Tuesday, November 13, 2012

Renungan 13 Nopember 2012

Hari Selasa, Pekan XXXII
Tit 2:1-8.11-14
Mzm 37:3-4.18.23.27.29
Luk 17:7-10

Keteladanan itu penting!

Ada seorang ibu muda memerintahkan putrinya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik. Ia berusaha duduk dan mendampingi puterinya untuk mengerjakan pekerjaan rumah matematika. Tetapi pada suatu ketika ibu itu mengalami dilema karena anaknya meminta bantuan untuk mendampinginya bersamaan waktu dengan acara kesayangannya OVJ. Barusan beberapa menit duduk di sampingnya, ibu itu mulai menjawab BBM, menghidupkan TV dan menuju saluran OVJ, mulai ketawa sendiri tanpa peduli lagi dengan anaknya. “Ma, soal yang ini gimana?” tanya anak itu. “Sebentar, mami lihat ini dulu ya, nak”. Jawab ibunya. Anaknya tertidur pulas dengan kepala berada di atas buku pekerjaan rumahnya. 

Sepasang suami dan isteri sebelumnya sangat akur. Kemana-mana selalu berdua. Tetapi belakangan ini mereka selalu bercekcok. Kadang-kadang suami memarahi isterinya, mengeluarkan kata kasar dan semuanya dibalas juga oleh istrinya. Suami pernah melempar istrinya dengan gelas air minum, dan dibalas dengan cacian yang kasar dari sang istri. Anak-anak yang masih remaja menyaksikan semuanya ini dan merasa heran dengan perubahan perilaku orang tua mereka yang barusan berusia empat puluhan. 

Ini dua contoh kehidupan bersama di dalam keluarga setiap hari. Kadang-kadang orang tua memiliki banyak tuntutan supaya anak memiliki prestasi yang baik dengan mengikuti les private di mana-mana, tetapi tidak menunjukkan teladan dan komitmen yang baik. Gadget, saluran TV, arisan, belanja dari pasar tradisional sampai mall dan berjudi lebih kuat dan enak dari pada mendampingi anak. Lebih parah lagi berkelahi di depan anak-anak yang masih dalam taraf pertumbuhan dan membutuhkan figur orang tua yang baik. 

Bacaan-bacaan suci pada hari ini mengingatkan kita tentang betapa pentingnya faktor keteladanan dalam pelayanan. Dalam suratnya kepada Titus, Paulus berkata, “Saudaraku terkasih, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat”  Sebagai seorang pastor bagi jemaat, Titus diharapkan oleh Paulus untuk menganimasi dan memberikan nasihat keteladanan baik kepada kategori pribadi-pribadi sebagai berikut:

Pertama, bagi para lanjut usia. Mereka hendaknya hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, kasih dan ketekunan.

Kedua, para wanita tua. Mereka hendaknya hidup sebagai orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik, dan dengan demikian mendidik wanita-wanita muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suami, agar sabda Allah jangan dihojat orang.

Ketiga, kaum  muda. Mereka hendaknya menguasai diri dalam segala hal dan teladan dalam berbuat baik.

Selanjutnya Paulus menasihati Titus sebagai pewarta Injil bagi jemaat untuk jujur dan sungguh-sungguh dalam pengajarannya, sehat dan tak bercela di dalam pemberitaan sehingga lawan menjadi malu karena tidak ada skandal tertentu yang ia lakukan. Semua nasihat Paulus ini memiliki dasar yang kuat pada Kristus sendiri yang memberi teladan pengurbanan diri dan kekudusanNya. Mengapa harus Tuhan Yesus Kristus? Paulus memberi alasan yang kuat, “Ia telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan  bagi diriNya suatu umat, milikNya sendiri yang rajin berbuat baik”.

Sabda Tuhan mengundang kita untuk bertumbuh dengan Kristus sebagai dasar iman kita.  Terlepas dari Tuhan Yesus Kristus, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5). Oleh karena Ia sendiri menjadi dasar iman kita maka kita hendaknya bertumbuh juga dalam semangat pelayanan yang baik. Faktor keteladanan hidup sebagai orang kudus masuk dalam mentalitas kehidupan setiap pribadi baik orang tua maupun anak-anak atau orang muda.  Surat Paulus ini sangat pastoral dan patut direnungkan oleh para orang tua dan orang-orang muda untuk hidup layak di hadirat Tuhan. Apakah anda memberi teladan hidup yang baik sebagai orang tua, pendidik dan pelayan public?

Di samping faktor keteladanan, hal kedua yang kiranya patut direnungkan adalah kesetiaan sebagai abdi yang melayani. Yesus dalam Injil mengingatkan kita semua untuk memiliki prinsip hidup ini: “Kami ini hamba-hamba tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”. (Luk 17:10). Ya, kita harus berusaha menyerupa Kristus, Putera Allah yang rela menjadi hamba untuk mengangkat martabat kita sebagai anak-anak Allah. Jadilah “servus Servorum Dei” (hamba dari segala hamba Tuhan). Apakah anda melayani dengan sungguh-sungguh dan tanpa menuntut balas? Atau dalam pelayananmu justru bertujuan mencari popularitas dan nama baik?

Doa: Tuhan, jadikan kami hari ini pemberi teladan yang baik kepada sesama. Amen

PJSDB

Monday, November 12, 2012

Renungan 12 Nopember 2012

St. Yosafat, Martir
Hari Senin, Pekan Biasa XXXII
Tit 1: 1-9
Mzm 24: 1.3-4ab.5-6
Luk 17:1-6


Menjadi Pemimpin Gereja


Pada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan peringatan St. Yosafat. Yosafat terlahir dengan nama Yohanes Kunzewich. Ia rajin belajar dan bekerja. Itu sebabnya pada tahun 1600, saat masih berusia 16 tahun ia dikirim oleh orang tuanya untuk belajar ilmu perdagangan di kota Wilma, bagian Barat Rusia. Meskipun ia rajin belajar tetapi minatnya bukan pada dunia perdagangan, ia justru lebih suka ke hal yang rohani. Pada waktu itu Yosafat melihat situasi Gereja yang tidak menentu. Ada pengaruh skisma bagi para umat. Umat juga memutuskan hubungannya dengan Vatican, artinya tidak mengakui lagi kuasa Paus di Roma. Apa yang ia lakukan untuk menjawabi situasi ini? Ia kembali kepada dirinya. Ia bersuaha membaharui dirinya dengan melakukan kegiatan-kegiatan liturgi, menjadi lektor dan penyanyi Mazmur.

Pada tahun 1604, ia masuk biara Tritunggal Mahakudus dan menerima nama baru Yosafat. Ia menjadi calon biarawan sendirian sehingga setiap hari ia belajar bertapa, berdoa, meditasi, serta bermatiraga. Semua ini ia lakukan dengan intensi untuk persatuan Gereja katolik dan ortodox. Pada tahun 1609, ia ditahbiskan sebagai imam dan delapan tahun kemudian ditahbiskan sebagai uskup Polotsk. Ia menjadi uskup yang saleh, keras terhadap diri atau disiplin diri, murah hati terhadap sesamanya. Ia seorang rasul yang giat terhadap usaha mempersatukan gereja ortodoks dan Katolik. Hasilnya adalah Rusia Putih kembali kepada ikatan cinta kasih bersama Paus di Roma. Hal ini juga membuat banyak orang memusuhi dia. Pada bulan Oktober 1623 ia pergi ke kota Witesbek untuk melayani dengan kotbah-kotbahnya. Pada tanggal 12 Nopember, ada penjahat  yang masuk ke dalam gereja dan membunuh uskup Yosafat dan jenasahnya dibuang ke sungai Dvina.

Apa pesan Sabda Tuhan bagi kita hari ini? Santo Paulus mengakhiri suratnya kepada jemaat di Filipi dengan rasa syukur yang tiada habisnya. Semua karyanya di Filipi bisa berjalan lancar karena bantuan dari jemaat di Filipi. Ia juga mengatakan bahwa dirinya tabah dan tenang baik dalam masa kelimpahan maupun masa kekurangan. Ia juga merasa bahwa Tuhan senantiasa menguatkannya. Perhatikan ungkapannya: "Sekarang ini aku berkecukupan, malah berkelimpahan oleh segala yang telah dibawa dari kamu kepadaku oleh Epafroditus dan yang telah kuterima sebagai persembahan  yang harum mewangi dan yang berkenan kepada Allah" (Flp 4: 18). 

Pada hari ini kita mulai mendengar bacaan pertama dari tulisan Paulus untuk Titus. Titus adalah seorang rekan perjalanan Paulus. Ia berasal dari Antiokhia, di Asia kecil. Dia berasal dari keluarga kafir dan bertobat karena pewartaan Paulus. Dia menemani Paulus ke Yerusalem untuk menghadiri Konsili Pertama, dia menjadi utusan Paulus untuk mengajar jemaat di Korintus tentang hal-hal prinsipal yang penting bagi pertumbuhan iman mereka, dan masalah-masalah yang membahayakan iman mereka. Karena ketekunannya dalam pelayanan maka Paulus mengangkatnya menjadi Uskup (episcopos) di Kreta. 

Perikop kita hari ini merupakan kata hati Paulus bagi Titus untuk mengatur gereja-gereja yang masih muda. Titus ditugaskan untuk memilih pribadi-pribadi tertentu yang hidupnya dapat diandalkan untuk melangsungkan pengajaran dan pewartaan Injil. Paulus memberi persyaratan untuk menjadi presbiter atau episcopos sebagai berikut: 

Pertama, Menikah hanya satu kali. Ini bukan keharusan untuk berstatus kawin, tetapi pada usia tertentu dan kebanyakan mereka yang sudah menikah ditahbiskan untuk melayani Tuhan dan sesama. Paulus tahu bagaimana jemaat tertentu mudah bercerai dan kawin lagi selama beberapa kali karena mereka sebelumnya masih kafir. 

Kedua, Ia harus tidak bercela. Keluarganya juga hendaknya hidup layak di hadirat Tuhan. dengan demikian dia bisa menjadi figur penting yang dapat diterima public.

Ketiga, Ia harus ramah. Kalau sebagai pemimpin bersikap ramah maka dengan sendiri dapat menerima semua orang apa adanya. Episcopos dan presbiter harus memiliki kepribadian yang seimbang dan berwibawa.

Pemimpin-pemimpin gereja memiliki kewibawaan tertentu karena mereka harus bertindak sebagai guru, nabi dan raja. Tentu dengan tugas-tugas seperti ini ia harus berwibawa terhadap sesama dengan tidak menyesatkan mereka dalam segala pengajarannya. Pemimpin Gereja juga bertugas menjaga diri dan memberi koreksi kepada saudara yang bersalah supaya semuanya hidup layak di hadirat Tuhan.  Pemimpin Gereja juga memiliki kemampuan untuk mengampuni tanpa batas seperti Yesus sendiri. Pemimpin gereja juga harus memiliki iman yang teguh kepada Tuhan.

Yesus juga mengatakan dua kekuatan yang bekerja di dalam hidup manusia. Kuasa yang berasal dari godaan untuk jatuh dalam dosa dan salah dan kuasa iman untuk mengatasi gangguan-gangguan yang menghalangi kita untuk tidak mencintai Allah. Kita membutuhkan Tuhan untuk tidak jatuh dalam dosa dan salah. Bersama Tuhan kita juga akan mampu menerima sesama apa adanya dan berani untuk memaafkan tanpa batas. 

Kita bersyukur kepada Tuhan karena melalui SabdaNya, Ia senantiasa membaharui kita. Jadilah abdi Tuhan yang mengabdi tanpa pamrih.

Doa: Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu bagiku. Amen

PJSDB

Sunday, November 11, 2012

Janda di mata Tuhan

1Raj 17:10-16
Mrk 12:38-44
"Janda" di mata Tuhan

Figur-figur yang membantu permenungan kita pada hari Minggu Biasa ke XXXII tahun B adalah dua orang Janda. Janda pertama di Sarfat. Janda di Sarfat sangat miskin, nyaris melarat. Ia hanya memiliki segenggam tepung dan setelunjuk minyak dalam buli-buli, juga seteguk air. Ketiga Nabi Elia tiba di Sarfat, ia berjumpa dengan janda ini, meminta makan dan minum. Janda ini berani memberi segalanya. Memang janda ini tahu bahwa di hadapannya adalah kematian karena tidak ada makanan. Tetapi Dia lebih percaya pada utusan Allah yaitu Elia dan bahwa Tuhan Allah akan memperhatikan hidupnya dan anaknya.

Janda kedua adalah janda Yerusalem. Dia tanpa beban, perhitungan untung dan rugi "memberi segala yang ia miliki" untuk Tuhan di bait suci. Dia murah hati. Dia tidak ada beban karena memang dia orang miskin, tak butuh gengsi apapun. Dia memberi diam-diam, tak diketahui orang banyak berapa uangnya.
Kedua janda ini adalah model wanita pemberani. Dihadapan mereka hanya kematian dan kemelaratan karena mereka tak punya apa-apa lagi. Segalanya sudah dilepaskan untuk Tuhan dan sesama. Ternyata dalam kondisi seperti ini Tuhan menjadi segalanya bagi mereka. Luar biasa! Siapa di antara kita yang berani seperti mereka berdua?

Perhatikanlah janda-janda di dalam kehidupan sosial anda. Banyak di antara mereka wanita pemberani, rela berkorban dalam hal waktu, tenaga dan materi untuk hidup sosial dan menggereja. Tetapi banyak di antara mereka juga tidak diapresiasi, digosip, bahkan dilecehkan secara fisik dan verbal. Siapa yang melecehkan? Bukan hanya kaum pria, sesama wanita pun ikut melecehkan mereka. Yesus dan Elia membuka mata kita untuk menaruh kasih kepada mereka. Mereka juga manusia, punya jati diri dan bermartabat. Apakah anda bisa mengubah pandanganmu terhadap para janda di sekitarmu? Ingat dan hayatilah "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Im 19:18). 

Yah, di mata Tuhan semua orang sama! Di mata manusia masih banyak perbedaan yang menghalangi persekutuan sebagai anak-anak Allah.

PJSDB

Homili Hari Minggu Biasa XXXII/B

1Raj 17:10-16
Mzm 146:7.8-9a.9bc-10
Ibr 9:24-28
Mrk 12:38-44

Mari Membangun Budaya  Bela Rasa!

Seorang tokoh umat mencoba menjelaskan makna memberi kolekte dalam  perayaan Ekaristi. Dia mengatakan bahwa kolekte itu dari umat, oleh umat dan untuk umat. Tidak pernah kolekte untuk pastor. Semua kolekte yang dikumpulkan dari umat dipergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan iman umat, dan solidaritas umat Allah di dalam gereja lokal dan Gereja universal. Kolekte merupakan kesempatan di mana umat Allah membangun semangat saling berbagi sebagai umat Allah. Di antara umat yang mendengar penjelasan tokoh umat ini, bertanya dari mana pastor atau gembalanya hidup? Tokoh umat itu menjawab, pastor hidup dari pelayanannya: ia menerima stipendium dan iura stole. Dari pelayanan ini ia menghidupkan dirinya. Setelah mendengar penjelasan tokoh umat ini, seluruh umat di dalam gereja mengangguk dan berkata, "Wah kasihan pastornya. Kita pikir kolekte kita kumpul buat pastornya juga".

Kadang-kadang umat berpikir bahwa kolekte hari Minggu dan hari Raya itu untuk pastornya. Maka ketika relasi dengan pastornya kurang baik maka umat sulit untuk memberi kolekte atau derma kepada gereja. Padahal kolekte adalah satu sarana berbagi atau sarana untuk membangun semangat bela rasa dengan sesama. Kadang-kadang orang berpikir bahwa ia memberi kolekte karena memiliki sesuatu yang lebih. Ini hal yang keliru di dalam hidup menggereja. Seharusnya orang menyadari bahwa ia memberi segala yang ia miliki sebagai kolekte atau derma. Artinya kalau memberi kolekte orang perlu merasa bahwa ia sedang bermurah hati dengan sesama dan tidak takut atau punya banyak perhitungan. Orang seharusnya berpikir bahwa Tuhan akan  mencukupkan segala yang ia perlukan.

Bacaan-bacaan pada Hari Minggu Biasa ke XXXII, tahun B ini mengantar kita untuk memahami secara mendalam makna bermurah hati dalam berbagi dengan sesama atau berbela rasa (compassionate). Bacaan pertama menghadirkan kisah tentang seorang janda di Sarfat. Pada waktu itu nabi Elia melakukan sebuah perjalanan ke daerah Sarfat. Di sana ia bertemu dengan seorang janda. Nabi Elia meminta air untuk minum dan disuguhkan oleh janda itu. Elia kemudian meminta roti, janda itu berkeberatan karena yang ada padanya hanya segenggam tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-buli. Janda itu mengatakan bahwa ia sedang mengumpulkan kayu api untuk membuat roti dan makan bersama anaknya setelah itu mereka mati karena tidak punya persediaan makanan lagi. Tetapi sebagai utusan Tuhan, Elia meyakinkan janda itu dan terjadilah mukjizat. Janda bersama anaknya dan Elia bertahan hidup dengan tepung dan minyak persediaan yang ada.

Kisah ini menarik perhatian kita dalam konteks bela rasa dan berbagi. Terkadang orang merasa “takut untuk miskin” ketika memberi atau berbagi karena persediaannya sendiri  terbatas. Janda di Sarfat membuktikan bahwa dengan mematuhi sabda Tuhan, mukjizat besar dapat terjadi. Maka jangan takut miskin, beranilah berbagi dan Tuhan akan tetap mencukupkan segalanya bagimu! Sikap bela rasa atau empati nampak di sini. Janda di Sarfat ini meskipun punya persediaan makanan terbatas tetapi dia berbela rasa dengan nabi yang sedang kelaparan. Ia memiliki sedikit persediaan makanan tetapi membantu memberi hidup kepada sesama itu nilainya lebih mulia! Janda ini juga memiliki iman yang besar. Dia terbuka pada Allah dan percaya bahwa Allah akan memberikan segalanya karena nabi yang ada di depannya. Nabi Elia juga berbela rasa dengan memberikan Allah kepada janda itu. Allah yang diimani nabi adalah kasih! Allah sendiri yang mencukupi kebutuhan umat kesayanganNya.

Penulis kepada umat Ibrani dalam bacaan kedua menggambarkan Kristus yang menunjukkan bela rasa sebagai Imam Agung. Kalau jaman dahulu para  imam mempersembahkan kepada Tuhan kurban bakaran, sekarang Kristus mempersembahkan diriNya secara total. Dia adalah Imam Agung yang rendah hati, dan rela menderita bagi manusia. Ia punya kuasa untuk menghapus dosa manusia. Maka sikap bela rasa Kristus sebagai Imam Agung atau pemimpin kita adalah: mempersembahkan diriNya, menderita dan menghapus dosa!

Dalam bacaan Injil hari Minggu yang lalu, Tuhan Yesus mengingatkan kita semua untuk memiliki kemampuan “mendengar” dan ketika mendengar dengan baik, kita akan mampu memiliki kasih kepada Tuhan dan sesama. Ingat apa yang diungkapkan dalam Kitab Ulangan: “Shema Israel” atau “Dengarlah hai Israel, Tuhan Allah kita itu satu. Maka kasihilah Tuhan Allah dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Yesus mengutip dan mengatakannya sebagai hukum pertama dan hukum kedua adalah "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Im 19:18).

Hari ini hukum kasih mau dikonkretkan dalam hidup setiap pribadi. Dalam Bacaan Injil Tuhan Yesus mengambil contoh orang kaya yang memberi kolekte dari kelebihan uangnya dan seorang janda miskin yang kisahnya mirip dengan kisah janda di Sarfat dalam bacaan pertama. Janda miskin ini memiliki sikap lepas bebas, tidak terikat pada uang yang dimiliki yang jumlahnya juga sangat sedikit. Janda ini juga bersikap murah hati. Orang-orang kaya yang datang ke rumah ibadat memberi dari kelebihan mereka. Janda miskin memberi “segala” yang ia miliki dan tentu nantinya ia hanya berharap hanya kepada Allah. Letak perbedaannya adalah: Orang-orang kaya memberi dari kelebihannya. Artinya uang yang lebih itu diberikan kepada Tuhan. Kalau orang itu punya gaji sepuluh juta per bulan, dia hanya menyisihkan yang kebetulan ada di dalam dompet (kelebihannya) yakni hanya 0,00 sekian persen untuk menjadi kolekte. Mereka juga mungkin memberi dengan penuh perhitungan dan bukan menjadi bagian dari kemurahan hatinya. Bela rasanya terbatas bahkan tidak ada!

Bagi janda miskin, dia hanya mempunyai dua peser uang yang ia miliki. Dia memberi bukan dari kelebihan tetapi dengan murah hati ia memberi segala yang ia miliki untuk Tuhan. Orang yang mulia adalah mereka yang memberi dengan murah hati. Yesus mau mengingatkan supaya orang-orang yang berkelebihan memiliki bela rasa dengan orang miskin. Baju kemurahan hati si janda miskin harus dikenakan oleh orang-orang kaya supaya mereka juga memberi dengan murah hati seperti janda miskin. Orang kaya memiliki bela rasa dengan orang yang miskin! Kita semua saling mendukung dan mendorong untuk berbela rasa, bersikap murah hati. Orang miskin saja memberi dengan sukacita, bagaimana dengan mereka yang berkecukupan? Apakah masih takut menjadi miskin juga?

Bacaan-bacaan suci hari ini mengundang kita untuk bermurah hati dalam memberi. Tuhan telah memberi kepada masing-masing pribadi bakat dan kemampuan dengan cuma-cuma maka berikanlah juga dengan cuma-cuma kepada Tuhan dan sesama. Prinsip "memberi dari kelebihan" berubah menjadi memberi segala yang dimiliki untuk Tuhan. Tentu saja memberi bukan hanya dalam arti material tetapi juga waktu dan bakat-bakat untuk Tuhan dan sesama. Betapa susahnya mencari orang untuk menjadi pengurus Gereja. Selalu ada alasan untuk tidak berani melayani atau takut dikritik. Menjadi pengurus gereja ada kesempatan untuk melayani lebih banyak dan memberi segalanya. Mari kita mengambil semangat kedua janda dalam bacaan pertama dan bacaan Injil untuk melayani Tuhan dan sesama.

Doa: Tuhan bantulah kami untuk bermurah hati dan berbela rasa. Amen

PJSDB

Saturday, November 10, 2012

Renungan 10 Nopember 2012

Peringatan St. Leo Agung
Hari Sabtu Pekan Biasa XXXI
Flp 4: 10-19
Mzm 112:1-2.5-6.8a.9
Luk 16:9-15

Apakah anda juga memiliki rasa syukur?

Leo lahir di Toscana, Italia dari sebuah keluarga bangsawan kaya pada tahun 391. Pada tahun 431, saat masih sebagai Diakon, Ia diutus oleh Paus Sirilius untuk meluruskan pandangan orang-orang di Yerusalem yang menolak Roma sebagai pusat kepausan. Mereka berangapan bahwa Yerusalem menjadi pusat kepausan bukan Roma.  Misi Leo berhasil sehingga saat ini pusat kepausan berada di Roma. Paus Sixtus III (432-440) meninggal dunia dan pada tanggal 29 September 440 Leo terpilih menjadi Paus, meskipun masih sebagai diakon. Pada saat itu, ia sedang menjalankan suatu misi diplomatik di Gaul, Prancis atas permintaan Kaisar Valentinianus III. Misi itu ialah mendamaikan Aetius dan Albinus, dua jenderal kekaisaran yang bertikai sehingga melemahkan pertahanan bangsa Prancis melawan serangan bangsa Barbar.

Sebagai pemimpin gereja katolik, Leo menunjukkan bakat dan kemampuannya sebagai pemimpin. Ia mengambil tindakan keras terhadap bidaah-bidaah yang berkembang pada masa itu: Pelagianisme, Manicheisme, Priscillianisme dan Monofisitisme. Leo seperti arti namanya “Singa”menghadapi semua serangan terhadap ajaran iman yang benar dan serangan terhadap kota Roma dengan kesucian dan kefasihan lidahnya. Dengan semua tindakannya, Leo menjadi salah seorang Paus pembela ajaran iman yang benar dan pembela kota Roma dari serangan bangsa Barbar. Ia seorang gembala yang baik yang berani membela umatnya dari berbagai serangan. Ia menjadi teladan bagi para gembala: penuh semangat, berhati lapang tetapi tetap saleh, sehingga dapat bertindak secara fleksibel. Surat-surat dan kotbah-kotbahnya sangat bernilai karena buah pikirannya yang dalam. Selain dikenal sebagai penulis, orator, diplomat, negarawan dan teolog, Leo juga seorang administrator besar. Selama masa pontifikatnya, ia membangun dan memperbaiki banyak gereja. Masa kepemimpinannya menandai salah satu masa yang paling penting dalam sejarah Gereja Perdana.

Ia wafat pada tanggal 10 Nopember 461 dan dimakamkan di ruang depan basilik Santo Petrus. Beliau adalah Paus non-martir pertama dalam sejarah Gereja. Pada tahun 688, Paus Sergius I (687-701) memindahkan relikuinya ke bagian dalam basilik itu. Pada tahun 1607 para pekerja menggali kembali relikuinya dan memindahkannya ke dalam basilik Santo Petrus yang baru. Pada tahun 1754, Paus Benediktus XIV (1740-1758) menggelari Leo sebagai Pujangga Gereja. Dari semua pengajarannya, ada dua kalimat yang tetap dikenang di dalam Gereja: "Di dalam Pembaptisan, tanda salib membuat semua orang yang dilahirkan kembali di dalam Kristus menjadi raja, dan pengurapan di dalam Roh Kudus mentahbiskan mereka menjadi imam" Dia juga berkotbah tentang kelahiran Tuhan Yesus. Seruan yang terkenal adalaah, "Hai umat Kristiani, ingatlah martabatmu". 

Sambil mengenang St. Leo Agung, kita semua dikuatkan dan disegarkan oleh Tuhan melalui sabdaNya. Santo Paulus menceritakan pengalaman kebersamaannya dengan jemaat di Filipi. Paulus bersukacita karena jemaat di Filipi memiliki perhatian yang besar kepadanya dan juga terhadap kerasulannya. Paulus punya tugas mulia yaitu mewartakan Injil. Dan sebagaimana dikatakan Yesus, “Seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Mat 10:10), demikian Paulus sedang merasakannya bersama jemaat di Filipi. Meskipun mendapat pelayanan dari jemaat di Filipi, tetapi ia juga mau merenungkan pengalaman kebersamaan ini dalam konteks relasinya dengan Tuhan. Itu sebabnya Paulus berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan tetapi aku belajar untuk mencukupkan diriku”. Memang semua anugerah berasal dari Tuhan tetapi “belajar mencukupkan diri” diri itu hal yang mulia (Luk 3:14; Ibr13:5).

Selanjutnya Paulus mengatakan, “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang telah memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:13). Paulus ternyata tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia percaya bahwa semua pengalaman kerasulan yang sedang ia jalankan juga merupakan campur tangan Tuhan. Campur tangan Tuhan yang membuat ia menyadari kekurangan dan kelimpahan hidup. Ketika menerima sebuah anugerah atau hadiah dari Tuhan dan sesama kita pasti mengingat dan memperhitungkannya seperti Paulus. (Flp 4:17). Kita berniat untuk membalasnya atau kalau kita yang melakukan sebuah perbuatan kasih maka ada penantian tersendiri dari pihak kita terhadap orang yang dibantu. Yesus pun mengalaminya, terutama ketika Ia menyembuhkan sepuluh orang kusta (Luk 17:17-18). Ia menunggu, siapa yang akan datang dan bersyukur. Ternyata hanya seorang Samaria yang datang dan bersyukur kepadaNya. Nah, Yesus juga menanti apa yang dapat kita lakukan bagi saudara-saudara yang paling hina (Mat 25:14dst). Kehidupan Kristiani bernilai luhur manakala ada kasih yang tak terbagi kepada Tuhan dan sesama (1Yoh 4:9).

Sikap Paulus membuat kita berefleksi lebih dalam lagi tentang hidup kristiani. Kadang kita hanya berpikir tentang apa yang harus saya terima dari sesama dan lupa bahwa yang paling penting adalah membangun rasa syukur yang terus menerus kepada Tuhan. Rasa syukur atas perbuatan kasih yang kita terima dari Tuhan dan sesama. Rasa syukur pertama dan terutama kepada Tuhan atas segala yang Tuhan berikan kepada kita. Maka tugas kita adalah menyenangkan hati Tuhan dengan melayani dan mengasihiNya.

Mari kita mengambil pengalaman Paulus ini menjadi model kehidupan kita. Semua orang sudah berbuat baik bagi kita maka kita bersyukur dan mendoakan mereka supaya selalu diberkati Tuhan. Kadang kita lupa diri dan hanya bisa meminta tetapi lupa bersyukur. Kita seperti kacang yang lupa kulitnya. Apakah kita mau tetap seperti itu? Atau kita mengubah kiblat hidup kepada Tuhan dengan memuji dan menyembah serta bersyukur kepadaNya dan mengambil pengalaman kasih dari Tuhan untuk dilakukan bagi sesama? Selidikilah bathinmu!

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau senantiasa mengasihi kami. Amen

PJSDB

Friday, November 9, 2012

Homili Pemberkatan Basilik St. Yohanes Lateran

Yeh 47: 1-2.8-9.12 atau 
1Kor 3:9-11.16-17 
Mzm 46:2-3.5-6.8-9 
Yoh 2:13-22

Kamu adalah tempat kediaman Allah!

Seorang anak kecil bernama Francois baru kembali dari sekolah Minggu. Sebagai anak tunggal di rumah, kadang ia manja dan meminta perhatian orang tuanya. Siang itu ayahnya sedang sibuk dengan aneka pekerjaan di meja kerjanya. Francois merengek minta uang untuk membeli permen. Saking kesalnya, sang ayah menegur dengan keras untuk diam dan menunggu sebentar. Tetapi Francois tidak mendengarnya. Ayahnya berdiri, mengangkat dan memukul pantat Francois. Francois menangis histeris sambil berteriak, “Ayah berdosa...ayah berdosa”. Ayahnya kebingungan dan sambil meminta maaf kepadanya, ia bertanya, “Mengapa kamu bilang ayah berdosa?” Francois menjawab, “Sebab ayah sudah memukul tempat tinggal Roh Kudus”. Ayahnya adalah mantan frater dan mengerti apa yang dikatakan oleh santo Paulus, “Kamu adalah tempat tinggal Roh Kudus” (1Kor 6:19), maka ia mengatakan kepada Francois, “Maafkan ayah yah, ayah tadi tidak memukul tempat tinggal Roh Kudus, ayah hanya memukul tembok sakristinya saja”.

Hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan Pesta pemberkatan Basilika Lateran di Roma. Gereja atau Basilik agung ini didirikan di atas bukit Goelius, dekat istana kekaisaran Lateran oleh kaisar Konstantinus tahun 324. Ini merupakan basilika Gereja yang pertama dan menjadi lambang perdamaian dan kemerdekaan gereja setelah berabad-abad mengalami penganiayaan. Kita semua mengetahui masa awal gereja yang dihiasi oleh pengejaran dan penganiayaan kafir dari kerajaan Romawi. Dengan adaya Edik Milano tahun 303, bertepatan dengan pertobatan Konstantinus maka dimulailah pembangunan gedung Basilik ini dan beberapa basilik di tanah suci sepeti makam suci di Yerusalem dan Basilika kelahiran Yesus di Betlehem. Konstantinus dapat melakukan semua ini karena didorong oleh ibunya santa Helena. Basilika ini ditahbiskan oleh Paus Silvester I pada tahun 324. Basilik ini dipersembahkan bagi Yohanes Pembaptis sehingga biasa disebut juga Gereja St. Yohanes Lateran, dan menjadi induk semua gereja.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini berbicara tentang shekina atau tempat Tuhan bersemayam dan mengalirkan rahmat. Nabi Yehezkiel melihat air mengalir di dalam Bait Suci dan kemana saja air itu mengalir semua yang ada di sana hidup. Yehezkiel mencoba membantu kita untuk memusatkan perhatian kita ada Tuhan sebagai sumber segala rahmat. Dengan memandang Tuhan yang bersemayam dalam RumahNya yang Kudus, kita akan menimba banyak rahmat dari sana. Air adalah simbol Roh Allah yang menghidupkan dan menyuburkan. Bagaimana kita berusaha untuk mengarahkan kiblat hidup kita kepada Tuhan yang bersemayam dalam bait SuciNya dan menerima rahmatNya.

St. Paulus dalam Bacaan kedua mengingatkan kita semua sebagai orang yang dibaptis sebagai tempat kediaman Allah. Kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis, “Saudara-saudara, kamu adalah ladang Allah dan bangunanNya”. Ia mengakui dirinya sebagai ahli bangunan yang meletakkan dasar dan orang lain meneruskannya di atas dasar yang ada. Dasar yang dimaksudkan adalah dasar Iman akan Yesus Kristus. Dengan kata lain, Kristus adalah dasar yang diwartakan Paulus. Maka ia jga mengharapkan agar semua yang mendengarnya dapat bertumbuh dalam Kristus Yesus.  Untuk lebih meyakinkan jemaat Korintus, Paulus menegaskan dengan sebuah pertanyaan kepada mereka, ”Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah adalah kamu” (1Kor 3:16-17; 6:19).

St. Paulus berusaha menyatukan konsep rumah Tuhan  secara fisik dan rohani. Bait Allah bukan hanya gedung yang terbuat dari batu-batu bait Allah tetapi manusia adalah bait Allah secara rohani. St. Petrus mengatakan, “Bagaikan batu-batu hidup kamu dibangun, menjadi bangunan rohani, imamat kudus” (1Ptr 2:5).

Yesus dari bacaan Injil mengoreksi orang-orang Yahudi yang tidak menghormati tempat ibadat mereka. Mereka menjadikannya sebagai pasar. Dengan keras yesus menegur mereka untuk menguduskan tempat itu. Untuk menjelaskan lebih dalam, dan tidak dipahami oleh orang-orang saat itu, Yesus membandingkan Bait Allah dengan tubuhNya sendiri. Dia sendiri akan wafat dan bangkit pada hari ketiga. Hak terpenting dalam perikop kita adalah relasi dengan Tuhan jangan sampai terhalang oleh karena sarana dan peribadatan di salahgunakan. Orang perlu memahami bahwa setiap tempat peribadatan, Tuhan hadir dan bersemayam.

Sambil kita memperingati Pesta ini, Tuhan mengingatkan kita untuk bertumbuh dalam kasih Tuhan. Bertumbuh dalam kasih Tuhan membuat kita selalu berusaha mengarahkan kiblat hidup hanya kepadaNya. Kita juga sadar diri bahwa kita berpijak pada dasar yang kuat yaitu Yesus Kristus sendiri. Dialah yang mengorbankan diri bagi kita. Maka jadilah tempat tinggal Tuhan Allah Roh Kudus. Kuduskanlah diriMu. Jangan menjadikan tubuhmu tempat bersarangnya dosa dan salah.

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau juga menjadikan aku tempat tinggalMu. Amen

PJSDB

Thursday, November 8, 2012

Renungan 8 Nopember 2012

Hari Kamis, Pekan Biasa XXXI
Flp 3:3-8a
Mzm 105:2-7
Luk 15:1-10

Sunat Hati itu Perlu dan Harus!

Dalam suatu retret dengan sekelompok orang muda, saya ditanya tentang sunat dan tidak bersunat. Seorang muda yang kritis bertanya, “Romo, di dalam Injil Lukas 2:21 dikatakan bahwa Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem ketika usiaNya baru 8 hari untuk disunat dan diberi nama Yesus. Mengapa sunat bukan keharusan atau menjadi seperti sebuah sakramen bagi para pengikutNya?” Ini sebuah pertanyaan yang memang kelihatan sederhana tetapi susah untuk diterangkan. Sunat atau circumcisio dalam kamus berarti pemotongan kulit penis. Sebenarnya kebiasan circumcisio dimulai oleh orang-orang Mesir dan Etiopia bukan orang Yahudi. Artinya circumcisio dalam agama Yahudi berkembang kemudian.

Kalau kita rajin membaca Kitab Suci, di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Tuhan Allah mengikat Perjanjian dengan manusia dengan tanda-tanda tertentu. Misalnya, Tuhan mengikat Perjanjian dengan Abraham dengan keturunannya dengan tanda circumcisio bagi anak laki-laki yang berusia 8 hari (Kej 17:11-12; Kis 7:8). Musa juga merasa bahwa ini adalah tradisi yang bagus maka tetap dipertahankan (Kel 12:48; Im 12:3). Yoshua bahkan sampai zaman keluarga Makabe tetap memandang perlunya circumcisio sebagai tradisi yang bagus (Yos 5:2; 2Mak 6:10). Di dalam Kitab Perjanjian Baru kita mengenal peristiwa Yesus dalam Luk 2:21, di mana Yesus disunat dan menerima nama yang dijanjikan malaikat kepadaNya. 

Mengapa Yesus disunat? Yesus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Dia berinkarnasi, Dia berkenosis menjadi hamba bahkan wafat di kayu Salib untuk menebus manusia. Nah, Dia menjadi manusia dan hidup dalam sebuah budaya Yahudi yang kental. Maka Yesus memang disunat karena Dia orang Yahudi, Dia mengikuti dan menghormati budaya dan agama Yahudi. Oleh karena itu wajar saja bahwa Ia disunat tetapi para pengikutNya tidak harus disunat secara fisik karena semuanya bertumbuh dalam budayanya sendiri-sendiri. Lagi pula sunat secara harafiah lebih cocok dengan kaum pria, bagaimana dengan wanita? Artinya dalam pemahaman sempit orang yang layak hanya kaum pria, lalu kemana kaum wanitanya karena tidak bersunat?

Melalui sakramen pembaptisan kita semua dikuduskan. Setiap pribadi menjadi anak-anak terang. Penginjil Yohanes bersaksi bahwa menurut Yesus setiap pribadi dilahirkan kembali dari air dan Roh (Yoh 3:5). Santo Paulus memahami pembaptisan sebagai proses meninggalkan hidup lama menuju hidup baru. Setiap pribadi diharapkan mengenakan manusia baru, mengenakan Kristus (Ef 4:22-24). Menyadari makna terdalam sakramen Permbaptisan ini maka kita harus memahami makna circumcisio secara baru. Circumcisio bukan dalam arti sunat secara fisik berupa pemotongan kulit penis kaum pria tetapi sikap bathin terdalam untuk meninggalkan hidup lama dan mengenakan hidup baru. Sikap bathin menyerupai Bartimeus yang meninggalkan “mantelnya” dan mengikuti Yesus. Sunat menjadi saat menguduskan diri bukan sebuah tindakan yang berhubungan dengan bagian fisik manusia. 

Dalam konteks ini St. Paulus dengan tepat memahami sunat secara rohani yakni sunat hati. Sunat hati tidak berhubungan dengan tindakan terhadap fisik tertentu dari manusia tetapi proses perubahan yang radikal di dalam diri para pengikut Kristus. Proses perubahan itu berupa sikap bathin untuk meninggalkan hidup lama yang dikuasai hawa nafsu dan dosa dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menulis, “Tetapi orang Yahudi sejati ialah Dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujiannya datang bukan dari manusia melainkan dari Allah.” (Rom 2:29). Paulus juga menulis, “Dalam Kristus, kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia tetapi dengan sunat Kristus yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa. Karena dengan Dia, kamu telah dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu juga dibangkitkan oleh iman akan kuasa Allah yang telah membangkitkan Yesus” (Kol 2:11-12). 

Sebenarnya pandangan Paulus ini juga bukan hal baru. Sunat rohani atau sunat hati sudah ada dalam dunia Perjanjian Lama. Sunat yang dapat dipahami sebagai pertobatan radikal dari setiap pribadi yang percaya. Misalnya Ul 10:16: “Sebab itu sunatlah hatimu dan jangan lagi kamu tegar tengkuk” atau dalam Ul 30: 6: “Dan Tuhan Allahmu akan menyunat hatimu dan keturunanmu sehingga engkau dapat mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.” Kitab para nabi seperti Yeremia (4:4; 9:25-26) juga mengatakan hal yang mirip tentang pentingnya sunat hati bukan sunat secara fisik.

Berhubungan dengan sunat hati, Paulus dalam bacaan pertama hari ini menulis, “Saudara-saudara, kitalah orang-orang bersunat, yaitu kita kita yang beribadat oleh Roh Allah yang bermegah di dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh kepercayaan kepada hal-hal lahiria.” Jemaat  di Filipi diberi kesadaran baru oleh Paulus bahwa mereka juga merupakan umat pilihan Allah yang memiliki sunat secara rohani, karena mereka sudah menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Paulus juga menceritakan tentang masa lalunya tetapi pada akhirnya dengan tegas ia mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap merugikan karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena aku telah berkenalan dengan Kristus Yesus, Tuhanku, sebab hal itu lebih mulia dari segalanya”. (Flp 3:7-8).

Semangat Paulus ini hendaknya menjadi semangat Gereja untuk tidak hanya mengobservasi hal-hal lahiriah saja. Hal terdalam yakni jati diri manusia mesti diperhatikan. Hidup lama diubah menjadi baru karena orang berubah dari dalam bukan dari luar. Dalam Gereja purba sudah terdapat pertentangan antara kaum bersunat dan tidak bersunat sehingga dibuatlah Konsili pertama di Yerusalem. Lukas dalam Kisah Para Rasul menulis, "Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan bersunat berselisih pendapat dengan dia." (Kis 11:2). "Dan beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajar bahwa, "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan" (Kis 15:1). Apakah hal-hal lahiriah ini masih menghalangi umat Allah untuk bersatu dengan Tuhan di dalam Gereja saat ini?

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia selalu memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat, mengalami sunat rohani! Mari kita berbenah diri untuk menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Pertobatan yang radikal ditandai dengan meninggalkan hidup lama seperti yang dialami sendiri oleh Paulus. Pertobatan radikal sempurna karena Tuhan senantiasa mencari dan menyelamatkan manusia yang berdosa, anda dan saya. Yesus care dengan setiap pribadi yang berdosa dan menghendaki supaya ada pertobatan yang radikal. Pertanyaan bagi kita adalah, bagaimana dengan pertobatan di dalam hidup ini?

Doa: Tuhan, terima berilah aku rahmat pertobatan supaya aku menjadi baru. Amen

PJSDB