Thursday, December 6, 2012

Renungan 6 Desember 2012

Hari Kamis, Pekan Adven I
Yes 26:1-6
Mzm 118:1.8-9.19-21.25-27
Mat 7:21.24-27

Hanya Dialah Gunung Batuku!

Pada pertengahan bulan Agustus tahun 1997 saya tiba di Yerusalem untuk memulai pendidikan Teologi sebagai calon imam. Dari semua kesan pertama berada di kota Yerusalem, ada satu yang masih saya ingat: Kota Yerusalem memiliki bangunan yang umumnya berwarna putih sesuai dengan keadaan geologisnya. Tembok yang mengitari kota tua Yerusalem berasal dari bata putih. Demikian juga beberapa perumahan baru dihiasi dengan bata putih. Pengalaman ini terulang ketika saya melayani di Pulau Sumba. Di daerah Sumba Barat Daya, masyarakat memiliki usaha menambang bata putih. Dengan peralatan yang sederhana mereka menambang dan membentuk bata putih dengan ukuran tertentu untuk membangun rumah-rumah mereka. Saya terpesona dengan Gereja Katedral Weetebula yang megah. Gereja ini memiliki tembok dari bata putih yang rapi dan tidak memiliki fondasi. Sudah banyak kali digoyang oleh gempa namun tidak mengalami kerusakan apa pun.

Apa artinya batu di dalam Kitab Suci? Batu adalah simbol iman kita kepada Tuhan. Batu juga menjadi simbol kekuatan yang berasal dari Tuhan. Kitab Mazmur 18;27;40;62 dan lainnya berisikan nyanyian Daud yang mengatakan Allah sebagai gunung batu atau batu karang (Ibrani, " צור - TSUR"). Allah adalah gunung batu berarti Dialah satu-satunya perlindungan manusia. Dalam Kitab Perjanjian Baru, Yesus disebut batu penjuru (Ef 2:20) atau batu karang yang hidup (1Pt 2:4). Batu senantiasa menjadi simbol yang penting dalam hidup menggereja karena di samping kita mengingat iman yang berasal dari batu yang Hidup yaitu Yesus Kristus, kita juga mengingat Hirarki Gereja yang didirikan di atas batu karang yang tidak lain adalah Petrus atau Kefas.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Kamis pekan pertama Adven ini memiliki kesamaan karena sama-sama mengatakan tentang batu. Kepada orang-orang Yahudi yang berada di Babilonia. Yesaya bernubuat: “Di tanah Yehuda akan dinyanyikan nyanyian ini: Kita mempunyai kota yang kuat! Tuhan telah memasang tembok dan benteng untuk keselamatan kita. Bukalah pintu-pintu gerbangnya agar, agar masuklah bangsa yang benar dan yang tetap setia. Engkau menjaga orang yang teguh hatinya dengan damai sejahtera, sebab ia percaya kepadaMu. Percayalah kepada Tuhan selama-lamanya, sebab Tuhan Sllah adaah gunung batu yang kekal.” (Yes 26:1-4).

Yesaya sedang menghibur bangsa Yahudi yang sedang menderita di Babel bahwa pada suatu saat yang tepat mereka akan kembali ke Sion. Kota Sion atau Yerusalem akan dibangun kembali dengan bantuan Tuhan. Dia sendiri yang memasang tembok dan membuat benteng untuk keselamatan kita. Yerusalem nantinya menjadi kita kediaman Allah sendiri dan umat pilihanNya yang tetap setia kepadaNya. Umat Allah saat itu memiliki kepercayaan penuh kepada Yahwe yang bersemayam di Sion. Pada saat ini kita sebagai Gereja mempercayakan seluruh hidup kita kepada Tuhan Yesus Kristus yang menjadi sahabat bagi kaum papa dan miskin.

Yesaya tidak hanya mengingatkan mereka untuk memikirkan Sion tetapi dengan jelas mengatakan tentang kota Babel yang akan diruntuhkan: “Kota-kota di atas gunung telah ditaklukanNya, benteng-benteng yang kuat telah dirobohkanNya, diratakanNya dengan tanah dan dicampakkanNya menjadi debu dan diinjak oleh kaki orang sengsara dan telapak orang-orang lemah” (Yes 26: 5-6). Kemegahan kota Babel akan runtuh karena kota itu hanyalah buatan tangan manusia berdosa. Sejalan dengan keruntuhannya ini maka Yerusalem akan membuka tanganNya dan membiarkan Tuhan masuk dan tinggal bersamaNya. Dia sendiri yang menyiapkan tempat untuk sisa Israel ini.

Yesus dalam bacaan Injil menekankan kuasa Sabda. Pribadi-pribadi yang setia pada sang Sabda akan melakukan kehendak Bapa di dalam Surga. Jadi bukan orang yang hanya tahu berteriak minta tolong kepada Tuhan tetapi orang yang sungguh-sungguh melakukan kehendak Allah Bapa di dalam Surga.Kemampuan mendengar Sabda dan melakukannya adalah suatu kebijaksanaan. Bagi Yesus, mereka ini seperti orang yang membangun rumah di atas batu. Meskipun banyak kesulitan namun mereka tidak akan menyerah karena dasar pijakan mereka adalah Tuhan sendiri. Iman adalah dasar yang kuat supaya orang dapat tahan uji. Tuhan adalah gunung batu dan benteng pertahanan yang kuat.

Sabda Tuhan hari ini memberikan dorongan kepada kita untuk memiliki harapan pada pertolongan Tuhan. Kita tidak dapat berjalan sendiri. Kita butuh Tuhan sebagai benteng pertahanan kita. Ketika dosa menggoda, kita memiliki tempat perlindungan yang nyaman yaitu Allah sendiri. Apakah anda pernah bersyukur karena memiliki Allah yang kuat dan perkasa?

Doa: Tuhan, Engkau adalah gunung batu dan benteng pertahananku. Amen

PJSDB

Wednesday, December 5, 2012

Renungan 5 Desember 2012

Hari Rabu, Pekan Adven I
Yes 25:6-10a
Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6
Mat 15:29-37

Siap Menikmati Perjamuan Kekal!

Hari Rabu, Pekan Adven Pertama. Nabi Yesaya membantu penantian kita akan kedatangan Tuhan. Ia mengingatkan kita untuk selalu memandang ke gunung Tuhan. Di sana Allah bersemayam dan semua orang berbondong-bondong menuju ke sana. Dialah terang sejati dan Dia juga yang menumbuhkan Tunas Isai di mana muncul seorang pemimpin sekaligus penerus Takhta Daud. Semua ini masuk dalam rencana Tuhan untuk menyelamatkan semua orang di dalam Yesus Kristus PuteraNya.

Hari ini Yesaya mengingatkan kita semua untuk memandang ke Gunung Sion. Di sana Tuhan hadir, bersemayam dan menjanjikan sebuah kehidupan baru yang sejahtera dan terjamin. Tuhan akan menunjukkan kasih setiaNya kepada manusia untuk selama-lamanya. Bagaimana Tuhan dapat menunjukkan kasih setiaNya untuk selamanya? Melalui nubuat  Yesaya, Tuhan berjanji untuk menyiapkan sebuah perjamuan dengan masakan istimewa berupa lemak dan sumsum serta anggur terbaik bagi segala bangsa. Tuhan akan mengoyakan kain kabung yang telah diselubungkan kepada segala bangsa. Tuhan akan meniadakan maut untuk selamanya, air mata dari setiap wajah akan dihapus oleh Tuhan.

Situasi yang menggembirakan yang juga menandakan penebusan yang berlimpah dari Tuhan membuat orang mengakuiNya: “Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan supaya menyelamatkan kita. Inilah Tuhan  yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karena keselamatan yang diadakanNya! Sebab tangan Tuhan akan melindungi gunung itu” (Yes 25: 9-10). Tuhan selalu menunjukkan tanda kasihNya kepada umat kesayangan yang berharap kepadaNya. 

Gambaran Nabi Yesaya ini membuat kita juga membayangkan bahwa pada akhir zaman semua bangsa akan dikumpulkan  di Gunung Sion, kota Tuhan. Mereka akan diadili dan bagi yang layak akan mengalami kemurahan Tuhan dan perjamuan kekalNya. Janji Tuhan bahwa segala penderitaan dan kesengsaraan, perkabungan dan air mata akan di hapus oleh Tuhan dan diganti dengan sukacita. Nubuat Yesaya ini merupakan gambaran sukacita mesianis. Mengapa? Karena Tuhan sendiri yang menyiapkan perjamuan “lemak dan sumsum” sebagai tanda persahabatan dan persekutuan manusia dengan Tuhan.  Tuhan juga berjanji untuk menghapus segala derita, terutama kematian. Ini adalah janji Tuhan bagi setiap pribadi dan Dia akan menggenapi segalanya.

Kedatangan Tuhan Yesus Kristus merupakan sukacita Mesianis. Tuhan sendiri menyiapkan segala-galanya bagi manusia yang percaya kepadaNya. Kepada orang-orang yang sakit disembuhkan, kaum papa dan miskin akan dihibur oleh Tuhan. Ada rasa saling berbagi dengan saudara-saudara. Penderitaan, kelaparan dan kehausan yang dapat menggangu kebahagiaan akan dihapus oleh Tuhan ketika Ia datang dalam kemuliaanNya.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk membangun optimisme baru. Terkadang kita mengalami kesulitan dan tantangan dan cepat putus asa. Lebih lagi ketika ada kematian orang-orang yang kita kasihi. Banyak orang menjauhkan dirinya dari Tuhan karena pengalaman keras dalam hidupnya. Banyak orang yang tidak mau ke Gereja karena merasa bahwa Tuhan tidak memperhatikan mereka lagi.

Sebaliknya hari ini wawasan kita dibuka oleh Yesaya dan Tuhan Yesus untuk menerima semua pengalaman hidup dengan sukacita. Baik penderitaan maupun kemalangan Tuhan senantiasa hadir dan memberi peneguhan, bahkan perjamuan di Surga pun Ia siapkan bagi semua orang. Air mata saja Dia hapuskan. Betapa agungnya Tuhan kita. Dia mahapengasih dan penyayang.

Doa: Tuhan yang mahabaik, bantulah aku agar hidup dalam kasihMu.

PJSDB 

Tuesday, December 4, 2012

Renungan 4 Desember 2012

Hari Selasa, Pekan I Adven
Yes 11:1-10
Mzm 72: 2.7-8.12-13.17
Luk 10:21-24

Mari membangun dunia yang baru dan harmonis


Hari Selasa, Pekan I Adven. Kemarin Hari Senin Pekan I Adven, Yesaya mengajak kita untuk mengenal Tuhan sebagai terang yang menarik perhatian banyak orang sehingga mereka datang kepadaNya (Yes 2:5). Banyak orang berbondong-bondong datang kepada Tuhan karena mereka mau mendengar SabdaNya dan menikmati terang yang tidak lain adalah kehadiranNya sendiri. Orang juga merasa nyaman di hadirat Tuhan ketika berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepadaNya di dalam BaitNya yang kudus di Yerusalem.

Hari ini Yesaya dengan nubuatnya menjanjikan seorang pemimpin para bangsa dari keuturunan Daud. Yesaya menamakannya “tunas yang akan keluar dari tunggul Isai” (Yes 11:1) dan “taruk yang akan tumbuh dari pangkal Isai” (Yes 11:1) akan berbuah dan buahnya berlimpah-limpah. Apa yang kiranya istimewa dari “tunas yang keluar dari tunggul Isai ini?” Ada banyak hal seperti: "Roh Tuhan menaunginya yakni roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenal dan takut akan Tuhan. Ia akan menghakimi orang lemah dengan keadilan dan dengan kejujuran akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri (Yes 11: 2-3.4). Di sini kelihatan jelas rencana Allah untuk menata dunia menjadi baru di mana ada keharmonisan. Tentu saja yang dibutuhkan di sini leader yang tangguh seperti Daud dan bijaksana seperti Salomo. Leader yang baik tentu akan menganimasi semua kegiatan yang patut di jalankan untuk kebaikan bersama.

Tatanan dunia baru yang di dambakan adalah tanda kehadiran dan penyertaan Tuhan sendiri. Yesaya menggambarkannya dengan contoh-contoh praktis seperti ini: “Pada waktu itu serigala akan tinggal bersama domba, dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembuh dan anak singa akan merumput bersama-sama dan seorang anak kecil akan mengiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anak-anaknya akan sama-sama berbaring. Singa akan makan jerami seperti lembu. Bayi akan bermain-main di liang ular tedung. Anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak” (Yes 11:6-8). Gambaran dunia yang teratur dan penuh kedamaian ini menjadi harapan dan cita-cita semua orang. Tuhan juga merencanakan dan menciptakan dunia yang teratur tetapi manusia meruntuhkannya ketika menyalahgunakan kebebasan mereka sehingga jatuh dalam dosa.

Rencana keselamatan terus menerus disampaikan Tuhan. Tidak ada yang berbuat jahat atau berlaku busuk karena semua orang mengenal Tuhan. Pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri tegak dan segala suku bangsa mencarinya, tempat kediamannya menjadi mulia. Semua yang dinubuatkan Yesaya menjadi sempurna dalam dunia Perjanjian Baru dengan hadirnya Tuhan Yesus Kristus.Yesus Kristus satu-satunya utusan Bapa untuk menyelamatkan dunia. Di dalam Dia semua diciptakan menjadi baru. 

Yesus Kristus yang sama bersyukur atas perutusanNya sehingga dalam Roh Kudus ia berkata, “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa itulah yang berkenan di hatiMu. Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak ada seorang yang tahu siapakah Anak selain Bapa dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang oleh Anak diberi anugerah mengenal Bapa” (10:21-22). Nada syukur Yesus kepada Bapa terungkap setelah 72 murid yang diutus kembali dan melaporkan perutusan mereka. Mereka mengakui bahwa semua kuasa Yesus sungguh-sungguh terlaksana dan banyak orang mengalami keselamatan. Dunia mereka pun menjadi baru dan sukacita Tuhan Yesus menaungi mereka.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini membantu kita untuk bertumbuh secara rohani dengan memusatkan perhatian kita hanya kepada Yesus. Dia yang telah dinubuatkan Yesaya dalam Perjanjian Lama dan diserahi kuasa dari Bapa untuk menghidupi sebuah dunia baru, dunia yang diselamatkan sehingga nyaman, tenang, tertib untuk dihuni. Ada sebuah keharmonisan yang bagus antara manusia dengan lingkungan hidupnya.

Sabda Tuhan juga membantu setiap pribadi untuk bertumbuh dalam semangat “senantiasa bersyukur” kepada Tuhan. Yesus yang adalah Tuhan, Putera Allah saja bersyukur kepada Bapa atas segala kuasa yang dilimpahkan kepadaNya. Apakah kita juga memiliki rasa syukur yang terus menerus? Banyak kali orang lupa bersyukur, hanya tahu meminta saja. Anak Tuhan yang baik adalah Dia yang selalu bersyukur atas segala situasi hidupNya. Tentu saja di sini dibutuhkan kerendahan hati, sederhana dan merasa membutuhkan Tuhan di dalam hidupNya. Orang yang sombong tidak akan bersyukur atas apa yang dimilikinya. 

Saya akhir RenHar ini dengan sebuah pengalaman ketika mengunjungi sebuah keluarga. Ada seorang anak yang berulang tahun ke-5 maka saya membawa Rosario sebagai hadianya. Ketika saya memberi Rosario kepada anak itu, ia menerimanya dengan senang hati tapi lupa berterima kasih. Ibunya mengambil dan mengembalikannya kepadaku sambil berkata, "You have to say thank you to Fr. John". Saya memberinya kembali dan anak itu dengan sopan dan tenang berkata, "Thank you Fr. John". 

Rasa syukur itu dialami mulai dari dalam keluarga! Bangunlah habitus "selalu bersyukur". Masa adventus menjadi saat di mana kita mewujudkan dunia ini menjadi baru dan banyak orang semakin bersyukur dan memuliakan Tuhan. 

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk tahu bersyukur kepadaMu. Amen

PJSDB

Monday, December 3, 2012

Renungan 3 Desember 2012

St. Fransiskus Xaverius
1Kor 9:16-19.22-23
Mzm 96: 1-2a.2b-3.7-81.10
Mrk 16:15-20

Ceritakanlah karya Agung Tuhan!

Hari ini bersama seluruh Gereja kita merayakan Pesta St. Fransiskus Xaverius. Fransiskus menjalani tugas perutusan Gereja yaitu mewartakan Injil kepada semua makhluk (Mrk 16:15). Roh Kudus tetap akan berkarya dalam diri setiap orang yang percaya dan mau membaktikan diri untuk mewartakan Sabda Tuhan. Fransiskus Xaverius mengalaminya dan menjadi seorang misionaris bersar. Ia lahir di Javier tahun 1506, teman kuliahnya St. Ignasius Loyola di Paris. Di kemudian hari Fransiskus menjadi salah satu anggota Serikat Yesus yang pertama. Pada tahun 1541 ia meninggalkan Spanyol untuk menjadi misionaris ke India, Jepang. Ia juga pernah singgah di Malaka dan Maluku, kepulauan Pasifik. Ia memiliki kemampuan adaptasi diri yang baik dengan budaya lokal sehingga dalam perjalanan misionernya itu, ia membaptis lebih dari 30.000 orang. Ia meninggal di Sancian, 3 Desember 1552 dalam usia 46 tahun karena kelelahan. Pada saat itu ia sedang menyiapkan diri untuk menginjil di China. Tubuhnya disemayamkan di Goa, India. Paus Paulus V menjadikannya beato dan dikanonisasi oleh Gregorius XV tahun 1622. Dia menjadi pelindung misi.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menggambarkan hidup dan karya St. Fransiskus Xaverius, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan misioner. St. Paulus dalam bacaan pertama berkata, “Saudara-saudara, jika aku memberitakan Injil, aku tak punya alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika tidak mewartakan Injil”. Perkataan  Paulus ini kiranya tepat dengan pesan Yesus kepada para muridNya sebelum Ia naik ke Surga: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah injil kepada segala makhluk.”

Paulus juga mengatakan bahwa segala sesuatu yang dia lakukan dalam pewartaan Injil bukan atas kemauannya sendiri. Tuhanlah yang memberikannya tugas untuk mewartakan Injil. Maka ia pun mewartakan Injil dengan sukacita. Upah yang dimiliki oleh Paulus dalam mewartakan Injil adalah “Bahwa Aku boleh memberitakan Injil tanpa imbalan dan bahwa aku tidak menuntut hakku sebagai pemberita Injil”. Paulus menjadi segala-galanya bagi Tuhan dan manusia.

Gambaran kehidupan Paulus ini mendorong Fransiskus untuk meninggalkan kampung halamannya ke tanah-tanah misi di Asia bahkan meninggal di Asia sebagai Misionaris. Sikap Fransiskus ini patut diikuti oleh kita semua sebagai orang yang dibaptis. Rahmat pembaptisan telah menjadikan kita orang pilihan Allah untuk pergi dan mewartakan Injil bagi segala Makhluk.

Yesus di dalam bacaan Injil memberikan tanda-tanda istimewa kepada para muridNya untuk menjadi misionaris: mengusir setan demi nama Yesus, berbicara dalam bahasa-bahasa baru, memegang ular dan tidak akan mati keracunan. Mereka juga akan memberkati dan menyembuhkan banyak orang sakit. Semua yang disampaikan Tuhan ini, Ia sendiri juga turut bekerja bersama mereka. Ia menyertai mereka hingga akhir zaman.

Pesan-pesan misioner Yesus ini juga dihayati oleh Fransiskus. Ia terkenal sebagai misionaris yang mudah beradaptasi dengan lingkungan lokal. Ia berbicara dengan bahasa lokal di Asia. Maka ia juga memenangkan banyak jiwa.

Sambil kita merayakan pesta St. Fransiskus Xaverius, kita mendoakan para misionaris awam dan religius yang membaktikan diri untuk melayani Tuhan. Di masa adven ini, kita juga memiliki panggilan luhur untuk mewartakan Sabda. Hendaknya kita berprinsip seperti Paulus: “Celakalah aku jika tidak mewartakan Injil”. Apakah anda juga berjiwa misioner? Beranikah anda seperti Fransiskus Xaverius mewartakan sabda Tuhan mulai di dalam keluarga dan lingkunganMu. Mewartakan bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan yang nyata. Para misionaris adalah mereka yang menceritakan karya agung Tuhan di antara segala suku dan bangsa.

Doa: Tuhan semoga Engkau memberkati para misionaris di dalam gerejaMu. Amen

PJSDB

Renungan 3 Desember 2012

Hari Senin, Pekan Pertama Advent
Yes 2:1-5
Mzm 122:1-2.4.6-9
Mat 8:5-11

Tuhan menyelamatkan semua orang!

Hari Senin pekan pertama Adventus. Tuhan melalui SabdaNya membangkitkan semangat kita untuk percaya kepadaNya sebagai terang sejati, yang menyelamatkan semua orang dari segala suku dan bangsa serta bahasa. Terang Tuhan itu menandakan kehadiranNya yang kekal dan semua orang memandang kepadaNya. Hal ini sejalan dengan nubuat nabi Yesaya. Dalam bacaan pertama ia menegaskan bahwa Tuhan akan mengumpulkan semua orang dalam kedamaian kekal di dalam KerajaanNya. Yesaya menulis, "Semua bangsa akan berduyun-duyun datang kepadanya dan berkata 'Mari kita pergi ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub supaya Dia mengajarkan kepada kita jalan-jalanNya, agar kita berjalan mengikutiNya. Sebab pengajaran akan keluar dari Sion dan sabda Yahwe dari Yerusalem" (Yes 2:3).

Penglihatan Yesaya ini sebenarnya bukan sebuah penglihatan yang riil namun penglihatan ini sedang dan akan dipenuhi oleh Tuhan. Bukit Sion adalah bukit kecil yang menghadap kota Daud dan di atasNya Kenisah Allah akan didirikan dan menjadi pusat alam semesta. Semua bangsa akan berduyun-duyun ke sana karena mereka membutuhkan Sabda Tuhan. Mereka membutuhkan pengajaran dari Tuhan. Itu sebabnya mereka memiliki Torah (hukum) atau segala perintah Tuhan. Hukum Tuhan sendiri mengajarkan arti dan tujuan hidup manusia. Yesus menunjukkan teladan yang sama ketika Dia naik ke gunung bersama para murid terpilih dan Ia menampakkan kemuliaanNya. Di atas gunung yang tinggi  itu Bapa di Surga menegaskan, "Ini Anak yang Kukasihi, Dengarkanlah Dia".

Tuhan juga akan menjadi hakim bagi bangsa-bangsa dan menyelesaikan perselisihan  antara banyak bangsa. Ada satu tatanan dunia yang baru yang penuh dengan kebaikan: "Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang melawan bangsa lain dan mereka tidak akan lagi berlatih untuk berperang" (Yes 2:4). Tuhan adalah terang dan Dialah yang memberi damai sejahtera kepada umat kesayanganNya. Yesaya menulis, "Hai rumah Yakub, mari, berjalanlah dalam terang Tuhan".

Di dalam Bacaan Injil kita mendengar sebuah kisah tentang iman seorang perwira Romawi. Ketika Yesus memasuki Kapernaum, ia berjumpa dengan seorang perwira romawi yang hambanya sakit lumpuh. Ia meminta kepada Yesus untuk disembuhkan. Sebagai seorang prajurit Romawi, orang bukan Yahudi dan kafir, ia menyadari dirinya tidak layak di hadapan Yesus. Oleh karena itu ia meminta Yesus untuk mengatakan sepatah kata saja supaya hambanya menjadi sembuh. Dengan bersabda dari jarak jauh, hamba perwira Romawi itu menjadi sembuh. Yesus memuji iman perwira itu dan setelah itu berkata: "Banyak orang dari Timur dan dari Barat akan duduk bersama Abraham, Ishak dan Yakub pada perjamuan di dalam Surga" (Mat 5:11). Keselamatan yang diwartakan Yesus sifatnya universal.

Ada beberapa hal penting yang dapat kita ambil sebagai buah rohani dari Sabda Tuhan pada hari ini.

Pertama, Tuhan menghendaki keselamatan semua orang. Mereka yang berbondong-bondong ke gunung Tuhan, ke rumah Yakub. Mereka yang datang dari Timur dan Barat untuk ikut perjamuan Tuhan yang kekal. Sabda Tuhan ini membuka wawasan kita untuk tidak merasa diri sebagai status quo dalam keselamatan. Tuhan sendiri yang punya rencana dan kuasa untuk menyelamatkan semua orang!

Kedua, Tuhan adalah terang sejati yang membuat semua orang tertarik untuk dekat padaNya. WajahNya yang kudus menerangi kita semua yang percaya kepadaNya. TerangNya membuat orang mengubah kiblat hidupnya hanya kepadaNya sebagai satu-satunya Allah yang benar.

Ketiga, Kita juga diajak untuk memiliki kemampuan mendengar Tuhan.  Orang-orang yang datang ke Gunung Tuhan memiliki kerinduan untuk mendengarNya. Perwira mendengar Tuhan Yesus dan mukjizat terjadi baginya.

Maka dalam masa Adven ini kita semua dipanggil untuk membangun relasi yang akrab dengan Yesus, Sabda dari Bapa, kebenaran dan terang sejati. Hal-hal praktis yang dapat dilakukan adalah: rajinlah membaca Kitab Suci dan bersekutulah dengan Yesus!

Doa: Tuhan, terangilah hidupku. Amen

PJSDB

Sunday, December 2, 2012

Homili Hari Minggu Pertama Adven/C

Minggu Pertama Adven/C
Yer 33:14-16
Mzm 25:4bc-5ab.8-9.10.14
1Tes 3:12-4:2
Luk 21:25-28.34-36

Penyelamatanmu sudah dekat!

Hari ini adalah hari Minggu pertama Advent dan merupakan hari pertama tahun baru liturgi Gereja katolik, tahun C. Sepanjang tahun liturgi yang baru ini, Sabda Tuhan akan membimbing kita untuk selalu mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan sendiri. Di awal tahun baru liturgi Gereja, kita sebagai umat Allah perlu menyusun rencana dan strategi tertentu untuk bertumbuh secara rohani. Tentu saja semuanya ini sejalan dengan hidup menggereja. Misalnya, menjelang akhir tahun liturgi paroki-paroki atau kelompok kategorial tertentu selalu mengadakan Rapat Kerja supaya mengevaluasi dan menyambut peluang-peluang pelayanan baru di dalam gereja secara teritorial dan kategorial. 

Santu Sirilius dari Yerusalem pernah memberi sebuah pengajaran yang mendalam tentang masa Advent. Kedatangan Yesus yang pertama dalam sejarah ditandai dengan kesabaran yang mendalam. Mengapa? Karena rencana keselamatan ini sudah ada dalam Kitab Perjanjian Lama. Kekhasan lain dari kedatangan Yesus yang pertama menurut Sirilius adalah ketika hendak dilahirkan di Betlehem keluarga kudus ditolak,  tidak ada tempat untuk menginap. Yesus dilahirkan di dalam kandang dan dibungkus dengan kain yang tipis. Ia juga memikul salib hingga wafatnya juga di atas kayu salib. 

Kedatangan Yesus yang sekarang kita kenang dan nantikan dalam masa adven secara liturgis membantu kita untuk menanti kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Dia akan datang dalam kemuliaan dan kuasa untuk mengadili orang yang hidup dan mati. PakaianNya akan putih berkilau-kilauan. Semua orang akan dikumpulkannya dari seluruh penjuru bumi dan mereka yang layak dihadapanNya akan menikmati perjamuan kekal bersamaNya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu pertama Adven ini membantu kita untuk percaya bahwa hari penyelamatan dari Tuhan sudah dekat. Apa tanda-tanda adanya hari penyelamatan itu? 

Nabi Yeremia dalam bacaan pertama memberikan jaminan bagi umat Allah untuk tetap percaya kepada Allah. Jaminan atau harapan yang diberikannya kepada umat Allah adalah akan muncul Tunas Keadilan Daud (Mesias) yang akan menyelamatkan umat Tuhan dari situasi masyarakat yang tidak adil. Tunas Keadilan berperan dalam melaksanakan keadilan dan kebenaran. Janji Tuhan melalui Yeremia ini merupakan harapan bagi seluruh Umat Allah. Memang mereka jatuh dalam dosa berulang kali namun kasih dan kemurahan Tuhan tetap kekal bagi mereka. Tuhan tetap memperhatikan umat kesayanganNya.

Paulus dalam bacaan kedua juga memberi harapan dan masa depan yang baik bagi Umat Allah di Tesalonika. Mereka diharapkan untuk tetap bertahan di hari kedatangan Yesus karena di dalam diri mereka telah tumbuh kasih dan kebenaran. Hidup dalam kasih dan kebenaran dapat membantu setiap pribadi menjadi kudus, tanpa cacat dan cela di hadirat Tuhan. Kekudusan merupakan panggilan luhur bagi setiap orang.

Pikiran Paulus ini erat terkait dengan apa yang digambarkan Yesus di dalam Injil hari ini. Yesus menjelaskan tentang akhir zaman. Lukisan-lukisan yang bersifat apokaliptik memang menakutkan umat yang percaya kepada Allah namun semuanya itu hanya berupa tanda-tanda saja sebelum kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaanNya. Tanda-tanda yang bersifat apokaliptik memang menakutkan tetapi kedatangan Anak Manusia merupakan harapan yang pasti bagi orang-orang yang percaya kepadaNya.

Sikap bathin yang harus dibangun oleh orang-orang yang percaya kepadaNya adalah selalu berjaga-jaga dan berdoa. Sikap berjaga-jaga ini dihayati dalam hidup praktis misalnya tidak sarat oleh pesta pora dan kekhawatiran dunia. Banyak orang menggunakan kesempatan untuk berpesta dan mabuk-mabukan, masuk ke dunia khayalan. Ada juga orang yang khawatir akan hidupnya: makanan, minuman dan pakaian (Luk 12:22) dan harta kekayaan (Luk 8:14). Pesta pora dan kekhawatiran dapat membuat orang tidak siap untuk menanti kedatangan Tuhan. Apabila umat Allah percaya kepada Tuhan dan menjauhkan diri dari hal-hal duniawi ini maka mereka akan tahan berdiri dihadapan Anak Manusia (Luk 21:36).

Sabda Tuhan hari ini membantu kita untuk menyadari bahwa warta sukacita tentang kedatangan Tuhan tidak diperuntukkan bagi orang-orang yang berjaya dan hidup penuh kelimpahan, melainkan kepada umat Allah yang lemah dan menderita. Penderitaan sebagai manusia dan penderitaan sebagai pengikut Kristus. Oleh karena itu harapan akan masa depan yang baik adalah harapan orang-orang semacam ini. Tuhan akan memberikan kelegaan kepada orang yang menderita. Dia tidak akan meninggalkan pernderitaan dan kemalangan menimpa umat kesayanganNya selama-lamanya. Sarana yang ampuh dalam menanti kedatangan Tuhan adalah sikap berjaga-jaga dan berdoa. Doa membuat orang menjadi bijaksana di dalam hidup dalam arti mereka menggantungkan harapan kepada Tuhan bukan melarikan diri dari penderitaan dan kemalangan dan masuk dalam dosa: hiburan yang tidak sehat atau dunia kayalan belaka. Bagaimana dengan anda?


Ada beberapa butir pertanyaan sebagai bahan refleksi dari Sabda Tuhan pada pekan Adven pertama ini: 

  • Apakah kita berjaga-jaga dan sabar mendengar Tuhan hari demi hari melalui ajaranNya (1Tes 4:2).
  • Apakah kita dapat menerima kehendak Allah dalam semangat penuh kerendahan hati dan sukacita sebagai abdi Tuhan?
  • Apakah kita akan mengandalkan Tuhan di dalam hidup ini?
  • Apakah kita dapat belajar untuk berkembang dalam hidup bersama dengan Yesus (1Tes 4:1)
  • Apakah kita dapat membawa diri sehingga dapat menyenangkan Tuhan (1Tes 4:1)
  • Beranikah kita meninggalkan hidup lama seperti kemabukan dan pesta pora? (Luk 21:34).
  • Apakah kita dapat bertumbuh menjadi kudus? (1Tes 3:13)
Ingatlah kata-kata Tuhan: "Berjaga-jaga dan berdoalah senantiasa!" Anda dan saya pasti bisa!

Doa: Maranatha. Amen

PJSDB

Saturday, December 1, 2012

Renungan 1 Desember 2012

Hari Sabtu, Pekan Biasa XXXIV
Why 22:1-7
Mzm 95:1-7
Luk 21:34-36

Allah adalah cahaya kita!

Hari ini adalah hari terakhir dalam Masa Biasa Pekan XXXIV, tahun B. Besok kita memasuki hari pertama dalam tahun liturgi yang baru. Hari Minggu Pertama Adventus, tahun C. Sejak hari Senin, Pekan Biasa XXXIII, bacaan pertama kita baca dari Kitab Wahyu. Pada hari itu kita mulai membaca Kitab Wahyu dengan sapaan yang bagus seperti ini: “Berbahagialah orang-orang yang membacakan kata-kata nubuat ini dengan suara lantang dan berbahagialah mereka yang mendengarkannya dan menuruti segala sesuatu yang ditulis di sini karena waktunya sudah dekat” (Why 1:3) dan hari ini kita akhiri dengan kalimat: “Sesungguhnya Aku datang segera! Berbahagialah mereka yang menuruti perkataan nubuat di dalam Kitab ini” (Why 22:7). Apakah anda berbahagia dengan sapaan Tuhan  selama  dua pekan ini?

Kesan umum dari bacaan-bacaan terpilih selama dua pekan terakhir dari Kitab Wahyu ini adalah gambaran dunia dan manusia yang memiliki kegelapan tertentu akibat dosa. Kegelapan diakibatkan oleh hadirnya iblis atau setan. Fenomena-fenomena alam, malapetaka berupa bencana alam yang mengakibatkan penderitaan dan kemalangan turut mewarnai kehidupan manusia. Sepintas hal-hal yang sifatnya apokaliptik ini menakutkan dan dapat membuat orang meninggalkan Tuhan. Tentu kalau ada orang yang meninggalkan Tuhan berarti iblis masih berkuasa atas diri orang tersebut. Tetapi siapa yang bertahan dia akan tetap bersama Tuhan. Setiap hal yang menakutkan manusia selalu ada tanda-tanda kehadiran Allah sebagai satu-satunya penyelamat di sana.

Kemarin Hari Jumat, Pekan Biasa XXXIV misalnya, Yohanes menggambarkan sebuah tatatan langit dan bumi yang baru. Langit dan bumi yang sekarang penuh dengan kegelapan dan dosa akan lenyap dan Tuhan akan memberikan langit dan bumi yang baru. Yohanes menulis: “Lihatlah kemah Allah ada di antara manusia. Ia akan memasang tendaNya di antara mereka sehingga mereka menjadi umatNya. Ia akan menjadi Allah mereka. Ia juga akan menghapus setiap air mata dari mata mereka. Tidak ada lagi maut atau perkabungan, tangisan atau penderitaan karena dunia telah berlalu”. (Why 21:3-4). Yerusalem baru pun akan diturunkan oleh Allah dari surga.

Pada hari ini Yohanes diberi penglihatan yang lain. Ada sungai air kehidupan, jernih seperti kristal yang mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba. Di tengah-tengah jalan kota itu, sebelah menyebelah dari sungai terdapat pohon-pohon kehidupan yang menghasilkan buah duabelas kali, sekali sebulan dan daun-daunnya dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. Kita mengingat kembali gambaran firdaus yang yang teratur dengan sungai dan pohon kehidupan sebelum manusia pertama jatuh dalam dosa (Kej 2:10-14; Yeh 47; Zak 14:8). Pohon kehidupan di sini melambangkan persekutuan penuh dengan Tuhan Allah selama-lamanya sebagaimana gambaran firdaus sebelum kejatuhan manusia pertama dalam dosa.  

Hal yang menarik perhatian kita adalah bagaimana kemurahan hati Tuhan menguasai setiap pribadi yang berkenan kepadaNya. Yohanes memberi kesaksian: “Tidak ada lagi pengutukan, takhta Allah dan Anak Domba ada di dalamnya dan hamba-hamba Allah akan beribadah  di hadapanNya. Mereka akan melihat wajahNya dan namaNya akan tertulis di atas dahi mereka. Tidak ada lagi malam. Allah akan menjadi cahaya mereka selamanya” (Why 22:3-5). Kesaksian Yohanes ini merupakan bukti nyata kasih Tuhan yang tiada berkesudahan kepada umat manusia. 

Dengan janji kasih Tuhan dan penyertaanNya ini, mengapa manusia tetap ragu dan takut dalam menjalani kehidupannya? Dalam situasi yang tidak menentu Tuhan tetap menyertai umat kesayanganNya dengan meniadakan kutukan, air mata, menjadi cahaya yang menerangi kegelapan hidup bahkan membiarkan kita memandang wajahNya dengan mata kita sendiri. St. Paulus dengan tepat mengatakan, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya atau pedang tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rom 8:35.39).

Apa yang harus kita lakukan? 

Sabda Tuhan mengantar kita untuk menanti kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Kitab Wahyu yang kita renungkan bukan hanya diperuntukkan bagi jemaat di Asia kecil pada abad pertama tetapi bagi Gereja sepanjang zaman. Pengalaman-pengalaman dahulu mirip dengan sekarang ini terutama dalam relasi dengan Tuhan. Kita menanti kedatangan Tuhan dengan sukacita. Penginjil Lukas menasihat kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa” (Luk 21:34-36) untuk menanti kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Dia akan menerangi hidup, menguduskan dan memuliakan kita di hadapan Bapa di Surga. 

Mari dengan harapan yang kuat kita berseru: Maranatha!

Doa: Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu dalam hari-hari hidupku ini.

PJSDB