Wednesday, November 23, 2011

Renungan 23 Nopember 2011


Dan 5:1-6.13-14.16-17.23-28
Mzm Dan 3:62.63.64.65.66.67
Luk 21:12-19



Kalau kalian tetap bertahan, kalian akan memperoleh hidupmu



Seorang sahabat pernah berkata kepadaku, “Menjadi pengikut Kristus ternyata tidak gampang. Banyak kesulitannya daripada kebahagiaan. Harus memikul salib, harus berani menjadi martir. Peraturan atau hukum gereja juga ribet.” Masih banyak yang ia sampaikan tetapi pada akhirnya ia menghibur diri dengan mengatakan, “Semua pengalaman pahit ini saya rasakan sebagai sebuah panggilan dari Tuhan.”

Pengalaman sederhana ini bukan hanya dialami oleh sahabat saya tetapi hampir semua pengikut Kristus merasakan pengalaman yang sama. Santu Paulus merasa bersukacita ketika dia harus menderita untuk Kristus. Ia berkata, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya,yaitu jemaat” (Kol 1:24). Maka tepat apa yang dikatakan oleh sahabatku ini: “Semua pengalaman pahit adalah panggilan untuk dihayati sebagai pengikut Kristus.”

Setelah Yesus memperhatikan ungkapan kekaguman banyak orang karena kemegahan Bait Allah maka Ia berkata kepada para muridNya untuk mempersiapkan diri menghadapi tanda-tanda zaman sebagai pengikutNya. Bahwa para muridNya harus setia dalam iman ketika mengalami hambatan dan tantangan hidup. Ia berkata, “Akan datang harinya kalian ditangkap dan dianiaya. Karena namaKu kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat, di masukan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja-raja dan para penguasa.” Para murid juga diharapkan memberi kesaksian yang benar tentang kasih Allah di saat mereka mengalami penderitaan: “Aku sendirilah yang akan memberi kata-kata hikmat, sehingga kalian tidak dapat ditentang dan dibantah oleh lawan-lawanmu.” Para murid juga dapat mengalami pengalaman Yesus yakni dikejar dan dihina tetapi Ia bertahan sampai tuntas. Pengalaman ini dialami dengan orang-orang yang dekat: kaum keluarga misalnya. Tetapi ia berjanji dan menasihati: “Tidak sehelai rambutmu akan hilang. Bertahanlah!” Yesus adalah andalan utama: Dia bukan hanya memberi teladan tetapi akan menyertai para muridNya selamanya.

Untuk dapat bertahan dalam segala penderitaan maka perlu iman yang kuat untuk merasakan kehadiran Yesus sehingga berani bersaksi. Daniel sang penafsir mimpi menujukkan teladan iman yang kuat di hadapan raja Belsyazar. Ia tidak menjadi murtad. Dia bahkan menolak harta, kekuasaan dan jabatan. Tiga hal yang sebetulnya merupakan godaan yang besar bagi setiap manusia. Orang dapat menjadi murtad karena harta, kekuasaan dan jabatan.

Hari ini Sabda Tuhan mengarahkan kita untuk setia  dalam iman sekalipun banyak penderitaan yang kita alami.

Doa kita: “Tuhan kuatkanlah kami supaya kami dapat bertahan dalam iman”.

PJSDB

Tuesday, November 22, 2011

Renungan 22 Nopember 2011


St. Sesilia
Dan 2:31-45
Mzm/Daniel 3: 57.58.59.60.61
Luk 21:5-11


Tanda-tanda zaman

Banyak orang yang mudah jatuh cinta dengan orang atau suatu barang tertentu. Seorang anak misalnya,  merengek meminta dibelikan boneka. Ibunya berusaha meyakinkan bahwa boneka plastik itu mudah pecah dan terbakar. Tetapi anak itu akan mengatakan entah mudah pecah atau terbakar, yang penting bonekanya bagus dan lucu! Saya memerlukannya. Seorang ibu rumah tangga suka mengikuti gaya hidup dengan gadget yang macam-macam. Ketika ditanya manfaatnya, ia menjawab untuk bisa nelpon dan sms. Begitulah berbagai pengalaman hidup yang berawal dari sikap: mudah terpesona dan jatuh cinta pada barang yang fana.

Para murid Yesus mengagumi bangunan bait Allah yang indah. Bangunan bait Allah yang dibangun sekitar tahun 515 SM dan diperbaharui oleh Herodes Agung pada tahun 20SM ini memang nampak indah dan mempesona bukan hanya bagi orang-orang Israel di Palestina tetapi tersebar di seluruh kerajaan Romawi. Sebagai bangunan bercorak Helenistis, Bait Allah memiliki batu-batunya yang bagus dan indah juga persembahan-persembahan yang membuat Bait Allah memiliki daya tarik tersendiri. Para murid akhirnya kandas dalam keterkaguman mereka ketika Yesus berkata, “Akan tiba harinya segala yang kalian lihat disitu diruntuhkan dan tidak ada satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain”. Apa yang dikatakan Yesus ini menjadi kenyataan di mana pada tahun 70 orang-orang Romawi menghancurkan Bait Allah di Jerusalem. Ya segala sesuatu yang ada di atas dunia itu fana. Bangunan akan hancur, semua harta kekayaan akan hilang, manusia akan meninggal dunia maka yang terpenting dari semuanya ini adalah iman yang kuat kepada Tuhan.

Di samping mengatakan tentang hancurnya Bait Allah yang dikagumi karena kemegahan dan keindahannya, Yesus juga mengutarakan tanda-tanda zaman sehingga membuat murid-muridNya dapat siap atau waspada. Akan ada nabi-nabi palsu yang mengakui dirinya Mesias tetapi Yesus mengatakan, “Jangan ikuti mereka”. Ada perang dan pemberontakan, bangsa melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Ada fenomena-fenomena alam seperti gempa bumi dan tsunami dan aneka penyakit. Semua ini tentu menakutkan. Yesus sendiri mengakui sebagai hal yang mendahului segala sesuatu tetapi tidak berarti kesudahannya akan datang segera. Sekali lagi kekuatan iman diperlukan oleh setiap pribadi.

Iman yang kuat kepada Yesus yang akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Iman itu juga akan membuat orang bertahan dalam segala situasi hidupnya bahkan menghadapi akhir zaman dengan berbagai tanda-tanda zaman yang ada. Kisah Daniel dan teman-temannya dalam bacaan pertama membantu kita untuk beriman dengan kuat dalam situasi hidup yang kadang kurang menguntungkan. Mereka tetap melayani raja Nebukhadnesar yang dianggap tidak percaya pada Jahve. Apakah dengan melayani raja, mereka menjadi murtad? Mereka justru merasa dikuatkan oleh Jahve dan supaya mereka percaya kepadaNya. Sama seperti mereka, pengalaman keseharian kita misalnya adanya diskriminasi dalam pekerjaan dan kebebasan beragama adalah contoh tantangan yang seharusnya membuat kita semakin berani untuk melayani dan berjuang sebagai murid Kristus. Apakah kita harus takut dengan tanda-tanda zaman yang menakutkan?

Santa Sesilia, doakanlah kami.

PJSDB

Monday, November 21, 2011

Renungan 21 Nopember 2011

Bunda Maria dipersembahkan
Dan 1:1-6.8-20
Mzm/Dan 3: 52.53.54.55.56
Luk 21: 1-4

Berikanlah segalanya untuk Tuhan

Tuhan Yesus mengingatkan para muridNya untuk tidak mengikuti kebiasaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang sering menyombongkan diri mereka dengan menerima salam di pasar, berpakaian yang khusus supaya dikenal orang, atau duduk di tempat-tempat terhormat (Luk 20: 46-47). Untuk memperjelas pengajaranNya ini, Yesus mengambil contoh seorang janda miskin yang ikut memberi persembahan sesuai intensinya di dalam Bait Suci.
 Di dalam lingkungan yang berbudaya patriarkal, para janda patut dibantu dengan santunan tertentu karena mereka dianggap kehilangan yang paling berharga yakni suami. Dengan demikian dia memiliki ketergantungan pada sesama dan sesama memiliki tanggungjawab untuk memeliharanya. Para janda dan anak-anak yatim piatu menurut Taurat patut diperhatikan dengan baik (Kel 22:22;Ul 14:29).
Ketika mengamati semua orang yang mempersembahkan persembahan di dalam Bait Suci, Yesus melihat semua orang kaya mengisi 13 kotak persembahan di dalam Bait Suci dengan bangga sambil memperlihatkan berapa banyak uang yang mereka persembahkan. Sementara janda miskin ini mempersembahkan dua peser yaitu duit yang nilainya sama dengan membeli satu porsi makan. Dia hanya punya dua peser, tak ada lagi uang yang lain. MakaYesus mengatakan bahwa janda ini memberi seluruh yang dimilikinya. Logikanya: setelah ini dia akan makan apa? Sebetulnya janda ini tahu bahwa kalau dia memberikan semua uang yang dimilikinya maka nantinya dia juga akan menerima santunan dari orang lain.

Fokus dari pengajaran Yesus bukan semata-mata terletak pada sikap janda miskin  yang memberi segalanya. Apa yang dilakukan janda itu adalah aturan dalam agama sebagai orang Yahudi dan harus dipatuhi. Yesus justru lebih menekankan pada iman dan harapan sang janda itu pada Tuhan. Janda itu memberi seluruh nafkahnya karena dia percaya Tuhan pasti akan membantu. Dengan demikian janda mengharapkan berkat baru atau penyelenggaraan ilahi dari Tuhan melalui para petugas Bait Suci. Dia memberi segalanya karena dia punya harapan bahwa Tuhan akan mencukupkan kebutuhannya. Pada saat yang sama, Yesus juga meneguhkan para rasulNya yang telah meninggalkan segalanya untuk mengikutiNya. Sikap lepas bebas ini membuat mereka menaruh harapan pada penyelenggaraan ilahi. Hidup mereka seluruhnya dicukupkan oleh Tuhan.
SabdaTuhan hari ini mengingatkan kita untuk bersikap sebagai seorang anawim yang berharap pada Tuhan. Jaminan hidup kita tidak tergantung pada kekayaan, kuasa dan prestasi. Apabila kita mau memberi sesuatu jangan menunggu sampai berkelimpahan, tetapi berikanlah apa yang kita miliki sekarang dan Tuhan akan mencukupkannya. Janda itu memberi seluruh yang ia miliki, para rasul memberi segalanya untuk Tuhan dan mengikutiNya setiap hari. Dan bagaimana dengan kita? Kita perlu menunjukkan kesetiaan kita sebagai anak-anak Tuhan seperti yang dilakukan oleh Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Kesetiaan dalam iman membuat kita mampu berbagi dengan Tuhan dan sesama. 
Di samping keempat orang di atas, Bunda Maria dan para Rasul juga menjadi model pribadi yang memberi dirinya sampai tuntas untuk Tuhan. Mereka tak pernah kekurangan dalam hidup. Apakah kita juga dapat menyerupai Bunda Maria dan para Rasul?
Doa: Tuhan kuatkanlah kami, semoga kami mampu mempersembahkan diri kami kepadaMu. Amen. 
PJSDB

Sunday, November 20, 2011

Homili Hari Raya Tuhan Yesus Raja Semesta Alam

Yehezkiel 34:11-12.15-17
Mzm 24:1-2.2-3.5-6
1Kor 15:20-26.28
Mat 25:31-46


Dia akan mengadili kita berdasarkan perbuatan kasih

Raja dalam pandangan umum selalu berhubungan dengan seorang leader yang punya kharisma khusus dalam kelompok masyarakatnya. Peran sebagai raja ini berdampak turun temurun. Orang selalu mengatakan orang ini "keturunan raja" atau orang itu "berdarah biru". Sapaan ini pasti punya pengaruh dalam masyarakat. Rasa hormat pun patut diberikan kepada Raja dan keturunan. Akan ada sangsi sosial kalau raja atau keturunannya tidak dihormati. Di daerah tertentu seperti Pulau Sumba pernah memiliki tradisi yang kuat yakni apabila sang raja meninggal dunia maka seorang hamba harus dibunuh lalu dijadikan alas bagi tubuh sang raja di dalam kuburan.

Hari ini kita merayakan Hari RayaTuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam bertepatan dengan Hari Minggu biasa ke-34. Tentu bayangan kita tentang Yesus bukan hanya tentang hal-hal ilahi karena Yesus adalah Tuhan, tetapi Dia juga sebagai manusia yang diberi gelar raja semesta alam. Dia ada sebelum dunia dijadikan dan Dia yang empunya segala sesuatu di atas dunia. Ini berarti daerah kekuasaanNya adalah seluruh bumi. Jadi kuasaNya melebih semua raja dan penguasa di atas bumi ini. Ada kekaguman yang luar biasa dari umat manusia. Ya benar, Dia Raja semesta alam! Tetapi seorang Raja semesta alam yang tidak seperti dibayangkan manusia. Hal ini terungkap dalam bacaan-bacaan suci hari ini.

Yehezkiel dalam Bacaan pertama menggambarkan Tuhan sebagai seorang gembala yang baik yang senantiasa memperhatikan domba-dombaNya satu persatu sesuai dengan keadaannya. Apa yang Ia lakukan? Ia akan mencari yang tersesat, tercerai berai dan Dia sendirilah yang mau menyelamatkan domba-dombaNya. Mereka yang tersingkir atau terluka sekalipun mendapat perhatian besar dari sang gembala. Tuhan sebagai raja merelakan dirinya sebagai gembala bagi domba. Ia melayani dengan kasih. Tuhan juga mengingatkan umatnya bahwa apa bila mereka berlaku tidak adil terhadap sesama maka patutlah mereka mendapat hukuman.

Santu Paulus dalam bacaan kedua mengatakan Kristus sebagai Raja yang menguasai segala sesuatu, bahkan musuh pun bertekuk lutut di bawah kakiNya. Dia adalah raja yang berkorban melalui, wafat dan bangkit bagi keselamatan manusia. Kristus juga telah memerdekakan kita dari segala kekuasaan yang telah menindas dan menyeret ke alam maut dengan wafat dan kebangkitanNya. Orang-orang percaya akan diberkati Tuhan untuk selama-lamanya.

Matius dalam Injil mengatakan Yesus adalah seorang Raja yang hadir di dalam diri orang-orang kecil. Yesus sendiri datang untuk melayani orang-orang kecil. Maka tugas panggilan kita adalah melayani sesama yang paling hina karena dengan demikian kita juga melayani Yesus sendiri. Yesus berkata: "Sesungguhnya apa yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara yang paling hina, kalian telah melakukannya untuk Aku." Ini juga menjadi motivasi yang kuat bagi para pekerja. Mereka tidak memiliki apa-apa tetapi hanya memiliki Tuhan di dalam hidup mereka.

Sabda Tuhan ini menguatkan kita karena pada saatnya nanti, kita semua akan diadili berdasarkan perbuatan kasih yang telah dilakukan di dunia ini bagi saudara-saudara yang paling hina. Artinya kita harus berani ikut ambil bagian dalam penderitaan sesama seperti Yesus sendiri yang menderita untuk kita. Yesus adalah seorang Raja, hakim yang adil dan pelayan yang setia.

Sabda Tuhan pada hari ini juga mengingatkan kita akan meterai Rajawi yang diberikan Tuhan kepada kita pada saat pembabtisan. Kita menjadi serupa dengan diriNya: Melayani dengan semangat gembala baik, rela berkorban untuk kebahagiaan sesama bahkan nyawa sebagai taruhannya dan keberpihakan pada orang-orang kecil dan terlantar. Semua karya dan pelayanan kita semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan. Christus vincit, Christus Regnat,Christus imperat. PJSDB

 

Saturday, November 19, 2011

Renungan 19 Nopember 2011

Bacaan I: I Mak 6:1-13
Mazmur  9: 2-4.6.16.19
Injil: Luk 20:27-40





Allah orang yang hidup bukan orang mati




Kaum Saduki adalah sebuah partai atau kelompok yang pernah ada dalam kalangan orang Yahudi pada zaman Yesus. Partai ini terdiri dari kaum imam aristokratis dan para pendukung mereka. Mereka hanya menerima Taurat yang tertulis dan menolak tradisi lisan yang berkembang terutama di kalangan orang-orang Farisi. Mereka tidak percaya pada kebangkitan badan karena bagi mereka, hal ini tidak ditulis di dalam Taurat.

Mereka lalu mencobai Yesus dengan pertanyaan seputar perkawinan Levirat menurut hukum Musa yakni perkawinan antara saudara laki-laki dengan isteri (janda) dari saudaranya yang sudah meninggal. Anak yang akan lahir biasanya menjadi ahli waris saudara yang sudah meninggal (Ul 25:5-10). Bagaimana situasi perempuan yang dikawini tujuh bersaudara ini pada hari kebangkitan? Siapa yang akan menjadi suaminya karena mereka mengawininya tetapi tidak memberikan anak kepada perempuan itu? Yesus dengan bijaksana dan kuasa menjelaskan bahwa hidup yang akan datang bukanlah kelanjutan dari hidup sekarang di atas dunia ini. "Bagi mereka yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain akan seperti malaikat-malaikat dan menjadi anak-anak Allah" ( Luk 20: 35.37; Kej 6:2). Yesus lalu menutup penjelasannya dengan berkata: " Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, karena di hadapan Dia semua orang hidup."


Kisah Injil ini menarik perhatian kita. Allah yang diimani adalah Allah orang hidup dan bukan Allah orang mati. Di hadapan Allah semua orang hidup! Maka dengan sendirinya setiap orang yang hidup dan percaya memiliki kiblat hidup yang selalu menuju kepada Allah. Setiap orang akan mengalami kehidupan kekal yakni hidup seperti malaikat (pelayan Tuhan) dan sebagai Anak Allah. Ini juga menjadi satu janji Tuhan Yesus. Janji ini akan terpenuhi karena Dia sendiri berkata: "Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, Percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Aku pergi menyiapkan tempat dan datang kembali dan membawa kamu supaya di mana Aku berada, kamu juga berada." (Yoh 14:1-3).


Namun sering kali kita juga masih dikuasai oleh kejahatan-kejahatan yang menjauhkan kita dari Tuhan. Tuhan boleh menjanjikan tempat kekal bagi kita tetapi bagaimana kalau kita sendiri tidak bersedia menghuni tempat itu? Mengapa? Karena napsu untuk menguasai orang lain, membuat orang lain menderita, gila harta seperti yang dialami oleh Raja Antiokhus (bacaan I) masih menguasai dan menyenangkan kita. Raja Antiokhus mati dalam situasi yang mengerikan karena perbuatan jahatnya bagi orang lain. Kita harus menyadari bahwa kejahatan akan kalah karena kejahatan juga punya batasnya. Tuhan yang hidup, Dialah yang berkuasa atas segalanya.


Hari ini kita diajak oleh Tuhan untuk menghargai hidup di dunia ini karena hidup di dunia ini merupakan cerminan kehidupan ilahi kelak. Hidup yang senantiasa berkiblat kepada Tuhan. Biarkan diri kita di pimpin oleh Roh Kudus menuju kepada Bapa dan Putera. Kita juga bersyukur kepada Tuhan karena Dia adalah Allah yang hidup, Bapa yang kekal yang senantiasa mengasihi kita. Dia akan menjadikan kita seperti malaikat dan anakNya sendiri. Berbanggalah memiliki Allah seperti Dia. El Shadai. PJSDB

Friday, November 18, 2011

Renungan 18 Nopember 2011


Bacaan-bacaan:
IMak 4:36-37.52-59
Mzm 1Taw 29:10-12
Luk 19:45-48



Rumahku adalah rumah doa



Kita percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Kemanusiaan Yesus ditinjukkan dengan ungkapan perasaanNya: menangis! Yesus menangisi Lazarus sahabatNya yang sudah meninggal dunia (Yoh 11:35 ). Yesus menangisi Yerusalem (Dominus Flevit) karena Yerusalem menutup dirinya terhadap keselamatan yang datang dari Tuhan dalam diriNya (Luk 19:44). Setelah menangisi Yerusalem dan memprediksikan hancurnya kota damai ini, Yesus lalu menuju ke Bait Allah. Bait Allah adalah pusat peribadatan yang mempersatukan Tuhan dan umatNya. Semua mata tertuju ke Jerusalem. Disanalah keselamatan itu terpenuhi.

Yesus yang masuk ke dalam Bait Allah laksana seorang nabi yang berbicara dan menyadarkan Umat Allah. Di Bait Allah, Yesus juga menunjukkan kuasaNya sebagai Anak Allah. Ia membersihkannya dan menyiapkan tempat itu untuk pengajaranNya.  (Luk 20: 1-21.38). Apa yang Yesus lakukan? Ia masuk ke dalam Bait Allah, dan mengusir semua pedagang. Kuasa yang ditunjukkan atas Bait Allah diungkapkan seperti ini: “Rumahku adalah rumah doa, tetapi kalian menjadikannya sarang penyamun!” (Yes 56:7; Yer 7:11). Kuasa Yesus atas Bait Allah ini sejalan dengan apa yang sudah dinubuatkan Maleakhi: “Lihat Aku menyuruh utusanKu supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu. Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke dalam baitNya! Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak dan mentahirkan orang Lewi..” (Maleakhi 3:1.3).

Yesus tidak hanya mengusir para pedagang yang telah mengotori Bait Allah. Ia juga menegur para pemimpin Yahudi (para imam kepala dan ahli-ahli taurat) yang tidak peka terhadap kekudusan Rumah Tuhan. Para pemimpin Yahudi ini seolah-olah tidak mengerti makna Bait Allah. Bagi Yesus, sikap para pemimpin turut menghancurkan Bait Allah. Itu sebabnya Ia mau mengusir para pedagang dan mengajar di dalam bait Allah sekaligus menatanya kembali. Tetapi para imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan bagaimana membunuh Yesus.

Upaya membersihkan bait Allah juga pernah terjadi ketika Yudas Makabe bersama saudara-saudaranya berjuang untuk mentahbiskan Bait Allah yang sudah tercemar. Bait Allah yang sudah mengalami profanasi ditahbiskan sekali lagi untuk menjadi tempat kudus yang mempersatukan Tuhan dan umatNya. Ibadah merupaka saat untuk bersatu dengan Tuhan. Ibadah juga menunjukkan kesetiaan sebagai umat dengan Tuhan sendiri. Dengan demikian bait Allah adalah tetap diingat sebagai tempat Allah menjumpai umatNya. Ia berbicara dari hati ke hati dengan umat kesayanganNya.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk menyucikan rumah Tuhan sebagai rumah doa dan rumah untuk mendengarkan Sabda Tuhan.

Bagi kita saat ini, rumah Tuhan adalah bangunan Gereja sebagai pusat peribadatan kita. Gereja kita ditahbiskan oleh Uskup sebagai pimpinan gereja lokal. Kita harus jujur di hadirat Tuhan karena banyak kali Gereja dijadikan sarang penyamun: tempat transaksi bisnis, ngobrol selama ibadat, jumpa fans, negatif thinking sama orang yang ke Gereja, berpakaian yang tidak sopan dan lain-lain. Kita keliru dan berpikir bahwa Rumah Tuhan sama dengan mall atau tempat berrekreasi di akhir pekan.

Di samping Gereja sebagai bangunan, Bait Allah adalah tubuh kita sendiri. Santu Paulus menasihati bahwa Tubuh kita adalah tempat tinggal Roh Kudus. Tubuh kita menjadi sarang penyamun ketika Tubuh kita disalahgunakan atau dilecehkan untuk kepuasan manusiawi. Ketika tubuh kita seakan dianggap tidak memiliki nilai atau martabat. Maka sikap yang tepat adalah hargailah nilai-nilai kehidupan, hargailah tubuh kita dan sesama sebagai tempat tinggal Tuhan sendiri.

Bait Allah juga menjadi simbol kehadiran Tuhan selamanya (surga). Maka hidup kita seharusnya selalu terarah ke surga, rumah Allah yang kekal. Satu-satunya kerinduan kita adalah tinggal di rumah Tuhan seumur hidup kita.

Doa kita: Tuhan, betapa indah rumahMu. 

PJSDB

Thursday, November 17, 2011

Renungan 17 Nopember 2011

Bacaan : IMak 2:15-29
Mazmur: 50: 1-2.5-6.14-15
Lukas: 19:41-44

Harga sebuah tangisan

Injil memberi kesaksian bahwa Yesus dua kali menangis. Ia menangisi Lazarus sahabatNya (Yoh 11:35) dan perikop hari ini: Yesus menangisi kota Yerusalem. Dua kesempatan ini mau menunjukkan bahwa di samping Yesus diakui sebagai sungguh-sungguh Allah, Ia juga sungguh manusia. Mengapa Yesus menangisi Yerusalem? Karena Ia mengetahui kebutaan Jerusalem yang tidak mengenal Dia sebagai Mesias, Anak Daud.

Sebenarnya dalam sejarah Israel, Nabi Jeremia juga terkenal sebagai nabi yang mendukung reformasi Raja Josia dalam kehidupan beragama. Setelah Josia meninggal, orang Israel kembali lagi menyembah berhala. Jeremia lalu meratapi seluruh Yehuda dan Yerusalem (Yer 8: 18-22). Konsekuensinya Yerusalem dihancurkan oleh orang Babilonia. Dengan pewartaan kenabiannya itu, Jeremia juga dikucilkan dalam penjara bahkan sempat dibuang ke Mesir. Pengalaman Jeremia sangat mirip dengan pengalaman Yesus. Yesus juga pergi ke Yerusalem untuk ditangkap dan dianiaya, dipenjarakan, bahkan disalibkan oleh orang-orang sebangsanya sendiri.

Kini Yesus memasuki kota Yerusalem dengan sebuah tangisan mesianis. Ia berkata, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” Kedatangan Yesus di kota Yerusalem atau kota damai merupakan kedatangan terakhir Yesus versi Lukas untuk mewujudkan kedamaian. Berulangkali Yerusalem dalam hal ini umat Allah disadarkan untuk bertobat tetapi tidak dapat dilaksanakan. Yerusalem tidak mau mengenal Yesus sebagai Mesias yang dinantikan. Dalam sejarah Israel, Yerusalem juga akhirnya diuntukan orang Romawi pada tahun 70. Dalam situasi seperti ini, Tuhan senantiasa memberi kesempatan supaya mereka dapat berubah di dalam hidupnya. Tetapi cara Tuhan melalui kesabaranNya pun ternyata tidak mempan.

Pengalaman Yerusalem dapat juga menjadi pengalaman kita. Banyak kali kita menutup hati kita dan tidak terbuka pada Tuhan. Betapa kasih karunia dari Tuhan terkadang sia-sia saja karena kita tidak menyadari bahwa Allah melawati kita melalui Yesus Kristus. Tuhan juga sabar dengan kita tetapi banyak kali kita menutup diri. Mungkin kita malu karena kita orang berdosa. Padahal justru Tuhan datang untuk menyelamatkan kita yang tersesat.

Sikap menutup diri juga di alami oleh banyak orang. Sadar atau tidak sadar banyak yang menjadi murtad karena harta, kekuasaan dan kedudukan (status sosial). Begitu mudahnya manusia meninggalkan Tuhan tanpa kompromi apa pun demi alasan sepeleh. Terkadang kritikan pedas terhadap agama sebagai lembaga tanpa memikirkan bahwa dia juga memeluk agama yang sama. Kitab Pertama Makabe menghadirkan contoh Matatias yang berusaha mempertahankan kesetiaan imannya kepada Jahve. Ia mengandalkan keyakinan sendiri dalam berjuang. Dalam situasi apa saja, Matatias menjadi inspirator bagi kita untuk bertahan dalam iman.

Yesus menangisi Yerusalem, Yesus juga menangisi umat kesayanganNya yang tidak mau bertobat. Apakah kita masih punya perasaan malu kalau merenungkan Yesus yang meskipun Tuhan tetapi masih menangisi diri kita yang tak mau bertobat. Sikap berjaga-jaga yang perlu kita bangun adalah sikap rendah hati di hadapan Tuhan. Dia mengenal kita dari luar dan dalam. Berserulah kepada Tuhan saat ini juga: “Semoga tangisanMu mengubah hidupku! PJSDB