Monday, March 16, 2020

Homili 16 Maret 2020

Hari Senin, Pekan III Prapaskah
2Raj. 5:1-15a
Mzm. 42:2,3; 43:3,4
Luk. 4:24-30

Semoga Tuhan menyembuhkan kita

Kita semua memasuki pekan prapaskah ketiga. Fokus perhatian kita pada pekan ini adalah pada sakramen pembaptisan yang telah kita terima dan bagaimana mewujudkan secara nyata sakramen pembaptisan di dalam hidup kita setiap hari. Sekurang-kurangya sekali dalam setahun khususnya pada malam paskah kita membaharui janji baptis. Rumusan umum dari pembaharuan janji baptis adalah dalam bentuk dialog antara imam dan umat seperti ini: Imam: Apakah saudara menolak kejahatan dalam diri saudara sendiri dan dalam masyarakat? Umat: Ya, saya menolak. Imam: Apakah saudara menolak godaan-godaan setan dalam bentuk takhayul, perjudian dan hiburan yang tidak sehat? Umat: Ya, saya menolak. Imam: Apakah saudara menolak segala tindakan dan kebiasaan tidak adil dan tidak jujur yang melanggar hak-hak asasi manusia? Umat: Ya, saya menolak. Perhatikan pertanyaan imam dan jawaban umat memang sangat sederhana namun menuntut komitmen kita untuk melaksanakannya.

Dari rumusan umum permbaharuan janji baptis kita belajar untuk menjadi orang katolik yang terbaik. Pertama, sebagai orang yang sudah dibaptis kita berusaha supaya dengan rahmat Tuhan berani menolak kejahatan di dalam diri kita dan dalam masyarakat kita. Ini memang sebuah tantangan besar karena kejahatan bukan ditolak tetapi menjadi sahabat. Korupsi dan aneka penyelewengan dana banyak dilakukan oleh orang-orang yang nama pertamanya santu ini dan santa itu. Kalau kita mengunjungi penjara ternyata banyak saudara dan saudari kita sedang menginap di sana. Ini tandanya bahwa kita belum berani menolak kejahatan baik di dalam diri sendiri maupun dalam masyarakat. Kedua, Ternyata kita sebagai orang yang dibaptis masih membiarkan diri untuk dikuasai oleh godaan setan seperti takhayul, perjudian dan hiburan yang tidak sehat. Berapa orang yang berani jujur mengatakan memiliki jimat, air, batu dari gunung kawi dan lainnya? Banyak orang katolik suka memberi pinjaman uang dengan bunga yang tinggi. Ketiga, kita bangga sebagai orang yang dibaptis tetapi masih berlaku tidak jujur dan adil, suka menindas hidup sesama. Betapa kita begitu sadar ketika mengatakan “Ya, saya menolak!” tetapi ternyata masih menikmatinya. Kita butuh Tuhan Yesus untuk menyembuhkan kita.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengajak kita untuk mengenal air (symbol Roh Kudus) dan kuasa penyembuhan dari Tuhan. Naaman adalah orang Syiria, panglima raja Aram, merupakan seorang terpandang, disayangi banyak orang namun sangatlah disayangkan karena ia sakit kusta. Ketika itu ada seorang gadis yang merupakan tawanan dari Israel. Ia juga prihati kepada sosok Naaman yang sedang sakit kusta. Sebab itu ia meminta kepada istri Naaman begini: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” (2Raj 5:3). Naaman merasa yakin akan perkataan gadis itu sehingga ia pun pergi meminta ijin kepada raja. Raja Aram mengijinkan Naaman untuk mengikuti proses pengobatannya.

Apa yang dilakukan Naaman? Setelah mendapat ijin khusus dari raja maka Ia pun menyiapkan diri untuk berangkat ke Israel. Ia membawa serta persembahan berupa barang-barang berupa sepuluh talenta perak, enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian. Surat raja Aram disampaikan kepada raja Israel. Reaksi spontan raja Israel terungkap dalam sikapnya yang mengoyakan pakaian dan mengungkapkan perkataan ini: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.” (2Raj 5:7).

Elisa sang abdi Allah meminta Naaman untuk membasuh dirinya di dalam sungai Yordan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” (2Raj 5:10). Perkataan abdi Allah ini dimentahkan begitu saja oleh Naaman. Ia berkata: “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama Tuhan, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.” (2Raj 5:11-12). Namun demikian Naaman mendapat penguatan dari para pegawai sehingga ia pun membenamkan dirinya ke dalam air. Naaman menjadi tahir seketika itu juga. Naaman kemudian mengucapkan syukur atas kesembuhannya dengan berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.” (2Raj 5:15).

Kisah Naaman yang sembuh total setelah membenamkan tubuhnya sebanyak tujuh kali di sungai Yordan menandakan kuasa penyembuhan Tuhan melalui air. Air adalah simbol Roh Kudus. Air menyehatkan dan menyembuhkan. Air menyucikan kita dari noda dosa dan menyalurkan berkat dan rahmat Tuhan kepada kita semua. Sayang sekali karena banyak di antara kita yang tidak menyadari kasih dan kemurahan Tuhan. Dan ternyata Tuhan Yesus juga mengalami sendiri bagaimana orang-orang di Nazaret tidak mengenal Yesus. Itu sebabnya Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” (Luk 4:24). Orang-orang Nazaret mendengar perkataan Yesus, menyaksikan segala mukjizat namun mereka tetap menutup dirinya terhadap Yesus. Pengalaman Yesus mirip dengan pengalaman Elia dan Elisa dalam dunia perjanjian lama.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini mengoreksi cara hidup kita sebagai orang katolik yang mudah lupa diri sehingga meremehkan kuasa Tuhan. Tuhan yang kita Imani memiliki kuasa menyembuhkan. Namun apa yang terjadi dalam hidup kita? Naaman sebelum mendapat kesembuhan, ia masih sempat meragukan kuasa Tuhan. Hatinya panas ketika disuruh Elisa untuk mandi di sungai Yordan tujuh kali. Hal yang sama terjadi di Nazaret ketika orang-orang tidak menghormati Yesus. Mereka bahkan menghalau Yesus ke luar kota, dekat tebing gunung supaya dilempar. Kita pun merasa sudah dibaptis sehingga lupa bahwa kita mengimani Yesus. Hal lain adalah Tuhan memiliki kuasa untuk menyebuhkan. Pada saat ini semua orang panik dengan Covid-19. Kepanikan berasal dari orang-orang yang belum dewasa dalam iman. Rumusan sederhana: jaga jarak, hindari keramaian dan di rumah saja. Banyak yang tidak membaca berita, video tetapi ikut menyumbang kepanikan dengan menyebarkan melalui media social. Mungkin anda salah seorang yang sedang panik. Corona itu kecil sekali, Tuhan kita jauh lebih besar. Tuhan menyembuhkan kita semua.

Saya mengakhiri homili ini dengan mengutip lagu dari Madah Bakti: “Tuhan Yesus sembuhkanlah kami, orang buta orang congkak hati. Dari mati hidupkanlah kami. Dari dosa bersihkanlah kami, Tuhan Yesus.” (MB no. 285).

PJ-SDB

Wednesday, March 11, 2020

Homili 11 Maret 2020

Hari Rabu, Pekan Prapaskah II
Yer 18:18-20
Mzm 31: 5-6.14.15-16
Mat 20: 17-28

Tuhan pelindungku


Pada pagi hari ini saya membaca beberapa kutipan dari Kitab Mazmur yang pernah saya tulis di dalam laptop saya beberapa tahun silam. Saya menemukan kembali sebuah kutipan yang sangat menguatkan hidup saya di saat-saat mengalami kesulitan dalam melakukan tugas kegembalaan sebagai seorang gembala umat. Inilah kutipan yang saya maksudkan: “Tetapi Tuhan adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku” (Mzm 94:22). Memang, setiap orang tidak pernah luput dari kesulitan-kesulitan hidup. Kesulitan-kesulitan itu bisa datang dari dalam diri sendiri dan juga dari luar diri kita sendiri. Masalah bagi kita semua adalah bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan itu? Banyak orang merasa lebih mudah mengatasi kesulitan hidupnya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Mereka lalai dan dengan dalil lupa untuk mengandalkan Tuhan. Akibatnya kegagalan menjadi hasil akhirnya. Kalaupun merekja berhasil selalu tidak memuaskannya. Tuhan Yesus sendiri pernah berkata: “Terlepas dari Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Ketika kita mengalami sebuah persoalan kehidupan maka seharusnya Tuhan yang menjadi andalan utama sebab Dialah pelindung hidup kita. 

Belakangan ini kita semua mengalami sebuah ketakutan yang besar terhadap bahaya virus ‘Covid-19’. Banyak orang merasa takut karena berita-berita hoax yang amat menakutkan. Pemerintah dan semua orang yang berkehendak baik untuk menolong, telah memberi saran-saran yang bagus terutama bagaimana kita dapat menjaga diri dari virus corona ini. Upaya untuk menjaga kebersihan badan dan konsumsi makanan bergizi merupakan jalan yang tepat untuk menangkal virus corona. Namun sebagai orang-orang beriman, kita semua patut mendapat kekuatan dari Tuhan melalui sabda-Nya untuk menjaga diri kita dari berbagai penyakit seperti covid-19 dan juga bahaya demam berdarah yang sedang menyerang beberapa saudara dan saudari kita tempat di tanah air ini. Raja Daud mengingatkan kita dalam doanya berikut ini: "Tuhan adalah tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai. Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.” (Mzm 91:2-6). 

Bacaan-bacaan Liturgi pada hari ini mengarahkan kita semua untuk berani mengandalkan Tuhan sebagai pelindung kita. Dalam bacaan pertama kita mendengar sharing pengalaman nabi Yeremia tentang sebuah persekongkolan yang melawan dia. Para lawannya mengadakan persekongkolan untuk menghabiskan Yeremia. Mula-mula mereka berencana untuk memukul Yeremia dengan bahasanya sendiri dan berusaha untuk tidak memperhatikan setiap perkataannya sebagai nabi. Para lawan Yeremia adalah orang-orang yang selalu bersama dengannya. Dalam situasi yang sulit ini, ia tidak mengandalkan dirinya. Ia justru mengandalkan Tuhan dengan berdoa: “Perhatikanlah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah suara pengaduanku! Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka.” (Yer 18:19-20). Yeremia memberi teladan ketabahan dalam penderitaan dan mengandalkan Tuhan sebagai penyelamat-Nya. 

Pengalaman Yeremia adalah pengalaman kesehariaan kita semua. Banyak kali kita mengalami kesulitan di dalam berelasi dengan keluarga dan komunitas kita masing-masing. Kesulitan itu berasal dari dalam komunitas, khususnya dari setiap anggota komunitas yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Meskipun ada perbedaan-perbedaan namun ketika kita dapat mengandalkan Tuhan maka segala perkara kehidupan akan menjadi ringan. Hal terpenting sebagaimana dilakukan oleh Yeremia adalah selalu terbuka dan mengandalkan Tuhan ketika menghadapi suatu persoalan hidup. Doa kita adalah ‘Selamatkanlah aku, ya Tuhan, oleh kasih setia-Mu!’ (Mzm 31:17b). Apakah kita masih mengandalkan Tuhan dalam doa atau mengandalkan kekuatan diri kita tanpa doa?

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil mengumpulkan keduabelas murid-Nya untuk menyampaikan segala penderitaan yang akan dialami-Nya. Dia menunjukkan diri-Nya sebagai Mesias yang menderita. Maka Ia jujur mengatakan bahwa Ia akan mengalami berbagai penderitaan di Yerusalem. Ia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan para ahli Taurat. Mereka akan menjatuhi hukuman mati bagi-Nya. Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Dia akan diolok-olok, disesah, disalibkan namun pada hari ketiga akan bangkit dengan mulia. Penderitaan Yesus ini akan menjadi bagian dari penderitaan setiap murid Kristus. Artinya para murid Kristus juga akan meminum cawan-Nya sendiri. Kuncinya adalah pada kerendahan hati untuk mengikuti teladan Yesus Kristus. Yesus menunjukkan jati diri-Nay sebagai Hamaba Yahwe yang menderita sebagaimana sudah dinubuatkan dalam Kitab nabi Yesaya.

Masa prapaskah menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk ikut mengalami penderitaan Kristus. Santu Paulus pernah berkata: “Sekarang aku bersukacita, bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan di dalam dagingku apa yang masih kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuh-Nya yaitu jemaat” (Kol 1:24). Pengurbanan diri melalui matiraga, puasa dan pantang, doa dan karya amal kasih adalah jalan bagi kita untuk mengalami penderitaan Kristus dan mendewasakan iman kita kepada-Nya. Tentu saja kita harus mengandalkan Tuhan di dalam hidup ini.


PJ-SDB

Tuesday, March 10, 2020

Homili 10 Maret 2020

Hari Selasa, Pekan Prapaskah ke-II
Yes. 1:10,16-20
Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23
Mat. 23:1-12

Belajarlah berbuat baik

Adalah Sidney Smith (1771-1800). Beliau adalah seorang penyair berkebangsaan Inggris. Ia pernah berkata: “Kita tidak tahu apa-apa tentang hari esok, urusan kita adalah berbuat baik dan berbahagia pada hari ini.” Perkataan Smith ini memang sederhana namun memiliki pesan yang luar biasa bagi kita semua. Bagi kebanyakan orang, hari ini adalah sebuah anugerah yang patut kita syukuri sedangkan hari esok masih merupakan sebuah misteri. Orang belum tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Semuanya masih misteri dan berada dalam rencana Tuhan Allah. Namun demikian, kita tidak dapat mengabaikan hari esok yang dianggap misteri ini. Hal terbaik yang harus kita lakukan mulai saat ini adalah selalu berbuat baik dan berbahagia. Kiranya pemikiran ini sejalan dengan perkataan St. Theresia dari Kalkuta ini: “Hal yang baik yang anda lakukan hari ini mungkin saja akan dilupakan besok. Sekalipun begitu berbuat baiklah apapun yang terjadi.”

Masa retreat agung atau prapaskah merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik dengan melakukan karya-karya amal kasih kepada sesama. Karya-karya amal kasih yang kita lakukan juga menjadi tanda nyata kasih dan kemurahan Tuhan dalam diri kita bagi sesama. Katekismus Gereja Katolik (KGK 2447) membuat pembagian yang jelas tentang karya belas kasih jasmani dan karya belas kasih rohani. Pertama, ada tujuh karya belas kasih jasmani yakni memberi makan kepada orang yang lapar, memberi minuman kepada orang yang haus, memberi perlindungan kepada orang kepada orang asing, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, melawat orang sakit, mengunjungi orang yang dipenjara, menguburkan orang mati. Kedua, ada tujuh karya belas kasih rohani yakni menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang belum tahu, menegur pendosa, menghibur orang yang menderita, mengampuni orang yang menyakiti, menerima dengan sabar orang yang menyusahkan, berdoa untuk orang yang hidup dan mati. Selama masa prapaskah ini, kita sebagai orang katolik perlu dan harus melakukan karya-karya belas kasih jasmani dan rohani ini. Bagi saya, keempat belas point ini juga menjadi puasa bagi kita. Berpuasa berarti melakukan kebaikan dan mematikan dosa di dalam hidup kita.

Pada hari ini kita mendapat kekuatan dari Tuhan Allah melalui nabi Yesaya. Ketika itu Tuhan bernubuat kepada para pemimpin juga semua orang Sodom dan Gomora. Ia meminta mereka semua untuk memperhatikan pengajaran Allah bagi mereka. Inilah pengajaran Allah yang dimaksud nabi Yesaya: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yes 1:16-17). Perkataan Tuhan melalui nabi Yesaya ini kiranya cocok dengan kehidupan kita setiap hari. Kita butuh pengudusan diri di hadirat Tuhan yang Mahakudus dengan menjauhkan segala bentuk kejahatan yang dapat dilakukan kapan dan di mana saja kita berada. Tuhan lebih menghendaki kita untuk berhenti berbuat jahat dan menggantinya dengan belajar untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Hal lain yang patut kita lakukan adalah berlaku adil dan memperjuangkan nasib orang-orang kecil.
Orang-orang Sodom dan Gomora dikenal sebagai orang-orang berdosa. Dosa-dosa mereka merah seperti kirmizi dan kain kesumba. Namun bagi Tuhan, kalau mereka dapat bertobat dari dosa-dosa mereka maka mereka akan memperoleh kebahagiaan. Dosa mereka yang merah seperti kirmizi akan berubah menjadi putih seperti salju,  dan kalau merah seperti kain kesumba akan menjadi putih seperti bulu domba. Orang-orang Sodom dan Gomora adalah kita semua saat ini yang masih memiliki concupiscence atau kecenderungan untuk berbuat dosa. Kita butuh pertobatan yang radikal dari kebiasaan berbuat dosa dan salah yang sama, yang warnanya seperti kirmizi dan kain kesumba. Kita seharusnya berubah menjadi putih seperti salju dan buluh domba. Artinya yang seharusnya kita cari di dalam hidup kita adalah kekudusan.

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini meminta kita untuk focus dalam hidup kita. Kita focus untuk memberikan keteladanan yang baik kepada sesama manusia. Banyak kali orang boleh berteori tentang banyak hal yang baik namun ia sendiri tidak dapat melakukannya secara nyata. Dicontohkan denga para Ahli Taurat dan kaum Farisi yang sudah menduduki kursi Musa. Mereka berpikir bahwa diri mereka seperti Musa. Musa adalah sahabat Tuhan Allah. Ia memperjuangkan kasih dan kebaikan bagi bangsanya. Dia tidak bersikap legalis tetapi yang dia junjung tinggi adalah kasih dan kebaikan Tuhan Allah. Maka kepada para murid-Nya Yesus mengingatkan mereka untuk mendengar dan melakukan pengajaran para Ahli Taurat tetapi jangan menuruti perbuatan mereka. Para ahli Taurat dan kaum Farisi hanya dapat mengajarkan tetapi tidak dapat melakukannya. Mereka juga selalu memandang rendah orang-orang lain dan tidak berlaku adil terhadap sesama manusia. 

Hal-hal lain yang dilakukan oleh para Ahli Taurat dan kaum Farisi adalah bersikap munafik dan superfisial. Hal ini mereka lakukan dalam karya dan doa. Dalam hal berpakaian, mencari tempat terhormat, dan senang di panggil Rabi, Bapa dan pemimpin.  Yesus mengoreksi para murid-Nya dengan pesan ini: “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” (Mat 23:8-10). Bagi Yesus, hal terpenting adalah kita harus memiliki kebajikan kerendahan hati. Dia sendiri lemah lembut dan rendah hati. Maka harapan-Nya bagi kita terungkap dalam perkataan ini: Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat 23:11-12). 

Pada hari ini mari kita belajar untuk berbuat baik. Perbuatan baik itu akan menolong kita untuk bertumbuh sebagai manusia yang matang. Perbuatan baik itu mencerminkan bahwa kita adalah orang beriman sebab perbuatan baik itu berasal dari Tuhan. Dialah yang lebih dahulu berbuat baik kepada kita. Pesan Tuhan ini sangat berti bagi kita: “Belajarlah berbuat baik dan usahakanlah keadilan”. Mari kita amalkan Pancasila, kita adil, bangsa sejahtera!

PJ-SDB 

Monday, March 9, 2020

Jadilah orang kudus zaman ini

Jadilah orang kudus zaman ini!

Adalah Amy Welborn. Ia pernah menulis sebuah buku berjudul: “Be Saints: An Invitation from Pope Benedict XVI”. Buku ini berisi undangan Paus Emeritus Benediktus ke-VI, kepada anak-anak kecil dan remaja untuk bertumbuh dalam kekudusan, mulai dari dalam keluarga masing-masing. Beliau mengatakan bahwa apabila kita bertumbuh dalam sebuah persahabatan yang akrab dengan Tuhan Allah maka kita akan menemukan kebahagiaan sejati dan menjadi kudus. Paus sebelumnya yakni Paus Yohanes Paulus II selalu mengingatkan orang-orang muda supaya jangan takut untuk menjadi orang muda yang kudus sebab kekudusan itu bagi semua orang. Paus Fransiskus saat ini menyampaikan pesan yang sama kepada kaum muda dan anak-anak remaja bahkan seluruh Gereja Katolik untuk menjadi kudus. Beliau mengungkapkan di dalam Seruan Apostoliknya yang ketiga yakni Gaudete et Exultate (Bersukacita dan Bergembiralah). Kita semua dipanggil menjadi orang kudus zaman ini.

Kekudusan berasal dari Tuhan Allah

Pertama-tama kita berhadapan dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Apa itu kekudusan?” Kekudusan merupakan sebuah tingkat kesempurnaan dalam kasih, dalam hal ini kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Pemahaman umum tentang kekudusan ini kita temukan dalam  Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium bahwa semua orang Kristen, dari status atau jajaran apa saja dipanggil kepada kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Ini bearti semua orang dipanggil kepada kekudusan sebagaimana dikatakan Yesus sendiri: ‘Karena itu haruslah kamu sempurna, seperti Bapa-Mu yang di surga adalah sempurna’ (Mat 5:48).”(LG, 40). 

Ketika kita mengatakan tentang kekudusan atau kesucian, maka pikiran kita langsung tertuju kepada kodrat ilahi Tuhan Allah. Kekudusan merupakan karakter Tuhan Allah yang adalah kasih, dalam artian bahwa kasih Tuhan Allah itu pasti sempurna adanya. Kekudusan dan kasih tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebab keduanya merujuk pada kodrat Allah sendiri yakni Dia adalah Kudus adanya (Im 11:44; 19:2, Luk 1:49, 1Ptr 1:15) dan Kasih sempurna (1Yoh 4:10,16). 

Konsili Vatikan II dan Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan bahwa setiap pribadi dipanggil untuk menjadi kudus. Tuhan Yesus lebih dahulu mengatakan bahwa kita hendaknya menjadi kudus sebagaimana Bapa di surga kudus adanya. Panggilan kepada kekudusan memiliki dasar yang kokoh di dalam Kitab Suci sebab sebagai manusia kita diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Sejak semula Allah sudah merencanakan kekudusan kita. St. Paulus pernah berkata: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Ef 1:4). Karena kita diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah maka kekudusan adalah tanda persatuan kasih antara kita dengan Tuhan Allah dan sesama manusia. St. Paulus juga mengajak kita supaya kita hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); dengan demikian “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, kita dapat mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (Gal 5:22; Rom 6:22).

Usaha untuk bersekutu dengan Yesus Kristus memungkinkan kita untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal Yang Mahakudus. Kekudusan berarti sebuah  persekutuan kasih dengan Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Allah Tritunggal Mahakudus telah menanamkan kemampuan pada kita untuk mengasihi dan hidup di dalam persekutuan dan persaudaraan. Dengan mengasihi dapat membuat hidup kita bermakna dan bahagia, sebab sejak semula Allah menciptakan kita agar kita beroleh kebahagiaan. Kekudusan juga merupakan kehendak Allah bagi kita semua tanpa memandang siapa diri kita di hadirat-Nya (1Tes 4:3, Ef 1:4; 1Ptr 1:16). Kita boleh memiliki peran yang berbeda dalam hidup, memiliki jalan dan status hidup yang berbeda-beda, namun kita semua dipanggil untuk hidup kudus dengan mengasihi Tuhan dan sesama (Mat 22:37-39; Mrk 12:30-31). Kita mencapai kepenuhan hidup Kristiani ketika kita sungguh masuk dalam kekudusan Tuhan.

Kekudusan merupakan sebuah kasih karunia dari Tuhan bagi kita. Kita semua mengalami kekudusan Tuhan pada saat dibaptis. Tuhan Allah sendiri pernah berkata: “Sebab Akulah Tuhan, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi” (Im 11:44). St. Paulus berkata: “Sekarang kita diperdamaikan-Nya di dalam tubuh jasamani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol 1:22). Tuhan kita adalah Allah yang kudus. Pemazmur sendiri mengakuinya: “Tinggikanlah Tuhan, Allah kita dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah Tuhan, Allah kita” (Mzm 99:9). Tuhan Allah kudus maka kita dipanggil untuk mengalami sendiri kekudusan-Nya.

Dengan pemahaman umum ini, kiranya seluruh hidup kita berorientasi kepada kekudusan Tuhan. Berkaitan dengan ini St. Petrus menasihati kita: “Hendaklah kalian menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang telah memanggil kalian itu kudus. Sebab ada tertulis: Hendaklah kalian kudus, seperti Aku kudus adanya” (1Ptr 1:15-16). Prinsip yang tepat adalah kita menjadi kudus di dalam seluruh hidup ini bukan hanya setengah hidup karena Tuhan Allah kita itu kudus. 

Tuhan menghendaki kita serupa dengan-Nya

Kekudusan di mulai di dalam diri kita sendiri sebagai orang yang dibaptis. Ini adalah saat pertama kita bersatu dengan Tuhan. Kekudusan bertumbuh subur di dalam keluarga masing-masing. Anak-anak dapat bertumbuh menjadi kudus kalau orang tuanya lebih dahulu menjadi kudus. Ada beberapa tanda lahiria orang tua yang kudus dalam keluarga yakni pendoa sejati, hatinya baik, tulus, jujur dan setia dalam hidup berkeluarga, semangat berkorban, bertahan dalam penderitaan dan memiliki perhatian besar dalam keluarga dan lingkungan. Anak-anak belajar berdoa mulai dari rumahnya sendiri. Anak-anak belajar jujur dan menghargai sesama mulai dari rumahnya sendiri. Siapakah gurunya? Gurunya adalah orang tua bukan pembantu yang bekerja di rumah. Maka jangan pernah orang tua mengalihkan tugas mendidik anak kepada pembantunya.

Paus Fransiskus dalam Seruan Apostoliknya yang ketiga yakni Gaudete et Exultate (Bersukacita dan Bergembiralah) memberikan lima jalan bagi kita untuk menggapai kekudusan pribadi kita:

Pertamakekudusan berarti jadilah dirimu sendiri. Thomas Merton mengatakan bahwa menjadi kudus berarti menjadi diri sendiri. Para kudus terkenal seperti St. Theresia dari Lisieux menemukan kekudusan ketika melakukan tugas-tugasnya yang kecil. St. Ignatius dari Loyola, pendiri Yesuit mencari Tuhan dalam segala hal. St. Philip Neri, pendiri Oratori menjadi kudus karena selera humornya. St. Yohanes Bosco menjadi kudus karena menjadi Bapak, Guru dan Sahabat kaum muda yang miskin.

KeduaHidup kita yang nyata membawa kita kepada kekudusan. Mindset kita harus berubah dalam arti untuk menjadi kudus tidaklah harus menjadi Uskup, imam dan biarawan serta biarawati. Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus. Sebab itu jadilah orang tua yang terbaik maka anda akan menjadi kudus. Jadilah anak-anak yang terbaik maka kekudusan juga menjadi milikmu. Setiap orang dengan profesinya masing-masing dapat menjadi kudus. 

Ketiga, Menghindari kecenderungan Gnostisisme dan Pelagianisme. Sri Paus mengatakan bahwa gnostisisme menggoda orang untuk berpikir bahwa mereka dapat membuat iman “sepenuhnya dapat dipahami” dan menuntun mereka untuk memaksa orang lain mengadopsi cara berpikir mereka. Bagi Sri Paus, ketika seseorang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan, itu adalah tanda bahwa ia tidak berada di jalan yang benar. Seharusnya ia sadar bahwa menjadi orang yang tahu segalanya tidak akan menyelamatkannya di hadapan Tuhan. Pelagianisme memiliki obsesi terhadap hukum, penyerapan dengan keuntungan sosial dan politik, perhatian penuh terhadap liturgi gereja, doktrin, dan prestise. Ini adalah bahaya nyata bagi kekudusan, karena itu merampok kita dari kerendahan hati, menempatkan kita di atas orang lain, dan memberikan sedikit ruang untuk peranan rahmat Allah.

KeempatSelalu bersikap dan berprilaku baik. Kita perlu berelasi baik dengan sesama maka jangan bergosip, hentikan sikap memberi penilaian dan, yang paling penting, berhenti bersikap kejam. Perilaku baik justru membawa kita kepada kekudusan. Perilaku jahat tidak mendekatkan kita kepada Tuhan.

KelimaSabda bahagia adalah penunjuk jalan menuju kekudusan. Kekudusan adalah potret jati diri Tuhan Yesus sendiri. Maka untuk menjadi kudus (bahagia) kita semua dipanggil supaya menjadi miskin dalam roh, mengalami dukacita, menjadi lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, menjadi murah hati, suci hati, membawa damai, bertahan dalam penganiayaan. Paus Fransiskus berkata: “Berbahagialah orang yang berbelas kasih.” Belas kasihan menjadi nyata dalam membantu dan melayani, berani memaafkan dan memahami sesama manusia. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus tidak mengatakan, “berbahagialah orang yang merencanakan pembalasan!”

Kekudusan milik kita

Kekudusan adalah milik kita. Dalam masa prapaskah ini marilah kita berusaha untuk menumbuhkembangkan kekudusan yang menjadi sebuah kasih karunia Tuhan. Hal praktis yang dapat kita lakukan adalah beramal, berdoa dan berpuasa. Ketika kita melakukan ketiga hal ini dengan cinta yang besar maka kekudusan juga menjadi milik kita. Jadilah orang kudus. 

P. John Laba, SDB

Friday, March 6, 2020

Homili 5 Maret 2020

Hari Kamis, Pekan Prapaskah I
T.Est. 4:10a,10c-12,17-19
Mzm. 138:1-2a,2bc-3,7c-8
Mat. 7:7-12

Berdoa lebih baik lagi

Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang bapa. Ia mengaku memiliki sebuah program rohani yang baik pada masa prapaskah 2020 ini yakni ia mau berdoa lebih baik lagi. Sebelumnya ia sangat malas berdoa secara pribadi dan lalai ke Gereja hampir setiap hari Minggu. Namun ia sangat tersentuh ketika melihat sebuah spanduk di gereja dengan tulisan: “Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11:1). Ia berusaha untuk membayangkan bahwa Tuhan Yesus sendiri menjadi Guru yang mengajarnya berdoa. Bayangan ini selalu muncul dalam pikirannya bahwa Tuhan mengajarnya berdoa. Kalimat “Tuhan, ajarlah kami berdoa” juga diucapkan perlahan-lahan namun pasti sambil ia merasakan kehadiran Tuhan Yesus sendiri dalam pengalaman rohaninya. Saya merasa senang dengan program hidup rohani seperti ini. Ada sebuah harapan bahwa dia akan berdoa lebih baik lagi dan dengan demikian hidupnya juga tentu akan berubah menjadi lebih baik pula.

Setelah mendengar sharing ini, saya merasa bahwa selama masa prapaskah ini kita semua butuh prinsip ini yakni berdoa lebih baik lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa ada tiga hal penting yang perlu kita lakukan selama masa prapaskah yakni melakukan perbuatan amal kasih, berdoa dan berpuasa. Saya mau memfokuskan perhatian kita pada aspek kedua yakni berdoa, karena merupakan sebuah aspek yang sangat penting bagi kita dalam retret agung ini. Dengan berdoa kita hendak mengangkat hati dan pikiran kita kepada Allah. Kita dapat berdoa secara pribadi, kita juga dapat berdoa sebagai satu komunitas. Baik berdoa secara pribadi maupun berdoa secara komunitas, kita tetap berpegang pada prinsip mengangkat hati dan pikiran kepada Tuhan. 

Para Bapa Gereja membantu refleksi kita tentang sikap mengangkat hati dan pikiran kepada Tuhan. Bagi mereka ketika kita berdoa ada tiga tingkatan yang berbeda: pertama ada orang yang berdoa kepada Bapa. Orang yang baru belajar untuk berdoa akan merasa selalu berdoa kepada Tuhan. Tuhan begitu jauh sehingga berdoa ‘kepada’-Nya. Kedua, berdoa bersama Tuhan. Orang dituntut untuk berdoa bersama Tuhan. Tuhan adalah Imanuel, tinggal di tengah-tengah kita. Maka seharusnya kita naik kelas dari berdoa kepada menjadi berdoa bersama Tuhan. Biarkan Dia mengajar kita untuk berdoa yang benar. Ketiga, berdoa adalah kasih. Santu Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih (1Yoh 4:8). Sebab itu doa adalah meleburnya diri seorang manusia untuk bersatu dengan Allah yang kudus. Manusia berdoa di dalam Tuhan. Kita boleh bertanya, di manakah posisi kita yang sebenarnya? Apakah kita masih berdoa kepada Tuhan atau bersama Tuhan atau sudah masuk ke level tertinggi yakni berdoa adalah kasih.

Bacaan Kitab Suci pada hari ini memfokuskan perhatian kita pada sikap berdoa lebih baik lagi, dengan karakter istimewa yakni berdoa dengan tekun. Dalam bacaan pertama, kita mendengar ratu Ester yang berdoa dengan tekun kepada Tuhan Allah. Dia berdoa dengan tekun karena dalam situasi yang sulit sekalipun, ia tetap mengandalkan Tuhan Allah yang esa sebagai pelindungnya. Ia berseru meminta tolong ketika maut mendekatinya. Ia mendengar nama Tuhan Allah dari dalam keluarganya, terutama dari ayahnya. Ayahnya mengajarkan bahwa Israel adalah sebuah bangsa terpilih, segala kuasa ada di atas tangan-Nya. Israel tetap menjadi milik kepunyaan Tuhan Allah. Ratu Ester bahkan berdoa memohon keberanian untuk mengatasi para musuh dan lawan.  Ratu Esther akhirnya berkata kepada Tuhan Allah: “Tetapi selamatkanlah kami ini dengan tangan-Mu, tolonglah aku yang seorang diri ini, yang tidak mempunyai seorang pun selain Engkau, ya Tuhan.” (Tamb. Ester 4:17-19).

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil mengajar para murid untuk berdoa dengan tekun. Ia berkata: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Mat 7:7-8). Kita berdoa dengan meminta dan Tuhan akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita sukai. Permintaan kita akan diberikan Tuhan tepat pada waktunya. Kita berdoa dengan mencari dan akan menemukannya. Kalau kita tidak memiliki semangat untuk berdoa maka kita pun tidak akan mendapat apa-apa. Kita berdoa serupa dengan orang yang mengetuk pintu sehingga pintu itu dibukakan. Ketika kita mengetuk pintu hati Tuhan yang penuh kemurahan maka kita akan mendapatka kemurahan. 

Tuhan akan mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan dengan iman dan ketekunan. Dia akan memberikan dan mencukupkan kebutuhan hidup kita. Kalau kita manusia yang jahat saja dapat berbagi dengan sesama, mulai dari dalam keluarga, apalagi Bapa di dalam surga. Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. Doa benar-benar mengubah segala sesuatu. Ia mengubah hidup kita di hadirat Tuhan. Doa menghadirkan rahmat dan belas kasih Tuhan. 

Saya menutup homili hari ini dengan doa dari Mazmur ini: “Tuhan, Rajaku dan Allahku, kabulkanlah doaku, indahkanlah keluh-kesahku, dengarkanlah suara permohonanku.” (Mzm 5:2-3).

PJ-SDB 

Wednesday, March 4, 2020

Homili 4 Maret 2020 - Injil Untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu, Pekan Prapaskah I
Yun. 3:1-10
Mzm. 51:3-4,12-13,18-19 
Luk. 11:29-32

Lectio: 

Sekali peristiwa, Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengerumuni Dia: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"

Demikianlah Injil Tuhan kita.
Terpujilah Kristus.

Renungan:

Yesus Satu-satunya tanda bagimu

Ada seorang umat yang membagi pengalamannya setelah mengikuti Jalan Salib pertama di masa Prapaskah, yakni pada hari Jumat, 28 Februari 2020. Ketika itu, ia berusaha untuk memandang wajah Yesus dalam setiap peristiwa di stasi Jalan Salib, mulai dari Stasi pertama sampai dengan Stasi yang ke empat belas. Ia mencoba untuk masuk lebih dalam lagi dalam permenungan di setiap stasi Jalan Salib. Dari situ ia menemukan dua pengalaman singkat yang dibagikan berikut ini, Pertama, Dia benar-benar merasa seperti debu di alas kaki Tuhan sebab dia orang berdosa. Yesus mencintai orang berdosa dan salib adalah tanda keselamatan. Kedua, Dia merasa terpesona karena Tuhan Yesus selalu memandangnya dengan wajah yang penuh belas kasihan. Ada tatapan dan raut wajah Yesus yang benar-benar menjadi sebuah kekuatan untuk mengubah hidup pribadinya di masa Prapaskah ini. Dia merasa yakin bahwa Yesus sungguh-sungguh menjadi tanda keselamatan Allah baginya.

Saya merasa yakin bahwa masing-masing kita memiliki pengalaman iman yang luar biasa setiap kali mengikuti Jalan Salib. Setiap stasi dalam Jalan Salib seakan menjadi tanda yang dapat mengubah kehidupan kita untuk memiliki relasi kasih yang terbaik dengan Tuhan Yesus sendiri dan dengan sesama manusia di sekitar kita. Pada umumnya Salib yang kita renungkan itu bukan hanya sekedar sebuah kayu yang kasar sebagai tempat Tubuh Yesus disalibkan, salib adalah tanda keselamatan. In Cruce Salus. Pada Salib ada keselamatan karena Yesus yang tersalib menyelamatkan kita dengan kasih-Nya. St. Paulus mengatakan: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (1Kor 1:18). Di bagian selanjutnya, santu Paulus mengatakan: “Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.” (1Kor 1:23). Salib bagi kita adalah tanda keselamatan dan merupakan kekuatan dari Allah.

Pada hari ini kita mendengar sebuah kisah Yesus dalam Injil Lukas. Setelah seorang perempuan memuji Ibu Yesus dengan berkata: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27) maka Yesus menjawabnya: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:28). Perkataan Yesus ini mengagetkan banyak orang yang mengerumuni Dia sebab mereka memang mendengar firman Allah tetapi belum memeliharanya di dalam hati mereka. Mereka belum memiliki kebahagiaan sejati karena kuasa perkataan-perkataan Yesus yang mereka dengar sendiri. Mereka malah meminta tanda yang membuktikan bahwa Yesus sungguh-sungguh memiliki kuasa dalam setiap perkataan dan tindakan-Nya. Sebab itu Yesus dengan keras mengatakan: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Luk 11:29). Sikap sekerumunan orang ini sangat tepat sebagaimana nabi Yehezkiel pernah nubuatkan seperti ini: "Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak, yang mempunyai mata untuk melihat, tetapi tidak melihat dan mempunyai telinga untuk mendengar, tetapi tidak mendengar, sebab mereka adalah kaum pemberontak.” (Yeh 12:2). 

Tuhan Yesus membangkitkan pikiran mereka untuk menyadari dan mengimani-Nya melalui tanda-tanda yang mereka kenal di dalam Kitab Perjanjian Lama yakni tanda nabi Yunus. Nabi Yunus (יוֹנָה (Yonah) berarti ‘merpati’ diutus oleh Tuhan ke kota Niniwe, ibu kota Kerajaan Asyur. Namun Yunus tidak mau pergi ke kota Niniwe ini untuk menyerukan perintah Tuhan sebab ia merasa yakin bahwa apabila orang Niniwe berhenti berbuat dosa maka Tuhan tidak akan menjalankan rencana-Nya untuk menghancurkannya. Dia lalu dilemparkan ke dalam laut dan berada di dalam perut ikan besar selama tiga hari. Pada akhirnya dia mentaati perintah Tuhan dan pergi untuk menyerukan pertobatan kepada seluruh kota Niniwe. Mereka bertobat dan Tuhan menunjukkan belas kasih-Nya kepada mereka. Kisah ini sangat dikenal oleh kerumunan orang ini. 

Yesus mengambil pengalaman Yunus untuk menerangkan jati diri-Nya sebagai satu-satunya tanda yang tepat yang dapat masuk dalam kategori pemikiran mereka. Tugas perutusan Yunus adalah menyerukan pertobatan bagi orang-orang di kota Niniwe dan mereka semua bertobat. Yesus sendiri datang ke dunia dan pewartaan-Nya yang paling awal adalah menyeruhkan seruan tobat: “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15). Yesus tidak hanya sekedar menyerukan tobat tetapi Dia lebih dari pada Yunus sebab Dia mengurbankan diri-Nya, wafat di kayu salib dan bangkit dengan mulia pada hari yang ketiga. Yesus lebih dari Salomo karena banyak orang menganggap dirinya pintar dan bijaksana padahal semuanya datang dari Tuhan.

Apa yang harus kita lakukan?

Pada masa prapaskah ini, iman kita semakin dikuatkan sebab Tuhan Yesus sendiri menunjukkan diri sebagai satu-satunya ‘tanda’ keselamatan kita. Dialah Mesias yang menyelamatkan kita semua dari dosa dan kematian. Nabi Simeon sendiri mengatakannya di depan Maria dan Yusuf: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk 2:34-35). Hal konkret yang harus kita lakukan adalah bertobat dan membaharui diri kita di hadapan Tuhan sendiri. Tuhan Yesus juga menghendaki agar kita berpegang teguh pada Sabda-Nya sebagai tanda. Orang yang berbahagia adalah mereka yang mendengar Sabda dan memeliharanya sehingga menghasilkan buah. Hal konkret yang dapat kita lakukan adalah aktif menghadiri pertemuan APP di Komunitas Basis atau lingkungan supaya menyatu dan akrab dengan Sabda Tuhan. Dengan demikian Yesus sungguh menjadi tanda belas kasih Allah bagi kita.

Doa: Tuhan Yesus, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau selalu berbelas kasih kepada kami orang-orang berdosa. Bantulah kami untuk bertobat dan percaya kepada Injil-Mu. Semoga kami juga percaya bahwa pada salib-Mu ada keselamatan kami. Amen.

PJ-SDB

Sunday, March 1, 2020

Homili Hari Minggu Prapaskah I/A -2020

Minggu Prapaskah I/A
Kej 2:7-9.3:1-7
MT Mzm 51:3-4.5-6a. 12-13.14.17
Rom 5:12-19
Mat 4:1-11

Mentaati Kehendak Tuhan

Saya pernah diundang untuk menghadiri perayaan syukuran dari seorang biarawati yang merayakan 40 tahun hidup membiara (panca windu). Ia memilih moto perayaan yang ditulisnya pada sebuah spanduk besar, buku panduan dan kartu kenangan: “Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku” (Mzm 40:8). Setelah perayaan Ekaristi, sang jubilaris ini membagikan pengalaman hidup membiaranya sambil menjelaskan moto perayaannya. Ia mengatakan bahwa selama 40 tahun hidup membiara, ia sungguh merasakan pengalaman Yesus sendiri. Ada saat di mana ia berada di zona nyaman di mana ia boleh tertawa dan bahagia, ada juga saat di mana ia mengalami tantangan berupa godaan-godaan tertentu yang dapat membuatnya menangis dan tertekan. Namun demikian ia tetap mengandalkan Tuhan dan berprinsip untuk setia melakukan kehendak Tuhan di dalam hidupnya. Ini menjadi kekuatan baginya untuk memenangkan segala godaan di dalam hidupnya dan berusaha untuk tetap setia kepada Tuhan Allah.

Saya mendengar dan menyimak pengalaman rohani sang jubilaris ini. Pikiran saya sempat tertuju kepada sosok raja Daud. Beliau mengalami banyak berkat dari Tuhan sehingga menjadi raja yang kuat, namun sempat mengalami banyak cobaan dan tantangan hidup. Ia juga lemah dan jatuh berkali-kali ke dalam dosa namun satu kelebihannya adalah ia tetap mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Sebab itu raja Daud merasa bahwa kehendak Tuhan adalah penting dan harus dilakukan dengan setia. Ia berusaha untuk memenangkan dan menyenangkan hati Tuhan. Ia berdoa kepada Tuhan: “Ajarilah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik menuntun aku di tanah yang rata” (Mzm 143:10). Dalam kelemahan Daud, terdapat kekuatan yang luar biasa dari Tuhan yang dapat mengubah hidupnya dari saat ke saat. Bagi kita saat ini, hal yang terpenting adalah selalu berusaha untuk mentaati dan melakukan kehendak Tuhan bukan kehendak dan kemauan kita sendiri.

Pada hari ini kita memasuki Hari Minggu pertama Prapaskah. Masa Prapaskah merupakan sebuah retret agung. Kita semua memandang Yesus yang mengalami dan menang dalam mengatasi godaan atau cobaan iblis di padang gurun. Penginjil Matius mengisahkan bahwa setelah Tuhan Yesus dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis, Ia dituntun ke padang gurun oleh Roh supaya dicobai iblis. Kita semua percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Meskipun sebagai Anak Allah, Ia masuk dalam pengalaman manusiawi kita dengan merasakan godaan-godaan dari iblis. Ia merasakan sendiri ujian kesetiaan kepada Bapa di surga. Ia mengalami godaan dari iblis dan memenangkannya supaya membantu manusia yang lemah agar tidak mudah jatuh ke tangan iblis ketika mengalami godaan-godaanya melainkan berani untuk memenangkannya. Kita pasti mengingat janji baptis supaya berani melawan dan mengalahkan iblis dan godaan-godaannya.

Selanjutnya, dalam suasana lapar karena berpuasa selama 40 hari, iblis menunjukkan dirinya untuk menggoda Yesus. Ada tiga jenis godaan yang dialami Yesus dalam perkataan-perkataan berikut ini: pencobaan pertama, Yesus yang sedang lapar digoda iblis untuk mengubah batu menjadi roti tetapi Yesus mengatasinya dengan kuasa Sabda Allah. Kita senantiasa mengalami kecenderungan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Rasul Yohanes mengatakan: “Sebab semua yang ada di dunia, yaitu keinginan daging, dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa melainkan dari dunia.” (1Yoh 2:16). Kita semua akan memiliki kecenderungan yang sama dan dapat menjatuhkan kita dalam hal keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Pencobaan pertama ini lebih berkaitan dengan keinginan-keinginan daging yang selalu menggoda hidup kita. Kita memiliki tubuh dan jiwa, kebutuhan jasamani dan rohani. Haruslah kita ingat bahwa kebutuhan jiwa itu lebih luhur karena sifatnya abadi dibandingkan dengan kebutuhan jasmani. Iblis menggoda kita akan hal-hal jasmani seperti rasa lapar. Maka kekuatan kita adalah Sabda Tuhan. Sabda Tuhan mengenyangkan kita. Sabda Tuhan adalah pelita bagi langkah kaki kita.

Pencobaan kedua, Yesus digoda iblis supaya menjatuhkan diri-Nya dari atas Bait Suci tetapi Yesus menghardiknya supaya tidak mencobai Tuhan Allah. Kita mengingat kisah Adam dan Hawa dalam bacaan pertama,  mereka jatuh ke dalam dosa asal karena mereka memiliki satu sikap yakni keangkuhan hidup. Mereka menyalahgunakan kebebasan mereka di hadapan Tuhan sang Pencipta. Keangkuhan hidup atau kesombongan ini menjadi awal kehancuran hidup kita di hadapan Tuhan dan sesama. Iblis menggoda Yesus supaya menjadi sombong di hadapan Allah Bapa, tetapi dengan tegas Yesus mengatakan kepadanya supaya tidak boleh mencobai Tuhan Allah. Berapa kali kita menjadi angkuh, sombong di hadapan Tuhan sehingga jatuh ke dalam dosa. Kita jatuh ke dalam dosa karena kita sedang mencobai Tuhan Allah sendiri. Kita butuh Yesus untuk mengubah hidup kita supaya setia dan kuat dalam mengatasi keangkuhan atau kesombongan diri. Angkuh dan sombong adalah godaan besar di depan pintu kehidupan kita.

Pencobaan ketiga, Yesus digoda iblis supaya sujud menyembahnya namun bagi Yesus justru Allahlah yang harus disembah. Godaan ketiga ini berkaitan dengan keinginan mata yakni kekuasaan, uang dan kerajaan duniawi. Dari mata akan muncul keinginan-keinginan terhadap apa yang sedang kita lihat. Banyak kali manusia mengabdi kepada dua tuan terutama mamon dan lupa mengabdi Tuhan. Tetapi Yesus dengan tegas mengatakan kepada iblis: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia saja engkau berbakti” (Mat 4:10). Untuk kita renungkan bahwa hanya karena harta, kuasa dan uang maka orang menjadi serigala bagi sesamanya.

Apa yang harus kita lakukan untuk dapat mengatasi godaan-godaan iblis dalam hidup kita saat ini?

Santu Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan kita untuk sadar diri sebagai orang berdosa dan bertobat. Banyak kali orang menikmati dosa dan lupa untuk cepat sadar bahwa dirinya orang berdosa. Bagi Paulus, akibat dari dosa asal yang dilakukan oleh satu orang yakni Adam (dan Hawa) maka semua orang menjadi berdosa dan mengalami maut. Namun kasih karunia Allah jauh lebih besar dari pada dosa Adam. Kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus Putera-Nya. Dia telah taat kepada Bapa sehingga semua orang memperoleh keselamatan. Paulus mengatakan bahwa seperti ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Menjadi orang taat itu butuh hati yang bersih dan mulia sebab orang yang mampu mentaati dengan sendirinya akan mampu mengasihi. Kita mentaati dengan melakukan kehendak Allah sebagai tanda bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Allah. Kalau kita mengasihi Allah maka dengan sendirinya kita akan mengasihi sesama kita dengan tulus. Apakah anda adalah sosok yang taat kepada Tuhan? Apakah anda setia melakukan kehendak Tuhan?

Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk mengandalkan Yesus dalam mengatasi godaan-godaan hidup kita. Kuncinya adalah menjadi pribadi yang taat dan setia dalam melakukan kehendak Tuhan.Orang benar akan dibenarkan Allah karena ketaatannya untuk melakukan kehendak Tuhan Allah.


PJ-SDB