Wednesday, April 1, 2020

Food For Thought: Dengan hati penuh syukur

Dengan hati penuh syukur

Memulai hari baru lagi. Berkaitan dengan covid-19 kiranya seperti ini: suasana di media sangat menakutkan dan mengkhawatirkan banyak orang. Data nasional per 31 Maret 2020, seperti ini: Terkonfirmasi 1.528, Negatif 5.249, sembuh 81 dan meninggal 136. Data-data ini menunjukkan peningkatan yang signifikan sehingga meneimbulkan keresahan bagi kita semua. Namun suasana yang nyata di lapangan kelihatan biasa-biasa saja. Saya masih melihat orang-orang berjalan, duduk di pinggir jalan berama-ramai tanpa menggunakan masker dan tidak mematuhi social distancing. Anak-anak sekolah harusnya melanjutkan tugas belajarnya di rumah tetapi ada yang masih berkeliaran di tempat-tempat tertentu. Mungkin mereka belum merasakan gambaran-gambaran tentang covid-19 ini. Andaikan saja semua orang patuh pada kebijakan para pemimpin baik pemerintah maupun Gereja maka suasananya akan berbeda. 

Seorang sahabat selalu merasa optimis dengan hidupnya. Ia mengatakan: “Hal yang terpenting bagi saya adalah selalu berpikran positif tentang hidup pribadi saya bahwa saya orang sehat, menjaga dan merawat tubuh saya dengan baik, selalu percaya dan bersyukur kepada Tuhan karena Ia melindungi aku dalam bahaya”. Saya mendengar sharing sederhana ini dan merasa baik sekali dan bisa diikuti oleh banyak orang. Orang-orang pesimis merasa bahwa covid-19 ini sebuah aib, dan kalau kena virus ini pasti mati. Padahal bukanlah demikian. Para ahli sepakat mengatakan bahwa virus corona ini sama dengan virus lain, hanya penyebarannya sangat cepat. Sebab itu orang perlu menjaga dirinya dengan berbagai cara yang sudah disosialisasikan oleh pemerintah dan siapa saja yang berkehendak baik untuk menyelamatkan orang lain.

Pada pagi hari ini saya menemukan Mazmur yang sangat menguatkan hati. Raja Daud berdoa: “Tuhan, Engkau membebaskan daku dari musuh. Engkau memberi aku kemenangan atas segala lawan dan merebut aku dari tangan orang jahat.” (Mzm 18:48-49). Saya mengatakan perikop Mazmur ini sangat menguatkan karena Tuhan sudah sedang melakukan hal-hal yang besar dan ajaib dalam hidup kita semua. Dia ‘membebaskan’ kita secara pribadi dari musuh. Musuh-musuh kita bukan hanya orang lain tapi diri kita sendiri yang harus kita taklukan, musuh kita adalah sakit penyakit dan tentu saja virus corona ini. “Kemenangan” atas lawan merupakan pemberian Tuhan. Tuhan yang memiliki kehendak dan rencana untuk memberi kemenangan kepada kita. Dia ‘merebut’ kita dari tangan orang jahat. Tuhan Yesus dalam Injil berkata: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” (Yoh 6:44).

Mari kita merenungkan bersama perkataan Santu Paulus berikut ini: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:35-39). 

Selalu bersyukur karena Tuhan melindungi kita. Dia selalu memberkati kita semua.

PJ-SDB

Homili 1 April 2020 - Renungan Injil untuk Daily Fresh Juice

Hari Rabu Pekan V Prapaskah
Dan. 3:14-20,24-25,28
MT.Dan. 3:52,53,54,55,56
Yoh. 8:31-42

Lectio:

Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu." Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.
Demikianlah Injil Tuhan kita.
Terpujilah Kristus

Renungan:

Kesetiaan kepada Yesus

“Waspadalah terhadap virus corona!” Ini adalah sebuah ajakan sekaligus pesan yang kita dengar setiap hari melalui berbagai media cetak dan elektronik atau melalui ucapan-ucapan lisan dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Saya merasa yakin bahwa semua orang dari berbagai lapisan dan golongan sudah sedang mendengar nama virus corona atau covid-19 dan membangun sikap waspada terhadapnya. Virus corona sendiri berhasil mengubah perilaku hidup manusia. Misalnya, masing-masing orang mengasihi tubuhnya sehingga selalu mencuci tangan dengan hand sanitizer, melakukan social distancing dan aktivitas lainnya yang perlahan-lahan menjadi sebuah kebiasaan yang baik. Secara sosial, dunia benar-benar menjadi satu untuk melawan satu musuh yang sama yaitu corona. Tidak ada sekat-sekat yang tercipta berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan. Secara rohani, banyak pemeluk agama berubah perilakunya dengan rajin berdoa dan membaca Kitab Suci. Maka gara-gara virus corona terjadilah sebuah transformasi yang radikal dalam diri pribadi setiap orang.

Transformasi radikal terjadi dalam diri banyak orang katolik saat ini. Ada saudari dan saudara yang tadinya malas berdoa menjadi semakin rajin berdoa, mendokan novena tertentu, mengikuti misa online, rela menunggu untuk mengikuti doa bersama Bapa Suci dan mendengar pesan urbi et orbi dari Vatican pada dini hari beberapa hari yang lalu. Intinya, virus corona yang menjalar bertepatan dengan masa prapaskah membuat orang sadar diri dan kembali kepada Tuhan. Di samping berdoa dan membaca Kitab Suci, ada juga yang semakin tekun dalam beramal dan melakukan puasa dan pantangnya dengan baik. 

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini tidak hanya berbicara kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya pada masa lalu tetapi Ia juga berbicara kepada kita yang sudah sedang percaya kepada-Nya sesuai dengan konteks hidup kita yang nyata saat ini. Ia berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32). Tuhan Yesus sangat mengerti dan peduli dengan kehidupan kita saat ini. Sebab itu Dia mengingatkan kita supaya tinggal tetap dalam firman atau sabda-Nya. Maka seorang murid sejati yang tinggal tetap di dalam firman atau sabda akan menunjukkan kesetiaannya kepada firman yang tidak lain adalah Yesus sendiri sebagai Firman hidup. Tinggal tetap dalam firman berarti tinggal tetap bersama dan dalam Yesus yang bersatu dengan Bapa dalam Roh Kudus. Seorang murid sejati tinggal tetap dalam Firman berarti ia mendengar firman dengan baik dan melakukannya di dalam hidup yang nyata. Sikap murid sejati yang mendengar dan melakukan Firman atau Sabda akan membantunya untuk mengenal Yesus sebagai Kebenaran Sejati yang memerdekakannya dari kuasa dosa dan kejahatan.

Sikap orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus tidak jauh berbeda dengan kita saat ini. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus tetapi belum setia kepada Firman yang diwartakan-Nya. Mereka masih berpikir dalam dunia mereka yang begitu sempit. Misalnya mereka mengakui diri sebagai keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba tetapi mereka tidak menerima Yesus. Mereka malah hendak membunuh Yesus. Mengapa demikian? Karena mereka tidak setia kepada Firman. Yesus mengatakan bahwa Firman tidak mendapat tempat di dalam hidup mereka. Padahal dari pihak Yesus sendiri, Ia berusaha untuk membuka wawasan mereka supaya mengenal-Nya sebagai satu-satunya utusan Bapa, satu-satunya kebenaran yang memerdekakan mereka dari dosa. Hal yang sama sedang terjadi di antara kita. Banyak  saudari dan saudara yang mendadak dekat dengan Yesus sejauh doa dan firman karena virus corona dan mereka takut mati dan mungkin setelah corona, mereka akan kembali ke dunia mereka semula. Sungguh menyedihkan!

Pada hari ini Tuhan Yesus menghendaki supaya kita bermetanoia, berubah secara radikal dengan kembali kepada-Nya. Let us return to Jesus! Kita diundang untuk setia kepada-Nya dengan tinggal tetap di dalam firman yang diwartakan-Nya. Kita mendengar dan menjadi pelaku firman yang setia dalam hidup kita setiap hari. Sebentar lagi kita akan memasuki pekan suci dan merayakan Hari Raya Paskah. Mari kita setia kepada Yesus, satu-satunya penyelamat kita. Hanya Dialah Kebenaran yang memerdekakan kita.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau sendirilah yang memanggil kami untuk menjadi pengikut-pengikut-Mu. Bantulah kami untuk menjadi pengikut-pengikut-Mu yang setia kepada firman dan semakin mengenal Engkau sebagai satu-satunya Kebenaran yang memerdekakan kami dari dosa dan salah. Amen.

PJ-SDB

Monday, March 30, 2020

Homili 30 Maret 2020

Hari Senin Pekan V Prapaskah
Dan. 13:1-9,15-17,19-30,33-62 
atau Dan. 13:41c-62 
Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6 
Yoh. 8:1-11.

Saya ini orang berdosa!

Sudah bertahun-tahun saya melayani umat melalui sakramen tobat. Mereka tak henti-hentinya datang untuk mengakui dosa-dosanya. Mereka siap dan disiapkan dengan baik untuk bisa berkata jujur tentang hidup mereka di hadirat Tuhan dan sesama, dalam hubungannya dengan perbuatan dosa dan salah. Kesan-kesan yang saya tangkap dalam melayani umat melalui sakramen tobat adalah: ada umat yang mengakui dosa-dosanya dengan jujur dan tulus, tanpa mengada-ada atau membenarkan dirinya. Ada yang melakukan transformasi besar dalam hidupnya sebab mereka sungguh-sungguh mau bertobat. Namun ada yang masih jatuh dan mengulangi dosa yang sama sehingga mereka berjuang untuk mencapai pertobatan sejati. Saya mendengar dengan saksama dan turut dikuatkan oleh umat melalui sakramen tobat. Saya selalu mengenang seorang bapa yang memulai pengakuan dosanya dengan pernyataan: “Saya ini orang berdosa!” Saya merasa sikapnya yang tulus dan jujur dalam pengakuan dosa memang sangat saya apresiasi sebab sangat menginspirasi kita semua untuk mengatakan dengan jujur kepada Tuhan bahwa kita ini memang orang berdosa.

Masa prapaskah menjadi kesempatan untuk mengatakan dalam diri kita bahwa kita ini orang berdosa dan membutuhkan Tuhan untuk membaharui hidup kita. Masa prapaskah merupakan masa tobat di mana kita melakukan puasa, doa dan amal kasih untuk memurnikan hidup kita dari dosa dan salah. Masa prapaskah menjadi masa di mana kita menunjukkan pengalaman akan Allah yang radikal. Pengalaman akan Allah yang radikal itu ditandai dengan pertobatan yang terus menerus. Sebab itu setiap orang harus jujur dengan dirinya dan mengakui dirinya sebagai orang berdosa: “Saya ini orang berdosa!” Banyak orang sudah kehilangan rasa berdosanya di dalam hidupnya. Mereka bahkan sudah tidak berpikir lagi untuk mendekatkan diri kepada sakramen tobat. 

Hal yang paling mudah di dalam hidup pribadi kita adalah kita tidak peka untuk ‘tahu diri’ bahwa kita ini orang berdosa. Sangatlah mudah bagi kita untuk melihat kehidupan pribadi orang lain, mencari tahu dosa dan salah orang lain dan menertawakannya atau merendahkannya. Pada saat seperti ini, kita benar-benar lupa bahwa kita juga orang berdosa yang tidak jauh berbeda dengan orang lain, bahkan mungkin kita lebih berdosa dari pada orang lain yang kita anggap berdosa. Masa prapaskah adalah kesempatan bagi kita untuk berhenti sejenak, memandang Yesus yang begitu mencintai kita dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi dosa yang sama.

Pada hari ini kita memandang Yesus dan belajar pada-Nya. Penginjil Yohanes melaporkan bahwa Yesus melakukan perjalanan ke bukit Zaitun. Pada pagi-pagi benar Ia sudah turun dari bukit Zaitun menuju ke Bait Allah. Tentu saja Ia mau bersatu dengan Bapa dalam doa dan mengajar banyak orang. Sebab itu Yohanes bersaksi ‘seluruh rakyat’ datang kepada-Nya. Banyak orang pasti merasa kagum dengan Yesus karena Ia selalu mengajar dengan kuasa dan wibawa, melebihi para nabi yang mereka kenal.
Suasana pengajaran Yesus sempat terhenti sebab para ahli Taurat dan kaum Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap basa karena berbuat zina. Setelah menghadirkan perempuan ini di hadapan Yesus, mereka mulai mencobai Yesus dengan dalil-dalil untuk mengadili perempuan itu berdasarkan ajaran-ajaran Yahudi yang sudah terungkap dalam Kitab Taurat Musa.Inilah perkataan mereka kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" (Yoh 8: 4-5).  Ini adalah sebuah pertanyaan penuh jebakan kepada Yesus. Reaksi Yesus adalah membungkuk dan menulis. Namun karena mereka mendesak untuk mendapatkan jawaban-Nya maka Ia berkata: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yoh 8:7).

Tuhan Yesus memang hebat. Ia tidak mengadili perempuan ini di hadapan orang banyak yang hanya sekedar mencobai-Nya. Ia membungkuk untuk menulis dalam hati kita supaya tetap memiliki hati yang murni, hati yang bertobat. Hati yang baru, penuh cinta kepada Tuhan dan sesama. Itu yang Tuhan kehendaki di dalam hidup kita. Kita mengingat perkataan Tuhan dalam nubuat Yehezkiel: “Aku akan memberimu sebuah hati yang baru, dan roh yang baru akan Aku taruh di dalammu; dan Aku akan membuang hati yang keras dari tubuhmu dan memberimu hati yang lembut.” (Yeh 36:26). Ini merupakan sebuah kesadaran yang Tuhan Yesus berikan kepada orang yang merasa diri saleh dan suci padahal lupa diri sebagai orang berdosa. Kalau merasa tidak berdosa maka lemparlah batu itu kepada orang berdosa. Tuhan Yesus saja tidak melempar batu. Dia malah menunjukkan kerahiman-Nya kepada perempuan itu ketika berkata: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yoh 8:10-11). Ketika seorang merasa diri sebagai orang berdosa dan ia jujur di hadapan Tuhan maka Tuhan mengampuninya dengan sepenuh hati.

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok-sosok inspiratif yang mampu mengubah hidup kita di hadirat Tuhan. Pertama, Susana adalah seorang perempuan saleh yang dituduhkan hal-hal yang tidak benar oleh dua orang lelaki tua. Ia berpasrah kepada Tuhan dengan berkata: "Allah yang kekal yang mengetahui apa yang tersembunyi dan yang mengenal sesuatu sebelum terjadi, Engkaupun tahu pula bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku. Sungguh, aku mati meskipun tidak kulakukan sesuatupun dari apa yang mereka bohongi aku." (Dan 13:42-43). Ia juga berkata: “Sungguh, aku mati, meskipun aku tidak melakukan  suatupun dari yang mereka tuduhkan.” Kedua, Daniel. Dia adalah sosok inspiratif yang membela kebenaran dan keadilan. Kebijaksanaan Tuhan menaunginya sehingga berhasil membebaskan Susana dari tuduhan palsu. Ketiga, Perempuan yang berdosa. Dia berada di hadirat Tuhan, membuka dirinya untuk diubah oleh Tuhan Yesus sendiri. Keempat, Tuhan Yesus. Ia menerima semua orang apa adanya. Ia mengubah hidup perempuan yang berdosa ini menjadi manusia baru. Sungguh, sebuah pengampunan berlimpah dari Tuhan bagi perempuan yang berdosa, bagi anda dan saya sendiri. Terima kasih Tuhan.

PJ-SDB 

Monday, March 23, 2020

Homili 23 Maret 2020


Hari Senin, Pekan IV Prapaskah
Yes. 65:17-21
Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b
Yoh. 4:43-54

Pesan sukacita Prapaskah

Ada seorang sahabat yang mengirim kutipan perkataan Tuhan Yesus dari Injil ini kepada saya pagi ini: "Dan apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:16-18). Perkataan ini menunjukkan sebuah harapan Yesus supaya setiap orang yang mengikuti-Nya dari dekat memiliki hidup yang optimis dan penuh sukacita. Apalagi dalam masa prapaskah ini kita semua diundang untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus, meskipun ada banyak kesulitan di dalam hidup kita. Covid-19 benar-benar menjadi salah satu tantangan bagi kita semua dalam masa prapaskah ini. Banyak orang menjadi pesimis dengan hidup ini karena begitu banyak orang yang meninggal dunia, namun lebih banyak orang yang masih optimis dan percaya bahwa virus ini akan segera berlalu, dan semua orang pulih dan hidup seperti biasa.

Masa prapaskah bukan sebagai masa kita bersedih hati tetapi sebuah masa untuk bersukacita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita semua bersukacita karena Tuhan Yesus begitu baik kepada setiap orang berdosa dan menghendaki agar orang-orang berdosa kembali kepada-Nya. Tuhan Yesus sendiri berkata: “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” (Yoh 12:32). Perkataan Tuhan ini menjadi nyata dalam penebusan-Nya yang berlimpah. Ia datang untuk menjadikan segala sesuatu baru, ciptaan yang baru. Semangat kebaruan merupakan sebuah semangat optimis yang hendak kita miliki selama masa prapaskah ini.

Jauh sebelum Tuhan Yesus tampil di depan umum untuk mewartakan Injil, nabi Yesaya sudah menubuatkan profetisme bernuansa sukacita, penuh dengan nada-nada optimis. Misalnya, pada hari ini kita mendengar nubuat Tuhan melalui nabi Yesaya yang menyejukkan hati kita dalam masa prapaskah ini. Tuhan berkata: "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.” (Yes 65:17). Ingatan kita adalah pada Yohanes yang akan mengulangi nubuat Yesaya ini dalam penglihatannya yakni: “Aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.” (Why 21:1). Di sini, Tuhan memberi harapan kepada manusia ketika berjanji untuk menciptakan langit dan bumi yang baru. Langit dan bumi yang lama akan berlalu karena sudah usang, datanglah yang baru karena Tuhan menghendakinya. Hidup lama akan diubah menjadi hidup baru karena kasih karunia Tuhan. Tuhan juga menunjukkan kerahiman-Nya dengan tidak mengingat hal-hal yang sudah terjadi, bahkan tidak akan timbul di dalam hati-Nya lagi. Tuhan benar-benar pengampun dan rahim.

Sebagai tanggapan akan kasih dan kerahiman Tuhan maka nuansa optimisme harus selalu ada di dalam diri kita. Tuhan berkata: “Bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan. Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erangpun tidak.” (Yes 65:18-19). Dalam pikiran Tuhan hanya ada sukacita, sorak-sorai dalam diri umat-Nya. Maka Tuhan sendiri berjanji akan menghapus air mata kita maka tidak ada lagi bunyi tangisan dan erang. Kembali ke Kitab Wahyu di mana dikatakan: “Dan Ia (Tuhan) akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Why 21:4). Segala sesuatu menjadi baru dan teratur sesuai dengan kehendak-Nya. semua orang merasakan sukacita keselamatan yang datang dari Allah kita.

Dalam bacaan Injil kita mendengar kisah Yesus yang berkeliling sambil berbuat baik. Ia sudah mengubah kiblat hidup banyak orang Samaria. Kini Ia menuju ke Galilea tanpa perlu singgah di Nazareth karena di tempat asal-Nya Ia tidak diterima dengan baik. Ketika tiba di Galilea orang merasa optimis dan menerima-Nya dengan sukacita. Selanjutnya, Ia hendak kembali ke Kana dekat Nazareth. Ada seorang pegawai istana yang anaknya sedang sakit, datang mendekati Yesus untuk memohon kesembuhan. Pegawai istana ini tidak malu, percaya bahwa Tuhan Yesus akan memberikan kebahagiaan kepada keluarganya dengan menghidupkan anaknya. Iman orang tua ini turut menghidupkan anaknya. Yesus berkata: “Pergilah, anakmu sembuh!” Ini adalah kata-kata Yesus bernuansa sukacita dan menyembuhkan.

Tuhan selalu memakai kita untuk menjadi tanda dan pembawa sukacita dalam masa prapaskah ini kepada sesama manusia. Banyak kali kita lupa, apalagi saat ini dengan adanya covid-19 maka kita mengurung diri, social distancing sehingga tidak menyatu dan memberi sukacita kepada sesama. Kita dapat mengusir virus corona dengan menghibur saudari dan saudara kita dengan broadcasting hal-hal yang positif bahwa hidup ini bernilai. Ada yang lupa sehingga mereka memposting hal-hal yang meresahkan, menciptakan kepanikan-kepanikan baru dalam hidup bersama. Lebih baik hidup dengan tenang daripada membuang waktu dengan memposting hal-hal yang sebenarnya kita juga tidak tahu persis dan merugikan orang lain. Sebab itu dalam masa prapaskah ini bawalah sukacita kepada saudari dan saudara yang menderita. Mereka akan sembuh kerena sukacita yang kita berikan. Atau kalau saja mereka meninggal dunia, asal mereka pernah tersenyum karena sukacita yang kita bagikan.

PJ-SDB

Wednesday, March 18, 2020

Food For Thought: Sebuah Peneguhan

Sebuah Peneguhan

Pada sore hari ini saya membaca Kitab Mazmur. Saya menemukan kata-kata peneguhan yang mengesankan saya, berikut ini: “Teguhkanlah langkahku seturut janji-Mu, dan janganlah suatu kejahatan pun menguasai aku.” (Mzm 119:133). Saya percaya bahwa Tuhan sedang menyapa saya dalam masa prapaskah ini menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih sempurna lagi. Mungkin ada yang tersenyum ketika membaca perkataanku ini. Tetapi itulah sebuah realita bahwa kita semua memiliki concupiscence atau kecenderungan untuk jatuh ke dalam dosa dalam pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian. Ketika kita terbiasa dengan sebuah dosa maka akan sulit bagi kita untuk keluar dari kebiasaan dosa itu.

Apa yang saya temukan dari perkataan Tuhan ini? Ada sebuah permohonan kepada Tuhan supaya meneguhkan langkah kaki sesuai janji Tuhan sendiri. Tuhan menyapaku, mengoreksiku melalui Sabda-Nya. Kita membaca dalam Kitab Mazmur: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Sabda Tuhan memiliki daya untuk mengubah hidup kita. Dengan hanya sepatah kata saja kita akan sembuh. Ini sebuah perubahan karena sabda Tuhan. Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita supaya dengan akrab dan bersahabat dengan sabda Tuhan kita dapat berubah. Perubahan adalah cara Tuhan meneguhkan langkah kaki dan tingkah laku kita.

Masa prapaskah kita isi dengan puasa dan patang. Banyak orang sangat legalis dan formal. Mereka berpikir terlalu tinggi dan lupa akan hal-hal sederhana di dalam hidup kita. Kita butuh Tuhan dan memohon supaya Ia senantiasa menjauhkan kita dari yang jahat. Kita selalu berdoa seraya memohon kepada Bapa: “Bebaskanlah kami dari segala yang jahat”. Kita butuh Tuhan untuk membebaskan kita dari segala yang jahat. Kita butuh Bunda Maria supaya tetap mendoakan kita, sekarang dan waktu ajal menjemput. Kita butuh Tuhan untuk menjauhkan kita dari marabahaya terutama virus Corona.

Tuhan memberkati kita dan menjauhkan kita semua dari Covid-19.

PJ-SDB

Homili 18 Maret 2020

Hari Rabu, Pekan Prapaskah ke-III
St. Sirilus dr Yerusalem
Ul. 4:1,5-9
Mzm. 147:12-13,15-16,19-20
Mat. 5:17-19

Tuhanku begitu dekat

Pagi ini saya mendapat kiriman lagu dengan judul “Dia hanya sejauh doa” yang dinyanyikan Nikita banyak tahun yang lalu. Ada kata-kata yang sangat menginspirasiku untuk memulai hari baru ini: “Bila cobaan menggodai hatimu, bila sengsara menimpa keadaan mu. Ingat Yesus takan pernah jauh darimu. Dia s’lalu pedulikan kamu. Berseru memanggil namaNya. Berdoa Dia kan segra menghampiri dirimu. Percaya Dia tak jauh darimu. Dia hanya sejauh doa.” Bagi saya, lagu ini turut menginspirasi banyak saudari dan saudara yang sedang mengalami kepanikan karena Covid-19 yang lagi tenar ini. Dalam situasi yang sulit ini banyak orang coba mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa-doa, bahkan doa-doa itu dikirim berantai. Ada yang membuka Kitab Suci dan membaca serta merenungkan ayat-ayat yang berhubungan dengan kuasa Tuhan untuk menyembuhkan pasien yang terserang wabah penyakit. Dari situ saya berpikir bahwa seharusnya demikian ketika ada cobaan, penderitaan, kemalangan maka orang harus mengingat kedekatan Yesus dengan dirinya. Tuhan Yesus tidak jauh dari kita, Dia hanya sejauh doa. Tuhan begitu dekat dengan kita dan Ia tetap peduli dengan kita.

Kita berada dalam masa Prapaskah pekan ketiga. Masa prapaskah merupakan masa di mana kita semua mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama melalui doa, puasa dan amal kasih. Berkaitan dengan doa, kita semua mendekatkan diri kepada Tuhan yang lebih dahulu dekat dengan kita dengan melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan dengan setia. Kita mempunyai sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja. Kita bangga memilikinya tetapi apakah kita mencintai dan melakukannya di dalam hidup ini. Saya memberi contoh lima perintah gereja yang kita banggakan: Pertama, Rayakan hari raya yang disamakan dengan hari Minggu. Kedua, ikutilah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan pada hari raya yang diwajibkan; dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu. Ketiga, berpuasa dan berpantanglah pada hari yang ditentukan. Keempat, mengaku dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun. Kelima, menyambut Tubuh Tuhan pada Masa Paskah. Dari kelima perintah Gereja ini, apakah kita sudah melakukannya secara maksimal? 

Di hadapan Tuhan banyak orang Katolik yang masih memiliki prinsip BEJ. Menurut Tung Desem Waringin dalam bukunya Financial Revolution, beliau mengungkapkan ada tipikal mental yang sudah umum pada manusia, yaitu Blame, Excuses dan Justify. Blame adalah sikap pribadi tertentu yang suka menyalahkan orang lain. Excuses adalah sikap pribadi tertentu yang selalu mencari alasan untuk membenarkan dirinya. Justify adalah sikap pribadi tertentu yang suka menghakimi orang menurut ukurannya sendiri. Kita kembali kepada kelima perintah Gereja yang menjadi kebanggaan kita. Perintah ketiga tentang berpuasa dan berpantang selama masa ini. Ada orang katolik yang blame dengan mempersalahkan orang lain karena mereka tidak berpuasa dan pantang. Ada yang mencari alasan untuk membenarkan dirinya dengan mengatakan bahwa ‘lupa hari puasa dan pantang’. Ada yang menghakimi orang yang tidak sempat berpuasa dan berpantang. Itulah BEJ kebanggaan orang katolik zaman now. Menyedihkan!

Semua ini memang bukan hal yang baru. Musa pernah mengalaminya sendiri bersama bangsa Israel di padang gurun. Mereka banyak kali tidak setia kepada Tuhan, lebih banyak bersungut-sungut kepada Tuhan melalui Musa. Prinsip BEJ ada dalam bathin bangsa Israel. Namun satu hal yang Tuhan tunjukkan kepada mereka melalui Musa adalah dengan bersikap sabar menghadapi bangsa Israel yang tegar hati. Musa mengumpulkan bangsa Israel dan berkata kepada mereka: "Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu.” (Ul 4:1). Dengan mendengar dan melakukan ketetapan atau perintah-perintah Tuhan maka orang akan hidup di hadirat Tuhan. Musa juga berharap agar bangsa Israel setia kepada Tuhan. Musa berkata: “Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.” (Ul 4:6). Semua ketetapan ini mengikat bangsa Israel secara turun temurun.

Tuhan Yesus tidak pernah BEJ dengan kita. Dia sendiri mengakui hal ini ketika berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17). Tuhan Yesus tidak mempersalahkan orang lain, membenarkan diri-Nya dan menghakimi orang lain. Dia justru menggenapi hukum Taurat dalam hal ini kasih dan kesetiaan kepada kehendak Bapa di Surga. Betapa rendahnya orang yang tidak setia melakukan hukum Tuhan. Bersukacitalah mereka yang melakukan hukum dan perintah Tuhan sebab mereka akan dekat dan terbuka kepada rahmat Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan: "Barangsiapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 5:19).

Saya menutup homili hari ini dengan mengutip Mazmur ini: “Tuhan, Engkau menunjukkan jalan kehidupan kepadaku, dan hadirat-Mu menggembirakan daku.” (Mzm 15:11).Tuhan memberkati dan melindungi kita semua dari sakit penyakit kita. Tuhan Yesus ada sejauh doa kita semua.

PJ-SDB 

Tuesday, March 17, 2020

Homili 17 Maret 2020

Hari Selasa, Pekan III Prapaskah
T.Dan. 3:25,34-43
Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9
Mat. 18:21-35

Saya siap mengampuni!

Saya pernah diundang untuk duduk bersama dua buah keluarga yang sedang mengalami kesulitan dalam membangun relasi antar pribadi sebagai saudara. Hanya gara-gara warisan yang ditinggalkan orang tua maka kedua bersaudara ini saling berebut harta. Kita dapat membayangkan suasana keluarga itu seperti benang kusut. Mereka yang bersaudara adalah kedua bapak, tetapi ketika istri dan anak-anak ikut membuka mulut karena merasa sebagai bagian dari keluarga maka suasananya berubah total. Saudara kandung berubah menjadi musuh. Mereka masing-masing mulai lupa akan perbuatan baik yang sudah sedang mereka lakukan dan hanya menghitung kejahatan seperti umpatan dan lain sebagainya. Namun suasana ini perlahan-lahan cair ketika salah seorang saudara membuka peluang untuk duduk bersama di sebuah tempat yang netral. Kedua bersaudara berkesempatan menyampaikan unek-uneknya, tanpa perlu melibatkan istri dan anak-anak hingga semuanya perlahan-lahan menjadi jelas. Pada akhirnya saudara yang bungsu berani mengatakan: “Saya siap untuk mengampunimu!”

Saya kagum ketika mendengar perkataan: “Saya siap untuk mengampuni”. Ungkapan ini merupakan sebuah harapan sekaligus pertanda bahwa suasana benang kusut dalam relasi persaudaraan mereka akan segera berakhir. Rasa benci akan hancur dan yang ada hanyalah kasih dan damai. Memang mengampuni itu berarti melupakan segala yang sudah terjadi. Tuhan saja berani melupakan dosa dan salah yang sudah terjadi dan membiarkan manusia memiliki martabat sebagai anak-anak Allah. Saya teringat pada Corrie ten Boom (1892 – 1983) yang berkata: “Pengampunan adalah kunci yang membuka pintu kebencian dan belenggu kebencian. Pengampunan adalah kekuatan yang memecah rantai kepahitan dan belenggu keegoisan”. Pengampunan selalu berhubungan dengan kasih. Sikap mengampuni ini berasal dari Tuhan sendiri yang setia mengampuni manusia. Dalam suasana apa saja kasih dan pengampunan harus berjalan bersama. Martin Luther King, Jr. ( 1929 – April 4, 1968) pernah berkata: “Kita harus mengembangkan dan memelihara kemampuan mengampuni. Ia yang tidak memiliki kekuatan untuk mengampuni tidak mempunyai kekuatan untuk mengasihi”. Kita mengampuni seperti Tuhan mengampuni kita tanpa batas, hanya dengan demikian kita dapat hidup sebagai manusia bebas. Max Lucado pernah berkata: “Aku memilih damai, aku akan mengidupi pengampunan. Aku akan mengampuni sehingga aku boleh hidup”.

Masa prapaskah merupakan sebuah kesempatan bagi kita untuk belajar mengampuni sebab kita juga selalu diampuni oleh Tuhan. Kita memandang Yesus yang siap menderita dan dalam penderitaan-Nya itu Ia masih menunjukkan semangat untuk mengampuni. Dari atas kayu salib, Yesus masih berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Yesus menjadi panutan dalam perkataan dan tindakan-Nya.

Dari bacaan Injil hari ini kita mendengar Petrus mewakili Gereja, datang kepada Yesus dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21). Petrus berpikir bahwa hal mengampuni ini sangat matematis. Ketika mencapai angka-angka tertentu seperti anka tujuh maka cukuplah. Sikap Petrus adalah juga sikap kita saat ini yang selalu menghitung-hitung kebaikan-kebaikan kita kepada Tuhan dan sesama dan lupa menghitung kejahatan-kejahatan kita di hadapan Tuhan dan kepada sesama. Kita selalu mengingat kesalahan orang lain dan lupa bahwa kita juga orang bersalah. Yesus membuka pikiran Petrus dan kita semua ketika berkata: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18:22). Semangat mengampuni dari Tuhan Yesus itu tanpa batas, tanpa hitung-hitungan. Kalau mengampuni harus sepenuh hati bukan hanya sekedar merangkai kata-kata pengampunan dan berjabat tangan. Urusan hati itu menentukan kualitas pengampunan kita.

Tuhan mengampuni kita tanpa batas padahal kita memiliki kebiasaan mengulangi dosa yang sama. Nabi Mikha pernah berkata: “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” (Mi 7:9). Dengan ketulusan Raja Daud kitab oleh berkata kepada Tuhan: “Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mzm 32:5). Dan benarlah perkataan Tuhan melalui nabi Yesaya yang menunjukkan pengampunan Tuhan tanpa batas: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yes 1:18). Kita patut bersyukur karena pengampunan Tuhan tiada batasnya bagi kita semua.

Apakah kita siap mengampuni di saat-saat sulit sekalipun? Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita untuk mengampuni tanpa batas. Kita mengampuni tanpa menghitung besarnya kesalahan yang sudah orang lakukan kepada kita. Kalau kita tidak mampu mengampuni sesama maka perkataan Tuhan Yesus akan terlaksana dalam diri kita: “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:32-35).

Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk merenung lebih dalam lagi perkataan Tuhan Yesus ini dan melakukannya di dalam hidup kita: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:14-15). Dengan lapang dada kita berdoa: “Tuhan ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Mat 6:12).

Saya menutup homili ini dengan mengutip syair lagu lama yang tetap inspiratif bagi kita: “Mengampuni, mengampuni lebih sungguh. Mengampuni, mengampuni lebih sungguh. Tuhan lebih dulu mengampuni kepadaku. Mengampuni, mengampuni lebih sungguh.”

PJ-SDB