Wednesday, September 9, 2026

Homili 9 September 2026

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XXIIIA

St. Petrus Klaver

1Kor 7:25-31

Mzm 45:11-12.14-15.16-17

Luk 6:20-26

 

Bagilah berkat bukan kutukan

Pada hari ini kita mengenang santo Petrus Claver. Dari Santo Petrus Claver, kita belajar bagaimana menunjukkan belas kasih yang mendalam dan martabat manusia melalui tindakan nyata, bukan hanya kata-kata. Saya mengingat dua perkataannya yang sangat inspiratif. Pertama, Tentang lebih baik tindakan daripada hanya kata-kata: "Kita harus berbicara kepada mereka melalui perbuatan dengan memberi, sebelum kita mencoba berbicara kepada mereka dengan kata-kata." Kutipan kedua tentang  mencintai Tuhan. Santo Perus Claver berkata: "Untuk mencintai Tuhan sebagaimana seharusnya, kita harus melepaskan diri dari segala bentuk cinta duniawi. Kita tidak boleh mencintai apa pun selain Dia; atau jika kita mencintai sesuatu yang lain, kita harus mencintainya semata-mata demi-Nya." Santo Petrus Claver menghendaki agar kita membawa berkat dan kasih kepada orang-orang kecil. Ini tentu bukan melalui kata-kata saja tetapi juga melalui perbuatan yang nyata.

Apa yang Tuhan mau sampaikan kepada kita pada hari yang baru ini?

Penginjil Lukas di dalam bacaan Injil pada hari ini (Luk 6:20–26) menekankan bahwa Kerajaan Allah membawa perubahan radikal dalam keadaan hidup seseorang, memberikan penghiburan sejati, berkat, dan upah kekal kepada para pengikut-Nya yang bergantung pada-Nya, sekaligus memperingatkan mereka yang mengandalkan diri sendiri dan hidup nyaman akan kekosongan yang pada akhirnya akan mereka alami sendiri.

Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas membicarakan berkat dan kutuk. Dua kata yang selalu kita jumpai dalam hidup dan karya kita. Kata pertama adalah berkat (Sabda Bahagia). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikatakan bahwa berkat adalah karunia Tuhan yang membawa kebaikan dalam hidup manusia. Berkat juga merupakan doa restu dan pengaruh baik (yang mendatangkan selamat dan bahagia) dari orang yang dihormati atau dianggap suci (keramat), seperti orang tua, guru, pemuka agama. TuhanYesus berbicara langsung kepada para murid-Nya, mengucapkan berkat bagi orang miskin, orang yang lapar, orang yang berduka, dan mereka yang dibenci atau dianiaya demi nama-Nya. Kesulitan yang mereka alami saat ini diimbangi dengan janji kerajaan Allah yang kekal, pemenuhan di masa depan, dan pahala surgawi yang besar.

Kata yang kedua adalah kutukan. Kutukan adalah doa atau kata-kata yg dapat mengakibatkan kesusahan atau bencana kepada seseorang. Kutukan adalah kesusahan atau bencana yang menimpa seseorang disebabkan doa atau kata-kata yang diucapkan orang lain. Berkaitan dengan kutukan, Tuhan Yesus memberikan peringatan keras kepada orang-orang kaya, mereka yang berkecukupan, mereka yang tertawa, dan mereka yang dipuji oleh semua orang. Kutukan-kutukan ini tidak mengutuk kekayaan atau kegembiraan itu sendiri, melainkan menunjukkan bahwa mereka yang menemukan kenyamanan, keamanan, dan pengakuan yang sempurna di dunia ini telah menerima upah mereka sepenuhnya dan berisiko mengalami kebutaan rohani. Di sini muncul juga perbandingan kesuksesan duniawi yang sementara dengan realitas kekal. Perikop kita ini mengajarkan bahwa kemakmuran dan kedamaian sejati manusia berasal dari kepercayaan kepada Allah melalui penderitaan, bukan dari mengandalkan status atau harta duniawi.

Santo Paulus dalam bacaan pertama (1Kor 7:25–31),  mengatakan bahwa orang beriman harus mempertahankan fokus yang tak terbagi kepada Allah dan tidak membiarkan keadaan duniawi yang sifatnya sementara, hubungan, atau harta benda menjadi prioritas utama, karena “bentuk dunia ini sedang berlalu.” Santo Paulus juga mengatakan tentang pentingnya kebijaksanaan di masa sulit. Ia menyarankan bahwa tetap menjadi lajang mungkin merupakan pilihan bijak mengingat “kesusahan saat ini” atau kesulitan lokal di Korintus, meskipun ia menjelaskan bahwa ini adalah nasihat bijak, bukan perintah yang ketat, dan bahwa pernikahan bukanlah dosa.

Santo Paulus juga mengingatkan tentang bebas dari kecemasan. Ia menjelaskan bahwa pernikahan membawa gangguan duniawi dan kecemasan untuk menyenangkan pasangan, sedangkan kesendirian memungkinkan pengabdian yang lebih tak terganggu kepada Tuhan. Kita juga diingatkan untuk memiliki sikap lepas bebas, tidak terikat pada hal-hal duniawi. Ia menggunakan perumpamaan yang mencolok, ia menasihati mereka yang menangis, bersukacita, membeli barang, atau sudah menikah untuk hidup seolah-olah mereka tidak dikendalikan oleh hal-hal tersebut. 

Sabda Tuhan pada hari ini membuka wawasan kita untuk menaru perahtian kepada sesama dengan mengucapkan berkat bukan kutukan. Mudah sekali kita mengatakan kata-kata kutukan dan lupa mengucapkan berkat kepada sesama. Kita mesti membawa kata-kata yang menghibur dan memanusiakan manusia yang lain. Kita mesti tetap fokus kepada Tuhan, apapun situasi hidup kita. Kesulitan hidup bukanlah halangan bagi kita untuk merasakan kasih Tuhan dan membagikannnya kepada sesama secara nyata. Santo Petrus Claver menginspirasi kita untuk melakukan tindakan kasih yang nyata kepada sesama kita.

P. John Laba, SDB

1 comment:

  1. Terimakasih Pater untuk renungan hari ini.. St Petrus Claver doakanlah kami. Amen

    ReplyDelete