Saturday, August 4, 2012

Mentalitas Herodes


Mentalitas Herodes

Hampir sepanjang hari ini ada sebuah permenungan yang muncul dalam pikiran saya yaitu "Berita-berita tentang Yesus yang sempat didengar oleh Herodes, raja wilayah Galilea" (Mat 14:1). Yesus sendiri sudah tampil memukau banyak orang Galilea. Mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus seperti menyembuhkan orang sakit, mengusir setan-setan dan kuasa roh jahat, memperbanyak roti dan ikan serta membangkitkan orang mati. Dia mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa. Inilah yang membuat banyak orang dari Galilea dan Yudea berbondong-bondong mengikutiNya. Semua karya besar Allah melalui Yesus sang Putera ini membuat orang-orang Nazareth bertanya, “Dari mana diperolehnya hikmat dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat itu.” (Mat 13:54). Herodes setelah mendengar berita tentang Yesus berkata, “Inilah Yohanes Pembaptis. Ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam dirinya” (Mat 14:2). Beda usia antara Yohanes Pembaptis dan Yesus hanya enam bulan. Yohanes tampil lebih dahulu menyiapkan kedatangan Yesus tapi itu pun tidak butuh waktu lama. Anehnya, Herodes bisa keliru dengan Yesus.

Mentalitas Herodes adalah mental kebanyakan para pemimpin yang suka lupa atau keliru menyebut nama orang, bahkan orang dekat sekali pun. Ada pemimpin yang setiap hari bekerja bersama stafnya tetapi sulit mengingat nama stafnya. Pemimpin yang baik seharusnya mengetahui nama dan asal stafnya. Masih banyak Herodes di sekitar kita. Akibatnya, orang-orang di sekitar kita tidak lebih dari sebuah sekrup yang dipakai untuk memudahkan pekerjaan kita. Kalau tidak mengetahui identitas staf sendiri bagaimana dapat memperlakukannya secara manusiawi? Pernakah seorang mengingat dan menyapa stafnya dari jabatan tinggi hingga office boy?

Herodes memang keliru. Ia mendengar berita tentang Yesus tetapi memikirkan Yohanes Pembaptis. Banyak di antara kita juga yang mirip Herodes. Mereka mendengar nama Yesus dalam pewartaan Sabda, membaca Kitab Suci atau buku-buku rohani tentang Yesus, tetapi pertanyaan siapakah Yesus itu selalu sulit untuk dijawab. Para rasul ketika ditanya oleh Yesus, “Kata orang siapakan Anak Manusia” dengan cepat mereka menjawabnya tetapi ketika ditanya Yesus, “Menurut kamu siapakah Aku” juga menjadi sulit untuk menjawabnya. Apakah kita melebihi Herodes atau sama dengan Herodes dalam mengenal Yesus? Selidikilah bathinmu dan jujurlah di hadapan Tuhan.

PJSDB

Renungan 4 Agustus 2012

Hari Sabtu, Pekan Biasa XVII
St. Yohanes Maria Vianney
Yer 26:11-16.24
Mzm 69: 15-16.30-31.33-34
Mat 14:1-12

Orang benar selalu menjadi korban ketidakadilan sosial

Penginjil Matius menutup Bab 13 yang berisi tujuh buah perumpamaan yang dikatakan Yesus tentang Kerajaan Sorga. Perumpamaan tentang penabur, perumpamaan tentang lalang di antara gandum, Perumpamaan tentan biji sesawi dan ragi, penjelasan perumpaman tetang lalang di antara gandum, perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga, perumpamaan tentang pukat dan diakhiri dengan penolakan Yesus di kampung halamanNya. Ketujuh perumpamaan ini menggambarkan kemegahan Kerajaan Sorga dan siapa yang layak tinggal di dalamnya. Untuk masuk dalam Kerajaan Sorga maka misi Yesus harus dipenuhi yakni Ia harus mengorbankan diriNya demi keselamatan manusia. Itu sebabnya Matius tidak keliru menempatkan bagian terakhir dari semua perumpamaan ini tentang penolakan orang-orang Nazareth terhadap Yesus. Orang Nazareth menolak Yesus itu sama dengan Israel menolak Yesus. Yesus sendiri nantinya akan berkata, “Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan” (Mat 17:22-23). Penolakan terhadap Yesus mencapai puncaknya pada peristiwa penyalibanNya.

Yesus tidak sendirian mengalami penolakan di Nazareth. Para nabi sebagai utusan Allah pun mengalami penolakan. Dalam bacaan pertama, Yeremia menceritakan pengalaman dirinya ditolak karena mengatakan Firman Tuhan berupa teguran yang keras supaya orang-orang zamannya dapat berubah. Melalui Yeremia, Tuhan menegur umatNya yang keras hati dan tidak mau mendengarNya. Nabi Yeremia mengatakan nubuat Tuhan apa adanya bahwa kalau mereka tidak mendengar suara Tuhan dan para nabiNya niscaya mereka akan hancur seperti kota Silo. Perkataan ini menyinggung perasaan para pendengarnya terutama para imam, nabi dan pemuka rakyat. Mereka terang-terangan mau membunuh Yeremia. Dengan kuasa Tuhan, Yeremia tetap pada pendiriannya dengan mengatakan, “Tuhan benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu”. Yeremia mengingatkan mereka untuk bertobat yakni dengan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan mereka yang jahat serta mendengar suara Tuhan. Yeremia juga mempersilakan mereka untuk berbuat apa saja kepada dirinya dan kalau sampai membunuhnya maka darahnya akan menjadi tanggungan mereka. Pada akhirnya Yeremia dibebaskan.

Orang-orang yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan terkadang menjadi korban ketidakadilan sosial. Yeremia tidak bernubuat atas namanya sendiri tetapi dia mengalami penolakan, intimidasi bahkan nyaris dibunuh oleh orang-orang dekatnya. Dosa dan kebiasaan buruk banyak kali menutup indera manusia sehingga tidak peka lagi dengan hidup sebagai manusia yang sebenarnya. Hati nurani tidak berfungsi lagi karena dosa. Orang-orang dekat saja dapat menjadi musuh.

Pengalaman Yeremia dilengkapi secara sempurna oleh Yohanes Pembaptis. Dia juga menjadi korban ketidakadilan sosial pada zamannya. Dia pernah tampil memukau di depan banyak orang karena pewartaannya berupa seruan tobat dan pembaptisan sebagai persiapan untuk menyambut kedatangan Yesus. Ketika melihat Herodes sebagai pemimpin mengalami kemerosotan moral maka sebagai nabi, Yohanes menjalankan kuasa Tuhan untuk mengoreksinya. Ia berkata kepada Herodes, “Tidak halal Engkau mengambil Herodias, isteri saudaramu”. Herodes tersinggung karena teguran Yohanes maka ia pun memenjarakan Yohanes. Pada akhirnya kemerosotan moral itu sempurna ketika kepala Yohanes dipenggal Herodes. Herodias bersukacita. Herodes yang sebelumnya segan dengan Yohanes akhirnya puas juga dengan menghilangkan nyawa orang benar.

Kemartiran Yohanes Pembaptis memiliki dampak yang besar terhadap Yesus dan pewartaanNya. Herodes sendiri berkata, “Inilah Yohanes Pembaptis. Ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu ada di atasNya”. Herodes benar-benar buta sehingga tidak membedakan mana Yesus dan mana Yohanes Pembaptis. Namun dibalik kejahatannya, tersimpan rasa kagum terhadap Yohanes karena banyak orang mengatakan bahwa Yohanes adalah nabi. Ia juga mendengar tentang Yesus karena segala mukjizat yang dilakukanNya meskipun hanya menyangkah bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang  bangkit.

Sebuah kesaksian yang menarik perhatian kita adalah Herodes mendengar tentang Yesus (Mat 14:1) namun mendengarnya Herodes ini tidak membangkitkan rasa apa-apa. Dia menyangka bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis. Herodes telah tiada tetapi sikapnya masih dimiliki oleh banyak orang pada zaman ini. Banyak orang bahkan kita sendiri mungkin mendengar tentang Yesus tetapi masalahnya adalah apakah kita sungguh-sungguh mengimaninya? Siapakah Yesus itu sebenarnya bagi kita? Kita seharusnya menjawab pertanyaan ini tidak seperti Herodes yang yakni bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit (Mat 14:2). Kita dapat menggunakan jawaban Petrus ketika Yesus bertanya “Siapakah Aku” dan Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:15-16).

Sabda Tuhan hari ini membuka pikiran kita untuk berlaku adil terhadap sesama. Terkadang nafsu manusiawi untuk berkuasa, untuk memiliki harta kekayaan membuat hati dan indera kita tertutup bagi Tuhan dan sesama. Kita mungkin saja menjadi korban ketiadakadilan sosial meskipun kita berada di pihak yang benar. Kita juga mungkin sadar atau tidak sadar mengorbankan sesama kita dengan tuduhan, fitnahan dan gosip-gosip terentu. Apa untungnya kita menghancurkan hidup orang lain, lebih lagi hidup orang yang tidak bersalah atau hidup orang benar?

Doa: Tuhan berilah kami kemampuan untuk bersaksi tentang Kristus. Amen

PJSDB

Friday, August 3, 2012

Renungan 3 Agustus 2012

Hari Jumat, Minggu Biasa XVII
Yer 26:1-9
Mzm 69:5.8-10.14
Mat 13:54-58
Mengapa menolak Yesus dalam hidupmu?
Seorang Pewarta awam di sebuah Paroki membuat sharing pengalamannya sebagai awam yang bertugas melayani Sabda. Ia belajar pendidikan teologi dasar, Kitab Suci, liturgi dan lain-lain. Setelah menyelesaikan studinya, ia banyak membantu kegiatan katekese di lingkungan dan wilayahnya. Ia juga mengikuti kursus sehingga didaftar dan diijinkan sebagai pewarta di tingkat keuskupan. Dengan demikian ia boleh dipanggil untuk mewartakan atau untuk memberikan sharing dan pengajaran tertentu di lingkungan, wilayah, paroki atau persekutuan doa tertentu. Semakin lama melayani ia merasa bahwa ada sesuatu yang janggal. Sebuah kejanggalan karena ia sadar bahwa jumlah permintaan untuk melayani lebih banyak datangnya dari orang-orang di luar lingkungan dan wilayah parokinya. Lebih lagi ungkapan tertentu yang sempat ia dengar sendiri dari orang-orang disekitarnya, “Dia itu tahu apa? Apakah dia mengerti dan dan mampu?” 
Pengalaman si pewarta awam ini bukanlah pengalaman baru. Banyak orang lain juga mangalami betapa sulitnya menjadi pelayan di lingkungannya sendiri. Selalu ada ungkapan ketidakyakinan akan pelayanan dan kemampuan pribadi orang tersebut. Akibatnya adalah mudah menolak atau mengatakan kelemahan pribadi tersebut sebagai ungkapan penolakan.
Tuhan Yesus melakukan beraneka tanda heran. Ia mengajar dengan kuasa dan wibawa sehingga membuat banyak orang terpesona serta berbondong-bondong mengikutiNya. Belakangan ini Ia mengajar banyak orang dengan perumpamaan-perumpamaan tertentu tentang Kerajaan Sorga. Ia menggunakan contoh-contoh konkret sehingga mempermudah wawasan berpikir banyak orang. PengajaranNya tentang akhir zaman juga mempersiapkan orang-orang saat itu untuk menyambut kedatangan Tuhan. Semua ini dilakukan Yesus di luar Nazareth dan boleh dibilang berjalan dengan lancar, diterima dengan baik. 
Pengalaman Yesus berubah ketika berada di Nazareth. Para penulis Injil Sinoptik (Mat 13: 54-58; Mrk 6:1-6; Luk 4:16-30) memberi kesaksian yang mirip bahwa Yesus mengalami penolakan di Nazareth. Mengapa? Ketika tiba di Nazareth, Ia mengajar banyak orang di rumah ibadat. Pengajaran Yesus ini mirip seorang nabi, utusan Tuhan yang bijaksana. Hal yang membuat orang-orang Nazareth menolak kehadiran Yesus adalah karena mereka mengenal Yesus: AyahNya berprofesi sebagai tukang kayu, nama ibuNya adalah Maria, Saudara-saudaraNya adalah Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas dan saudari perempuan juga sedang hadir di dalam rumah ibadat itu. Dengan mengenal identitas manusiawiNya maka terbentuk rasa kecewa dan penolakan. Pertanyaan mereka adalah, “Dari mana diperolehNya hikmat dan kuasa untuk membuat mukjizat-mukjizat itu?” Mereka mengenal identitas manusiawi Yesus maka mereka kecewa dan menolak Dia. Tentang pengalaman ditolak ini, Yesus berkata, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya”. 
Episode Nazaret ini dikenal bukan hanya sebagai penolakan terhadap Yesus oleh pihak keluarga melainkan juga penolakan Israel terhadap kehadiran dan karya Yesus. Orang-orang Nazareth mengenal Yesus dari masa kecil dan orang tuaNya maka mereka kaget melihat kehebatanNya dalam membuat mukjizat dan mengajar. KebijaksanaanNya melebihi Salomo (Mat 12:42). Ia mengajar dengan kuasa dan wibawa melebihi para nabi.
Pengalaman Yesus ini juga pernah dialami oleh nabi Yeremia. Ketika ia menubuatkan kemusnahan Bait Suci dan hukuman mati atas Uria maka ia pun mendapat ancaman pembunuhan oleh orang-orang di sekitarnya. Firman Tuhan melalui Yeremia, “Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti TauratKu yang telah kubentangkan di hadapanmu dan tidak mau mendengar para nabi utusanKu maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa.” Setelah mengatakan demikian, orang-orang menangkap dan mengancam Yeremia dengan berkata, “Engkau harus mati!”
Seringkali kita semua memandang dan menilai seseorang berdasarkan daerah asal geografis, orangtua dan profesinya, nama-nama karyawannya dan lain-lain. Sering kali tanpa sadar kita mengungkapkan L4 alias Loe Lagi Loe Lagi dan maragukan kemampuan serta penolakan terhadap pribadi tertentu. Penolakan terhadap Yesus bukan hanya dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Nazaret, tetapi pada saat ini juga Ia masih ditolak. Banyak orang merasa terlalu akrab dengan Yesus dalam hidup doa, Firman dan kehidupan devosional. Tanpa sadar pribadi-pribadi ini bukannya semakin dekat dengan Yesus dalam melayani GerejaNya tetapi semakin jauh. Iman mereka kepada Yesus hanya iman instan, iman cari muka dan iman demi popularitas saja! 
Ketika kita sudah berada di zona nyaman tertentu, susah sekali untuk keluar dari sana. Mendapat satu koreksi persaudaraan pun dianggap menyakitkan atau merasa kurang diapresiasi padahal sudah berjasa sebagai pengurus. Kalau tugas pelayanan diambil alih orang lain maka muncul gelombang protes, rasa benci dan iri hati. Pada hal semuanya itu masih dalam konteks pelayanan. Yeremia merasakan sendiri betapa sulitnya melayani umat Tuhan terutama mengoreksi kehidupan lama dan mengubah mereka menjadi baru. Hari ini adalah hari yang tepat bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik. Apakah anda mau?
Doa: Tuhan, bantulah kami untuk bertobat dan mengimani Engkau. Amen
PJSDB 

Thursday, August 2, 2012

Renungan 2 Agustus 2012

Hari Kamis, Minggu Biasa XVII
Yer 18:1-6
Mzm 146:2abc.2d-4.5.6
Mat 13:47-53
Anda tidak berhak mengadili sesamamu!
Ada seorang muda, ia mengatakan keinginannya untuk masuk ke dalam satu biara sebagai calon imam. Sebenarnya biara itu tidak menerima orang muda dari luar seminari untuk menjadi calon imam tetapi karena orang muda ini bertekad bahwa ia bisa maka dengan berani ia berkata, “Saya yakni bahwa saya coba maka saya bisa!” Nah, ini tentu modal awal yang baik untuk memulai ziarah panggilannya di dalam biara. Hari pertama adalah hari yang tidak terlupakan di  dalam hidupnya. Pater Magister Postulan memintanya untuk memisahkan biji-biji rosario warna ungu dalam satu dos dari biji yang berwana lain. Inilah pekerjaan pertama dan sulit tetapi membawa hikmat istimewa. Ya, memisahkan sesuatu dari kemajemukan yang sudah ada tidaklah gampang. Perlu campur tangan Tuhan!
Tuhan Yesus melanjutkan perumpamaanNya tentang Kerajaan Sorga. Kali ini Ia membuka pemahaman para muridNya dengan contoh dari kehidupan para nelayan. Ia berkata, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu ditarik orang ke pantai. Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu, ikan yang baik dikumpulkan di dalam pasu, yang buruk dibuang.” Hal yang menarik perhatian kita di sini adalah cara Yesus mengulangi kesabaranNya di hadapan manusia yang berdosa. Sama dengan perumpamaan tentang lalang dan gandum sebelumnya, di sini Yesus juga mengatakan bahwa ikan-ikan yang hidup dan yang terjaring di dalam pukat itu ada ikan yang baik dan ikan yang buruk. Ikan-ikan ini hidup bersama sampai saat terjaring di dalam pukat dan saat pemisahan ikan baik dan buruk oleh nelayan pemiliki pukat. 
Pemisahan ikan yang baik dan ikan buruk merupakan bahasa simbolis untuk mengatakan tentang pengadilan terakhir di mana masing-masing orang akan diadili berdasarkan perbuatan kasihnya kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Yesus akan mengutus para malaikatNya untuk mengadili manusia. Orang jahat akan dipisahkan dari orang benar. Orang jahat akan dicampakkan ke dalam dapur api di mana terdapat ratap dan kertak gigi sedangkan orang-orang benar akan menikmati kedamaian sejati. Mereka akan bercahaya seperti matahari, tidak mengilaukan mata yang menandangnya.
Apa yang mau dikatakan tentang perumpamaan di dalam perikop Injil kita hari ini? Kerajaan Allah akan dimurnikan dari segala kejahatan. Orang-orang benar akan menikmati kebahagiaan kekal sedangkan orang-rang jahat akan dicampakkan ke dalam dapur api yang menyala dan kekal. Pada saat itu segala kejahatan akan dihapus selamanya. Kebaikan akan muncul dan bersinar serta menguasai segalanya. Para murid yang mendengar seluruh pengajaran dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan ini mengatakan bahwa mereka mengerti semuanya (Mat 13:23). Tuhan menganugerahkan lahan yang baik untuk kehidupan bersama, orang baik dan orang jahat. Tuhan yang punya kuasa melalui malaikatNya untuk memisahkan orang yang baik dan orang yang jahat. Kita tidak punya hak untuk mengadili sesama!
Mengapa kita tidak memiliki hak untuk mengadili sesama? Yeremia di dalam bacaan pertama memberi rumusan yang tepat: Hidup manusia itu laksana bejana tanah liat di tangan si pembuatnya. Menjadi apakah bejana itu tergantung dari pikiran dan tangan si pembuatnya. Demikian juga hidup kita di tangan Tuhan laksana tanah liat yang siap dibentuk menjadi bejana. Kita patuh pada semua rencana dan kehendak Tuhan yang menyempurnakan kita dengan tanganNya yang gagah perkasa. 
Sabda Tuhan membantu kita untuk memiliki positif thinking terhadap sesama kita. Mengapa? Manusia yang baik dan jahat itu laksana ikan yang baik dan buruk hidup bersama di dalam air yang sama, masuk di dalam pukat yang sama. Selagi masih hidup bersama, kita masing-masing tidak memiliki hak untuk mengatakan kejelekan pribadi orang. Hanya Tuhan yang tahu dan berhak untuk mengutus para malaikatNya demi memisahkan mereka yang tidak mau bertobat dan orang-orang benar yang punya hak untuk masuk surga. Pertanyaan refleksi bagi kita adalah mengapa selalu ada kecenderungan untuk mengadili sesama, memfintah mereka dengan fitnahan yang menghancurkan? 
Sabda Tuhan juga mengundang kita untuk membangun sikap pasrah kepada Tuhan seperti tanah liat di tangan si pembuat bejana. Bejanah tanah liat tidak pernah memilih pembuatnya. Manusia tidak pernah memilih Tuhan mana yang mau disembah. Tuhanlah yang memanggil, memilih dan menentapkan manusia dan menyempurnakannya. Maka dari itu patuh dan setialah selalu kepada Tuhan sang Pencipta. Pertanyaan untuk refleksi bagi kita adalah siapakah yang anda andalkan di dalam hidupmu?
Doa: Terima kasih Tuhan, Engkau menyadarkan kami untuk tidak mengadili sesama berdasarkan keinginan manusiawi kami. Amen
PJSDB

Wednesday, August 1, 2012

Renungan 1 Agustus 2012

St. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup dan Pujangga Gereja
Yer 15.10.16-21
Mzm 59:2-3.4-5a.10-11.17-18
Mat 13: 44-46
Kerajaan Sorga itu Kaya dan Indah!
Salah satu kegiatan yang digemari anak-anak muda dalam acara camping adalah mencari harta karun. Biasanya panitia menyiapkan hadiah istimewa, kemudian menyembunyikan hadiah tersebut. Para peserta yang sudah terbagi dalam kelompok-kelompok akan mencarinya sesuai dengan petunjuk berupa sandi atau kode bunyi tertentu. Ketika kelompok menemukan harta karun itu maka akan ada sukacita di dalam kelompok itu.
Setelah Yesus memberi perumpamaan tentang Kerajaan Sorga dengan menggunakan contoh kehidupan agraris (benih) dan menjelaskannya, kini Yesus beralih ke perumpamaan untuk menjelaskan Kerajaan Sorga dengan benda-benda berharga. Ia berkata, “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi, karena sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga itu, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat 13:44-46).
Kerajaan Allah seumpama: harta terpendam di ladang dan sebuah mutiara yang indah dan berharga. Penemu harta terpendam di ladang anonim, sama juga dengan si pedagang. Mungkin ada yang bertanya mengapa harta itu dipendam di dalam tanah. Pada zaman dahulu di Israel banyak pencuri maka untuk melindungi harta yang mahal biasanya mereka sembunyikan di dalam tanah, baik di rumah maupun di ladang. Di samping itu kadang muncul perang saudara sehingga harta juga diamankan di dalam tanah. Masalahnya menjadi sulit ketika orang yang punya harta itu meninggal dunia, tanpa menulis surat wasiat. Nah biasanya ada orang tertentu yang bekerja di ladang dan menemukan harta benda yang nilainya tinggi.
Menjadi pertanyaan kita, “Apa yang dilakukan oleh si penemu harta benda di ladang?” Apa yang harus dilakukan oleh si pedagang? Si penemu harta benda ini tidak tamak. Dia pintar tetapi juga pintar-pintar. Ketika menemukan harta tersebut dia bersukacita. Dia tidak langsung mengambil harta tersebut tetapi tetap membiarkannya di dalam tanah. Ia harus menjual segala miliknya lalu kembali untuk membeli ladang itu. Demikian juga pedagang tanpa nama sedang mencari mutiara yang indah. Ia menjual segala miliknya supaya dapat membeli mutiara itu. 
Betapa sangat berharganya harta di dalam tanah dan mutiara yang indah sehingga untuk memilikinya orang perlu menjual segala milik kepunyaannya. Sukacita selalu dimiliki oleh pribadi-pribadi yang masuk dan menikmati Kerajaan Sorga. Yesus juga mewartakan kebahagiaan dan sukacita kepada orang yang berkenan padaNya. Kerajaan Sorga sangat berharga. Orang harus menjual segala milikinya tetapi tetap bersukacita  sehingga dapat memilikinya. Konkretnya, perumpamaan ini menjadi simbol orang-orang yang mencari Tuhan dengan melakukan pertobatan istimewa.
Perumpamaan tentang mutiara yang indah menunjukkan bahwa Kerajaan Sorga itu indah melebihi segalanya. Pribadi-pribadi tertentu memiliki pencarian terus menerus  hingga menemukan Kerajaan Sorga. Hal ini kiranya mirip dengan para murid Yohanes Pembaptis, Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea. Mereka-mereka ini mencari Yesus terus menerus dan ketika menemukanNya, mereka sangat bersukacita.
Nabi Yeremia dalam bacaan pertama juga mencari Kerajaan Sorga. Sebagai nabi, ia terus mencari secara pribadi tetapi semakin ia mencari dan menemukan Tuhan, muncullah berbagai penderitaan. Ia sempat mengeluh kepada Tuhan karena orang-orang yang mendengar Sabda melalui mulutnya tetapi tidak mendengar dan melakukannya. Banyak orang mengutuk Yeremia meskipun dirinya tidak memiliki utang apapun. Yeremia bertanya kepada Tuhan, “Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan?” Hanya Sabda Tuhan yang menjadi kekuatan bagi Yeremia. Yeremia berkata, “Apabila aku menemukan sabdaMu maka aku menikmatinya. SabdaMu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku”. Tuhan lalu menyadarkan Yeremia, “Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan dikau menjadi pelayan di hadapanKu.” Tuhan juga berjanji kepada Yeremia untuk melepaskannya dari orang-orang jahat dan membebaskan dari genggaman orang lain. Yeremia menjadi penyambung lidah Tuhan.
Kerajaan Sorga itu indah dan mahal. Setiap orang memiliki kerinduan untuk mencari, menemukan dan memilikinya. Sikap bathin yang harus dibangun untuk memiliki Kerajaan Sorga adalah: Selalu bersukacita, memiliki sikap lepas bebas yang ditunjukkan dengan menjual segala milik untuk membeli harta terpendam dan mutiara yang indah. Dengan kata lain, untuk memiliki Allah di dalam hidup, orang harus lepas bebas dari segala harta dan hiburan duniawi. Yesus sendiri berkata, “Dimana hartamu ada, disitu hatimu juga berada” (Mat 6:21). Orang juga diingatkan untuk bertahan dalam penderitaan. Pertanyaan refleksinya adalah, “Apakah kita semua dapat berjuang untuk memiliki Allah dan KerajaanNya di dalam hidup kita?”
Doa: Tuhan, semoga kami tekun mencari, menemukan dan tinggal bersamaMu. Amen
PJSDB

Orang Kudus: St. Alfonsus Maria de Liguori


1 Agustus
St. Alfonsus Maria de Liguori
Uskup, Pujangga Gereja
Pendiri Kongregasi Redemptoris
Alfonsus dilahirkan dekat Napoli, Italia pada tahun 1696. Ia dikenal sebagai seorang pelajar yang tekunt belajar. Hal ini dibuktikannya ketika mendapatkan gelar dalam bidang hukum dan menjadi seorang pengacara terkenal. Namun demikian pada suatu ketika ia melakukan suatu kesalahan di pengadilan. Pengalaman ini membuat ia yakin akan apa yang pernah muncul dalam pikirannya bahwa ia harus meninggalkan pekerjaannya dan menjadi seorang imam. Ayahnya berusaha membujuk Alfonsus agar ia mengurungkan niatnya itu. Tetapi, tekad Alfonsus sudah bulat. Ia menjadi seorang imam.
Kehidupan Alfonsus dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan. Ia berkhotbah dan menulis banyak buku. Ia membentuk suatu kongregasi rohani yang disebut “Kongregasi Pater-Pater Redemptoris” (CSsR). Alfonsus memberikan pengarahan rohani yang bijaksana dan membawa damai bagi umatnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Ia juga menulis lagu puji-pujian, bermain organ dan melukis. St. Alfonsus menulis enampuluh buah buku. Ini sungguh luar biasa mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang lain amatlah banyak. Ia juga sering menderita sakit. Ia sering sakit kepala, tetapi segera ia akan menempelkan sesuatu yang dingin ke dahinya dan terus tetap bekerja.
Meskipun pada dasarnya ia mempunyai kecenderungan untuk bersikap terburu-buru, Alfonsus berusaha untuk menguasai diri. Ia amat rendah hati, hingga ketika pada tahun 1798 Paus Pius VI ingin mengangkatnya menjadi seorang Uskup, dengan lembut ia mengatakan “tidak”. Ketika para utusan paus telah datang secara pribadi untuk menyampaikan keputusan paus kepadanya, mereka menyapa Alfonsus dengan “Tuan yang Termasyhur”. Alfonsus menjawab, “Tolong, jangan memanggilku seperti itu lagi. Sebutan itu akan membuatku mati.” Paus memberikan pengertian kepada Alfonsus bahwa ia sungguh menghendaki Alfonsus menjadi seorang Uskup.
Alfonsus mengutus banyak pengkhotbah ke seluruh wilayah keuskupannya. Umat perlu diingatkan kembali akan cinta kasih Tuhan dan akan pentingnya iman mereka. Alfonsus berpesan kepada para imam untuk menyampaikan khotbah yang sederhana. “Saya tidak pernah menyampaikan khotbah yang tidak dapat dimengerti bahkan oleh nenek tua yang paling lugu yang ada di gereja,” katanya. Dengan semakin bertambahnya usia, Alfonsus menderita berbagai penyakit. Ia menderita radang sendi yang menyiksanya dan menjadikannya lumpuh. Ia kehilangan pendengarannya serta nyaris buta. Ia juga harus mengalami berbagai kekecewaan dan pencobaan. Namun, Alfonsus memiliki devosi yang amat mendalam kepada Santa Perawan Maria, seperti yang dapat kita ketahui melalui bukunya yang terkenal yang berjudul “Kemuliaan Maria”. Segala penderitaan dan pencobaan itu berakhir dengan damai dan sukacita serta kematian yang kudus.
Alfonsus wafat pada tahun 1787 pada usia sembilanpuluh satu tahun. Paus Gregorius XVI menyatakannya kudus pada tahun 1839. Paus Pius IX memberinya gelar Doktor Gereja pada tahun 1871.

Tuesday, July 31, 2012

Sharing: Lalang dan gandum


Lalang dan gandum
Seorang sahabat saya setelah membaca renungan harian beberapa hari yang lalu (Sabtu 28 Juli 2012) dan renungan harian tadi pagi (31 Juli 2012) menulis pesan kepada saya sore ini. Dia sudah merefleksikan renungan-renungan ini dalam konteks relasi persahabatan. Ia menulis begini, “Pater John, saya baru sadar bahwa ternyata selama ini saya bertumbuh bersama sahabat-sahabat saya ibarat gandum yang bertumbuh bersama lalang. Demi persahabatan saya baru menyadari bahwa ada di antara mereka yang akrab denganku karena persahabatan. Ada yang akrab denganku karena mereka butuh tenaga dan pikiran. Ada juga yang akrab denganku karena mereka butuh duit. Mereka yang bersahabat denganku karena sahabat selalu membahagiakanku, tetapi mereka yang seolah-olah menjadi sahabat bukan karena saya apa adanya tetapi karena saya ada apanya” mengecewakan. Ketika bertemu di jalan, di gereja atau dalam persekutuan mereka menghindar. Mereka masa bodoh seolah-olah tidak ada apa-apa. Orang katolik, pengikut Kristus ternyata menjadi lalang yang subur!"  
Satu sharing “kesadaran” yang lambat tetapi menarik perhatianku. Tanpa sadar banyak kali terjadi di dalam hidup pengalaman-pengalaman seperti sahabatku ini. Kedekatan sebagai sahabat sebenarnya bukan hanya pada saat-saat yang membahagiakan (karena ada apanya) tetapi dalam segala situasi hidup (apa adanya). Persahabatan yang baik bukan berdasar pada rasa simpati tetapi pada rasa empati. Terkadang orang kurang menyadarinya sehingga relasi antar pribadi menjadi rusak. Adalah sebuah kesalahan besar kalau ada orang berperilaku parasit pada orang lain.
Lalang dan gandum itu tumbuhan yang memiliki kemiripan. Pada saat masih bertumbuh bersama di atas lahan, sang petani susah membedakan. Kelihatan dalam bertumbuh bersama tidak menimbulkan masalah apa-apa. Meskipun sebenarnya, petani yang cerdas akan merasa rugi karena humus tanah juga ikut direbut oleh lalang. Para petani dapat membedakannya ketika mulai berbunga dan berbuah hingga panen. Namun masih sulit untuk mencabut lalang karena lalang masih bertumbuh bersama gandum. Hanya saat menuai baru bisa memisahkan lalang dan gandum. Hidup bersama juga demikian. 
Orang-orang di sekitar kita terkadang sulit kita bedakan apakah dia itu baik atau jahat. Kadang karena kedekatan maka tidak dapat dibedakan. Orang dapat menjadi lalang dengan memeras, meminjam duit berkali-kali tanpa pikir untuk mengganti. Hanya karena persahabatan orang susah untuk mengatakan tidak. Tindakan untuk merugikan sahabat itu dosa! Bertobatlah, jadilah gandum yang memberi hidup bukan lalang yang menghasilkan kematian. 
PJSDB