Monday, May 11, 2020

Homili 11Mei 2020

Hari Senin, Pekan Paskah ke-V
Kis 14: 5-18
Mzm 115:1-2.3-4.15-16
Yoh 14:21-26

Tetap Mengasihi Yesus

Saya pernah mendengar kesaksian sederhana dari seorang bapa. Ia termasuk salah seorang yang sedang dirumahkan akibat covid-19 dari perusahaannya. Dalam suasana yang tidak menentu ini dia tidak berkecil hati. Ia mengingatkan keluarga untuk hidup sederhana, mencari aktivitas lain yang dapat menambah penghasilan keluarga meskipun sedikit saja, dan tetap setia mengajak keluarga untuk berdoa dan membaca Kitab Suci. Ia mengatakan bahwa dalam situasi apa saja, ia akan tetap mengasihi Yesus, setia kepada-Nya dalam suasana yang bahagia maupun tidak bahagia. Saya merasa senang mendengar kesaksiannya ini. Bagi saya orang yang beriman memang seharusnya begini, bukan depresi, cemas dan menjauh dari Tuhan. Bapa yang bersaksi ini boleh dibilang pribadi yang limited edition yang banyak yang berada dalam bayang-bayang depresi dan kecemasan, semakin jauh dari Tuhan. Apalagi sekarang zaman online dan streaming, mungkin semakin jauh. Hanya ibu-ibu dan anak-anak yang masih punya waktu untuk ibadat meskipun hanya melalui online saja.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan kisah Yesus dalam Injil Yohanes. Konteksnya masih tentang malam perjamuan terakhir di mana Ia menyampaikan amanat perpisahan-Nya. Kali ini Tuhan Yesus mengatakan dengan terus terang bahwa orang yang benar-benar mengasihi-Nya adalah dia yang memegang dan melakukan perintah-perintah-Nya. Orang yang melakukan perintah Yesus yakni saling mengasihi akan dikasihi oleh Bapa dan Yesus sebagai Putera. Bapa dan Putera akan menyatakan diri kepada-Nya. Perkataan Yesus ini sangat menguatkan hati kita semua yang percaya kepada-Nya. Banyak kali kita mengatakan dengan bangga bahwa kita mengasihi Yesus, tetapi apakah kita benar-benar memegang dan melakukan perintah-perintah-Nya? Apakah kita benar-benar memiliki prinsip “Yesus saja sudah cukup bagiku”. Saya ingat St. Paulus menunjukkan kasihnya kepada Yesus Kristus ketika berkata: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Flp 1:21). Setiap pengikut Kristus yang mengakui mengasihi Yesus harus punya prinsip seperti santu Paulus ini. 

Sebuah pertanyaan yang menarik datang dari Yudas Tadeus. Ia bertanya kepada Yesus: “Tuhan, apa sebabnya Engkau mau menyatakan Diri-Mu kepada kami dan bukan kepada dunia?” Tuhan Yesus memandang Yudas dengan penuh kasih dan berkata: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.“ (Yoh 14:23-24). Tuhan Yesus membuka pikiran para murid-Nya dan memberikan wawasan yang luas tentang makna mengasihi-Nya. Sebelumnya Yesus mengatakan bahwa mengasihi berarti memegang dan melakukan perintah-Nya yakni perintah kasih. Perintah kasih itu nyata dalam setiap perkataan Yesus. Orang yang mengasihi Yesus mampu mendengar, melakukan dan mentaati sabda atau firman Yesus. Orang yang tidak mengasihi Yesus berarti dia tidak mendengar, melakukan dan mentaati sabda atau firman Yesus. Dengan demikian Yesus sebagai Putera dan Bapa tidak datang dan tinggal bersamanya.

Pada bagian terakhir dari Injil hari ini, Tuhan Yesus memberi sebuah janji yakni anugerah Roh Kudus. Roh Kudus adalah Paraclitus atau Penghibur. Roh Kudus itu diutus oleh Bapa dalam nama Yesus sang Putera. Tugas Roh Kudus adalah mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan kembali segala sesuatu yang sudah dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri. Bacaan Injil hari ini benar-benar menambah dan memperdalam iman kita kepada Tuhan Allah Tritunggal Yang Mahakudus. Kita mengakui iman kita bahwa kita percaya kepada Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Untuk mewujudkan iman kita kepada Allah Tritunggal Mahakudus, yang merupakan Misteri Agung dalam iman kita maka kita membutuhkan Roh Kudus untuk mengajarkan segala sesuatu supaya dapat menyelami rahasia Allah di dalam hidup kita. Kita mengasihi Tuhan Allah Tritunggal Mahakudus!

Apa yang harus kita lakukan di dalam hidup ini? 

Pertama, mengasihi Yesus berarti siap menderita bagi Yesus dan tetap tekun mewartakan Injil-Nya. St. Paulus dan Barnabas dalam bacaan pertama menginspirasi kita untuk setia dalam iman kepada Allah Tritunggal Mahakudus. Mereka mengalami banyak penganiayaan di Ikonium, terutama dari orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi dan para pemimpin mereka. Paulus dan Barnabas sebagai misionaris ini mengetahui situasi dan berusaha untuk menyingkir ke daerah lain untuk setia kepada Injil dan mewartakannya yakni di kota-kota Likaonia yaitu Listra dan Derbe juga beberapa daerah di sekitarnya. Di tanah-tanah misi ini, terutama di Listra, Paulus menyembuhkan seorang lumpuh dalam nama Yesus. Orang yang disembukan ini memilikiiman kepada Yesus yang diwartakan Paulus. Paulus dan Barnabas menginspirasi kita bahwa mengasihi Yesus berarti siap menderita, memikul salib kapan saja dan tetap tekun mewartakan Injil. Mukjizat akan datang dan sungguh terjadi di dalam hidup kita.

Kedua, Kita dipanggil untuk menjadi misionaris yang rendah hati. Karena mukjizat penyembuhan maka orang-orang di Likanoia berpikir bahwa Paulus adalah jelmaan dewa Hermes sedangkan Barnabas adalah jelmaan dewa Zeus. Kedua misionaris ini rendah hati dengan mengoyakan pakaian mereka dan mengakui diri sebagai manusia biasa. Mereka adalah penginjil, mau menyelamatkan sesama. Tujuan Paulus dan Barnabas adalah semata-mata mewartakan Injil supaya orang-orang dapat bertobat dengan meninggalkan hidup mereka yang lama. Banyak kali para pewarta mudah lupa diri sehingga tanpa sadar atau dengan sadar mereka merasa sudah melampaui Tuhan. Banyak kali para pewarta lebih mempopulerkan dirinya dari pada mempopulerkan Tuhan. Ini memang sangat fatal. Setiap tugas perutusan kita bertujuan untuk membawa semua orang kepada Kristus. Biarkan Yesus Kristus semakin besar dan kita harus semakin kecil. Ini baru orang yang tetap mengasihi Yesus.

Pada hari ini kita semua dikuatkan oleh Sabda Tuhan. Kita patut bersyukur karena Tuhan selalu membaharui kita untuk semakin mengasihi dan bersatu dengan-Nya sebagai Allah Tritunggal Mahakudus. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti ada pada permulaan, sekarang dan selama-lamanya. Amen.

PJ-SDB

Saturday, May 9, 2020

Homili 9 Mei 2020

Hari Sabtu, Pekan IV Paskah
Kis 13:44-52
Mzm 98: 1.2-3ab.3cd-4
Yoh 14:7-14

Semakin mengenal Tuhan

Saya pernah menemukan sebuah tulisan tangan pada secarik kertas di dalam sebuah buiku doa.  Mungkin kertas itu dipakai sebagai pembatas buku. Tulisan tangan itu bunyinya: “Aku berusaha untuk semakin mengenal Tuhan di dalam hidupku.” Saya tersenyum sambil merenung tulisan tangan ini, sempat bertanya dalam hati apakah saya sebagai gembala saat ini juga berusaha untuk semakin mengenal Tuhan di dalam hidupku? Saya secara pribadi telah berusaha untuk mengenal Tuhan dengan rajin membaca, merenungkan dan melakukan Sabda di dalam hidupku. Saya berdoa secara pribadi dan berdoa bersama di dalam komunitas. Saya melakukan pelayanan sebagai gembala dengan rendah hati dan tulus iklas. Dan masih banyak litani yang saya pikirkan dan saya merasa sudah mengenal Tuhan. Ternyata semua ini belum apa-apa. Saya harus mengenal Tuhan dalam kasih karena Dia adalah kasih. Kemampuan saya untuk mengasihi Tuhan dan sesama secara total adalah jalan yang tepat untuk mengenal Tuhan. Saya menutup buku dan meninggalkan tulisan tangan ini di dalam salah satu halamannya dan pergi dengan sukacita ke tempat kerjaku.

Tuhan Yesus mewahyukan diri-Nya sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup. Dan kita diingatkan-Nya untuk berusaha untuk percaya dan mengenal-Nya. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan begini:  “Bagi kita, umat Kristiani, iman akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, selalu berhubungan erat dengan Yesus Kristus yang diutus Bapa sebagai “Putra yang terkasih” yang berkenan kepada-Nya (Mrk 1:11) dan Dia harus kita dengarkan (Mrk 9:7). Yesus sendiri berkata kepada murid-murid-Nya, “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Sebenarnya kita dapat percaya kepada Yesus Kristus karena ia sendiri Allah, Sabda yang menjadi manusia. “Tak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). Karena ia sudah melihat Bapa (Yoh 6:46), Ia adalah satu-satunya yang mengenal Bapa dan dapat mewahyukan-Nya” (KGK, 151). Kita mengenal Allah sebagai Bapa sebab Yesus sendiri yang mengajarkan kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa kita. Maka semakin kita mengenal Yesus, semakin kita juga mengenal Bapa yang mengutus-Nya ke dunia.

Para murid yang sudah tinggal bersama Yesus ternyata belum mengenal Yesus dan Bapa di Surga. Itulah sebabnya ketika Tuhan Yesus mengajar mereka tentang persekutuan-Nya dengan Bapa, mereka tidak mengerti dengan baik. Filipus mewakili teman-temannya meminta kepada Yesus untuk menunjukkan Bapa kepada mereka. Bagi Filipus, dengan hanya menunjukkan Bapa secara langsung maka cukuplah bagi mereka. Filipus adalah anda dan saya yang mengaku-ngaku sebagai orang katolik, pengikut Kristus tulen tetapi masih belum mengenal Bapa dan mempertanyakan eksistensi-Nya. Yesus memandang Filipus dan berkata: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa melihat Aku, dia melihat Bapa.” (Yoh 14: 9). Tuhan Yesus juga mengingatkan Filipus dan teman-temannya yang belum percaya kepada-Nya bahwa Dia sebagai Putera adalah satu saja dengan Bapa. Maka melihat Yesus berarti melihat Bapa. Semua yang dilakukan Yesus adalah pekerjaan-pekerjaan Bapa bukan pekerjaan Yesus sebagai Putera. Maka Yesus menegaskan bahwa setiap orang percaya kepada pekerjaan-pekerjaan yang Ia lakukan sebab semua pekerjaan adalah milik Bapa. Dari semua pekerjaan itu, yang paling besar adalah menyelamatkan manusia dengan paskah-Nya.

Untuk lebih menguatkan Filipus dan teman-temannya pada malam perjamuan terakhir ini maka Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai satu-satunya pengantara kepada Bapa. Ia berkata: “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.“ (Yoh 14:14). Kita mengingat St. Paulus yang mengatakan: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara (Mestes) antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” (1Tim 2:5). Di tempat lain St. Paulus mengatakan: “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut "allah", baik di sorga, maupun di bumi dan memang benar ada banyak "allah" dan banyak "tuhan" yang demikian namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1Kor 8:5-6).

Tuhan Yesus sebagai satu-satunya pengantara kita. Tidak ada yang lain yang menjadi pengantara kita kepada Bapa. Para malaikat dan semua orang kudus adalah perantara doa kita kepada Yesus satu-satunya Pengantara kita. Sebab itu, hal terpenting bagi kita adalah berusaha untuk mengenal Yesus. Semakin kita mengenal Yesus, semakin kita juga percaya pada karya dan tindakan-Nya. Rasul Paulus sangat mengerti tentang tugas perutusannya untuk memperkenalkan Yesus sebagai satu-satunya Pengantara kepada Bapa. Maka ia berani menjelaskan jati diri Yesus kepada orang-orang Yahudi di Antiokhia. Yesus adalah satu-satunya Penyelamat kita, tidak ada yang lain. Maka orang-orang Yahudi yang tadinya berpikir bahwa mereka adalah status quo keselamatan, ternyata  keselamatan dalam Yesus itu sifatnya universal. Semua orang dipanggil kepada keselamatan. Sebab itu sangatlah penting untuk mengenal dan percaya kepada Yesus Kristus.

Pada hari ini iman kita semakin dikuatkan. Kita semua tidak hanya merasa bangga sebagai orang yang dibaptis saja. Kita harus berbangga karena mengenal Yesus sebagai satu-satunya Penyelamat dan Pengantara kepada Bapa di Surga. Tentu saja kesaksian seperti ini tidaklah mudah. Apalagi dalam dunia modern ini dimana banyak berhala disembah dan dipuji selain Tuhan yang benar. Maka tugas kita adalah membawa semua orang kepada Tuhan Allah Bapa kita, melalui Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat kita.

PJ-SDB

Friday, May 8, 2020

Homili 8 Mei 2020

Hari Jumat, Pekan Paskah ke-IV
Kis 13:26-33
Mzm 2:6-7.8-9.10-11
Yoh 14:1-6

Pernah Cemas dan Gelisah

Ada sebuah pertanyaan yang sering kita hadapi secara pribadi selama masa covid-19 ini: “Apakah anda sedang merasa cemas dan gelisah dalam hidupmu?” Saya merasa yakin bahwa anda dan saya pasti sudah, sedang dan akan merasa cemas dan gelisah dalam hidup baik pribadi maupun bersama dengan orang lain. Misalnya, ada yang sedang merasa cemas dan gelisah karena mengalami dampak langsung covid-19 seperti kematian sanak keluarga dan sahabat kenalan, ada yang kehilangan pekerjaan yang berdampak pada adanya beban ekonomi, ada banyak orang tua yang cemas dan gelisah karena anaknya belum mendapat jodoh, atau kalau sudah mendapat jodoh tetapi belum memiliki keturunan. Masih banyak bentuk-bentuk kecemasan dan kegelisahan lain yang kita alami di dalam hidup ini. Nah, kembali kepada kita sebagai orang beriman, bagaimana kita dapat menghadapi berbagai persoalan hidup ini supaya jangan merasa cemas dan gelisah atau berada di bawah tekanan.

Saya teringat pada Santu Yohanes Bosco. Ia membaktikan dirinya seumur hidup bersama orang-orang muda di oratorium. Sebelum meninggal dunia, ia merasa yakin bahwa anak-anak muda di oratoriumnya akan merasa cemas, kehilangan dan bersedih. Sebab itu ia menjanjikan tiga hal penting bagi anak-anak mudanya di oratorium supaya jangan merasa cemas dalam hidup yakni terus menerus bekerja (lavoro), mendapatkan rejeki secukupnya (pane) dan keabadian di surga (heaven). Janjinya ini bahkan terungkap dalam kata-kata terakhirnya sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir: “Sampaikanlah kepada anak-anakku bahwa aku menunggu mereka di surga”.  Tentu saja kata-kata Don Bosco ini memiliki daya untuk meyakinkan mereka supaya meninggalkan kecemasan dan menggantinya dengan optimisme di dalam hidup. Mengapa kita mesti memiliki oprtimisme? Sebab kita memiliki Tuhan yang Mahakuasa. Segala sumber kecemasan kita sangat kecil dibandingkan dengan kuasa Tuhan yang begitu besar. Maka kita perlu kembali kepada Tuhan, percaya kepada-Nya sekarang dan selamanya. 

Pada hari ini ini kita mendengar kelanjutan kisah Yesus di dalam Injil Yohanes. Dalam amanat perpisahan-Nya, Ia juga menyadari bahwa para murid-Nya akan merasa cemas. Mereka akan merasa kehilangan sebab komunitas mereka baru terbentuk lebih kurang tiga tahun. Sebab itu, setelah bersantap bersama di malam terakhir, Ia mengatakan kepada para murid-Nya: “Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yoh 14:1). Tuhan Yesus mengetahui setiap murid-Nya. Mereka masing-masing memiliki harapan pada Yesus, namun harapan-harapan pribadi itu akan menjadi kecemasan dan kegelisahan ketika mereka menyaksikan salib. Yesus akan wafat secara tragis di salib. Maka untuk menghilangkan rasa cemas dan gelisah, para murid diingatkan untuk percaya kepada Allah Bapa dan kepada Yesus sendiri sebagai Allah Putera. 

Tuhan Yesus sudah mengatakan secara terus terang bahwa Ia akan menderita, wafat dan bangkit pada hari yang ketiga. Sebab itu ia juga mengatakan kepada mereka bahwa di rumah Bapa, dalam hal ini di surga dalam kategori pemikiran kita, ada banyak tempat tinggal. Yesus berjanji untuk pergi terlebih dahulu untuk menyiapkan tempat, Dia akan datang kembali untuk membawa kita supaya tetap berada bersama-Nya selama-lamanya. Dalam credo, kita percaya bahwa Yesus akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Orang-orang benar akan tinggal bersama-Nya selama-lamanya. Memang harapan untuk tinggal bersama Yesus adalah kerinduan kita semua. Kita berusaha untuk mengikuti teladan-Nya, melakukan segala perintah-Nya karena kita mau tinggal tetap dengan Yesus selamanya.

Tentu saja para murid merasa bingung dengan semua perkataan Yesus ini. Thomas mewakili teman-temannya berkata kepada Yesus: “Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke sana?” Thomas tidak menyapa Yesus sebagai guru tetapi Tuhan karena ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Yesus. Dia bukan sekedar Rabi tetapi lebih dari seorang Rabi. Yesus menjawab Thomas: “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Kali ini para murid mengalami sesuatu yang baru dalam diri Yesus. Dia adalah Tuhan menurut Thomas. Yesus sendiri menambahkan jati diri-Nya sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup. Dia adalah satu-satunya penyelamat kita. Dia adalah Kebenaran yang memerdekakan kita dari dosa. Dia adalah Hidup abadi kita. Perkataan Yesus ini menutup jalan kecemaan dan kegelisahan kita. Yesus selalu ada untuk kita.

Apa yang harus kita lakukan dalam hidup ini?

Terinspirasi oleh Paulus dalam bacaan pertama, kita dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus. Dengan demikian kita tidak membawa kecemasan dan kegelisahan kepada sesama tetapi sukacita kebangkitan Kristus. Paulus menunjukkan teladannya ini di Antiokhia di Pisidia (Kis 13:26-33) di mana ia mewartakan kisah Yesus secara kronologis dalam paskah-Nya. Bahwa Yesus menderita di salib, wafat dan bangkit kemudian menampakkan diri kepada para saksi mata. Bagi Paulus, kebangkitan Yesus adalah pemenuhan janji keselamatan dari Allah sendiri bagi manusia. Tugas kita sebagai Gereja saat ini bukan mewartakan kecemasan dan kegelisahan tetapi mewartakan khabar sukacita atau Injil kepada semua orang bahwa Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Kita semua mengalami rasa cemas dan gelisah. Kalau kita tetap berada dalam area cemas dan gelisah berarti kita belum beriman secara radikal atau berakar pada Tuhan. St. Paulus mengatakan bahwa kita lebih dari pemenang (Rom 8:37) dan bahwa tidak ada suatu apapun dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus Tuhan kita (Rom 8:39). Mari kita setia mewartakan sukacita Injil dan kebangkitan Kristus kepada sesama. Pengalaman pernah cemas dan gelisah pernah ada, tetapi Tuhanlah yang menghilangkannya di dalam hidup kita. Percayalah kepada Yesus dan Bapa yang mengutus-Nya dalam Roh Kudus.

PJ-SDB

Wednesday, May 6, 2020

Homili 6 Mei 2020 - Injil untuk Daily Fresh Juice

Hari Biasa Pekan IV Paskah
Kis. 12:24 - 13:5a
Mzm. 67:2-3,5,6,8
Yoh. 12:44-50

Lectio:

Sekali peristiwa Yesus berseru di hadapan orang-orang Farisi yang percaya kepada-Nya, "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.”

Demikianlah Injil Tuhan kita.
Terpujilah Kristus.

Renungan:

                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
Terang di tengah kegelapan

Virus Corona atau dikenal dengan sebutan Covid-19 benar-benar mengubah perilaku manusia dan mengubah wajah dunia masa kini. Banyak keluarga, sahabat dan kenalan sedang berduka karena mengalami kehilangan salah seorang yang dikasihi, bahkan orang itu tidak dapat dikuburkan seperti biasanya. Ada seseorang yang sedang meratap di ruang isolasi, di ruang pengobatan dan ruang pemulihan. Ada banyak saudari dan saudara yang mengalami dampak langsung pandemi ini dengan dirumahkan sementara atau dirumahkan selamanya karena perusahaan tidak mampu mempekerjakan dan membiayainya lagi. Ada yang mengalami depresi karena beban ekonomi. Ada banyak di antara kita yang merindukan perayaan Ekaristi bersama, berkumpul dengan keluarga, mudik dan lainnya tetapi tidak dapat dilakukan karena adanya social distancing, dan penerapan aturan di rumah saja. Semua ini menggambarkan situasi masarakat dan kehidupan sosial masa kini. Ini juga merupakan pengalaman kegelapan sudah sedang dialami oleh kita semua. Dalam kegelapan seperti ini, kita butuh terang yang dapat menjadi penuntun hidup, sekaligus yang mengarahkan langkah kaki kita. Untuk itu kita butuh Tuhan dan iman serta kepercayaan kepada-Nya.

Pada hari ini kita mendengar episode baru pengajaran Yesus tentang Firman yang menghakimi. Ia memulai pengajaran-Nya dengan 'berseru' dalam arti Ia berbicara dengan suara yang makin lantang: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku."(Yoh 10:44-45). Tuhan Yesus mau mengalihkan perhatian orang-orang Farisi saat itu, supaya mereka tidak hanya memandang-Nya dihadapan mereka sebagaimana Yesus adanya tetapi Yesus sebagai utusan Allah Bapa yang datang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah Bapa. Mengapa demikian? Karena Yesus tahu bahwa meskipun Ia mengadakan banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya (Yoh 12: 37). Memang, ketika orang menutup hati kepada Tuhan atau pun kepada sesama maka mereka tidak akan percaya, sekalipun yang dilakukan adalah kebaikan. Yesus sendiri membangkitkan Lazarus, dari kegelapan maut tetapi orang-orang saat itu pun belum percaya kepada-Nya.

Selanjutnya Yesus mengingatkan mereka bahwa Ia telah datang ke dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya jangan tinggal di dalam kegelapan (Yoh 12: 46). Rasa dan pengalaman tidak percaya kepada Tuhan Yesus adalah sebuah pengalaman kegelapan. Sebab itu dampaknya adalah meragukan Tuhan Yesus dan tidak percaya kepada-Nya. Padahal mereka sedang berada di hadapan Yesus yang sebelumnya telah mengatakan diri-Nya sebagai 'Terang Dunia' (Yoh 8:12; 9:5). Hanya saja mereka lebih menyukai kegelapan daripada terang. Penginjil Yohanes sebelumnya bersaksi: "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya."(Yoh 1:4-5). Yesus benar-benar terang sejati dan tidak ada sesuatu apa pun yang dapat mengalahkan-Nya. Kematian atau maut yang gelap dan kelam dalam hidup saja dikalahkan-Nya. Yesus adalah terang yang sesungguhnya yang sedang datang ke dunia untuk menerangi hidup setiap orang (Yoh 1:9). Namun manusia menyukai kegelapan! 

Berkaitan dengan kebiasaan menyukai kegelapan dari pada terang maka Yesus berkata: "Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah." (Yoh 3:19-21). Di sinilah kita semua sebagai pengikut Kristus patut menentukan pilihan yang tepat di hadapan Yesus sebagai Terang dunia. Apakah kita memilih untuk tetap berada di dalam terang atau tetap tinggal di dalam kegelapan. Tinggal di dalam terang berarti kita melakukan yang benar dan berkenan di hadirat Tuhan. Kita menjauhkan diri dari kebiasaan dan perbuatan dosa. Tinggal dalam kegelapan berarti tetap tinggal di dalam dosa.

Berkaitan dengan hal ini Tuhan Yesus mengatakan: "Hanya sedikit waktu lagi terang  ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang." (Yoh 12: 35-36). Nah, kata-kata yang penting untuk kita lakukan supaya tetap berada di dalam terang adalah percaya kepada Yesus sebagai Terang supaya kita sungguh-sungguh menjadi anak-anak terang. Kita percaya kepada Yesus supaya kegelapan jangan menguasai kita dan kita tinggal di dalam kegelapan yang membinasakan. Yesus datang ke dunia sebagai terang yang menyelamatkan bukan membinasakan. 

Apa yang harus kita lakukan?

Pada saat ini banyak di antara kita atau bahkan kita sendiri sedang berada dalam kegelapan akibat covid-19. Ada di antara kita yang sudah berseru-seru, "Yesus di manakan Engkau?" Atau "Tuhan di manakah Engkau? Mengapa covid-19 dibiarkan merajai dunia?" Seruan-seruan ini menandakan bahwa terang sudah ada bersama kita tetapi kita tidak mengenal-Nya. Maka kita perlu sadar diri supaya, Pertama, tetap percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya penyelamat kita. Dia adalah Terang dunia, Terang yang terbit di tengah pengalaman kegelapan kita akibat covid-19 ini. Hanya dengan demikian kita akan mengerti bahwa semua persoalan hidup kita, termasuk covid-19 itu kecil karena Tuhan kita jauh lebih agung, mengatasi segalanya. Sungguh, tidak ada suatu apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Kedua, Kita dipanggil untuk setia kepada Sabda. Kita mendengar perkataan Yesus. Tugas kita adalah setia untuk melakukan-Nya di dalam hidup melalui perbuatan-perbuatan yang baik. Dengan demikian perkataan Yesus sungguh nyata bagi kita juga: "Kamu Adalah terang dunia" (Mat 5:14). Kesetiaan kita kepada Sabda ditunjukkan dalam sikap mendengar dan melakukan Sabda. Sabda Tuhan menjadi pelita yang menerangi langkah kaki kita (Mzm 119:105). Dua hal ini akan membantu kita untuk melihat Yesus sebagai terang yang terbit di tengah kegelapan dunia kita. 

Doa: Tuhan Yesus Kristus, Sabda-Mu sungguh merupakan pelita bagi langkah kaki kami. Pada hari ini Engkau mengingatkan kami sebagai Terang yang datang untuk menyinari kami dalam kegelapan, akibat berbagai persoalan kehidupan seperti covid-19 ini. Kami mohon semoga Sabda-Mu mengubah hidup kami supaya menjadi anak-anak Terang. Bunda Maria Penolong, doakanlah kami supaya dapat masuk ke dalam terang Yesus Puteramu. Amen.

P. John Laba, SDB

Saturday, May 2, 2020

Food For Thought: Maria Kesehatan orang sakit


Maria, Kesehatan orang sakit

Seorang sahabat barusan mengajak saya untuk berdoa rosario secara online bersama kelompok kategorialnya. Ia mengaku sudah rindu untuk berkumpul dengan sanak keluarga, umat di lingkungannya, dan sesama anggota kelompok kategorial untuk berdoa rosario bersama. Sebab itu satu strategi yang ditempuh adalah berdoa rosario bersama secara online. Saya sangat mengapresiasi usaha umat untuk tetap berkontak dengan Tuhan dalam doa bersama para kudus seperti Bunda Maria.

Memang di masa pandemic covid-19 ini tak terasa, benar-benar mengubah perilaku hidup manusia. Ada orang yang memiliki kebiasaan untuk berkumpul bersama dengan orang lain, kini harus mengikuti anjuran social distancing maka tidak bisa berkumpul lagi dengan sesamanya. Ada orang yang biasa berkelana, kini harus berada di rumah saja. Dengan demikian ada semacam kebingungan akut dan stress tersendiri dalam diri orang-orang tertentu. Maka bisa jadi ada pasien baru yang siap-siap menghuni rumah sakit, bukan pasien covid-19 tetapi pasien yang bingung dan stress karena di rumah saja setiap hari. Orang mulai bosan work from home dan di rumah saja.

Perubahan pola hidup juga dapat diamati dalam kebiasaan menggunakan masker dan mencuci tangan. Baik pria maupun wanita mulai terbiasa menggunakan masker sampai lupa bahwa ia sedang menggunakan masker sehingga merokok, makan dan minum tetap menggunakan masker. Ada yang rajin mencuci tangan, membawa hand sanitizer ke mana-mana. Tentu saja ada satu tujuan yang baik yakni supaya bisa hidup sehat.

Kita kembali kepada keakraban dengan Tuhan melalui para kudus. Di bulan Mei ini Gereja Katolik mendedikasikannya untuk menghormati Bunda Maria. Menghormati atau berdevosi kepada Bunda Maria. Salah satu doa yang penting dalam devosi kepada Bunda Maria adalah Litani Santa Perawan Maria. Dalam Litani Santa Perawan Maria yang disebut Litani Loreto, Bunda Maria disapa: “Kesehatan orang sakit, doakanlah kami”. Saya merasa bahwa kalimat doa ini sangat cocok dengan kita saat ini. Maka kita mendoakan rosario suci, selanjutnya dapat mengulangi beberapa kalimat ‘kesehatan orang sakit, doakanlah kami’ akan sangat membantu kita secara pribadi dan sesama yang sedang sakit. Kita percaya bahwa Bunda Maria tetap mendoakan kita sekarang dan pada waktu ajal menjemput kita.

Paus Fransiskus dalam sebuah doanya memohon perlindungan Bunda Maria untuk terlindung dari covid-19 juga menyapa Bunda Maria sebagai ‘kesehatan orang sakit’. Berikut ini adalah satu doa dari Paus Fransiskus yang menyapa Bunda Maria sebagai Kesehatan orang sakit:

O Maria, engkau terus bersinar sepanjang perjalanan kami sebagai tanda keselamatan dan harapan. Kami mempercayakan diri kami kepadamu sebagai Kesehatan Orang Sakit, yang di Kayu Salib dekat dengan rasa sakit Yesus, menjaga imanmu tetap teguh. Engkau keselamatan orang-orang Romawi, tahu apa yang kami butuhkan, dan kami percaya bahwa Anda akan memenuhi kebutuhan itu sehingga, seperti di Kana, di Galilea, sukacita dan perayaan dapat kembali setelah masa pencobaan ini. Tolong kami, Bunda Cinta Ilahi, untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Bapa dan untuk melakukan apa yang Yesus katakan kepada kami. Dia yang menanggung penderitaan kita atas diri-Nya sendiri, dan memikul kesengsaraan kami untuk membawa kami, melalui Salib, menuju sukacita tentang Kebangkitan. Kami mencari perlindungan di bawah perlindunganmu, O Bunda Suci Allah. Jangan meremehkan permohonan kami, kami yang diuji dan bebaskan kami dari setiap bahaya, hai Perawan yang mulia dan diberkati. Amin

Saya menutup Food For Thought dengan mengutip lagi sebuah doa yang dipanjatkan oleh para Salesian di seluruh dunia untuk memohon pertolongan Bunda Maria supaya melindungi kita dari bahaya Covid-19:

Ya Bunda Maria Penolong Umat Kristiani, sama seperti Bapa kami Don Bosco telah mengalaminya sendiri bersama anak-anak muda dan remaja di oratorium Valdocco ketika wabah kolera melanda kota Turin, kami saat ini juga sedang terkena dampak wabah epidemi virus korona. Kami sebagai satu Keluarga besar Salesian ingin menunjukkan kepercayaan kami laksana seorang anak kepada keibuan hatimu. Hiburlah orang-orang sakit dan keluarga mereka. Dukunglah para team dokter dan para profesionalis kesehatan. Bantulah semua anggota masyarakat dan pemerintahnya. Terimalah semua orang yang meninggal karena epidemi ini. Baharuilah di dalam diri kami masing-masing, dalam komunitas dan keluarga kami, iman kepada Yesus Kristus Putramu yang sudah wafat dan bangkit. Jadikanlah kata-kata Don Bosco ini sebagai milik kami sendiri. Kami panjatkan kepadamu: Ya Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, benteng Gereja yang agung dan terkenal, Penolong Umat Kristiani, dahsyat seperti pasukan yang dikerahkan dalam pertempuran; Engkau sendiri yang mengatasi setiap bidaah di dunia; dalam kecemasan, dalam perjuangan, dalam kesulitan untuk mempertahankan kami dari musuh dan pada saat kematian kami sudilah engkau menerima jiwa kami ke surga. Amin.

Bunda Maria, doakanlah kami. Amen.

PJ-SDB

Homili 2 Mei 2020

Hari Sabtu, Pekan III Paskah
Peringatan Wajib St. Atanasius
Kis. 9:31-42
Mzm. 116:12-13,14-15,16-17
Yoh. 6:60-69

Semoga kami percaya dan tahu

Pada hari ini kita mengenang santo Atanasius, bertepatan dengan hari kedua dalam bulan Bunda Maria. Ada sebuah doa yang inspiratif dari St. Atanasius tentang Bunda Maria seperti ini: “Perawan yang mulia, engkau sungguh lebih besar daripada kebesaran apapun. Jika aku berkata bahwa malaikat dan malaikat agung adalah besar, tapi engkau lebih besar dari mereka, karena mereka melayani Ia yang berdiam di rahimmu dengan gemetar, dan mereka tidak berani berbicara dalam kehadiran-Nya, sementara engkau berbicara dengan bebas kepada-Nya.” Bunda Maria sungguh luar biasa di mata St. Atanasius. Kalau para malaikat dan malaikat agung saja segan berbicara dengan Yesus Putera Maria, sedangkan Bunda Maria sendiri berbicara dengan bebas dan leluasa kepada Yesus. Saya teringat pada peristiwa di Kana, di mana Yesus membuat mukjizat pertama atas permintaan Bunda Maria. Ketika itu Bunda Maria berkata kepada Yesus: “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3) dan “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” (Yoh 2:4). Di satu pihak Bunda Maria peka dengan kebutuhan pasutri yang menikah. Anggur adalah lambang kasih Allah sendiri. Di lain pihak Bunda Maria meminta kesediaan manusia untuk patuh kepada kehendak Tuhan sebagaimana Ia sendiri mengatakan: “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Bunda Maria menolong Puteranya hingga tuntas maka layaklah diberi gelar penolong abadi bagi umat Kristiani.

Kita mendengar kelanjutan kisah Yesus dalam Injil Yohanes bagian terakhir dari pengajaran Yesus di dalam rumah ibadat di Kapernaun. Sebelumnya Yesus sudah mengatakan kepada mereka bahwa Dialah roti dari surga. Roti adalah daging-Nya sendiri. Maka orang yang percaya dan mengikuti-Nya hingga keabadian harus memakan tubuh-Nya dan minum darah-Nya. Kata-kata ini menakutkan, seolah-olah Yesus mengajarkan kanibalisme, meskipun bukanlah demikian. Namun dampaknya sangat besar. Ada krisis iman bagi para murid di Galilea. Mereka yang setiap hari ada bersama Yesus mengatakan: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60). Gara-gara makan daging dan minum darah maka mereka krisis iman dan mau mundur. Tuhan Yesus bereaksi dalam perkataan-Nya berikut ini: “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya.” (Yoh 6:61-64). Tuhan Yesus mengungkapkan diri-Nya dalam Tritunggal Mahakudus. Satu Allah tiga pribadi, di mana Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

Untuk meyakinkan mereka kembali maka Yesus berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” (Yoh 6: 65). Allah Bapa memiliki inisiatif untuk menyelamatkan manusia. Sebab itu Ia menganugerahkan kepada manusia anugerah untuk datang kepada Yesus. Pikiran kita tertuju pada hidup pribadi kita yang mengimani Tuhan Allah Bapa. Dia yang memiliki rencana untuk menyelamatkan kita dalam Yesus Kristus Putera-Nya. Dia yang punya inisiatif untuk membawa kita kepada Yesus Putera-Nya. Perkataan Tuhan Yesus ternyata membuat banyak orang krisis iman dan mengundurkan dirinya dari hadapan Yesus.

Situasi ini mendorong Yesus untuk bertanya kepada para murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6: 67). Petrus selalu muncul dengan perkataan-perkataan tertentu pada saat situasi sulit. Ia berusaha menjawab Yesus dengan berkata: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh 6:68-69). Petrus mengakui imannya sekali lagi di hadapan Yesus, sekaligus menguatkan teman-temannya untuk tetap tinggal bersama Yesus.

Bacaan Injil hari ini sebenarnya berbicara tentang kita yang siang dan malam berusaha untuk mengikuti Yesus di masa sulit ini. Kita berada pada dua pilihan yakni setia kepada Yesus sampai selamanya atau memilih untuk mundur. Banyak yang memilih untuk selamanya bersama Yesus bahkan menumpahkan darahnya karena mengimani dan mencintai Yesus. Namun ada juga yang memilih untuk mundur ketika mengalami kesulitan, ketika mencari sensasi supaya terkenal sebagai public figure dengan jalan tragis yakni murtad. Hanya karena hal duniawi orang berani murtad. Ini menyedihkan. Saya tetap percaya bahwa darah para martir selalu menjadi benih subur bagi iman kristiani. Semoga kita tetap percaya dan tahu bahwa Yesus adalah satu-satunya Penyelamat kita.

Apa yang menjadi impian Gereja masa kini?

Terinspirasi oleh bacaan pertama di mana periode setelah pertobatan Saulus, gereja kembali menjadi tenang, menata diri dan maju. Semua jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria hidup dalam damai. Dasar kedamaian mereka adalah mereka dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya bahkan semakin banyak karena pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. Santu Petrus sendiri berkeliling dan berbuat baik seperti sang Maestronya. Tempat-tempat yang dikunjungi adalah Lida dan Yope di mana mukjizat-mukjizat juga terjadi di sana. Misalnya Eneas yang sudah delapan tahun mengalami kelumpuhan dapat disembuhkan dalam nama Yesus. Tabita alias Dorkas di Yope sudah meninggal dunia dapat dibangkitkan dalam nama Yesus. Mukjizat-mukjizat ini membuat nama Tuhan semakin dimuliakan di mana-mana.

Di masa covid-19, Gereja diminta untuk memiliki semangat seperti para rasul yang berkeliling dan berbuat baik. Kita dipanggil untuk beramal, terutama bagi mereka yang sangat-sangat menderita. Sikap empati perlu digalakan kembali supaya mereka yang kenyang dapat mengenyangkan mereka yang masih lapar, mereka yang tidak haus melegakan mereka yang haus. Mereka yang tidak memiliki rumah untuk menginap dapat memiliki tempat menginap, mereka yang sakit  di rumah sakit dan yang ada di dalam penjara dapat dikunjungi dan dihibur, juga yang meninggal dunia dikuburkan. Semua ini adalah keprihatinan dan pilihan pelayanan kita sebagai Gereja. Hanya dengan demikian kita turut menghadirkan wajah kerahiman Allah. Orang-orang akan percaya dan tahu bahwa kita memiliki Allah yang adalah kasih.

PJ-SDB

Friday, May 1, 2020

Food For Thought: Bunda Maria, perawan setia

Perawan yang setia

Adalah Seneca (5 SM-65 M). Beliau adalah seorang filsuf, negarawan dan dramawan dari Romawi Kuno. Beliau pernah berkata:  “Kesetiaan adalah kekayaan termulia di dalam kalbu manusia.” Saya sepakat dengan perkataan Seneca ini sebab kesetiaan itu laksana harta yang indah dan mahal harganya. Ada juga yang mengatakan kesetiaan itu mahal. Mengapa dikatakan demikian? Sebab ketika seorang itu setia di dalam hidupnya maka dengan sendirinya ia menumbuhkan kepercayaan orang lain kepadanya. Kesetiaan itu harus tetap ada di dalam hidup manusia sampai maut memisahkan hidup yang fana dengan hidup abadi. Ketika seorang tidak setia meskipun hanya sebuah hal kecil, ia telah merusak setengah hidupnya. Orang tidak akan percaya kepadanya, meskipun ada pemulihan kepercayaan dan nama baik.

Pada hari ini kita berjumpa dengan dua sosok yang menginspirasikan kesetiaan kita. Sosok pertama adalah Bunda Maria. Setiap bulan Mei kita mendedikasikannya untuk menghormati Bunda Maria. Ada yang menunjukkan kesetiaannya kepada Bunda Maria dengan berdoa rosario, mengikuti misa online di hari pertama Bunda Maria. Ada yang hanya membayangkan tentang tempat-tempat ziarah sambil berharap di dalam hati untuk pergi ke tempat ziarah itu lagi. Sebenarnya kita baru belajar untuk setia. Setia itu mahal harganya. Kita baru belajar untuk setia seperti Bunda Maria, tetapi Bunda Maria sudah lebih dahulu menunjukkan kesetiaannya bagi kita. 

Tanda awal kesetiaan Bunda Maria adalah hidupnya yang tersembunyi di Nazareth, namun penuh dengan kesalehan, dan mata imannya selalu tertuju kepada Tuhan. Semua ini terjadi karena edukasi yang diterimanya dari kedua orang tuanya yakni santa Anna dan Santo Yoakim. Mereka mengajarkannya hidup dalam kesetiaan sehingga ia terbiasa dengan ritme hidup seperti ini. Ketika menerima kabar sukacita, ia mulai belajar untuk setia kepada Tuhan dan segala rencana-Nya. Maria setia mengikuti Yesus sampai tuntas. Dia juga tetap setia mendampingi dan mendoakan Gereja yang berdosa, sekarang dan waktu ajal menjemput. Maria adalah perawan setia.

Sosok yang kedua adalah santu Yusuf. Beliau menunjukkan kesetiaan, ketulusan dan kejujuran. Orang kudus ini menginspirasi para pekerja supaya setia, tulus dan jujur. Dia bekerja diam-diam tanpa banyak berbicara. Para pekerja masa kini malas bekerja tetapi suka tampil dalam demo, mogok dan menginginkan gaji tinggi. Ada yang lebih suka mencari uang bukan pengalaman kerja. Ada yang banyak berteriak tetapi tidak disiplin dalam waktu: terlambat, menggunakan media sosial selama waktu efektif kerja dan lain sebagainya. Kita butuh St. Yusuf untuk mengoreksi cara pikir dan cara hidup kita. 

Pada hari ini kita belajar untuk menjadi pribadi yang setia. Kita memandang Maria dan Yusuf yang setia dalam hidup di dalam keluarganya. Maria dan Yusuf bersama Yesus adalah keluarga kudus dari Nazaret. Inspirasi kesetiaan bagi keluarga, pasutri dan masyarakat kita. 

Tuhan memberkati,

PJ-SDB