Wednesday, November 7, 2012

Renungan 7 Nopember 2012

Hari Rabu, Pekan Biasa XXXI
Flp 2:12-18
Mzm 27: 1.4.13-14
Luk 14:25-33

Ketaatan itu Mahal!

Seorang ibu datang sambil menangis karena merasa anaknya berubah total. Sebelumnya anaknya penurut, sekarang ini susah diurus. Perubahan perilaku anak membuat dia sebagai orang tua kurang percaya diri di depan anaknya. Seorang kepala sekolah sharing pengalamannya. Ia mengalami kesulitan berhadapan dengan para siswa dan guru yang tidak taat. Kurang ada komitmen untuk melaksanakan dengan baik ketentuan dan keputusan yang telah mereka sepakati bersama. Dalam hidup selalu ada pengalaman baik orang tua maupun pimpinan instansi tertentu yang erat hubungannya dengan ketaatan. Ketaatan memang bukan hal yang gampang. Orang harus rendah hati supaya dapat menjadi orang taat. Tetap yang terpenting lagi adalah orang harus mendengar lebih banyak sehingga mampu menjadi orang yang taat. Kata ketaatan adalah kata berbahasa Latin ob-audire atau obedire. Jadi orang harus mendengar lebih banyak supaya menjadi taat.

Hari ini St. Paulus melanjutkan pengajarannya. Sebelumnya ia telah menjelaskan tentang Tuhan Yesus yang taat sampai mati di atas kayu Salib. Sekarang ia mencoba menjelaskan nilai ketaatan rohani yang patut dilakukan oleh setiap pribadi. Paulus menulis, “Oleh karena itu, saudara-saudara terkasih, seperti kamu selalu taat kepadaku ketika aku bersama kamu, maka terlebih lagi sekarang ketika aku jauh daripadamu, hendaklah mengusahakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”. (Flp 2:12). Bagi Paulus, orang yang taat dapat serius menjalani hidup ini dengan baik dengan mengusahakan keselamatannya dalam suasana takut dan gentar. Tentu Paulus tidak berbicara tentang takut akan Tuhan tetapi yang ia maksudkan adalah suasana bathin yang gembira karena penebusan berlimpah dalam Yesus. Orang harus bergembira mengalami penebusan itu karena dengan demikian menjadi manusia yang merdeka.

Sebagai orang merdeka, para pengikut Kristus hendaknya melakukan segala sesuatu sebagai orang merdeka. Artinya dalam melakukan semua kegiatan ia merasa merdeka, tak ada lagi beban-beban yang datang dari luar. Jadi tidak ada lagi yang namanya bersungut-sungut dalam melakukan tugas dan tanggung jawab setiap hari. Setiap pribadi melakukan tugas dan tanggung jawab dengan baik, hidup sebagai pribadi yang murni dan tak bernoda. Dengan hidup layak di hadirat Tuhan seperti ini maka  semua kebaikan akan menutup sikap tidak jujur dan jahat. Perbuatan baik itu laksana bintang yang bercahaya di dunia.

Kata-kata Paulus membuat kita teringat akan kata-kata Yesus sendiri: “Sedemikian pula terangmu harus bercahaya di hadapan semua orang, supaya mereka dapat melihat yang baik yang kaulakukan  dan memuji Bapamu yang di sorga” (Mat 5:16). Perbuatan baik itu bercahaya seperti bintang yang menerangi hidup setiap pribadi. Orang baik akan membuat orang jahat jadi baik. Yesus sendiri selama hidupNya merupakan sahabat dari kaum pendosa. Apakah Yesus takut dengan orang berdosa? Ternyata Dia tidak pernah takut. KehadiranNya justru mengubah hidup setiap orang menjadi lebih baik. Orang yang baik semakin baik dan orang jahat pun menjadi baik! Paulus juga membicarakan kemartirannya sebagai bagian dari pelayanannya bagi Yesus. Ia mengharapkan agar kemartirannya juga menjadi sukacita bagi semua jemaat sama seperti ia bersukacita melihat jemaat  bertumbuh dalam Kristus. Semua ini adalah bukti ketaatan Paulus bagi Kristus. Ketaatan itu mahal, obedire itu mahal karena selalu disertai dengan kemartiran.

Sikap Paulus ini sejalan dengan nasihat Yesus dalam injil supaya berani melepaskan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus. Kalau orang itu tidak memiliki keberanian untuk melepaskan segala sesuatu maka ia juga tidak akan membaktikan dirinya secara utuh. Orang harus memiliki sikap lepas bebas. Ini prinsip religius yang baik untuk dihayati setiap pribadi dalam mengikuti Yesus.

Sabda Tuhan hari ini sungguh menyadarkan hati nurani kita untuk menjadi orang yang taat. Ketatatan atau obedire berawal dari kemampuan untuk mendengar dengan baik. Ketika kita dapat mendengar dengan baik, dengan sendirinya kita dapat memiliki kemampuan untuk menjadi taat dan tidak hanya berhenti sebagai orang yang taat tetapi juga kemampuan untuk mengasihi. Yesus taat kepada Bapa sehingga Ia mengasihi kita. Kita juga belajar menjadi orang yang taat supaya mampu mengasihi sesama, tanpa memilah-milah. Ketaatan memang mahal, tetapi setiap orang harus memilikinya!

Doa: Tuhan, jadikanlah aku orang yang taat. Amen

PJSDB

Tuesday, November 6, 2012

Renungan 6 Nopember 2012

Hari Selasa Pekan Biasa XXXI
Flp 2:5-11
Mzm 22:26b-27.28-30a.31-32
Luk 14:15-24

Orang Kristiani harus berani ber-Kenosis

Alkisah ada seorang perempuan tinggal sendirian di sebuah kampung. Dia adalah single parent dari seorang bayi yang lemah. Keadaan ini membuat para tetangga yang simpatik dan memberi bantuan kepadanya. Mereka bergantian merawat bayinya yang lemah dan dia sendiri bisa berbelanja ke pasar untuk kebutuhan mereka berdua. Setelah cukup lama bersahabat dengan para tetangga yang ramah, perempuan itu berniat menjadi pengikut Kristus. Niatnya pun tercapai, ketika para ibu itu sukarela mempersiapkan dia untuk dibaptis. Dia pun dibaptis dan semua orang merasa senang. Namun ada teman-teman ibu itu yang tidak suka dengan keputusannya untuk menjadi katolik.  Mereka bertanya kepada ibu itu, “Apakah kamu tahu apa yang diajarkan mereka?” Perempuan itu bersaksi: “Yang kutahu adalah mereka mencintaiku dan selalu merawat anakku.” Kadang-kadang kita bersikap inklusif terhadap sesama yang membutuhkan kasih kita. Seharusnya kita perlu rendah hati sehingga cinta kasih betul-betul merupakan cinta kasih.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini sangat menarik perhatian kita. Santo Paulus melanjutkan pengajarannya dengan sebuah himne kristologi. Ia menulis, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” Harapan Paulus adalah sikap-sikap dan perilaku jemaat di Filipi yang sedang berkembang, penuh kesombongan dan rasa ingat diri hendaknya sedapat mungkin dihindari sehingga yang ada hanyalah persekutuan kasih. Persekutuan kasih dalam arti setiap orang memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan Kristus. Namun masih ada bahayanya juga yakni ketika semua orang merasa bahwa diri mereka, kelompok atau komunitas mereka terbaik, terkuat atau harus bersaing dengan kelompok lain maka mereka berusaha dengan cara apa saja untuk bertahan. Mungkin orang berpikir ini hal yang baik dan patut dilakukan. Namun sikap inklusif seperti ini tidak berguna. Yesus sendiri melarang para murid untuk bersikap inklusif (Luk 9:55). Paulus menghendaki jemaat di Filipi untuk bersikap esklusif. Persekutuan kasih yang benar dibangun di atas dasar kerendahan hati bukan kesombongan.

Apa sikap Yesus yang patut kita ikuti?  Paulus merumuskannya seperti ini: “Yesus Kristus walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaannya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai wafat bahkan sampai wafat di kayu salib” (Flp 2:6-8).

Yesus memberi teladan yang amat luhur. Seorang Allah yang tidak bangga dengan martabatNya sebagai Anak Allah tetapi rela mengosongkan diri (kenosis) atau rela membungkuk serendah mungkin, menjangkau manusia, menjadi hamba. Ternyata tidak hanya berhenti sebagai manusia dalam peristiwa inkarnasi tetapi rela merendahkan diriNya lagi dan taat dengan wafat di kayu Salib. Seorang Allah yang begitu mutlak kuasanya, kudus, tak terbatas, kekal dan transenden rela masuk dan menjadi bagian dari dunia yang terbatas, fana, imannen dan penuh dosa. Yesus mengosongkan diriNya (Flp 2:7) untuk menjadi manusia. Ia juga wafat sebagai hamba bagi keselamatan kita di atas kayu salib (Flp 2:8). Meskipun Yesus merelakan diriNya demikian namun banyak orang yang masih belum percaya kepadaNya. Penginjil Yohanes memberi kesaksian: “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, namun orang-orang kepunyaanNya tidak menerima Dia” (Yoh 1:11).

Sikap Yesus seperti inilah yang membuat Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, dan semuanya takluk dan mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Mengapa Yesus begitu ditinggikan? Bagi Paulus, Yesus luar biasa karena Dia adalah Allah yang menjadi manusia, Dia kaya rela menjadi miskin, Dia Alfa dan Omega, majikan menjadi pelayan atau hamba. Yesus merelakan diriNya menjadi yang paling hina, paling menderita yang paling dinista orang. Disinilah letak kehebatan Yesus sehingga Ia patut ditinggikan dan semua akan bertekuk lutut di hadaanNya.

Apa yang harus kita lakukan?

Membaca dan merenung tulisan Paulus ini, kita patut berbangga memiliki Tuhan Yesus. Hanya di dalam Kristianitas, kita memiliki gambaran Allah yang rela berinkarnasi menjadi manusia, Allah yang rela berkenosis untuk melayani manusia. Kita boleh bertanya pada diri kita masing-masing, apakah kita sudah menjadi seperti Yesus yang rela berkenosis, rela membungkukan badan untuk melayani tanpa pamrih? Apakah kita layak mengikut undangan Tuhan dalam perjamuanNya? Mari kita membenahi diri kita. Hilangkanlah kesombongan-kesombongan rohani dan kenakanlah kerendahan hati sang Penebus!

Doa: Tuhan terima kasih karena Engkau rela menjadi manusia dan mengangkat martabat kami menjadi anak-anak Allah

PJSDB

Monday, November 5, 2012

Renungan 5 November 2012

Hari Senin, Pekan Biasa XXXI
Flp 2:1-4
Mzm 131:1.2.3
Luk 14:12-14

Jadilah Sehati dan Sepikir!

Ada seorang anak menceritakan pengalaman menakjubkan, sebuah pengalaman tentang kasih seorang ayah yang luar biasa. Pada tahun 1989 terjadi gempa yang dashyat di Armenia. Dalam waktu empat menit 30.000 jiwa melayang akibat gempa bumi itu. Mungkin kisah ini membuat kita teringat pada peristiwa Tsunami di Aceh dan di Jepang beberapa tahun terakhir ini. Tentu sangat menakutkan! Nah, beberapa saat setelah goncangan gempa mematikan itu,  seorang ayah berlari ke arah sebuah SD untuk menyelamatkan puteranya. Dari jauh, ia sudah tidak melihat bangunan SD karena bangunan itu sudah rata dengan tanah. Sambil menatap puing-puing sekolah itu ia mengingat kembali janji setianya kepada anaknya: “Anakku, apa pun yang terjadi, ayah akan selalu ada untukmu!” Mengenang kembali janjinya ini, ia memiliki kekuatan baru untuk beraksi. 

Ia mulai mendekati ruangan kelas anaknya dan menyingkirkan puing-puing yang berserakan. Orang mengatakan kepadanya, semua sudah berakhir, serahkan saja pada Tuhan. Polisi pun mengatakan kepadanya supaya jangan membuang-buang waktunya.  Namun demikian sang ayah itu tetap pada pendiriannya. Setelah 10, 20 dan akhirnya 40 jam, ia berhasil mengguling sebuah batu besar dan mendengar suara anaknya dari balik batu besar itu. Ia memanggil nama anaknya, “Josef! Josef! Josef!” Ia mendengar suara dari dalam, “Ayah aku masih hidup. Aku tidak takut karena aku ingat janji ayah setiap hari bahwa ayah akan selalu ada untukku. Aku juga mengingatkan teman-teman supaya mereka tidak usah takut karena ayah masih hidup dan akan menolong saya dan mereka”. Sang ayah semakin semangat meskipun sudah lelah karena bekerja 40 jam. Ia berbisik sambil bekerja, “Anakku, aku selalu ada untukmu” dan ia berhasil menyelamatkan anak-anak dari puing-puing reruntuhan sekolah. 

Ini sebuah kisah yang dapat membuka pikiran kita untuk memahami pengajaran Paulus kepada jemaat di Filipi dalam bacaan pertama. Ia menulis, “Saudara-saudara dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasih”. Paulus sedang mengingatkan jemaat di Filippi untuk memfokuskan perhatian mereka pada figur Kristus yang diwartakannya. Di dalam Kristus segalanya digenapi dan juga merupakan sukacita tersendiri baginya sebagai pewarta. Mengapa Kristus menjadi pusat segalanya? Satu jawaban yang pasti, Kristus adalah satu-satunya penyelamat kita.

Harapan Paulus karena sukacitanya sempurna kepada jemaat Filipi adalah: “Hendaklah kalian sehati dan sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian sia-sia”. Hal terbaik yang seharusnya dilakukan adalah memiliki kebajikan kerendahan hati dan memprioritaskan orang lain dari pada diri sendiri. 

Sebuah komunitas Gereja yang ideal ditandai dengan kekhasan tertentu seperti ini: Jemaat merasa memiliki satu persekutuan. Gereja perdana mengenal semangat cor unum et anima una atau sehati dan sejiwa. Ini menjadi landasan yang kuat bagi mereka untuk saling berbagi. Untuk menjadi saudara sekomunitas, masing-masing mereka harus melupakan dirinya dan memprioritaskan sesama. Mereka juga diharapkan menjauhkan diri sedapat mungkin dari pujian-pujian manusiawi karena yang terpenting adalah kemuliaan nama Tuhan. 

Mengapa Paulus kelihatan gelisah dengan jemaat Filipi? Karena Jemaat Filipi sudah mendengar pewartaannya tetapi proses perubahan hidup untuk sepadan dengan Yesus masih sulit. Mereka masih angkuh, punya persaingan yang tidak sehat dan egois. Itu sebabnya seruan Paulus ini juga mau mengingatkan sekaligus menguatkan persekutuan mereka, menjadikan mereka umat yang rukun, sehati dan sesuara. Pengajaran Paulus kiranya sejalan juga dengan pengajaran Yesus dalam Injil. Yesus menegaskan bahwa semangat pemuridan yang baik menjadi nyata dalam pemberian diri tanpa pamrih dan tidak membedakan pribadi-pribadi dalam pelayanan kita.

Sabda Tuhan menerangi langkah kaki kita untuk semakin percaya bahwa Tuhan hadir dalam setiap pengalaman hidup kita. Sama seperti kisah di atas, para murid Kristus harus memiliki pikiran yang sama bahwa setiap pengalaman hidup, berat atau ringan, pengalaman padang gurun yang menakutkan, Tuhan pasti tetap ada. Dia sendiri berjanji bahwa Ia akan menyertai kita sampai akhir zaman (Mat 28:20). Tuhan sungguh menjadi Bapa yang baik yang tidak akan mengingkari janjiNya bagi manusia. Sikap Tuhan menjadi milik kita dan kita hayati dalam kebersamaan dengan sesama kita.

Doa: Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu. Amen

PJSDB

Sunday, November 4, 2012

Homili Hari Minggu Biasa XXXI/B

Hari Minggu Biasa ke-XXXI
Ul 6:2-6
Mzm18:2-3a.3bc-4.47+51ab
Ibr 7:23-28
Mrk 12:28b-34

Diubah oleh kasih!

Beberapa bulan yang lalu saya dikunjungi pasutri muda. Mereka merasa perlu berbicara dengan saya setelah mendengar penjelasan tentang keutuhan ikatan perkawinan dalam sakramen perkawinan. Pasutri ini sedang mengalami badai yang tidak gampang. Suaminya memiliki wanita idaman lain yang sudah berlangsung selama dua tahun. Usia pernikahan mereka baru lima tahun. Sang suami selalu berpikir bahwa ia dapat menyembunyikan rahasia ini di hadapan istrinya. Namun seperti sambal terasi yang dibungkus, lama kelamaan bau terasi akan tercium dengan sendirinya.Ini sungguh terjadi pada keluarga ini. Dengan sendirinya istrinya mengetahui perilaku tidak setia suaminya. Foto di HP dan komputer menjadi barang bukti yang dipegang istrinya. Tentu saja ini merupakan pengalaman yang mengecewakan bagi istrinya yang serius menunjukkan kesetiaan pada sang suami.

Setelah berbicara saya menyarankan mereka berdua untuk berdoa dan mencari waktu duduk bersama, saling terbuka dan jujur. Mereka juga harus berdoa memohon Roh Kudus untuk membantu mereka mengambil keputusan yang tepat entah saling meninggalkan, bertengkar atau saling memaafkan. Setelah melewati waktu pergumulan ini sebulan mereka akhirnya mencapai satu kesepakatan penting Mereka, tidak membicarakan bersama tetapi mereka ungkapkan dalam tulisan sebagai sebuah refleksi. Istrinya yang disakiti menulis, “Aku memaafkanmu, aku selamanya mengasihimu. Mari kita menata kembali bahtera keluarga yang hancur karena kegoisanmu. Kita tetaplah satu selamanya”. Tulisan ini dimasukkan dalam kantong kemeja suaminya. Suaminya menulis dengan singkat setelah melihat kesabaran dan kesetiaan istri yang disakitinya, “Mulai sekarang aku merasa kasih dan kesetianmu. Ternyata engkau mengubah aku dengan kasihmu!” Tulisan itu disimpan di bawah bantal kesayangan istrinya.

Kisah di atas membuka wawasan kita tentang kasih kepada Tuhan dan kepada sesama. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu Biasa XXXI/B ini memfokuskan kita pada hukum kasih kepada Tuhan dan sesama. 

Dalam bacaan pertama, Musa memberi nasihat-nasihat kepada orang-orang Israel untuk menerima peraturan dan ketetapan dari Tuhan. Musa berkata, “Seumur hidup hendaknya engkau dan anak cucumu takut akan Tuhan, Allahmu serta berpegang pada segala ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu supaya lanjut umurmu”.  Sebagai seorang nabi, Musa sungguh-sungguh mendedikasikan diri untuk mendampingi umat kesayangan Yahwe. Apabila mereka patuh pada perjanjian dengan Tuhan maka usia mereka akan panjang.

Untuk mempertegas perkataan Tuhan, maka Musa mengingatkan mereka, dengan kata-kata yang secara turun temurun akan menandai identitas mereka: “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatanmu!” Dengarlah hai Israel atau lebih dikenal “Sh'ma Yisra'el YHWH Eloheinu YHWH Eḥad” Kalimat ini selalu diucapkan oleh seorang Yahudi sejati setiap kali memulai hari baru.

Dalam Bacaan Injil, seorang ahli Taurat datang kepada Yesus untuk menanyakan perintah Tuhan yang paling utama. Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan ahli Taurat ini, tetapi mengingatkannya kembali:Sh'ma Yisra'el YHWH Eloheinu YHWH Eḥad. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:4-5). Perintah yang kedua adalah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Im 19:18). Ahli Taurat setuju dengan perkataan Yesus “tepat sekali perkataan Yesus” dan menambahkan bahwa nilai kasih kepada Tuhan dan sesama itu melebihi kurban bakaran dan kurban sembelihan”. Yesus sendiri mengakui orang ini dengan berkata, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah”.

Mengapa kasih begitu penting? Alasan pokoknya adalah Allah sendiri adalah kasih (1Yoh 4:8.16). Allah adalah sumber kasih, memberi kasihNya kepada manusia melalui Yesus PuteraNya. Sebagai jawaban manusia atas kasih Allah maka manusia wajib mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya. Yesus berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh13:34). Di bagian lain dari Injil Yohanes, Yesus berkata kepada Nikodemus, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menganugerahkan Anaknya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal”. Penulis surat Yohanes menulis, “Jikalau seorang berkata, “Aku mengasihi Allah” dan Ia membenci saudaranya maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin ia mengasihi Allah yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4: 20). 

Lalu apa yang harus dilakukan?  

Penulis surat kepada umat Ibrani dalam bacaan kedua membedakan peran imam manusia dan imamat Agung Yesus Kristus. Para imam yang berasal dari keturunan Lewi adalah orang-orang biasa, berdosa dan mempersembahkan berkali-kali untuk dosanya sendiri kemudian kepada umatnya. Yesus membuat perbedaan: Ia tidak berdosa, Ia tetap selama-lamanya sehingga imamatNya tidak beralih kepada orang lain. Yesus juga tidak lagi mengurbankan korban bakaran tetapi Ia mengurbankan dirinya sebagai pengganti hewan-hewan kurban. Nah, cinta sejati itu dapat bertumbuh melalui pengorbanan diri, kemampuan untuk menyangkal diri atau melupakan diri sendiri. Kalau begitu, hal praktis yang harus kita lakukan untuk menanggapi kasih Tuhan adalah menerima diri apa adanya, mengorbankan diri dalam pelayanan-pelayanan kita, sampai menyerahkan nyawa seperti Yesus sendiri. 

Konsep kasih dalam bacaan-bacaan pada hari ini terungkap dalam  pengorbanan diri atau semangat rela berkorban. Para orang tua mengorbankan diri bagi anak-anak atau sebaliknya, anak-anak juga mengikuti perintah dan nasihat orang tuanya. Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua bagi anak-anak? Orang tua perlu menanam kata-kata kasih secara mendalam di hati anak-anak, kemudian rawatlah dengan senyum dan doa!

Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita untuk hari demi hari bertumbuh dan menghasilkan buah dalam ketekunan. Allah adalah sumber kasih. Kita harus diubah oleh kasih. Pada saat kita mengasihi seseorang yang membutuhkan, saat itu juga kita mengasihi Yesus! Apakah anda mampu mengasihi?

Doa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk tetap mengasihiMu dengan segenap hati dan kekuatan. Amen

PJSDB

Saturday, November 3, 2012

Renungan 3 Nopember 2012

Hari Sabtu, Pekan Biasa XXX
Fil 1:18b-26
Mzm 42:2.3.5bcd
Luk 14:1.7-11

Hidup bagiku adalah bekerja dan menghasilkan buah!

Ada seorang petani yang  sangat tekun. Setiap hari ia selalu pergi ke kebun dan bekerja: membajak, memupuk dan mencabut rumput-rumput liar. Kebunnya paling rapi dan indah dibandingkan dengan kebun yang lain. Hasil kebunnya juga berlimpah. Ketika ditanya alasan mengapa ia menata kebunnya dengan bagus, ia menjawab: “Kebun ini seperti hati saya. Kebunnya teratur berarti hati saya teratur. Kebunnya menghasilkan buah yang berlimpah berarti saya juga harus murah hati kepada sesama sehingga mereka dapat menerima buah rohani yang berlimpah dari saya”.

Ini adalah sebuah kesaksian yang sederhana dari seorang petani tetapi sangat inspiratif bagi kita untuk memahami tulisan Paulus dalam bacaan pertama.  Kepada jemaat di Filipi Paulus menulis: “Saudara-saudara, asal saja Kristus diwartakan, aku bersukacita karenanya” Mewartakan Injil adalah tugas dan tanggung jawab yang mulia. Ia sendiri mengatakan, “Celakalah aku tidak mewartakan Injil” (1Kor 9:16). Itu sebabnya Paulus sangat tekun dan berani mengatakan tidak malu untuk mewartakan Injil. Hasil dari mewartakan Injil adalah keselamatan karena doa dari jemaat dan karya Roh Kudus. Di samping itu Paulus juga berharap agar Kristus dapat dimuliakan di dalam tubuhnya sebagai manusia yang hidup maupun mati.

Mengapa Paulus menghendaki supaya Yesus mulia di dalam tubuhnya yang fana? Karena Paulus merasa bahwa Kristus adalah segalanya. Ia dengan tegas berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Paulus merasa bahwa Kristus menyatu dan mulia di dalam tubuhnya yang fana sehingga ia terus menerus bekerja dan menghasilkan buah. Lebih lanjut, Paulus memang berniat untuk menikmati kebahagiaan kekal di Surga lebih cepat dengan pergi dan bersatu dengan Yesus tetapi demi jemaat di Filipi, ia tetap mau melayani mereka. Dengan tinggal bersama jemaat di Filipi maka kemegahan dalam Tuhan Yesus Kristus akan semakin besar.

Paulus seolah-olah sedang menulis diary yang  berisikan kata hatinya. Ia tidak malu untuk berbicara tentang kematian dan hidupnya di hadapan jemaat helenis di Filipi dalam terang kasih Kristus. Paulus rindu untuk menyatu selamanya dengan Kristus yang ia banggakan dalam pewartaannya. Ia memang teguh dalam iman dan ingin memberi kesaksian bahwa ia sangat mencintai Kristus dan sesamanya. Masa lalunya bukan menjadi penghalang baginya untuk mencintai Kristus.

Mengapa Paulus tidak malu mewartakan Kristus? Bacaan Injil hari ini memberi sebuah rumusan yang pas untuk kehidupan Paulus yaitu kerendahan hatinya. Sebelumnya Paulus sombong dan kejam tetapi sekarang ia rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Yesus berkata, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan dirinya akan ditinggikan.” Sabda Yesus ini menjadi inspirasi baginya untuk tidak cepat-cepat meninggalkan dunia tetapi bersungguh-sungguh melayani Tuhan.

Sabda Tuhan hari ini menghadirkan tokoh Paulus yang rela menderita bahkan menyerahkan nyawanya demi Kristus. Sebagai orang-orang yang dibaptis, kita pun berjalan dalam jalan yang sama dengan Paulus. Hari demi hari semua karya dan pelayanan kita bertujuan untuk memuliakan Tuhan. Kita juga di sadarkan supaya hari demi hari Kristus mulia di dalam hidup kita. Hendaknya Kristus semakin besar di dalam hidup kita. Orang Kristiani dalam bahasa Inggris disebut Christian. Kata Christian kalau dipenggal menjadi Christ-ian, kepanjangannya: Christ i am nothing! Layanilah Tuhan dan sesama dengan rendah hati supaya menghasilkan buah yang berlimpah. 

Doa: Tuhan, terima kasih atas kasih dan kesetiaanMu kepada kami. Amen

PJSDB

Friday, November 2, 2012

Homili Peringatan Arwah Umat Beriman

2Mak 12:43-46
Mzm 130: 1-2.3-4.5-6a.6b.7-8
1Kor 15:20-24a.25-28
Yoh 6:37-40

Kematian itu indah, Bagaimana menghadapinya?

St. Fransiskus dari Asisi pernah menghibur umat beriman untuk tidak takut menghadapi kematian. Bagi Fransiskus, kematian adalah saudara yang kapan saja dapat datang dan menjemput setiap pribadi. Maka setiap pribadi diharapkan selalu siap menyambut saudara maut atau saudara kematian. Santo Alfonsus Maria de Liguori, orang Kudus kelahiran Napoli, Italia, 27 September 1696, pernah menulis sebuah buku berjudul “Persiapan Kematian yang baik” pada tahun 1758. Di usia senjanya ini, Alfonsus menulis buku yang bagus setelah lebih dari tiga puluh tahun berkotbah dan memberi retret. Buku Persiapan kematian ini mau membantu seluruh umat beriman untuk mempersiapkan diri dengan baik dalam menghadapi kematiannya. Almahrum Pater Moses Beding CSsR menyadur buku karya St. Alfonsus ini dengan judul yang menarik, “Kematian itu indah, bagaimana menghadapinya?”

Di dalam buku ini diuraikan banyak hal dan ada satu hal yang menarik yaitu bagaimana mempersiapkan kematian. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan setiap pribadi yakni:

Pertama, janganlah menunggu sampai saat terakhir. Kematian adalah sebuah kepastian maka setiap orang harus menyadari bahwa mereka akan melewatinya. Untuk itu persiapan diri dalam menyambut kematian itu perlu dan harus dimiliki setiap orang sehingga nantinya ia dapat berjumpa dengan kematian yang membahagiakan. Kematian yang membahagiakan dapat dialami oleh orang yang membenci dosa-dosanya dan mencintai Allah sendiri.

Kedua, periksalah batinmu dan bereskanlah hidupmu. Setiap orang diingatkan untuk mempersiapkan kematiannya dengan memeriksa batin dan melakukan pertobatan. Orang perlu membuang jauh-jauh dari hatinya semua afeksi yang jahat dan perasaan-perasaan marah serta dengki kepada sesama. Usaha menjauhkan diri dari perbuatan salah dan dosa. Itu sebabnya sakramen ekaristi dan tobat menjadi bagian yang penting dalam mempersiapkan kematian.

Ketiga, setiap orang diharapkan menghindari dirinya dari cinta duniawi. Setiap orang hendaknya merasa memiliki keinginan untuk menghadapi ajal. Penulis Kitab Wahyu menulis, “Berbahagialah orang mati,  yang mati dalam Tuhan”  (Why 14:13). St. Ambrosius berkata, “Mereka yang mematikan cinta duniawi selama hidupnya akan mati dalam keadaan yang baik” Kematian yang bahagia menurut St. Agustinus adalah usaha mengatur hal-hal duniawi selama hidup dan menjauhkan semua kekayaan dan harta duniawi, paling kurang tidak menginginkannya. Sikap batin yang penting di sini adalah merasa bahwa setiap hari adalah hari terakhir dalam hidup.

Pada hari ini kita merayakan peringatan arwah semua orang beriman. Mereka adalah jiwa-jwa  yang masih berada di api penyucian. Mereka menunggu saat dimurnikan oleh Tuhan dengan dukungan doa dari kita semua yang masih berziarah di bumi ini dan mereka yang sudah mengalami sukacita penuh di surga. Siapa yang istimewa didoakan hari ini? Mereka adalah saudara-saudari, keluarga dan sahabat kenalan. Meskipun sudah meninggal dunia tetapi relasi kita dengan Tuhan tidak terputus. Cinta kasih di antara kita dapat melampaui batas-batas maut. Tuhan Allah adalah kasih yang mempersatukan baik orang hidup maupun orang mati.

Kematian itu indah dalam hal apa? Dalam prefasi arwah didoakan kalimat-kalimat berikut ini: “Kristus telah menumbuhkan harapan kokoh  akan kebangkitan mulia sehingga kita yang takut akan maut yang tak terelakkan itu sungguh-sungguh dihibur oleh hidup abadi yang telah dijanjikan Tuhan. Kematian adalah perubahan hidup bukan hidup dilenyapkan  dan bahwa kediaman abadi tersedia bagi kita semua di surga bila pengembaraan di dunia ini akan berakhir.”

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengajak kita untuk menerima kematian sebagai bagian dari hidup kita. Bacaan pertama dari Kitab kedua Makabe mengajak kita untuk setia memikirkan dan mendoakan mereka yang sudah meninggal dunia. Ini adalah sebuah keutamaan yang harus seharusnya dilakukan oleh setiap pribadi. Mendoakan orang yang sudah meninggal juga menjadi tanda iman yang tulus kepada Tuhan. Dialah pencipta dan pengatur hidup kita. St. Paulus dalam bacaan kedua mengatakan bahwa Kristus adalah sumber dan pokok pengharapan kita semua, baik yang hidup maupun mati. Di dalam Kristus, semua orang diantar menuju kepada Allah dan memperoleh kehidupan kekal. Penginjil Yohanes mengajak kita untuk menerima Yesus sebagai penyelamat kita. Yesus berkata: “Semua orang yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu dan barang siapa datang kepadaKu tidak akan Kubuang...Setiap orang yang percaya kepada Anak Allah beroleh hidup yang kekal, dan Tuhan akan membangkitkannya pada akhir zaman.”

Hari ini kita semua dipanggil untuk menyadari kasih dan kemurahan Tuhan. Dia menciptakan kita, Dia juga yang akan memanggil kita untuk bersatu denganNya. Persiapkanlah dirimu untuk menyambut kematian karena kematian itu indah dan membahagiakan selamanya.

Doa: Tuhan, bantulah aku untuk menyiapkan kematianku dengan baik. Amen

PJSDB

Thursday, November 1, 2012

Homili Hari Raya Semua Orang Kudus

Why 7:2-4.9-14
Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6
1Yoh 3:1-3
Mat 5:1-12

Besarlah ganjaranmu di Surga!

Pada hari ini, seluruh Gereja Katolik merayakan Hari Raya semua orang kudus. Para kudus atau santo dan santa adalah mereka yang telah diakui resmi oleh gereja atau dikanonisasikan dan para kudus lain yang belum dikenal oleh Gereja. Devosi kepada para kudus dimulai sejak abad kedua. Pada saat itu para kudus dan martir dihormati sebagai orang-orang yeng bersekutu dengan Tuhan. 

Sebagai bukti adanya devosi kepada para kudus dapat dilihat dalam catatan kemartiran St. Polycarpus berikut ini: “Para prajurit menempatkan jenazah Polycarpus di tengah api. Lalu, kami mengambil tulang-tulangnya. Tulang-tulang itu lebih berharga daripada permata yang paling indah dan lebih murni dari emas, dan menyimpannya di dalam tempat yang layak. Setelah tulang-tulang dikumpulkan, Tuhan akan memberi kesempatan kepada kita untuk merayakan hari peringatan kemartirannya, baik untuk mengenang mereka yang telah menyelesaikan tugas mereka, maupun sebagai latihan dan persiapan bagi mereka yang mengikuti jejak para martir.”
Para Bapa Gereja, antara lain St. Sirilius dari Yerusalem (313-386) mengajarkan devosi kepada para kudus sebagai berikut: “Kami menyebutkan mereka yang telah wafat: pertama- tama para patriarkh, nabi, martir, bahwa Tuhan akan menerima doa-doa permohonan kita melalui doa- doa dan permohonan mereka.”
Perayaan penghormatan kepada para kudus dimulai pada St. Efrem dari Syria. St. Yohanes Krisostomus (407) menetapkan hari perayaannya yaitu Minggu pertama setelah Pentakosta, yang masih diterapkan oleh Gereja- gereja Timur sampai sekarang. Gereja Katolik Roma, juga kemungkinan pada awalnya merayakan demikian, namun kemudian menggeserkannya ke tanggal 13 Mei, ketika Paus Bonifasius IV mengkonsekrasikan Pantheon di Roma kepada Santa Perawan Maria dan para martir pada tahun 610. Perayaan hari para orang kudus pada tanggal 1 November sekarang ini kemungkinan ditetapkan sejak jaman Paus Gregorius III (741) dan pertama kali dirayakan di Jerman.
Mengapa di dalam gereja katolik terdapat devosi kepada para kudus? Ini biasanya ditanyakan oleh saudara-saudara dari gereja-gereja yang lain. Pada umumnya gereja-gereja protestant tidak memberi tempat untuk devosi kepada para kudus dan malaikat. Mereka memiliki alasan: pertama, Kita hanya punya satu pengantara antara Allah dan manusia yaitu Yesus Kristus. Kedua, Doa dan penghormatan kepada Bunda Maria dan para kudus mengurangi penghormatan kepada Allah yang kudus. Gereja katolik melakukan penghormatan kepada para kudus dalam rangka memuji dan memuliakan Allah. Orang kudus dipuji dan dikagumi karena kemuliaan Allah. Kita mengagumi mereka dan mengikuti teladan mereka untuk menjadi kudus. Itu sebabnya kita menjadikan para kudus sebagai perantara dengan Bapa di Surga. Jadi di dalam Gereja katolik kita mengenal satu-satunya pengantara kita adalah Tuhan Yesus, sedangkan perantara kita sebagai manusia dengan Tuhan adalah para malaikat dan para kudus. Kita bersatu dengan mereka sebagai anggota dari satu keluarga besar yang disebut “persekutuan orang kudus”. Gereja mengajarkan bahwa setiap orang dipanggil menjadi kudus (Lumen Gentium, 39).
Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Raya ini mengarahkan kita untuk berjalan dalam kekudusan. Siapakah orang-orang kudus itu? Penulis Kitab Wahyu dalam bacaan pertama, memberi kesaksian yang bagus, “Aku melihat suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka terdiri dari segala bangsa dan suku, kaum dan bahasa. Mereka semua berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka”. Mereka yang mengenakan jubah putih adalah para kudus Allah karena mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.
Yohanes dalam Bacaan Kedua mengatakan bahwa orang-orang kudus adalah mereka yang akan melihat Kristus dalam keadaanNya yang sebenarnya. Yohanes meyakinkan kita semua, “Saudara-saudara terkasih, betapa besar kasih Allah yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah”. Sebagai anak-anak Allah kita bertugas untuk menyucikan diri kita seperti Dia juga suci. Kita memiliki kerinduan untuk bertemu dengan Yesus. Ia sendiri mengatakan, “Jangan khawatir. Di rumah BapaKu banyak tempat. Aku pergi menyiapkannya dan Aku akan kembali untuk menjemput kalian, supaya di mana Aku berada, kamu juga berada.” (Yoh 14:1-4).
Di dalam bacaan Injil Tuhan mengajar Sabda Bahagia kepada para muridNya. Orang-orang kudus adalah mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, membawa damai, dianiaya demi kebenaran, dicela dan dianiaya karena Yesus, difitnahkan segala yang jahat. Mereka ini patut bersukacita karena besarlah ganjaran mereka di Surga. Sabda bahagia adalah ungkapan nyata diri Yesus bagi umat manusia maka orang yang mengikutiNya patut menghayati Sabda Bahagia ini.
Saba Tuhan menjadi pelita yang menerangi langkah kaki kita menuju kekudusan. Berbahagialah kita yang berjalan di jalan Tuhan menuju kekudusan. Kita akan melihat Dia yang sebenarnya. 
Doa: Tuhan, Engkau adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup kami. Kami memuji Engkau. Amen.
PJSDB