Thursday, December 19, 2013

Uomo di Dio

Beranilah dalam hidupmu!


Ada seorang romo yang menceritakan pengalamannya seperti ini: Dia adalah seorang penakut. Ketika masih kecil ia tidak berani keluar malam untuk buang air, harus ada orang yang lebih dewasa menemaninya. Pengalaman paling menakutkan adalah ketika ada kematian. Ia tidak berani dekat dengan jenazah. Ia dapat mengingat jenazah itu sampai berhari-hari dan membuatnya merasa takut berkepanjangan. Ketika ia mengatakan niatnya untuk menjadi seorang imam, muncul banyak keberatan termasuk salah satunya adalah ketakutannya terhadap jenazah. Orang tuanya mengingatkannya bahwa nantinya ia akan memberkati jenazah maka ia akan melihat secara langsung jenazah yang menakutkannya di masa kecil. Tetapi ia berusaha untuk menjadi berani, dan lama kelamaan ia menjadi akrab dengan jenazah. Ketika mendengarnya bercerita, saya ingat seorang kudus dari Serikat Salesian Don Bosco (SDB) yaitu Beato Artemide Zatti. Dia adalah seorang mantri maka berani meminta supaya jenazah tertentu boleh dibaringkan di kamar tidurnya, ketika tidak ada lagi tempat tidur di rumah sakityang ia layani.

Di dalam masyarakat kita pada umumnya kaum pria dianggap sebagai pribadi-pribadi yang berani di dalam hidupnya. Apabila para pria tidak berani maka dianggap menyerupai wanita, meskipun banyak wanita juga kaum pemberani. Karena anggapan bahwa kaum pria adalah kaum pemberani maka kadang-kadang bisa muncul kekerasan tertentu yang dilakukan kaum pria terhadap kaum lemah seperti para wanita dan anak-anak dan juga terhadap kaum pria lain sehingga dapat menimbulkan pergolakan tertentu. 

Ketakutan sebenarnya sudah melekat di dalam diri manusia sejak adanya manusia pertama. Tuhan sudah memberikan keberanian kepada mereka untuk tinggal di taman Eden yang nyaman tetapi akibat mereka jatuh dalam dosa maka berdampak juga pada ketakutannya. Kita ingat episode Adam dan Hawa bersembunyi di balik pohon saat Tuhan berjalan-jalan dan memanggil mereka: “Dimanakah engkau?” (Kej 3:9). Adam dan Hawa mendengar Tuhan dan mereka takut (Kej 3:10). Ketakutan ini berlangsung turun temurun hingga kita saat ini. Namun Kitab Suci juga mengajarkan kita supaya tidak menjadi penakut tetapi hidup dalam keberanian. Kita ingat ketika Petrus dan Yohanes dilepaskan, bersama jemaat mereka berdoa supaya diberikan keberanian untuk memberitakan Firman (Kis 4:29). Di dalam Yesus, Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa mereka akan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan dan iman kita kepadaNya (Ef 3:12). Dalam sejarah Gereja, kau pria dan wanita berani mempertaruhkan nyawanya bagi Yesus. Banyak yang meninggal dunia sebagai martir. 

Apakah para Pria Katolik masih bermentalitas penakut? Saya teringat pada C. S Lewis yang berkata: “Keberanian bukan sekadar salah satu wujud kebajikan melainkan wujud setiap kebajikan yang tengah diuji”. Perkataan Lewis ini kiranya sangat logis dengan hidup kita. Ada saja belenggu yang menghalangi kemerdekaan pribadi sehingga yang ada di dalam diri kita adalah roh ketakutan bukan roh keberanian. Keberanian dapat kita miliki ketika kita merasa bahwa di dunia ini kita tidak sendirian. Artinya kita memang membutuhkan orang lain supaya hidup kita lebih bermakna. Kita dapat membungkus ketakutan dengan lapisan keberanian. Helen  Keller pernah berkata: “Kapankah kita akan sadar bahwa kita semua terikat satu sama lain, sehingga kita semua adalah bagian dari satu tubuh?” Maka kita dapat menjadi pribadi yang berani ketika kita merasa membutuhkan orang lain yang dapat meringankan hidup kita dari segala beban yang kita pikul. 

Mari kita memandang Yesus sang inspirator kita. Selama hidupNya, Yesus tidak pernah merasa takut. Dia adalah seorang pemberani. Ia selalu frontal dengan kaum Farisi dan para ahli Taurat yang lebih mementingkan adat istiadat dan lupa memperjuangkan kasih dan keadilan. Puncak keberanianNya adalah ketika Ia siap memikul salib dan wafat di atas kayu salib. Ia tidak takut kepada kematian, Ia justru mengalahkan kematian dengan kebangkitanNya yang mulia pada hari ketiga.

Mark Twain pernah berkata: “Keberanian adalah perlawanan terhadap rasa takut, penguasaan rasa takut, tidak adanya rasa takut”. Alan Cohen juga berkata: “Sangatlah dibutuhkan  keberanian untuk melepaskan diri dari rasa nyaman untuk merangkul hal baru. Tetapi tidak ada keamanan yang nyata dalam apa yang tidak lagi bermakna. Ada keamanan lebih dalam petualangan menarik, karena dalam gerakan ada kehidupan, dan dalam perubahan ada kekuatan”. 

Anda sebagai seorang pria, mengapa masih merasa takut? Mengapa anda tidak berani di dalam hidup? Anda sebagai pria katolik, mengapa anda tidak berani mewartakan Injil? Anda sebagai pria katolik, mengapa anda tidak mampu mempertahankan bahtera pernikahanmu? Mengapa anda tidak berani mempertahankan panggilan dan pengabdianmu di dalam gereja dan masyarakat? Ingatlah, hanya orang beriman dapat menjadi berani di dalam hidupnya karena ia merasa bahwa Tuhan menyertainya.


PJSDB

Monday, December 16, 2013

Uomo di Dio

Hati yang mulia

Dunia baru kehilangan seorang tokoh dunia bernama Nelson Mandela. Banyak di antara kita yang menyaksikan saat penguburannya yang berlangsung sangat meriah. Seorang sahabat saya spontan mengatakan: “Kita sungguh-sungguh dikatakan manusia yang manusiawi bukan saat kita masih hidup dan gemilang dalam karier tetapi pada saat kita mati, mata semua orang tertuju kepada kita dan dengan sedih mereka mangatakan rasa kehilangan diri kita dari hidup mereka”. Saya merenungkan kata-kata sahabat ini dan coba mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang pernah lewat dalam hidup saya. Sebagai seorang imam saya sering merayakan misa arwah di rumah duka. Pada suatu hari saya menyaksikan sebuah pemandangan yang menarik di rumah duka. Ada dua kamar yang bersebelahan. Jenazah di kamar A adalah seorang bapa yang bekerja selama puluhan tahun sebagai sopir di sebuah perusahan. Jenazah di kamar B adalah seorang pengusaha yang mendadak meninggal dunia karena serangan jantung.

Saya mengatakan sebelumnya bahwa ada sebuah pemandangan yang menarik di rumah duka itu karena ketika merayakan misa di kamar A jumlah umatnya membeludak. Koornya meriah dan kelihatan semua orang merasa sangat kehilangan pak Sopir yang sederhana dan sudah berumur itu. Ketika saya meminta kesaksian dari mantan pimpinannya ia mengatakan bahwa sekarang dia merasa kesulitan untuk mendapat seorang sopir yang jujur, setia dan siap kapan saja dipanggil untuk melayani seperti almarhum. Ada juga orang lain yang memberi kesaksian bahwa almarhum itu ramah dan menyapa siapa saja yang bersama dengannya di dalam mobil. Jenazah di kamar B adalah seorang pengusaha katolik tetapi kelihatan sepi, hanya sedikit orang yang melayat. Ada juga seorang romo yang memimpin misa tetapi misa itu boleh dikatakan misa hening. Pengalaman ini mengingat kembali kata-kata sahabat di atas, “Kita sungguh-sungguh menjadi manusia pada saat orang beramai-ramai datang dan melayat kita di hari kematian dan penguburan”.

Nelson Mandela adalah salah satu contoh pria sejati yang sangat mempengaruhi dunia. Orang-orang di kampung halamannnya yakni Qunu dengan wajah yang sedih mengucapkan selamat jalan kepada pahlawan mereka. Di New York terdapat restoran baru bernama Nelson Mandela. Ada juga orang yang sedang membuat monumen Nelson Mandela dengan wajah yang menunjukkan sifatnya sebagai pendamai. Tentu saja satu hal yang selalu dikenang adalah kebaikan-kebaikan Mandela. Ia dipenjarakan selama 27 tahun karena memperjuangkan persamaan hak para warga kulit hitam dan putih di negerinya. Ia tetap menunjukkan kebaikannya dengan mengampuni dan menerima para lawan politik apa adanya. Mandela adalah tokoh yang dapat mengubah cara hidup banyak orang terutama para pemimpin dunia, khususnya di negeri kita. Di tengah-tengah krisis leadership Negara kita, Mandela boleh dibilang inspiratif bagi banyak orang untuk menjadi pemimpin yang mencintai dan dicintaim jujur dan setia.

Mungkin saja para pemimpin kita yang korup saat ini seharusnya merasa malu. Untuk sekedar diketahui bahwa Indonesia Corruption Watch berhasil menghadirkan angka-angka yang signifikan dan memalukan tentang keadaan korupsi di Indonesia. Selama 6 bulan terakhir terdapat 81 anggota DPR yang terjerat kasus korupsi. Para anggota legislative ketika berkampanye mengatakan soal kejujuran tetapi mereja sendirilah yang menjadi tidak jujur! Kementrian dalam negeri Indonesia mencatat 83,7 persen kasus korupsi yang dilakukan DPRD tingkat provinsi. Semakin jauh dari Jakarta, semakin nyaman berkorupsi. Banyak jajaran eksekutif yang terjerat kasus korupsi dan sangat terstruktur mulai dari lurah dan kepala desa, camat, bupati, gubernur bahkan para mentri yang korup. Saya pernah melihat di sebuah kelurahan ada mentalitas preman dari lurah dan anak buahnya. Saya baru tahu bahwa untuk menjadi seorang lurah, mereka juga berkampanye dan butuh dana yang besar. Dari lembaga yudikatif, kita mengenal Akil Mochtar mantan ketua MA dan Subri seorang kepala kejaksaan negeri Lombok Tengah NTB yang batrusan ditangkap tangan.

Kalau membaca nama-nama para koruptor ternyata lebih banyak koruptonya adalah kaum pria. Memang kita harus merasa malu karena Tuhan menciptkan kita bukan untuk mencuri, merampok atau melakukan korupsi. Tuhan menciptakan kita sewajah denganNya untuk menjadi orang kudus, tak bercela di hadiratNya. Tuhan bahkan melengkapi kita semua dengan hati supaya mampu mengasihi dan bersikap jujur. Ketika hati nurani sudah lumpuh maka orang akan sulit membedakan mana dosa dan bukan dosa. Orang akan melakukan perbuatan-perbuatan dosa tanpa ada perasaan malu lagi.

Saya ingat Kardinal Xavier Nguyen Van Thuan pernah berkata: “Hatimu itu tidak terbuat dari batu. Hatimu itu mulia karena terbuat dari daging supaya memampukan anda untuk mencintai. Dengan gagah berani berpeganglah pada Salib Suci dengan kedua tanganmu dan letakkanlah di dalam hatimu salib itu”. Mari kita memandang Yesus sang Inspirator Spiritualitas Pria Katolik. Dia rela memikul Salib karena Ia sangat mencintai kita semua. Hingga saat ini Yesus Kristus tetaplah figur paling populer dari semua tokoh yang mengubah dunia ini. Kita berjalan bersama Kristus untuk membangun dunia ini menjadi baru.

Mari kita merenungkan hidup kita sepanjang hari ini dan boleh memeriksa bathin: “Perbuatan baik apa saja yang sudah anda lakukan sepanjang hari? Apakah hidupmu sebagai Pria katolik sepanjang hari ini mampu mengubah hidup banyak orang menjadi lebih baik, dan layak di hadirat Tuhan? Selidikilah hidupmu. Anda pria katolik pasti bisa! Anda juga berhati mulia!


PJSDB 

Saturday, December 14, 2013

Homili Hari Mingu Adventus III/A

Hari Mingu Adventus III/A
Yes 35:1-6a.10
Mzm 146:7.8-9a.9b-10
Yak 5:7-10
Mat 11:2-11

Bersukacita dalam Tuhan!

Pada hari ini kita memasuki Hari Minggu Adventus III. Pekan ketiga Adventus biasa disebut juga pekan sukacita karena makin dekatlah kita merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Sebuah antiphon yang kiranya tepat untuk diucapkan pada hari ini adalah: “Gaudete in Domino semper: iterum dico, gaudete. Dominus enim prope est” (Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah. Tuhan sudah dekat. Flp 4:4-5). Tokoh inspiratif bagi kita pada hari ini adalah nabi Yesaya dan Yohanes Pembaptis.

Mengapa nabi Yesaya menjadi salah satu inspirator kita? Pada hari ini nabi Yesaya dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan sendiri datang untuk menyelamatkan kita semua. Tuhan sedang bernubuat melalui Yesaya untuk menyampaikan kepada kaum Israel di Babel bahwa Tuhan adalah satu-satunya Penyelamat yang akan melepaskan mereka untuk kembali ke Sion.Tuhan sang Penyelamat itu adil dan kemuliaanNya akan memancar di antara bangsa-bangsa. Supaya lebih meyakinkan umat Israel, nabi Yesaya menggambarkan situasi alam semesta yang mereka kenal saat itu. Ia berkata: “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak sorai dan berbunga. Bunganya akan seperti bunga mawar dan bersorak sorai”. Padang gurun adalah sebuah simbol pergumulan hidup manusia. Di padang gurun itu orang dicobai untuk setia dan memilih untuk mengandalkan Tuhan atau mengandalkan dirinya sendiri. Mengandalkan Tuhan berarti keselamatan, mengandalkan diri berarti kematian.

Umat Allah yang letih lesu dan berbeban berat merasa dipulihkan oleh Sabda ini: “Kuatkanlah hatimu dan janganlah takut. Lihatlah, Allahmu akan datang dengan membawa pembalasan dan ganjaran. Ia sendiri datang dan menyelamatkan kamu.” Wujud keselamatan yang Tuhan berikan kepada manusia adalah memulihkan orang yang sakit dan membebaskan semua orang yang berbeban berat. Dalam hal ini orang-orang buta akan melihat, telinga orang tuli dibuka, orang lumpuh akan melompat seperti rusa, mulut orang bisu akan bersorak sorai. Yesaya memberikan figur seorang Allah yang mahapengasih dan penyayang kepada umatNya, terutama yang sedang menderita supaya dapat bersukacita dan bersorak sorai. Dalam sejarah Israel, janji Tuhan sungguh-sungguh dipenuhi ketika banyak orang Israel kembali ke Sion setelah Koresh mengeluarkan dekritnya. Mereka akan menjadi satu di Sion dan membangun Bait Allah untuk memuliakan Allah dengan sorak sorai selamanya.

Janji Tuhan ini dipenuhi ketika Yesus PuteraNya datang ke dunia. Ia melakukan kehendak Bapa di surga dengan menyelamatkan semua orang. Apa yang Yesus lakukan? Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa dengan menyembuhkan orang buta sehingga dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli dapat mendengar, orang mati dibangkitkan dan Injil diwartakan kepada kaum papa miskin. Semua pekerjaan ini dilakukan dengan sempurna oleh Yesus sehingga membangkitkan pertanyaan kepada banyak orang termasuk Yohanes Pembaptis tentang siapakah Yesus itu sebenarnya.

Dari dalam Penjara, Yohanes mengutus para muridNya untuk bertanya secara langsung kepada Yesus, apakah Dia sungguh-sungguh Mesias atau masih ada orang lain. Yesus tidak menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis tetapi menunjukkan perbuatan-perbuatan nyata sebagai wujud hadirnya Kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Semua tanda-tanda heran di lakukan Yesus untuk melengkapi semua seruan Yohanes di padang gurun bahwa dirinya akan semakin kecil dan Yesus semakin besar. Yesus sendiri menghormati Yohanes dan mengatakan bahwa dari semua orang yang lahir dari kandungan seorang ibu, Yohaneslah yang terbesar. Yohanes dikatakan terbesar karena ditentukan oleh Tuhan untuk mewartakan pertobatan melalui pembaptisan di Sungai Yordan, hidupnya sederhana teristimewa dalam hak berpakaian dan makanan. Ia juga tidak merasa tersaingi dengan kehadiran Yesus, bahkan ia memperkenalkan Yesus kepada para muridNya sebagai Anak Domba Allah.

Yohanes sudah menyiapkan kedatangan Yesus dengan seruan tobat dan pembaptisan dengan air. Banyak orang berdatangan termasuk Yesus untuk dibaptis sebagai tanda solidaritasNya dengan manusia. Yohanes kemudian menegur Herodes Antipas karena hidup perkawinannya yang tidak beres sehingga ia dipenjarakan. Selama dipenjara, Yesus tidak memiliki kesempatan untuk mengunjungi Yohanes, atau menitip pesan untuk menguatkannya. Namun Yohanes tetap mendengar pekerjaan-pekerjaan Yesus yang mengagumkan banyak orang. Mengherankan karena Yesus tidak menggunakan kuasaNya untuk membebaskannya dari penjara. Padahal dalam pemahaman Yohanes, Mesias juga membebaskan para tahanan di penjara. Inilah yang membuat Yohanes mengalami krisis iman di hadapan Yesus. Oleh karena itu Yohanes berani mengirim utusan untuk menanyakan identitas Yesus. Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak sangsi dan tidak menolak aku” (Mat 11:6).

Orang-orang benar mengalami krisis iman di hadapan Tuhan tetapi tidak menolak Tuhan. Yohanes Pembaptis mengalami krisis iman tetapi dipulihkan oleh hidup Yesus yang nyata dalam tanda-tanda atau dalam pekerjaan-pekerjaanNya. Ia tidak hanya bersabda tetapi juga melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa secara nyata bagi manusia dan sesuai dengan pengajarannya di padang gurun. Pada hari Minggu Adventus ke-IV kita juga akan berjumpa dengan st. Yosef yang mengalami krisis iman sehingga berencana untuk menceraikan Bunda Maria. Tuhan melalui malaikatNya memulihkan iman Yosef. Orang-orang benar selalu bertahan dalam penderitaan hingga mencapai kesempurnaan. Pada hari ini Tuhan mengajak kita untuk menantikan kedatanganNya dengan prioritas Tuhan bukan prioritas kita. Kita tidak harus berpikir tentang berapa pengorbanan yang sudah kita lakukan dalam pelayanan untuk Gereja tetapi pikirkanlah betapa besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia mengutus PuteraNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita (Yoh 3:16).
Apa yang harus kita lakukan?

St. Yakobus menyadarkan kita dalam bacaan kedua hari ini untuk meneguhkan hati karena Tuhan sudah dekat. Ada tiga ajakan penting dari Yakobus. Pertama, kita diajak untuk memiliki kesabaran yang tinggi. Ibarat para petani yang sabar menantikan hasil tanahnya yang berharga maka ia perlu sabar untuk menantikan hujan. Apakah anda orag yang sabar? Kedua, kita diajak untuk tidak bersungut-sungut. Orang yang suka bersungut-sungut akan menghancurkan dirinya sendiri karena tidak akan diterima dengan baik di dalam komunitas. Mengapa anda suka bersungut-sungut? Ketiga, kita tidak harus saling mempersalahkan. Biasanya orang cenderung membenarkan dirinya. Mengapa anda mudah mempersalahkan orang lain? St, Yakobus justru mengajak kita untuk bertahan dalam derita seperti para nabi ketika mewartakan kasih dan kebaikan Tuhan. Mari kita memadang Yohanes Pembaptis dan Yesus yang sama-sama menderita hingga wafat sebagai martir. Merea bertahan dalam derita supaya kebahagiaan dapat dialami umat manusia.

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini mengajak kita untuk tidak memperhitungkan jasa-jasa baik dalam karya pelayanan kita. Kita justru menikmati kebaikan Tuhan hari demi hari dalam hidup kita. Rahmat Tuhan selalu baru dan tidak pernah berhenti. Mari kita bersukacita senantiasa dalam Tuhan.

Doa: Tuhan, bantulah kami supaya hari ini kami dapat bersukacita dalam namaMu. Amen


PJSDB

Reungan 14 Desember 2013

Hari Sabtu, Pekan Advent II
Sir 48:1-4.9-11
Mzm 80:2ac.3b.15-16.18-19
Mat 17:10-13

Semoga Api itu Menyalah!

Pada hari ini kita berjumpa dengan seorang nabi besar dalam Kitab Perjanjian Lama yang diyakini oleh orang-orang Yahudi bahwa ia akan datang kembali mendahului sang Mesias. Dialah nabi Elia. Nama Elia dalam bahasa Yahudi disebut Eliyahu, Yunani disebut Elias dalam bahasa Arab disebut Ilyas. Nama ini berarti Allahku adalah Elohim (My God is Yahweh). Nabi Elia berasal dari Tisbe-Gilead hidup pada abad ke IX sebelum Masehi. Dia terkenal sebagai pembela iman akan Tuhan yang mahaesa, yang telah menyelamatkan Israel dari perbudakan Mesir. Dalam tradisi dikatakan ia tidak mati melainkan langsung diangkat ke Surga dengan keretanya, sehingga di harapkan akan datang kembali pada akhir zaman (Mal 3:23). Satu hal lagi yang perlu kita ingat dari Elia adalah pada zaman Ratu Yizabel, ia mendatangkan api dari langit.

Kitab Putra Sirak dalam bacaan pertama hari ini mengisahkan kembali kenangan akan nabi Elia. Nabi Elia dikatakan penampilannya bagaikan api, perkataannya laksana obor yang membakar. Ia mendatangkan kelaparan bagi Israel yang keras hatinya dan semangatnya mengurangi jumlah mereka. Ia juga yang memohon supaya langit dikunci oleh Tuhan dan api diturunkan sampai tiga kali. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa dalam olak angin berapi ia diangkat dalam kereta dan kuda-kuda berapi. Dialah yang akan mengembalikan hati bapa dan memulihkan segala suku Yakub. Dengan tanda-tanda heran ini maka Elia patut dihormati sebagai nabi yang penuh dengan Roh Kudus. Tuhan selalu menyertainya.

Figur Elia ini dalam kacamata Kristiani hadir sempurna dalam diri Yohanes Pembaptis (Mat 17:10-13; Luk 1:17). Penginjil Matius bersaksi bahwa ketika Yesus dan para murid terpilih turun dari gunung setelah menyaksikan kemuliaanNya, Yesus melarang mereka untuk menceritakan pengalaman rohani mereka di gunung sebelum melihat kebangkitan Anak Manusia dari kematian. Dengan nada keheranan mereka bertanya: “Mengapa para ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang lebih dahulu?” Menurut Yesus, Elia memang akan datang dan memulihkan segala sesuatu. Lebih jelas lagi Yesus mengatakan bahwa Elia memang sudah datang tetapi orang-orang tidak mengenal dia dan memperlakukannya sesuai dengan kehendak mereka. Anak manusia pun akan diperlakukan demikian sehingga Ia sangat menderita. Para murid menangkap maksud Yesus bahwa Yohanes Pembaptislah yang sedang menderita di penjara karena memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Nabi Elia dan Yohanes Pembaptis merupakan proto tipe dari Yesus Kristus sendiri. Elia meneriakkan Israel untuk menyembah Allah yang benar di Kerajaan Utara (Samaria). Mereka yang menyembah para baal diajak untuk bertobat dan kembali kepada Yahwe. Orang-orang Yahudi yakin sebagaimana dinubuatkan Maleakhi bahwa Elia akan datang untuk mempersiapkan kedatangan Mesias. Yohanes Pembaptis mengambil peran Elia untuk menyiapkan kedatangan Tuhan Yesus sang Mesias. Ia adalah suara yang berseru di padang gurun untuk pertobatan dan bagi mereka yang percaya siap untuk dibaptis. Banyak orang berubah karena mendengar pewartaan Elia dan Yohanes. Satu hal yang sama dari Elia dan Yohanes adalah mereka juga menderita. Hanya saja Elia diangkat ke Surga sementara Yohanes menjadi martir.

Yesus adalah Sabda Bapa yang menjadi manusia dan berkemah di tengah umat manusia (Yoh 1:14).  Ia juga melawan arus ketika berhadapan dengan orang-orang sezamanNya terutama para ahli taurat dan Farisi. Setiap pengajaranNya pasti mendapat perlawanan dari kedua kelompok ini. Yesus akhirnya wafat sebagai martir agung demi menyelamatkan umat manusia. Apa yang menjadi kemiripan antara Elia, Yohanes dan Yesus? Inilah salah satu ungkapan Yesus yang menyatukan ketiga figur ini: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyalah” (Luk 12:49). Api merupakan simbol yang penting, pertama kehadiran Roh Kudus yang menguatkan semua orang. Kedua sebagai simbol kemartiran dan kekudusan umat Allah yang hidup dalam kepenuhan Kristus. Api juga menjadi tanda kesaksian yang menyala-nyala, memberanikan semua orang kristiani untuk menunjukkan kasih Allah bagi manusia.

Sabda Tuhan pada hari ini sangat menguatkan kita. Kita butuh Roh Kudus sebagai Api kehidupan yang membakar semangat kita untuk berani mewartakan kebenaran dan keadilan. Ini juga menjadi salah satu cita-cita kita semua sebagai Gereja dalam masa adventus ini.

Doa: Tuhan Yesus, bantulah kami untuk selalu setia kepadaMu dan berani mewartakan keagunganMu. Amen


PJSDB

Friday, December 13, 2013

Renungan 13 Desember 2013

Hari Jumat, Pekan Adventus II
Yes 48:17-19
Mzm 1:1-2.3.4.6
Mat 11:16-19

Tuhan adalah Penuntun Hidupmu

Pada suatu hari saya didatangi seorang ibu untuk meminta pendapat saya tentang anaknya yang beranjak remaja. Ia memiliki kesulitan untuk berelasi dengan anaknya. Ia bingung karena anaknya sudah untuk mengikuti perintah-perintahnya. Saya mengatakan kepadanya bahwa pada zaman ini banyak keluarga memiliki pengalaman yang mirip. Relasi dengan anak dan pembinaan mereka merupakan hal yang dirasa makin sulit. Anak-anak sudah memiliki dunia tersendiri. Menurut saya, satu hal yang harus dilakukan oleh para orang tua adalah keteladanan. Orang tua tidak cukup hanya berbicara tetapi lebih baik menunjukkan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Keteladanan berbicara lebih lantang dari pada suara. Saya juga menganjurkannya untuk selalu mendoakan anaknya supaya bertumbuh menjadi anak yang baik. Pada suatu hari Minggu ibu itu membawa anaknya ke kantor dan memperkenalkannya kepada saya. Ia mengatakan bahwa setelah pertemuan kami, ia berusaha untuk menyediakan lebih banyak waktu bersama anaknya, mendengar dan mendoakannya.

Relasi antar pribadi bisa berubah ditandai dengan kehadiran yang aktif bersama orang-orang di sekitar kita. Seorang anak yang nakal sekali pun kalau selalu mengalami kehadiran aktif dari orang tuanya maka ia juga dapat berubah menjadi baik. Selama masa adventus ini kita semua belajar untuk merasakan kehadiran aktif dari Tuhan. Kita percaya bahwa Dia yang kita nantikan adalah Emanuel, Allah menyertai kita. Dia selalu hadir dan membimbing kita untuk mengikuti jalanNya. Bagaimana kita dapat menyadari bahwa kita mengikuti jalan-jalan Tuhan? Melalui nabi Yesaya Tuhan memperkenalkan diriNya sebagai Penebus, mahakudus dan Allah Israel. Ia berkata: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh” (Yes 48:17). Tuhan sedang berfirman bagi umat Israel yang menderita di Babel dan memberi peneguhan kepada mereka bahwa Dialah Allah yang benar, Allah yang mengajari mereka, Allah yang menuntun mereka. Allah hadir secara aktif di antara umatNya dan menuntun mereka mengikuti jalan-jalanNya.

Tuhan tidak hanya menuntun umatNya untuk mengikuti jalan-jalanNya. Ia juga memberikan perintah-perintah supaya mereka mentaatinya. Selama masa adeventus ini kita diarahkan Tuhan melalui sabdaNya untuk mengikuti perintah-perintahNya dan dengan demikian akan menikmati kemurahan hatiNya. Tuhan bersabda: “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan teus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapanKu” (Yes 48:18-19).

Apa yang kiranya mau kita nikmati dari kemurahan hati Tuhan karena mengikuti perintah-perintahNya? Pertama, Damai sejahtera.  Damai sejahtera adalah anugerah dari Tuhan, buah Roh Kudus sehingga dikatakan mengalir seperti sungai yang tidak kering. Tuhan memberikan damai sejahteraNya kepada kita dan damaiNya itu tidak sama dengan yang dunia tawarkan kepada manusia (Yoh 14:27). Dengan membawa damai kepada sesama maka kita akan disebut anak-anak Allah (Mat 5:9). Kedua, Kebahagiaan. Tuhan Yesus menyapa kaum papa miskin, berduka, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, membawa damai, dianiaya dan dicela karena Yesus sebagai pribadi-pribadi yang bahagia (Mat 5: 3-11). Di dalam perikop ini, Tuhan Yesus tidak memberi kepada mereka kiat untuk menjadi bahagia, tetapi bahwa hidup mereka apa adanya di hadapan Yesus itulah yang merupakan kebahagiaan. Melalui Yesaya, Tuhan menjanjikan kebahagiaan yang berlimpah laksana gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti. Ketiga, keturunan. Tuhan tidak hanya memberi damai dan kebahagiaan, tetapi keturunan merupakan puncak dari kebahagiaan manusia khususnya yang menikah. Anak-anak adalah anugerah Tuhan maka para orang tua menerima apa adanya. Keturunan manusia tidak akan dilenyapkan dari hadapan Tuhan.

Siapakah yang kiranya menjadi figur inspirator kita? Penginjil Matius menghadirkan dua figur yang saling melengkapi yakni Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus. Yesus sudah memuji Yohanes sebagai laki-laki yang terbesar yang lahir dari perempuan (Mat 11:11).  Yohanes tetaplah figur yang inspiratif karena kesederhanannya meskipun dianggap kerasukan setan. Yesus datang ke dunia dan memiliki sikap terbuka dengan kaum pendosa. Pola pendekatan Yesus adalah duduk bersama serta makan dan minum dengan mereka. Ia pun dilabel, pelahap, peminum dan sahabat pemungut cukai. Yohanes dan Yesus adalah model penuntun yang tepat. Yohanes menuntun orang-orang yang datang kepadanya untuk bertobat dan dibaptis sehingga layak menerima Yesus sang Mesias. Yesus menuntun para muridNya, GerejaNya untuk menuju kepada Bapa dan tinggal bersamaNya. Dia juga sekaligus jalan yang dilalui menuju kepada Bapa.

Sabda Tuhan pada hari ini membuat kita kagum dengan Tuhan. Dialah Penuntun yang benar sehingga kita memiliki damai, kebahagiaan dan keturunan yang membahagiakan. Mari kita bersukaria atas kebaikan Tuhan ini.

Doa: Tuhan, puji dan syukur kami panjatkan kepadaMu karena Engkau selalu baik dan menunutun kami. Amen.

PJSDB

Sunday, November 10, 2013

Pengumuman

Para pencinta haniesto.blogspot.com

Saya harus meminta maaf karena terhitung sejak 9 November,  saya tidak lagi postkan tulisan di blog ini. Kalian boleh masuk ke www.pejesdb.com dan mengakses semua tulisan di sana. Jangan lupa tetap menjadi follower dan buatlah comment seperlunya. 

Salam dan berkat selalu

P.John Laba Tolok, SDB
081339445038
28d50251
www.pejesdb.com

Thursday, November 7, 2013

Renungan 7 November 2013

Hari Kamis, Pekan Biasa XXXI
Rm 14:7-12
Mzm 27:1.4.13-14
Luk 15:1-10

Hidup dan Mati untuk Tuhan


Setiap orang pasti mengalami kelahiran dan kematian. Kelahiran mengawali hidup di dunia dan kematian tubuh mengakhiri hidup kita. Oleh karena itu baik hidup maupun mati merupakan dua bagian yang menyatu di dalam tubuh kita. Kita tidak akan menjauhi kematian dan akrab dengan kehidupan saja tetapi kedua-duanya menyatu dan akrab dengan kita. Penyair Khalil Gibran menulis: "Apabila engkau dengan sunguh hati menangkap hakikat kematian, bukalah hatimu selebar-lebarnya untuk wujud kehidupan, sebab kehidupan dan kematian adalah satu, sebagaimana sungai dan lautan adalah satu". Sebagai umat beriman kita selalu mengakui iman dengan berkata: “Aku percaya akan persekutuan para kudus dan kehidupan kekal”. Pengakuan iman ini menyadarkan kita bahwa kita berasal dari Tuhan dan akan kembali kepadaNya. Dia adalah asal muasal kehidupan kita sehingga tubuh kita yang fana ini akan menjadi sempurna atau kudus bersamaNya.

St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma melanjutkan pengajarannya bahwa kita semua mengalami hidup dan mati di dalam tangan Tuhan. Paulus berkata: “Tidak ada seorang pun di antara kita yang  hidup untuk dirinya sendiri dan tidak seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” (Rm 14:7-8). Pernyataan Paulus ini berdasar pada pengalaman akan Yesus Kristus sendiri. Yesus Kristus tidak pernah datang ke dunia untuk hidup bagi diriNya sendiri. Dia juga tidak pernah mati untuk diriNya sendiri. Seluruh kehidupan dan kematian Yesus hanya untuk keselamatan manusia. Ini adalah kehendak Bapa yang harus Ia taati. Dengan kehidupan dan kematianNya, Ia menjadi Tuhan bagi orang yang hidup dan mati.

Belajar dari Yesus yang hidup dan mati bagi manusia, Paulus lalu menyadarkan kita untuk bertumbuh menjadi sesama bagi manusia yang lain. Menjadi sesama bagi manusia yang lain berarti kita berusaha untuk tidak menghakimi atau menghina sesama. Kita semua percaya bahwa Tuhan Yesus sendiri akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan mati. Kita semua akan mengalami nasib yang sama dalam pengadilan terakhir. Maka kita pun akan mempertanggungjawabkan hidup kita di hadirat Tuhan yang Mahakudus. Oleh karena itu kita semua perlu menyadari bahwa baik hidup maupun mati, kita tetaplah milik Tuhan.

Tuhan Yesus sendiri menunjukkan sebuah komitmen untuk selalu mencari dan menyelamatkan orang-orang berdosa. Penginjil Lukas memberi kesaksian bahwa Yesus dalam pengajaranNya memberi perumpamaan tentang domba dan dirham yang hilang. Ketika Yesus kelihatan akrab dengan para pemungut cukai, orang-orang Farisi selalu bersungut-sungut. Mereka menghendaki supaya para pendosa itu di jauhi oleh Tuhan. Memang orang-orang Farisi memahami dosa dan akibatnya yakni hubungan dengan Tuhan menjadi retak. Maka semua orang yang dianggap orang benar seperti Yesus, tidak harus bersahabat dengan mereka. Terhadap pikiran mereka ini, Yesus menggunakan kesempatan untuk mengajar sekaligus meluruskan pikiran mereka. 

Ia mengajar perumpamaan yang pertama: Kalau ada seorang yang mempunya seratus ekor domba dan salah satunya tersesat maka ia akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor yang tidak tersesat dan mencari serta menyelamatkan satu ekor yang tersesat. Ketika menemukannya, ia akan bersukacita dengan mengangkat dan meletakkannya di atas pundaknya, memanggil para sahabat untuk bergembira bersama karena ia menemukan kembali domba yang tersesat. Perumpamaan kedua, Kalau ada seorang perempuan yang kehilangan satu dirham dari sepuluh dirham yang ia miliki maka ia akan menyalakan pelita, menyapu rumahnya, mencari dengan cermat sampai menemukannya. Ketika menemukannya, ia akan mengundang para sahabat kenalan dan tetangga untuk bergembira bersamanya karena berhasil menemukan satu dirhamnya yang hilang. Dengan kedua perumpamaan ini, Yesus mau mengatakan bahwa akan ada sukacita di surga kalau satu orang berdosa bertobat, lebih dari sembilan puluh sembilan orang yang mengaku diri orang benar dan tidak membutuhkan pertobatan. Para malaikat pun akan bergembira karena satu orang berdosa yang bertobat.

Adalah sukacita besar ketika kita juga menyadari diri kita sebagai orang berdosa sehingga membutuhkan Tuhan untuk menyelamatkan kita. Ada sukacita karena baik hidup dan mati, semuanya dipersembahkan untuk Tuhan. Maka Tuhan memang memiliki rencana indah untuk keselamatan kita. Ia senantiasa mencari dan menyelamatkan kita karena kita adalah milikNya. Masalahnya adalah kita suka lupa bahwa Tuhan mengasihi kita. Kita berpikir bahwa kita bisa menjalani hidup ini dengan kekuatan diri kita sendiri. Tuhan tidak lagi menjadi andalan hidup kita. Namun Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk kembali kepadaNya. Tuhan Allah dan para malaikatNya bersukacita ketika kita bertobat dan tinggal bersamaNya selama-lamanya, sebagai persekutuan para kudusNya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena Engkau memanggil kami untuk bertobat. Semoga hari ini kami boleh bertobat dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang membawa kami untuk menikmati dosa. Ampunilah kami ya Tuhan. Amen

PJSDB