Sunday, January 5, 2020

Food For Thought: Sebuah kehadiran aktif


Kehadiran aktif

Permenungan akhir hari ini saya fokuskan pada sosok Bunda Maria. Penginjil Matius memberi kesaksian tentang kunjungan para majus dari Timur di Bethlehem. Inilah kesaksiannya: “Maka masuklah para Majus ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Mat 2: 11).

Dari kesaksian Penginjil Matius ini, kita menemukan sebuah sikap aktif Maria sebagai seorang ibu sejati. Ia selalu ada bersama Yesus, Anaknya. Ia tidak membiarkannya sendirian, kedinginan tak  berdaya. Maria menunjukkan sukacitanya sebagai ibu yang melahirkan Anak sulungnya, dan dukacita karena tidak ada penginapan yang layak bagi mereka. Ia tidak berkecil hati, ia justru bertahan hidup  dalam kesulitannya.

Dari Maria kita belajar untuk menerima situasi hidup kita yang nyata. Dari Maria kita belajar untuk berjuang, bertahan hidup dan rela berkorban untuk kebaikan orang lain. Dari Maria kita belajar untuk menyimpan semua perkara ini di dalam hati, bukan berkasak kusuk tentang pengorbanan hidup kita. Dan dari Maria kita belajar untuk hadir secara aktif dalam keluarga dan komunitas. Hadir secara aktif berarti kita berusaha untuk sign out kalau sedang makan bersama, ada quality time di dalam keluarga.

Saya ingat Paus Fransiskus pada pesta keluarga Kudus 2019 lalu mengatakan: “Silakan saling memandang satu sama lain bukan hanya memandang layar handphone-mu saat sedang duduk bersama di rumah.” Paus menampar anda dan saya yang selalu sibuk di depan layar telpon dan mengabaikan anggota keluarga sendiri. Betapa menyedihkan hidup berkeluarga dan hidup berkomunitas seperti ini! Ini tanda kita tidak hadir aktif di dalam keluarga seperti Bunda Maria.

Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB

Don Bosco berkata: Memperbaiki kesalahan sendiri


Memperbaiki kesalahan sendiri

Kita berada di hari kelima bulan Januari 2020 yang bagi keluarga Salesian merupakan bulan yang didedikasikan untuk menghormati Don Bosco. Saya menggunakan kesempatan ini untuk merefleksikan beberapa kutipan perkataan dari Santu Yohanes Bosco untuk membantu kita semua dalam mengenang dan memberikan rasa hormat kepada santu kebanggaan ini.

Ada banyak di antara kita yang memiliki kebiasaan tertentu. Orang yang merokok, meskipun diingatkan bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan namun perokok itu tidak mengindahkan peringatan ini. Mereka sudah terbiasa dengan kebiasaan merokok maka mereka hanya berkata, “Saya merokok, toh ujungnya tetap kematian”.  Anak-anak yang terbiasa dengan phone snubbing akan mengatakan dalam dirinya bahwa itu merupakan hal yang biasa saja. Padahal kebiasaan ini tidaklah baik bagi kesehatan mental dan fisik. Mereka akan berdalil bahwa orang tua juga kecanduan gadget kok. Masih banyak contoh yang menggambarkan bahwa lebih mudah orang memaafkan dirinya dari kebiasaan-kebiasaannya yang salah, tetapi sulit untuk berusaha supaya keluar dari kebiasaan yang salah ini.

Don Bosco adalah rasul kaum muda. Ia mengetahui dengan baik keinginan hati orang muda. Maka contoh dan fenomena lain di dalam kehidupan orang muda memang selalu ada. Orang muda sulit untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang salah karena merasa bahwa itu bukan kebiasaan yang salah. Orang tua juga kesulitan untuk memberi koreksi karena mereka juga memiliki penyakit yang sama yaitu menyerah pada kebiasaan dan keadaan. Itulah kelemahan hidup kita. Maka Don Bosco dengan tegas mengatakan: “Jangan hanya mencoba untuk memaafkan kesalahanmu tetapi cobalah untuk memperbaikinya sedini mungkin.” Andaikan saja kita mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan kita maka betapa indah dan menariknya hidup ini.

Pada hari ini kita mencoba untuk membuat daftar kebiasaan-kebiasaan kita yang salah. Setelah membuat daftar itu, katakanlah dalam dirimu supaya jangan hanya memaafkannya tetapi berusaha untuk memperbaikinya sehingga tidaklah menjadi kebiasaan yang nantinya dapat menjadi kebiasaan buruk di dalam hidup pribadi kita.

St.Yohanes Bosco mendoakan dan Tuhan memberkati.

P. John Laba, SDB

Food For Thought: Herodes masih ada


Herodes masih ada!

Kita semua mendengar nama Herodes Agung selama masa Natal ini. Herodes Agung ini muncul dari sebuah keluarga Idumea yang kaya dan berpengaruh. Orang Yahudi menyapanya Hordos (הוֹרְדוֹס‎) sedangkan orang Yunani menyapanya Ἡρῴδης (Hērōidēs).  Herodes Agung dikenal sebagai Herodes I. Ia merupakan raja boneka Romawi yang berkuasa di Yudaea (sekitar 74 SM - sekitar 5, 4 atau 1 SM di Yerusalem). Dalam tradisi Gereja, ia dikenal dalam Injil Matius di mana ia membunuh anak-anak di Betlehem.

Mengapa ia melakukan pembunuhan terhadap anak-anak di Bethlehem? Hal ini bermula dari para tamunya yaitu para majus dari Timur yaitu Gaspar, Melkior dan Batltazar. Mereka datang dari tempat yang berbeda, dengan dibimbing oleh cahaya sebuah bintang dari Timur akhirnya mereka tiba di Yerusalem dan Bethlehem. Ketika tiba di Yerusalem, mereka bertamu ke istana Herodes untuk menginformasikan bahwa mereka mau bertemu dan menyembah raja yang baru yang lahir. Herodes kaget dan secara manusiawi ia merasa tersaingi. Pikiran negatif, marah, sakit hati semuanya menyatu di dalam dirinya. Sebab itu ia berkata kepada para majus: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."  (Mat 2:8).

Perkataan Herodes ini menunjukkan jati dirinya sendiri. Ia menyuruh para majus untuk pergi dan menyelidiki dengan seksama hal-hal mengenai Yesus. Ini bukan menggambarkan maksud baiknya tetapi maksud jahatnya. Semua ini terbukti ketika ia berencana untuk membunuh semua bayi di sekitar kota Bethlehem. Merekalah martir kecil, tak bersalah yang wafat untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus. Jauh sebelumnya Herodes memang sosok yang jahat. Flavius Yosefus memberi kesaksian bahwa pada tahun 29 SM, Herodes benar-benar tergila-gila dan sangat cemburu terhadap istrinya, Mariamne. Ia berencana untuk membunuh Mariamne. Satu jalan yang dilakukannya adalah mengajukannya ke pengadilan dengan tuduhan palsu bahwa ia melakukan zina. Saudara perempuan Herodes bernama Salome adalah saksi utama yang memberatkannya.

Alexandra adalah ibunya Mariamne. Ia dihadirkan sebagai saksi yang memberatkan anaknya sendiri. Sikapnya ini melakukannnya untuk menyelamatkan dirinya sebab Herodes juga mau membunuhnya. Pada akhirnya Alexandra juga dihukum mati oleh Herodes Agung. Kisah akhir dari Mariamne adalah ia tetap tenang saat dihukum mati. Usianya saat itu baru 25 tahun. Ia menikan dengan Herodes dan dalam waktu 7 tahun dapat melahirkan 5 orang anak. Ini adalah sebagian kisah dari Herodes Agung yang tidak hanya jahat terhadap orang lain, tetapi jahat juga di dalam keluarganya sendiri.

Herodes masih ada di sekitar kita. Herodes zaman now ini tampil tidak jauh berbeda. Mereka gila kuasa, gila harta, suka mempersalahkan orang lain, berpikiran negatif, suka menghancurkan hidup dan keluarga orang lain. Mereka dapat saja menjadi ‘pebinor’ atau ‘pelakor’. Mereka seolah berlaku baik padahal sangat jahat dalam perilakunya kepada sesama. Banyak di antara kita menjadi korban-korban Herodes zaman now. Maka tepatlah kalau dikatakan bahwa kita selalu berjumpa dengan Herodes zaman now di dalam keluarga dan masyarakat kita.

Mari kita memandang diri kita di hadapann Tuhan. Ternyata kita tidak jauh berbeda dengan Herodes Agung. Kita belajar untuk malu dan berusaha untuk melepaskan Herodes dalam diri kita.

P. John Laba, SDB

Homili Hari Raya Penampakan Tuhan 2020


Hari Raya Penampakan Tuhan
Hari Anak Misioner Sedunia
Yes. 60:1-6
Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13
Ef. 3:2-3a,5-6
Mat. 2:1-12

Kami datang untuk menyembah Dia!

Pada hari ini kita merayakan Natal segala bangsa atau yang lebih dikenal dengan nama Pesta Epifania atau Penampakkan Tuhan. Tuhan Yesus menampakkan diri bukan hanya kepada orang-orang Israel, melainkan kepada semua bangsa. Hal ini ditandai dengan hadirnya tiga orang majus dari Timur. Mereka adalah Gaspar, Melkior dan Baltazar yang membawa emas, kemenyan dan mur sebagai persembahan terindah bagi bayi Yesus. Mereka datang dari tempat yang berbeda namun dituntun oleh terang Tuhan berupa bintang hingga bersatu di Bethlehem untuk menyembah Yesus. Semua bangsa melihat terang yang menyelamatkan semua orang. Gereja Katolik juga menggunakan kesempatan ini untuk merayakan Hari Anak Misioner Sedunia. Sebab itu anak-anak Sekami di paroki-paroki menjadi pusat perhatian seluruh umat. Mereka biasanya mengunjungi rumah-rumah umat setelah misa di gereja untuk bermisi dengan berdoa, berderma, berkurban dan bersaksi. Anak-anak sekami belajar untuk bermurah hati seperti Tuhan sendiri juga murah hati.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Raya Penampakkan Tuhan mengarahkan kita untuk melihat Terang Tuhan dan bersatu dengan-Nya. Kita memang berasal dari latar belakang kehidupan yang berbeda namun bersatu dan bersaudara dalam Tuhan yang satu dan sama. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama memberikan inspirasi kepada Bangsa Israel bahwa Kemuliaan Tuhan telah terbit bagi mereka. Pada saat itu bangsa Israel barusan kembali dari Babilonia ke Yerusalem. Mereka perlu sadar diri untuk membangun serta menggapai masa depan yang lebih baik. Untuk itu mereka perlu mengalami terang dan kemuliaan Tuhan yang datang kepada mereka. Terang dan kemuliaan Tuhan memampukan mereka untuk bersaksi.

Nabi Yesaya dengan antusias melakukan tugas kenabiannya di tengah bangsa Israel. Ia mengatakan kepada bangsa Israel yang menghuni Yerusalem: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang Tuhan terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yes 60:1-2). Bangsa Israel memang memiliki masa lalu namun masa lalu itu tidak selamanya menjadi masa kekelaman. Tuhan juga menaruh belas kasih bagi umat kesayangan-Nya. Sebab itu Ia memberikan terang dan kemuliaan yang mengubah mereka supaya menjadi rasul terang dan kemuliaan melalui kesaksian hidup mereka. Bagi nabi Yesaya, tidak hanya bangsa Israel yang mengalami terang dan kemuliaan Tuhan. Bangsa-bangsa lain akan berduyun-duyun datang ke Yerusalem yang lebih dahulu mengalami terang dan kemuliaan Tuhan, raja-raja juga ikut menyongsong cahaya yang terbit bagi Israel. Ada sukacita yang besar di antara bangsa-bangsa. Bahkan orang-orang Syeba akan membawa emas dan kemenyan dan memberitakan tentang perbuatan-perbuatan masyhur Tuhan.

Hal yang menarik perhatian kita dari pewartaan nabi Yesaya ini adalah pengalaman akan Allah. Setiap orang dipanggil untuk mengalami Allah dalam terang dan kemuliaan-Nya. Pengalaman ini memang sangat pribadi namun diharapkan supaya masing-masing orang yang mengalami Allah ini, nantinya memberi kesaksian tentang terang dan kemuliaan Allah. Semua bangsa datang ke Yerusalem bukan untuk memasyhurkannya tetapi mereka berkumpul untuk memenyembah dan memuliakan Tuhan. Ketika kita mampu memberi kesaksian maka banyak orang akan datang kepada Tuhan sumber hidup untuk menyembah dan memuliakan-Nya.
Semangat yang sama sangat menjiwai para majus dari Timur. Mereka datang dari tempat yang berbeda-beda, ibarat bangsa-bangsa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam bacaan pertama. Mereka belum memiliki gadget dan media sosial untuk check in biar diketahui semua orang, mereka juga belum mengenal GPS. Mereka hanya memiliki bintang yang menunutun mereka untuk datang dan menyembah Yesus sumber terang sejati. Mereka datang tidak dengan tangan kosong tetapi dengan persembahan berupa emas, kemenyan dan mur untuk menunjukkan Yesus sebagai Raja, Yesus adalah Anak Allah dan bahwa Dia sungguh manusia yang akan wafat dan bangkit mulia. Di sinilah kita melihat Natal bangsa-bangsa ini sangat bermakna: kita merenung tentang kehidupan, kematian dan kemuliaan dalam satu kesatuan. Sambil memandang Yesus, kita memandang hidup kita di hadirat-Nya dan mari kita berusaha untuk bersaksi.

Mengapa kita perlu bersaksi tentang terang dan kemuliaan Tuhan? Mari kita belajar dari pengalaman Santu Paulus. Ia menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan karena melalui karya-karya pelayananya dapat menjadi tanda kesaksian tentang kemuliaan Tuhan. Lebih dari pengalaman pribadi Paulus, Tuhan yang satu dan sama menampakkan kemuliaan-Nya bukan hanya kepada bangsa Yahudi melainkan juga kepada bangsa-bangsa yang lain. Konsekuensi logisnya adalah semua bangsa menjadi ahli waris, menjadi anggota-anggota tubuh dan sebagai peserta dalam janji yang diberikan Kristus Yesus. Semua orang adalah ahli waris yang nantinya menjadi saudara untuk bersaksi tentang terang dan kemuliaan Tuhan.

Terlepas dari perasaan sukacita ilahi karena Natal segala bangsa, ada sikap manusiawi yang menghambat sukacita ilahi ini. Dalam hal ini sikap raja Herodes yang merasa memiliki saingan raja yang baru dilahirkan. Sikap jahatnya muncul ketika ia mengatakan: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia." (Mat 2:8). Sikap curiga terhadap orang lain, pikiran negatif dan keinginan jahat adalah penghalang bagi kita untuk berjumpa dengan Yesus. Herodes masih ada di antara kita ketika kita tertawa di atas penderitaan orang lain, berpikiran negatif, berlaku seolah-olah baik padahal sebenarnya jahat.

Pada hari ini kita berusaha untuk menjadi manusia baru yang bergembira karena merayakan Natal segala bangsa. Mari kita mempersembahkan diri kita sebagai emas, kemenyan dan mur bagi Tuhan. Meskipun persembahan ini tidaklah pantas namun Tuhan sendiri yang akan membuatnya menjadi pantas dan layak di hadirat-Nya. Selamat Hari Raya Epifani 2020.

PJ-SDB

Saturday, January 4, 2020

Homili Hari Sabtu 4 Januari 2020


Hari Biasa Masa Natal
1Yoh. 3:7-10
Mzm. 98:1,7-8,9
Yoh. 1:35-42.

Kami telah menemukan Mesias

Masa Natal merupakan kesempatan untuk berjumpa dengan keluarga, kerabat dan sahabat kenalan. Ada suasana penuh sukacita dalam sebuah perjumpaan yang bermakna. Saya hendak membagikan pengalaman saya kepadamu. Natal dan tahun baru kali ini sangat istimewa bagiku karena setelah tiga puluh tahun saya boleh kembali merayakan natal dan tahun baru bersama keluarga. Kali ini saya bukan sebagai seorang pemuda biasa seperti lebih dari tiga puluh tahun silam, tetapi saya sebagai seorang imam yang tidak masuk lagi dalam kategori imam muda. Pada tahun ini juga saya merasakan bukan ‘White Christmas’ di kampung halamanku karena memang tidak akan terjadi. Saya justru mengalami dan merasakan ‘Brown Christmas’ atau ‘Natal Coklat’ karena kemarau panjang. Hutan di sekeliling kampungku berwarna coklat. Tepat pada tahun baru hujan mulai turun menyirami kampung halamanku, hanya tidak terjadi banjir seperti di daerah lain. Sebab itu pada hari-hari ini mulai ada perubahan warna hutan. Tadinya hutan berwarna coklat kini perlahan berubah menjadi hijau.

Saya merenungkan pengalaman-pengalaman selama masa Natal dan tahun baru ini sebagai sebuah pengalaman perjumpaan yang bermakna. Ada transformasi bermakna, laksana hutan berwarna coklat menjadi berwarna hijau. Ada juga transformasi bermakna dalam diri umat yang saya layani selama masa Natal dan tahun baru. Misalnya, umat begitu antusias berjalan kaki atau menggunakan kendaraan seadanya ke kampung atau stasi kecil untuk merayakan Natal dan tahun baru. Umat dari stasi yang besar memiliki tanggung jawab untuk menganimasi misa bersama melalui koor yang meriah. Umat dari stasi kecil menganimasi liturgi melalui petugas liturgi seperti pembaca bacaan dan mempersiapkan bahan persembahan. Ini memang sebuah kerjasama yang sangat transformatif. Setiap orang merasa bertanggungjawab dalam merayakan Natal dan tahun baru.

Terlepas dari semua yang saya sebutkan ini, ada sebuah perkataan yang saya dengar dari umat dari sebuah stasi. Ia mengatakan: “Ada umat yang tidak sempat hadir dalam perayaan misa Natal dan tahun baru karena alasan-alasan tertentu yang sifatnya sangat pribadi. Saya bersama teman-teman yang hadir dalam perayaan Ekaristi ini akan mengatakan kepada mereka: ‘Kami telah menemukan Mesias’. Semua pengalaman kegembiraan dan sukacita Natal akan kami bagikan kepada mereka semua.” Saya merasa bahagia mendengar perkataan umat yang hadir dalam perayaan Natal ini. Bagi saya ini adalah sebuah tugas missioner Gereja, dalam hal ini umat Allah yakni anda dan saya saat ini untuk  membawa sukacita Natal dan tahun baru kepada sesama lain.

Mari kita belajar dari para rasul sebagaimana dikisahkan Yohanes dalam Injilnya. Yohanes Pembaptis memiliki sebuah tugas mulia untuk mengantar para muridnya supaya lebih dekat dan akrab dengan Yesus. Ia berani membiarkan para muridnya untuk mengikuti Yesus sang Anak Domba Allah yang baru dilihatnya. Ia menunjuk Yesus kepada mereka, dan mengajar mereka bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah. Kata ‘melihat’ dalan Injil Yohanes bukan hanya sekedar melihat tetapi melihat berarti mengasihi. Maksud Yohanes Pembaptis ketika mengatakan ‘Lihatlah Anak Domba Allah’ berarti para muridnya ini harus mengasihi Yesus yang mengorbankan diri-Nya sampai tuntas dalam kasih untuk menyelamatkan manusia. Dan ini benar sekali. Para murid Yohanes datang dan tinggal bersama Yesus. Mereka bahkah mengatakan kepada teman-teman lain, sebagaimana Andreas yang berkata kepada Simon kakaknya: “Kami telah melihat Mesias”.

Perjumpaan dengan Yesus memang menjadi sebuah transformasi yang besar. Para murid Yohanes Pembaptis berubah hidupnya karena mereka kini menjadi murid Yesus sang Anak Domba Allah. Perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus hendaknya menjadi sebuah pengalaman transformasi yang radikal. Kita berubah menjadi baru dan berusaha untuk bersaksi: “Kami telah melihat Mesias”. Perubahan itu berasal dari dalam diri kita. Jangan berharap supaya orang lain berubah mendahuluimu.

PJ-SDB

Wednesday, January 1, 2020


Mendidik kaum muda kepada keadilan sosial


Kita semua memasuki bulan Januari tahun 2020. Keluarga besar Salesian pasti langsung mengingat figur besar St. Yohanes Bosco, sang Rasul Kaum Muda di dalam Gereja. Ini adalah bulan Don Bosco. Saya teringat pada St. Yohanes Paulus II. Ia pernah menulis sebuah surat tertanggal 31 Januari 1988 kepada keluarga besar Salesian melalui Rektor Mayor Don Egidio Vigano, SDB. Suratnya berjudul ‘Iuvenum Patris’ memberi ‘gelar’ kepada Don Bosco sebagai Bapak, pendidik dan sahabat kaum muda. Don Bosco sebagai Bapak, sahabat, dan pendidik bagi kaum muda yang miskin dan terlantar. Sebagai seorang imam Diosesan pada masa itu, ia berusaha untuk membantu kaum muda supaya menjadi pribadi yang mandiri. Kaum muda saat itu adalah korban-korban revolusi Industri. Dengan jiwa mudanya mereka menjadi perantau dan pekerja muda di negaranya sendiri.

Don Bosco sebagai seorang Bapak bagi kaum muda, mampu mengarahkan mereka di oratoriumnya untuk menjadi warga negara yang jujur dan orang katolik yang baik. Don Bosco adalah seorang pendidik yang mendidik kaum muda dengan hati. Ia melatih mereka supaya memiliki keterampilan dalam berbagai hal, demi mewujudkan sebuah masa depan yang lebih baik. Don Bosco sebagai sahabat bagi kaum muda. Ia hadir secara aktif dalam kehidupan mereka. Kaum muda yang miskin itu menjadi sadar bahwa Don Bosco benar menjadi sahabat yang mampu mengasihi mereka. Don Bosco berhasil mewariskan sebuah tradisi yang terbaik bagi para Salesian yakni untuk menjadi Bapak, Pendidik dan Sahabat bagi kaum muda, terutama kaum muda yang miskin dan tersisihkan. Melalui sistem edukasinya yakni sistem preventif, Don Bosco berhasil mendidik kaum muda kepada rasa keadilan sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan kaum muda yang lain. Artinya Don Bosco mendidik kaum muda itu memiliki sikap empati kepada sesama kaum muda miskin dan yang sangat membutuhkan.
                                                             
Memandang dan mengagumi Don Bosco

Mari kita memandang dan mengagumi Don Bosco. Ia memanusiakan manusia muda melalui sistem edukasinya yang disebut sistem preventif. Para Salesian yang menjadi penerus warisan ini menyadari bahwa sistem edukasi ini pada prinsipnya bertujuan untuk menunjuk jalan kekudusan bagi kaum muda yang miskin. Sistem edukasi ini menjadi pelita bagi langkah kaki para Salesian untuk membentuk hidup dan watak kaum muda yang miskin. Untuk menghayati sistim edukasi ini butuh para asisten dengan kehadirannya yang aktif di tengah-tengah kaum muda. Kehadiran yang aktif ini ikut menyokong dan mengaktualisasi tiga pilar sistem edukasi Don Bosco yakni akal budi, iman dan taqwa (agama) dan cinta kasih penuh kebaikan. Ketiga pilar ini merupakan satu kesatuan. Artinya dalam mendidik kaum muda dengan menggunakan akal budi sangat membutuhkan iman dan taqwa (agama) dan cinta kasih penuh kebaikan. Tujuan akhirnya adalah kaum muda itu menjadi kudus.

Menjadi pertanyaan bagi kita semua adalah mengapa Don Bosco memilih untuk melayani kaum muda yang miskin dengan menggunakan sistem edukasinya ini? Don Bosco mengajarkan sistem edukasinya yakni sistem preventif ini berdasarkan pengalamannya sendiri sejak masa kecil di dalam keluarganya. Mama Margaretha mengajarkan nilai-nilai luhur kehidupan Kristiani kepada Yohanes Bosco. Misalnya kasih dan kebaikan, keadilan, kesederhanaan hidup dan kejujuran. Selain itu kehidupan devosional yang popular kepada orang kudus juga diwariskan mama Margaretha kepadanya. Maka bagi Don Bosco, sistem edukasinya ini dapat berhasil kalau diterapkan dalam kultur Katolik. Namun sejalan dengan perkembangan zaman, ternyata sistem ini dapat berhasil juga di tempat yang bukan memiliki kultur Katolik. Hal ini disebabkan oleh kemampuan Don Bosco untuk menerapkan nilai-nilai universal yang tidak hanya cocok dalam kultur Katolik, tetapi juga dalam kultur yang bukan katolik.

Marilah kita masuk dalam pengalaman hidup Don Bosco. Ia memulai pelayanan sebagai imam muda di tengah pengaruh besar revolusi industri yang sangat berdampak langsung bagi kaum muda.  Banyak orang muda harus melakukan urbanisasi untuk mencari pekerjaan demi mencapai hidup yang lebih baik di daerah perkotaan. Don Bosco mencari jalan untuk membantu kaum muda korban revolusi industri ini dengan membentuk oratorium. Di dalam oratorium ini Don Bosco memberi berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan, menanamkan pendidikan nilai dan religi kepada  kaum muda saat itu.

Dikisahkan bahwa ada sebuah drama yang terjadi sekitar tahun 1846. Ketika itu ada seorang anak remaja yang berusia sekitar 14 tahun, selalu hadir di Oratorium. Ayahnya seorang pemabuk kelas berat. Ia melarang puteranya ini untuk tidak menginjakan kakinya lagi di oratorium. Namun anak muda ini tidak mengindahkan larangan ayahnya. Pada suatu hari Minggu anak muda ini kembali dari oratorium. Ayahnya sudah menyiapkan sebilah pedang untuk membunuh anaknya yang keras kepala karena selalu pergi ke oratorium. Ayahnya bertanya apakah ia barusan kembali dari rumah Don Bosco, namun anak itu tidak menjawabnya. Ia malah lari ke arah oratorium, sementara itu ayahnya mengejarnya dengan membawa sebilah pedang untuk membunuhnya.

Ketika anak itu tiba di oratorium, ternyata pintu gerbangnya sudah ditutup. Ia pun cepat-cepat memanjat sebuah pohon di dekatnya untuk bersembunyi di atasnya. Ayahnya yang sedang mabuk tingkat dewa itu berhasil menerobos masuk ke oratorium, langsung ke kamar Don Bosco untuk mencari anaknya. Don Bosco mengatakan bahwa anaknya tidak ada di oratorium. Ia berdiri sambil berteriak dan mengancam. Tetapi Don Bosco tetap mengatakan bahwa anaknya tidak ada di oratorium. Sang pemabuk tingkat dewa itupun kembali dengan hatinya yang panas. Setelah suasana aman, Don Bosco dan mama Margaretha mencari anak remaja ini. Mereka menemukannya di atas pohon dengan keadaan yang sangat takut karena ancaman ayah untuk membunuhnya. Don Bosco berhasil meyakinkan dia sehingga ia turun bersama Don Bosco ke tanah. Ia menangis ketakutan, tetapi mama Margaretha mengantarnya ke dapur, menyiapkan soup panas untuk santap malamnya. Don Bosco menyiapkan kasur dekat perapian dan membiarkan anak itu beristirahat malam itu. Setelah beberapa hari anak itu kembali ke rumahnya.

Don Bosco memiliki banyak pengalaman ketika melayani anak-anak yatim piatu dan imigran. Meskipun rumahnya tidak menampung banyak orang namun anak muda yang miskin selalu berdatangan untuk beristirahat sejenak pada malam hari. Memang beberapa kali Don Bosco dan Mama Margaretha merasa kecewa karena ketika mereka pergi dari rumah Don Bosco, mereka membawa selimut dan perlengkapan lainnya yang mereka pakai semalaman. Mama Margaretha sangat tanggap sehingga ia sempat menyampaikan pesan-pesan singkat bagi anak-anak lain yang menginap dirumahnya. Isi pesannya adalah supaya anak-anak itu tidak mencuri dan berlaku adil kepada sesama. Ini menjadi cikal bakal ‘pesan-pesan’sebelum istirahat malam di oratorium, hingga saat ini di komunitas Salesian.

Don Bosco mengajarkan sikap adil kepada anak-anak muda yang miskin melalui pengalaman kesehariannya. Ia mencoba untuk menampung anak-anak muda yang miskin, memberi pelatihan keterampilan dan mengajarkan agama kepada mereka. Don Bosco dan Mama Margaretha pernah merasa kecewa karena perilaku anak-anak muda yang nakal saat itu (membawa selimut dan perlengkapan lainnya). Benar bahwa pengalaman adalah guru kehidupan. Maka Don Bosco tetap berusaha untuk dapat memenangkan hati kaum muda. Kejahatan dibalasnya dengan kasih dan kebaikan! Prinsipnya, ‘Da mihi animas coetera tolle’. Maka bagi Don Bosco, sikap adil itu ada ketika ia dapat memenangkan jiwa-jiwa orang muda, menguduskan mereka dan membantu orang-orang muda itu untuk berani melepaskan yang tidak berguna bagi keselamatan jiwanya.

Don Bosco dalam diri Para Salesian saat ini

Para Salesian saat ini berkarya di sekitar 134 negara. Ada negara-negara yang sangat mudah menerapkan sistem edukasi Don Bosco yaitu sistem preventif karena kultur katoliknya kuat, ada juga banyak kesulitan di negara-negara yang hanya sedikit saja kultur katoliknya. Namun demikian, sistem preventif tetap aktual dan dapat berhasil diterapkan karena orang-orang muda yang miskin adalah sasaran perutusan para Salesian. Selagi masih ada orang-orang muda yang miskin, para Salesian akan tetap berusaha untuk meneruskan warisan Don Bosco ini. Don Bosco tetap menjadi bapa, guru dan sahabat dalam diri para Salesian untuk memanusiakan manusia muda.

Dalam konteks Indonesia, para Salesian masih berusaha untuk menunjukkan jati dirinya sebagai penerus Don Bosco yang hidup saat ini. Lembaga-lembaga pendidikan yang dimiliki oleh para Salesian di Pulau Jawa dan Pulau Sumba belumlah menjadi lembaga favorite. Oratorium yang sedang berjalan di berbagai komunitas Salesian masih belum cukup menunjukkan warna oratorium dalam pikiran Don Bosco. Artinya oratorium itu bukan hanya sekedar anak-anak muda berkumpul untuk bermain basket, bernyanyi, berekreasi bersama, namun lebih dari itu pelatihan-pelatihan keterampilan ala Don Bosco haruslah semakin berkualitas untuk mendukung kaum muda. Lembaga-lembaga Pendidikan formal yang dikelola para Salesian semakin menunjukkan daya saingnya untuk menjadi Lembaga favorite di suat saat nanti. Dari sanalah kaum muda akan belajar tentang keadilan sosial dalam hidup mereka.

Berbenah diri

Don Bosco mendidik kaum muda yang miskin untuk memiliki rasa keadilan bukan hanya sekedar ‘menata kata-kata’ melaikan dengan hidupnya yang nyata. Kehadirannya yang aktif bahkan ia sendiri meninggal di oratorium, di tengah kaum muda binaannya. Ini menjadi sebuah tantangan bagi para Salesian zaman now. Apakah kaum muda yang miskin masih menjadi satu-satunya ‘optio’ pelayanan para Salesian? Apakah masih ada managemen kehadiran yang aktif di tengah kaum muda atau mulai perlahan-lahan pudar? Butuh sign out dari semua yang menghalangi pelayanan kepada kaum muda. Hanya dengan demikian para Salesian dapat mengajarkan keadilan sosial yang benar kepada kaum muda. Satu kata untuk para Salesian adalah ‘berbenah diri’ supaya serupa dengan Don Bosco. St. Yohanes Bosco, doakanlah kami. Amen.

P. John Laba, SDB


Homili Hari Raya Maria Bunda Allah 1 Januari 2020


Hari Raya Santa Maria Bunda Allah
Bil. 6:22-27
Gal. 4:4-7
Luk. 2:16-21

Lectio:

Setelah mendengar berita kelahiran penyelamat dunia, para gembala cepat-cepat berangkat ke Betlehem, dan mendapati Maria dan Yusuf serta Bayi yang terbaring di dalam palungan. Ketika melihat Bayi itu, para gembala memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu dalam hati dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. Ketika genap delapan hari umurnya, Anak itu disunatkan, dan Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Demikianlah Injil Tuhan kita.
Terpujilah Kristus

Renungan:

Belajarlah selalu pada Maria

Kita mengawali tahun 2020 dengan sebuah ucapan yang biasa menjadi luar biasa: “Selamat Tahun Baru” khusus untuk anda pendengar siaran Fresh Juice di mana saja berada. Semoga Tuhan menganugerahkan berkat-berkat yang kita masing-masing butuhkan di tahun yang baru ini. Pada hari pertama di awal tahun baru 2020 ini, kita merayakan sekurang-kurangnya empat perayaan: pertama, perayaan tahun baru. Kedua, perayaan hari perdamaian sedunia. Ketiga, Perayaan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah (Theotokos) dan keempat, Pesta nama Yesus. Dari keempat perayaan ini kita masing-masing boleh mengenal dan memilih untuk merayakannya dengan meriah. Saya merasa yakin bahwa dua perayaan yang disebutkan terakhir tidak akan disepelehkan oleh putera dan puteri Bunda Maria. Saya sendiri akan lebih focus pada sosok Bunda Maria Bunda Allah sebagai guru kehidupan kita dalam renungan ini.

Santu Bernardus dikenal di dalam Gereja sebagai seorang kudus yang begitu akrab dengan Bunda Maria. Ia pernah berkata: “De Maria nunquam satis!” Artinya, tentang Bunda Maria, tidak pernah ada kata yang cukup. Beliau merasa yakin bahwa setiap kali kita berbicara tentang Bunda Maria, pasti selalu ada kata-kata baru untuk melukiskan kehidupan Bunda Maria dalam pengalaman rohani kita. Sosok Bunda Maria selalu menginspirasi kehidupan pribadi kita. Cobalah kita memperhatikan doa Litani Santa Perawan Maria. Kita akan menemukan berbagai gambaran kasih manusia kepada Bunda Maria, dan meskipun sudah banyak namun rasanya masih kurang dan perlu ditambahkan lagi. Seorang sahabat saya mengakui bahwa ia senang berziarah ke gua-gua Bunda Maria dan ia sendiri selalu berusaha untuk mengulangi lagi peziarahannya.

Pada hari pertama dalam tahun 2020 ini kita berjumpa dengan sosok Santa Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos). Liturgi Gereja Katolik mengingatkan kita semua untuk memulai setiap tahun yang baru dengan mensyukuri peranan Bunda Maria sebagai Bunda Tuhan Yesus Kristus, satu-satunya Penebus kita. Jawabannya kepada Malaikat Gabriel: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu” merupakan sebuah tanda kesiapan hidup Maria untuk ikut bekerja sama dalam karya penebusan (co-redemptrix) manusia. Maka layaklah Bunda Maria diberi gelar: “Bunda Allah”. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan kita: “Atas pengumuman bahwa ia, oleh kuasa Roh Kudus akan melahirkan "Putera yang maha tinggi" tanpa mempunyai suami (Luk 1:28-37), Maria menjawab dalam "ketaatan iman" (Rm 1:5), dalam kepastian bahwa "untuk Allah tidak ada sesuatu pun yang mustahil": "Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu" (Luk 1:37-38). Dengan memberikan persetujuannya kepada Sabda Allah, Maria menjadi bunda Yesus. Dengan segenap hati, ia menerima kehendak Allah yang menyelamatkan, tanpa dihalangi satu dosa pun, dan menyerahkan diri seluruhnya sebagai abdi Tuhan kepada pribadi dan karya Puteranya. Di bawah Dia dan bersama Dia, dengan rahmat Allah yang mahakuasa, ia melayani misteri penebusan (LG 56) (KGK, 494).

Berkaitan dengan hal ini, St. Cirilius dari Alexandria (444) pernah berkata: “Bunda Maria, Bunda Allah, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung. Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimana mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disapa sebagai Bunda Allah?” Maria menjadi Bunda Yesus Kristus, sang Allah Putera. Dialah Sabda yang menjadi daging dan tinggal di antara kita (Misteri Inkarnasi) dan kita sedang mengenangnya sepanjang masa Natal ini. Maria tidak hanya menjadi Bunda Allah, dia juga menjadi Bunda kehidupan kita. Berkaitan dengan peran Bunda Maria ini, Santo Wilhelmus mengatakan, “Maria, dengan melahirkan Yesus Sang Penyelamat dan Kehidupan kita, membawa banyak orang kepada Keselamatan; dan dengan melahirkan Sang Hidup itu sendiri, ia memberikan kehidupan untuk banyak orang”.

Apa yang dapat kita pelajari dari Bunda Maria pada hari ini?

Dari perikop Injil yang barusan kita dengar bersama, Bunda Maria menunjukkan beberapa teladan hidupnya bagi kita. Pertama, Bunda Maria menunjukkan dirinya sebagai ibu yang selalu hadir di dalam keluarganya. Para gembala adalah orang-orang yang sederhana. Mereka saksi kelahiran Yesus di Bethlehem. Mereka juga menjadi saksi bahwa Maria adalah seorang ibu yang setia menemani Yesus Kristus, Anak Allah yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri. Dalam suka dan duka Maria selalu hadir dalam kehidupan keluarganya. Maka dari Maria kita belajar untuk setia di dalam kehidupan keluarga. Apakah anda adalah ibu, bapa dan anak yang setia seperti Maria? Apakah anda adalah pasangan suami istri yang setia satu sama lain?

Kedua, Bunda Maria menunjukkan dirinya sebagai seorang pendidik yang tulen. Ia ‘menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya’. Ini adalah ciri khas Maria sebagai seorang pendidik pertama dan utama. Ia mengenal Yesus sebagai Anaknya dan semua keunikan yang dimiliki-Nya sebagai Anak Allah. Para gembala dan semua orang menunjukkan keheranan dan ketakjuban kepada Yesus saat itu. Maria mungkin merasa heran juga tetapi keterbukaan imannya kepada Allah membuatnya mampu menjaga rahasia Allah dan merenungkannya. Maria adalah seorang pendidik yang rendah hati dan dapat menyimpan rahasia Yesus Puteranya. Apakah anda sebagai orang tua benar-benar menjadi penddik pertama dan utama bagi anak-anakmu? Apakah anda menjaga rahasia dan nama baik keluargamu?

Selamat Tahun Baru 2020 dan Bunda Maria mendoakan kita sekarang dan di saat ajal menjemput kita.

Doa: Ya Santa Bunda Allah, kepadamu kami memohon, lindungilah diri kami, lindungilah keluarga kami, lindungilah bangsa dan negara kami supaya di tahun yang baru ini kami benar-benar hidup di dalam rahmat Yesus Kristus Puteramu. Amen.

PJ-SDB