Thursday, December 13, 2012

Renungan 13 Desember 2012

St. Lucia
Hari Kamis, Pekan Adven II
Yes 41: 13-20
Mzm 145: 1.9.10-11.12-13ab
Mat 11:11-25

Janganlah Takut!

Hari ini seluruh Gereja katolik merayakan peringatan St. Lucia. Lucia lahir pada tahun 283. Orang tuanya bangsawan, kaya dan terhormat dalam kedudukan sosialnya. Dia berjanji secara pribadi kepada Yesus bahwa ia mencintaiNya dan akan memberi dirinya secara utuh hanya kepada Yesus. Karena kecantikannya, banyak pemuda yang jatuh cinta kepadanya termasuh seorang pemuda bangsawan. Ketika cinta bangsawan itu ditolak, bangsawan itu berencana membutakan mata Lucia. Lucia tidak takut, ia rela menjadi buta asal Kristus tetap menjadi miliknya. Lucia ditikam dan menjadi martir pada tahun 304 saat masih berusia 21 tahun. Kemartiran Lucia menandakan adanya terang baru bagi kaum pendosa untuk bertobat. 

Nama Lucia artinya terang. Di dalam masa adven ini kita semua juga diarahkan untuk melihat Terang yang sesungguhnya yaitu Yesus yang akan datang ke dunia. Lawan dari terang adalah kegelapan. Kita langsung memahami kegelapan sebagai dosa dan salah yang menyesatkan manusia. Terang biasanya tidak menakutkan, gelap selalu menakutkan bagi orang-orang tertentu. Manakah yang paling anda sukai? Hidup di dalam terang atau di dalam kegelapan?

Ada seorang anak yang setiap malam kalau tidur sendirian di kamar selalu menangis. Ia ketakutan kalau tidur sendirian apalagi kalau melihat bayangan gelap. Pada suatu hari ia menangis histeris. Ayahnya yang terkenal keras itu berkata dengan lembut hati, “Anak kenapa menangis?” “Aku takut pi” kata anak itu. “Tenanglah, papi ada di sini, jangan takut”, kata papanya. Anak itu merasa untuk pertama kali kata-kata yang memberanikan dia. Setiap malam, sebelum tidur ia mengingat kata-kata ini, “Tenanglah, papi ada di sini, jangan takut.” Dan dia sungguh berubah. Ketakutan lenyap, gelap menjadi seperti terang karena ia merasa hadirnya seorang bapa yang mengasihi dia.

Ini hanya sebuah kisah sederhana tetapi sangat inspiratif bagi kita untuk memahami Sabda Tuhan pada hari ini. Tuhan melalui nabi Yesaya mengingatkan umat Israel di Babel tentang penghambaan yang mereka sedang alami. Tuhan berfirman, “Aku ini Tuhan Allahmu, Aku memegang tangan kananmu dan berkata, ‘Jangan takut. Akulah yang menolong engkau!” Ketika ada badai dalam kehidupan Tuhan selalu bertindak sebagai satu-satunya penolong yang setia. Dialah Allah Israel, Mahakudus dan yang menebus Israel." 

Dengan mengandalkan Tuhan, manusia dapat melakukan karya-karya besar: gunung dapat dipindahkan, bukit dapat dihancurkan. Hal terpenting adalah orang harus bermegah di dalam Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan yang menyiapkan segalanya bagi manusia. Bumi dan segala isinya disediakan Tuhan bagi manusia. hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia seperti pohon di tanam di padang gurun, air membual di daratan yang kering, lingkungan hidup yang harmonis diciptakan Tuhan untuk kebaikan manusia. Semua hal yang menunjukkan keharmonisan ini hendaknya ditanggapi manusia untuk senantiasa bermegah di dalam Tuhan bukan bermegah di atas dirinya sendiri.

Tuhan berkuasa melakukan segala sesuatu karena Dialah penciptanya. Yesaya bukan hanya meneguhkan umat Israel di Babel tetapi meneguhkan kita semua untuk tetap berani percaya kepada Tuhan sebagai asal muasal kehidupan. Pertanyaannya adalah mengapa orang takut dalam hidupnya? Karena orang belum percaya sepenuhnya kepada Tuhan. kalau Tuhan di pihak kita, mengapa anda masih takut? Hari ini ia berseru: Jangan takut! Aku akan menolong engkau!

Yesus di dalam bacaan Injil hari ini memuji Yohanes Pembaptis sebagai yang besar yang dilahirkan oleh seorang ibu. Yohanes Pembaptis adalah perintis jalan Tuhan Yesus. Dia adalah jembatan perjanjian lama dan perjanjian baru. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis Kerajaan Surga dirongrong dan orang yang merong-rongnya mencoba menguasainya. Namun Yesus meminta supaya orang patut mendengar Yohanes. Terlepas dari pujiannya terhadap Yohanes, Yesus juga mewahyukan diriNya: “Yang terkecil di dalam Kerajaan Surga lebih besar dari padanya”. 

Sabda Tuhan hari ini membantu kita untuk lebih fokus lagi pada persiapan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Dia adalah penolong yang setia di dalam hidup kita maka jangan takut! Apakah anda masih panik dan takut? Ada banyak pengikut Kristus yang masih takut dan panik mendengar hari kiamat!

Beberapa waktu belakangan ini, rumor kiamat 2012 semakin santer terdengar. Di beberapa negara dunia, kabar mengenai berakhirnya dunia tersebut, selain dipakai sebagai "alat" untuk mendorong penjualan produk, tempat wisata serta pesta perayaan, juga memunculkan peringatan yang dilontarkan badan antariksa asal Amerika Serikat, NASA, agar penduduk Bumi waspada, terutama dalam menghadapai rumor Blackout (penggelapan). Konon, peristiwa Blackout ini akan terjadi selama tiga hari, mulai dari 23 sampai 25 Desember 2012. Peristiwa ini juga menandai terjadinya Alignment of Universe atau Penyelarasan Alam Semesta.

NASA dikabarkan mengungkap bahwa Alignment of Universe berarti seluruh planet di sistem Tata Surya, akan berada dalam satu garis lurus yang sejajar. Formasi sejajar ini tidak menandakan akhir dari dunia, namun menunjukkan bahwa Matahari dan Bumi untuk pertama kalinya akan berada dalam posisi satu garis lurus. Kabar mengenai Alignment of Universe ini bahkan bernada sedikit menakutkan publik. Sumber menyebutkan, bagi mereka yang tetap bertahan hidup, maka mereka akan menghadapi dunia baru. Namun, bagi mereka yang tidak siap, sebagian dari mereka akan berakhir riwayat hidupnya akibat ketakutan.

Nah, hari ini kita semua diajak untuk tidak takut karena Tuhanlah penolong kita.

Doa: Tuhan, kuatkanlah aku supaya tidak takut menghadapi hidup ini. Amen

PJSDB

Wednesday, December 12, 2012

Renungan 12 Desember 2012

Hari Rabu, Pekan II Adven
Yes 40:25-31
Mzm 103:1-2.3-4.8.10
Mat 11:28-30

Belajarlah PadaKu!

Pernahkah anda terpesona dengan seluruh alam semesta? Semuanya begitu teratur maka designernya sendiri pasti seorang genius. Apa yang tidak kita pikirkan, telah dipikirkan oleh Tuhan sebagai sang designer alam semesta. Saya pernah berada di sebuah pantai, sambil menikmati suasana pantai yang alamiah, saat itu langit juga cerah. Seorang sahabat spontan berkata, “Terima kasih Tuhan, semuanya begitu indah dan teratur!” Saya terkesan dengan kesadaran sahabat ini ketika ia bersyukur. Mungkin saja banyak di antara kita yang sulit untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas segala yang dialami dan dirasakan. Saya teringat lirik lagu How Great Thou Art: “Oh Tuhanku bila kuterpesona; Merenungkan ciptaanMu semua; Kusaksikan bintang, guruh, angkasa; Tanda kebesaranMu di dunia; Reff: Aku memuji KebesaranMu; Juru slamat Penebusku (2x)”

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini mengatakan bahwa seluruh alam semesta mengungkapkan keagungan Tuhan. Tuhan sendiri tidak ada bandingannya dengan makhluk mana pun di atas bumi ini. Ia sendiri berkata, “Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah! Siapakah yang menciptakan semua bintang itu?  Siapa yang menyuruh mereka keluar seperti tentara sambil memanggil nama mereka masing-masing? Tuhan mahakuasa dan mahakuat maka semuanya akan hadir di hadiratNya.” Prinsip keteraturan diwartakan Yesaya. Memang Tuhan juga menghendaki agar segala sesuatu yang diciptakanNya teratur.

Yesaya sedang bernubuat kepada Israel yang sedang berada di Babel. Masa pembuangan menjadi masa yang tidak menentu. Ada kebingungan besar. Di saat seperti inilah kita mengingat Tuhan.  Tuhan memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada mereka yang tidak berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung. Tetapi orang yang menantikan Tuhan akan mempunyai kekuatan seperti  burung rajawali. Sebuah kekuatan yang berasal dari Tuhan semesta alam dan membuat mereka percaya. Hal terpenting di sini adalah bagaimana orang bersikap terhadap Tuhan. Mereka mengagumi karya Tuhan, percaya kepadaNya dan mereka memperoleh kekuatan baru.

Di dalam bacaan Injil, Yesus berkata kepada para muridNya: “Datanglah kepadaKu, kalian semua yang letih lesu  dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Masing-masing kita memiliki perasaan yang berbeda-beda. Pengalaman penderitaan dan kemalangan yang dialami oleh setiap pribadi menjadi persembahan yang bermakna bagi Tuhan. Teladan yang ditunjukkan oleh Yesus adalah kebajikan-kebajikan luhur: rendah hati dan lemah lembut. Orang rendah hati akan membuat orang lain menjadi  besar, sedangkan dirinya semakin kecil. Kelembutan hati membuat orang semakin tenang dan nyaman.

Sabda Tuhan hari ini memiliki dampak yang sangat positif bagi kehidupan pribadi dan komunitas. Kita bersyukur kepada Tuhan atas anugerah iman dan kepercayaan kepada Tuhan. Iman adalah anugerah! Maka mari kita mohon supaya Tuhan selalu menambah iman dan kepercayaan kita. Iman dan kepercayaan  merupakan kekuatan yang dahsyat dan baru yang dianugerahi Tuhan. Kita juga diingatkan untuk mengikuti Yesus yang lemah lembut dan rendah hati. Mari kita belajar dar Yesus yang lemah lembut dan rendah hati.

Pertanyaan untuk refleksi bagi kita adalah, apakah kita lemah lembut dan rendah hati terhadap diri sendiri dan sesama? Apakah hati kita tetap mengagumi selamanya Tuhan yang menjadikan langit dan bumi ini?

Doa: Tuhan Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti hatiMu. Amen

PJSDB 

Tuesday, December 11, 2012

Renungan 11 Desember 2012

Hari Selasa, Pekan Adven II
Yes 40:1-11
Mzm 96:1.2.3.10ac.11-12.13
Mat 18:12-14

Tuhanku, gembalaku!

Saya pernah memiliki pengalaman menarik sewaktu masih belajar di Israel. Dalam suatu perjalanan bersama para konfrater dari Yerusalem ke Yerikho, saya melihat seorang gembala yang membawa ratusan ekor dombanya. Sang gembala mengenakan pakaian yang cukup rapi, memiliki hand phone nokia yang masih memiliki antene dan tape recorder sambil menunggang seekor keledai. Sang gembala ini berada di belakang sedang domba-dombanya begitu tertib berada di depannya. Ketika ada kendaraan yang lewat domba yang di depan berhenti maka semuanya berhenti. Setelah aman baru mereka menyeberangi jalan. Tentu saja ini melalui latihan tertentu dan gembalanya harus sabar dengan domba-dombanya. Saya membayangkan kalau ada yang tersesat pasti dia akan mencarinya.

Ketika sudah kembali dan melayani di Timor Leste, saya memiliki lagi pengalaman yang baru. Dalam perjalanan dari Dili ke Lospalos, saya menemukan seorang gembala yang sabar dengan domba-domba yang bodoh. Ketika melewati jalan utama, mobil tidak bisa lewat karena domba-domba pada tiduran di tengah jalan. Sang gembala dengan sabar dan baik hati mengangkat satu persatu dan memindahkannya ke pinggir jalan, tetapi begitu dia kembali mengangkat domba yang lain, domba yang sebelumnya sudah kembali dan tidur di tengah jalan lagi. Cara yang "terbaik" baginya adalah melupakan dirinya sebagai gembala baik, mengambil sebatang kayu dan mulai memukul domba-domba itu, memaki-maki domba dan mereka akhirnya dapat berpindah ke pinggir jalan.

Dua pengalaman menarik! Ada gembala yang baik dan setia, ada gembala yang tidak sabar dengan domba-dombanya. Yah, menerima diri adalah hal yang penting bagi kita semua. Pada hari ini kita dikuatkan lagi oleh Tuhan melalui SabdaNya untuk belajar dan meniru pribadi Tuhan sebagai Penghibur dan Gembala yang baik.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengucapkan kata-kata hiburan kepada umat Israel yang berada di Babel. Tuhan melalui Yesaya berjanji bahwa Ia akan membebaskan mereka dari kuasa Babel. Mereka akan kembali ke Sion, menata kehidupan mereka dan menikmati sukacita Tuhan. Mengapa demikian? Karena Tuhan sendiri mengingatkan: “Hiburlah, hiburlah umatKu! Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukan kepadanya bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya sudah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan dua kali lipat karena segala dosanya.” Manusia boleh jatuh dalam dosa tetapi Tuhan tetap mencari dan menyelamatkannya. Tuhan tidak pernah memperhitungkan berapa dosa yang dibuat umatNya tetapi menginginkan keselamatan mereka.

Yesaya juga menubuatkan kedatangan sang pembuka jalan Tuhan yakni Yohanes Pembaptis. Dia adalah suara yang berseru di padang gurun untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan. Jalan raya di padang belantara diluruskan sebagai jalan bagi Allah kita. Kemuliaan Tuhan akan dilihat banyak orang ketika semua gunung dan bukit diratakan, lembah ditimbun. Bangsa Israel tidak lebih dari bunga yang layu dan rumput yang kering. Oleh karena itu mereka harus tetap berpegang teguh pada Sabda Tuhan karena SabdaNya itu tetap selamanya. Yesaya juga mengajak umat Israel untuk selalu memandang Allah. Kiblat hiduonya hanya terarah kepada Allah. Ia akan datang sebagai penyelamat. Ia laksana gembala yang baik yang akan menggembalakan mereka.

Jiwa gembala baik dari Allah Bapa diingatkan lagi oleh Yesus. Ia sendiri mengakui diriNya sebagai gembala yang baik. Ia berkata, “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu”. (Yoh 10:14). Dalam perikop kita dari Injil Matius, gembala yang baik akan mencari dombanya yang sesat meskipun hanya satu ekor yang tersesat. Perumpamaan ini menggambarkan Allah sebagai kasih. Allah mengasihi umatNya dan tidak mau umatNya binasa. Dia satu-satunya penyelamat umat manusia.

Sabda Tuhan hari ini menggambarkan kehidupan masing-masing kita. Kita memiliki pengalaman Babel tersendiri dan kadang membuat kita berpikir bahwa Tuhan tidak lagi memperhatikan kita. Kita ditinggal sendirian olehNya. Ternyata itu hanya gambaran kemanusiaan kita yang rapuh. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Dia laksana gembala yang selalu sabar dengan kehidupan kita yang penuh dosa dan salah. Apakah anda menyadari kebaikan dan kesabaran Tuhan. Apakah anda juga dapat menjadi gembala yang baik? Anda dan saya dapat menjadi gembala yang baik, asal kita sama-sama terbuka pada semua rencana dan kehendakNya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau menjadi gembalaku. Amen

PJSDB

Monday, December 10, 2012

Renungan 10 Desember 2012

Hari Senin, Pekan Adven II
Yes 35:1-10
Mzm 85:9ab-10.11-12.13-14
Lukas 5:17-26


Tabahkanlah hatimu, jangan takut!

Ada seorang muda yang suka ngobrol dengan saya. Setiap kali berjumpa pasti ngobrolnya tentang masa lalunya yang penuh dengan kesulitan dalam keluarganya. Kadang dia bercerita sambil menangis tentang pengalaman-pengalamannya itu. Pada saat seperti itu saya biasanya mengatakan, “Tenangkanlah hatimu, jangan takut”. Hingga pada suatu saat ia mengatakan ketidakpuasan atas jawaban saya ini. Ia berkata, “Bagaimana saya bisa tenang kalau selalu ada masalah yang datang silih berganti? Kenapa selalu saya, bukan orang lain yang menghadapi masalah kehidupan seperti ini?” Saya lalu mengutip nabi Yesaya, “Tabahkanlah hatimu, jangan takut!”

Kadang-kadang kita kehilangan harapan pada Tuhan. Pengalaman-pengalaman penderitaan yang kita rasakan sehari-hari membuat kita bukannya semakin dekat malah menjauh dari Tuhan. Setiap orang punya persoalan kehidupan seperti memiliki sakit penyakit tertentu, kesulitan dalam membangun komunikasi sebagai suami dan istri atau dalam pendidikan dan pendampingan anak-anak dalam keluarga. Berapa orang belajar menerima kenyataan hidup seperti  ini tetapi ada yang menolaknya bahkan menolak Tuhan sendiri. Apakah dengan pengalaman dilecehkan secara fisik dan verbal membuat orang semakin jauh dari Tuhan?

Nabi Yesaya pada hari ini sekali lagi menghibur umat Israel dan kita semua yang mendengar Sabda ini bahwa yang kita imani sungguh-sungguh maharahim. Kerahiman ditunjukkan dengan tanda heran yakni Allah menyembuhkan secara fisik dan secara rohani (jiwa). Kepada orang orang di babel Yesaya mengingatkan mereka: “Tabahkanlah hatimu, jangan takut!” Tuhan sendiri akan datang memberi pertolongan. Kebahagiaan terbesar  yang akan diterima oleh setiap orang percaya adalah keharmonisan dirinya sebagai manusia sebagai individu, dan sebagai makhluk sosial dengan alam yang ditempatinya: Mata orang buta akan dibuka, telinga orang tuli akan mendengar, orang-orang timpang akan melompat bagaikan kijang sehingga semua orang akan bersorak-sorai. Mata air akan memancar di padang gurun, sungai akan mengalir di padang belantara, tanah pasir yang hangat akan  menjadi kolam dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air. Di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. Betapa harmonisnya lingkungan hidup manusia. Ini adalah gambaran Firdaus.

Gambaran keharmonisan semacam ini memiliki dampak yang sangat positif bagi setiap orang yang sedang mengalami kesulitan di dalam hidupnya. Mereka yang sedang memiliki beban layak untuk dihibur dengan penghiburan yang besar bahwa Tuhan Allah adalah penolong sejati dan sumber kesekamatan. Ia akan datang untuk menyelamatkan mereka. Kembali ke pengalaman kita setiap hari. Banyak kali kita belum memiliki kemampuan untuk menjadi sahabat yang menghibur. Ada seorang umat yang pernah mengatakan kepada saya rasa kecewanya. Ia berkata, “Saya mengalami pengalaman yang baik dan yang keras sepanjang minggu di rumah dan di tempat kerja. Pada hari Minggu saya datang ke Gereja untuk merasakan ketenangan di hadirat Tuhan, menjadi kesempatan untuk berdoa dan bersatu dengan Tuhan. Tetapi saya amat kecewa ketika di Gereja, Romo tertentu menggunakan mimbar untuk menegur atau membenarkan diri di hadapan umatnya. Petugas tatib di depan gereja lebih suka ngobrol di antara mereka dari pada mengantar umat untuk mendapat tempat di dalam gereja. Kita kalah dengan orang-orang kristen protestan yang ramah menyambut kedatangan jemaatnya.” Saya mendengar sharing ini dengan perhatian tetapi merasa malu karena ini menjadi salah satu kebiasaan yang populer dan keliru atau salah di dalam Gereja katolik.

Menjadi sahabat yang menghibur haruslah menjadi habitus dalam hidup menggereja. Di dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan peran penting para sahabat yang membawa seorang lumpuh untuk disembuhkan Yesus. Mereka berusaha keras supaya saudara mereka ini dapat selamat. Tentu saja mereka pertama-tama percaya pada Yesus. Yesus akan peduli dan prihatin memperhatikan orang-orang sakit, lebih lagi mereka itu percaya kepadaNya. Itu sebabnya ketika melihat iman dan usaha mereka, Yesus berkata, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumah”.  Orang lumpuh itu sembuh dan memuliakan Allah.

Tuhan berkarya dan menyelamatkan semua orang. Ia mengenal setiap orang yang datang dan berharap kepadaNya. Ia pun berani untuk menyembuhkan serta menyelamatkan mereka dari sakit penyakit yang mereka alami. Iman yang tumbuh di dalam hati setiap orang akan menyelamatkan mereka yang percaya kepadaNya. Hal yang kiranya menarik perhatian kita pada hari ini adalah Yesus menyembuhkan orang lumpuh karena iman kepadaNya. Iman yang ditunjukkan dalam perbuatan-perbuatan konkret. Ia menyembuhkan fisik  si lumpuh dengan daya SabdaNya. Yesus juga menyembuhkan si lumpuh secara rohani yakni mengampuni dosa-dosanya. Orang lumpuh ini akhirnya sembuh total dan sempurna baik secara fisik maupun secara rohani.

Mari kita mengarahkan selalu pandangan kita kepada Tuhan. Kita bersyukur karena di balik pengalaman-pengalaman kita yang keras ini Tuhan selalu mau menyelamatkan kita. Tuhan menyembuhkan kita secara fisik dan rohani.  Apa yang harus dilakukan? Akuilah dosa dan salahmu di hadapan Tuhan. Anda dan saya juga banyak kali menjadi buta, tuli, bisu dan lumpuh secara rohani. Mari kita membenahi diri kita masing-masing untuk menyambut kedatangan Tuhan.

Doa: Tuhan, selamatkanlah kami dari lumpur dosa. Amen

PJSDB

Sunday, December 9, 2012

Homili Hari Minggu Adven II/C

Hari Minggu Adven II/C
Bar 5:1-9
Mzm 126: 1-2ab.2cd-3.4-5.6
Flp 1:4-6.8-12
Luk 3:1-6

Keselamatan dari Tuhan!


Sambil menyiapkan homili hari Minggu ini, saya terinspirasi oleh sebuah lagu rohani yang kebetulan sedang saya nikmati. Inilah lirik lagu yang sudah populer itu: “Tertindih beban berat; Dosa dunia menjerat; Lalu kudatang pada Yesus; Dia ubah sluruh hidupku; Bertemu juru selamatku; Sejak Dia sucikanku; Ku tak mau henti puji Dia; Kupuji Tuhan slamanya; Dia jamah o Dia jamah; Dia bri damai di hatiku; Semua tlah berubah dan aku tahu; Dia jamah kujadi baru.” Tuhan menjamah kita semua menjadi baru karena keselamatan berasal dariNya. Dialah satu-satunya Penyelamat kita, bukan salah satu penyelamat kita.

Kita memasuki pekan kedua Adven dengan tema “Semua orang melihat keselamatan yang datang dari Tuhan”. Pada pekan pertama adven kita semua dibimbing oleh nabi Yesaya untuk mengerti rencana keselamatan Tuhan sejak masa Perjanjian Lama. Nubuat Yesaya kelihatan masih samar-samar tetapi memiliki kekuatan untuk menyiapkan kita menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Dia mulai bernubuat tentang saat yang tepat di mana Tuhan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud, keselamatan dari Tuhan itu sifatnya universal, karya Roh Kudus dalam diri umat beriman, perjamuan, gunung batu, terang, dan belas kasih. Semua nubuat Yesaya ini kelihatan masih samar-samar tetapi sudah punya tujuan yang jelas yaitu keselamatan yang datang dari Tuhan. Itu sebabnya orang perlu menyiapkan diri untuk menyambut kedatanganNya.

Barukh dalam bacaan pertama bernubuat tentang masa depan gemilang yang akan dirasakan oleh umat Israel. Segala penderitaan dan penghambaan yang mereka alami di Babel akan berakhir. Keselamatan akan datang dari Tuhan dan merupakan karya agung yang akan terlaksana dengan sempurna dan semua orang akan mengalami kedamaian sejati. Barukh bernubuat, “Hai Yerusalem, hendaklah engkau menaggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraanmu lalu mengenakan perhiasan kemuliaan Allah untuk selama-lamanya. ..Engkau akan diberi nama ‘Damai Sejahtera-Hasil Kebenaran dan Kemuliaan-Hasil Takwa”. Barukh juga bernubuat bahwa Israel dengan masa lalu yang gelap akan melihat terang dan berkumpul kembali di Yerusalem. Mereka bersukaria karena Allah mengingat mereka.

Mengapa Israel bersukaria? Karena Tuhan mengingat mereka dan mereka kembali menjadi anak-anakNya. Sebelumnya mereka mengalami penderitaan: “Dahulu mereka pergi daripadamu dengan berjalan kaki, digiring oleh musuh. Kini mereka dikembalikan kepadamu oleh Allah...Israel akan dituntun dengan sukacita oleh Allah dan cahaya kemuliaanNya, dan dengan belas kasihan serta kebenaranNya”

Bacaan pertama ini memberi motivasi tersendiri bagi kita untuk menanti kedatangan Tuhan dengan suka cita. Mengapa? Karena masing-masing kita juga mengalami pengalaman Babel dalam bentuk yang berbeda-beda. Masing-masing kita memiliki persoalan hidup yang berbeda-beda. Persoalan yang menantang kita sampai ke titik ekstrim yaitu mempertanyakan eksistensi Allah: “Kalau Allah mahabaik, mengapa ada penderitaan, kemalangan, dan kejahatan di bumi?” Namun belajar dari pengalaman bangsa Israel, mereka mengalami keselamatan karena Tuhan mengasihi mereka. Allah memberi damai sejahtera, belas kasih dan kebenaranNya bagi kita semua yang percaya kepadaNya.

Belas kasihan Tuhan menjadi satu tema pewartaan Paulus bagi jemaat di Filipi. Di dalam Bacaan Kedua, Paulus menunjukan leadershipnya dengan mendoakan anggota-anggotanya. Paulus menulis: “Saudara-saudara, setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil dari hari pertama sampai sekarang. Aku yakin bahwa Allah telah memulai karya yang baik di antaramu, akan melanjutkannya sampai pada hari Kristus Yesus.”  Doa adalah persekutuan kasih dengan Tuhan sendiri. Maka apa yang dilakukan oleh Paulus adalah teladan yang bagus bagi jemaat di Filipi untuk merasakan kasih Tuhan. Doa bagi Paulus adalah sebuah kebutuhan yang vital bersama Tuhan.

Inti doa dari Paulus bagi jemaat di Filipi adalah semoga kasih mereka semakin melimpah, sehingga mereka juga dapat memilih mana yang baik di hadirat Tuhan. Konsekuensinya adalah mereka dapat hidup suci dan tidak bercacat sampai hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Doa Paulus menjadi doa gereja bagi jemaatnya untuk selalu terbuka kepada Tuhan, mewujudkan kesucian dalam panggilannya dan layak menerima Tuhan. Pertanyaan bagi kita adalah, apakah kita memahami dan menyadari apa yang kita doakan? Apakah kita bersikap sosial dalam doa-doa kita atau kita lebih banyak mendoakan diri kita sendiri. Kita perlu membenahi hidup doa kita dalam masa adventus ini.

Akhirnya Lukas dalam bacaan Injil, menghadirkan figur inspiratif yaitu Yohanes Pembaptis. Yohanes dipilih Tuhan untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan dengan seruan tobat. Sebagai wujud konkret seruan tobat, ia membaptis banyak orang di sungai Yordan. Baptisan Yohanes disebut baptisan pertobatan. Semangat pertobatan yang dibangun oleh setiap pribadi akan membuat semua orang dapat melihat keselamatan yang dari Tuhan. Semua orang termasuk para penguasa dunia Romawi saat itu untuk melihat terang dan keselamatan dalam diri Yesus Kristus. Pertanyaan bagi kita adalah apakah kita juga menjadi jalan yang baik yang dapat dilalui orang untuk bertemu dengan Yesus? Atau kita juga tidak lebih dari sebuah jalan jelek yang menghalangi orang untuk bertemu dengan Tuhan?

Sabda Tuhan hari ini sangat kaya maknanya. Biarkan semua orang melihat keselamatan dari Tuhan. Dialah satu-satunya pokok keselamatan kita. Yesus Kristus adalah satu-satunya Juru Selamat kita. Dengan demikian tinggalkanlah segala jimat dan kuasa-kuasa duniawi. Yesus adalah segalanya dan tidak ada yang lain. Sabda Tuhan juga memampukan kita untuk memahami semua pengalaman hidup harian kita. Masing-masing kita memiliki pengalaman Babel, ada suka dan duka sendiri. Namun demikian Tuhan tidak pernah membiarkan umatNya menderita dalam Babel kehidupan. Dia akan berusaha menyadarkan dan menyiapkan keselamatan. Apakah anda percaya kepada Tuhan? Nantikanlah keselamatanNya!

Doa: Tuhan, selamatkanlah kami. Amen

PJSDB

Saturday, December 8, 2012

Homili Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda

Kej 3:9-15.20 atau
Ef 1:3-6.11-12
Mzm 98: 1-4
Luk 1:26-38

Maria Dikandung Tanpa Dosa

Kita sedang mengakhiri pekan pertama Adven dengan merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda. Mungkin banyak umat bertanya mengapa Solemnitas atau Hari Raya ini dirayakan selama masa adven? 

Selama masa adventus kita memiliki model-model atau pribadi-pribadi yang dapat membantu kita menyiapkan diri dengan baik untuk menanti kedatangan Tuhan. Selama pekan pertama kita berjumpa dengan figur pertama yaitu Nabi Yesaya. Melalui bacaan pertama selama pekan pertama adven, kita dibantu Yesaya untuk berjalan menuju kepada Tuhan dengan kesiapan hati yang mantap. Tema-tema bacaan pertama dari nabi Yesaya selama pekan pertama adven adalah tentang keselamatan universal dari Tuhan, karya Roh Kudus, perjamuan, batu wadas, melihat terang dan belas kasih. 

Figur kedua adalah Bunda Maria. Bunda Maria memiliki tempat yang istimewa dalam siklus liturgi ini karena perannya sebagai Ibu Yesus. Setelah menerima khabar sukacita, ia mengatakan “fiat” atau persetujuannya: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Persetujuan Bunda Maria ini membuatnya memiliki peran yang penting dalam kehidupan Yesus dan Gereja. Dari dialah sejarah keselamatan masuk dalam kehidupan manusia.Tugas Bunda Maria tidak hanya berakhir dalam peristiwa Bethlehem. Ia juga tetap menyiapkan umat manusia (gereja) untuk menyambut kedatangan Yesus Puteranya.

Figur ketiga adalah Yohanes Pembaptis. Dia adalah suara yang berseru-seru di padang gurun: “Siapkanlah jalan bagi Tuhan” (Mat 3:3). Ia membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan supaya orang lebih layak menerima Kristus, Al Massiah. Ia menunjuk Yesus sebagai Anak Domba Allah. Ia juga wafat sebagai martir karena memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Hari ini kita fokuskan perhatian kita pada Bunda Maria. Perayaan Bunda Maria dikandung tanpa noda kiranya tepat bagi kita semua untuk mempersiapkan diri menanti kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Gereja melalui Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854 mengajarkan: “Bahwa perawan suci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah Yang Mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala dosa asal.” Hal terpenting dalam ajaran Gereja katolik ini adalah “karena jasa Yesus Kristus” bukan semata-mata diri Maria. Dia hanya manusia biasa tetapi menjadi kudus karena Yesus, Tuhan adalah kudus adanya.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Maria memiliki peranan yang penting dalam penebusan umat manusia? Saya teringat dengan sharing pengalaman Scott Hahn dalam bukunya Catholic for a Reason. Scripture anda the Mystery of the mother of God. Dia menulis, “Dalam kisah hidup saya, saya sendiri sebelumnya adalah seorang pelayan jemaat protestan dan sangat anti katolik, mirip penganiayaan Saulus melawan Maria namun secara mengaggumkan saya diangkat oleh rahmat Allah ke dalam kasih keputraan yang mendalam kepada Bunda Maria. Selama bertahun-tahun saya menilai ajaran tentang Bunda Maria dan devosi tentang Bunda Maria merupakan fenomena penyakit yang mematikan  dalam diri orang-orang katolik. Secara paradoks, pandangan-pandangan anti Maria yang pernah saya miliki telah menimbulkan penghargaan terhadap keberatan-keberatan umum yang sering muncul melawan ajaran gereja tentang Maria. Mengapa saya anti katolik dan Maria? Karena bagi saya, gereja katolik telah melecehkan karya sempurna Yesus Kristus dan merampas kemuliaanNya. Tetapi dalil ini berubah total. Saya justru berubah dari pemikiran ini sehingga saya akhirnya masuk katolik: Saya melihat Maria sebagai karya sempurna Kristus dan pewahyuan tentang kemuliaanNya. Ia tidak lagi mencuri kemuliaan sang Putra seperti bulan mencuri sinar matahari”

Sebuah kesaksian dan pertobatan yang sangat indah dari Scott Hahn. Berawal dari pengalaman iman seperti ini, Scott Hahn dan keluarganya belajar berdoa rosario dan mengalami mujizat Tuhan. Ia percaya bahwa orang katolik tidak menyembah Bunda Maria tetapi menghormatinya. Tuhan Yesus tidak hanya memuliakan BapaNya yang di Surga, secara sempurna Ia juga memuliakan IbuNya yang di dunia, Maria dengan memberi dia kemuliaan ilahiNya sendiri. Maka cara orang katolik menghormati Maria itu sama dengan cara Yesus memuliakan ibuNya.

Bacaan-bacaan suci dalam perayaan Ekaristi hari ini mengantar kita untuk menyelami kemurahan hati Tuhan kepada setiap pribadi.  Tuhan memiliki rencana untuk menguduskan setiap orang sesuai dengan kehendakNya sendiri. Dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian, kita melihat bagaimana manusia selalu berusaha membenarkan dirinya di hadirat Tuhan padahal ia sudah jatuh dalam dosa. Ketika Tuhan mencari dan memanggil manusia pertama serta bertanya kepadanya di manakah engkau, manusia itu bersembunyi karena dia telanjang. Tuhan bertanya kepadanya apakah ia telah makan buah dari pohon pengetahuan dan ia membenarkan dirinya dengan berkata, “Perempuan yang kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Ketika Tuhan bertanya kepada perempuan itu, ia menjawab, “Ular itu yang memberdayakan aku, maka kumakan”. Manusia memang pandai bersilat lidah sehingga tidak mengakui kesalahan dan dosanya. Orang lain selalu salah dan diri sendiri selalu benar. Untung ular tidak membela diri, dia diam dan menerima kutukannya. Terlepas dari dosa manusia ini, kehebatan Tuhan adalah ia mencari manusia yang telah jatuh dalam dosa. Ia memanggil dan berbicara dengan mereka dan tidak mempersalahkan mereka secara terang-terangan. Di samping itu perempuan itu di namai Hawa sebab dia adalah “ibu semua yang hidup”. Dalam kacamata kristiani, Maria adalah Hawa baru karena dialah ibu sumber kehidupan. 

Dalam bacaan lain misalnya Surat Paulus kepada umat Efesus (Ef 1:3-6.11-12), ia mengatakan bahwa di dalam Tuhan Yesus, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus, dan tak bercacat di hadapanNya. Dalam kasihNya, ia juga menjadikan kita anak-anak Allah dan ahli waris Kerajaan Surga. Maria dikandung tanpa noda, kita semua juga pilihan Tuhan sebelum dunia diciptakan untuk menjadi kudus. Kita perlu bersyukur atas pilihan Tuhan ini dan malu kalau tidak berjalan dalam kekudusan.

Dalam bacaan Injil, Penginjil Lukas mengisahkan panggilan Bunda Maria dari Tuhan melalui Malaikat Gabriel. Bunda Maria di pilih Tuhan dengan sapaan “penuh rahmat” dan Bunda Maria menunjukkan kerendahan hatinya di hadirat Tuhan dengan mengatakan dirinya sebagai hamba. Ia berkata kepada Malaikat, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” Kerendahan hati dan kesiapsediaan Maria ini adalah tanda kekudusannya di hadirat Tuhan.

Bacaan-bacaan suci hari ini sangat inspiratif. Kita semua dipanggil kepada kekudusan menyerupai Bunda Maria. Apakah kita juga menyadari hal ini sebagai motivasi bagi panggilan kita sebagai pengikut Kristus?

Doa: Tuhan jadikanlah kami anak-anakMu yang kudus seperti Engkau sendiri. Amen

PJSDB

Friday, December 7, 2012

Renungan 7 Desember 2012

Hari Jumat, Pekan Adven I
Yes 29:17-24
Mzm  27:1.4.13-14
Mat 9:27-31

Tuhan adalah Terang dan Keselamatan

Hari ini seluruh Gereja katolik merayakan Pesta St. Ambrosius. Ambrosius lahir di Trier, Jerman tahun 339 dari keluarga Kristen. Ayahnya seorang Gubernur dan ibunya seorang berpendidikan tinggi dan saleh. Setelah ayahnya meninggal dunia Ambrosius dibimbing untuk menjadi politikus mengikuti jejak ayahnya. Ia meninggalkan Jerman ke Roma untuk belajar sastra, hukum dan retorika. Pada tahun 370 ia menjadi dewan kota Liguria, Emilia dan Milano. Dia menjadi politikus yang baik hati. Pada tahun 374 pemilihan Uskup di Milano. Masalah yang di hadapi keuskupan Milano adalah adanya bidaah Arianisme yang menyangkal keilahian Yesus.  Di saat yang tidak menentu itu Ambrosius pergi ke untuk mengamati pemilihan uskup. Tetapi apa yang terjadi, ada seorang hadirin yang berteriak “Angkatlah Ambrosius menjadi Uskup”. Ambrosius diangkat menjadi Uskup dan ia berhasil meredam gerakan bidaah Arianisme. Ia juga berjasa dalam pertobatan St. Agustinus. Ambrosius meninggal dunia tahun 397.

Dua jasa besar Ambrosius dari banyak jasanya bagi gereja katolik adalah membendung gerakan arianisme. Mereka ini secara rohani buta terhadap Yesus. Mereka memandang Yesus sebagai manusia biasa bukan “Sungguh-sungguh Allah”. Ambrosius menafasir Kitab Suci dan menjadi teolog yang dapat menghadang para bidaah. Ambrosius berhasil membuka mata rohani Agustinus yang buta. Ia hidup dalam kegelapan tetapi diberi terang oleh Ambrosius untuk mengenal dan mencintai Allah yang murah hati.

Kehidupan St. Ambrosius menginspirasikan kita untuk memahami bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini. Yesus dalam bacaan Injil menyembuhkan dua orang buta. Mereka mengikuti Yesus sambil berseru, “Kasihanilah kami hai Anak Daud!” Ketika Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, kedua orang buta itu juga mengikutiNya. Maka Yesus bertanya kepada mereka: “Percayakah kalian bahwa Aku dapat melakukannya?” Kedua orang buta itu mengakui: “Ya Tuhan, kami percaya”. Yesus pun menjamah dan menyembuhkan mereka sambil berkata, “Terjadilah padamu menurut imanmu”. Orang-orang buta ini sembuh karena iman mereka kepada Kristus. Yesus pun melarang mereka untuk tidak menceritakan penyembuhan diri mereka oleh Yesus. Namun mereka berdua memuliakan nama Yesus karena mujizat yang mereka alami.

Kita tentu merasa heran dengan episode penyembuhan kedua orang buta karena iman (Yunani: pistis). Orang buta, tentu tidak melihat namun mereka mengenal Yesus sebagai “Anak Daud” dan meminta dikasihani. Anak Daud berarti Mesias dan mereka percaya bahwa Mesias pasti akan menyembuhkan mereka berdua. Di hadapan mereka adalah Yesus maka mereka percaya bahwa Ia akan menerangi mereka dengan sinarNya dan membuat mereka dapat melihat terang. Dalam Kitab perjanjian Lama, nabi Yesaya terutama menekankan bahwa mata orang buta akan dibuka, telinga orang tuli juga dibuka (Yes 35:4-5). Mesias juga yang akan membuka mata orang buta (Yes 42:6-7). Mesias membawa terang kepada sesama.
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi  yang masih berada di Babel, “Tiada lama lagi Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, kebun subur selebat hutan. Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar Sabda sebuah Kitab dan mata orang-orang buta akan melihat, lepas dari kekelaman dan kegelapan.” Memang orang-orang yang pertama kali dipanggil adalah orang-orang papa dan miskin. Maka orang-orang bisu, buta, timpang dan siapa pun yang tertindas akan disembuhkan dari cacat cela mereka.

Sekali lagi Yesaya menekankan tentang campur tangan Tuhan untuk menyembuhkan  banyak orang yang sakit. Mereka yang bisu, buta dan timpang mengalami penyembuhan dari Tuhan. Dunia baru yang tertata rapi juga dinubuatkan Yesaya dan memberi semangat optimisme kepada orang-orang Yahudi di Babel.

Kedua bacaan dari kitab Suci, baik bacaan pertama dari Yesaya maupun bacaan kedua dari Injil sama-sama menyiapkan kita dalam masa adven untuk melihat terang.Yesaya menubuatkan bahwa “Pada hari itu” mata orang-orang buta akan terbuka dan mereka melihat. Yesus menyembuhkan mata dua orang buta karena iman mereka kepada Yesus. Tuhan menjanjikan keselamatan dengan mengangkat mereka yang miskin dan menurunkan mereka yang angkuh hatinya. Adalah sukacita besar bagi mereka yang rendah hati dan menaruh seluruh harapan mereka hanya kepadanya. Tuhan akan menyinari mereka dengan wajahNya yang kudus. Keselamatan pun turun atas mereka.

Tuhan adalah cahaya dan keselamatan. Ia juga membuka mata kita untuk melihatNya. Hal yang dituntut dari kita adalah iman dan kepercayaan kepadaNya. Bagaimana pertumbuhan imanmu? Apakah anda juga dapat menerangi hidup orang lain dengan perbuatan-perbuatanmu yang baik? Masa adven mengajak kita untuk melihat Yesus, terang sejati. Kalau mata imanmu masih buta, mintalah Yesus untuk membukanya.

Doa: Tuhan, semoga saya dapat melihat. Amen

PJSDB