Thursday, June 7, 2012

Renungan 7 Juni 2012

Hari Kamis Pekan Biasa IX
2Tim 2:8-15
Mzm 25: 4 bc-5ab. 8-9
Mrk 12:28b-34
Mengasihi lebih sungguh!
Seorang ahli Taurat datang dan bertanya kepada Yesus tentang perintah mana yang paling utama. Yesus tidak berpikir untuk mengambil ide-ide dari sepuluh perintah Allah yang sudah sangat populer di kalangan orang Yahudi. Tetapi karena Yesus berhadapan dengan seorang pakar Taurat maka Ia mengambil contoh langsung dari Kitab Suci. Yesus menjawab, “Perintah yang paling utama ialah, ‘Dengarlah, hai Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu (Ul 6:4-5). Dan perintah yang kedua ialah Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Im 19:18)’ Tidak ada perintah lain yang lebih utama dari kedua perintah ini.” Ahli Taurat itu mengakui bahwa jawaban Yesus itu benar maka Yesus pun mengatakan kepadanya bahwa ia tidak jauh dari Kerajaan Allah. 
Mengasihi Allah dan mengasihi sesama bukanlah sebuah perintah seperti kesepuluh perintah Allah. Perintah-perintah Allah itu menunjukkan hal-hal yang spesifik yang harus di lakukan atau dihindari oleh manusia. Perintah Allah juga lebih berhubungan dengan tuntutan hati nurani manusia. Misalnya jangan mencuri. Ini adalah satu hal yang spesifik yang harus dihindari karena bertentangan dengan prinsip keadilan sosial dalam hidup bersama. Mengasihi Allah itu cakupannya lebih luas. Totalitas kehidupan manusiawi kita tertuju pada Tuhan. Tuhan Allah juga merupakan Pribadi yang harus dicintai di atas segalanya (Mat 6:9-10; Yes 4:17). Mengasihi Allah dalam diri Yesus (2Kor 5:16; 1Ptr 1:8). Kasih yang otentik hanya kepada Allah ( 1Yoh 5:2).
Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati berarti hati kita hendaknya terbuka pada semua rencana dan kehendakNya. Dia adalah fokus kasih kita. Konsekuensinya adalah kita harus merindukan Dia, berani melupakan diri sendiri dan hanya berfokus pada Tuhan sendiri saja. Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap akal budi berarti menggunakan akal budi untuk mengenal Dia. Dialah yang menuntun seluruh hidup kita. Tugas kita adalah berdoa, mengucap syukur dan menyembahNya. Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan berarti dengan segala kelemahan manusiawi yang kita miliki, kita memohon kekuatan dariNya untuk terus menerus mengasihiNya. 
Yesus mengatakan bahwa perintah kedua sama dengan perintah pertama yakni mengasihi sesama sama seperti mengasihi diri sendiri. Perintah ini dapat dilaksanakan kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Allah. Hukum kasih inilah yang membuat kita sungguh-sungguh menjadi murid Kristus: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu apabila kamu saling mengasihi satu sama lain” (Yoh 13:35). 
Paulus mewujudkan hukum kasih ini dengan kehidupannya yang nyata sebagai rasul. Tanda cintanya kepada Tuhan ia tunjukan ketika mewartakan kebangkitanNya. Ia bersaksi, “Yesus Kristus keturunan Daud telah bangkit dari kematianNya.” Paulus menderita supaya Injil dapat dikenal banyak orang dan mereka memperoleh keselamatan. Dengan tegas ia berkata, “Jika kita mati dengan Kristus, kita pun akan hidup dengan Dia.Jika kita bertekun, kita pun akan memerintah bersama Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya” Pada akhirnya Paulus menasihati Timotius, “Berusahalah agar engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang mewartakan Sabda kebenaran itu dengan terus terang”.
Kita semua sudah mengenal hukum kasih yakni mengasihi Tuhan dengan seluruh totalitas kehidupan kita dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri. Pengenalan hukum kasih secara kognitif itu mudah diingat tetapi sulit untuk dihayati di dalam hidup. Di dalam Kitab ulangan, orang Israel diajak untuk mendengar, “shema” terlebih dahulu kemudian melakukannya. Kalau tidak mendengar dengan baik bagaimana kita dapat mengasihi Allah dan sesama? Bagaimana anda mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan? Bagaimana anda mengasihi sesama, dalam hal ini “para musuh dikasihi dan orang yang menganiaya juga didoakan?” (Mat 5:44). Yohanes berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya, dia seorang pembohong” (1Yoh 4:20)
Mari kita membenahi diri kita dan mengasihi lebih sungguh. Ingat, mengasihi Tuhan sama dengan mengasihi sesama kita.
Doa: Tuhan, semoga saya mampu mengasihi Engkau dan sesama saya. Amin
PJSDB

Wednesday, June 6, 2012

Renungan 6 Juni 2012

Hari Rabu Pekan Biasa IX
2Tim 1:1-3.6-12
Mzm 123:1-2a.2bcd
Mrk 12:18-27
“Mereka hidup seperti Malaikat di Surga!”
Dalam ritus perkawinan Gereja Katolik, para pasutri ketika membaca janji nikah terdapat kalimat: “Sampai maut memisahkan kita”. Kalimat singkat ini mengisyaratkan beberapa hal. Pertama, bahwa suami isteri itu dipanggil dan dipersatukan satu kali untuk selamanya. Kedua, tidak seorang pun yang berkuasa untuk memisahkan suami dan istri. Hanya “saudara maut” yang dapat memisahkan mereka. Ketiga, Hanya “Saudara maut boleh memisahkan tetapi hidup kekal tetap menjadi jaminan dari Tuhan. 
Persoalan yang di hadapi dalam masyarakat kita adalah persis yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini. Orang-orang saduki yang tidak percaya pada kebangkitan mempertanyakan “perkawinan levirat” kepada Yesus. Perkawinan levirat adalah perkawinan antara seorang janda dengan saudara kandung suaminya yang sudah meninggal dunia berdasarkan adat istiadat dalam masyarakat bersangkutan. Jadi diharapkan bahwa anak yang lahir akan menjadi milik saudara yang sudah meninggal sekaligus sebagai ahli warisnya. Kaum Saduki memberi contoh seorang wanita yang menikah, kemudian suaminya meninggal dan wanita itu karena alasan perkawinan levirat menikah lagi dengan para saudara suaminya sampai tujuh bersaudara itu menikahinya. Pertanyaan orang Saduki adalah siapa yang akan menjadi suami wanita itu kelak pada hari kebangkitan orang mati? Pertanyaan kaum saduki ini juga menjadi pertanyaan aktual bagi para pasutri di zaman ini: Siapa yang akan menggandeng istrinya atau suaminya di surga? Bagaimana dengan duda atau janda yang menikah lagi, siapa suami atau isteri sah di Surga?
Yesus dengan kuasanya menjaga dan melindungi umat kesayanganNya. Ia menebus dan memberi hidup baru kepada semua umat kesayangannya. Maka ketika berhadapan dengan kasus perkawinan ini Yesus berkata kepada kaum Saduki, “Kalian sesat, justru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin dan dikawinkan. Mereka itu seperti Malaikat di surga”. Ya, Malaikat adalah para pembantu Tuhan. Jadi selama-lamaNya mereka tetap melayani Tuhan. Dengan kata-kata Yesus ini membuat kita mengerti bahwa Dia memiliki rencana dan kehendak bagi semua orang yang percaya kepadaNya. Rencana dan kehendak yang terbaik adalah membangkitkan manusia dari kematian, memberikan hidup baru kepada yang memiliki harapan padaNya. Kebangkitan badan adalah jaminan dari Tuhan karena "Dia bukanlah Allah orang mati melainkan Allah orang hidup".


Tuhan Yesus pernah membangkitkan dua orang. Ia membangkitkan Putri Yairus (Mrk 5:41) dan Lazarus (Yoh 11:1-44). Kedua orang ini memperoleh kembali kehidupan sebelum mereka meninggali. Putri Yairus bertumbuh menjadi dewasa kemudian meninggal seperti biasa. Lazarus tetap bekerja di kebun kemudian dia juga akan meninggal sekali lagi. Kedua peristiwa kebangkitan ini bukanlah kebangkitan sejati. Kebangkitan badan itu mengacu pada transformasi dan pengangkatan totalitas pribadi kita. Hal ini dapat terjadi karena rahmat dan karya Allah dan bahwa kita dapat lahir kembali dalam Allah. Dari situ perkataan Yesus kepada kaum saduki sangat tepat. Mereka tidak mengerti kuasa Allah, tetapi hanya membayangkan kebangkitan macam apa yang akan dialami manusia. Mereka juga tidak mengerti Kitab Suci, padahal semua isi Kitab Suci mengacu pada Allah yang hidup bukan Allah orang mati.
Paulus juga percaya bahwa saudara maut hampir menjemputnya. Oleh karena itu ia menulis surat kepada Timotius untuk memberi semangat dalam mewartakan Injil. Semangat yang dialami Paulus dalam mewartakan Injil dibagikannya kepada Timotius untuk diwariskan turun temurun bagi dalam Gereja. Paulus menulis, “Anakku, kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai engkau”. Paulus juga merasa bersyukur kepada Tuhan karena telah melayani Tuhan dengan hati nurani yang murni. Banyak kali Paulus menderita karena Injil, tetapi ia selalu bangga dan mengatakan, “Celakalah aku kalau tidak mewartakan Injil” (1Kor 9:16). 
Paulus juga mendorong Timotius untuk teguh kepada Tuhan. Mengapa? Karena menurut Paulus, “Allah memberi kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.” Paulus menambahkan bahwa Allah memanggil dan menguduskan kita bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan semata-mata karena maksud dan kasih karuniaNya sendiri. Pada akhirnya Paulus mengakui imannya dengan berkata, “Sebab aku tahu siapa yang kuandalkan, dan aku yakin bahwa Dia yang berkuasa memelihara apa yang dipercayakanNya kepadaku hingga pada hari Tuhan.”
Sabda Tuhan mengubah cara pikir dan cara pandang kita tentang kehidupan kekal. Pada saatnya nanti kita semua seperti para Malaikat yang siang dan malam melayani Tuhan. Tidak ada lagi relasi manusiawi seperti kawin dan dikawinkan. Seluruh hidup kita diubah total oleh Yesus menjadi hidup baru dan kekal. Apa yang harus kita lakukan? Kita perlu belajar dari kehidupan Paulus yang “melayani Tuhan selama-lamanya”. Paulus yang bangga dengan keterpilihannya sebagai rasul: “Untuk Injil inilah aku ditetapkan sebagai pewarta, rasul dan guru”. 
Kita juga diajak untuk berani bersaksi tentang Kristus. Paulus adalah model yang tepat untuk memberi kesaksian sebagai pelayan Tuhan. Menderita demi Injil adalah sebuah kebanggaan. Apakah kita memiliki waktu untuk melayani Tuhan? Apakah kita pernah hitung-hitungan dengan Tuhan saat melayaniNya? 
Doa: Tuhan, jadikanlah aku pelayan kasihMu. Amen
PJSDB

Tuesday, June 5, 2012

Renungan 5 Juni 2012

St. Bonifasius, Martir
2 Pt 3:12-15a.17-18
Mzm 90: 2.3-4.10.14.16
Mrk 12:13-17
Manusia, Ingatlah bahwa engkau Gambar Allah!
Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta Santo Bonifasius. Bonifasius dengan nama kecil Winfred lahir di Kirton, Inggris pada tahun 672. Ia berasal dari keluarga bangsawan. Ketika menjadi dewasa ia masuk menjadi biarawan Benediktin. Pada usia ke-30 ia ditahbiskan menjadi imam dan menjadi misonaris di Jerman atas perintah Paus Gregorius II. Sebagai misionaris, ia bertugas mewartakan Injil. Banyak orang Jerman yang bertobat karena pewartaannya, terutama setelah menjadi uskup. 
Kisah singkat kehidupan St. Bonifasius membuat kita mengerti bahwa sebagai seorang uskup, ia memiliki komitmen terhadap panggilannya. Ia punya pilihan hidup untuk melayani Tuhan sebagai wujud kasihnya. Tetapi pada saat yang sama ia juga berhadapan dengan orang-orang Jerman yang belum mengenal Tuhan. Bonifasius lalu punya pilihan: menyembah Tuhan dan mewartakanNya atau menjadi murtad dan menyembah berhala yakni menyembah pohon Ek raksasa yang dianggap menjadi tempat tinggal dewa Thor (dewa guntur dan dewa perang) bagi orang Jerman. Ternyata Bonifasius setia kepada Tuhan dan ia gugur bersama 52 umatnya sebagai martir pada saat sedang merayakan ekaristi di Frisia.
Kisah Bonifasius dapat membantu kita untuk memahami Injil pada hari ini. Orang-orang Farisi dan Herodian mengenal Yesus sebagai pribadi yang jujur, tidak takut kepada siapa pun, tidak mencari muka, jujur mengatakan jalan Allah. Sebenarnya ini ungkapan kemunafikan mereka di hadapan Yesus. Selanjutnya mereka bertanya kepada Yesus apakah boleh membayar pajak kepada Kaisar atau tidak. Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka. Dia justru meminta koin dengan gambar dan tulisan Kaisar. Maka dengan tegas Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah yang menjadi Hak Allah.” Ini sungguh mengherankan mereka karena yang mereka inginkan adalah jawaban Yesus: ya atau tidak membayar pajak kepada Kaisar!
Yesus menanyakan kaum Farisi dan Herodian tentang “Gambar” dan “Tulisan”. Lalu Ia berkata, “Berikanlah kepada Kaisar yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah”. Yesus mau mengatakan bahwa di dalam hidup ini ada titik keseimbangan antara hal duniawi dan penguasanya dan hal surgawi dengan penguasanya. Kepada pemerintah duniawi setiap orang dituntut untuk mematuhinya. Ini adalah tanda kerendahan hati dan kasih kepada sesama. Dengan Tuhan, manusia juga dituntut untuk mematuhi Tuhan. Yesus mau menegaskan bahwa manusia adalah “Gambar  Allah atau rupa Allah” maka tugas manusia adalah menyembah dan memuliakan Allah. Manusia harus memberi dirinya secara total kepada Allah karena manusia sudah diciptakan secitra dengan Allah. 
Kita sebagai manusia diciptakan sewajah dengan Tuhan. Apa yang harus kita dilakukan? Petrus dalam bacaan pertama berusaha meyakinkan kita untuk selalu siap menantikan langit dan bumi yang baru. Artinya selalu siap untuk bersatu dengan Tuhan pencipta kita. Di langit dan bumi yang baru itu ada kebenaran. Sikap bathin untuk menantikan langit dan bumi yang baru adalah hidup sebagai orang kudus artinya, tidak bercacat, tidak bernoda di hadapan Allah sendiri. Ada rekonsiliasi dengan Tuhan, dalam arti sikap bathin yang penuh pertobatan. Petrus juga mengharapkan agar kita bertumbuh dalam kasih karunia dan semakin mengenal Tuhan Yesus sebagai satu-satunya juru selamat kita.
Sabda Tuhan hari ini sungguh bermakna dan punya power istimewa. Kita semua disadarkan untuk bersukacita karena diciptakan sewajah dengan Tuhan sang Pencipta sendiri. Ya, kita segambar atau sewajah denganNya dan Ia menulis hukum kasihNya di dalam hati kita. Maka tugas kita adalah memberi diri secara total kepadaNya karena kita adalah milikNya. Kesadaran bahwa kita diciptakan sewajah dengan Tuhan akan membuat kita bertobat dan menjadi kudus, tak bercela di hadapanNya. Apakah kita pernah sadar bahwa kita ini diciptakan sewajah dengan Tuhan?

Sabda Tuhan juga mengoreksi kita untuk menghilangkan kemunafikan di hadapan Tuhan dan sesama. Apabila anda memuji dan menyembah Tuhan maka pujilah dan sembahlah Dia dengan segenap hati. Demikian juga terhadap sesama, apabila anda memberi pujian, berikanlah itu dengan tulus dan jangan munafik. Kadang-kadang ada orang yang suka menyanjung tetapi di belakang hobbynya "back-biting". Apakah anda berani berubah? 
Doa: Tuhan buatlah kami menjadi kudus, sebagaimana Engkau kudus adanya. Amen
PJSDB

Monday, June 4, 2012

Renungan 4 Juni 2012

Hari Senin, Pekan Biasa IX
2Pt 1:1-7
Mzm 91:1-2.14-15ab. 15c-16
Mrk 12:1-12

"Kasih itu sebuah pengorbanan"

“Apa resep yang membuat relasi sebagai suami isteri tetap bertahan sampai saat ini?” Demikian pertanyaan saya kepada sepasang suami isteri yang merayakan HUT perkawinan mereka ke-40. “Karena dia mengerti saya dan saya mengerti dia” kata sang suami. “Cinta kasih itu sebuah pengurbanan  yang diuji setiap hari” jawab sang isteri. Saya kagum dengan jawaban pasutri ini. Memang inilah yang mereka hayati setiap hari dengan cara mereka sendiri. Cinta kasih adalah saling mengerti satu sama lain dan berlangsung setiap hari. Cinta kasih adalah pengorbanan yang diuji hari demi hari sampai HUT pernikahan ke-40. Luar biasa!

Hari ini Tuhan menyatakan cinta kasihNya sebagai cara Ia memahami anak-anakNya yang berdosa. Tuhan menyatakan cintaNya sebagai pengorbanan hari demi hari untuk anak-anakNya dan pengorbanan yang paling besar adalah Yesus PuteraNya menjadi korban penghapusan dosa dan penggenapan kasihNya.

Kepada para imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang barusan mempertanyakan kuasaNya, Yesus memberi perumpamaan tentang kasih Allah yang tidak berkesudahan melalui pengorbanan diri bahkan nyawa untuk keselamatan umatNya. Dikisahkan bahwa ada seorang yang membuka kebun anggur, membuat pagar dan menara jaga. Kebun anggur itu disewakan kepada para penggarap lalu ia berangkat. Pada saat musim panen tiba, ia mengirim utusan-utusannya untuk meminta hasil sesuai kesepakatan mereka. Tetapi semua utusan itu dianiaya bahkan puteranya sebagai ahli waris diutus juga dibunuh dan dilempar keluar dari kebun anggur. Bagaimana sikap pemilik kebun anggur? Ia akan mengambil kebun anggur itu dan mempercayakannya kepada orang-orang lain.

Perumpamaan Yesus ini mengatakan secara tepat sikap bangsa Israel yang tidak terbuka pada tawaran cinta kasih Allah. Kebun anggur adalah lahan kasih tanpa batas dari Tuhan bagi umat kesayanganNya. Dia mempercayakan kepada Israel sebagai bangsa terpilih Kerajaan kasihNya untuk dikembangkan tetapi mereka gagal mengembangkan Kerajaan kasih ini. Bahkan sikap manusia yang brutal ditunjukkan dengan menolak para nabi yang diutus Tuhan. Yesus PuteraNya sendiri mengalami penderitaan sampai wafat di kayu Salib. Maka tepat apa yang dikatakan dalam perumpamaan ini, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi di pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita”.

Perumpamaan yang sama kiranya tepat juga sasarannya bagi kita. Kita juga mengalami kasih dan pengurbanan Tuhan tetapi kita sendiri kurang bersyukur. Lebih dari itu, “kebun anggur ini akan dipercayakan kepada orang lain” dan orang lain adalah “kita sebagai orang-orang yang dibaptis”, itu pun belum membangkitkan rasa syukur yang mendalam di dalam hati kita. Kita tidak menyadari panggilan untuk mengembangkan Kerajaan kasih! Kita memiliki mental instant dan hanya mencari yang enak dan menguntungkan diri  kita. Sikap rela berkurban bukan panggilan dan pilihan kita.

Apa yang harus kita lakukan? Petrus dalam bacaan pertama mengingatkan kita bahwa Tuhan menganugerahkan kepada setiap pribadi kemampuan untuk mengenal Allah dan akan Yesus Tuhan kita. Pengenalan akan Allah sebagai kasih tanpa batas dalam diri Yesus PuteraNya ini laksana meterai yang ditempel di dalam hati setiap orang. Dari situ, Ia menganugerahkan janji-janji yang berharga dan sangat besar yang membuat setiap pribadi dapat mengambil bagian dalam kodrat ilahi serta pertobatan terhadap hawa napsu yang ada di dalam diri setiap pribadi. Janji-janji yang diberikan adalah iman yang sudah seperti meterai di dalam hati manusia, kebajikan-kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih kepada saudara-saudara dan semua orang.

Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk selalu bersyukur kepada Tuhan karena kasih dan penyertaanNya tanpa batas. Kasih adalah pengorbanan dan dibuktikanNya dengan mengorbankan Yesus PuteraNya. Ia wafat dan bangkit demi kelamatan kita. Maka sebagai jawaban kita adalah selalu bersyukur kepada Tuhan! Ia telah memberikan kita rahmat “pengenalan akan Allah” dan berbagai kebajikan sehingga dapat bertumbuh dan layak di hadiratNya yang Mahakudus. Rasakanlah kasih dan pengurbananNya dalam hari-hari hidupmu. Kasih adalah saling mengerti dari pihak Tuhan dengan manusia. Kasih adalah pengurbanan tanpa henti, hari demi hari di dalam hidup kita. Apakah anda menyadarinya?

Doa: Tuhan ajarilah kami untuk dapat bersyukur atas kasih dan pengurbananMu. Amen

PJSDB

Sunday, June 3, 2012

Homili Hari Raya Tritunggal Mahakudus/B

Hari Raya Tritunggal Mahakudus
Ul 4: 32-34.39-40
Mzm 33:4-5.6.9.18-19.20-22;
Rom 8:14-17
Mat 28:16-20
"Baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus"
Seorang Uskup pernah bertanya kepada anak-anak yang sedang menyiapkan diri untuk menerima Sakramen Krisma.  “Apa artinya Trinitas?” tanya Bapa Uskup. Seorang anak menjawab dengan suara yang kecil dan tidak bisa didengar oleh Uskup. “Anakku,” kata Uskup, “Saya tidak mengerti apa yang sudah kau katakan.” Anak itu berkata kepada Uskup, “Baik, Bapa Uskup, Trinitas adalah sebuah misteri. Tak seorang pun dapat memahaminya.” Bapa Uskup tersenyum dan mengangguk sambil berkata, “Anak engkau dapat menjadi Uskup masa depan”.
Pada hari ini Gereja merayakan Hari raya Tritunggal Mahakudus. Ini adalah bagian inti dari iman dan kepercayaan kristiani. Kita Percaya pada Satu Allah dengan tiga pribadi yang berbeda Bapa, Putera dan Roh Kudus. Menurut Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa pengakuan iman ini pertama kali diucapkan pada saat pembaptisan. Jadi pengakuan iman adalah pengakuan pembaptisan karena pembaptisan dilakukan dalam “Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:19), maka kebenaran-kebenaran iman yang diakui waktu pembaptisan disusun sesuai hubungannya dengan Tiga Pribadi Tritunggal Mahakudus. (KGK 189). Dengan dasar ini maka setiap hari kita selalu menyapa Tritunggal dalam doa-doa kita. Kita selalu memulainya dengan Tanda Salib sebagai tanda kemenangan kita: “Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus”
Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini tidak memberikan presentasi yang jelas tentang doktrin Tritunggal Mahakudus. Doktrin Satu Allah dengan Tiga Pribadi yang berbeda tidak secara jelas diungkapkan di dalam Kitab Suci. Istilah Trintas sendiri tidak ditemukan di dalam Kitab Suci terutama Kitab Perjanjian Baru. Yang ada hanya deskripsi tertentu yang diajarkan oleh Yesus. Dalam Injil Matius misalnya, Yesus memerintahkan para muridNya untuk pergi, menjadikan segala bangsa murid-muridNya dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan umat di Roma untuk hidup damai, dan memohon berkat dari Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Yesus sendiri memanggil Allah sebagai Bapa “Abba” dan mengajar para muridNya untuk menyapa dengan sapaan yang sama, “Abba”. Yesus sendiri mengatakan tentang Roh Kudus, Roh yang keluar dari Bapa. Yesus sebagai Sabda dan Bapa adalah satu maka Roh Kudus yang sama yang dijanjikan sebagai penghibur dan pembela adalah Roh Yesus sendiri. Yesus juga mengatakan bahwa barangsiapa melihat Dia, melihat Bapa. Ini satu model persekutuan yang begitu ilahi dan utuh. 
Dalam kategori pemikiran kita, Tiga Pribadi dari Satu Allah ini memiliki peranan sendiri-sendiri. Bapa sebagai pencipta, Putera sebagai Penebus, Roh Kudus yang menyucikan atau menguduskan. Yesus mengajar kita tentang persekutuanNya yang mendalam dengan Bapa dalam ikatan Roh Kudus. Yesus adalah Sabda yang ada sebelum dunia dijadikan. Kita dapat memahami Trinitas dalam peristiwa Inkarnasi. Malaikat Gabriel datang kepada Bunda Maria dan mengatakan bahwa Maria akan mengandung dari Roh Kudus. Malaikat adalah Utusan Allah Bapa, Maria mengandung Yesus (Putera) dan bahwa Roh Kudus turun atas Maria.
Di dalam sejarah keselamatan, Allah telah menaruh belas kasihNya kepada Umat Israel. Untuk itu Musa mengundang Umat Israel untuk bersyukur kepada Tuhan karena membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan mengarahkan mereka ke tanah terjanji. Maka Musa juga menginginkan  supaya umat Israel untuk memiliki relasi yang mendalam dengan Tuhan. Mereka menjadi umat pilihan Allah dalam perjanjian yang dibuat oleh Yahwe bersama Musa mewakili Israel. Perjanjian Lama disempurnakan oleh Yesus dalam Perjanjian Baru. Paulus mengingatkan mereka tentang kasih Bapa, rahmat melalui Yesus Kristus dalam persekutuan Roh Kudus. Roh Kudus yang mempersatukan pribadi-pribadi menjadi Anak Allah. Dengan demikian sapaan yang diucapkan Yesus menjadi juga sapaan setiap pribadi “Abba”, Ya Bapa!
Tentu saja warta sukacita Yesus ini harus diteruskan oleh para rasulNya. Ia memiliki rencana istimewa bagi para rasulNya untuk meneruskan pertumbuhan gereja yang dibangunNya di atas wadas. Ia berpesan kepada mereka untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus dan membaptis mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. 
Kita kembali ke dialog Uskup dan anak-anak yang akan menerima sakramen Krisma. tepat sekali jawaban anak itu kepada Uskup, “Trinitas adalah sebuah misteri iman dan tidak dapat diselami oleh manusia”. Namun demikian kita dapat merasakanNya dalam pertumbuhan iman kita. Pesta Tritunggal Mahakudus adalah pesta cinta kasih sejati. Tritunggal adalah model cinta kasih yang saling memberi, saling melengkapi, menyempurnakan dan saling menguduskan. 
Mari kita menghayati semangat ini di dalam hidup kita. Hal konkret yang dapat kita lakukan adalah bersyukur atas sakramen Pembaptisan karena menjadi saat dimana kita dikuduskan dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Kita juga diingatkan untuk membuat tanda salib yang benar: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap akal budi (dahi), dengan sepenuh hatimu (di dada), dan seluruh kekuatanmu (di bahu kiri dan kanan). Atau Kasihilah Tuhan Allahmu (dahi), kasihilah dirimu sendiri (dada), dan kasihilah sesamamu (bahu kiri) dan kasihilah juga musuh-musuhmu (bahu kanan). 
Doa: Ya Allah Tritunggal, jadikanlah kami kudus. Amen
PJSDB

Saturday, June 2, 2012

Renungan 2 Juni 2012

Sabtu, Pekan Biasa VIII
Yud 17.20b-25
Mzm 63:2.3-4.5-6
Mrk 11:27-33
Mempertanyakan kuasa Yesus
Semua orang yang berziarah ke Yerusalem mengenal Yesus secara manusiawi. Ia mempunyai ibu bernama Maria, ayahnya Yoseph seorang tukang kayu. Yesus sendiri seorang tukang kayu. Dia datang dengan para muridNya. Amat mengherankan karena Ia mengusir para pedagang musiman di dalam Bait Allah. Ia bahkan berkata, “RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun!” (Mrk 11:17). Sikap Yesus inilah yang menjadi sandungan bagi orang-orang Yahudi terutama para imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka ingin membunuhNya. Kita lalu mengingat sebelumnya, ketika Yesus berkata, “Sekarang kita harus pergi ke Yerusalem, dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi hukuman mati kepadaNya. Mereka akan menyerahkanNya kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia akan diolok-olok, diludahi, disesah dan dibunuh dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” (Mrk 10:33-34).
Pada hari ini kita mendengar ungkapan kekesalan para pemimpin Yahudi kepada Yesus. Mereka mempertanyakan kuasa Yesus karena sikapNya terhadap para pedagang musiman di dalam Bait Allah. Mereka bertanya, “Dengan kuasa mana Engkau melakukan hal-hal itu?” “Siapa yang memberi kuasa itu kepadaMu?” Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka tetapi melihat di mana letak titik kelemahan mereka. Para pemimpin Yahudi ini menghargai para nabi sebagai utusan Yahwe. Yohanes Pembaptis adalah salah seorang nabi yang mereka hargai padahal yang mereka lihat sekarang adalah nabi yang paling agung, Putera Allah sendiri. Dengan demikian Yesus kembali bertanya kepada mereka tentang kuasa baptisan Yohanes. Para pemimpin Yahudi tidak menjawab dengan jujur kepada Yesus.
Seringkali kita bisa memiliki pengalaman yang sama dengan para pemimpin Yahudi yaitu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar. Demikian tantangan bagi kita yang akrab dan bersahabat dengan Tuhan Yesus dalam Sabda dan Ekaristi, dalam menerima sakramen-sakramen dan praktek-praktek kesalehan lainnya. Para pemimpin Yahudi memiliki hati yang tertutup dengan Yesus. Kita juga dapat menutup hati terhadap Yesus karena merasa sudah terlalu akrab denganNya. Yesus mudah sekali dinomorduakan di dalam hidup kita.
Lalu apa yang harus kita perbuat? Yudas Tadeus dalam suratnya di bacaan pertama mengingatkan kita untuk senantiasa terbuka pada setiap rencana Tuhan. Ia menulis, “Saudara-saudara terkasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci, dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus untuk hidup kekal.” Di samping itu Yudas juga mengingatkan kita untuk memiliki rasa belaskasih dan bahwa Allah sendirilah yang menjaga dan mendampingi kita untuk mencapai keselamatan kekal.
Sabda Tuhan membangkitkan semangat kita untuk tetap bersatu dengan Tuhan selama-lamanya. Dia menghendaki kekudusan kita. Yudas Tadeus dalam suratnya menulis, “Ia membawa kalian tanpa noda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya”. Kita juga diarahkan untuk terbuka pada Yesus PuteraNya. Janganlah menutup hatimu seperti para pemimpin Yahudi, tetapi terbukalah hatimu sebagai anak-anak terang yang menerima dan mengimani Yesus Kristus sebagai Allah yang benar.
Doa: Tuhan, tambahkanlah iman kami. Engkaulah penguasa hidup kami. Amen
PJSDB

Friday, June 1, 2012

Renungan 1 Juni 2012

St. Yustinus Martir
1Ptr 4:7-13
Mzm 96:10.11-12.13
Mrk 11:11-26
Hasilkanlah Buah yang berlimpah!


Hari ini Seluruh Gereja Katolik memperingati Pesta St. Yustinus. Dia adalah seorang Filsuf kelahiran Nablus, Palestina. Keluarganya belum mengenal Tuhan. Ketika mengenal Yesus ia percaya bahwa ia mengenal Kebenaran sejati. Hasil pemikirannya dikumpulkan dalam dua karya besar yakni Apologie dan Dialog dengan Trifone. Dia mendirikan sebuah sekolah di Roma untuk mendiskusikan masalah-masalah iman. Ini juga menjadi kesempatan bagi Yustinus untuk memberi kesaksian iman. Dalam pemikirannya, ia juga menghendaki pemahaman yang mendalam tentang Ekaristi sebagai kenangan: “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”. Ia meninggal di Roma sebagai martir.
Perjuangan Yustinus dalam pengajaran-pengajarannya dan juga kekudusannya menghasilkan buah yang berlimpah. Banyak orang menjadi percaya kepada Kristus. Kita ingat  pesan Yesus kepada para muridNya, “Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Pesan Yesus ini sungguh-sungguh dihayati Yustinus hingga kemartirannya. Menghasilkan buah juga merupakan panggilan umum bagi semua pengikut Kristus. Semua orang yang percaya dan mengakui Yesus sebagai pokok anggur, memiliki tugas menghasilkan buah anggur yang melimpah.
Tuhan Yesus dalam Injil Markus, mengutuk pohon arah. Setelah meninjau Bait Allah, Ia bersama para muridNya pergi ke Betania. Keesokan harinya Yesus merasa lapar dan mendekati pohon ara. Karena tidak berbuah sebab bukan musimnya maka pohon itu dikutuk oleh Yesus. Pohon itu menjadi layu dan kering sampai akar-akarnya. Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa Yesus mengutuk pohon ara? Bukankah Yesus tahu bahwa saat itu bukan musimnya? (Mrk 11:13). Pohon ara adalah simbol Israel yang lebih dahulu menerima Wahyu ilahi tetapi banyak yang tidak mengenal Kristus. Mereka ini tidak menghasilkan buah. Yesus membandingkannya dengan pohon ara yang daunya lebar, rimbun tetapi tidak menghasilkan buah. Hal yang akan terjadi dengan Israel adalah bahwa suatu saat mereka akan diadili. Fokus pengadilannya adalah, apakah mereka menghasilkan buah atau tidak menghasilnya. 
Sikap Yesus ini tentu dikaitkan juga dengan perilaku orang-orang Yahudi yang menjadikan Bait Allah sebagai pasar. Maka Yesus pun mengusir para pedagang musiman di dalam Bait Allah. Ia berkata, “RumahKu adalah Rumah doa bagi segala bangsa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Pada akhir Injil Markus ini, Yesus mengajak para murid untuk tekun berdoa dan saling mengampuni.
Pengajaran Yesus ini nantinya menjadi inspirasi bagi Petrus ketika mewartakan Injil di Asia kecil. Ia mengingatkan Gereja di sana untuk menguasai diri dan tenang supaya dapat berdoa dengan baik. Di samping hal-hal ini, Petrus juga mengajarkan mereka untuk saling mengasihi karena kasih itu dapat menutup banyak dosa. Mereka juga diingatkan untuk bersukacita dalam penderitaan Kristus dan menantikan kemuliaanNya.
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita pada banyak hal. Kita sebagai orang-orang yang dibaptis memiliki panggilan untuk menghasilkan buah-buah rohani yang baik yang bisa di akses sesama kita. Buah-buah yang dimaksud adalah ketenangan, kedamaian, cinta kasih, damai sejahtera dan sukacita.  Ini adalah kehendak Yesus bagi setiap muridNya. 

Kita juga dipanggil untuk menguduskan Bait Allah. Ada dua pemahaman yang berbeda. Bait Allah sebagai Rumah Tuhan patut dikuduskan. Rumah Tuhan adalah Rumah doa bukan rumah untuk berbuat dosa. Sekarang pikirkanlah dosa-dosa yang sudah dilakukan di dalam Gereja sebagai Rumah Tuhan: ngobrol di dalam gereja, main gadget selama misa berlangsung, berpikiran negatif terhadap orang lain di dalam gereja. Pemahaman Bait Allah yang lain adalah Tubuh kita sebagai tempat tinggal Roh Kudus (1Kor 6:19). Ini adalah hal yang istimewa. Tuhan Allah Roh Kudus mau menjadikan diri kita tempat tinggalNya. Maka mohonlah selalu pengampunan dosa sehingga hati yang bersih dapat menjadi tempat tinggalnya Tuhan.  
Hal lain yang dituntut oleh Tuhan bagi kita hari ini adalah mengikuti kehendakNya. Kehendak Allah adalah mencintai dengan tulus, berani bertahan dalam derita dan mengampuni dengan iklas hati.  Apakah kita berani melakukannya? Apakah kita juga dapat menjadi saksi Kristus dengan menghasilkan buah yang berlimpah.
Doa: Tuhan yang mahabaik, semoga kami mampu menghasilkan buah dalam ketekunan. Amen
PJSDB