Monday, January 7, 2013

Renungan 7 Januari 2013

Hari Senin Penampakan Tuhan
1Yoh 3:22-4:6
Mzm 2:7-8.10-11
Mat 4:12-17.23-25

Bangsa yang diam di dalam kegelapan melihat Terang!

Saya senang membaca buku-buku karya Max Lucado. Di dalam salah satu bukunya berjudul You Changed My Life, ia menceritakan sebuah kisah yang menjelaskan makna kasih yang benar. Pernah di kota West Stanley, Inggris terjadi sebuah musibah besar. Sebuah pertambangan runtuh mengakibatkan banyak orang meninggal dunia dan ada yang terperangkap di dalam pertambangan. Untuk menghibur keluarga para korban, Uskup Durham, Dr. Handley Moule untuk memberikan sambutannya. Di depan mulut tambang itu Uskup berkata, “Adalah sulit bagi kita untuk mengerti alasan mengapa Tuhan membiarkan malapetaka ini terjadi. Namun demikian kita semua mengenalNya dan percaya kepadaNya bahwa Dia baik. Maka semuanya juga akan menjadi baik”. 

Selanjutnya Uskup menceritakan sebuah pengalamannya: “Ibu saya pernah menghadiahkan saya sebuah pembatas buku yang terbuat dari sutra dan sekarang sudah tua. Pada suatu ketika saya memeriksa sisi sebaliknya dan saya menemukan hanya jalinan benang sutra yang sudah kusut, saling menyilang satu sama lain. Saya tidak menyukainya karena kelihatan jelek dan sudah rusak. Orang bisa saja menilai si pembuatnya sebagai pribadi yang tidak mengetahui apa yang dia kerjakan. Namun ketika saya membalik sisi yang bagus, saya melihat bordiran bertuliskan “Allah itu kasih”. Setiap peristiwa yang merupakan malapetaka akan dipandang apa adanya sebagai malapetaka tetapi suatu saat lain kita akan melihat dari sisi yang baik dan memahaminya.”

Banyak kali kita hanya memandang penderitaan, pergumulan, malapetaka sebagai benang kusut, tidak teratur dan sulit untuk memahami Tuhan sebagai Allah yang baik. Kita berhenti di sana dan hidup dalam kekecewaan terhadap Tuhan. Tetapi apakah kita pernah melihat sisi lain kehidupan kita ketika mengalami keberhasilan, kebahagiaan dan sukacita dalam hidup? Kita mungkin saja lebih suka berhenti pada sisi gelapnya saja dan lupa bahwa ada sisi terang yang jauh lebih baik dalam hidup kita. Ada prinsip yang bagus: “Habis gelap terbitlah terang”.

Kemarin kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau Natal bangsa-bangsa. Tuhan Yesus adalah Terang dunia dan barang siapa mencariNya pasti akan menemukan TerangNya. Para Majus dari Timur datang dengan usaha dan pengorbanan diri. Mereka punya hasrat mencari dan mereka berhasil menemukanNya karena melihat BintangNya. 

Penginjil Matius hari ini mengisahkan tentang Yesus yang menyingkir ke Galilea karena Yohanes Pembaptis ditangkap. Ia diam di Kapernaum, di tepi danau Galilea, di daerah Zebulon dan Naftali. Daerah-daerah ini dianggap sebagai bangsa yang diam di dalam kegelapan dan telah melihat Terang yang besar dan daerah yang dinaungi maut telah terbitlah Terang.

Bagaimana Yesus menyatakan TerangNya? Ia menyerukan seruan tobat: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah sudah dekat!” Di samping seruan tobat, Yesus juga berkeliling dan melawati orang-orang Galilea, mengajar di rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Sabda dan Karya Yesus laksana Terang bagi bangsa-bangsa di mana semua orang yang mengalami berbagai sakit penyakit datang dan mengalami penyembuhan. Jadi Terang Yesus menjadi nyata dalam perbuatan kasihNya tanpa batas kepada umat manusia, terutama mereka yang menderita. Tentu saja banyak orang saat itu hanya berhenti pada sakit penyakit sebagai benang kusut tetapi Yesus memberikan sisi yang baik yakni penyembuhan.

Yohanes dalam Bacaan Pertama mengajar tentang makna kasih di dalam kebersamaan.  Pertama-tama Yohanes mengantar kita untuk memahami kasih Allah yang tiada batasnya dan bagaimana menanggapi kasih Allah itu.  Ia menulis, “Saudara-saudara terkasih, apa saja yang kita minta dari Allah, kita peroleh dari padaNya, karena kita menuruti segala perintahNya dan berbuat apa yang berkenan kepadaNya. Perintah Tuhan bagi kita adalah: Supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, AnakNya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita”. Yohanes di sini mau menekankan bahwa Iman dan kepercayaan kita kepada Yesus adalah ungkapan kasih kepadaNya sebanding dengan cinta kasih kita kepada sesama.

Hal kedua yang kiranya penting dalam pewartaan Yohanes adalah dengan mengikuti perintah Tuhan kita juga diingatkan untuk membuat discernment atau pembedaan roh. Apakah roh-roh itu berasal dari Allah atau roh jahat. Discernment ini penting karena sudah ada nabi-nabi palsu dan para anti Kristus. Dalam kehidupan rohani, discernment itu sangat penting. Kita butuh Roh Kudus untuk membantu kita memahami kasih Allah yang sesungguhnya.

Sabda Tuhan hari ini menegaskan Yesus sebagai Terang bagi bangsa-bangsa dalam kegelapan. Yesus adalah Terang yang menerangi kehidupan kita. Ketika mengalami kegelapan karena dosa dan salah yang menyelimuti, kita butuh Tuhan Yesus. Ketika sesama hidup dalam kegelapan karena dosa, butuh orang percaya, yang sudah memiliki Yesus untuk mengubah mereka menjadi anak-anak terang. Kita juga diingatkan supaya bertumbuh dalam iman dan kepercayaan pada Yesus. Iman memampukan kita untuk mencintai sesama dan membedakan roh di dalam hidup kita.

Doa: Tuhan, semoga Engkau memampukan kami untuk menjadi terang bagi sesama. Amen

PJSDB

Sunday, January 6, 2013

Homili Hari Raya Penampakan Tuhan

Hari Raya Penampakan Tuhan
Yes 60:1-6
Mzm 72:1-2.7-8.10-11.12-13.17
Ef 3:2-3a.5-6
Mat 2:1-12

Dimanakah Raja Yahudi Yang Baru Lahir?

Kita semua pasti mengalami saling mengunjungi antar keluarga ketika ada kelahiran seorang bayi. Kelahiran seorang bayi selalu menjadi tanda sukacita tersendiri. Para keluarga, kerabat berdatangan dengan membawa persembahan tertentu sesuai kondisi keluarga tersebut. Di daerah pedalaman orang membawa ayam, ikan, beras dan air. Cara menerima dan menghargai kelahiran baru juga berbeda-beda. Orang Sumba memiliki kebiasaan menyalami dan mengucapkan selamat dengan berciuman menggunakan ujung hidung ke ujung hidung keluarga yang berbahagia termasuk bayi yang baru lahir. Bagi mereka dengan mencium hidung, orang memberi ruah atau roh kepada makhluk baru untuk bertumbuh menjadi dewasa.

Hari ini kita merayakan pesta penampakan Tuhan atau Epifani. Pesta ini termasuk yang paling lama dalam pesta gereja katolik. Epifani berarti “menyingkapkan” atau “menampakkan”. Dalam hal ini Yesus menampakan dirinya kepada umat manusia melalui sebuah tanda yaitu bintang. Dalam tradisi Gereja, perayaan ini biasa dirayakan pada  tanggal 6 Januari atau pada hari Minggu antara tanggal 2-8 Januari. Perayaan ini mulanya dirayakan di gereja-gereja Timur setiap tanggal 6 Januari. Perayaan ini kemudian masuk juga dalam kalender liturgi gereja Barat (katolik). Orang menamakan pesta ini Pesta Tiga Raja yang dikenal dengan nama Gaspar, Melkhior dan Baltazar. Nama lainnya adalah Theofani.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengarahkan kita pada figur Yesus Kristus Tuhan kita. Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan umat Israel di Babel untuk tampil percaya diri menyongsong masa depan. Nabi Yesaya berkata kepada Yerusalem, “Bangkitlah, menjadi teranglah sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” .Yerusalem, kota damai dikatakan nabi sebagai terang dan daerah-daerah sekitarnya yang gelap berduyun-duyun datang kepadanya. Raja-raja pun menyongsong terang yang terbit. Segala kelimpahan dan kekayaan akan datang dan beralih kepada Yerusalem. dari Syeba orang datang membawa emas dan kemenyan serta mengisahkan perbuatan besar dari Tuhan. Mengapa Yerusalem menjadi kota terang dan menarik bangsa lain? Karena disana Tuhan bersemayam selama-lamanya.

Paulus dalam Bacaan Kedua menyadari bahawa Kristus adalah terang sejati. RahasiaNya kini telah diwahyukan dan semua bangsa menjadi pewaris perjanjian. Memang pada zaman dahulu rahasia itu tidak diberitakan kepada umat manusia tetapi sekarang dinyatakan dalam Roh kepada para rasul dan para nabiNya yang kudus. Dengan demikian baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi menjadi ahli waris, menjadi bagian dari Tubuh Kristus. Gereja mengaimini kata-kata Paulus ini. Hingga saat ini Gereja sudah tersebar di seluruh dunia dan semua orang yang dibaptis berduyun-duyun datang kepada Yesus.

Penginjil Matius mengisahkan kunjungan para sarjana dari Timur yang datang untuk menyembah Yesus. Mereka melihat bintangNya dari Timur. Pertanyaan mereka kepada Herodes sangat inspiratif buat kita, “Dimanakah Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu? kami telah melihat bintangNya di ufuk timur dan kami datang untuk menyembah Dia”. Herodes itu orang egois dan merasa tersaingi. Ia mencari tahu pada orang-orang pintar dan mereka mengatakan benar bahwa raja muda itu lahir di Bethlehem, tanah Yudea. Ia juga meminta kepada para sarjana itu untuk menyelidiki dengan saksama Bayi Yesus kemudian memberitakan kepadanya karena ia juga mau menyembah Yesus. Para sarjana ini tiba di rumah Yesus dan mendapatkan Dia bersama Maria IbuNya. Persembahan yang mereka bawa adalah Emas,Kemenyan dan Mur.

Mengapa Emas, Kemenyan dan Mur sebagai persembahan? 

Emas adalah persembahan yang cocok bagi seorang Raja. Pada zaman Yesus orang memiliki kebiasaan mempersembahkan benda-benda berharga kepada Raja. Salah satunya adalah emas sebagai yang paling berharga dari logam. Jadi persembahan para sarjana ini mau mengatakan bahwa Yesus lahir sebagai Raja. Dialah Raja segala Raja yang memerintah dengan kasih. Kita dapat menyerupai Yesus kalau kita juga meletakkan segala yang berharga, memiliki sikap lepas bebas dan menyatukan diri kita denganNya.

Kemenyan adalah hadiah bagi seorang imam. Kemenyan biasanya dipakai dalam upacara kebaktian atau peribadatan. Imam selalu menggunakannya untuk mendupai altar dan persembahan. Imam di sini membawa seluruh jemaat untuk menikmati kemuliaan dan keagungan Tuhan. Yesus adalah Imam Agung melebihi Melkizedek. Apakah anda rindu pada kemuliaan Tuhan?

Mur merupakan hadiah untuk seorang yang meninggal dunia. Mur dipakai untuk membalsem tubuh orang yang telah mati. Yesus pun datang ke dunia. Ia hidup bagi manusia dan wafat bagi manusia. 

Refleksi kita lebih lanjut adalah pada pertanyaan para sarjana: “Dimanakah Raja orang Yahudi yang baru lahir?” Ini adalah pertanyaan pencarian manusia terhadap Tuhan. Pada dasarnya di dalam hati manusia sudah ada benih ilahi dan mereka punya orientasi hidup yang jelas yaitu kepada Tuhan. Maka pertanyaan para sarjana dari Timur ini menuntun kita untuk berjalan menuju kepada Yesus. Orang yang mencari Yesus maka Ia akan menyingkapkan diriNya seperti kepada para sarjana ini. Ia tidak akan menunjukkan diriNya kepada orang yang jahat dan mencari Dia seperti Herodes, para imam kepala dan ahli Taurat. Orang-orang pintar hanya belajar tentang Yesus tetapi tidak tinggal bersama Yesus. Hebatnya orang-orang majus adalah mereka mencari Dia dan mereka menemukan Dia serta menyembahNya.

Apakah di dalam hidup ini kita berlaku seperti para majus yang memiliki keinginan besar untuk mencari Yesus? Apakah kita mencariNya untuk menghormatiNya atau menghina Dia? Mencari Yesus dan menyembah Dia, tidaklah mudah. Sama seperti para majus, orang perlu melewati berbagai rintangan, penderitaan, pengorbanan diri. Upah besar di sorga bagi mereka yang bertahan! Pada zaman ini Yesus yang lain adalah kaum miskin dan menderita. Apakah kita memiliki hati bagi mereka?

Doa: Tuhan, bantulah kami agar menjadi misionaris, pembawa kasihMu bagi sesama yang lain. Amen

PJSDB

Saturday, January 5, 2013

Renungan 5 Januari 2013

Hari Sabtu, Sebelum Penampakan Tuhan
1Yoh 3:11-21
Mzm 100: 1-2.3.4.5
Yoh 1:43-51

Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar!

Ada seorang bapa yang datang kepadaku dan mengatakan keheranannya. Ia heran melihat anaknya menunjukkan bakat-bakat alamiah yang belum pernah dimiliki keluarganya. Anak itu bisa memainkan alat-alat musik dan olahraga. Pada saat ini, anak itu mengikuti kursus musik khususnya piano dan basket. Saya mengatakan kepadanya bahwa ia dan seluruh keluarga perlu bersyukur karena bakat-bakat alamiah yang dimiliki anak mereka dan dukunglah supaya dapat berkembang lebih baik lagi. Saya juga mengingatkannya bahwa kalau ia mendukung anaknya, maka hal-hal besar akan ditunjukkan oleh anaknya di masa depan. Pada tahun berikutnya bapa itu datang lagi kepadaku dan mengatakan, bahwa anaknya ternyata bisa mengolah vokal dengan baik dan bisa juga bermain musik sambil menyanyi. Ia menjuarai lomba di sekolahnya dan mendapat beasiswa untuk belajar musik di luar negeri. Wah ini sebuah berita menggembirakan dan dan boleh dikatakan hal besar sedang terjadi dalam diri anaknya.

Penginjil Yohanes hari ini melanjutkan kisah panggilan murid Yesus. Ketika Yesus meninggalkan sungai Yordan menuju ke Galilea, Ia bertemu dengan Filipus, orang Betzaida dan mengajaknya: “Ikutlah Aku!” Filipus kemudian bertemu dengan Natanael dan berkata: “Kami telah menemukan  Dia yang disebut Musa di dalam Kitab Taurat dan oleh para nabi yaitu Yesus anak Yusuf dari Nazaret.” Natanael dengan polos berkata, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Filipus seolah mengulangi perkataan Yesus, “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepadaNya maka Ia memuji Natanael: “Inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” Tentu Natanael kaget mendengar Yesus sehingga ia bertanya bagaimana Yesus mengenal dia. Yesus mengatakan kepadanya bahwa sebelum Filipus membawanya, Yesus sudah melihatnya di bawah pohon ara. Itu sebabnya Natanael terpesona dan berkata, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel”. Yesus mengingatkan Natanael, “Engkau akan melihat langit terbuka, dan malaikat-malaikat Allah akan turun naik kepada Anak Manusia”.

Kisah Injil ini menarik perhatian kita. Tuhan Yesus berkata kepada Filipus “Ikutlah Aku” Filipus menjawab ajakan Tuhan itu dengan menjadi misionaris. Ia mengajak Natanael. Natanael berarti "Pemberian Allah" dikenal dengan nama lain Bartolomeus (Mat 10:3). Bartolomeus berarti Putra Talmai. Sering orang menyamakan sebagai nama keluarga dari Natanael. Dalam dialog dengan Yesus, Natanael menunjukkan sikap kritisnya. Tetapi Yesus berhasil menunjukkan diriNya sebagai Tuhan baginya karena mengetahui siapakah dirinya yang sebenarnya. Itu sebabnya Natanael mengakui imannya kepada Yesus sebagai Anak Allah dan raja orang Israel. Yesus lalu mengingatkan Natanael akan penglihatan Yakub (Kej 28:12) di mana para malaikat naik dan turun, dan penglihatan Daniel tentang Anak Manusia (Dan 7:13-14).

Hal menarik lain dari perikop kita adalah iman. Dengan iman, segala sesuatu yang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Dengan iman Filipus dapat melihat Yesus sebagai Guru dan Tuhan serta mengikutiNya. Dengan iman Natanael dapat melihat Yesus sebagai Anak Allah dan Raja orang Yahudi. Nah, untuk mengenal Yesus lebih mendalam maka orang perlu mendekatkan dirinya kepada Yesus sendiri. Sikap rendah hati harus dimiliki oleh orang yang berkehendak baik untuk mengenalNya lebih dalam.

Pertanyaan buat kita adalah apa yang harus kita lakukan sebagai murid Kristus?

Yohanes dalam bacaan pertama mengatakan kita harus saling mengasihi sebagai saudara. Dua figur yang ditampilkan di sini adalah Kain sebagai simbol kejahatan dan kebencian terhadap sesama dan Kristus sebagai pembawa kasih kepada manusia. Kain sebagai simbol kejahatan dan kebencian karena ia membunuh adiknya. Kejahatan Kain masih tetap ada hingga saat ini dimana manusia bisa saling bermusuhan bahkan saling membunuh satu sama lain meskipun mereka sebagai saudara. Kristus adalah model kasih. Dia mewahyukan diriNya sebagai  kasih yang sempurna, tiada batasnya dan Ia mengundang kita untuk tinggal di dalam kasihNya. Kasih yang paling agung adalah ketika ia menyerahkan nyawahNya di atas kayu salib.

Cinta kasih yang diwartakan Kristus itu nyata adanya. Yohanes menulis, “Anak-anakku, marilah kita saling mengasihi bukan dengan kata-kata saja atau dengan lidah tetapi dalam perbuatan dan dalam kebenaran.” Mengapa demikian? Karena kita berasal dari Kebenaran. Nah cinta kasih itu itu menembusi batas kehidupan. Cinta kasih itu mengalahkan kejahatan.

Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk menjadi tanda dan pembawa kasih Allah kepada sesama. Sikap Filipus patut menjadi model bagi kita. Ia mengajak Natanael untuk datang kepada Yesus. Kita pun mengajak saudara-saudara kita untuk datang pada Yesus. Tentu saja hal ini butuh iman yang kuat kepada Tuhan seperti Natanael. Ia kritis tetapi beriman! Bagaimana dengan anda? Apakah anda sungguh mengimani Yesus Kristus?

Doa: Tuhan, semoga kami membawa kasihMu kepada sesama. Amen

PJSDB

Friday, January 4, 2013

Renungan 4 Januari 2013

1Yoh 3:7-10
Mzm 98: 1.7-8.9
Yoh 1:35-42

Apakah yang kamu cari?

Ketika masih bertugas di Paroki St. Yohanes Bosco Sunter, Jakarta Utara, saya selalu menggunakan pertanyaan ini “Apa yang kamu cari di dunia” kepada seseorang untuk berefleksi. Ketika bertemu dengan Bambang, seorang sahabat, aku selalu bertanya, “Hai Mr. Bambang, apa yang engkau cari di dunia ini”. Dia menjawab, “Kalau dahulu saya mencari duit dan harta kekakayaan. Sekarang saya mencari Tuhan dan melayaniNya”. Wah ini sebuah jawaban yang bagus. Namun demikian kita juga tahu bahwa banyak orang di kepalanya hanya duit dan lupa Tuhan. Hari Minggu juga hari mencari duit, Nanti kalau mengalami kesulitan, sakit penyakit baru mendekatkan diri pada Tuhan. 

Pada hari ini Yohanes Pembaptis sedang bersama-sama dengan Yohanes dan Andreas. Mereka berdua mendapat pembinaan yang bagus dari Yohanes Pembaptis. Sore itu kira-kira jam 4 sore, waktu suci berdasarkan Kitab Suci, Yesus lewat di depan mereka bertiga. Yohanes Pembaptis berkata kepada Yohanes dan Andreas, “Lihatlah Anak domba Allah”. (Yoh 1:36). Yohanes dan Andreas meninggalkan Yohanes Pembaptis guru mereka dan mengikuti guru yang baru. Ketika Yesus menoleh dan melihat mereka ia bertanya, “Apakah yang kamu cari?”(Yoh 1:38). Yesus tidak bertanya “Siapakah” yang merujuk pada diriNya tetapi “Apakah” yang merujuk pada benda atau harta. Tetapi Yohanes dan Andreas juga menjawab dengan pertanyaan, “Guru di manakan Engkau tinggal?” Yesus juga tidak menjawab “di sini atau di sana” tetapi Ia justru mengajak: “Mari dan lihatlah”. Yohanes dan Andreas datang dan tinggal bersama Yesus. Pengalaman tinggal bersama Yesus membuat Andreas terpesona dan mengajak Simon Petrus saudaranya dengan berkata, “Kami telah menemukan Mesias”. Ia pun membawa saudaranya kepada Yesus dan nama baru diperolehnya, “Engkau Simon, anak Yohanes, Engkau akan dinamakan Kefas” (Yoh 1:42). 

Perikop ini menarik untuk kita renungkan bersama sebagai pengikut Kristus. Yesus selalu berjalan atau bergerak di dalam lorong kehidupan kita. Dia adalah Putera Allah yang berinisiatif untuk menyelamatkan umat manusia. Mengikuti Yesus berarti siap mengambil konsekuensi logis yaitu berkorban demi kebaikan orang lain. Berkorban ditunjukkan dengan karya-karya nyata sebagaimana diteladani Yesus sendiri.

Dalam konteks panggilan, Tuhan memiliki inisiatif untuk memanggil tetapi manusia memiliki sikap bebas untuk menjawabi panggilan. Kita ingat perkataan Yesus, “Bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15:16). Konsekkuensi panggilan dan pilihan Yesus maka orang terpanggil akan tinggal bersama Dia. Ekspresi “Mari dan lihatlah”. “Mari” adalah ajakan atau panggilan kasih Yesus bagi orang yang dikehendakiNya dan “Lihatlah” kata melihat dalam pikiran Yohanes sama dengan tinggal atau berdiam. Konsekuensinya adalah tinggal dalam kasih Yesus menjadikan orang terpanggil untuk membawa kasih Yesus kepada sesama dan memanggil mereka untuk datang pada Yesus. 

Maka kembali ke pertanyaan semula, “Apa yang kamu cari” Pertanyaan Yesus ini berlaku umum bagi siapa saja yang berkehandak baik untuk mencari Yesus. Semua orang diarahkan pada satu fokus penting yaitu tinggal bersama Yesus atau tinggal di dalam kasih Yesus.

Pertanyaan lain yang muncul adalah, apa yang harus kita perbuat? Yohanes dalam bacaan pertama memberi rumusan-rumusan tertentu yang patut kita renungkan. Kita diajak untuk berjalan dalam Kebenaran bersama Yesus bukan dalam kesesatan bersama iblis. Orang yang hidup bersama Tuhan akan selalu berbuat yang benar. Mengapa? Karena ia lahir dari Allah. Orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi karena benih ilahi tetap ada di dalam dia. Orang yang tidak lahir dari Allah, ia akan hidup bersama iblis dalam dosa dan tidak membuat kebenaran. 

Dosa selalu diperlawankan dengan kasih Tuhan. Dosa juga merupakan suatu kenyataan di dalam dunia dan dalam pribadi manusia. Dari perkataan Yohanes, dosa tidak berdaya di hadapan orang yang sudah menerima Tuhan. Ketika menerima sakramen pembaptisan orang yang sudah mati karena dosa memiliki hidup baru karena Kristus. Benih ilahi ada di dalam diri setiap orang yang percaya kepada Tuhan.

Sabda Tuhan membantu kita berpikir tentang kasih Tuhan. Ia yang punya inisiatif untuk memanggil dan memilih kita sebagai abdi-abdiNya. Apakah kita pernah menyadari panggilan sebagai sebuah anugerah? Anda sebagai orang tua adalah anugerah bukan karena keinginan sebagai pria dan wanita. Anugerah yang memiliki benih ilahi di dalamnya. 

Doa: Tuhan, terima kasih atas rahmat panggilanMu bagiku. Amen

PJSDB

Thursday, January 3, 2013

Renungan 3 Januari 2013

Nama Yesus Yang Tersuci
1Yoh 2:29-3:6
Mzm 98:1.3cd-4.5-6
Yoh 1:29-34

Berapa Nilai dan Harga Seorang Anak dalam Keluarga?

Selama mengabdi Tuhan sebagai imam, saya memiliki dua pengalaman yang menunjukkan betapa indahnya kasih Tuhan bagi manusia. Pengalaman yang dimaksud adalah mendoakan keluarga-keluarga yang merindukan kelahiran seorang anak. Ada sebuah keluarga yang merindukan kelahiran seorang anak laki-laki. Seluruh keluarga berdoa dan beramal, memohon nasihat dan dukungan dari pastor. Setelah beberapa tahun memohon kepada Tuhan akhirnya doa keluarga ini terkabul. Lahirlah di dalam keluarga ini seorang anak laki-laki. Keluarga yang kedua merindukan kelahiran seorang anak. Mereka sudah beberapa tahun menikah dan memiliki kerinduan yang besar. Mereka juga berdoa, beramal dan menaruh harapan yang besar kepada Tuhan. Tuhan mengabulkan permohonan mereka maka lahirlah seorang anak perempuan. Ketika membaptis kedua anak ini saya mengingatkan mereka bahwa mukjizat itu nyata. Anak yang lahir di dalam keluarga adalah anak-anak Tuhan karena Tuhan memberinya sangat spesial bagi keluarga. Kedua anak ini mirip dengan Samuel dalam Kitab Perjanjian Lama di mana Hanna ibunya “meminta dari Tuhan” (1Sam 1:20).

Yohanes di dalam bacaan Injil menunjuk para muridnya bahwa Yesus adalah "Anak domba Allah". Selanjutnya Yohanes Pembaptis berkata kepada para muridnya, “Kemudian dari padaku akan datang seorang yang telah mendahului aku sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel” (Yoh 1:30-31). Yohanes Pembaptis memahami tugas perutusan dari Bapa Surgawi untuk menyiapkan jalan dengan suara yang lantang sambil membaptis supaya orang bertobat dan menerima Yesus sang Anak domba Allah ini. Yohanes juga dengan rendah hati di hadapan Yesus mengakui kekekalan Yesus. Yesus ada sebelum dunia dijadikan. Dia adalah Firman yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah sendiri yang mencipta (Yoh 1:1).

Lebih lanjut Yohanes memberi kesaksian, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati dan Ia tinggal di atasNya” (Yoh 1:32). Yohanes Pembaptis membantu kita untuk berefleksi lebih dalam lagi bahwa Allah yang kita imani adalah Allah Tritunggal, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Bapa yang telah menyuruh Yohanes sebagai suara yang berseru di padang gurun (Yoh 1:23), Putera adalah Anak domba Allah (Yoh 1:29.34) dan Roh Kudus yang turun dari langit seperti merpati (Yoh 1:32). Yesus sang Putera tidak akan membaptis dengan air seperti Yohanes, tetapi akan membaptis dengan Roh Kudus. Yohanes Pembaptis mengakui dan bersaksi bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Di dalam bacaan pertama Yohanes  memberi semangat kepada kita semua untuk memahami identitas kita sebagai anak-anak Allah. Ia menulis, “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita sebab dunia tidak mengenal kita.” (1Yoh 3:1). Betapa mulianya kehidupan kita di hadirat Tuhan. Pada akhirnya Yesus oleh Yohanes Pembaptis disebut sebagai Anak Allah. Kita sebagai orang-orang yang percaya kepadaNya juga mendapat hak yang sama yaitu sebagai anak-anak Allah dan ahli waris. Karena status sebagai anak Allah yang menyerupai Yesus Kristus maka dunia juga tidak mengenal kita karena kita bukan berasal dari dunia, dan juga karena dunia tidak mengenal kebenaran.

Konsekuensi sebagai anak-anak Allah adalah bersatu dengan Kristus dan akan melihat Kristus sebagaimana adanya. Ketika Ia menyatakan diriNya, kita akan menjadi sama dengan Dia karena kita melihatNya secara langsung dalam keadaan yang sebenarnya. Artinya bahwa kesucian atau kekudusan adalah cita-cita yang harus dimiliki oleh orang-orang yang percaya. Orang harus bertobat dari dosa-dosanya supaya layak di hadirat Yesus.

Sabda Tuhan pada hari ini membantu kita untuk memahami tugas dan tanggung jawab kita sebagai pembawa Kristus kepada sesama. Kita belajar dari Yohanes Pembaptis yang menyiapkan murid-muridnya untuk Yesus. Dia merelakan orang-orang yang dekat dengannya untuk bersatu dengan Yesus, tanpa ada penyesalan apa pun. Apakah kita juga dapat menyerupai Yohanes Pembaptis yang membawa banyak orang kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah? Hal yang penting di sini adalah berusaha untuk memberi kesaksian sebagaimana dikatakan Yohanes Pembaptis, "Saya sudah melihat dan memberi kesaksian ini". (Yoh 1:34). 

Kita juga disadarkan bahwa dengan sakramen Pembaptisan kita juga menjadi anak-anak Allah. Apakah ada rasa syukur di dalam diri kita bahwa kita ini adalah anak-anak Allah. Apakah kita juga sudah hidup sebagai anak-anak Allah. Mari kita membenahi diri kita yang masih penuh dengan dosa untuk dapat hidup suci dan tak bernoda menyerupai Yesus sendiri. Menjadi kudus dan melihat Yesus yang sebenarnya adalah cita-cita kita semua yang mengikuti Yesus. Hal yang paling praktis: Apakah kita menghargai anak-anak di dalam keluarga?

Doa: Tuhan, syukur kepadaMu karena aku juga anakMu. Amen

PJSDB 

Wednesday, January 2, 2013

Renungan 2 Januari 2013

1Yoh 2:22-28
Mzm 97:1-4
Yoh 1:19-28

Menjadi Saksi itu Penting!

Dalam kehidupan sosial selalu terjadi hal-hal tertentu yang dapat mendukung atau menghancurkan interaksi sosial antar individu tertentu. Ketika terjadi hal-hal seperti itu dibutuhkan orang-orang tertentu untuk memberi kesaksian tentang kesalahan dan kebenaran yang dapat meringankan atau memberatkan dalam sebuah proses hukum. Dalam proses hukum butuh kesaksian yang benar bukan kesaksian palsu. Kesaksian yang benar akan membuat orang menjadi baik, kesaksian palsu justru akan menghancurkan orang tertentu. Nah di sini butuh iman di hadirat Tuhan Allah. Maka orang kalau memberi kesaksian selalu mengatakan “Kesaksianku ini demi Allah”. Yesus di dalam Injil berbicara tentang para saksi sebagai berikut: “Oleh karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah” (Mat 10:18).

Bacaan-bacaan suci hari ini berbicara tentang luhurnya sebuah kesaksian. Yohanes Pembaptis adalah tokoh inspiratif bagi kita dalam memberi kesaksian yang benar. Ada orang-orang Yahudi dari Yerusalem mengutus imam dan orang-orang Lewi untuk bertanya kepadanya siapakah dirinya. Orang-orang ini berpikir bahwa Yohanes adalah Mesias, Elia (Mal 3:23-24) atau nabi yang akan datang (Ul 18:15.18). Tetapi ia dengan jujur mengatakan dia bukan Mesias, Elia atau nabi yang akan datang. Yohanes lalu bersaksi dengan mengutip Yes 40:3: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan bagi Tuhan!” (Yoh 1: 23). Yohanes adalah suara kosong yang berteriak untuk mempersiapkan hadirnya “Sabda” nantinya menjadi daging dan tinggal bersama kita (Yoh 1:14)

Selanjutnya orang-orang Farisi bertanya kepada Yohanes tentang alasan mengapa ia membaptis kalau dia bukan Mesias, Elia atau nabi yang akan datang. Dengan jujur Yohanes menjawab: “Aku membaptis dengan air, tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali sepatuNya pun aku tidak layak” (Yoh 1:27). 

Yohanes Pembaptis adalah saksi yang benar dan hebat. Di dalam Injil Yohanes kata saksi memiliki makna yang penting. Dalam Injil Yohanes, mereka yang bersaksi  tentang Yesus adalah Yohanes Pembaptis, Kitab Suci, Karya-karya Yesus dan para rasul. Tetapi saksi yang paling agung adalah Bapa di Surga! Nah bagi Yohanes, barang siapa yang berada di dalam terang akan melihat Yesus dan memberi kesaksian yang benar. 

Yohanes Pembaptis memang sangat inspiratif buat kita semua. Kita ditantang untuk memberi kesaksian yang benar apalagi menyangkut kesaksian iman. Anda pengikut Kristus? Silahkan hiduplah sebagai orang kristiani yang baik yang dapat memberi diri, mengurbankan diri untuk kebahagiaan orang lain. Orang kristiani yang dapat membawa orang lain untuk berjumpa dan tinggal bersama Yesus.

Untuk menjadi saksi Kristus tidaklah gampang. Yohanes dalam suratnya yang pertama (dikutip dalam bacaan pertama), sudah melihat banyak orang yang hidupnya jauh dari Tuhan. Sudah ada orang yang berdusta dan disebut anti Kristus. Anti Kristus adalah orang yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus sekaligus menyangkal Bapa di Surga. Mengapa? Karena Kristus dan Bapa adalah satu. Selanjutnya, Yohanes mengingatkan komunitasnya tentang kemampuan untuk mendengar. Yohanes berulang kali mengatakan tentang rahasia Allah yaitu Kasih. Ungkapan Kasih yang tidak lain adalah Allah sendiri perlu didengar lagi bukan hanya dengan telinga tetapi dengan hati. Siapa yang mendengar bahwa Allah adalah kasih maka ia akan tinggal di dalam kasih dan kasih juga tinggal di dalamnya. Kehidupan kekal juga menjadi jaminan baginya.

Bacaan-bacaan suci pada hari kedua di tahun 2013 ini mengundang kita untuk belajar dari Yohanes Pembaptis yang memberi kesaksian yang benar. Yohanes rendah hati dan mengatakan dengan jujur siapakah dirinya. Apakah kita juga bersikap jujur terhadap diri kita dan sesama? Dalam hal ini jujur dalam berkata dan bertindak? Atau selama ini kita justru bersaksi untuk menghancurkan orang lain dengan kesaksian palsu. Hidup dalam kebohongan itu dosa! 

Sabda Tuhan juga memberi kepada kita kekuatan untuk bertumbuh dalam iman dengan tidak menyangkal Yesus. Petrus pernah menyangkal Yesus tiga kali tetapi kita menyangkanlnya berkali-kali. Hiduplah sebagai orang yang sungguh-sungguh beriman dan hidup seperti Kristus bukan sebagi anti Kristus. Apakah anda pernah menyangkal Kristus? Ketika dalam suasana ekstrim, apakah anda masih bisa mengakui Yesus? Atau sebaliknya anda mengorbankan Yesus demi uang, pangkat dan kuasa? Kalau anda menyangkal Yesus, Ia juga tidak akan mengenal engkau di hadapan Bapa. 

Ingat: Sesudah dirimu di selamatkan, jadilah saksi Kristus!

Doa: Tuhan, semoga kami mampu menjadi saksi kasihMu bagi sesama. Amen

PJSDB

Tuesday, January 1, 2013

Homili Hari Raya Santa Maria Bunda Allah

Hari Raya Santa Maria Bunda Allah
Bil 6:22-27
Mzm 67:2-3.5-6.8
Gal 4:4-7
Luk 2:16-21

Kamu Bukan Lagi Hamba Melainkan Anak!


Hari pertama di tahun 2013. Hari pertama di mana orang masih meraba-raba, menebak apa yang akan terjadi dan dialami sepanjang tahun ini. Para peramal juga laku keras karena mereka meramal tentang masa depan seseorang dan orang yang diramal itu sungguh percaya. Ada yang rasa percaya dirinya naik karena ramalannya bagus, ada juga yang langsung hilang rasa percaya dirinya karena ramalan tentangnya tidak bagus. Ada rasa senang dan takut dalam diri banyak orang mengawali tahun ini.

Secara liturgis, Gereja Katolik mengawali tahun baru dengan merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Segenap anggota Gereja mau diingatkan untuk memandang Yesus yang lahir dari rahim Bunda Maria. Santo Paulus mengatakan Allah mengutus AnakNya yang lahir dari seorang perempuan. Ya, Yesus sebagai Putera Allah, Sabda yang menjelma menjadi manusia dan tinggal bersama setiap pribadi. Hari ini seluruh dunia juga merayakan Hari Perdamaian Dunia. Mengawali tahun baru ini harapan banyak orang adalah sebuah dunia yang damai, dunia yang dihuni oleh orang-orang yang berkenan pada Allah.

Sabda Tuhan pada hari ini memberikan aroma optimisme bagi setiap pribadi yang mendengarnya. Setiap pribadi kadang-kadang mengalami ketidakpastian. Pada saat-saat seperti itu kita butuh Tuhan yang menjanjikan berkat dan jaminan keselamatan. Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Bilangan, Tuhan berfirman kepada Musa untuk mengatakan kepada Harun dan anak-anaknya untuk memberkati orang Israel: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau. Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia. Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bil 6:24-26). Nama Tuhan menguasai orang Israel dan Tuhan pun memberkati mereka.

Tuhan senantiasa menunjukkan kasihNya yang tiada batasnya kepada manusia. Kasih yang paling agung adalah ketika Ia mengutus PuteraNya ke dalam dunia dan semua orang yang percaya kepadaNya memperoleh hidup kekal (Yoh 3:16). Hal senanda diungkapkan juga oleh Paulus dalam Bacaan II bahwa Tuhan Yesus datang kedunia untuk menebus umat manusia. Sebelum mengalami penebusan, manusia adalah hamba atau budak. Tetapi ketika dijamah oleh Tuhan dan mereka terbuka kepadaNya maka mereka pun menjadi anak-anak Allah.

Paulus menulis, “Saudara-saudara, setelah genap waktunya, Allah mengutus AnakNya yang lahir dari seorang perempuan dan takhluk kepada Hukum Taurat”. Dengan perkataan Paulus ini mengingatkan kita pada figur Bunda Maria sebagai wanita sederhana yang dipilih Tuhan menjadi Ibu Yesus. Di dalam diri Hamba Tuhan ini Sabda menjadi manusia. Ini adalah waktu yang tepat. Maria menerima menjadi Bunda Yesus merupakan berkat yang besar bagi semua orang yang percaya kepada Kristus. Paulus juga mengatakan bahwa orang-orang yang takluk pada Hukum Taurat akan ditebus dan mereka menjadi Anak Allah. Roh Tuhan juga diberikan kepada setiap anak sehingga seruan yang sama akan terucap: "Abba, ya Bapa!" Dengan rahmat Allah Tritunggal Bapa, Putera dan Roh Kudus maka kita semua bukan lagi menjadi hamba melainkan mulia sebagai anak dan menjadi ahli waris.

Penginjil Lukas mengingatkan kembali malam penuh sukacita di mana Yesus dilahirkan ke dunia. Para gembala yang sederhana datang ke Bethlehem untuk menyembah Dia. Di Bethlehem, mereka menemukan Maria, Yusuf dan Bayi yang terbaring dalam palungan. Para gembala menceritakan pengalaman mendengar warta sukacita dari malaikat dan membuat semua orang takjub. Tetapi Bunda Maria memilih untuk diam. Ia menyimpan semua perkara di dalam hati dan merenungkannya. Para gembala juga bersukacita kepada Tuhan atas pengalaman yang indah ini. Semua pengalaman mereka sungguh nyata. Yesus kemudian diantar oleh orang tuanya untuk disunat dan diberi nama Yesus.

Kita memulai tahun 2013 dengan berbagai pesan yang istimewa: 

Pertama: Tuhan tidak akan membiarkan kita sendirian. Ia memberi berkatNya yang berlimpah dan menyinari kita dengan wajahNya yang kudus. Berkat Tuhan ini menjadi kekuatan bagi kita untuk tidak takut atau pesimis dengan hidup ini. Kita memulainya dengan berkat dari Tuhan bukan dengan kutukan. 

Kedua, Kita memulai tahun ini dengan sapaan Tuhan bagi kita sebagai Anak dan ahli waris. Ini merupakan pengalaman iman yang luhur. Kita bukan lagi hamba yang setingkat dengan orang kafir tetapi orang merdeka karena penebusan berlimpah dari Tuhan. Status sebagai anak Allah merupakan hadiah yang sangat berharga dari Tuhan.

Ketiga, Bunda Maria adalah model bagi para ibu. Ia menunjukkan teladan selalu bersama Yusuf dan Yesus. Kehadiran Maria dalam keluarga menginspirasikan para orang tua untuk senantiasa hadir dalam kehidupan anak dan menjadi pendidik bagi mereka. Orang tua yang mampu menyimpan segala perkara di dalam hatinya.

Tiga pesan rohani ini akan membuat hati damai. Mengapa damai? Karena Tuhan memberkati dan menerangi serta menganugerahi kasih karunia supaya kita menjadi anak-anak Allah. Berbahagialah dan bersyukurlah karena anugerah istimewa ini.

Doa: Tuhan, berkatilah kami. Amen

PJSDB