Friday, October 26, 2012

Renungan 26 Oktober 2012


Hari Jumat, Pekan Biasa XXIX
Ef 4:2-3
Mzm. 24:1-2.3-4ab.5-6
Luk: 12:54-59

Hiduplah sepadan dengan Panggilanmu!

Seorang Bapa dalam sharing keluarga, mengungkapkan bahwa ia merasa sebagai Bapa untuk anak-anak dan sebagai suami yang sukses. Ia merasa sukses karena selalu melihat hal-hal yang terbaik dalam diri istri dan anak-anaknya dan berusaha melupakan kelemahan dan kesalahan mereka. Dia bahkan berjanji untuk setia dalam panggilan sebagai seorang bapa di dalam keluarga. Seorang ibu juga mengakui diri sebagai istri yang bahagia karena selalu terbuka dan berkomunikasi baik dengan suaminya. Dia juga mendidik anak-anak untuk bertumbuh dalam kasih. Seorang Romo juga merasa bahagia dengan panggilannya. Meskipun banyak kesulitan dalam hidup dan pelayanan sebagai imam namun ia tetap merasakan kasih Tuhan yang tiada habis-habisnya. Dari situ ia berjanji untuk menjadi Romo yang baik untuk umat dan Tuhan.

Beberapa kesaksian di atas membuka wawasan kita untuk memahami panggilan sebagai anugerah yang indah dan berharga dari Tuhan. Oleh karena itu rasa syukur atas panggilan hidup perlu dimiliki oleh setiap orang. Kadang-kadang orang lupa bersyukur untuk menjadi bapa, ibu, anak atau syukur atas jabatan tertentu dalam berkarya. Mungkin orang lebih suka menunggu manakala ada kesulitan baru mendekatkan diri pada Tuhan. Padahal, dalam situasi apa saja orang harus setia dalam panggilannya.

Santo Paulus menunjukkan teladan yang baik. Dari dalam penjara Paulus mengingatkan jemaat di Efesus untuk tidak menyia-nyiakan pewartaannya. Dia telah bekerja keras menghadirkan Injil maka kiranya jemaat Efesus hidup mereka sepadan dengan panggilan mereka sebagai pengikut Kristus. Orang kristiani berarti orang yang hidup dalam jalan Tuhan. Hari demi hari Yesus adalah segalanya bagi mereka.

Lebih jelas Paulus menulis: "Hendaklah kalian selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera. Satu tubuh, satu Roh, sebagaimana kalian telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu". Kebajikan-kebajikan kristiani seperti rendah hati, lemah lembut dan sabar adalah kebajikan dasar yang kalau dihayati dengan baik akan membuat semua orang menjadi satu. Pikirkanlah, apakah anda orang yang rendah hati? Apakah anda orang yang lemah lembut? Apakah anda juga orang yang sabar? Apakah anda juga orang yang mampu mengasihi?

Persekutuan sebagai umat Tuhan dapat berjalan dengan baik kalau orang rendah hati, lemah lembu dan sabar. Seringkali kebajikan-kebajikan kristiani ini disepelekan. Bagaimana jemaat dapat berkembang dan membangun persekutuan kalau orang hidupnya jauh dari ajaran Tuhan? Paulus juga mengingatkan mereka bahwa Roh Kudus berkarya dan mempersatukan mereka. Persekutuan dalam Roh akan membuat mereka merasakan sebuah persaudaraan yang penuh kedamaian dan kasih. Dengan semangat ini, mereka juga akan merasakan kehadiran Tuhan yang esa, yang selalu mencintai mereka.

Menjadi pertanyaan kita adalah apa yang harus kita lakukan? Di dalam bacaan Injil, Yesus memberi satu rumusan: "Kita harus pandai membaca tanda-tanda zaman!" Di dalam  peredaran waktu, semua orang perlu merasakan kehadiran Tuhan. Dia yang menciptakan alam semesta, Dia juga hadir dan menunjukkan diriNya lewat ciptaanNya. Maka hiduplah sepadan dengan panggilanmu.

Doa: Tuhan bantulah kami untuk menjadi saudara! Amen

PJSDB

Thursday, October 25, 2012

Renungan 25 Oktober 2012


Hari Kamis, Pekan Biasa XXIX
Ef 3:14-21
Mzm 33:1-2.4-5.11-12.18-19
Luk 12:49-53

Bukan damai melainkan pertentangan!

Pada hari-hari ini Yesus berbicara tentang akhir zaman di mana Ia sendiri akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Harapan Yesus adalah setiap orang yang mengimaniNya memiliki sikap berjaga-jaga, selalu siap siaga menanti kedatanganNya. Sikap sebagai abdi atau hamba yang setia kiranya menginspirasikan kita semua untuk siap dengan hati yang murni menyambut kedatanganNya kembali. Pertanyaan mendasar bagi kita adalah, apakah kita memiliki hati yang terarah hanya kepada Yesus? Apakah kita memiliki kerinduan yang mendalam terhadap Tuhan Yesus? Sebagai orang percaya, Yesus hendaknya menjadi satu-satunya sahabat yang terbaik bagi kita.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan suatu hal yang sangat mengherankan kita semua. Kalau sebelumnya Ia mengingatkan kita supaya berjaga-jaga maka rasanya kita bisa melakukannya dengan mudah. Tetapi dalam perikop Injil kita, Ia berkata, “Aku datang untuk membawa api ke atas bumi dan betapa Aku harapkan agar api itu menyala”. Apa yang anda pikirkan tentang Api? Mungkin banyak di antara kita langsung berpikir tentang Api sebagai simbol cinta kasih, injil atau karunia Roh Kudus. Yesus tidak bermaksud mengatakan Api dalam arti seperti ini. Ia justru mau mengatakan tentang Api yang berfungsi untuk memurnikan, membakar semua yang lapuk, memberi kehangatan dan  menunjang kehidupan. Ini adalah Api pengadilan ilahi yang dapat menghancurkan semua orang yang tidak mau menyerahkan diri kepadaNya. Api yang dapat membantu manusia untuk mengambil keputusan yang tepat untuk mengikuti Yesus atau tidak mengikutiNya.

Api menjadi simbol ilahi untuk memurnikan umat manusia (Yes 66:15-16; Yeh 38:22; Yer 5:14 dan Sir 48:1). Api memurnikan orang-orang benar sedangkan orang-orang jahat dihancurkan (Mal 3:2-5). Yesus memurnikan manusia melalui peristiwa Paskah yang akan dialamiNya sendiri. Ia pergi ke Yerusalem untuk menderita, sengsara dan wafat bagi manusia yang berdosa. Penebusan berlimpah yang Yesus lakukan laksana Api yang memurnikan hidup manusia. Bagi Penginjil Lukas, Api juga dapatlah menjadi simbol Roh Kudus (Luk 3:16) karena Yesus membaptis dengan Roh Kudus. Konsekuensinya adalah setiap orang yang menerima Api ini harus mengambil bagian dalam karya penyelamatan Yesus. Harapan Yesus adalah “Api itu tetap menyala!”  

Selanjutnya Yesus berkata, “Aku harus menerima baptisan dan betapa susahnya hatiKu sebelum hal itu berlangsung”. Yesus sendiri mengetahui segala yang akan menimpa diriNya. Yesus sudah tahu tentang Peristiwa Paskah Agung yakni Ia akan menderita, sengsara sampai wafat di atas kayu salib yang hina. Ini adalah bentuk pembaptisanNya. Yesus adalah pemimpin dan menjadi orang pertama yang akan mati di atas kayu Salib, dan bangkit dengan mulia. Peristiwa Paskah yang dialami oleh Yesus menjadi tanda pembaptisanNya. Apa hubungannya dengan kita? Paulus menulis, "Kamu tahu, bahwa dalam pembaptisan  yang menyatukan kita dengan Kristus, kita semua dibaptis dan dibenamkan dalam kematianNya. Tetapi oleh pembaptisan dalam kematianNya  kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Kristus dan seperti Kristus kita juga dibangkitkan. Kita bersatu dengan Kristus dalam kematianNya" (Rom 6:3-5).

Yesus berbicara dengan jelas tentang Api, perjuangan dan pemisahan. Penginjil Lukas memiliki satu maksud yang mulia yakni menunjukkan kemiripan antara para murid dengan Yesus sang Maestro. Jadi Yesus menerima pembaptisan di Sungai Jordan memiliki konsekuensi bagi setiap orang yang mengikutiNya. Baptisan bagi Yesus adalah pengalaman PaskahNya, dan baptisan bagi manusia yang percaya pada Yesus. Dengan pembaptisan manusia juga mengalami wafat dan kebangkitan Kristus (Rom 6). Kristus menginginkan Api yang memurnikan dan mengubah. Pengikut Kristus menerima Api Roh Kudus pada Hari Raya Pentekosta. Api yang mengubah hidup para Rasul untuk mengabdi, menjadi saksi dan pewarta Injil (Kis 2). Kristus membawa pemisahan, manusia adalah pribadi yang mencintai damai. Damai adalah titipan Tuhan sendiri (Yoh 14:7) dan siapa yang membawa damai akan disebut Anak-anak Allah (Mat 5:9).

Pada akhirnya Yesus berkata, “Kamu menyangka Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pertentangan.” Pertentangan akan terjadi dalam keluarga dan lingkungan hidup. Setiap pribadi juga boleh bertanya dalam dirinya apakah ia berada di pihak Yesus atau bukan berada di pihak Yesus. Orang yang berada di pihak Yesus tentu memperoleh keselamatan, orang yang tidak bersama Yesus akan binasa.

Santo Paulus dalam bacaan pertama berdoa memohon agar jemaat di Efesus diteguhkan dalam kekuatan Roh Kudus sehingga menjadi manusia rohani. Maksud manusia rohani adalah manusia baru yang diciptakan dan dibangun oleh Kristus sendiri. Doa Paulus tetap aktual hingga saat ini. Di dalam Gereja, para gembala memiliki tugas mulia untuk mendoakan domba-dombanya. Di samping itu, hendaknya ada rasa kekaguman terhadap Yesus secara terus menerus. Dia mati untuk kita, Dia juga bangkit untuk kita.

Doa: Tuhan Yesus, semoga kami mampu membawa damaiMu kepada sesama.

PJSDB

Wednesday, October 24, 2012

Renungan 24 Oktober 2012

Hari Rabu, Pekan Biasa ke XXIX
Ef 3:1-12
Yes 12:2-3.4bcd.5-6
Luk 12:39-48

Setialah dalam Panggilanmu!

Menjadi orang yang setia itu suatu harapan dan perjuangan di dalam hidup manusia. Para suami dan istri ketika menikah, mereka berjanji untuk setia satu sama lain dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Para imam dan biarawan serta biarawati berjanji saat mengucapkan kaul untuk setia hari demi hari sebagai orang yang taat, miskin dan murni demi Kerajaan Allah. Para karyawan dan karyawati, pegawai negeri membuat janji setia demi Allah untuk bekerja tekun. Dalam semua aspek kehidupan dibutuhkan kesetiaan untuk mengabdi dan melayani.

Para murid Yesus diingatkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang mengabdi dengan setia. Kesetiaan sebagai abdi itu ditunjukkan dengan sikap bathin 5S yakni siap sedia selalu setiap saat. Sama seperti pemilik rumah yang mengetahui saat kedatangan pencuri untuk membongkar rumahnya maka ia akan siap sedia supaya rumahnya tidak dibongkar pencuri itu. Sikap siap sedia dan setia dalam mengabdi juga menjadi bagian penting dalam menanti kedatangan Tuhan. Yesus berkata, “Hendaklah kalian juga siap sedia karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tak kalian sangka-sangka”. Maka tentu saja orang tidak akan terlena dengan dirinya apabila saat itu ia berada di zona nyaman. Ia harus berjuang untuk mengabdi dengan setia kepada Tuhan dan menanti kedatanganNya.

Yesus juga memberi perumpamaan lain tentang bagaimana menjadi hamba yang setia menanti kedatangan tuannya. Hamba yang setia akan melakukan pekerjaan dengan tulus sedangkan hamba yang jahat akan melakukan tindak kekerasan terhadap sesamanya. Mengapa demikian, karena ia berpikir bahwa tuannya akan lambat. Hamba yang setia dalam melakukan tugasnya akan disapa bahagia oleh tuannya. Hamba yang tidak setia dalam tugas akan mendapat hukuman setimpal. Pada akhir bacaan Injil, Yesus berkata, “Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya. dan barangsiapa dipercaya banyak, lebih banyak lagi yang dituntut daripadanya”.

“Bersiap sedia” merupakan suatu undangan Tuhan untuk menjadi setia dalam mengabdi. Ini mengandaikan tugas dan tanggung jawab, dan bagaimana kita bereaksi terhadap segala sesuatu yang sudah kita terima dari Tuhan. “Mengetahui kehendak sang Maestro” adalah apa yang kita identifikasikan dengan pertimbangan nurani yang jernih dan tanggung jawab terhadap segala tindakan kita. Ini adalah upaya kita untuk membangun persekutuan yang adil dan penuh kasih terhadap sesama.

Bacaan Injil hari ini mengundang kita untuk selalu siap menanti kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang mulia. Meskipun kedatangannya tidak terduga tetapi sebagai murid yang setia, harus berjaga-jaga sehingga tawaran perjamuan Kristus juga tidak sia-sia. Orang tidak dapat hidup gampang dan santai tetapi tekun dalam bekerja dan mengabdi.

Santu Paulus dalam bacaan pertama menunjukkan sikap yang tepat sebagai abdi Allah. Ia menceritakan kembali kisah panggilannya untuk mengabdi Tuhan melalui pewartaan Injil. Tentu ia bukan mau menyombongkan diri tetapi untuk menunjukkan bahwa dirinya dipilih Tuhan untuk mengabdi dengan setia. Ia menjadi hamba misteri Yesus Kristus yang diproklamasikan sebagai sumber keselamatan bagi semua manusia. Ia berusaha menyerahkan  seluruh hidup, kekuatan, dan kemampuannya untuk mewartakan rencana keselamatan Allah dalam Kristus Yesus. Semua ini bagi Paulus merupakan karya Roh Kudus yang terus menerus di dalam dirinya sebagai rasul. Oleh karena pewartaannya juga, orang-orang bukan Yahudi juga menjadi ahliwaris, anggota-anggota tubuh, peserta dalam janji yang diberikan Kristus Yesus.

Sabda Tuhan pada hari ini membimbing kita, menerangi langkah kaki kita untuk menjadi abdi Tuhan yang setia dan bijaksana. Abdi yang selalu siap sedia dalam mewartakan kasih Allah di dalam dunia ini. Abdi yang memiliki komitmen untuk menanti kedatangan Tuhan dengan siap sedia. Sikap ini merupakan sebuah sikap terbuka, dan merupakan sebuah panggilan hidup. Bagaimana komitmenmu dalam pelayanan? Apakah anda setia di dalam panggilan dan pelayananmu?

Doa: Tuhan Yesus, jadikanlah kami abdi-abdiMu yang setia. Amen

PJSDB

Tuesday, October 23, 2012

Renungan 23 Oktober 2012

Hari Selasa, Pekan Biasa XXIX
Ef 2:12-22
Mzm 85:9ab.10-14
Luk 12:35-38
Selalu berjaga-jaga!

Ada seorang pemuda calon militer Angkatan Darat. Pada hari-hari pertama pendidikan, ia mesti mengikuti latihan fisik dan psikis secara reguler. Pada jam-jam tertentu mereka dipanggil dengan menggunakan bunyi  peluit, dan bel. Para calon militer ini harus selalu siap dengan posisi tubuh tertentu yang menunjukkan sikap hormat kepada seniornya. Setelah selesai latihan-latihan dasar di pusat latihan militer, mereka mendapat jatah liburan dua hari untuk kembali ke rumah masing-masing untuk menyiapkan diri dan melengkapi persyaratan lain sebelum mengalami pembinaan teori dan praktik. Ketika berada di rumah, pada sore harinya ada seorang pejalan kaki yang meniup peluit di jalan. Serentak orang muda itu melompat dari atas tempat tidur langsung mengambil sikap hormat. Kebetulan ayahnya berada di kamar yang sama dengannya. Ayahnya menenangkan dan bertanya kepadanya alasan mengapa mengambil sikap hormat. Anak muda itu mengatakan bahwa ia terbiasa bangun dengan bunyi peluit dan pekerjaan pertama adalah sikap hormat. Kadang-kadang orang terbiasa  dengan latihan dan disiplin tertentu. Orang boleh saja melakukan gerak-gerak fisik tertentu sebagai tanda siap sedia atau waspada.

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan para muridNya untuk berjaga-jaga. Ia berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaknya kalian seperti  orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya ketika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu. Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang".  Hamba yang setia akan selalu siap menanti kedatangan tuannya. Hamba seperti  itu patut dihadiahkan kata “bahagia”. Berjaga-jaga bagi kita berarti kita berpikir tentang apa yang akan terjadi bagi diri kita di masa depan. Berjaga-jaga berarti sadar akan kebenaran dalam arti kita berani untuk mengatakan Ya atau Tidak. Kita tidak mengatakan Ya untuk hal yang jahat dan Tidak untuk hal yang baik. Siap sedia ini tidak mengenal adanya kompromi. Siap sedia adalah suatu keharusan. Apalagi dalam konteks kita menyambut Tuhan, kita pasti harus lebih siap sedia lagi.

Malam menjadi sebuah penantian atas matahari baru. Malam adalah saat menanti dengan siap siaga akan kedatangan sang pembebas dan Hakim Agung. Kita mengenang kembali peristiwa paskah perdana dalam dunia Perjanjian Lama dimana setiap orang Ibrani diingatkan untuk siap siaga dengan pinggang terikat (Kel 12:11). Malam itu umat Israel mengalami pembebasan dari perbudakan Mesir. Kali ini Yesus mengingatkan mereka bahwa melalui Dialah semua orang mengalami damai, sukacita dan kemerdekaan. Tentu tuan yang kembali dari pesta pada malam itu menemukan hamba-hamba yang setia menunggu dengan siap siaga, melayani dengan penuh cinta. Kita mengingat perumpamaan tentang gadis yang bijaksana dan gadis yang bodoh (Mat 25). Gadis-gadis yang  bijaksana  dapat masuk dan ikut dalam perjamuan bersama. 

Paulus dalam Bacaan Pertama, mengingatkan jemaat di Efesus untuk menyadari diri mereka di hadapan Kristus. Sebelumnya jemaat di Efesus belum mengenal Kristus maka mereka juga hidup tanpa Kristus, belum termasuk warga umat Allah dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan. Mereka juga tidak memiliki harapan. Namun ketika mereka menerima Kristus, terutama dengan menumpahkan darahNya, Ia mendekatkan semua orang, pribadi lepas pribadi menjadi saudara. Kristus sendiri juga mempersatukan Tuhan dan manusia yang berdosa. Hidup baru diberikanNya kepada orang yang ditebusNya.

Dengan PaskahNya, Kristus mendamaikan Allah dan manusia. Kristus adalah damai kita dan Dialah yang membebaskan kita semua. Relasi yang terputus karena dosa menjadi pulih kembali. Manusia dipersatukan sebagai ciptaan baru sebagai saudara yang berjalan kepada Bapa dalam kesatuan Roh. Semua jemaat menjadi satu keluarga, warga kerajaan Allah dan para kudus. 

Sabda Tuhan hari ini membuka pikiran kita untuk selalu bersiap sedia menanti kedatangan Tuhan. Kita semua adalah hamba yang dipanggil dan dipilih Tuhan untuk menanti dan siap melayaniNya. Mengapa kita bersiap sedia untuk melayani Tuhan? Karena kita memiliki satu panggilan luhur untuk bersatu dengan Tuhan. Kita menjadi satu warga surgawi bersama para kudus.

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau juga mau menyapa kami sebagai hamba yang bahagia dalam menanti kedatanganMu. Amen

PJSDB

Monday, October 22, 2012

Renungan 22 Oktober 2012

Hari Senin, Pekan Biasa XXIX
Ef 2:1-10
Mzm 100: 2.3.4.5
Luk 12:13-21

Kerakusan harus diwaspadai!

Ketika masih melayani Tuhan di daerah pedalaman, saya mengalami banyak pengalaman yang unik dan indah. Saya menemukan umat yang sederhana, polos dan terbuka kepada rencana Tuhan. Saya juga menemukan umat yang membaktikan dirinya bagi Gereja sebagai pelayan yang tulus. Ada juga umat yang seolah-olah baik tetapi sebenarnya selalu ada kejahatan tertentu yang dilakukan bagi sesama baik dalam keluarga maupun sesama umat. Ya, pastor itu dianggap seperti “Ensiklopedi berjalan” yang tahu semua hal, misalnya urusan adat dan perkawinan, pembagian warisan, pendidikan anak dan lain-lain. Pastor dianggap penengah yang dapat bersikap adil. 

Pengalaman-pengalaman ini menginspirasikan kita untuk memahami perikop Injil hari ini. Sesudah Yesus mengajar banyak orang, ada satu di antara mereka yang mendengar Yesus berkata kepadaNya, “Guru, katakanlah kepada saudaraku, supaya ia berbagi warisan dengan daku.” Yesus tidak mengatakan ya atau tidak tetapi malah menjawab, “Saudara, siapa yang mengangkat Aku menjadi hakim atau penengah bagimu?” Tentu Yesus tahu isi hati mereka ini. Ternyata hal yang diperjuangkan bukan soal keadilan, kebenaran dan cinta kasih tetapi kerakusan atau ketamakan. Itu sebabnya Yesus berkata, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala jenis ketamakan! Sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung pada kekayaan itu”. 

Orang-orang Yahudi sebenarnya sudah tahu apa yang Tuhan perintahkan dalam 10 perintahNya kepada mereka. Ada tiga perintah yang berhubungan dengan perikop Injil ini: jangan menyembah berhala, jangan mencuri, dan jangan mengingini barang-barang milik sesama. Ketika orang menjadi tamak dengan harta duniawi, hati mereka berada di dalam harta, mereka juga tidak menyadari bahwa mereka menjadikan barang-barang itu berhala dan bersikap tidak adil karena mengingini dan memiliki hak milik orang lain.

Untuk lebih meyakinkan mereka maka Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan ini. Ada seorang kaya, memiliki banyak tanah dan hasil pertanian. Setelah memanen hasil kebunnya, ia berusaha memperbesar lumbungnya. Lumbung itu pun penuh.  Hatinya ada pada harta tersebut maka ia berkata dalam hatinya supaya istirahat dengan tenang, sambil makan dan minum sepuasnya. Ketika ia lupa diri seperti ini maka Tuhan akan berkata, “Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu. Bagi siapakah nanti apa yang kausiapkan itu. Demikian jadinya orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.” Perumpamaan ini mau mengatakan bahwa kekayaan itu tidak menjamin hidup kekal. Ketika meninggal dunia, kekayaan itu tidak berguna lagi karena tidak akan masuk bersama dalam liang kubur atau dibawa ke surga.

Yesus dalam perikop Injil hari ini mengoreksi hati kita yang selalu ada dalam belenggu kekayaan. Ia sendiri berkata, “Dimana hartamu berada, di sana hatimu juga berada”. Ada keterikatan pada harta kekayaan yang menghalangi kebersamaan dengan Tuhan dan sesama. Harta kekayaan itu berhubungan dengan hati sebagai tempat munculnya berbagai keinginan, dan kehendak untuk memiliki. Perlu adanya kesadaran baru bahwa harta kekayaan bukanlah jaminan bagi kehidupan, bahkan terkadang harta kekayaan justru menjadi hambatan untuk bersatu dengan Tuhan dan sesama. Nafsu untuk memiliki harta kekayaan dapat menjadikan kekayaan sebagai berhala. Lihatlah orang-orang yang selalu mencuri, atau melakukan korupsi. Mereka telah menjadikan segalanya berhala dan perasaan dosa itu sudah mati di dalam hati mereka. 

Paulus dalam bacaan pertama menghimbau jemaat di Efesus untuk selalu terbuka kepada Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan mereka. Dengan kasih karunia yang tiada habis-habisnya, Tuhan membuat mereka menjadi kaya dalam rahmat dan kerahimanNya. Bukan hanya itu, kekayaan terbesar adalah mereka dikasihi dan menjadi ciptaan baru. Memang karena dosa manusia mati tetapi dengan kebangkitan Kristus, manusia juga ditebusNya. Itulah ciptaan baru di dalam Tuhan.

Sabda Tuhan menyadarkan kita semua bahwa nafsu untuk memiliki barang-barang di dunia selalu ada, bahkan kadang menjadi berhala tersendiri. Tetapi Tuhan meghendaki perubahan yang radikal dalam diri kita. Kesadaran untuk bertobat, mengalami kerahiman Tuhan sangatlah penting bagi setiap orang percaya. Sikap lepas bebas merupakan jalan yang baik untuk bertobat.

Doa: Tuhan, syukur kepadaMu karena selalu menyadarkan kami untuk hidup dalam kerahimanMu. Amen

PJSDB

Sunday, October 21, 2012

Homili Hari Minggu Biasa XXIX/B

Hari Minggu Biasa XXIX/B
Yes 53:10-11
Mzm 33:4-5.18-19.20+22
Mrk 10:35-45

Berani Melepaskan Diri!

Hari ini kita memasuki Hari Minggu Biasa XXIX, tahun B. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengajak kita untuk memfokuskan seluruh hidup kita hanya kepada Tuhan Yesus  yang menderita, wafat dan bangkit bagi kita. Kita dituntun untuk menentukan pilihan yang tepat dalam iman kepadaNya, memfokuskan diri dan berani melepaskan hal-hal lain dalam hidup sehingga yang ada adalah hidup sebagai abdi dan pelayan bagi Tuhan dan sesama.

Ada seorang muda yang barusan menyelesaikan studinya di luar negeri. Ia mendapat dua gelar sekaligus dengan hasil akademis yang bagus dalam bidang IT dan musik. Ketika kembali ke Indonesia ia bingung dengan kedua gelar akademis ini. Setelah perayaan misa syukur di rumahnya, ia bertanya kepadaku perihal pekerjaan yang cocok karena dia punya dua gelar akademis. Saya mengatakan kepadanya supaya memilih yang tepat untuk mengabdi dan melayani dengan baik. Namun ia masih bingung juga. Saya mengatakan kepadanya, “Sekiranya ada dua kursi di depanmu, anda hanya bisa memilih satu kursi untuk diduduki. Anda tidak akan duduk di antara dua kursi karena anda akan jatuh. Kalau anda mengejar dua ekor kelinci di padang rumput, anda tidak akan mendapat seekor kelinci pun karena anda tidak fokus. Seorang dengan ijazah SMA bisa lebih sukses dari anda yang memiliki dua gelar akademis kalau anda sendiri tidak membuat pilihan yang tepat untuk mengabdi dan melayani”. Ia mengangguk-angguk, memohon berkat dan kini menjadi profesionalis muda dalam bidang IT.

Hidup akan lebih bernilai di hadapan Tuhan dan sesama ketika kita fokus dan memiliki pilihan yang tepat untuk melayani dengan baik. Dalam bacaan pertama, nabi Yesaya membantu kita untuk mengarahkan pandangan kita kepada figur hamba yang menderita. Hamba yang menderita itu memiliki tugas yang luhur sebagai Juru Selamat, memiliki martabat yang luhur, memiliki kerasulan yang mulia dan mengalami aneka penderitaan. Meskipun banyak menderita, apabila ia rela menyerahkan dirinya sebagai kurban silih, ia akan melihat keturunannya dan umurnya akan lanjut serta kehendak Tuhan akan terlaksana. Hamba yang menderita akan puas dan melihat terang setelah melewati penderitaan. Tuhan sendiri berfirman kepadanya: “HambaKu itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul”.

Hidup manusia juga akan bermakna kalau dihiasi dengan penderitaan. Figur Hamba yang menderita ini membantu kita mengerti tentang kesetiaan sebagai hamba yang baik yang rela menderita demi kebahagiaan sesama. Pengurbanan diri adalah sebuah pilihan dasar sang hamba untuk memberi hidup kepada sesama. Dalam bacaan injil, Markus memberikan kisah tentang anak-anak Zebedeus yakni Yakobus dan Yohanes yang berani mendekati Yesus dan meminta tempat duduk yang tepat di sisi kiri dan kanan Yesus. Mereka berkata, “Guru, kami harap Engkau mengabulkan suatu permohonan kami!” Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang hendak Kuperbuat bagimu?” Mereka menjawab, “Perkenankanlah kami ini duduk dalam kemuliaanMu kelak, seorang di sebelah kananMu dan seorang lagi di sebelah kiriMu”

Yesus tidak menjawab ya atau tidak. Ia bertanya kepada mereka tentang kesetiaan sebagai murid yang mau menjadi serupa dengan Dia, dalam hal ini menderita dengan meminum cawan yang diminum Yesus sendiri dan dibaptis dengan baptisan yang diterima Yesus. Kedua bersaudara itu menjawab ya, mereka bersedia meminumnya. Bagi Yesus, kesetiaan sebagai murid itu jauh lebih penting. Bukan kedudukan yang membuat murid itu hebat tetapi kesetiaan, bahkan kemartiran yang menyerupai Kristus sang Guru sendiri. Yesus menderita, wafat dan bangkit, para murid juga harus mengalami hal yang sama. Yesus menjelaskan kepada kedua bersaudara itu, hal duduk di sisi kiri dan kanan itu adalah urusan Bapa.

Kedua bersaudara ini memang punya ambisi tertentu dalam mengikuti Yesus Kristus. Kesepuluh murid yang lain marah terhadap kedua bersaudara ini. Apakah ini berarti kesepuluh murid ini lebih baik dari Yakobus dan Yohanes? Jawabannya “tidak”. Mereka juga punya ambisi tertentu dalam mengikuti Yesus, hanya saja mereka belum sempat terbuka dan jujur dengan Yesus. Itu sebabnya secara umum Yesus berkata, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barangsiap ingi menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Sebab Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya sebagai tebusan banyak orang.”

Yesus menyerahkan nyawaNya. Penulis surat kepada umat Ibrani dalam bacaan kedua mengatakan bahwa tindakan Yesus mempersembahkan diriNya ini adalah tindakan seorang imam agung. Bedanya adalah imam agung mempersembahkan kurban persembahan kepada Tuhan di dalam altar Bait Suci, Yesus adalah Imam Agung yang mengorbankan diriNya di atas kayu salib sebagai altarNya. Dialah Imam Agung yang melintasi semua langit. Dia sama dengan kita, telah dicobai hanya tidak berbuat dosa. Dialah penolong kita.

Sabda Tuhan hari ini mengarahkan kita semua untuk memiliki komitmen dalam pilihan hidup. Kalau memilih Yesus maka ikutilah dari dekat dan belajarlah padaNya karena Dia lemah lembut dan rendah hati. Yesus adalah hamba yang menderita, imam agung yang meminum cawan derita dan baptisan darah. Ia menumpahkan darahNya untuk menyucikan kita. Ini semua adalah bentuk pelayanan Yesus. Dia meskipun Allah Putera, tetap rela memberi diri sampai tuntas bagi kita.

Doa: Tuhan, semoga kami dapat menjadi pelayan-pelayanMu. Amen

PJSDB

Saturday, October 20, 2012

Renungan 20 Oktober 2012

Hari Sabtu, Pekan Biasa XXVIII
Ef 1:15-23
Mzm 8:2-3a.4-7
Luk 12:8-12

Apakah anda juga menghujat Roh Kudus?

Yesus menjelaskan kepada banyak orang bahwa mereka bernilai di mata Tuhan melebihi burung di udara. Rambut di kepala sendiri kita tidak mengetahui jumlahnya tetapi Tuhan mengetahuinya karena Dialah Pencipta. Oleh karena itu setiap pribadi hendaknya menjauhkan diri dari ketakutan atau kekhawatiran akan segala kebutuhannya. Tuhan Allah pasti menyediakannya bagi umat kesayanganNya. Semua ini mengandaikan iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Mengapa? Karena Bapa Telah memberi seluruh kuasa kepadaNya (Yoh 10:18; 17:2). Iman tidak hanya tinggal diam di dalam diri setiap orang percaya, tetapi iman itu dapat diwartakan. Artinya orang itu tidak merasa takut untuk bersaksi tentang Yesus dan mewartakanNya. Roh Kudus akan memberi kekuatan untuk bersaksi tentang Yesus di hadapan manusia.

Di dalam budaya Timur Tengah, nilai-nilai rasa hormat dan rasa malu mencakup segala aspek kehidupan manusia. Menghormati berarti mengakui keberadaan sesama. Yesus dalam Injil hari ini berbicara tentang kebenaran iman dalam konteks nilai-nilai budaya pada zamanNya. Untuk mengenal seseorang dengan baik berarti mampu menghormatinya, menyangkal keberadaan seseorang berarti mempermalukannya. Semua ini dapat dilakukan di hadapan sesama manusia dan juga di hadapan Tuhan. Maka Yesus mengatakan bahwa barangsiapa mengenal dan menghormatiNya di bumi ini maka orang itu akan diakui oleh Yesus sang Anak Manusia di hadapan para malaikat Allah. Barangsiapa menyangkal Yesus, dia juga akan disangkal oleh Yesus sang Anak Manusia di hadapan para malaikat Allah.

Selanjutnya Yesus mengatakan bahwa kalau orang melawan Anak Manusia yakni diriNya sendiri maka ia masih akan diampuni. Tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus maka ia tidak dapat diampuni. Apa maksudnya karena kedengaran terlalu berat. Ketika Yesus membuat tanda-tanda heran, ada orang yang mengatakan bahwa apa yang Dia lakukan terjadi karena kuasa Beelzebul, si penghulu setan. Di sini Yesus mau menegaskan kepada seluruh umat beriman, bagaimana dapat memberi kesaksian yang benar. Kalau sebelum wafatNya, orang Farisi dan para ahli Taurat masih menyangkal Yesus, tidak percaya kepadaNya maka masih dapat dimengerti dan diampuni, tetapi kalau mereka menyangkal Yesus setelah Ia bangkit dengan mulia maka dosa menyangkal atau tidak percaya pada kebangkitan Yesus ini tidak dapat diampuni. Mengapa? Karena kabangkitan Yesus mengalahkan maut. Kebangkitan Yesus merupakan puncak keselamatan kita.

Jadi apa maksud dosa menghujat Roh Kudus? Dosa menghujat Allah Roh Kudus berarti situasi bathin orang yang tidak percaya pada kebangkitan Kristus. Orang seharusnya percaya bahwa Roh Kuduslah yang membangkitkan Yesus maka tidak percaya pada kebangkitan Yesus sama dengan tidak percaya pada Roh Kudus yang berkarya. Dan orang yang “tidak percaya” akan kebangkitan Kristus inilah yang tidak dapat diampuni. Kita dapat mengakui Yesus Kristus kalau kita dikuatkan oleh Roh Kudus. Kalau orang mengingkari Roh Kudus berarti pada saat yang sama orang mengingkari seluruh kebenaran iman. Orang itu setingkat dengan orang murtad.

Pada akhir bacaan Injil hari ini, Yesus mendorong para muridNya untuk memiliki keberanian, mematikan kekhawatiran ketika berhadapan dengan masalah-masalah  iman kehidupan. Ketika dihadapkan pada majelis atau pemerintah, janganlah takut karena Roh Allah akan bekerja. Roh Kudus dari Allah akan mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus. Ini adalah janji Tuhan yang selalu Ia penuhi!

Banyak kali umat beriman memiliki pengalaman yang sama dengan jemaat di Efesus. Dalam Bacaan Pertama, Paulus mendoakan jemaat di Efesus supaya mereka dapat diterangi oleh iman. Dengan demikian mereka dapat menjadi bagian dari Yesus atau bersatu denganNya. Hal yang menarik perhatian di sini adalah Paulus mendoakan jemaat.  Sebuah doa untuk menerangi umatnya supaya terarah hanya kepada Yesus. Gembala mendoakan umatnya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi para gembala.

Sabda Tuhan hari ini menyadarkan kita akan Tritunggal Mahakudus yang kita imani. Bapa yang menciptakan, Putera yang menebus dan mendapat kuasa untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan Roh Kudus yang membangkitkan Putera dan tetap menjiwai Gereja hingga saat ini. Setiap orang percaya diharapkan tetap setia pada Tuhan Allah. Tanda kesetiaannya adalah tidak takut memberi kesaksian iman.

Doa: Tuhan, utuslah Roh KudusMu untuk membaharui diri kami. Amen

PJSDB