuh ke dalam dosa mengalami transformasi dan kembali ke jalan Tuhan maka selamatlah mereka. Ketika orang fasik tidak mau berubah maka ada hukuman dari Tuhan bagi mereka berupa kematian. Apabila Yehezkiel sendiri lalai memperingatkan orang-orang fasik maka dia sendirilah yang akan dituntut untuk mempertanggungjawabkan kematian orang fasik itu. Ini merupakan misi yang tetap berlangsung sepanjang zaman. Gereja terpanggil untuk menampakkan wajah Allah yang berbelas kasih di dalam diri Yesus Kristus. 


Santo Paulus dalam bacaan kedua (Roma 13:8-10) menegaskan bahwa kasih yang aktif kepada sesama adalah tujuan sejati dan penggenapan hukum moral dari Allah sendiri. Para pengikut Kristus memiliki kewajiban abadi untuk mengasihi sesama mereka, yang berarti tidak pernah dengan sengaja menyakiti siapa pun. Kita menerima semua orang apa adanya karena kasih. 


Ada beberapa pemikiran penting dari santo Paulus dalam perikop kita hari ini yakni, pertama, hutang Kasih yang tak berujung pangkal. Orang beriman harus membayar apa yang mereka hutangkan kepada orang lain, tetapi mereka tidak akan pernah selesai membayar hutang kasih dari Tuhan. Itu adalah kewajiban berkelanjutan yang terus berlanjut setiap hari. Kedua,  kasih merangkum sepuluh perintah Allah. Aturan-aturan seperti jangan mencuri, jangan berbohong, dan jangan membunuh semuanya terangkum dalam satu perintah sederhana: kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Ketiga, Cinta mencegah perbuatan jahat. Cinta sejati secara alami menghentikan orang dari menyakiti orang lain. Jika Anda benar-benar mencintai seseorang, Anda tidak akan melakukan hal-hal buruk padanya. Keempat, memenuhi hukum. Menaati Tuhan bukan hanya tentang mencentang aturan. Menunjukkan kasih yang aktif berarti Anda benar-benar menghidupi apa yang dikehendaki hukum.


Dalam bacaan Injil (Matius 18:15-20) kita semua diingatkan bagaimana sebagai Gereja atau kumpulan umat beriman harus menangani konflik pribadi dan dosa. Tuhan Yesus memberikan jalan yang jelas untuk memulihkan hubungan yang rusak, menekankan rekonsiliasi pribadi, pertanggungjawaban kolektif, dan otoritas serta kehadiran rohani Allah di dalam gereja.


Hal-hal penting yang Tuhan Yesus tekankan dalam Injil yakni, pertama, Perlu konfrontasi pribadi nukan mendengar apa kata orang. Nah, ketika ada sesuatu yang terjadi bahkan dosa sekali pun, mulailah dengan berbicara empat mata dengan orang tersebut. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan hubungan, bukan untuk bergosip atau mempermalukan mereka di depan umum. Kedua, akuntabilitas bertahap. Artinya, jika pembicaraan pribadi atau pembicaraan empat mata gagal, hadirkan satu atau dua saksi. Jika itu masih gagal, libatkan komunitas gereja yang lebih luas. Ketiga, tujuan pemulihan atau rekonsiliasi. Setiap langkah bertujuan untuk pertobatan dan penyembuhan, bukan hukuman atau pengucilan. Keempat, Otoritas Ilahi dan doa. Yesus memberikan otoritas spiritual kepada para pengikut-Nya ("mengikat dan melepaskan") dan berjanji bahwa Allah mendengar ketika orang-orang percaya bersatu dalam kesepakatan. Kelima,  Kehadiran Kristus: Yesus berjanji bahwa ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya—khususnya untuk mengatasi masalah-masalah sulit seperti persatuan dan penghakiman—Ia hadir bersama mereka.


Ketiga Bacaan Liturgi kita pada hari Minggu ini sangat kaya maknanya bagi kita. Selama bulan kitab suci nasional ini, kita semua terpanggil untuk menjadi nabi yang siap untuk mengoreksi diri dan sesama kita supaya kita benar-benar menunjukkan wajah Kristus yang mengagumkan banyak orang. Tentu saja sebuah koreksi yang bagus harus dilandasi oleh kasih yang tidak berkesudahan. Mengapa?  Karena Allah adalah kasih yang memanggil semua orang kepada keselamatan.


P. John Laba, SDB


No comments:

Post a Comment