Thursday, June 14, 2012

Renungan 14 Juni 2012

Hari Kamis Pekan Biasa X
1Raj 18:41-46
Mzm 65: 1-abcd.10e-11.12-13
Mat 5:20-26

Berdamailah dengan saudaramu!

Di sebuah paroki hiduplah seorang katekis bersama keluarganya. Setiap hari ia selalu berkunjung ke stasi-stasi bersama pastor parokinya. Semua pengajarannya dianggap memiliki kebenaran mutlak bagi semua orang yang mendengarnya. Kewibawaan sebagai seorang awam yang handal juga ditunjukkan dalam pengabdiannya. Itu sebabnya banyak orang akrab dan bersahabat dengan dia. Sayang sekali, dibalik kehebatannya ini, istri sang katekis ini pencemburu. Beberapa kali mereka bertengkar karena rasa cemburu yang berlebihan dari sang isteri. Lama kelamaan semua orang juga tahu bahwa katekis itu berhasil dalam pengajaran agama tetapi gagal dalam berkeluarga karena tidak ada damai dan keharmonisan dalam keluarga.


Ini hanya sebuah kisah dari pedalaman. Tetapi menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan kita di hadapan Tuhan. Selalu ada perilaku yang tidak sinkron dengan hidup nyata sebagai orang beriman. Yesus sudah tahu bahwa para muridNya akan berjuang untuk mewujudkan kebahagiaan, dan damai di dalam hidup mereka. Hari ini wujud nyata Sabda Bahagia diungkapkan dalam usaha mewujudkan kasih dan damai satu sama lain. Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk dalam Kerajaan Surga”. Setiap orang yang mengakui dirinya orang beragama maka ajaran-ajaran agama mestinya diwujudkan dalam pertumbuhan iman setiap pemeluknya. Misalnya ajaran universal dalam setiap agama adalah cinta kasih. Setiap orang perlu mewujudkan hidupnya dalam kasih.


Hampir semua agama mengajar umatnya, “Jangan membunuh”. Umat beragama tidak boleh memahami "perintah jangan membunuh" secara sempit, misalnya membunuh dalam arti  secara fisik yaitu menghilangkan nyawa seseorang. Membunuh dapat juga secara verbal dengan kata-kata kasar, marah dan mengatakan sesama “kafir”. Kekerasan verbal dapat membunuh masa depan seseorang. Contoh lain, kalau orang tua selalu membentak anaknya dengan mengatakan, “Kamu paling bego di dunia ini” maka anak itu seakan dibunuh oleh orang tuanya karena ia akan terbayang-bayang dalam pikirannya kalimat, “Kamu paling bego di dunia ini”.


Di samping hukum kasih, Yesus juga menegaskan tentang damai. Dalam Sabda bahagia Ia berkata, “Berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). Yesus menegaskan lagi pengajaran damai dalam konteks relasi antar pribadi. Kalau mau mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, persembahkanlah secara utuh bukan hanya dengan diri sendiri tetapi juga dengan sesama. Mengapa? Karena kasih kepada Tuhan itu sebanding dengan kasih kepada sesama. Demikian juga damai sejahtera bukan hanya damai dengan Tuhan tetapi damai yang sama juga berlaku untuk damai dengan sesama manusia.

Kasih dan damai juga dirasakan oleh Elia. Setelah Nabi Elia berdoa bagi pertobatan para nabi baal dan banyak orang supaya percaya kepada Yahwe, kini kuasa Tuhan dicurahkan melalui nabi Elia untuk dapat dialami juga oleh Ahab. Dengan sembah baktinya kepada Yahwe maka munculah awan kecil sebesar telapak tangan dan nantinya berubah menjadi hujan yang lebat. Kuasa Tuhan melampaui segalanya. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.


Sabda Tuhan pada hari ini memiliki kekuatan yang besar untuk meyadarkan kita dalam usaha membangun kasih universal dan damai sejahtera kepada semua orang. Cinta kasih menjadi sempurna dalam menghargai nilai-nilai kehidupan sesama. Perintah untuk jangan membunuh membuat kita menyadari perilaku kita yang membunuh sesama dengan lidah. Berapa banyak gossip, kata-kata kasar, kata-kata kosong sebagai bentuk dusta atau kebohongan yang dilakukan untuk membunuh sesama? Berapa banyak orang yang luka bathin karena sikap kita yang tidak manusiawi?

Kita seharusnya membangun rasa damai bukan dengan menggunakan kata-kata kasar yang dapat membunuh orang lain. Semua orang mau dan haus untuk merasakan kedamaian dalam hati dan dalam lingkungan hidupnya. Maka tugas kita adalah menata dunia ini secara baru dengan pertobatan yang terus menerus. Mengikuti Yesus sebagaimana dikatakan dalam perikop injil hari ini, mengharapkan agar kita mematikan rasa amarah dan menggantinya dengan damai dan rekonsiliasi. Kita boleh berefleksi dengan  bertanya, apa artinya hidup sebagai pengikut Kristus kalau kita saling membunuh, kalau kita tidak mampu menata dunia kita ini menjadi dunia yang aman dan damai?

Doa: Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai. Amen.  

PJSDB

Wednesday, June 13, 2012

Renungan 13 Juni 2012

St. Antonius Padua
1Raj 18:20-39
Mzm 16:1-2a.4.5.8.11
Mat 5:17-19
Berkotbah dengan Tuhan!

Hari ini seluruh Gereja Katolik mengenang St. Antonius Padua atau St. Antonius de Lisboa. Ia terlahir dengan nama Ferdinand. Ia lahir di Lisabon, Portugal pada tahun 1195. Sewaktu masih muda, ia sangat tertarik untuk berdoa, belajar dan melakukan karya-karya rohani demi keselamatan jiwa-jiwa. Ia masuk Ordo Santo Agustinus di Coimbra dan ditahbiskan menjadi imam. Setelah beberapa waktu berkarya, ia pindah ke Ordo Saudara-saudara Dina, terdorong oleh teladan para martir Fransiskan. Ia diterima dan mengganti nama menjadi Antonius. Sebagai seorang Fransiskan muda, Antonius di kirim ke Afrika. Tetapi karena kesehatannya yang terus terganggu, ia kemudian kembali lagi ke biara pusat. Di sana selain kegiatan doa dan belajar, ia dengan senang hati mengerjakan tugas-tugas rumah yang paling hina.

Pada tahun 1221 ia berpartisipasi dalam kapitel di Asisi yang dipimpin langsung oleh Santo Fransiskus. Pada saat itu, ia diminta untuk berkhotbah. Semua saudaranya kagum akan khotbahnya yang menarik dan mendalam. Sejak  saat itulah, Antonius mulai dikenal sebagai seorang pengkotbah ulung. Ia diutus untuk berkhotbah kepada umat di Prancis, Italia dan Sisilia. Pada tahun 1231 ia meninggal dunia di Padua dalam usia 36 tahun. Sejak wafatnya banyak orang beriman meminta bantuannya. Mukjizat-mukjizat yang terjadi oleh pengantaraannya terjadi dimana-mana. Ketika Sri Paus Pius XII (1939-1958) meresmikan penggelaran Antonius sebagai “Pujangga Gereja”, ia mengatakan bahwa semua ajaran yang disampaikan santo ini berjiwakan Injil Suci. Pengantaraannya amat berkuasa menemukan kembali barang yang hilang terutama untuk kembalinya rahmat pengudusan yang hilang karena dosa. Hingga saat ini dikenal dengan nama Antonius Padua atau Antonius dari Lisabon.

Antonius memiliki kehebatan dalam berkotbah.  Sabda Tuhan disampaikan dengan jelas dan banyak orang berubah di dalam hidupnya. Bagaimana menjadi seorang pengkotbah yang baik? Tuhan Yesus dalam kotbah di bukit mengingatkan bahwa diriNya datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapi atau menyempurnakannya. Ia juga mengingatkan para muridNya, “Siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.” Sebaliknya siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat akan mendapat tempat yang paling rendah.

Tentu saja Yesus mengingatkan para muridNya untuk setia dalam menerima dan mewartakan Sabda. Apa yang mereka dengar dari Tuhan hendaknya membantu mereka untuk mengatakan seadanya kepada “mereka yang dipanggil dan ditentukan Tuhan untuk mendengarnya”. Pewartaan itu akan membantu semua orang untuk patuh dan taat pada perintah-perintah Tuhan. Nabi Elia adalah contoh nabi yang taat pada sabda dan perintah Tuhan. Dia mengakui dirinya sebagai nabi Tuhan dan berdoa supaya nabi-nabi Baal  dan semua bangsa dapat mengetahui Tuhan dan bahwa hanya Tuhanlah yang membuat hati mereka bertobat. Doa menjadi kekuatan tersendiri bagi Elia untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita pada dua hal penting. Pertama, supaya kita menjadi orang yang taat pada rencana, kehendak dan perintah-perintah Tuhan. Santu Antonius Padua menunjukkan kekudusannya dengan sikapnya yang taat dan diungkapkan dalam kotbah-kotbahnya dengan Tuhan. Kedua, kita juga diingatkan untuk berdoa, membangun komunikasi yang baik dan akrab dengan Tuhan. Nabi Elia memberi contoh yang baik yakni mendoakan orang lain untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki waktu untuk berdoa demi pertobatan dan pertumbuhan iman saudara-saudara yang lain?

Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk dapat mendoakan saudara-saudaraku.

PJSDB  

Tuesday, June 12, 2012

Renungan 12 Juni 2012

Hari Selasa Pekan X
1Raj 17:7-16
Mzm 4:2-3.4-5.7-8
Mat 5: 13-16

"Menjadi Garam dan Terang"

Seorang Romo pernah berkata kepada semua umat di paroki dalam perayaan ekaristi sore hari, “Pikirkanlah waktumu sepanjang hari ini, lalu temukanlah berapa banyak perbuatan baik yang kamu lakukan sepanjang hari ini.” Banyak umat mulai membayangkan aneka perbuatan baik yang mereka lakukan sepanjang hari. Pada hari berikutnya, romo meminta lagi umat yang hadir untuk menghitung perbuatan baik yang mereka lakukan. Sampai satu bulan romo tetap berbicara hal yang sama tentang perbuatan baik. Memang kedengaran membosankan tetapi suasana di paroki perlahan mulai berubah. Umat di paroki itu mulai menata diri dengan melakukan perbuatan baik dari umat, oleh umat dan untuk umat.

Dalam pengajaran Sabda Bahagia di Bukit, Yesus menyapa semua muridNya: “Berbahagialah”. Pengajaran Yesus di bukit ini harus menjadi nyata dalam perbuatan-perbuatan baik. Artinya segala pengajaran Yesus bukan hanya sebagai teori yang mudah dilupakan tetapi perbuatan yang dihayati hari demi hari. Yesus mengambil contoh garam dan terang untuk menjelaskan kebahagiaan yang dihayati setiap pribadi. Yesus berkata, “Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar dengan apakah diasinkan? Tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak-injak orang.” Mengapa garam? Israel memiliki laut mati. Di laut mati tidak ada kehidupan karena kadar garamnya 28 kali lebih asin dari laut biasa. Mereka juga memiliki laut tengah yang memiliki kadar garam cukup tinggi. Garam merupakan barang yang multi fungsi. Untuk mengawetkan makanan, memberi rasa asin pada makanan, manfaat bagi kesehatan. Kebiasaan orang saat itu adalah kalau garam sudah terlalu lama di simpan maka kadar garamnya turun dan dibuang di jalan-jalan supaya di injak orang.

Yesus juga berkata, “Kalian adalah cahaya dunia”. Yesus menyadari bahwa Israel rata-rata merupakan daerah pegunungan. Maka lampu-lampu yang menyala di kampung-kampung di daerah pegunungan akan memancarkan cahaya tertentu. Demikian di rumah-rumah penduduk juga menggunakan pelita yang harus diletakan di tempat yang agak tinggi untuk menerangi seluruh rumah. Contoh-contoh ini diambil Yesus untuk menegaskan kepada para muridNya bahwa supaya betul-betul mengalami kebahagiaan, mereka tidak boleh berhenti berbuat baik.

Perbuatan baik itu ibarat garam atau cahaya. Garam itu diam-diam harus melebur dirinya dan memberi rasa pada makanan dari dalam makanan. Dia tidak cukup memberi rasa dari luar saja. Bagaimana manusia dapat berbahagia dan membahagiakan? Manusia juga harus melebur dirinya, melupakan dirinya dan memberi arti kehidupan sesama dari dalam diri sesama. Jadi supaya membuat orang bahagia maka masuklah melalui pintu Tuhan dan keluarlah melalui pintu orang itu. Perbuatan baik juga ibarat cahaya. Cahaya itu memiliki kemampuan menembusi cela-cela yang sempit, memiliki daya pantul yang bagus. Perbuatan baik itu bercahaya sehingga dilihat orang dan ketika orang melihatnya mereka akan memuji sang pencipta kehidupan. Jadi yang dipuji bukan siapakah anda dan saya yang berbuat baik tetapi siapakah Dia yang menciptakan sehingga pribadi ini dapat berbuat baik? Sang pencipta itu mahasempurna maka patut dimuliakan melalui para ciptaanNya. Tepatlah doa Mazmur hari ini yang mengatakan, “Biarlah wajahMu menyinari kami ya Tuhan.” Biarlah Tuhan terus menyinari kita dan membuat banyak orang melihat terang Tuhan di dalam hidup kita.

Perbuatan-perbuatan baik itu mendapat ganjaran istimewa dari Tuhan. Kisah Nabi Elia yang berjumpa dengan seorang janda di Sarfaat, sebuah daerah kafir bagi orang Yahudi. Nabi Elia sedang mengalami kelaparan karena sungai Kerit kering. Tuhan memerintahkan Nabi Elia untuk menjumpai janda Sarfaat yang akan memberinya makan. Memang si janda itu merasa ketakutan juga karena bekalnya akan habis tetapi Elia meyakinkan dia untuk melakukan segala sesuatu sebagaimana diperintahkan Tuhan. Hasilnya adalah: tepung di dalam tempayan dan minyak di dalam buli-buli tidak habis. Perbuatan baik adalah mujizat harian atau mujizat yang selalu terjadi setiap hari. Ketika kita tidak khawatir dengan apa yang kita makan atau apa yang kita minum, Tuhan akan menambahkan seperti pengalaman janda di Sarfaat ini.

Sabda Tuhan hari ini memfokuskan perhatian kita pada nilai luhur perbuatan baik. Perbuatan baik yang kita lakukan, entah kecil atau besar tetap memiliki nilai luhur karena menghadirkan Tuhan sendiri. Biarlah orang mengakses kebaikan-kebaikan Tuhan di dalam hidupmu! Sabda Tuhan juga mendorong kita untuk selalu berbagi. Jangan takut untuk berbagi apa yang kita miliki. Tuhan akan tetap menambahkannya di dalam hidup kita. Yesus berkata, “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma maka berikanlah juga dengan cuma-cuma.” (Mat 10:8)

Doa: Tuhan, mampukan aku untuk dapat berbagi dengan saudara-saudariku. Amen

PJSDB

Monday, June 11, 2012

Renungan 11 Juni 2012

St. Barnabas, Rasul
Kis 11:21b-26;13:1-3
Mzm 98: 1.2-3ab.3c-4.5-6
Mat 10:7-13
"Pergilah dan beritakanlah...!"
Hari seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta St. Barnabas, Rasul. Riwayat St. Barnabas dapat kita temukan dalam tulisan St. Lukas yaitu Kisah Para Rasul, Bab 4, 9, 11, 13 dan 15. Ia terlahir dengan nama Yoseph tetapi oleh para Rasul diganti menjadi Barnabas yang berarti "Putera Penghiburan". Ia adalah orang Yahudi dari suku Lewi yang menetap di Siprus. Ia akrab dengan Paulus dan dialah yang mengantar Paulus kepada para Rasul dan menjelaskan tentang penampakan Tuhan Yesus yang bangkit kepada Paulus dalam perjalanannya ke Damsyik. Baginya, Paulus telah berubah dari Saulus menjadi Paulus. Barnabas kemudian diutus ke Antiokhia untuk melayani jemaat di sana. 
Fokus pewartaannya adalah Kristus telah bangkit dengan mulia. Banyak orang menjadi percaya karena kesaksian dan pewartaannya. Ia juga pergi ke Tarsus untuk berjumpa dengan Paulus, kemudian kembali ke Antiokhia. Roh Kudus bahkan menaungi jemaat di Antiokhia dan berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Paulus bagiKu untuk tugas yang telah kutentukan bagi mereka!” Dari Antiokhia mereka berlayar ke Siprus. Setibanya di Salamis, mereka mewartakan Sabda Tuhan dalam rumah ibadat Yahudi. Yohanes Markus membantu mereka. Dia juga aktif dalam Konsili pertama di Yerusalem. Dia akhirnya dirajam oleh orang-orang Yahudi di Salamis dan wafat sebagai martir sekitar tahun 61.
Semangat hidup Barnabas ini kiranya tepat sebagaimana digambarkan oleh Matius dalam perikop Injil hari ini. Meskipun tidak termasuk dalam kelompok duabelas Rasul Yesus namun ia menghayati perintah Yesus: “Pergilah dan beritakanlah”, sampai wafat sebagai martir. Yesus memberi komando kepada para RasulNya untuk pergi dan memberitakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan Allah dihadirkan oleh Yesus Kristus sendiri. Bahwa ada saat di mana Tuhanlah yang berkuasa atas segalanya dan semua orang akan mengalami cinta kasih dan kedamaian sempurna. Yesus juga mengingatkan para Rasul untuk menghadirkan kekhasan Kerajaan Allah yakni: mereka yang sakit disembuhkan, yang sudah mati di bangkitkan, yang kusta ditahirkan, setan-setan diusir. Dunia menjadi baru karena ditata secara baru oleh Tuhan sendiri melalui pelayanan para RasulNya.  
Rasul sejati juga menunjukkan identitasnya sebagai pribadi yang sederhana dan hidup dari segala pelayanannya. Tentang hal ini Yesus melarang mereka untuk tidak membawa emas atau perak, tembaga dalam ikat pinggang, bekal dan pakaian seadanya. Orang yang hidup sederhana dan miskin di hadirat Tuhan akan menjadi setia dalam pelayanan karena ia berharap pada penyelenggaraan ilahi. Satu hal lain yang menjadi kekhasan seorang Rasul adalah membawa damai Tuhan kepada semua orang. Dia bukan membawa roh pemecahan tetapi roh yang mempersatukan setiap pribadi dengan damai  dari Tuhan.
Sabda Tuhan mengahdirkan figur St. Barnabas yang telah dikhususkan Roh Kudus untuk melayani gereja bersama Paulus. Seorang Rasul sejati tak kenal lelah, tak kenal roh ketakutan. Dia hanya memiliki kekuatan dari Roh Kudus untuk mewartakan Injil Tuhan. Semangat seperti inilah yang seharusnya tetapi dimiliki oleh Gereja dalam tugas misionernya di dunia. Misionaris atau utusan Tuhan yang menghadirkan Kerajaan Allah di dalam dunia, Misionaris yang sederhana dalam hidupnya dan yang membawa damai sejahtera bagi segenap makhluk. Dunia akan menjadi baru kalau semua misionaris dari Tuhan menyadari dan menghayati panggilannya masing-masing.
Kita semua telah dibaptis dan menerima anugerah untuk mewartakan Injil. Kita dapat mewartakan Injil dengan hidup kita seadanya. Maka lakukanlah tugas-tugasmu dengan baik. Sekecil apapun tugasmu, itu adalah jalan kekudusanmu. Setialah dalam karya dan pengabdianmu. Mari kita memeriksa bathin dan boleh bertanya, apakah anda dan saya dapat menjadi rasul di dalam Gereja saat ini. Kita patut merenungkan kata-kata Roh Kudus ini: “Khususkanlah... (nama anda) untuk tugas yang telah Kutentukan)
Doa: Tuhan, jadikanlah aku mitra kerjaMu yang setia di dalam GerejaMu. Amen
PJSDB

Sunday, June 10, 2012

Homili Hari Minggu Corpus Christi/B

Hari Minggu Corpus Christi
Kel 24:3-8
Mzm 116: 12-13.15.16bc.17-18
Ib 9:11-15
Mrk 14:12-16.22-26
"Inilah TubuhKu, Inilah DarahKu"

Hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari Raya ini juga dikenal dengan sebutan lain yakni Corpus Christi atau Ekaristi. Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah sebuah kenangan. Kita mengenang perjamuan malam terakhir Yesus bersama para muridNya. Kita mengenang puncak keselamatan kita dalam diri Yesus Kristus Putera Allah. Dia membagi diriNya bagi kita.
Penginjil Markus menceritakan peristiwa memorial ini dalam Injilnya. Diceritakan bahwa sebagai kepala keluarga, Yesus menyuruh dua muridNya untuk mempersiapkan perjamuan paska bagiNya. Petunjuk untuk perjamuan paskah itu perlahan-lahan dipahami oleh dua utusanNya ini. Mereka menyiapkan ruangan itu sesuai selera Yesus. Yesus dan para murid lainnya datang dan berkumpul bersama sebagai sahabat, atau sebagai satu keluarga. Ia mengambil roti, mengucap berkat, membagi-bagikan  roti, memberikan kepada para murid seraya berkata, “Ambillah, inilah TubuhKu!” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada para murid seraya berkata, “Inilah DarahKu, Darah Perjanjian yang ditumpahkan bagi orang  banyak."
Perjamuan Ekaristi merupakan sebuah kenangan akan segala sesuatu yang Yesus adakan bersama para muridNya pada malam perjamuan terakhir. Sebuah kenangan bukan hanya atas peristiwa historis tersebut di Yerusalem, tetapi semua kata kenangan dari Yesus selalu diulangi setiap kali merayakan Ekaristi di dalam Gereja: “Ambillah, inilah TubuhKu... Inilah darahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang.” Kata-kata ini merupakan kata-kata kenangan penuh kasih. Yesus menunjukkan kasihNya sampai tuntas dengan mengorbankan diriNya secara total. Tubuh dan DarahNya diberikan sebagai kurban penebusan kita. 
Bagi penulis surat kepada umat Ibrani dalam bacaan kedua, Kristus telah datang sebagai Imam Agung demi kesejahteraan  masa yang akan datang. Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Darah Kristus tidak bercacat, menyucikan hati nurani manusia dari dosa dan salahnya. Semua telah Yesus persembahkan bagi manusia. Yesus sendiri pernah berkata, “Tak ada kasih yang paling agung dari kasih seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatya” (Yoh 15:13). 
Umat perjanjian lama dalam peziarahan mereka dari Mesir ke tanah terjanji juga mengalami pengalaman-pengalaman tertentu, terutama prefigurasi pengurbanan Yesus. Dalam bacaan pertama, kita mendengar bahwa ketika umat terpilih masih berada di Sinai Tuhan mengikat perjanjian dengan mereka melalui Musa. Musa menyampaikan kepada umat yang berkumpul dekat kemah pesan dan perintah Tuhan. Maka umat Israel pun menjawab dengan suara lantang, “Segala firman yang telah diucapkan Tuhan itu akan kami laksanakan!”. Di atas mezbah, Musa mempersembahkan kurban bakaran untuk Tuhan. Dengan darah lembu jantan itu Musa memerciki bangsa Israel dan mengatakan bahwa darah itu merupakan darah Perjanjian antara Yahve dengan mereka. Kita sadari sekarang bahwa di atas salib Yesus juga menumpahkan darahNya, dan Darah Yesus adalah Darah Perjanjian Baru. Darah manusia tanpa cacat mengganti darah lembu jantan yang saat itu dianggap tidak bercacat juga. 
Sabda Tuhan hari ini mengungkapkan banyak hal yang dapat membangkitkan semangat iman kita:
Pertama, Perjamuan Tuhan itu membutuhkan persiapan istimewa. Yesus mengutus para muridNya untuk mempersiapkan perjamuan paskahNya. Dialah imam agung yang mempersembahkan diriNya sebagai kurban, bukan darah kurban bakaran. Kita pun diingatkan untuk mempersiapkan diri kita dalam merayakan Ekaristi. Dalam Tata Perayaan Ekaristi, kita menyiapkan batin dengan memeriksa bathin dan mengakui dosa-dosa kita seraya memohon belaskasih Tuhan pada awal Ekaristi. Tujuannya adalah supaya kita layak, tidak bercacat dalam merayakan Ekaristi. Persiapan diri juga membantu kita untuk nantinya dapat medengar Sabda dan melakukannya dan juga menerima Tubuh dan Darah Kristus. Apakah anda selalu siap untuk merayakan Ekaristi? Persiapan itu bukan hanya lahiri, misalnya dengan pakaian yang bagus dan rapi tetapi juga persiapan bathiniah untuk sungguh-sungguh masuk dalam misteri kasih Tuhan.
Kedua, Nilai sebuah pengurbanan itu mahal. Yesus menebus kita bukan dengan darah anak lembu atau domba. Yesus menebus kita bukan dengan darah orang lain. Mengikuti St. Petrus, Ia menebus kita “bukan dengan barang fana, bukan dengan emas dan perak melainkan dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Pt 1:18-19). Inilah kasih yang paling agung dari Yesus bagi kita.  Apakah anda menyadari bahwa anda di kasihi Yesus? Pandanglah Yesus dan resapi kata-kataNya: “Inilah TubuhKu yang dikurbankan bagimu. Inilah darahKu yang ditumpahkan bagimu”. Dia mengasihimu sampai tuntas!
Ketiga, Ekaristi. Ekaristi berarti syukur dan terima kasih. Hari Raya Tubuh dan darah Kristus menjadi hari dimana kita bersyukur dan berterima kasih. Kita berterima kasih kepada Tuhan karena kasihNya yang kekal melalui Yesus Kristus PuteraNya. Dia telah memberikan SabdaNya bagi kita dan disempurnakan melalui Tubuh dan DarahNya. Belajarlah bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan sesama. Jangan pelit untuk mengatakan terima kasih!
Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk tahu bersyukur di dalam hidupku. Amen
PJSDB

Saturday, June 9, 2012

Renungan 9 Juni 2012

Hari Sabtu, Pekan IX
2Tim 4:1-8
Mzm 71:8-9.14-15ab.16-17.22
Mrk 12:38-44
Janda Miskin itu memberi lebih banyak...


Ada seorang janda. Ia sering disebut juga sebagai single parent. Ia berlaku sebagai ibu dan ayah dengan bekerja keras membesarkan puteranya, membiayainya hingga menyelesaikan program sarjananya. Pada hari wisuda anaknya, ibu itu berkata, “Anakku, lihatlah, aku telah memberikan segalanya untukmu. Sekarang engkau sudah menjadi manusia. Hiduplah dari dirimu sendiri!” Kalimat singkat tetapi penuh makna dari seorang ibu bertangan kasar karena bekerja keras, tahan banting dari kata-kata orang terhadapnya sebagai seorang janda.
Yesus melanjutkan pengajaranNya. Setelah memberi kritik pedas kepada para ahli Taurat karena mengajarkan bahwa Mesias hanyalah anak Daud padahal Daud sendiri memanggilnya “tuanku”, Yesus melanjutkan pengajaranNya dengan mengecam kemunafikan para ahli taurat dan memuji persembahan si janda miskin. Para ahli taurat dikecam Yesus karena kemunafikan mereka dalam banyak hal seperti suka mengenakan pakaian panjang dan menerima hormat di tempat-tempat umum. Mereka juga memiliki kebiasaan mencaplok rumah janda-janda dan mengelabui orang dengan doa yang panjang. 
Nah, mengapa para ahli taurat ini menjadi sasaran kritikan Yesus? Alasan utamanya adalah sikap munafik yang mereka miliki. Para ahli taurat berperilaku demikian karena mereka merasa sebagai status quo dalam kultus Yahudi dan kesetiaan mereka pada hukum taurat. Mereka adalah penafsir hukum taurat. Tindakan rohani terutama dalam doa hanyalah untuk menarik perhatian dan pujian orang. Hal-hal rohani dicampuri dengan hal-hal duniawi.
Setelah mengecam para ahli taurat, Yesus menunjukkan satu model yaitu si janda miskin untuk mengoreksi hidup kebanyakan orang saat itu. Seorang janda miskin datang ke Bait Allah dan memasukan satu duit ke dalam kotak persembahan. Yesus memuji wanita itu karena memberi seluruh yang dia miliki di bandingkan dengan orang berkelimpahan yang memberi dari kelimpahannya. Janda ini menjadi model hidup kristiani karena memberi seluruh nafkahnya tanpa takut menjadi miskin, ia juga murah hati dan menyerahkan dirinya kepada penyelenggaraan ilahi.
Orang Yahudi menyebut para janda almana  yang merujuk pada wanita yang suaminya sudah meninggal dan dia memilih untuk tidak menikah lagi. Dalam bahasa Yunani disebut chera yang memiliki makna yang sama dengan bahasa yahudi. Di dalam Kitab Suci terdapat banyak istilah dan pemahaman tentang janda. Banyak pengalaman kegelapan yang dialami para janda. Mereka terkadang menangis (Ayub 27:15) berduka (2 Sam 14:2) dan sedih karenai pengalaman pribadi setelah kehilangan pasangan hidupnya (Rat 1:1). Situasi kemiskinan juga dialami para janda (Rut 1:21) atau situasi keuangan (2Raj 4:1). Bahkan mereka kadang masuk kategori kaum miskin (Ayub 24:4; Yes 10:2). Namun demikian mereka-mereka ini secara sosial harus dilindungi.  
Sikap para janda yang mencintai Tuhan, memberi segala yang dimiliki untuk Tuhan merupakan model yang tepat dalam hidup. Para misionaris mewartakan belas kasih Allah dan kemurahan hatiNya kepada banyak orang dengan hidup mereka yang nyata. Hal yang sama juga menjadi harapan bagi setiap orang. Petrus dalam bacaan pertama berusaha membimbing Timotius untuk mewartakan Sabda Allah dengan baik. Ia diharapkan siap sedia selalu, baik dan tidak baik waktunya. Sabda Tuhan berperan untuk mengoreksi, memberi teguran dan nasihat kepada manusia. Timotius juga diharapkan untuk: “Menguasai diri dalam segala hal, sabarlah dalam penderitaan, lakukan tugasmu sebagai pewarta Injil. Petrus akhirnya berpesan kepada Timotius, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, mencapai garis akhir dan memelihara iman.”
Sabda Tuhan pada hari ini mengoreksi kita dari dosa kemunafikan. Kadang-kadang perilaku pribadi-pribadi dapat membuat zona nyaman tersendiri di dalam hidup. Sikap munafik dapat ditunjukan dalam pekerjaan-pekerjaan setiap hari. Di samping munafik juga gila hormat. Pokoknya prinsip hidup ahli taurat banyak kali menghampiri kita. Berubalah...bertobatlah!


Sabda Tuhan juga mengingatkan kita untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Kita ini milik Tuhan dan hidup kita ada di tanganNya. Apa yang harus kita serahkan? Serahkanlah segala yang baik dan yang menyusahkan kita! Ingatlah, Dia yang memulai, Dia juga yang menggenapinya di dalam hidup kita. Apakah anda khawatir dengan hidup? Serahkanlah kepadaNya dengan berani (1Pt 5:7). Janda miskin memberi semangat tersendiri. Ia berbagi, ia juga murah hati  dan memberi diri seutuhnya kepada Tuhan. Apakah anda berani melakukannya dengan semangat yang sama?
Doa: Tuhan, bimbinglah aku untuk menjadi pelayanMu. Amen
PJSDB

Friday, June 8, 2012

Renungan 8 Juni 2012

Hari Jumat, Pekan Biasa IX
2Tim 3:10-17
Mzm 119:157.160.161.165.166.168
Mrk 12:35-37
Apakah Mesias itu Anak Daud?
Siapa yang tidak menyangkal kehadiran Yesus? Orang-orang Nazareth mengenal dengan baik Yesus secara manusiawi. Ibunya bernama Maria, dan ayahNya Yusuf seorang tukang kayu. Yesus juga seorang tukang kayu. Mengherankan karena tiba-tiba Dia memiliki kelompok pria dan wanita yang berjalan mengikuti Dia. Dia mengajar dengan baik, memiliki kuasa dan wibawa. Ia bahkan pernah berkata bahwa Dia lebih besar dari para nabi termasuk Yohanes Pembaptis. 
Lebih mengherankan lagi orang-orang yang tinggal di Yerusalem karena Yesus mengajar di Bait Allah dan berkata, “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud? Padahal Daud sendiri menyebut Dia sebagai Tuanku. Kata Daud yang penuh Roh Kudus, “Tuhan bersabda kepada Tuanku, Duduklah di sisi kananKu, sampai musuh-musuh kutaruh di bawah kakiMu”. Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia sekaligus menjadi anakNya?”
Menarik untuk memahami perikop Injil pada hari ini. Banyak orang di dalam bait Allah seakan dalam pencarian untuk memahami identitas Yesus yang sedang mengajar dengan kuasa dan wibawa. Mereka mengetahui dari Kitab Suci dan juga mulut para ahli Taurat yang mengatakan bahwa Yesus adalah anak Daud. Pengenalan mereka tentang Yesus pada saat itu sangat manusiawi. Artinya, Dia adalah anak Daud maka Ia akan memerintah sebagai manusia yang kira-kira menyerupai Daud bapa leluhurNya. Padahal Yesus lebih besar dari Daud, bahkan Daud sendiri memanggilNya “Tuanku”. 
Di dalam Kitab Injil kita menemukan kutipan-kutipan tertentu tentang gelar Yesus sebagai Anak Daud. Pertanyaannya adalah Apakah Yesus anak Daud? Dalam Injil Matius diakui bahwa Yesus adalah Anak Daud (Mat 1:1). Menurut Yesus sendiri Dia bukan Anak Daud (Mat 22:45; Mrk 12:37; Luk 20:44). Apakah ini sebuah kontradiksi? Jawaban yang pasti adalah tidak! Tidak ada kontradiksi. Dalam Injil Matius 1:1 sebutan anak Daud itu tepat diberikan kepada Yesus karena figur Yusuf sebagai Bapa pengasuhNya dari keturunan Daud. Jadi meskipun Yesus dikandung dari Roh Kudus tetapi karena hukum Yahudi maka Dia dianggap anak Daud . 
Mesias adalah keturunan Daud. Ini merupakan harapan semua orang Israel. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita temukan perikop-perikop tertentu tentang Mesias dari keturunan Daud (2Sam 7:13-16). Kita juga dapat menemukan perikop lain dari para nabi (Yes 9:2-7; Yeh 34:23...) Harapan umat Israel saat itu adalah pada suatu ketika akan ada Mesias yang dapat membaharui Kerajaan Daud dan para peziarah yang akan datang ke Yerusalem dan bernyanyi, "Diberkatilah Kerajaan yang akan datang, Kerajaan Bapa kita Daud" (Mrk 11:10). 


Perikop lain tentang Mesias dari keturunan Daud, kita temukan dalam Yes 11:1-16 di mana dikatakan bahwa Raja damai akan datang: “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai” Isai adalah ayah Daud. Dalam Kitab Yeremia 23:5-8 dikatakan tentang saat dimana ada Tunas adil Daud. Selanjutnya Mesias sendiri adalah Tuannya Daud (Mzm 110:1). Pengakuan Daud ini menunjukkan bahwa Mesias lebih tinggi kedudukanNya dibandingkan dirinya. Mesias adalah Allah sendiri yang telah merendahkan diriNya dalam peristiwa Inkarnasi dan lahir dari kandungan Maria, seorang wanita sederhana dari Nazareth. Maka dapatlah dikatakan bahwa Yesus adalah anak Daud tetapi juga Tuannya Daud. Kepada para Ahli Taurat, Yesus mau membuka pikiran dan hati mereka yang tertutup bahwa Dia yang ada di depan mereka adalah Mesias yang benar yang diakui oleh Daud bapa leluhurnya "Tuanku".


Yesus menantang para ahli Taurat bukan untuk menggabaikan Kitab Suci tentang Mesias tetapi tujuan Yesus adalah membuat mereka sadar dan paham tentang karakter Mesias yang sudah ditulis dalam Kitab Taurat dan para nabi. Daud sendiri mengakui Mesias sebagai Tuhan berarti kedudukan Mesias lebih tinggi dari Daud sendiri. Jadi Mesias sekali lagi bukan hanya sebagai anak Daud tetapi Tuan bagi Daud. Tugasnya adalah bukan untuk membaharui kerajaan Daud yang pernah mengalami masa keemasan. Misinya adalah membentuk sebuah Kerajaan baru. Perjuangannya bukan untuk melawan orang-orang Romawi atau kuasa dunia tetentu tetapi kuasa setan yang sedang menguasai dunia. 
Terlepas dari penjelasan Teologis-Biblis ini, hal penting yang harus dimiliki oleh umat beriman adalah cinta kasih kepada Tuhan. Sangat diperlukan hati yang terbuka pada Roh Kudus untuk menerangi akal budi kita sehingga dapat memahami misteri Kristus sang Putera Allah. 


Paulus dalam bacaan pertama menunjukkan keterbukaan hatinya pada Tuhan. Ia mengajak Timotius untuk menunjukkan kasihNya kepada Tuhan dengan ikut menderita demi Injil. Paulus mengakui bahwa “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang yang jahat dan penipu akan bertambah jahat.” Oleh karena itu Timotius harus tetap berpegang teguh pada Kitab Suci. Kitab Suci sebagai pedoman yang mengubah hidup setiap pribadi.
Sabda Tuhan mengarahkan kita pada identitas Yesus yang kita kasihi dengan segenap hati, akal budi dan kekuatan. Dia yang selalu kita akui ketika mengucapkan "Doa aku percaya" dengan mengatakan "Ia naik ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa". Dialah Mesias kita. Mengenal Yesus dan bersahabat denganNya membuat kita siap untuk menderita seperti pengalaman Paulus dan Timotius. 


Menjadi pertanyaan bagi kita adalah, apakah kita hanya tinggal berbangga sebagai pengikut Kristus tetapi kita sendiri takut menderita atau takut memberi kesaksian bahwa Dialah Mesias yang sesungguhnya? Ingatlah bahwa Dia sendiri telah menderita bagi kita!
Doa: Tuhan, penderitaanMu telah menyelamatkan aku. Amen
PJSDB