Thursday, July 9, 2020

Misionaris Sejati

Misionaris Sejati




Pada sore hari ini saya membaca kembali Maximum Illud. Ini adalah sebuah Surat Apsotolik yang ditulis oleh Paus Benediktus ke-XV pada tanggal 30 November 1919, sebagai reaksi gereja terhadap kehidupan misioner pasca perang dunia pertama tahun 1918. Saya menemukan kalimat-kalimat yang inspiratif berikut ini:

“Sebagaimana Gereja Allah adalah universal, ia tidak asing sama sekali bagi bangsa mana pun sehingga tepatlah bahwa di setiap bangsa muncul para imam yang mampu memimpin orang-orang sebangsanya, menjadi guru-guru hukum ilahi, dan pemimpin- pemimpin jalan kepada keselamatan kekal. Oleh karena itu, di mana ada jumlah yang cukup imam-imam pribumi yang terdidik dengan baik dan pantas dalam panggilan sucinya, di situ Gereja dapat dikatakan dibangun dengan baik, dan karya misioner tercapai. Dan jika kemu-dian muncul badai penganiayaan mengguncang Gereja itu dengan hebat, maka tidak perlu takut, bahwa dengan dasar itu dan dengan akar-akar yang begitu kuat, Gereja tidak akan hancur oleh serangan-serangan musuh.”

Saya bersyukur karena mengenal para imam sebelum saya tertarik untuk masuk kongregasi Salesian Don Bosco. Pertama para imam SVD yang berkarya sebagai misionaris di kampungku hingga akhir tahun 1980an. Mereka adalah para misionaris yang kudus sehingga buah kehidupan misioner mereka adalah kami anak-anak kampung yang saat ini menyebar di seluruh dunia sebagai misionaris. Kedua, para imam Fransiskan (OFM) yang juga menarik perhatian karena kesederhanaan hidup mereka. Jubah coklat memang menarik perhatian karena disitulah kesederhanaan hidup mereka terlukis seperti santu Fransiskus dari Asisi. Ketika para imam Diosesan, yang hidup dalam kesederhanaan sebagai imam ‘pribumi’. Bagi saya, ketiga tarekat ini memang mewarnai pengenalan saya akan kehidupan para imam, meskipun pada akhirnya hati saya tertambat pada Kongregasi Salesian Don Bosco (SDB), sebuah kongregasi misionaris juga. Maka perkataan Paus di atas sangat menginspirasi saya untuk merenung tentang kehidupan misioner.

Maka saya bersyukur karena pernah mengenal para misionaris yang sangat memperkaya panggilan imamatku. Saya berdoa semoga para misionaris yang sudah meninggal dan yang masih hidup tetap diberkati Tuhan. Kita semua adalah misionaris masa kini. 

PJ-SDB

Food For Thought: Allah adalah kasih

Allah adalah kasih

Paus Fransiskus menulis kepada kaum muda kebenaran-kebenaran yang perlu mereka ketahui dalam Christus Vivit (CV) yakni: Pertama, Allah adalah kasih. Kedua, Kristus menyelamatkanmu. Ketiga, Kristus hidup. Keempat, Roh Kudus memberi hidup. Berkaitan dengan kebenaran pertama bahwa Allah adalah kasih, Paus Fransiskus menulis: “Pertama-tama saya ingin mengatakan kepada kalian kebenaran yang pertama: “Allah mengasihi kamu.” Tidaklah penting jika kamu telah mendengar hal itu, saya ingin mengingatkanmu: Allah mengasihi kamu. Janganlah pernah meragukan ini, apa pun yang terjadi dalam hidupmu. Dalam berbagai keadaan, kalian dikasihi tanpa batas.” (CV, 112). Paus juga mengatakan: “Bagi-Nya kalian benar-benar berharga, kalian bukanlah tidak berarti, kalian benar-benar penting bagi-Nya, karena kalian adalah perpanjangan tangan-Nya. Maka dari itu saya memberikan perhatian kepada kalian dan mengingat kalian dengan kasih.” (CV, 115).

Allah adalah kasih. Tuhan menunjukkan diri-Nya sebagaimana dikatakan dalam nubuat Hosea: “Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka” (Hos 11:4). Tuhan memperlihatkan wajah-Nya yang penuh kerahiman kepada manusia. Manusia tidak setia tetapi Tuhan tetap setia selamanya. Andaikan masing-masing kita dapat menunjukkan wajah Allah yang penuh kasih maka tentu dunia kita akan berbeda. Kasih Tuhan menguasai diri kita, dan kita berbagi kasih dengan sesama. Tuhan Yesus sangat tepat ketika mengatakan: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Kita menerima kasih Tuhan gratis dan kita bertugas untuk mengasihi dengan kasih Allah. 

Saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip Paus Fransiskus dalam Christus Vivit: “Kasih-Nya adalah sebuah kasih “yang tidak membebani atau menindas, sebuah kasih yang tidak meminggirkan dan tidak membungkam dan tidak diam, sebuah kasih yang tidak merendahkan atau memperhamba. Itulah kasih dari Tuhan, cinta kasih sehari- hari, bijaksana dan menghargai, kasih yang bebas dan membebaskan, kasih yang menyembuhkan dan memajukan. Ini adalah kasih Tuhan, yang lebih banyak tahu membangkitkan daripada menjatuhkan, mendamaikan daripada melarang, memberi kesempatan baru daripada menyalahkan, lebih tahu masa depan daripada masa lalu.” (CV, 116). 

Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB

Homili 9 Juli 2020

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XIV
Hos. 11:1,3-4,8c-9
Mzm. 80:2ac,3b,15-16
Mat. 10:7-15

Tali kesetiaan dan ikatan kasih Tuhan

Apakah anda masih setia? Apakah anda masih mengasihi? Ini adalah dua pertanyaan yang selalu muncul ketika kita merenung tentang sebuah relasi, baik relasi dengan Tuhan maupun relasi dengan sesama manusia. Pada saat ini banyak keluarga yang sedang bergumul untuk tetap memegang tali kesetiaan dan ikatan kasih sebagai suami dan istri dan dengan anak-anak serta dengan keluarga besar atau melepaskan dan memutuskan semua relasi ini. Ada yang memulai sebuah keluarga dengan tali kesetiaan dan ikatan kasih tetapi tali dan ikatannya rapuh di tengah jalan karena sifat egois yang melekat dalam diri setiap pribadi. Itu sebabnya banyak keluarga yang memang masih tinggal dalam satu rumah yang sama tetapi tidak ada lagi tali kesetiaan dan ikatan kasih. Keluarga seperti kos atau asrama padahah esensi keluarga bukan seperti itu. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan pribadi para imam, barawan dan biarawati. Mereka boleh mengikrarkan nasihat-nasihat injil tetapi dalam perjalanannya tali kesetiaan dan ikatan kasih rapuh, mengendor bahkan putus.  

Relasi yang sama terjadi antara manusia dengan Tuhan yang tidak kelihatan. Pikirkanlah saat kita menyiapkan diri untuk mengaku dosa. Dalam memeriksa batin kita menemukan semua salah dan dosa, lalu mengakuinya di hadapan Tuhan melalui seorang gembala. Sang gembala mendoakan, memberkati dan meminta kita untuk melakukan penitensi, dan juga mendoakan doa tobat. Apakah kita pernah sadar ketika mengucapkan kalimat doa tobat ini: “Dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu, hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi”. Kita berjanji dengan peretolongan rahmat Tuhan tetapi ternyata tali kesetiaan dan ikatan kasih kita mudah kendor bahkan rapuh sehingga kita masih jatuh ke dalam dosa yang sama. Kita boleh berjanji tetapi mudah sekali ingkar janji kepada sesama dan juga kepada Tuhan. 

Nabi Hosea dalam bacaan pertama memperkenalkan wajah kerahiman Allah. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada Israel dengan memelihara, memperhatikan seperti seorang ayah memperhatikan anaknya sendiri. Ia mengasihi, memanggil, mengajar cara berjalan, mengangkat dengan tangan. Tuhan menarik bangsa Israel dengan tali kesetiaan dan ikatan kasih. Ia mengambil kekang dari rahang mereka. Ia membungkuk di hadapan mereka dan memberi makan. Tuhan di sini digambarkan sangat antropomorfis. Namun Sayang sekali karena kasih setia Tuhan itu dibalas dengan ketidaksetiaan. Umat Israel tidak insaf kepada Tuhan.  Mereka melacurkan dirinya dengan berhala-berhala dan menyembahnya, sedangkan Tuhan yang mengasihi mereka diabaikan begitu saja. 

Bagaimana Tuhan menyikapi umat Israel yang berdosa ini? Tuhan itu pengasihi dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya! Dia tidak menghitung-hitung dosa mereka tetapi tetap mengasihi mereka apa adanya. Sebab itu Tuhan menunjukkan sikap yang terbaik bagi umat-Nya. Ia berkata: “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.” (Hos 11:8-9). Allah itu kasih maka orang berdosa sekalipun tetap dikasihi-Nya. Dia tidak menunjukkan murka-Nya kepada mereka. Hal ini sangat berbeda dengan kita. Kita selalu menghitung-hitung kesalahan orang lain. Kita sulit untuk mengampuni, memaafkan orang yang sudah bersalah kepada kita. 

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Pada hari ini Tuhan memanggil kita untuk ikut serta menunjukkan tali kesetiaan dan ikatan kasih Tuhan kepada sesama manusia. Hal ini sejalan dengan tugas perutusan yang Tuhan Yesus berikan kepada para murid pilihan-Nya untuk pergi dan mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Tali kesetiaan dan ikatan kasih Tuhan juga menjadi nyata dalam pelayanan kasih para murid Yesus: menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, mengusir setan-setan. Tali kesetiaan dan ikatan kasih itu ditunjukkan juga dengan kesederhanaan hidup sebagai seorang pekerja yang patur mendapat upahnya. Tugas lainnya adalah membawa damai dan mendamaikan orang-orang bukan memperkeruh suasana yang memutuskan relasi orang lain. 

Semua tugas perutusan para murid ini haruslah dilakukan dengan sukacita. Mengapa? Karena mereka menerimanya gratis maka mereka juga harus berbagi dengan gratis. Tuhan Yesus berkata: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat 10:8). Para murid zaman now sudah berusaha melupakan hal ini. Mereka cenderung pelit dalam pelayanan, mata duitan, melayani dengan memasang tarif, melayani dengan memilih yang kaya, bersih sedangkan yang miskin dan kotor diabaikan. Inilah tali kesetiaan dan ikatan kasih yang rapuh dan kendor. Sangatlah disayangkan para abdi Tuhan yang sudah berikrar tetapi tidak setia dalam hidup, khususnya dalam karya dan pelayananya. 

Pada hari ini kita berusaha untuk menjadi pelayan-pelayan yang setia dan membawa kasih Tuhan kepada semua orang. Biarlah semua orang mengenal Allah sebagai kasih, yang mengasihi dan menyelamakan semua orang.

PJ-SDB

Wednesday, July 8, 2020

Homili 8 Juli 2020

Hari Rabu, Pekan Biasa ke-XIV
Hos. 10:1-3,7-8,12
Mzm. 105:2-3,4-5,6-7
Mat. 10:1-7.

Pergi dan Beritakanlah!

Paus Paulus ke-VI pernah menulis Imbauan Apostolik Evangelii Nuntiandi, 8 Desember 1975. Di dalam Imbauan ini beliau menulis: “Mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam. Gereja ada untuk mewartakan Injil.” Perkataan ini sesuai dengan misi Gereja sebagaimana dikatakan oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Gereja katolik menjadi sebuah Gereja Misioner. Hal ini juga digambarkan Paus Benediktus ke-XV dalam Maximum Illud berikut ini: “Tugas ini tidak serta merta berhenti dengan kematian para Rasul, namun dilanjutkan oleh para pene- rusnya sampai akhir zaman, yakni selama ada manusia di bumi ini untuk dibebaskan oleh kebenaran. Maka sejak saat itu “mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru”, sehingga “gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi.” Gereja, kenangan akan perutusan ilahi, tidak pernah berhenti sepanjang segala abad, mengirim utusan-utusan dan pelayan-pelayan keselamatan kekal melalui Kristus.” (MI, 1). 

Pada hari ini kita mendengar laporan Penginjil Matius tentang panggilan dan perutusan para murid Yesus. Dikisahkan Matius bahwa Tuhan Yesus memanggil kedua belas murid-Nya. Ia memberi mereka kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan melenyapkan segala penyakit serta kelemahan. Tuhan Yesus adalah utusan Bapa yang menunjukkan wajah Bapa yang Maharahim kepada manusia yang sangat membutuhkan kerahiman-Nya. Yesus juga menjadi tanda kasih Bapa sebagaimana kita mendengarnya dari mulut Yesus sendiri: “Karena begitu besar kasih  Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16). Yesus sebagai tanda kasih Bapa yang menyelamatkan ini menjadi nyata dalam sabda dan karya Yesus yakni mengusir setan-setan dan roh jahat, menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan. Semua ini sudah sedang dilakukan Yesus dan Ia menghendaki supaya para pilihan-Nya ini akan melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus yang juga adalah pekerjaan Bapa di Surga. Ini merupakan pekerjaan misionaris yang sedang berlangsung dalam Gereja sepanjang zaman.

Tuhan Yesus tidak hanya memanggil para murid, Ia juga mengutus mereka dengan pesan-pesan yang memiliki kekuatan tersendiri. Inilah pesan yang harus dipegang oleh para pilihan Yesus: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Mat 10:5-6). Tugas perutusan sebagai orang pilihan itu sudah jelas karena mereka-mereka yang merupakan ‘domba-domba yang hilang dari umat Israel’ itu sudah ditentukan Tuhan sendiri. Tuhan Yesus bermaksud bahwa penginjilan haruslah dimulai dari lingkungan dimana mereka berada. Tugas mereka adalah menyelamatkan terlebih dahulu orang-orang yang berada disekitarnya. Hal ini dapatlah kita pahami sebab pada saat itu murid-murid Yesus masih berada dalam tahapan awal dalam usahanya memberitakan Injil bahwa Sang juru Selamat atau Mesias itu sudah datang. Nantinya, pada tahap akhir pelayanan Yesus dibumi, Ia akan memberikan Amanat Agung kepada murid-murid untuk mengabarkan injil bagi semua bangsa, menjadikan semua bangsa (tanpa terkecuali) menjadi murid-Nya: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:19-20). 

Pokok pewartaan yang harus mereka sampaikan adalah “Kerajaan surga sudah dekat!” (Mat 10: 7). Sebuah kerajaan yang bukan dalam artian hanya dihuni oleh manusia-manusia saja, melainkan sebuah kerajaan yang memiliki ciri khas tertentu yakni kerajaan yang penuh kasih, kebaikan, kedamaian dan keadilan. Sebuah kerajaan yang dirasakan benar-benar sebagai tempat keselamatan bagi manusia. Ini adalah harapan semua orang untuk merasakan dan mengalaminya selama-lamanya. Dalam pikiran kita saat ini, tentu Surga yang menjadi tujuan hidup kita. Kiblat hidup kita terarah ke surga yang dijanjikan Tuhan.

Siapakah para murid pilihan Yesus? Matius memperkenalkan mereka dengan mengatakan ‘inilah nama-nama’. Nama selalu menunjukkan jati diri setiap pribadi di hadapan Tuhan dan sesama. Mereka adalah Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Tomas, Matius, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot. Masing-masing murid memiliki keunikan bahkan ada yang sudah dilabel seperti Matius melabel dirinya sebagai pemungut cukai, Yudas Iskhariot sebagai pengkhianat. Matius sebagai penulis injil tahu dirinya maka dia tidak malu untuk menunjukkan diri dan masa lalu apa adanya. Dia juga menunjukkan Yudas Iskhariot sebagai pengkhianat. Para murid terpilih lain hanya diperkenalkan sesuai asal usul dan keluarganya. Seorang murid sejati tidak perlu malu untuk menunjukkan jati diri yang sebenarnya supaya ketika mewartakan kerajaan surga, ia dapat mewartakannya dengan baik dan benar.

Apa yang diharapkan sebagai buah dari pewartaan para murid?

Setiap orang yang menjadi ‘domba-domba yang hilang dari Israel’ haruslah mengalami transformasi hidup yang radikal atau mengalami pertobatan yang radikal. Banyak orang yang masih tergiur dengan berhala-behala sehingga dalam bahasanya nabi Hosea, mereka malacurkan dirinya dalam berhala-berhala yang ada. Berbahala-berhala akhirnya menjadi tujuan utama mereka dan mengabaikan Tuhan dan kebaikan-kebaikannya. Sebab itu setia misionaris atau utusan Yesus bertugas untuk menyadarkan umat bahwa kini adalah saatnya untuk mencari Tuhan. Injil harus menghasilkan buah yakni sukacita karena pertobatan manusia yang berdosa. Manusia yang terlepas dari berhala-berhala. Kesadaran manusia untuk bertobat dapat terjadi karena ada utusan-utusan Tuhan yang siap untuk pergi dan mewartakan kasih dan kebaikan Tuhan. Merekalah para murid masa kini yakni para misionaris. Anda dan saya adalah misionaris masa kini. Semangatlah!

PJ-SDB

Tuesday, July 7, 2020

Homili 7 Juli 2020

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XIV
Hos. 8:4-7,11-13
Mzm. 115:3-4,5-6,7ab-8,9-10
Mat. 9:32-38

Bersyukur sebagai pekerja

Ada seorang pemuda yang pernah bertanya kepada saya: “Pater John, apakah anda merasa bahagia sebagai seorang gembala?” Pertanyaan ini kelihatan memang sederhana sekali dan tak perlu berefleksi untuk menjawabnya. Namun pada waktu itu saya merasa yakin bahwa Tuhan sedang memakai pemuda ini untuk mengingatkan saya supaya memberi kesaksian tentang hidup saya sebagai seorang gembala di dalam Gereja Katolik. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya merasa sangat bahagia sebagai seorang gembala karena beberapa alasan berikut ini: Pertama, selama menghayati panggilan hidup ini, saya percaya bahwa Tuhan yang memanggil, memilih dan menentukan saya untuk menjadi pekerja atau pelayan. Saya tidak memanggil dan memilih Tuhan tetapi Dialah yang melakukannya dan saya berserah diri secara penuh kepada-Nya. Kedua, Saya merasa bahwa Tuhan tidak hanya memanggil, memilih dan menentukan saya, tetapi Dia selalu mengasihi saya apa adanya. Dia tidak menghitung dosa-dosaku, malah dia mengampuniku karena kasih dan kerahimannya. Ketiga, Saya merasa bangga karena saya adalah milik Tuhan. Sebab itu gereja mendoakan supaya Tuhan yang empunya tuaian mengirim pekerja untuk bekerja di ladang-Nya. Saya merasa bangga karena saya adalah salah satu dari banyak pekerja milik Tuhan. Beberapa hal ini saya sharingkan kepada pemuda itu. Dia kelihatan sangat serius memperhatikan dan menyimak ketiga jawaban ini. Pada akhirnya dia mengangguk dan sambil tersenyum dia mengatakan kepadaku: “Romo John, doakan saya supaya menjawabi panggilan Tuhan juga.”

Saya selalu mengingat pertemuan dengan pemuda ini dan saya berdoa semoga cita-citanya berhasil. Setiap panggilan baru di dalam gereja merupakan bukti bahwa Tuhan tetap mengasihi dan mendampingi Gereja. Tepat sekali perkataan Tuhan Yesus: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:20). Ia menyertai Gereja-Nya dengan mengutus para rasul-Nya supaya tinggal bersama di dalam gereja-Nya meskipun seperti dikatakan-Nya: “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Luk 10:3). Para utusan Tuhan selalu tahan banting bahkan sebagaimana dikatakan Tertulianus: “Il sangue dei cristiani, dei martiri, è seme dei cristiani.” (Darah para martir adalah benih iman Kristiani). Gereja tetap berdiri kokoh karena kekuatan dari Tuhan dan pengurbanan dari para martir.

Pada hari ini kita mendengar kisah Yesus yang luar biasa. Dia tetap berkeliling dan berbuat baik. Ia menyembuhkan banyak orang sakit, bahkan Ia juga membangkitkan mereka yang sudah meninggal dunia. Kali ini Matius melaporkan dua hal penting. Pertama, Yesus menyembuhkan seorang bisu yang kerasukan setan. Pikirkanlah betapa menderitanya orang ini. Sudah bisu masih dirasuki setan juga. Tetapi Tuhan Yesus menunjukkan kuasa-Nya dengan mengusir setan yang merasukinya sehingga ia dapat leluasa berbicara. Peristiwa ini mengundang perhatian banyak orang. Ada orang yang merasa takjub dan mengatakan: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." (Mat 9:33). Hanya orang Farisi yang sakit hati karena Yesus berbuat baik. Mereka tidak percaya pada kuasa Yesus sehingga mengatakan bahwa Yesus menerima kuasa mengusir setan dari penghulu setan.
Kedua, Matius melaporkan bahwa Tuhan Yesus menunjukkan kerahiman-Nya kepada semua orang yang datang kepada-Nya. Hati Yesus penuh dengan kerahiman kepada mereka sebab mereka terlantar seperti domba tanpa gembala. Melihat situas ini Yesus berkata: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." (Mat 9:37-38).

Perkataan Yesus ini membuat saya bersyukur dan mengingat kembali perjumpaan dengan orang muda yang saya kisahkan pada awal homili ini. Saya bersyukur dan merasa bangga karena Gereja selalu mendoakan panggilan-panggilan di dalam gereja dan gereja berdoa memohon ketekunan panggilan bagi para pekerja di dalam Gereja. Ladang Tuhan itu luas dan panenan melimpah rua. Tuhan selalu siap mengirim para pekerja-Nya untuk melayani. Itu sebabnya panggilan di dalam gereja memang berkurang tetapi tidak akan hilang karena Tuhanlah yang memiliki pekerja yang siap untuk bekerja. Saya bersyukur sebab saya adalah pekerja Tuhan yang sedang melayani Gereja sebagai gembala umat. 

Pada saat merayakan pesta perak membiara saya mengingat kembali perjalan panggilan. Pada saat memulai perjalanan panggilan yakni tahun 1989, kami lebih dari tiga puluh orang calon. Tetapi yang diterima masih di novisiat hanya 13 orang. Pada saat mengikrarkan kaul pertama 13 Juni 1991, kami hanya Sembilan orang. Pada saat pesta perak hingga tahun ini kami tinggal tiga bertiga yang melayani. Saya menyadari bahwa saya adalah ‘limited edition’ edisi yang terbatas. Mengapa? Yesus berkata: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:14). Tuhan memanggil dan memilih mereka yang tidak sempurna untuk menyempurnakannya dan yang lemah untuk dikuatkan. Terima kasih Tuhan untuk rahmat panggilan ini.

Apa sajakah tantangan yang dihadapi para pilihan Tuhan yang terbatas ini?

Bacaan pertama menghadirkan tantangan besar bagi gereja khususnya para pilihan Tuhan yakni ‘berhala’. Orang-orang di Samaria jatuh ke dalam dosa karena menyembah berhala. Tuhan mengirim nabi Hosea untuk mengoreksi cara  hidup mereka yang sesat ini supaya setia kepada Allah yang benar. Mereka telah menabur angin dan memanen putting beliung. Tantangan ini juga terjadi dalam diri para pekerja Tuhan di dalam Gereja. Ada berhala-berhala yang membuat kualitas pelayanan para imam, biarawan dan biarawati menurun dan nyaris hilang. Berhala-berhala yang dimaksud adalah uang, harta, kedudukan, orang, gadget dan lainnya. Kualitas pelayanan menurun karena hati para pekerja melekat pada hal-hal ini. Akibatnya para pekerja menjadi borjuis, hedonis dan konsumeris. Menyedihkan dan sudah menjadi putting beliun di dalam gereja saat ini. Berbagai persoalan misalnya korupsi yang dilakukan di dalam gereja dan biara, masalah pedofilia yang seakan sedang menghancurkan gereja dari dalam. Berhala-berhala bisa hilang karena Tuhan ada!

Tantangan lain disebutkan dalam injil. Ada perilaku tiak bersyukur dan berbangga sebagai abdi atau pekerja Tuhan. Sifat Farisi masih menguasai banyak pekerja di kebun anggur. Mereka tidak menyukai kebaikan yang dilakukan oleh konfrater atau teman-teman di dalam komunitas. Mereka suka menghitung-hitung kesalahan dan menaruh curiga kepada sesama di dalam komunitas. Pekerja sedikit tetapi kadang bisa hilang karena sifat-sifat manusiawi ini. Menyedihkan karena tidak ada hati yang berbelas kasih di dalam komunitas. Akibatnya, tidak ada hati yang berbelas kasih dalam pelayanan. Kalau seperti ini lalu kita menghancurkan gereja dari dalam.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini sangat kaya dan bermakna bagi kita. Mari kita mendoakan Gereja kita supaya tetap mengikuti jejak Kristus. Mohon doa Gereja untuk kami para gembala dan orang-orang yang sudah dipanggil supaya tekun san setia melayani, dan yang akan dipanggil supaya siap mengikuti Tuhan dari dekat.

PJ-SDB

Monday, July 6, 2020

Homili 6 Juli 2020

Hari Senin, Pekan Biasa ke-XIV
Hos. 2:13,14b-15,18-19
Mzm. 145:2-3,4-5,6-7,8-9
Mat. 9:18-26

Kasih setia Tuhan begitu luhur

Pada pagi hari ini saya mendoakan Mazmur-Mazmur dan menemukan kalimat doa ini: “Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm 145:8-9). Saya merasa sangat bersyukur kepada tuhan sebab Ia sedang menyadarkan saya untuk memulai hari baru ini, bertepatan dengan sepekan retret rohani tahunan para Salesian dari Provinsi Indonesia, supaya membaharui diri supaya serupa dengan Diri-Nya yakni Tuhan pengasih, penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Empat kata sifat yang penting ini menggambarkan jati diri Tuhan Allah, sekaligus menjadi cermin atau pedoman bagi hidup saya. Sambil merenung Sabda Tuhan Allah ini, saya merasa malu, tidak berdaya, ada rasa bersalah yang menguasai diri saya sebab saya merasa masih sangat jauh dari sifat Tuhan sebagai pengasihi, penyayang, panjang sabar, dan besar kasih setia. Memang Tuhan sudah menganugerahkannya kepada saya, hanya saya belum melakukannya secara maksimal seperti Tuhan sendiri bagi diri saya.

Tuhan itu pengasih dan penyayang kepada orang-orang berdosa yang sadar diri untuk bertobat. Dia sendiri yang melakukan pendekatan pertama kepada orang berdosa. Dia tidak membiarkan orang berdosa menjadi binasa, tetapi menunjukkan betapa Dia adalah Allah yang Maharahim. Kerahiman-Nya itu ditunjukkan dalam karakter-Nya yakni pengasihi,l penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Dia juga baik kepada semua orang dan penuh rahmat kepada segala ciptaan-Nya. Semua ini dialami oleh Hosea dan diwartakan dengan gemilang dalam bacaan pertama. Di sana digambarkan tentang relasi umat Israel dan Tuhan itu diumpamakan dengan relasi kasih antara suami dan istri.

Umat Israel digambarkan sebagai sebuah bangsa yang selalu jatuh ke dalam dosa. Khusus untuk Kerajaan Israel yang beribu kota di Samaria memiliki satu dosa yang besar yaitu suka menyembah berhala. Samaria sendiri dikelilingi oleh gunung Garzim dan gunung Ebal. Di atas kedua puncak itu mereka menyembah berhala. Mereka memiliki ilah-ilah yang disebut baal. Hosea sendiri kecewa dengan istrinya yang memiliki baal sehingga ia mencap istrinya sebagai seorang wanita yang melacurkan dirinya karena menyembah berhala kepada baal-baal di gunung Garizim dan gunung Ebal. Tuhan sendiri merasa kecewa dengan orang-orang di Samaria yang tidak malu-malu melacurkan dirinya kepada baal-baal yang ada. Namun Tuhan sendiri tetap menunjukkan kerahiman-Nya kepada umat Israel.

Apa yang Tuhan lakukan? Ia berkehendak untuk menyelamatkan umat-Nya. Dia menghendaki pertobatan bukan persembahan dalam bentuk kurban bakaran di gunung. Tuhan disembah bukan lagi di gunung atau di Yerusalem, tetapi disembah dalam Roh dan Kebenaran. Maka Tuhan melakukan pendekiatan pertama. Ia akan membujuk umat-Nya yang berdosa tetapi tetap menjadi kesayangan-Nya dan membawanya ke padang gurun dan berbicara dari hati ke hati untuk menenangkan hati umat-Nya. Relasi intim ini sama dengan relasi suami dan istri. Tuhan akan disapa sebagai suami bukan sebagai Baal. Israel akan menjadi istri untuk selamanya. Relasi sebagai suami dan istri ini diperkuat oleh semangat dari Tuhan sendiri yaitu keadilan, kebenaran, dalam kasih setia dan kasih saying. Hanya dengan demikian Israel akan tetap mengenal Tuhan. St. Yohanes Paulus II menulis dalam Dives in Misericordia begini: “Kasih akan mengalahkan sumber terdalam kejahatan dan menghasilkan sebagai buahnya yang matang, kerajaan kehidupan dan kekudusan serta kekekalan yang mulia.” (DIM, 8). 

Kasih setia Tuhan begitu luhur menjadi nyata dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Ia selalu berkeliling dan berbuat baik. Kali ini santu Matius mengisahkan dua mukjizat yang dilakukan Yesus. Mukjizat pertama terjadi dalam perjalanan Yesus untuk memberkati anak perempuan seorang kepala rumah ibadat. Ketika itu ada seorang perempuan yang sudah duabelas tahun menderita pendarahan. Perempuan itu mungkin merasa diri bahwa dengan penyakitnya itu dapat menajiskan orang lain termasuk Yesus yang sedang lewat di depannya. Sebab itu ia mengatakan dalam hatinya bahwa asal saja ia menjamah jumbai jubah Yesus maka ia akan mengalami penyembuhan. Mukjizat pertama ini terjadi karena iman perempuan itu. Sebab itu Yesus berkata kepadanya: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." (Mat 9:22).  Iman kepada Yesus mengubah segala sesuatu.

Mukjizat kedua adalah Yesus membangkitkan anak perempuan kepala rumah ibadah yang baru berusia duabelas tahun. Fakta menunjukkan bahwa anak perempuan itu sudah meninggal dunia, tetap Yesus mengatakan bahwa ia hanya tidur saja bukan mati. Orang-orang yang sudah membunyikan seruling perkabungan menertawakan Yesus. Tetapi Yesus menunjukkan kasih setia Allah dengan memegang tangan anak perempuan itu, dan membangkitkannya. Anak itu hidup kembali dan diserahkan kepada orang tuanya. Yesus membuat mukjizat ini karena iman dari orang tua anak perempuan ini. Semua orang takjub karena kasih setia Tuhan sungguh nyata dalam Yesus Kristus.

Pada hari ini kita harus bersyukur kepada Tuhan sebab kekal abadi kasih setia-Nya kepada kita. Ia tidak mengitung-hirtung dosa kita tetapi melihat iman dan kepercayaan kita kepada-Nya. Tepatlah doa ini: “Tuhan Yesus Kristus, janganlah memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman gereja-Mu”. Semoga Tuhan melihat iman kita dan tetap mememberikan kita sifat pengasihi, penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia di dalam hidup kita.

PJ-SDB

Sunday, July 5, 2020

Homili Hari Minggu Biasa ke-XIVA - 2020

Hari Minggu Biasa XIV/A
Za. 9:9-10
Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14
Rm. 8:9,11-13
Mat. 11:25-30

Berpasrah kepada Allah

Pada akhir bulan Juni yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi kedua orang cucu yang tinggal di Ngesrep Barat, Semarang, Jawa Tengah. Cucu pertama bernama Narendra dan cucu kedua bernama Gaby. Saya sudah sekali menjumpai Narendra sedangkan Gaby baru pertama kali. Apa yang terjadi dalam perjumpaan kali ini? Narendra begitu melihat saya langsung mendekat, pingin digendong dan foto bersama. Sedangkan Gaby ketika melihat saya merasa takut, menangis, tak mau digendong dan tentu tidak mau foto bersama. Sesekali dia memperhatikan kakaknya Narendra begitu akrab, tetapi ketika saya mendekatinya ia langsung menangis. Tetapi setelah saya pergi Gaby memanggil ‘Opa… opa”. Dari anak-anak kecil kita belajar banyak hal yang nantinya menjadi pedoman hidup kita, misalnya: kepolosan hati, kerendahan hati, ketenangan, kepasrahan hidup, kejujuran dan nilai-nilai hidup lain yang patut kita miliki sepanjang hidup kita. Memang anak-anak kecil memiliki ketakutan tertentu itu adalah sebuah kewajaran tetapi hasrat untuk mendapatkan perlindungan itu selalu ada. Semangat hidup anak-anak kecil ini membuka wawasan kita untuk memembentuk habitus kita di hadirat Tuhan. 

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu Biasa ke-XIV/A ini membantu kita untuk bertumbuh sebagai anak-anak Allah. Anak-anak Allah yang berkarakter yakni pasrah dan patuh kepada kehendak Tuhan Allah. Zakharia dalam bacaan pertama menghadirkan sosok Tuhan sebagai seorang raja yang adil, jaya dan lemah lembut yang sedang melawat ke Yerusalem. Sebab itu Putri Sion diharapkan bersorak sorai dengan nyaring dan kepada Putri Yerusalem untuk bersorak sorai. Suasana batin bersorak sorai atau bergembira patutlah dimiliki ole anak-anak Allah sebab Tuhan mengunjunginya. Kunjungan adalah sebuah tanda kasih yang besar dari orang yang mengunjungi dan mereka yang dikunjungi. Sang raja yang mengunjungi juga menunjukkan kerendahan hatinya dengan mengendarai seekor keledai, sebuah hewan yang selalu memikul beban dan identic dengan kebodohan manusia. Sang raja itu memiliki misi tertentu yakni melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan memusnahkan kuda-kuda dari Yerusalem.

Sosok sang raja yang adil, jaya dan lemah lembut ini merupakan prototipe Yesus sang raja damai kita. Dia juga nantinya digambarkan mendatangi dan menyelamatkan umat-Nya dengan mengendarai seekor keledai. Ini yang selalu kita kenang pada hari Minggu Palma. Dia adalah raja Damai yang datang untuk memberikan damai-Nya kepada kita. Dialah satu-satunya Penyelamat karena melindungi kita dari kuasa setan dan menyelamatkan kita sebagai tanda kasih-Nya sampai tuntas. Yesus yang satu dan sama ini berpasrah, taat kepada Bapa supaya dapat menyelamatkan kita semua. Kepasrahan Yesus yang membawa damai kepada kita semua haruslah menjadi pedoman bagi kita untuk berpasrah kepada Tuhan sebagai anak-anak-Nya dan membawa damai, kasih dan sukacita kepada sesama manusia.

Gambaran sang raja yang adil, jaya dan lemah lembut diterangkan secara baru oleh Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Yesus sang raja damai menunjukkan diri-Nya sebagai Anak yang bersyukur kepada Bapa karen segala sesuatu yang sudah dilakukan Allah dan dialami-Nya sendiri. Yesus berkata dalam doa: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” (Mat 11:25-26). Yesus Kristus adalah Anak Allah yang bersyukur, berpasrah kepada Allah Bapa. Lihatlah betapa Yesus menjadi panutan kita. Sebagai Anak Allah saja Dia masih bersyukur, mengapa kita begitu sulit bersyukur kepada Tuhan? Yesus bersyukur karena kebijaksanaan-Nya dinyatakan kepada orang-orang kecil. Orang-orang kecil adalah para murid yang dipilih-Nya sebagai rasul atau utusan. Para rasul itulah yang mengenal Yesus sebagai Anak dan Allah sebagai Bapak arena diajarkan Yesus sendiri. 

Tuhan Yesus juga mengingatkan para murid-Nya sebagai ‘orang-orang kecil’ supaya datang kepada-Nya. Mereka dan kita yang membaca Injil hari ini adalah orang-orang kecil yang diajak Yesus untuk datang kepada-Nya. Kita saat ini diajak untuk berserah, berpasrah kepada-Nya karena keletihan hidup dan beban-beban berat dalam hidup yang kita miliki. Kita tidak dapat mengatur diri kita sendiri, kita mengandalkan Tuhan dalam hidup ini sebab terlepas dari yesus, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5). Yesus tidak hanya memanggil kita untuk datang kepada-Nya, Dia juga berjalan bersama kita dengan kuk yang dipasang pada kita dan sambil berjalan bersama kita belajar daripada-Nya. Berjalan bersama Yesus membuat hati kita menjadi tenang dan damai. Dia meringankan beban kita dengan kehadiran-Nya yang nyata. Ini juga yang selalu kita rasakan dalam Ekaristi.

Apa yang harus kita lakukan?

Santu Paulus dalam bacaan kedua membuka jalan bagi kita supaya mewujudkan kepasrahaan dan kepatuhan kepada Tuhan dengan tidak hidup dalam daging melainkan dalam Roh. Kita perlu membuka diri supaya Roh Allah tinggal di dalam diri kita dan dengan demikian kita menjadi milik Kristus. Roh Allah yang satu dan sama ini telah membangkitkan Yesus Kristus dari kematian-Nya dan Roh juga yang menghidupkan tubuh kita yang fana. Sebab itu kita harus terbuka untuk menerima Roh dan membiarkan Dia tinggal di dalam diri kita. Roh tinggal di dalam diri kita maka dengan sendirinya kita juga akan menjauh dari keinginan daging. St. Paulus mengatakan bahwa kalau kita hidup dalam daging maka jaminannya adalah kematian, kalau kita hidup dalam Roh maka kita akan mampu mematikan perbuatan-perbuatan daging dalam tubuh kita. Makah al terpenting untuk berpasrah kepada Tuhan adalah hidup dari dan dalam Roh bukan daging.

Di tempat lain, St. Paulus menasihati kita supaya kita seperti ini: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor 6:19-20). Tuhan sungguh berkarya dan menjadikan kita anak-anak yang tahu bersyukur dan berpasrah kepada-Nya. Kita tidak berjalan sendirian, tetapi kita adalah anak-anak Tuhan yang berjalan bersama Yesus dengan mengenakan kuk yang dipasang-Nya pada kita. 

PJ-SDB