Sunday, April 5, 2020

Homili Hari Minggu Palma/A -2020

HARI MINGGU PALMA/A
Mat. 21:1-11. 
Yes. 50:4-7
Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24
Flp. 2:6-11
Mat. 26:14-27:66

Terpujilah Imam dan Rajaku!

Saya pernah mengikuti perayaan misa syukur seorang imam baru di sebuah paroki. Latar belakang altar dihiasi dengan sebuah tulisan berjudul: “Terpujilah imam dan rajaku!” Saya merasa kaget dengan tulisan yang menjadi latar belakang altar itu sebab kesan saya seolah-olah imam baru itu adalah seorang raja di tengah-tengah umat. Lagi pula, imam baru itu memang mengenakan gaun-gaun adat laksana seorang raja setempat. Pikiran saya terbuka ketika pembawa acara menerjemahkan bahasa adat yang diucapkan seorang sepuh di kampung itu, dengan mengatakan: “Imamku, engkau adalah Kristus lain yang datang ke tengah-tengah kami saat ini. Engkau berpakaian imam karena engkau dikuduskan menjadi imam tetapi ada Imam Agung di tengah-tengah kita yaitu Yesus Kristus. Engkau berpakaian laksana raja di tengah-tengah kita tetapi kita mempunyai satu raja yaitu Yesus Kristus.” Setelah mendengar terjemahan ini saya merasa sangat bersyukur karena umat merasakan kehadiran seorang imam tertahbis sebagai imam dan raja yang merupakan gambaran kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka.

Kita memasuki pekan suci, di mana Minggu Palma menjadi pintu masuknya. Hari Minggu Palma menjadi kesempatan bagi kita untuk mengenang sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Misteri Paskah benar-benar kita renungkan bersama yakni sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus di dalam Ekaristi kita. Yesus memasuki kota Yerusalem di mana Yerusalem sendiri adalah kota damai sekaligus pusat peribadatan bagi semua orang Yahudi saat itu. Ada Bait Suci atau Rumah Tuhan yang mempersatukan semua orang. Yesus bertindak sebagai seorang Imam, bukan imam yang biasa-biasa melainkan Imam Agung. Dia menjadi imam bukan bagi dirinya sendiri melainkan imam bagi semua orang.  Ia mempersembahkan persembahan satu kali untuk selama-lamanya. Persembahan-Nya bukan seperti para imam biasa yang mempersembahkan hewan sebagai kurban bakaran. Ia justru mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban pepulih dosa. 

Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem laksana seorahg raja yang dielu-eukan oleh semua orang. Ia mengendarai seekor keledai betina. Keledai itu sendiri bukan milik-Nya, tetapi seekor keledai pinjaman. Dia membutuhkan keledai pinjaman ini sebentar saja dan akan mengembalikannya segera. Orang-orang akan melihatnya sebagai raja dalam kacamata manusiawi meskipun Dia adalah Raja segala raja di dunia ini. Semua ini untuk memenuhi perkataan Tuhan dalam Kitab Suci: "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Mat 21:5; Za 9:9). Semua orang menyambut Yesus dengan menghamparkan pakaianannya di jalan yang Yesus lalui, di samping ranting-ranting pohon yang disebarkan di atas jalanan yang Yesus lalui. Mereka menyertai Yesus dengan berkata: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" (Mat 21:9). Sungguh, Yesus adalah nabi dari Nazaret di Galilea (Mat 21: 11).
Secara manusiawi mungkin banyak di antara kita berhenti pada kemeriahan penyambutan Yesus ketika memasuki kota Yerusalem ini. Pikiran kita mungkin dangkal dan hanya sebatas pada peristiwa berkumpulnya begitu banyak orang, sebuah keramaian dan pujian-pujian manusiawi. Semuanya ini akan segera berakhir dan focus kita kepada Yesus sebagai Imam dan Raja akan menjadi semakin jelas. 

Nabi Yesaya membantu kita untuk memandang sosok Yesus sebagai Imam dan Raja yang setara dengan seorang Hamba yang menderita. Kita semua akan menyatakan protes bahkan menulis sebuah surat terbuka kepada nabi Yesaya sebab yang kita kehendaki adalah Imam dan Raja yang jaya, penuh kemuliaan bukan penuh penderitaan. Tetapi Yesus sebagai Imam dan Raja memang harus demikian. Ia sendiri mengatakan: "Anak Manusia  harus menanggung banyak penderitaan  dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh  dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:22). Yesus laksana Hamba yang menderita seperti ini: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” (Yes 50:6). Dalam suasana menderita, sang Hamba masih merasakan pertolongan dari Tuhan. Ia berkata: “Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.” (Yes 50:7).

Sosok Yesus sebagai Imam dan Raja juga sangat berbeda dengan iman santu Paulus. Bagi Paulus, Yesus Kristus itu walaupun dalam rupa Allah namun Ia menunjukkan karakter yang kuat seperti ini: Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia justru berkhenosis atau mengosongkan diri-Nya. Ia mengambil rupa sebagai seorang hamba yang sama dengan manusia. Ia merendahkan diri-Nya di hadapan Allah. Ia taat kepada Allah sampai wafat di kayu salib. Karakter-karakter ini yang membuat Yesus sangat ditinggikan oleh Allah. Segala yang ada di langit, di atas langit dan di bawah bumi takluk kepada Yesus. Lihatlah karakter Imam dan Raja yang sangat berbeda dengan kategori manusia sepanjang zaman. Namun karakter-karakter ini harus dipenuhi oleh para imam dan raja di dalam Gereja masa kini, terutama dalam pelayanan tanpa pamrih. 

Sosok Yesus sebagai Imam dan Raja menjadi sempurna dalam gambaran indah yang diberikan oleh Matius dalam kisah sengsara Yesus yang kita dengar hari ini. Bagi Matius, Yesus Kristus itu rela dan sadar menyerahkan diri kepada para pembunuh-Nya. Ia menderita, sengsara dan wafat serta bangkit dengan mulia sebagai sebuah paket yang lengkap dan terlaksana dengan sempurna. Ia laksana Hamba yang menderita, yang taat kepada kehendak Bapa. Dia adalah Imam Agung yang menderita dan wafat tanpa busana kebesaran yaitu kasula dan stola di atas kayu salib. Dia adalah Raja yang memiliki takhta kebesaran yaitu salib, mahkota kemuliaan yaitu mahkota duri dan tidak memiliki mantel atau safari seperti raja masa kini di dunia. Yesus adalah imam dan raja yang beda!

Di tengah kepungan covid-19, banyak saudari dan saudara yang menderita bahkan nyawanya tidak tertolong. Para korban covid-19 dna keluarga yang ditinggalkan mengalami secara langsung penderitaan Kristus sebagai Raja dan Imam. Kata-kata yang menguatkan dari santu Paulus adalah: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” (Kol 1:24). Selamat memasuki pekan Suci dengan optimisme di tengah penderitaan manusiawi kita: “Kita adil, bangsa sejahtera!”

P. John Laba, SDB

Saturday, April 4, 2020

Homili 4 April 2020

Hari Sabtu, Pekan V Prapaskah 
Yeh. 37:21-28
MT Yer. 31:10,11-12ab,13
Yoh. 11:45-56

Satu orang mati untuk bangsa kita!

Kita semua berada di hari Sabtu, hari terakhir sebelum memasuki Pekan Suci tahun 2020. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini akan membuka wawasan kita untuk memasuki Pekan Suci ini dengan lebih focus lagi pada Tuhan Yesus yang akan menderita, wafat dan bangkit dengan mulia bagi kita semua. Kalau pada masa Natal kita berkata: “Yesus lahir dan hidup bagi kita.” Kini kita menggantinya dengan berkata: “Dia adalah satu-satunya pribadi yang wafat untuk kita.” Untuk itu saya mengawali homili hari ini dengan mengutip Mazmur ini: “Tuhan, jangan Kaujauhkan bantuan-Mu dari padaku, tetapi segera tolonglah aku. Aku ini bagaikan cacing dan bukan manusia, cercaan orang dan hinaan rakyat.” (Mzm 22:20,7). Ini adalah sebuah doa ketika raja Daud berhadapan dengan marabahaya di hadapannya. Dia tidak mengandalkan dirinya sendiri tetapi satu-satunya andalannya adalah Tuhan. Maka dia berdoa dan berharap supaya Tuhan jangan menjauh dari padanya, meskipun dia lemah dan rapuh laksana cacing atau ulat. Orang yang sadar diri akan segala kelemahan, dosa dan salah akan merendahkan diri di hadirat Tuhan.

Dalam bacaan pertama kita mendengar nabi Yehezkiel bernubuat bahwa Tuhan akan menjadikan segala suku di Israel sebagai satu bangsa. Ada beberapa janji yang Tuhan berikan kepada umat Israel. Mula-mula Tuhan berjanji untuk menjemput orang Israel dari tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka pergi. Tuhan akan mengumpulkan mereka dari segala penjuru dan akan membawa mereka ke tanah mereka. Tuhan tidak hanye mengumpulkan mereka tetapi Ia juga menjadikan mereka sebagai satu bangsa yang diperintah oleh seorang raja. Kerajaan yang sudah terpecah menjadi Kerajaan Yudea dan Kerajaan Israel akan menjadi satu kembali. Tuhan melepaskan mereka dari kebiasaan menyembah berhala dan segala dosanya akan Tuhan ampuni. Hanya dengan demikian mereka benar-benar menjadi umat Allah dan Tuhan menjadi Allah mereka.

Tuhan berjanji untuk mengangkat Daud menjadi raja Israel dan bangsa Israel menjadi satu kawanan yang memiliki satu gembala. Peraturan dan ketetapan Tuhan menjadi jalan hidup bagi umat Israel dan mereka akan menjalaninya dengan setia. Tuhan memberikan tanah Kanaan bagi mereka, mereka akan tinggal turun temurun hingga keabadian. Semua janji Tuhan ini menjadi sempurna ketika Ia mengikat umat Israel dalam sebuah perjanjian yang kekal. Tuhan menganugerahkan berkat-berkat-Nya, memberikan keturunan seperti pasir di laut dan bintang di langit. Tuhan Allah sungguh-sungguh menjadi Emanuel, Allah tinggal bersama umat-Nya.

Tuhan Allah menjadi tokoh utama yang mengubah hidup manusia. Dia mengenal hati manusia namun kasih seita-Nya tetap abadi. Kita mengingat Daud ketika dengan tulus berkata kepada Tuhan: “Bersyukurlah kepada Tuhan karena Dia baik! Kebaikan-Nya untuk selama-lamanya. Pujilah akan Tuhan, karena baiklah Ia, karena kemurahan-Nya kekal sampai selama-lamanya.” (Mzm 118:29). Di sinilah kita mengerti bahwa permenungan selama masa Prapaskah benar-benar mengubah kehidupan kita. Kita kembali kepada ungkapan raja Daud sebelumnya begini: “Manusia itu bagaikan cacing atau ulat dan bukan manusia, cercaan orang dan hinaan rakyat.” (Mzm 22:7). 

Kasih setia Tuhan sungguh nyata dalam diri Yesus Kristus. Dia, sejak zaman para nabi, telah bernubuat bahwa Yesus sang Mesias akan wafat demi mengumpulkan  dan mempersatukan  anak-anak Allah yang tercerai berai. Tuhan Yesus  membangkitkan Lazarus yang sudah wafat menjadi salah satu momentum yang membuat banyak orang kembali kepada Tuhan sumber hidup kita. Terlepas dari Tuhan Yesus, kita memang tidak dapat berbuat apa-apa. Melalui tindakan dan perkataan-Nya, Yesus berhasil mengubah hidup setiap pribadi manusia. Orang-orang Yahudi yang menyaksikan Yesus pun turut berubah karena kasih Tuhan Yesus sendiri.

Hal yang menarik dalam bacaan Injil adalah bagaimana orang-orang Yahudi melihat Yesus dan menaruh dendam dan benci kepada-Nya. Perkataan Imam besar Kayafas kepada para hadirin saat itu memang sangat membuka mata dan hati kita. Ia berkata: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." (Yeh 11:49-50). Yesus akan wafat  untuk menyelamatkan semua orang dari berbagai suku dan bangsa. Apakah dalam masa prapaskah ini kita dapat memiliki semangat rela berkorban untuk kebaikan sesama? Yesus berkorban dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita semua.

PJ-SDB

Friday, April 3, 2020

Homili 3 April 2020


Hari Jumat,Pekan Prapaskah V
Yer. 20:10-13
Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7
Yoh. 10:31-42

Tuhan masih punya telinga

Seorang rekan imam mengakui bahwa masa prapaskah tahun 2020 ini memang sangat spesial dibandingkan dengan masa-masa prapaskah sebelumnya. Sebagai contoh, para imam selalu mendoakan doa dalam prefasi misa seperti ini: “Sebab bila kami berpuasa dan bermatiraga, Engkau melemahkan cacat cela kami, memantapkan hati dan budi, serta menganugerahi kami kekuatan untuk mengalahkan dosa, dengan perantaraan Kristus Tuhan kami.” (Prefasi Prapaskah IV). Namun pada masa prapaskah tahun ini sepertinya bagian ini perlu ditambahkan: “…serta menganugerahi kami kekuatan untuk mengalahkan virus corona dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami…” Saya sendiri mendengar semua perkataannya ini dan merasa bersyukur kepada Tuhan sebab Ia menyadarkan dia, saya dan kita semua tentang masa retreat agung yang syarat makna ini. Misalnya, hari ini adalah hari Jumat Pertama, biasanya orang mengikuti misa Jumat Pertama tetapi kali ini hanya MdR atau Misa di Rumah dengan online dan menerima komuni secara rohani saja. Pekan Suci tahun ini juga sangat berbeda karena banyak dari antara kita akan tinggal di rumah dan mengikutinya secara online tanpa komuni kudus secara langsung. Ada kerinduan yang besar untuk mendengar Sabda dan menerima Tubuh dan Darah Kristus tetapi karena covid-19, kita harus tenang dan mawas diri. Hal ini tentu baik untuk kehidupan kita semua.

Masa Prapaskah merupakan masa di mana kita belajar untuk berpuasa dan bermatiraga. Dalam proses belajar ini, kita justru bertemu dengan situasi yang konkret yaitu mewabahnya covid-19 yang sebelumnya orang merasa biasa-biasa saja tetapi sekarang menakutkan sebab menelan banyak korban jiwa. Ada banyak orang yang tidak menerima wabah ini dan dengan sadar melawan Tuhan sang Pencipta. Mereka beranggapan bahwa Tuhan tidak adil. Dia tidak melindungi bahkan membiarkan wabah covid-19 ini merajalela dan menelan banyak korban jiwa. Ada juga orang yang masih waras sehingga dalam situasi yang sulit ini mereka masih mengandalkan Tuhan. Mereka semakin tekun berdoa, berpuasa, bermatiraga dan mengakui dosa-dosanya. Ada yang semakin tekun dan setia membangun persaudaraan sejati tanpa memandang SARA. Singkatnya, dalam situasi yang sulit ini, orang masih sadar bahwa ada Tuhan dan Dia harus menjadi satu- satunya andalan kita. Tuhan masih punya telinga untuk mendengar kita.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini membuka wawasan kita untuk mengerti bahwa Tuhan itu selalu mengerti dan peduli dengan hidup kita. Nabi Yeremia sendiri mengalami penderitaan dan kemalangan dari orang-orang yang selalu ada bersamanya. Mereka adalah para penguasa dan sahabat kenalannya. Ia sendiri mendengar bisikan-bisikan orang seperti ini: "Kegentaran datang dari segala jurusan! Adukanlah dia! Kita mau mengadukan dia!" (Yer 20:10). Coba pikirkan ketika para sahabat-sahabat kita itu bermuka dua, di depan kita mulutnya manis dan dibelakang kita menikam dengan pedang tajam. Yeremia mengalaminya sendiri. Ia berbuat baik tetapi balasan dari sahabat-sahabatnya malah mengancam nyawanya. Para sahabatnya bahkan mengintainya dan berkata begini: "Barangkali ia membiarkan dirinya dibujuk, sehingga kita dapat mengalahkan dia dan dapat melakukan pembalasan kita terhadap dia!" (Yer 20:10). Pengalaman pribadi nabi Yeremia ini membantu kita untuk sadar diri bahwa di dalam hidup ini tidak pernah ada seorang sahabat sejati. Sebab itu kita perlu waspada kapan dan di mana saja kita berada di antara semua orang.

Dalam situasi yang sulit ini, Yeremia menunjukkan satu hal yang sangat positif yakni tetap mengandalkan Tuhan. Ia merasa yakin bahwa ia tidak akan menghadapi segala sesuatu dengan kekuatan dirinya sendiri. Sebab itu Yeremia mengakui bahwa Tuhan menyertainya. Ia berkata: “Tetapi Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan!” (Yer 20:11). Banyak di antara kita pasti tidak bermental seperti Yeremia. Di saat sulit kita malah akan mengeluh dan menjauh dari Tuhan. Tetapi kehidupan pribadi Yeremia ini kiranya membangkitkan semangat baru bagi kita semua untuk menjadi baru dengan mengandalkan kuasa Tuhan. Ketika berhadapan dengan covid-19 ini, sebagai orang beriman kita butuh penyertaan Tuhan. Dengan kuasa-Nya Ia akan menjauhkan kita dari semua marabahaya yang mengancam hidup kita.  

Di samping mengandalkan Tuhan, Yeremia juga menyatakan rasa syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya. Ia mengungkapkan rasa syukur atas penyertaan Tuhan dengan berkata: “Ya Tuhan semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. Menyanyilah untuk Tuhan, pujilah Tuhan! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat.” (Yer 20:12-13). Kita perlu membenahi hidup pribadi kita di hadirat Tuhan selama masa prapaskah ini untuk menjadi lebih layak lagi. Dalam situasi hidup kita yang nyata ini, baiklah kita mengandalkan Tuhan, mengharapkan pertolongan-Nya dan menyatakan syukur ketika mendapat pertolongan Tuhan.

Pengalaman nabi Yeremia adalah pengalaman Tuhan Yesus sendiri. Ia mengajar dan melakukan tanda-tanda tetapi orang-orang Yahudi tidak menerima Yesus. Meskipun Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Anak Allah. Ia dengan terus terang mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Ia berada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia. Dan bahwa tugas perutusan-Nya di dunia adalah melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa yakni untuk menyelamatkan manusia. Namun orang-orang Yahudi saat itu menganggap Yesus menghujat Allah. Sebab itu hukumannya adalah melempari-Nya dengan batu. Mereka berusaha untuk menangkap-Nya namun kali ini Dia masih luput dan menghindar ke seberang Yordan untuk istirahat sejenak. Tuhan Yesus tetap berbuat baik, dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa, namun di pihak orang-orang Yahudi, mereka tetap ada penolakan, bahkan memiliki rencana jahat untuk membunuh sang Anak Allah. Rencana itu nantinya akan terwujud untuk menggenapi pekerjaan-pekerjaan Allah yaitu menyelamatkan manusia. Tuhan Yesus menderita sengsara untuk keselamatan manusia. St. Petrus pernah berkata: “Yesus menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya di Salib, supaya kita mati terhadap dosa dan hidup suci. Karena bilur-bilur-Nya, kita semua disembuhkan.” (1Ptr 2:24).

Tuhan masih punya telinga untuk mendengar rintihan dan tangisan kita. Saya mengakhiri homili hari ini dengan mengutip Mazmur ini: “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan. Kepada Allahku, aku berteriak minta tolong. Aku mendengar suaraku dari bait-Nya, teriaku minta tolong sampai ke telinga-Nya.” (Mzm 18:6). Hal terpenting bagi kita adalah bertobat dan kembali kepada-Nya.

PJ-SDB

Thursday, April 2, 2020

Food For Tought: Janganlah berkeras hati

Janganlah keraskan hatimu!

Salah satu kesulitan besar pemerintah pusat dan pemerintah daerah saat ini ketika berhadapan dengan covid-19 adalah banyak orang yang berkeras hati. Pemerintah sudah menganjurkan supaya selama masa sulit ini orang harus berani memilih DRA alias Di Rumah Aja. Dari situ muncul istilah keren WFH alias Work From Home. Tujuannya supaya orang benar-benar melakukan social distancing. Selain itu orang harus tekun menjaga kebersihan pribadi dan menggunakan hand sanitizer untuk mencuci tangan. 

Masalahnya adalah banyak orang meremehkan anjuran-anjuran seperti ini. Mereka mempunyai telinga tetapi tidak mendengar, memiliki hati tetapi serasa tidak memiliki hati nurani. Beberapa hari yang lalu jagad media social menjadi geger karena ada seorang wakil rakyat yang mulia di Medan mencari tantangan dan sensasi di depan polisi untuk menelan virus corona. Ini luar biasa kalau yang mulia bisa menelan virus corona…

Setiap hari saya masih menyaksikan orang-orang tertentu yang keras hati. Mereka tetap berkumpul dalam keramaian, tidak menggunakan masker dan hand sanitizer. Saya merasa yakin bahwa kalau anjuran-anjuran untuk kebaikan dirinya dan kebaikan bersama saja diabaikan maka akan lebih sulit lagi usaha untuk kebaikan umum. Dan ini yang sedang terjadi, yakni orang yang keras hati menjadi penyebar virus corona. Rantai penyebaran semakin bertambah bukan semakin putus. 

Bangsa Israel dalam sejarahnya, pernah bersikap keras hati dan tidak mau mendengar Tuhan. Mereka suka mencobai Tuhan Allah, seperti yang pernah terjadi di Masa dan Meriba. Ini tentu sangatlah di sayangkan sebab kasih dan kebaikan Tuhan dibalas dengan sikap dan rasa bersungut-sungut kepada-Nya. Mereka memang memiliki telinga untuk mendengar tetapi serasa tidak memiliki telinga. Hanya ada keangkuhan, keras hati dan tidak mau mendengar Tuhan. Maka tepatlah perkataan dalam Kitab Mazmur: “Janganlah keraskan hatimu, tetapi dengarkan suara Tuhan” (Mzm 95:8ab). 

Dalam konteks kita saat ini: “Janganlah keraskan hatimu, dengarkanlah dan lakukanlah anjuran-anjuran dari pemerintah untuk memutuskan covid-19”. Pikirkanlah bahwa kalau kita dapat melakukan hal-hal yang nyata ini,karena kita sedang mengalaminya maka dengan sendirinya kita juga dapat melakukan perintah-perintah Tuhan yang tidak kelihatan dengan mata kita. Berkeras hati itu tidaklah elok dalam hidup bersama.

Tuhan melindungi dan memberkati kita semua.

PJ-SDB

Wednesday, April 1, 2020

Homili 2 April 2020

Hari Kamis, Pekan V Prapaskah
Kej. 17:3-9
Mzm. 105:4-5,6-7,8-9
Yoh. 8:51-59

Dengarkan suara Tuhan!

Ada seorang ibu yang mengatakan kepada saya: “Romo, saya ingin cepat-cepat memiliki rumah yang ditulis RIP di depannya!” Saya bertanya, “Maksud ibu apa ya?” Ia menjawabku: “Saya pingin cepat pergi untuk menghadap Bapa yang empunya kehidupan karena sudah kesulitan besar dalam mengatur anakku yang semata wayang. Dia anak tunggal tetapi ayahnya dan aku kesulitan besar menghadapinya. Salah satu kesulitannya adalah dia memiliki telinga yang lengkap dan normal tetapi selalu tidak mendengar dan tidak patuh kepada kami.” Saya menjawabnya: “Ibu, silahkan kembali ke rumahmu dan berusaha mendengarkan anakmu dengan baik dan dengan sendirinya anak akan mendengarkanmu sebagai ibunya.” Dia tersenyum kecut dan kembali ke rumahnya. Dua minggu kemudian, ia mendekatiku setelah perayaan misa harian dan mengatakan: “Romo, obatnya berfungsi. Mungkin saya yang selama ini susah mendengarkan anak saya. Sekarang di rumah, kami sudah saling mendengar satu sama lain.” Kisah sederhana ini pernah lewat dalam kehidupan saya. Ternyata saling mendengar itu mampu mengubah hidup setiap pribadi.

Pada masa prapaskah ini kita memiliki kesempatan untuk belajar mendengar seperti Yesus sendiri. Tuhan Yesus mendengar suara Bapa dan Dia setia melakukan segala sesuatu yang sudah didengar-Nya dari Bapa. Dia menyerahkan diri total kepada Bapa karena Ia mendengar Bapa untuk menyelamatkan manusia. Dengan mendengar maka Ia mampu mentaati kehendak Bapa. Mentaati kehendak Bapa menjadi sempurna dalam cinta-Nya yang besar kepada Bapa yang lebih dahulu mencintai-Nya sebagai Anak. Benar sekali pengakuan Yesus ketika berdialog dengan Nicodemus berikut ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:16-17). 

Kita berjumpa dengan dua sosok inspiratif yang dapat membantu kita untuk mendengar, mematuhi dan mengasihi dengan lebih baik lagi. Sosok pertama adalah Abram. Dia seorang yang memiliki banyak hartanya namun Tuhan memiliki rencana yang indah baginya. Tuhan memanggilnya, memberikan komando kepadanya untuk meninggalkan kampung halaman, orang tua dan kepemilikannya. Tuhan memperhatikan kesetiaan Abram sehingga Ia mengikat perjanjian dengannya. Tuhan berjanji kepada Abram: "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.” (Kej 17:4). Tuhan mengubah nama Abram menjadi Abraham artinya bapa sejumlah bangsa. Janji Tuhan untuk menjadikan Abraham sebagai bangsa yang besar, mencakup anak-anak dan cucu-cucunya di masa depan. Tuhan Allah berjanji akan menjadi Allah bagi Abraham dan keturunannya dan mereka semua akan mengakui Dia sebagai satu-satunya Allah mereka. Tuhan berjanji untuk memberikan tanah yang direbut dari bangsa-bangsa asing dan juga seluruh tanah Kanaan yang kaya dengan susu dan madu. Semua janji Tuhan ini harus didengar dan dipegang teguh oleh Abraham dan keturunannya. 

Apakah Tuhan pernah ingkar janji? Jawaban yang pasti adalah Tuhan tidak pernah ingkar janji! Hanya manusia yang suka ingkar janji dan tidak merasa bersalah ketika dengan sadar mengingkari janjinya kepada Tuhan dan sesama. Raja Daud pernah berkata: “Selama-lamanya Tuhan ingat akan perjanjian-Nya, akan firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan; akan perjanjian yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak.” (Mzm 105:8-9). Tuhan mengingat perjanjian-Nya kepada manusia karena Dia mendengar manusia yang berdoa kepada-Nya. Manusia ingkar janji kepada Tuhan karena mereka tidak berdoa dan tidak mendengar Tuhan dalam hidupnya. Memang patut disayangkan karena sosok Abraham ini tidak banyak diikuti oleh manusia. Abraham beriman sedangkan manusia kurang beriman.

Dari Abraham kita belajar untuk mendengar dengan baik dan setia kepada Tuhan. Kesetiaan Abraham kepada Tuhan membuatnya benar-benar menjadi sahabat Tuhan Allah. Santu Yakobus menulis: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah." (Yak 2:23). Abraham menginpirasikan kita supaya dalam kelebihan dan kelemahan yang kita miliki, kita juga dapat bertumbuh menjadi sahabat Allah.

Sosok kedua adalah Tuhan Yesus. Dia berdebat dengan orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya. Sebelumnya Yesus menilai mereka sebagai pribadi yang tidak dapat menerima Sabda Tuhan. Sabda Tuhan tidak mendapat tempat dalam hati manusia karena dosa. Kali ini Yesus mengatakan: “Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." (Yoh 8:51). Seseorang dapat menuruti firman kalau ia mampu mendengar firman dan tinggal tetap di dalam firman itu sendiri. Sekali lagi perkataan Yesus ini tidak didengar dan diikuti oleh orang-orang Yahudi. Mereka bahkan menganggap Yesus sebagai orang yang kerasukan setan.

Dari Tuhan Yesus kita belajar bagaimana Ia memahami manusia dan menerima manusia apa adanya. Meskipun Ia mengalami penolakan yang luar biasa namun Ia tidak pernah mundur dari tugas-Nya sebagai satu-satunya penyelamat kita. Dia menunjukkan kesabaran-Nya kepada manusia yang berdosa.Ia mewahyukan diri-Nya kepada mereka namun mereka tidak menerima-Nya malah lebih memuliakan Abraham. Yesus mengatakan bahwa Ia mengenal Bapa dan bahwa Bapalah sendrilah yang memuliakan-Nya. Bapa yang satu dan sama ini disapa sebagai Allah meskipun mereka tidak mengenal-Nya. Sebab itu Yesus dengan tegas mengatakan: “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (Yoh 8:58). 

Nasihat yang terbaik bagi kita pada hari ini: “Jangalah keraskan hatimu, tetapi dengarkanlah suara Tuhan.” (Mzm 95:8ab). Mari bersahabat dengan Tuhan dengan membaca, mendengar dan melakukan Sabda Tuhan di dalam hidup kita setiap hari.

PJ-SDB

Food For Thought: Dengan hati penuh syukur

Dengan hati penuh syukur

Memulai hari baru lagi. Berkaitan dengan covid-19 kiranya seperti ini: suasana di media sangat menakutkan dan mengkhawatirkan banyak orang. Data nasional per 31 Maret 2020, seperti ini: Terkonfirmasi 1.528, Negatif 5.249, sembuh 81 dan meninggal 136. Data-data ini menunjukkan peningkatan yang signifikan sehingga meneimbulkan keresahan bagi kita semua. Namun suasana yang nyata di lapangan kelihatan biasa-biasa saja. Saya masih melihat orang-orang berjalan, duduk di pinggir jalan berama-ramai tanpa menggunakan masker dan tidak mematuhi social distancing. Anak-anak sekolah harusnya melanjutkan tugas belajarnya di rumah tetapi ada yang masih berkeliaran di tempat-tempat tertentu. Mungkin mereka belum merasakan gambaran-gambaran tentang covid-19 ini. Andaikan saja semua orang patuh pada kebijakan para pemimpin baik pemerintah maupun Gereja maka suasananya akan berbeda. 

Seorang sahabat selalu merasa optimis dengan hidupnya. Ia mengatakan: “Hal yang terpenting bagi saya adalah selalu berpikran positif tentang hidup pribadi saya bahwa saya orang sehat, menjaga dan merawat tubuh saya dengan baik, selalu percaya dan bersyukur kepada Tuhan karena Ia melindungi aku dalam bahaya”. Saya mendengar sharing sederhana ini dan merasa baik sekali dan bisa diikuti oleh banyak orang. Orang-orang pesimis merasa bahwa covid-19 ini sebuah aib, dan kalau kena virus ini pasti mati. Padahal bukanlah demikian. Para ahli sepakat mengatakan bahwa virus corona ini sama dengan virus lain, hanya penyebarannya sangat cepat. Sebab itu orang perlu menjaga dirinya dengan berbagai cara yang sudah disosialisasikan oleh pemerintah dan siapa saja yang berkehendak baik untuk menyelamatkan orang lain.

Pada pagi hari ini saya menemukan Mazmur yang sangat menguatkan hati. Raja Daud berdoa: “Tuhan, Engkau membebaskan daku dari musuh. Engkau memberi aku kemenangan atas segala lawan dan merebut aku dari tangan orang jahat.” (Mzm 18:48-49). Saya mengatakan perikop Mazmur ini sangat menguatkan karena Tuhan sudah sedang melakukan hal-hal yang besar dan ajaib dalam hidup kita semua. Dia ‘membebaskan’ kita secara pribadi dari musuh. Musuh-musuh kita bukan hanya orang lain tapi diri kita sendiri yang harus kita taklukan, musuh kita adalah sakit penyakit dan tentu saja virus corona ini. “Kemenangan” atas lawan merupakan pemberian Tuhan. Tuhan yang memiliki kehendak dan rencana untuk memberi kemenangan kepada kita. Dia ‘merebut’ kita dari tangan orang jahat. Tuhan Yesus dalam Injil berkata: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” (Yoh 6:44).

Mari kita merenungkan bersama perkataan Santu Paulus berikut ini: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:35-39). 

Selalu bersyukur karena Tuhan melindungi kita. Dia selalu memberkati kita semua.

PJ-SDB

Homili 1 April 2020 - Renungan Injil untuk Daily Fresh Juice

Hari Rabu Pekan V Prapaskah
Dan. 3:14-20,24-25,28
MT.Dan. 3:52,53,54,55,56
Yoh. 8:31-42

Lectio:

Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu." Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.
Demikianlah Injil Tuhan kita.
Terpujilah Kristus

Renungan:

Kesetiaan kepada Yesus

“Waspadalah terhadap virus corona!” Ini adalah sebuah ajakan sekaligus pesan yang kita dengar setiap hari melalui berbagai media cetak dan elektronik atau melalui ucapan-ucapan lisan dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Saya merasa yakin bahwa semua orang dari berbagai lapisan dan golongan sudah sedang mendengar nama virus corona atau covid-19 dan membangun sikap waspada terhadapnya. Virus corona sendiri berhasil mengubah perilaku hidup manusia. Misalnya, masing-masing orang mengasihi tubuhnya sehingga selalu mencuci tangan dengan hand sanitizer, melakukan social distancing dan aktivitas lainnya yang perlahan-lahan menjadi sebuah kebiasaan yang baik. Secara sosial, dunia benar-benar menjadi satu untuk melawan satu musuh yang sama yaitu corona. Tidak ada sekat-sekat yang tercipta berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan. Secara rohani, banyak pemeluk agama berubah perilakunya dengan rajin berdoa dan membaca Kitab Suci. Maka gara-gara virus corona terjadilah sebuah transformasi yang radikal dalam diri pribadi setiap orang.

Transformasi radikal terjadi dalam diri banyak orang katolik saat ini. Ada saudari dan saudara yang tadinya malas berdoa menjadi semakin rajin berdoa, mendokan novena tertentu, mengikuti misa online, rela menunggu untuk mengikuti doa bersama Bapa Suci dan mendengar pesan urbi et orbi dari Vatican pada dini hari beberapa hari yang lalu. Intinya, virus corona yang menjalar bertepatan dengan masa prapaskah membuat orang sadar diri dan kembali kepada Tuhan. Di samping berdoa dan membaca Kitab Suci, ada juga yang semakin tekun dalam beramal dan melakukan puasa dan pantangnya dengan baik. 

Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini tidak hanya berbicara kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya pada masa lalu tetapi Ia juga berbicara kepada kita yang sudah sedang percaya kepada-Nya sesuai dengan konteks hidup kita yang nyata saat ini. Ia berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yoh 8:31-32). Tuhan Yesus sangat mengerti dan peduli dengan kehidupan kita saat ini. Sebab itu Dia mengingatkan kita supaya tinggal tetap dalam firman atau sabda-Nya. Maka seorang murid sejati yang tinggal tetap di dalam firman atau sabda akan menunjukkan kesetiaannya kepada firman yang tidak lain adalah Yesus sendiri sebagai Firman hidup. Tinggal tetap dalam firman berarti tinggal tetap bersama dan dalam Yesus yang bersatu dengan Bapa dalam Roh Kudus. Seorang murid sejati tinggal tetap dalam Firman berarti ia mendengar firman dengan baik dan melakukannya di dalam hidup yang nyata. Sikap murid sejati yang mendengar dan melakukan Firman atau Sabda akan membantunya untuk mengenal Yesus sebagai Kebenaran Sejati yang memerdekakannya dari kuasa dosa dan kejahatan.

Sikap orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus tidak jauh berbeda dengan kita saat ini. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus tetapi belum setia kepada Firman yang diwartakan-Nya. Mereka masih berpikir dalam dunia mereka yang begitu sempit. Misalnya mereka mengakui diri sebagai keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba tetapi mereka tidak menerima Yesus. Mereka malah hendak membunuh Yesus. Mengapa demikian? Karena mereka tidak setia kepada Firman. Yesus mengatakan bahwa Firman tidak mendapat tempat di dalam hidup mereka. Padahal dari pihak Yesus sendiri, Ia berusaha untuk membuka wawasan mereka supaya mengenal-Nya sebagai satu-satunya utusan Bapa, satu-satunya kebenaran yang memerdekakan mereka dari dosa. Hal yang sama sedang terjadi di antara kita. Banyak  saudari dan saudara yang mendadak dekat dengan Yesus sejauh doa dan firman karena virus corona dan mereka takut mati dan mungkin setelah corona, mereka akan kembali ke dunia mereka semula. Sungguh menyedihkan!

Pada hari ini Tuhan Yesus menghendaki supaya kita bermetanoia, berubah secara radikal dengan kembali kepada-Nya. Let us return to Jesus! Kita diundang untuk setia kepada-Nya dengan tinggal tetap di dalam firman yang diwartakan-Nya. Kita mendengar dan menjadi pelaku firman yang setia dalam hidup kita setiap hari. Sebentar lagi kita akan memasuki pekan suci dan merayakan Hari Raya Paskah. Mari kita setia kepada Yesus, satu-satunya penyelamat kita. Hanya Dialah Kebenaran yang memerdekakan kita.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau sendirilah yang memanggil kami untuk menjadi pengikut-pengikut-Mu. Bantulah kami untuk menjadi pengikut-pengikut-Mu yang setia kepada firman dan semakin mengenal Engkau sebagai satu-satunya Kebenaran yang memerdekakan kami dari dosa dan salah. Amen.

PJ-SDB