Thursday, October 3, 2019

Food For Thought: Utusan


Utusan

Saya sangat terkesan dengan perkataan Yesus dalam Injil: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Luk 10:2). Gereja merenungkan perkataan Yesus ini sepanjang zaman, di mana tuaian selalu banyak dan pekerjannya terasa tetap sedikit. Tuhan Yesus sudah menyadarinya maka Ia menambahkan supaya ‘meminta’ kepada Tuan yang empunya tuaian untuk mengirim pekerjanya’. Meminta berarti berdoa seraya memohon supaya Tuhan mengirim para pekerja milik-Nya bagi tuaian yang melimpah itu.  Maka para ‘pekerja’ adalah milik Tuhan, dan bahwa Tuhanlah yang mengirim bukan mereka mengirim diri mereka sendiri kepada tuaian. Para pekerja benar-benar ‘limited edition’ sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit saja yang dipilih.

Karakter yang kuat dari para pekerja adalah, pertama, para pekerja itu tidak bermental instan. Mereka tidak kuatir akan apa yang mereka makan, minum atau pakai. Mereka tidak akan bertanya: “Apakah ada signal?” atau “Apakah ada wifi?” Tuhan sendiri berjanji: “Seorang pekerja patut mendapat upahnya!” Kedua, para pekerja itu siap dan rela berkurban. Mereka tidak muka duitan dalam melayani tetapi melayani tanpa pamrih. Ketiga, para pekerja membawa damai dan menyembuhkan yang mereka layani. Sebab itu bukanlah perpecahan, bukanlah luka yang hendak diberikan dalam pelayanan. Maka dari itu orang-orang milik Tuhan ini benar-benar limited edition!

Utusan yang benar dan benar-benar utusan. Para utusan masa kini lebih banyak hidup dalam kekuatiran. Ketaatan, kemiskinan dan kemurnian nyaris menjadi selogan saja bagi orang tertentu dalam hidupnya. Para pekerja lupa diri sehingga menjadi tidak taat, suka protes dan bersungut-sungut. Para pekerja menjadi orang kaya baru dalam hidupnya. Para pekerja tidak setia menjaga kemurnian hidupnya dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Padahal para pekerja milik Tuhan yang selalu didoakan Gereja sebagai umat Allah.

Satu kata yang paling tepat bagi para pekerja yang limited edition yakni ‘mohon ampun’. Mohon ampun karena tidak menjadi pekerja yang benar dan benar-benar pekerja. Mohon ampun karena kemanusiaan lebih menonjol dari keilahian dalam hidup pribadi. Mohon ampun karena tidak menjadi teladan yang terbaik bagi Gereja. Hanya dengan bersujud dan memohon ampun maka Tuhan akan memulihkan para pekerja dan Geraja-Nya.

PJ-SDB

Homili 3 Oktober 2019

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXVI
Neh. 8:1- 4a,5-6,7b-12
Mzm. 19:8,9,10,11
Luk. 10:1-12

Untuk itulah engkau diutus

Saya pernah diundang oleh seorang Romo kepala paroki untuk merayakan Ekaristi di sebuah stasi terpencil. Perjalanan ke stasi itu dapat ditempuh selama dua jam dengan mobil. Ketika tiba di stasi itu umat sudah menanti gembalanya dengan penuh kerinduan di depan gereja. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan hanya kelihatan dua orang dewasa yaitu Bapa ketua dewan stasi dan istrinya. Mereka menyapaku dengan ramah dan mempersilahkan saya untuk merayakan Ekaristi hari Minggu. Saya sudah menduga bahwa mereka yang akan menerima komuni kudus adalah pasutri dewan stasi. Dan benar juga dugaan saya, saya memperhatikan dua hosti kecil dan satu hosti besar di atas patena. Di atas kredens ada air berkat yang akan dipakai untuk memberkati anak-anak yang belum menerima komuni kudus. Saya merayakan Ekaristi hingga tuntas dan kembali ke rumah dengan selamat. Namun wajah lelah bercampur rasa kesal nampak dengan jelas. Seorang Romo muda bertanya kepada saya mengapa saya mengekspresikan wajah lelah dan kesal? Saya menceritaka pengalaman pelayanan saya di hari Minggu itu. Ia memandangku dan berkata: “Romo Rektor, untuk itulah engkau ditahbiskan dan diutus!” Rasanya semakin kesal tetapi saya merasa seperti sebuah sapaan untuk menyadari keluhuran panggilan dan perutusanku sebagai gembala.

Pengalaman-pengalaman pastoral ini semakin mendewasakan diri saya dalam melayani Tuhan dan sesama. Banyak kali semua harapan dalam pelayanan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebagai seorang abdi memang siap untuk melayani karena merupakan wujud nyata panggilan, namun orang yang dilayani dapatlah menjadi ‘tantangan’ dalam mewujudkan sebuah panggilan dan pelayanan. Dapat terjadi juga sebaliknya. Orang-orang yang dilayani siap untuk melayani, namun pelayanannya tidak siap untuk melayani atau kalaupun melayani tidak sepenuh hati. Ini benar-benar tantangan dalam sebuah panggilan dan pelayanan masa kini.

Pada hari ini kita mendengar kisah perutusan para abdi sekaligus utusan Tuhan Yesus. Penginjil Lukas melaporkan bahwa Tuhan Yesus menunjuk tujuh puluh murid dan mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya. Mungkin kita bertanya, mengapa panggilan, penunjukkan dan perutusan harus berdua-dua? Para utusan ini mendahului Yesus maka mereka harus memberi kesaksian yang autentik. Kita mengingat dalam Kitab Perjanjian Lama dikatakan: "Satu orang saksi saja tidak dapat menggugat seseorang mengenai perkara kesalahan apapun atau dosa apapun yang mungkin dilakukannya; baru atas keterangan dua atau tiga orang saksi perkara itu tidak disangsikan.” (Ul 19:15). Maka para utusan ini tidak bersaksi atas dirinya sendiri tetapi bersaksi tentang Yesus Kristus.

Tuhan Yesus adalah seorang pendidik sejati. Ia memandang para murid yang siap diutus-Nya, dan urgensinya Kerajaan Allah yang sedang hadir di dunia ini. Ia berkata: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Luk 10:2). Kerajaan Allah itu sudah hadir dan begitu luas. Tuhan Yesus membutuhkan manusia sebagai rekan kerja-Nya di dalam Kerajaan Allah. Tuhan Yesus tahu bahwa Bapa memiliki para pilihan yang siap untuk melayani Kerajaan-Nya. Maka Ia dengan tepat mengatakan ‘mintalah kepada yang empunya tuaian’. Tentu saja yang empunya tuaian adalah Tuhan sendiri dan ‘limited edition’. Tuhan sendiri yang akan memberi pekerja asalkan Gereja berani berdoa, meminta kepada Tuhan yang empunya pekerja-pekerja.

Para pekerja yang siap untuk menuai adalah milik Tuhan dan bekerja atas nama Tuhan. Mereka siap diutus dan harus memiliki karakter yang kuat, tegas dan berwibawa sebab mereka akan diutus sama seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Penderitaan dan kemartiran ada di depan mata mereka. Kapan saja mereka dapat menumpahkan darahnya karena cinta kepada Yesus. Di samping karakter yang kuat, Tuhan Yesus juga memberikan anjuran-anjuran yang intinya adalah menjadi abdi dan utusan yang bebas di hadirat Tuhan. Sebab itu mereka harus menunjukkan kesederhanaan hidup, tidak kuatir akan apa yang akan mereka makan dan minum atau berpakaian. Mereka tidak perlu memberi salam sebab mereka akan lupa pada tujuan perutusan mereka. Misi para abdi dan utusan adalah mewartakan kasih dan damai kepada semua orang.

Para abdi dan utusan ini haruslah konsisten untuk mewartakan Kerajaan Allah. Mereka makan apa saja yang dihidangkan tanpa perlu memilih apalagi membanding-bandingkan makanan dan minuman. Mereka siap untuk menyembuhkan orang-orang sakit dan memperhatikan kaum papa miskin. Ini adalah optio fundamental pelayanan seorang abdi dan utusan Tuhan. Menjala manusia berarti menjadi manusia sejahtera lahir dan bathin. Manusia harus menjadi sungguh-sungguh manusia yang beriman kepada Tuhan tetapi juga memiliki karakter yang kuat sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya mereka juga harus berani mengambil keputusan manakala ada kesulitan dan penolakan terhadap Kerajaan Allah dan kehidupan mereka sebagai abdi dan utusan.

Satu hal lain yang patut direnungkan oleh para abdi dan utusan Tuhan adalah mewartakan sabda Tuhan dalam hidup mereka. Untuk dapat mewartakan Sabda Tuhan maka orang harus siap untuk mendengar, membaca dan merenungkannya di dalam hidupnya. Dalam Kitab Nehemia, kita mendapat gambaran tentang ‘Lectio Divina’ yang dilakukan umat Allah setelah mereka kembali dari Babilonia. Mereka memiliki kerinduan untuk mendengar sabda dan memahaminya. Tanggapan positif sebagai orang yang mendengar sabda adalah manyatakan iman dan kepercayaan dengan perkataan ‘Amin!’ Selanjutnya mereka menjadi rasul yang mewartakan sabda kepada sesama yang lain.

Pada hari ini kita perlu menyadari tugas panggilan dan perutusan kita. Masing-masing kita memiliki panggilan yang berasal dari Tuhan. Kalau Tuhan memanggilmu untuk menjadi bapa dan ibu atau orang tua maka jadilah yang terbaik. Kalau Tuhan memanggilmu untuk menjadi anak maka jadilah anak yang terbaik dalam hidupmu. Kalau Tuhan menghendaki engkau menjadi imam, biarawan dan biarawati maka jadilah yang terbaik sebab Gereja telah mendoakan, dan Tuhan mengutusmu menjadi abdi dan utusan-Nya. Bersyukurlah atas panggilan dan perutusanmu saat ini.

PJ-SDB  

Wednesday, October 2, 2019

Refleksi Rosario Suci: Berikan aku hatimu


Maria, berikanlah kepadaku hatimu

Kita semua memasuki bulan Oktober, bulan yang didedikasikan kepada Bunda Maria atau bulan Rosario. Sejak hari pertama bulan ini, hampir semua Paroki mengadakan misa pembukaan bulan Rosario di Gereja atau di depan Gua Maria. Saya sendiri berkesempatan untuk merayakan Misa Pembukaan bulan Rosario bersama lebih dari seribu umat katolik dari Paroki Maria Auxiliadora Comoro, Dili, Timor Leste. Masing-masing lingkungan membawa patung Bunda Maria yang akan berkunjung ke setiap keluarga selama bulan Oktober ini. Saya memperhatikan umat katolik benar-benar menunjukkan devosi dan cinta mereka kepada Bunda Maria. Saya merasa yakin bahwa banyak di antara pembaca ‘Warta’ akan turut serta mendoakan Rosario suci di setiap KBG atau lingkungan sepanjang bulan Oktober ini.

Mengapa dia begitu istimewa?

Saya merasa yakin bahwa dari semua nama orang kudus, Marialah yang paling popular sebab banyak di antara para kudus pun menjadi kudus karena mengikuti teladan Bunda Maria sendiri. Sepanjang sejarah Gereja, hingga saat ini, Bunda Maria selalu hadir untuk mendampingi dan melindungi Gereja dari bahaya dan malapetaka. Sejak abad ke-XII, Gereja sudah berdevosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario. Pikiran Gereja saat itu adalah mendoakan 50 manik-manik sambil mengucapkan doa Salam Maria, semua ini berkaitan dengan ayat-ayat dari Kitab Mazmur sebagai memorial tentang kehidupan Tuhan Yesus bersama Bunda Maria.

St. Dominikus de Guzman (1221) sangat dikenal sebagai orang kudus yang menyebarkan doa rosario. Ia mengajarkan doa rosario dalam pelayanannya di antara para Albigensian yang tidak mempercayai adanya misteri inkarnasi atau misteri kehidupan Kristus sebagai Allah yang menjelma menjadi manusia. Tujuan utama pendarasan doa rosario bagi St. Dominikus adalah untuk merenungkan misteri kehidupan Kristus. Sejak abad ke-XVI, Gereja mulai membentuk doa Rosario dengan tiga misteri atau peristiwa Yesus yaitu sedih, gembira dan mulia, di mana setiap misteri Rosario Suci ini terdapat masing-masing lima peristiwa Yesus. Pada tanggal 16 Oktober 2002, St. Yohanes Paulus II, menambahkan misteri terang yang kita doakan hingga saat ini.

Rosario merupakan sebuah doa yang sederhana dan ajaib. Salah satu kisah yang menjadi dasar pijakan bagi kita untuk berdevosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario adalah pada saat Gereja Katolik mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan kesultanan Ottman dari Turki yang ingin menguasai Eropa saat itu.  Agama Kristen berada dalam bahaya kepunahan di Eropa saat itu oleh orang-orang Islam dari Turki. Jumlah pasukan Ottman dari Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Paus Pius V sangat menyadari bahaya ini maka ia memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario sambil memohon pertolongan doa Bunda Maria, supaya pasukan Kristen yang jumlahnya terbatas ini memperoleh kemenangan. Komandan Armada Katolik bernama Don Juan dari Austria, bersama semua umat Katolik di seluruh Eropa untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Pasukan Katolik menang dalam pertempuran pada tanggal 7 Oktober dan diyakini sebagai pertolongan dari Bunda Maria. Peristiwa ini menambah gelar Bunda Maria sebagai Penolong Umat Kristiani, sebuah devosi yang sangat dipopulerkan oleh St. Yohanes Bosco di kemudian hari.

Mengapa Maria begitu penting dalam Rosario suci kita? Ini adalah sebuah pertanyaan yang membantu kita untuk berefleksi lebih mendalam lagi tentang Bunda Maria. Dalam setiap peristiwa Rosario Suci, kita merenungkan peristiwa Yesus sendiri melalui Bunda Maria. Maria adalah manusia yang paling dekat dengan Yesus Kristus Tuhan kita, sebab dia mengandung, melahirkan dan membesarkan Yesus. Dia dikandung tanpa noda dosa karena jasa Yesus Kristus Puteranya. Setiap peristiwa atau misteri Rosario Suci, kita mengenang peristiwa Yesus bukan Peristiwa Maria. Kita merenungkan Yesus dalam konteks relasi Maria yang mendalam dengan Yesus Puteranya. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa Maria begitu penting dan mengapa kita mendoakan Rosario Suci. Sekarang kita paham bahwa Yesuslah yang menjadi alasan utama kita berdoa Rosario. Benarlah perkataan ini: ‘Ad Iesum per Mariam’ artinya melalui Bunda Maria kita bersatu dengan Yesus.

St. Yohanes Paulus II dalam ‘Rosarium Virginis Mariae’ menulis: “Sebagai doa damai, rosario selalu dan akan selalu menjadi doa keluarga dan doa untuk keluarga. Ada saatnya dulu, bahwa doa ini menjadi doa kesayangan keluarga, dan doa ini yang membawa setiap anggota keluarga menjadi dekat satu sama lain…. Kita perlu kembali kepada kebiasaan doa keluarga bersama berdoa untuk keluarga-keluarga. (…) Keluarga yang berdoa bersama, akan tetap tinggal bersama. (…) Para anggota keluarga, dengan mengarahkan pandangan pada Yesus juga akan mempu memandang satu sama lain dengan mata kasih, siap untuk berbagi, untuk saling mendukung, saling mengampuni dan melihat perjanjian kasih mereka diperbaharui oleh Roh Allah sendiri.” (RVM, 41).

Berikanlah kepadaku hatimu

Saya mengingat sebuah doa sederhana dari St. Theresia dari Kalkuta ini: “Maria, berikan kepadaku hatimu: yang begitu indah, begitu murni, tak bernoda; hatimu begitu penuh dengan cinta dan kerendahan hati bahwa saya dapat menerima Yesus di dalam Roti Kehidupan dan mencintai-Nya seperti dirimu mencintai-Nya dan melayani-Nya di dalam samaran orang-orang miskin yang menyusahkan”. Doa sederhana ini mewakili harapan banyak di antara kita yang mengasihi Bunda Maria. Sebagaimana saya kemukakan di atas bahwa banyak orang kudus menjadi kudus saat ini karena keteladanan yang terbaik dari Bunda Maria. Santa Theresia dari Kalkuta berhasil membuktikannya melalui doanya ini. Bagi Santa Theresia, hati Bunda Maria adalah hati yang indah, hati yang begitu murni, hati yang tak bernoda, hati yang penuh dengan cinta kasih dan kerendahan hati. Hati Maria seperti ini yang memungkinkan dia begitu menyatu dengan Yesus Kristus Puteranya.

Kita memohon supaya Bunda Maria juga memberi hatinya kepada kita. Hati Maria Tak Bernoda yang dahulu dikenal dengan sebutan Hati Kudus Maria menjadi milik kita.  Sebutan Hati Maria Tak Bernoda merupakan devosi umat Katolik yang merujuk pada hati dalam tubuh Bunda Maria sendiri. Hati Bunda Maria menggambarkan kehidupan pribadi Santa Perawan Suci Maria, kebahagiaan, kesedihan, kebijaksanaan dan kesempurnaannya yang tersembunyi. Di atas semua kebajikan ini ada cinta kasihnya yang murni kepada Allah Bapa. Ada cinta keibuannya kepada putranya, Yesus Kristus. Ada cintanya yang mendalam kepada kita semua. Sebab itu dengan memohon, berikanlah hatimu bunda Maria, berarti kita memohon agar cinta Bunda Maria kepada Tuhan dan sesama juga menjadi milik kita. Kita mampu mencintai dengan hati Bunda Maria yang suci dan tak bernoda.

Kata-kata yang tidak pernah cukup

Santu Bernardus pernah berkata: “De Maria nunquam satis” artinya, tentang Maria kata-kata kita tidak pernah cukup. Perkataan Santu Bernardus ini memang benar adanya. Cobalah kita pikirkan, berapa gelar yang diberikan manusia kepada Bunda Maria? Kalau kita mendoakan Litani Santa Perawan Maria maka kita seakan merasa tidak cukup kata-kata indah kita bagi Bunda Maria. Misalnya, Maria sebagai ‘Bunda’ dalam Litani Suci seperti ini: Bunda Kristus, Bunda Gereja, Bunda rahmat ilahi, Bunda yang tersuci, Bunda yang termurni, Bunda yang tetap perawan, Bunda yang tak bercela, Bunda yang patut dicintai, Bunda yang patut dikagumi, Bunda penasihat yang baik, Bunda Pencipta, Bunda Penebus. Kita masih merasa kurang dan mau menambah kata lain setelah kata ‘Bunda’. Kita menemukan juga gelar Bunda Maria dalam doa Litani ini sebagai cermin, takhta, pohon, bunga, benteng, rumah dan lain sebagainya.

Realitas ini menunjukkan bahwa Bunda Maria memang seorang wanita yang luar biasa. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki banyak gelar dan penghormatan seperti Maria. Tentu saja semua ini bukan karena keinginan Maria, bukan karena kehebatannya, tetapi semata-mata karena jasa Yesus Kristus Puteranya. Yesus menghendaki supaya nama-Nya yang kudus dimuliakan melalui Bunda Maria. Semua ini adalah rencana Allah bagi Maria bukan sekedar rencana dan keinginannya sendiri. Kalau hanya keinginan manusiawi semata maka tentu tidak ada banyak gelar baginya. Saya teringat pada St. Theresia dari Lisieux yang berkata: “Begitu sukacitanya saat mengingat bahwa Maria adalah ibu kita! Sejak ia begitu mengasihi kita dan mengetahui kelemahan kita, apalagi yang perlu kita takutkan?” Kita tidak perlu takut dengan berbagai persoalan hidup kita sebab ada Maria sebagai Ibu dan penolong kita di hadapan Tuhan.

Kata-kata kita tidak pernah cukup ketika kita berdoa Rosario dan melakukan devosi kepada Bunda Maria. Banyak persoalan hidup yang datang bergantian dalam hidup kita, dan ada satu sosok yang mendampingi kita yaitu Maria. St. Maximilian Kolbe berkata: “Jangan pernah takut untuk mengasihi Perawan Yang terberkati secara berlebihan. Anda tidak pernah bisa mencintainya lebih dari yang Yesus lakukan”. Banyak kali kita puas dengan kehidupan devosi kita kepada Bunda Maria, padahal masih belum cukup. Tuhan Yesus jauh lebih mengasihi Bunda Maria bukan kita. Kita masih berada dalam proses mengikuti teladan Yesus yang mengasihi ibunya, meskipun Yesus adalah Tuhan dan Maria adalah manusia seperti kita. Sebab itu kalau berdevosi, jangan pernah menghitung-hitung kehidupan devosionalmu kepada Bunda Maria karena Yesus lebih mengasihinya.

Mari mencintainya

Hal yang paling indah dan berkenan untuk kita berikan kepada Bunda Maria adalah cinta kasih kita kepadanya. Kita menunjukkan diri kita sebagai putra dan putri Maria yang selalu rindu untuk mengasihinya. St. Josemaria Escriva pernah berkata: “Cintai Bunda kita. Dan ia akan memperoleh rahmat yang berlimpah-limpah untuk membantumu untuk mengalahkan pergumulanmu sehari-hari”. Jangan takut untuk mencintai Bunda Maria sebab dia adalah pendoa yang setia bagi kita. Kita selalu lupa berdoa, tetapi dia tidak pernah melupakan kita dalam doa-doanya. Kita semua selalu memohon: “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amen.”
Saya mengakhiri permenungan ini dengan mengutip perkataan Santa Faustina Kowalska berikut ini: “Untuk memberikan pujian yang layak pada Kerahiman Tuhan, kami mempersatukan diri kami dengan Bunda-Mu yang Tak Bernoda, untuk kemudian mazmur kami akan lebih berkenan kepada-Mu, karena dia telah dipilih dari antara manusia dan malaikat. Melalui dia, seperti melalui kristal murni, Kerahiman-Mu diteruskan kepada kami. Melalui dia, manusia menjadi berkenan kepada Allah; melalui dia, aliran rahmat mengalir ke atas kami.” Bunda Maria, berikanlah hatimu kepadaku dan jadikanlah hatiku seperti hatimu yang suci dan tak bernoda.

P. John Laba, SDB

Food For Thought: Maria Ratu para Malaikat

Ratu para Malaikat

Kita semua mengenal Litani Santa Perawan Maria yang selalu didoakan sesuai kebutuhan kita. Litani Santa Perawan Maria ini sudah menjadi bagian dalam doa devosional kepada Bunda Maria di dalam Gereja Katolik pada tahun 1558, dan disahkan oleh Paus Siktus V pada tahun 1587. Di dalam Litani kepada Bunda Maria ini, kita mengekspresikan cinta kasih dan hormat kepada Bunda Maria karena teladan kekudusan yang ditunjukkannya kepada kita. Salah satu kalimat doa dalam Litani ini adalah Bunda Maria sebagai Ratu para Malaikat. Gereja katolik menghormati Bunda Maria sebagai Ratu para Malaikat sebagai bagaian dari keyakinan Gereja bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya, dia yang dikandung tanpa noda berada di surga sebagai Ratu Surga bersama Puteranya Yesus sebagai Raja segala raja di hadapan Allah Bapa dan Roh Kudus. Maria adalah mempelai Roh Kudus maka dengan sendirinya ia menjadi Ratu para Malaikat.

Para Malaikat adalah mereka yang siang dan malam melayani Tuhan di Surga, bersama para kudus. Bunda Maria sebagai Ratu para Malaikat melayani Tuhan dan manusia. Kita semua percaya bahwa Bunda Maria adalah salah seorang perantara doa-doa kita kepada Yesus Kristus Puteranya yang merupakan satu-satunya Pengantara kita kepada Bapa. Kita selalu memohon: “Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amen”. Bunda Maria tetap mendoakan kita melalui Yesus Kristus Puteranya. Dialah yang selalu berbicara dengan Yesus Puteranya ketika melihat dan mengetahui kebutuhan kita sebagaimana dikatakannya dalam pernikahan di Kana: “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). 

Bunda Maria bersama para malaikat pelindung mengantar kita ke jalan yang benar. Tuhan Allah sendiri berjanji: "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.” (Kel 23:20). Kita juga percaya bahwa Bunda Maria sebagai Ratu para Malaikat turut serta mengantar kita ke tempat yang disediakan yaitu surga yang kita dambakan. Betapa hati kita bersukacita sebab Tuhan mengasihi kita dengan memberi Maria sebagai Ibu dan model kekudusan, Ratu para malaikat. Para malaikat pelindung yang selalu menemani dan melindungi kita dari segala yang jahat bersama Bunda Maria.

Tuhan memberkati kita semua,

PJ-SDB

Homili 2 Oktober 2019 - Malaikat Pelindung

Peringatan Wajib Para Malaikat Pelindung
Kel. 23:20-23a
Mzm. 91:1-2,3-4,5-6,10-11
Mat. 18:1-5,10

Lectio:

Sekali peristiwa datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.
Demikianlah Injil Tuhan kita.
Terpujilah Kristus.

Renungan:

Dia melindungi dan mendampingimu!


Pada hari ini kita mengenang para malaikat pelindung. Tuhan Allah sendiri mengingatkan kita semua tentang malaikat pelindung ini dalam Kitab Perjanjian Lama. Secara khusus di dalam Kitab Keluaran dikatakan: "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia. Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu.” (Kel 23: 20-22). Perikop ini menolong kita mendapat gambaran bahwa malaikat pelindung itu selalu berjalan di depan kita dan bertugas untuk melindungi perjalanan hidup kita dan membawa kita ke tempat yang disediakan Tuhan.

Pengajaran dari Kitab Suci ini menjadi dasar bagi semua ajaran Katekismus Gereja Katolik KGK). Dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan begini: “Sejak masa anak-anak (Mat 18:10) sampai pada kematiannya (Luk 16:22), malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan (Mzm 34:8; 91:10-13) dan doa permohonan (Ayb 33:23-24; Za 1:12; Tob 12:12). Katekismus Gereja Katolik lalu mengutip Santu Basilius yang mengatakan: “Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan” (Basilius, Eun. 3, 1). Sejak di dunia ini, dalam iman, kehidupan Kristen mengambil bagian di dalam kebahagiaan persekutuan para malaikat dan manusia yang bersatu dalam Allah.” (KGK, 336). Di bagian lain, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: “Gereja menghormati para malaikat yang mendampingi Gereja dalam ziarah duniawinya dan melindungi setiap manusia.” (KGK, 352).
Berdasarkan pengajaran Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik ini, kita dapat memahami tiga peran dari penting dari para malaikat pelindung, yakni pertama, para malaikat pelindung itu memuliakan dan melayani Tuhan Allah siang dan malam. Kedua, para malaikat pelindung itu melindungi manusia dan memperhatikan keselamatannya. Ketiga, bahwa setiap umat beriman mempunyai malaikat pelindung yang khusus sejak Baptisan.

Perikop Injil yang barusan kita dengar pada hari ini mengisahkan tentang para murid yang menunjukkan kelemahan manusiawinya di hadapan Yesus. Ketika itu ada murid yang berani bertanya kepada-Nya tentang siapakah yang terbesar di dalam Kerajaan Surga. Yesus tidak mencari sebuah teori baru, tetapi menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka dan berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." (Mat 18:3-5). Pada akhirnya Yesus menegaskan: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 18:10).

Setiap orang memiliki malaikatnya sendiri-sendiri. Tuhan memberikannya kepada setiap manusia untuk melindungi dan mengantarnya ke tempat yang benar, sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak kali kita tidak menyadari bahwa Tuhan memberikan malaikat pelindung supaya kita mentaatinya sebab pada malaikat pelindung ada nama Allah sendiri yang harus kita kasih dan taati. Kehadian malaikat pelindung memungkinkan kita untuk menjadi lebih rendah hati supaya serupa dengan Tuhan Yesus yang lemah lembut dan rendah hati.

Kehadiran seorang malaikat adalah bukti bahwa Tuhan mengasihi kita sampai tuntas. Dia tidak membiarkan kita sendirian tetapi selalu ada bersama dengan-Nya. Kita pun dipanggil untuk menjadi serupa dengan malaikat pelindung yang selalu hadir dalam kehidupan sesama kita. Para orang tua selalu ada bersama anak-anaknya dan menunjukkan diri mereka sebagai pendidik pertama dan utama.  Para pendidik dan siapa saja sesuai dengan profesinya dapat menjadi serupa dengan malaikat pelindung bagi sesama yang lain. Intinyanya, kita juga dapat menjadi serupa dengan malaikat pelindung di dunia ini.

Doa: “Malaikat Allah, engkau yang diserahi oleh kemurahan Tuhan untuk melindungi aku, terangilah, lindungilah, bimbinglah dan hantarlah aku ke kehidupan kekal. Amin”.

PJ-SDB

Tuesday, October 1, 2019

Food For Thought: Maria


Maria, orang kudus dari para kudus!

Saya saya sedang membaca kembali Seruan Apostolik Paus Fransiskus ‘Gaudete et Exultate’ (Bersukacita dan bergembiralah). Secara kebetulan saya membacanya dan memasuki bagian-bagian terakhir di mana Sri Paus memfokuskan perhatian kita semua kepada Bunda Maria. Paus Fransiskus menulis: “Saya ingin agar Maria memahkotai refleksi ini, sebab ia telah menghidupi Sabda Bahagia Yesus lebih daripada yang lain. Ia adalah wanita yang bersukacita di hadapan Allah, yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya, dan membiarkan dirinya ditembusi oleh pedang. Maria adalah orang kudus di antara para kudus, yang paling terberkati. Ia mengajar kita jalan menuju kekudusan dan menyertai kita. Ia tidak mau bila kita jatuh lalu tetap tinggal di tanah, dan kadang-kadang ia menggendong kita tanpa menghakimi kita. Percakapan kita dengannya menghibur kita, membebaskan dan menguduskan kita. Maria, Bunda kita, tidak membutuhkan banyak kata. Ia tidak membutuhkan kita untuk berusaha menceritakan apa yang terjadi. Cukuplah selalu dan senantiasa membisikan: “Salam Maria…” (GE, 176).

Perkataan Bapa Suci ini sederhana namun sangat mendalam. Maria, bunda kita tetaplah menjadi model kekudusan bagi kita semua. Dia menghidupi semua Sabda Bahagia yang merupakan inspirasi kekudusan kita di dalam Injil. Dia menunjukkan kekhasan diri dan kekudusannya: bersukacita di hadapan Allah, yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya, dan membiarkan dirinya ditembusi oleh pedang. Semua ini sungguh-sungguh menginspirasikan kita untuk semakin mengikuti teladan kekudusan Bunda Maria, membiarkan diri kita dibimbing olehnya. Maria membantu kita untuk bertumbuh dalam kasih yang mendalam, kasih seluas samudera raya serupa dengan nama dan dirinya sendiri. Kita berdoa rosario di bukan rosario ini, setiap manik-manik yang lewat di tangan kita semakin mengkarabkan dan mempersatukan kita dengan Tuhan Yesus Kristus. Benar apa yang diungkapkan santu Bernardus: “De Maria nunquam satis! Tentang Maria tidak pernah ada kata-kata kita yang cukup baginya.

Kita mengawali bulan Oktober sebagai bulan yang didedikasikan untuk karya-karya misi. Kita berjumpa dengan Santa Theresia dari Lisieux, sang bunga untuk Yesus. Dia mengajarkan kita sebuah jalan kecil menuju kekudusan. Ia berkata: "Kekudusan adalah suatu sikap hati, yang menempatkan kita ke dalam tangan Tuhan, kecil dan rendah hati, menyadari kelemahan kita dan secara buta mengandalkan kebaikan Ke-Bapaan-Nya." (Percakapan Terakhir). Mengapa ada kekudusan? Hanya ada satu jawaban pasti dari Tuhan yakni karena ada cinta. Allah adalah kasih dan segalanya adalah kasih. Santa Theresa berkata: "Oh Yesus, aku tahu cinta hanya dapat dibalas dengan cinta, maka aku sudah menemukan alat untuk memuaskan hatiku dengan memberikan cinta kepada Cinta-Mu." (Otobiografi)

Saya mengakhiri dengan sebuah doa kepada Santa Theresia dari Lisieux:

O Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, tolong petikkan bagiku sekuntum mawar dari taman surgawi dan kirimkan padaku dengan suatu amanat cinta. O Bunga Kecil dari Yesus mintalah kepada Allah hari ini untuk menganugerahkan rahmat yang sangat kubutuhkan... (Katakan permohonanmu).
Santa Theresia, bantulah aku untuk senantiasa percaya kepada belaskasih Allah yang sedemikian besar, sebagaimana telah engkau wujudkan di dalam hidupmu, sehingga aku boleh mengikuti Jalan Kecilmu setiap hari. Amen.

PJ-SDB

Homili 1 Oktober 2019 - Santa Theresia dari Lisieux

Pesta St. Theresia dari Lisieux
Yes. 66:10-14c
Mzm. 131:1,2,3
Mat. 18:1-5
Sukacita menyambut Kristus

Pada hari ini kita merayakan pesta St. Theresia dari Lisieux. Beliau lahir di Alencon, Perancis, tanggal 2 Januari 1873 dan meninggal di Lisieux, Perancis, tanggal 30 September 1897, saat berumur 24 tahun. Sapaan-sapaan lain dari orang kudus ini adalah Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus. Ia terlahir dengan nama asli Marie-Françoise-Theresia Martin. Dia bergabung dengan para Suster Karmelit. Dia juga dikenal sebagai Bunga Kecil Yesus dan menjadi pelindung karya misi di dalam Gereja. St. Theresa memiliki sebuah komitmen untuk menjadi kudus sejak usia dini. Pengalaman kekudusan ini dibagikannya ketika berkata: “Anda tidak bisa menjadi orang Kudus yang setengah-setengah; anda harus menjadi orang Kudus yang penuh atau bukan orang Kudus sama sekali.” Perkataannya ini merupakan ungkapan diri dan komitmen kekudusannya. Kekudusan memiliki dasar cinta sebab ia percaya bahwa Allah adalah kasih kasih. Berkaitan dengan ini Theresia berkata: “Cinta membuktikan dirinya dengan tindakan, jadi bagaimana aku menunjukkan cinta aku? Aku tidak bisa melakukan jasa besar. Cara yang dapat kulakukan untuk membuktikan cintaku adalah dengan menyebarkan bunga dan bunga ini adalah pengorbanan yang sangat kecil, setiap pandangan dan kata, dan hal yang kulakukan adalah aksi cinta yang terkecil.” Perkataannya ini sekaligus menjadi tanda bahwa ia memiliki sukacita besar untuk menyambut Yesus di dalam hidupnya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini membuka wawasan kita untuk mengerti tentang sukacita untuk menyambut Yesus di dalam hidup kita, sebagaimana diteladani oleh St. Theresia sendiri. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan kita dengan perkataannya ini: “Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya! Supaya kamu mengisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas.” (Yes 66:10-11). Kalau kita ditanya apa yang sedang kita cari di dunia ini, maka satu jawaban yang pasti adalah kita mencari sukacita dan kebahagiaan. Kita bersukacita karena Tuhan ada dan senantiasa menyertai dan mengasihi kita apa adanya. Apapun kehidupan kita, aneka pengalaman yang menyakitkan atau membahagiakan selalu membawa kita kepada Tuhan Mahakasih.

Kita mencari dan menemukan sukacita di dalam Tuhan. Dialah Tuhan yang mengasihi dan menyelamatkan kita semua. Nabi Yesaya melanjutkan nubuat Tuhan begini: “Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan.” Apa yang dapat kita pahami dari perkataan Tuhan ini? Keselamatan atau kebahagiaan abadi hanya ada dalam Tuhan. Ia mengalirkan keselamatan laksana sungai bagi manusia. Manusia sendiri akan merasakan kasih dan kebaikan Tuhan yang berlimpah-limpah. Ekspresi kasih yang begitu intim antara Tuhan dan manusia: menyusu, digendong dan dibelai-belai dalam pangkuan. Tuhan Allah Bapa berhati ibu yang senantiasa mengalami penghiburan.

Nabi Yesaya menghadirkan wajah Tuhan yang Mahabaik dan berlimpah kasih setia-Nya. Salah satu kebajikan yang Tuhan tunjukkan adalah kerendahan hati. Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari posisi, kedudukan dan serig lupa akan kebajikan kerendahan hati. Maka Tuhan Yesus menasihati para murid-Nya untuk selalu rendah hati. Inilah perkataan Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” (Mat 18:3-5).

Bacaan-bacaab Kitab Suci yang kita dengar pada hari ini juga merupakan gambaran diri Santa Teresa dari Kanak-kanak Yesus. Dia seorang kudus yang mengungkapkan diri apa adanya di hadapan Yesus tersalib. Inilah perkataannya di hadapan Yesus tersalib: "Di suatu hari Minggu kupandang Yesus di salib. Hatiku tersentuh oleh darah yang menetes dari tangan-Nya yang kudus. Kurasa sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke tanah tanpa ada yang menampungnya. Aku pun memutuskan untuk dalam Roh tinggal di kaki salib supaya dapat menampung darah Ilahi yang tercurah dari salib itu dan aku mengerti bahwa setelah itu aku harus menuangkannya atas jiwa-jiwa." Dia belajar menderita hingga wafatnya dalam Yesus. Dia benar-benar menerima Yesus dengan sukacita sepanjang hidupnya. Bagaimana dengan anda dan saya?

Saya mengakhiri homili ini dengan mengutip sebuah doa kepada Santa Theresia dari Lisieux:

Santa Theresia,
dalam hidupmu yang singkat itu, engkau telah mencapai kemurnian malaikat.
Kasihmu melimpah, penyerahanmu kepada Allah sepenuh hati;
kepadamu kuberdoa dengan penuh percaya.
Engkau telah menerima berkat dari kebajikanmu.
Mohonkan rahmat dari Tuhan supaya hatiku menjadi murni;
juga rahmat supaya aku terhindar dari hal-hal yang dapat menodai kebajikan untuk berkenan kepada Allah.
Semoga aku merasakan kekuatan doamu tatkala aku membutuhkannya.
Hiburlah aku bila dalam hidupku aku merasa sedih, terutama pada akhir hidupku.
Supaya aku pantas ikut menikmati kebahagiaan seperti engkau di surga.
Santa Theresia, doakanlah aku, supaya aku layak menikmati janji-janji Kristus.

PJ-SDB