Monday, January 13, 2020

Homili 13 Januari 2020

Hari Senin, Pekan Biasa I
1Sam. 1:1-8
Mzm. 116:12-13,14,17,18-19
Mrk. 1:14-20

Yesus menjadi nomor satu

Saya pernah diundang untuk memberkati sebuah rumah. Saya menemukan sebuah gambar berbingkai di ruang tamu di mana terdapat seorang anak kecil yang menunjuk kepada Yesus, lalu ada sebuah tulisan di bawah gambar itu: “Yesus menjadi nomor satu”. Saya menjadikan penemuan kecil ini sebagai inspirasi dalam homili saya saat itu. Saya mengatakan bahwa Yesus selalu menjadi nomor satu di dalam kehidupan berkeluarga, Dia adalah tuan rumah, kepala bagi setiap keluarga sebab Dia adalah kasih. Kadang-kadang pengalaman yang sederhana dan kecil dapat menginspirasi kita untuk bertumbuh menjadi lebih baik, lebih matang dan hidup semakin layak di hadirat Tuhan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini menginspirasikan kita untuk menjadikan Yesus sebagai nomor satu di dalam hidup kita. Penginjil Markus mengisahkan bahwa Yesus menyingkir ke Galilea setelah Yohanes yang membaptis-Nya ditangkap. Dia tidak hanya menyingkir tetapi dalam kuasa Roh Kudus, Ia memulai tugas perutusan-Nya di atas dunia. Apa yang hendak dilakukan Yesus di Galilea? Ia mewartakan Injil Allah. Injil adalah khabar sukacita dari Allah bagi kaum miskin. Kaum miskin atau orang-orang anawim membutuhkan khabar sukacita yang membebaskan mereka. Injil merupakan khabar sukacita yang membebaskan. Tuhan Yesus juga mewartakan pertobatan. Ia berkata: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mrk 1:15). Khabar sukacita dapat diterima kalau orang sungguh berubah secara radikal. Pewartaan Yesus ini menjadikan-Nya sebagai nomor satu bagi semua orang yang mendengar-Nya.

Tuhan Yesus tetap menjadi nomor satu ketika Ia memulai panggilan-panggilan di danau dan panggilan di gunung. Ia memanggil orang-orang pilihan-Nya dan menjadikan mereka sebagai penjala manusia. Siapakah orang-orang pertama yang mengalami panggilan di danau? Ketika itu Yesus menyusur pantau danau Galilea. Ia melihat para nelayan sedang bekerja. Mungkin itu bukan pertama kali Ia melewati daerah itu tetapi beberapa kali sambil memperhatikan para nelayan. Mereka adalah Simon dan saudaranya Andreas, anak-anak Zebedeus yaitu Yakobus dan Yohanes. Mereka adalah penjalah ikan, sedang bekerja bersama orang tua mereka. Yesus mendekati dan memanggil mereka untuk mengikuti-Nya dari dekat. Pada saat yang sama mereka berani meninggalkan pekerjaan dan memulai petualangan baru bersama Yesus. Mereka menjadi penjala manusia bukan lagi penjala ikan. Penjala ikan berarti, tugas menginjil dari para rasul itu bertujuan untuk mensejahterakan manusia secara jasmani dan rohani. Artinya manusia tidak hanya sekedar mengetahui doa dan doktrin agama tetapi mereka juga sejahtera secara jasmani sehingga menjaga kelestarian Injil.

Hal-hal yang menarik dari kisah panggilan para murid di danau adalah, pertama, sosok Tuhan Yesus. Ia tidak tinggal di tempat tetapi selalu bergerak untuk mencari dan menyelamatkan manusia. Ia menyingkir ke Galilea karena tekanan politik dari Herodes yang memenjarakan Yohanes. Namun demikian ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk memulai karya-karya-Nya di depan umum. Ia membutuhkan manusia untuk menjadi mitra kerja-Nya. Lihatlah, Tuhan Yesus saja membutuhkan manusia untuk bekerja sama. Mengapa ada di antara kita yang merasa tidak membutuhkan sesama manusia? Kedua, sosok para murid perdana. Mereka mendengar panggilan Yesus dan segera meninggalkan pekerjaan, juga keluarga untuk mengikuti Yesus. Mereka sebenarnya belum mengetahui seperti apakah masa depan mereka, namun karena Yesus memanggil maka mereka berani meninggalkan segalanya dan mengikuti-Nya. Yesus lalu menjadi nomor satu dalam hidup mereka.

Keindahan sebuah panggilan adalah ketika Tuhan Yesus mengenal dan memanggil. Manusia menjawab dan berani meninggalkan segalanya untuk mengikuti-Nya dari dekat. Tuhan Yesus hebat karena Ia memanggil manusia dalam hidupnya yang nyata. Ia memanggil Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, bukan di Sinagoga melainkan di tempat mereka bekerja. Tempat di mana mereka berpijak adalah tempat kudus adanya. Sebab itu Tuhan memanggil dan mereka siap untuk meninggalkan dan mengikuti-Nya. Tuhan juga melakukan hal yang sama di dalam hidup kita yang nyata. Ia memanggil kita bukan saat sedang mengikuti Ekaristi, retret, Seminar Hidup Baru dalam Roh dan lain sebagainya. Ia memanggil kita dalam hidup yang nyata.

Pengalaman Hana, ibunda Samuel dalam bacaan pertama sangatlah nyata. Istri Elkana ini memang hingga mencapai usia senja belum memiliki keturunan. Tuhan menutup kandungannya. Sebab itu ia mengalami penderitaan akibat hinaan dari Penina istri Elkana yang sudah memiliki keturunan. Dalam hidupnya yang nyata, Hana tetap dikasihi oleh Elkana. Inilah perkataan Elkana kepada Hana: "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?" (1Sam 1:8).  Dalam situasi penderitaan tertentu, cinta kasih adalah segalanya. Tuhan menunjukkan diri-Nya sebagai nomor satu dalam pengalaman hidup kita.

Pada hari ini kita belajar untuk hidup layak di hadirat Tuhan. Ia tetap berjalan dalam Lorong-lorong kehidupan kita dan memanggil kita untuk mengikuti-Nya dari dekat. Mari kita terlibat dalam mewartakan Injil dengan hidup kita yang nyata. Mari kita bertobat supaya mampu menjadikan Yesus Kristus sebagai nomor satu dalam hidup kita dan mewartakan-Nya kepada orang-orang lain.

PJ-SDB

Thursday, January 9, 2020

Homili Hari Kamis Setelah Penampakan Tuhan 2020

Hari Kamis, Setelah Penampakan Tuhan
1Yoh. 4:19-5:4
Mzm. 72:2,14,15bc,17
Luk. 4:14-22a

Dengan mata tertuju kepada Yesus

Saya memperhatikan seorang pemuda yang berdoa di depan patung Hati Kudus Yesus. Ia menunduk sambil mulutnya komat-kamit, sesekali ia menatap wajah Yesus lalu menunduk lagi. Begitulah ia membiarkan waktunya mengalir di hadirat Tuhan Yesus dalam doa. Hal yang menarik perhatian saya adalah pada bagaimana matanya tertuju ke arah wajah Yesus. Mungkin pemuda itu menemukan sesuatu yang melampaui apa yang sedang dilihatnya pada wajah Yesus. Saya berkata dalam hati bahwa pemuda ini mengingatkan saya tentang sebuah kebiasaanku saat berdoa di mana mata saya juga tertuju ke arah wajah Tuhan Yesus, Bunda Maria, St. Yohanes Bosco, St. Antonius Padua dan di kamar saya ada patung St. Yohanes Pembaptis selaku pelindungku. Bagi saya, mata yang tertuju menunjukkan cinta tanpa syarat. Misalnya mata seorang ibu tertuju kepada anaknya saat digendong merupakan ungkapan cinta tanpa syarat kepadanya. Sang ibu memandang wajah anaknya laksana sebuah cermin di mana ia memandang wajahnya sendiri.

Bacaan Injil pada hari Kamis setelah Penampakan Tuhan ini sangatlah menarik. Dikisahkan bahwa Yesus barusan dicobai oleh iblis dan Ia berhasil mengalahkan kuasa jahat iblis. Selanjutnya, Yesus menyiapkan diri-Nya untuk memulai karya-karya besar Allah Bapa di depan umum. Ia dikenal sebagai anak Yusuf si tukang kayu dari Nazaret dan ibunya Maria seorang wanita yang biasa-biasa saja. Kini Ia hendak tampil di depan umum untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Ia perlu membangun kepercayaan di kalangan orang Nazaret. Untuk itu Ia tampil di Sinagoga untuk membaca gulungan Kitab berisikan nubuat Yesaya. Dapatlah dikatakan bahwa Yesus memberikan visi dan misi-Nya kepada orang-orang yang sedang beribadah di dalam Sinagoga. Dalam kuasa Roh Kudus, Yesus berkata: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Luk 4:18-19).

Visi dan misi Yesus ini berdasar pada nubuat Yesaya 61:1-2 dan Yes 58:6. Semua orang yang mendengarnya juga tidak merasa kaget karena mereka semua sudah mengetahuinya. Hanya saja ketika Yesus menutup Kitab itu dan memberikannya kepada pejabat di Sinagoga maka saat itulah semua mata tertuju kepada-Nya. Boleh dikatakan bahwa dengan mendengar visi dan misi Yesus ini, semua orang jatuh cinta kepada Yesus dan ingin mengalami secara nyata visi dan misi-Nya ini. Untuk lebih meyakinkan mereka lagi di awal penampilan-Nya di depan umum, Yesus mengajar mereka dengan mangatakan: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." (Luk 4:21). Semua orang yang mendengar Yesus membenarkan Dia dan merasa heran karena kata-kata Yesus ini sungguh indah saat mereka mendengar-Nya.

Kisah Injil ini adalah kisah kehidupan kita di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Kita selalu berhadapan dengan sebuah pertanyaan harian: “Apa yang dapat saya lakukan pada hari ini?” Atau mungkin pada akhir hari kita memeriksa bathin dan bertanya: “Apa saja perbuatan baik yang sudah saya lakukan pada hari ini?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membuka pikiran kita untuk mewujudnyatakan visi dan misi kehidupan kita di hadapan Tuhan dan sesama. Yesus menyampaikan visi dan misi-Nya dan semuanya menjadi sempurna dalam salib. In Cruce Salus. Pada salib ada keselamatan. Ketika mata kita tertuju kepada salib, kita menjumpai Yesus yang menyampaikan kabar baik (Injil) kepada kaum miskin, memberitakan pembebasan kepada para tawanan, penglihatan kepada orang-orang buta, membebaskan orang-orang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Visi dan misi Yesus ini tetap aktual hingga saat ini di dalam Gereja.


Gereja menjalani visi dan misi Yesus dengan melakukan tujuh karya kerahiman jasmani dan tujuh karya kerahiman rohani yang disusun oleh seorang penulis Kristen bernama Laktansius. Tujuh karya kerahiman jasmani berdasar pada Injil Matius 25: 35 dst dan juga Tob 1:17 yakni memberi makan kepada orang-orang lapar, memberi minum kepada orang-orang yang haus, memberi pakaian kepada mereka yang telanjang, memberi tumpangan kepada orang-orang asing, menyembuhkan orang sakit, mengunjungi orang di penjara dan menguburkan orang mati. Tujuh karya kerahiman rohani di dalam Gereja menurut Laktansius adalah menasihati orang-orang yang bimbang, mengajari orang yang tidak berpengetahuan, menghibur orang yang menderita, mengampuni mereka yang melakukan ketidakadilan, menanggung dengan sabar mereka yang berbuat jahat kepada kita, menegur orang berdosa dan mendoakan orang-orang yang hidup dan mati.

Semua ini dapat dilakukan dengan sempurna dalam cinta kasih. St. Yohanes dalam bacaan pertama, sekali lagi mengingatkan kita tentang kasih. Allah lebih dahulu mengasihi kita maka kita juga mengasihi dengan kasih Allah. Kalau kita mengatakan kita mengasihi Allah tetapi membenci saudari dan saudara kita maka kita adalah pendusta. Banyak kali kita berdusta karena tidak mampu melakukan perbuatan atau karya kerahiman jasmani dan rohani yang saya sebutkan di atas. Mengasihi adalah sebuah perintah dari Tuhan Yesus untuk kita lakukan di dalam hidup kita.

Pada hari ini kita belajar untuk memiliki mata yang tertuju kepada Yesus. Cinta kita kepada Yesus hendaknya menjadi cinta tak bersyarat. Segalanya hanya bagi kemuliaan Tuhan yang sudah lebih dahulu mengasihi kita.


PJ-SDB


Wednesday, January 8, 2020

Food For Thought: Sebenanya kita lemah!


Sebenarnya kita itu lemah!



Pada hari ini kita mendengar sebuah kisah Yesus dalam Injil yang begitu menarik. Setelah Tuhan Yesus menggandakan Roti dan Ikan, Ia kembali kepada Bapa dalam doa dan ucapan syukur. Ia membiarkan para murid untuk mendahuluinya ke Betzaida dengan perahu. Tentu saja para murid merasa senang karena mereka sendirian, tidak bersama Yesus. Hanya saja mereka tidak sadar bahwa mereka lemah, tidak berdaya di hadirat Tuhan.

Para murid berjalan sendirian. Angin sakal mengganggu mereka dalam suasana gelap dan tentu sangat menakutkan. Tadinya mungkin mereka senang karena bisa sendirian tanpa Yesus, kini mereka ketakutan dan meminta tolong pada Yesus. Yesus sudah tahu bahwa tanpa kehadiran-Nya para murid akan mengalami banyak kesulitan. Dalam suasana gelap, Ia berjalan di atas air dan menambah lagi satu ketakutan. Para murid lupa, tidak mengenal dan lebih sinis lagi mereka berpikir bahwa mereka sedang melihat hantu padahal Yesus ada di hadapan mereka. Yesus tidak tersinggung karena dianggap hantu, Ia malah menghardik angin, meredahkan air danau dan membuat hati para murid teduh dan tenang, meskipun nanti Markus memberi kesan dengan mengatakan bahwa hati mereka tetap degil.

Kisah Injil ini adalah kisah hidup kita sebagai Gereja. Mengapa demikian?

Pertama, Pikirkanlah bahwa banyak kali kita senang berjalan sendiri, mengandalkan diri sendiri tanpa mengandalkan kuat dan kuasa Tuhan. Hasilnya adalah ketakutan dan ketidak berhasilan. Yesus mengatakan: 'Sine me nihil potestis facere! Without me you can do nothing!' Terlepas dari Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yoh 15:5). Perkataan Yesus ini benar dan sudah dibuktikan oleh pengalaman para murid. Ketika mereka sendirian, perahu mereka oleng karena angin sakal, dan yang terjadi hanya ketakutan saja.

Kedua, Pikirkanlah saat ini, dimana Gereja mengalami kesulitan dari dalam dan luar Gereja. Masalah korupsi di dalam Gereja, masalah pedofilia yang menghantam para gembala di dalam Gereja. Memang memalukan. Namun ini adalah angin sakal zaman now dan Gereja benar-benar membutuhkan Yesus. Tanpa Yesus Gereja tidak dapat berjalan sampai tuntas.

Ketiga, Pikirkanlah para gembala dan pelayanannya. Ketika para gembala berjalan sendirian maka pelayanannya selalu tidak maksimal. Paus Fransiskus berharap supaya para gembala itu berbau domba. Artinya mereka harus tinggal dan mengalami kehidupan para dombanya bukan bersenang di istana yang Namanya pastoran.

Keempat, Pikirkanlah para umat yang pergi ke gereja tanpa motivasi yang jelas. Mereka hanya datang untuk ikut misa. Tetapi dari awal sampai akhir mereka hanya main handphone, bercakap-cakap dan bergosip di dalam Gereja. Ini benar-benar sebuah angin sakal di dalam Gereja kita.

Maka marilah kita berubah menjadi lebih baik lagi. Tuhan masih memberi kesempatan bagi kita untuk berubah maka berubalah, karena kita memang manusia yang lemah. Kita harus beranu mengakui bahwa kita lemah bukan kuat. Kita kuat karena Tuhan menguatkan kita. Dialah andalah kita.

PJ-SDB

Homili Hari Rabu Setelah Penampakan Tuhan - 2020


Hari Rabu Setelah Penampakan Tuhan
1Yoh. 4:11-18
Mzm. 72:1-2,10-11,12-13
Mrk. 6:45-52

Jangan berhati degil!

Saya pernah mendengar perkataan seorang ayah kepada anaknya yang sudah berusia remaja. Mungkin anak itu ‘susah diatur’ karena keras kepala dan tidak memiliki disiplin hidup di rumah. Sebab itu ayahnya dengan emosi mengatakan: “Selagi ayah dan ibumu masih ada engkau boleh seenaknya hidup begini. Coba pikirkanlah bahwa pada suatu saat ayah dan ibumu sudah tidak ada bersamamu. Apakah hatimu masih degil juga?” Saya merasa bahwa sang ayah adalah salah satu di antara kita yang mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anak masa kini. Satu keluhan serta kesulitan yang muncul adalah anak-anak susah diatur, tidak patuh, sulit mencintai orang tua dan lain sebagainya. Banyak di antara kita pasti sudah mengalaminya di dalam hidup dan juga keluarga masing-masing. Banyak anak-anak berhati degil. Apa maksudnya berhati degil? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata degil berarti tidak mau menuruti nasihat orang, keras kepala dan kepala batu.

Kita mendapatkan kata degil dalam bacaan Injil. Dikisahkan oleh Penginjil Markus bahwa setelah Yesus menggandakan roti dan ikan dan memberi makan lima ribu orang lebih, Yesus naik sendirian ke atas bukit untuk bersyukur kepada Bapa dalam doa. Para murid mendahuluinya ke seberang danau yakni ke Betzaida dengan sebuah perahu. Pada malam itu perahu yang mereka tumpangi mengalami angin sakal. Para murid Yesus mengalami kesulitan untuk menyeberangi danau itu, meskipun jaraknya sebenarnya sangat dekat. Yesus mengetahui kesulitan yang sedang mereja alami. Pada jam tiga dini hari Yesus berjalan di atas air dan mencoba melewati perahu mereka. Pada saat yang sama mereka memiliki satu tambahan ketakutan selain angin sakal yakni mereka mengira Yesus adalah hantu sehingga mereka berteriak ketakutan.

Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya dengan berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" (Mrk 6:50). Yesus naik ke dalam perahu dan perahu menjadi tenang. Angin berhenti, para murid heran, tercengang dan bingung dengan pengalaman ini. Meskipun sudah ada dua mukjizat besar yaitu penggandaan roti dan Yesus meredahkan angin sakal namun para murid belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil. Para murid yang setiap hari hidup bersama Yesus memiliki hati yang tetap degil. Tuhan Yesus sendirilah yang akan melembutkan hati mereka supaya menjadi hati yang mampu mengasihi.

Kisah para murid Yesus yang berhati degil adalah gambaran hidup kita semua sebagai manusia yang sedang hidup di hadirat Tuhan. Kita semua sudah mendapatkan anugerah-anugerah dari Tuhan namun hati kita tetaplah degil. Kita masih sulit bersyukur kepada Tuhan atas semua anugerah-Nya. Kita masih sulit mengasihi karena kasih Tuhan berlalu begitu saja di dalam hidup kita. Sama seperti para murid yang setiap hari tinggal bersama Yesus dan mereka lupa bahwa mereka sedang tinggal bersama Yesus. Kita juga ketika merasa dekat dengan Tuhan Yesus, akan cepat lupa sehingga hati kita degil. Kita juga berhati degil dalam hidup berkeluarga dan berkomunitas. Anak-anak sangat sulit untuk mendengar dan mentaati orang tuanya. Para suami dan istri tidak saling mendengar satu sama lain. Akibatnya adalah relasi di dalam keluarga hambar, tidak ada cinta yang cukup untuk menyatukan setiap pribadi di dalam keluarga.

Orang yang berhati degil juga dipengaruhi oleh kebiasaan menggunakan gadget. Orang-orang yang sudah kecanduan gadget atau kita kenal dengan phone snubbing (Phubbing) selalu kesulitan untuk mendengar dan mentaati satu sama lain. Orang yang tidak saling mendengar memiliki hati degil sehingga selalu mengalami kesulitan untuk membangun relasi dengan sesama manusia. Mari kita meneliti bathin kita masing-masing, apakah kita memang berhati degil?

Apa yang harus kita lakukan untuk mengikisi hati degil ini?

Penulis surat Yohanes memberikan kiat bagi kita untuk melumpuhkan hati yang degil. Kiat yang dimaksud adalah kasih. Kasih menghancurkan kedegilan hati. Yohanes mengatakan bahwa Allah begitu mengasihi manusia maka kita sebagai manusia harus mampu mengasihi. Kasih itu berasal dari Allah. Manusia sendiri diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Maka konsekuensi logisnya adalah manusia harus mampu mengasihi Tuhan dan sesamanya. Kemampuan untuk mengasihi sesama manusia merupakan tanda bahwa Allah berada di dalam diri kita meskipun Ia tidak kelihatan. Yohanes mengingatkan kita supaya kita sadar diri ada di dalam Allah dan Allah sendiri di dalam diri kita. Yohanes dengan tegas mengatakan: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1Yoh 4:16). Allah adalah kasih maka Ia akan membantu untuk mengubah hati kita supaya mampu mengasihi.

Yohanes juga menegaskan: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1Yoh 4: 18). Orang berhati degil diliputi banyak ketakutan di dalam hidupnya. Orang yang berubah secara radikal tidak akan mengalami kesulitan dalam mengasihi. Kasih itu universal karena berasal dari Allah sendiri. Lagi pula Allah adalah kasih (1Yoh 4:16).  Maka apa untungnya kita berhati degil? Lebih baik kita memiliki hati yang mampu mengasihi. Janganlah berdegil hati tetapi milikilah hati yang mampu mengasihi  Tuhan dan sesama.

P. John Laba, SDB

Tuesday, January 7, 2020

Food For Thought: Jangan takut menjadi miskin


Jangan takut menjadi miskin!

Saya kagum dengan seorang ibu yang mengatakan kepada putera sulungnya untuk membagi lauk di piring dengan adiknya. Sang kakak itu mau makan sendiri, sedangkan adiknya meminta lauk itu beberapa kali. Ibu itu mengatakan begini: “Nak, adikmu meminta dari tadi supaya kamu membagi lauk di piringmu itu. Jangan pelit ya sebab orang pelit selalu takut untuk menjadi miskin. Tuhan tidak memihak mereka.” Anak sulung itu mendengar dengan baik dan membagikan lauk kepada adiknya. Ini sebuah pengalaman sederhana yang selalu terjadi di dalam keluarga.Nah, para orang tua bertugas untuk mengedukasi anak-anaknya supaya bermurah hati seperti Tuhan murah hati, suka berbagi dengan orang yang sangat membutuhkan. Kebiasaan baik ini akan berlanjut sepanjang hidup anak-anak karena mereka mengalami edukasi dan kebiasaan baik di dalam keluarga.

Pada hari ini Tuhan Yesus melakukan hal yang sama. Ia membuat mukjizat dengan memperbanyak roti dan ikan dan semua orang puas bahkan masih ada sisanya. Proses terjadinya mukjizat ini sangat edukatif. Ketika melihat banyak orang yang membutuhkan makanan, Yesus meminta para murid untuk bermurah hati, berbagi makanan yang mereka miliki. Tetapi para murid takut miskin, takut kelaparan sehingga mereka sulit berbagi.Tuhan Yesus menggunakan kesempatan untuk mengajar mereka berbagi kepada mereka yang sangat membutuhkan. Caranya adalah Dia berekaristi, membagikan kepada para murid roti dan ikan, dan meminta mereka untuk membagikannya kepada banyak orang yang sudah duduk berkelompok-kelompok dalam persaudaraan. Hasilnya, mereka puas dan masih ada sisa. Ini adalah the power of sharing!

Ekaristi selalu membantu kita untuk saling berbagi. Di dalam Ekaristi, Tuhan Yesus mengambil Roti, memecah-mecahkan, dan membagikan. Kita juga hendaknya membagi hidup kita dengan sesame yang sangat membutuhkan. Kebiasaan kita adalah mudah menutup mata, takut miskin, pelit dan lain sebagainya. Tuhan Yesus tidak pernah berbuat demikian. Ia tidak hanya membagi roti dan ikan, Ia bahkan membagi hidup-Nya sebagai santapan Rohani sepanjang masa. Maka dari Yesus kita belajar untuk bermurah hati seperti Bapa di surga. Dari Yesus kita belajar untuk memberi dengan sukacita bukan dengan bersungut-sungut. Kalau memberi janganlah tangan kanan memberi sedangkan tangan kiri mengambil foto untuk membuktikan bahwa kita sudah berbagi. Saling berbagi adalah wujud kasih kita yang berasal dari Allah sendiri.

Tuhan Yesus memberkati kita.

P. John Laba, SDB

Homili Hari Selasa sesudah Penampakan Tuhan - 2020


Hari Selasa setelah Penampakan Tuhan
1Yoh. 4:7-10
Mzm. 72:2,3-4ab,7-8
Mrk. 6:34-44

Sebab Allah adalah kasih

Saya pernah melihat sebuah ikon Hati Kudus Yesus di rumah sebuah keluarga. Ikon itu terbuat dari pecahan-pecahan keramik. Pecahan-pecahan keramik yang berwarna-warni itu dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah ikon Hati Kudus Yesus yang sangat bagus. Pada bagian bawah dari ikon itu terdapat tulisan begini: “Sebab Allah adalah kasih”. Apa yang masuk di dalam pikiran saya setelah melihat ikon itu? Saya mengagumi kreativitas sang pembuat ikon yang tidak mau membuang-buang pecahan keramik di rumah baru itu tetapi merangkainya menjadi sebuah ikon yang bagus. Mungkin ia hanya menikmati karya seninya sebatas apa yang ia pikirkan saja. Saya justru melihat bagaimana ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa pecahan keramik, merangkainya menjadi satu kesatuan yang membentuk ikon Hati Kudus Yesus dan membuat tulisan ‘Sebab Allah adalah kasih’. Dalam pikiran saya, kiranya hidup kita juga serupa dengan pecahan keramik yang terbuang karena masa lalu kita yang penuh kegelapan dan dosa. Meskipun demikian, kita semua telah dikumpulkan kembali sebagai saudara dalam kasih oleh Tuhan sebab Dia adalah kasih yang sesungguhnya. Betapa indah dan luhurnya kasih Tuhan Allah bagi kita orang berdosa sebab Dia adalah kasih.

Pada hari ini kita mendengar pengajaran dari St. Yohanes bagi komunitasnya. Ia mengatakan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1Yoh 4:7-8). Ajakan Yohanes ini sangatlah luhur bagi komunitasnya. Ia menyapa mereka sebagai saudara dalam kasih dan mengajak mereka semua untuk saling mengasihi. Ia meyakinkan semua anggota komunitasnya bahwa mereka semua hidup dan berasal dari Allah yang adalah kasih. Sebab itu logikanya adalah Allah adalah kasih sehingga semua orang yang berasal dari Allah saling mengasihi satu sama lain.

Selanjutnya, Yohanes menerangkan bahwa kasih Allah menjadi nyata di dalam diri Yesus Kristus Putera-Nya. Allah Bapa yang adalah kasih, mengutus kasih-Nya ke dalam dunia yaitu Yesus Kristus supaya dunia hidup dalam kasih Allah. Pada akhirnya Yohanes berkata: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.” (1Yoh 4:10). Sebuah kekeliruan yang selalu kita alami di hadirat Tuhan adalah bahwa kita berpikir dan merasa telah mengasihi-Nya. Sebenarnya, ini hanya pikiran manusiawi yang memuaskan kita sesaat bahwa kita mengasihi Allah. Bagi Yohanes, bukan kita yang mengasihi Allah melainkan Allah sendiri yang mengasihi kita sebab Dia adalah kasih. Kasih menjadi nyata dalam Yesus sebagai damai kita. Dia yang mendamaikan kita dengan Allah Bapa di surga dalam Roh.

Mari kita belajar untuk mengoreksi diri di hadirat Tuhan. Kita berpikir bahwa kita telah mengasihi Allah padahal Allah adalah kasih sehingga Dialah yang pertama mengasihi kita. Dialah asal muasal kasih itu dan Ia memberikan kesempatan kepada kita untuk mengerti bahwa Ia memang mengasihi kita. Pengalaman rohani seperti ini hendaknya menjadi sebuah kultur dalam hidup kita. Kalau Allah membiarkan kita menyadari kasih-Nya maka kita pun harusnya demikian. Di dalam hidup berkeluarga, masing-masing orang harus merasakan kasih. Orang mudah berkata: “I Love You” tetapi kalau kasih itu hanya diucapkan dan tidak dialami maka percuma saja. Tidak ada arti dan pengaruhnya di dalam hidup kita. Saya mengingat santu Don Bosco yang pernah berkata: “Kaum muda tidak hanya boleh mendengar bahwa mereka dikasihi, mereka harus sadar bahwa diri mereka memang dikasihi apa adanya.” Kasih bukanlah tatanan kata-kata melainkan sebuah pengalaman hidup yang nyata.

Apa wujud nyata sebuah pengalaman kasih Allah di dalam hidup kita?

Penginjil Markus mengisahkan sebuah mukjizat yang dilakukan Yesus di tengah para murid-Nya. Ia berkeliling dan berbuat baik kepada banyak orang. Ia sungguh-sungguh menghadirkan kerahiman Allah bagi banyak orang saat itu. Kerahiman Allah Bapa diekspresikan seperti ini: “Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.” (Mrk 6:34). Maka wujud kasih Allah ditunjukkan dalam sikap Yesus yang berbelas kasih kepada orang-orang yang datang mencari-Nya. Ia tunjukkan secara nyata dalam menyapa dan mengajar mereka.

Wujud kasih Allah juga menjadi nyata ketika Yesus mengajar para murid untuk berbagi dengan orang lain. Para murid memang berpikiran sangat manusiawi bahwa hanya sedikit yang mereka miliki sehingga sangatlah sulit untuk berbagi. Yesus meyakinkan mereka dengan berkata: “Kamu harus memberi mereka makan”. Mukjizat pun terjadi. Dengan hanya memiliki lima roti dan dua ikan, Yesus mengajar para murid untuk memiliki hati penuh syukur dan berbagi kepada sesama manusia. Kunci mukjizat ini terletak pada kemampuan dan kesediaan untuk berbagi dengan sukacita. Hasilnya adalah semua orang merasa puas bahkan kepuasan mereka berlimpah rua.  Kasih Allah melipatgandakan kepuasaan hidup kita, asal kita berani berbagi dengan sesama yang sangat membutuhkan.

Allah adalah kasih maka tidak ada yang mustahil bagi hidup kita. Asal kita terbuka pada kasih Allah maka kita juga akan mampu menunjukkan wajah Allah yang penuh kasih kepada sesama. Kita mungkin seperti pecahan keramik yang sebenarnya dibuang, tidak berguna tetapi Allah mengasihi kita apa adanya sehingga kita pun dapat menunjukkan kasih Allah kepada sesama. Allah adalah kasih. Allah adalah sumber kasih. Mari kita mengasihi dengan kasih Allah sendiri.

PJ-SDB

Monday, January 6, 2020

Homili Hari Senin setelah Penampakan Tuhan - 2020


Hari Senin sesudah Penampakan Tuhan
1Yoh. 3:22-4:6
Mzm. 2:7-8,10-11
Mat. 4:12-17,23-25

Mari ikut Yesus

Pada hari ini orang mulai memikirkan bagaimana mereka dapat membongkar hiasan-hiasan Natal di rumah, di tempat umum dan lebih khusus lagi di Gereja. Ini pertanda masa Natal segera berakhir setelah kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Liturgi Gereja, melalui bacaan-bacaan Kitab Suci menghadirkan sosok Yesus yang sudah dewasa. Ia berkeliling dan berbuat baik. Dalam berkeliling dan berbuat baik itu, Ia menghadirkan Kerajaan Allah dengan seruan tobat.

Penginjil Matius hari ini mengisahkan tentang tampilnya Yesus di Galilea. Pada saat itu Yohanes Pembaptis sudah lebih dahulu tampil untuk mempersiapkan kedatangan Yesus. Namun karena ia berani menegur Herodes Antipas karena menikahi Herodias yang adalah istri saudaranya Herodes Filipus maka ia pun ditangkap masuk penjara. Yesus mendengar peristiwa Yohanes Pembaptis ini sehingga Ia pun memilih untuk menyingkir dari Nazaret sebagai kampung halamannya ke Galilea, tepatnya di Kapernaum daerah Zebulon dan Naftali. Di tempat baru ini, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai terang bagi bangsa-bangsa yang diam di dalam kegelapan. Hal ini tentu tepat sebagaimana dikatakan di dalam Kitab Perjanjian Lama: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." (Mat 4:15-16). Di tempat yang baru ini Yesus menghadirkan Kerajaan Allah dengan seruan tobat: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:17).

Yesus berkeliling dan berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukan Yesus adalah mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Caranya adalah berkeliling di seluruh daerah Galilea, mengajar di dalam rumah-rumah ibadat, memberitakan Injil dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan manusia. Di sini kita melihat misi utama Yesus sungguh terlaksana dengan baik yaitu mengajar dan menyembuhkan. Warta Injil menjangkaui semua orang dari berbagai suku dan bahasa. Kesembuhan sebagai buah keselamatan menjadi milik orang-orang yang percaya kepada Yesus dan mengikuti-Nya dari dekat. Penampilan Yesus ini sungguh mempesona, menarik minat dan perhatian banyak orang dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem, dari Yudea dan dari seberang Yordan. Secara geografis, orang-orang ini berasal dari berbagai daerah. Keselamatan dalam Yesus menjadi milik semua orang.

Bagaimana kita dapat menunjukkan jati diri kita sebagai orang yang setia mengikuti Tuhan Yesus? Yohanes dalam suratnya yang pertama membuka wawasan kita untuk memahami tugas dan perutusan Yesus di dalam Gereja dan kita sebagai Gereja di dalam Gereja sendiri. Kepada komunitasnya, Yohanes mengingatkan mereka untuk menuruti seluruh perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Menuruti perintah Tuhan berarti kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Perintah Tuhan yang dimaksudkan adalah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Dengan percaya kepada Yesus berarti kita diam di dalam Allah sendiri dan dengan demikian Allah juga diam di dalam kita. Allah hadir dalam Roh dan Kebenaran yang menjadikan kita sungguh-sungguh Anak Allah yang mengikuti-Nya dari dekat.

Di samping kita mengikuti perintah Tuhan, Yohanes juga membantu kita untuk mampu membuat discernment supaya mampu membedakan Roh Kudus yang diam di dalam diri kita dan roh jahat yang tidak lain adalah roh antikristus. Roh Allah mengakui Yesus Kristus yang berinkarnasi berasal dari Allah. Roh yang tidak mengakui Yesus Kristus adalah antikristus. Setiap pribadi harus merusaha dan sadar diri bahwa ia berasal dari Allah. Perasaan demikian mengantar dia untuk percaya dan mengikuti Yesus dari dekat.

Pada hari ini kita belajar dari Tuhan Yesus. Ia berkeliling dan berbuat baik dengan mengajar dan menyembuhkan. Ia menghadirkan Injil sebagai khabar sukacita bagi semua orang yang menantikan keselamatan. Untuk itu kita harus berani melepaskan hidup lama dan mengenakan hidup baru di dalam Tuhan. Tugas kita adalah menjadi saksi Kristus sang terang bagi bangsa-bangsa yang hidup dalam kegelapan. Betapa indah dan luhurnya hidup kita sebagai saksi terang Kristus. Kita menunjukkannya dalam sikap dan perilaku yang nyata.

PJ-SDB